The Half-Devil Lucifer
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lainnya yang muncul di Fic ini.
Genre : Supernatural, Family, Adventure, Romance, Etc.
Rate : M
Pairing : Akan muncul dengan sendirinya!
Warning : AU, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC, Adult-Theme, Violence, Fem!Hidan, DLL.
Author Note :Saya hanya meminjam karakter ataupun unsur dari Naruto, High School DxD dan beberapa dari Manga/Anime lain untuk membuat Fic ini... Jadi, maklum saja jika tidak ada kesamaan dari karakter atau unsur lain yang ane ambil. Baik sedikit maupun banyak.
Arc II - Awal dari semua masalah!
Chapter 15 - Comeback: Edo Tensei di patahkan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jauh dari kota Kyoto lebih tepatnya di kota Kuoh, di dalam sebuah basemen gedung tertinggi di kota kecil itu tengah berkumpul 4 perempuan 2 laki-laki —satu tergeletak tidak sadarkan diri.
Dari keadaan mereka yang compang-camping seperti pemulung, bisa dilihat mereka baru saja terkena serangan berskala lumayan besar.
"Ugh, serangan dari Naruto-san benar-benar mengerikan sampai tidak ada yang lolos kecuali Asia," ungkap salah satu iblis laki-laki disana membuka suara dengan mengomentari serangan pemuda yang memiliki setengah darah dari mantan Raja Iblis Lucifer yang baru saja mereka terima.
Dua gadis muda mengangguk menyetujui ucapan dari pemuda berwajah bak bidadari yang membuat sesama jenisnya —lelaki jadi ngeri, "Bagaimana dengan Issei-kun?" tanya pemuda itu lagi sambil menatap pemuda berambut coklat yang tengah diobati oleh Bishop pirang Peerage Rias Gremory.
"Sebentar lagi Issei-san akan sadar," jawab gadis itu, Asia Argento namanya.
"Buchouuu!" seperti kata gadis bernama Asia tadi, tak berselang lama pemuda bernama Issei siuman dan langsung berteriak keras nan khawatir memanggil King-nya.
"Issei!" Rias seketika berlutut dan memeluk Issei-nya, membenamkan wajah pemuda itu ke celah emas diantara dua payudara besarnya. "Aku baik-baik saja, Ise." katanya untuk meredam kekhawatir sang Sekiryuutei yang bisa terlihat jelas dari teriakan barusan.
"Syukurlah."
Issei bernafas lega dalam hati mendengar ucapan Rias dan nampaknya pemuda ini juga menikmati posisi wajahnya berada di belahan dada berukuran besar milik Heiress Gremory.
.
Beberapa menit kemudian...
"Kau serius hanya itu yang dilakukan Naruto?" tanya Rias terdengar khawatir mengenai Bishop-nya setelah mendengar penjelasan dari gadis mantan biarawati itu secara keseluruhan.
Asia mengangguk pelan, "I-Iya Buchou, hanya itu yang dikatakan Naruto-san kepadaku."
Rias mengerjit heran dan sedikit terkejut karena penjelasan dari Asia mengingatkan gadis berambut merah ini kepada Naruto yang dulu... Naruto ketika masih menjadi pelindungnya di Underworld. "Ah tidak-tidak!" Rias segera menggelengkan kepalanya. Menurutnya ini hanya akal-akalan Naruto saja untuk memanfaatkan Asia di dalam kelompok Peerage-nya.
"Asia terlalu baik untuk mempercayai semua ucapan Naruto, Aku harus berhati-hati dan lebih memperhatikan Asia."
Mulai hari ini Rias memutuskan untuk lebih waspada terhadap Naruto dan Madara ketimbang iblis liar ataupun malaikat jatuh yang memasuki wilayahnya. Bukan karena kekuatan dua orang itu yang mempu melululantahkan Peerage-nya. Tapi karena yakin jika apa yang dilakukan Naruto ini sudah direncakan dari awal dan tidak menutup kemungkinan Madara juga terlibat di dalamnya.
"Buchou?!"
Rias mengalihkan wajah ke samping kiri, menatap Queen-nya dengan wajah tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa 30 menit sebelumnya. "Apa penyerangan Naruto-san ini akan Buchou laporkan ke Maou-sama?" tanya Akeno.
Issei, Kiba dan Koneko mengangguk setuju dengan pertanyaan itu karena hal yang dilakukan oleh Naruto sudah termasuk dalam penyerangan terhadap fraksi iblis.
Rias menggeleng pelan, "Tidak ada gunanya melaporkan hal ini ke Onii-sama." katanya diakhiri dengan helaan nafas panjang.
"Memangnya kenapa Buchou?" tanya Kiba penasaran.
Kelompok ORC beralih menatap Rias sembari menahan nafas mereka selama beberapa detik menunggu jawaban. Dan alangkah terkejutnya mereka semua setelah mendengar jawaban yang dilontarkan oleh sang Heiress Gremory terhadap permasalan Naruto ini.
"Onii-sama bilang tidak ingin ikut campur masalah ini apapun yang menimpa aku maupun kalian."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beralih ke tempat Naruto and the genk.
"Waktunya ikut berdansa!"
Dan tepat setelah Naruto mengatakan hal itu, sebuah ledakan besar terjadi di sisi lain tempat mereka pada area konstruksi luas tersebut.
Tanpa basa-basi Naruto langsung berlari menuju sumber ledakan, sementara di belakang pemuda berambut perak gelap itu, ketiga orang disana mengambil beberapa langkah mundur, takut terjadi apa-apa setelah ledakan barusan.
Saat tiba di sisi lain area konstruksi, Naruto melihat sebuah kepulan debu pada pagar pembatas berbahan beton, tidak jauh dari kepulan debu itu, salah satu orang terdekatnya terlihat berdiri sambil tersenyum kecil memandangi dirinya.
"Akhirnya kau datang juga... Naruto." ucap orang itu yang diketahui bernama Senju Hashirama yang baru saja melancarkan sebuah serangan super kuat pada Maito Dai, lawannya.
"Apa aku terlambat?" tanya Naruto, kemudian melirik sejenak kepulan debu bekas serangan Hashirama karena merasakan tekanan chakra kuat dari sana.
Hashirama diam selama hampir satu menit, membuat Naruto penasaran dengan itu, "Tentu saja kau terlambat, Bakaaa!" Hashirama langsung berteriak kencang sambil mencak-mencak tidak jelas, kepala berambut hitam pria ini terlihat membesar tanda bahwa ia tengah kesal.
"Jelaskan dalam 10 kata kenapa kau bisa terlambat!"
Kini, giliran Naruto yang kesal, kendutan kecil pun muncul di keningnya. Apa-apaan itu? Menjelaskan dalam 10 kata saja? Memangnya bisa menjelaskan semuanya hanya dengan jumlah kata sesediki itu, mulai dari masalahnya dengan Rias, pertemuan Yuki dan Kunou yang sedikit menyita waktunya di kediaman Yasaka dan yang paling penting, jarak lokasi ini dan kediaman Yasaka yang memakan waktu perjalanan selama 30 menit.
"Nanti saja penjelasannya!"
Naruto tiba-tiba melesat menuju ke depan, karena melihat Dai melompat keluar dari kepulan debu dan berlari menuju Hashirama yang masih memandang kesal dirinya, tidak menyadari jika lawan sudah mengarah ke dia.
[Hiken]
Sebuah api berbentuk menyerupai kepalan tangan seukuran mobil bus tiba-tiba dilesatkan Naruto menuju Dai yang berlari ke Hashirama, mantan pemimpin Konohagakure itu pun tersadar dari rasa kesalnya ketika mendengar Naruto meneriakkan nama tehnik api barusan.
"Baiklah... Tapi kau tetap harus menjelaskannya dalam 10 kata, Naruto!" ucap Hashirama menanggapi ucapan Naruto mengenai penjelasannya nanti saja, namun tetap memegang prinsip 10 kata itu.
Dai mengerem tubuhnya dan melompat kebelakang menghindari sapuan api berbentuk menyerupai sebuah kepalan milik Naruto, namun secara tiba-tiba Hashirama muncul tepat di belakangnya dengan rangkaian segel tangan yang sudah dibentuk.
"Hashirama-ossan cepat sekali sudah berada di samping orang itu!" ucap Naruto dalam hati kagum atas kecepatan Hashirama dalam Sage Mode.
Dalam keadaan melayang dan mempertahankan segel tangan yang dibentuk, Hashirama mengirim sebuah tendangan kaki kiri yang mampu diblok oleh Dai, namun karena kekuatan besar dalam Sage Mode membuat Dai terhempas walau sudah memblok tendangan itu dengan dua tangan.
"Naruto!"
[Mokuton: Mokuryū no Jutsu]
Seekor naga kayu tiba-tiba muncul dari tanah tempat Maito Dai akan mendarat, naga itu langsung meliuk-liuk sambil meraung keras lalu menggigit tubuh Dai yang terhempas.
Naruto menyeringai tipis ketika mendengar Hashirama meneriakkan namanya, dia tau maksud dari sang pengguna Mokuton, "Kurama!" Naruto menghentakkan kaki kiri pada permukaan tanah, api tiba-tiba menguar dari hentakkan kaki itu.
[Enkai]
Naga kayu yang menggigit Dai tiba-tiba berbelok menuju lokasi Naruto karena perintah sang empunya tehnik, dan disaat bersama pemuda berambut pirang itu melompat menyambut naga kayu dengan posisi tubuh dimiringkan beberapa derajat sembari mempersiapkan sebuah tendangan kaki kiri yang diselimuti api.
[Kagizume]
Tendangan super kuat dilapisi api pun menghantam tubuh Dai yang tengah digigit oleh naga kayu, ledakan berintensitas menengah pun terjadi di sana sehingga membuat naga itu hancur sedangkan tubuh Dai terpental jauh menghantam dinding beton setebal 30cm untuk kesekian kalinya di sebelah kanan Naruto.
Tubuh Naruto yang melayang di udara perlahan terkena efek gravitasi, baju compang-camping yang dikenakan pun melambai-lambai ketika melayang ke bawah, setelah menginjakkan kaki pada permukaan tanah, Hashirama langsung menghampirinya.
"Jangan lengah, ini belum berakhir," Hashirama langsung memberi peringatan, Naruto menoleh ke arahnya dengan pandangan meminta penjelasan, "Lihatlah..."
"Naniiii?!" Naruto pun memekik terkejut setelah melihat apa yang ditunjuk oleh Hashirama.
Di kepulan debu yang ditunjuk oleh Hashirama, terlihat Maito Dai perlahan berdiri dengan separuh bagian perutnya mulai beregenerasi, aura kehijauan di sekitar tubuhnya masih terlihat walau tidak segila ketika pertama kali mengaktifkan Hachimon gerbang ke-enam.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa masih ada shinobi yang selamat?" Naruto akhirnya menyadari satu hal, lawan mereka adalah seorang shinobi Konoha, itu terlihat jelas dari ikat kepala yang terikat pada bagian bawah perut Maito Dai.
"Sebenarnya dia sudah lama mati, namun karena tehnik yang diciptakan Tobirama membuat dia bisa dipanggil kembali untuk dijadikan sebagai bidak dalam sebuah pertarungan."
"Tehnik, Tobirama-ossan, orang mati yang dibangkitkan kembali... Sebenarnya apa maksudmu, Ossan?"
"Edo Tensei_"
"Edo Tensei?!" Naruto memotong ucapan Hashirama ketika mendengar istilah asing itu.
Hashirama mendengus sebal lalu melanjutkan ucapannya yang terpotong, "Ya, tehnik ciptaan Tobirama, kalau tidak salah dia menciptakannya 4 tahun setelah aku menjabat menjadi Hokage. Tapi karena tehnik ini menentang prinsip hidup dan mati, aku terpaksa menjadikannya Kinjutsu dan melarang Tobirama untuk menggunakannya, tapi aku tak mengerti kenapa tehnik ini bisa dikuasai oleh Orochimaru, padahal aku sudah menyembunyikan gulungannya di perpustakaan pada bagian arsip raha_" mata Hashirama tiba-tiba membulat sempurna dan membuat penjelasannya terhenti, pria ini mengingat sebuah kejadian beberapa hari sebelum misi Rank-SS yang menewaskan Kagami.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- Flashback -
Di dalam sebuah rungan yang cukup luas, seorang pria berambut hitam panjang tengah bergelut dengan musuh-musuhnya sebagai seorang pemimpin, sungguh si pria ini tidak menyangka kalau menjadi seorang pemimpin susahnya minta ampun. Setiap hari harus bergelut dengan kertas-kertas berisi laporan dari semua organisasi di desa yang dipimpin.
"Haaaaa?!" pria itu, Senju Hashirama menaikkan sebelah alisnya membaca isi selembar kertas dari ketua akademi ninja di desanya, "Dasar bodoh! Apa kau mau membunuh semua shinobi muda kita dengan membuat pelatihan di luar Konoha... Cih, ini ditolak!" tanpa basa-basi, Hashirama langsung memberi stempel 'menolak' dalam tulisan kanji jepang pada kertas proposal di depannya.
