RootWood In!

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.

Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Humor [Garing], Etc.

Rate : M untuk Bahasa, Storyline dan Madara :v Lolz

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya.

Warning : Alternate Universe, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado ditambah Es Campur, Mainstream [Mungkin], OOC [Jelas], Pergantian Scene secara tiba-tiba, Dan yang jelas Gaje serta Berantakan, DLL.

.

.

.

.

.


The Half-Devil Lucifer

Arc II : Awal dari semua masalah!

Chapter 9 : Kemarahan sang Uchiha Terakhir!


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya di klub penelitian Ilmu Gaib.

Bunyi bel tanda berakhirnya jam pelajaran di Kuoh Akademi menggema di seluruh pelosok sekolah. Para siswa mulai berhamburan keluar area sekolah untuk kembali ke habitat asli mereka masing-masing. Tapi tidak untuk para anggota klub penelitian ilmu gaib. Tepat di depan sebuah bangunan tua di area belakang Kuoh Akademi, lima murid yang masih mengenakan seragam Kuoh Akademi berjalan menuju pintu masuk bangunan itu.

"Ada apa Issei-kun? Dari tadi wajahmu seperti belum di setrika, kusut." Knight dari Rias angkat bicara ketika melihat Pawnsatu-satunya di kelompok mereka dari tadi hanya memasang wajah kusut seperti pakaian 7 hari 7 malam yang belum dicuci.

Pemilik dari [Bosted Gear] menoleh ke samping dan menatap Knighttadi dengan wajah sewot. "Diamlah pria cantik!... Ini semua karena Bochou mau menjadikan si muka datar kemarin sebagai Peerage-nya." Balasnya mengatakan keluh kesahnya kenapa memasang wajah kusut.

"Ara~Ara... Memangnya kenapa kalau Madara-san masuk ke Peerage Buchou, Issei-kun?" Gadis bersurai raven diikat ponytail yang berjalan di barisan paling depan menoleh kebelakang. "Bukannya malah bagus... Kelompok jadi kita makin kuat 'kan?"

Decihan kecil keluar dari mulut Issei. Dia lalu membuang muka ke arah lain agar ekspresi kesalnya tidak dilihat oleh anggota klub.

Kalau boleh jujur. Issei sebenarnya tidak menyetujui Rias mau menjadikan Madara sebagai Peerage. Kenapa?

Pertama... Jika dilihat dari segi wajah, lebih tampan dari Issei walaupun dengan wajah datar. Kedua... Issei ingat betul bagaimana Madara menahan tinju dan melempar tubuhnya dengan satu tangan. Jadi bisa dikatakan Madara itu lebih kuat dari dirinya yang sekarang.

Ketiga… Adalah yang paling Issei tidak suka, sifat Madara yang seenak muka tebingnya memanggil mereka dengan sebutan tidak senonoh.

Dan yang paling penting... Dia takut Rias malah jatuh cinta ke Madara yang tampan, kuat dan sebagainya.

"Ara~Ara..." Sepertinya Akeno bisa membaca apa yang dipikirkan oleh sang Sekiryuutei. "Kau takut Madara-san mempersulit tujuanmu untuk menjadi Raja Harem 'kan?... Karena Madara-san... Nfufufufufufu~lebih tampan!" Jelas Queen dari Peerage Rias dengan wajah sedikit memerah ditambah sedikit senyum sadis.

Nah! Akeno saja sudah terpikat dengan ketampanan Madara.

"Be-Benarkah i-itu Issei-san?" Gadis pirang yang berjalan di belakang Akeno menoleh ke kiri atau lebih tepatnya ke Issei.

"Sudah lupakan saja... Yang jelas aku tidak suka orang itu!" Dengan nada ketus, Issei mengutarakan ketidaksukaannya pada Madara secara gamblang. Dia lalu mengalihkan pandangan ke jendela bangunan yang sudah berada di depan mereka. Pada jendela itu, Issei melihat gadis bersurai merah sedang tersenyum manis memandang mereka.

.

.

Beberapa menit kemudian,

Saat ini di salah satu ruangan klub penelitian ilmu gaib, seluruh anggotanya tengah berkumpul. Sang ketua, Rias Gremory tenga duduk di singgah sananya. Sedangkan para anggota duduk pada sofa yang telah disediakan. Issei dan Kiba duduk pada sofa yang sama dan di depan mereka. Asia, Koneko dan Akeno duduk pada sofa yang lain.

"Jadi..." Rias mulai angkat bicara, semua anggota klub pun menghentikan kegiatan dan menoleh ke arahnya. "Hari ini kalian melakukan seperti hari-hari kemarin, tapi bedanya... Kalian juga harus mencari tau tempat tinggal Madara-san!"

Akeno, Kiba, Asia dan Koneko mengangguk mengerti. Tapi tidak untuk Issei, pemuda ini tampaknya tidak mau repot-repot mencari tempat tinggal si Uchiha yang membuatnya harus mencium tembok dingin area pabrik pada malam perburuan iblis liar.

"Ise... Apa kau mengerti?!" Mata sang presiden klub penelitian gaib sedikit menyipit menatap bidak Pawnsatu-satunya di klub ini.

Dengan tampang lesuh tak berdaya, Issei mengangguk tanda mengerti, apalah daya kalau Rias yang sudah memberikan perintah. Issei pasti akan mematuhinya. Rias pun mengukir seringai kecil. Tampaknya pewarisdari klan Gremory ini sangat percaya diri mampu menahlukkan si Uchiha muka tebing, Madara.

Dan sebentar lagi pertempuran sengit antara Rias dan Peerage melawan Uchiha Madara akan segera dimulai. Pertempuran bukan dalam artian baku pukul dan lempar serangan. Tapi pertempuran antara gadis dengan obsesi terlampai sangat mustahil melawan Uchiha kepala batu yang sangat sulit diluluhkan. Tapi tidak menutup kemungkinan pertempuran fisik akan terjadi jika sang gadis mengambil jalan beresiko besar.

Siapa yang tau?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian tampaknya Rias dan Peerage-nya tidak menemukan apa yang mereka cari. Itu karena Madara tampaknya tidak menampakkan batang hidungnya di depan umum dan lebih memilih berlatih ringan di halaman belakang kandang kuda mereka. Begitupula Naruto, Yuki dan Hashirama. Mereka lebih memilih melakukan aktivitas di sekitar kediaman mereka.

Dalam beberapa hari itu juga, Madara sering mendapati Naruto melamun sampai-sampai tidak menghiraukan ejekan Madara. Jelas ini membuat Madara keheranan sendiri. Biasanya Naruto langsung membalas jika Madara memanggil dengan nama yang aneh.

.

Saat ini. Di pagi hari yang indah penghuni kandang kuda Naruto tengah memulai aktivitas mereka. Seperti hari-hari biasa, Madara langsung memulai hari dengan tidur malas-malasan di sofa setelah sarapan. Yuki merapikan beberapa perabotan, Naruto lebih memilih menyaksikan Hashirama melakukan salah satu kegiatan favoritnya. Yaitu memahat patung kayu yang menurut Madara sangat membosankan.

Hashirama berhenti sejenak dan menoleh ke pemuda yang tengah duduk manis dibawah pohon. "Hoy, Naruto... Dariapada melamun tidak ada kerjaan… Mending sini bantu aku membuat maha karya!"

"Hmnn..." Naruto hanya mengangguk pelan dan segera berdiri lalu berjalan menghampiri pengguna Mokuton yang memanggilnya.

Ketika sampai di tempat Hashirama. Naruto langsung memasang pose berpikir. Dia mengusap dagu dengan tangan kanan sambil memperhatikan dengan seksama hasil pahatan kayu Hashirama. "Siapa itu?"

Mendengar pertanyaan bodoh Naruto. Hashirama menoleh ke belakang dengan mata menyipit sebal. "Dasar bodoh! Masa adik sendiri tidak kau kenali!" Kata Hashirama dengan nada terdengar agak konyol.

"I-itu Y-Yuki-chan?" Naruto menunjuk dengan tangan gemetaran patung gadis yang sudah setengah jadi di depan Hashirama.

"Bukan, ini Madara-teme... Ya iyalah, ini Yuki!"

Naruto seketika syok di tempat. Seluruh anggota tubuh memutih, mata membulat sempurna dan mulut yang terbuka lebar. Yang membuat Naruto syok sampai separah itu adalah pahatan kayu Hashirama yang benar-benar melenceng dari bentuk tubuh Dedek Yuki. Mulai dari tinggi badan yang seharusnya 150 cm, Hashirama tambah menjadi 165 cm. Dan yang paling melenceng adalah dada Yuki yang seharusnya agak kecil, Hashirama buat hampir menyamai ukuran milik Rias.

"Hoy, kau kenapa Naruto?"

"Kenapa gundulmu... Dilihat dari sisi manapun, pahatan itu sama sekali tidak mirip dengan Yuki-chan, Ossan!"

Hashirama mengibas-ngibaskan tangan kanan di depan wajahnya. "Kau salah Naruto... Ini Yuki versi dewasa!" Jelas Hashirama lalu menepuk-nepuk kepala pahatan kayu hasil karyanya.

"Cih..." Naruto mendecih pelan dan menjulurkan tangan ke Hashirama. "Berikan alat pahatnya, Ossan!"

"Kau mau apa?" Alis Hashirama saling bertautan mendengar permintaan Naruto.

"Mau melakukan sedikit perubahan."

Hashirama hanya mengangguk paham dan memberikan alat pahat yang dipegang ke Naruto. Setelah menerima alat pahat pemberian Hashiram, Naruto langsung menyerang pahatan kayu Yuki dengan kecepatan tangan super cepat sampai-sampai Hashirama dibuat melongo sendiri.

.

"Nah, sudah selesai!"

"Haaa?" Hashirama kembali melongo melihat hasil karya Naruto.

"Nee... Bagaimana?"

