RootWood In!
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.
Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Etc.
Rate : M untuk Bahasa dan Storyline.
Pair : Akan muncul dengan sendirinya.
Warning : Semi-AU, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream, OOC [Jelas], OC, Protagonist!Madara, MoreFriendly!Kurama, Yang Jelas Gaje serta Berantakan, DLL.
.
.
.
.
.
.
The Half-Devil Lucifer
Arc II : Awal dari semua masalah!
Chapter 6 : Gagak Seksi [Da-Tenshi]
.
.
.
.
.
.
Sudah tiga hari semenjak kepergian Jiraiya meninggalkan duo maut Konoha, Madara dan Hashirama di apartemen Naruto. Dalam tiga hari itu pula Naruto belum juga pulih dari tidur kelewatnya cantiknya atau pingsan. Itu adalah akibat dari penggunaan Tehnik 'Unlimited Full Power' Senjutsu milik Naruto yang membuat seluruh organ dalam tubuhnya bekerja secara maksimal hingga melewati batas dan hasilnya organ-organ dalam Naruto memerlukan waktu paling cepat 3 hari untuk kembali pulih walaupun sudah dibantu oleh Kurama yang berada di dalam tubuh Naruto.
Dalam tiga hari itu pula Madara hampir mati kebosanan karena tidak pernah meninggalkan apartemen Naruto sejengkal pun. Ditambah lagi pemandangan wajah sahabatnya yang tidak henti-hentinya menampakkan kebodohan yang kelewat bersemangat dan riuh apalagi bersama adik Naruto semakin memperparah keadaan. The Last Uchiha sebenarnya mempunyai hobi berburu dengan elang, akan tetapi elang kesayangannya sudah mati dengan sangat terpaksa Madara hanya bisa berdiam diri di apartemen Naruto sambil menonton TV sepanjang hari. Dan hal itu membuat apartemen Naruto jadi seperti kapal pecah karena baik Madara ataupun Hashirama tidak pernah membereskan apa yang mereka perbuat. Walaupun ada adik Naruto yang selalu membersihkan apartemen. Tapi kejadian sama tetap terjadi karena Madara dan Hashirama bosan tidak tau mau melakukan apa dan malas membereskan apa yang mereka perbuat.
Namun, hari ini merupakan hari dimana baik Madara, Yuki ataupun Hashirama mau tidak mau harus keluar apartemen. Hashirama yang saat ini tengah mempersiapkan makan malam mengenakan pakaian merah-nya tanpa armor pelindung melainkan apron. Ketika pria Senju ini membuka pintu kulkas, ia seketika melongo menatap isinya.
Bahan makanan mereka sudah habis.
"Oiii, Madara!" Teriakan Hashirama tiba-tiba menggema di pelosok apartemen Naruto. Namun, tidak ada yang membalas teriakan dari Pengguna Mokuton.
Di ruang santai terlihat Madara tengah asik tiduran di sofa sambil mencari channel yang mungkin bisa menghilangkan kebosanan si Uchiha muka tembok satu ini.
"Oooiiiiiiii... MADARAAAAAAAAAAA!" Hashirama kembali berteriak keras.
"Cih..." Madara bangkit dari acara tiduran dan memutar tubuhnya ke arah pintu dapur. "Kau berisik sekali, Dobe... Ada apa sih?" Tanya Madara datar namun berbeda dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal karena acara bersantainya diganggu si 'idiot' Hashirama.
Kepala Hashirama tiba-tiba muncul dari balik dinding pada pintu menuju dapur. "Madara..." Pemimpin Konoha menggantung kalimatnya dan dengan memasang wajah lesuh, setelah itu Hashirama memperlihatkan piring kosong pada Madara. "... Kita kehabisan bahan makanan di kulkas."
Madara mendengus karena Hashirama hanya mau menyampaikan hal sepele macam itu. Madara hendak kembali berbaring sambil berkata. "Cih... Itu masalahmu, aku masih-"
"Bahan makanan untuk Inarizushi juga." Potong Pengguna Mokuton cepat.
Belum sempat tiduran di sofa tadi, Madara langsung memandang Hashirama tidak percaya sambil berkedip beberapa kali lalu, "APAA... Jangan bercanda Hashirama!" Madara berteriak keras kelewat OOC dengan wajah konyol tidak percaya. Bagi si Uchiha ini, tidak ada Inarizushi dalam sehari sama saja dengan berciuman dengan Hashirama selama 1 menit. Benar?
Madara segera berdiri dan memandang serius sahabatnya. "Kalau begitu... Cepat buka kain aneh itu dan temani aku keluar!"
"Are?... Kita mau kemana?... Lalu bagaimana dengan peringatan Sirzechs-san?... Naruto dan Yuki-chan dirumah ini?" Karena belum paham apa maksud Madara. Hashirama langsung memberondong pertanyaan ke sahabatnya.
"Banyak tanya kau, Dobe... Abaikan saja si kepala merah dan bocah sableng itu!" Madara segera beranjak dari sofa tadi menuju ke tangga dan memanggil adik Naruto. "Dimana kau Loli-chan?"
