The Half-Devil Lucifer
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lainnya yang muncul di Fic ini.
Genre : Supernatural, Family, Adventure, Romance, Etc.
Rate : M
Pairing : Akan muncul dengan sendirinya!
Warning : AU, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC, Adult-Theme, Violence, Fem!Hidan, DLL.
Author Note : Saya hanya meminjam karakter ataupun unsur dari Naruto, High School DxD dan beberapa dari Manga/Anime lain untuk membuat Fic ini . . . . Jadi, maklum saja jika tidak ada kesamaan dari karakter atau unsur lain yang ane ambil. Baik sedikit maupun banyak.
.
.
.
.
.
Arc II - Awal dari semua masalah!
Chapter 13 - Orochimaru dan tujuan besarnya!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke tempat pertarungan, lebih tepatnya di sebuah area konstruksi bangunan yang sebagian besar sudah tidak berbentuk lagi, hampir semua dinding bangunan menghitam, kaca-kaca jendela pecah, di beberapa lokasi kobaran api masih terlihat dan paling parah adalah tepat di pertengahan, sebuah pohon seukuran hampir sama besarnya tumbuh, menjadikan bangunan itu kini menyerupai rumah pohon 10 lantai.
Dan setelah serangan yang dilancarkan oleh Madara selesai,
Dia segera melesat kebawah dengan kecepatan bak roket, menghiaraukan hawa panas bekas serangannya, hanya dalam hitungan detik saja, dia mendarat tidak jauh dari tempat Hashirama dengan kerasnya sampai menciptakan ledakan kecil dan kepulan debu pekat.
"Uhuk . . Uhuk . . Uhuk . . . . Teme sialan!" Hashirama mengumpat kesal dan mengalihkan pandangan ke bekas ledakan yang dibuat sahabatnya.
"Hn!"
Siluet Madara perlahan terlihat di balik kepulan debu, berjalan dengan angkuhnya menuju mereka, tetapi keangkuhan Madara seketika lenyap ketika melihat wanita berambut abu-abu bernama Hilda, pada awalnya dia terkejut lalu berubah menjadi ketakutan, tubuhnya merinding disko dan ditambah ekspresi horor di wajah.
"Madaaaraaaa-kuuuuuunn!" Hilda segera bangkit dan menerjang shinobi tertampan di muka bumi itu.
Untung saja, Madara masih bisa mengendalikan tubuhnya sebelum Hilda mencapai dirinya, dia mengankat lengan kanan sehingga wajah cantik gadis itu menabrak telapak tangan Madara hingga tersungkur pada permukaan tanah.
"Kenapa Madara-kun?" Hilda meringkup menyerupai putri duyung yang tengah berjemur, lalu dengan wajah sedih dibuat-buat, pandangannya tertuju ke pria yang dipanggil. "Kenapa? Apa kau sudah melupakanku, Madara-kun?"
Jijik! Itulah yang dirasakan Madara tatkala melihat ekspresi sedih serta pertanyaan retoris Hilda, mana mungkin dia bisa melupakan wanita penganut aliran Dewa Jashin yang selalu menggodanya ketika di Konoha.
Dua orang berbeda gender itu diam beberapa detik, Hilda masih setia memasang wajah sedih yang dibuat-buat, sedangkan Madara lebih memilih memperhatikan gadis di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencoba mencari tau apa benar yang berada di hadapannya ini adalah Hilda.
"Kenapa kau masih hidup, Hilda? Bukannya kau sudah mati pada misi terakhirmu?" tanya balik Madara dengan nada datar lalu menyipitkan kedua mata yang masih memperlihatkan pupil merah darah berpola anehnya, "Atau jangan-jangan kau bersekongkol dengan ular busuk itu?"
Hilda terkejut di tempat, tubuhnya serasa membeku mendengar tuduhan Madara.
Sebenarnya dia juga tidak tau apa-apa tentang si ular busuk atau yang lebih dikenalnya dengan nama Orochimaru karena semasa di Konoha, sering mendengar panggilan itu dari Madara, dia berada disini hanya untuk beristirahat karena lelah mencari jalan menuju ke Konoha. Namun, Hilda pasti akan terkejut mendengar fakta bahwa tempat yang dia cari sebenarnya sudah rata dengan tanah.
Beberapa detik kembali berlalu tanpa ada jawaban dari Hilda, ketika Madara hendak melancarkan serangan lain berupa pertanyaan tajam ataupun tuduhan lain, ingatan Chi Bunshin yang bertugas mengelabui Yuki tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya.
'Sudah waktunya ya? Kuharap kau punya penjelasan logis kenapa melakukan ini, Naruto?' Batin si Uchiha penuh dengan rasa penasaran kenapa Naruto yang akhirnya memutuskan untuk mengikut sertakan Yuki dalam masalah mereka terutama pada fraksi iblis [Old-Faction Satan].
"Ada apa Madara-kun?" suara khas Hilda pun membuat lamuan Madara buyar, gelengan pelan pun menjadi jawaban dari pria itu kalau tidak ada apa-apa.
Pria berambut hitam perpaduan biru itu menoleh ke belakang, "Kalian bertiga, cepat kesini!" ucapnya memanggil tiga orang yang memasang ekspresi berbeda-beda. Ada yang syok, melongo bego dan kebingungan.
Hashirama, Jiraiya dan Genma mengangguk mendengar perintah mutlak dari sang Uchiha, ketiga orang itu segera berjalan menghampiri sang pemanggil yang tengah berdiri tepat di depan Hilda, salah satu shinobi Konoha yang ternyata masih hidup. Awalnya kunoichi ini dikira sudah tewas dalam sebuah misi tingkat-SS bersama Orochinaru. Tapi fakta berkata lain karena tepat di depan mata kepala mereka sendiri, Hilda masih dalam keadaan utuh, dalam artian tubuh bukan pakaian.
Jubah hitam milik Hilda ketinggalan di tempatnya tadi berbaring dan sudah dipastikan hangus ditelan api Madara, kini pakaian yang masih melekat di tubuhnya hanyalah lilitan perban untuk menutup dua aset berukuran standar tidak kurang sedikit lebih, untuk bawahan ternyata masih utuh berupa celana panjang biru tua dan sepatu shinobi ber-hak tinggi.
Setelah tiga orang yang dipanggil Madara tiba disana, si pria Uchiha langsung melayangkan pertanyaan karena penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Hilda selama misi itu.
"Jadi . . . . Bisa kau ceritakan jelaskan semua yang ingin kami ketahui?"
Hashirama mengangguk untuk memberi tanda bahwa dia juga penasaran. Sedangkan Jiraiya yang tidak mengetahui jika Hilda ternyata disangka tewas dalam misi lain dan bukan ketika penyerangan itu, hanya diam untuk mendengarkan.
Hilda yang tidak tau apa-apa tentang apa yang terjadi setelah misi itu pun memilih untuk mengangguk, dia takut Madara nantinya akan marah apabila malah bertanya kenapa tiba-tiba meminta penjelasan. Toh, ia juga tau apa yang sebenarnya terjadi dalam misi waktu itu, sebuah kejadian yang benar-benar diluar dugaan bisa terjadi dan juga kenapa ia bisa selamat.
"Begini . . . ."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- Flashback -
Sekitar 2 bulan sebelum Invasi Konoha.
Di sebuah desa yang damai dan tentram, memiliki nama Konohagakure yang mempunyai arti desa yang tersembunyi di balik daun. Dipimpin oleh seorang pria keturunan Senju, satu dari sepersekian klan kuat atau mungkin klan Senju'lah yang terkuat di Konohagakure, pria itu adalah Senju Hashirama.
Pada siang yang cerah, satu Tim khusus beranggotakan 5 orang tengah menghadap di ruang pemimpin Konohagakure.
"Apa kalian siap?" tanya Hashirama yang tengah duduk pada kursi Hokage, tangannya saling bertautan di bawah dagu sebagai tempat tumpuan kepala, dia menatap serius empat shinobi dan satu kunoichi yang tengah menghadap.
"Ha'i, Hokage-sama!" Tim itu pun merespon secara serentak dengan wajah serius dan sedikit gugup.
"Aku tau kalian gugup karena misi kali ini bisa dibilang misi rank-SS, semalam beberapa penduduk desa tiba-tiba terserang penyakit aneh, tubuh mereka menghitam dan emosi yang tidak terkendali." jeda sejenak, Hashirama memijit pelipis, dia tengah frustasi. "Ini kali pertama sejak berdirinya desa penyakit aneh ini muncul, di gulungan sejarah tidak menjelaskan penyakit macam apa ini . . . . Tapi yang jelas, penyakit ini sangat berbahaya karena orang yang terkena berubah layaknya monster yang haus darah, dua penduduk telah menjadi korban mereka." jelas sang Hokage, namun tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ia takut Tim yang dikirim kecuali Orochimaru menjadi gegebah dan tidak sabaran.
Tepat setelah Hashirama menjelaskan apa yang terjadi pada desa tercinta mereka, seisi ruangan tak ada yang mengeluarkan suara selama beberapa menit, hanya suara jarum jam dinding dan suara-suara yang berasal dari luar ruangan seperti kicauan burung dan ocehan penduduk yang tengah beraktifitas.
.
"Sekarang, dimana penduduk yang terserang penyakit itu Hokage-sama?" setelah beberapa menit diam, seseorang akhirnya membuka suara menyakan kabar terbaru.
Sang penanya adalah seorang pria berambut hitam pendek acak-acakan dan ada beberapa bagian yang jatuh membingkai wajahnya, mengenakan pakaian Jounin standar dan terdapat lambang kipas berwarna merah dan putih pada bagian punggung.
"Mereka sudah tertangkap dan sedang diteliliti di tempat Orochimaru."