Pahatan patung Yuki yang tadinya bertubuh dewasa dengan payudara berukuran besar kini diganti oleh Naruto. Tubuh Yuki yang tadinya 165 cm kini menjadi 150 cm dan payudara yang ukurannya benar-benar menyurupai aslinya.

Setelah melihat dengan seksama hasil rombakan Naruto. Hashirama tiba-tiba berteriak histeris "WUAHH!... Kau benar-benar jenius Naruto!... Bisa-bisanya kau membuat seperti Yuki yang asli!"

"Heh..." Naruto melempar alat pahat yang dipegang ke udara lalu menangkapnya sambil melakukan pose alat seniman profesional. Tangan kanan yang memegang alat pahat di angkat ke atas dan tangan kiri mengacungkan jempol ke Hashirama. "Uzumaki Naruto gitu loh... Pemahat kayu terbaik di Kuoh!" Kata Naruto membanggakan diri. Keringat sebesar jempol kaki pun menetes di pipi Hashirama.

'Apa-apaan posenya itu?' Batin Hashirama sweatdrop.

"Cih, ini masih pagi, kalian sudah pada ribut!" Suara datar khas Uchiha Madara tiba-tiba terdengar dari pintu keluar kandang kuda mereka.

Naruto dan Hashirama secara bersamaan menoleh ke sumber suara. Di depan pintu keluar, terlihat Madara dengan wajah setengah mengantuk berdiri. Ia mengenakan pakaian biru tua polos dan sandal berujung terbuka.

"Ohayou... Kerbau pemalas!" Sebuah sapaan disertai ejekan meluncur dengan mulusnya dari mulut Naruto.

Bukannya membalas Naruto. Madara malah menguap selebar-lebarnya, dan jika saja ada lalat yang terbang di dekat Madara. Mungkin lalat itu bakalan terhisap masuk ke dalam mulunya. Setelah menguap, Madara menoleh ke Naruto dan Hashirama.

"Hn!"

Uchiha terakhir di muka bumi kemudian menghampiri keduanya. "Naruto, apa ada tempat lain yang kau tau untuk melakukan latihan?" Tanya si Uchiha terakhir di muka bumi.

"Hmnn..." Naruto kembali memasang pose berpikir. "Tidak ada, nanti siang saja, kita keluar mencari tempat yang aman untuk latihan."

"Sekarang, bocah sableng!... [Mangekyō Sharingan]milikku belum sepenuhnya kukuasai." Jelas si Uchiha muka tebing mengapa ingin mencari tempat berlatih secepatnya. Ya itung-itung mengisi waktu luang agar bisa mengusai mata andalannya agar semakin kuat daripada tiduran di sofa seperti kerbau.

"Baiklah~Baiklah... Tapi kau mandi dulu gih, busuk tau jalan dengan kerbau pemalas sepertimu, Ossan!" Karena tidak mau berdebat lebih lama melawan Madara. Naruto setuju untuk mencari tempat berlatih yang aman. Ya, walaupun ada sedikit ejekan yang keluar dari mulut Naruto.

"Hn."

Setelah mengeluarkan trade mark miliknya. Madara berjalan masuk ke dalam kandang kuda mereka kembali. Tujuan Madara tidak lain adalah kamar mandi. Dan hal ini membuat Naruto sedikit heran. Tumben si Madara tidak membalas ejekan darinya dan lebih memilih trade mark Uchiha untuk merespon.

.

.

.

.

.

"Ada apa? Bukannya Ossan sendiri yang meminta untuk berangkat sekrang?!"

Naruto yang tengah berjalan di samping kiri Madara melempar pertanyaan dengan wajah penasaran melihat wajah kusut pria di samping kiri.

Wajah Madara semakin kusut bagaikan baju yang belum disetrika 7 hari mendengar pertanyaan bodoh Naruto. Sambil berjalan, Madara menyilangkan lengan di depan dada dan menoleh ke belakang.

"Ya, itu benar... Tapi,..." Madara menjeda ucapan dan menoleh ke Naruto dengan wajah sebal khas Uchiha.

.

.

"... Kenapa Loli-chan dan Dobe juga ikut, Bocah Sableng?!"

Mendengar umpatan dari Madara, Naruto hanya bisa terkekeh. Dia... Naruto, benar-benar hampir tertawa lepas mendengar hal tadi. Entah kenapa menurutnya ekspresi Madara saat ini sangat langkah. Kusut bak kain yang belum disetrika, biasanya cuma datar layaknya papan cucian milik Milf Rank-SS berdada jumbo tetangga mereka yang sering Hashirama goda ketika menjemur cucian secara bersamaan.

Di belakang Naruto dan Madara. Yuki dan Hashirama berjalan dengan senyum berbeda mengembang di wajah. Hashirama dengan senyum cerah yang terlihat sangat bersemangat. Yuki dengan senyum bahagia yang memberi kesan imut karena ini mungkin ke-empat kalinya dia diajak keluar apartemen. Salahkan Naruto yang terlalu overprotektif pada sang adik sehingga hanya sesekali mengajaknya keluar.

"Aree... Emang kenapa kalau mereka ikut? Sekali-kali aku harus mengajak Yuki-chan keluar 'kan?... Ya, Ossan tau sendirikan alasannya?"

Iris onix Madara berputar tanda bosan dan dengan wajah kusut, dia hanya mengangguk mengerti apa yang dimaksud Naruto.

Hening melanda keempat mahluk absurd ini selama beberapa menit. Hanya suara langkah kaki dan kendaraan yang lalu lalang di jalan kota Kuoh yang terdengar. Ketika mereka tiba di sebuah perempatan yang cukup sepi. Madara menghentikan langkah dan mengedarkan pandangan ke segala arah, hanya ada rumah-rumah penduduk yang berjejer rapi yang bisa dia lihat. Bukan area luas yang cukup untuk melakukan latihan ringan sampai berat.

Hal ini pun membuat si Uchiha muka tebing ini kebingungan sendiri.

"Hoiy, bocah sableng... Kita sudah berjalan selama hampir 1 jam. Sebenarnya kau mau membawa kami kemana?!"

Naruto, Yuki dan Hashirama ikut berhenti. Naruto berbalik dan menatap si Uchiha dengan bibir dimiringkan, menyeringai.

Kening Madara mengkerut tanda semakin bingung. 'Apa lagi yang dipikirkan bocah ubanan ini sih?'

"Lihat disana!" Perlahan jari telunjuk Naruto mengarah ke sebuah bukit kecil yang terdapat gereja tua pada salah satu sisi tepat di belakang tubuh. Iris onix Madara bergerak mengikuti arah yang ditunjuk oleh Naruto. Dan terjawablah kenapa tadi Naruto menyungging seringai.

Naruto memikirkan sebuah tempat yang jarang dikunjungi oleh Iblis.

"Oh..." Madara manggut-manggut paham. "Tumben kau memakai otakmu, bocah sableng!"

Naruto mendesah pelan. "Haa... Terserah!" Dia kemudian memutar tubuh dan melanjutkan langkah menuju ke bukit yang ditunjuk tadi.

Perjalanan pun mereka lanjutkan, sesekali Yuki dan Hashirama membicarakan hal-hal sepele yang membuat Madara naik darah mendengar mereka, sedangkan Naruto hanya diam memikirkan sesuatu. Dan tanpa mereka sadari, sesosok mahluk kecil berbentuk bulat tidak sempurna, memiliki sayap dan ekor menyerupai iblis mengawasi mereka dari atas sebuah tiang listrik.

.

.

Beberapa menit kemudian. Empat mahluk absurd tadi sudah tiba di atas bukit tidak jauh dari gereja yang dulu pernah terjadi pertempuran antara iblis dan malaikat jatuh. Sebelum memulai latihan mereka, Madara terlebih dahulu mengecek area sekitar menggunakan Sharingan miliknya. Setelah selesai, dia memanggil rival sekaligus sohibnya.

"Woy, Dobe... Cepat kesini!"

Orang yang dipanggil mengangguk dan tersenyum ke gadis loli bersurai putih tebal di samping kiri. "Nee... Yuki, tunggu sebentar ya! Teme memanggilku."

Hanya sebuah anggukan kecil yang dikeluarkan Yuki untuk menjawab. Hashirama pun segera berlari menghampiri si pemanggil. "Ada apa Teme?"

"Bantu aku mendeciptakan Kekkai di area ini agar tidak ada yang tau kita lagi latihan!"

"Kekkai seperti apa?" Hashirama sedikit bingung dengan permintaan Madara. Pasalnya ada beberapa macam Kekkai yang diwariskan turun temurun dari leluhur mereka.

"Haaa... Kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh sih?" Pertanyaan yang sedikit menusuk atau memang sangat menurusk dilontarkan Madara kepada pengguna Mokuton. Dia mengedarkan pandangan beberapa saat lalu kembali fokus ke pria di depannya.

Orang yang ditatap pun sedikit kesal mendengar pertanyaan tadi. Tapi karena masih penasaran kenapa Madara meminta bantuan kepada dia untuk membuat Kekkai. Hashirama pun memilih diam dan menunggu penjelasan lebih lanjut dari pria didepannya.

"Tentu saja Kekkai transparan yang menahan tekanan chakra kita agar tidak keluar dan dideteksi musuh, dasar bodoh!"

Mendengar penyataan yang terdengar sedikit kasar dari Madara, tidak ada balasan ataupun respon yang terdengar. Hanya sebuah anggukan kecil yang diperlihatkan oleh orang yang dipanggil bodoh tadi. Tanpa menunggu lama, segel tangan mulai dirangkai oleh keduanya. Setelah selesai, Madara berjalan menjauh dari Hashirama.

Setelah berjalan sekitar 30 meter dari Hashirama, Madara menghentikan langkahnya dan berbalik ke pria yang akan membantu menciptakan Kekkai. Segel tangan yang serupa dengan Hashirama dirangkai Madara.

