New Tittle : Daybreak

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui apapun yang ada di dalam Fic ini.

Genre : Supernatural, Family, Adventure, Romance, Etc.

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya.

Warning : AU, Typo's, Miss-typo's, Bahasa Gado-gado, OOC, Adult-Theme, Violence, Fem!Hidan, Etc.


New Arc : III — Early and Late!

Chapter: 16 — Pelatihan Yuki dimulai!


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di pagi hari ataukah siang hari yang cerah. Seorang pria bernama Senju Hashirama telah bangun dari tidur cantiknya pada sebuah ranjang berukuran cukup besar di dalam kamar yang terbilang cukup mewah. Perlahan tapi pasti ia mulai mengumpulkan kesadarannya dengan mengerjap beberapa kali dan tidak lupa mengeluarkan lenguhan pelan.

Setelah penglihatannya sudah pulih sepenuhnya walau masih kalah dari penglihatan sahabatnya, Hashirama menyadari kalau kamar tempat dia terbangun bukanlah kamar miliknya di kota Kuoh. Desain dan furnitur di sini terlihat sangat asing dimatanya.

Dan ketika hendak bangkit dan mengambil posisi duduk...

"Ahh, kakiku pegal!"

...untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Senju Hashirama, ia mengeluhkan sakit yang cukup tidak mungkin dialami oleh seorang Shinobi seperti dia ketika bangun tidur. Entah apa yang akan terjadi apabila Madara ataupun Naruto mengetahui hal ini keluar dari mulutnya. Satu hal yang terlintas di pikiran dia adalah kedua orang tidak normal itu pasti mengejek dan menertawainya habis-habisan.

Akan tetapi, apa yang pikiran Hashirama segera menghilang tatkala mengingat beberapa hal yang terjadi semalam. Masih teringat jelas di dalam kepala Hashirama mengenai pertarungannya bersama keluarga kecilnya melawan Orochimaru dan antek-anteknya. Pertarungan semalam benar-benar sengit sampai-sampai Hashirama mengaktifkan mode terkuatnya, [Sage Mode].

Namun,

Penyebab rasa pegal di kaki Hashirama bukanlah pertarungan itu, melainkan setelahnya. Mengingat hal itu, Hashirama langsung berkata.

"Haaah, ini semua gara-gara Naruto."

Rencana awal yang mereka semua susun ialah setelah pertarungan selesai dan tidak memakan korban jiwa, mereka berniat langsung pulang ke apartemen di kota Kuoh menggunakan tehnik teleportasi milik Naruto. Akan tetapi pemuda itu malah beralasan kalau terlalu lelah untuk menggunakannya dan jadilah mereka semua akhirnya memilih ke tempat ini dengan berjalan kaki. Karena sama. seperti Naruto, Hashirama dan ketiga shinobi lain dikelompok mereka juga hampir kehabisan Chakra sehingga tidak memungkinkan untuk memakai [Shunshin no Jutsu].

Dan selama perjalanan pulang, terjadi beberapa hal.

Pertama... Hashirama hampir saja tertawa keras apabila mengingatnya. Ini mengenai reuni antara Naruto dan Hilda yang sangat tidak dramatis seperti yang diperkirakan oleh dia, Madara dan Jiraiya. Beberapa jam setelah pertarungan selesai, Hilda baru menyadari kalau pemuda yang bergabung dalam pertarungan adalah Naruto, anak polos yang dulunya murid dari lima shinobi Konohagakure. Dan tanpa babibu, Hilda langsung memeluk dan menenggelamkan wajah Naruto ke celah emas dua payudaranya. Hal itu membuat Yuki menjadi marah kakaknya dipeluk oleh orang lain dan terjadilah perdebatan sengit antara Yuki dan Hilda.

Beralih ke hal kedua... Dalam perjalanan pulang, Hashirama dan Madara akhirnya memutuskan untuk mulai melatih Yuki. Sebuah latihan yang setidaknya membuat Yuki bisa mempertahankan diri apabila diserang oleh Low-Class Devil, Fallen Angel [Da-Tenshi] bersayap satu pasang ataupun musuh-musuh tingkat rendah yang akan mereka hadapi kedepannya.

Sebenarnya, baik Madara maupun Hashirama merasa bersalah seperti Naruto karena sudah melibatkan Yuki dalam masalah mereka. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, Yuki sudah terlibat, dan hal yang bisa mereka lakukan hanya melatih dan sekuat tenaga melindungi anggota keluarga mereka yang paling lemah.

Memikirkan hal ini membuat Hashirama menghela nafas berat.

Setelah hal itu, pikiran Hashirama beralih ke Naruto. Semenjak pertarungan melawan Orochimaru, pemuda itu mulai bertingkah aneh seperti ada yang tengah dipikirkan. Namun, Hashirama tidak terlalu ingin memikirkan hal ini. Naruto sudah dewasa dan bisa menyelelesaikan masalahnya sendiri. Tapi tidak menutup kemungkinan ia dan Madara akan membantu Naruto apabila masalah yang dihadapi cukup berat.

Lalu, hal terakhir yang terjadi mengenai Jiraiya dan kedua anggota jaringan mata-matanya. Di tengah-tengah perjalanan, mereka bertiga berpisah dengan yang lain. Jiraiya beralasan jika ia dan jaringan mata-matanya ingin mulai mencari petunjuk mengenai dua hal yang berkaitan mengenai Orochimaru. Kedua hal itu adalah kelompok bernama Khaos Brigade dan sebuah tempat yang dijuluki 'Tempat terdekat dari Surga'.

Ketika tengah sibuk memikirkan hal tersebut. Hashirama mengalihkan pandangan ke jam yang terpasang pada dinding tepat di atas ranjang yang ia duduki. Seketika keringat setetes keringat dingin mengucur pada pipi sebelah kirinya melihat jarum jam sudah menunjuk angka 10.

"Yabee... Teme dan Naruto pasti sudah menunggu." ujar Hashiama ketakutan setengah mati.

Tanpa basa basi lagi ia segera turun dan berlari keluar kamar mencari kedua orang itu. Persetan dengan rasa pegal dan belek yang masih ada di sudut matanya. Kedua hal itu belum kalah mengerikan dari kemarahan Madara dan Naruto.

Satu menit berlalu setelah menyadari hal tersebut, dan sekarang Hashirama mulai terperangkap di tempat yang lebih cocok disebuat labirin seluas 100 meter dikali sekian berapa meter bertingkat tiga. Bangunan tempatnya sekarang memiliki puluhan bahkan ratusan koridor berdesain sama, yang membedakan hanya lukisan pada beberapa bagian dinding. Hal itu pun membuatnya mulai kesal bercampur takut.

"Sialan, besar sekali bangunan ini!"

Lima menit setelahnya, Hashirama masih setia berlari mencari Naruto dan Madara. Sapaan beberapa Maid disana bahkan tidak direspon olehnya. Hingga...

"Ara, berlari di koridor tidak baik loh, Hashirama-san."

...sebuah suara akhirnya menghentikan Hashirama tepat di depan sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup. Segera Hashirama mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan berkata.

"Errr, Ohayou Yasaka-dono." sapa Hashirama disertai senyum canggung karena merasa malu baru saja mendapatkan teguran.

Orang yang disapa—Yasaka, sama sekali tidak terganggu karena hal itu. Ia malah tersenyum dan membalas sapaan Hashirama.

"Ohayou mo Hashirama-san." katanya dengan lembut.

Yasaka atau yang lebih dikenal dengan Yasaka no Kyuubi merupakan pemimpin Fraksi Youkai Kyoto. Dalam Human-Form, Yasaka berpenampilan seorang wanita muda cantik yang memiliki postur tubuh sangat menggairahkan, berambut pirang keemasan dan iris mata senada dengan rambutnya. Di sebagian waktunya Yasaka memakai pakaian pendeta kuil jaman dulu. Dan sekarang, Hashirama dan keluarga kecilnya berada di kediaman Yasaka yang merupakan sebuah kastil berlantai tiga. Itu karena hanya tempat inilah yang mereka tau di kawasan kota Kuoh.

Selagi memperhatikan gerak-gerik Hashirama yang masih dalam keadaan malu, Yasaka mengambil cangkir berisi ocha hangat di atas meja dan menyesapnya dengan anggun khas seorang bangsawan. Setelah selesai, ia mengembalikan pandangannya ke Hashirama dan melayangkan sebuah pertanyaan.

"Jadi... Apa yang membuat anda berlari di koridor Hashirama-san?"

"Ano, begini Yasaka-do—"

"Cukup namaku saja, tidak perlu bersikap formal hanya karena aku pemimpin Fraksi Youkai."

Ya, Hashirama sudah mengetahui tentang Yasaka yang merupakan pemimpin Fraksi Youkai Kyoto, itulah yang membuat dia menambahkan embel-embel 'dono' dibelakang nama Yasaka. Ia dan Madara mengetahui hal ini ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini bersama Jiraiya. Sedangkan Hilda baru tau ketika kembali dari pertarungan melawan Orochimaru. Karena melihat sorot mata Yasaka yang terlihat sangat tidak ingin mendapat penolakan membuat Hashirama menghela nafas ringan.

