RootWood In!

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.

Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Etc.

Rate : M untuk bahasa dan storyline.

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya.

Warning : Alternate Universe, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado ditambah Es Campur, Mainstream [Mungkin], OOC [Jelas], Pergantian Scene secara tiba-tiba, Dan yang jelas Gaje serta Berantakan, DLL.

.

.

.

.

.


The Half-Devil Lucifer

Arc II : Awal dari semua masalah!

Chapter 8 : Hal yang ditakutkan Sirzechs!

AN : Tehnik buatan sendiri dan ada juga saya ambil dari beberapa Anime yang mempunyai kemampuan memanipulasi api yang sedikit saya ubah untuk Naruto.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah mahluk Mythologi yang membawa Issei dan Rias menghilang dari pandangan Naruto. Perasaan cemburu dalam hati Naruto belum juga menghilang. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya Naruto merasakan namanya cemburu. Malah perasaan lain lah yang muncul.

Dan itu sangat menyakitkan!

Rasa sakitnya seperti dihantam Demonic Power dalam skala besar…

Bahkan melebihi itu…

Kata-kata sudah tidak dapat menggambarkan seberapa sakit itu bagi Naruto…

Karena…

Sekuat-kuat Naruto ketika bertarung, yang namanya sakit hati tidak dapat ditahan apalagi dilawan.

Bahkan Rambo yang dikatakan tidak bisa mati walaupun membantai ribuan tentara Vietnam tetap akan mati jika melawan yang namanya sakit hati... Haa? Apa hubungannya Rambo dengan sakit hati dan dunia Supranatural?. Oke lupakan itu.

'Ugh~!' Ringisan batin Naruto terdengar sangat perih. Entah kenapa rasanya baru sesakit ini setelah Rias dan Issei sudah tidak dalam pandangan Naruto.

Semilar angin yang entah datangnya dari mana menerpa tubuh Naruto. Surai Dark-Silver dan jubah hitam yang Naruto kenakan melambai-lambai terkena hembusan angin. Seketika Naruto pulih lamuannya dan menggeleng untuk menghilang segara perasaan cemburu tadi.

Tapi, itu tidak semudah membalikkan telapak kaki… Karena tangan sudah terlalu mainstream!

Jujur saja, bagi Naruto sulit… Sangat sulit malahan untuk menghilang rasa sukanya kepada Rias. Itu karena sang Ojou-sama adalah gadis pertama yang dekat dengan Naruto selama beberapa tahun. Sewaktu di Konoha, Naruto hanya ditemani oleh Madara, Hashirama, Tobirama, Izuna dan Jiraiya. Dan Naruto hanya sesekali berkeliling Konoha bersama mendiang Uchiha Izuna yang mengajaknya jalan-jalan dan bertemu beberapa anak gadis seumurannya sewaktu masih di Konoha.

Tapi tetap sangat sulit.

Saat ini Naruto membutuhkan seseorang untuk menghibur dan membantunya.

Dan satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah Kurama.

.

.

'Sudahlah Naruto… Untuk apa kau menyukai gadis yang sudah mengecewakan dan membencimu, apa perlu aku mengurusmu dengan Yasaka biar bisa melupakan gadis sialan tadi.' Suara Kurama tiba-tiba menggema di kepala Naruto yang berusaha untuk membantu wadahnya untuk melupakan si Gadis Crimson yang lebih memilih Sekiryuutei. Ingin sekali Kurama mengatakan -I know that feel- ke Naruto karena secara tidak langsung, mereka berdua berhubungan satu sama lain termasuk perasaan.

Naruto mendengus sebal mendengar Kurama yang malah menyarankan pemimpin Youkai Kitsune di kota Kyoto. 'Kau gila Kurama… Bagiku Yasaka-san sudah kuanggap seperti Obaa-san.' Kata Naruto menolak saran dari Kurama yang memang tidak masuk akal karena Naruto bukan seorang Milf-Lover.

'Kalau begitu Yuki-chan atau Kunou-chan… Bagaimana?'

Ya, saran Kurama malah semakin tidak masuk diakal di kepala Naruto. Mana mungkin dia menyukai adik angkatnya sendiri. Dan untuk Kunou, pewaris tahta Youkai Kitsune ... Tau saja alasannya. Yasaka adalah ibu Kunou itu artinya, pewaris Youkai Kitsune ini juga sudah dianggap adik oleh Naruto.

'Itu malah semakin gila!'

'Grrr... Maumu sebenarnya apa sih… Mami Muda kau tolak! Mahluk terindah di muka bumi juga kau tolak… Apa mungkin kau mau berubah haluan?!' Semakin lama, tampaknya Kurama mulai membuat Naruto tambah kesal. Apalagi ucapannya di akhir kalimat benar-benar mengartikan Naruto sudah putus asa mencari pengganti dari Rias Gremory. Gadis yang sudah membuat Naruto sakit hati lalu patah hati dan bisa-bisa bunuh diri memakai belati di bawah pohon jati.

"Hoooeeekkkkk… Jancoeg lu Kurama!" Sembur Naruto yang merasa isi perutnya seperti ditarik keluar secara paksa mendengar kata –berubah haluan- yang benar-benar menggambarkan dirinya seolah-olah putus asa.

Tapi, setidaknya perkataan Kurama membuat Naruto sedikit melupakan adegan nyesek beberapa menit yang lalu. Kurama hanya bisa menyeringai dalam hati. Dan mungkin sesampainya di apartemennya adegan tadi akan menghilang sepenuhnya bersama rasa suka Naruto ke Rias ketika bertemu dou shinobi yang sudah siap menghibur dengan banyolan mereka.

Ya, itu sudah pasti terjadi!.

Namun tidak untuk rasa suka Naruto ke Rias.

Dan perdebatan antara Naruto dan Kurama berlanjut hingga si empunya tubuh tempat Kurama memutuskan untuk pulang ke kediamannya. Tetapi sebelum pulang, Naruto berpamitan kepada Grayfia dan Sirzechs. Grayfia hendak mengantar Naruto akan tetapi, pemuda ini malah memilih meminta kertas sihir teleportasi agar tidak merepotkan sang Maid.

Grayfia dan Sirzechs hanya menghela nafas. Mereka menyetujui Naruto dan memberikan pemuda ini kertas sihir teleportasi.

.

.

.

.

.

Sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory tiba-tiba muncul tepat di halaman apartemen di kota kecil bernama Kuoh pada suasana tengah malam. Dari lingkaran sihir tadi, seorang pemuda bersurai Dark-Silver yang mengenakan pakaian aneh muncul. Dia adalah Naruto.

Naruto menghela nafas berat untuk melepas sejenak beban pikiran yang ditanggung hari ini. Andaikan saja Kurama tadi tidak menghibur, mungkin malam ini Naruto tidak kembali ke apartemen dimana Yuki, Madara dan Hashirama sudah menunggu. Tapi tunggu…

"Sial!" Naruto baru menyadari kalau saat ini sudah lewat jam tidur karena kelamaan di Underworld. Itu berarti penghuni apartemen di depan Naruto mungkin sudah tertidur pulas di kasur empuk nan nyaman.

"Mudah-mudahan saja belum…" Pemuda bersurai Dark-Silver ini segera berlari menuju pintu masuk dan meraih gagang.

"… Terkunci!" Naruto kembali menghela nafas setelah memutar gagang pintu dan mendorong agak pelan agar tidak membangunkan mahluk yang sudah tenggelam di alam mimpi.