Secara bersamaan kedua shinobi itu mengangguk dan menggumamkan sesuatu. Sebuah selaput tipis transparan menyelimuti area tempat kedua shinobi tadi. Setelah selesai, Madara membentuk segel tangan tunggal. Ledakan asap putih langsung menyelubungi tubuhnya. Saat kepulan asap menghilang, Madara kini mengenakan pakaian tempur shinobi miliknya. Pakaian khas Uchiha biru tua berkerah tinggi dan lengan panjang yang ditutupi armor logam merah yang terpasang di sepanjang dada, pinggang, bahu dan paha. Kain serupa terpasang di bagian pinggang yang terbelah di bagian tengah. Sarung tangan hitam dan alas kaki shinobi biru tua yang di bagian atas dililit perban putih.

"Hoy~Hoy... Kau mau latihan apa bertempur, Madara?"

"Memangnya kenapa? Aku yang berpakaian, kenapa kau yang sewot... Cepat kita mulai latihannya! Aku tidak sabar menendang wajah bodohmu itu!"

"Baiklah~Baiklah... Lagian aku juga sangat ingin menendang wajahmu, Teme!" Entah apa yang terjadi dengan Hashirama. Dia tiba-tiba bersemangat untuk melawan Madara. Seringai khas dirinya pun disungging.

"Nah... Itu baru rivalku!" Madara tidak mau kalah, seringai yang penuh maksud buruk pun ikut diperlihatkan.

Dan tepat setelah Madara berteriak. Dua Future God Shinobiitu pun memulai latih tanding mereka sebelum memasuki latihan intensif untuk meningkatkan kemampuan masing-masing.

.

Tidak jauh dari tempat latih tanding. Naruto dan Yuki lebih memilih duduk di bawah pohon sambil menikmati pemandangan dua mahluk absurd yang saling lempar serangan sampai mengeluarkan Ninjutsu berskala kecil.

"Haaa... Ini pasti makan banyak waktu!" Gerutuan malas pun dikeluarkan oleh Naruto.

.

.

.

.

4 setengah jam kemudian.

"[Katon : Gōkakyo no Jutsu]"

"[Mokuton]"

Blaarr!

Benturan antara chakrayang dikonversi menjadi dua unsur alam pun terjadi hingga menciptakan ledakan kecil dan kepulan asap hitam pekat. Kedua pelempar dari Ninjutsutadi terlihat sedikit membungkuk, tangan mereka ditaruh pada lutut sebagai penopang tubuh dan tidak lupa nafas tersenggal-senggal. Dilihat dari hal itu mereka sudah kelelahan karena tidak tanggung-tanggung berlatih tanding tanpa henti selama 4 jam.

"Haa-haa-haaa... Lumayan juga Dobe..." Madara menegakkan tubuh dan menonaktifkan iris merah darah ber-tomoe 3 miliknya.

Lawan bicara Madara ikut berdiri tegak dan menatap sebal ke orang di depannya. "Kaunya yang berlebihan, Teme sialan!"

"Sudah selesai 'kah?"

Madara dan Hashirama menoleh ke sumber suara dan mendapati Naruto memasang wajah bosan ke mereka berdua. Sedangkan Yuki sedang berbaring menggunakan paha Naruto sebagai bantalan.

Hashirama mengembalikan pandangan ke Madara. "Bagaimana Teme?"

Madara berpikir sejenak lalu mendongak ke atas. "Sebaiknya kita istirahat, lagian perutku sudah lapar!" Dia kemudian membentuk segel tangan sederhana dan mengubah penampilan ke mode santai.

Rival Madara mengangguk setuju saran tadi dan ikut mengganti pakaian tempur yang dikenakan ke pakaian yang hampir sama dengan Madara. "Haa sama, Teme... Perutku juga sudah demo minta diisi." Hashirama menimpali ucapan Madara lalu menoleh ke dua kakak-adik tidak sedarah yang duduk tidak jauh dari mereka.

"Ayo Naruto, Yuki... Kita cari makanan, tadi melihat sebuah kedai kecil tidak jauh sini."

Naruto mengangguk tanda mengerti dan segera membangun sang adik yang tengah tertidur di pahanya. "Yuki-chan... Bangun... Hey, Yuki-chan!" Tubuh Loli Yuki sedikit Naruto goyang-goyangkan sambil memanggil nama sang adik agar bisa bangun.

Yuki mengerang lembut dan perlahan membuka kelopak mata, iris hitam kecoklatan menatap lesuh ke Naruto. "Ngh, ada apa Nii-chan?"

Naruto tersenyum kepada sang adik lalu bertanya. "Gomen, karena mengganggu acara tidur cantikmu." Kata Naruto yang merasa agak bersalah membangunkan sang adik. Namun Yuki malah menggeleng pelan agar Naruto tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Apa kau lapar?"

Yuki segera duduk bersilah di samping Naruto lalu memiringkan kepala sehingga menambah kesan imut. Beberapa detik kemudian, dia mengangguk menjawab pertanyaan sang kakak.

"Baiklah..." Naruto segera berdiri diikuti Yuki. "... Ayo kita pergi!"

Keempat mahluk absurd ini pun segera meninggalkan lokasi latih tanding di bukit menuju ke kedai yang dimaksud oleh Hashirama. Dan tidak jauh dari keempatnya, mahluk yang tadi selalu mengikuti kembali bergerak mengikuti langkah ke-empatnya.

.

.

.

.

.

"Huaaa... Aku kenyang sekali!" Hashirama langsung menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang diduduki dan tidak lupa menepuk-nepuk perut yang sedikit membuncit. –Bukan hamil

"Oji-chan berlebihan!" Yuki menatap heran jumlah mangkok bekas sup jamur makanan favorit Hashirama yang bertumpuk di atas meja yang jumlahnya ada 7.

Hashirama tertawa lepas mendengar ucapan dari Yuki. "Hahahaha... Aku sangat lapar Yuki, gini deh jadinya." Ucapnya tanpa memikirkan dua orang yang sudah menatap beringas ke dirinya. Mereka adalah Naruto dan Madara. "Hoii... Apa-apaan kalian menatapku seperti itu?" Hashirama pun menyadari tatapan dua orang di samping kiri dan kanan.

Belum sempat Naruto dan Madara mengeluarkan apa yang mereka ingin keluarkan. Dua gadis bergelas Great Onee-samayang mengenakan seragam Kuoh Akademi tiba-tiba menghampiri mereka.

"Ara~Ara..."

"Hmnnn..."

Naruto dan Madara sama-sama menoleh ke pintu masuk kedai kecil tempat mereka.

"Kau?!"

"Ojou-sama?!"

Mata Madara menyipit tajam memandang dua gadis menyebalkan itu. –Menurut dirinya. Sedangkan Naruto malah terkejut melihat kedatangan gadis yang dicintai-nya itu.

"Siapa mereka?" Yuki dan Hashirama melayangkan pertanyaan yang sama karena memang belum mengenal dua gadis yang sudah berada di samping meja mereka.

Mulut Naruto bergerak hendak mengatakan sesuatu, tapi suara datar nan menusuk dari Madara menghentikan dirinya.

"Kau? Mau apa kesini?"

"Ara~Ara... Madara-san tidak sopan sekali membiarkan dua gadis cantik berdiri." Akeno malah semakin memperburuk keadaan dengan mengeluarkan godaan disertai senyum palsu dan tidak lupa rona merah yang hinggap di pipi putih mulusnya.

"Peduli setan dengan itu..." Madara langsung memberikan respon dingin. "Ayo kita pergi!" Madara hendak berdiri tapi Hashirama segera menghentikan dia dengan menepuk pundak Madara.

"Tunggu dulu Madara... Apa yang dikatakan gadis ini benar, tidak sopan pergi begitu saja... Mungkin mereka mau membicarakan sesuatu." Jelas si pengguna Mokuton lalu menatap dua iblis cantik di belakang Madara. "Benarkan?" Tanya Hashirama ke dua iblis betina tadi.

Decihan kecil lepas dari mulut Madara dan langsung menatap ke Hashirama. "Apa kau tau, mereka ini..." Madara menjeda kalimatnya sambil mengedarkan pandangan ke segala sisi kedai untuk memastikan tidak ada yang mendengar mereka. Setelah memastikan tidak ada kelompok lain selain mereka. Madara membisikkan sesuatu ke telinga sohibnya.

"... Iblis!"

Setelah membisikkan nama mahluk yang paling dibenci, Madara menjauhkan kepala dari Hashirama. Beberapa detik kemudian Madara mengerjit keheranan melihat Hashirama terlihat santai-santai saja.

"Aku sudah tau Madara... Aku bisa mendeteksi aura mereka hampir sama dengan, errr... " Hashiram tiba-tiba saja kebingungan mengingat nama sang Maou-Lucifer. Dengan pose berpikir menggaruk surai hitmanya. Hashirama mencoba mengingat. Tapi,

"Ah, aku lupa namanya."

Madara mendesah pelan dan mengalihkan pandangan ke adik Naruto. "Loli-chan... Ayo kita keluar, tidak baik kalau kau ada disini."

Yuki memiringkan kepala, dia bingung. Memangnya kenapa jika dia ada disini? Belum sempat di melayangkan pertanyaan yang mungkin kelewat polos. Madara langsung mengeluarkan pernyataan.

"Anak kecil tidak boleh ikut permbicaraan orang dewasa!"

Pernyataan dari Madara pun membuat Yuki menggembungkan pipi tanda sebal. "Mouu~ Aku bukan anak kecil, Maddie-jiichan... Umurku sudah, hmm... Etto..." Yuki memasang mode berpikir imut sambil menghitung umurnya menggunakan jari. Tapi karena tidak kunjung tau berapa umurnya, dia langsung menoleh ke sang kakak.

"Nii-chan sekarang umurku berapa?"

"Hmmnn... 17, 16, atau 15... Aku juga tidak tau." Naruto hanya bisa nyengir kuda liar saat Yuki manatap semakin sebal ke arah dirinya. "Tapi yang dikatakan Ossan benar, sebaiknya Yuki-chan keluar saja."

