Disclaimer

NARUTO: Masashi Kishimoto

FATE SERIES: Kinoko Nasu/ Type Moon

WARNING

Typo, OOC, Diksi yang kurang bagus, DLL

Start Story


Jujur, Arthuria saat ini belum bisa menghilangkan rasa terkejutnya karena kedatangan orang yang ditaksirnya lewat buku. Rona merah di pipinya juga tak membantu sama sekali, justru hal iti membuat Medea menyeringai lebar kepadanya. Sigh! Walaupun dia agak senang, tapi setelah ini pasti mereka akan menggodanya.

Sementara itu, Blondie lain yang baru bergabung dengan kelompok pembaca buku ini, masih tak mengerti dan bingung dengan situasi saat ini, apalagi gurunya yang menjabat sebagai Hokage, saat ini juga berada di sini. Seingatnya, tadi muncul sebuah pintu aneh berwarna merah muda di depannya, awalnya ia berniat mengeceknya. Namun, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan ia merasa ada orang yang menendang bokongnya sehingga ia masuk ke dalam pintu aneh itu.

"Jadi ada yang bisa menjelaskan padaku, ada apa ini sebenarnya?" tanya Naruto bingung. Otak lemotnya saat ini tak bisa menyerap informasi sekitar, "Dan siapa mereka, Sensei?"

Kakashi hanya memberikan Eye Smile nya saja sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, "Mengenai pertanyaanmu itu, akan sulit bagiku untuk menjelaskannya padamu, dan mereka adalah kenalan baruku," jawabnya sambil menunjuk para manusia dan Servant yang hadir di sana.

Sebuah ide aneh tiba-tiba muncul di kepala Rin. Namun, sepertinya itu akan melibatkan Arthuria juga, "Oke, bagaimana kalau kita berkenalan saja?" usulnya

Naruto mengangguk menyetujui usulan wanita asing berambut hitam itu dan mengulurkan tangannya, Salam kenal, Uzumaki Naruto, Calon Hokage masa depan," Ujar Naruto dengan nada semangat sambil memamerkan senyumnya. Lagi pula, dia tak merasa adanya niat jahat dari orang ini.

Rin membalas uluran tangannya sambil tersenyum, "Tohsaka Rin, murid dari Asosiasi sihir. Suatu kehormatan bertemu denganmu," ujarnya.

Naruto mengangkat alisnya bingung. Dia baru kenal dengan gadis ini, tapi mengapa dia mengatakan kalau suatu kehormatan untuk bertemu dengannya. Kemudian, seorang pria berambut merah maju selangkah dan menawarkan tangannya, "Emiya Shirou, senang berkenalan denganmu," ucapnya sambil menjabat tangan Naruto.

Naruto hampir saja terjungkal ke lantai karena tepukan 'pelan' di bahunya. Ternyata, pelakunya adalah pria paru baya yang kekar berambut dan berjanggut merah, mengenakan jeans serta kaos putih bertuliskan Admirable, "Yo, Namaku adalah Iskandar, Raja penakluk. Apakah kau tertarik bergabung dengan pasukanku?" tanya pria Iskandar ini.

Oke. Sekarang dia mulai bingung dengan situasi ini. Ia sendiri baru bertemu dengan mereka di sini. Namun, mereka berbicara seolah sudah tahu tentangnya, tapi sebaiknya dia membiarkan mereka menyelesaikan perkenalannya terlebih dahulu, nanti baru dia bertanya.

Ia mengalihkan pandangannya pada ketiga orang terakhir yang berada dalam ruangan itu, "Dan Kalian?"

Seorang pria berambut hitam panjanh maju selangkah, "Salam kenal, Lord El Melloi II, tapi kau bisa memanggilku Waver Velvet," ucap orang itu.

Wanita berambut biru Cornflower tersenyum ke arahnya dan memperkenalkan diri, "Medea, kesenangan bagiku untuk bertemu denganmu," ucap wanita itu.

Seorang gadis pirang melangkah dengan perasaan gugup ke arah Naruto. Ya, dia adalah Arthuria Pendragon, sang raja kesatria, "S-salam kenal, namaku Arthuria Pendragon, mantan Raja-" Sontak Arthuria langsung menutup mulutnya karena merasa sudah melakukan perkenalan yang aneh. Tentu saja, siapa yang akan percaya jika seorang gadis menyandang gelar raja. Untungnya, Naruto tak menyadari ucapan terakhirnya tadi.

"Ada apa, Arthuria-san? Apakah kau sakit?" tanya Naruto dengan tidak pekanya dan sedikit khawatir, sehingga membuat pipi mantan raja itu merona, sehingga membuat yang lain hanya menunjukkan senyum misteriusnya saja.

"Aku Lancelot Du Lac, salah satu kesatria meja bundar yang melayani Arthuria-sama," ucap Lancelot tiba-tiba, sehingga Arthuria selamat dari situasi ini.

Naruto mengangguk menanggapi perkenalan mereka semua, "Sekarang, bisakah kalian menjelaskan padaku apa yang terjadi?" tanyanya.

"Tentu saja, Tuan Naruto," jawab Arthur dari belakang, "Ini penjelasan yang panjang, tapi akan ku singkat saja," ucapnya lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Naruto.

"Ya secara singkatnya, kita semua berkumpul di sini untuk membaca buku ini," ucap Arthur sambil menunjukkan sebuah buku berjudul 'The Birth of Human Faction' yang sampulnya menampilkan Arthuria yang mengenakan pakaian pengantin dan memegang bucket bunga. Semua orang terkecuali Naruto dan Kakashi langsung terkejut seketika, terutama wajah Arthuria yang memerah, pasalnya tadi sampul bukunya hanya polos. Itu artinya, mereka telah mendapati spoiler dari dalam buku ini.

"Hanya itu saja?" tanya Naruto sambil menaikkan alisnya.

