Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto, High School DxD ataupun unsur lain dari Anime/Manga yang muncul dalam Fic ini.

Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Etc.

Rate M untuk Bahasa dan Storyline

Warning : AU, Typo[s], Miss-Typo[s], EYD [Ejaan Yang Disemrawutkan], Mainstream, OOC [Amat Sangat], OC, Protagonist!Madara, MoreFriendly!Kurama, Etc.

.

.

.

.

.


The Half-Devil Lucifer

Arc I - Chapter 5 : Perjanjian Damai Atau..?


.

.

.

.

.

Pukk!

Sebuah lengan kekar tiba-tiba menyentuh pundak Madara. Akan tetapi pria bermarga Uchiha itu tidak menoleh sama sekali hingga...

"Hentikan Madara!"

Dua buah kosakata yang diucapkan penuh penekanan sontak membuat Madara langsung menoleh kebelakang. Madara hafal betul jika orang yang menepuk pundak sudah dalam mode seriusnya. Itulah kenapa ia langsung menoleh kebelakang.

"Lepaskan Hashirama!"

Balasan yang amat sangat datar dilontarkan Madara kepada orang bernama Hashiram untuk segera melepaskan lengan pria itu dari pundaknya. Namun yang dilakukan oleh Hashirama malah sebaliknya, Sahabatnya itu malah mengeratkan pegangan tangan kanannya pada pundak Madara.

"Kubilang lepaskan Hashirama!" Sepasang iris merah darah yang terdapat pola aneh kini berkibar dengan gagah di wajah datar Madara untuk memperjelas isyarat yang ia berikan untuk Hashirama.

Rahang Hashirama sedikit mengeras melihat Madara sudah mengaktifkan mata Mangekyo Sharingan yang umur kebangkitannya baru seumuran biji jagung. "Hentikan Madara, keadaan Naruto belum kita tau pasti apa dia baik-baik saja dan kini kau ingin menambah masalah lagi? Dimana Madara yang kukenal tenang menghadapi masalah?" Dan seakan tidak mau kalah oleh sahabat sekaligus rivalnya, Hashirama pun menaikkan sekitar 50 persen tekanan charaknya sebagai kode keras untuk Madara kalau dirinya tidak kalah serius untuk menghentikan Pria Uchiha satu ini.

Tekanan udara pada ruangan seketika menurun drastis. Jiraiya dan Yuki pun kesulitan untuk bernafas, sedangkan kedua Iblis yang belum mengerti apa yang terjadi memilih diam walaupun tekanan chakra yang Hashirama keluarkan sedikit berpengaruh pada keduanya.

'Kekuatan macam apa ini... udara di rungan ini tiba-tiba menipis.'

Salah satu dari kedua Iblis itu membatin sambil memperhatikan sumber dari tekanan ini. Beberapa menit kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Madara. 'Mata orang itu juga memancarkan kekuatan yang setara dengan tekanan ini... Siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang terjadi dengan Naruto-kun?'

"Kalian berdua hentikan!"

Madara dan Hashirama secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Jiraiya menatap tajam mereka.

"Jiraiya?" Seru Madara dan Hashirama secara bersamaan sambil melototi sang Pertapa katak tanda bahwa kedua Shinobi ini marah karena tatapan tajam Gama Sannin itu.

"Apa kalian ingin adik Naruto mati kehabisan udara, Haaa?!" Pertanyaan monoton dilontarkan Jiraiya kepada keduanya.

Hashirama yang sadar akan pertanyaan dari Jiraiya seketika menurunkan tekanan chakra miliknya hingga level terendah. Pengguna Mokuton lalu menatap tajam Madara yang masih mengkibarkan mata andalan pria itu.

"Cih!" Decihan kecil tanda ketidaksukaan pada tatapan Hashirama keluar dari mulut Madara. Dan tak berselang beberapa detik, kedua iris merah darah berpola hitam aneh Madara kembali menjadi Onix kelam, sekelam langit malam hari dimana pembantai penduduk Konohagakure.

"Haaa... Haaa... Haaa..." Sebuah suara nafas yang tersenggal-senggal tiba-tiba terdengar dari arah belakang Jiraiya.