"Hmmppt... Baiklah!" Yuki pun berdiri dari kursi yang diduduki dan segera menghampiri Madara.

Sedangkan dua gadis tadi malah bingung melihat Naruto begitu akrab dengan Yuki. Dan khusus untuk gadis bersurai merah aka Rias. Ini pertama kalinya ia mendengar kalau Naruto mempunyai seorang adik. Tapi masa bodoh kalau dia mau memikirkan hal itu. Toh, Naruto sudah tidak dia perdulikan lagi.

"Dan kau Dobe..." Madara menunjuk lurus ke Hashirama. Rias dan Queen-nya pun ikut menoleh ke orang yang ditunjuk Madara.

"... Jangan memutuskan hal tanpa sepengetahuanku... Paham!" Hashirama hanya bisa menganggukan kepala karena ucapan Madara tadi dapat diartikan sebagai kode keras agat tidak mengambil keputusan seenak jidatnya apalagi menyangkut soal iblis.

"Loli-chan!"

Madara segera berjalan keluar kedai diikuti Yuki.

.

Sepeninggal Madara dan Yuki. Suasana di tempat Naruto, Hashirama, Rias dan Akeno tiba-tiba hening. Tidak ada yang angkat bicara selama beberapa menit hingga Hashirama akhirnya membuka topik pembicaraan langsung ke intinya.

"Jadi... Untuk apa dua Ojou-chan datang menghampiri kami di kedai bulukan ini?"

"Ara~Ara... Tidak baik loh, kalau tidak memperkenalkan diri sebelum menanyakan sesuatu." Ujar Akeno sambil mengulas senyum palsunya seperti biasa.

Hashirama seketika dibuat salah tingkah dan segera memperkenalkan diri. "Gomen~Gomen... Kalau begitu, perkenalkan... Hashirama, paman dari Naruto dan Yuki."

Dan tepat setelah itu, mereka pun melanjutkan perbincangan. Dan seperti yang terjadi pada malam perburuan iblis liar. Rias selalu saja mengacuhkan Naruto, bahkan sesekali membentak Naruto yang tiba-tiba memotong ucapannya. Dan hal itu dapat didengar oleh Madara yang tengah bersandar di samping pintu masuk kedai sambil bersikedep dada.

"Sudah kubilang bukan kau yang kuajak bicara, Naruto!"

"B-Baik Ojou-sama!"

"Cih..." Decihan kecil keluar dari Madara ketika mendengar hal tadi. Dan sebuah rencana pun muncul di otak Uchiha miliknya, apalagi kalau bukan rencana untuk membongkar hubungan serta apa yang terjadi antara Rias dan Naruto.

"Kalau begitu... Kami pamit dulu, Hashirama-san." Karena tidak dapat berbicara langsung dengan orang yang ingin dijadikan anggota Peerage . Rias segera undur diri dari kedai tersebut. Ya, walaupun sedikit kecewa. Rias tetap pada pendiriannya untuk menjadikan Madara sebagai anggota Peerage-nya.

Dan sebuah rencana baru pun disusun oleh Rias selama perjalanan pulang. Sebuah rencana gila yang mungkin memancing amarah dari sang Uchiha Madara. Awalnya Akeno tidak menyetujui rencana ini. Tapi karena sifat keras kepala dari Rias selaku Kingmembuat Akeno mau tidak mau harus mengikuti rencana tersebut.

.

Kembali ke kedai. Karena kedatangan dari Rias dan Akeno. Madara langsun kehilangan semangat untuk melanjutkan latihannya sehingga keempatnya pun memilih untuk kembali ke kandang kuda mereka.

"Mouu~ Kenapa harus pulang Nii-chan, aku 'kan masih ingin jalan-jalan." Di tengah perjalanan, tiba-tiba Yuki merajuk kecewa karena masih belum puas keluar apartemen. Maklum saja, Yuki baru beberapa kali diajak Naruto keluar apartemen untuk jalan-jalan.

Naruto menghampiri dan membelai lembut surai putih panjang adiknya. "Bagaimana ya... Apa kalian berdua tidak ada yang mau menemani Yuki-chan jalan-jalan sebentar?"

Hashirama menggeleng pelan. "Aku masih punya cucian." Alasan kelewat bodoh pun dilontarkan Hashirama yang ternyata hanya sebuah alibi untuk menutupi apa yang sebenarnya mau dilakukan.

"Keh, bilang saja kau mau menggoda mami muda di samping rumah, Dobe."

'Sial, bagaimana Teme sialan ini bisa tau.' Batin Hashirama agak kesal alibinya ketahuan jelas oleh Madara. "Kenapa bukan kau saja, Teme... Kau yang paling jarang bersama Yuki, mungkin berjalan-jalan bersama bisa mempererat hubungan kalian."

"Malas!" Respon Madara dengan datar, padat dan jelas.

"Woy, Madara... Sekali-kali lakuin kek... Kasihan Yuki terus-terusan berada di apartemen tau."

Madara memutar bosan iris onix-nya lalu mengalihkan pandangan ke Naruto yang berjalan di samping kiri. "Kau Aniki-nya... Kenapa bukan kau saja, Bocah sableng!"

"Aku masih punya urusan kalau sudah ada di apartemen, Uchiha muka tebing!" Elak Naruto agar setidaknya Madara mau melakukan saran dari Hashirama. "Lagian, Yuki-chan akan aman jika bersamamu... Karena orang-orang pasti ketakutan ketika melihat wajah angkermu itu."

Madara berpikir sejenak hingga perilaku Naruto yang sangat berbeda jika ada si Rias muncul di kepalanya. "Baiklah~Baiklah..." Madara akhirnya mau juga menemani Yuki berjalan-jalan. Akan tetapi, dia tidak sepenuhnya melakukan hal ini dengan suka rela karena kepikiran masalah Naruto. "Tapi dengan satu syarat!"

"Syarat?" Naruto dan Hashirama secara bersamaan memandang Madara dengan alis terangkat.

"Beritahu aku, apa yang terjadi antara kau dan gadis berambut merah tadi!"

Naruto langsung dibuat terkejut mendengar syarat dari Madara. Apa dia harus memberitahu Madara atau tidak? Apalagi mengenai rasa cintanya pada Rias?

"A-Apa maksudmu Ossan? Aku sama sekali tidak ada hubungan dengannya."

Dapat!... Madara menyeringai dalam hati ketika melihat respon berlebihan dari Naruto. "Hee, kau mencoba menutupnya ya?... Kau kira aku ini buta, haa? Beberapa hari belakangan, kau sering melamun dan ketika bertemu gadis menyebalkan tadi, kau malah bertingkah semakin aneh!" Madara mengalihkan pandangan ke Hashirama dan memberikan sebuah anggukan sambil melirik Yuki sejenak.

"Aku mengerti!" Respon Hashirama yang mengerti maksud dari Madara. Dia segera berjalan menyusul dan mengajak bicara Yuki agar tidak mendengar percakapan Madara dan Naruto.

"B-Biar aku saja yang menemani Y-Yuki-chan, Ossan!"

Tatapan Madara seketika menajam ke Naruto. Dia sudah benar-benar yakin ada masalah yang terjadi antara Naruto dan Rias. "Ya, terima kasih... Tapi kau tetap harus menjelaskan tentang hubunganmu dengan gadis menyebalkan itu!" Ucap Madara agak datar dan tersirat sedikit kemarahan di dalamnya. Ya, jelas Madara sedikit marah. Bisa-bisanya Naruto menutup-nutupi hal ini darinya. Apalagi Rias adalah Iblis.

Naruto yang sepenuhnya mengetahui nada bicara Madara sedikit menyiratkan kemarahan semakin dibuat pusing.

'Katakan saja... mungkin si Teme itu bisa membantumu, Naruto!'

'Kau yakin Kurama... Bagaimana kalau, Madara-ossan-'

'Tidak!... Dia tidak akan marah, malahan dia mungkin saja akan membantumu!'

'Baiklah!' Setelah memutuskan keputusan bersama Kurama. Naruto memutus komunikasi mereka. "Baiklah... Tapi tidak sekarang, dan Ossan saja yang temani Yuki-chan... Aku perlu waktu memikirkan masalahku ini!"

"Hn, baiklah... Tapi, mengenai masalahamu, kau harus menjelaskannya dalam waktu dekat... Jujur, aku sangat tidak suka kau ketika berhadapan dengan gadis sialan itu, lemah dan tidak dapat berkutik." Kata Madara datar. Dan Naruto hanya bisa mengangguk lemah mendengar pernyataan itu karena memang itulah yang terjadi.

"Ingat ini Naruto..." Madara tiba-tiba memandang pemuda di samping kirinya. "... Lemah dan tidak bisa berkutik, tidak pernah aku ajarkan padamu!"

Naruto menundukan kepala lalu bergumam pelan. "Aku tau!"

"Dan sekali lagi kulihat kau seperti itu..."

Grab!

Madara tiba-tiba berhenti dan mencengkram leher Naruto kuat-kuat. Yuki dan Hashirama pun terkejut sekaligus keheranan melihat Madara bertingkah seperti itu. Takut terjadi sesuatu pada pemuda bersurai dark-silver itu, keduanya sesegera mungkin berniat menghentikan Madara.

"Madara, apa yang kau lakukan?!"

"Maddie-jiichan!"

Orang yang ditanya tidak menggubris, dia malah mendekatkan wajahnya pada Naruto dengan ekspresi dingin.

"... Akan kuhancurkan tubuhmu!"

Mata Naruto seketika membulat sempurna, terkejut dan syok. Iris biru sapphire mengecil dan bergetar hebat. Ia segera menundukan wajah untuk menyembunyikan ekspresi terkejutnya dari Madara.

Di pikiran Naruto...