"Dan kami sudah menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi penyakit ini." tambah pria berkulit putih pucat berambut hitam panjang dengan suara seraknya, dialah Orochimaru, dalang di balik penyerangan desanya sendiri 2 bulan dari sekarang, "Makanya aku segera membentuk tim ini untuk melakukan misi pencarian untuk membuat obat penyakit ini."
"Gah."
Satu-satunya wanita di tim itu mendesah malas, bosan mendengar percakapan yang lain, "Kenapa mereka tidak dibunuh saja? Bikin orang repot saja, kalau bisa biar aku yang melakukannya agar bisa mengirim persembahan untuk Jashin-sama." dan sebuah pemecahan masalah yang benar-benar khas seorang psikopat meluncur dari mulut gadis itu, 3 rekan setimnya pun memandang dia dengan tatapan kesal.
"Diamlah dasar psikopat mesum! Kenapa bukan kau saja yang menjadi tumbal untuk dewa bodohmu itu, Hilda." gadis bernama Hilda itupun langsung menatap tajam bagai silet ke orang yang baru saja menghina dewa-nya.
Tetapi, tatapan tajam itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, sekarang malam senyum menggoda yang pun disungging Hilda dan mengubah ekspresinya menjadi mesum, semburat merah hinggap di pipinya. "Nfufufufufu~~ Bagaimana kalau kau saja yang kujadikan tumbal? Dan kubiarkan kau menikmati tubuhku." goda Hilda dengan nada sensual. Well, ternyata wanita ini bukan cuma psikopat penyembah Dewa Jashin, ternyata sifat mesum juga dimiliknya. Itu bisa dilihat dari ucapannya yang secara gamblang dia malah ingin seseorang menikmati tubuhnya.
Tapi, fakta lain mengatakan walau seorang gadis mesum, selama ini belum ada yang mau atau mungkin berani mengambil keperawanan gadis ini, mungkin karena sifat psikopatnya membuat para lelaki tidak ada yang mau menjadi kekasih apalagi mengambil keperawanannya.
"Hoeeekkkkk, ogah amat deh! Bisa-bisa keturunanku ikut menyembah dewa sesatmu." Hilda kembali mengirim tatapan tajam untuk kedua kalinya ke lawan bicaranya, dan secara bersamaan shinobi itu juga melakukannya, mengirim tatapan tajam.
"Sudah-sudah! Hentikan kalian berdua!" perintah Hashirama tegas diakhiri desahan pelan melihat tingkah salah satu kunoichi terkuat di desanya, dua orang yang tengah baku lempar tatapan tajam itupun seketika membeku ditempat, Hashirama tidak habis pikir kenapa memiliki kunoichi bersifat psikopat macam Hilda.
"Bukan masalah bunuh ini bunuh itu, Hilda . . . . . Tapi, ini menyangkut kenyamanan penduduk desa, jika kita membunuh penduduk yang terkena penyakit itu, Maka keluarga mereka akan merasa sangat terpukul dan menyalahkan para tetua dan aku sebagai pemimpin karena tidak mampu menemukan sulosi lain."
Perhatian Hashirama lalu dialihkan ke pimpinan misi.
"Dan Orochimaru, kau yakin misi ini akan berhasil? Ah, dan juga sesuatu yang ingin kau ambil itu apa benar bisa menyembuhkan penyakit yang melanda desa kita?"
Orochimaru mengangguk mantab dan menyungging seringai ular-nya. "Tentu saja Hokage-sama! Aku sudah meneliti tubuh penduduk yang terkena penyakit itu dan aku berhasil menemukan sulosinya dari gulungan peninggalan Hagoromo-sama." jelas sang pria ular itu dengan suara seraknya yang agak menakutkan.
Hashirama melepaskan kedua tangan yang bertautan sejak tim di depannya menghadap. "Baiklah . . . . Kalau begitu, aku akan memberikan misi ini kepada kalian berlima, tapi sebelum melakukannya. Lakukan prosedur seperti biasa."
"Ha'i Hokage-sama!" jawab kelima shinobi itu secara serentak.
Hashirama berdiri dari kursi Hokage lalu beranjak menuju pintu melewati Orochimaru dan timnya. Saat berada di ambang pintu, isyarat untuk ikut yang ditujukan oleh tim itu dilakukan oleh Hashirama.
Beberapa menit kemudian, mereka berenam kini berada di dalam suatu ruangan penuh akan benda aneh khas shinobi untuk mengorek informasi. Satu per satu Tim Pencari mulai dipasangi segel pada punggung mereka, simbol segel itu berupa 6 gambar simbol balok bersusun vertikal dikelilingi tulisan kanji melingkar. Ketika tiba giliran Orochimaru, secara sembunyi-sembunyi dia menyeringai misterius selagi 2 orang memasang segel pada punggung berkulit pucatnya.
"Apa sudah semuanya?" Sang Hokage yang tengah berdiri sambil menyilangkan lengan di dekat pintu masuk melempar pertanyaan singkat.
Dan jawaban yang diterima pun tidak kalah singkatnya.
"Sudah!"
Hashirama menghela nafas berat, jujur melepas beberapa shinobinya keluar desa untuk keempat kalinya merupakan hal yang sangat beresiko. Bukan hanya informasi tentang Konohagakure akan terbongkar walalupun sudah diberi segel yang akan langsung menghancurkan tubuh jika mengatakan hal yang tidak patut diucapkan kepada orang lain. Tapi juga keselamatan shinobi-shinobinya. Semasa kepemimpinannnya, dia baru mengirim 4 tim keluar desa dan selalu saja ada yang menjadi korban. Baik terluka ringan, parah bahkan tewas.
Tapi, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Desa kini dalam keadaan darurat 1, dua kejadian besar baru saja terjadi dan semua itu diakibatkan oleh beberapa penduduk yang terjangkit penyakit aneh, membuat mereka berlaku seperti seorang monster yang haus akan darah, bukti dari hal itu adalah tewasnya puluhan shinobi namun Hashirama dan Orochimaru merasahasiakan hal ini dan mengatakan hanya dua penduduk yang telah menjadi korban, untuk saat ini.
Helaan nafas berat untuk kedua kalianya Hashirama lakukan. "Baiklah, kalian berlima segeralah ke pintu pelindung sebelah barat, aku sudah mengirim perintah kepada penjaga Kekkai sementara untuk membuka pintunya untuk kalian berlima . . . . Dan kau Orochimaru," tatapan Hashirama sedikit menatap tatkala Orochimaru menjadi pusat perhatiannya.
"Sebagai pemimpin, kau bertanggung jawab penuh atas misi ini dan rekan se-timmu."
"Aku mengerti, Hokage-sama!" Respon Orochimaru dengan nada seraknya sambil memparbaiki posisi armor standar Jounin Konohagakure yang dia kenakan. Setelah selesai, dia menghadap kebelakang dan menatap satu persatu anggota timnya yang mengenakan armor sama kecuali Hilda yang menutupi dengan jubah hitam hitam.
Senyum penuh kelicikan pun disungging Orochimaru, membalik tubuh mengarah ke pintu keluar. "Ayo berangkat!"
Ketika Orochimaru dan keempat Jounin lain melangkahkan kaki mereka menuju pintu keluar, perasaaan gelisah pun dirasakan Hashirama ketika berpapasan dengan Orochimaru, dan ini adalah kesekian kalinya ia merasakan hal ini, gelisah akan terjadinya sebuah kejadian besar dalam misi ini, atau mungkin lebih buruk lagi dampak setelahnya di masa depan nanti setelah kejadian hari kemarin.
Hashirama bergesar beberapa meter lalu memutar tubuhnya menghadap keluar, perasaan gelisah yang dirasakannya pun semakin kuat tatkala cahaya mentari mulai terhalang awan di atas langit, tubuh Orochimaru pun terlihat seolah ditelan kegelapan secara perlahan ketika cahaya matahari yang menyinari tubuh pria itu terhalang.
'Semoga tidak ada yang terjadi selama misi ini.' Batin pengguna elemen kayu penuh harap.
.
.
.
Beberapa jam setelahnya, jauh dari lokasi desa Konoha.
Tim Orochimaru kini menyusuri sebuah hutan lebat pada kawasan selatan Jepang, saat meninggalkan Konoha, Orochimaru sudah menjelaskan semua tentang misi ini pada tim yang dipimpin, tentu saja itu semua hanya kebohongan belaka karena sebenarnya ada niat jahat dibalik misi ini.
"Nee~Nee, sampai kapan kita melompat-lompat seperti ini, Orochi-kun?"
Orochimaru yang berada di posisi paling depan melirik ke belekang lalu beralih pada sebuah pohon di sebalah kanan, pupil kuning keemasn berpola vertikal itu fokus pada sebuah tanda pada batang pohon itu, tanpa sepengetahuan anggota tim-nya karena berada di belakang, diam-diam Orochimaru menyeringai, tempat untuk memulai rencana besar yang telah disusun rapi akan segera dimulai sudah di depan mata.
"Kita sudah tiba di tujuan kita."
Orochimaru berhenti melompat dan mendarat pada pohon besar, rekan setim pria itu ikut berhenti agak jauh dari posisi Orochimaru dengan berbagai pose. Ada yang berdiri secara terbalik, adapula yang berdiri melintang horizontal pada batang pohon lain, itu semua berkat kemampuan Chakra mereka.
Hilda dan 3 shinobi lainnya pun mengedarkan pandangan ke segala arah, tapi yang mereka lihat hanya hamparan pepohonan rimbun yang memiliki aura tidak mengenakkan, seperti ada yang sesuatu yang menyelubunyinya.
Dalam keadaan membelakangi tim yang di pimpin, Orochimaru mengankat tangan kanan dan mengepal jari-jarinya, memberi isyarat agar menahan posisi dan tidak mengambil tindakan.
"Aku akan memeriksa keadaan! Kalian tetap disini dan tunggu kode dariku!" Tim Orochimaru mengangguk paham mendengar perintah darinya.
Setelah itu, Si Shinobi penggila penelitian langsung melompat ke pohon lain pada sebelah kanan, berpura-pura mengintai namun ada niat jahat di balik itu.