"Aree?... Kok lampu masih menyala?" Naruto mengerjit heran melihat ruang tamu dan tengah/santai masih dalam keadaan terang benderang. "Pasti mereka berdua lagi, kalau sampai PLN memutus aliran listrik… Tidak ada lagi kata maaf!" Gerutu Naruto lalu menutup dan mengunci pintu kediamannya.

Setelah membuka sandal jepit yang merupakan alas kaki yang digunakan oleh Naruto, pemuda bersurai Dark-Silver ini berjalan melewati ruang tamu. Sesampainya di ruang tengah, pandangan Naruto langsung tertuju pada sofa panjang yang berada di samping kanan dan sepertinya ada sesosok yang tengah duduk di sana.

"H-Hantu?" Naruto mengambil metode para pencuri ketika memasuki rumah yang hendak menjadi sasaran pencuriannya. –Mengendap-endap.

"Y-Yuki-chan…" Naruto tersentak ketika melihat sosok itu ternyata Dedek Yuki, tengah tertidur lelap di atas sofa denga posisi duduk bersandar yang Naruto kira adalah hantu.

Naruto mengankat sosok Dedek tersayangnya dan menggendong ala bayi karena tubuh Loli Dedek Yuki tidak terlalu berat untuk digendong dengan gaya seperti. Naruto mendesah pelan sambil menatap wajah damai sang adik yang bersandar di pundaknya.

"Haa… Maafkan Nii-san membuatmu menunggu sampai tertidur karena ada sedikit masalah." Gumam Naruto dengan nada sedih ketika sudah berada di depan tangga menuju lantai dua.

"Ngghh… Yuki sayang Nii-chan!"

Ingauan dari Yuki seketika menghentikan langkah Naruto yang sudah berada di pertengahan tangga. Dengan wajah setengah terkejut, Naruto memandang wajah Dedek Yuki. 'Apa-apaan tadi itu? Mudah-mudahan hanya sebatas sayang antara adik dan kakak saja.' Batin Naruto berharap cemas.

Sesampainya di kamar Dedek Yuki. Naruto langsung membaringkan sang adik pada ranjang dan tidak lupa menyelimutinya. Karena merasah sedikit bersalah atas tertidurnya Yuki di ruang santai, Naruto memilih tidur bersama Yuki tetapi sebelum itu, Naruto mengganti pakaian aneh dipakai ke pakaian santai di kamarnya lalu berbaring di samping Yuki. Jangan salah paham woy!

'Lihatlah Naruto! Kau terlalu naïf... Kau tidak menyadari ada yang lebih menyayangimu lebih dari rasa sukamu pada gadis iblis tadi.'

'Aku tau itu, Kurama!'

'Lalu... Kenapa kau tidak bisa melupakan gadis itu?'

'Haa, aku tidak tau, biarkan saja mengalir apa adanya. Aku yakin suatu saat perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu!'

'Tapi kalau tidak berusaha, sama saja bohong, bodoh!'

'Lalu?'

'Lalu apa?'

'Cih, lupakan saja... aku mau tidur!'

'Terserah kau saja... Tap, kalau kau butuh bantuan. Bilang saja!'

'Hn... Arigatou, Kurama!'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, Naruto sudah kembali seperti biasa. Kehidupan normal… -Ralat! maksudnya, tidak normal bersama Madara, Hashirama dan Dedek Yuki sudah kembali dan membuat Naruto hampir sepenuhnya melupakan tentang kejadian di hari pertunangan sang Ojou-sama. Apalagi kalau bukan perdebatan dan pertengkaran konyol Mada-Hashi-Naru dan keikutsertaan Loli polos Rank-SS, Dedek Yuki.

Dan satu hal yang perlu diingat... Madara, Hashirama serta Yuki belum mengetahui masalah Naruto.

Namun, tidak lama lagi akan ketahuan...

Karena secantik-cantiknya seorang wanita, dia masih tetap akan kentut dan BAB.

Hah, apa hubungannya?

.

.

Saat ini Quartet mahluk absurd penghuni kandang kuda Naruto, tengah menikamati masa muda di halaman belakang kediaman mereka. Sesekali bersantai bersama mungkin tidak buruk untuk Naruto, Hashirama dan Madara. Itulah yang mereka pikirkan kenapa memilih waktu sore hari ini. Tapi sepertinya ada yang salah... Karena Madara dan Hashirama setiap harinya hanya malas-malasan di apartemen Naruto. Mungkin mencari pekerjaan merupakan ide yang bagus untuk mereka berdua agar tidak malas-malasan seperti kerbau yang sedang berkubang di lumpur.

"Memang tidak ada yang lebih damai dibanding berbaring di bawah pohon pada sore hari." Entah kerasukan setan jenis apa, Madara yang tengah duduk bersandar di pohon sambil meluruskan kaki ke depan dan kedua tangan dijadikan bantalan, tiba-tiba bergumam menggambarkan suasana sekarang ini.

"Ya~Ya... Kau benar!" Naruto yang berbaring dan menggunakan kedua tangan sebagai bantalan malah tidak peduli. Bagi Naruto, itu sudah karena hampir setiap hari dia mendengar Madara ngoceh tidak jelas ketika berdebat dengannya. Dan Naruto lebih memilih memperhatikan sang adik bermain dengan -mantan- pemimpin desa Konoha.

.

.

Kita ke sisi Yuki dan Hashirama. Setelah puas bermain. Hashirama memanggil Dedek Yuki untuk mendekat. Mahluk terindah di muka bumi itu pun mengangguk. Surai putih penjang dan baju terusan biru muda yang dikenakan Yuki melambai-lambai ketika berjingkrak ria menghampiri Hashirama.

Sesampainya di depan Hashirama, iris hitam indah milik Yuki tiba-tiba fokus ke sosok pria yang mulai merangkai segel tangan di depannya. Raut kebingungan pun terpampang jelas di wajah Yuki melihat rangkaian-rangkaian segel tangan dari Hashirama. Sepertinya Hashirama hendak memamerkan salah satu Ninjutsu yang dikuasainya.

"Anoo… Oji-chan lagi apa?" Pertanyaan bingung ditambah penasaran langsung dilontarkan oleh Yuki ke sosok pria bertubuh dewasa namun berjiwa remaja atau mungkin anak-anak di depannya.

"Nah… Lihat ya, Yuki-chan!" Senyum kecil diukir Hashirama membuat Yuki semakin penasaran hingga memiringkan kepala.

"[Mokuton : Henge]" Hashirama bergumam pelan ketika segel tangan yang dibuat selesai.

Beberapa akar kayu tiba-tiba keluar dari permukaan tanah di dekat kedua kaki Hashirama yang perlahan memanjang hingga menutupi seluruh tubuh. Rasa penasaran Yuki seketika terganti menjadi rasa takjub melihat akar-akar kayu yang bermunculan di sekitar kaki Hashirama.

"Sugoii~ne … Oji-chan!" Ujar Yuki dengan mata berbinar sambil bertepuk tangan melihat akar-akar yang tadi mulai menutupi tubuh Hashirama.

Poft!

Ledakan asap putih kecil terjadi di depan Yuki. Gadis Loli ini dibuat sedikit terkejut namun setelah asap bekas ledakan itu menghilang, muncullah Yuki kedua yang merupakan Hashirama yang tengah menggunakan salah satu Ninjutsu Mokuton miliknya.

"Nee… Bagaimana Yuki-chan?" Tanya Hashirama yang sudah berubah menjadi Yuki. Bahkan suara imut dari Yuki pun ikut ditiru membuat Yuki semakin takjub dibuatnya.

