RootWood In!
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.
Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Etc.
Rate : M untuk Bahasa dan Storyline.
Pair : Akan muncul dengan sendirinya.
Warning : Semi-AU, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream, OOC [Jelas], OC, Yang Jelas Gaje serta Berantakan, DLL.
.
.
.
.
.
.
.
The Half-Devil Lucifer
Arc I
Chapter 4 : Pesan
.
.
.
.
.
.
.
Sang mentari mulai menyinari permukaan bumi tanda bahwa pagi hari mulai menjelang. Sebagian besar mahluk hidup mulai keluar dari sarang mereka untuk memulai aktivitas. Dan dari sekian banyak tempat yang disinari oleh sang Mentari, disebuah desa terpencil bernama Konohagakure no Sato yang dulunya damai dan tentram kini sayangnya, desa itu telah hancur tak bersisah karena kejadian pemusnahan yang terjadi semalam. Diantara puing-puing bangunan desa itu terlihat tiga mahluk tengah tertidur pulas dan satu lagi tengah duduk bersilah. Tak berselang beberapa menit, salah satu dari mereka yang posisinya berada di barisan paling kiri dengan pose menyamping membuka kedua kelopak matanya secara perlahan.
"Hoaammzz ... sudah pagi yaa?" Pria itu menguap lebar kemudian bertanya entah kepada siapa dalam keadaan masih setengah sadar.
"Tentu saja Dobe, cepat bangun!" Orang yang dipanggil 'Dobe' itu pun menoleh ke arah kiri ketika seseorang menjawab pertanyaan yang baru saja ia lontarkan sebelumnya. "Apa kau sudah bisa bergerak?" Tanya orang itu lagi dengan nada datar.
Untuk menjawab pertanyaa dari orang itu, pria yang diketahui bernama Hashirama mulai mengankat tubuhnya kemudian duduk bersilah sambil. "Sepertinya begitu. Tapi Chakraku sepertinya belum sepenuhnya terisi." Jawabnya sambil meregangkan kedua lengannya dirasa sangat kaku kerena pertarungan semalam dan juga efek dari pose tidurnya yang hanya beralaskan permukaan tanah. "Kau sendiri Madara?" Tanya Hashirama setelahnya.
Pria yang diketahui bernama Madara itu mendungus kesal melihat kebodohan dari sahabatnya ini yang kembali kambuh. Jelas-jelas ia sudah bisa bergerak karena saat ini ia tengah duduk di samping pemuda berambut silver yang tengah berbaring tidak sadarkan diri. "Dasar Dobe ... " Sindirnya dengan nada jengkel. " ... Tentu saja sudah bisa." Sambung Madara masih dengan nada jengkel membuat Hashirama menggaruk kepala belakangnya disertai senyum kikuk khas Hashirama Senju yang membuat Madara ingin menghantamkan wajah sahabatnya itu pada permukaan tanah.
Hashirama mengalihkan perhatiannya ke pemuda berambut silver yang terlihat masih belum bangun. "Bagaimana dengan Naruto?" Tanya Hashirama.
"Sepertinya ia masih pingsan." Madara berdiri dari acara duduknya di samping pemuda bernama Naruto itu. "Karena kau sudah bangun, tolong jaga dua mahluk ini." Perintah Madara datar layaknya seorang Bos Yakuza kepada Hashirama sembari meninggalkan ketiga mahluk itu. Dan tujuan Madara hanya satu yaitu reruntuhan milik Klan-nya untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Mangekyo Sharingan yang baru saja ia bangkitkan dan mungkin ada hal lain yang bisa ia temukan.
Hashirama pun dibuat kesal sendiri dengan kelakuan Madara yang seenak jidatnya menyuruhnya menjaga dua mahluk di dekatnya, Ia kesal karena tubuhnya sebenarnya masih ada beberapa bagian yang sakit, tetapi Madara malah menyuruhnya menjaga dua mahluk yang tengah berbaring di depannya. "Oi Mada- ... Ahh~ Teme Sialan!" Hashirama mengumpat kesal ketika mendapati satu-satunya Shinobi dari Klan Uchiha itu sudah tidak terlihat lagi batang hidunya.
.
.
.
.
.
"Benar-benar hancur tidak bersisah." Gumam pria bernama Uchiha Madara datar sembari memandangi bangunan yang sudah rata dengan tanah tepat di depannya. Hembusan pelan dari angin di pagi hari perlahan membuah rambut Raven sepunggung milik Madara melambai-lambai. "Izuna, Tobirama, Minna-san, Konoha ... Tenang saja, aku akan membalaskan apa yang telah menimpa kalian." Dengan nada datar nan dingin, Madara menetapkan sebuah tujuan baru.
Madara mulai menyusuri reruntuhan bekas kuli Klan Uchiha itu untuk mencari sebuah pintu rahasia yang hanya orang-orang dari Klan Uchiha yang mengetahuinya. "Disini!" Madara berjongkok tepat di depan sebuah lantai kayu. Perlahan ia mulai menyingkirkan balok-balok kayu yang menutupi pintu masuk yang ia baru saja temukan. Dan ya ... setelah semua balok-balok kayu itu berpindah tempat, Madara menyelipkan tangan kanan di sela-sela lantai kayu yang terbuat dari papan dan mulai mengankat papan tersebut. Dan kini di depan Madara terlihat sebuah tangga yang mengarah ke bawah.
Tap! Tap! Tap!
