Root Wood in!

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.

Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Humor [Garing], Etc.

Rate : M untuk Bahasa, Storyline dan beberapa adegan [M].

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya.

Warning : AU, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream [Mungkin], OOC, Adult-Scene, Violence, DLL.

.

.

.

.

.


The Half-Devil Lucifer

Arc II : Awal dari semua masalah!

Chapter 11 : Naruto vs Kelompok Gremory!

AN : Tehnik buatan sendiri dan ada juga saya ambil dari beberapa Anime yang mempunyai kemampuan memanipulasi api yang sedikit saya ubah untuk Naruto.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di tempat yang lokasinya tidak diketahui. Seorang gadis bertubuh langsing, tinggi sekitar 177 cm. Bersurai abu-abu diikat ekor kuda dan iris ungu khas, mengenakan jubah hitam polos terbuka sehingga menampakkan dua gumpalan daging yang hanya ditutupi lilitan perban, celana panjang biru tua dan sepatu berhak tinggi. Di lehernya terdapat sebuah kalung berbandul simbol aneh berbahan silver. Kuku jari-jari lentiknya dicat berwarna hijau.

"Gaah, sampai kapan aku harus berjalan dengan pakaian sialan ini?" Gerutuan kesal keluar darinya. Iris ungu tidak henti-hentinya menatap malas pepohonan yang sudah dia lihat selama beberapa hari belakangan. Atau bisa dikatakan wanita ini tengah tersesat.

"Cahaya apa itu?" Iris ungu gadis itu tiba-tiba tertuju pada kerlap-kerlip cahaya di malam hari lokasinya saat ini. "Jangan-jangan . . . ."

Dia langsung berlari dengan cepat menuju ke sumber cahaya tersebut, tidak sabar untuk segera keluar dari hutan yang sudah membuatnya tersesat sehingga pusing tujuh keliling. Saking cepatnya dia berlari sampai-sampai tidak peduli dua gumpalan daging berukuran lumayan besar miliknya terguncang naik-turun.

"Peradab- . . . ." Semangat yang tadi sempat memuncak ketika melihat cahaya itu dari kejauhan tiba-tiba menghilang ditiup angin. Ternyata sumber cahaya tadi yang tadi dia lihat adalah sebuah. "Ahh, benda brengsek itu lagi . . . . Cih, seberapa banyak sih jumlah benda aneh yang beberapa kali hampir membunuhku itu?"

Di depan wanita itu sebuah mobil polisi yang menyalakan lampu sirine terlihat jelas. Sepertinya tengah ada kasus pembunuhan di tengah hutan dan mungkin itulah penyebab mobil polisi itu bisa ada di hutan yang lokasinya sudah dekat dengan kawasan Kyoto. Seketika gadis itu langsung memikirkan jika ada mobil berarti kota atau desa pasti ada di sekitar sini.

"Yosh, peradaban . . . . Aku datang!"

Semangat 45 sang gadis kembali muncul. Setelahnya dia langsung melangkahkan kaki mengikuti jejak ban dari mobil polisi itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kembali ke apartemen Quartet mahluk absurd. Malam semakin larut, jutaan bahkan milyaran kerlap-kerlip cahaya bintang menghiasi langit hitam di atas kota Kuoh. Bagi sebagian besar penduduk, malam ini serasa sangat damai dan tenang, waktu yang tepat untuk bergelut di atas ranjang dan masuk ke alam mimpi. Tapi tidak untuk tiga penghuni ditambah satu pendatang di salah satu apartemen di kota kecil ini.

Sudah hampir 3 jam mereka membicarakan sesuatu disertai tekanan pembunuh pekat dua dari empat orang ini.

"Jadi kapan kita mencari ular brengsek itu?!" Pria berambut hitam bercampur biru panjang tiba-tiba angkat bicara, tidak sabar untuk mencari dan menghancurkan orang yang membuat adik serta desa yang dicintai-nya direnggut dalam waktu beberapa jam saja.

"Sabar Madara! Dan bisakah kau menurunkan tekananmu itu?! Kami kesulitan bernafas tau, itu juga berlaku untukmu Naruto!"

Pria yang diketahui bernama Madara mendecih pelan lalu melakukan apa yang diperintahkan pria paruh baya berambut putih tajam diikat poni tail yang duduk didepannya. Begitu pula dengan pemuda berambut dark-silver bernama Naruto, dia juga ikut melakukan perintah tadi.

Setelah selesai, pandangan Naruto kemudian dialihkan ke Madara. "Bagaimana dengan Sirzechs-sama, Teme?" Tanyanya.

Orang yang ditanya mendesah pelan. Orang itu tidak lain adalah Madara, yang saat ini tengah dihadapkan pada dua pilihan. Apa dia harus mengejar orang bernama Orochimaru ataukah menyelesaikan masalah janji dari Sang Maou-Lucifer?

Jika dia memilih menyelesaikan masalah Maou-Lucifer, maka kesempatannya untuk mengejar dalang dibalik penyerangan Konoha kemungkinan besar akan sulit ditemukan. Saat ini adalah kesempatan emas. Dia tau pasti seperti apa itu Orochimaru. Itu karena semasa di Konoha, dia selalu mengawasi gerak gerik pria penggila penelitian itu.

Dan salah satu kebiasaan Orochimaru yang dia ketahui adalah sangat teliti dalam mengambil tindakan yang artinya Orochimaru baru bergerak jika benar-benar sudah memiliki rencana kabur ataupun rencana untuk memulai sesuatu. Maka dari itu, dia menyimpulkan jikalau lambat bergerak, Orochimaru pasti keburu hilang ditelan bumi.

"Si kepala merah itu bisa kuurus lain kali!" Dia pun memilih pilihan pertama yang dari tadi dipikirkan.

"Kepala merah? Apa yang kau maksud itu Sirzechs-sama, Madara?"

Madara mengalihkan pandangan ke Jiraiya lalu memberikan jawaban berupa anggukan pelan lalu berkata datar setelahnya. "Dan kau tidak perlu tau apa yang terjadi antara aku dan si kepala merah itu!"

"Baiklah~Baiklah. . . . Terserah kau saja lah, Teme!" Jiraiya hanya mengangguk pasrah walaupun dia lumayan penasaran dengan itu. Tapi karena ucapan Madara, dia pun mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut. Karena kalau jika ia melakukannya. Maka, Si Uchiha akan memberikan tatapan tajam atau lebih parahnya ancaman mematikan yang bisa membuat tubuhnya merinding disko.

"Nah, sekarang masalahnya. ." Direksi pandangan Naruto, Jiraiya dan Madara tiba-tiba tertuju pada satu-satunya pria yang belum angkat bicara beberapa menit. ". . Bagaimana dengan Yuki? Apa kita harus meninggalkan dia disini atau kita ikut sertakan dalam pengejaran ini?"

Naruto dan Madara tersentak sejenak. Mereka baru terpikirkan masalah Yuki setelah mendengar pertanyaan dari pria yang diketahui bernama Hashirama tadi. Tapi tak berselang lama, Madara akhirnya menemukan solusi yang tepat. Seperti yang diharapkan dari seorang berotak cerdas Uchiha!.

"Begini saja. . . . Aku akan meninggalkan Chi Bunshin untuk berjaga sekaligus menemani Loli-chan. Dan untukmu dobe, gunakan Mokuton Bunshin." Madara mengalihkan pandangan ke Jiraiya yang duduk di sofa yang sama dengan Naruto. "Untuk Jiraiya . . . Tinggal bilang saja ingin melanjutkan perjalanan."

"Kalian paham kan?" Jiraiya dan Hashirama mengangguk kepala. Tapi tidak untuk Naruto.

"Bagaimana denganku, Teme?" Tanya pemuda bersurai dark-silver disamping kanan Jiraiya karena dia satu-satunya tidak disebut dalam penjelasan Madara tadi.

"Untukmu . ." Madara memasang pose berpikir, mengusap pelan dagu dengan tangan kiri berusaha rencana yang tepat untuk Naruto. Akan tetapi hasilnya nihil. ". . Cari saja sendiri caranya!" Sambungnya dengan tampang datar tidak berdosa.

"Haaa?!"

"Kau dengar tidak? Kubilang pikirkan sendiri, bocah sableng. Pusing tau memikirkan cara untukmu mengelabui Loli-chan, siapa suruh tidak punya kemampuan membelah diri."

Naruto agak emosi. Urat-urat kekesalannya sedikit mengembul di kening. Bisa-bisanya Madara tidak memikirkan cara untuk dia agar bisa mengelabui Yuki dan ikut dalam pencarian Orochimaru. "Memang sih aku tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Tapi, aku memiliki api yang bisa membakar muka tebingmu, Uchiha bangsat!" Bukannya menerima dengan lapang dada saran dari Madara, Naruto malah balik menantang sang Uchiha terakhir.

"Hooo, bakar ya?! Apa itu tidak terbalik, bocah sableng berotak api?!" Madara menyeringai sadis. Saling lempar tatapan tajam pun terjadi antara dia dan Naruto.

'Haaa, Mulai lagi deh!' Hashirama hanya bisa membatin lesuh untuk kesekian kalinya semenjak tinggal di apartemen Naruto. Baginya, sudah menjadi makanan sehari-hari ketika melihat Naruto dan Madara saling melempar ejekan bahkan sampai berkelahi seperti bocah dibawah umur.

"Kalian berdua hentikan! Kita lagi membahas masalah serius. Kalian malah bertengkar seperti anak-anak!" Lerai Jiraiya. Tapi, Naruto dan Madara sama sekali tidak menghiraukan ucapannya.

Hingga sebuah lingkaran sihir keluarga Gremory muncul tepat di belakang sofa tempat Madara dan Hashirama duduk. Mereka berempat pun secara serentak mengalihkan pandangan ke sana. Bahkan Naruto dan Madara sampai menghentikan acara lempar tatapan tajam dan saling ejek mereka.

Dari lingkaran sihir itu. Muncul dua sosok berbeda gender. Mereka adalah Sirzechs dan Grayfia.

"Akhirnya orang yang kutunggu-tunggu datang juga!" Seringai bak dewa kematian yang siap mencabut nyawa seseorang langsung terpampang jelas di wajah Madara. Dia tak menyangka orang yang ditunggu malah datang di saat yang bisa dikatakan sangat tepat. Datang sebelum mereka memulai pencarian.

"Sirzcehs-sama, Grayfia-san!"

"Sirzechs-dono, Grayfia-san!"

Secara serentak. Naruto, Jiraiya dan Hashirama memanggil nama dua iblis berdarah murni yang baru saja tiba itu. Jiraiya dan Hashirama mengerjit heran, Sirzechs maupun Grayfia tidak membalas sapaan mereka. Bahkan ekspresi wajah pasangan suami-istri itu terlihat datar. Sontak hal ini membuat Jiraiya semakin heran apalagi ketika dia mengingat ucapan Madara sebelumnya.

'Pasti ada yang terjadi disini!' Itulah yang dipikirkan olehnya.

Ruang tengah itu pun dilanda kesunyian. Mereka yang berada di sana tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun selama beberapa menit. Hingga Naruto akhirnya berdiri dan angkat bicara.

"Sebaiknya kita meninggalkan ruangan ini. . . . Ero-sennin."