Sebegitu bencikah Madara kepada Iblis? Sampai-sampai mengancam dia jika masih tunduk dan tidak berkutik ketika berada di dekat Rias. Lalu bagaimana dengan hubungan dia dan Sirzechs?... Bagi Madara itu hanya sebatas partner kerja untuk mendapatkan biaya hidup karena sudah dijelaskan beberapa hari yang lalu.

Lalu bagaimana dengan Naruto dan Rias?.

Walaupun sebatas pelindung bagi Rias... Namun, bagi Madara jika sudah saatnya mengehui kebenarannya... itu sudah seperti...

Majikan dan Budak!

.

Beberapa saat kemudian, Naruto balik menatap wajah dingin Madara.

"Aku mengerti!"

Sebuah respon amat sangat datar pun dikeluarkan Naruto untuk memperjelas bahwa dia benar-benar mengerti. Madara mengangguk lemah dan segera melepaskan cengkrama di leher Naruto.

Melihat keadaan kembali tenang, Yuki dan Hashirama pun menghela nafas lega. Setelah itu keempat mahluk absurd ini melanjutkan perjalanan pulang menuju kandang kuda mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya.

Sekitar pukul 08.00 pagi. Madara dan Yuki bersiap-siap untuk keluar apartemen untuk berjalan-jalan bersama. Awalnya Naruto heran kenapa Madara memilih pagi hari. Dengan wajah datar khas Uchiha... Madara menjelaskan semuanya. Dia memilih pagi hari agar tidak diganggu oleh Rias dan Peerage yang menurutnya masih ngotot untuk menarik dirinya untuk bergabung walaupun sudah ditolak mentah-mentah.

Madara menyimpulakn hal itu ketika melihat seragam yang dikenakan Rias dan Akeno, dia menyimpulkan bahwa kedua gadis itu adalah siswa sebuah sekolah di Kuoh sehingga jika berjalan-jalan di pagi hari. Mereka berdua pasti tengah melakukan kegiatan belajar di Kuoh Akademi.

.

Di depan pintu keluar, Yuki dan Madara terlihat bersiap-siap untuk berangkat.

Karena hari ini merupakan hari yang cukup menggembirakan bagi Yuki karena diajak berjalan-jalan, kali ini Yuki mengenakan dress merah muda disertai rok pendek. Untuk menutup kaki putih mulusnya, Yuki mengenakan stocking hitam panjang dan sepatu merah.

"Ittekimasu~~" Yuki berseru senang sambil menarik gagang pintu keluar.

"Hn..."

"Yoo~~ Hati-hati ya!..." Ucap Naruto sambil melambai-lambaikan tangan kanan. Ketika pandangan Naruto tertuju pada Madara, tatapan tajam mengintimidasi yang identik dengan mendiang Tobirama dikirim Naruto. "... Terutama kau Ossan!"

Tapi sayang, tatapan penuh akan intimidasi itu sama sekali tidak berefek pada Uchiha Madara. Mungkin karena dia sudah terbiasa melihat tatapan intimidasi itu ketika masih berada di Konoha.

Tepat setelah itu, Madara dan Yuki pun berangkat. Namun tanpa Madara sadari, mahluk yang kemarin membuntuti mereka ternyata masih saja mengawasi gerak-gerik Madara dari kejauhan dan terus mengikuti sang Future God Shinobi itu.

.

.

Jalan-jalan Madara dan Yuki berjalan lancar. Beberapa tempat menyenangkan bagi Yuki dan menyebalkan menurut Madara, mereka kunjungi satu per satu. Dan beberapa kali Madara harus dibuat kesal akibat tingkah Yuki yang polos sehingga gadis loli adik Naruto terus-terusan tertarik pada sesuatu, walaupun hanya sekedar hal-hal kecil.

Bahkan, ada satu kejadian dimana Madara harus dibuat malu bukan main ketika Yuki tanpa pikir panjang karena tertarik, secara tiba-tiba mengganggu acara ciuman dua muda-mudi yang tengah bermesraan di taman kecil di pusat kota Kuoh.

Tak terasa langit di atas Kuoh sudah berwarna jingga ditambah gumpalan-gumpalan awan yang sedikit bersinar terkena cahaya mentari sore. Sontak hal ini membuat Madara memutuskan untuk kembali ke apartemen mereka. Ketika dalam perjalanan, entah kenapa Madara tersenyum kecil ketika melihat raut wajah bahagia Yuki yang tengah menikmati es krim yang dibelikan beberapa saat yang lalu.

Di tengah-tengah perjalan, Madara tiba-tiba mendongak ke langit jingga dan menyelam jauh ke kenangan ketika sang adik tersayangnya masih hidup.

'Nee~ Izuna... Mungkin kau sedikit iri melihatku bersama Yuki-chan, itu karena entah kenapa setelah hidup bersama adik Naruto, mengingatkanku padamu ketika masih kecil dulu... Penuh rasa keingintahuan besar walaupun tidak sepolos Yuki-chan.' Batin Madara mulai keluar dari sifat Badass-nya hingga membuat menjadi OOC level tinggi. Bahkan dia tidak lagi memanggil Yuki dengan panggilan kesukaannya, –Loli-chan.

'Hahaha... Dan sekarang kau pasti menertawaiku karena ucapanku tadi 'kan?' Dan tepat setelah itu, Madara memikirkan sesuatu yang membuatnya sedikit bingung.

"Nee... Ada apa, Maddie-jiichan?"

Lamuan Madara pun buyar mendengar pertanyaan gadis loli yang berjalan di samping kiri. Dia lalu memandang mahluk terindah di muka bumi itu dengan senyum mengembang. "Tidak ada apa-apa 'kok." Jawab Madara santai. Senyum di wajah tampan Uchiha ini semakin mengembang lalu...

"Apa hari ini kau senang?" Sebuah pertanyaan sederhana namun sangat berarti bagi Yuki dilontarkan.

Yuki berhenti sejenak menikmati es krim miliknya dan kembali menatap wajah Madara penuh akan kebahagian yang sudah bisa menjadi jawaban atas pertanyaan Madara. Sebuah anggukan kecil masih dengan wajah bahagia Yuki lakukan untuk memberikan kepastian. "Hmmppt... Aku sangat senang, Maddie-jiichan... Ini pertama kalinya aku diluar selama hampir seharian!"

"Syukurlah kalau begitu."

W-What the hell?... Madara yang dikenal Badass dan tidak mempunyai hati nurani ketika bertarung berucap syukur?... Bagi Yuki, ini adalah hal biasa. Namun, lain ceritanya jika Hashirama dan Naruto yang mendengar hal tadi. Mungkin saja mereka langsung meminum Bayg*n cair dicampur obat Decolg*n Bengkok [?] untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi ataupun Genjutsu.

Hening kembali melanda kedua orang ini selama beberapa menit hingga Madara memutuskan hal mengejutkan yang sebenarnya sudah dipikirkan beberapa menit yang lalu.

"Satu lagi... Mulai sekarang jangan memanggilku 'Jii-chan' lagi, itu membuatku merasa tua... Karena mulai detik ini, aku adalah Aniki-mu!"

Seketika Yuki dibuat terkejut mendengar hal itu. Dia segera memandang Madara dengan tatapan memastikan yang terlihat sedikit polos. Ya, Yuki ingin memastikan apa tidak salah Madara menjadi kakaknya. Memang sih' dia malah senang memiliki dua kakak. Tapi, Naruto yang selalu memanggil Madara dengan embel-embel 'Ossan' membuat Yuki pun ikut-ikutan memanggilnya seperti itu. Jadi...

"Aku akan membicarakannya dengan Naruto!" Sepertinya Madara sudah mengetahui arti dari tatapan Yuki. "Jadi?"

"Tentu saja... Maddie-niichan!" Yuki berseru senang dan jika saja tidak ada es krim yang dipegang. Dia sudah pasti menerjang dan memeluk Kakak barunya.

'Kenapa masih ada –Maddie- sih? Ini semua gara-gara kau, dobe!' Batin Madara agak kesal panggilan sayang Yuki ternyata masih ikut walaupun tittle dibelakangnya sudah berubah.

Namun dibalik itu...

Ikatan baru kembali terjalin bagi kedunya...

'Akhirnya janjiku bisa pada kalian bisa kulakukan juga dengan bantuan Yuki-chan!' Batin Madara entah pada siapa dan apa maksud dari janji itu.

Madara sebenarnya melakukan hal ini tanpa memikirkannya dulu. Sebagai [Tangan Kanan Hokage] sekaligus seorang shinobi dari klan Uchiha, dia dituntut selalu berpikir sebelum memutuskan sesuatu terlebih dahulu dan tidak lupa janji yang tadi dia sebut sudah dilakukan semakin memperkuat keputusannya untuk menjadikan Yuki dan Naruto sebagai adik.

Apalagi... Bagi Madara, lebih mudah melindungi adik walaupun cuma adik angkat dibanding keponakan. Itu karena dengan adanya Yuki sebagai adik yang bisa dibilang tidak dapat bertarung saat ini... Salah satu kata-kata yang selalu dipegang sampai sekarang semakin meresap ke dalam dirinya sehingga memaksanya menjadi semakin kuat!. Walaupun hal itu nantinya bisa saja membuat Madara maupun Naruto dan Hashirama yang juga memegang kata-kata itu. Akan dituntun menuju ke sebuah peperangan.

.

.

.

Setelah hampir berjalan selama 10 menit, insting shinobi Madara yang berada di level cukup tinggi, tiba-tiba merasakan aura misterius dari arah belakang. Tanpa pikir panjang, Madara langsung merapal segel tangan sederhana dan langsung melempar kunai yang dikeluarkan dari segel tangan tangan tadi.

Jleb!

Pemilik tekanan misterius tadi ternyata sesosok mahluk kecil bersayap. Mahluk itu berhasil menghindari kunai yang dilempar Madara.

"Maddie-niichan ada ap-"

"[Kage Bunshin no Jutsu]"

Poft!

Satu klon sempurna Madara keluarkan dan memberi perintah untuk mengejar mahluk tadi. Klon Madara mengangguk paham dan langsung melompat ke satu bangunan ke bangunan lain untuk mengejar mahluk itu.