Satu per satu anak tangga Madara mulai ia pijak dan tak berselang lama pria itu tiba di sebuah ruangan yang hanya diterangi dua obor. Di antara kedua obor itu terlihat sebuah monumen batu yang pada bagian permukaannya terdapat tulisan-tulisan yang sulit dibaca kalau bukan dari Klan Uchiha yang membacanya. Tidak mau menunggu Hashirama menjadi pintar, Madara melangkahkan kakinya menuju ke monumen batu itu.
Tap!
Madara berhenti tepat di depan monumen batu kemudian mengaktifkan mata andalannya dan mulai membaca tulisan yang tertulis pada monumen batu di depannya. "Hanya sigini? Baiklah ... " Perlahan 3 Tomoe pada pupil Madara mulai berputar dengan cepat hingga membentuk pola baru. Seketika Madara sedikit terkejut ketika melihat tulisan pada batu itu bertambah banyak. "Hmm ... " Gumam Madara datar mengenai pesan yang baru baca menggunakan Sharingan miliknya. Pria itu kemudian memulai kembali membaca tulisan yang baru saja muncul.
"A-Apa ini ... Pesannya berbeda." Pria itu memperlihatkan wajah ketidakpercayaan yang mampu membuat Hashirama terkejut setengah mati jika melihat eksresi Madara saat ini yang biasanya hanya memasang wajah datar sok cool Khas seorang Uchiha.
"Aku harus segera memberitahuna Jiraiya dan Hashirama mengenai hal ini." Madara merapalkan Handseal sederhana dan perlahan tangan mahluk astral berwarna kebiruan muncul di samping kanan Madara.
Braakk!
Karena tidak mau ada orang lain selain mereka berempat yang mengetahui hal ini. Madara menghancurkan monumen paling berharga milik Klan Uchiha menggunakan tangan mahluk astral miliknya. Setelah selesai menghancurkan, lengan astral milik Madara menghilang begitu saja begitupula dengan pupil matanya yang kembali ke Onix kelam.
Pofft!
Madara kemudian menghilang diikuti kepulan asap putih dari tempat tersebut.
.
.
.
.
.
Kembali ke tempat tiga mahluk yang ditinggal Madara. Dan kini hanya tinggal pemuda berambut silver bernama Naruto yang tidak sadarkan diri. Itu karena pria lain berambut putih kini sadar. Tak berselang lama ketika kedua tangah asik berbincang-bincang, sebuah kepulan asap muncul di dekat mereka.
"Darimana saja kau Madara?" Sebuah pertanyaan langsung dilontar pria berambut putih kepada Madara yang baru saja muncul.
"Jiraiya ... Hashirama, apa kalian tahu isi pesan dari Kaguya-sama?" Bukannya menjawab pertanyaan dari pria yang diketahui bernama Jiraiya. Madara malah melempar balik sebuah pertanyaan. Jiraiya dan Hashirama yang melihat bahasa tubuh serta ekspresi Madara, kedua orang itu menyimpul bahwa pria Uchiha ini tengah serius walaupun sebenarnya Madara memang selalu serius.
Hashirama dan Jiraiya mengangguk serentak. Hashirama kemudian menjawab pertanyaan dari Madara dengan raut wajah tidak kalah seriusnya. "Kalau tidak salah, Kaguya-sama memerintahkan kita, keturunannya untuk hidup damai dan tidak terikat dengan dunia ini." Begitulah penjelasan serius dari Hashirama yang ia baca dari buku peninggalan Kaguya yang telah diturunkan dari genereasi ke generasi.
Madara menggeleng pelan. "Itu sebenarnya salah." Kata Madara masih dengan nada serius yang masih ia pertahankan. Jiraiya dan Hashirama yang mendengar ucapan Madara menaikkan alis mereka.
"Salah?" Beo keduanya.
"Aku baru saja membaca pesan dari Kaguya-sama di monumen baru peninggalan beliau yang ternyata sangat berbeda dengan yang ada pada buku."
"Tunggu dulu ... bukannya pesan di monumen batu itu sama dengan yang ada dibuku." Kata Jiraiya
Madara kembali menggeleng pelan. "Itu karena mereka hanya membacanya dengan Sharingan. Tetapi jika orang yang membacanya dengan Mangekyo Sharingan maka pesan yang asli akan terlihat." Kata Madara sejelas mungkin agar otak dongkol Hashirama dapat memahaminya. Berbeda dengan Jiraiya yang sepertinya mulai paham akan hal ini.
"Indra Otsutsuki ... "
"Anak pertama dari Hagoromo-sama, cucu pertama dari Kaguya-sama?" Tanya Jiraiya dan direspon anggukan mengiyakan dari Madara.
"Ia diwariskan Mata dari sang Ayah sehingga hanya ia yang bisa membaca pesan sebenarnya dari Kaguya-sama. Dan setelah membacanya. Ia tidak setuju dengan isi pesan dari Kaguya-sama dan langsung menulis sebuah buku yang sekarang kita tahu dengan persetujuan Ashura, anak kedua Hagoromo-sama yang ternyata juga setuju dengan Indra." Madara mulai menjelaskan layaknya seorang caleg yang tengah melakukan kampanye depan pendukungnya. "Sebenarnya pesan Kaguya-sama adalah beliau menginginkan agar kita hidup selaras bersama dengan mahluk-mahluk di dunia ini tetapi dengan syarat kita tidak boleh terlalu mencolok dari memperlihatkan kekuatan kita kecuali benar-benar terdesak ... Kalian mengerti?" Tanya Madara setelah mengakhiri penjelasan singkatnya. (AN : Disini hanya Madara, Izuna dan Indra yang sudah membangkitkan MS)
"Aku mengerti." Jawab Jiraiya. "Pantas saja hanya nama Indra dan Ashura yang tertera pada buku sejarah." Tambah Jiraiya yang kini memegang dagunya sembari mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Ano ... Etto, aku sedikit bingung." Seperti yang diharapkan dari pemimpin desa Konohagakure yang mempunyai otak dongkol jika tidak sedang bertarung.