Kemudian, kertas kedua diambil olehnya dan mulai dibaca, "Hmmmnn..." senyum penuh kesenangan tiba-tiba disungging, "Inilah yang kutunggu-tunggu! Sebuah tempat judi baru, Muahahahahahahahaha!" setelah itu, tawa laknat langsung menggema di segala sudut ruangan. Sebuah pemandangan biasa bagi keturunan klan Senju apabila mendengar atau melihat kata 'Judi'.
Stempel tanda menerima pun di tempelkan pada kertas itu, saking senang-nya sang Hokage, dia sampai-sampai menambah sedikit pesan bertuliskan 'biaya pembangunan ditanggung sepenuhnya oleh desa' dengan ekspresi wajah begitu gembira. Ternyata, penyalah gunahan kekuasaan bukan cuma melanda Indonesia dan negara-negara lain, bahkan di Konoha saja yang merupakan desa kecil juga melakukannya, dimana pemimpinnya menanggung semua biaya pembangunan seorang warga yang ingin membangun tempat perjudian baru di desa.
"Muahahahahahaaha!" tawa laknat Hashirama masih berlanjut, namun seketika terhenti ketika melihat satu lembar kertas yang cukup mencurigakan di antara puluhan lembar kertas lainnya, "Daiyon Butai?" mata Hashirama menyipit tajam ketika membaca kertas berisikan laporan dari Divisi Sistem Penghalang [Kekkai] empat Anbu.
"Crow!" sebuah kode nama salah satu Anbu tiba-tiba terdengar keluar dari mulut Hashirama, tak berselang lama seseorang berpakaian Anbu lengkap dengan topeng gagak muncul tepat di depan meja kerjanya dengan posisi berlutut.
"Bukan topengmu, Kagami!"
"Ha'i, Hokage-sama!" Anbu Crow atau lebih tepatnya Uchiha Kagami adalah salah satu shinobi kebanggaan Hashirama, jika saja di klan Uchiha tidak ada Madara, mungkin Kagami-lah yang menyandang status pemimpin klan Uchiha. Menjadi Genin di usia 11 tahun dan masuk kesatuan Anbu di umur 15 tahun adalah sebagian kecil pencapaian dari Kagami namun masih kalah jika dibandingkan dengan si muka tebing, Uchiha Madara.
"Bisa kau jelaskan tentang laporan dari Daiyon Butai yang kau pimpin?"
"Apa maksud anda, Hokage-sama?" balas Kagami tidak sepenuhnya paham pertanyaan dari Hashirama karena hampir setiap hari memberikan laporan namun hanya kali ini Hashirama memanggilnya karena laporan tentang Divisi ke-4 Anbu yang dipimpin olehnya.
"Disini," Hashirama memperlihatkan kertas laporan yang tadi dia baca, "Tertulis bahwa ada kelompok mencurigakan yang mendekati wilayah selatan desa. Tapi, hanya sekedar mengawasi saja... Apa itu benar?"
Kagami menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Hashirama, lalu memberikan penjelasan lebih rinci tentang laporan itu, "Ya, itu benar Hokage-sama. Tapi tenang saja, mereka sudah dimusnahkan oleh tim-ku tanpa tersisah."
Sang Hokage menganggukkan kepala, namun di dalam benaknya ada yang aneh tentang kelompok itu dan serangkai kejadian belakangan ini, "Semakin hari, para penyusup semakin dekat dengan lokasi desa, apa mungkin mereka—Apa sebaiknya kulakukan protokol 101?!" Hashirama menggeleng pelan, menghilangkan pikiran negatif-nya dan berniat melakukan protokol terakhir Konohagakure agar keberadaan desa tidak ditemukan oleh dunia luar.
"Kagami..."
"Ya, Hokage-sama?"
"Pergilah ke Uchiha Compound dan panggilkan Madara kesini!" lagi, Kagami menganggukan kepala atas perintah dari Hashirama, setelah itu langsung menghilang dari ruangan itu menggunakan Shunshin.
Beberapa menit setelah kepergian Kagami, pintu ruangan Hashirama tiba-tiba diketuk sebanyak tiga kali oleh seseorang. Sang empunya ruangan yang mendengar ketukan itu, langsung mempersilahkan orang itu untuk masuk dengan nada formal ala pemimpin.
"Masuklah!"
Pintu masuk perlahan terbuka setelah gagangnya berputar beberapa kali, dari ambang pintu yang setengah terbuka, seorang pria berkulit putih pucat dan berambut hitam panjang berjalan memasuki ruangan, pakaian yang dikenakan sedikit berbeda dengan shinobi Konoha lainnya.
"Orochimaru-senpai, ada apa siang-siang datang kemari?"
Walau sudah menjadi seorang Hokage, Hashirama tetap memberikan penghormatan kepada senpai-nya yang bernama Orochimaru, itu terlihat jelas bagaimana ia menyapa pria penggila penelitian itu.
"Hari ini bertepatan dengan sebulan setelah pergantian kode Kekkai, Hashirama." Orochimaru menyeringai dalam hati ketika melihat raut wajah Hashirama yang terlihat akan melakukan permintaanya. "Jadi, aku datang kesini untuk mengambil gulungan Kekkai Ninjutsu desa beserta kode lamanya."
Mendengar permintaan itu, sorot wajah Hashirama pun berubah menjadi keheranan, "Ada apa dengan ketua Divisi Sistem Penghalang? Kenapa bukan dia yang datang mengambilnya?"
.
.
Beralih ke sebuah hutan yang lokasinya berada cukup jauh dari Konohagakure, sebuah lubang besar yang cukup dalam terlihat begitu jelas. Pada dasar lubang itu, tiga mayat manusia dengan tubuh tidak utuh lagi bertumpuk memenuhi lubang besar itu.
Walau tubuh sudah terpisah-pisah, jika shinobi Konohagakure melihat pakaian serba putih yang digunakan oleh ketiga mayat itu pasti mereka akan mengenalinya, karena pakaian serba putih identik dengan Divisi Sistem Penghalang [Kekkai] yang mengurus dua lapis Kekkai yang melindungi Konohagakure.
Ketiga jasad itu adalah Ketua, wakil ketua 1 dan 3 Divisi Sistem Penghalang Konohagakure.
.
.
Sementara di markas Divisi Sistem Penghalang, keadaan disana bisa dibilang sangat menjijikan, ratusan ular berbisa berbagai macam ukuran bergerak kesana-kemari melintasi puluhan mayat yang tergeletak dengan tubuh membiru, seolah-olah puluhan mayat itu hanyalah sebuah hiasan ruangan saja.
Namun, diantara puluhan mayat itu, terdapat satu orang yang masih hidup dan sama sekali tidak diperdulikan oleh ratusan ular-ular berbisa itu, seringai sadis menghiasi wajah pria itu dan pada bagian bahunya terdapat sebuah tanda berbentuk tiga koma yang saling melingkar satu sama lain.
Entah apa alasan orang itu sampai-sampai rela menjadi bahan penelitian Orochimaru, mungkin karena ingin menjadi kuat dan diakui oleh Hashirama atau ada hal lain yang membuatnya rela melakukan semua ini walau harus menghianati desa yang dicintainya bersama sang penggila penelitian.
Ya, hari ini merupakan hari dimana fase kedua rencana besar Orochimaru dijalankan, dan langkah pertama yang dilakukan olehnya dan satu-satunya shinobi Orochimaru yang berhasil adalah membantai semua petugas ke-pengurusan Kekkai Konohagakure dan memalsukan kematiannya dalam misi rank-SS yang sudah dia rencakanan bersama partner-nya dari dunia luar.
.
"Taicho-san dan Daichi Fukū-Taicho lagi sibuk mempersiapkan formula Kekkai baru. jadi, sebagai Daini Fukū-Taicho, aku yang ditunjuk untuk mengambil gulungan dan koda baru Kekkai, Hashirama."
Hashirama mengerutkan kening lalu menolak halus permintaan dari Orochimaru. "Begini senpai, bukannya menolaknya permintaan senpai. Tapi, karena tempat penyimpanan dua benda itu berada di arsip rahasia desa, maka yang diperbolehkan masuk hanya beberapa orang saja termasuk ketua Divisi Sistem Penghalang."
"Cih!" dalam hati, Orochimaru mendecih kesal karena Hashirama menolak mentah-mentah permintaannya walau dilakukan dengan cara halus, padahal di tempat itu ada dua sesuatu yang sangat penting untuk mencapai tujuan besarnya. "Tidak ada cara lain..."
Dengan sangat terpaksa, Orochimaru pun undur diri dari ruangan Hashirama dan mengatakan bahwa akan memberitahukan hal ini kepada ketuanya -jika masih hidup- lalu diakhiri dengan seringai licik dalam hati.
Namun bukan Orochimaru namanya jika menyerah walau tidak mendapatkan ijin dari Hashirama untuk memasuki ruangan tersebut, kini di benak pria penggila penelitian itu memikirkan cara satu-satunya untuk masuk... Dan itu adalah penerobos masuk ke ruangan arsip rahasia.
Ketika Orochimaru berjalan di lorong utama gedung Hokage, dia berpapasan dengan Uchiha Madara yang senantiasa memasang wajah datar sedatar dinding lorong di sampingnya.
.
.
Sekitar 1 jam kemudian, Hashirama sudah membicarakan semua yang ingin dia katakana kepada sahabat sekaligus tangan kanannya, Madara. Dan sebagai tangan kanan Hokage, Madara mengeluarkan semua pendapatnya tentang hal yang dibicarakan oleh Hashirama dan memberitahukan bahwa itu sepenuhnya ada di tangan Hashirama.
Setelah perbincangan serius berlalu, Hashirama langsung mengalihkan topik ke pertarungan terakhir mereka yang berakhir dengan kemenangan ke-78 untuk Hashirama, unggul 1 kemenangan atas rival sekaligus sahabatnya, Madara.
Alhasil, Madara pun terpancing dan mengatakan bahwa di pertarungan terakhir mereka, dia tengah demam yang membuat Hashirama tertawa terbahak-bahak atas bualan tidak berguna itu. Dengan wajah begitu konyol Hashirama membalas bualan itu,
"Hal ini harus di catat di buku sejarah desa, seorang Uchiha terkena demam, pfffftttttt..."
"Cih," memerahlah wajah Madara karena malu, ditambah lagi ketika melihat wajah menahan tawa Hashirama membuat Madara tidak sabar untuk membakar pria di depannya dengan Katon hingga menjadi akar kayu goreng atau lebih tepatnya ubi goreng.
"Hoiy teme, kau bercanda 'kan?" Hashirama tiba-tiba ketakutan ketika melihat kedua tangan Madara membentuk segel tanda ingin mengeluarkan jutsu.
[Katon: Gōkakyū no Jutsu]
"Teme sialaaaaaannnnn!"
Siang hari yang indah di Konoha pun semakin indah tatkala teriakan Hashirama yang terlempar ke udara menembus kaca gedung Hokage bersama sebuah bola api berukuran 3x3 meter. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup untuk membakar pria pengguna Mokuton itu.
Dan dengan tampang tidak berdosa, Madara menatap bola apinya melahap Hashirama di udara sambil memakan Inarizushi yang entah kapan diambil olehnya, setelah selesai mengunyah lalu menelan makanan favoritnya itu, dia bergumam pelan dengan nada datar.
"Hn, Uchiha tidak pernah bercanda. Ingat itu, dobe!"
.
.
Malam harinya.
Saat ini Hashirama tengah berada di perpustakaan Konoha bersama dua Jounin bawahannya, mereka bertiga berdiri di depan pintu masuk ruang arsip rahasia desa. Sebelumnya, Hashirama bersumpah demi berhentinya Jiraiya menjadi pertapa genit akan membalas perbuatan si Uchiha muka tebing yang baru beberapa jam berlalu habis membakarnya.
Tapi, masalah itu dikesampingkan Hashirama dahulu karena saat ini ada masalah lain yang sangat penting.
"Siapa yang melakukan semua ini?" kedua Jounin yang ditanya oleh Hashirama menggeleng pelan.
Hashirama menggertakan gigi melihat penjaga pintu masuk ruang rahasia kini duduk bersandar pada dinding dengan dua luka tusukan di dada, bukan hanya itu saja, pada bagian pintu masuk yang terdapat tulisan 'dilarang masuk' hancur seperti habis dihantam sesuatu yang besar.
"Tunggu dulu," Hashirama akhirnya menyadari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk siapa pelaku dibalik penerobosan ruang arsip rahasia Konohagakure, "Orochimaru-senpai?!" walau belum sepenuhnya yakin, tapi semua hal yang terjadi hari ini membuat Hashirama mau tidak mau harus menuduh senpai-nya sebagai pelaku.
Lalu masih ada yang membuat Hashirama kebingungan, tadi siang Orochimaru mengatakan bahwa ketua dari Divisi Sistem Penghalang [Kekkai] akan segera mengambil gulungan dan kode baru untuk dua lapis Kekkai pelindung desa. Namun sampai saat ini sang ketua masih belum menampakkan batang hidungnya di depan Hashirama.
"Kalian berdua, cepat ke gedung Divisi Sistem Penghalang dan beritahukan kepada mereka untuk mewaspadai pergerakan yang mencurigakan dari luar maupun dalam desa!"
Kedua Jounin di belakang Hashirama langsung mengangguk-ngangguk tanpa bertanya alasan dibalik perintah itu karena sang Hokage memberi perintah dengan nada sangat tinggi sampai-sampai menggema di ruang perpustakaan. Tanpa menunggu lama lagi, kedua Jounin itu langsung melaksanakan perintah dari Hashirama.