"Memangnya ada apa Naruto?"

"Madara. ." Naruto memberi jeda sejenak dan mengalihkan pandangan ke orang yang sudah resmi menjadi kakak angkatnya. ". . dan Sirzechs-sama ada urusan pribadi." Tambah Naruto. Menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan penjelasan.

"Sebaiknya Ero-sennin tidak disini. Bisa-bisa keadaan malah akan semakin memburuk jika mengetahui permasalahannya dengan Sirzechs-sama!"

Mendengar pernyataan Naruto tadi, Jiraiya hanya bisa menurut walalupun rasa penasarannya cukup besar atas masalah kedua orang itu. Menghela nafas sejenak, dia lalu memberi anggukan mengerti ke Naruto. Toh, kalau memang masalah serius, tidak ada salahnya jika tidak ikut campur. Itulah yang dipikirkan oleh pertapa genit itu.

"Ayo ke atas bersama Yuki-chan."

"Benar juga. Sudah lama aku tidak berbicara dengannya. . . . Ayo!"

Jiraiya dan Naruto berdiri secara bersamaan. Sebelum pergi, Naruto mempersilahkan dua iblis berdarah murni tadi duduk di sofa tempatnya tadi duduk bersama Jiraiya. Setelah itu, dia dan Jiraiya segera beranjak meninggalkan ruang tengah yang sepertinya suasana akan segera memanas. Itu karena Madara tidak henti-hentinya mengirim tatapan tajam menusuk ke sang Maou-Lucifer.

"Jadi? Untuk apa kalian kesini?" Madara membuka suara dengan nada datar, sedatar aspal beton.

Sirzechs menghela nafas sejenak. Setelah itu mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. Hal pertama yang dia jelaskan adalah kelakuan Rias yang hampir menciptakan sebuah peperangan baru antara Madara dan para iblis di Underworld apabila mengetahui bahwa salah satu pewaris dari salah satu klan dari 72 pilar beserta peerage diserang. Untung saja Sirzechs dan Grayfia berhasil menutupi kejadian ini hingga tidak ada pihak Underword yang mengetahuinya.

"Kenapa kau malah menutupinya? Bukannya itu malah bagus jika semua iblis bawahanmu mengetahuinya."

"Bagus apanya Madara? Apa kau mau dihabisi oleh para iblis Underworld?" Hashirama sedikit emosi mendengar ucapan dari sahabatnya yang seolah-olah menganggap enteng pihak iblis terutama [Four Great Satan] yang dipimpin oleh Sirzechs. Mereka berempat merupakan pemimpin di Underworld dan fraksi iblis.

Ekspresi penuh kemarahan disertai determinasi tinggi pun terpampang jelas di wajah Madara. "Selama Izuna, Tobirama dan penduduk Konoha tidak tenang di alam sana karena pelaku pembantaian malam itu belum kumusnahkan, tidak ada yang kutakutkan di dunia ini kecuali 'dia'. . . ."

Sirzechs tersentak mendengar ucapan Madara. Terutama di bagian yang ditakutkan oleh Madara. Dia tau pasti siapa itu. . . . Yang ditakuti sang Uchiha adalah 'Kami-sama'. Pencipta dari alam semeseta ini beserta isinya. Entah apa yang akan terjadi apabila Sirzechs mengatakan hal yang sangat di rahasiakan oleh tiga fraksi akherat. Itu adalah kejadian sewaktu [Great War] berlangsung.

". . . . dan kau." Madara mengalihkan pandangan ke Sirzechs. "Bukan hanya penjelasan tadi yang kau ingin sampai sehingga kau datang ke sini."

Sirzechs mengangguk pelan lalu memasang ekspresi wajah serius. "Hmnn, anda benar. . . . Tujuanku yang lain adalah meminta maaf atas tindakan salah bawahanku kepada anda dan Yuki."

Setelah itu, wajah tenang kembali terpampang di wajah sang Maou-Lucifer. Menghela nafas ringan sejenak lalu berucap dengan tulus. "Maka dari itu. . . . Selaku pemimpin dari fraksi iblis, meminta maaf sebesar-besarnya atas apa yang dilakukan oleh Rias Gremory beserta para peerage-nya."

Madara diam selama beberapa saat hingga dengan nada datar seperti biasa, dia membalas permintaan maaf dari Sirzechs. "Hn, tidak apa-apa. . . . Permintaan maaf anda kuterima." Tatapan Madara tiba-tiba berubah. Ketiga orang di dekatnya pun tidak tau tatapan macam apa yang terlihat di wajah Madara,

Hingga. . . .

.

.

.

Wush! Brakk!

Suara sesuatu yang melesat cepat diikuti suara dentuman kecil terdengar. Hashirama dan Grayfia membulatkan mata seketika. Itu karena Madara tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya dan muncul secara mendadak di belakang Sirzechs dan menarik kerah bagian belakang armor merah pria berambut merah itu lalu dibanting ke lantai hingga menciptakan suara tabrakan keras.

"Sirzechs-sama!"

"Madara, apa yang kau lakukan?!"

Grayfia dan Hashirama terkejut bukan main. Tapi lain halnya dengan Sirzechs yang menjadi korban sang pria Uchiha.

'C-Cepat sekali!'

Madara mengidahkan panggilan dan pertanyaan dari Hashirama lalu. . . .

Takk! Takk!

Bagaikan menginjak kotoran di permukaan tanah yang keras. Madara menginjak armor yang mencuat ke atas pada bagian bahu Sirzechs hingga retak. Madara tidak peduli, jika orang yang diinjaknya adalah seorang pemimpin salah satu dari tiga fraksi akherat. Dan juga tidak peduli juga akan apa akibat dari tindakannya ini. Tidak lain adalah kemarahan fraksi iblis yang sudah pasti terjadi karena pemimpin mereka diperlakukan bagaikan sampah.

Sedangkan Sirzechs sendiri malah terkejut bukan main melihat dan merasakan seberapa kuat dan cepatnya sang Uchiha Madara. Mungkin Madara seperti gabungan antara bidak Knigth dan Rook. Dan keterkejutannya itu yang membuat Sirzechs tidak mampu melakukan apapun. Untuk saat ini.

"Kau pikir aku akan mengatakan hal itu setelah apa yang telah dilakukan oleh bawahanmu itu terhadap Imouto-ku?" Ucap Madara dingin lalu mendekatkan wajahnya ke Sirzechs yang berada tapat di bawahnya

"Tentu saja tidak . . . dan tidak akan pernah! Camkan itu baik-baik!"

"Lagian, kau masih memiliki sebuah penjanjian denganku yaitu. . . ." Madara menciptakan segel tangan tunggal dengan tangan kiri. Ledakan asap kecil muncul di punggungnya, sebuah katana pun bertengger manis disana setelah kepulan asap mereda. Sirzechs masih diam tidak melakukan tindakan apa-apa karena teringat akan perjanjiannya dengan Madara, yang apabila ada bawahannya yang mengganggu kehidupan Madara. Maka kepalanya yang akan menjadi jamina.

Sungguh sebuah tindakan yang sangat nekad!

"Sirzechs-sama!" Grayfia memekik khawatir melihat nyawa suami-nya di ujung tanduk, siap melayang kapan saja. Tepat di depannya, Madara mencabut katana dan mengayunkan menuju ke leher Sirzechs. Dia hendak mengambil tindakan cepat, tapi sesosok bayangan hitam tiba-tiba melesat melewati dia menuju ke tempat Madara dan Sirzehcs, membuatnya terdiam.

"Apa kau lupa tentang perjanjian apabila ada yang bawahanmu yang mengusik kehidupanku? Jadi ini saatnya untuk melakukan apa yang kau minta!"

Dalam gerakan sangat lambat, kilauan bilah katana Madara yang siap menebas leher Sirzechs terlihat jelas. Namun beberapa senti sebelum bilah tajam katana itu menyentuh leher sang Maou-Lucifer. Hashirama tiba-tiba muncul di samping kiri Madara dan . . . .

Takk!

Tik! Tik! Tik!

. . . . dengan gerakan cepat menahan bilah katana Madara. Tidak peduli tangannya harus terkena tajamnya bilah itu sampai-sampai tangannya meneteskan cairan merah kental ke lantai.

"Hashirama!" Ucap Madara dengan nada berat lalu menoleh ke sang sahabat dan terkejut melihat wajah sangat serius orang tadi dia sebut namanya.

"Hentikan perbuatanmu ini Madara!" Hashirama menarik paksa Katana yang dipegang Madara. "Setelah mendengar semuanya, aku jadi paham sekarang. . . . Jadi karena gadis berambut merah itu mencuri Yuki dan menjadikannya alat untuk menarikmu menjadi bagian dari kelompoknya, sehingga kau bisa menghilangkan nyawa seseorang yang keberadaannya cukup penting di dunia ini." Bersamaan dengan itu, katana yang dipegang Madara terlepas, dia pun melemparnya ke sembarang arah.

"Apa yang kau lakukan, Hashirama?" Madara berteriak marah atas tindakan yang dilakukan sahabat sekaligus rivalnya itu. "Dia sendiri yang membuat perjanjian itu, maka dengan senang hati aku melakukannya."

"Aku tau itu. . . . Tapi, jika kau melakukannya malah akan memburuk keadaan kita. Bukannya sudah kukatakan hal itu sebelumnya? Apa kau sudah melupakannya?" Nada suara Hashirama mulai meninggi membuat Madara seketika terdiam.

"Sekarang kebenaran tentang dibalik penyerangan Konoha sudah ada di depan mata kita. Jangan rusak kesempatan ini hanya karena perjanjian bodoh!" Jelas Hashirama masih dengan nada yang cukup tinggi. Setelah itu helaan nafas halus terdengar dari mulutnya. "Jujur saja. . . . Sebenarnya aku juga sangat ingin melakukan apa yang ingin kau lakukan, Madara. Tapi karena aku memikirkan tentang Yuki dan Konoha apabila kita sampai melakukan hal ini yang pasti berdampak sangat buruk. Makanya aku selalu menahannya agar tidak kelepasan."

Sirzechs yang dalam posisi berbaring dan diinjak Madara memilih diam. Sebenarnya dia benar-benar marah diperlakukan seperti ini padahal dia adalah seorang pemimpin. Tapi karena seorang pemimpinlah, dia tidak melakukan apa-apa. Itu karena jika sampai melakukan tindakan perlawanan atas perlakuan Madara. Itu artinya dia gagal sebagai seorang pemimpin karena telah melanggar janji yang telah dia buat.

Dan dia sudah menduga kalau Madara akan melakukan hal ini. Maka dari itu Sirzechs menahan amarahnya hingga tingkat terendah dan memasang wajah tenang seperti biasa. Tapi dalam hati, dia memutuskan untuk membalas perbuatan Madara ini suatu saat nanti jika ada waktu yang sangat tepat untuk melakukannya.

Decihan kecil yang tersirat banyak kemarahan keluar dari mulut Madara. Dia pun melepaskan injakan kedua kakinya pada armor Sirzechs. "Cih, kau beruntung hari ini kepalamu tidak menjadi pajangan indah di kamarku."

Sirzechs hanya memejamkan mata mendengar ocehan pria yang sudah berdiri tepat di samping kirinya, mengoceh tidak jelas selama 1 menit lebih bersama Hashirama.