'Saa, mari kita mulai . . . . Khukukukukukuukuku!' batin pria ular itu diakhiri tawa khasnya, tanpa menunggu lama, dia langsung menyentuh simbol pada batang pohon tersebut.
Cahaya keunguan tiba-tiba menyelimuti lengan kiri Orochimaru, simbol lingkaran dan dua ekor ular yang saling menggigit ekor satu sama lain membentuk menyerupai angka delapan, warna kebiruan pun bersinar terang di simbol pada batang pohon itu.
Tubuh Hilda tiba-tiba bereaksi pada simbol yang dimunculkan oleh Orochimaru, tapi sayang dia tidak menyadari hal itu sehingga membuatnya bingung mengenai reaksi barusan.
'Apa itu tadi?!' Hilda mengedarkan pandangan ke segala arah hingga berhenti pada Orochimaru.
Tapi sudah terlambat . . . .
Hilda dan 3 shinobi lain itu tiba-tiba terkejut bukan main, cahara kehijauan tiba-tiba muncul dari arah bawah, secara bersamaan mereka menundukan kepala, sebuah lingkaran sihir yang berukuran lumayan besar, berdiater 10m berwarna kehijauan tercipta di bawah mereka dan seketika . . . .
"Apa it_"
Laser berwarna kehijauan melesat dari lingkaran sihir tadi menuju ke mereka, menciptakan sebuah ledakan besar yang menghancurkan semua bagian pohon yang masuk dalam lingkup serangan itu, termasuk pohon tempat Tim Orochimaru.
Mereka segera melompat menjauh untuk menghindar, tapi mereka terlambat beberapa detik saja karena kecepatan laser pemusnah itu.
"_Arrrrrgggggghhhhhhhh!"
"Si-sialan . . . . Argghhhhhhhhh!" salah satu pria di tim itu sempat mengumpat kesal lalu berteriak kesakitan. Pria itu memiliki ciri-ciri berambut coklat berduri dan memiliki jenggot, mengenakan pakaian tempur Elite-Jounin Konohagakure, ikat kepala berplat logam dengan simbol desa Konoha tepat di tengahnya terpasang di dahinya.
'Aku akan segera menyusulmu, Otou-sama!' batin pria itu pasrah akan kematian yang sudah tepat di depan matanya.
Terikan penuh rasa sakit pun dikeluarkan, perlahan tubuh mereka mulai hancur terkena laser itu hingga akhirnya hilang tak bersisah. Keheningan malam di hutan itu pun hilang seketika, cahaya kehijauan melesat ke atas langit bagai roket, menciptakan serentetan ledakan beruntung.
Orochimaru berbalik dan tersenyum penuh kemenangan atas dimulai semua rencana yang dimulainya. Tapi satu hal yang pasti, satu orang tidak tewas dalam serangan mendadak itu.
Sang Kunoichi mesum dan sadis penyembah dewa Jashin, Hilda!.
- Flashback Off -
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" . . . . Aku berhasil melompat kebelakang untuk menghindar, namun karena terlalu memaksakan diri melompat. Kepalaku terbentur pada batang pohon dan membuatku terjatuh dari ketinggian, pandanganku mulai memburam dan samar-sama aku melihat seseorang menghampiri Orochi-kun . ." Hilda memberi jeda sejenak, menundukan kepala untuk mengingat kejadian terakhir yang dia ingat sehabis ledakan laser pemusnah. "Dia seorang pria, mengenakan pakaian yang aneh. Itu saja yang kuingat, karena setelah itu pandanganku sepenuhnya menghintam."
"Terus, bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" tanya Hashirama, penasaran bagaimana bisa salah satu kunoichi kuat di desanya bisa berada di sini, setelah selamat dari tragedy misi beberapa bulan yang lalu.
Sedikit mengejutkan memang, kenapa hanya gadis itu yang selamat sedangkan 3 rekannya berada di level berbeda dari gadis itu.
Tapi, mengingat kemampuan dari kunoichi yang sekarang tepat berada di depannya, bisa dikatakan sangat melenceng dari batasan seorang manusia . . . . Sebuah kemampuan aneh dari kebiasan ekstrim menyembah dewa yang asal-usulnya tidak diketahui, Jashin-sama. Kemampuan yang membuat dirinya sangat sulit untuk dibunuh walau organ vital seperti jantung, paru-paru dan sebagainya sudah tertusuk benda tajam.
Hilda mendongak sejenak, menatap wajah mantan pemimpin Konohagakure lalu menjawab dengan nada lesuh. "Aku sangat lelah berjalan selama 2 bulan lebih dan 2 hari yang lalu tempat ini ketemukan secara tidak sengaja, tapi tak kusangka ternyata tempat ini ada yang menggunakannya."
Hashirama dan Madara pun menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari Hilda.
"Hmnnn . ." di belakang Hashirama, Jiraiya terlihat memasang pose berpikir, mengusap dagu pelan sembari mendongak ke langit. "Prediksiku, kemungkinan orang yang dilihat Hilda menghampiri Orochimaru itu iblis dari Fraksi Maou lama."
"Aku setuju denganmu, Jiraiya!" Hashirama menoleh kebelakang dan menganggukan kepala. "Kemungkinan besar itulah kebenarannya, karena yang menyerang Konoha adalah fraksi itu."
Madara menggertakkan gigi, kedua jari-jari tangan terkepal kuat-kuat, tubuh yang bergetar menahan kemarahan tingkat dewa, semua itu terjadi setelah Hilda menyelesaikan penjelasannya tentang apa yang terjadi sebenarnya pada misi itu.
Sangat berbeda dari yang pihak Konoha ketahui.
Pihak Konoha hanya mengetahui jika Tim itu diserang segerombolan mahluk supranatural, dan anehnya kenapa bisa Orochimaru mengirim sebuah pesan tentang misi itu menggunakan ular putih dari tehnik pemanggil.
'Cih, akhirnya firasatku tentang Kuchiyose itu akhirnya terjadi juga!'
Dan prediksi dari Hashirama dan Jiraiya semakin membuat kemarahan sang Uchiha menjadi-jadi, tentang Kuchiyose yang dimaksud olehnya adalah ular kecil Orochimaru yang membawa pesan kematian tim itu sehari setelah keberangkatan.
"Ular brengsek!" pria itu pun berjongkok dan meninju permukaan tanah hingga retak, urat-urat lengan kanan yang digunakan memukul terlihat jelas, bukti atas kemarahan sang Uchiha. Dia jelas marah, karena ada salah satu shinobi yang cukup dekat dengan dirinya karena berasal dari klan Uchiha dan shinobi itu termasuk tim pencari.
"Tenangkan dirimu!" Hashirama menghampiri sahabatnya dan menepuk pundak kekar berlapis plat baja bagian dari armor pria Uchiha itu. "Mungkin saja pria yang dilihat Hilda adalah lawan Orochima_"
"Kau terlalu baik Hashirama!" Madara mendongak dan membentak mantan pemimpin Konoha. "Jika memang di musuhnya, kenapa Orochimaru masih hidup? Lokasi Konoha bisa diketahui oleh mahluk keparat itu? Dan mana mungkin seorang musuh membiarkan lawannya mengirim pesan untuk meminta bala bantuan?" sembur Madara penuh emosi, melayangkan serentetan pertanyaan yang membuat Hashirama bungkam.
"Bukannya prediksimu tadi semakin memperkuat kemungkinan Orochimaru'lah yang membuat desa diketahui lokasinya."
"Aku sama sekali tidak mempunyai jawaban untuk semua pertanyaanmu, Madara . . . . Tapi, satu hal yang perlu kau tau. Aku sama sepertimu, bahkan lebih!" ucap pengguna elemen kayu itu dengan ekspresi serius, iris hitam yang sama sekali tidak memperlihatkan kebohongan atas apa yang baru saja diucapkan. "Sebagai seorang pemimpin, akulah yang sangat marah! Dihianati oleh bawahan sendiri, dibohongi atas kejadian yang menimpa para petugas divisi Kekkai dan membuat desa yang kupimpin hancur hanya dalam beberapa jam saja. Apa kau pikir itu tidak cukup untuk membuatku marah?"
"Dan kau Hilda . ." Wanita itu tersentak, panggilan Hashirama terdengar begitu datar, "Semestinya kau kembali ke Konoha dan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi dalam misi itu."
"Cih, diamlah Hashi-dobe!" Hilda tiba-tiba mendongak dan membentak Hashirama, pemimpinnya sewaktu Konoha masih ada. Dia merasa marah, diperlalukan seperti seorang tersangka sebuah kasus kriminal padahal dia sama sekali tidak tau apa-apa tentang pembantaian Konoha karena tidak ada disana saat kejadian terjadi. "Kau tau, aku sebenarnya sangat ingin kembali ke desa dan melaporkan penyerangan itu. Ta - tapi, aku malah tersesat dan tak tau arah jalan pulang . . . . Itu semua karena Orochi-kun mengambil rute yang sangat sulit untuk diingat . ."
"Dan sebenarnanya apa yang terjadi? Kenapa anda berada disini bukannya di Konoha menjaga desa? Dan menanyakan kenapa aku tidak kembali ke desa?"
"Konoha sudah hancur!"
Seketika mata Hilda melebar syok, iris ungu yang mengecil dan bergetar hebat. Jadi, itu penyebab Hashirama dan Madara berada disini, Konoha sudah hancur dan menyisahkan empat orang saja termasuk dirinya sendiri. Ini benar-benar mengejutkan untuk Hilda, ternyata selama dia berada di luar Konoha, banyak hal yang terjadi di desa kelahirannya.
"An-Anda tidak bercanda 'kan, Hokage-sama?"