"Yuki-chan..." Jiraiya secepatnya menoleh kebelakang dan mendapati Yuki tengah memegang dada sambil mengatur nafas. "...Kau tidak apa-apa 'kan?"

Yuki mengerutkan bibir mungilnya sejenak lalu kembali mengatur nafasnya. "Haa... Haa... Kedua orang itu menakutkan, terutama yang..." Yuki menjeda ucapannya lalu mengarahkan dengan pelan jari telunjuknya pada Madara. "...yang berponi menyeramkan itu."

Madara yang mendengar ucapan Yuki sedikit kesal. Sedangkan Hashirama, wajah seriusnya barusan sudah menghilang entah kemana digantikan wajah yang sedikit memerah karena berusaha menahan tawanya agar tidak keluar yang disebabkan panggilan Yuki kepada Madara yang menurutnya lucu, akan tetapi beberapa detik kemudian...

"Pffffttt...Hahaha...BWAHAHAHAHAHA~" Tawa Hashirama sudah tidak bisa lagi ia tahan dan dengan kurang ajarnya langsung ia keluarkan hingga menggema di ruangan itu. Sambil tertawa Hashirama tidak lupa menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

"Haa...Ha...Ha...Sudah aku bilang'kan, potong ponimu itu Madara."

Kendutan berukuran kecil muncul di pipi sebelah kiri Madara mendengar saran kelewat bodah dari Hashirama. "Diam kau Dobe! Wajahmu itu yang perlu dipermak! Pantas saja di desa tidak ada wanita yang mau dekat-dekat denganmu." Dengan wajah dan nada mengejek, Madara mengeluarkan salah satu senjata pamungkasnya untuk mengembalikan ejekan dari Hashirama dan hasilnya.

Doeng!

Kebiasaan buruk dari kecil Hashirama yang sampai sekarang belum juga menghilang kembali muncul ketika Madara mengucapkan ejekan barusan kepada dirinya. Kini terlihat sang pemimpin desa Konogakure itu tengah menundukan kepala dengan aura suram mengepul di atas kepalanya.

"Kau keterlaluan mengunkit masalah itu, Madara!" Gumam Hashirama dengan nada depresi dan sekarang kanji-kanji aneh beterbangan ke segala arah dari kepala Hashirama melewati aura suram di atasnya.

"Mau sampai kapan kau menyimpan kebiasan kelewat bodoh itu Dobe?" Kebiasan bodoh dari Hashirama yang dimaksud itu pun membuat Madara mengoceh tidak jelas perihal keadaan sahabatnya ini. Akan tetapi Hashirama tetap melakukan hal itu.

"Cepat hilangkan kalau tidak kubakar kau!" Bentak Madara setelahnya dengan kepala membesar disertai wajah konyol khas Uchiha Madara.

Dua Iblis berdarah murni yang sedari tadi hanya diam, kini dilanda sweatdrop melihatnya. 'Ada apa dengan mereka berdua?' Tanya keduanya dalam hati masih dengan sweatdrop mereka.

Tidak jauh beda dengan kedua Iblis itu, Jiraiya pun dilanda sweatdrop disertai keringat besar yang muncul di belakan kepalanya. 'Ada apa dengan dua orang bodoh ini?'

.

.

.

Beberapa menit setelah itu.

Perdebatan yang awalnya tegang lalu berubah konyol yang dilakukan oleh Hashirama dan Madara akhirnya terselesaikan, baik Hashirama maupun Madara kini duduk di sofa panjang yang sama, namun tidak ada sama sekali dari mereka yang mengeluarkan suara dikarenakan kekesalan kepada satu sama lain.

Sedangkan Jiraiya, ia akhirnya sadar bahwa perdebatan tadi membuat dirinya melupakan sesuatu yang sangat penting. Jika saja di ruangan itu tidak ada Madara, Hashirama dan Yuki. Maka sudah pasti dirinya akan membenturkan kepalanya ke dinding karena melupakan hal yang baru ia sadari. Dalam gerakan cukup lambat, ia mengalihkan pandangannya dari Madara dan Hashirama yang duduk didepannya menuju kebelakang.

"Hehe... Maaf Sirzechs-dono, Grayfia-san!" Jiraiya tersenyum kikuk sambil menggaruk bagian belakang surai keperakan miliknya.