Secara bersamaan Madara dan Jiraiya menghela nafas berat. "Sudah kuduga otak dangkalmu akan bingung ... padahal aku sudah menjelaskannya secara singkat dan jelas." Gerutu Madara dengan nada agak kesal. "Singkatnya ... Kita melakukan kebalikan dari apa yang diinginkan Kaguya-sama dan itu semua adalah kesalahan dari kedua cucunya." Kata Jiraiya memberikan penjelasan yang lebih singkat agar Hashirama bisa mengerti. Sungguh baik Madara ataupun Jiraiya benar-benar tidak mengerti kenapa Hashirama bisa menjadi pemimpin Konohagakure.
"Aku sekarang mengerti." Hashirama manggut-manggut seperti seorang anak kecil yang dijanjikan sebuah mainan dari ayahnya setelah otaknya mengerti akan penjelasan dari Madara. "Jadi ... apa yang sekarang kita harus lakukan?" Tanya Hashirama kemudian.
"Tentu saja, membangun ulang kejayaan manusia pengguna chakra dan menjalankan apa yang diamanatkan oleh Kaguya-sama." Jawab Jiraiya. Madara yang agak setuju dengan ucapan Pertapa Genit itu menganggukkan kepala walaupun sebenarnya Madara agak ragu pada satu Fraksi yang mungkin saja kembali menginginkan kekuatan chakra dari mereka yaitu Fraksi Iblis. "Bagaimana caranya? apa kita harus ... "
"Ogah amat deh ... " Potong Jiraiya cepat ketika ia agak mengetahui lanjutan saran lain dari Hashirama. "Aku belum selesai Jiraiya." Protes Hashirama pada Jiraiya yang memotong ucapannya sambil mencak-mencak tidak jelas.
"Biar kutebak ... kau akan mengatakan kita akan melakukan 'itu'? Agar Manusia pengguna chakra bertambah?" Tanya Jiraiya dan entah kenapa Hashirama mengangguk dengan wajah bersemangat yang membuat Madara dan Jiraiya ingin segera menendang kepala Hashirama agar otaknya bisa mencair. "Dasar Dobe ... mana mungkin laki-laki bisa hamil. Dan asal kau tau ... aku masih normal seratus persen." Jelas Madara datar ditambah delikan tajam yang ditujukan oleh Hashirama.
"Aku juga masih normal ... lebih baik aku meniduri wanita 50 tahunan ketimbang kau." Jiraiya ikut-ikutan mendelik Hashirama.
"Grrr ... aku tau Teme ... Ero-Sannin." Hashirama menggertakkan gigi. "Aku juga masih normal Teme ... dan mana mau aku di Tusbol olehmu yang punya muka datar macam papan disana itu." Hashirama menyindir Madara dengan nada sinis sembari menunjuk sebuah papan yang berada tidak jauh darinya. "Maksudku itu adalah kita harus meninggalkan tempat ini dan melakukan amanat itu." Jelas Hashirama mengutaran sarannya yang sempat dipotong oleh Jiraiya tadi.
"Oh ... " Jiraiya dan Madara mengangguk dengan mulut berbentuk huruf 'o'. "Ternyata masih ada sedikit kepintaran di otak dangkalmu itu Dobe." Kata Madara selanjutnya dengan nada datar kebanggaan Uchiha.
"Dan apa setelah meninggalkan tempat ini. Apa kita akan bergabung dengan pihak yang menginginkan perdamaian?" Tanya Hashirama yang sebenarnya masih kesal dari sindiran dari Madara sebelumnya. Jiraiya merespon dengan anggukan. "Mungkin itulah yang akan kita lakukan." Kata Jiraiya.
"Dan satu lagi ... Kita juga akan membumi hanguskan seluruh Fraksi Iblis." Tambah Madara yang kini berucap datar dingin. Sontak Hashirama dan Jiraiya langsung menoleh ke arahnya.
"Hei Madara ... asal kau tau, sebenarnya ada dua golongan ... "
"Peduli setan dengan golongan lama atau baru ... yang jelas mereka satu Fraksi yang telah membunuh Izuna, Tobirama dan yang lain." Potong Madara yang sebenarnya mengetahui kalau Fraksi Iblis terbagi menjadi dua golongan yaitu Old-Faction Maou dan Anti Old-Faction Maou. Tetapi bagi Madara, mereka tetap satu Fraksi dan itu artinya mereka harus dibumi hanguskan.
Jiraiya mendengus kesal mendengar alasan Madara. "Mungkin aku punya cara agar kau mempercayai bahwa Anti Old-Faction Maou sebenarnya berbeda dengan yang menyerang kini." Jiraiya berucap tenang namun serius.
"Apa itu?"