Tepat setelah kepergian dua Jounin itu, seseorang muncul di depan Hashirama menggunakan Shunshin.
"Orochimaru?!" desisan dingin keluar dari mulut sang Hokage ketika melihat siapa yang muncul di depannya, tidak bisa dipungkiri lagi jika Hashirama benar-benar marah atas apa yang terjadi karena secara tidak langsung semua petunjuk mengarah ke orang di depannya.
Orang dipanggil malah menyeringai dalam hati, seolah sudah mengetahui reaksi dari sang Hokage apabila melihat dirinya, "Hokage-sama, semua petugas Divisi Sistem Penghalang dibantai habis dan menyisahkan aku saja oleh sekelompok monster tidak dikenal."
"Apaaa?!" seringai Orochimaru semakin melebar tatkala melihat ekspresi dingin Hashirama tergantikan menjadi terkejut.
"Bukan hanya itu, monster-monster seperti juga menyerang beberapa penduduk yang membuat mereka berubah menjadi monster yang sama dan aku prediksikan, orang yang menerobos tempat ini adalah pemimpin dari kelompok monster itu untuk mengambil beberapa dokumen rahasia desa."
- Flashback Off -
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ossan?"
Lamuan Hashirama buyar mendengar panggilan Naruto, dia langsung menoleh ke pemuda berambut perak gelap itu, "Kenapa melamun?" Hashiama menggeleng-gelengkan kepala menjawab pertanyaan Naruto, namun di benak-nya, sang mantan Hokage tampaknya tengah memikirkan sesuatu yang sangat penting.
"Aku mengerti sekarang. Ternyata selama ini, semua yang dilakukan Orochimaru saling berhubungan satu sama lain," tangan kanan Hashirama mulai terkepal, dan secara tidak sadar kembali menaikkan tekanan chakra-nya hingga membuat tanah yang dipijak retak.
Ya, Hashirama akhirnya sadar juga atas tindakan Orochimaru selama ini. Pantas saja sang penggila penelitian itu ingin masuk ke dalam Divisi Sistem Penghalang [Kekkai] setahun setelah dirinya diangkat menjadi Hokage.
Orochimaru masuk untuk mendapatkan kode Kekkai Konoha agar memudahkan dirinya keluar masuk desa tanpa diketahui, dan sebenarnya orang yang menerobos ruang arsip rahasia Konohagakure bukanlah monster-monster ataupun pemimpin mereka, melainkan Orochimaru sendiri. Dia menyadari hal ini setelah mengingat wujud monster sebelum misi Rank-SS itu sangat mirip dengan monster yang dilawan olehnya sebelum kedatangan Naruto.
Dan secara tidak langsung, Orochimaru pula'lah dalang dibalik pembantaian puluhan petugas Divisi Sistem Penghalang [Kekkai]. Hal ini pun semakin menambah rasa hormatnya kepada Orochimaru perlahan menguap dan tergantikan menjadi sebuah kebencian yang kelak akan mengubah pandangannya terhadap dunia dan mahluk-mahluk bernyawa para penghuninya. Ya, mungkin saja itu akan terjadi mengingat semua orang dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Dan yang paling membuat Hashirama marah besar adalah, kejadian ketika 4 perwakilan Old-Satan Faction yang entah kenapa ketika memasuki Konohagakure tidak terdeteksi oleh para petugas Divisi Sistem Penghalang yang baru. Itu semua karena Orochimaru menggunakan kode lama atau mungkin ada seseorang yang membantunya dari dalam untuk menyusupkan perwakilan Old-Satan Faction ke desa.
"Jadi, semuanya sudah direncakan dari awal," Hashirama berucap lirih dalam hati merutuki semua kesalahannya, dia terlalu percaya pada Orochimaru perihal monster-monster yang menyerang para petugas Divisi sistem pelindung dan tidak menyadari kalau semua itu hanya akal-akal senpai-nya itu.
"Keparat! Kau tidak akan kumaafkan, Orochimaru!"
Naruto tersentak, baru kali ini dia mendengar Hashirama berucap begitu dingin, "Apa yang terjadi?" ia pun melirik sang mantan Hokage yang berdiri di samping kirinya.
"Naruto," kata Hashirama dibalas anggukan pelan oleh pemuda yang dipanggil, "Nanti saja kujelaskan mengenai Edo Tensei... Intinya, sekuat apapun seranganmu, dia tidak akan kalah!"
Mata Naruto sedikit melebar, "Itu artinya dia tidak bisa dikalahkan?" tanya Naruto.
"Itu tidak benar," Hashirama menggeleng pelan, "Di dunia ini, hal seperti itu tidak ada. Bahkan pemangsa pun dapat dimangsa oleh mangsa. Jadi, semuanya pasti bisa dikalahkan, dan sekarang Madara sedang melakukan satu-satunya strategi yang kita punya."
"Lalu, sudah berapa Madara-teme melakukannya?" lagi, Naruto melayangkan sebuah pertanyaan.
"Kurang lebih 25 menit sudah berlalu!"
Naruto mendecih pelan mendengarnya, tumben Madara cukup lama melakukan sesuatu yang sudah direncakan, "Sepertinya orang bernama Orochimaru ini lumayan kuat!" seringai yang sangat mirip dengan Madara pun disungging olehnya, setelah itu Naruto mengalihkan pandangannya ke Dai yang sudah sepenuhnya beregenarasi.
"Ka-Kau," Hashirama menatap terkejut seringai dari Naruto, "Mau sampai dimana meniru semua hal tentang Madara?!"
"Dia datang, Ossan!" teriak Naruto ketika Maito Dai tiba-tiba berlari ke mereka dengan kecepatan tinggi sampai-sampai tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, "Cepat sekali... Tapi," ucap Naruto, kemudian ikut berlari menuju Dai dengan tangan kanan terkepal.
"Cepat saja tidak akan bisa mengalahkanku!"
Suara dua kepalan yang saling bertabrakan pun terdengar begitu keras di depan Hashirama, mengakibatkan munculnya hembusan angin kuat dan membuat permukaan tanah tempat dua kepalan itu bertemu hancur membentuk sebuah kawah.
"Begitu rupanya, kau sebenarnya tidak meniru Madara, melainkan mengaguminya seperti kau mengagumi kami berlima. Sehingga secara tidak sadar, kebiasaan kami menjadi kebiasaanmu juga karena hal itu." Hashirama pun tersenyum dan meralat ucapannya tentang Naruto yang ingin meniru sang Uchiha muka tebing sahabatnya.
Senyum Hashirama semakin mengembang ketika melihat Naruto mengimbangi Dai dalam adu Taijutsu menggunakan kombinasi Taijutsu Uchiha dan Senju yang diajarkan olehnya dan ketiga guru Naruto semasa di Konoha.
"Naruto!" tidak mau kalah dari sang murid, Hashirama akhirnya ikut dalam pertarungan, ia segera berlari menuju Naruto dan Dai yang tengah bertarung. "Perhatikan kaki kanannya saat melakukan pergerakan." teriaknya memberitahukan Naruto bagaimana cara menghadapi Dai yang ditemukan olehnya beberapa menit yang lalu.
Naruto menundukan kepala menghindari satu pukulan lurus tangan kanan Dai, dalam keadaan menunduk Naruto melakukan apa yang dikatakan oleh Hashirama yaitu memperhatikan kaki kanan sang pengguna Taijutsu terkejuat.
"Begitu rupanya!" setelah itu, Naruto melompat mundur menghindari serangan kedua Dai yang melakukan tendangan putar dengan kaki kiri. "Kaki kanannya selalu menjadi tumpuan sebelum melakukan serangan ataupun gerakan lain, berbeda dengan Madara-teme dan Hashi-dobe, tidak menentu dan sulit diprediksi." batinnya sambil menyeringai dan memperhatikan kaki kanan Dai yang menjadi tumpuan untuk melompat ke atas karena hendak melakukan serangan selanjutnya.
Tepat setelah mendarat, Naruto kembali melompat ke kiri karena Dai tiba-tiba muncul di atasnya dengan tumit yang diarahkan ke kepalanya.
Tanah tempat tumit Dai terhantam pun hancur hingga menciptakan sebuah kawah besar, setetes keringat dingin mengucur di pipi kiri Naruto melihat daya hancur serangan barusan, 'Kalau sampai kena, bisa gawat jadinya.' ringis Naruto dalam hati.
"Naruto, kita serang secara bersamaan!"
Dalam keadaan melayang di udara, Naruto menganggukan kepalanya, "Dengan senang hati, Ossan!"
Setelah mendarat, Naruto mengaktifkan Sage Mode miliknya menggunakan energi alam yang tersimpan di dalam tubuhnya, setelah itu langsung berlari menuju Dai, dan disisi lain si pengguna Taijutsu terkuat, Hashirama mengapitkanya.
Dua mahluk berbeda ras itu pun mulai melancarkan serangan kombinasi mereka. Tendangan, pukulan dan berbagai macam serangan fisik menghujani tubuh Maito Dai yang sudah diketahui cara bertarungnya oleh Naruto dan Hashirama. Dan seperti yang diketahui oleh kedunya, setiap Dai ingin melakukan pergerakan, kaki kanan'lah yang menjadi tumpuan sehingga memudahkan mereka berdua menyerang dan menghindari serangan.
Hashirama melompat ke atas melewati tubuh Dai, dan disaat bersamaan Naruto yang melompat rendah menghindari sapuan kaki kanan Dai menangkap kaki kanannya lalu ditarik kebawah sehingga dia bisa melancarkan pukulan super kuat dengan tangan kanan yang membuat Dai harus rela mencium tanah air tercinta.
Setelah Dai bangkit dengan cepat,
"Heyaaaahhhh!" Dari sisi kiri, Hashirama mengepal kuat-kuat tangan kirinya.
[Kawazu Tataki]
Dan dari sisi kanan, Naruto baru saja memijakkan kedua kaki langsung melancarkan salah satu serangan Sage Mode yang diajarkan oleh Jiraiya ke bagian rusuk Dai.
Dua serangan telak pun diterima tubuh Dai, kepalanya dihantam pukulan super Sage Mode Hashirama dan rusuknya terkena hantaman telapak tangan Naruto, kedua bagian tubuhnya itu pun hancur layaknya kertas yang disobek-sobek.
Namun, belum sempat berenerasi secara sempurna, Naruto dan Hashirama melompat pelan sembari memutar tubuh mereka lalu secara bersamaan melancarkan tendangan ke tubuh Dai hingga terpental jauh menuju pagar sebelah barat, jauh dari lokasi Yuki dan yang lain.
Helaan nafas memburu mulai terdengar dari mulut Hashirama yang berdiri di samping Naruto, kemudian sang mantan Hokage menoleh ke pemuda itu, "Ini kali pertama aku bertarung bersama Naruto, dan rasanya seperti bertarung bersama kalian berempat . . . . Madara, Izuna, Tobirama, Jiraiya!" bibirnya mulai melengkung beberapa derajat, dulu Hashirama pernah membayangkan seperti apa Naruto nanti karena dilatih oleh mereka berlima dan sekarang bayangan itu akhirnya menjadi kenyataan.
Seorang anak polos yang tidak mengetahui apa-apa menjelma menjadi sosok shinobi tanpa chakra dengan gaya bertarung gabungan dari Uchiha, Senju dan Gama-Sennin. Lalu sebagai pelangkap, sebuah kemampuan mengendalikan api yang setingkat dengan Madara. Kata 'kuat' saja tidak akan cukup untuk menggambarkan seperti apa pemuda berambut Dark-silver itu sekarang dan Hashirama yakin seiring berjalannya waktu, suatu saat nanti mereka berlima akan dilampaui.
"Heeh," gumaman pelan keluar dari mulut Naruto yang tengah membungkuk beberapa derajat, "Ternyata, bekerja sama dengan Ossan lebih mudah ketimbang bersama Madara-teme."
"Hmn, aku setuju denganmu!" balas Hashirama yang tidak menyangka Naruto mengatakan hal itu.
Namun, perbincangan keduanya harus terganggu oleh sebuah ledakan aura kehijauan dari tempat Maito Dai, membuat mereka langsung menatap terkejut ledakan itu.
Di tempat Maito Dai, bebatuan mulai melayang-layang di sekitar tubuh pria berpenampilan eksentrik itu, bukan hanya bebatuan, aliran udara pun terlihat menjauh akibat dari ledakan aura hijau tadi.
Secara bersamaan, Naruto dan Hashirama mengambil beberapa langkah mundur tanpa persetujuan sang empunya kaki, itu terjadi secara alami ketika merasakan tekanan kuat dari ledakan aura hijau Dai. Bukan berarti tubuh mereka merespon ketakutan, melainkan mewaspai serangan besar yang sepertinya akan segera dilancarkan oleh Maito Dai.
"Menghilang?!" Naruto membulatkan mata menatap gerakan yang begitu cepat dari Dai, bahkan kelemahan yang diketahui olehnya dan Hashirama tidak terlihat yaitu menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan.
"Naruto, diatas!"
[Asa Kujaku]
.
.
.
.
.
Di tempat entah berantah, Sakumo tiba-tiba muncul dalam keadaan melayang. Di bawah pria berambut perak itu terdapat sebuah bergalon-galon cairan aneh yang mengeluarkan asap dan di sekitarnya hanya ada pemandangan menyerupai perut seekor hewan.