"Sugoiii~Nee… Nii-chan dan Maddie-ojichan harus melihat ini!" Ujar Yuki kegirangan dan tidak sabar untuk memperlihatkan hal ini kepada Naruto dan Madara. Tanpa menunggu lama, Yuki menggenggam tangan kanan dan menarik secara paksa Hashirama menuju ka Naruto dan Madara.

"Nii-chan, Maddie-ojichan… Lihat~Lihat! Oji-chan sangat mirip denganku!" Kata Yuki kegirangan senang sambil menunjuk antusias ke Hashirama yang tengah melakukan perubahan ke bentuk dirinya di samping kiri.

Madara berkedip beberapa kali memperhatikan ekspresi senang dari Yuki yang menurutnya sangat imut. Jujur saja. Ini pertama kalinya bagi Madara melihat ekspresi senang Yuki sedekat ini. Biasanya adik Naruto cuma memasang ekspresi polos, cemberut, marah dan sedih?... Namun tak berselang lama...

Duag!

Sebuah bogem mentah tiba-tiba menghantam pipi Madara yang seketika menghetikan kegiatannya menatap Yuki. Tampang horor khas Madara langsung muncul ketika menoleh ke pengirim bogem tadi. Apalagi bogem Naruto tadi membuat suasana damai dan tenang menghilang seketika bagai ditelan bumi.

"Naruto!" Madara mengucap penuh penekanan nama pengirim bogem tadi. "Kau mau memulai lagi, ya?"

"Kau yang mulai duluan, brengsek!… Apa kau sadar, tadi tatapanmu ke Yuki-chan seperti pedofil gila!"

Madara diam sejenak memikirkan arti dari ucapan Naruto. Apa benar tadi tatapannya seperti seorang pedofil gila. Tidak! Dia bukan orang seperti itu, Uchiha terhormat tidak mungkin memiliki ketertarikan pada Loli yang merupakan mahluk favorit para Lolicon. Seketika Madara langsung merespon ucapan Naruto.

"Aku hanya kagum, bocah tengik… Asal kau tau, aku bukan orang macam itu!... Apa enaknya tubuh kecil dari seorang gadis. Tidak berkelas sama sekali?!"

"Pfttt… Tidak berkelas? Lalu yang berkelas menurutmu seperti apa?... Mami muda? Milf SS-Rank berdada jumbo seperti tetangga kita? Atau jangan-jangan…" Madara seketika dibuat bingung sendiri ketika Naruto bergeser beberapa senti menjauh darinya.

"… yang berkelas itu laki-laki!" Sambung Naruto histeris dengan wajah syok memikirkan apa yang berkelas bagi Madara. Jari telunjuk Naruto pun mengarah lurus ke muka tebing si Uchiha di samping kanannya.

Madara berhenti bersandar pada batang pohon di belakang lalu melipat dua tangan kekarnya di depan dada, wajah datar sedatar lantai kramik terpampang jelas di wajahnya. "Kau tidak usah tau, otak api. Dan ini..."

Duag!

"… Untuk pukulanmu tadi, brengsek!"

Madara membalas bogem Naruto sedikit lebih keras. Naruto pun dibuat terpelanting dan menghantam permukaan rumput hijau. Tatapan beringas Naruto seketika terpampang jelas ketika memandang Madara.

"Kau ngajak ribut haa, Uchiha Bangsat?!" Naruto berdiri dan memasang kuda-kuda bertarung.

"Ayo kesini, Bocah Sableng!... Akan kusiksa kau!" Madara tidak mau kalah, ia pun ikut-ikutan berdiri di depan Naruto.

Dua aura berbeda warna kini menjadi background kedua mahluk ini. Aura biru dikeluarkan oleh Madara dan aura merah cerah dikeluarkan oleh Naruto.

"Kita lihat siapa yang akan kesiksa, mata iritasi!" Naruto membalas tidak kalah sengit, untuk semakin memperjelas tantangannya. Naruto memajukan kepala dan memperlihatkan wajah beringas.

"Jauhkan kepalamu dariku, siluman rubah!" Madara mendorong kepala Naruto menjauh dari wajahnya.

"Sialan kau, kerbau pemalas!" Naruto langsung memukul kepala Madara.

Pukulan dari Naruto pun membuka adu jotos antara keduanya. Kepulan debu menjadi background adu jotos keduanya. Hashirama dan Yuki hanya menghela nafas melihat aksi kekanak-kanakan dari Madara dan Naruto.

"Ayo Oji-chan!" Karena bosan atau tidak mau melihat adu jotos kakak dan pamannya, Yuki mengajak pergi dengan menarik tangan pengguna Mokuton yang tengah melakukan Henge.

Sementara Yuki dan Hashirama sudah sibuk bermain bersama. Naruto dan Madara masih melanjutkan adu jotos mereka dan hilanglah sudah gambaran -damai disore hari ini- yang tadi dikeluarkan oleh Uchiha terakhir di muka bumi.

.

.

.

.

.

"Brengsek!... Ini semua gara-gara kau!"

"Woy, kau yang mulai, Uchiha bangsat!"

"Pffftttt… " Hashirama sekuat mungkin menahan tawanya agar tidak lepas.

Di bawah pohon tadi. Madara dan Naruto sama-sama duduk bersilah. Lebam dan benjolan memenuhi sekujur tubuh bekas adu jotos mereka yang berlangsung selama hampir 10 menit, hanya sebentar tapi efeknya sangat besar bagi Naruto dan Madara.

"Mouuu~~ Sudah berhenti Nii-chan, Maddie-ojichan!... Apa mau kulempar lagi?" Yuki merajuk sebal melihat Kakak dan Pamannya malah saling menyalahkan siapa yang salah. Dan pertanyaan Yuki diakhir kalimat menandakan bahwa dialah yang menghentikan adu jotos keduanya dengan cara melempar sesuatu.

Well, sepertinya hanya Yuki yang bisa menjinakkan kedua monster tadi ketika sedang beradu jotos ataupun berdebat dengan lemparan sandal ataupun sesuatu yang lain. Dan secara bersamaan, Naruto dan Madara mendecih kesal dan membuang pandangan ke arah lain.

.

.

Di dalam kandang kuda Naruto, sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory tiba-tiba muncul. Dari lingkaran sihir itu, keluar dua sosok berbeda gender. Mereka adalah pasangan suami-istri, Sirzechs sang Maou-Lucifer dan Maid sekaligus Queen-nya, Grayfia.

Sang Maou-Lucifer tampaknya mempunyai tugas atau mungkin sebuah rencana untuk memperbaiki hubungan Naruto dan Rias. Dia tidak mungkin datang di waktu-waktu seperti ini yang biasanya disibukkan dengan tugas sebagai seorang pemimpin Underworld.

"Dimana mereka Sirzechs-sama?" Grayfia mengedarkan pandangan saat mendapati apartemen tempat mereka tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Sirzechs tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah luar ketika mendengar ceramah Yuki. "Mereka ada di luar, ayo kesana!" Perintah Sirzechs dibalas anggukan oleh Grayfia. Kedua Iblis kelas Ultimate itupun berjalan menuju halaman belakang kandang kuda Naruto.

.

"Sirzechs-sama, Grayfia-san…" Pekik Naruto ketika melihat dua Iblis berjalan keluar dari pintu kandang- Ehh, apartemen Naruto. Pemuda bersurai dark-silver ini langsung berdiri dan menghampiri Maou Lucifer yang tersenyum membalas panggilan Naruto tadi.

'Apa lagi sekarang? Kenapa si kepala merah datang!' Lain Naruto, lain lagi dengan Madara. Dia malah keheranan melihat kedatangan Sang Maou-Lucifer di kediaman mereka.