Arthur menggeleng pelan kepalanya, " Buku ini menceritakan tentang versi alternatif dari dirimu setelah perang dunia Shinobi berakhir, dan ini bukan hanya sekedar fiksi, melainkan benar-benar terjadi di dimensi lain nan jauh di sana,"

Oh sekarang minat Naruto menggelitik untuk ikut serta. Sudah menjadi sifatnya untuk mengetahui apa yang selalu menarik minatnya. Arthur yang melihat ini hanya menyeringai keci saja. Sekarang, tinggal menaruh sentuhan terakhir agar bisa meyakinkan Naruto untuk ikut serta.

"Ya anggap saja di sini sebagai liburanmu dari aktivitas di Konoha. Selain itu, kau tak akan melihatnya untuk sementara waktu, dan dapat melupakan kesedihanmu," ucap Arthur Lagi.

Naruto menggertakkan giginya menahan amarah dan kesedihannya. Ia benci jika harus mengingat peristiwa itu lagi, peristiwa yang membuatnya begitu terpukul dan amat kecewa. Mungkin, tak akan ada salahnya dia menerima tawaran ini agar bisa melupakan kejadian itu sejenak, karena jika ia di konoha dan melihat orang itu terus, maka hanya rasa sedih dan kecewa saja yang dirasa.

"Baiklah, aku terima tawaran itu," Jawab Naruto dengan senyum.

Sementara itu, Arthuria yang melihat perubahan emosi dari Naruto barusan, langsung menatap Kakashi untuk meminta penjelasan, tapi si pria masker itu hanya memberikan tatapan seolah 'Akan kujelaskan Nanti' sehingga Arthuria harus menahan diri untuk bertanya lebih jauh lagi.

Arthur menepuk pelan tangannya "Baiklah, karena sudah tak ada yang perlu di tanyakan, bagaimana kita langsung mulai saja membacanya," ucapnya, dan dibalas dengan anggukan semangat oleh yang lain.

"Tunggu sebentar!" interupsi Rin tiba-tiba, sehingga membuat yang lain heran.

"Ada apa lagi, Rin?" tanya Shirou sambil menghela nafas.

"Maaf sebelumnya, tapi bukankah Naruto baru bergabung bersama kita? Dia pasti belum mengerti alur dari buku ini," ucap Rin Menjelaskan.

Arthur mengangguki ucapan Rin barusan. Memang benar, jika Naruto dan Kakashi baru saja bergabung dengan mereka di sini, sehingga tak mengetahui kejadian penting yang ada dalam buku ini.

Ia nampak bepikir sesaat sambil mengelus dagunya untuk mencari jalan keluar dari hal ini, karena tak mungkin ia akan menjelaskannya, dan itu pasti akan memakan waktu yang lama. (Sebenarnya ane udah malas ngetik, sih.)

"Tak perlu Khawatir," sela Naruto. Kemudian, ia menyilangkan kedua jari tengah dan telunjuknya membentuk salib.

Pofft

Semua sedikit bingung ketika dalam ruangan tiba-tiba muncul kepulan asap pekat. Namun, mereka tak bisa menahan rasa terkejut ketika secara perlahan asap itu mulai menghilang dan memperlihatkan seorang 'Naruto' yang cukup mirip dengan aslinya.

"Ba-bagaimana mungkin?" gagap Rin

"Hmm. Hei, raja kesatria! Bukanya ini mirip dengan Noble Pantasm nya Assasins?" tanya Iskandar pada Arthuria, tapi hanya di balas anggukan saja.

"Tentu saja ini adalah Jutsu. Apa kalian tak pernah melihat hal semacam ini?" tanya Naruto yang agak bingung dengan ekspresi mereka. Semua mengangguk pertanda mereka memang tak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya.

"Mereka dari dunia yang berbeda dengan kita, Naruto," ucap Kakashi menjelaskan

Naruto mendengar penjelasan itu merasa amat terkejut dan tak percaya, "Apa maksudmu, sensei? Yang benar saja," ucap Naruto tak percaya.

Kakashi hanya menghela nafas karena tingkah bodoh dari muridnya itu, padahal dia sudah dijelaskan kalau mereka akan membaca kisahnya dari dunia lain, "Tentu saja, Baka. Apa kau lupa kalau kita di sini untuk membaca kisah alternatifmu?" tanya Kakashi.

Naruto hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, " Baiklah, aku paham, Sensei," jawabnya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Arthur, "Bolehkah aku meminta salinan kisah ini sebelumnya?" tanya Naruto.

"Untuk apa itu?" bukan Arthur yang bertanya, melainkan Rin.

"Ah, aku baru ingat, kalau kemampuannya yang ini disebut Kage Bunshin, salah satu keunggulannya adalah apa yang dirasakan dan dilihat oleh kloningnya akan masuk ke ingatan tubuh aslinya saat kloning itu menghilang" jawab Arthur

Beberapa orang terkagum-kagum saat mendengar info tentang Jutsu ini. Bagi mereka, ini adalah kemampuan yang sangat berguna, apalagi bagi orang yang memiliki waktu padat. Bagi Iskandar, kemampuan Naruto sangat berguna sebagai intelijen dalam pasukannya. Oh! Dia berharap Naruto akan mau bergabung dalam pasukannya.

"Baiklah, Tuan Naruto, ini salinannya," ucap Arthur sambil memberikan beberapa lembar kertas berisi salinan kisah sebelumnya pada Bunshin Naruto, sebelum akhirnya Bunshin itu pergi keluar ruangan.

"Baiklah, jika tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, mari kita mulai. Silahkan menempati tempat duduk masing-masing.