Loli? Bagaimana Madara bisa mengetahui mahluk terindah di muka bumi itu?... Salahkan ingatan Jiraiya yang mengandung terlalu banyak hal mesum sehingga Madara dan Hashirama sudah mengetahui semua tantang lawan jenis mereka sampai ke akar-akarnya. Oh iya, hubungan antara Madara dan adik Naruto juga telah membaik walaupun sesekali Madara kesal dipanggil 'menyeramkan' oleh adik Naruto.
"TUNGGU SEBENTAR, KAKEK TUA!" Sebuah teriakan yang sangat imut terdengar dari lantai dua apartemen Naruto untuk membalas panggilan dari Madara.
'Kakek?... Tua?... memang aku keliatan tua?' Batin Madara bertanya-tanya tentang panggilan baru dari adik Naruto.
"Ha-ha-ha..." Suara tawa pelan Hashirama tiba-tiba terdengar dari balik Madara. "Kau dapat panggilan baru lagi, Maddie."
Si Uchiha seketika menoleh kebelakang dengan tatapan garang yang ditujukan untuk Hashirama. "Sudah berapa kali kuberitahu... Jangan panggil aku seperti itu dan..." Madara menggantung kalimat, Hashirama seketika menyadari ada yang salah dengan sahabatnya dan tak berselang lama Hashirama akhirnya ingat satu hal tentang Madara yaitu...
"... JANGAN PERNAH BERDIRI DIBELAKANGKU, SIALAN!" Teriak Madara kesal dengan kepala berukuran besar sambil menunjuk-nunjuk wajah Hashirama.
Beberapa detik kemudian, kebiasaan Hashirama kembali muncul. Aura suram mulai mengepul di atas kepala pengguna Mokuton ditambah kanji-kanji aneh yang beterbangan kemana-mana.
"Grrrr..." Madara menggeram ketika melihat Hashirama. "... Cepat hentikan itu!... Kalau tidak, kau yang kujadikan bahan makan malam!"
Tidak terjadi perubahan pada Hashirama. Tubuh orang ini masih diselubungi aura suram. Madara kembali kesal dan hendak mengeluarkan sesuatu. Akan tetapi, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari tangga di belakang Madara.
"Nee~... Ada apa Ojii-chan?"
Untung saja Adik Naruto akhirnya muncul dan menyelematkan Hashirama dari amukan kesal Madara yang hendak menjadikan si pengguna Mokuton bahan makan malam. Madara mendesah lalu memberikan tatapan seolah berkata 'kau selamat kali ini' ke Hashirama. Setelah itu Madara segera berbalik ke arah tangga dan mendapati adik Naruto tengah menuruni tangga.
Adik Naruto ialah Seorang gadis kira-kira setinggi 150cm, bersurai putih halus nan tebal hingga mencapai lutut dan dua poni yang membingkai wajahnya. Gadis ini mengenakan dress selutut biru muda tanpa lengan sehingga lengan putih mulusnya terekspos... Andaikan saja Madara atau Hashirama seorang Lolicon, mungkin sejak hari pertama bertemu Adik Naruto, pasti sudah dimasukin ke dalam karung si adik Naruto.
Setelah Adik Naruto sudah berada di depan pria Uchiha. Madara langsung bertanya to the point. "Yuki, Kau punya uang?"
"Uang?... Untuk apa Ojii-chan?" Yuki bertanya balik dengan wajah polosnya.
Madara sedikit membungkuk untuk menyamakan dengan tinggi badan Yuki. "Dengar ya Loli-chan... Bahan makanan kita habis, jadi aku dan si Dobe itu..." Madara menunjuk Hashirama yang masih depresi. "... Perlu dana untuk membeli, paham?" Jelas Madara dengan nada datar seperti biasa.
"Ehh, Habis?... Bukannya Nii-chan punya beberapa Ramen instant di lemari penyimpanannya."
Oke, Madara mulai kesal sendiri karena Yuki hampir sama dengan Naruto yang banyak tanya. "Haa... Apa enaknya sup terigu itu, cepat berikan saja uang jika kau punya Loli-chan!"
"Hmmph... " Yuki menggembungkan sambil mengangguk. "Tunggu disini!... Kuambilkan beberapa uang Nii-chan dulu." Yuki segera menuruti perintah Madara-sama dan berlari-lari kecil menuju tangga ke lantai dua.
.
Beberapa menit kemudian,
Yuki menuruni tangga sambil membawa beberapa lembar kertas hijau sambil bersenandung ria.
"Ini Ojii-chan." Yuki menyodorkan beberapa lembar kertas hijau yang tadi ia bawa ke Madara.
Madara menerima beberapa lembar uang itu dengan tatapan datar. "Hn..." Dua huruf Universal Uchiha keluar dari mulut Madara lalu menoleh ke Hashirama. "Dobe, ayo kita pergi!" Setelah mengajak sahabatnya, Madara segera beranjak menuju pintu keluar apartemen meninggalkan Yuki yang melambaikan tangan dengan senyum agak dipaksakan.