"Wah, tumben Sirzechs-sama dan Grayfia-san datang sore-sore seperti ini… Apa karena rindu kepadaku?" Ujar Naruto sedikit bercanda.

Sirzechs hanya tersenyum menanggapi candaan Naruto. Tapi jauh di dalam hatinya, dia bertanya-tanya apa Naruto masih kecewa pada Rias. Sirzechs sudah mengetahui karena sudah tau curhatan Naruto di malam pertunangan Rias dari Grayfia. Tapi masalah suka Naruto ke Rias masih dirahasiakan oleh Grayfia karena janjinya ke sang Iblis setengah manusia itu.

"Kau ada-ada saja… Mana mungkin aku rindu padamu. Aku sudah punya Grayfia-chan loh, Naruto-kun!" Balas Sirzechs juga dengan nada bercanda yang langsung kena pukulan kipas kecil yang selalu dibawah oleh sang istri di sampingnya.

"I-Ittee… Apa yang kau lakukan, Grayfia-chan?!" Sirzechs menoleh ke kanan sambil memegang bekas pukulan kipas kecil Grayfia.

"Dimana kehormatan Sirzechs-sama sebagai seorang pemimpin Underworld?!" Jelas Grayfia datar menjelaskan alasan kenapa memukul sang suami dengan wajah datar sedatar lantai keramik.

"Maa~Maa… Sekali-kali aku tidak perlu bersikap sebagai pemimpin, Grayfia-chan."

Sirzechs lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Naruto. "Apa kau sibuk malam ini, Naruto-kun?"

Naruto berpikir sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepala tanda bahwa malam ini tidak ada acara untuknya. "Memangnya kenapa Sirzechs-sama? Apa ada tugas lagi?"

Sirzechs menganggukan kepala bersurai merahnya lalu memasang wajah serius. "Kemarin malam ada informasi bahwa ada sekelompok Iblis liar yang menyusup ke kawasan ini… Jadi aku menugaskanmu mengeleminasi mereka. Bagaimana Naruto-kun?"

"Hmnn…" Naruto memasang pose berpikir legend, mengusap dagu. "… Beberapa, itu berarti jumlahnya belum diketahui." Sirzechs mengangguk setuju dengan pemikiran Naruto barusan.

Naruto menoleh ke belakang dan memanggil salah satu shinobi. "Madara-ossan!"

"Hn?" Dua huruf universal Uchiha merespon panggilan Naruto.

"Malam ini ada acara berdansa… Mau ikut?" Naruto menyungging sebuah seringai kecil. Sirzechs dan Grayfia yang tidak tau apa maksud dari 'berdansa' malah bingung sendiri.

Seringai tiba-tiba terpampang di wajah datar Madara. "Hmnn… Karena sudah lama tidak aku tidak berdansa… Baiklah aku ikut!"

Naruto berbalik lagi ke arah Sirzechs. "Baiklah Sirzechs-sama… Aku dan manusia bermuka tebing itu akan mengurus mereka!"

"Tapi…"

"Ya?" Naruto menaiikan sebelah alisnya.

"… Kalian tidak sendirian, aku juga mengirim Ria-tan dan Peerage-nya untuk membantu!"

"Are?... Kok Ojou-sama juga ikut? Apa ini tidak apa-apa Sirzechs-sama?" Tanya Naruto.

"Tidak apa, sekalian kau dan Ria-tan memperbaiki hubungan kalian."

Naruto hanya bisa menganggukan kepala dengan raut wajah sulit diartikan. Mungkin ketika bertemu nanti bukannya membaik, hubungan Naruto dan Rias mungkin malah semakian memburuk. Apalagi keikut sertaan Madara dalam acara dansa malam ini.

Grayfia mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikan kertas itu ke Naruto. "Ini adalah lokasi tempat kelompok iblis liar itu berada."

Naruto menerima kertas itu lalu mengangguk paham. "Arigatou, Grayfia-san!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam harinya.

Di sebelah barat kota Kuoh terdapat sebuah bangunan tua bekas pabrik. Halaman bangunan itu cukup luas yang semakin menambah kesan anker area itu. Tepat di pintu gerbang memasuki area pabrik, sekelompok iblis muda tengah berkumpul menunggu seseorang. Mereka adalah Rias dan Peerage.

"Anoo… Bochou, sebenarnya siapa yang kita tunggu?" Salah satu iblis yang memiliki tubuh imut, bersurai putih model bobcut. Bertanya ke King mereka. Sorot mata beriris emas gadis ini terlihat penasaran siapa yang mereka tunggu.

"Aku kurang tau… Tapi Onii-sama bilang mereka cukup kuat." Jawab gadis yang dipanggil Bochou.

"Dilihat dari sini manapun, tempat ini tetap menyeramkan." Ujar pemuda bersurai coklat yang merasakan tekanan tidak enak dari area pabrik di depannya.

"K-Kau benar Issei-san!"

"Ara~Ara~… Sepertinya Issei-kun dan Asia takut… ~Nfufufufufu!"

"B-Bukan takut Akeno-san…" Sanggah pemuda bernama Issei.

"Benarkah?... ~Nfufufufuf~!" Tanya gadis bernama Akeno sambil memegang pipi dan tersenyum palsu seperti biasa.

'Justru Akeno-san yang membuatku takut mendengar tawa itu.'

"Dua sesuatu mendekat dari sana Bochou!" Pemuda lain di kelompok itu tiba-tiba memasang kuda-kuda bertarung ketika merasakan kedatangan dua orang berjalan mendekat dari dalam pabrik.

Kelompok Rias pun ikut memasang kewasapadaan mereka. Suara langkah kaki pun terdengar dari kegelapan area pabrik di depan mereka. Dan tak berselang lama, dua sosok muncul dari sana.

Sosok pertama adalah pemuda bersurai dark-silver acak-acakan yang mengenakan T-shirt hitam dan celana panjang hitam. Sosok kedua adalah pria paruh baya bersurai raven panjang, mengenakan baju hitam berlengan panjang dan kaos tangan hitam, celana panjang yang juga berwarna hitam dengan gesper berkepala perak. Mereka berdua adalah Naruto dan Madara yang ternyata lebih dulu tiba dibanding kelompok Rias.

"Jadi mereka yang kau maksud, Naruto?" Tanya Madara datar.

Naruto mengangguk menjawab pertanyaan dari Madara lalu mengalihkan perhatiaanya ke kelompok Rias. "Apa yang membuat Ojou-sama terlambat?" Tanya Naruto disertai senyum hangat yang mengembang. Jujur dia sangat senang diberi kesempatan ini. Jika saja ia berhasil menyelesaikan tugas ini bersama Rias, mungkin kebencian Rias terhadap dirinya akan berkurang.

Benarkah? Kita lihat saja nanti.

Rias memandang Naruto dengan wajah datar. "Kami menunggu kalian." Respon datar pun dikeluarkan oleh gadis cantik bersurai merah ini. "Jadi, kalian yang dikirim Onii-sama untuk menjadi pengawal kami?... Cih, kalau aku tau, mending aku menyuruh Onii-sama tidak usah mengirim bantuan."

Naruto sedikit tersentak mendengar ucapan Rias. Dia hendak membalas namun…

"Hey, dengar ya jalang!" Sang Uchiha di sampingnya tiba-tiba angkat suara karena merasa diremehkan.

"Woy brengsek!... Berani-beraninya kau memanggil Bochou seperti itu?" Issei yang tidak terima Rias dipanggil seperti naik pitam dan langsung menunjuk wajah datar Madara.