"Gunakan mata Iritasimu dan ambil semua ingatanku selama melakukan perjalanan. Dan jangan lupa membaginya dengan Hashirama." Kata Jiraiya. Madara mengangguk pelan walaupun ada sedikit kekesalan terpampang di wajahnya karena sebutan Jiraiya mengenai mata andalannya. Onix kelam Madara sektika berubah menjadi Iris merah menyala dengan 3 Tomoe. Setelah mendapatkan persetujuan beruapa anggukan siap dari Jiraiya, Madara pun memfokuskan pandangannya ke kedua mata Jiraiya dan mulai mengambil semua ingatan Jiraiya. Ketika selesai, Madara serasa mau muntah saat salah satu ingatan Jiraiya ketika ia mengintip onsen terlintas di benaknya.
"Mesum!" Ejek Madara datar masih berusaha menahan agar rasa ingin muntahnya karena ia sama sekali belum makan sesuatu hari ini. "Aku tidak mesum ... Tapi aku super mesum." Jelas Jiraiya dengan PD-nya membuat Hashirama yang dari tadi hanya diam langsung terjungkal kebelakang dengan tidak elitnya sedangkan Madara hanya memasang wajah datar namun batinya kini dilanda sweatdrop stadium akhir.
"Itu sama saja kamvret!" Ujar Madara kesal. Hashirama yang masih dalam keadaan berbaring di permukaan tanah mengangguk membenarkan. Setelah itu Hashirama bangkit dan Madara menoleh ke arahnya dan mulai mentrasfer ingatan Jiraiya yang baru saja ia dapatkan. "Jiraiya benar Madara. Anti Old-Faction sepertinya benar-benar menginginkan yang namanya perdamaian." Hashirama berujar dengan senyum tipis karena setidaknya Iblis yaitu Fraksi yang menyerang desanya, ternyata ada juga yang mendukung perdamaian.
"Aku baru percaya apabila mendengar langsung dari pemimpin mereka. Serta melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri." Begitulah keputusan dari sang Uchiha terakhir. Walau keputusan dari Madara masih agak meragukan tetapi bagi Jiraiya dan Hashiram itu sudah cukup bagi mereka. "Nah ... sekarang masalahnya, kita akan tinggal dimana?" Tanya Madara setelahnya dengan nada masih datar.
"Bagaimana kalau kita ikut bersamamu Jiraiya?" Tanya Hashirama kepada pertapa mesum berambut putih itu.
"Aku tidak mau ... " Secara bersamaan Jiraiya dan Hashirama menoleh ke Madara yang kini sudah duduk membelakangi pemuda berambut silver yang tidak sadarkan diri pada permukaan tanah. " ... Bisa-bisa Image Uchiha milikku hilang tertular kemesumannya." Sambung Madara sedikit ke PD-an membuat Hashirama melongo dengan wajah konyolnya. Sedangkan Jiraiya terlihat mendengus kesal.
"Kalau begitu aku juga tidak mau ... Bisa-bisa Image Senju milikku juga hilang karena kemesuman Jiraiya." Kata Hashirama. Dan lagi-lagi Jiraiya mendengus kesal.
"Memang Senju punya Image?" Tanya Madara memandang sinis Hashirama. "Setahuku mereka hanya sekumpulan orang bodoh yang hobi judi." Sambung Madara sinis ditambah penekanan di akhir kalimat. Hashirama seketika mendelik The Last Uchiha tersebut. Dan ternyata Madara pun mendelik balik sahabat sekaligus Rivalnya.
"Dan yang terbodoh adalah kau." Madara menunjuk lurus Hashirama masih dengan tatapan sinisnya. Seketika Hashirama langsung menundukkan kepala dan diatas kepalanya berkumpul aura suram. Tampaknya ejekan terakhir Madara tepat sasaran. Melihat keadaan Hashirama, Madara merubah tatapan sinisnya menjadi penasaran dengan alis kiri yang terangkat. "Hei ada apa denganmu Dobe?"
"Mungkin dia depresi kau panggil bodoh." Sahut Jiraiya.
"Dia memang bodoh ... paling bodoh malahan." Balas Madara acuh tak acuh.
Jiraiya menghela nafas sejenak dengan mata tertutup. "Baiklah lupakan hal itu." Kata Jiraiya setelahnya. "Kita kembali ke permasalah dimana kalian akan tinggal." Tambah Jiraiya.
Madara melirik ke pemuda di belakangnya sejenak. "Mungkin bersama Bocah Sableng ini saja." Madara mengembalikan pandangannya ke Jiraiya sembari mengarahkan ibu jarinya ke belakang atau lebih tepatnya ke pemuda bernama Naruto. "Benar juga ... Di apartemen Naruto masih ada kamar kosong."
"Baiklah ... sudah diputuskan kalau kita akan tinggal di apartemen Naruto." Seketika Hashirama pulih dari acara depresi beratnya mendengar kalau mereka akan tinggal di apartemen Naruto. Entah apa yang membuat dirinya senang ketika mendengarnya. Namun ia sama sekali tidak tahu apa yang nantinya terjadi setelah mereka tinggal bersama Naruto dan adiknya Yuki.
"Tetapi alangkah baiknya sebelum pergi ... kita mengkebumikan jasad-jasad mereka yang tubuhnya masih tersisah." Kata Jiraiya agak pelan dan direspon anggukan pelan oleh Madara dan Hashirama tanda mereka setuju akan ucapan dari Jiraiya.