Sepeninggal klon Madara, sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory secara tiba-tiba muncul di dekat Yuki dan klon Madara. Dari lingkaran sihir itu, muncul tiga gadis dan dua pemuda. Tatapan garang penuh kemarahan pun dikeluarkan Madara yang ditujukan untuk kelima iblis itu.

"Kau...!" Madara mengeluarkan desisan penuh kebencian. "Apa perlu kukirim kau ke alam kehampaan agar menyerah mengejarku, IBLIS!"

"Kita bertemu lagi, Madara-san!" Salah satu dari ketiga gadis tadi malah menyapa Madara dengan senyum manis yang mengandung niat tidak baik yang dapat ditangkap dengan jelas oleh klon Madara.

"Berlindung di belakangku!" Perintah Madara datar yang sudah pasti untuk Yuki.

"B-Baik!" Yuki hanya bisa melakukan perintah klon Madara karena belum tau situasi.

"Yuuto, Koneko, Issei... Sekarang!"

Ketiga iblis yang namanya disebut mengangguk paham. Pemuda bernama Yuuto langsung menciptakan sebuah pedang. Sedangkan pemuda bernama Issei memunculkan gautlet merah di tangan kiri dan suara mekanik terdengar mengucapkan kata [Boost] sebanyak 2 kali. Dan terakhir Koneko... Tidak mengeluarkan ataupun memunculkan apa-apa.

Secara bersamaan, ketiga iblis tadi menerjang Madara secara bersamaan. Pertarungan tidak seimbang dalam jumlah pun terjadi. Namun dengan mudahnya Madara mampu mengimbangi, bahkan menyudutkan Issei, Kiba dan Koneko. Karena tidak selamanya, kuantitas menang melawan kualitas.

Tetapi diluar dugaan Madara. Ternyata ketiga lawannya hanya berperan sebagai pengalih perhatian agar dua gadis yang tersisa bisa memanfaatkan pertarungan Madara untuk mengambil apa yang sebenarnya mereka incar. Yaitu... Yuki.

"Kau pikir, aku tidak tau maksudmu... Iblis!" Iris onix Madara tiba-tiba berubah menjadi iris merah darah yang dihiasi tiga simbol mirip tanda koma.

Dengan kecepatan hampir menyamai Kiba, Madara tiba-tiba melesat menuju Yuki sebelum Rias dan Akeno sampai terlebih dahulu.

Tap! Sreet!

Madara tiba-tiba muncul di depan Yuki dengan rangkaian segel tangan yang entah kapan dibuat. Pipi Madara sedikit menggembung. Melihat hal itu, Rias segera memerintahkan Akeno mempersiapkan sihir elemen alam.

"[Katon : Gōkakyo no Jutsu]"

Sebuah bola api berukuran 5x5 meter disemburkan oleh Madara. Rias dan Peerage-nya pun tercengang melihat Madara bisa menyeluarkan api dari dalam mulut. Akeno tidak tinggal diam. Sebuah lingkaran sihir muncul di depan tubuh indah gadis itu. Dan dari lingkaran sihir itu, volume air dalam jumlah banyak menyembur keluar dan menghadang bola api Madara.

Blaaarr!

Kepulan kabut pun menutupi area tersebut hasil dari benturan elemen alam yang tidak pernah bisa menyatu itu. Untung saja, pertarungan ini terjadi di kawasan sepi penduduk, apalagi sekarang sudah hampir gelap sehingga sangat jarang penduduk yang keluar rumah. Dan tak berselang lama sebuah strategi pun muncul di otak Rias.

"Yuuto... Koneko!" Teriaknya memanggil bidak Knight dan Rook.

Yuuto dan Koneko mengangguk paham dan langsung menerjang kabut asap itu secara bersamaan.

Syut!

Takk!

Sreet!

Tiga suara berbeda terdengar secara berurutan terjadi di dalam kabut asap. Suara pertama terdengar seperti ayunan pedang yang dihindari disusul suara tendangan yang ditahan dan tak selang 1 detik suara kaki yang terseret yang tedengar. Tapi yang terpenting adalah...

"Loli-ch- ... -Sialan!" Suara kesal Madara tiba-tiba dari dalam kabut asap yang mulai menghilang. Entah apa yang terjadi pada Yuki sehingga Madara sampai berteriak kesal.

Lain Madara, lain pula Rias dan kelompoknya. Seringai penuh kemenangan disungging pewaris klan Gremory. Dalam sepersekian detik selanjutnya, sesosok tangan mahluk astral tiba-tiba menyapu bersih kabut asap dan menampakkan Madara yang kini mengaktifkan [Mangekyō Sharingan]dan [Susano'o] miliknya secara bersamaan.

Sedangkan kelompok Rias sudah berkumpul di satu titik bersama Yuki yang kedua lengannya dipegang oleh Yuuto. Rias menyungging seringai kemenangan yang diarahkan ke Madara.

"Jika ingin gadis ini kembali... Jadilah bagian dari Peerage-ku, Madara-san!"

Madara tidak merespon apapun. Tatapannya semakin beringas yang disertai [Mangekyō Sharingan]yang menjanjikan sebuah penyiksaan fisik dan batin. Dengan mata andalan disertai tehnik pertahanan absulot miliknya, Madara bersiap menerjang kelompok Rias yang dibawah kaki mereka sudah tercipta lingkaran sihir.

Tapi beberapa meter sebelum Madara mampu menjangkau mereka, Rias dan kelompoknya sudah terlebih dahulu tertelan lingkaran sihir tadi.

Kraak! Krakk!

Bummn!

Kini kemarahan Madara terhadap pewaris klan Gremory sudah berada di tingkat tertinggi. Permukaan aspal kasar tempat Madara berpijak pun retak akibat ledakan tekanan chakra yang sangat kuat dari Madara.

"Akan kuhancurkan mereka semua!" Desisan dingin dan penuh akan amarah dikeluarkan Madara.

Sunggung diluar dugaan, Rias nekat melakukan hal ini demi menarik sang Uchiha agar menjadi anggota Peerage-nya. Tapi apa mau dikata. Sudah sifat dasar Iblis yang serakah dan rela melakukan apapun demi mencapai apa yang mereka inginkan. Terutama Rias yang sudah iblis, keras kepala, tidak mau menyerah dan nekat.

.

.

.

.

.

.

Deg!

Hentakan jantung Naruto tiba-tiba membuat dirinya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Pikirannya langsung kacau balau seketika.

'Yuki-chan... Madara-ossan?!'

Mungkin karena ikatan mereka yang sudah sangat kuat membuat Naruto bisa merasakan bahwa kedua orang yang belum kembali sedang dilanda masalah. Tanpa ba-bi-bu Naruto langsung berlari keluar apartemen dan menghiraukan teriakan Hashirama yang memanggilnya.

Sesampainya di luar jalan aspal. Naruto langsung mengaktifkan [Senjutsu] miliknya dan mencari keberadaan dua anggota keluarganya.

'Ketemu!'

Setelah menemukan apa yang dicari, dia langsung berlari ke sumber yang merupakan anggota keluarga yang dicarinya.

.

.

.

.

.

.

.

"Nee... Yuki-chan 'kan?" Rias melayangkan pertanyaan ke adik Naruto dan Madara yang tengah duduk dengan ekspresi ketakutan di salah satu sofa di ruang klub penelitian ilmu gaib.

Tidak ada respon dari sang gadis loli bersurai putih tebal. Hanya ada ekspresi ketakutan. Hal itu pun membuat Rias sedikit merasa bersalah karena telah menculik Yuki. Tapi demi tujuannya. Dia rela melakukan hal ini pada gadis kecil di depannya.

"Anoo, Bochou... Apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini?" Tanya pemuda bernama Issei agak takut-takut.

"Tenang saja, Ise... Aku sudah merencakan semuanya dari kemarin!"

"Sokka!" Issei hanya bisa pasrah jika Rias sudah mengatakan hal tadi. Dan sebenarnya Issei merasa kasian kepada Yuki yang terlihat ketakutan.

Tapi!

Perasaan takut masih dapat dirasakan oleh Issei, itu karena ketika dia melihat Madara dalam mode beringas. Otak berisi hal-hal Ecchi dapat menyimpulkan kalau sang Uchiha dalam keadaan marah besar dan siap menyiksa mereka.

Dan sebentar lagi itu akan segera terjadi. Karena menurut Hashirama... Walaupun tidak mempunyai hati nurani ketika bertarung dengan lawannya. Sebenarnya Madara mempunyai sisi lain yang merupakan rahasia dari klan Uchiha. Yaitu...

Tidak ada yang lebih menghargai kasih sayang di dunia ini daripada Klan Uchiha!. [?]

Dan hanya Tuhan dan Malaikat di surge yang mampu mengalahkan kasih sayang itu!.

.

.

Deg!

Koneko tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. "Dia datang Bochou... Dan k-kekuatannya benar-benar bes-"

Brakk!

Dinding di belakang sofa yang Yuki duduki tiba-tiba hancur dihantam sesuatu yang besar. Siulet pria bersurai panjang terlihat pada lubang di dinding yang hancur itu. Semua anggota klub penelitian ilmu gaib pun dibuat terkejut atas hancurnya dinding tadi.

"Kalian sendiri yang meminta... Maka dengan senang hati akan kukabulkan keinginan kalian... IBLIS RENDAHAN!" Suara dingin menusuk dan diakhiri umpatan penuh kebencian terdengar dari siulet pria itu.

Drap! Drap! Drap! Drap!

"Maka dari itu... Persiapkan diri kalian, MAHLUK-MAHLUK HINA!"

Perlahan siulet pria diterangi lampu penerangan klub penelitian ilmu gaib. Terlihatlah Madara dengan mata yang bangkit karena kematina sang adik. Mata beriris merah berpola aneh yang menjanjikan ketakutan luar biasa ketika melihatnya. Bahkan Maou-Lucifer yang merupakan iblis terkuat di Underworld merinding merasakan kekuatan dari mata itu!.