Hashirama menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Hilda. "Tidak! Aku serius . . . . Kalaupun aku berbohong, untuk apa aku meninggalkan Konoha? Padahal akulah pemimpinnya. "
Seketika, psikopat mesum penyembah dewa Jashin itu dibuat terdiam seribu bahasa, tidak tau mau menanyakan apa lagi untuk memastikan bahwa Hashirama tidak berbohong perihal kehancuran Konoha, desa tempat dia lahir dan dibesarkan sebagai seorang Kunoichi, walau sering dikucilkan karena kemampuannya.
Perasaan gadis ini mulai campur aduk . . . . Marah dan sedih karena desa tercinta sudah hancur tak menyisahkan apapun kecuali dia dan tiga shinobi di dekatnya, menyesal karena tidak kembali setelah penyerangan pada misi itu. Iris ungu indahya bergetar dan berkaca-kaca, cairan bening mulai mengalir dari sudut kelopak mata.
'Andai saja, aku bisa kembali ke desa waktu itu_'
"Sudah hentikan Hilda!" gadis itu mendongak dan mengarahkan pandangan ke Madara yang tiba-tiba angkat bicara, menghentikan penyesalan dalam hatinya. "Aku tau yang kau pikirkan, pasti ucapan Hashirama tadi, tentang kembali ke Konoha . . . . Kau tidak perlu menyesalinya, Konoha sudah terlanjur hancur. Penyesalanmu tidak akan mengembalikan semuanya."
"Madara benar! Kau tidak usah menyesalinya!" Jiraiya ikut nimbrung dengan membenarkan ucapan dari si Uchiha.
Hilda tersentak mendengar ucapan panjang lebar Madara yang seketika menenangkan dirinya, mengabaikan fakta irit bicara si Uchiha, Hilda mengangguk dan menghapus kasar air mata di sudut matanya, dia tiba-tiba mendongak dan melihat Hashirama mengulurkan tangan kanan untuk membantunya berdiri.
"Penyerangan Konoha bukan sepenuhnya salahmu, seharusnya akulah yang pantas disalahkan." ucap Hashiram menambahi, ia merasa bersalah karena kurang tegas dan terlalu ceroboh karena mengikuti saran dari Orochimaru tentang penyakit yang melanda desa waktu itu.
Hilda tidak menanggapi Hashirama dan lebih memilih menerima uluran pria itu, berdiri secara perlahan, pandangannya terarah ke puncak gedung di samping kirinya. "Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Hokage-sama?"
"Tentu saja . . . . Mengejar ular brengsek itu!"
Pandangan Hilda kembali teralih, mengarah ke Madara yang menjawab pertanyaannya tadi dengan nada dingin. "Ja-Jadi, O-Orochi-kun yang . ."
"Hn." Madara tiba-tiba mengangguk dan mengeluarkan gumaman ambigu, memotong ucapan Hilda. "Dialah dalang di balik penyerangan Konoha!"
"Tapi belum sepenuhnya benar! Informasi yang kudapat darinya tidak terlalu detail." tambah Jiraiya dengan ekspresi serius. Itu karena dia yang pertama kali mendapat informasi ini langsung dari Orochimaru.
"Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahui semua kebenarannya adalah . ." Hashirama memberi jeda sejenak, menatap 2 shinobi dan 1 kunoichi di dekatnya secara bergantian. Secara serentak, mereka berempat menganggukkan kepala.
.
.
". . memaksa Orochimaru!" sambung keempatnya secara bersamaan.
Dan tepat setelah itu, Genma segera menuju pintu masuk area untuk menunggu kedatangan Naruto, Yuki dan Kotetsu. Sedangkan empat orang yang selamat dari penyerangan Konoha segera berlari memasuki bangunan menuju lantai 7, lantai dimana Madara melihat sebuah ruangan yang dilapisi 2 pelindung berbeda menggunakan [Sharingan] beberapa menit yang lalu ketika hendak menuju puncak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beralih ke hutan sekitar 5 kilometer dari lokasi pertarungan, 3 orang tengah berlari melewati rimbunnya pepohonan. Mereka adalah Naruto, Kotetsu dan Yuki.
"Nii-chan, a-aku takut!" Yuki yang tengah berada di gendongan Naruto berujar pelan, kaitan kedua lengan pada leher kakaknya pun dipererat dan tubuhnya dari tadi terus merinding melihat hutan yang dilewati, sepertinya ada sesuatu pada hutan ini yang membuat Yuki ketakutan.
'Dingin?' Naruto membatin heran merasakan hawa lengan Yuki yang melingkar di lehernya. Dia lalu menoleh ke samping kiri, menatap wajah ketakutan dari sang adik. "Tidak usah takut . . . . Bukannya sudah kukatakan aku akan selalu melindungimu apapun yang terjadi."
"Nee . . Kotetsu-san, apa tempatnya masih jauh?"
Pria yang dipanggil menoleh ke belakang tanpa menghentikan laju berlarinya. "Kira-kira 30 menit lagi, Naruto-san." pandangannya kembali terarah ke depan, dan samar-samar dia bergumam sangat pelan.
"Jika tidak halangan!"
"Kau mengatakan sesuatu, Kotetsu-san?"
Pria yang dipanggil kembali menoleh kebelakang. "Tidak kok, mungkin hanya suara angin." Kotetsu menghela nafas lega ketika melihat Naruto menganggukan kepala. Untung saja pemuda itu mempercayainya, kalau tidak mungkin saja Naruto pasti meminta agar perjalanan ini ditunda dulu untuk memulangkan Yuki ke kediaman Yasaka.
Yap, itu mungkin saja dilakukan mengingat Naruto sangat overprotektif pada sang adik, itulah yang Kotetsu tau tentang Naruto dari Jiraiya.
Sekitar 3 menit berlalu, hanya suara dedauanan yang saling bergesekan tatkala angin berhembus cukup kencang dan langkah kaki dua orang yang tengah berlari terdengar di hutan itu. Ketiga orang itu memilih diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
'Setengah jam lagi lagi yah . . . . Kurasa cukup untuk menceritakan semuanya ke Yuki.'
Naruto menerawang jauh ke depan, melihat jalur yang akan mereka lewati, areanya cukup terbuka dan cukup untuk melakukan tindakan apabila ada serangan mendadak.
Menghela nafas sejenak, Naruto segera menoleh ke wajah sang adik yang terlihat masih ketakutan, "Nee~ Yuki . ."
"Ada apa, Onii-chan?" Yuki sedikit keheranan, suffix -chan yang selalu ditambahkan sang kakak pada namanya menghilang entah kemana. Ya, akhirnya dia menyadari hal ini, walau di apartemen mereka tadi, suffix -chan di namanya sudah dihilangkan oleh Naruto. Yuki berpikir, Apa mungkin sang kakak mulai tidak menganggapnya sebagai adik karena kejadian beberapa menit yang lalu di kediaman Yasaka?
Ataukah mungkin ada hal lain yang membuat Naruto membuang suffix -chan pada namanya?
"Apa kau masih ingat tentang iblis 'kan?"
"Hmmmpt!" Yuki mengangguk antusias.
"Sebenarnya bukan itu yang dimaksud iblis."
"Lalu apa itu iblis, Nii-chan?" tanya Yuki penasaran alis lentiknya pun saling bertautan satu sama lain.
"Baiklah . ." Naruto memberi jeda sejenak, menghirup oksigen di sekitarnya untuk memenangkan diri. ". . Karena sebentar lagi kita menghadapi hal yang mungkin akan mengubah semuanya. Maka akan kujelaskan apa yang kuketahui . . . . Dengar baik-baik!"
Yuki kembali mengangguk, namun kali ini ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung. "Menghadapi?"
"Dengarkan saja baik-baik! Semuanya akan terjawab dalam ceritaku ini."
"Aku mengerti, Nii-chan!"
Naruto menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia tidak menyangka hari yang ditakutkan olehnya tiba juga. Hari dimana dia harus menjelaskan bahwa di dunia tidak hanya manusia yang berjalan di atasnya, ada banyak mahluk lain seperti iblis, malaikat, malaikat jatuh dan mahluk-mahluk supranatural lainnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke lokasi area konstruksi.
Sisa-sisa kebakaran dari elemen api Madara masih terlihat jelas di beberapa bagian bangunan terutama di bagian puncak pohon di bagian atas. Sedangkan di halaman, kelompok shinobi dari Konoha terlihat tengah bersiap-siap menuju tempat orang yang mereka cari, Orochimaru.
"Tapi, apa ada yang tau dimana lokasi Orochimaru?" Jiraiya membuka suara, menatap satu per satu rekan se-timnya.
"Hn . ." Jiraiya dan yang lain langsung menatap seseorang yang tiba bergumam ambigu menjawab pertanyaan tadi, Madara. "Di lantai 7 pada bagian barat."
"Saat aku melompat mengikuti Mokuton dobe, aku melihat semacam Kekkai disana." tambah Madara agar tidak ada yang bertanya lebih lanjut kenapa ia bisa tau lokasi Orochimaru.
"Kalau begitu, . . Ayo berangkat!" perintah Hashirama begitu semangat, tidak lupa mengacungkan jari telunjuk menuju ke lantai yang disebut oleh Madara tadi.
Madara dan Hilda mengangguk paham saran dari Hashirama, sedangkan Jiraiya hanya berdehem pelan lalu mengalihkan pandangan ke Genma. Memberitahukan agar kembali ke pintu masuk untuk menunggu kedatangan Naruto.
Setelah itu, mereka berempat pun berangkat menuju lantai tujuh bangunan konstruksi. Tidak sabar lagi ingin mengetahui apa motif dibalik penghianatan Orochimaru, dan khusus untuk Madara, ia sangat ingin menghancurkan ular ini hingga ke sel-sel terkecil-nya.
Agar cepat sampai tujuan, mereka berempat mengalirkan Chakra ke kaki dan berlari pada batang pohon hasil dari tehnik Mokuton Hashirama.
Hanya butuh sekitar 2 menit, mereka pun tiba di lantai 7 dan segera menuju lokasi dipimpin oleh Madara.