"Tidak apa Jiraiya-san." Sirzechs tersenyum maklum, sedangkan Grayfia hanya mengangguk pelan dengan wajah datar disertai gumaman datar. "Hn."

Senyum maklum dari Sang Maou-Lucifer membuat Jiraiya menghela nafas lega, ia kemudian memutar kembali tubuhnya yang tengah duduk di sofa menghadap ke Yuki, adik Naruto. "Nee...Yuki-chan...Sebaiknya kau ke kamar dan temani Naruto, aku dan Sirzechs-dono ingin membicarakan sesuatu."

"Ba-Baik Ojii-chan!" Dengan wajah agak ketakutan dan melirik Madara sejenak, Yuki mengangguk paham dan langsung berdiri dari sofa yang ia duduki dan dengan langkah kecil Adik dari Naruto berjalan menuju tangga untuk mencapai lantai 2 tempat kamar Naruto terbaring tidak sadarkan diri.

Setelah Yuki sudah berada di ujung tangga, Jiraiya mengalihkan pandangannya kembali ke Sirzechs dan Grayfia. "Silahkan Sirzechs-dono... Grayfia-sana!" Jiraiya berdiri dari sofa sambil mempersilahkan kedua Iblis berdarah murni itu untuk duduk pada sofa tempat ia dan Yuki tadi duduki.

Madara sedikit kesal melihat Jiraiya yang terlihat sangat sopan dan menghormati keduanya. "Kau membuatku kesal saja Jiraiya... Bisa-bisanya kau begitu hormat pada mahluk yang telah membantai penduduk desa kita." Dan tanpa sepengetahuan semua yang berada di ruangan itu, Madara mengepal kuat-kuat tangan kirinya yang ia letakkan di samping paha.

"Tidak usah seformal itu Jiraiya-san."

Kekesalan Madara semakin menjadi-jadi ketika mendengar ucapan Sirzechs yang menurutnya hanya sebuah alibi untuk menutupi kesalahan sang Maou-Lucifer perihal pembantaian penduduk Konoha.

.

.

.

Kini Sirzechs dan Grayfia duduk pada sofa panjang dan didepannya. Jiraiya, Hashirama dan Madara duduk bersama pada satu sofa. Pandangan Sang Maou-Lucifer tidak pernah lepas dari Madara dan Hashirama yang saat pertama kali kesini sudah menarik perhatiannya.

"Apa ada yang salah dengan kami sehingga sejak kau duduk tidak pernah berhenti menatap kami seperti itu?" Tanpa ada rasa hormat sedikit pun kepada Sang Maou-Lucifer, Madara bertanya dengan wajah dan suara datarnya.

Sebuah pelototan tajam langsung diterima oleh Madara atas ucapannya barusan yang berasal dari Jiraiya. "Oii... Madara dimana-"

"Dengar ini Jiraiya!" Madara tiba-tiba memotong ucapan dari Jiraiya, ia lalu menyadarkan punggung pada sandaran sofa dan kedua lengan Madara kini menyilang pada dada, tidak lupa memasanga wajah datar. "Tidak peduli siapa, apa jabatannya... Selama aku belum mempercayainya, maka jangan harap aku akan member hormat sedikit pun." Tatapan Madara seketika berubah dingin ketika pandangannya tertuju pada Sirzechs dan Grayfia.

"Apalagi jika mereka adalah bagian dari fraksi yang telah-"

"Hentikan Madara!" Secara bersamaan Jiraiya dan Hashirama tiba-tiba memotong ucapan dari Uchiha terakhir itu.

"Maa-Maa... Tidak apa Jiraiya-san, malah orang seperti dialah..." Sirzechs melirik Madara dan tersenyum tipis "...menurutku patut diikuti. Tidak membeda-bedakan siapa dan apa jabatan seseorang."

"Hn."

Jiraiya hanya mendesah melihat respon Madara untuk ucapan Sirzechs yang menurutnya benar-benar tidak ada rasa hormatnya sama sekali. Tapi apa mau dikata, itu sudah menjadi sifat bawaan dari seorang Uchiha macam Madara. Setelah itu, pandangan Jiraiya beralih ke Sirzechs.