Semua merespons ucapan Arthur dan segera mencari tempat duduk sesuai keinginan, seperti Rin yang ingin duduk di sebelah Shirou. Kakashi, Lancelot, dan Iskandar yang duduk bersama di sebuah sofa khusus 3 orang yang anehnya bisa muat untuk mereka, dan Medea yang duduk seorang diri di sebuah sofa yang ukurannya cukup untuk satu orang. Namun, anehnya, entah itu di sengaja atau tidak, tapi mereka hanya menyediakan tempat duduk bagi keduanya sebuah sofa yang sama dengan milik Shirou dan Rin.

Naruto dan Arthuria duduk dengan perasaan malu-malu di sofa itu. Satunya dengan alasan naksir, sedangkan satunya malu karena duduk di sebelah gadis canti yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan tentu saja hal ini diperhatiakn oleh teman-teman mereka yang lain, tanpa keduanya sadari.

"Maaf, Arthuria-san, jika aku membuat kau kurang nyaman," ucap Naruto dengan wajah yang memerah.

"T-tak apa kok. Aku sama sekali tak merasa terganggu," jawabnya dengan gugup.

"baik, kita mulai sekarang. Brandit! Silah-" ucap Arthur terpaksa berhenti ketika orang dicari sudah tak ada dalam ruangan, dan hanya meninggalkan sebuah catatan kecil bertuliskan 'Maaf Arthur, tapi bisakah kau lanjutkan dulu sebentar? Perutku mules'.

Arthur hanya menghela nafas saja karena tingkah temanya yang satu itu. Padahal suda ia ingatkan untuk tidak makan seblak terlalu banyak, tapi dia malah menghabiskan 5 porsi sendirian.

"Oke. Aku yang akan memandu untuk sementara. Mari kita mulai saja," ucapnya sambil menyerahkan buku itu pada Medea.

Maghnolia, Isghar, Earthland.

Natsu Dragneel, Etherious terkuat, sekaligus Dragon Slayer dari gulid penyihir Fairy Tail, saat ini sedang dalam kondisi kelelahan karena bertarung dengan kakaknya sendiri, Zeref, orang yang dikutuk untuk hidup abadi.

"Jadi, siapa itu Natsu?" tanya Rin tiba-tiba pada Naruto. Ia bingung, seharusnya buku ini menceritakan tentang mereka, tapi mengapa muncul satu lagi karakter baru yang tidak dia kenali. Jadi, ia berpikir kalau orang Natsu ini berasal dari Elemental Nation, atau kenalannya Naruto.

Sementara itu, Naruto yang ditanya malah mengangkat satu alisnya, pertanda bingung dengan pertanyaan itu, "Kenapa kau bertanya padaku, bukankah dia berasal dari duniamu?" tanya balik Naruto, "Lagian, seingatku tak ada kota bernama Maghnolia ataupun Ishgar di Elemental Nation."

Orang-orang dari Nasuverse langsung tersentak kaget setelah mendengar penuturan Naruto barusan. Jika orang bernama Natsu ini bukan dari Elemental Nation ataupun dunia mereka, Lalu, dari mana dia berasa? Apakah dari dimensi yang baru lagi?

"Itu benar, Rin-san, awalnya aku juga berpikir bahwa dia adalah kenalam kalian, mengingat kau pernah mengatakan kalau kau dan Shirou-san, serta gurumu adalah penyihir. Dan Natsu ini adalah seorang penyihir juga," tambah Kakashi.

Rin mengangguk membenarkan ucapan Kakashi, "Tapi di dunia kami tak ada jenis sihir yang disebut Dragon Slayer. Lagian, pakaian kami tak seaneh orang itu," ucap Rin Sambil menunjuk Natsu di layar televisi.

"Di kalangan Roh Pahlawan pun, hanya ada Noble Pantasm berbentuk senjata, dan setahuku ada beberapa yang senjata mereka adalah Dragon Slayer, tapi tetap itu bukan sihir," Lanjut Iskandar.

Naruto merasa bingung dengan pembahasan dari Iskandar dan Rin. Roh Pahlawan? Penyihir? Dia ingin menanyakannya sekarang, tapi harus ia tahan dulu.

Tiba-tiba, di depan mereka semua, muncul kobaran api dari ketiadaan, sebelum akhirnya menghilang dan memunculkan secarik kertas berisikan beberapa tulisan di sana.

Naruto langsung mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama, "Apa isinya, Naruto-san?" tanya Shirou.

"Di sini dituliskan, kalau dia berasal dari Earthland, sebuah dimensi yang berbeda dengan Kita semua. Dan Dragon Slayer adalah, mereka yang belajar sihir dan diasuh langsung oleh para naga, sehingga sedikit mengubah tubuh mereka menjadi naga," jelas Natuto pada mereka.

"Hmm, penjelasan yang menarik. Aku jadi ingin menelitinya," respons Medea, dan dibalas anggukan oleh para penyihir di sana.

"Ya, nanti aku akan mencoba memberikan buku tentang itu nanti, sekarang mari lanjutkan dulu bagian ini," sela Arthur.

Pertarungan ini terjadi karena Natsu berusaha menghentikan kakaknya untuk mengambil Fairy Heart, tubuh pendiri sekaligus master pertama dari Fairy Tail.

"Menyerahlah, Natsu ... Kau sudah kehilangan banyak tenaga setelah mengalahkan Agnologia, bersama 6 Dragon Slayer lainnya" ucap Zeref menatap dengan maksud meremehkan pada adiknya itu, walaupun Natsu telah dibantu oleh Mavis yang berhasil hidup kembali berkat bantuan member Fairy Tail lainnya, Cana Alberona.

"Jangan sombong, Nii-san," balas Natsu yang berusaha bangkit, "Posismu saat ini sudah sangat terdesak. Eileen-san telah terbebas dari sihir pengendali ingatan August, dan telah berpihak pada kami. Begitu pula dengan Brandish, Invel dan Larcade, serta anggota 12 Spriggan yang lain telah kalah. Kumohon, kakak, menyerahlah, dan kita akan mencari obat untuk menghilangkan keabadianmu itu."