"Siapa kau bocah kemarin sore? Memangya masalah kalau aku memanggil dia…" Madara menunjuk lurus Rias dengan wajah datar khas Uchiha. "… Jalang!" Sambungnya penuh akan nada berat.

"Lihatlah!… Rok sependek itu dan putting yang menonjol keluar… Apa itu model pakaian gadis jaman sekarang?"

Sekarang, bukan hanya Issei yang naik darah. Rias dan Peerage-nya mulai merasakan hal yang sama. Sungguh mereka benar-benar tidak tahan untuk mengeroyok Madara karena telah menghina Rias serendah itu. Sedangkan Naruto, sebenarnya dia mau menghentikan Madara, tapi entah kenapa hatinya malah memilih untuk diam. Mungkin karena pengaruh Madara kepada dirinya lebih besar dibanding rasa sukanya ke Rias.

"Brengsek!" Issei sudah tidak tahan lagi. Ia langsung mengankat tangannya ke atas dan berteriak.

"[Bosted Gear]"

Cahaya merah tiba-tiba menyelubungi tangan kiri Issei dan tak berselang lama sebuah gautlet merah dengan pertama hijau di punggung tangan muncul. Madara hanya menatap datar hal itu seolah-oleh tidak ada yang menarik dari gautlet itu.

"Mati kau!" Issei tiba-tiba menerjang Madara dengan pukulan tangan kiri yang disertai Sacred Gear miliknya.

Takk!

Madara menahan pukulan Issei dengan tangan kanan membuat kelompok Rias sedikit terkejut. Madara mengeratkan pegangan pada tangan Issei dan langsung melempar pemuda itu menuju ke pagar area pabrik.

Brakk!

"Ise!"

"Issei-kun!

"Issei-san!"

"Issei-senpai!"

Teriak Rias dan anggotanya secara bersamaan melihat Issei menabrak pagar tembok hingga menciptakan kepulan debu.

"Bocah sepertimu butuh seratus tahun untuk mengalahkanku dengan benda tidak berguna itu!" Ejek Madara datar lalu menyilangkan dua lengannya di depan dada.

Pemuda berwajah cantik ditambah surai pirang yang berdiri tidak jauh dari Madara tiba-tiba menciptakan sebuah pedang dan melesat menuju Madara. Bukan hanya pemuda itu, gadis Loli bersurai perak pun ikut menerjang Madara.

"Yuuto, Koneko… Berhenti!" Rias tiba-tiba berteriak menghentikan Knight dan Rook yang hendak menyerang Madara.

Secara bersamaan, Kiba dan Koneko berhentik beberapa meter dari Madara yang masih bersikedep dada dengan wajah datar. Tampaknya shinobi satu ini benar-benar Badass dan tidak kenal rasa takut kepada siapapun.

"Kenapa berhenti?... Ayo kesini! Kuajarkan kalian cara berdansa!" Madara berujar sinis dengan nada datar menantang Koneko dan Kiba. Kedua bidak itu pun mendecih tidak suka.

"Kita kesini untuk membasmi Iblis liar… Dan dia adalah rekan kita." Jelas Rias. Tampaknya pewaris Gremory ini mulai tertarik dengan Madara. 'Walaupun aku tidak suka sifatnya… Tapi dia lumayan kuat. Aku akan menjadikan dia sebagai Peerage-ku!' Batin Rias yang secara tidak sadar menggali lubang kuburannya sendiri. Karena hal yang dia inginkan adalah hal yang ditakutkan oleh sang Maou-Lucifer.

Setelah diam beberapa lama, akhirnya Naruto angkat suara. "Hmnnn… Ojou-sama benar, kami adalah rekan kalian malam ini dan dia…" Naruto menujuk si Uchiha muka tebing.

"Hn… Madara!" Potong si muka tebing lalu melirik sejenak pemuda di samping kirinya sambil membatin. 'Ojou-sama?... Apa Bocah sableng ini punya hubungan dengan Iblis itu?'.

"Sebelum memulai, ada baiknya kita berkenalan… Aku Rias Gremory, King dari mereka." Ujar Rias memperkenalkan diri. Setelah itu memerintahkan Peerage-nya untuk memperkenalkan diri ke Madara dan Naruto. Setelah selesai, tinggal Issei yang belum.

"Ise!" Panggil Rias.

Pemuda bersurai coklat itu pun menatap Madara dengan tatapan tidak suka lalu memperkenalkan dirinya. "Hyodou Issei… Pawn dari Buchou!"

"Hn!" Rias dan Peerage kecuali Issei langsung sweatdrop mendengar respon ambigu ditambah wajah datar dari Madara.

"Aku sudah memeriksa area ini dan terdapat tiga iblis liar di banguan besar itu dan..." Jelas Naruto lalu memutar tubuhnya 180 derajat lalu menunjuk gedung terbesar pada area pabrik. "… dua sisanya ada disana!" Lanjut Naruto dan mengarahkan telunjuknya ke sudut area tersebut.

"Kami ambil yang tiga itu… Madara-san ambil yang dua!" Saking kecewa dan bencinya dengan Naruto. Rias bahkan tidak menyebut nama pemuda itu ketika menjelaskan hal barusan.

Naruto hanya bisa meringis dalam hati mendengar Rias tidak menyebut namanya yang menjelaskan secara terang-terangan bahwa pewaris Gremory sudah tidak menganggap keberadaannya.

Naruto semakin nyesek!.

Madara mengerjit heran melihat interaksi Naruto dan Rias. Otak Uchiha Madara tampaknya bisa mengetahui kalau ada masalah diantara keduanya. Tapi, orang ini Madara! Uchiha yang tidak suka ikut campur masalah orang jika itu tidak berhubungan dengan dirinya.

Rias berjalan ke Ise yang berdiri dengan susah payah dan tubuh sedikit kotor. "Ayo Ise!" Rias menepuk pundak pemuda itu dan mengajaknya untuk segera memulai. Issei mengangguk mengerti dan mulai berjalan diikuti Rias dan kelompok ke arah bangunan terbesar pada area itu meninggalkan Madara dan Naruto yang masih berada di gerbang masuk.

"Bocah sableng!" Madara memanggil Naruto. Setelah pemuda itu menoleh ke arahnya, Madara memberi kode untuk segera memulai acara berdansa mereka melawan dua iblis liar jatah mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Cih… Tempat macam apa ini?... Busuk bangat coeg!" Madara menggerutu kesal ketika memasuki banguan di sudut area pabrik. Aroma tidak sedap seperti bangkai hewan dari bangunan itulah yang membuat Madara menggerutu.

"Sudahlah, mending kita selesaikan dengan cepat… Aku takut Yuki-chan ketiduran di sofa lagi!" Naruto berjalan mendahului Madara. Aura keemasan mulai menguar dari tubuh Naruto. "Lagian mukamu sama busuknya dengan bau ini!"

"Haa… Kau bilang apa, uban?"

"Lupakan saja!"

Klontang! Klonting! Brak! Brak! Prank! Meoaww~~!

Suara gaduh mulai terdengar dari balik dinding bangunan tempat mereka. Madara sweatdrop sejenak ketika mendengar suara kucing tadi. Sedangkan Naruto malah mempersiapkan api orange di tangan kanan.

"Khukukukuku… Aku mencium dua bau manusia."

"Grrrrr… Salah satu dari mereka memiliki daging yang enak!"

Duaar! Duaar!

Dinding di depan Naruto tiba-tiba hancur. Hembusan angin disertai debu mengenai tubuh Naruto hingga membuat surai dark-silver pemuda ini melambai-lambai. Namun sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Madara pun menyeringai melihat hal itu.