"Baiklah Sirzechs-san... Bisa kita langsung ke intinya saja, ada apa gerangan tiba-tiba anda berkunjung kesini?"

"Sebelum aku mengatakan maksudku kesini, bisakah Jiraiya-san mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Naruto-kun?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Jiraiya, Sirzechs malah melempar balik pertanyaan yang baru ia sadari karena setahunya, jika ia ataupun Grayfia berkunjung ke sini. Maka Naruto pasti segera menemui mereka. Berbeda dengan sekarang dan ditambah lagi ucapan Jiraiya barusan yang memerintahkan Yuki untuk menemani Naruto semakin menambah rasa penasarannya.

"Haaaaaaaa..." Jiraiya mendesah panjang sambil berpikir untuk memulai dari mana ia akan bercerita. Tak ayal hal itu membuat Sirzechs penasaran begitupula Grayfia namun bisa ditutupi dengan wajah datar.

"Ada apa Jiraiya-san? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto-kun dan juga..." Pandangan Sirzechs sejenak ia alihkan pada Madara dan sesudah itu, kembali ke Jiraiya. "... Apa maksud dari kejadian tadi itu."

Sebelum Jiraiya mulai menjelaskan, ia mengalihkan wajahnya menatap Hashirama dan Madara. Seolah mengetahui apa arti dari tatapan dari Jiraiya, kedua orang yang merupakan Rival Abadi sekaligus sahabat itu mengangguk dengan ekspresi wajah berbeda.

"Baiklah! Jadi kalian ingin aku yang memulai?"

"Hn!" Sebuah gumaman ambigu dikeluarkan oleh Sang Uchiha. Sedangkan Hashirama mengangguk untuk kedua kalinya.

"Aaaah ... Dasar Anda ini!"

Setelah mengumpat kedua orang di sampingnya, Jiraiya mengembalikan pandangannya pada kedua Iblis yang tengah duduk pada sofa di depannya. "Mengenai Naruto dan kejadian tadi... Sebenarnya saling berkaitan."

"Memang apa yang terjadi?" Sirzechs menyatukan kedua telapak tangannya kemudian menyandarkan dagu pada tangan yang menyatu itu.

"Begini... Anda tau 'kan perihal kekuatan yang kumiliki di dalam tubuhku?"

"Ya tentu saja."

Sebuah tatapan tajam setajam silet langsung didapatkan oleh Jiraiya yang berasal dari Hashirama dan Madara. Tatapan itu bukan tanpa sebab dikeluarkan oleh keduanya, pasalnya dari pertanyaan Jiraiya. Madara dan Hashirama akhirnya mulai mengerti kenapa Konohagakure bisa ditemukan oleh Old-Faction Maou.

"Akhirnya aku mengerti kenapa Konoha bisa ditemukan...Ternyata penyebab semua ini adalah kau Jiraiya!" Madara hendak berdiri dari sofa dengan Mangekyo Sharingan yang entah sejak kapan diaktifkan olehnya kini berkibar dan siap untuk melakukan tugasnya.

"Tunggu Madara!"

"Apa lagi yang perlu ditunggu, Huh? Orang yang menyebabkan Konoha diserang sudah ada di depan mataku." Madara berdiri dari sofa yang ia duduki, sebuah tatapan dingin yang semakin terlihat mengerikan dengan mata penuh dengan kebencian besar miliknya kini terarah tepat ke Jiraiya.

"Hashirama!...Apa yang lagi yang kau tunggu! "

'Mata itu lagi!' Sirzechs kembali membatin penuh rasa penasaran, apalagi kekuatan Mangekyo Sharingan Madara kali ini lebih kuat dibanding yang tadi dan itu membuat Sirzechs memprediksikan jika mata Madara itu memiliki kekuatan yang lumayan besar.

Hashirama hendak mengikuti apa yang dilakukan oleh Madara. Akan tetapi, sebelum Hashirama berdiri dan melakukan sesuatu Jiraiya terlebih dahulu mengeluarkan suara. "Aku bilang tunggu!"

"Huh? Tunggu katamu?" Kesabaran Madara akhirnya mencapai puncaknya, kedua lengan Sang Uchiha kini bergerak menuju ke depan dan siap menciptakan sebuah handseal. Madara sudah tidak peduli lagi mereka berada dimana asalkan dia bisa menghajar Jiraiya.