"Baiklah Yasaka-san." katanya singkat kemudian melanjutkan omongannya yang tadi sempat tertunda hanya karena masalah keformalan. "Begini... Aku bangun kesiangan dan takutnya Madara dan Naruto marah, makanya aku berlarian di koridor mencari mereka berd—maksudku, tempat mereka sekarang."

Yasaka mengangguk setelah meletakkan cangkir ocha di atas piring kecil pada permukaan meja kecil di depannya. Lalu, dengan senyum kecil terlihat di wajah cantiknya, Yasaka menjawab.

"Jika Madara-san dan kedua Ojou-chan cantik kemarin sedang berada di halaman belakang bersama Kunou-chan."

"Kalau Naruto?"

Yasaka berpikir sejenak dengan cara memegang pipi kirinya, terakhir kali ia melihat Naruto adalah tadi pagi, yang itu artinya...

"Hmmmn, mungkin dia berada di tempat kesukaannya ketika tinggal disini. Mintalah Kunou-chan untuk memperlihatkannya." jelas Yasaka.

"Arigatou, Yasaka-san."

Tanpa menunggu lama lagi, Hashirama segera beranjak dari sana. Namun belum berlalu satu menit, ia kembali dengan ekspresi wajah malu-malu karena satu hal hal yang masih menjadi masalahnya saat ini.

"Errr, jalan ke halaman belakang sebelah mana?"

Yasaka yang baru saja ingin menyesap ocha hangatnya terpaksa mengurungkan niatnya dan segera menjawab pertanyaan Hashirama.

"Sepuluh meter dari sini ada koridor disebelah kiri, nah itu menuju langsung ke halaman belakang."

Tepat setelah jawaban diterima olehnya, Hashirama berterima kasih dan tidak lupa meminta maaf karena mengganggu Yasaka sebelum berangkat menuju halaman belakang melalui jalan yang sudah diketahui. Sementara di sisi Yasaka, setelah Hashirama sudah tidak terlihat lagi, ia akhirnya melanjutkan acara minum ocha-nya dan mendesah kenikmatan ketika minuman tradisional Jepang itu melewati tenggerokan.

Sementara asik menikmati ocha, Yasaka sedikit teringat percakapannya bersama Madara dan Hashirama semalam, ia benar-benar tidak menyangka kalau keluarga kecil Naruto yang sekarang baru saja mengalami hal buruk. Desa kelahiran mereka kecuali Naruto telah hancur oleh Old-Satan Faction [OSF], dan semua itu terjadi karena salah satu dari shinobi Konohagakure berhianat hanya karena sebuah impian menjadi abadi dan tak terkalahkan.

Walau baru sehari mengenal Madara, Hashirama dan Hilda. Yasaka sama sekali tidak menaruh kecurigaan kepada mereka. Terbukti karena ia dengan senang hati membiarkan mereka menginap di kediamannya. Ia juga tidak merasa keberatan Naruto dan keluarga kecilnya melakukan balas dendam karena tau apa yang mereka rasakan. Alasannya ialah sebaik-baiknya seseorang akan melakukan pembalasan apabila orang terdekat direnggut tepat di depan mata.

"Semoga kalian semu cepat menemukan dalang dibalik semua ini."

Harap Yasaka karena tidak ingin Naruto—pemuda yang sudah ia anggap anak sendiri tidak bersedih lagi. Sungguh, ia sangat ingin membantu, namun posisinya sebagai pemimpin Fraksi Youkai Kyoto menghalang, sehingga satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah membantu berdoa ataupun menyediakan tempat tinggal sementara, seperti yang ia lakukan sekarang.

.

.

Di halaman belakang kediaman Yasaka. Terdapat sebuah taman kecil seluas 7x7 meter yang dihiasi berbagai macam bunga dan 5 pohon besar yang berguna sebagai tempat berteduh di kalah panas, dan sebagai pelengkap sebuah hamparan rumput hijau menjadi karpet alami taman tersebut.

Dan ditempat inilah Madara, Hilda, Yuki dan Kunou berada. Yang bergender perempuan tengah bermain kejar-kejaran di halaman, sedangkan satu-satunya mahluk jantan tengah bersantai pada teras yang merupakan pembatas taman dan bangunan. Mahluk jantan itu—Madara, duduk dengan posisi menyerupai gambar primata di uang 500 Rupiah jaman dulu sambil menikmati Inarishusi.

Namun, acara bersantai Madara sepertinya akan terganggu sebentar lagi. Dan benar saja, tak berselang lama setelahnya, sensor tingkat tinggi milik Madara mendeteksi kedatangan mahluk absurd yang merupakan sahabat sekaligus rival abadinya berjalan mendekat. Tanpa menoleh sedikit pun. Madara berkata.

"Hn, Ohayou dobe!"

Orang yang disapa—Hashirama, sekarang dilanda kebingungan karena bukannya mendapat kekerasan fisik maupun mental dari Madara, ia malah mendapat sapaan datar seperti tidak peduli kalau dirinya terlambat bangun. Dan hasilnya, ia pun naik pitam dan membalas.

"Ohayou gundulmu teme... Kenapa kau tidak membangunkanku, hah?!" bukannya dirinya yang harus kena marah, tetapi sekarang malah dia yang marah.

"Membangunkanmu?" beo Madara kini menatap Hashirama dengan sebelah alis terangkat.

"Iya... Apa kau tau betapa takutnya aku sampai-sampai jantungku mau copot apabila Naruto marah karena terlambat bangun untuk kembali ke Kuoh."

Madara mendecih tidak suka mendengar ucapan dari sahabatnya kemudian berkata agak tajam sekaligus mengejek.

"Aku, Hilda dan Loli-chan sudah melakukannya beberapa kali, kau yang tidur seperti kerbau makanya tidak bangun-bangun, Ushi-Dobe."

"Bena—Hoii, apa maksudmu memanggilku seperti itu, hah?!"

"Cih, percuma saja menjelaskannya, otak dibawah standarmu tidak akan mengerti. Lebih baik kau kembali saja tidur daripada ada disini mengganggu kesegaran udara... Naruto sudah memutuskan untuk tinggal disini beberapa hari ke depan." jelas Madara yang cukup untuk membuat sahabatnya itu cengo tidak percaya selama hampir satu menit, itu karena ucapannya yang terbilang cukup panjang.

"Apa karena masalahnya dengan gadis bernama Rias itu?"

Madara mengangguk singkat dan membalas dengan nada datar. "Ya, dan sedikit tambahan... Dia bukan gadis, tapi Iblis."

Hashirama hanya mampu mengeluarkan desahan pasrah atas kebencian sahabatnya itu terhadap ras iblis yang sudah kelewat over dosis. Jauh di lubuk hatinya, Hashirama sedikit berharap agar Madara bisa menghilangkan kebenciannya kepada ras iblis dan hidup berdampingan dengan mereka seperti yang di amanatkan oleh leluhur mereka.

Sementara Madara kembali memfokuskan pandangan ke halaman dimana Yuki, Hilda dan Kunou tengah bermain, Hashirama segera duduk di samping kiri sahabatnya dan mengambil satu buah Inarishusi. Sebelum makanan favorit Madara itu masuk ke dalam mulutnya, Hashirama terlebih dahulu melayangkan sebuah pertanyaan yang terlintas di benaknya ketika melihat Madara.

"Mengingatkanmu akan masa lalu'kah?"

"Hn."

Dua huruf universal Uchiha menjadi jawaban dari Madara tapi sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Hashirama tadi. Memang benar kalau apa yang dilihat mereka berdua seperti tengah bernostalgia ketika Naruto masih berada dibawah pelatihan. Terutama ketika Yuki berhasil ditangkap oleh Hilda dan membuat Kunou tertawa lepas melihatnya.

"Ah, aku baru sadar Madara... Tadi kau bilang kalau Naruto ingin tinggal beberapa hari. Jadi, sekalian saja kita melatih Yuki disini daripada tidak melakukan apapun. Hmmn, bagaimana menurutmu?" tanya Hashirama memberikan sebuah saran.

"Memang itu yang aku inginkan bersama Naruto. Kami sudah membicarakannya tadi pagi dan dia setuju untuk memulai latihan Yuki secepatnya."

"Baguslah kalau begitu."

Bersamaan setelah Hashirama merespon, ia pun memasukkan inarishusi yang diambil ke dalam mulutnya. Dikunyah hingga hancur kemudian ditelan secara halus agar tidak tersedak. Dan tepat setelahnya, ia dan Madara pun membicarakan metode latihan seperti apa yang diberikan untuk Yuki beberapa hari kedepannya.

Dalam percakapan itu, Madara menjelaskan kalau ia dan Naruto berencana melakukan sebuah riset untuk menciptakan gaya bertarung yang cocok untuk tubuh loli Yuki beserta fisiknya.

.

.

Langit di atas kota Kyoto mulai berwarna jingga menandakan kalau hari mulai sore. Bersamaan dengan itu, sesi pertama latihan Yuki dibawah bimbingan Hashirama berakhir cukup memuaskan. Latihan ini dimulai pukul 15.00 yang diawali dengan mengelilingi halaman belakang sebanyak yang bisa dilakukan oleh Yuki, disusul dengan latihan fisik seperti puss-up dan sit-up masing-masing 20x yang berguna untuk melatih otot agar kedepannya lebih terbiasa, tentu saja setelah Yuki beristirahat sehabis berlari.