[Kekkai: Gama Hyōrō]
Sakumo menundukan kepala, mengarahkan pandangan ke sumber suara yang mengucapkan nama sebuah tehnik khas Gama-Sennin.
Iris putih Sakumo tiba-tiba mengecil, fokus memandangi seseorang yang tengah berjongkok pada tempat tinggi di area itu, setelah mencari-cari tempat yang sama dengan orang itu, Sakumo akhirnya mendarat pada benda lunak menyerupai sebuah daging ulat berukuran besar.
"Selamat datang di dalam perut katak, Sakumo."
Pijakan Sakumo tiba-tiba runtuh, membuat kaki kanannya hampir tertelan cairan berasap di bawahnya, untung saja dia langsung melompat. Saat berada di udara, Sakumo menyarungkan Hakkō Chakura Tō lalu merangkai segel tangan, petir putih kembali bergerak liar di sekitar tubuh Sakumo.
[Raiton: Raijū Hashiri no Jutsu]
Dari tangan kanan Sakumo, sesosok monster petir putih berukuran lumayan besar melesat dengan kecepatan tinggi menuju pemilik dari tempat ini yang tidak lain adalah sang Ogama-Sennin Jiraiya.
Jiraiya segera melompat, menghindari serangan petir putih itu hingga menciptakan ledakan besar dan menghancurkan sesuatu yang diinjak olehnya beberapa detik sebelumnya.
Saat melayang di udara, Jiraiya melempar 5 shuriken. Tapi, dengan cepat Sakumo mengabil kembali Hakkō Chakura Tō dan menahan 5 shuriken itu.
"Kena kau!" ternyata, 5 shuriken yang dilempar Jiraiya hanyalah pengalihan, saat ini sang Ogama-sennin tengah merangkai segel tangan sambil melayang beberapa meter dari Sakumo.
[Katon: Dai Endan]
Sebuah peluru api berukuran besar pun dimuntahkan Jiraiya, menghantam dan mendorong tubuh Sakumo yang tidak sempat menghindar. Beruntung, peluru api Jiraiya mendorong Sakumo cukup jauh sehingga terhindar dari cairan asap yang memenuhi area pertarungan.
"Sial, aku mengeluarkannya terlalu banyak!" ucap Jiraiya dalam hati ketika mendarat, namun pandangannya sama sekali tidak dialihkan dari Sakumo yang perlahan bangkit dari benda-benda yang berjatuhan akibat ledakan Katonnya.
Hanya berselang beberapa detik, Sakumo yang sudah keluar dari reruntahan melompat dengan Hakkō Chakura Tō, Jiraiya yang menjadi target lompatan Sakumo langsung mengeluarkan dua kunai dan memegangnya di kedua tangan.
Adu Kenjutsu pun terjadi tempat Jiraiya, percikan-percikan cahaya kebiruan terlihat ketika Hakkō Chakura Tō dan kedua kunai Jiraiya saling berbenturan dan juga bergesekan.
Sakumo memutar balikkan posisi Hakkō Chakura Tō di depan perut Jiraiya lalu diayunkan secara vertikal ke kepala sang Ogama-sennin.
Jiraiya berhasil memblok serangan itu, namun kuatnya ayunan Sakumo membuat kedua kunai yang dipakai memblok terlepas dari pegangannya dan berputar-putar di udara.
Kedua iris putih Sakumo bergerak memperhatikan gerakan lengan Jiraiya yang hendak menangkap dua kunai di depan mereka, namun Sakumo tidak menyadari jika Jiraiya sebenarnya tidak berniat menangkap kunai itu, melainkan melancarkan sebuah tendangan yang mengarah ke perut.
"Brengsek!" Jiraiya mengumpat kesal, Sakumo berhasil menghindari tendangannya dengan melompat kebelakang, tapi sekarang dialah yang membuat skat mat, "Moratta, Sakumo!" salah satu kunai yang tinggal beberapa inci menyentuh permukaan ditangkap Jiraiya dengan tangan kiri lalu melompat ke depan dan menusuk perut Sakumo hingga tembus.
Saat tubuh Sakumo mulai hancur layaknya robekan kertas, Jiraiya mengepal tangan kanannya untuk memukul sang Taring Putih agar terpental menuju kolam cairan asap yang hanya berjarak beberapa meter dari keduanya.
"Apaaaa?!" namun, belum sempat Jiraiya melayangkan pukulannya, tubuh Sakumo yang dia tusuk tiba-tiba hancur menjadi petir putih yang langsung menyentrumnya, "Arrrrgggghhhh..."
"Sialan, Raiton Kage Bunshin!" Jiraiya meringis dalam hati sembari menahan sakit akibat sentruman petir tadi.
Tepat setelah petir di depan Jiraiya menghilang, Sakumo yang asli pun muncul dan mengayunkan Hakkō Chakura Tō menuju leher Jiraiya.
Beruntung bagi Jiraiya, efek sengatan listrik dari Bunshin Sakumo sudah menghilang, dengan cepat dia langsung memblok Hakkō Chakura Tō dengan kunai yang dipegang tangan kirinya, menciptakan suara geserakan keras disertai percikan cahaya kebiruan.
Setelah serangannya dibuat gagal oleh Jiraiya, Sakumo memutar tubuhnya 360 derajat dan melayangkan tendangan kaki kiri yang membuat Jiraiya terpental jauh.
"Gawat!" menyadari dirinya terseret menuju kolam larutan asam yang sangat banyak, Jiraiya langsung menggunakan kunai yang dipegang sebagai rem sehingga tepat di pinggiran tempat pertarungan, dia berhenti sambil menghela nafas berat, "Hampir saja!"
Dalam keadaan tengkurap, Jiraiya menatap Sakumo dengan mata menyipit tajam, "Tidak salah gelar jenius dalam pertempuran diberikan kepadanya, menciptakan Bunshin untuk menyerangku sementara tubuh aslinya menunggu waktu yang tepat untuk menyerang," perlahan tapi pasti Jiraiya mulai bangkit dan menyiapkan kuda-kuda untuk mengaktifkan sesuatu, "Chakra yang tidak terbatas, tubuh yang abadi ditambah jenius dalam pertempuran... Cih, tidak ada cara lain,"
Ketika mulai mengarahkan ibu jari tangan kanannya ke mulut, Jiraiya teringat dengan pertarungan Hilda dan Kagami yang dia lihat beberapa menit yang lalu, "Cih, Dasar Baka-Ero-Onna... Apa tidak sudah lupa kemampuan dari Kagami sehingga disebut-sebut tiga jenius Uchiha bersama Madara dan Izuna." dia pun mengurungkan niatnya untuk memasuki Sage Mode miliknya lalu menyusun strategi lain untuk menjatuhkan Sakumo ke dalam kolam cairan asap yang memenuhi tempat pertarungan mereka.
Setelah menyelesaikan strategi di dalam benak-nya, Jiraiya membentuk segel tangan sederhana.
[Kage Bunshin no Jutsu]
Satu tiruan sempurna Jiraiya muncul di sampingnya setelah ledakan asap putih.
"Ayo mulai!"
Jiraiya dan tiruannya langsung berlari menuju Sakumo, mengapit dari dua arah berbeda dan mulai melancarkan serangan Taijutsu secara bersamaan, membuat Sakumo kewalahan menahan semuanya.
Sakumo bukannya tinggal diam menerima serangan Jiraiya, sesekali dia melancarkan serangan balik yang juga dapat ditahan dan dihindari oleh dua lawannya.
Klon Jiraiya segera berjongkok menghindari ayunan Hakkō Chakura Tō lalu melancarkan sebuah tendangan tinggi yang tepat mengenai dagu Sakumo hingga terbang ke atas, Jiraiya yang sudah merencakan hal ini pun segera melakukan [Shunshin no Jutsu] dan muncul tepat di atas Sakumo sambil menciptakan gumpalan chrakra padat berbentuk bola pada telapak tangan kirinya.
"Maaf Sakumo, sepertinya kau akan menjadi korban pertama dari tehnik lanjutan Rasengan yang sudah kuciptakan!" ukuran chakra padat atau [Rasengan] di tangan kiri Jiraiya semakin membesar hingga 5 kali lipat ukuran yang telah dia keluarkan hari ini.
[Chō Odama Rasengan]
Tehnik lanjutan dari Rasengan pun dihantamkan ke punggung Sakumo, membuat pria itu kini terdorong ke bawah dengan tubuh berputar-putar mengikuti putaran dari Rasengan berukuran besar di punggungnya.
Ketika Sakumo dan [Chō Odama Rasengan] Jiraiya mengenai tempat pertarungan Taijutsu mereka berusan, ledakan begitu besar pun terjadi, membuat tempat itu hancur berkeping-keping dan cairan asap dari perut katak tempat mereka terbang kemana-mana, untung saja klon Jiraiya sudah menghilang sebelum ledakan besar.
"Fiuh, sepertinya Chō Odama Rasengan masih perlu disempurnakan, hampir seperempat chakra-ku terkuras habis menggunakannya." hembusan nafas tanda sedikit lelah dikeluarkan oleh Jiraiya selama dirinya melayang kebawah dan mendarat di tempat lain yang tidak tergenang cairan asam.
Sementara di dalam cairan asap, terlihat tubuh Sakumo yang tenggelam perlahan termakan oleh zat yang terkandung dalam lautan cairan itu, membuat tubuhnya sili berganti hancur kemudian beregenasi, sekarang bisa dipastikan kalau dirinya sudah kalah oleh Sang Ogama-Sennin karena mustahil baginya untuk keluar dari lautan ini dengan keadaan tubuh seperti sekarang yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
Tapi, tubuhnya yang diberi perintah untuk melenyapkan semua lawannya membuat Sakumo memaksakan lengan kanannya untuk melempar Hakkō Chakura Tō menuju ke Jiraiya yang samar-samar dilihat berdiri pada benda mengampung diatasnya.
Jiraiya langsung memiringkan kepala ke kiri menghindari Hakkō Chakura Tō, membuat pipi kirinya tergores dan langsung mengeluarkan darah segar, "Sialan, walau sudah tenggelam di cairan asam masih bisa melancarkan serangan." tapi, setidaknya salah satu bidak Edo Tensei Orochimaru sudah tidak dapat bertarung lagi.
Jiraiya menghapus kasar bekas dari di pipi kirinya, "Sekarang waktunya membantu Baka Ero-Onna itu!" ucapnya agak kesal karena lagi-lagi dibuat kerepotan oleh Hilda dan tidak lupa dia menyebut panggilan 'sayang' favoritnya ke gadis penganut aliran Dewa Jashin itu.
Singkat cerita . . . . Hubungan Jiraiya dan Hilda bisa dikatakan cukup dekat, dekat dalam artian sering baku ejek dan berkelahi sewaktu Konoha masih ada dan Jiraiya kembali untuk melaporkan hasil yang di dapat kepada Hashirama ataupun Hokage sebelumnya.
Ya, Jiraiya sudah meninggalkan desa saat Hokage sebelum Hashirama yaitu sensei-nya sendiri menjabat, bisa dikatakan alasan Jiraiya keluar desa bukan cuma menulis novel, namun sebagai penghubung agar Konohagakure tidak ketinggalan informasi mengenai dunia luar.
Mereka berdua baku hantam hanya karena Jiraiya sering menggoda Hilda. Walau Hilda dikenal dengan sifat mesum-nya, tapi jika Jiraiya yang menggoda entah kenapa dia merasa kesal sendiri, makanya bisa dibilang mereka berdua adalah Tom dan Jerry versi Konohagakure. Hilda adalah Jerry yang tidak bisa mati dan Jiraiya adalah Tom yang sering kena getahnya apabila berniat menggoda ataupun menjahili Hilda.
.
.
.
.
.
Kembali ke halaman bangunan beberapa menit sebelum Jiraiya menyelesaikan pertarungannya.
"Menghilang?!" Naruto membulatkan mata menatap gerakan yang begitu cepat dari Dai, bahkan kelemahan yang diketahui olehnya dan Hashirama tidak terlihat yaitu menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan.
"Naruto, diatas!"
[Asa Kujaku]
Saat berada tepat di atas Naruto dan Hashirama, Dai melakukan pukulan bertubi-tubi pada udara kosong, menciptakan puluhan bola-bola api kecil hasil dari gesekan pukulan bertubi-tubi Dai dengan udara kosong.
[Enkai]
Naruto merentangkan kedua tangan di samping pinggul, dua kobaran api langsung muncul dan menyelimuti kedua lengannya, setelah itu dia langsung berjongkok dan menghentakkan kedua telapak tangannya pada permukaan tanah.
[Hibarashi]
2 meter di depan Naruto, sebuah dinding api setinggi 10 meter langsung muncul dari dalam tanah, menahan ratusan bola api serangan dari Dai, menciptakan ledakan-ledakan kecil saat kedua tehnik api tersebut saling bertabrakan.
"Huuuaaaaaaaa!" Maito Dai belum menyerah serangannya ditahan oleh Naruto, aura hijau di sekitar tubuhnya semakin menggila, kecepatan pukulannya pun semakin bertambah membuat bola-bola api kecil yang dihasilkan pukulannya semakin banyak dan menghantam dinding api Naruto yang perlahan mulai terkikis.