"Benar juga ... Kenapa kita sampai lupa hal sepenting ini." Kata Hashirama agak pelan karena kesalahan yang mereka perbuat yaitu membahas yang lain dulu bukannya mengkebumikan jasad-jasad rekan-rekan mereka yang seharusnya mereka lakukan untuk pertama kali. "Aku jadi merasa bersalah kepada mereka." Ucap Jiraiya masih pelan dan kini ia berucap sambil menundukan kepalanya tanda bahwa ia benar-benar merasa bersalah.
"Aku juga." Kata Madara dan Hashirama serentak. "Ayo kita mulai saja." Ajak Hashirama setelahnya dan dibalas anggukan oleh Madara dan Jiraiya.
Mereka bertiga mulai berdiri dan menciptakan masing-masing tiga Bunshin untuk mempercepat pekerjaan mulai mereka. Dan lagi-lagi Hashiram asli harus menelan pil pahit karena dirinya diperintahkan dengan bengisnya oleh Madara untuk menjadi tukang gali kubur untuk jasad rekan-rekan mereka yang sudah berpulang ke sisi Shinigami karena 'Arisan kehidupan' mereka telah selesai dengan tragis dibantai oleh para Iblis dari Old-Faction Maou. Oke Author mulai bingung sebenarnya siapa yang Hokage diantara mereka bertiga.
Setelah hampir satu jam mengumpulkan dan mengkebumikan rekan-rekan mereka dan tidak lupa juga melakukan penghormatan terakhir kepada mereka yaitu melakukan ritual hening cipta ala Shinobi yang dipimpin oleh Hashirama. Dan selama hening cipta itu berlangsung ketiganya terlihat meneteskan air mata kehilang yang teramat dalam. Bahkan Hashirama sampai-sampai berjongkok sambil menangis sesendu mungkin di depan kuburan Tobirama dan Izuna.
Madara berjalan mendekati Hashirama kemudian menepuk pundak sahabatnya. "Hentikan Hashirama ... Menangis di depan mereka berdua malah akan membuat mereka tidak tenang di alam sana." Kata sang pemilik Mangekyou Sharingan. Hashirama menghapus kasar cairan bening yang mengalir ke pipinya kemudian sedikit mendongak ke arah Madara.
"Madara benar!" Jiraiya membenarkan ceramah singkat dari Sang Uchiha Terkahir. Dan Hashirama mengangguk mengiyakan kemudian berdiri namun pandangannya masih tidak lepas dari makam rekan-rekannya yang berjejer rapi didepannya.
Setelah Hashirama berdiri. Ketiga pun kembali ke tempat dimana mereka meninggalkan pemuda berambut Dark-Silver bernama Naruto tengah terbaring tidak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
"Nah ... sekarang ayo kita berangkat!" Seru Hashirama riang sembari mengankat kedua tangannya ke udara tanda bahwa ia sangat antusias dengan hal ini. Madara dan Jiraiya pun sweatdrop di tempat sejenak.
"Tunggu dulu!" Jiraiya berkata serius. Madara dan Hashirama menoleh kearahnya dengan alis terangkat. "Hn/Ada apa?"
"Apa kalian berpikir apa yang sedang aku pikirkan?" Tanya Jiraiya balilk dengan nada serius dan itu semakin jelas dengan bahasa tubuh yang ia perlihatkan. Hashirama menggeleng pelan dengan ekspresi yang sama seriusnya dengan Jiraiya. Sementara Si Bengal Madara terlihat memasang wajah datarnya sambil menggeleng pelan kemudian berkata. "Tentu tidak ... yang kau pikirkan pasti Oppai, Pantat dan hal nista lainnya."
"Haaa ... " Keseriusan Jiraiya terganti menjadi kelesuhan mendengar ucapan Madara. " ... Maksudku bagaimana kita berangkat, lihat itu!" Kata Jiraiya setelahnya kemudian menunjuk satu-satunya alat transportasi mereka. "Kendaraan kita nampaknya kehabisan bensin." Madara yang mengerti mengangguk paham.
"Apa maksudmu Jiraiya? Bukannya kita bisa menggunakan Shunshin." Oke untuk kesekian kalinya, kebodohan dari sang Hokage kembali kambuh.
"Dasar Dobe ... apa kau mau kita melakukan Shunshin untuk berpindah ke apartemen Naruto?" Tanya Madara datar karena Pria Uchiha itu sudah tau jarak lokasi mereka saat ini dengan apartemen Naruto.
"Tentu saja ... apa lagi selain itu?" Tanya Hashirama balik.
"Ckckc ... " Jiraiya dan Madara geleng-gelengan kepala. " ... Asal kau tahu Hashirama-Dobe, jarak Kuoh dari tempat ini sangat jauh. Jadi mustahil kita melakukan Shunshin. Tetapi jika kita menggunakan Tehnik Teleport milik Naruto itu bisa. Bukannya kau sudah mendapat ingatanku. Tetapi kenapa kau tidak hal ini." Jelas Jiraiya pada Hashirama.
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Menunggu Naruto sadar?" Tanya Hashirama semberi melirik sejenak ke arah Naruto.
"Melihat keadaan Naruto saat ini ... lebih baik kita ke jalan raya terdekat saja." Kata Jiraiya memberikan saran kepada keduanya. Mengingat dirinya sudah hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk berkelanan. Jadi pengalamannya dalam hal ini jangan diragukan.
"Untuk apa kita ke jalan raya?" Tanya Hashirama dengan polosnya.
Greb!