Grab!

"SIAL!"

Rias mengumpat kesal ketika lengan mahluk astral tiba-tiba meraih Yuki dengan gerakan lembut agar tidak menyakiti sang Loli. Dengan gerakan pelan, Madara menurunkan Yuki yang masih syok dengan kejadian ini. Lalu sebuah Genjutsu diberikan Madara kepada Yuki agar segera tertidur.

"Ba-Bagaimana ini Buchou?" Issei mulai panik ketika melihat Yuki sudah jatuh di tangan Madara.

Berbeda dengan Rias, dia malah terlihat tenang. Entah apa rencana sebenarnya dari gadis bersurai merah ini sehingga bisa membuatnya bisa setenang ini.

Tapi,

"Selam-..."

Duag!

"... Uhukk!"

Rias tiba-tiba memuntahkan cairan kental berwarna merah dari mulut. Kelompok gadis itu pun membulatkan mata melihat Madara tiba-tiba muncul di depan Rias dan langsung melayangkan pukulan kuat yang dilapisi chakra.

Dan pukulan itupun menandakan bahwa rencana Rias yang awalnya hanya ingin membicarakan hal ini baik-baik pupus.

Madara sudah tidak peduli. Mau adik pemimpin Underwold, anak Dewa terkuat atau pewaris klan salah satu dari 72 pilar di Underwold... Selama sudah menyakiti dan membuat sang adik angkat perempuannya ketakutan sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

Tidak ada lagi belas kasihan!.

Apalagi ada janji Sirzehcs yang jika ada bawahan sang Maou-Lucifer mengusik kehidupan sang Uchiha...

Kepala sang Maou-Lucifer yang jadi imbalannya... Sungguh nekad bung!

Maka dari itu, dengan senang hati Madara melakukan penyerangan brutal tanpa pandang status ini. Toh, Rias yang memulai dengan mengusik kehidupan Madara. Awalnya Madara hanya cuek bebek tidak terlalu peduli. Tapi karena sudah melibatkan Yuki... Apa boleh buat!

Waktunya melakukan tindakan ala jaman penderitaan!.

Dan sepertinya...

Sirzechs sebentar lagi dibuat dibuat pusing tujuh keliling atas ulah adik cantiknya. Dan mungkin acara pemakaman sesegera mungkin harus dipersiapkan pihak fraksi iblis setelah kejadian ini.

Hanya karena keinginan pewaris salah satu dari 72 pilar Underworld yang bersikeras menjadikan satu dari tiga shinobi yang tersisa dari pembantaian Konoha saat ini sebagai bagian dari Peerage-nya dengan tujuan agar kelompok mereka semakin kuat.

.

"""BUCHOU!"""

"BRENGSEK!"

Issei meraung penuh kemarahan. Tangan kirinya langsung memunculkan [Sacred Gera] miliknya. Tanpa tunggu lama, pemuda ini langsung menerjang sisi kiri Madara yang sudah menyakiti Rias sampai memuntahkan darah segar.

"[Boost]" Suara mekanik terdengar dari gautlet Issei ketika hendak menerjang Madara.

Madara memutar tumit kiri beberapa derajat lalu melayangkan sebuah tendangan lurus kaki kanan tepat di wajah sang Sekiryuuteri dan mengirim pemuda itu ke dinding.

Duarr!

Suara tubuh yang menghantam keras dinding semakin mempertagas bahwa Madara tidak main-main kali ini.

"Ise!"

Rias yang sudah sedikit pulih dari rasa sakit pukulan Madara, segera melompat menjauh dan mendarat di samping meja kerjanya lalu menghampiri satu-satunya bidak Pawn di Peerage-nya.

"Ternyata memang benar... Sekali iblis tetap iblis... Mahluk paling hina dan rendahan... Bahkan lebih rendah dari kotoran yang sudah membusuk!" Madara bergerak memutar di tempat sambil memandangi satu per satu iblis di dalam ruangan.

"Seberapa hina 'kah kalian sampai-sampai menggunakan Loli-chan yang tidak tau apa-apa untuk menarikku?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan Madara. Para iblis di ruangan ini seperti tidak tau mau menjawab apa.

"Ayo... Kenapa berhenti, mahluk hina?!" Madara menggerakkan tangan seolah menantang ke-6 iblis yang mengelilinginya. "Apa kalian takut?"

Rias diam memikirkan rencana baru. Jujur ini di luar dugaannya. Ternyata Madara bukan tipe orang yang suka bernegosiasi. Ya, siapa juga yang mau bernegosiasi kalau sudah mengancam orang yang disayangi. Apalagi yang dihadapi adalah iblis. Mahluk yang paling dibenci!.

Dan satu-satunya cara yang dipikirkan Rias adalah... Cara yang sama ketika me-reinkarnasi Issei. Dengan kata lain...

Mareka harus membunuh Madara disini!.

Tapi apa mereka bisa?.

'Tidak ada waktu!' Rias menggeleng dalam hati dan segera mengalihkan pandangan ke Queen-nya. "Akeno!" Teriak Rias yang sudah memutuskan untuk melakukan hal itu!

"Ha'i, Bochou!"

Madara mengerjit heran ketika Akeno mengarahkan tangan kanan ke dirinya. Lingkaran sihir ke-kuningan muncul di depan Akeno dan aliran petir yang menggila melesat menuju Madara yang sama sekali tidak bergerak. Tapi iris merah darah berpola aneh milik dia malah berputar cepat.

Jdeer!

Duaarr!

Ledakan besar dan kepulan debu pekat tercipta ketika petir Akeno menghantam Madara. Ledakan itu cukup besar sampai-sampai atap bangunan klub Rias hancur berkeping-keping. Rias dan Peerage-nya pun berharap serangan Akeno mampu menumbangkan Madara.

Namun,

"Kau sebut itu petir?... Geli saja enggak!"

"Tidak mungkin!"

"Ini bercanda kan?!"

"Mustahil!"

Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan dilontarkan Rias, Issei, Akeno, Kiba dan Koneko disertai mata membulat syok mendengar pernyataan datar Madara yang terdengar sama sekali tidak terpengaruh serangan petir Akeno yang jika dilihat dari ukurannya, mampu membuat iblis liar B-class sekarat.

Setelah kepulan debu menghilang, terlihatlah Madara tengah dilindungi tulang rusuk mahluk astral berwarna biru. Bahkan tidak ada retakan sedikit pun di tulang rusuk yang merupakan pertahanan absolut Madara.

"Yuuto... Koneko... Issei!... Serang dia dari segala sisi!" Rias segera memerintahkan tiga bidak bertipe serangan jarak dekat miliknya.

Ketiga iblis yang namanya disebut, langsung menerjang Madara yang masih dilindungi tulang rusuk [Susano'o].

"Akeno, persiapkan serangan berikut-"

Duag! Duag! Duag!

Braakk! Brakk! Braakk!

"- Ise, Yuuto, Koneko!" Teriakan Rias yang awalnya ingin memerintahkan Akeno menyerang malah menjadi teriakan kekhawatiran melihat ketiga bidaknya disapu bersih satu kali ayunan lengan kanan [Susano'o] yang Madara munculkan secara tiba-tiba hingga membuat ketiganya menghantam beberapa perabotan di ruangan itu.

'K-Kuat sekali dia!... Dan sebenarnya benda apa itu?' Issei yang tengah bersandar lemas di atas meja yang hancur meringis kesakitan sambil bertanya-tanya mengenai [Susano'o] Madara.

'Benda itu seperti hidup sendiri dan sangat sensitiv terhadap pergerakan sekecil apapun, bahkan dalam kecepatan Knight-ku... Masih mampu di baca!' Walaupun sedikit melenceng. Tapi Kiba merasa pertahanan absulot Madara benar-benar sulit ditembus.

Dan rasa takut akan kekuatan Madara mulai merembes di sekitar tubuh Rias dan Peerage-nya. Ini pertama kalinya bagi mereka dibuat babak belur seperti ini. Dan parahnya lagi... Hanya satu orang yang membuat mereka babak belur, dialah Uchiha Madara.

"C-Cepat!" Issei, Kiba dan Rias kembali tercengang melihat Madara kini berada di depan Akeno dengan [Susano'o] menyisahkan tulang rusuk saja.

Madara menghilangkan mahluk astral itu dan langsung mengcekik leher Akeno tanpa ampun hingga membuat Miko-Hime meringis kesakitan.

"Akkkhhhhh!" Erang Akeno merasakan cekikan lengan kekar Madara.

"Akeno-san!" Satu-satunya bidak Rias yang tidak bertipe serangan meneriaki nama sang Queen dengan nada ketakutan.

Sambil meringis merasakan kekuatan cekikan Madara, gadis bernama Akeno ini, mengarahkan pandangan tepat ke wajah Madara. Dan sebuah pemandangan yang tidak pernah Akeno lihat terjadi tepat di depan matanya. Sebuah iris merah darah yang menjanjikan kesakitan menatap penuh dendam ke dirinya, hal itu pun membuat mata Akeno melebar.

"L-Lep-askan!"

"MADARA-OSSAN ... HENTIKAN!" Entah darimana datangnya. Sebuah teriakan yang suaranya sangat familiar bagi Madara dan Rias menggema di ruangan itu.

Secara serentak, semuanya mendongak ke atas dan mendapati Naruto tengah melesat turun dari lubang bekas petir Akeno tadi. Tak berselang lama, Naruto mendarat di tengah-tengah ruangan yang sebagian besar sudah seperti kapal karam.

"Bocah Sableng?!"

"N-Naruto?!" Rias sedikit tergagap memanggil nama pemuda yang secara tidak langsung membuat Madara diam dan tidak melakukan apa-apa terhadap Queen-nya. Tapi sedetik kemudian, dia langsung membuang jauh-jauh pemikiran itu.