"Ini dia!"
Madara menghentikan langkah diikuti yang lain, di depan mereka kini terpampang pelindung [Kekkai] berjumlah dua, lapis pertama adalah sebuah Kekkai transparan untuk mengisolasi Chakra atau aura mahluk di dalamnya dan lapisan kedua adalah Kekkai untuk menahan segala macam serangan.
"Orochimaru!"
Karena tidak sabaran, Jiraiya langsung memukul Kekkai lapis kedua, namun tidak menghasil efek apa-apa selain cahaya putih yang begitu menyilaukan. Madara, Hilda dan Hashirama segera menyilangkan lengan di depan wajah, memasang kuda-kuda bertahan takut ada sesuatu yang datang setelah cahaya putih itu menghilang.
Setelah cahaya menghilang, Madara mengganti kuda-kuda bertahan menjadi serangan. "Jiraiya menjauh dari situ!" perintah si Uchiha muka tebing, Mangekyo Sharingan miliknya pun diaktifkan membuat aura kebiruan mulai menguar dari tubuh Madara dan membentuk lengan mahluk astral yang berukuran cukup besar.
Hilda menatap kagum apa yang diciptakan oleh Madara, tentu saja kagum. Ini adalah kali pertama ia melihat kekuatan Madara yang satu ini, karena sepengetahuan Hilda Madara hanya memiliki kemampuan elemen api [Katon] dan tentu saja mata kebanggaan klan Uchiha, Sharingan.
[Susano'o]
Lengan mahluk astral Madara pun menghantam [Kekkai] itu, menciptakan retakan yang perlahan menjalar ke segela penjuru hingga akhirnya pelindung itu pecah layaknya sebuah cermin.
Setelah pelindung itu lenyap secara keseluruhan, di dapan Madara sebuah area yang cukup luas terpampang jelas, mungkin setelah jadi tempat ini merupakan aula pertemuan bangunan besar tempat mereka.
Tapi, sebelum mereka melangkahkan kaki memasuki area itu, sesosok mahluk besar kembali muncul tepat di depan pintu masuk mengagetkan mereka berempat, mahluk itu berukuran 2 kali besar dari seekor gajah, memiliki empat tanduk di ujung kepala, berdiri dengan dua kaki.
"Groaaarrrrrrr!" mahluk itu meraung keras, menciptakan hembusan angin yang cukup kuat untuk menghempaskan manusia biasa, lantai yang dipijak pun retak.
"Cih! Sebenarnya berapa banyak hasil penelitian ular brengsek itu?" tanya Madara yang dilindungi oleh lengan mahluk astral [Susano'o] miliknya.
"Jika kuberitahu, kalian pasti akan terkejut." seseorang menjawab pertanyaan Madara dengan nada serak lalu diikuti suara langkah kaki terdengar dari balik monster itu.
Madara, Hashirama dan Jiraiya menyipitkan mata, memfokuskan pandangan pada sumber suara tadi, mereka sangat yakin kalau pemilik suara itu adalah Orochimaru, orang yang mereka cari-cari.
"Orochimaru!" desisan tajam keluar dari mulut Madara yang tiba-tiba saja melesat menuju Orochimaru masih dengan lengan kanan [Susano'o] yang aktif.
"Saa, jangan terburu-buru Madara-chan . . . . Kau, serang dia!" Orochimaru mendongak menatap hasil mahluk besar itu lalu memberi perintah untuk menyerang Madara, tampaknya ia ingin membuat Madara sedikit terpancing dalam permainan kecil yang sudah direncanakan.
Monster hasil penelitian itu kembali meraung keras membalas perintah Orochimaru, lantai area itu pun berguncang ketika sang monster mulai berlari menuju Madara yang berjarak sekitar 10 meter di depannya.
Madara ikut berlari, Hashirama dan Jiraiya meneriakinya dengan keras agar tidak bertindak gegabah namun ia hiraukan, ketika Madara dan si monster sudah saling berhadapan satu sama lain, Madara menciptakan lengan kedua [Susano'o] lalu diposisikan terentang di samping.
"Urusanku bukan denganmu . ."
Lengan mahluk astral Madara mengepal jari-jari menciptakan senjata tajam menyerupai sebuah keris berwarna biru terang, siapa pun yang melihat senjata itu pasti berdidik ngeri apabila ditusukkan pada tubuh mereka hingga tembus. Jadi pilihan paling tepat adalah mundur mencari jarak aman dari serangan yang akan terjadi. Tapi, saat ini yang menjadi target dari [Susano'o] Madara adalah seekor monster berakal pikiran jaman batu, cuma menyerang dan membunuh lawan yang dipikirkan.
Terlihat dengan jelas bagaiman mahluk dari hasil penelitian Orochimaru itu berniat menyerang Madara menggunakan kedua lengan berukuran diatas rata-rata yang dipenuhi otot-otot diluar nalar manusia.
"Minggir!"
"Groooaaarrrrr!"
Tanpa ampun, kedua lengan mahluk astral Madara menusukkan dua keris yang dipegang secara menyilang pada tubuh si monster hingga tembus, cairan merah kental dalam jumlah banyak terciprat kemana-mana lalu diikuti suara raungan kesakitan, walau sudah tertembus dua benda tajam akan tetapi si monster ternyata mulai tumbang, malah meronta-ronta agar segera dilepaskan.
"Groooaaarrrrr!"
"Berisik." Madara berkomentar datar, jari-jemarinya pun bergerak pelan memberi perintah agar lengan mekanik mahluk astral yang tercipta dari Mangekyo Sharingan miliknya segera membungkam mulut si monster agar diam, dalam artian kasar segera dibunuh.
Dalam hitungan detik, kedua lengan mekanik itu kembali terentang ke samping, masih dengan keris yang menancap pada tubuh si monster.
Untuk kedua kalinya, cairan merah kental kembali terciprat kemana-mana, tapi kali ini diikuti anggota tubuh bagian atas sang monster yang terbelah, Tidak ada raungan yang terdengar hanya suara daging yang tertebas'lah yang terdengar.
Perlahan tubuh bagian bawah si monster mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakangan dengan gerakan pelan, suara dentuman pun terdengar tatkalan tubuh si monster bertabrakan dengan lantai, dan kini hanya cipratan darah yang menengahi Madara dan Orochimaru, saling bertatap wajah satu sama lain.
Ekspresi Madara terlihat begitu dingin diantara darah yang terciprat menghalangi sebagian besar wajahnya, begitu dingin sampai-sampai Orochimaru menyeringai melihatnya, si ular itu bukannya takut malah tertarik melihat ekspresi yang sangat membuatnya sesegera mengeluarkan kartu truf-nya.
Lain Orochimaru, lain pula dengan Jiraiya dan Hilda, walau mereka sudah tau seperti apa Madara jika sudah emosi, tapi ini pertama kalinya mereka melihat Madara begitu dingin sampai-sampai membuat mereka sedikit ketakutan apalagi saat melihat bagaimana si Uchiha menghabisi monster dari Orochimaru dalam satu kali serangan.
"Khukukukukuku, itu baru Madara-chan yang kukenal!" Orochimaru akhirnya memecah keheningan diantara para shinobi setelah beberapa menit terdiam atas tindakan dari Madara tadi.
"Diamlah! Selanjutnya kau yang terbelah, keparat!" dengan nada dingin sedingin ekspresi wajahnya, Madara membalas komentar itu sekaligus mengancam Orochimaru.
"Madara, tenangkan dirimu!" Hashirama ikut nimbrung dalam percakapan keduanya, memberi isyarat agar Madara tidak bertindak gegabah karena terlalu ingin membunuh si ular keparat di depannya.
Madara menengok kesamping kiri, melirik Hashirama lewat ekor matanya. "Aku tau." Jawabnya singkat, lalu mengembalikan pandangan ke Orochimaru yang masih memasang seringai ular, membuatnya ingin sekali menghantamkan lengan [Susano'o] pada wajah si keparat itu.
"Hee . ." Orochimaru mengalihkan pandangan ke Hilda. "Ternyata kau masih hidup, Hilda-chan. Aku jadi penasaran, bagaimana caramu lolos dari ledakan itu." Kata Orochimaru, memasang pose berpikir dan sedikit diberi raut wajah penasaran.
"Jadi itu benar . ." Hashirama kembali angkat suara, wajahnya mengeras seketika tatkala ucapan Orochimaru tadi sedikit membuktikan bahwa dialah penyebab dari ledakan yang diceritakan oleh Hilda, "Kau'lah penyebab dari ledakan yang menewaskan rekan setim-mu sendiri, Orochimaru."
"Cepat katakan! Apa itu benar, keparat?!" tanya Madara meminta konfimasi, nada bicaranya sedikit dinaikkan dari sebelumnya ditambah wajah yang semakin menampakkan ekspresi dingin.
"Maa~Maa, tidak usah terburu-buru Madara-chan, Hashi-chan . . . . Ngomong-ngomong, apa begitu ekspresi kalian setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan senpai kali_"
"Cih!" Madara mendecih pelan, kemudian menonaktifkan [Mangekyo Sharingan] miliknya membuat dua lengan mekanik di sekitar tubuh Madara pun menghilang tanpa bekas, awalnya Madara sangat ingin menusuk tubuh ular Orochimaru yang sudah tepat berada di depan mata, Tapi tujuan lain mereka kesini membuatnya mengurungkan niat untuk melakukannya.
"Kau memang senpai kami, tapi itu dulu, . . . . sekarang kau hanya seorang penghianat yang sudah seharusnya di musnahkan." tukas Madara dengan cepat, memotong ucapan Orochimaru yang benar-benar tidak ingin ia dengar.
"Jadi, sekarang aku dianggap sebagai penghianat rupanya, dari kouhai sendiri pula, . . . . Benar-benar ironis."