.

Ketika ocehan Madara sudah tidak terdengar lagi selama beberapa detik, Sirzehcs membuka mata dan tepat di depannya, sebuah tangan terulur untuk membatunya berdiri. Dia menerima uluran tangan itu dan perlahan bangkit. "Kemana Madara-san?" Sirzechs mengedarkan pandangan ketika sudah berdiri tegak dan tidak melihat keberadaan sang Uchiha.

"Aku menyuruhnya pergi menenangkan diri." Sirzechs menganggukkan kepala tanda mengerti. "Aku minta maaf atas kelakuannya tadi, Sirzechs-dono. . . . Sepertinya kebenciannya terhadap iblis tidak dapat tertolong lagi." Ucap sang Pengguna elemen kayu itu menyesal atas apa yang telah dilakukan oleh tangan kanannya.

Sirzechs memasang wajah tenang penuh wibawa. "Jujur saja . . . . Tindakan Madara-san tadi sudah mencoreng nama baikku sebagai seorang Maou-Lucifer dan aku benar-benar tidak bisa memaafkannya."

Hashirama mendesah pasrah lalu mengangguk tanda mengerti maksud dari Sirzechs. Itu karena dia merupakan mantan pemimpin. Jadi dia tau pasti bagaimana perasaan Sirzechs ketika diinjak bagaikan sampah. Kalau saja dia yang berada di posisi Sirzechs tadi, kemungkinan besar dia pasti sudah mengamuk habis-habisan dan membantai pelakunya.

"Tapi, . . . ." Hashirama menautkan alis memandangi sang Maou-Lucifer ketika kembali bersuara. "Karena tindakan Madara-san tadi dilakukan atas kelalaianku menjaga bawahanku sendiri. Mungkin aku bisa memaafkannya kali ini."

"Anda serius, Sirzechs-dono?"

Sirzechs memberi jawaban berupa anggukan. "Ya, aku serius . . . . Namun, jika sampai Madara-san kembali melakukan hal yang serupa. Maka tidak ada lagi kata maaf melainkan tindakan tegas'lah yang akan kulakukan untuk membalasnya." Jelasnya dengan raut wajah serius dan menaikkan tekanan kekuatan iblisnya.

Karena terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh Sirzechs. Hashirama pun ikut menaikkan tekanan chakra miliknya. Instingnya sebagai seorang pemimpin pun akhirnya muncul. Retakan kecil pun muncul pada lantai yang diinjak Hashirama, aura kebiruan atau lebih tepatnya Chakra mulai menguar menyelubungi tubuhnya.

"Tapi, jika Madara melakukan tindakan serupa karena kejadiannya hampir sama seperti kejadian Yuki dan itu melibatkan keluargaku. Maka . . . . Aku tidak akan segan-segan menghancurkan Underworld dengan tanganku sendiri.!" Jelasnya dengan ekspresi wajah terlihat sangat serius dan sedikit dingin.

Bahkan aura sangat gelap samar-samar terdeteksi oleh Sirzechs. Aura gelap yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dan melebihi kegelapan dibalik mata [Mangekyo Sharingan] Madara, membuat tubuhnya merinding. Jujur ini pertama kalinya dia bertemu dengan seorang manusia yang mampu membuatnya seperti ini. Selaku iblis berdarah murni, sebenarnya dia tidak bermaksud merendahkan manusia, hanya berpikir apakah Hashirama 100% manusia? Sehingga mampu mengeluarkan tekanan sebesar ini.

Tapi fakta lain membuat Sirzechs membuang jauh-jauh pikirannya barusan. Madara saja yang merupakan tangan kanan Hashirama mampu membuar Rias dan Peerage-nya dibuat tidak berdaya seorang diri, apalagi Hashirama yang merupakan pemimpin manusia yang memiliki aliran Chakra. Jadi sudah pasti kekuatan orang ini sedikit atau mungkin jauh di atas Madara.

Setelah beberapa menit, kedua mahluk berkekuatan sangat besar ini sama-sama menghilangkan apa yang dikeluarkan, takut mengundang masalah lain. Hashirama lalu mengajak Sirzechs kembali duduk di sofa untuk membicarakan hal ini secara baik-baik. Dan beberapa menit setelahnya, Sirzechs mengatakan maksud lain dari kedatangannya bersama Grayfia. Yaitu tentang perburuan iblis liar besok malam sekaligus menjadi tempat dimana Naruto dan Rias mengakhiri hubungan mereka sebagai Majikan dan pelindung.

"Bagaimana Hashirama-dono?"

Orang yang ditanya malah mengusap dagu. Pusing mau menjawab pertanyaan dari Sirzechs. Ternyata bukan cuma Madara yang memiliki masalah serius, si pemuda bersurai dark-silver ternyata memiliki masalah lebih berat. Beberapa saat kemudian, dia pun menjawab. "Entar aku bicarakan ke Naruto . . . . Karena sekarang kami juga memiliki masalah lain yang cukup serius. Anda pasti sudah mengetahuinya kan? Dalang dibalik penyerangan desa sudah kami temukan dan dalam pencarian. Mungkin sebentar lagi lokasinya akan ditemukan oleh rekan Jiraiya."

"Aku mengerti." Sirzechs mengangguk pelan dan bersamaan dengan Grayfia, dia berdiri dari sofa. "Kalau begitu kami pamit dulu. Dan tolong segera sampaikan ini ke Naruto-kun! Aku takut masalah ini akan menambah kebencian Madara-san terhadap kami."

'Dan yang terburuk . . . . Mungkin saja Ria-tan akan memanfaatkan hal ini untuk menarik Madara-san kembali menjadi bagian dari Peerage-nya, hufft.' Batin Sirzechs sedikit khawatir diakhiri dengan helaan nafas ringan. Sebaiknya Sirzechs tidak usah memikirkan hal itu dulu karena setibanya mereka di Underworld, istrinya pasti menanyakan banyak hal kenapa dia tidak melakukan tindakan ketika diinjak oleh Madara.

.

.

.

Sedangkan di lantai dua apartemen. Naruto, Madara, Jiraiya dan Yuki tengah membicarakan hal-hal tentang keseharian mereka. Oh, salah! Hanya Yuki yang terus berceloteh ria, ketiga orang di dekatnya hanya diam menyimak sambil menganggukan kepala apabila Yuki melempar pertanyaan.

"Dan~Dan . . . . Madara-niichan pernah memukul orang karena hmnn, Apa yaa?" Yuki memiringkan kepala mencoba mengingat apa yang membuat Madara sampai memukul seseorang ketika mereka tengah berjalan-jalan beberapa hari yang lalu. 1 menit berlalu dan akhirnya Yuki mengingat kejadian itu. "Oh iya, mau menjadi kekasihku." Sambung Yuki dengan nada sedikit bingung di akhir kalimat. Sudah pasti karena tidak tau apa itu 'kekasih'.

Memerah sudah wajah Madara karena malu. Sedangkan Naruto dan Jiraiya berusaha menahan tawa mereka melihat wajah sang Uchiha saat ini. "Pfftttt, sifat overprotektif-mu ke Izuna ternyata menjalar ke Yuki-chan, teme . . . . Aku sampai terkejut dan hampir pingsan mendengarnya."

"D-Diam kau, kakek tua mesum!" Madara memalingkan wajah memerahnya ke arah lain. Dan runtuhlah semua pertahanan Naruto dan Jiraiya. Tawa mereka langsung menggelegar di segala sudut ruangan tempat mereka.

"Buahahahahahahahahaha . . . ."

"Hahahahahahahahahahah . . . ."

Tawa keduanya semakin kencang. Bahkan Jiraiya sampai berguling-guling di lantai. Wajah Madara semakin memerah total karena malu sekaligus marah di tertawai. Sementara Yuki hanya bisa diam dengan wajah heran yang terkesan imut melihat tingkah absurd Jiraiya dan Naruto yang berada di depannya.

Sekitar 1 menit kemudian, tawa Jiraiya mulai mereda, dia segera berdiri. Dengan nafas tersenggal-senggal habis tertawa, dia menepuk pundak Madara. "Ha-ha-ha-haaa, pertahankan itu teme! Kuyakin posisi Naruto sebagai Good Onii-chan akan tergeser olehmu."

Wajah memerah menghilang tergantikan wajah datar seperti biasa. "Hn."

Dan tepat setelah itu . . . .

Duag!

. . . . sebuah pukulan mendarat mulus di pipi sebelah kiri Jiraiya membuat pria tua itu terpelanting kebelakang dan menghantam tembok. Tatapan tajam menusuk pun langsung Jiraiya ditujukan kepada sang pemukul. Siapa lagi kalau bukan Madara.

"Apa yang kau lakukan, teme? Kau cari mati, haa?"

"Cari mati? Kau yang cari mati, brengsek! Siapa suruh tertawa seperti tadi." Madara membalas tidak kalah sengit dari Jiraiya. Tidak lupa tatapan tajam pun ikut dikeluarkan olehnya.

"Mouuu~ Hentikan Maddie-niichan, Jiraiya-ojiichan!" Yuki tiba-tiba muncul di tengah-tengah dua orang yang saling lempar tatapan tajam. Sambil mencak-mencak, Yuki melerai keduanya.

"Minggir, Loli-chan! Aku belum puas memukul muka mesum, kakek tua bangkotan it- . . . ."

"Kau bilang apa, Uchiha kamp- . . . ."

Jduak!

Jduak!

". . . . -Itteee!"

". . . . -Ouch~Itte, Yuki-chan!"

Secara bersamaan Madara dan Jiraiya meringis kesakitan terkena lemparan sandal dari Yuki. Seperti biasa, hanya Yuki yang mampu menjinakkan Madara dengan cara melempar kepala sang Uchiha dengan sandal ataupun sesuatu yang lain.

"Pftttt, makan tuh sand- . . . ."

Jduak!

". . . . –Itte, Yuki-chan! Kenapa aku juga kena sih?" Dan Naruto pun tidak luput dari serangan sang Loli.

Yuki menggembungkan pipi. Sambil mencak-mencak dia berkata agak kesal. "Karena Nii-chan akan ketawa, makanya kulempar!"

Naruto mengerucutkan bibir mendengar balasan dari Yuki, lalu dengan wajah terlihat konyol disertai bibir yang mengkerucut. Naruto memberi respon. "Tapi tidak sampai dilempar juga kan?!"

Sang adik mengidahkan pertanyaan Naruto tadi. Yuki lebih memilih menadang Madara dan Jiraiya secara bergantian. "Maddie-niichan juga. Kenapa sampai memukul. Kasihan Jiraiya-ojiichan."

"Kau tidak perlu mengasihani kakek tua bangkotan bermuka mesum itu, Loli-chan. Bisa-bisa kepolosanmu hilang ditangannya." Kata Madara dengan nada sinis.

"Oiy, aku memang mesum, super mesum malahan . . . . Tapi, mana mau aku menghilangkan kepolosan Yuki-chan." Jiraiya tampaknya tidak mau kalah. Dia pun memberi balasan yang tidak kalah sengitnya.