"Hmm, aku belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini, dan mengapa dia dikutuk untuk menjadi abadi?" komentar Lancelot.

Iskandar menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan menoleh pada Arthur, "Bisakah kita melewatkan saja bagian ini dan lanjut dari bagian kemarin?" tanyanya.

"Maafkan aku, Yang mulia, tapi itu sepertinya tak bisa," jawab Arthur sembari menunduk hormat.

"Menurutku kita lanjutkan saja. Mungkin akan ada pertarungan yang menarik di sini, lagian aku penasaran, apakah ini seperti aku dan Sasuke,"

"Aku lanjutkan kalau begitu,"

Mata Zeref berubah menjadi merah karena terbawah amarah, "Tidak ada yang bisa melepaskan kutukan ini, Natsu, hanya kematian yang bisa melepaskanku penderitaan ini. Jadi, cepatlah bunuh aku atau kubunuh semua orang yang berharga bagimu!" ucapnya sambil memasang posisi bertarung.

Natsu menggertakkan giginya karena kesal, sepertinya sudah tak ada jalan lain lagi, selain mengalahkan kakaknya. Walau, ia sebenarnya tak ingin melakukan ini, "Baiklah, jika itu keinginammu, kakak. Devil Dragon King Mode," ucapnya yang langsung menyelimuti tubuhnya dengan api berwarna oranye, serta tato naga di tangan.

"Natsu! Pikirkanlah tentang Lucy dan teman-temanmu yang lain. Kau tahu bukan, jika kau membunuhnya?" tanya Mavis yang terkejut sekaligus khawatir dengan keputusan Natsu.

"Ya, Aku yakin. Harus ada yang menghentikan kegilaan kakakku," jawab Natsu mantap.

"Hei lihat, ternyata dia punya mode bertarung sepertiku," ucap Naruto yang merasa tertarik dengan mode bertarung milik Natsu, " Aku penasaran apakah dia punya mode bertarung lainnya."

"Mungkin kita akan melihatnya nanti, tapi untuk saat ini sebaiknya selesaikan dulu bagian ini," jawab Medea sebelum Akhirnya kembali membaca.

"Death Predation!" ucap Zeref sambil melancarkan serangannyya pada Natsu dan Mavis. Sepertinya, ia bosan mendengar percakapan mereka berdua itu.Namun, serangan itu dapat dihancurkan dengan mudah oleh Natsu, dengan menggunakan Fire Curse "miliknya.

"Bersiaplah, Aniki, karena aku akan mengabulkan keinginan terbesarmu itu!!" ucap Natsu yang langsung melesat ke arah Zeref dengam kecepatan tinggi.

Zeref yang melihat adiknya datang dengan niat membunuh yang besar, hanya menyeringai senang. Sekarang, dalam pikirnya mungkin saat inilah ia akhirnya bisa mati, "DATANGLAH PADAKU, NATSU, BUKTIKAN KALAU KAU BISA MEMBUNUHKU!" terika Zeref yang juga melesat ke arah Natsu.

"Maafkan aku Lucy, Ultear, dan semua. Maafkan ayah, Luna, sepertinya aku tak akan bisa melihatmu tumbuh besar menjadi gadis cantik," batin Natsu sedih.

"Ahh~ malangnya dia. Ternyata dia adalah seorang ayah, aku jadi kasihan pada purinya itu," ucap Medea sambil menitikkan air mata.

Begitu pula dengan Naruto, walau tak seperti Medea, tapi ia kembali teringat dengan pengorbanan kedua orang tuanya dan sengsaranya ia tumbuh tanpa sosok orang tua.

"Devil Dragon King's Pheonix Zero Blade!" teriak Natsu sembari memunculkan avatar rajawali yang terbentuk dari api hitam di tubuhnya, dan ini terus melesat ke arah Zeref

"HEAAAAA!!"

KABOOOM!

Sebuah ledakan dahsyat langsung tercipta dari benturan kekuatan yang saling ingin menghancurkan itu.

Zeref terpental lumayan jauh, dengan kondisi yang amat buruk karena efek ledakan itu. Namun, anehnya ia malah tersenyum senang, sebuah senyum yang amat tulus, "Kau berhasil. Kau berhasil, Natsu. Sepertinya inilah akhirnya."

Kondisi Natsu pun tak jauh berbeda. Ia juga terbaring di tanah dengan kondisi sekarat, walaupun masih sanggup mempertahankan kesadarannya.

"Ohokk!" Natsu tiba-tiba saja memuntahkan darah. Sepertinya, ia mengalami luka dalam yang lebih parah dari fisiknya saat ini. Sesaat kemudian, sebuah senyum merekah di bibirnya, tatkala melihat kedatangan seorang gadis pirang yang membawa bayi di tangannya, dan gadis berambut hitam dengan pita di rambut, serta beberapa orang yang ia kenal.

"Sial! Ini benar benar mengingatkanku dengan pertarunganku dengan Sasuke, 2 tahun yang lalu," ucap Naruto

"Oh, Maksudmu pertarungan di tempat yang kalian sebut lembah akhir itu?" tanya Shirou.

Naruto menaikkan kedua alisnya karena heran, bagaimana mereka tahu? "Ya, benar. Tapi, bagaimana kau bisa tahu nama tempatnya?" tanya balik Naruto.

Shirou menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil tersenyum canggung, "Ya... alur buku ini dimulai dari setelah pertarungan itu, saat kau sekarat dan kehilangan tangan," jawabnya. Ngomong-ngomong soal tangan, sepertinya Shirou baru sadar kalau tangan Naruto saat ini masih lengkap, "Tunggu sebentar, Naruto-san, bukankah tanganmu sudah putus saat pertarungan itu? Maaf bila pertanyaanku ini tak sopan," tanya Shirou yang terkejut.

Pertanyaan Shirou barusan juga membuat orang lain sadar tentang ini, termasuk Arthuria yang sedari tadi hanya diam saja.