"Tunggu Madara! Biarkan Jiraiya menjelaskannya, aku yakin dia bukan tipe orang yang seperti itu."

Di luar dugaan Madara ternyata Hashirama malah memerintahkan Sang Uchiha untuk menunggu sama seperti perintah Jiraiya barusan dan hal ini sontak membuat Madara heran karena bisa-bisanya Hashirama malah menyuruhnya menunggu penjelasan dari Jiraiya.

"Jiraiya adalah orang pertama dan satu-satunya penduduk Konoha yang meninggalkan desa hanya untuk mengembara dan menulis buku bodoh miliknya. Jadi sudah pasti dialah penyebab Iblis-Iblis sialan itu mengetahui keberadaan kita."

Hashirama mendesah pelan dengan mata tertutup kala perkataan datar Madara tergiang jelas di telinganya. "Tapi bisa saja bukan dia penyebabnya!" Hashirama mengerjap. Jari telunjuk tangan kanannya lalu ia posisikan di depan wajah. "Kenapa? … Itu karena Jiraiya termasuk orang bisa dipercaya."

"Haaa..." Alis kiri Madara terangkat. "Terpecaya? Mana buktiknya?"

"Hanya Sirzechs-dono dan Grayfia-san yang mengetahui perihal kekuatanku!" Jiraiya tiba-tiba membuka suara kembali setelah diam beberapa saat menyaksikan dua Rival itu. "Bukannya kau sudah mendapat ingatanku? Jangan-jangan ingatan yang kau ambil tidak semuanya!"

"Cih!" Madara mendecih pelan sambil menonaktifkan Mangekyo Sharingan miliknya, dan tak berapa lama ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa tanda bahwa ia paham atas ucapan Jiraiya karena memang Madara sudah melihat semua ingatan Jiraiya.

Beralih ke sisi sofa di depan ketiga shinobi itu, Sirzehs yang mendengar jelas pembicaraan ketiganya tiba-tiba menyipitkan mata. "Tunggu dulu..." Secara serentak pandangan ketiga manusia itu langsung tertuju padanya. "... Apa kalian berdua juga memiliki kekuatan bernama Chakra yang sama dengan Jiraiya?"

"I-Iya!" Dengan suara sedikit gagap, Jiraiya menjawab pertanyaan dari Sirzechs. "Ma-Maaf telah membohongi anda perihal kekuatanku, Sirzechs-dono."

"Sebenarnya manusia yang memiliki kekuatan [Chakra] ada banyak… Akan tetapi..." Jiraiya menjeda kalimat yang akan ia ucapkan membuat Sirzechs dan Grayfia semakin penasaran.

Karena bosan menunggu Jiraiya, Madara memajukan kepala sambil mendesah berat. "Teman, Keluarga dan Manusia Pengguna Chakra selain kami sudah dimusnahkan olah Fraksi kalian... Para Iblis!" Jelas Pria berambut Raven tersebut dan tidak lupa memberi penekanan cukup keras pada dua kata terakhir.

Sirzechs dan Grayfia membulatkan mata mereka secara bersamaan mendengar fakta bahwa ratusan atau bahkan ribuan nyawa baru saja melayang di tangan Fraksi Iblis. "A-Apa kau tidak bercanda?" Tanya Sirzechs kepada The Last Uchiha.

Madara menggeleng pelan. "Aku bukanlah Iblis seperti kalian yang pandai berbohong..." lalu ia menatap sinis kedua Iblis di depannya. "...Brengsek!"

Mata Sirzechs melebar sempurna dan pupilnya terlihat mengecil, ia syok mendengar bawahannya telah melakukan kejahatan berupa pembantaian ribuan manusia pengguna chakra. Sedangkan Grayfia malah menggertakan gigi karena kata terakhir yang diucapkan oleh Madara.

"Hey Manusia Kurang Ajar!... Jaga ucapan-"

"Diam kau, Jalang!" Potong Madara dengan suara membentak.