'Bagus!... Itu baru muridku!' Batin si Uchiha muka tebing dengan bangganya.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Empat suara dari sesuatu yang besar menginjak permukaan lantai area itu terdengar dari balik kepulan debu. Setelah kepulan debu menghilang. Dua mahluk berbeda bentuk dengan ukuran 5 kali lebih besar dari Naruto terlihat.

Mahluk pertama memiliki bentuk menyerupai gorilla besar, dan wajahnya mirip dengan Stark Fullb- Ehh, babi maksudnya. Mahluk itu berdiri dengan dua kaki besar. Mulutnya dipenuhi gigi tajam disertai alir liur yang mengalir deras. Di tangan kanan iblis liar ini, memegang sebuah tombak kayu sepanjang 5 meter dengan ujung runcing di bagian bawah.

Sedangkan yang kedua, bentuk tubuhnya sama dengan yang pertama. Namun bedanya memiliki dua kepala dan empat tangan, di bagian perut terdapat mulut besar yang dipenuhi gigi-gigi tajam besar tidak beraturan. Mungkin iblis liar ini memerlukan behel agar gigi tadi bisa teratur. Jika diperhatikan lebih jelas. Iblis liar ini bergender wanita karena adanya dua gunung besar di bagian dada.

"Jadi ini iblis liar?... Cih! Ini sih lebih mirip si Dobe dan kau, bocah sableng!"

"Ya elah… Lihat yang disana…" Naruto menunjuk monster berwajah babi. "… Wajahnya hampir mirip denganmu. Atau mungkin kalian saudara jauh? Huh, aku tidak menyangka Uchiha muka tebing sepertimu punya saudara jauh berwajah babi." Balas Naruto mengirim ejekan lebih pedas. Madara mendecih tidak dan hendak membalas ejekan tadi, tapi sudah didahului…

"Khukukuku… Lihat ada dua makan malam saudaraku!" Kata Iblis berwajah babi tadi.

"Grrrr… Aku ambil yang dibelakang… Groooaarrrr!"

Tanpa berpikir siapa yang dia lawan. Iblis liar berkepala dua tadi langsung melompat menuju Madara yang masih diam di tempat dengan kepala tertunduk. Sedangkan iblis berwajah babi kini mulai menyerang Naruto dengan tongkat kayu miliknya.

.

.

"Kau milikku, makan malam!"

Setelah berada di atas Madara. Si Iblis liar berkepala dua mengarahkan dua tangan bagian atas yang memiliki cakar-cakar tajam yang siap mengoyak tubuh lawan. Beberapa centi sebelum cakar-cakar si iblis liar mengenai Madara. Sang Uchiha langsung mendongak, iris merah darah yang dihiasi tiga tomoe punberkibar dengan gagah di wajah Madara.

Wush! Brakk!

Madara tiba-tiba menghilang dari bawah sang iblis liar sehingga sepuluh cakar tajam tadi hanya mengenai lantai. Iblis liar meraung kesal dan mencari keberadaan sang Uchiha. Dan tak berselang lama, samar-samar muncul bayangan hitam dari arah atas.

Duag! Duaarr!

Dua kaki kekar tiba-tiba menghantam masing-masing kepala iblis liar tadi. Tubuh besarnya pun terdorong kebawah dan menghantam lantai hingga menciptakan ledakan kecil dan kepulan debu. Di atas kepulan debu, terlihat Madara tengah melayang dengan seringai.

"Makan malam?... Kau itu partner berdansaku malam ini!" Gumam Madara lalu memperlebar seringai. "Mari berdansa!"

"Grrrrr…!" Iblis liar itu meraung kesal dan dari balik kepulan debu, empat tangannya langsung keluar dan siap menangkap Madara.

Madara menatap bosan keempat lengan di bawahnya. Dan dengan gerakan cukup simpel, Madara menghindari keempat lengan tadi dengan cara memanfaat tangan pertama sebagai batu loncatan.

Iblis liar lawan Madara berbalik. Demonic Power mulai mengepul di sekitar tubuhnya. Dua puting berbentuk tidak karuan si Iblis liar mulai bercahaya. Menggunakan tangan bagian bawahnya, sang iblis liar mengarahkan puting bercahaya ke Madara yang tinggal beberapa centi mencapai lantai.

"[Nipple Shot]"

Dua laser tiba-tiba melesat dari puting si iblis liar menuju ke Madara yang sudah mendarat pada lantai.

"Apa itu?" Madara mengerjit heran melihat dua laser yang berjarak kira-kira 7 meter darinnya dan semakin dekat. Madara membentuk segel tangan sederhana dan ledakan asap putih pun tercipta di punggungnya. Setelah kepulan asap putih menghilang, terlihat sebuah benda mirip kipas berlambang Uchiha menempel di punggung Madara.

Madara mengambil benda bernama Gunbai dan memposisikan senjata itu di depan tubuhnya ketika menerjang dua laser dari iblis liar lawannya.

Blaarr!

Dua laser Iblis liar tadi berhasil tertahan dan terlihat masuk ke dalam Gunbai Madara. Tak berselang lama setelah menkonversi Demonic Power iblis liar tadi, si pemilik Gunbai menggumamkan sesuatu..

"[Uchihagaeshi]"

Bumn!

Cahaya menyilaukan disertai angin kencang tiba-tiba keluar dari Gunbai Madara menuju lawannya. Iblis liar lawan Madara seketika membulatkan empat matanya melihat angin dari Gunbai Madara.

Jrassh! Duarr!

Beberapa bagian tubuh si Iblis liar terkena serangan Gunbai Madara lalu terpental dan menghantam dinding di belakang. Tida menyia-nyiakan kesempatan ini, Madara segera berlari menuju sang Iblis liar untuk memulai menu utama acara dansa malam ini, yaitu penyiksaan ala shinobi oleh Madara.

.

.

Bumn! Brakk!

Suara dentuman besar disertai dinding yang hancur terdengar keras di sudut lain bangunan. Pelakunya tidak lain adalah Naruto yang mengankat dan melempat lawannya dengan bantuan Senjutsu miliknya.

"Grrrrr… Brengsek, akan kuinjak-injak tubuhmu, manusia!"

Lawan Naruto tidak terima dilempar seperti batu. Dia langsung berlari dengan kaki besarnya menuju Naruto. Sesampainya di depan pemuda itu, dia langsung mengirim tusukan tongkat.

Jleeb!

Naruto melompat ke samping sehingga tusukan tongkat iblis liar menancap di lantai. Kesal karena serangannya kembali di hindari, si iblis menggunakan kekuatan monster untuk mengayunkan tongkat miliknya yang masih menancap di dinding.

Sreeeeett!

Sebuah goresan besar hasil gerakan menyerat tongkat kayu milik iblis liar muncul. Naruto segera menunduk menghindari ayunan tongkat tadi. Setelah melewati bagian atas kepalanya, Naruto mengepal tangan kanan dan api orange mulai menguar dari kepalan itu.

"Terbanglah!"

Naruto menerjang dan langsung menyarangkan kepalan tangan kanannya di perut iblis liar di depannya.

"[Hiken]"

Duaarrr! Wush!

Naruto mendorong pukulannya ke arah atas dengan api orange yang menguar-nguar gila di pukulannya. Dan alhasil, lawannya pun terbang ke langit-langit bangunan itu.

Brakk!

Tubuh besar lawan Naruto menghantam keras langit-langit bangunan hingga menciptakan retakan besar dimana-mana. Sedangkan tepat di bawah iblis liar itu, Naruto siap melakukan penutupan secara bersamaan dengan Madara.