"Sial!"
"Serahkan padaku, Naruto!" suara dua tangan yang saling disatukan terdengar ketika Hashirama membentuk segel ular dengan gerakan cepat lalu bertumpu dengan kaki kiri di samping Naruto.
[Mokuton : Mokujōheki]
Tepat ketika dinding api Naruto hancur, puluhan balok kayu mencuat dari dalam tanah di kiri kanan Hashirama dan Naruto, dengan cepat langsung membentuk kubah kayu yang melindungi mereka berdua dari serangan brutal Morning Peacok dari Maito Dai.
Saat bola-bola api berhenti membentur kubah kayu, Hashirama dan Naruto merasakan dengan Senjutsu mereka bahwa sesuatu yang sangat besar mengarah ke tempat mereka, dengan cepat keduanya langsung melompat kebelakang untuk keluar dari kubah dan bersamaan dengan itu, teriakan Maito Dai terdengar lantang menyebutkan tehnik Taijutsu-nya.
[Konoha Senpū]
Kubah kayu Hashirama langsung hancur berkeping-keping diikuti terciptanya sebuah kawah besar di sana ketika Dai menghantamkan kaki kanannya pada permukaan kubah Hashirama.
"Gila, kekuatan dan kecepatannya berkembang pesat! Sebenarnya siapa dia Ossan? Aku tidak pernah melihatnya sewaktu tinggal di desa." setetes keringat dingin kembali mengucur di pelipis Naruto ketika melihat serangan dari Dai barusan.
"Maito Dai, pengguna Taijutsu terkuat di Era kepemimpinanku dan Sarutobi-sama. Dia sudah mati beberapa tahun sebelum kau datang bersama Jiraiya, jadi sudah pasti kau tidak mengenalnya, Naruto." Hashirama menjawab pertanyaan Naruto barusan.
"Pengguna Taijutsu terkuat?!" Naruto tersentak, ternyata lawan mereka satu ini bukan shinobi sembarangan, Konohagakure tidak akan memberi gelar itu tanpa alasan jelas, "Pantas saja aku tidak merasakan chakra alam pada tubuhnya." ucap Naruto ketika melihat Hashirama menganggukkan kepala memberi komfirmasi mengenai gelar Maito Dai.
"Dan sekarang ini dia tengah menggunakan tehnik yang membuatnya dikenal sebagai pengguna Taijutsu terkuat . . . . Hachimon_"
"Delapan gerbang?!" lagi, Hashirama mengangguk-ngangguk menjawab pertanyaan Naruto yang memotong ucapannya, "Biar kutebak, pengaktifan gerbang berasal dari beberapa organ tubuhnya dan setiap gerbang pasti memiliki kelebihan masing-masing, 'kan?"
"Kurang lebih seperti itu. Ngomong-ngomong darimana kau tau itu tentang Hachimon?"
"Dari buku tehnik-tehnik shinobi pemberian Ero-sennin, dan aku mempunyai tehnik yang hampir sama dengan Hachimon ini." kata Naruto.
Tepat ketika mereka berdua mendarat pada permukaan tanah, Dai tiba-tiba muncul di belakang Naruto dengan melayangkan sebuah pukulan tangan kanan lurus ke depan mengincar kepala pemuda berambut perak gelap itu.
Naruto segera berbalik dan memiringkan kepalanya ke kiri menghindari pukulan itu. Namun Dai langsung menarik kepalan itu lalu berputar ditempat sambil mengarahkan kaki kanan sekuat-kuatnya menuju kepala Naruto yang dimirngkan.
"Cih, sialan! Kelemahan yang tadi tidak dapat kulihat, gerakannya bertambah cepat!" Naruto pun pasrah menerima tendangan keras Dai hingga terpental menuju bangunan konstruksi.
Saking kerasnya tendangan dari Maito Dai, beberapa tembok bangunan lantai dasar tidak dapat menghentikan laju terpental Naruto hingga mencapai sisi lain area tempat pertarungan dimana Yuki dan yang lainnya berada.
"Nii-chan!"
"Naruto-san!"
Yuki, Genma dan Kotetsu berteriak khawatir ketika melihat pemuda yang mewarisi setengah darah Raja Iblis terdahulu tiba-tiba terpental keluar bangunan, menghantam permukaan tanah beberapa kali lalu terseret hingga ke pagar pembatas dan menciptakan ledakan kepulan debu di sana.
Diantara ketiganya, Yuki adalah yang paling khawatir melihat kakak angkatnya terpental, terseret dan menghantam pagar pembatas. Namun satu hal yang perlu diketahui olehnya. Serangan seperti itu tidak akan membuat kakaknya terluka berat atau bahkan mati, malahan hasrat bertarung yang diturunkan Madara akan semakin menggembu-gembu di dalam benak Naruto.
"Untung saja fisikku sudah diperkuat dengan Senjutsu, kalau tidak..." Naruto segera bangkit, kemudian melompat keluar dari kepulan debu dan berlari melewati lubang-lubang pada dinding bekas hantamannya, "Daijobu Yuki, Minna!" dan tidak lupa dia berteriak kepada ketiganya agar tidak terlalu khawatir.
Setibanya di tempat pertarungan, Naruto langsung melompat ke depan sambil mengeluarkan pukulan api [Hiken] ketika melihat Hashirama dibuat kerepotan dengan kecepatan gila Maito Dai.
"Ossan!" saat Dai melompat menghindari Hiken Naruto, Hashirama memanfaatkan hal itu dengan menoleh ke Naruto ketika memanggilnya, "Dimana lokasi Madara-teme?" sambil melayangkan pertanyaan, Naruto mendarat tepat di samping kanan Hashirama.
Setelah Hashirama memberitahukan lokasi Madara dan Orochimaru yang berada di lantai paling atas, Naruto langsung menjelaskan sesuatu kepada Hashirama. Tanpa merasa ragu akan rencana Naruto, Hashirama pun mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah Naruto, buatlah Madara menjadi bersemangat menjalankan rencananya." setelah itu, Hashirama mengalihkan pandangannya ke depan, "Dai datang, Naruto!" dan langsung memasang pose bertarung khas Sennin Mode miliknya.
Saat Dai melompat menuju mereka berdua, Naruto melompat ke depan menyambut kedatangan Dai dengan pukulan dilapisi api yang sangat mudah di hindari. Setelah Dai menghindari pukulan Naruto, dia langsung melancarkan sebuah tendangan tinggi dengan kaki kanan yang juga dapat dihindari oleh Naruto.
Akan tetapi, tendangan tinggi itu hanyalah tipuan semata bagi serangan Dai selanjutnya.
[Konoha Senpū]
Saat posisi tubuh Naruto tengah membungkuk menghindari serangan pengalihan dari Konoha Senpū, Dai berputar di tempat dengan kecepatan tinggi sambil melancarkan tendangan rendah kaki yang sama yaitu kanan.
Namun, beberapa senti sebelum kaki kanan Dai mengenai bagian kiri perut Naruto, Hashirama tiba-tiba muncul dan menahan lalu memegang eret-erat kaki kanan itu dengan dua tangan.
"Sekarang!" dengan kuat, Hashirama melempar kaki kanan Dai ke atas, membuat sang empunya kaki berputar melawan arah jarum jam di tempat.
Dan tepat ketika posisi tubuh Dai sejajar horizontal dengan permukaan tanah, Naruto melakaukan gerakan tackle tepat dibawah sang penggunan Taijutsu dengan kedua pipi dikembungkan, siap mengeluarkan sesuatu yang lumayan besar.
[Kaen no Hōkō]
Dari mulut Naruto, semburan api keluar dengan cepat dan langsung mendorong tubuh Dai menuju ke atas, "Belum cukup!" tiba-tiba saja, intensitas semburan api Naruto bertambah besar, sampai-sampai mengeluarkan suara menyerupai rubah yang meraung keras dan kecepatan melesatnya juga bertambah sehingga mempersingkat waktu untuk mencapai lantai paling atas.
.
.
Madara yang tengah sibuk menghadapi 3 ular besar Orochimaru pun terkejut sejenak lalu menyeringai dalam hati, 'Dia sudah tiba rupanya!' ucapnya datar dalam hati karena tau pasti pemilik dari semburan api yang tiba-tiba muncul dari bawah.
Sama halnya dengan Madara, Orochimaru yang berada cukup jauh dari sang Uchiha terkuat ikut menyeringai tanpa sebab. Mungkin karena dia memiliki sesuatu yang tersembunyi khusus untuk Naruto karena 40 menit yang lalu ketika Madara dan yang lain tiba di tempat ini, dia menanyakan keberadaan sang pemuda itu.
"Khukukukukuku, sepertinya Otouto tercintamu sudah tiba Madara-chan."
"Dan sebentar lagi api yang sama akan membakarmu hidup-hidup." kata Madara datar, membalas ucapan dan tawa khas Orochimaru.
"Oh, tidak bisa!" tangan kanan Orochimaru dikibas-kibaskan di depan wajah, "Kau saja tidak bisa mengalahkanku, apalagi bocah berotak api itu."
"Kita lihat saja nanti, mahluk melata keparat!" Madara langsung memutar tubuh di tempat lalu melayangkan sebuah tendangan kaki kanan ketika 1 dari 3 ular lawannya berniat menggigit dari belakang, "Keparat, benar-benar keparat! Dia sepertinya tau rencanaku dan selalu menjaga jarak." dalam hati, Madara sangat kesal dengan Orochimaru yang hanya selalu saja mengeluarkan ular-ular peliharaan agar membuatnya tidak bisa mendekati pria itu.
.
.
Kembali ke bawah.
Saat semburan api yang mendorong Dai ke puncak bangunan, Naruto melompat rendah sambil menekuk lutut membentuk sudut beberapa derajat.
"Ini dia Naruto, bersiaplah!" dengan sekuat tenaga, Hashirama menendang kedua telapak kaki Naruto dengan kaki kanan, membuat pemuda berambut dark silver itu langsung melesat bagai roket menuju ke atas.
Saat sampai pada puncak bangunan, dalam keadaan melayang Naruto mengarahkan pandangan ke lawan Madara, "Pantas saja nama Orochimaru terasa familiar di telingaku, jadi si muka ular itu toh." di benaknya, Naruto langsung mengingat ketika hari pertama menginjakkan kaki di Konohagakure, hari dimana seseorang berniat membunuhnya karena berasal dari dunia luar dan orang itu adalah Orochimaru atau Naruto lebih suka memanggilnya 'si muka ular'.
"Hoiy Madara-teme," orang yang dipanggil tiba-tiba mendongak ke atas memandangi Naruto, bahkan Orochimaru pun memerintahkan ular-ular pelirahaannya berhenti menyerang orang yang dipanggil oleh Naruto karena merasa sesuatu yang menarik akan diucapkan oleh pemuda itu.
"Apa kau tidak malu menyandang nama Uchiha dan juga sensei-ku karena tidak bisa mengalahkan si muka ular itu, Haa?" teriak Naruto.
Madara pun dibuat tersentak oleh ucapan Naruto, 'Apa-apaan teriakanmu itu bocah sableng?' ekspresi wajah arogan langsung diperlihatkan olehnya sambil memandangi Naruto, "Heh, kau kira aku tidak mengalahkan ular keparat itu Naruto?"
"Otak api itu benar Madara-chan, aku jadi sangsi gelar Uchiha terkuat di era Hashi-chan dipegang olehmu." Orochimaru pun ikutan nimbrung dalam percakapan mereka, membuat Madara mengalihkan pandangan ke dirinya.
"Diam ular keparat!"
"Hashi-dobe bilang kau sudah bertarung melawan si muka ular selama 30 menit dan masih belum menang-menang juga... Ayolah, dimana Madara-teme yang kukenal sangat kuat sampai membuatku hampir mati beberapa kali? dimana Madara-teme yang selalu membuat lawannya bertekuk lutut?" Naruto menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan provokasinya dengan sebuah teriakan lantang.
"Tunggu apa lagi, cepat perlihatkan semua itu ke muka ular keparat itu!"
"Hn!" balas Madara datar, "Tentu saja bocah sableng!" wajah sadis langsung diperlihatkan olehnya dan tidak lupa menyungging seringai, teriakan dari Naruto seperti memberikan motivasi tersendiri baginya agar segera menendang muka ular Orochimaru.
"Bagus, mari kita lanjutkan Madara-chan!"
Naruto ikut menyungging seringai, kemudian memutar tubuhnya di udara searah jarum jam secara vertikal, "Dan kau," tanpa diduga-duga oleh Dai yang melesat ke Naruto, wajahnya langsung dihantam oleh kura-kura kaki pemuda itu, "Kembali'lah ke alammu, orang mati!"
Setelah menendang wajah Dai, Naruto menarik tubuh Edo Tensei pria itu lalu saling mengunci pergerakannya dengan dua tangan dilingkarkan pada pinggang.
[Ryuusei]
Kedua kaki Naruto kembali mengeluarkan kobaran api, membuat mereka berdua melesat bagai meteor seperti nama tehnik yang barusan disebut oleh Naruto menuju ke bawah dimana Hashirama sudah menunggu, siap melanjutkan pertarungan mereka ke ronde penentuan.
Ledakan besar pun terjadi tatkala Naruto dan Dai tiba di permukaan tanah begitu keras, ledakan yang membuat halaman belakang area konstruksi itu diselimuti kepulan debu.