Dalam latihan itu, bukan hanya Yuki saja yang ikut serta. Kunou, yang baru tadi pagi resmi menjadi kakak dia pun ikut serta. Alasan Kunou ikut serta karena merasa bosan hanya melihat-lihat saja. Ketiga pelatih Yuki sama sekali tidak keberatan dengan ini, mereka malah senang karena keikut sertaan Kunou seperti menambah semangat Yuki karena kedua gadis Loli ini melakukan perlombaan.

Sebelum Hashirama menutup latihan di sore hari ia menoleh ke kiri dan melihat Yuki dan Kunou tengah melakukan perdebatan kecil.

"Hahaha... Aku menang Uki-chan!"

Uki-chan alias Yuki yang lagi berbaring dengan tangan terlentang ke samping pada hamparan rumput segera memiringkan kepalanya menatap Kunou dan mengerucutkan bibir kemudian membalas dengan nada lesuh.

"Mouuu, Kunou-chan kan Youkai..."

Tentu saja Yuki sudah mengetahui ras dari Kunou, Yasaka dan sebagian besar orang-orang di tempatnya sekarang, Naruto yang memberitahukannya. Namun Yuki sepertinya tidak terlalu memusingi hal ini karena menurutnya semua orang—Youkai di tempat ini adalah orang baik. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Loli semi-polos ini.

Kunou yang mendengar rengekan dari Yuki malah tersenyum sedikit meremehkan, "Memang kenapa kalau aku Youkai, Uki-chan?"

"Tentu saja aku pasti kalah... Kunou-chan kan Youkai, sedangkan aku cuma manusia."

"Uki-chan banyak alasan..."

Dan perdebatan itu terus berlanjut karena kedua mahluk terindah dan terimut di muka bumi itu sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Saking lamanya sampai-sampai apa yang mereka perdebatkan sudah beralih topik. Membuat salah satu dari mahluk disana sweatdrop karena dialah yang menjadi bahan perdebatan.

"Oiiy..oiiy... Apa dimata kedua imouto-ku, aku ini barang ya?"

Dan bersamaan dengan apa yang dipikirkan oleh bahan perdebatan itu—Naruto, Kunou memberitahukan sesuatu ke Yuki yang seketika membuat kakak mereka berdua syok di tempat.

"Jangan bercanda? Yang menang akan tidur satu ranjang denganku? "

"Kyaaa... Naruto-chan jadi seorang pedofil!"

Hilda tidak dapat menahan diri untuk berteriak kegirangan, jiwa mesumnya untuk menggoda Naruto langsung muncul ketika mendengar tantangan Kunou yang menyatakan jika pemenang lomba yang akan berlangsung esok hari akan tidur bersama pemuda berambut dark-silver itu.

"Uruse, Ero-onna!" bentak Naruto, ia benar-benar tidak mengerti kenapa sampai sekarang Hilda masih tetap sama, sangat suka menggoda dirinya seperti tadi. Mungkin membakar sang gadis penganut aliran Jashin-sama bisa menghilangkan kebiasaan itu.

Sementara itu, tidak jauh dari tempat Hilda berteriak yang berada di teras, Yasaka yang tengah duduk bersantai hanya bisa tersenyum kecil melihat kejadian langka ini terjadi di kediamannya. Kehadiran Naruto dan yang lain seolah memberi warna baru ke kediamannya yang hampir setiap hari dihiasi suasana formal antara pemimpin dan bawahan.

"Anoo, Onii-chan... Pedofil itu apa?"

"Pedofil itu apa Naru-niichan?"

Rasa penasaran Yuki dan Kunou seketika muncul saat mendengar kata asing yang dilontarkan oleh Hilda beberapa saat sebelumnya. Secara bersamaan keduanya langsung menatap Naruto dengan wajah penuh rasa keingintahuan.

"Sialan kau Hilda!" teriak Naruto dalam hati menyumpahi penyebab dirinya masuk ke dalam situasi yang rumit dimana kedua adiknya menanyakan hal yang belum semestinya mereka tau, atau bahkan tidak boleh diketahui. Segera, ia mulai memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.

"Hmmmn—"

"Ya-ya?" gumam Yuki dan Kunou masih setia menunggu jawaban.

"—Pedofil itu... Orang yang suka makan ramen bersama gadis-gadis imut seperti kalian."

Kedua gadis Loli di dekat Naruto saling pandang satu sama lain kemudian mengangguk secara bersamaan.

"Kalau begitu... Naru-niichan jadi pedofil saja, Uki-chan setuju 'kan?" tanya Kunou yang dibalas gumaman bernada rendah dari Yuki tanda bahwa setuju dengan saran tersebut.

"Sial, aku salah memberi jawaban ke mereka." ucap Naruto diakhiri helaan nafas panjang.

.

.

.

.

.

.

Enam hari telah berlalu semenjak Yuki mulai dilatih oleh tiga sensei-nya secara bergantian. Sekarang, fisik dan stamina miliknya sudah mengalami perkembangat cukup pesat. Jika sebelum dilatih, Yuki hanya bisa berlari mengelilingi halaman sebanyak 7x, sekarang ia sudah mampu melakukannya hingga 20x putaran. Bukan hanya itu saja, sekarang ia sudah hampir mengusai setengah gaya bertarung yang diajarkan oleh Naruto dan Madara.

Kedua kakak Yuki menciptakan gaya bertarung itu melalui sebuah riset kecil-kecilan yang dimulai ketika hari ketiga latihan. Sebuah Fighting Style yang memanfaatkan tubuh Loli Yuki. Mereka berdua—Madara dan Naruto mengambil gaya bertarung atau [Taijutsu] beberapa klan di Konohagkure kemudian digabungkan menjadi satu. Yuki mulai mempelajari gaya bertarung itu di hari ke-empat latihannya.

Dan sekarang, waktunya untuk membuktikan seberapa jauh Yuki berkembang, baik dari segi fisik dan stamina, maupun gaya bertarung itu sendiri. Di tempat biasa mereka semua yaitu halaman belakang, Naruto dan Yuki kini berada di pertengahan hamparan rumput. Dan yang lain berada di teras untuk melihat apa yang akan terjadi dalam tes.

Karena semua sudah berada di lokasi, Naruto pun buka suara.

"Baiklah Yuki, Nii-san ingin kau serius menyerangku dengan apa yang kami semua ajarkan... Paham?"

"A-Aku paham, Onii-chan."

Yuki membalas ragu-ragu, bukan karena takut akan menghadapi Naruto yang jauh lebih hebat, akan tetapi ia merasa tidak percaya diri mampu mengeluarkan apa yang sudah ia pelajari dan juga membuat kedua kakak dan pamannya merasa puas akan perkembangannya. Semalam, ia sudah diberitahukan bahwa akan ada tes sehingga membuatnya begadang untuk mempersiapkan semua yang diperlukan.

Mulai dari penampilannya sekarang, Yuki mengikat rambut putih panjangnya menjadi dua ikatan yang ujungnya menyentuh hamparan rumput, t-shirt putih dan training biru bergaris puth di kedua sisi serta sepatu sport hitam. Bukan hanya itu saja, bahkan ia sampai membaca ulang buku yang isinya merupakan gaya bertarung yang dibuat khusus untuk dirinya. Serta, hal yang sedari kembali dari tempat pertarungan beberapa hari sebelumnya, ia lupakan sejenak.

Namun, diantara semuanya, Ada satu hal yang tidak bisa ia persiapkan. Hal itu adalah mental. Yuki tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi apabila dirinya mengecewakan semua orang terutama Naruto dan Madara.

"Ganbatte Uki-chan!"

"Perlihatkan semua yang sudah kuajarkan padamu, Loli-chan!"

"Benar... Perlihatkan semua yang sudah kau pelajari!"

Seolah mengetahui isi kepala dan hati kecil Yuki, dari arah teras sana tiga orang yaitu Kunou, Madara dan Hashirama berteriak dengan cara khas mereka masing-masing agar membuat Yuki merasa percaya diri mampu melewati tes ini. Teriakan penyemangat dari ketiganya sontak membuat Yuki sedikit terharu dan membalas.

"Arigatou... Maddie-niichan, Ossan, Kunou-chan."

Setelah itu, Yuki mengalihkan perhatian ke Naruto yang masih setia berdiri di depannya. Siap memberikan aba-aba mulai kepada dia yang kini sudah menguatkan diri untu menjalankan tes.

"Aku sudah siap Onii-chan!"

Naruto mengangguk-nganggukkan kepalanya kemudian berteriak keras.

"Hajime!"

Tepat setelah teriakan itu, Yuki langsung berlari dengan kecepatan tertingginya menuju Naruto, kedua ikatan rambut putihnya melambai-lambai seperti ekor. Setibanya di depan Naruto, ia melayangkan sebuah pukulan tangan kanan yang tentu saja mampu dihindari kakaknya dengan memiringkan kepala ke kiri.

"Awal yang bagus..." komentar Naruto.

Yuki mengidahkan hal itu dan melanjutkan serangannya dengan bersiap-siap melayangkan dua pukulan berurutan menggunakan kedua tangan.