"Oiii, tunggu aku Teme!"
Sepeninggal Madara dan Hashirama pergi berbelanja bahan makanan, senyum di wajah Yuki menghilang digantikan ekspresi sedih. Ya... Siapa yang tidak sedih jika melihat satu-satunya anggota keluarga terbaring tidak sadarkan diri di kamar selama 4 hari. Walaupun kehadiran Madara dan Hashirama sedikit menghilangkan kesedihan Yuki.
Yuki menghela nafas berat lalu kembali menuju ke kamar Naruto. Sesampainya di sana, Yuki langusng mengambil sebuah kursi dan meletakkan di samping ranjang tempat Naruto. Perlahan Yuki menempelkan pantat kecilnya pada permukaan kursi sambil memandangi sang Kakak.
"Cepatlah sadar, Nii-chan!" Setetes cairan bening lepas dari pelupuk mata Yuki ketika mengucapkan harapan agar sang kakak segera sadar.
.
.
.
.
.
.
.
Di tempat entah berantah yang sangat minim penerangan, hanya ada beberapa api kecil yang berkobar di beberapa lokasi yang membentuk pola lingkaran pada tempat itu. Di tengah-tengah pola lingkaran yang dibentuk oleh kobaran api itu, seekor rubah raksasa berbulu orange, pupil merah dengan pola vertikal hitam di tengah-tengah yang menjanjikan ketakutan jika seseorang memandangi pupil merah ini. Di belakang rubah itu, sembilan ekor melambai-lambai pelan mengikuti kobaran api di sekitarnya.
"Naruto..." Iris merah sang rubah bergerak ke atas ketika memanggil nama seseorang.
"Ada apa Kurama?" Tepat di atas kepala rubah bernama Kurama itu, seorang pemuda berambut Dark-Silver tengah berrbaring menggunakan kedua tangan sebagai bentalan.
"Adikmu kembali menangis di dekatmu... Ini yang ke-27 kalinya semenjak kau berbaring di kamarmu."
Naruto terkekeh pelan mendengar omelan Kurama. Bisa-bisanya Youkai Kitsune terkuat [mungkin] yang merupakan Partner-nya menghitung jumlah beberapa kali Yuki menangis. "Kurang kerjaan sekali kau Kurama, sampai-sammpai menghitung beberapa kali Yuki-chan nangis." Naruto menyindir Kurama dengan nada datar lalu memejamkan mata secara berlahan.
Kurama yang merasa ada yang berubah pada sahabatnya langsung menggeram marah. "Grrrrrrrr... Sejak kapan kau menjadi seperti ini, Naruto?... Kau seperti kembali kepribadianmu setelah meninggalkan Underworld."
"Diam, Kurama..." Naruto membentak Kurama masih dengan mata terpejam. "Aku mencoba menenangkan diri di hari keempat ini."
"Grrrrrrr... Jangan bercanda, brengsek!" Kurama meraung marah lalu mengambil tubuh Naruto dengan kasar menggunakan tangan kanan dan melemparnya ke arah depan.
Duaarrr!
Ledakan kecil disertai kepulan debu terjadi di depan Kurama ketika Naruto menghantam permukaan keras tempat itu atau lebih tepatnya alam bawa sadar Naruto. Kepulan debu mulai menghilang, disana terlihat Naruto tengah berbaring dengan ekspresi kosong di wajahnya.
"Apa yang terjadi denganmu Bocah?... Apa karena kejadian di Konoha?"
Masih dalam keadaan berbaring di kawah bekas benturan tadi, Naruto memajukan kepala ke depan sehingga setengah dari wajahnya tertutupi bayangan poni acak-acakan surai Dark-Silver anak ini. Kurama mendengus sehingga uap dari dengusan rubah ini terlihat jelas di udara.
"Kulihat dari wajahmu barusan… Itu berarti aku benar." Ujar Kurama sinis. Hening pun tercipta selama beberapa menit hingga…
Brakk! Brakk!
Secara tiba-tiba, Kurama menghantamkan kedua kaki depannya di samping kiri dan kanan Naruto. Pemuda bersurai Dark-Silver tidak bergeming walaupun dua kaki berukuran besar Kurama mengurungnya.
"Oiii, jangan membuatku menyesali keputusan untuk menjadikan tubuhmu sebagai wadah serta menjadi partner untukmu, Naruto!"
Naruto yang berada di antara kedua kaki Kurama tiba-tiba terkejut mendengar ucapan sahabatnya barusan. Pemuda bersurai Dark-Silver ini langsung mendongak dan menatap penasaran wajah Kurama yang terlihat benar-benar kesal.
"A-Apa maksudmu?" Nada bicara Naruto terdengar pelan. "Bukannya kau di segel secara paksa di dalam tubuhku?" Naruto kembali bertanya dan kali ini ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Kurama yang sangat berbeda ketika mereka pertama kali bertemu di dalam tubuhnya sendiri.
"Cih… Waktu itu aku berbohong ketika pertemuan pertama kita. Aku hanya tidak mau kau curiga, Dasar Bocah Bodoh!"