Naruto mengabaikan panggilan Rias untuk pertama kalinya. Dan lebih memilih menatap Madara yang masih setia mengcekik Akeno tapi kepala menoleh ke Naruto.

"Apa maksudmu 'hentikan'?!" Tanya Madara datar yang tidak habis pikir dengan Naruto yang malah menyuruhnya menghentikan kegilaannya di gedung klub penelitian ilmu gaib.

"Hentikan saja Ossan! Lagian masalah apa sih, sampai-sampai melakukan hal senekat ini?"

"Mereka menculik Loli-chan!"

Mata Naruto melebar syok, iris sapphire-nya pun bergetar hebat. Dengan gerakan pelan disertai syok. Jadi perasaan yang tadi dia rasakan adalah perasaan buruk ketika Yuki diculik dan Madara seketika mengamuk di sini. Dan untuk pertama kalinya, masih dengan ekspresi syok, Naruto langsung memandang Rias dan menanyakan sesuatu tanpa memanggil gadis itu dengan embel-embel.

"A-Apa benar, kau menculik Y-Yuki-chan?"

"Iya, memangnya kenapa?" Bisa ditebak dari nada bicara Rias, gadis ini kembali memasang ekspresi datar ke Naruto. Walaupun rasa takut akan kekuatan orang yang dia ingin jadikan Peerage masih berbekas.

'Cih! Mulai lagi.' Madara yang melihat tingkah Naruto kembali kesal pada pemuda itu. Dan mungkin ini waktunya Madara meminta Naruto menjelaskan semuanya. Dan Bagaikan membuang sampah di sembarang tempat, Madara melempar tubuh Akeno ke dinding terdekat hingga membuat gadis Miko itu meringis kesakitan.

"Naruto... Sekarang, bisa kau jelaskan semuanya?" Sebuah pertanyaan ata lebih tepatnya perintah Madara lontarkan ke pemuda bersurai dark-silver yang hendak menghentikan dirinya melakukan kegilaan ini.

Naruto menggeleng pelan lalu menjawab. "Tidak... Akan kejelaskan malam ini di apartemen. Dan segera hentikan kegilaan ini!" Jelas Naruto. Iris biru sapphire-nya memandang lurus Madara.

"Kenapa tidak disini saja, Haa?"

Naruto menggeleng pelan dan melirik sejenak sang Ojou-sama yang masih diam di tempat. "Hal yang akan kujelaskan bersifat rahasia!" Jelas Naruto kenapa tidak mau menjelaskan hubungan dia dan Rias di tempat ini.

Rahasia atau Pribadi Naruto?.

Madara segera menghampiri sang pemuda bersurai dark-silver itu dan membisikkan sesuatu yang membuat Naruto membulatkan mata mendengarnya. "Oy~Oy... Jangan bercanda! Apa kau mau menghasut perang, haa?"

"Ya, aku tidak bercanda!... Dan satu hal yang perlu kau tau,..." Madara mengalihkan pandangan ke Rias masih dengan [Mangekyō Sharingan]yang aktif. "... Merekalah yang ingin menghasut peperangan, Naruto!"

Rias yang tidak terima atas pernyataan Madara tadi langsung angkat bicara. "Siapa yang kau maksud menghasut pera-"

"Diamlah mahluk hina... Apa kalian tidak sadar tindakan memanfaatkan Loli-chan termasuk menghasut peperangan terhadapku, haa?"

Rias dan Peerage-nya pun dibuat diam seribu bahasa tidak mampu menjawab pertanyaan Madara. Memang benar, merekalah yang telah menghasut peperangan terhadap Madara. Dan Rias adalah yang paling merasakan hal itu.

Madara menyingai melihat ekspresi Rias dan Peerage yang sudah diprediksi. Andaikan saja Madara adalah Hashirama, mungkin sekarang dia sudah tertawa laknat menyaksikan hal ini. Setelah itu, Madara kembali memikirkan masalah Naruto dan Rias. Mungkin ada baiknya jika sekarang waktunya untuk kembali untuk mendengar kebenaran tentang hubungan Naruto dan Rias. Dan mengurungkan niatnya menyiksa lebih lanjut kelompok Rias.

Karena masalah Naruto dan Rias lebih penting menurut Madara.

"Baiklah... Kali ini kuampuni kalian, iblis... Dan jika kalian ingin melaporkan penyeranganku ini pada pemimpin kalian... Silahkan saja, karena dengan itu..."

.

.

"... kepala merah yang sangat mirip denganmu, akan menjadi pajangan manis di dinding kamarku!"

Dan tepat setelah mengatakan hal itu, Madara dan Naruto menjemput Yuki yang sudah tertidur pulas terkena Genjutsu Madara lalu kembali ke apartemen mereka karena ada urusan penting yang akan segera dibahas Naruto dan Madara.

Setelah tiga orang tadi meninggalkan ORC. Pikiran Rias mulai kacau. Pertama rencananya hancur berantakan sampai-sampai kelompok dia babak belur di tangan Madara. Dan kedua, dia baru menyadari... Jika Madara sekuat itu, apa ada bidak yang cocok di set [Evil Piece] miliknya yang tersisah?... Akhirnya sadarlah sang pewaris klan Gremory bahwa tidak selamanya apa yang diinginkan berjalan sesuai keinginan. #PoorRias

Dan yang paling membuat pikiran Rias semakin kacau balau adalah... Perkataan Madara yang terakhir terus terdengar di kepala Rias. Apa maksud dari kepala yang mirip dengan dia dijadikan pajangan di dinding?

Tunggu dulu!...

Kepala yang mirip dengan dia!...

Pemimpin kalian!...

Jadi orang yang dimaksud Madara adalah...

"Onii-sama?!" Pekik Rias ketika sudah menyadari siapa yang dimaksud oleh sang Uchiha sebelum pergi.

.

.

.

.

.

.

.

Kita tinggalkan masalah Naruto, Rias dan Madara sejenak dan beralih ke tempat yang letaknya di entah berantah. Tempat itu mirip sebuah pabrik tua berskala besar yang terabaikan, beberapa tangki-tangki besar terlihat berlubang seperti baru saja terhantam sesuatu.

"Jadi ini yang kau maksud?"

"Benar Jiraiya-sama... Aku sering mendengar suara-suara aneh dan suara dentuman keras di area ini."

Pria bersurai perak panjang yang dipanggil Jiraiya, mengangguk paham dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru area pabrik. Mata Jiraiya langsung menyipit heran sekaligus terkejut melihat sebuah benda logam berkilauan terkena sinar bulan.

"K-Kunai?"

"Khukukukukukuku... Lama tidak bertemu Jiraiya, aku tidak menyangka kau bisa selamat dan bahkan menemukan tempat ini!"

Suara serak itu... Tawa itu... Jiraiya sangat mengenalnya. Tapi setahunya, pemilik dari suara serak itu sudah dinyatakan tewas bersama Tim yang dipimpin dalam sebuah misi tingkat S yang menugaskan mereka pengambilan sesuatu di luar Konoha.

Jiraiya mendongak ke atas sebuah menara yang tingginya sekitar 30 meter. Disana berdiri sesosok pria yang tubuhnya menghalangi sinar bulan sehingga wajah pria itu tidak terlihat. Tapi bagi Jiraiya, cara berdiri dan suara serak tadi... Sudah membuktikan bahwa orang yang berada di atas menara itu adalah...

"Orochimaru!"

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yoo~~ ... '-')/

Ada beberapa hal yang ingin sampaikan disini.

Pertama, mengenai Madara-teme... Mungkin beberapa dari kalian mengira dia sudah Godlike[?]... Gak, disini Madara masih di tingkat Strong walaupun [Mangekyo Sharingan] miliknya belum sepenuhnya dikuasai. Bisa dibilang sedikit dibawah Kokabiel atau mungkin setara 'lah. Itu menurut kami, mungkin kalian tidak.

Di Fic ini, kami tidak membesar-besarkan kekuatan Madara-teme. Ingat, Fic ini AU. Jadi jangan heran kalau pukulan Madara yang dilapisi chakra mampu membuat Rias memuntahkan darah. Shinobi itu mempunyai kemampuan fisik tinggi loh apalagi Madara-teme dan Hashirama-dobe yang mempunyai julukan Dewa Shinobi di Canon. Dan juga, [Susano'o] Madara yang mampu menahan petir Akeno tanpa lecet walaupun hanya tulang rusuk-nya saja.

Hmnn... Apalagi ya... Sekarang masalah generasi di Konoha. Disini 100% tidak sama dengan yang di Canon. Generasi Mada-Hashi-Tobi-Izuna lebih muda beberapa tahun dibanding Jiraiya dan Orochimaru. Tapi masalah kekuatan. Lihat saja nanti di penutupan Arc II ini.

Trus masalah NaruRias... Sebentar lagi masalah ini akan segera selesai. Jadi tunggu saja.

.

.

AN : Cukup Penting dan luangkanlah waktu untuk membacanya.

Beberapa hari yang lalu Author Hyosuke Ryukishi/Nero BlackVeil meminta tolong ke saya untuk mencari seseorang yang bisa menggantikan dia nulis di Akun Nero BlackVeil karena gak sanggup harus ganti-ganti Akun. Jika ada yang berminat, silahkan PM dia atau hubungi langsung lewat Pesbuk.

.

.

Oke... Mungkin itu saja yang perlu saya sampaikan... Saya mengucapkan Terima Kasih telah Menunggu... Fav... Follow... Me-Review... Ataupun sekedar membaca Fic ini.

Terakhir... Jangan lupa meninggalkan komentar mengenai Chapter ini... Baik itu Pertanyaan, Saran, Kritikan, Tanggapan, Apresiasi atau... Flame?

Tulis semuanya pada Kotak Review.

.

.

.


"Setelah membaca Fic ini, puas atau tidak… Kami tetap pusing tujuh keliling!"

- Root Wood and Stark Fullbaster 012.


.

.

Root Wood Out! ... Mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu~~! '-')/