Dan tepat setelah kepulan debu menghilang, akhirnya ronde penentuan Hashirama dan Naruto melawan Maito Dai pun dimulai dengan saling lempar serangan Taijutsu.
.
.
.
.
.
"Bagus, mari kita lanjutkan Madara-chan!"
"Dengan senang hati, Ular!" tingkat selanjutnya dari mata sakti Madara diaktifkan kembali, "Dan kali ini kupastikan wajah pucatmu akan mencium plat sepatu-ku!" dua lengan mahluk astral tercipta dari ketiadaan di samping kiri dan kanan Madara, langsung memukul ke-3 ular Orochimaru yang hendak menyerang pria Uchiha itu.
"Kau bisa melakukan itu di dalam mimpimu, Madara-chan!" Orochimaru mengarahkan kedua tangannya ke depan, 8 ekor ular pun keluar dalam lengan bajunya dan terbang menuju Madara yang kini berlari ke arahnya dengan dua lengan mahluk astral setia di samping pria itu.
"Dan jangan bermimpi bisa mengalahkanku dengan mahluk-mahluk buruk rupa sejenismu itu!" lengan kiri kiri Susano'o Madara terayun horizontal di depannya, membuat 8 ular Orochimaru terpental dan tewas mengenaskan terkena sapuan lengan biru besar itu.
Saat jarak Madara sudah sekiar 10 meter, "Mari bermain-main sebentar, Madara-chan!" Orochimaru berbalik dan segera berlari menuju batang pohon ciptaan Hashirama, ketika sudah berlari secara vertikal pada batang pohon tersebut, dia terus mengeluarkan ular peliharaannya ke Madara yang berlari mengikutinya.
"Pengecut!" Madara mulai kesal melihat Orochimaru berusaha menjaga jarak darinya, satu per satu ular pria itu dia terbangkan dengan sapuan kedua lengan Susano'o miliknya, "Apa dia mengetahui tentang rencana yang kususun?!"
Saat Orochimaru tiba di salah satu dahan, dia menghentikan lajunya kemudian merangkai segel tangan, "Kau sangat suka memanggilku ular, maka akan kubuktikan kalau aku memang ular!" mulut Orochimaru langsung terbuka lebar selebar mulut ular piton ketika hendak memakan mangsanya.
[Fūton: Atsugai]
Sebuah hembusan angin yang dikompres hingga kepadatan maksimal dimuntahkan dari mulut Orochimaru, membentuk topan setengah lingkaran yang mengarah ke Madara yang tinggal 7 meter mencapai tempat sang empunya Ninjutsu elemen angin.
"Huh, jadi dia mempunyai perubahan chakra Fūton?!" Madara sedikit terkejut karena setahunya Orochimaru hanya spesialis Ninjutsu yang bisa mengeluarkan dan menciptakan ular dalam jumlah tak terbatas, namun dia sama sekali tidak menyangka jika si penggila penelitian ternyata memiliki satu dari lima elemen dasar.
"Percuma saja!" kedua lengan Susano'o Madara mengepal jari-jari, menciptakan sebuah senjata menyerupai keris berwarna biru terang dan langsung membelah hembusan angin padat itu menjadi empat bagian.
"Cih, dua lengan itu benar-benar merepotkan!" Orochimaru kembali melompat ke dahan demi dahan, mencoba menjaga jarak dari sang Uchiha, "Saa, bagaimana dengan ini Madara-chan! Akan kuperlihatkan sesuatu yang menarik!" pada salah satu dahan pohon, Orochimaru segera berhenti lalu berbalik dengan posisi tubuh merangkak.
[Mandara no Jin]
Dari mulut Orochimaru, ular-ular kecil dalam jumlah yang tak terhitung mulai keluar dan menciptakan sebuah gelombang ular menuju ke Madara, tidak sampai disitu saja, secara serentak ribuan ular itu mengeluarkan pedang di masing-masing mulut mereka.
Bukannya khawatir melihar serangan berskala besar Orochimaru, Madara malah menyeringai sadis, "Dasar bodoh!" kemudian menghentikan langkahnya pada dahan pohon yang jaraknya hanya berkisar 5 meter dari gelombang ular Orochimaru, menghilangkan kedua lengan Susano'o miliknya kemudian merangkai segel tangan.
[Katon: Haijingakaure no Jutsu]
Sembaran asap hitam disertai percikan-percikan api langsung disemburkan oleh Madara yang melompat kebelakang, dan bersamaan dengan itu ribuan ular Orochimaru menghujani dahan pohon itu.
Orochimaru tertawa keras melihat apa yang dilakukan oleh Madara, "Dasar bodoh, biarpun kau membunuh ular-ularku dengan Katon, katana di mulut mereka tidak akan hancur dan malah menusuk tubuhmu!" ia kemudian menyeringai setelah mendengar ribuan suara tusukan yang menghujani tubuh manusia dari kepulan debu bercampur asap hitam pekat 15 meter di bawahnya, karena dengan itu salah satu tujuannya dalam pertarungan ini kemungkinan besar akan segera terwujud.
"Khukukuku~~ Satu sudah kudapatkan, sekarang tinggal milik Hashi-chan."
Gelombang besar Orochimaru terus meluncur kebawah melewati Katon yang dikeluarkan sang Uchiha, bersama ribuan ular itu terlihat tubuh Madara yang penuh dengan tusukan katana.
"Ulaaaarrrr kepaaaraaaaatt!" dalam keadaan terdorong ke bawah, Madara mengumpat kasar Orochimaru dengan teriakan panjang hingga dirinya menghantam permukaan bangunan dengan kasar, "Ohokkk!" dan dari mulutnya banyak cairan merah kental menyembur keluar.
Setelah ribuan ularnya mulai menghilang, kabur dan semacamnya. Orochimaru segera menuruni pohon besar itu menuju tempat Madara tergeletak dengan beberapa luka tusukan, "Jadi begini nasib sang Uchiha terkuat? Sungguh menyedihkan." perlahan tapi pasti, dia mulai berjalan mendekati Madara namun tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali karena belum yakin 100 persen Madara sudah kalah.
"Jangan senang dulu, ular! Ini belum berakhir!" kata Madara dengan wajah penuh luka sobekan dan bekas darah yang sudah mengering.
"Kheh, dengan kondisi seperti itu kau masih saja sok kuat, Madara-chan!" kata Orochimaru memandang rendah posisi Madara saat ini, "Atau mungkin belum berakhir karena yang akan mengalahkanku adalah bocah api itu? Jangan bermimpi!"
"Tugas Naruto hanya sebagai pembantu." kata Madara, "Karena yang akan mengalahkanmu itu," Madara menyungging seringai licik, dan tepat setelahnya tubuhnya langsung hancur menjadi kubangan darah segar yang sangat banyak.
"Apaa?!"
Salah satu ular yang tergeletak tidak jauh dari Orochimaru langsung meledak menjadi kepulan asap putih, "Adalah aku!" dari kepulan asap putih itu, Madara melompat keluar dengan keadaan tanpa memakai armor besi dan baju dalaman yang compang-camping, tangan kanannya terkepal dan siap untuk menghantam wajah Orochimaru.
"Brengsek!" Orochimaru langsung mengambil tindakan menghindari kepalan itu, melompat ke samping kanan. Sebenarnya hal ini sudah dalam prediksinya, namun dia melakukan sebuah kesalahan fatal yang sama sekali tidak disadari olehnya sendiri, membuat Madara menyeringai penuh kemenangan.
"Sayang sekali," kata Orochimaru setelah menampakkan kedua kaki pada permukaan, "Serangan dadakanmu gag_"
"Gagal? Aku rasa tidak!" Madara memotong ucapannya Orochimaru, lalu memperlihatkan kedua iris merah berpola anehnya.
[Genjutsu: Mangekyō Sharingan]
Langit malam di atas Orochimaru langsung berputar cepat begitupula dengan area tempat mereka berdiri, tak berselang lama tempat itu langsung tergantikan dengan latar sebuah tempat yang begitu menyeramkan, mayat-mayat berserakan disegala tempat, bangunan di sekitar yang hampir semuanya rata dengan tanah, latar itu adalah suasana Konohagakure ketika penyerangan berhasil digagalkan oleh Madara, Hashirama, Jiraiya dan Naruto.
"Keparat!" Orochimaru mengumpat kesal ketika siulet Madara muncul di hadapannya sambil bersikedep dada, "Keparat, Keparat, Keparat... Aku sudah menduga jika menjebakku dalam Genjutsu adalah rencananya, diawal-awal aku sudah mengantisipasinya dengan tidak pernah menatap matanya."
"Nee, bagaimana rasanya dimangsa oleh mangsa, Orochimaru-senpai?" Orochimaru semakin kesal, bisa-bisanya dia bisa dijebak oleh trik murahan macam itu, "Aku tidak menyangka seekor pemangsa di tempat tadi bisa termakan oleh tipuan murahan dari Chi Bunshin."
.
Kembali waktu dimana Madara selesai mengeluarkan [Katon : Haijingakaure no Jutsu].
Terlihat dengan jelas saat Sang Uchiha mulai tertutupi asap hitam pekat, dia menggigit ibu jarinya sendiri dan menciptakan klon dari tetesan darah yang terjatuh di dahan pohon. Ketika tiruan sempurna dirinya sudah selesai, Chi Bunshin itu langsung melompat menggantikan posisi Madara yang hanya berjarak 1 meter dari ribuan katana.
Setelah Chi Bunshin sudah tertusuk beberapa katana, Madara merangkai segel tangan dengan cepat kemudian melakukan [Henge no Jutsu] menjadi salah satu dari ribuan ular Orochimaru.
.
"Padahal trik seperti itu sudah kuperhitungkan dengan berhasil menghindari pukulan tadi—" inner Orochimaru pun teringat ketika dia berhasil menghindari pukulan Madara, kesalahan fatal yang tidak disadari olehnya adalah secara tidak sengaja menatap Mangekyō Sharingan Madara, "Brengsek, jadi pukulan itu hanya pengecoh agar membuatku menatap matanya."
Dan terbukti bahwa seorang jenius pun dapat melakukan kesalahan yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.
"Dan kau pasti menyadari, kenapa aku yang maju untuk melawanmu walau Hashi-dobe dan Jiraiya tau kemampuanku masih dibawah kemampuanmu."
.
.
.
.
.
- Flashback [Sekitar 40 menit yang lalu] -
"Madara..." Hashirama menghampiri sahabatnya yang berdiri pada barisan depan, berniat menanyakan keadaan pria itu kenapa berkata demikian, tidak lupa melirik sejenak tangan kanan Madara yang terkepal kuat-kuat. Memang mereka saat ini adalah musuh. Tapi, tiga mayat itu tetap rekan sewaktu masih hidup. Itulah yang dipikirkan oleh Hashirama.
"Aku baik-baik saja, Hashirama!"
Madara merespon datar panggilan tadi, seolah tau kenapa si pemanggil menghampirinya. "Kau, Jiraiya dan Hilda yang mengurus tiga mayat hidup itu." Ia mengalihkan wajah beberapa derajat ke kiri tempat Hashirama berdiri, memperlihat [Mangekyo Sharingan] yang sudah berkibar dengan gagah.
"...Orochimaru, biar aku yang urus!"
"Aku mempunyai satu rencanan."
"Apa itu?"
"Begini, Edo Tensei ciptaan Tobirama ini masih belum kita ketahui cara mengalahkannya, terutama para bidak yang dibangkitkan," Hashirama mengangguk sejenak, "Jadi biar aku yang maju melawan Orochimaru. Aku akan mencari cara membatalkan Edo Tensei dengan menjebak ular keparat itu di dalam Genjutsu sekaligus membayar kesalahanku tadi karena tidak menggunakan Genjutsu untuk mengorek informasi lebih detail sebelum ular keparat itu terlepas dari dua katana yang menusuknya,"
"Kau yakin dengan cara itu akan berhasil, Madara?"
Orang yang ditanya menganggukkan kepala, "Apa kau meremehkan kemampuan dari Genjutsu Uchiha, Dobe?" tanya balik Madara dibalas gelengan pelan dari Hashiram, "Dan jika ini berhasil bukan hanya Edo Tensei, kita juga akan mendapatkan beberapa informasi berharga."
"Bukan itu yang membuatku ragu, Madara... Tapi, apa kau bisa melawan Orochimaru yang levelnya berada di kita semua kecuali Jiraiya," Hashirama melirik sejenak sang Ogama-Sennin yang terlihat memperhatikan percakapan mereka. "Lalu, apa kau juga yakin Orochimaru mau melawanmu?"
"Ya, aku sangat yakin karena entah ini benar atau tidak, sepertinya Orochimaru sangat tertarik kepada Uchiha terutama aku dan Izuna. Mungkin karena Sharingan, mengingat dia sangat ingin menguasai semua Jutsu yang diciptakan oleh Kaguya-sama dan kedua anak beliau demi melancarkan tujuannya."
"Kau yakin semua itu akan berhasil, Madara?" tanya Hashirama sekali lagi dan dibalas anggukan oleh Madara.