"Perpindahannya halus sekali."

Kali ini bukan komentar yang dikeluarkan oleh Naruto, melainkan sebuah pujian dalam hati melihat gerakan sang adik yang begitu halus. Seperti seorang penari saja, pikirnya menganalisa lalu menghindari dua pukulan itu. Pada sebuah momen ketika menghindar, ia melompat dengan sedikit tenaga dan bersiap menghantamkan lutut kanannya ke perut sang adik ketika tengah melayang di udara.

Dan lagi-lagi Naruto dibuat kagum oleh adiknya ketika melirik kedua iris hitam Yuki yang mengarah ke lututnya.

"Dia melihatnya?!"

Sedetik setelah Naruto menggumamkan hal itu, Yuki segera mengambil tindakan, kedua tangannya segera di satukan di depan perut sedikit kebawah. Bunyi hentakkan pun terdengar dari sana tatkala lutut Naruto berhasil tertahan. Akan tetapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak dapat Yuki baca. Masih dalam posisi yang sama, Naruto mengepal tangan kirinya kemudian diarahkan menuju bagian kanan kepala adiknya.

Yuki yang baru menyadarinya ketika kepalan itu sudah berjarak 10 senti dari wajahnya hanya bisa menutup mata, pasrah dan bersiap-siap menerima pukulan dari kakaknya sendiri untuk pertama kalinya.

Beberapa detik sudah berlalu, dan dari perkiraan Yuki seharusnya pukulan tadi sudah menghantam kepalanya. Namun tidak ada yang terjadi. Karena penasaran apa yang terjadi, ia segera membuka matanya dan terkejut kepalan itu kini berjarak 1 senti dari kulit putih halusnya. Setelah menyadari bahwa kakaknya menghentikan serangan, ia segera memutar kepalanya dan terkejut melihat kakaknya malah terkekeh tanpa suara.

"Tenang saja... Nii-san tidak akan menyelesaikan serangan kok."

Yuki mengangguk pelan kemudian melompat mundur sebanyak tiga kali untuk memperlebar jaraknya dengan sang kakak. Setelah berhenti, dia pun melayangkan sebuah pertanyaan.

"Apa maksud Onii-chan?"

Naruto menghela nafas ringan kemudian membalasnya dengan wajah masam.

"Lah, bukannya tadi kau sudah mengangguk? Kenapa malah menanyakan apa maksud Nii-san?"

Karena tidak mendapat jawaban dari sang adik untuk kedua pertanyaan balasannya. Terpaksa Naruto harus menjelaskan maksud dari tes.

"Begini adikku yang manis dan imut... Inti tes ini adalah melihat seberapa jauh kau mengusai gaya bertarung itu dan juga seberapa hebat kau bisa menghindari serangan dariku. Namun, jika kau tidak bisa menghindari ataupun menahannya, Nii-san tidak akan menyelesaikan serangan, seperti yang barusan terjadi."

"Ohh, aku mengerti Onii-chan." respon Yuki singkat sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.

Dan akhirnya, tepat setelah pernyataan Yuki tadi. Tes untuknya kembali dilanjutkan, ia segera menerjang Naruto dan menyerang secara bergantian menggunakan gaya bertarung yang terlihat mengandalkan gerakan simpel tidak memakan banyak stamina namun sangat tajam apabila orang selevel Madara ataupun Hashirama yang melihat. Hampir semua gerakan tubuh Yuki tidak ada yang sia-sia dan juga sangat halus ketika melakukan perpindahan ataupun perubahan tempo dan arah serangan.

.

Sementara di teras tempat yang lain menonton, beberapa diantara mereka cukup kagum melihat perkembangan dari Yuki. Yasaka yang termasuk dalam jejeran langsung membuka suara.

"Aku tidak menyangka Yuki-chan bisa sebagus ini dalam waktu singkat."

"Tentu saja hal itu akan terjadi, mengingat sensei Yuki-chwan adalah mereka bertiga."

Dari arah kiri, seseorang merespon komentar Yasaka, dia Hilda yang tengah duduk pada kursi kayu yang sama dengan yang diduduki oleh Yasaka sendiri.

Sepintas, Yasaka tersentak mendengar respon normal dari Hilda yang baru pertama kali ini di dengar olehnya. Biasanya gadis cantik berambut abu-abu itu hanya mengeluarkan kalimat-kalimat frontal berbau mesum untuk menggoda laki-laki seperti Naruto, Madara dan Hashirama. Namun ia setuju dengan yang diucapkan oleh Hilda.

Kejadian ini hampir sama ketika Naruto pertama kali tiba di tempatnya bersama Jiraiya. Masih teringat jelas dalam ingatan Yasaka yang pada saat itu Naruto masih terlihat seperti anak-anak remaja 13-14 tahunan beberapa kali membuatnya hampir terkena serangan jantung.

Hal pertama kala itu yang membuat Yasaka terkejut ialah keberadaan sosok Youkai Kitsune berkekuatan setara atau bahkan lebih hebat ia sendiri di dalam tubuh Naruto. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut, pasalnya puluhan tahun yang lalu, sosok Kitsune bernama Kurama itu diketahui sudah terbunuh oleh seseorang.

Kemudian, di hari yang sama pula Yasaka kembali dibuat terkejut karena sebelum menerima Naruto tinggal bersamanya, ia pertama-tama ingin mengetahui siapa dan sekuat apa anak bernama Naruto itu. Sebuah sparring pun dilakukan oleh Yasaka yang mempertandingkan antara kontener Kurama itu melawan beberapa bawahannya. Hasil dari sparring cukup mengcengankan, Naruto berhasil mengalahkan lawannya tanpa menggunakan kekuatan api Kurama dan sisanya berakhir di ruang pemulihan karena luka bakar tingkat tinggi di sekujur tubuh.

"A-ano, Okaa-san..."

Lamuan Yasaka buyar ketika suara imut cetar membahana Kunou tertangkap pendengarannya. Ia pun menoleh ke bawah menatap sang anak yang sedang duduk di pangkuannya.

"Hmmn, ada apa?"

"Begini, Okaa-san... A-aku juga mau dilatih Naru-niichan... Seperti itu!" jelas Kunou kemudian disaat yang saat menunjuk ke halaman, Yuki melancarkan sebuah serangan ke Naruto secara bergantian dengan kedua tangan.

"Bukannya dulu Naruto-kun ingin melakukannya, tapi kau malah menolak dan lebih memilih dilatih menggunakan [Kitsune no Hono]. Apa yang—"

"Mouuu, itu dulu Okaa-san, sekarang aku mau dilatih Naru-niichan."

Mendengar rengekan dari anaknya, Yasaka akhirnya paham. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi semenjak kedatangan Yuki ke tempatnya dan diperkenalkan jika gadis Loli cantik-imut-menggemaskan itu merupakan adik angkat Naruto selain Kunou sendiri. Memikirkan kenapa Kunou sampai ingin dilatih oleh Naruto secara langsung, Yasaka menyeringai misterius dan berkata.

"Jangan-jangan—"

"Okaa-san... Sudah kubilang aku cuma mau dilatih Naru-niichan biar bisa tambah kuat. Itu saja kok."

Kunou tidak dapat menahan dirinya untuk berteriak karena sang ibu mulai menggoda dia. Alhasil, sekarang ia memasang wajah cemberutnya khas seorag Loli-Kitsune yang imut bikin Author tak tahan untuk segera memasukkannya ke dalam karung.

Saat mendengar Kunou berteriak menyerukan maksudnya untuk dilatih, sebenarnya ada alasan lain kenapa anaknya ingin dilatih oleh Naruto dan Yasaka mengetahuinya. Beberapa detik yang lalu Yasaka hendak mengucapkannya, namun terpotong oleh teriakan sang anak. Dan karena sekarang Kunou terlihat sudah dalam mode cemberutnya, Yasaka akhirnya melanjutkan ucapannya.

"—Kau tidak mau kalah dari Yuki-chan... Menurut Kaa-san, kau merasa kalah satu langkah olehnya karena dilatih Naruto-kun...Hmmnn bagaimana, Kaa-san benar'kan?"

Kunou langsung terdiam mendengar penjelasan dari ibunya. Semburat merah tipis terlihat samar-samar tercentang di pipi putihnya, ia malu mengakui jika yang dikatakan oleh ibunya benar. Sungguh, Kunou benar-benar merasa tertinggal dari Yuki, walau di beberapa atau hampir semua sesi latihan—perlombaan baginya dan Yuki, ia memenangi semuanya.

Sambil menundukan kepala menyembunyikan semburat merah di pipinya dan tidak lupa memainkan jari-jari lentiknya untuk meredam rasa malu, Kunou menjawab pertanyaan dari sang ibu dengan nada gagap.

"I-itu benar Okaa-san."

Yasaka tersenyum penuh kemenangan, apa yang menjadi dugaannya ternyata benar. Kemudian, ia mengelus rambut pirang keemasan anaknya dan berkata.

"Tenang saja, akan kukatakan ke Naruto-kun kalau kau juga ingin dilatih. Jadi, bergembiralah Kunou-chan."

"Arigatou, Okaa-san."