Sebuah tangan mahluk astral berwarna biru seketika membungkus tubuh Hashirama. "Bertanya lagi ... akan kuhancurkan tubuhmu." Kata sang pemilik tangan mahluk astral itu dengan nada datarnya. Ia adalah Madara yang kini mengaktifkan Mangekyou Sharingan miliknya dan mendelik Hashirama. Dengan cepat Hashirama mengangguk dengan wajah pucat. "Dobe!" Gumam Madara pelan kemudian menonaktifkan Mangekyou Sharingan miliknya sehingga tangan astral berwarna biru yang memegang tubuh Hashirama menghilang.
"Ayo kalian berdua." Sahut Jiraiya yang kini sudah menaikkan Naruto yang tidak sadarkan diri di atas punggungnya. Madara dan Hashirama mengangguk pelan kemudian mengikuti Jiraiya yang sudah beranjak dari tempatnya.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian akhirnya keempat orang itu berhasil mencapai jalan raya terdekat dari bekas desa Konohagakure.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Madara datar kepada Jiraiya. Sedangkan Hashirama hanya diam karena jika ia ingin membuka suara, Madara langsung mendelik kepadanya. "Tunggu ... " Jiraiya mulai menggerakkan tangan kanannya menuju ke saku celana dan mulai mencari sesuatu. Tidak menemukan yang ia cari di saku celananya, Jiraiya beralih ke kantong ninjanya dan hasilnya sama.
"Sial! ... sepertinya seluruh uang milikku ada di Rumah Yasaka-san. Bagaimana dengan kalian berdua?" Tanya Jiraiya kepada keduanya. Madara dan Hashirama pun menggeleng pelan.
"Lihat aku ... " Madara menunjuk dirinya sendiri yang masih mengenakan Armor Shinobi miliknya. "Apa aku terlihat mempunyai uang?"
"Aku juga sama."
Seketika kepala Jiraiya langsung tersentak kebawah mendengar ucapan keduanya. "Memangnya kita mau apakan uang itu Jiraiya?" Tanya Hashirama yang agak takut-takut kepada Madara. Tetapi karena pertanyaan lumayan berbobot, Madara pun ikut menganggukkan kepalanya.
"Kita akan gunakan untuk menyewa kendaraan untuk ke Kyoto atau setidaknya ke kota terdekat. Tetapi karena tidak ada satu pun ... " Perkataan Jiraiya seketika terhenti dan melirik Naruto yang berada di punggungnya. " ... coba periksa Naruto, mungkin dia punya." Hashirama yang dekat dengan keduanya mengangguk pelan kemudian mulai menggeledah setiap inci pakaian Naruto hingga ke bagian 'terlarang' yaitu celanan dalam yang membuat Madara ingin muntah melihatnya.
"Apa kau tidak jijik memeriksa bagian itu ... bagaimana kalau Bocah Sableng itu belum mencuci celana dalam-nya selama tiga hari." Madara membatin sweatdrop sambil geleng-geleng kepala. "Dan mana mungkin ia menaruhnya di situ ... Dasar Dobe."
"Seperti dia juga tidak punya." Ucap Hashirama lesuh setelah selesai menggeleda setiap inci pakaian Naruto.
"Haaa ... sepertinya kita harus meminta tumpangan ke para pengendara saja kalau begitu." Kata Jiraiya kemudian beranjak ke bahu jalan. Dan sesampainya di sana ia langsung mengacungkan ibu jarinya ke atas untuk memberi tanda kepada para pengendara bahwa mereka membutuhkan tumpangan.
"Tck ... Madara-sama tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu." Tampaknya sang Uchiha Terakhir tengah masuk ke dalam mode menjunjung tinggi martabatnya yang membuat Hashirama dan Jiraiya dibuat kesal. "Bisa tidak hilangkan Image Uchiha-mu Madara." Bentak Jiraiya. Tampaknya ia dibuat kesal sendiri melihat Madara yang hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada di belakangnya.
Beberapa menit berlalu dan tidak ada satupun pengendara yang menghentikan kendaraan mereka di depan ketiganya. "Haa ... Dasar pelit." Gumam Jiraiya mulai kesal saat satu lagi pengendara dengan tidak berprikemanusiaannya menghiraukan mereka. "Apa karena gaya berpakaian kita yaa?" Jiraiya memandang mereka dan hanya Naruto yang mengenakan pakaian khas jaman sekarang. Berbeda dengan dirinya serta Hashirama yang mengenakan armor shinobi.
"Dimana di Teme sialan itu?" Tanya Hashirama yang tidak menemukan keberadaan rivalnya.
"Hey Dua Mahluk aneh ... Aku sudah mendapat tumpangan." Jiraiya dan Hashirama mengalihkan pandangannya ke arah kiri dan mendapati Madara sudah berdiri di samping sebuah mobil SUV hitam yang berhenti. Jiraiya dan Hashirama langsung tersenyum sumriah kemudian menghampiri Sang Uchiha Terakhir yang dengan cool-nya berdiri sambil bersikedep dada.
"Hebat juga kau Teme." Puji Jiraiya. Tetapi ketika ia sudah berada tepat di samping mobil SUV, ia langsung sweatdrop melihat sang supir tengah memandang kosong ke arah depan. "Pantas ... Ia memberikan Genjutsu kepada orang ini, tapi idenya lumayan cerdas juga." Batin Jiraiya.