"Tentu saja. Lagipula jika kau atau Jiraiya yang melawan ular brengsek itu. Aku ragu jika kalian akan bertarung dengan niat membunuh, aku bisa melihat sorot mata kalian yang masih menganggap Orochimaru adalah rekan." Kata Madara menjawab pertanyaan Hashirama, sekaligus menambahkan alasan kuat kenapa hanya dia satu-satunya yang cocok melawan si ular keparat.
"Ta-Tapi-"
"Jangan banyak bicara, cep—Mereka datang!"
- Flashback Off -
.
.
.
.
.
Orochimaru menganggukkan kepala membenarkan pernyataan dari Madara, "Huh, aku tidak menyangka ternyata selama ini kau sudah tau kalau aku tertarik ke Sharingan kalian para Uchiha..." dan lagi, Orochimaru membenarkan salah satu ucapan dari Madara perihal ketertarikannya pada Sharingan.
"Orang bodoh pun dapat mengetahuinya apabila melihat sorot matamu ketika berada di depan Uchiha."
Setelah itu, Madara menghilangkan wajah datarnya menatap Orochimaru yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi di depannya.
"Sebenarnya, saat pertama kau tertangkap aku berniat mengorek informasi lebih detail menggunakan Sharingan, tapi aku berpikir kalau kau memasang semacam perangkap pada isi kepalamu untuk mengantisipasi Genjutsu," Madara kembali menatap rendah Orochimaru yang sudah terjebak Genjutsu dari Mangekyo Sharingan miliknya, "Dan sekarang waktunya mengetes apa benar kau melakukan hal itu, Senpai!"
"Keparat!" Orochimaru mengumpat kesal dalam hati karena dia tidak melakukan apa Madara katakan, tidak ada perangkap dalam pikirannya karena terlalu yakin Madara tidak mampu menjebak dirinya dalam Genjutsu untuk mengorek informasi."
"Dan sepertinya aku akan menjadi Kouhai yang durhaka ke Senpai-nya, tapi apa boleh buat... Saa, aku minta maaf Senpai, isi kepalamu akan kubongkar satu per satu untuk mengambil semua informasi yang kami butuhkan." kata Madara dengan nada formal yang dibuat-buat, membuat Orochimaru benar-benar marah karena baru kali ini Madara bersikap formal sebagai ejekan pedas.
Madara membentuk segel tangan harimau dengan kedua tangannya lalu memejamkan mata, mulai mengambil semua informasi yang ada di dalam kepala Orochimaru. Sang korban, Orochimaru tidak dapat melakukan apa-apa ketika Madara mengorek semua isi kepalanya karena terjebak dalam Genjutsu.
Setelah selesai, Madara membuka kedua mata lalu memandang Orochimaru yang sedari tadi menggertakan gigi marah, "Terima kasih untuk informasinya, Senpai."eksrpresi wajah hormatnya kemudian berganti menjadi begitu sadis, "Dan aku tidak sabar lagi untuk membantai semua orang yang terkait dengan penyerangan Konohagakure!" katanya begitu dingin disertai Mangekyō Sharingan yang bersinar begitu mengerikan di suasana malam setelah penyerangan Konohagakure.
"Dan sebagai permulaan, kau'lah yang akan merasakan hal itu!" Madara mulai mengambil langkah maju mendekati Orochimaru, "Tadi, aku bersumpah untuk menciumkan plat sepatu-ku dengan wajah pucatmu," setelah berada di depan Orochimaru, ia mengankat tinggi-tinggi kaki kanannya.
"Tapi, karena ini hanya Genjutsu. Akan kubuat lebih menarik dengan membuat ciuman plat sepatu-ku lebih hot," plat sepatu standar shinobi Madara yang diarahkan ke wajah Orochimaru tiba-tiba mengeluarkan puluhan jarum tajam. "Selamat menikmati ciumannya, S-e-n-p-a-i!"
"Arrrrggggghhhhhhhhhhhh!" Orochimaru seketika meringis kesakitan ketika plat sepatu berduri itu 'mencium' mesra wajah pucatnya.
Dan penyiksaan Madara di alam Genjutsu pun berlanjut ke tahap yang lebih mengerikan dan semakin lengkap dengan jeritan Orochimaru. Mulai dari tusukan ribuan katana dari mayat-mayat shinobi yang menjadi korban penghianatannya, lalu dilanjutkan dengan kemunculan Naruto yang membakar tubuh Orochimaru hidup-hidup, dan penyiksaan itu terus berlanjut hingga di dunia nyata, Orochimaru sudah berlutut lemas merasakan mental-nya dihancurkan oleh Madara.
.
"Nee, bagaimana rasanya disiksa oleh rekan sendiri?" tanya Madara datar, duduk bersilah di depan Orochimaru yang tengah berlutut.
"B-Bre-ngsek!" dalam keadaan mental hancur, Orochimaru mengumpat Madara dengan susah payah.
Dan dengan dengan tumbangnya Orochimaru, sekali lagi membuktikan bahwa sekuat-kuatnya seseorang pasti bisa dikalahkan apabila terlalu meremehkan lawan mereka. Apalagi jika mental-nya sudah dihancurkan berkeping-keping oleh ilusi semakin membuat orang itu hancur seperti halnya Orochimaru yang nasibnya kini berada di tangan Madara.
Dia, Orochimaru . . . . Sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain menggerakkan lengannya yang berusaha meraih kepala Madara.
"Sekarang," Madara menangkap tangan kiri Orochimaru, lalu meraih tangan yang lain, "Waktunya mengembalikan mereka ke tempat yang selayaknya!"
Perlahan tapi pasti, Madara mulai menuntun kedua tangan Orochimaru untuk merangkai segel tangan tehnik Edo Tensei, "Nah, sekarang katakana 'Kai' atau tidak . ."
"K-Kau me-mengancam—"
[Genjutsu: Mangekyō Sharingan]
"Sialan kau Madara!" teriak inner Orochimaru.
Kedua iris ular Orochimaru kembali memperlihatkan kekosongan layaknya mayat hidup ketika Madara memberikan Genjutsu untuk kedua kalinya, dan dengan suara serak nan dalam, Orochimaru pun bergumam secara bersamaan dengan Madara yang bergumam datar.
[Edo Tensei no Jutsu: Kai]
.
.
Di area halaman belakang bangunan konstruksi terlihat Naruto dan Hashirama baru saja mementalkan Dai untuk kesekian kalinya ke pagar pembatas.
"Haaa-haaa... Benar-benar merepotkan, tubuhnya selalu saja beregenerasi!" dengan nada kesal, Naruto mengutarakan uneg-unegnya, "Berapa lagi, Madara-teme?!"
"Tidak usah mengeluh!" Hashirama menoleh ke samping kiri, menatap Naruto yang barusan berucap kesal, "Orochimaru bukanlah shinobi lemah, jadi butuh waktu untuk Madara melakukannya, dan tidak menutup kemungkinan Madara'lah yang akan kalah." sambung Hashirama.
"Apa lagi sekarang?!" Naruto mengidahkan ucapan Hashirama karena melihat Dai tiba-tiba melakukan pose aneh.
"Gawat!" sang mantan Hokage terkejut ketika mengalihkan pandangan ke Dai dan melihat pose yang Naruto sebut aneh dari pria itu, "Cepat serang dia sebelum membuka gerbang ke-tujuh Naruto!"
"Apaa?!" Naruto ikut terkejut, "Kalau begitu," di kedua lengannya tiba-tiba diselimuti api, hendak melancarkan serangan jarak jauh.
"Hachimon Ton—"
"Renzoku Da—"
Naruto mengurungkan niatnya menyerang ketika mendengar Dai tiba-tiba terdiam dengan tubuh bercahaya putih, "Apa yang terjadi Ossan? Apa kita terlambat?!" tanya Naruto was-was apabila Dai sudah mengaktifkan gerbang ke-7 dari Hachimon Tonkou.
Cahaya putih di tubuh Dai semakin bersinar terang, dan dari tubuh Edo Tensei itu, arwah dari sang pengguna Taijutsu terkuat Konohagakure perlahan keluar dengan senyum nice-guy mengembang di wajah.
"Jangan-jangan..."
"Tenang saja Hashirama-kun, pemuda-kun... " arwah Dai menganggukkan kepalanya, membuat Hashirama menghela nafas lega.
Setelah mendapatkan kepastian dari Maito Dai, Hashirama berbalik ke bangunan lalu mendongak menuju tempat pertarungan Madara dan Orochimaru, "Kita..." senyum kecil disungging oleh Hashirama,
"...Berhasil!"
"Mari ke tempat Madara!"
.
.
Kembali ke gedung, lebih tepat di lantai tujuh sekitar 2 menit sebelum Edo Tensei dilepaskan.
Pada sudut salah satu ruangan disana, terlihat seekor katak berukuran di atas rata-rata, bentuk tubuh yang juga berbeda dari katak-katak lain, berkulit merah gelap dan pada bagian mulutnya terdapat benda mirip penutup botol yang terdapat kanji jepang.
Beberapa detik kemudian, penutup mulut sang katak terlepas dan dari dalam perutnya keluar pria yang diketahui bernama Jiraiya.
Tanpa menunggu lama, Jiraiya langsung berlari menuju pertarungan Hilda, sesampainya di sana matanya membulat sempurna ketika Kagami siap menebas leher Hilda dengan Tantō.
"Tidak akan kubiarkan!" Jiraiya melompat ke Kagami, melancarkan tendangan keras yang membuat sang Uchiha terpental jauh sebelum menebas leher gadis penyembah dewa Jashin. Walau Jiraiya tau kalau Hilda tidak akan mati sekalipun kepalanya berpisah dengan tubuh, tapi yang dipikirkan olehnya adalah bagaimana cara menyambung keduanya apabila berpisah.
Kemudian, Jiraiya berbalik menghadap Hilda lalu membentuk segel dengan tangan kiri dan tangan kanannya menyentuh pundak polos gadis di depannya, "Kai!"
Tubuh Hilda langsung meregang, sorot iris ungu yang tadi begitu kosong kini menampakkan kembali cahayanya, "Demi Jashin-sama!" Ia memekik terkejut karena kesadarannya seperti kembali ke dirinya, "Apa yang terjadi?!" lagi, ia memekik dan kali ini cukup keras.
"Berisik! Kau mau aku tuli Baka Ero-Onna?!" sembur Jiraiya kesal sambil menutup telinga tepat di depan Hilda.
"Are?" Hilda langsung dilanda kebingungan, "Sejak kapan kau ada disitu, Ero-Jiji? Terus dimana Kagami-kun? Apa dia sudah begerenasi?"
Jiraiya mendengus sebal lalu menjawab pertanyaan Hilda, "Kau terkena Genjutsu Kagami, Baka-Onna." Ia lalu mengarahkan jari telunjuknya menuju Kagami yang tadi ia pentalkan dengan sebuah tendangan, "Segitu bodohnya kau sampai-sampai tidak tau kalau dari tadi kau sudah terjebak Genjutsu Kagami?"
"T-Tunggu dulu! Apa sebenarnya yang terjadi? Beberapa menit yang lalu aku sangat yakin kalau tubuh Kagami-kun sudah hancur terkena jeratan Ryūketsu Ninpō : Kūzanshi milikku." Hilda semakin dilanda kebingungan walau secara terang-terangan Jiraiya sudah mengatakan bahwa dirinya terkena Genjutsu dari Kagami. Tapi, belum menyadarinya juga.
"Kau itu memang bodoh, apa cuma pura-pura bodoh sih? Atau mungkin orang bodoh yang pura-pura bodoh?" wajah terkesan konyol pun diperlihatkan oleh Jiraiya sembari menatap Hilda, "Dengar ini... kau itu terkena Genjutsu dari Kagami dan sama sekali tidak menyadarinya," ia memberi jeda sejenak, matanya menyipit penasaran,
"Atau jangan-jangan kau tidak tau apa itu Genjutsu, Baka Ero-Onna!" sambungnya sambil menunjuk wajah Hilda dengan ekspresi terkejut apabila benar Hilda tidak tau tentang Genjutsu.
Hilda akhirnya mengerti maksud dari Jiraiya yang membuatnya mendengus kesal, "Jadi pertarunganku dengan Kagami-kun sebagian besar hanyalah Genjutsu?" tanya Hilda.
Jiraiya mengangguk, "Ya, itu benar... Tapi aku tidak tau kapan dia menjebakmu, apa kau pernah menatap Sharingan Kagami?" tanya Jiraiya.
"Biar kuingat-ingat dulu," Hilda diam beberapa detik untuk mengingat-ingat jalannya pertarungan antara dia dan Kagami, "Sepertinya tidak pernah." katanya merasa tidak yakin kalau yang dikatakan melenceng, karena saat pertarungan dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu, yang dia pedulikan hanyalah membuat kesadaran Kagami lepas dari kontrol Orochimaru.
"Makanya kalau bertarung, jangan terlalu sembrono dan tampaknya hari ini kau cukup beruntung Kagami tidak langsung membunuhmu saat pertama kau terperangkap Genjutsu." kata Jiraiya dan tidak lupa melirik sejenak Edo Tensei sang Uchiha yang kini sudah bangkit berdiri dan siap melanjutkan pertarungan mereka, "Bersiaplah, sebentar lagi dia datang!"
"Ya... ya..., terserah kau saja, Jiraiya-sama!" cibir Hilda yang merasa sedikit kesal dengan Jiraiya karena baru saja diceramahi.