Ekspresi wajah Kunou seketika menjadi bahagia mendengar ibunya ternyata mau mengambulkan keinginannya besar itu.

Dan tampaknya sebuah rivalitas untuk menjadi 'Best Imouto' bagi Naruto mulai mencuat ke permukaan. Rivalitas yang mungkin saja menyaingi rivalitas abadi antara Madara-Hashirama atau bahkan kedua [Heavenly Dragon] yang sudah melegenda semenjak [Great War] terhenti.

.

Beralih ke sisi lain teras, lebih tepatnya di ujung lantai yang menjadi pembatas akhir menuju hamparan rumput di halaman belakang. Disana terlihat Madara dan Hashirama duduk dengan gaya khas mereka masing-masing. Sang Uchiha terakhir duduk seperti gambar primata di uang lima ratusan, dan Hashirama dengan duduk bersilahnya.

Tanpa mengalihkan sedikit pun perhatiannya dari tes, Hashirama angkat suara memecah keheningan di antara mereka berdua.

"Bagaimana menurutmu, Madara?"

"Hn, ini melewati perkiraanku, tapi ada satu hal yang sedikit menggangguku... Sifat polos dari Loli-chan. Hal ini akan menjadi penghalang utamanya apabila bertarung melawan musuh-musuhnya."

Penjelasan dari Madara sontak membuat Hashirama tersentak. Penjelasan itu hampir sama ketika sahabatnya itu mengomentari Naruto saat masih dilatih oleh mereka berlima. Dan ada lagi satu hal yang dipikirkan, akankah Yuki akan menjadi seperti Naruto? Karena menurutnya, mereka berdua hampir mirip satu sama lain ketika mulai dilatih. Sama-sama memiliki sifat polos dan keingintahuan yang sangat besar.

Saat Hashirama memikirkan hal ini, sebuah perasaan takut tiba-tiba muncul di benaknya, dan ini menyangkut Yuki dan pelatihan yang diberikan Madara...

"Oii, Madara... Jangan-jangan, kau ingin menggunakan metode latihan yang sama dengan Naruto untuk Yuki?"

Melihat wajah takut dari sahabatnya, Madara tidak mampu menahan mulutnya untuk mengukir seringai misterius.

"Hn... Kita lihat saja nanti dobe."

Setelah mengucapkan hal yang membuat Hashirama merinding sendiri, Madara mengalihkan perhatiannya kembali tempat tes berlangsung.

"Kapan kau menunjukannya Loli-chan? Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat bagaimana ekpresi kedua sensei bodohmu melihat hasil latihan dariku."

.

.

Kembali ke tengah-tengah halaman, tes Yuki sudah berlangsung selama lima menit dan terlihat jika orang yang dites mulai kehabisan stamina dan sedikit frustasi tidak ada satu pun serangannya mengenai Naruto.

Menyadari kondisi dari adiknya, Naruto segera melompat mundur setelah menghindari pukulan tangan Yuki. Saat kedua kakinya menapak hamparan rumput beberapa meter dari sang adik, ia segera melayangkan sebuah pertanyaan dengan nada cukup keras.

"Bagaimana Yuki? Apa sudah menyerah?"

"Haa..ha..ha... Belum Onii-chan!"

Walau dengan nafas yang memburu karena kelelahan, Yuki tetap masih ingin melanjutkan tes, itu sangat jelas dari jawaban yang ia berikan untuk kakak tersayang-nya barusan.

Melihat kesungguhan Yuki yang masih ingin melanjutkan membuat Naruto mendengus pelan. Jujur saja, melihat kondisi adiknya yang sudah kelelahan sedikit memunculkan rasa tidak tegaan karena ini pertama kalinya dia melihat kejadian seperti itu. Tapi apa boleh buat, keputusan ada di tangan Yuki apa ingin menyerah atau tidak. Dan jika dirinya sendiri yang menghentikan tes ini, si Uchiha muka tebing pasti berkoar-koar tidak jelas atas keputusannya. Naruto sangat tidak suka apabila si Uchiha terakhir itu sudah masuk ke mode tukang ceramah, sangat menjengkelkan menurutnya apabila seorang Uchiha yang ia tau irit bicara malah bertingkah sebaliknya.

"Huh, baiklah Yuki... Terserah kau saja, tapi ingat! Jika tidam sanggup lagi, tinggal bilang saja. Oke?"

Yuki mengangguk paham, dan tepat setelah itu ia mulai tenggelam dalam ingatannya sendiri ketika giliran Madara yang melatih. Ia ingat pesan pamannya apabila sudah kelelahan itu akan menjadi awal untuk mengelurkan sesuatu yang menjadi bahan latihan pribadi Madara untuknya.

Segera, Yuki mengubah kuda-kudanya. Kaki kiri sedikit ditarik kebelakang dan kedua tangan berada dekar dengan pinggul. Sambil melakukan hal itu, mulut Yuki bergerak menggumamkan semacam mantra atau sejenisnya.

"Apa yang ia lakukan? Kuda-kuda itu tidak kutulis dalam buku."

Sekarang, Naruto dibuat kebingungan sendiri melihat apa yang dilakukan oleh adiknya.

.

Sama dengan Naruto, hal itu pun terjadi pada Hashirama. Pria ini sudah tau kalau kedua sensei Yuki yang lain menciptakan sebuah gaya bertarung dan menulisnya pada sebuah buku, ia sudah membaca buku itu dan sudah lumayan hafal mengenai gerakan-gerakan dasar yang tertera pada beberapa halaman buku itu.

Lain Naruto dan Hashirama, lain pula dengan Madara, dia terlihat menyungging seringai misteriusnya. Kemudian, dengan suara yang cukup keras. Madara meneriakkan suatu perintah kepada sang Loli semi-polos adik angkatnya.

"Bagus Loli-chan... Ini yang dari tadi kutunggu-tunggu. Perlihatkan kepada dua sensei pecundangmu hasil latihan dari Madara-sama!"

"Aku mengerti, Maddie-niichan!"

Yuki segera membalas teriakan itu dengan suara tidak kalah kerasnya. Dan bukan hanya itu saja, teriakan dari Madara sepertinya membuat Yuki kembali bersemangat serta memulihkan sedikit staminya. Itu karena keraguannya mengenai Naruto dan Madara sendiri akan dia kecewakan menghilang begitu saja karena teriakan tadi sudah menjadi pertanda kalau hal yang ditakutkan tidak akan terjadi.

"Heh, tampaknya kau kembali bersemangat, Yuki... Baiklah, kalau begitu cepat perlihatkan apa yang Madara maksud tadi."

Naruto pun ikut-ikutan berteriak kencang, berpikir kalau itu akan semakin membuat adiknya bertambah semangat. Perubahan kuda-kuda Yuki serta maksud dari teriakan Madara ia kesampingkan dulu. Tapi Naruto harus mengetahui satu hal, yaitu beberapa saat lagi dia akan mengalami keterkejutan atas perubahan dari Yuki.

"Bersiaplah Onii-chan, aku datang... Heyaaahhh!"

Bersamaan dengan teriakan penuh semangat itu, Yuki pun mulai berlari mengeleminasi jaraknya dengan Naruto. Setelah mencapai jarak yang diinginkan, Yuki melompat kedepan dengan tubuh diputar beberapa derajat ke kiri, sejurus setelah iti, bahu kanan Yuki pun menghantam Naruto cukup keras.

Naruto pun terkejut bukan main sampai tidak sempat menahan tubrukan tubuh loli adiknya sehingga membuat dia terdorong beberapa senti kebelakang.

"Apa sebenarnya yang terjadi? Cara bertarung ini tidak kutulis dalam buku... Jangan-jangan Mad—"

Perkataan dalam hati Naruto tiba-tiba terhenti. Samar-samar ia merasakan kalau ada sesuatu yang keluar dari tubuh adiknya walau terbilang sangat kecil.

"Tidak mungkin?! Bagaimana Yuki bisa mengeluarkan tekanan sekecil ini?"

Saat memikirkan hal ini, Naruto menyadari sesuatu yang penting. Ini mengenai teriakan Madara tadi. Jika dipikir-pikir kembali, ia melupakan sesuatu yang cukup penting ketika giliran si Uchiha yang melatih Yuki. Porsi dan metode yang diberikan terbilang sangat melenceng dari tipikal Madara yang Naruto ketahui. Yang itu artinya, pria itu menyembunyikan sesuatu. Madara sialan! Dia pasti melakukan sesuatu ke Yuki, pikir Naruto.

"Muahahahahaha... Bagaimana, hn? Kalian berdua pasti terkejut dengan perubahan dari Loli-chan... Aku yakin itu."

Ketika Naruto tengah sibuk dengan pikirannya, Madara tiba-tiba tertawa keras kemudian berteriak keras dari arah teras. Beberapa pasang mata disana seketika tertuju ke Madara. Dan salah satu mereka, ialah Hashirama langsung melayangkan sebuah pertanyaan.

"Jangan-jangan, kau sudah memberikan metode latihan yang kumaksud ke Yuki, Madara?"

"Kalau memang sudah, apa yang akan kau lakukan?"

"Bu-bukan aku yang akan melakukan sesuatu, tapi—"

"Grrr, akan kubakar kau setelah ini, Teme... Lihat saja nanti!"