"Curiga karena apa Kurama?" Tanya Naruto agak penasaran.
"Ya itu, Curiga kenapa tiba-tiba aku berada di dalam tubuhmu… Cih, sudahlah jangan bahas itu. Kita kembali ke persalahan awal." Kurama langsung mengembalikan topik yang mereka bahas diawal karena Youkai Kitsune ini tidak mau menjelaskan lebih detail kenapa dirinya bisa tersegel di dalam tubuh Naruto.
"Permasalah awal?... Memangnya ada masalah apa?" Dan dengan polosnya Naruto melupakan permasalah Kurama tersegel di tubuhnya lalu menanyakan masalah apa sebenarnya yang terjadi barusan.
"Sikapmu sekarang bodoh, sangat mengecewakan… Kau seperti seseorang yang kembali kehilangan tujuan hidup sama seperti ketika meninggalkan Underworld."
Kurama mendesah kesal lalu melanjutkan ucapannya. "Dengar ini anak bodoh!... Mereka… Penduduk Konoha, Tobirama dan Izuna, mati demi melindungi Konoha dan masa depan shinobi yang berada di tangan kalian berempat."
Naruto menundukan kepala sejenak. Beberapa ingatan ketika dirinya berada di Konoha terlintas di benaknya. Bagi Naruto, 3 Tahun di desa yang kini sudah rata dengan tanah adalah masa-masa terindah karena disitulah Naruto untuk pertama kalinya merasakan yang namanya kekeluargaan.
Setelah pulih dari nostalgia kecil-kecilannya, Naruto memandang Kurama dengan tampang sedih. "T-Tapi… Konoha adalah tempat pertama kalinya dalam hidupku merasakan yang namanya keluarga… Mereka semua menerimaku padahal aku berasal dari dunia luar yang tidak memiliki chakra seperti mereka… Bahkan Madara-ossan dan yang lain bersedia melatihku… T-Tapi sekarang mereka mati karena aku terlalu lemah untuk melindungi mere-" Naruto mulai bangkit dan duduk bersilah di tengah-tengah kawah tempatnya sekarang.
"Aku tau itu karena aku selalu berada di dalam tubuhmu…" Kurama membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh Naruto. Setelah itu, Kurama kembali menatap garang pemuda di depannya seolah-olah ingin menelan bulat-bulat pemuda itu. "Sepertinya kau sudah lupa ucapan dari Madara sialan itu… 'Kekuatan akan mengarah ke keinginan untuk berperang dan... "
"… kurangnya kekuatan akan mengarah ke kehilangan segalanya'… Dan akhirnya itu terjadi juga, karena kekuatanku masih kurang atau lemah… Penduduk Konoha, Tobirama-ossan dan Izuna-niiisan mati sebelum aku membalas kebaikan mer-"
"Berhenti mengomel, brengsek… Kalau tidak akan kubakar lalu kumakan kau!"
Saling potong pembicaraan pun terjadi antara kedua mahluk berbeda spesies ini. Bentakan Kurama yang terakhir membuat Naruto terdiam beberapa menit.
Melihat Naruto terdiam. Kurama kembali menjelaskan sesuatu kepada pemuda bersurai Dark-Silver yang merupakan Partner-nya. "Jika memang kau mau membalas kebaikan mereka … Maka lakukan apa yang mereka percayakan yaitu melindungi masa depan shinobi dan dunia bersama Madara, Hashirama dan Jiraiya… Jadi, sekarang kau memegang lebih dari satu kehidupan… Jangan lupakan aku, adikmu, dan orang-orang terdekatmu."
"A-Aku tau itu… Tapi…"
"Kau dan masa depan shinobi sudah terhubung sejak kau pertama kali menginjakan kaki di Konoha bersama si mesum Jiraiya… Makanya mereka dengan senang hati menerima dan melatihmu… Kau paham, Bocah?" Jelas Kurama dengan nada benar-benar kesal melihat Naruto yang kedua kalinya bersikap seolah tidak memiliki tujuan hidup untuk kedua kalinya.
Naruto memberikan respon berupa anggukan paham lalu berkata. "Apa kau lupa yang kukatakan sebelumnya… Kekuatanku masih kurang untuk melakukan apa yang mereka percayakan kepadaku, Madara-ossan, Hashirama-ossan dan Ero-sennin."
"Masih kurang katamu… Kau adalah Partner dari Kurama no Youkai Kitsune terkuat… Pemuda yang menguasai Perfect Senjutsu." Kurama menatap garang Naruto lalu melanjutkan apa yang dimiliki oleh pemuda bersurai Dark-Silver di depannya namun hanya dalam hati. 'Dan terakhir… Iblis setengah Manusia yang kemampuannya masih kusegel yang sampai saat ini masih belum diketahui seberapa kuat itu.'
"Kalau kau memang lemah… Kenapa sampai sekarang kau masih hidup, Yuki masih hidup? Padahal kalian berdua tinggal di Kuoh yang merupakan sarang Iblis dan Malaikat Jatuh… Kenapa 'Haa?"