Naruto tersenyum lebar sambil mengangkat tangan kanannya yang dulu pernah putus, "ya memang benar, jika tangan ini pernah putus, tapi berkat penelitian yang dilakukan oleh nenek angkatku, aku berhasil mendapatkan tangan baru yang sama seperti sebelumnya, dengan menanam sel milik pendiri desa," jawabnya.

Semua terkesima denggan penuturan barusan. Bayangkan, betapa bergunanya itu jika di dunia mereka ada hal serupa di dunia mereka. Tak perlu lagi mengandalkan bagian tubuh buata yang rumit, dan bisa mendapatkan lagi tangan yang mempunyai fungsi serupa tangan aslinya.

Oh! Rin dan Medea benar-benar semangat untuk mempelajari hal ini lebih jauh lagi, dan mereka penasaran, apakah Brandit bisa membawa neneknya Naruto agar mereka bisa bertanya banyak hal.

Natsu! Bertahanlah!" teriak Lucy khawatir, dengan linangan air mata membasahi pipinya, "Wendy, kumohon sembuhkan Natsu," pintanya pada gadis berambut twintail di sebelahnya.

Wendy dengan sigap mengeluarkan kemampuan Dragon Slayernya sebagai seorang penyembuh. Namun...

"Hentikan itu, kau hanya membuang energimu saja, Wendy. Simpanlah untuk mengobati yang lainnya," ucap Natsu sambil memuntahkan darah segar.

Wendy yang begitu khawatir dengan keadaan kakak angkatnya itu, tak memperdulikan ucapan Natsu dan terus berusaha mengobatinya, walaupun saat ini ia tengah menangis terisak-isak.

"Jangan berbicara seperti itu. Apapun yang terjadi, kau harus hidup!" teriak Wendy.

"Dengarkan baik-baik, Wendiy! Aku sebenarnya adalah Etherious Natsu Dragneel. Etherious terkuat yang diciptakan oleh Zeref untuk menghidupkan aku yang telah mati 400 tahun lalu dan- Ohokk!" ucapan Natsu terpotong karena batuk darah, tubuhnya juga terlihat makin lemah, "Jiwaku dan jiwanya terhubung. Jadi, kalau dia mati, maka aku juga akan mati!"

Mata Wendy melebar setelah mengetahui fakta itu, ia sudah tak bisa lagi membendung ait matanya. Ini bohong, kan? Kalau bisa, ia ingin tak mempercayai semua ini. Namun, Apalah daya, Natsu sendiri yang berkata seperti itu.

Tak hanya Wendy, semua orang yang hadir di sana sangat terkejut saat mengetahui fakta ini, terkecuali Gray yang memang sudah tahu sejak lama.

Lucy dan Ultear langsung memeluk tubuh pemuda itu dengan erat, seolah tak ingin dia pergi. Mereka menagis sejadi-jadinya karena nasib yang menimpa pada orang yang mereka cintai itu.

Di belakang mereka berdua, terlihat para member gulid lain yang beraliansi dengan Fairy tail, sedang menunduk sedih. Terutama, Gray dan Wendy yang harus kehilangan sosok Sahabat, Rival, dan saudara.

"Sudah saatnya. Maafkan aku Lucy, Ultear. Maaf karena telah meninggalkan kalian berdua, serta Luna yang masih kecil," gumam Natsu yang merasa pandangannya kian menggelap, sehingga membuat semua orang semakin bersedih. Namun, disaat dirinya yakin benar akan mati, ia merasa penglihatannya kembali normal.

"Loh, apa yang terjadi?" tanya Natsu yang bangkit dari posisi berbaringnya, sehingga membuat semua orang terkejut sekaligus bahagia.

Natsu melebarkan matanya. Hanya ada satu penjelasan tentang hal ini. Itu artinya ada yang menyelamatkan Zeref dan memberikan energi kehidupan padanya, sehingga ia juga ikut terselamatkan.

"Serius, aku benar-benar tak mengerti dengan alur di bagian ini. Apa ini penting sebagai lanjutan bab sebelumnya?" komentar Medea

"Sepertinya aku mulai paham dengan ceritanya," ucap Waver sambil memperbaiki letak kacamatanya,

Medea memiringkan kepalanya karena bingung dengan pernyataan barusan, "Bisa kau jelaskan, Waver-san? Jujur, aku saat ini masih kurang paham," tanya Medea.

Tak jauh beda, yang lainya juga merasa bingung dengan bagian ini dan hanya mengangguk karena sependapat dengan Medea.

"Benar, profesor, tolong anda jelaskan," ucap Rin.

Waver menunjuk pada buku yang saat ini dipegang oleh Medea, atau lebih tepatnya pada sampul bukunya, "Kurasa akan sedikit merepotkan untuk menjelaskannya sekarang, jadi sebaiknya kita selesaikan dulu bagian ini," ucapnya sambil menghela nafas.

"Tapi, yang jelas, kemungkinan orang ini juga akan pergi ke dunia alternatif kita," ucapnya lagi.

Rin mengelus-elus dagunya, "hmm, baiklah. Sebaiknya kita selesaikan ini, karena aku ingin melihat Rutoria lagi," ucap Rin sambil menyeringai

"Rin!" pekik Arthuria dengan wajah memerah.

Sementara itu, Naruto dengan polosnya hanya memiringkan wajahnya karena tak paham, "Siapa itu Rutoria?" tanyanyya dengan wajah amat polos, sehingga membuat sebagian orang di sana memiliki keringat sebesar biji jagung di kepala mereka.

"Ohoho, sudahlah, Naruto-san. Mari kita lanjutkan saja ceritanya," jawab Rin sambil tertawa canggung dan mengibas-ngibas tangannya, "Ya ampun, ternyata dia orang yang padat. Aku jadi kasihan padamu, Saber," lanjutnya dalam batin.