Sang Uchiha bersidekep dada. "Tapi, tidak menutup kemungkinan jika kami lengah. Kau akan mengintip Loli-chan ketika mandi dan menikmati tubuh indahnya demi kelangsungan hidup novel nistamu, dasar keparat!"

"Benar juga!" Dengan polosnya, Jiraiya membenarkan ucapan Madara sambil membenturkan kepalan tangan kanan di telapak tangan kirinya, baru terpikirkan hal ini. Dia pun tidak bisa membayangkan seperti apa novel karangannya jika Yuki berada di dalamnya. Seketika Jiraiya langsung tenggelam dalam fantasi mesumnya membayangkan tubuh loli Yuki ketika mandi. Tapi, tak berselang lama. . . .

Duaakkk!

"OJII-CHAN!"

Yuki berteriak histeris ketika dua kaki tiba-tiba menghantam wajah mesum Jiraiya hingga kembali terjerembab ke dinding hingga hancur menggalkan lubang kecil disertai kepulan debu. Setelah debu menghilang tampaklah wajah Jiraiya yang disana tercetak dua bekas kaki.

"Kono hentai!"

"Mati kau, Kakek tua bangkotan!"

.

.

"Haa, akan kubalas kalian nanti!" Jiraiya menggurutu tidak jelas sambil memandangi Naruto dan Madara yang berdiri tidak jauh darinya. "Itte~ Yuki-chan!" Seketika Jiraiya meringis kesakitan ketika kain basah menyentuh pipinya yang memerah.

"Diam, Ojii-chan!" Bentak Yuki kemudian melanjutkan acara mengelap bekas tendangan di wajah Jiraiya.

Clek!

Pintu ruangan tempat keempat orang ini tiba-tiba terbuka. Madara, Naruto dan Jiraiya langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah sana. Tak berselang lama, Hashirama berjalan memasuki ruangan itu dengan raut wajah serius.

Madara dan Naruto menautkan alis mereka dan secara bersamaan langsung melayangkan pertanyaan.

"Apa yang terjadi, Hashirama?"

"Ada yang salah, Ossan?"

"Begini . . . ." Hashirama mulai menjelaskan semuanya yang terjadi setelah Madara pergi. Mulai dari apa yang dikatakan oleh Sirzechs dan itu membuat Madara menyeringai dalam hati karena sahabatnya sudah bisa sedikit melawan kemauan dari Sirzechs dengan memberi sedikit ancaman. Tapi ekspresi mereka tiba-tiba berubah ketika mendengar permintaan Sirzechs untuk Naruto.

Sekarang Naruto dihadapkan pada dua pilihan.

Mengikuti Trio Shinobi untuk mencari, menemukan dan memusnahkan dalang di balik penyerangan Konoha yaitu Orochimaru.

Atau . . . .

Menyelesaikan masalahnya dengan Rias.

Naruto menghela nafas berat lalu memandang Madara untuk meminta kepastian. Sang Uchiha mengangguk seolah mengatakan -Keputusan ada di tanganmu- dan Naruto balik memberi anggukan. Helaan nafas berat kembali keluar dari mulut Naruto untuk menenangkan pikiran agar dia tidak salah memutuskan mana yang akan dia pilih.

"Baiklah . . . . Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Rias agar nantinya tidak ada lagi penghalang untukku ketika berhadapan dengan iblis yang kita lawan!"

Jiraiya dan Hashirama tersentak sedangkan Madara malah menyeringai. Itu karena ucapan Naruto yang terkesan dingin bagi mereka berdua. Tapi tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang seharusnya tidak mendengar pembicaraan ini. Dia adalah . . . .

"Iblis itu apa, Nii-chan?"

'Shiet!'

'Gawat!'

'Aku kelupaan kalau disini ada Yuki!'

Secara bersamaan Naruto, Jiraiya, Madara dan Hashirama membatin was-was. Ternyata hanya karena terlalu serius ingin segera membahas masalah penting. Mereka melupakan satu hal lain yang tidak kalah pentingnya. Yaitu menjaga Yuki agar tidak mengetahui kalau di dunia ini terdapat mahluk lain selain manusia. Keempatnya langsung melempar pandangan. Ekspresi wajah was-was mereka seolah-oleh mengatakan

-Bagaimana ini? Cepat cari solusi yang tepat gih!-

Mereka mengangguk secara bersamaan dan mulai memutar otak mencari jawaban yang pas. Dan seperti biasa, sang Uchiha 'lah yang pertama menemukan solusi paling masuk akal untuk Yuki. Madara segera menghampiri Yuki yang masih berdiri di depan Jiraiya yang duduk bersilah di lantai.

"Apa kau ingat orang kupukul waktu itu?" Yuki mengangguk pelan. "Itulah yang dinamakan iblis. Mereka adalah orang-orang jahat yang ingin melakukan hal buruk padamu, Loli-chan."

"Oooowhhh, wakatta Maddie-niichan. Jadi Iblis itu orang-orang seperti Ojii-chan 'kan?" Entah kebetulan atau tidak, setelah mendengar penjelasan Madara. Dia langsung mencap Jiraiya sebagai iblis.

"Nah itu! . . . . Bahkan Jiraiya'lah pemimpin para iblis di dunia ini!"

"Oiy~Oiy!" Jiraiya langsung mengeluarkan nada tidak terima atas ucapan dari Madara.

"Iiiih, Ojii-chan ternyata orang jahat. Aku tidak mau dekat-dekat dengan Ojii-chan lagi!"

Yuki segera menjauh dari Jiraiya. Dan bagaikan seseorang yang telah kehilangan istri, Jiraiya langsung menangis konyol ditambah umpatan-umpatan dramatis yang membuat Madara, Naruto dan Hashirama serasa ingin muntah mendengarnya.

Tapi tangisan nista Jiraiya tak bertahan lama karena sebuah getaran kecil tiba-tiba terjadi di saku celana sebelah kirinya. Cepat-cepat dia mengambil benda yang bergetar itu yang merupakan sebuah Smartphone. Dia tersenyum tipis ketika melihat siapa yang mengirimi dia email.

"Ada apa Jiraiya?" Tanya Madara heran melihat senyum dari Pertama genit di depannya.

Jiraiya mendekat ke Madara lalu berbisik pelan. "Begini . . . . Dua dari tiga regu jaringan mata-mataku sudah membongkar dua markas yang diduga milik Orochimaru yang letaknya tidak jauh dari kota ini dan semuanya kosong!"

"Itu berarti, tinggal dua tempat yang kemungkinan si ular brengsek itu bersembunyi?" Jiraiya menjauhkan kepala dari Madara lalu mengangguk memberi kepastian.

Jiraiya mengalihkan pandangan ke Yuki yang kini tengah asik mengobrol bersama kakaknya, Naruto. "Nee~ Yuki-chan, aku haus. Bisakah kau membuat 4 ocha hangat?" Yuki mengangguk pelan lalu segera beranjak menuju dapur untuk melakukan apa yang diminta oleh Jiraiya. Sebenarnya perintah hanya sebuah pengalihan agar mereka bisa menyiapkan segala hal yang sudah direncakan sebelumnya.

"Nah, kalian berdua, cepat ciptakan Bunshin. Akan kujelaskan rencananya setelah kita keluar." Jelas Jiraiya lalu mengalihkan pandangan ke Naruto. "Dan kau, Naruto . . . . Setelah kau menyelesaikan masalahmu, cepat susul kami bersama Yuki-chan. Aku akan mengirimkan foto peta lokasi yang akan kami datangi."

Mereka bertiga mengangguk serentak. Setelahnya, Hashirama langsung merangkai segel tangan.

"[Mokuton Bunshin no Justsu]"

"[Chi Bunshin no Jutsu]"

"Kalian mengerti apa yang harus dilakukan 'kan?" Tanya Madara ke replika dirinya dan Hashirama.

Setelah mendapat jawaban berupa anggukan dan kata-kata penyemangat dari Naruto. Madara, Hashirama dan Jiraiya langsung meninggalkan apartemen mereka menggunakan [Shunshin]. Dan tak berselang lama, Yuki pun datang membawa 4 gelas Ocha hangat menggunakan nampan. Dan Naruto langsung menjelaskan kalau Jiraiya ada urusan mendadak.

"Hmnnn, Ojii-chan benar-benar iblis, aku sudah capek-capek bikin Ocha. Malah pergi . . . . huff!"

Tawa Naruto dan dua salinan shinobi abnormal di ruangan itu pun pecah melihat Yuki mencak-mencak sambil mengumpat ejekan-ejekan yang sebenarnya sama sekali tidak membuat seseorang jengkel.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam berikutnya. Naruto kini bersiap-siap untuk pergi ke lokasi dimana dia akan menyelesaikan semua masalahnya ke Rias. Untuk melakukan perburuan iblis liar kali ini yang lokasinya berada di pusat kota Kuoh. Dia mengenakan T-shirt hitam yang dilapisi hodie merah. Celana selutut hitam agar memudahkan dia bergerak ketika bertarung dan alas kaki shinobi milik Madara berwarna biru tua. Dan terakhir, sebuah kantong peralatan shinobi yang dia pinjam dari Hashirama melekat pinggulnya lalu ditutup dengan bagian bawah hodie yang dikenakan.

Setelah dirasa cukup, Naruto langsung berangkat menuju lokasi. Selama perjalanan, Naruto berusaha menyusun kata-kata yang pas untuk mengakhiri hubungannya dengan Rias. Dan tanpa Naruto sadari dia sudah tiba di lokasi karena terlalu serius memikirkan kata-kata yang pas.

"Apa benar ini tempatnya?" Naruto menautkan alis ketika melihat lokasi perburuan mereka yang ternyata gedung tertinggi di Kuoh. Agar tidak salah tempat, Naruto mengeluarkan peta lokasi yang diberikan oleh Sirzechs ke Hashirama lalu diberikan ke dia.

"Ohh, jadi di basemen toh."

Tanpa menunggu lama, Naruto langsung memasuki gedung tersebut dan mencari tangga menuju basemen. Setibanya di sana, suara berat khas iblis liar langsung menggema.

"Khukukukuku . . . . Aku mencium bau manusia."

Naruto menggeser tubuhnya beberapa derajat ke kiri, lalu memundurkan kaki kiri. Api Kurama tiba-tiba menguar di lengan kanan Naruto. Dengan ekspresi serius Naruto berucap cukup keras.

"Keluarlah! Aku tau kau disana!"

"Khukukukukuku . . . . Manusia yang menarik. Akan kujadikan kau makan malamku malam ini!"

Sang iblis liar langsung melompat keluar dari balik tiang besar di depan Naruto. Kini wujud sebenarnya dari sang iblis liar terungkap, memiliki bentuk fisik menyerupai mahluk mitologi Yunani yaitu [Centaur] yaitu berwujud setengah bison setengah manusia. Dan ukurannya 3 kali lebih besar dari Naruto.

Iblis liar itu melompat dan siap menerjang sang pemuda dengan dua kaki depannya. Naruto malah memasang wajah tenang dan dengan satu kali pukulan pada udara kosong. Serangan api berintensitas besar melesat menuju iblis liar lawannya.

"[Hiken]"

Blaarr!