Dari tengah-tengah halaman, Naruto berteriak cukup keras disertai wajah yang mengeras. Mendengar teriakan itu, Hashirama segera mengarahkan telunjuknya ke Naruto dan menyambung ucapannya yang terpotong.

"—Orang yang berteriak itu yang akan melakukannya."

"Haha... Ancaman itu. Sia-sia saja." balas Madara datar dan tidak lupa wajah acuh tak acuh ia perlihatkan untuk kedua orang itu.

.

.

Kembali ke Naruto dan Yuki.

Saat posisi keduanya masih tidak ada yang berubah, tubuh saling bertabrakan satu sama lain, Yuki memanfaatkan momen ketika kakaknya berteriak dengan melayangkan sebuah pukulan tangan kanan yang tepat mengenai pipi kiri Naruto.

"Hey, aku belum siap Yuki." ujar Naruto kemudian melompat mundur memisahkan diri dari sang adik.

"Go-gomennasai Onii-chan!"

—Bahkan setelah menerima latihan pribadi bersifat rahasia dari Madara yang belum diketahui seperti apa latihan itu. Beberapa hal memang tidak berubah, Yuki tetaplah Yuki, adik semi-polos Naruto.

"Huh, tidak apa-apa... Mari kita lanjutkan saja." kata Naruto disertai dengusan pelan.

Yuki mengangguk mantab, dan setelahnya ia langsung berlari menuju sang kakak. Sesampainya di tujuan, Yuki mulai menyerang Naruto dengan gaya bertarung atau [Taijutsu] yang berbeda dari sebelumnya.

"Serangannya bertambah cepat dan terkesan lebih agresif... Sangat mirip dengan ...Izuna-niisan!"

Pikir Naruto sembari menghindari serangan-serangan bertempo cepat dari Yuki. Dan pada suatu momen ketika Naruto mengedipkan mata, pandangannya tiba-tiba berubah, area tempatnya sekarang berubah menjadi sebuah training ground dan lawan yang tadinya adalah sang adik, kini berganti menjadi Izuna, sosok yang mungkin saat ini ia sangat rindukan. Selain Tobirama tentu saja.

Seulas senyum terukir di mulut Naruto, dan tanpa disadari olehnya, ia mengepal tangan kanan untuk melayangkan pukulan lurus ke wajah lawannya, Yuki yang apabila dari sudut penglihatannya adalah sosok Izuna.

"I-Ittai, Onii-chan!"

Untung saja Yuki mampu menahan pukulan itu dengan menyilangkan dua lengannya di depan wajah. Tapi tetap saja, pukulan itu terasa sakit untuknya.

"A-apa yang terjadi?!"

Naruto terkejut mendengar Yuki meringis, pandangannya berubah yang terlihat jelas kalau kepalan tangan kanannya bersentuhan dengan dua lengan berbentuk menyilang milik adiknya. Dan Naruto akhirnya sadar apa yang terjadi, sorot wajahnya pun berubah, menyiratkan penyeselan.

"Gomen Yuki, aku terbawa suasana."

"Hmmn-hmmn, daijobu Onii-chan."

Yuki membalas sedikit pelan dan tidak lupa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa kau yakin baik-baik saja? Aku dengar loh, kau meringis kesakitan tadi."

"Mouuu, aku baik-baik saja Onii-chan."

"Baiklah-baiklah... Aku sudah percaya, jangan merengek lagi... Ayo kita lanjutkan!"

.

.

5 menit kemudian.

"Huaaa, aku tidak kuat lagi!"

Bersamaan dengan pernyataan itu, suara tubuh dijatuhkan hamparan rumput terdengar. Yuki akhirnya mencapai batasannya, dan tanpa babibu ia langsung menjatuhkan diri ke hamparan rumput, berbaring disana dengan kedua tangan direntangkan. Wajah dan sebagian besar anggota tubuhnya dipenuhi keringat.

"Kau bertahan selama sepuluh menit dan berhasil mendaratkan empat serangan ke Nii-san..."

Tidak jauh dari lokasi Yuki berbaring, Naruto berkata dan memberi jeda sejenak untuk mengukir sebuah senyuman... Senyum yang mempunyai arti jika Naruto sangat bangga atas pencapaian adiknya. Kemudian, ia mulai berjalan menuju Yuki dan sesampainya di samping kiri gadis itu, Naruto berjongkok dan mengelus lembut rambut putih adiknya.

"Itu sangat melebihi apa yang kami harapkan, dan kau pantas mendapatkan kata selamat... Omedetou Yuki, kau benar-benar membuat Nii-san bangga."

"Arigatou, Onii-chan!"

Yuki tidak dapat menahan dirinya untuk tersenyum dan bersamaan dengan itu, sebuah perasaan hangat dari dalam hatinya ikut muncul tatkala mendengar ucapan selamat dari kakaknya.

"Yaa... Walaupun Nii-san masih marah karena Madara sialan itu melatihmu secara diam-diam dan Nii-san juga penasaran mengenai latihan apa yang diberikan..."

"Hmmmn—"

"Jangan dijawab! Aku takut hal yang kupikirkan benar."

"Mouu, Maddie-niichan tidak melakukan apa-apa kok. Aku cuma dilatih seperti yang dilakukan Onii-chan dan Ojii-chan."

"Huh, baiklah... Nii-san percaya."

Naruto akhirnya pasrah dan setelah ini ia berniat untuk menanyakan langsung ke Madara mengenai latihan seperti apa yang diberikan Uchiha sialan itu ke adiknya, memikirkan hal ini saja membuat kepala Naruto panas, sepanas api Kurama.

"Ngomong-ngomong... Apa ada yang kau inginkan sebagai hadiah atas keberhasilanmu, Yuki?"

"Hadiah? Benarkah Onii-chan?!"

Saat melihat Naruto menganggukkan kepala, Yuki mulai memikirkan hadiah apa yang dia inginkan. Jika ia meminta ditemani jalan-jalan seharian, itu tentu saja akan dikabulkan dengan mudah.

"Mmmn—"

"Sebut saja, apapun itu... Nii-san akan mengabulkannya."

Mendengar kata 'apapun' dari kakaknya, Yuki langsung bangun dan duduk bersilah tepat di depan pemuda itu.

"A-ano Onii-chan—"

Yuki terlihat ragu-ragu, sepertinya hal yang diinginkan cukup sulit baginya untuk diucapkan. Beberapa hari belakangan ini setelah kembali dari pertarungan melawan Orochimaru, ada hal yang selalu menganggu pikirannya. Yuki sangat ingin menanyakan sesuatu yang selalu mengganggunya ini ke Naruto ataupun Madara, tetapi entah kenapa ia merasa takut untuk melakukannya.

Dan sekarang, ia memiliki kesempatan.

"—Tempat terdekat dari Surga itu apa Onii-chan? Apa disitu tempat tinggal para malaikat dari cerita Onii-chan?"

Sepintas, Naruto tersentak mendengar pertanyaan dari adiknya. Dari mana Yuki tau itu, pikir Naruto. Pasalnya tempat terdekat dari Surga ini hanya dia, Madara, Hashirama dan Jiraiya yang tau. Lalu, dengan ekspresi sedikit lesuh, Naruto menjawab.

"Malaikat yang ceritakan Nii-san waktu itu tinggal di Surga, Yuki... Mengenai tempat terdekat dari Surga, Nii-san kurang tau. Mungkin karena tempat itu memang dekat dari Surga, makanya disebut seperti itu."

Setelah menjawab pertanyaan sang adik, kini giliran Naruto yang melayangkan pernyataan dengab mata menyipit penasaran.

"Dan kalau boleh Nii-san tau... Dari siapa kau mengetahui tempat itu, Yuki?"

"A-ano... Tidak ada yang memberitahu Onii-chan."

"Lalu?"

Naruto semakin penasaran. Tidak mungkin jika adiknya mengetahui salah satu hal mereka rahasiakan ini begitu saja tanpa campur tangan Madara ataupun Hashirama. Pasti ada diantara dua orang sialan itu yang tidak bisa menjaga mulutnya, atau bisa jadi Yuki dijanjikan jalan-jalan sebagai bahan suap-menyuap agar tutup mulut.

"A-aku mendengarnya dari Jiriaya-ojiichan saat pulang dari te-tempat me-menyeramkan itu."

Jawaban dengan nada gagap ketakutan Yuki membuat Naruto terkejut untuk keduanya dalam lima menit ini. Bukan karena prediksinya tadi melenceng, akan tetapi sifat adiknya yang keluar dari jalur. Setau Naruto, jika ada sesuatu yang membuat adiknya penasaran, sudah pasti yang pertama dilakukan oleh Yuki ialah menanyakan langsung ke dia ataupun Madara.

Tapi sekarang, sifat Yuki yang satu itu tidak terlihat. Jika Yuki mendengar mengenai 'tempat terdekat dari surga' dari Jiraiya. Itu berarti Yuki memendam pertanyaan itu selama satu minggu. Naruto berpikir, pasti ada hal yang membuat adiknya sampai melakukan hal itu. Dan Naruto akhirnya menyadari satu hal yang mungkin saja melandasi Yuki sampai keluar dari sifat rasa keingintahuannya.