"Orochimaru . ." satu-satunya shinobi seangkatan Orochimaru disana pun akhirnya angkat bicara, mengambil beberapa langkah ke depan, "Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa kau sampai-sampai menghianati desa? Itu seperti bukan dirimu saja!"
Orochimaru memeringkan kepala beberapa derajat dan tertawa pelan menanggapi ucapan Jiraiya, "Apa maksudmu, Jiraiya? Apa kau sudah lupa denganku, rekan se-timmu?"
"Aku sama sekali tidak melupakannya. Tapi, bukan itu masalahnya . . . . kau yang sekarang sudah benar-benar berbeda dari Orochimaru yang kukenal"
Orochimaru kembali tertawa, namun kali ini ia tertawa sinis sembari memandangi satu per satu shinobi di depannya, "Justru kalian'lah yang sebenarnya berubah . . . . Kalian bertiga adalah orang-orang yang dekat denganku sebagai rekan dan kouhai, tapi tidak ada satu pun dari kalian tau impianku sewaktu masih di desa."
Madara dan Hashirama menyipitkan mata dengan eksresi wajah serius. Ya, mereka mengetahui dengan jelas apa impian dari Orochimaru, itu adalah jabatan yang dipegang oleh Hashirama, seorang Hokage yang memimpin desa Konoha.
"Jangan-jangan . ." Mata Jiraiya sedikit melebar.
Sekalebet ingatan masa lalu mereka berdua sewaktu masih berumur 12-13 tahun melintas di kepala Jiraiya.
Ingatan ketika mereka pertama kali bertemu di suatu tempat bersama seorang pria yang menjadi Sensei merekam, awal pertama Jiraiya dan Orochimaru saling mengenal satu sama lain, mulai dari nama sampai impian mereka di masa depan nanti.
Di ingatan Jiraiya, terlihat dua anak kecil berbeda warna rambut tangah berdiri di depan seorang pria paruh baya berjenggot mirip gunung terbalik, pertemuan itu berlangsung di tempat yang terdapat tiga batang kayu, sebuah area latihan tidak jauh dari desa Konoha.
Dan setelah ingatan itu berakhir, akhirnya Jiraiya mulai paham kenapa Orochimaru berhianat, namun ini masih dugaannya semata belum pasti apa benar itulah penyebab dari penghianatan Orochimaru.
"Kau melakukan semua ini hanya karena kecewa Sensei lebih memilih Hashirama menjadi Hokage ketimbang kau?!"
"Cih!" Madara tiba-tiba mengeluarkan decihan kecil karena kecewa dengan Orochimaru yang merupakan mantan senpai-nya. Hashirama, Hilda dan Orochimaru pun mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Aku memang sudah tau tentang impianmu, Orochimaru . . . . Ayolah, bangun dari kenyataan ini, keparat! Tidak semua apa yang kita inginkan akan berjalan sesuai dengan keinginan di dunia ini . . . . Tapi yang membuatku heran itu, aku tidak menyangka kau begitu lemah dalam hal ini, hanya karena impian bodohmu kau rela melihat semua penduduk Konoha yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan impianmu, tewas diserang oleh para mahluk hina itu?" jelas si Uchiha terakhir sinis menyindir Orochimaru lalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan, tapi bukan hanya itu, Madara juga terlihat sedikit marah ketika menjelaskan hal itu.
Dan kemarahan sang Uchiha semakin menjadi-jadi tatkala Orochimaru memberikan jawabannya.
"Kalau aku menjawab 'iya' . . . . Apa yang akan kalian lakukan?"
"Brengsek!"
Madara kembali mengaktifkan iris merah darah berhias tiga pola menyerupai tanda koma, Madara melompati bangkai monster yang tadi sudah dibelah menjadi dua bagian lalu berlari dengan kecepatan penuh menuju Orochimaru yang jaraknya lebih dari 10 meter.
Orochimaru menyeringai sejenak melihat reaksi Madara kemudian melompat kebelakang sambil merapal segel tangan.
[Sen'ei Tajushu]
Akhirnya, Orochimaru mengeluarkan tehnik ninja [Ninjutsu] yang menjadi ciri khasnya, ular beracun dalam jumlah yang sangat-sangat banyak keluar dari lengan yang terentang ke depan, melesat sambil mendesis menuju Madara.
"Teruslah maju, Madara!" Jiraiya tiba-tiba berseru keras memberi Madara perintah, setelah itu berlari mengikuti si Uchiha sambil merangkai segel tangan.
Bukan hanya Jiraiya . . . . Hashirama dan Hilda pun ikut berlari menyusul keduanya, sepertinya rencana awal mereka yang ingin mengajak Orochimaru berbicara perihal apa motif dan tujuan si ular gagal karena Madara benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Jadi saatnya bagi mereka untuk beralih ke rencana kedua, yaitu : . . . . Membuat Orochimaru sekarat agar lebih mudah untuk mengintrogasinya.
Setelah segel tangan yang dirangkai Jiraiya selesai, ia pun melompat tinggi di atas Madara dengan kedua pipi yang menggembung, siap mengeluarkan sesuatu dari dalam mulut.
[Katon : Dai Endan]
Api dalam volume yang sangat banyak pun dimuntahkan Jiraiya tepat ketika melayang di atas Madara dan sekumpulan mahluk melata milik Orochimaru, api berbentuk peluru besar itu pun menghanguskan ratusan ular itu tanpa pandang bulu, hangus menyisahkan abu lalu menciptakan ledakan besar setelahnya.
"Dimana kau Orochimaru!" Madara berteriak keras dan melompat menerobos kobaran api bekas ledakan serangan dari Jiraiya yang masih berkobar.
Secara bersamaan, Madara dan Orochimaru memijakkan kaki pada lantai. Tanpa basa-basi lagi karena musuh sudah tepat berada di depan mata, Madara langsung menerjang Orochimaru, serangan demi serangan pun dilancarkan Madara berupa Taijutsu tingkat tinggi dari klan Uchiha.
Orochimaru bukannya tinggal diam menerima serangan Madara. Sebagai guru dari orang yang menyerangnya, ia pasti tau bagaimana pola serangan dari sang Uchiha. Serangan Taijutsu dari Madara pun seolah-olah hanya seperti sebuah serangan anak kecil yang sangat mudah dihindari.
"Ada apa, Madara-chan?" Orochimaru memiringkan kepala ke kiri menghindari pukulan lurus Madara, "Apa hanya ini yang kau punya, Madara-chan?" lalu giliran ia untuk menyerang dengan mengarahkan sebuah tendangan ke perut Madara.
Tendangan itu berhasil ditahan dengan telapak tangan kanan Madara, "Justru akulah yang harus menanyakan itu . . . . Senpai!" Madara menyeringai sadis tepat di hadapan Orochimaru yang seketika meringis merasakan firasat buruk mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apaaa?!"
Dan apa yang dirasakan oleh firasat Orochimaru pun terjadi, kaki kanan Orochimaru yang tadinya menempel pada telapak tangan Madara, kini di cengkaram kuat-kuat dengan dua tangan. Setelah itu, dengan tenaga minimal, Madara mengankat tubuh Orochimaru ke atas lalu dibanting pada permukaan lantai keras tempat mereka bertarung, menghasilkan suara dentuman keras dan kepulan debu.
"Madara . ." Hashirama tiba-tiba berteriak kencang.
Madara menoleh ke samping kiri dan mendapati sahabatnya tengah berjongkok di depan sebuah gulungan besar yang terbuka, memperlihat tulisan-tulisan [Kanji] yang jumlahnya tak terhitung.
"Sekarang saatnya!" Hashirama menyambung teriakannya sambil merangkai segel tangan sederhana lalu menghentakkan telapak tangan kanan pada gulungan itu, menciptakan ledakan asap putih yang tiba-tiba melebungi tubuhnya.
Tak berselang lama setelah itu, dua buah katana tiba-tiba terbang keluar dari kepulan asap menuju Madara dengan kecepatan tinggi, Itu bukanlah serangan melainkan sebuah lemparan dari Hashirama yang berada di balik kepulan asap.
Si Uchiha terkahir kembali menyeringai, mengerti maksud dari sahabatnya melemparkan dua katana. Dengan bantuan Sharingan miliknya, Madara langsung menangkap gagang dua katana itu ketika tepat berada di depan mata.
Setelah menangkap dua katana itu, Madara memutarnya beberapa kali hingga ujungnya mengarah ke bawah dan langsung ditusukkan pada kepulan debu tepat di depannya, tempat Orochimaru berbaring karena dibanting olehnya, suara benda tajam yang menusuk halus pada daging pun terdengar di sana.
"Brengsekkk!" Umpatan Orochimaru pun terdengar, dan samar-sama Orochimaru merintih kesakitan beberapa kali.
Kepulan debu di depan Madara mulai menghilang, memperlihatkan tubuh pucat Orochimaru yang tertusuk dua katana. Dan jika diperhatikan lebih jelas, masing-masing tusukan itu hanya berjarak 1 sentimeter dari dua organ vital Orochimaru.
"Sudah berakhir, ular keparat!" kata Madara yang kini berdiri dengan gagahnya tepat di depan Orochimaru, pandangannya pun terlihat begitu merendahkan posisi si penggila penelitian yang siap dibunuh kapan saja.
"Berakhir? Apa yang membuatmu begitu yakin Madara-chan?"
"Kalau begitu coba saja bergerak seinci pun. Maka jantung dan paru-parumu akan terkena bilah katana itu."
"Hee, begitukah?" walau nyawanya kini berada di tangan Madara, tampaknya Orochimaru sama sekali tidak merasa terancam, itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang kini terlihat begitu tenang.
Beberapa detik berlalu, kini di depan Orochimaru bukan hanya Madara saja. Hashirama, Jiraiya dan Hilda pun sudah berada di sana. Walau Orochimaru sudah dalam keadaan terjepit, mereka sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan, terutama Jiraiaya. Ia tau betul kalau Orochimaru sedang merencanakan sesuatu makanya diantara yang lain, Jiraiya'lah yang paling waspada.
'Aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan, tapi kali ini aku pastikan kau tidak akan lolos lagi.' batin Jiraiya mengamati dengan jelas seluruh tubuh Orochimari tanpa terkecuali.
"Jadi, Orochimaru . . . . Apa sekarang kau masih tidak mau mengatakan kenapa berhianat dan memberitahukan lokasi desa pada fraksi Maou lama?"
Bibir Orochimaru bergerak beberapa derajat membentuk senyum tipis menanggapi pertanyaan dari mantan rekan satu tim-nya dulu, Jiraiya, "Sepertinya tidak pilihan lain selain menjelaskan semua ya? Mau berbohong percuma saja . ." Orochimaru mengalihkan pandangannya ke Madara, memberi isyarat kenapa ia tidak bisa berbohong.
"Hn, tentu saja! Kau seperti tau seperti apa kemampuan dari Sharingan jika menolak menjelaskannya, 'kan?" tanya Madara, memperjelas maksud dari Orochimaru tadi.
"Hahahaha . . . . Hari ini tampaknya menjadi hari sialku."
"Cepatlah!" Madara kembali emosi melihat tingkah Orochimaru. Saking emosinya, ia sampai menginjak tempat dimana alat penunjang masa depan Orochimaru berada -bagian selangkangan.
"Keparat!" Alhasil, Orochimaru pun mendesis kesakitan. Siapa coba yang tidak merasa sakit apabila bagian 'itu' diinjak seperti kotoran? Tapi sekarang posisi Orochimaru benar-benar terpojok, makanya ia hanya bisa mendesis kesakitan dan menyumpahi Madara. 'Sialan! Tidak ada pilihan lain . .'
Menghela nafas berat sejenak, setelahnya Orochimaru pun memulai penjelasannya, "Hokage, penyakit aneh, misi rank-SS, mahluk supranatural, pembantai konoha . . . . Sebenarnya semuanya saling berhubungan satu sama lain, Semuanya dimulai kurang lebih 20 tahun yang lalu . ."
"20 Tahun yang lalu? Itu berarti . ."
"Ya, tahun dimana desa masih dipimpin oleh sensei, Jiraiya . . . . Tapi sayang kau tidak ada ketika hal ini terjadi, Kau pasti tau kan maksudku?" Jiraiya mengangguk paham karena memang waktu itu bertepatan 3 tahun setelah Jiraiya memulai perjalanan keluar desa untuk menulis novel. Sedangkan Madara, Hashirama dan Hilda yang pada masa itu masih dalam tahap pertumbuhan dan tidak mengetahui apa-apa memilih diam mendengerkan.
"Kalau tidak salah, waktu itu bertepatan dengan 2 tahun kau keluar desa, Sebuah misi Rank-SS keduaku keluar dari desa bersama dua shinobi Konoha yang kemampuannya hampir menyamai Sensei . . . . Kalau tidak salah misi waktu itu untuk memberantas sekelompok iblis."
"Iblis?" beo Madara dan Hashirama secara bersamaan.
"Hahahaha, aku bingung denganmu, Hashi-chan . . . . Kau itu pemimpin desa selama 1 dekade lebih tapi tidak tau tentang hal ini." kata Orochimaru.
"Apa maksudmu Orochimaru?"
"Maksudku itu . . . . Sebenarnya sudah sejak lama, fraksi Iblis mengetahui keberadaan desa Konoha, tapi karena setiap kali berniat mengetahui lokasi desa, mereka selalu gagal dan tidak kembali . . . . Atau bisa kukatakan, mereka semua dibunuh di tempat!"
Secara serentak Madara dan tim pun melebarkan mata mereka, terkejut mendengar fakta tentang iblis tadi. Lain mereka, lain pula Orochimaru, pria ini malah menyeringai yang terkesan begitu misterius dan menyimpan banyak ambisi buruk.
"Setidaknya kau tau tentang misi itu, 'kan Hashirama?"
"Tentu saja. Misi Rank-SS yang beranggatokan tiga shinobi, namun hanya ada dua yang kembali dalam keadaan hidup, dan beberapa hari setelah misi itu orang kedua meninggal dunia menyusulnya."
"Dan dalam misi itu pula, aku perlahan menemukan tujuanku yang sebenarnya yaitu . ." Orochimaru tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar, Hashirama dan yang lainnya pun berniat melakukan sesuatu karena merasakan fisarat buruk, namun apa yang mereka lakukan terlambat beberapa detik, dari mulut Orochimaru seekor ular putih keluar dan terbang menuju langit-langit setengah jadi lokasi tempat mereka.
". . KEABADIAN!"
Dari mulut ular itu pun, memuntahkan cara kental diikuti Orochimaru yang berteriak keras menyebutkan ambisi besarnya.
"Sial!" Madara mengumpat kesal sembari melirik sejenak tubuh Orochimaru yang perlahan berubah menjadi seekor ular putih.
'Begitu rupanya . .' batin Jiraiya sambil menggertakan gigi, tampaknya benar apa yang dia prediksikan sebelumnya, Orochimaru pasti merencakan sesuatu untuk lepas dari kepungan mereka berempat, dari awal dia memang sudah curiga kenapa Orochimaru dengan mudahnya menceritakan semua tujuannya. 'Dia mengincar saat-saat dimana kami terkejut mendengar fakta tadi untuk melarikan diri . . . . Cih, sialan!'
"Walau masih sedikit bingung, sekarang aku mulai mengerti semuanya." setelah dari tadi diam mendengarkan, Satu-satunya wanita di tempat itu akhirnya angkat bicara. "Orang yang menghampirimu setelah ledakan itu adalah . . . . Iblis! Aku benar, 'kan Orochi-kun?"
Orochimaru yang sudah mendarat pada salah satu besi baja bagian dari rangka langit-langit tempat itu tersenyum tipis menanggapi pertanyaan dari Hilda lalu menjawabnya, "Jadi, kau melihat itu rupanya Hilda-chan . . . . Ya, itu benar! Dia'lah yang mendukung semua penelitianku untuk menjadi abadi tanpa menjadi iblis sepertinya, dan penelitianku hampir sempurna dan tinggal menyisahkan satu data lagi."
"Jangan-jangan . ."
"Data yang terakhir itu adalah darah para manusia pengguna chakra, para shinobi dari Konoha yang dibantai oleh fraksi Maou lama atas penghianatanmu?" Jiraiya menyambung ucapan dari Hashirama mata melebar sempurna, takut apa yang diprediksikan olehnya benar!
"Bisa dibilang iya . . . . Bisa juga tidak!" jawab Orochimaru tenang sambil menadahkan kedua telapak tangannya di depan dada,"Sebenarnya data yang aku cari itu berasal dari sebuah tempat yang memiliki julukan . ." Orochimaru memberi jeda sejenak, membuat tiga orang di depannya menyipitkan mata penasaran dengan tempat yang dia maksud.
"Tempat terdekat dari surga!"
"Dan asal kalian tau, darah dari para shinobi desa Konoha hanyalah sebuah pelengkap agar kemampuanku tidak menghilang, sehingga apabila nantinya penelitianku berhasil . . . . Bukan hanya abadi saja, Namun juga menjadi yang terkuat di dunia ini karena memiliki darah dari beberapa klan kuat Konoha."
"Orochimaru!" Madara kembali mendesisi begitu dingin memanggil nama mantan Senpai-nya, kini kebencian atas apa yang menimpa Konoha sudah benar-benar berada di tingkat tertinggi dalam tubuhnya, aura kebiruan kemabli menguar dari tubuhnya.
Dan bukan hanya Madara yang kini diselubungi oleh chakra yang menguar-nguar memperlihat kebencian besar.
Hashirama, Jiraiya dan Hilda pun ikut melakukan hal yang sama.
"Aku kubunuh kau!"
"Kami akan segera menguburmu!"
Kata mereka secara bersamaan dengan nada yang begitu dingin.
"Dan satu alasan kenapa aku berhianat dan memberitahukan lokasi desa pada iblis fraksi Maou lama adalah . . . . Agar kalian semua tidak menghalangi mencapai tujuan ini! Hahahahahahaha~~"
"Percuma saja! Karena apa yang kau rencanakan akan gagal di tangan kami! 4 Shinobi terakhir dari . . . . KONOHAGAKURE!" balas mereka berempat secara serentak dengan nada yang begitu dingin.
"Khukukukukukukuku . . . ." Orohimaru tiba-tiba tertawa keras bagai seorang psikopat, membuat Hashirama dan yang lain bersiap-siap untuk melakukan sesuatu apabila si Sennin ular di atas mereka mengeluarkan sesuatu. "Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan bila melawan shinobi dari desa?" sambung Orochimaru melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat Hashirama tersentak.
Tak berselang lama, Orochimaru segera merangkai segel tangan lalu menyatukan telapak tangan di depan dada.
[Kuchiyose : Edo Tensei]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Yooooo~~~ /'-')/
Ketemu lgi ama ane . . . . Si Author Lolicon yang masih Newbie dan gak jelas asal-usulnya. :v
.
.
Untuk Chapter ini. Pertarungan utama ane tunda dulu dan lebih membahas tentang alasan Orochimaru dan sedikit asal-usul penyebab terjadinya penyerangan Konohagakure.
Dan itu untuk Orochimaru. Dia merupakan Senpai [Senior] dari Hashirama, Madara, Tobirama dan Izuna sewaktu mereka masih setingkat Genin sampai Chunin bersama dengan Jiraiya.
Dan masalah siapa yang kuat antara MadaHashiJiraiya dan Orochimaru . . . . Jika di Canon, Orochimaru hanya seperti lalat bagi keduanya. Maka di Fic ini ane buat Orochimaru lebih kuat dari Madara dan setara dengan Hashirama ama Jiraiya. Namun, itu hanya berlaku untuk saat ini . . . . INGAT! UNTUK SAAT INI!