"I-Itu…"
Naruto menundukan kepalanya mulutnya terasa tidak mau bergerak menjawab pertanyaan Kurama. Memang benar apa yang dikatakan oleh Youkai Kitsune itu, selama ini Naruto selalu saja tinggal di tempat berbahaya yang setiap saat dapat membunuh dirinya. Mulai dari pelatihannya bersama Jiraiya, ketika di Underworld, Kyoto yang merupakan tempat tinggal Youkai Kitsune seperti Kurama dan sekarang ia dan Yuki tinggal di Kuoh yang merupakan sarang dari beberapa mahluk supernatural.
"Dan satu lagi… Apa kau sudah lupa janjimu ketika menemukan dan menjadikan Yuki sebagai adikmu 'Haa?" Tanya Kurama lagi diakhiri dengan bentakan keras ke Naruto.
Naruto kembali menundukan kepala lalu menjawab pertanyaan Kurama dengan nada cukup pelan. "Ya, aku masih ingat itu dengan jelas di kepalaku."
"Kalau begitu… Berhenti betingkah seperti anak cerewet yang lemah dan…" Kurama mengankat tangan/kaki depan sebelah kirinya dan langsung dihantamkan tepat ke tubuh Naruto.
Duaar!
"Segera keluar dari sini karena seluruh organ dalammu sudah sembuh dan jangan buat adikmu menangis lagi!"
Setelah Naruto meninggalkan tempat itu, Kurama mendengus pelan. 'Hampir saja aku keceplosan karena kesal.' Batin Kurama lega lalu kembali meringguk dan perlahan memejamkan mata untuk melakukan hobi favoritnya –Tidur.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke kamar Naruto. Cairan bening di pipi Yuki semakin mengalir dengan deras. Di sisi Naruto, dia akhirnya kembali dari alam bawah sadarnya. Perlahan pemuda bersurai Dark-Silver membuka kedua kelopak mata dan langsung disuguhi pemandang sang adik tengah menangis dalam diam. Tidak tega melihat air mata yang mengalir deras di pipi Yuki, Naruto pun menggerakkan lengan kanan menuju pipi putih mulus sang adik dan menghapus air mata yang berada di sana.
"Ehhhh!" Yuki terkejut ketika mendapati tangan besar membelai lembut pipi kirinya. Gadis Loli ini segera menoleh ke kiri dan mendapati Sang Kakak sudah sadar dengan senyum tipis terukir di wajah. Perlahan Naruto bangkit dan duduk menghadap ke Adik Loli-nya.
"Nii-chan!" Tanpa menunggu Jiraiya berhenti mesum, Yuki langsung memeluk dada bidang sang kakak dengan eratnya sampai-sampai orang yang dipeluk sesak nafas.
"Y-Yuki-chan… S-Sesak!" Naruto meringis karena ia baru saja sadar dan langsung dipeluk erat sampai-sampai udara yang berada di dalam paru-parunya serasa terhirup keluar karena eratnya pelukan dari sang adik.
Menyadari sang kakak kekurangan udara. Yuki segera melepaskan pelukan eratnya dan tersenyum polos di depan Naruto. "Hehehe… Maaf Nii-chan, aku terlalu senang akhirnya Nii-chan bangun juga." Setelah mengatakan hal tadi. Senyum di wajah Yuki menghilang dan terganti menjadi ekspresi wajah sedih. "Apa Nii-chan tau seberapa khawatir aku selama 4 hari ini?… Hiks… Hikss… Aku kira Nii-chan… Hiks… tidak akan bangun… Hiks… lagi."
Mendengar isakan pelan sang adik. Naruto langsung menarik Yuki ke pelukan hangat. Sambil tersenyum Pengguna Senjutsu ini membelai lembut surai putih halus nan tebal milik Yuki. "Aku tau 'kok Yuki-chan… Jadi, Nii-san minta maaf karena membuatmu khawatir."
Yuki mengangguk dalam dekapan hangat sang kakak lalu mendongak menatap iris biru Sapphire Naruto yang selama empat hari belakang ia tidak lihat.
"Tunggu!"
"Ada apa Nii-chan?" Tanya Yuki.
Naruto menggerakkan tangan kiri menuju wajah cantik Yuki dan menghapus air mata di kedua pipi adiknya. "Kau jelek kalau lagi menangis…" Kata Naruto lalu memarkan cengiran lebarnya yang sempat menghilang di alam bawa sadarnya selama empat hari karena kejadian di Konoha. Untuk saja ada Partner sekaligus sahabatnya -Kurama- yang membantunya bangkit dari keterpurukan untuk kedua kalinya.
Semburat tipis tanda malu hinggap di kedua pipi Yuki. Cengiran Naruto semakin melebar ketika melihat semburat di pipi adiknya.
"Nah' begitu lebih baik." Cengiran Naruto semakin melebar dan perlahan tragedi Konoha mulai menghilang melihat Yuki yang memerah malu karena ucapannya. "Cantikmu jadi kembali."