Ketika mereka mulai memasang kuda-kuda bertahan, cahaya keputihan tiba-tiba menyelubungi tubuh Kagami, membuat keduanya terkejut lalu meningkatkan kewaspadaan.
"Apa lagi sekarang, Kagami-kun? Ledakan Genjutsu super duper kuat?"
Pria tua di samping Hilda sweatdrop mendengar pertanyaan itu, "Memang ada ledakan Genjutsu super duper kuat?" tanya Jiraiya.
"Entahlah," Hilda menghilangkan kuda-kudanya, merilekskan tubuh seolah-olah tidak takut apabila ada serangan dadakan dari Kagami. "Tanyakan saja pada Kagami-kun!"
"Hahahahahahaha~~" Jiraiya dan Hilda mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar suara tawa dari arwah Kagami yang perlahan keluar tubuh Edo Tenseinya, "Hal seperti itu tidak'lah ada Hilda, Jiraiya-sama... Dan tumben kalian berdua bisa sedikit akur, biasanya selalu bertengkar satu sama lain."
"Ka-Kagami-kun?!" lagi, Hilda terkejut bukan main, Kagami baru saja berbicara di depan mereka.
"Haha, aku minta maaf Hilda," arwah Kagami tersenyum kecut, "Hampir saja aku membunuhmu barusan."
"Sepertinya Edo Tensei sudah dilepaskan," gumam Jiraiya pelan, namun masih bisa di dengar oleh dua orang disana.
"Hmnnn, anda benar Jiraiya-sama... Dengan ini, aku bisa kembali ke tempat yang seharusnya menjadi tempat kami semua." balas Kagami sembari menundukan kepala, sebenarnya selama pertarungannya dengan Hilda dan yang lain, dia mengetahui semua yang terjadi walau kesadarannya dikendalikan secara keseluruhan. Dan itulah alasannya kenapa tadi ia meminta maaf kepada Hilda.
Setetes cairan bening lolos dari kelopak mata Hilda, "Ya, Sayonara... Kagami-kun!" akhirnya dia bisa mengucapkan selamat jalan kepada rekan se-angkatannya di Konohagakure secara pribadi.
Jiraiya menanggukkan kepala mendengar ucapan gadis di sampingnya dan ikut mengucapkan selamat jalan. Ogama Sennin ini tidak mampu menahan setetes liquid bening di pelupuk matanya melihat adegan perpisahan antara Hilda dan Kagami.
.
.
Dan akhirnya, secara bersamaan empat cahaya putih menjulang tinggi di area konstruksi, berasal dari empat tempat berbeda dimana tiga Edo Tensei. Satu dari halaman belakang, dua di lantai 7 bagian barat dan satu lagi di lantai yang sama pada bagian timur.
Yuki dan dua mata-mata Jiraiya awalnya takut-takut melihat keempat cahaya itu, namun setelah melihat sumber dari cahaya itu, mereka bertiga pun serentak mengatakan 'Kirei' karena tiga dari empat cahaya itu perlahan menerbangkan 3 arwah manusia.
Tunggu dulu!
Ada empat cahaya putih? Bukannya Edo Tensei yang dipanggil Orochimaru hanya ada tiga? Itu artinya ada satu Edo Tensei yang bersembunyi selama pertarungan.
.
.
Di lantai paling atas, keempat Tim Madara sudah berkumpul di depan Orochimaru yang keadaan mentalnya mulai pulih dari efek Genjutsu Madara. Namun belum sepenuhnya bisa menggerakkan tubuhnya.
Awalnya Hashirama hendak mengurung Orochimaru menggunakan Mokuton, namun kemunculan cahaya keempat membuat Hashirama dan yang lainnya tersentak, mereka semua langsung menatap Orochimaru yang menyeringai.
"Khukukukukukuku, Kalian kira aku hanya memanggil 3 bidak Edo Tensei?"
"Memangnya kenapa kalau ada 4? Kinjutsu ini sudah terlepas dan sekarang kau tidak bisa menggunakannya karena aliran chakra-mu masih tidak stabil akibat Genjutsu Madara." kata Jiraiya, memandang datar rekan se-timnya dulu.
Sekali lagi, Orochimaru menyeringai lalu mendongak ke atas menatap langit malam dan ketiga tiga arwah Edo Tensei yang perlahan memudar, "Lihatlah, ketiga arwah Edo Tensei yang kalian lawan sudah menghilang... Tapi, arwah Edo Tensei ke-empat ini masih belum terlihat," perhatiannya kemudian di alihkan ke barat.
Madara dan yang lain ikut menoleh dan memandang satu-satunya cahaya yang belum meredup itu sejenak lalu mengembalikan pandangan mereka ke Orochimaru.
"Jangan-jangan—Gawat!" kata Hashirama cepat memberikan peringatan ke tiga lainnya ketika getaran hebat terjadi di bawah mereka, "Kalian semua, bersiap-siaplah! Orochimaru membuat Edo Tensei ini menyerang sebelum menghilang!" tubuhnya kini memasang pose bertahan, berjaga-jaga apabila serangan besar benar-benar terjadi.
"Keparaaat!"
Naruto dan Madara secara bersamaan menyerang Orochimaru, tapi lantai tempat mereka berpijak tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian karena kemunculan gumpalan es berukuran sangat besar muncul dari bawah mereka.
Keduanya pun membatalkan serangan dan lebih memilih melompat menghindar bersama Hashirama, Jiraiya dan Hilda. Sayangnya, gumpalan es itu terlalu cepat dan Madara, Naruto dan Jiraiya tidak sempat mengeluarkan tehnik berbasis api mereka sehingga mereka langsung terkena gumpalan es itu dan membeku di dalamnya,
Dan tepat setelah itu, arwah dari Edo Tensei terakhir akhirnya muncul. Dia seorang perempuan muda berambut panjang, Naruto dan yang lain tidak dapat melihat sosok arwah itu karena posisi mereka di dalam es menghadap berlawanan dari cahaya yang akan mengirim arwah itu ke nirwana.
"Grrrrrr, Ular sialan!" Madara hanya bisa mengumpat emosi dalam hati.
"Ini adalah es," sedangkan Naruto malah sibuk memikirkan sesuatu, "Itu artinya!" dia pun mulai berkonsentrasi, berusaha mengeluarkan api Kurama untuk mencairkan es yang membekukan mereka berlima.
"Mustahil!" Naruto bergumam tidak percaya, apinya tidak bisa mencairkan es itu, "Kurama apa yang terjadi?" ia pun bertanya kepada sang Youkai sumber dari kekuatan api-nya.
"Aku tidak tau! Tapi tenang saja, akan kutingkatkan apiku hingga level tertinggi agar es itu bisa mencair!"
"Tolong cepatlah, Kurama!" Naruto memohon dengan nada cepat, "Biar ular itu tidak kabur!"
"Khukukukukukukuku~~~" Orochimaru tiba-tiba tertawa keras membuat keempat shinobi dan satu Half-Devil di dalam balok es itu mengarahkan pupil mereka ke Orochimaru, "Kuakui hari ini aku kalah karena terlalu meremehkan kalian berlima terutama Madara-chan dan sepertinya tubuhku tidak akan pulih dengan cepat dari efek Genjutsu tadi,"
"Sial! Apa dia berniat kabur?" Hashirama, Madara dan Jiraiya pun memikirkan hal yang sama.
"Jadi, sampai jumpa lagi kalian semua... Itupun kalau kita akan berjumpa lagi, mengingat Madara-chan sudah mengambil semua informasi karena kesalahanku," dengan susah payah, Orochimaru menggerakkan kedua kakinya, berjalan menuju pinggiran bangunan. Tepat setelah berada di pinggir, "Bye~Bye~" dia menyentuh telinga kirinya lalu melompat turun seolah ada yang sudah menunggunya di bawah.
Setelah kepergian Orochimaru, arwah perempuan berambut panjang di belakang mereka perlahan menghilang, namun sebelum arwahnya menghilang secara sempurna, ia melirik balok es dengan sorot mata datar menuju ke Naruto seorang.
"Sampai jumpa lagi, Naruto!" ucap arwah itu melalui telepati yang seketika membuat Naruto terkejut bukan main.
"Siapa itu?!" Naruto membalas ucapan itu, walau tidak tau apa si pemanggil tadi dapat mendengarnya atau tidak.
.
.
.
.
.
Beberapa menit berlalu, es yang membekukan mereka berlima akhirnya lenyap atas bantuan Naruto yang mengeluarkan api Kurama dalam level yang lebih tinggi. Diantara kelimanya, Madara dan Jiraiya yang terlihat begitu emosi atas kaburnya Orochimaru. Namun sisi baiknya, mereka sudah mengetahui tujuan dan alasan Orochimaru.
Dan khusus untuk Madara, ia memiliki banyak informasi dari pembongkaran isi kepala Orochimaru melalui Genjutsu. Namun, pria Uchiha ini juga dilanda rasa penasaran siapa Edo Tensei ke-4 Orochimari dan kenapa mereka semua tidak mendeteksi keberadaan Edo Tensei itu, padahal selama pertarungan bisa dibilang mereka semua memasang kewaspadaan tinggi apabila Orochimaru masih memiliki kartu as lain untuk melawan.
Bukan hanya Madara saja. Jiraiya, Hashirama, Hilda dan Naruto juga memikirkan hal yang sama dengan pria Uchiha itu. Terkhusus untuk Naruto, rasa penasaran pemuda ini lebih besar dari keempat-nya. Itu dikarena disaat terakhir sosok terakhir mengatakan salam perpisahan yang begitu menyiratkan kerinduan dan juga sedikit... Dendam.
"Jadi..." kata Hilda membuka suara membuyarkan lamuan ketiga shinobi di dekatnya. Tidak untuk Naruto, pemuda itu sepertinya sangat fokus untuk mengetahui siapa sosok Edo Tensei ke-4 itu.
Secara serentak tiga shinobi Konohagakure langsung menatap gadis berambut abu-abu itu kecuali Naruto.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" kini giliran Hashirama yang angkat bicara, menyambung perkataan Hilda.
"Tentu saja, mencari Orochimaru!" jawab Jiraiya datar, lalu mengalihkan tatapan ke satu-satunya orang yang sedari tadi terlihat begitu emosi, "Benarkan, Madara?"
Orang yang ditanya menatap datar satu per satu keempat orang di didekatnya, "Hn, benar! Ular keparat itu benar-benar akan kuhancurkan bersama dengan antek-anteknya," lalu memanganggukkan kepalanya menjawab pertanyaa dari Jiraiya.
"Tapi bagaimana?" tanya Hilda lagi, bingung dengan rencana dari ketiga-nya yang ingin mencari Orochimaru.
Madara menyeringai, "Aku mendapatkan sesuatu yang menarik dari kepala Orochimaru," kata Madara, membuat yang lain kecuali Naruto lansung menatapnya dengan pandangan meminta kejelasan lengkap.
"Khaos Brigade!"
"Khaos Brigade?" tanya Hashirama setelah mendengar nama yang terdengar asing di kepalanya, "Apa itu sebuah organisasi?" Madara mengangguk-nganggukan kepala menjawab dua pertanyaan darinya.
"Oiy, pertanyaanku bagaimana cara kita mencari Orochi-kun belum dijawab," Hilda nampaknya cukup kesal, pertanyaan darinya dua kali diacuhkan oleh yang lain.
Mendengar pertanyaan dari Hilda, pupil hitam kelam Madara tiba-tiba berganti menjadi merah darah berhias tiga Tomoe, lalu dengan nada seberat besi baja sato ton, ia bergumam datar menjelaskan sebuah rencana singkat kepada yang lain.
.
.
.
"Lacak, temukan dan bunuh mereka semua!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Yooo~~ '-')/
Ketemu lagi ama ane, Author Newbie yang gak jelas asal-usulnya, di Chapter terbaru Fic Half-Devil sekaligus penutup Arc II.
Mengenai [Rasengan], Tehnik ini diciptakan oleh Jiraiya sendiri bukan Minato seperti di Canon. Penjelasan kapan dan bagaimana Jiraiya menciptakan Rasengan akan ada di Chapter berikutnya.
Kenapa Jiraiya yang menciptakan Rasengan bukannya Minato? . . . . Jawabannya simpel, Kemungkinan 85% Minato tidak akan muncul di Fic ini dan Jiraiya tanpa Rasengan bagaikan taman tak berbunga :v Lolz. Jadi ane buat aja Jiraiya yang menciptakan Rasengan.
Oh, iya... Di Chapter depan, Tittle dan Summary Fic ini akan kuubah... Ya, Dikarenakan mulai di Chapter depan bukan hanya berfokus pada Naruto saja. Namun Madara, Hashirama, Yuki, Hilda dan beberapa Chara yang akan bergabung dengan keluarga kecil mereka. Dan tentu saja ada Chara DxD yng akan bergabung. Bukan cuma satu Chara DxD, tapi beberapa Chara... Tunggu saja.
Oke, sekian dulu untuk Chapter penutup Arc II ini. Dn mohon maaf apabila Fic ini mulai membosankan. Hehehehe...
Untuk Review... Di Chapter depan baru akan saya jawab.
.
.
Issue for Next Chapter : New Arc - Chapter 16 : Pelatihan Dedek Yuki dimulai!
Root Loliwood and Stark Milfbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu! '-')/