Tanpa pikir panjang ketiga (Empat karena Naruto pingsan) langsung masuk ke dalam mobil. Jiraiya duduk tepat di samping pengemudi sedangakn Hashirama, Naruto dan Madara duduk di kursi belakang. Setelah semua penumpang sudah masuk, sang pengendara pun menjalankan mobilnhya. Selama perjalanan, Hashirama tak henti-hentinya memandang kagum tempat-tempat yang mereka lewati. Walaupun beberapa tempat ia sudah lihat di ingatan Jiraiya. Tetapi melihatnya secara langsung memang berbeda dibanding hanya lewat ingatan.
"Hey apa yang kau lakukan!" Bentak Jiraiya ketika melihat sang pengendara dengan tampang kosongnya mengabaikan lampu lalu lintas yang berwarna merah karena saat ini mereka tengah berada di sebuah kota kecil. "Mungkin karena aku memberinya perintah jangan berhenti sebelum kita sampai ke Kyoto." Jelas Madara dengan datar.
"Dasar bodoh ... bisa-bisa kita ditangkap Madara." Ujar Jiraiya sambil mendelik Madara. Dan tampaknya Madara hanya meresponnya dengan gumaman datar khas Uchiha. "Grrr ... cepat perintahkan dia untuk berhenti!" Perintah Jiraiya tegas kepada Madara. Sementara itu Hashirama tiba-tiba menoleh ketika mendengar suara sirine dari arah belakang.
"Hey kalian berdua ... ada yang mengejar mobil kita." Hashirama menunjuk kebelakang lebih tepatnya ke sebuah mobil patroli polisi yang mengejar mereka dengan sirine berbunyi keras. Madara mengalihkan pandangannya ke sopir. "Hey ... tambah kecepatannya!" Perintah Madara tegas dan dibalas anggukan oleh sang supir.
"NANI ... Apa yang kau lakukan Teme-Sialan!" Urat-urat kekesalan Jiraiya terlihat di keningnya. "Kau malah memperburuk keadaan."
"Maa~Maa ... Menghadapi masalah dengan tenang itu terlalu merepotkan." Balas Madara datar dan jelas membuat Jiraiya benar-benar sudah dibatas kesabarannya. Jika saja mereka tidak berada di dalam mobil, Jiraiya sudah dari tadi menghantamkan Rasengan ke wajah tembok Madara.
Adegan kejar-kejaran layaknya didalam Film Fast Furious pun terjadi di jalan tol. Para pengendara yang menyaksikan adegan itu pun dibuat kagum oleh skill pengemudi mobil yang ditumpangi Madara And The Geng. Bahkan ada dari mereka yang merekamnya menggunakan Kamera. Beberapa menit berlalu dan tampaknya Si Bengal Uchiha Madara mulai risih mendengar sirine mobil patroli polisi yang mengejar mereka.
"Grr ... Bisa aku Katon mobil itu?" Tanya Madara datar sembari menunjuk mobil polisi di belakang mereka. "Aku juga ... Mokuton milikku mungkin berguna." Hashirama ikut menimpali. Sementara Jiraiya, jangan ditanya lagi. Wajahnya kini sudah memerah di seluruh bagian tanda bahwa ia sudah benar-benar marah kepada keduanya.
Tampaknya Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka. Karena Mobil Polisi yang mengejar mereka mulai memperlambat lajunya, entah karena sang pengendara sudah lelah atau mungkin mobil kehabisan bahan bakar yang membuat mobil itu memperlambat lajunya. Hal itu sontak membuat Jiraiya mengehela nafas. Dan setelah perjalan selama hampir 5 Jam. Akhirnya mereka tiba di kediaman Yasaka Sang Pemimpin Youkai Kitsune. Dan tanpa pikir panjang, Jiraiya langsung masuk dan mengambil pakaian miliknya dan Naruto kemudian pamit kepada sang empunya rumah dan akhirnya melanjutkan perjalan mereka ke Kuoh.
.
.
.
.
.
2 Jam setelah meninggalkan kediaman sang pemimpin Youkai Kitsune. Mobil yang disabotase dengan cera meng-hipnotis sang supir dan didalmnya terdapat Madara and Geng akhirnya tiba di kawasan kota Kuoh. Setelah memutari kawasan kota Kuoh selama 10 menit. Akhirnya mobil SUV itu berhenti tepat di depan sebuah apartemen bertingkat dua yang diketahui adalah apartemen milik Naruto.
"Nah ... kita sudah sampai." Ujar Jiraiya dengan nada masih kesal.
Madara dan Hashirama mengangguk pelan lalu membuka pintu dan beranjak keluar dari mobil. Dan tidak lupa Hashirama mengambil dan menaikkan Naruto ke punggungnya. Di sisi Jiraiya, ia langsung mengalihkan perhatiannya pada supir yang senantiasa berada di depan kemudi yang dari tadi hanya memandang kosong ke arah depan. "Heii Madara ... bagaimana dengannya?" Tanya Jiraiya kepada pemilik rambut raven sepunggung itu.
"Tunggu dan lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Madara-sama ... Khukukuku!" Madara berucap dengan bangga sambil bersikedep dada. Tidak lupa ia mengeluarkan tawa psikopat seperti tawa seorang pasien rumah sakit jiwa yang baru saja kabur. "Kau!" Madara memanggil sang supir.