"Mou~… Jangan menggodaku Nii-chan!" Yuki menggembungkan pipinya yang masih memerah.
"Ah, siapa juga yang menggodamu?... Lagian aku tidak mungkin menggoda adikku sendiri 'kan?" Sanggah Naruto sambil melayangkan pertanyaan disertai wajah konyol.
"Ohhh…" Dan dengan polosnya Yuki percaya Naruto tidak menggodanya. Tipikal Loli 'sedikit' polos.
Beberapa detik hening melanda kedua orang -ralat, satunya setengah orang- hingga sebuah suara demo yang meminta sesuatu berbunyi nyaring senyaring speker SonyMaster Stereo. Hah?
Kruyuk! Kyuruk!
Yuki melepaskan pelukan Naruto dan menundukan kepala menatap asal suara aneh tadi. Naruto selaku tersangka yang mengeluarkan suara itu hanya memarmekan cengiran kuda liar-nya. Hah?... Yuki mengembalikan pandangannya ke wajah Naruto.
"Nii-chan lapar?" Yuki menaikkan sebelah alis lentiknya memandang sang Kakak sambil melayangkan pertanyaan yang benar-benar sudah pasti diketahui jawabannya. Tidak Yuki… Naruto sedang galau.
"Kau ini… Jelas-jelas aku koid selama 4 hari. Jadi sudah pasti aku lapar, Yuki-chan." Jawab Naruto yang sudah dilanda sweatdrop tingkat tujuh. Yakin?
"Tapi Nii-chan… Bahan makanan kita sudah dihabiskan Madara-ossan dan Hashirama-ossan."
Naruto diam sejenak sambil berkedip beberapa saat. "APA… Jangan bercanda Yuki-chan!" Teriak Naruto setelahnya dengan ekspresi yang sama persis dengan Madara ketika mengetahui bahan untuk membuat Inarizushi habis.
"Ano… Nii-chan bukannya masih punya beberapa sup terigu instant di lemari?"
"Sup Terigu?" Naruto sedikit bingung dengan nama makanan yang disebutkan oleh Yuki. Memang ada sup terigu?... Itulah yang tengah dipikirkan Naruto.
"Ramen Nii-chan." Yuki memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud 'Sup Terigu'.
"Ohhh…" Naruto manggut-manggut paham. "Kalau begitu ayo kita ke dapur!" Ajak Naruto sambil melenggang turun dari ranjang tempatnya duduk diikuti oleh sang adik. Dan tujuan mereka berdua tidak lain adalah dapur.
Ketika Naruto berada di ujung tangga untuk turun ke lantai dasar. Urat-urat tanda marah muncul di kening Naruto.
"APA-APAAN INI?" Teriak Naruto penuh kemarahan melihat keadaan lantai dasar apartemennya dari ujung tangga.
Terlihat di depan mata Naruto. Ruang santai apartemen mereka, berbagai macam benda tidak berada pada tempatnya. Mulai dari sofa panjang yang selalu digunakan Madara untuk tiduran sambil menonton, beberapa piring kotor bekas Inarizushi Madara dan sup jamur Hashirama dan masih banyak lagi yang membuat Naruto berada di puncak kemarahannya.
.
.
.
.
.
.
.
Skip Time. Pukul 19.05
Di jalanan kota Kuoh terlihat dua orang berpakaian yang modelnya sama yaitu pakaian dalaman shinobi berwarna merah dan biru tua tanpa armornya tentunya. Kedua orang itu adalah The Last Uchiha and Senju… Madara dan sohibnya Hashirama. Salah satu dari mereka berdua terlihat memasang wajah lesuh. Itu karena gara-gara mencari bahan untuk membuat Inarizushi, mereka jadi pulang malam.
"Haaa…. Ini semua gara-gara makanan jelekmu itu Madara… Kita jadi pulang malam." Hashirama berujar lesuh sambil memperlihatkan kepada Madara kantongan berisi beberapa macam bahan makanan."Bagaimana kalau kita bertemu Da-Tenshi?... Aku sangat letih untuk bertarung Madara."
"Cih…" Madara mendecih pelan mendengar keluhan Hashirama yang berjalan di samping kanannya. "… Kalau mereka muncul… Tinggal kupatahkan tubuh mereka lalu mengirimnya ke Neraka." Sambung Madara agak datar.
Beberapa menit berjalan di jalan yang mulai sepi di kawasan Kuoh. Madara dan Hashirama tiba di sebuah area kosong di dekat taman. Tepat ketika kedua shinobi melewati sebuah air yang meluncur ke atas -air mancur- suasana disana tiba-tiba berubah sangat drastis. Langit menghitam seolah ada yang menghalangi, Madara dan Hashirama merasakan kedatangan aura tidak mengenakkan dan terakhir musik menyeramkan mulai berbunyi –Sfx.
Hanya ada dua kemungkinan yang dipikiran kedua manusia abnormal ini setelah menganalisa kejadian barusan.
Iblis atau Malaikat Jatuh tengah siap menyerang mereka.