Alasan pertama kenapa Orochimaru lebih kuat karena dia adalah Senior dari Madara, Hashirama, Tobirama dan Izuna bersama Jiraiya. Alasan kedua kenapa Madara tidak setara dengannya, tidak seperti Hashirama dan Jiraiya . . . . Itu karena SAAT INI Madara hanya memiliki [Mangekyo Sharingan] dan [Susano'o] sebagai kartu as-nya. Sedangkan elemen [Katon] sudah terlihat beberapa Jutsu yang dikeluarkan.
Jadi bisa disimpulkan kalau disini, level kekuatan Orochimaru mungkin seterah dengan Kokabiel. Lalu seperti apa kemampuan yang akan ane berikan ke Orochimaru. Khukukukukukuku~~ Sabar-sabar, tunggu saja tanggal mainnya.
Walau Orochimaru lebih kuat dari Madara. Tapi tidak menutup kemungkinan di Chapter depan atau depannya lagi, Orochimaru bisa kalah dari Madara atau ketiga lainnya. Karena sekuat-kuatnya seorang shinobi bisa juga kalah apabila dilawan dengan strategi dan juga terlalu meremehkan lawannya.
Oh, iya . . . . Di Fic ini banyak generasi dari para shinobi sangat melenceng dari Canon. Itu sudah terlihat jelas kan? Orochimaru dan Jiraiya yang beberapa tahun di atas MadaHashi. Dan masih banyak lagi yang akan muncul sebagai bidak Edo Tensei Orochimaru yang nantinya bakalan melenceng dari Canon Naruto.
Terus, Generasi dibawah MadaHashiTobiIzuna adalah Hilda dan yang lain akan muncul di Chapter berikutnya sebagai Edo-Tensei dari Orochimaru. Siapakah mereka? Khukukukukuku . . . . Lihat saja nanti.
Karena nanti ada kok Flashback khusus untuk sejarah Konohagakure. Termasuk susunan dari generasi-generasinya.
Satu lagi dan yang terpenting adalah . . . . Orochimaru berhianat bukan cuma karena dua alasan di Chapter ini. Masih ada satu lagi penyebab Orochimaru berhianat dan akan terungkap dengan sendirinya, entah di Chapter depan ato di Chapter lainnya.
.
.
Balasan Review :
ara dipa = Ya, gadis yang berjalan di hutan itu bukan Hina. Tapi, Hilda [Fem!Hidan].
Setya566 = Memang bukan . . . . Si Hina masih tanda tanya besar apa udah mati ato belum . . . . Hmnn, makasih koreksi. kemaren ane ngetik-nya buru-buru dn cuma bentar doang periksanya.
ashuraindra64Dua Chapter lagi akhir Arc II ini kok [Chapter 15].
Ae Hatake = Iblis kelas rendah. Tapi karena udah diperkuat ama Orochi lewat penelitian . . . . Dan MadaHashi kagak kerepotan kok, mereka cuma nahan diri. Walau ane gambarin mereka terlihat kerepotan.
Tenshisha Hikari Dedek Yuki dibawa buat ngenalin dia ama mahluk-mahluk supranatural lain sekaligus diberi pengalaman pertama dalam pertempuran walau nanti cuma disuruh melihat dari pintu gerbang area konstruksi . . . . Dan masih ada satu alasan kenapa ane bikin Dedek Yuki ikutan.
Owllia = Hmnn makasih . . . . Yaps, Dedek Yuki harus belajar banyak dn yng jadi gurunya entar si Trio Badass and Kampret, MadaHashiNaru . . . . Bukan diciptakan, tapi diperkuat lewat penelitian dan MadaHashi masih nahan diri walau mereka kliatan kerepotan. Hashirama ngakifin Sage Mode krn udah sangat marah.
Seneal = Hiduf Duo Koplak :"v / . . . . Yaps, itu bukan Hina tapi Hilda. Si Hina itu masih tanda tanya besar statusnya . . . . Dedek Yuki dibawa buat ngenalin dia ama mahluk-mahluk supranatural lain sekaligus diberi pengalaman pertama dalam pertempuran walau nanti cuma disuruh melihat dari pintu gerbang area konstruksi.
Kazehaya Eito = Paling cepet pas KTT 3 Fraksi.
Akira Kurokami = Dedek Yuki itu manusia [?], Dedek angkat Naruto dan Loli [Mahluk terindah di muka bumi] :"v . . . . #HIDUF LOLI 'o')/ . . . . #ALL HAIL LOLICON 'o')/
raitogecko = Bikin Trio Absurd [MadaHashiNaru] merinding aja bisa apalagi ngeluarin tatapan tajam khas Loli semi-polos :"v . . . . Kagak, noh diatas identitas Hilda udah sebagian besar diketahui. Dia Shinobi Konoha, Kouhai dari MadaHashiTobiIzuna.
Crucufix = 75% tebakan lu bakalan bener. Tapi ane belum mau ngasi pair ke Naruto. :v :v
Loji = 75% Iya . . . . Pair Naruto adalah LOLI . . . . #HidufLoli, #AllHailLolicon :v /
wsusanti96 = Bukan! Hilda itu Fem!Hidan . . . . Yaps, Naruto bakalan bantuin mereka kok . . . . Tentu saja punya, tunggu saja apa dan kapan ane keluarin kekuatan dari Yuki.
Aka no Yuki [My Imouto] = Gak ada kuota buat balas satu-satu lewat PM, Dedek Yuki '3' . . . . Loli emang dari sononya lucu, imut, menggemaskan, #HidupLoli, #AllHailLolicon . . . . Hilda bukan OC, dia Fem!Hidan.
Namikaze Nogami = Tentu saja ketemu.
Ryan69 = Manusia biasa, Dia ane bikin diajak karena mau diberi pengalaman dalam sebuah pertarungan walau nanti cuma melihat dari kejauhan saja, dan masih ada satu alasan kenapa Yuki ane bikin ikut . . . . SasUKE? Kemungkinan besar tidak ada, karena ane akan ngubah generasi-generasi shinobi dari Canon Naruto.
Nawawim451 = Tenang, Loli-nya bakalan bejibun kok :v . . . . Klo perlu Trihexa ama Great Red ane jadiin LOLI juga :v :v . . . . #HidufLoli, #AllHailLolicon :v /
Yukari Clarisha-chan = Makasih :D . . . . Nih udah kulanjut.
Pendy uye uye = Si Vali ada kok . . . . Hilda adalah shinobi dari Konoha yang sudah dinyatakan gugur dalam sebuah misi rank-SS, tapi fakta mengatakan dia selamat, jadi dia adalah teman! . . . . Bijuu dan Akatsuki tidak ada. Tapi klo Khaos Brigade ada . . . . Oke, Chapter depan Full Fight kok!
MATA = Sama-sama :D
Guest = Hilda - Fem!Hidan . . . . Penampilannya cari saja di Om Gogol, disana ada kok.
David putra = Tunggu aja tanggal mainnya kapan Pair-nya kumunculin.
Guest = Pastinya bakalan mengejutkan, bikin penasaran setengah mati dan lain-lain :v :v
Cah uzumaki = Chapter depan malah Full Fight . . . . Bener itu! Masalah pair memang belakangan kumunculin . . . . Trio Uzumaki udah ada 5K lebih, jadi secepatnya bakalan ku-Update kok.
uzumaki kenshin = Kekuatan Naruto bakalan nambah kok, tapi gak sekarang dan itu sudah ada rencana seperti apa kekuatan itu.
21 senpai12 Yaps, ente benar . . . . Hilda : Fem!Hidan
TanakaKanako3 [My Imouto] = Makasih udah diingetin Dedek Rin, entar klo ada waktu bakalan kuperbaiki.
Namefrenz = Tunggu aja tanggal mainnya kapan munculnya dan siapa pair-nya.
NameUchihaLepu = Pasti-nya nyesek! . . . . Kotetsu ama Genma hanya manusia biasa, Jadi kagak punya chakra, Tapi bisa bertarung krn diajari Taijutsu ama Jiraiya . . . . Yaps, orang kelima itu Hilda [Fem!Hidan]
Guest = Semua anggota jaringan mata-mata Jiraiya berasal dari luar. Jadi gak ada yang berasal dari Konohagakure . . . . Jaringan mata-mata ini berdiri 2 tahun setelah Jiraiya meninggalkan desa Konohagakure atas izin dari pemimpin sebelum Hashirama yaitu sensei-nya dan Orochimaru . . . . Nanti bakalan ada Chapter yang nge-jelasin perjalanan Jiraiya kok.
Kiro Yuki = Kemungkinan besar tidak! Karena generasi-generasi shinobi akan melenceng dari Canon Naruto.
tobi-KUN Chapter depan mungkin bakalan keluarin Susano'o kok . . . . Tenang aja, Rias bakalan nyesek kok. Jadi tunggu aja . . . . Kampret lu, malah nyumpahin ane yng bikin mau muntah :v :v, mending ane bobok cantik ama Dedek Wendy, Scheherazade dan Mavis :v :v :v
Yang Review 'Lanjut' . . 'Next' dan sebangsanya, Nih ane dah lanjut. Ane minta maaf klo balas Reviewnya kek gini dan nambah-nambahin Word aja. Alasennya, ane lgi minim Kuota dan duit buat beli paketan [KANKER : KANTONG KERING], terlebih lagi waktu ane yang lebih banyak ngerjain tugas bikin ane gak ada waktu buat balas Review lewat PM.
Dan yang nungguin Fic ane di Fandom Naruto. Ane kasih sedikit informasi, Trio Uzumaki udah selesai 5K dan tinggal nyelesein Scen Naruto ama Sasuke ngamuk di markas Orochimaru. Jadi bakalan tidak lama lagi bakalan Updater.
Oke itu aja yng mau ane sampein.
.
.
Root Wood and Stark Fullbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Loli Tsundere-ku dulu! '-')/