Tanpa disadari, semua rekan dan mantan musuh dari Arthuria mengirimkan ucapan simpati padanya karena kasihan, "Entah mengapa aku merasa ada yang sedang mengejekku di suatu tempat," gumam Arthuria, sehingga tak ada yang mendengarnya.

"Siapa kau, dan apa yang kau lakukan, sialan!?" ucap Natsu dengan penuh amarah.

Orang berjubah itu hanya menyeringai saja menanggapi pertanyaan Natsu, "Ankhseram, The God of Life and Death," jawabnya.

Ekspresi wajah Natsu semakin mengeras karena menahan amarahnya yang meluap. Ia tahu siapa orang ini, karena dialah yang bertanggung jawab atas penderitaan kakaknya, "Kau!? Apa yang kau inginkan lagi, apa tak puas kau membuat kakakku menderita selama 400 tahun!?" teriak Natsu yang sudah bersiap melancarkan serangan.

"Jangan, Natsu!" peringat Larcade sang Dragnel putih agar Natsu tak bertindak ceroboh, "Dia adalah dewa kehidupan dan kematian, akan sangat mudah baginya untuk membunuhmu, apalagi kau sudah terluka parah saat ini."

"TCH"

"Tenanglah, bocah, aku tak ada niat jahat di sini," ucap Ankhseram sembari mengangkat tangannya ke atas langit, "Tapi, semua akan berakhir di sini!" lanjutnya sehingga membuat mata Natsu melebar. Dan berkeringat dingin.

"Semua, cepat hentikan orang itu, dia akan membunuh kita semua!!" ucap Natsu.

"Kalian para penyihir telah menciptakan kekacauan di tanah Earthland ini, baik penyihir baik ataupun penyihir hitam, semua sama saja. Sekarang, kalian akan pergi untuk selamanya," ucap Ankhseram.

Orga Nanageer yang merupakan Dragon Slayer dari Sabetooth, langsung melancarkan serangan terkuatnya pada Ankhseram. Hal ini juga diikuti oleh para penyihir di sana. Namun, semua itu dapat ditangkal oleh Ankhseram, seolah serangan itu hanyalah serangga.

Setelah itu, tubuh dari para penyihir di sana secara perlahan mulai menghilang, termasuk Zeref "Sekarang, tak ada lagi Acnologia, ataupun Zeref. Earthland yang indah ini akan lebih baik tanpa kalian. Pergilah, dan carilah kehidupan kalian sendiri di dunia yang lain," ucap Ankhseram sebelum ia pergi dari sana.

"Benar dugaanku, mereka akan bergabung dengan dunia alternatif yang kita tempati di sana," ucap Waver sambil mengelus dagunya, "Ada kemungkinan mereka akan membentuk semacam aliansi dengan Naruto," lanjutnya

"Aku tak sabar menanti bagian itu. Jujur, aku cukup penasaran dengan kekuatan Natsu," komentar Naruto sambil menggaruk tengkuknya.

"Bagaimana kalau setelah ini kita melakukan adu tanding?" usul Lancelot tiba-tiba sambil memunculkan pedang miliknya. Sehingga membuat para pria dalam ruangan menyeringa karena merasa tertarik dengan usulan tukang NTR itu.

Sementara itu, Rin dan Medea hanya menghela nafas saja karena kelakuan mereka, dan lebih memilih tak ambil pusing dengan alasan itu. Arthuria? Dia juga merasa tertarik dengan kompetisi itu, apalagi setelah ada usulan tambahan untuk berjudi dan Naruto mempertaruhkan kupon makan ramen gratis setahun miliknya.

"Baiklah, mari kita lanjutkan dulu urusan kita di sini, baru kalian bebas bertarung," ucap Medea sambil memijat kepalanya, "Sepertinya kita kembali ke bagian Naruto yang berada di tempat Arthuria," lanjutnya lagi, sehingga membuat Rin bersemangat dan Arthuria memerah.

Tiba-tiba tubuh Naruto tersentak sebantar, dan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bingung sekaligus Khawatir, terutama Arthuria, "Ada apa, Naruto?"

Naruto menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum pada mantan raja itu, "Tak ada apa-apa, kok. Arthuria-san. Hanya saja aku baru mendapat ingatan dari Bunshin milikku tentang dua bab terakhir," jawab Naruto

"Walaupun kami berakhir dengan perpisahan, tapi terima kasih karena telah mau menolong dan merawatku, walaupun itu versi lain dari kita, sih," ucapnya lagi sambil tersenyum tulus. Sontak saja itu membuat Arthuria sedikit memerah, dan terpaksa berdehem untuk menghilangkannya.

"Y-ya, sama-sama," jawabnya.

"Baik, aku lanjutkan~," ucap Medea.

Vatican, Roma-

Sudah hampir sebulan semenjak Naruto tiba di dunia ini dan dirawat oleh Arthuria. Selama itu pula, kondisinya telah berangsur-angsur pulih walau fisiknya masih belum terlalu kuat untuk beraktivitas seperti dulu. Padahal, gen Uzumaki dalam dirinya sudah banyak membantu.

Kini, ia sedang duduk di kursi roda sambil memandangi kebun bunga yang berada di depan rumah milik Arthuria.

"Yo, Naruto-san!" sapa seseorang dari belakangannya.

Naruto mengalihkan pandangan ke sumber suara, dan mendapati seorang pemuda bersurai merah yang ia ketahui bernama Shirou, "Ah, Shirou-san? Apa kabar?" sapa balik Naruto sambil tersenyum.

"Baik. Ngomong-ngomong, aku membawa pesanan milikmu kemari," jawab Shirou sambil menyerahkan sebuah kotak hitam pada Naruto.

Naruto langsung mengambil kotak itu dari Shirou dengan perasaan senang. Rupanya pesanan yang ia minta pada Shirou semenjak seminggu yang lalu, telah selesai dikerjakan. Ya, semenjak ia tahu kalau pemuda itu ahli dalam menempa senjata, Naruto langsung meminta bantuannya.