Nasib kurang beruntung ternyata tengah melanda sang iblis liar. Bukannya menyerang, malah terkena serangan berupa api yang panasnya mampu membuat tubuh hangus menjadi abu. Dia terlempar dan berhenti ketika mencapai dinding beton yang kerasnya bukan main. Ledakan kecil disertai kepulan debu pun tercipta disana.

"Manusia keparat!" Si Iblis menyibak kepulan debu di depannya dengan sekali kibasan kaki depan. Setelah kepulan debu menghilang sepenuhnya, dia kembali mengumpat penuh amarah. "Brengsek!"

"[Enkai]"

Tepat di depan si iblis liar, Narutp mengkompres sejumlah api di tangan kanan. Hasil dari pengkompresan itu berupa sebuah bola api kecil berwarna merah pekat. "Urusanku malam ini bukan denganmu!" Ucapan tenang nan datar keluar dari mulutnya lalu menarik paksa rambut lawannya hingga wajah buruk rupa sang iblis tepat berada di depannya. Tanpa menunggu lama, dia langsung memasukkan bola api tadi ke mulut si iblis liar secara paksa.

Duagg!

Setelahnya, Naruto menendang iblis liar itu hingga terpental ke arah kanan dan mendarat dengan kerasnya pada lantai basemen. Si iblis kembali mengumpat kata-kata kotor dan langsung menerjang Naruto. Tapi belum sempat mencapai pemuda itu, bagian tenggerokannya tiba-tiba terasa panas dan mengeluarkan cahaya kemerahan.

"[Bakuhatsu]"

Blaaaaarr!

Ledakan besar pun menggema di basemen itu. Tubuh sang iblis liar pun hancur tak bersisah, bahkan sel-sel terkecil ikut hancur dalam ledakan tadi. Hembusan angin cukup kencang hasil dari ledakan itu menerpa tubuh Naruto sehingga membuat hodie merah dan rambur dark-silver model acak-acakan miliknya melambai-lambai.

.

.

Di luar gedung tempat pertarungan atau lebih tepatnya pembunuhan yang dilakukan Naruto, sebuah lingkaran sihir merah berlambang keluarga Gremory. Dari situ keluar 6 iblis muda. Salah satu dari mereka adalah Rias Gremory, gadis yang menjadi tujuan Naruto malam ini. Kalau bukan karena dia, sudah pasti Naruto lebih memilih menemani dan membantu trio shinobi memburu Orochimaru.

"Ayo kita masuk!" Ujar sang pemimpin dibalas anggukan pelan oleh yang lain.

Beberapa menit berjalan, Rias dan anggota tiba di basemen. Terkejut! itulah yang menimpa mereka melihat keadaan basemen yang sebagian besar hancur dan menghitam terkena ledakan Naruto tadi. Rias dan beberapa anggotanya mengedarkan pandangan mencari pelaku yang menyebabkan kerusakan cukup besar ini.

"Apa yang membuat anda terlalu lama, Ojou-sama?"

Rias dan kelompok serentak mengarahkan pandangan ke sumber suara tidak jauh dari mereka di arah kanan. Dari balik tiang besar, pemuda berambut dark-silver berjalan keluar. Rias dan Queen-nya sedikit terkejut melihat pemuda itu. Biasanya jika bertemu dengan Rias, ekspresi pemuda itu terlihat hangat dan murah senyum. Tapi sekarang sangat berbeda. Tanpa ekspresi sedikit pun alias datar.

"Konbawa, Naruto-san." Tiga anggota Rias menyapa pemuda bernama Naruto itu. Mereka adalah Queen, Knight dan Bishop dari Rias.

Naruto menghilangkan ekspresi wajah datarnya ketika mendengar sapaan mereka bertiga. "Konbawa mo Kiba-san, Akeno-chan, Asia-chan." Dan sekarang ekspresi wajahnya terlihat tenang seperti biasa dan diakhiri senyum tipis khasnya. Tampaknya, Naruto hanya berekspresi datar jika itu menyangkut Ojuo-sama-nya saja.

Naruto mengalihkan pandangannya kembali ke Rias. Lalu melayangkan pertanyaan yang sama. "Sekali lagi, apa yang membuat anda terlambat, Ojou-sama?"

Rias mendecih kesal. "Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Rias malah bertanya balik dengan nada datar.

Naruto memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk tidak berkutik di depan Rias. Sepertinya, apa yang Naruto ucapkan beberapa hari yang lalu ternyata sulit dilakukan. Lebih mudah mengucapkan dibanding melakukan. Seperti itulah yang terjadi pada Naruto. Tangannya dikepal kuat-kuat agar bisa membantu mengumpul kekuatan dan akhirnya, entah darimana datangnya. Perkataan Madara tiba-tiba tergiang di kepalanya.

"Jika kau sudah paham, maka... Hilangkan perasaanmu pada gadis sialan itu!... Apa kau masih tidak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah membenci dan tidak mengakui keberadaanmu lagi. Kalau perlu benci dia! Buat dia menyesal. Ahh, tidak! Buat dia merasakan yang lebih pedih dari penyesalan... Karena telah menculik Loli-chan, membuatmu hancur, patah hati dan yang paling penting... Telah membuatmu melupakan gadis kecil itu, Naruto!"

Dan ucapan itu pun seolah menjadi sumber kekuatan untuk Naruto. Dia segera membuka mata dan menatap Rias dengan mata menyipit. "Ini adalah pekerjaan Ojou-sama, tugasku disini hanya sebagai bantuan . . . . Tapi kenapa malah aku yang menghabisi iblis liar itu? Apa Ojou-sama sengaja terlambat agar bisa memakan gaji buta hasil dari apa yang kulakukan?" Tanya Naruto diakhiri dengusan pelan.

Rias ikut ikut menyipitkan mata.

"Apa maksudmu memakan gaji buta, haa? Kau yang datang terlalu cepat, Naruto!" Bukan Rias yang menjawab pertanyaan Naruto. Melainkan pemuda berambut coklat yang berdiri di samping Rias.

"Apa kau Ojou-sama, Issei-san?"

"Brengsek!" Issei sedikit terpancing sindirin halus Naruto. Dia hendak melakukan tindakan. Tapi Rias langsung menghalangi pemuda itu dengan tangan kanannya.

"Tenang Ise!" Pemuda bernama Ise atau Issei itu pun mendengus kesal. Ingin rasanya dia memukul wajah Naruto sekarang juga atas ucapan tentang memakan gaji buta tadi.

"Seperti kau sudah berubah, Naruto."

"Ah, tidak Ojou-sama . . . . Aku ini Naruto, dan selamanya tetap menjadi Naruto. Pelindung anda ketika masih di Underworld. Anak kecil yang dulu sering menemani anda kemana pun tanpa ada penolakan, pemuda yang telah meninggalkan anda sehingga melanggar janji yang telah dibuatnya dan terakhir, mungkin sedikit sakit bila kukatakan . . . . Tapi demi memastikan kalau aku tidak berubah. Akan kukatan." Naruto menghela nafas sejenak. Lalu dengan ekspresi datar dia mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan.

"Orang yang paling anda benci di dunia!"

Rias tersentak seketika saat kalimat penuh akan makna itu terucap mulus tanpa beban dari mulu Naruto. Bukan hanya dia, anggota Peeragenya pun itu tesentak, bahkan Akeno yang paling jelas terlihat, mungkin bukan lagi tersentak melainkan terkejut. Ternyata Naruto sudah menyadari hal itu. Dan sebuah perasaan aneh pun muncul dan menjalar di seluruh tubuh Rias.

'Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku merasa aneh ketika dia mengatakan hal itu . . . .' Rias menggeleng pelan menghilangkan apa yang tengah dia pikirkan. 'Jeh, aku memang membencinya. Jadi untuk apa aku memikirkan dia lagi.' Rias menyilangkan lengan di dada membuat dua gumpalan daging di sana sedikit mengembang.

"Tidak usah bertele-tele Naruto. Cepat katakan apa maumu sebenarnya?"

"Mauku?" Alis sebelah kiri Naruto terangkat memandang pewaris klan Gremory itu. Dia kemudian menggeleng pelan. "Sepertinya tidak ada. Aku hanya melakukan tugas yang diberikan Sirzechs-sama." Ucapnya dengan nada tenang, berusaha memancing Rias untuk mengatakan maksud dari perburuan iblis kali ini.

Rias mendengus sebal. Sepertinya Naruto memang tidak tau tujuan dari misi. Tapi betapa salahnya Rias karena semua ini hanyalah akal-akalan pemuda itu agar dirinya yang memulai. Dan mungkin inilah waktunya dia mengatakan tujuan dari misi ini.

"Baiklah . . . . Akan kutakan langsung kepadamu Naruto. Dengarkan baik-baik karena hanya kukatakan sekali saja." Pemuda itu menganggukan kepala. "Mulai sekarang kau bukan lagi pelindungku . . . . Hari ini, untuk terakhir kalinya untukmu menjadi pelindungku. Aku sudah mempunyai Peerage yang bisa setia padaku tidak sepert-"

"Setia?" Naruto langsung memotong ucapan dari Rias. "Apa kau yakin? Semua orang itu berbeda-beda. Memang didepanmu mereka setia namun dibelakang tidak ada yang tau." Dia lalu merilekskan tubuhnya yang sedikit kaku karena terlalu lama berdiri. Setelahnya, Pemuda itu langsung memasang wajah datar dan menunjuk lurus ke pemuda bersurai coklat yang berdiri di samping kiri Rias.

"Terutama dia . . . . Memiliki kekuatan satu dari dua naga surgawi yang belum sepenuhnya bangkit. Bahkan suatu saat nanti ketika kekuatann Sekiryuutei sepenuhnya bangkit dan melebihi kekuatanmu sendiri sebagai iblis berdarah murni dari salah klan 72 pilar di Underworld . . . . Dia akan menghianatimu!" Rias dan Issei menggertakan gigi kuat-kuat, suara gemelutuk gigi mereka pun terdengar jelas.

"Oy~ Brengsek!" Issei pun berteriak marah setelahnya, memperlihat kepalan tangan kanan ke Naruto. "Berani-beraninya mengatakan hal itu, haa . . . . Asal kau tau, aku mempunyai mimpi menjadi Raja Harem dan Bochou salah satu targetku! Jadi tidak mungkin aku akan menghianatinya!"

Naruto tersenyum kecil menanggapi pernyataan Issei. "Apa kau yakin? Bagaimana kalau benar itu akan terjadi, Sekiryuutei? Atau kalau tidak, Gremory-san malah direnggut darimu sebelum mimpimu terwujud."

"Kalian harus tau satu hal penting, terutama kau Issei-san . . . . Kekuatan akan mengarah ke keinginan untuk berperang dan kurangnya kekuatan akan mengarah ke kehilangan segalanya." Ekspresi serius pun terlihat di wajah Naruto lalu memandang satu per satu anggota Peerage Rias.

Hingga akhirnya pandangan Naruto berhenti ke Issei. "Jadi, Apa kalian yakin kalau sekarang kekuatan kalian sudah lebih dari kata cukup untuk melindungi Gremory-san? Jika belum yakin, percayalah Gremory-san akan direnggut dari kalian semua suatu saat nanti."

"Cukup, Naruto!" Rias tiba-tiba berteriak keras. "Berhentilah mengoceh tidak jelas seolah-olah kau tau semua tentang aku dan peerage-ku."