"Jangan-jangan, tempat itu kaitannya dengan masa lalu Yuki... Aku harus membicarakannya dengan yang lain."

"Chan...Onii-chan... ONII-CHAN!"

"Ya-ya, ada apa? Huh, kau bikin kaget saja."

"Onii-chan sih, dipanggil-panggil tidak membalas, makanya aku teriak. Memang Onii-chan sedang apa?"

Yuki memiringkan kepala sambil melayangkan pertanyaan. Dengan cepat Naruto langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab.

"Tidak melakukan apa-apa kok."

Setelah menjawab dan tidak lupa mengibas-ngibaskan kedua tangan di udara untuk meyakinkang sang adik, Naruto berdiri tepat di depan adiknya yang masih setia duduk bersilah pada hamparan rumput.

"Mari. Aku yakin yang lain sudah menunggu untuk memberikanmu selamat."

Yuki hendak berdiri untuk menyusul kakaknya untuk berdiri. Akan tetapi kedua kakinya terlalu letih untuk sekedar digerakkan, kemudian ia mencoba cara lain, menggunakan kedua tangannya...

"Aw..."

"Sini, aku bantu."

Karena mendengar suara ringisan dari adiknya, Naruto segera membungkuk untuk membantu. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Yuki, sedangkan tangan kiri, ia letakkan pada bagian punggung.

Sontak, perlakuan dari Naruto membuat semburat merah tipis muncul di pipi Yuki. Kemudian, dengan nada bicara tergagap. Yuki berkata..

"A-arigatou, Onii-chan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Waktu menunjukan pukul 00.14, langit di atas kota Kyoto dipenuhi milyaran cahaya bintang yang sangat indah dipandang mata. Diantara sekian banyak cahaya tersebut, hanya satu yang paling terang dan itu berasal dari objek yang dinamai...

...Bulan.

Cahaya dari objek yang konon sudah ada sebelum mahluk pertama diciptakan itu hampir menyinari sebagian besar wilayah kota Kyoto, termasuk sebuah kawasan yang dilindungi sebuah pelindung [Kekkai] transparan. Pusat dari Kekkai itu merupakan sebuah kastil Jepang besar berlantai tiga. Disana'lah tempat berlindung sementara bagi Naruto dan keluarga kecilnya.

Di dalam salah satu kamar di lantai dua kastil itu, Naruto baru saja terbangun dari tidur varokah-nya. Di kedua sisi ranjang tempatnya tertidur, dua sosok gadis Loli tertidur pulas tanpa terganggu dengan suara selimut yang digerakkan dengan gerakan pelan oleh pemuda ini.

"Haaah..., mereka melakukannya lagi."

Naruto bingung, apa dia harus bersyukur atau malah mengeluh dengan kelakuan kedua adik imutnya. Ini sudan kelima kalinya Yuki dan Kunou menyelinap masuk ke kamarnya untuk tidur bersama.

Setelah turun dari ranjang dan tidak lupa memperbaiki posisi selimut untuk menghangatkan tidur mereka berdua. Naruto tersenyum kecil dan menyodok pipi kedua adiknya.

"Oyasumi, Loli-hime..."

.

.

"Kau lama sekali, bocah sableng."

Sesampainya di sebuah ruangan, Naruto langsung disambut keluhan dari salah satu sosok disana. Sambil menekuk dalam-dalam wajahnya karena sambutan itu, Naruto mengedarkan pandangan menatap satu per satu sosok di dalam ruangan. Dari kiri sosok-sosok itu adalah Yasaka, Hilda, Hashirama dan yang berada di paling kanan adalah Madara.

Setelah mengambil posisi duduk tepat di samping kiri Yasaka, Naruto mengarahkan wajah ke Madara, orang yang tadi memberinya sambutan kurang bersahabat.

"Kau beruntung Teme..., tidak ada hantu imut yang menyelinap masuk ke dalam kamarmu."

"Hantu imut? Apa yang kau maksud itu Yuki dan Kunou?"

Naruto kemudian mengalihkan perhatian ke Hashirama yang melayangkan pertanyaan itu.

"Siapa lagi kalau bukan mereka Ossan? Di kastil ini tidak ada yang mengalahkan keimutan mereka berdua."

"Aku setuju dengan itu!"

"Gomenne, Naruto-kun... Tidurmu pasti tidak pernah nyenyak beberapa hari ini karena mereka berdua."

Hilda dan Yasaka ikut nimbrung dalam percakapan. Hilda memekik kegirangan setuju dengan pernyataan Naruto, sedangkan Yasaka malah meminta maaf karena kelakuan Yuki dan Kunou.

Seketika, Naruto mengerutkan kening menyadari sesuat yang ganjil. Ia sangat yakin kalau sebelum tidur, hal pertama yang dilakukan olehnya adalah mengunci pintu. Tapi entah kenapa kedua hantu imut penyusup kamarnya bisa masuk begitu saja ke kamar tidurnya. Pasti ada yang menyabotase pintu dan Naruto curiga kalau yang melakukannya adalah Yasaka.

"Tunggu dulu Yasaka-baasan... Apa aku tidak salah dengar? Yasaka-baasan meminta maaf?"

"Memang ada yang salah dengan itu?"

"Tentu saja ada... Yasaka-baasan yang kukenal suka jail dan menggodaku tidak mungkin meminta maaf hanya karena Kunou berbuat sesuatu, apalagi menganggu tidurku. Dan ada satu yang menjadi kecurigaanku kenapa Kunou dan Yuki bisa masuk kamar tidurku, padahal—"

"Kau selalu mengunci pintu kamar sebelum tidur 'kan?"

Jauh di sisi kanan, Madara mulai kesal dengan Yasaka dan Naruto yang malah membahas para penyerang kamar tidur Naruto. Apalagi rasa kantuk yang dialami semakin memperburuk keadaan. Namun ia memilih diam dan menunggu saat yang tepat untuk mengamuk.

Sementara itu, percakapan Naruto dan Yasaka masih berlanjut.

"Asal kau tau Naruto-kun. Semua kamar di sini mempunyai kunci cadangan, termasuk kamar milikmu."

Naruto menekuk wajahnya dalam-dalam dan membalas.

"Jadi, alasan kenapa dua hantu imut itu bisa masuk ke kamarku, karena Kunou memiliki kunci cadangannya?"

"Ya... Dan aku yang memberinya."

Dan akhirnya, Naruto mengeluarkan dengusan. Jadi itu alasan kenapa Kunou dan Yuki bisa menyelinap masuk ke kamarnya ketika ia tertidur. Naruto kemudian menatap kembali sosok Yasaka yang kini tersenyum tanpa dosa menanggapi dengusan darinya.

Namun, sebelum Naruto mengeluarkan balasan, suara lantai yang dipukul seketika membuatnya mengalihkan pandangan ke sana. Bukan hanya Naruto saja yang menatap ke sumber suara. Yasaka, Hilda bahkan Hashirama pun ikut-ikutan.

Ketika dalang pemukulan lantai tak berdosa itu sudah mendapatkan perhatian, si pemukul—Madara pun mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ditahan.

"Harus kalian ketahui... Aku mempunyai kegiatan yang lebih penting daripada duduk disini sambil mendengarkan ocehan mengenai hantu imut atau apalah itu. Jadi, kalau sudah selesai, apa aku bisa kembali ke kamar dan menyambung kegiatan itu?"

Suasana di ruangan itu seketika hening ketika Madara selesai, bukan karena tidak yang mampu membalasnya, tapi karena kotbah dari pria itu yang membuat semuanya terdiam tidak percaya.

"Oiy... Kenapa malah diam? Cepat jawab! Atau tidak, aku benar-benar akan kembali ke kamar."

Ketika Madara hendak berdiri, Naruto langsung berbicara mewakili yang lain kenapa mereka semua terdiam setelah mendengar kotbah tadi.

"Apa itu benar-benar kau, Teme? Atau—"

"Baiklah... Aku akan pergi! Semoga rapat bodoh kalian mengenai hantu imut berjalan lancar."

Pernyataan Madara sontak membuat ekspresi wajah Naruto berubah drastis. Dengan wajah serius, Naruto segera berdiri dan memberi perintah ke Madara.

"Tetap di tempatmu Teme!"

"Apa kau bilang? Kau memerintahku bocah sableng?!"

"Lakukan saja... Tadi itu kulakukan hanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Ya..walaupun gagal sih."

Madara mendecih pelan, kemudian kembali ke posisi awalnya, duduk bersilah dengan wajah datar bak tembok Cina. Naruto menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia berterima kasih Madara mau menuruti permintaan/perintahnya. Setelah kondisi mulai kondusip, Hashirama dan Hilda menatap Naruto, begitupula dengan Yasaka. Pemuda yang ditatap itupun memulainya.

"Baiklah... Ada alasan kenapa aku memilih jam segini untuk melakukan diskusi... Itu karena hal yang akan kita diskusikan ada sangkut pautnya dengan Yuki."

Saat mendengar hal yang akan didiskusikan adalah muridnya bersama Naruto dan Madara. Hashirama langsung mengajukan pertanyaan karena menyadari sesuatu.

"Apa kau mau protes ke Madara yang memberi latihan secara sembunyi-sembunyian yang diberikan ke Yuki?"