"Terima kasih, Shirou-san. Aku pasti akan membayar utangku padamu," ucap Naruto sambil mengeluarkan semacam pisau tapi dengan tiga cabang dari kotak itu.

"Tidak apa-apa, kok," jawab Shirou sambil tertawa canggung dan mengibas-ngibas kedua tangannya. Kemudian, pandangannya teralihkan pada senjata pesanan Naruto itu, "Tapi, Naruto-san. Bolehkah aku tahu senjata macam apa itu? Jujur aku cukup penasaran," tanya Shirou.

Shirou mengangguk menyetujui ucapan dari dirinya yang lain itu, "Ya. Aku juga penasaran dengan pisau macam itu," ucapnya sambil menatap Naruto.

"Maksudmu Kunai Hiraishin ini?" ucap Naruto sembari memerkan kunai yang sama dengan yang ada di layar barusan. Namun, kali ini di gagangnya terdapat semacam kertas dengan ukiran aneh dan rumit, yang di mata Shirou itu semacam Rune.

"Ini adalah-Aduh!"

Namun, belum sempat Naruto menjawab pertanyaan Shirou barusan, tiba-tiba ada sebuah kerikil yang mendarat di kepalanya. Ia tak tahu siapa pelakunya, tapi ada sebuah kertas yang terikat di sana dengan sebuah tulisan 'Dilarang Spoiler. Kalau melanggar, akan ada akibat buruk,"

"Ya ampun, peraturan aneh macam apa ini?" protes Naruto.

"Sudahlah, mungkin ada alasannya sebaiknya kita lanjutkan saja," ucap Medea sambil tersenyum.

Shirou hanya mengela nafas pelan, padahal ia sangat penasaran dengan senjata yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin ia harus menunggu lagi.

"Ini disebut Kunai Hiraishin. Aku sudah bercerita pada kalian, kan, tentang siapa aku?" jawab Naruto dan dibalas anggukan oleh Shirou.

"Ya jujur, saat pertama mendengarnya aku juga terkejut tak percaya kalau kau adalah manusia dia dunia yang berbeda," ucap Shirou sambil tertawa saat mengingat ketika Naruto menceritakan siapa dia sebenarnya, "Bahkan, karena itu Rin hampir setiap hari kemari hanya untuk bertanya padamu tentang seperti apa dunia lain itu," lanjutnya lagi.

Naruto juga ikut tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Mau bagaimana lagi? Kalau dia sudah ngotot, maka aku tak bisa lari darinya," balas Naruto.

"Jadi apa itu Hiraishin?" tanya Shirou lagi yang masih sangat penasran. Ia adalah pengkoleksi senjata tajam dari seluruh dunia, tapi tidak dengan dunia lain. Jadi, ini bisa menjadi kesempatan yang langka untuk menyaksikannya.

"Sebenarnya ini adalah Jutsu yang diciptakan oleh pemimpin generasi kedua di desaku, tapi telah disempurnakan oleh ayahku," jawab Naruto sambil tersenyum.

"Aku penasaran, jurus seperti apa Hiraishin ini," gumam Arthuria yang masih sempat didengar oleh Naruto

Naruto menggaruk kepalanya mencoba mencari cara untuk menjelaskannya. Jujur, ia bisa masuk kategori bodoh dalam hal ini.

"Sederhananya, teknik ini memungkinkan kita untu-OUCH!" lagi-lagi ucapannya terhenti karena dilempari oleh kerikil lagi. Sepertinya, ia memang tak boleh memberitahukan sekarang.

"Ho, aku paham. Tapi kenapa kau memintaku untuk cepat menyelesaikannya? Lagipula, kondisimu belum membaik untuk melakukan latihan atau pertarungan," tanya Shirou sambil memiringkan kepalanya.

Naruto tersenyum kecil sambil menatap kunai cabang tiga itu, "Aku akan memberikannya pada Arthuria-san, sebagai azimat," jawab Naruto sambil menempelkan kertas putih bertuliskan aksara rumit pada gagang kunai itu.

"Azimat?" beo Shirou bingung.

"Ahahaha... Sudahlah, nanti juga kau akan tahu," jawab Naruto sambil tertawa.

"Wah-wah, aku tak menyangka jika Naruto itu orang yang pengertian, benarkan, Saber-chan?" goda Medea dengan seringai jahil, sehingga membuat Arthuria kesal dengan wajah memerah. Entah karena marah ataupun malu.

Namun, sepertinya ini belum selesai karena Rin juga tampaknya punya ide iseng juga, "Naruto-san!" panggil Rin.

"Ya, Rin-san?" sahut Naruto.

"Bagaimana menurutmu tentang Arthuria?" tanya Rin dengan seringai kecil.

Naruto tampak berpikir sesaat sambil mengelus-elus dagunya, "Aku baru saja bertemu dengannya, sih. Tapi aku yakin kalau dia bukan orang bersifat buruk, dan sangat lembut. Juga dia sangat cantik. Jadi, tak akan heran jika diriku yang lain jatuh hati padanya," jawab Naruto dengan entengnya tanpa menyadari kalau Arthuria telah menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona hebat.

"Oh, Shit!" Rutuk Naruto dalam batinmya ketika tahu akan makan ucapannya barusan. Ia memang tidak sepadat ketika 2 tahu yang lalu, tapi sepertinya ia bwlum terlalu memahami ucapannya yang bisa bikin orang lain salah paham, "Pasti sekarang Arthuria-san menganggapku orang aneh," batin Naruto.

Sementara itu teman-teman mereka sedang berusaha sebaik mungkin untuk tak tertawa melihat tingkah kedua sejoli itu, "Ayo segera lanjutkan, Caster, aku yakin akan semakin menarik ke depannya," ucap Rin sambil mengabaikan Deathglare yang Arthuria berikan.