Naruto menggeleng pelan. "Bukan seperti itu! Aku hanya ingin mereka yakin bisa melindungimu dan juga . . . . Tidak menghianatimu seperti yang pernah kulakukan. Hanya itu saja maksudku!" Ucap Naruto segera menyanggah ucapan dari Rias.

Rias tersenyum manis dan perlahan mengerakkan lengan kanannya ke Naruto. "Baiklah kalau itu maumu." Jari telunjuk Rias pun teracung ke Naruto.

"Keluargaku yang tercinta. Serang dia dan buktikan kalau kalian sudah cukup kuat untuk melindungi apa yang berharga dalam hidup kita."

Queen, Knight dan Bishop dari Rias tersentak mendengar perintah itu, apa mereka tidak salah dengar? Memangnya apa salah pemuda itu sampai-sampai Rias ingin agar mereka menyerangnya. Bukannya Naruto hanya memberi peringatan bukannya ancaman. Itulah yang dipikirkan oleh ketiga bidak Rias.

Direksi pandangan mereka langsung dialihkan ke Rias.

"Bochou?"

Secara serentak, mereka memanggik Rias dengan panggilan yang selalu digunakan, untuk memastikan bahwa gadis bersurai merah itu tidak salah memberi perintah.

"Sekalian buktikan kalau kalian tidak akan menghianatiku!"

Naruto menyungging senyum kecut menanggapi ucapan Rias. "Jadi ini akhirnya ya? Sungguh akhir yang sangat berbeda dari banyak kisah yang sudah kubaca." Gumamnya sedikit mendramatisir keadaan disana. Namun, inilah yang sebenarnya diinginkan olehnya. Selama perjalanan kesini, hanya ini cara terbaik agar dia bisa melupakan perasaannya ke sang pewaris klan Gremory secara bertahap.

Yaitu . . . . Memaksa kelompok Rias untuk bertarung melawannya sehingga akan muncul rasa tidak ingin bertemu dengan mereka lagi di lain hari.

Queen dan Bishop dari Rias hanya mengangguk paham sedangkan Knight-nya malah tersenyum seperti biasa lalu mengalihkan pandangan ke pewaris [Boosted Gear]. Walaupun sedikit sulit untuk mengeroyok Naruto yang sama sekali belum pernah melakukan hal buruk kepada mereka. Tapi karena perintah dari King tidak bisa dibantah. Maka, mau tidak mau mereka harus melawan Naruto.

"Bagaimana denganmu Issei-kun?"

"Tentu saja . ." Pemuda bernama Issei menjeda kalimatnya sambil melakukan pose memanggil sesuatu dengan mengankat tangan kirinya.

"[Boosted Gear]"

Gautlet merah yang dilengkapi permata hijau tiba-tiba muncul dan terpasang dengan sempurna di lengan kiri Issei. ". . Aku akan melakukan apa yang diperintahkan Bochou, Kiba!"

"Benarkan, Bochou?" Rias mengangguk kepala dengan senyum mengembang melihat betapa kesetiaan Pawn miliknya. Setelahnya, Issei langsung berlari menuju Naruto yang masih tidak bergerak dari tempatnya se-inci pun.

"[Boost]"

Suara mekanik terdengar di Gautlet Issei disertai permata hijau di punggung tangan berkilau sejenak.

"Datanglah dan mari kita berdansa, Issei!" Naruto berseru dengan suara keras lalu memasang kuda-kuda bertarun.

"Senjutsu!" Gadis loli bersurai perak bergumam dengan nada bergetar merasakan energi alam yang asalnya berasal dari tubuh Naruto. Ternayata pemuda itu diam-diam mengumpulkan energi alam ketika mereka tengah berdebat beberapa saat yang lalu.

Bersamaan dengan itu, suara pukulan yang beradu dengan logam keras diikuti suara retakan kecil terdengar. Issei meringis kesakitan lalu melompat mundur. Sebuah keputusan yang salah beradu tinju dengan pengguna [Senjutsu] yang membuat kemampuan fisik penggunanya meningkat drastis.

"Ise!" Rias berteriak khawatir melihat pemuda yang mulai dia sukai semenjak menjadikannya Peerage meraung kesakitan.

'Pukulan macam apa itu?' Issei membatin penasaran setelah mendarat lalu memperhatikan bagian depan gautlet [Bosted Gear] miliknya yang retak. Walaupun dilapisi logam merah yang kuat, ternyata pukulan disertai energi [Senjutsu] milik Naruto masih bisa menembus hingga ke tangannya, mengakibatkan rasa sakit yang lumayan.

Naruto menghilang pose bertarung. "Kenapa hanya Issei-san saja yang maju? Apa kalian sudah berani membantah perintah King kalian?" Dia berkata agak sinis. Kiba dan Akeno kembali tersentak mendengarnya. Pandangan mereka langsung menjadi serius. "Bagus! Itu yang aku tunggu . . . . Kau pun bisa ikut Rias-chan. Bukannya kau sangat membenciku?"

Gadis itu menyipitkan mata. Sedangkan Issei menggertakan gigi, lagi. Mendengar Naruto memanggil King-nya dengan suffix –chan.

"Ayo kesini! Lampiaskan semua kebencianmu terhadapku!" Teriak Naruto mencoba memprovokasi kelompok iblis muda yang dia lawan.

"Keparat kau, Naruto!" Issei berteriak marah. Dia kembali berlari menuju pemuda itu. Permata hijau di Gautleh merahnya kembali bersinar.

"[Boost]"

"Bagus . . . . Mari kita lanjutkan acara berdansanya!"

Setelah mendapat pasokan kekuatan sebanyak 2 kali lipat dari Sacred Gear miliknya. Issei mulai melancarkan serangan acak-acakan ke Naruto. Pukulan demi pukulan dia lancarkan. Tapi, Naruto menghindari semua itu dengan gerakan simpel yang membuatnya kesal bukan main.

"Hanya ini?" Ucapan datar keluar dari mulut Naruto. Jika diperhatikan sekarang Naruto benar-benar berbeda dari dirinya dan lebih mirip ke Uchiha Madara dan mendiang Senju Tobirama. Hal ini pun membuat Youkai Kitsune yang berada di dalam tubuhnya sedikit khawatir.

Takk!

Naruto menangkap lengan kanan Issei lalu menarik tubuh pemuda itu ke samping kanan dengan pose melayang horizontal. Dan tepat ketika tubuh Issei tepat berada di depannya, Naruto langsung mengankat lutut kiri yang diarahkan ke perut pemilik [Boosted Gear].

Duag!

"Uhuuuk!" Issei memuntahkan banyak air liur ke lantai basemen. Rias dan Peerage-nya pun berteriak memanggil nama pemuda itu dengan nada khawatir untuk kedua kalinya

Naruto melepas lengan Issei lalu menyatukan kedua tangannya membentuk kepalan besar. Dan dalah hitungan detik, kepalan besar itu menghantam punggung Issei hingga terpelanting ke bawah dan menghantam permukaan lantai dengan kerasnya.

"Ise!"

"Issei-kun!"

"Issei-senpai!"

"Issei-san!

Emosi kelompok Rias akhirnya mencapai puncaknya melihat pemuda bersurai coklat itu mencium lantai dengan mesranya. Kiba yang posisinya paling dekat dengan Issei langsung memunculkan pedang menggunakan Sacred Gear [Sword Birth] miliknya. Setelahnya, dia langsung melesat dengan kecepetan dewa ke Naruto.

Naruto melompat kebelakang sedikit ke atas. Dalam keadaan melayang, Kiba muncul tepat di hadapannya dengan pedang yang siap diayunkan. Naruto segera merogoh kantong peralatan di pinggulnya dan mengeluarkan sebuah kunai.

Trank! Trank! Trank! Trank! Trank!

Triiiiiinkk!

Suara dua benda tajam yang saling bertabrakan menggema diudara dan diakhiri suara gesekan nyaring dari ujung kunai Naruto yang menggores bilah pedang tepat di depan wajah pemuda berwajah cantik lawannya.

Ketika Naruto sibuk menghadapi serangan Kiba. Bishop Rias yang memiliki Sacred Gear [Twilight Healing] langsung menghampiri Issei dan mengobati tubuh pemuda itu.

Kembali ke Naruto dan Kiba. Pemuda bersurai dark-silver itu langsung mendongak ke atas saat mendeteksi kekuatan bak monster yang mengamuk, dari kemampuan mendeteksi [Senjutsu] miliknya.

"Heeee!"

Dalam hitungan detik. Seorang gadis Loli langsung menabrak Naruto dari atas dengan sebuah pukulan. Keduanya pun terdorong dengan kecepatan tinggi menuju ke lantai dan menciptakan ledakan besar disertai kepalan debu. Tak selang beberapa lama, pelaku pemukulan Naruto melompat sambil bersalto dari dalam kepulan debu dan mendarat tidak jauh dari Issei yang tengah disembuhkan.

"Ara~Ara . . . . Seperti biasa, kau tidak memberi lawanmu kesempatan untuk bertindak Koneko-chan."

"Tapi tidak sesadis dirimu, Akeno-senpai." Balas gadis loli bernama Koneko dengan nada datar yang hampir menyamai si muka tebing, Uchiha Madara.

"Nfufufufufufu~~" Gadis bernama Akeno tertawa sadis lalu menjilati bibirnya sendiri. Rona merah pun hinggap di pipi putih mulusnya. "Benarkah, Koneko-chan?" Aliran-aliran petir kekuningan pun mulai bermunculan di sekitar tubuhnya dan dalam sekejap, petir itu langsung melesat ke kepulan debu tempat Naruto.

Duarr!

Ledakan besar pun terjadi saat petir Akeno menghantam kepulan debu itu. Namun ada yang aneh, karena kepulan debu itu tiba-tiba menghilang tergantikan api yang menguar hebat yang dikelilingi petir. Dan ditengah-tengah kobaran api itu, Naruto berdiri dengan gagahnya tanpa terluka sedikit pun kecuali hodie yang dikenakan penuh dengan debu.

"Pantasan Yuki-chan bisa diambil walaupun bersama si Teme, ternyata kalian main kroyokan." Sensor Naruto kembali merasakan energi iblis yang siap mengeluarkan sesuatu dari arah belakang. Dia langsung menghisap semua api yang menguar di sekitarnya lalu berbalik 180 derajat. Siap mengeluarkan salah satu tehnik yang sering dia pakai.

"[Sword Birth]"

"[Kaen no Hōkō]"

Dari arah Kiba pedang iblis berbagai bentuk dan jenis dalam jumlah banyak bermunculan dari lantai, sebuah tehnik yang dilatih olehnya setelah Peerage Rias kalah dalam [Rating Game] beberapa hari yang lalu. Dan bersamaan dengan itu, Naruto menyemburkan api dalam volume sangat banyak yang membuat hawa panas menyelimuti basemen.

Prang! Prang! Prang!

Blaarrr!

Satu per satu pedang iblis Kiba hancur terkena semburan api Naruto dan sebuah ledakan besar pun terjadi di tengah-tengah mereka menciptakan kepulan asap yang langsung menyelimuti sebagian besar area basemen.