"Khuhuhuhu… Lihat yang kudapatkan mala mini?... Dua manusia berpakaian aneh?... Aku akan membunuh kalian berdua untuk menghilangkan kebosananku."
Secara bersamaan, Madara dan Hashirama mendongak ke atas. Madara menaikkan alis sedangkan Hashirama? Jangan ditanya lagi… Wajah bodoh sudah terpampang jelas di wajah Mantan Pemimpin Konoha.
Di atas mereka. Sesosok perempuan bersurai hitam panjang, mengenakan pakaian 'sangat' minim yang hanya menutupi tiga tempat yang dilarang untuk diperlihatkan. Dua batu kecil di puncak gunung kembar wanita itu hanya ditutupi sesuatu mirip kalung anjing karena duri-duri yang mencuat keluar sedangkan di dua lubang bawah hanya ditutupi CD yang jika diperhatikan terlihat seperti sebuah pucuk kain yang hanya diikat tali rapiah?... Dan terakhir, dua sayap berbulu hitam bertengger di punggung wanita itu.
"Jadi ini yang disebut Da-Tenshi?..." Madara memasang pose berpikir legend, tangannya mengusap dagu pelan. "… Bagiku dia seperti pelayan lokalisasi langganan si mesum sialan."
"Kau cari mati manusia rendahan?" Si Malaikat Jatuh naik pitam dikatai pelayan lokalisasi –PSK.
Madara malah cuek bebek menanggapi pertanyaan atau lebih tepatnya ancaman dari Malaikat Jatuh tadi… Tapi si Malaikat Jatuh ini harus tau siapa yang dia ancam. Uchiha Madara… Shinobi Badass yang tidak ada rasa takutnya sama sekali, bahkan Istri seorang Maou-Lucifer dikatai 'Jalang' di depan suami The Strongest Queen itu.
Madara mengalihkan pandangannya ke Hashirama yang berada di samping kiri lalu memberikan kantong belanjaan yang dibawanya. "Pegang ini Dobe!... Aku mau sedikit berdansa melawan mahluk aneh itu… Dan ingat! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bahan Inarizushi-ku…" Madara menggantungkan kalimat lalu memasang wajah horor. "… Kau yang kujadikan bahan Inarizushi!"
Kesan horor Madara semakin membuat Hashirama merinding disko setelah backround tidak kalah horornya muncul di penglihatan Hashirama tepat di belakang sahabatnya. Dan jangan lupakan ancaman Madara yang semakin membuat Hashirama merinding bukan main. Begitulah Hashirama… Kuat jika bertarung tetapi, penakut jika berhadapan dengan Madara –bukan bertarung.
"Brengsek!... Jangan mengacuhkanku Manusia!" Kemarahan Malaikat Jatuh ini semakin memuncak karena dikacangin oleh Madara dan Hashirama. Tanpa pikir panjang, Malaikat Jatuh ini langsung menciptakan Holy Spear dan meleparnya ke Madara yang merupakan biang keladi pengacangan dirinya.
Dengan gerakan minimal, Madara melompat kebelakang menghindari tombak cahaya itu. Setelah itu, Madara langsung berlari dan melompat ke arah Malaikat Jatuh. Sebuah pukulan dilakukan oleh Madara, akan tetapi lawannya segera terbang menjauh sehingga pukulan Madara hanya mengenai udara.
"Lumayan juga!" Komen Madara datar lalu memutar tubuhnya 180 derajat ke arah Malaikat Jatuh tadi.
Gravitasi mulai mempengaruhi tubuh Madara sehingga tubuhnya mulai bergerak turun. Sebuah ide terlintas di otak Uchiha ini, ia segera mengeluarkan 5 kunai dan melemparnya ke Malaikat Jatuh itu dengan posisi berjejer vertikal.
Dan dengan bodohnya. Si Malaikat Jatuh menghindari kunai Madara dengan terbang ke bawah. Madara menyeringai dan ketika kaki kanannya menyentuh permukaan tanah, ia langsung menggunakan kecepatan Kage-Level dan muncul tepat di depan Da-Tenshi itu.
Duagh!
"Uhuukkk!" Si Da-Tenshi memuntahkan darah segar.
Sebuah tendangan lurus kaki kanan mendarat tepat di perut mulus Da-Tenshi itu hingga terpental dan menghancurkan sebuah pohon di taman tempat mereka bertarung. Kepulan debu mengepul di tempat Da-Tenshi itu.
"Manusia sialan!" Si Da-Tenshi menatap horor bekas tendangan yang meniggalkan bekas alas kaki Madara di perut mulusnya.
"Oiii… Madara kau bercanda kan?" Tanya Hashirama ketika melihat sang sahabat merapal segel tangan.
"Cih, Diam Dobe!" Madara merespon datar dan segel tangan yang dibuat sudah selesai.
"[Katon : Gōkakyū no Jutsu]"
Sebuah semburan api berbentuk bola api berdiameter 5m hasil pembakaran chakra dikeluarkan Madara menuju kepulan debu tadi. Akan tetapi, target dari bola api berhasil terbang dari tempatnya sehingga bola api Madara hanya mengenai pohon serta benda-benda yang berada di sana.