"Pergilah dan terima kasih atas tumpangannya." Kata Madara dan direspon anggukan oleh sang supir tadi. Perlahan mobil SUV itu mulai melaju meninggalkan keempat mahluk yang tengah berdiri pada trotoar di depan apartemen Naruto. Setelah mobil SUV itu mulai menghilang dari pandangan keempatnya, Madara menciptakan handseal sedarhana kemudian bergumam pelan. "[Kai]"
Hashirama dan Jiraiya pun dibuat geleng-geleng menyaksikan kelakuan dari si Uchiha Madara. Dan dipikiran mereka saat ini adalah bagaimana nasib sang supir saat sadar bahwa ia tengah berada di tempat bernama Kota Kuoh.
.
.
.
.
.
"Tadaima!" Salam Jiraiya yang kini berdiri tepat di depan pintu masuk apartemen Naruto.
"Okaeri ... Siapa yaa?" Sebuah suara feminim terdangar menjawab salam Jiraiya dari balik pintu. Dan tak berselang, pintu itu terbuka dan menampakkan gadis cantik berambut putih sepinggul. Poni bagian kiri terdapat sebuah jepitan rambut orange sementara poni bagian kanan dibiarkan terjatuh sehingga membingkai wajah imutnya. "Jiraiya-Ojiichan ... NII-CHAN!" Gadis itu seketika berteriak keras ketika mendapati sang kakak kini berada di gendongan pria di belakang Jiraiya.
"APA YANG TERJADI DENGAN NII-CHAN? ... DAN SIAPA MEREKA BERDUA." Gadis itu kembali berteriak sembari menunjuk secara bergantian Madara dan Hashirama. "YANG SATU ITU WAJAHNYA MENYERAMKAN!"
"Buahahahahahah!" Tawa Hashirama dan Jiraiya langsung pecah mendengar teriakan selanjutnya dari sang adik Naruto. Sementara orang yang ditertawai yaitu Madara kini terlihat berusaha menahan dirinya agar tidak lepas kendali dan menghancurkan kedua orang di depannya ini menggunakan Susano'o.
"Ha ha ... Nanti saja dijelaskannya Yuki-chan, sebaiknya kita bawah saja Naruto ke kamarnya dulu." Jelas Jiraiya kepada adik Naruto yang diketahui bernama Yuki. Gadis berambut putih itupun mengangguk dan menuntun Hashirama yang menggendong Naruto menuju ke kamar di lantai dua.
.
.
.
.
.
Saat ini Jiraiya, Yuki, Madara dan Hashirama sudah berkumpul di ruang tengah apartemen Naruto. Dan tanpa menuju lama. Jiraiya langsung menjelaskan mengenai pingsannya Naruto dengan alasan pemuda berambut Dark-Silver itu terlalu memaksakan dirinya saat berlatih. Setelah Yuki menerima alasan tersebut, Jiraiya melanjutkan penjelasannya mengenai Madara dan Hashirama yang mulai sekarang akan tinggal bersama mereka.
"Aku tidak tahu Ojii-chan ... biar Nii-chan saja yang menentukan." Ujar Yuki.
"Anoo ... siapa dia Jiraiya? apa pacar Naruto?" Tanya Hashirama penuh rasa penasaran setelah tersadar bahwa ternyata Naruto tidak tinggal sendirian.
"Ya ampun Dobe ... " Madara geleng-geleng kepala. " ... Jelas-jelas ia memanggil Bocah Sableng dengan sebutan 'Nii-chan' itu berarti dia ini adiknya." Sambung Madara dengan nada datarnya.
"Aree? Sejak kapan-"
Perkataan Hashirama langsung terpotong ketika sebuah lingkaran sihir Gremory muncul tepat di dekat mereka. Madara yang mengetahui bahwa ini adalah pertanda bahwa akan ada Iblis yang keluar dari lingkaran sihir itu langsung mengaktifkan mata andalannya dan berdiri dari sofa tempatnya duduk.
"Iblis!" Desis Madara dingin.
"Madara hentikan!" Jiraiya berusaha menghentika Sang Uchiha sambil memberikan kode berupa mengarahkan telapak tangannya ke arah Madara. Dari lingkaran sihir itu muncul dua orang berbeda gender yang seketika terkejut melihat Madara yang siap melakukan serangan kepada mereka.
"Dia adalah Maou-Lucifer ... Pemimpin dari Fraksi Iblis." Kata Jiraiya.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Haaaa ... Chapter 4 yang penuh akan keGaje-an tingkat tinggi akhirnya selesai juga.
AN : Untuk kalian yang menunggu Fic Uzumaki D. Naruto dan Trio Uzumaki. Saya mohon maaf karena saya tidak akan Meng-Update dalam waktu dekat. Mungkin setelah lebaran baru saya Update. Itu karena dalam seminggu ini saya benar-benar sibuk. Pertama adalah hari Senin s/d Rabu saya akan sibuk menghadapi Tes masuk ke dalam Universitas. Dan hari Kamis ... Tau sendirikan kalau itu sudah hampir lebaran makanya banyak yang harus dipersiapkan.
.
.
Untuk kesekian kalinya Author berterima kasih kepada kalian karena telah Mereview, Favorite, Follow ataupun sekedar membaca Fic super berantakan dan Gaje ini.
Akhir kata dari saya tinggalkanlah jejak berupa Review ... Baik tanggapan atau berupa sebuah saran dan akan saya balas melalui PM. Karena Review anda merupakan bahan bakar/penyemangat untuk saya agar melanjutkan Fic ini.
.
.
.
.
RootWood Out!