'Ternyata masih belum bisa seperti yang dilakukan Issei-kun ketika Rating Game.' Batin Kiba mengamati betapa mudahnya semua pedang iblis yang dikeluarkan hancur terkena semburan api Naruto.

"P-Panas sekali!" Asia bergumam pelan dengan wajah dipenuhi keringat akibat dari hawa panas api Naruto tadi. "Sudah selesai Issei-san. Bagaimana?"

Issei bangkit secara perlahan lalu menggerakkan beberapa anggota tubuhnya. "Sudah mendingan. kemampuanmu memang hebat. . . . Arigatou, Asia!" Memerah'lah wajah gadis mantan biarawati itu mendengar pujian Issei.

"Sekarang bagaimana, Bochou?" Issei mengalihkan pandangan ke King-nya. Rias tersenyum licik lalu merespon ucapan pemuda itu.

"Kita serang secara bersama, walalupun mempunyai kemampuan memanipulasi api yang hebat. Tapi kita unggul dari kuantitas, jadi manfaat itu dengan baik!"

"Seperti biasa, Bochou pasti memiliki rencana sebelum bertindak."

Namun, mereka belum tau jika Naruto adalah murid dari lima shinobi paling disegani oleh Konoha dan salah satu dari lima shinobi itu adalah Uchiha Madara. Orang yang mengobrak-abrik klub penelitian ilmu gaib beserta anggota-anggotanya yaitu mereka sendiri.

"Ayo kita mulai dan perlihatkan kekuatan dari kelompok penelitian ilmu gaib!"

"Ha'i, Buchou!" Kelompok Rias kecuali Kiba pun merespon perintah dari King mereka lalu melesat secara bersamaan ke kepulan asap tempat Naruto berada. Dan saat berlari, Issei melantangkan kalimat promosi.

"[Promotion : Queen]"

Saat jarak mereka dari kepulan debu berkisar beberapa meter, mereka merasakan sesuatu yang besar sedang dipersiapkan di dalam kepulan asap. Akeno dan Rias langsung mengeluarkan sayap iblis mereka dan terbang ke atas. Sedangkan, Issei dan Koneko mengerem tubuh mereka secara bersamaa.

"[Renzoku Hōken]"

Dari kepulan asap di depan Issei dan Koneko. Api-api sebesar kepalan tangan Naruto keluar dalam jumlah tak terhitung. Kedua iblis muda itu pun memasang pose bertahan menyilangkan lengan di depan wajah dan menahan serangan yang mengerah ke kepala mereka. Untung saja, Issei sudah melakukan promosi ke bidak Queen sehigga pertahanannya meningkat drastis. Begipula Koneko yang dari sononya memang iblis reinkarnasi yang mengkomsumsi bidak Rook. Bidak yang unggul dari pertahana dan kemampuan fisik bak monster.

Sedangkan 10 meter di atas Issei dan Koneko. Rias yang tengah terbang menciptakan lingkaran sihir dan melemparnya menuju ke Akeno yang sudah siap dengan petirnya.

"Akeno!"

"Ha'i, Bochou!"

Akeno langsung melempar petir menuju ke lingkaran sihir tadi. Dan ukuran petir Akeno pun bertambah besar saat melewatinya dan melesat menuju ke kepulan asap yang mulai menghilang.

"[Hibarashi]"

Naruto menghentikan serangannya ke iblis yang berdiri di lantai dan langsung berjongkok lalu menghentakkan telapak tangan pada permukaan lantai saat merasakan serangan kombinasi Rias dan Akeno. Sebuah dinding api setinggi lima meter pun muncul di depan pemuda itu dan . . . .

Blaaaaarr!

. . . . Ledakan besar pun tidak terhindarkan saat petir dan api saling berbenturan menciptakan hembusan angin yang langsung menghilangkan kepulan debu. Rias menoleh ke bawah dan melihat kondisi pakaian dua bidaknya yang compang-camping.

"Daijobuka . . . . Ise, Koneko?" Keduanya mengangguk pelan membuat Rias menghela nafas lega.

"[Boost]"

Gautlet Issei kembali mengeluarkan suara mekanik tanda bahwa kekuatannya kembali bertambah dua kali lipat. Dan tak berselang lama, suara berat menakutkan tiba-tiba terdengar dari gautlet merah itu.

"[Sepertinya sudah waktunya, Partner]"

"[Explosion]"

Bumn!

Ledakan aura kemerahan dalam jumlah banyak tiba-tiba tercipta dari tubuh Issei membuat surai coklat dan seragam Kuoh Akademi yang dikenakannya bergerak tidak karuan. "Kibaaa!" Setelah itu, dia berteriak keras agar pemuda yang berdiri di belakang Naruto dapat mendengarnya.

Di sana, Kiba menyungging senyum menawan lalu menganggukan kepala.

Setelahnya. Koneko, Issei dan Kiba pun menerjang Naruto dari dua arah. Sementar di atas udara, Rias dan Akeno melayang dan siap melancarkan serangan berikutnya jika ada peluang emas saat Naruto lengah. Pemuda bersurai dark-silver itu pun segera berdiri tegak lalu memasang pose bertarung ala shinobi yang dikuasainya.

Pertarungan jarak dekat tidak seimbang pun terjadi. Satu demi satu serangan kombinasi acak-acakan bidak Rias dihindari Naruto. Pemuda itu agak kewalahan menghadapi kombinasi kecepatan serta kemampuan berpedang Kiba, kekuatan fisik Koneko dan serangan acak-acakan Issei.

Koneko mengirim sebuah pukulan lurus ke atas bertenaga monster menuju kepala lawannya. Naruto menghindar dengan memiringkan kepala lalu melancarkan serangan balik berupa tendangan tinggi yang sukses mengenai kepala bersurai silver Koneko hingga terpental dan menghantam dinding dengan kerasnya.

"Koneko-chan!" Issei meraung marah. "Brengsek!"

Tapi, Naruto tidak punya waktu untuk merayakan ataupu membalas umpatan marah itu. Karena Kiba dan Issei kini mengepung dirinya dari dua arah berbeda. Kiba dari arah kanan dengan hunusan pedang yang siap menusuknya dan dari arah kiri, Issei siap memukul bagian rusuknya dengan tangan kiri yang dilengkapi [Boosted Gear].

'Kombinasi mereka lumayan juga . . . . Pantas saja Yuki-chan bisa diambil dari Teme. Dan kalau kuingat-ingat, dia punya kebiasaan meremehkan lawan yang lebih lemah darinya. Haaa, pasti itu yang membuat Yuki-chan diambil. Dasar Teme sialan!' Bisa-bisanya Naruto malah membatin dan tidak lupa menyumpahi sang Uchiha ketika dalam keadaan terdesak dengan dua serangan yang siap mengenainya.

Dalam gerakan lambat. Naruto melompat dengan kekuatan minimal, dalam keadaan melayang diantara Issei dan Kiba. Dia mengubah posisi menjadi melayang horizontal dan memutar tubuhnya searah jarum jam.

Alhasil. Pukulan Issei hanya mengenai udara kosong di bawahnya begitupula hunusan pedang Kiba yang juga mengenai udara kosong di atasnya.

Syok! Itulah yang menimpa Kiba dan Issei melihat Naruto bisa menghindari dua seranga secara bersamaan dengan cara yang bisa dibilang sangat sulit. Memutar tubuh yang tengah dalam keadaan melayang. Tapi itu belum seberapa bagi Naruto. Dia adalah didikan Madara yang mempunyai kemampuan analisa yang tinggi untuk melancarkan serangan dari keadaan sesulit apapun.

"Giliranku!"

Tap!

Naruto menggunakan lengan kiri Issei sebagai tumpuan lalu memutar tubuh ke arah kanan dengan kaki kiri diluruskan menuju Kiba. Pemuda berwajah cantik itu pun melebarkan mata semakin syok dan . . . .

Duag!

. . . . Kura-kura kaki Naruto menghantam bagian samping kepalanya hingga terpental jauh dan terseret beberapa meter pada lantai keras basemen. Dia meringis kesakitan mencoba bangkit untuk melihat apa yang terjadi dengan Issei. Senyum kecil pun disungging olehnya saat melihat Issei siap melancarkan pukulan tangan kanan ke Naruto yang melayang membelakangi pemuda itu.

'Dia pasti kena kali ini!'

Duag!

Kini giliran Naruto yang terpental terkena pukulan Issei hingga menabarak tiang besar di sana.

Rias dan Akeno tidak menyia-nyiakan kesemepatan emas ini. Mereka berdua langsung melancarkan serangan kombinasi [Power of Destruction] dan petir berukuran sama besarnya menuju Naruto.

Duaarr!

Ledakan besar yang membuat tiang itu hancur berkeping-keping pun terjadi. Rias menyungging senyum kemenangan atas berhasilnya serangan kombinasi dia bersama Akeno mengenai Naruto. Tapi dia belum merasa puas. Pandangannya segera dialihkan ke satu-satunya Pawn miliknya.

"Issei, selesaikan!"

Issei mengangguk patuh. Tangan kirinya segera diarahkan menuju ke kepulan debu yang hasil serangan Rias. Perlahan dia mulai mengkonsentrasikan energi sihirnya di depan telapak tangan kiri hingga menciptakan bola kecil kemerahan.

"[Dragon Shot]"

Dan dengan sekali dorongan [Boosted Gear] miliknya. Sebuah laser besar kemerahan melesat menuju tempat Naruto dengan kecepatan tinggi. Jika dilihat dari besarnya laser itu. Kekuatan penghancurnya mungkin bisa melenyapkan Naruto. Tapi tidak ada yang tau seperti hasilnya.

Duaaarrrr!

Serangan Issei pun mengenai sisa-sisa tiang dan Naruto secara bersamaan. Serangan itu belum mereda dan kini menghantam dinding hingga menciptakan lubang besar seukuran laser itu. Karena mereka bertarung di besemen yang lokasinya berada di bagian paling bawah gedung. Jadi dibalik dinding itu adalah tanah dibawah permukaan kota Kuoh.

Saat serangan Issei telah usai. Peerage Rias pun berkumpul di satu titik kecuali Asia yang sudah berlindung agak jauh dari dia bukan tipe petarung.

"Bagaiaman jika Naruto tewas, Bochou? Madara-san pasti tidak tinggal diam." Kiba pun memulai perbincangan dengan mengutaran apa yang akan terjadi jika Madara tau Naruto dibunuh oleh mereka.

"Kali ini aku setuju denganmu Kiba. Aku tidak bisa membayangkan si muka datar itu mengamuk dan menghancurkan kita secara bersamaan." Bulu kuduk Issei pun berdiri membayangkan Uchiha Madara mengamuk habis-habisan.

"Apalagi jika menggunakan benda biru itu. Aku yakin masih ada tingkat yang lebih tinggi dari lengan dan tulang rusuk itu. Karena jika ada lengan dan tulang rusuk, pasti ada tubuh." Penjelasan Akeno pun membuat bulu kuduk Issei semakin berdiri, bahkan sekarang sudah bergoyang secara serentak.

"Tenang saja . . . . Kita tinggal bilang ke Onii-sama bahwa iblis liar yang kita lawan sangat kuat dan berhasil membunuhnya." Jelas Rias lalu mengalihkan pandangan ke lubang besar bekas serangan Issei. "Dan lubang itu kita jadikan bukti serangan dari ibl-"

Drap! Drap! Drap!