Naruto menoleh ke samping kanan dimana Madara tengah asik melakakuan dansa dengan iblis liar bagiannya. "Madara-ossan… lempar dia kesini!" Perintah Naruto kepada Madara.

"Hn!" Madara merespon datar perintah Naruto di sela-sela acara berdansanya.

"Grrrr….!" Lawan Madara kembali meraung kesal berhasil dibuat tersudut. Ketika Madara tepat berada di depannya, dia langsung mengayunkan keempat tangannya ke Uchiha itu.

Brak! Brak! Brak! Brak!

Sesuatu berwarna biru tiba-tiba muncul melindungi tubuh Madara. Itu adalah tulang rusuk Susano'o Madara yang akhirnya dikeluarkan. Dengan tatapan amat sangat super datar, Madara memandang lawannya dengan Mangekyo Sharingan yang sudah aktif.

"Apa ini!"

Grep!

Sebuah tangan mahluk astral berwarna biru tiba-tiba muncul dari tulang rusuk tadi dan mencengkram tubuh besar sang iblis liar. Madara menggerakkan jari-jarinya dan…

"Arrrrrggggghhhhhhh!"

Tangan Susano'o Madara meremas tubuh iblis liar hingga meraung kesakitan. Darah segar pun muncrat kemana-mana ketika remasan Susano'o Madara semakin kuat.

"Bocah sableng… Selesaikan!"

Madara melempar tubuh besar si iblis liar menggunakan tangan Susano'o miliknya. Di sisi Naruto, api orange mulai menyelimuti tubuhnya, tampaknya Naruto hendak mengakhiri pertarungan ini dengan salah satu tehnik api yang memiliki daya hancur yang cukup besar. Saat tubuh yang dilempar Madara berjarak beberapa meter dari Naruto. Api yang menyelubungi Naruto mulai terhisap masuk ke dalam mulut Naruto.

Dan tepat ketika tubuh sang iblis liar sejajar dengan iblis liar yang masih melengket di langi-langit. Naruto menggembungkan pipi.

"[Kaen no Hōkō]"

Blaarrr!

Semburan api berintensitas sangat banyak Naruto muntahkan dari dalam mulutnya. Iblis Liar yang berada tepat di atas Naruto langsung terkena semburan itu dan melesat menuju saudara se-iblis liar di langit-langit

Bummnn!

Ledakan berskala besar yang bisa dilihat dari jauh pun tercipta ketika semburan api Naruto mengenai langit-langit bangunan dimana ada iblis liar lawan Naruto menempel.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beralih ke tempat Rias dan Peerage. Mereka sudah berhasil mengalahkan dua iblis liar, namun satu yang mempunyai ukuran sedikit lebih besar dari yang dilawan Naruto dan Madara. Tampaknya nasib sial sedang menimpa Rias dan Peerage-nya. Yang mereka lawan adalah pemimpin dari empat iblis liar yang sudah kalah.

Ketika sang iblis liar sibuk meladeni Issei, Rias menciptakan lingkaran sihir Gremory di depan tubuhnya. Power of Destruction berukuran sedang pun meluncur dari lingkaran sihir tadi menuju sang iblis liar.

Duaarr!

Braakk!

Serangan Rias berhasil mengenai perut lawannya hingga terpental keluar bangunan dan mendarat cukup keras pada area yang cukup luas.

"Huaa… Lawan mereka ternyata lebih besar!" Komen Naruto yang baru saja tiba di area tersebut.

"Hn!"

"Cih, dasar muka tebing!"

"Cepat selesaikan kembaranmu itu, aku sudah mengantuk!" Perintah Madara ke Naruto sambil memasang wajah mengantuk yang dibuat-buat.

Naruto hendak melakukan serangan yang sama tapi, kemunculan Kiba dan Koneko yang melompat dari lubang bekas iblis liar tadi membuat Naruto mengurungkan niatnya.

"Heee!"

Duag! Brakk!

Koneko menghantamkan kaki kanan pada kepala iblis liar, retakan kecil pun tercipta pada permukaan tanah tempat si iblis liar berbaring kesakitan.

"Wow… Ternyata bidak Rook memang kuat ya." Gumam Naruto agak takjub melihat tendangan dari gadi loli bernama Koneko.

Dan berselang lama, Kiba tiba-tiba melesat dengan kecepatan dewa-nya ke iblis liar yang masih berbaring kesakitan di permukaan tanah. Setelah berada tepat di atas tubuh besar iblis liar, sebuah tusukan langsung dikirim oleh Kiba.

Jleb!

"Arrrrggggghhhhhh!" Sang Iblis liar kembali meraung kesakitan terkena tusukan Kiba di bagian perutnya. Tapi dibalik teriakan itu, ternyata sang iblis merencakan sesuatu. Terlihat kedua tangannya hendak bergerak untuk memukul Kiba dan Koneko.

Naruto dan Madara yang melihat tangan Iblis liar itu langsung berlari menuju kesana. Madara mengaktifkan Mangekyo Sharingan dan mengeluarkan tulang rusuk dan lengan kanan Susano'o miliknya. Sedangkan Naruto kembali masuk ke dalam mode Senjutsu.

Secara bersamaan, Naruto dan Madara melompat ke atas Iblis liar yang tengah berbaring.

Grap!

Duag!

Madara langsung menangkap tubuh loli Koneko dengan Susano'o miliknya. Saat posisi keduanya sudah agak jauh dari sang iblis liar, Madara menghilangkan Susano'o miliknya sehingga Koneko terjatuh di gendongannya. Sedangkan Naruto mendorong tubuh Kiba membuat Knight Rias terpental.

"Lepaskan aku!" Koneko meminta Madara menurun dia dengan nada datar.

"Cih, Terima kasih kek sudah ditolongin!" Balas Madara cuek bebek lalu melakukan apa yang diminta oleh Koneko.

Bruuk!

Dengan sangat tulusnya, Madara menurunkan Koneko hingga membuat gadis loli itu tersungkur pada permukaan tanah. Tatapan tajam menusuk pun dikirim Koneko ke Madara. Tapi tidak berefek sama sekali kepada sang Uchiha.

"Naruto-san!" Kiba langsung berteriak ketika sudah mendarat pada permukaan tanah.

Tak! Tak!

Secara bersamaan, Naruto menahan dua tangan besar Iblis liar tempatnya berdiri. Untung saja dia sudah dalam mode Senjutsu sehingga kekuatannya setara dengan bidak Rook. Kiba yang melihat hal itu pun paham kenapa Naruto mendorong tubuhnya.

Api orange mulai menguar dari tubuh Naruto dan perlahan terhisap masuk ke dalam mulut. Di dalam mulut Naruto, ia mulai mengkompres api orange yang dihisap. Setelah selesai, Naruto menyingkirkan dua tangan iblis liar tadi dan melompat ke atas dengan pipi menggembung.

"[Kaen no Hōkō]"

Blaarrr!

Semburan api berintensitas sangat banyak Naruto muntahkan dari dalam mulutnya ke bawah atau lebih tepatnya ke iblis liar yang masih berbaring.

Bummnn!

Ledakan berskala cukup besar pun terjadi. Hembusan angin yang cukup kuat tercipta. Kiba dan Koneko yang berjarak cukup dekat dengan ledakan terpental ke belakang.

Rias, Akeno, Issei dan Asia yang baru keluar dari bangunan melalui lubang besar yang sama. Terkejut melihat ledakan hasil ciptaan Naruto. Setelah ledakan mereda. Tidak ada yang tersisah dari sang iblis liar kecuali kawah besar pada permukaan tanah tempat iblis liar tadi berbaring.