Blaarr!
Sambil terbang menjauh. Si Da-Tenshi menoleh ke ledakan itu. Namun, apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan fatal. Ketika ia berbalik…
Jleeb!
… Sebuah kunai menancap dengan indah tepat di dada Da-Tenshi itu. Sambil meringis merasakan tusukan kunai, si Da-Tenshi menoleh ke depan dan mendapati pelaku penusukan yaitu Madara yang tengah menyeringai.
"S-Siapa sebenarnya kau?... Aku tidak pernah menemukan ma-manusia yang bisa menyemburkan api!"
"Masa Bodoh aku memberitahukan namaku pada mahluk mahluk menjijikan sepertimu!" Madara merespon datar ucapan Da-Tenshi di depannya yang sudah memuntahkan darah segar untuk ke-3 kalinya.
Madara menarik keluar kunai yang menancap di dada lawannya lalu menendang ubun-ubun Da-Tenshi itu sehingga melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Duaarr!
Ledakan kecil terjadi di bawah Madara. Beberapa saat melayang di udara, Madara memanfaatkan gaya gravitasi dan melesat dengan kecepatan tidak kalah cepatnya ke arah Da-Tenshi. Setelah berjarak sepersekian meter dari permukaan, Madara memutar tubuhnya dan melakukan manuver salto menyamping dengan kaki kanan diluruskan.
Duaarrr!
Ledakan kedua terjadi ketika tendangan yang diberi sedikit chakra menghantam keras wajah cantik Da-Tenshi itu hingga tidak sadarkan diri atau mungkin sudah tewas melihat kuatnya tendangan Madara apalagi ditambah sedikit chakra. Dan bersamaan dengan itu, lapisan aneh di sekitar taman itu menghilang tanpa tersisah.
"Cih… Berdansanya tidak menyenangkan!" Komen Madara sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di beberapa bagian pakaian yang ia kenakan.
"Dobe!" Madara memanggil sahabatnya yang cengo sendiri melihat 'acara berdansa' Madara barusan. "Ayo kita kembali!"
Hashirama pulih dari cengo dan langsung menghampiri Madara. Kedua Manusia tidak normal itupun segera beranjak meninggalkan taman. Dan tak berselang lama sebuah lingkaran sihir muncul dan menampakkan tiga gadis cantik yang langsung menatap horor area taman.
Salah satu dari mereka pun langsung tertarik pada orang yang telah melakukan hal ini serta membuat satu Da-Tenshi tidak sadarkan diri atau mungkin sudah tewas di dalam sebuah kawah. Tampaknya apa yang dikhawatirkan Sirzechs dan Grayfia akhirnya terjadi. Sebaiknya Sirzechs segera bertindak sebelum Madara memenggal kepala merahnya. Tidak mau ada penduduk Kuoh yang melihat wujud Da-Tenshi itu, salah satu dari ketiga gadis ini langsung memusnahkan Malaikat Jatuh tadi.
Dan untuk Madara dan Hashirama… Bersiaplah menerima omelan panjang lebar Naruto ketika tiba di apartemen.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Yoo… Bertemu lagi dengan Ane... Si Author Newbie plus Kacangan di Fic Gaje dan berantakannya.
Chapter ini adalah Pembuka Arc II [Kebenaran dibalik Invasi Konoha] yang salah satu dalangnya sudah ketahuan yaitu si Orochimaru.
Untuk penampilan adek Naruto… Alias DEDEK YUKI 'o')/ … Bisa di tengok di Profil FB ane.
Tentang perubahan sikap Naruto yang tadi disebut Kurama… Begini… Saat berumur 6-7 Tahun, Kurama disegel di dalam tubuhnya begitupula ingatannya sehingga manjadi anak polos… Lalu setelah bertemu Jiraiya lalu diajak ke Konoha dan bertemu Quartet Kovlak yang dua sudah WASSALAM, Kepolosan Naruto mulai menghilang… Saat berumur 10-11 tahun, Ia dan Jiraiya meninggalkan Konoha lalu setahun kemudian berpisah dengan Jiraiya setelah berlatih Senjutsu selama hampir 4 tahun dan kesasar di Underworld… Oke itu aja dulu.
.
.
Balasan Review :
Guest : Ya begitulah… Tapi seiring berjalannya Fic akan ketahuan sendiri kok kenapa disegel.
Guest : Itu karena tuntutan Fic… Tpi nanti ada kok kenapa rambutnya Dark-Silver bukannya Pirang Kuning Bau Sempak :v :v
Yang Me-Review… 'Next'… 'Lanjut' … Dan se-jenisnya, Nih udah ane lanjut.
.
.
Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.
Terakhir... Jangan lupa meninggalkan komentar mengenai Chapter ini... Baik itu Saran, Tanggapan, Apresiasi atau... Flame?
Tulis semuanya pada Kotak Review dan akan saya tampung menjadi satu dan membalasnya...
.
RootWood Out! ... Mau Tidur Cantik dulu :v :v !