Grayfia kembali menggertakan gigi. Ia pun menikatkan tekanan Aura Iblisnya untuk mengintimidasi Madara. Belum sempat mengeluarkan balasannya, Grayfia menoleh ke arah kanan ketika merasa tangannya disentuh oleh seseorang.

Di samping kanan Grayfia, Sirzechs menggeleng pelan. "Selaku pemimpin dari Fraksi Iblis... Saya meminta maaf atas apa yang bawahanku telah lakukan."

"Tunggu!" Jiraiya memajukan tubuhnya dan menaikkan tangan kanan. "Yang melakukan serangan adalah Old-Faction Maou, Sirzechs-dono... Jadi ini sepenuhnya bukan kesalahan anda."

"Lalu kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak mengetahuinya?"

Jiraiya mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula. "Itu terjadi malam kemarin." Jiraiya mengarahkan pupilnya sedikit ke kiri melirik Sang Pemimpin Desa Konohagakure dan tangan kanan sekaligus sahabat Sang Pemimpin Desa itu. "Hashirama... Madara! Lebih baik kau yang menceritakannya... Aku tidak terlalu tahu kronologis penyerangannya."

Orang bernama Hashirama mengangguk, mengusap dagu sejenak lalu menyilangkan kedua lengannya di dada. "Sebelum memulai,... Pertama-tama perkenalkan namaku Senju Hashirama, Pemimpin Generasi ke XX Desa Konoha tempat tinggal para manusia yang memiliki kemampuan chakra." Hashirama lalu menepuk pundak sang Sahabat yang duduk di samping kirinya. "Dan sahabatku ini adalah Uchiha Madara,... Dia adalah tangan kananku di pemerintahan desa Konoha."

Madara mendengus kecil sambil memandang datar Hashirama. "Konoha tidak usah kau sebut-sebut... Sekarang desa itu sudah hilang, Dobe!"

"Salam kenal Hashirama-dono... Madara-san... Aku Sirzechs Gremory pemimpin Fraksi Iblis dan dia..." Sang Maou-Lucifer menunjuk [Queen] di Peeragenya. "Grayfia Lucifuge-"

"Kepala Maid di kediaman Sirzechs-sama!" Potong Maid berambut perak yang membuat Sirzechs mendesah pelan.

Hashirama mengangguk membenarkan lalu mengembalikan pandangannya ke depan dan mulai menceritakan kronologis penyerang Old-Faction Maou terhadap Desa Konoha. Selama mendengarkan cerita dari Hashirama, Sirzechs dan Grayfia hanya bisa diam sambil membayangkan seberapa buruk pemusnahan penduduk desa Konoha dari cerita Hashirama.

Sirzechs mengusap dagu lalu bertanya kepada Hashirama. "Kalau boleh siapa yang memimpin penyerangan itu?" Tanya Maou-Lucifer yang tampaknya penasaran siapa yang bisa memusnahkan puluhan penduduk Konoha dalam satu serangan yang baru saja ia dengan dari cerita Hashirama.

"Si Wanita Jalang berkacamata yang mungkin sudah mati di tangan bocah Sableng... Katerea Leviathan!" Jawab Madara dengan suara agak terdengar dingin karena orang yang dia sebut adalah Iblis yang telah membunuh adiknya, Uchiha Izuna.

"Sudah kuduga!" Respon Sirzechs sambil manggut-manggut memegang dagunya. "Jadi mereka meminta bantuan kalian untuk merebut tahta mereka yang berhasil direbut oleh kami Anti Old-Faction Maou."

"Sekali lagi... Aku menyesal akan apa yang menimpa desa anda... aku tidak menyangka efek dari Perang Saudara akan menjadi seburuk ini." Sirzechs lalu menyatukan kedua tangannya lalu meletakkan dagu tepat di atas tangan yang bersatu itu. "Lalu apa yang akan kalian bertiga lakukan?... Bagaimana jika kita bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini bersama-bersama."

Hashirama dan Madara saling memandang satu sama lain. Hashirama mengangguk sedangkan Madara menggeleng. Setelah selesai, Hashirama mengembalikan pandangannya ke Maou-Lucifer. "Beri kami waktu untuk menentukannya Sirzechs-san."