"Tentu saja, Rin~," balas Medea.

"Oh ya, ngomong-ngomong, di mana Arthuria? Aku tak melihatnya dari tadi," tanya Shirou sambil melirik ke kiri-kanan untuk mencari keberadaan gadis itu.

"Arthuria-san sudah pergi semenjak sejam yang lalu dan belum kembali sekarang," jawab Naruto

Shirou tertawa untuk beberapa saat. Sepertinya, ia tahu kemana gadis itu pergi. Pasti dia pergi ke tempat permainan memukul bola untuk merebut kembali harga dirinya karena telah berulang kali kalah di sana, "Maaf ya, Naruto-san, Dia pasti membuatmu kerepotan untuk menjaga dan membersihkan rumahnya," ucap Shirou.

Naruto menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak apa, kok, aku sendiri yang mau walau dia melarangku. Lagi pula, aku merasa tak enak jika numpang tinggal padanya, tapi tak melakukan apa-apa," jawab Naruto.

"Baiklah kalau begitu, aku harus segera mencarinya untuk berdiskusi mengenai tugas kami bertiga nanti," ucap Shirou sambil berjalan pergi dari sana dan melambaikan tangan.

"Ya, sampai jumpa lagi," balas Naruto. Kemudian, ia bangun dari kursi roda dan mengalihkan pandangannya pada rumah Arthuria, "Baiklah, sebaiknya aku berlatih sedikit agar tidak berkarat. Hmm, pemanasan sambil membereskan rumah mungkin tak buruk," ucap Naruto sambil berjalan ke dalam.

Bersambung.

"Hmm itu saja? Huft, kupikir akan ada pertarungan dalam bab kali ini," komentar Iskandar dengan raut wajah bosan.

Waver hanya Sweadrop saja menanggapi perilaku mantan servant sekaligus rajanya itu pada perang cawan ketiga, "Kau tak bisa berharap hanya ada pertarungan dalam sebuah buku," ucap Waver.

Sementara itu, Naruto sedang memberanikan diri untuk meminta maaf pada Arthuria karena menganggap ucapannya tadi membuat gadis itu merasa risi.

"Arthuria-san!" panggil Naruto

"Ya?"

"Maaf jika perkataanku tadi membuatmu kurang nyaman. Aku tak bermak-"

"T-tak apa,kok, aku senang karena kau memujiku," ucap Arthuria cepat. Tentunya dengan pipi yang sedikit merona.

Naruto menghela nafas lega. Ternyata Arthuria tadi tidak merasa risi dengan ucapannya. Walaupun sebenarnya dia tak tahu penyebab sebenarnya mengapa Arthuria bergelagat aneh tadi.

Prok... Prok... Prok.

Suara tepukan tangan mengalihkan perhatian mereka semua. Ternyata pelakunya adalah Arthur yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, "Ada apa Arthur-san?" tanya Rin.

Arthur sedikit berdehem, "Jadi begini, baru saja aku mendapat kabar kalau tempat ini akan direnovasi untuk sementara. Jadi, kalian akan dipulangkan untuk sementara, dan akan dijemput lagi ketika selesai,"

Semua terkejut dengan pemberitahuan itu. Memangnya hotel ini juga perlu renovasi? Padahal hanya mereka pengunjung di sini. Padahal, mereka semua masih ingin menikmati liburan di sini, terutama Kakashi yang merasa jenuh untuk segera berhadapan dengan kertas laknat di kantornya.

"Huh~ padahal aku masih ingin berlibur," keluh Kakashi.

"Ya aku juga belum ingin kembali ke desa dulu," ucap Naruto

"Dan bagaimana dengan para Servant?" tanya Rin.

Arthur menghela nafas karena bingung harus bagaimana. Melihat hal ini, Waver sepertinya memiliki inisiatif untuk menyelesaikan masalah kecil ini, "Bagaimana kalau kalian datang ke tempatku? Aku akan sangat senang menerima kalian sebagai tamu, Naruto, dan Mr. Kakashi," ucap Waver.

Naruto dan Kakashi saling memandang sebelum akhirnya mengangguk pertanda menyetujui usulan Waver, "Baiklah, aku menerima undanganmu," jawab Kakashi.

"Kalau begitu, aku akan membuka jalan untuk kalian ke London," jawab Arthur sambil memunculkan kilatan api yang berputar-putar sebelum memunculkan sebuah portal yang langsung mengarah ke tujuan. Bahkan, Waver bisa melihat kantornya dari sini. Ini lebih baik dari pada menggunakan teleportasi ala Doraemon milik Brandit.

"Baiklah. Semuanya cepat masuk," perintah Arthur, dan langsung diikuti oleh mereka semua. Namun, sepertinya mereka melupakan sesuatu entah apa itu, tapi mereka abaikan saja sampai semuanya benar-benar pergi dari sana.

At-London, Inggris.

Waver berdeham untuk menarik perhatian mereka, "Untuk tamu kita, kuucapkan selamat datang di Asosiasi penyihir, London," ucap Waver

Kakashi mengangguk dan menjabat tangan Waver, "Terima kasih atas undangannya, Waver-dono," ujar Kakashi.

"Baiklah, ayo kita jalan-jalan!!" ucap Rin dengan nada semangat, dan dibalas dengan sorakan dari hampir semua orang di sana. Namun, belum sempat mereka memulai rencananya, tiba-tiba di samping mereka muncul sebuah portal yang sama dengan yang mereka gunakan saat ke sini.

Portal itu mengeluarkan dua orang mabuk dengan cara tidak manusiawi dan tentu saja itu mengejutkan mereka semua. Namun, dari pada repot-repot mengurus kedua orang itu, mereka memutuskan untuk melanjutkan rencana awal dan segera keluar dari sana, meninggalkan dua servant malang itu.

Bersambung.