Tap!

Naruto mendarat tepat di tengah-tengah kawah lalu mendaki keluar dari kawah tersebut.

.

.

Beberapa menit kemudian. Naruto, Madara, Rias dan Peerage berkumpul di pintu masuk area pabrik. Selama perjalanan keluar tadi, Rias tidak pernah melepaskan pandangannya dari Madara. Sebenarnya Madara tau kalau ia diperhatikan, tapi ia memilih cuek bebek menanggapinya. Dan hal itu membuat Rias kesal karena diacuhkan oleh Uchiha itu.

"Nee… Madara-san!" Rias akhirnya memanggil shinobi yang sangat ingin dia masukkan ke dalam Peerage-nya.

"Hn?"

"Aku berterima kasih sudah menolong Koneko." Rias mulai melancarkan rencananya untuk menarik Madara masuk ke dalam Peerage miliknya. Senyum manis pun disungging demi menarik perhatian sang Uchiha.

"Tidak butuh!" Respon Uchiha ter-tampan sedunia itu dengan nada datar. Ya, memang paling tampan, toh hanya dia yang tersisa sebagai seorang Uchiha.

"Maafkan dia Ojou-sama… Orangnya memang seperti itu!" Ujar Naruto kepada Rias.

"Bukan kau yang kuajak bicara!" Balasan yang sangat berbanding terbalik dari ekspresi Rias ke Madara dilontarkan ke Naruto. Alhasil, pemuda bersurai dark-silver itu hanya bisa menundukan kepala.

Naruto hanya langsung diam ditempat dan menundukan kepala. Rasanya sangat sakit ketika Rias membentak dirinya apalagi di depan orang banyak. Nyesek jadinya loh.

'Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan disini… Naruto biasanya langsung membalas orang yang memotong ucapannya.' Batin Madara yang mulai merasakan ada hal aneh ketika Naruto berhadapan dengan Rias. Mulai dari tatapan, hingga cara berbicara.

"Nee…" Rias mengalihkan pandangan kembali ke Madara dengan senyum manis. "Maukah kau menjadi anggota Peerage-ku?" Tawar Rias dan semakin memperjelas senyum manisnya agar Madara mau tertarik.

"APAAA… !" Issei langsung berteriak keras mendengar tawaran Rias ke Madara.

"Haa…" Madara menaikkan sebelah alisnya mendengar tawaran tidak masuk akal. "Dengar ini jalang… Sampai neraka terdalam menjadi dingin pun, aku tidak pernah terikat dengan kalian… Malam ini aku hanya ikut karena bosan." Jelas Madara disertai tatatapan penuh intimidasi. Sungguh Madara tidak menyangka gadis ini menawarkan untuk menjadikan dia seorang iblis. Mahluk supranatural yang sudah membantai habis semua rekan-rekannya kecuali Jiraiya dan Hashirama.

"Tapi dengan menjadi Peerage-ku… Aku bisa mengabulkan apapun yang anda minta, Madara-san!" Namu Rias tampaknya tetap bersikukuh membujuk Madara untuk menjadi bagian dari Peerage-nya.

"Benarkah?... Kalau begitu, bunuh semua iblis tanpa tersisah kecuali kau. Maka aku akan menjadi bagian kelompokmu!"

Rias langsung diam seribu bahasa. Apa-apaan permintaan Madara itu. Membunuh semua iblis kecuali dirinya? Itu berarti Issei juga harus dibunuh? Oh tidak, ini permintaan yang sulit untuk Rias. Jujur ini pertama kalinya ada orang yang meminta hal seperti itu.

"Aku, Uchiha Madara… Tidak pernah tunduk kepada siapa pun bahkan. Terutama pada Iblis walaupun aku harus melawan mereka semua satu per satu!" Jelas Madara dengan nada dingin. "Naruto, ayo kita pergi!"

Naruto mengangguk mengerti dan menciptakan cahaya keemasan melintang vertikal tepat di depannya. "Aku pamit dulu… Ojou-sama, Minna-san… Jaa-nee!"

Dan secara bersamaan, Naruto dan Madara melompat masuk ke cahaya keemasan yang melintang vertikal ciptaan Naruto. Setelah kepergian keduanya, Rias hanya bisa menghela nafas.

"Ara~Ara… Buchou tampaknya tertarik dengan Madara-san." Kata Akeno yang berdiri di belakang Rias.

"Kau benar… Jujur aku merasakan kekuatan yang besar di dalam diri Madara-san… Mungkin dengan menjadikannya Peerage-ku.. Keluarga kita akan menjadi semakin kuat." Jelas Rias.

"Tapi Bochou, Madara-san sudah menolak secara terang-terangan ajakan tadi." Kiba ikut angkat bicara.

Seringai kecil disungging oleh Rias. Tampaknya sifat Iblis yaitu serakah dan tidak mudah menyerah mulai muncul di diri Rias. Dan hal inilah yang ditakutkan oleh Sirzechs, Sang Maou-Lucifer tau Madara sangat membenci Iblis jadi membujuk Uchiha itu untuk menjadi Iblis adalah kesalahan fatal dan bisa-bisa membawa petaka bagi mereka yang ingin membujuk Madara.

Tapi, bukan Rias namanya jika menyerah sebelum mendapatkan apa yang di inginkan.

"Kita lihat saja Akeno… Akan kulakukan segala cara untuk menjadikan Madara-san sebagai Peerage-ku!" Ujar Rias percaya diri mampu menahlukkan Madara.

"Besok… Aku ingin kalian semua mencari dimana Madara-san tinggal!" Lanjut Rias memberikan perintah kepada seluruh Peerage miliknya.

"Hai… Buchou!"

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yooo… Bertemu dengan Author Newbie pemalas ini '-')/ … Di Fic abal-abal miliknya.

Hmnn… Mungkin di Chapter ini gak ada hal besar yang terjadi. Tapi keinginan Rias untuk menjadikan Madara sebagai anggota Peerage-nya akan menjadi masalah besar.

Oh iya… Di Chapter sebelumnya, banyak yang meminta Rias gak jadi Pair Naruto…. Muahahahaha, teneng aja, Pair Naruto bakalan muncul 2-3 Arc lagi. Dan itu bukan Rias… Titik gak pake sambel, kecapnya dikit :v Lolz

Madara dan Hashirama kelewat OOC … Itu disengaja coeg, biar ada humornya dikit. Dan Naruto cuma hormatin tuh dua orang klo lagi bertarung bersama. Itu pun jika Madara gak mulai manggil dia dengan nama yang aneh-aneh :v

Dan adegan Nyesek Naruto masih akan berlanjut ampe dapat pengganti Rias. Jadi tunggu aja.

Trus masalah Fic ane yng laen … Teneng aja, tetap dilanjut kok, cuma agak terlambat.

.

.

Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.

Terakhir... Jangan lupa meninggalkan komentar mengenai Chapter ini... Baik itu Pertanyaan, Saran, Kritikan, Tanggapan, Apresiasi atau... Flame?

Tulis semuanya pada Kotak Review dan akan saya tampung menjadi satu dan membalasnya...

.

.

.


"Secantik-cantiknya seorang wanita, dia masih tetap akan kentut dan BAB."

- Sakata Gintoki.

"Setelah membaca Fic ini, puas atau tidak… Kami tetap pusing tujuh keliling!"

- Ryusuke RootWood and Stark Fullbaster 012.


.

.

.

RootWood Out! ... Mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu! '-')/