Madara memberi respon datar ucapan dari Hashirama dan Sirzechs. "Hn benar! Dan nanti apabila kerjasama kita sudah terjalin... itupun kalau kami setuju." Dan beberapa saat kemudian ia menyeringai. "Apa jaminan bahwa kau ataupun bawahanmu tidak ada yang berhianat?"

"Kepala saya yang menjadi jaminannya!" Balas Maou Lucifer dengan nada tegas. Grayfia selaku istri dari Sirzehs dibuat khawatir dengan keputusan sang suami karena masih ada beberapa bawahannya yang sepertinya tidak mau menurut pada perintah Sirzechs.

"A-Apa anda yakin Sirzechs-sama?" Tanya Maid berambut silver berusaha agar Sirzechs mau memikirkan apa yang barusan ia ucapankan. Dan tanpa ragu-ragu Sirzechs menanganggukkan kepala tanda ia yakin akan hal yang ia ucapkan barusan.

"Baiklah!" Uchiha Madara pun menyeringai puas akan respon Sirzechs.

Setelahnya, Hashirama melanjutkan cerita penyerangan itu hingga memakan waktu selama hampir 3 jam.

Setelah selesai dan membicarakan perihal kerja sama nanti. Sirzechs memberitahukan tujuannya kesini hanya untuk menemui Naruto, akan tetapi kondisi dari Naruto yang tidak memungkinkan untuk diajak berbicara membuat Sirzechs dan Grayfia menunda hal itu dan kembali ke Underworld untuk melanjutkan tugas mereka berdua.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya,

"Hoaaammmzzzz... pagi yang lumayan indah!"

Seorang pria tinggi dengan kulit kecokelatan dan bermata gelap. Dia memiliki rambut panjang sampai pinggang hitam biasanya ditata di pinggiran berpisah dari pusat yang membingkai wajahnya, berdiri di balkon lantai dua Apartemen Naruto sambil mengusap-ngusap wajahnya yang baru saja bangun dari tidur cantiknya. Ia adalah Hashirama.

"Tidak biasanya kau bangun sepagi ini Dobe!... apa karena pengaruh perkotaan?"

Pria berambut Raven sepunggung yang masih mengenakan piyama bermotif kipas berwarna merah hitam tiba-tiba menghampiri sang pria yang dipanggil Dobe.

"Entahlah Madara!" Hashirama merenggankan beberapa anggota tubuhnya yang masih kaku. Dengan tangan saling bertautan di atas kepala, ia menoleh ke samping kanan dimana orang bernama Madara berdiri. "Semalam... aku benar-benar tidak percaya Sirzechs-san dengan mudahnya menjadikan kepalanya jaminan."

"Hn... Aku tidak peduli, tapi jika sampai nanti hal yang ia maksud terjadi... maka aku tidak akan ragu memotong lehernya dan memanggang kepala merahnya itu." Madara memberi respon datar kepada Hashirama.

Hashirama sedikit merinding mendengar ucapan dari sahabatnya. "Kau berlebihan Teme! Dan dimana Ji... Apa ini?" Hashirama tiba-tiba terkejut melihat Madara menyerahkan selembar kertas yang mencurigakan.

"Aku menemukannya di depan pintu kamarku! kurasa kertas itu milik Si Bejat Tak Bermoral itu."

Hashirama mengangguk pelan lalu membuka lipatan kertas berukuran A4 itu dan mulai membacanya.


Yo Teme... Dobe... Bagaimana tidur kalian?

Jika kalian sudah menemukan kertas ini. Itu artinya aku sudah berada jauh dari Apartemen Naruto. Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian bertiga untuk melakukan pekerjaan kita nanti. Tapi, aku terpaksa melakukan hal ini untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya perihal penyerangan Konoha dan lokasi para Iblis Old-Faction Maou agar mempermudah tugas kalian mencapai tujuan dari Kaguya-sama.

Sang Hebat Jiraiya!


"Dobe... berikan kertas itu!" Perintah Madara datar.

Hashirama memberikan kertas itu kepada Madara. "Kau mau apa?"

"Dasar Orang Tua Kurang Kerjaan... Tak Bermoral... Otak Mesum Sialan! Aku bersumpah akan membakar novel konyolnya itu!" Dan tepat setelah menyumpah serapah Sang Pertapa Genit, Madara membakar kertas yang ia pegang dengan [Chakra Katon] miliknya.