Rias seketika menghentikan ucapannya dengan mata melebar sempurna. Tidak hanya dia saja, Peerage-nya pun ikut-ikutan melebarkan mata ketika mendengar suara langkah kaki menggema dari lubang besar di depan mereka.

"Aku tarik kata-kataku tadi . . . . Kalian sudah lebih dari kuat untuk menjaga Rias-chan. Tapi, kalian harus tau bahwa . . . ." Naruto akhirnya menampakkan diri di ujung lubang dengan kondisi pakaian sobek di sana-sini. Di sudur bibirnya terlihat jejak darah yang mulai mongering. Dan di sekitar tubuhnya menguar aura emas bercampur api. Dengan ekspresi tenang dia pun menyambung kalimat yang terpotong tadi dengan nada datar.

" . . . . Di atas langit, masih ada langit!" Sambung Naruto agak datar. Kata-kata itu bukan cuma untuk Rias dan kelompoknya. Itu juga berlaku untuknya.

Naruto melompat dari ujung lubang dan mendarat tidak jauh dari Rias dan kelompoknya. Mereka langsung memasang kuda-kuda bertarung secara bersama.

"Sekarang adalah waktunya untukku melepaskan diri dari kekangan darimu, Rias-chan. Tapi sebelum itu-"

"Berhenti memanggilku seperti itu, brengsek!"

"Ya, Buchou benar! Berhenti memanggilnya dengan embel-embel itu! Sekarang kau bukan siapa-siapa Bochou lagi." Issei benar-benar tidak suka jika Naruto memanggil King-nya dengan suffix –chan.

Tentu saja Issei tidak suka. Rias adalah gadis yang menjadi target harem-nya. Dan panggilan yang disertai suffix –chan itu sepertu pertanda jika orang yang memanggil menyukai orang yang dipanggil.

"Justru karena aku bukan siapa-siapa Rias-chan lagi membuatku bebas memanggilnya seperti apa." Balas Naruto tenang, kelewat tenang malahan. Tidak peduli tatapan tajam dari Issei dan Rias yang kini terpampang jelas di depannya.

Perlahan kedua lengan Naruto mulai terayun gaya melingkar. "Sebelum aku pamit dan menyelesaikan masalah yang tidak kalah pentingnya dengan urusanku dengan kalian, terutama denganmu Rias-chan . . . . Akan kuberikan hadiah perpisahan untuk membalas apa yang telah kalian lakukan pada Imouto-ku,. . . . Dan juga sebagai kode keras agar kalian tidak mengganggu apalagi menyerang keluargaku."

Aura keemasan di sekitar tubuh Naruto semakin menggila membuat Koneko kembali merinding. Api Kurama pun mulai menguar di kedua lengannya. "Dan terakhir . . . . Hadiah ini tercipta karena terinspirasi rambut merah crimson milikmu, Rias-chan . . . . Jadi nikmati saja bagaimana rasanya hadiah ini!"

'Naruto, Hentikan! Ini seperti bukan dirimu saja!' Kurama tiba-tiba berniat menghentikan tindakan Naruto. Dan dengan cepat, pemuda itu langsung membalasnya. 'Tenang saja Kurama, bukannya tadi sudah kukatakan alasanku kenapa melakukan ini.'

'Cih, Terserah kau saja lah.' Dengusan pelan rubah itu pun menggema di kepala Naruto lalu memutuskan telepati mereka.

"Kalian cepat serang dia!" Rias langsung memerintahkan Peerage-nya untuk menyerang Naruto agar 'Hadiah' yang dimaksud tidak keluar. Karena dia yakin, itu adalah sebuah tehnik berskala besar.

Peerage Rias langsung melakukan melakukan perintahnya. Secara bersamaan mereka terbang dan melesat menuju Naruto. Tapi sayang . . . .

"Terlambat!" Gerakan ayunan memutar kedua lengan Naruto semakin cepat diikuti api Kurama yang semakin menggila.

"[Senpou]"

Naruto memundurkan kaki kanan dan sedikit menundukan badan dan keluarlah 'Hadiah' perpisahan itu.

"[Guren Bakuenjin]"

Wussh! Blaar!

Duar! Duar! Duar!

Dua aliran api yang membentuk pusaran berdaya hancur lumayan kuat seketika muncul dari ayunan dua lengannya. Rias dan Peerage-nya pun langsung terkurung dalam pusaran api itu. Secara bersamaan mereka bertariak kesakitan ketika ledakan-ledakan kecil bermunculan pada dua aliran api itu.

"Arrrrggggghhhhhhhhh!"

"Minnaaa-san!" Asia berteriak ketakutan saat keluarganya berteriak penuh akan rasa sakit yang membuat hatinya serasa diiris ratusan pisau tajam. Dia langsung berlutut dan cairan bening pun lolos dari pelupuk matanya.

Setelah 'hadiah' berupa serangan dari Naruto berakhir. Terlihat Rias dan yang lain berserakan bagaikan sampah tidak berguna dengan luka bakar di sekujur tubuh dan pakaian Kuoh Akademi yang compang-camping. Hanya Rias seorang saja yang kesadarannya masih ada, dalam pose tiarap dia berusaha keras bangkit tapi apa daya, rasa sakit akibat dari hadiah Naruto membuatnya tidak mampu menggerakkan kaki.

Pandanga Rias mulai kabur, samar-samar dia melihat Naruto berjalan ke Asia yang tengah menangis berlutut. "M-Menjauh da-darinya, Na-Na-ru . . . ."

Beruntung tehnik ini sudah disempurnakan Naruto sehingga dia bisa mengontrol daya hancurnya sesuka hati. Alhasil Rias dan Peerege-nya tidak sampai tewas ataupun terluka parah. Hanya luka bakar level menengah yang membuat mereka tidak sadarkan diri.

Bruuk!

Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Rias sudah keburu pingsan dan ambruk ke lantai besemen yang tadinya dingin menjadi panas.

.

Saat tiba di depan Asia, Naruto berjongkok menyakaman tingginya. Dengan gerakan lembut, dia mengelus surai pirang gadis mantan biarawati itu.

Merasa ada tangan kekar menyentuh mahkota pirang indahnya, Asia mendongak masih dengan cairan bening yang mengalir deras dari sudut matanya. Seketika dia terkejut. Di depannya, Naruto tersenyum tulus dengan wajah sedikit babak belur. "Tenanglah, Asia-chan . . . . Mereka tidak apa-apa, cuma tidak sadarakan diri saja. Paling lambat mereka akan sadar 1 jam lagi. Tapi kalau ingin cepat, segeralah sembuhkan mereka dengan kemampuanmu."

Naruto menghentikan belaian lembutnya pada rambut Asia. "Mengerti maksudku, kan?" Naruto kembali tersenyum saat Asia mengangguk tanda paham. Setelah itu, dia pun bangkit dan lalu berkata agak serak karena telah membuat gadis cantik dan polos macam Asia meneteskan air mata.

"Dan satu lagi. Aku minta maaf, karena sudah membuat keluargamu terluka."

Dan dengan polosnya, Asia membalas perkataan Naruto. "Tidak apa-apa kok . . . . Aku tau Naruto-san cuma membela diri saja."

"Baguslah kalau kau mengerti . . . . Kalau begitu aku pamit dulu, Asia-chan." Naruto menciptakan cahaya keemasan melintang horizontal di samping kirinya. "Jaa~nee!" Dan tepat setelah itu, dia pun melompat masuk ke cahaya tadi yang merupakan tehnik teleportasi ciptaannya sendiri.

.

.

Hari inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh Rias belakangan ini. Namun diluar dugaan, hari ini ternyata diakhiri dengan rasa sakit terkena tehnik yang awalnya Naruto ciptakan dan sempurnakan yang bertujuan melindunginya dari musuh-musuh yang kuat, malah menyakiti dia dan Peerage-nya kecuali Asia.

Tehnik itu adalah [Guren Bakuenjin] yang namanya terinspirasi dari surai crimson miliknya. Yaitu jika diartikan dalam bahasa internasional adalah . . . .

Crimson Lotus : Exploding Flame Blades!

Benar-benar akhir yang tragis bagi Rias.

Tapi bagi Naruto mungkin ini baru awalnya saja, karena Madara pasti belum puas atas apa yang telah dilakukan olehnya malam ini. Karena pria Uchiha itu sangat menginginkan agar dia membuat Rias merasakan apa yang lebih pedih dan menyakitkan dari . . . .

.

.

.

. . . . sebuah PENYESALAN!

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yooo~ . . . . Lama gak ketemu, Bakayarou~~ Konoyarou ~~ [Nge-Rap ala Killer Bee]

Bagaimana Chapter ini? Apa pada puas nge-liat Rias and The Genk dijadiin korban tehnik Naruto? Biar saya tebak! Pasti pada belum puas 'kan? Tunggu aja, masih ada yang lebih nyesek dari apa yang terjadi di Chapter ini.

Untuk balasan Review, biar tidak ribet. Saya akan menjawabnya secara ringkas saja.

Hmnn . . . Tenyata banyak yng mempetanyakan siapa si Hina-chan itu rupanya. Gadis ini bakalan terungkap dengan sendirinya, siapa dia dan apa masih hidup. Dan di akhir Arc II ini mungkin ada clue siapa si Hina sebenarnya . . . . Dan ingat! Hina itu hanya nama kecil. Bisa jadi itu Hinata, Kushina atau malah OC . . . . Muehehehehe. Klo saya sih dukung Mami-Kushina, ahh salah! Loli-Kushina maksudnyeee :v Lolz

Naruto mungkin saya jadikan Gray ato Semi-Dark. Itu tergantung bagaimana nanti sikapnya. Tapi sekarang masih tidak ada perubahan kecuali ke Rias. Mulai dari Chapter ini. Sikap Naruto ke Rias bakalan datar kek muke tebing Mbah Madara-teme.

Madara-teme gak ngasih masang apa-apa ke Dedek Yuki. Madara cuma hanya melakukan apa yang diminta Yuki yaitu berjalan-jalan bersama dan itu yang membuat Yuki sedikit lebih dekat dengan Madara ketimbang Naruto . . . . Udah gadis yang dicintainya yang ditikung, sekarang giliran Madara yang nikung posisi 'Good Onii-chan' Naruto. #PoorNaruto #SaveNaruto

Rias membenci Naruto bukan hanya karena janji itu, tapi ada kejadian lain setelah kepergian Naruto dari Underworld. Itu akan saya ungkap setelah pertarungan melawan Kokobibir :v Lolz . . . .

Semua tentang Orochi bakalan terungkap di akhir Arc ini.

Dan terakhir, Fic-ku yang di Fandom Naruto bakalan ane Updater paling cepat hari minggu. Tapi gak janji loh, krn masih ada masalah di RL yng musti ane selesaikan dulu.

Oke, mungkin tidak semua yang kalian tanyakan saya jawab diatas. Dan saya minta maaf klo ada Review yng tidak dibalas. Tapi tenang saja, Review kalian sudah kubaca secara keseluruhan kok. Maka dari itu, saya berterima kasih telah menyempat diri membaca dan me-review Fic abal-abal ini.

.

Root Wood and Stark Fullbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu! '-')/