"Kau berlebihan menyumpahi Jiraiya."

"Cih! Aku malah ingin menyumpahinya mati kehabisan darah karena mengintip wanita!"

"Baiklah... Baiklah!" Kata Hashirama yang sudah sweatdrop mendengar sumpah Madara yang tadi. "Lalu..."

"Lalu apa Dobe?"

"... Apa yang kita harus lakukan sekarang?"

Kedua Shinobi itu pun melongo memikirkan hal ini.

"JIRAIYA SIALAN!"

Keduanya pun berteriak keras sampai-sampai satu kota Kuoh dapat mendengar teriakan barusan. Saking kerasnya sampai-sampai membangunkan seorang pemuda berambut coklat hingga kesal karena mimpi mesum pemuda itu terganggu.

.

.

"Si Sialan itu!" Madara mengepal kuat-kuat kedua tangannya. "Dia pergi tanpa menjelaskan apa yang harus kita lakukan selama tinggal disini, Cih!"

"Oh aku tau!" Sebuah bohlam berukuran kecil mencuat dari kepala Hashirama. "Bagaimana kalau kita berkeliling kota ini, Nee bagaimana Madara?"

"Lalu kita meninggalkan Bocah Sableng dan adiknya sendirian disini? Otakmu kau simpan dimana Dobe?" Madara menggeleng-gelengkan kepala bersurai ravennya. "Apa kau lupa ucapan si tomat kemarin tentang kota ini?"

"Aku tau Teme! Kota ini mungkin dihuni beberapa dengan mahluk-mahluk Supernatural kan?"

Madara mengangguk dengan wajah datar lalu mengusap-ngusap dagu. "Sebaiknya kita tunggu saja Naruto sadar... Ayo kita lihat si Bocah Sableng itu!" Madara berjalan masuk ke dalam apartemen diikuti Hashirama dan tujuan mereka adalah kamar Naruto. "Dan jangan lupa cek seluruh isi gulungan penyimpanan di samping tempat tidur Naruto... disana aku menyimpan beberapa dokumen penting dan semua gulungan Jutsu-Jutsu desa, Dobe!"

'Sebenarnya siapa yang Pemimpn sih?' Batin Hashirama bertanya-tanya kenapa dia yang diperintah Madara bukannya sebaliknya

.

.

.

.

.

Di atas sebuah bangunan tertinggi di Kuoh terlihat dua orang tengah memandang pemandangan pagi Kota Kuoh. Sebuah seringai pun disungging kedua orang itu. Salah dari mereka yang duduk di pagar pembatas atap bangunan menoleh ke langit pagi yang masih sedikit gelap.

"Hmnnn... Sepetirnya kota ini sebentar lagi menjadi medan pertempuran." Gumam orang yang duduk pada pagar pembatas.

"Cih! bukannya itulah tujuan kita kesini, dasar bodoh!" Balas orang yang berdiri di belakang orang duduk itu. "Dan aku tak menyangka kau tega menghianati rekan-rekanmu... Orochimaru!"

Orang bernama Orochimaru itu pun menoleh kebelakang dan memandang sinis orang dibelakangnya. "Khukukukukuku... Aku rela mengorbankan segalanya demi terwujudnya impianku." Ia lalu mengembalikan pandangannya ke depan.

'Bahkan kau pun bisa saja aku korbankan, Dasar bodoh!' Dan secara bersamaan, Orochimaru dan orang yang berdiri di belakang pria berkulit pucat itu membatin hal sama sambil menyeringai.

.

.


TBC

[TrouBlesome Cut]


Oke ... Saya minta maaf karena hampir 2 bulan tidak Update... Mungkin beberapa dari kalian sudah mengetahui alasannya Heheheh. Dan di Fic ini... Orochimaru... Ular Satu ini muncul ikut ambil bagian dan Perannya mungkin berlangsung lama. Dan siapa orang di belakang Orochimaru... Itu masih Rahasia He He He...

Chapter ini mungkin kependekan. Word cuma 3K... Itu karena Chapter ini merupakan penutup Arc I ini.

Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan. Terakhir... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.

.

RootWood Out!