Naruto menggeleng pelan sambil menjawab.

"Bukan..bukan... Ini bukan masalah itu..."

—Walau ia mengatakan hal itu, sebenarnya Naruto juga ingin membahas mengenai latihan Yuki. Akan tetapi, menyadari kalau Madara sepertinya mulai marah dibangunkan tengah malam membuat dia harus menahannya sampai ada waktu yang tepat.

"Terus? Apa yang ingin kau bicarakan mengenai Yuki selain latihan dari Madara-kun?"

Hilda ikut bertanya karena penasaran. Sama seperti yang dialami Hashirama sekarang ini. Sementara Yasaka, dia memilih diam untuk mengetahui apa yang akan diucapkan Naruto setelah ini.

"Ini mengenai masa lalunya... . . . . . Salah satu tempat yang kita cari mungkin saja ada hubungannya dengan masa lalu Yuki."

"Maksudmu... Yuki adalah mantan anggota Khaos Brigade?"

Hashirama bertanya dengan alis terangkat. Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi kemudian menjawab.

"Yang satunya lagi..., Tempat yang dicari Orochimaru."

"Tempat yang katanya paling dekat dari Surga, yang itu'kan?"

Naruto mendengus karena merasa dongkol dengan pertanyaan bodoh dari Hashirama. Tentu saja jawaban dari pertanyaan itu adalah 'benar', karena memang hanya ada dua hal yang mereka semua cari untuk melacak, menemukan dan membunuh Orochirmaru.

Di lain sisi, Hilda yang belum sepenuhnya mengetahui identitas dari Yuki atau lebih tepatnya masa lalu gadis Loli itu, tiba-tiba saja menjadi tertarik sekaligus penasaran. Saat pertama diberitahu oleh yang lain mengenai Yuki, ia langsung mengambil kesimpulan kalau Yuki adalah adik kandung Naruto yang terpisah karena suatu hal terjadi sebelum menjadi bagian dari Konohagakure. Apalagi, dari segi fisik, mereka memiliki sedikit kemiripan, rambut keduanya hampir sama. Yuki berwarna putih bersih, sedangkan Naruto putih berkilauan—keperakan, walau sedikit gelap. Karena tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya, Hilda pun mengambil tindakan awalnya...

"Tunggu dulu!"

Teriakan kecil itu sukses membuat semua orang disana mengalihkan pandangan, tak terkecuali Yasaka. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu perhatian. Hilda langsung melayangkan pertanyaan yang baru sesaat sebelumnya tiba-tiba muncul.

"Sebelumnya, ada satu hal yang menggangguku... Naruto-chan, sebenarnya hubunganmu dengan Yuki-chwan itu adik kandung atau adik angkat... Ataukah, Hmmn—Maksudku, ada hubungan spesial yang ditutupi dengan status adik-kakak?"

Walau tengah dilanda rasa penasaran, sempat-sempatnya Hilda memasukkan sedikit unsur menggoda di pertanyaanya. Dan hal itu membuat dia sukses mendapatkan tatapan tajam dari kontener Kurama.

"Ya, mengingat kalian berdua terlihat sangat dekat, bahkan tidur seranjang. Jadi wajar-wajar saja aku memikirkan kalau ada hubungan spesial diantara kalian... Semacam hubungan—"

"Kau lanjutkan... Kepalamu akan kujadikan sate, Hilda."

"Kyaaahh..., Naruto-chan menakutkan!"

"Makanya, jangan berpikiran yang tidak-tidak."

Naruto menghela nafas berat, tidak habis pikir kenapa gadis penganut aliran Jashin-sama itu tidak berubah walau sudah lama tidak bertemu. Masih tetap pada sifat mesum dan suka menggoda dirinya, Madara ataupun Hashirma yang tidak peduli tempat dan situasi.

"Haaah... Baiklah Hilda, akan kejelaskan secara singkat mengenai Yuki... Kau pasti sudah tau ketika aku pertama kali datang ke desa..."

Disela-sela penjelasan Naruto, Hilda mengangguk-anggukan kepalanya.

"...Saat itu, bisa dibilang sama seperti hari lahirku, tidak ada yang kekutahui kecuali namaku—"

"Ini terlalu lama... Singkatnya, Loli-chan adik angkat Naruto. Kau paham Ero-Onna?"

Hilda menggembungkan pipi dan menoleh ke Madara yang tiba-tiba saja menyerempet penjelasan Naruto. Mungkin karena pria itu kesal karena masih mengantuk dan Naruto malah memperpanjang waktu rapat yang membuatnya mengambil tindakan.

"Kalau sudah..."

Madara mengalihkan perhatian ke Naruto saat Hilda mengangguk tanda paham. Setelah itu, ia menyambung ucapannya.

"...Kau bisa melanjutnya, bocah sableng? Dan ingat! Langsung ke intinya saja."

Naruto ikut menganggukkan kepala dan segera melakukan perintah sang Uchiha terakhir yang kelihatannya mulai kesal kembali setelah mereda beberapa menit yang lalu.

"Baiklah teme..., walau ini masih dugaan sementara. Tapi setidaknya aku berharap kalau Yuki memang berasal dari tempat yang dicari-cari Orochimaru. Dan mengenai tempat terdekat dari surga itu sendiri, aku beramsusi disana terdapat orang-orang kuat, bahkan sangat kuat sampai-sampai membuat Orochimaru memasukkannya dalam target penelitian."

Diakhir penjelasan itu, Naruto beralih menatap sosok bibinya—Yasaka, dan melayangkan pertanyaan dengan wajah serius.

"Apa Yasaka-basaan tau tempat ini?"

Orang yang ditanya menggeleng pelan dengan wajah sedikit menyesal karena tidak memiliki informasi sedikit pun mengenai tempat yang dicari Naruto dan keluarganya. Hal ini pun membuat wajah serius Naruto berubah lesuh, awalnya ia sedikit yakin jika Yasaka memiliki informasi karena berstatus pemimpin Fraksi Youkai Kyoto.

Tapi, Yasaka tidak ingin mengecewakan pemuda yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu. Segera, ia mengeluarkan sedikit pendapatnya mengenai... Tempat terdekat dari Surga itu.

"Menurutku, tempat ini memang bukan tempat sembarangan. Itu karena, aku saja yang ber-status pemimpin salah satu fraksi di dunia ini tidak mengetahuinya... Dan dari namanya, aku yakin jika tempat ini erat hubungannya dengan Fraksi Surga."

"Uhn, aku setuju dengan Yasaka-san."

Di samping Hilda, orang yang tidak diharapkan untuk berbicara malah angkat suara. Hashirama, orang itu setuju dengan Yasaka kemudian sedikit menambahkan.

"Dan sama seperti tempat ini, yang sengat rahasia. Sampai saat ini, Fraksi Surga adalah Fraksi yang anggotanya belum pernah kami temui. Itulah yang mungkin menyebabkan kerahasian lokasi dan seperti apa 'tempat terdekat dari surga' ini belum diketahui."

Sementara Hashirama masih meneruskan penjelasannya, di ujung kanan, Madara ingin berbicara untuk memberi pujian/ejekan atas kepintaran tiba-tiba dari sahabatnya itu. Namun, karena mulai tertarik dengan topik pembahasan, Madara memilih diam untuk mendengarkan dan memikirkan sesuatu. Membuat ungkapan 'Talk less, do more' patut diberikan kepadanya.

Kembali ke tiga orang yang masih setia berdiskusi, setelah Hashirama selesai. Yasaka kembali berbicara.

"Hmnn, jika benar apa yang dikatakan Hashirama-san... Maka saranku, jika ingin menemukan tempat ini. Salah satu anggota Fraksi Surga adalah orang yang tepat untuk kalian tanyai... Beberapa anggota Fraksi Malaikat Jatuh mungkin juga bisa."

"Arigatou, Yasaka-baasan... Itu sangat membantu." ujar Naruto, membalas saran dari bibinya. Dan Naruto tau siapa yang dimaksud Yasaka mengenai anggota Fraksi Malaikat Jatuh itu.

Disaat Naruto dan Hashirama sudah memiliki rencana untuk mengetahui lokasi tempat yang dicari. Hashirama, Hilda bahkan Yasaka melupakan hal yang cukup penting, dan satu-satunya yang menyadari hal itu adalah Madara, karena inilah yang sedari tadi ia pikirkan.

"Hn..., Jika solusi cara mendapatkan informasi tempat itu sudah ada. Maka sekarang giliranku untuk bertanya ke kalian semua, terutama kau Naruto..."

"Apa itu?"

Naruto segera memalingkab wajah ke Madara sambil melayangkan pertanyaan. Kemudian, dengan nada suara sangat datar, Madara bertanya balik.

"Apa yang membuatmu berpikir jika masa lalu Loli-chan ada hubungannya dengan tempat itu?"

"Tadi sore setelah tes Yuki selesai, sebagai hadiah atas pencapaiannya dalam seminggu ini, aku akan mengabulkan keinginannya. Awalnya aku mengira dia akan minta ditemani jalan-jalan seharian penuh... Namun, diluar dugaanku Yuki malah meminta penjelasan mengenai tempat itu."

Jelas Naruto sambil mengacungkan jari telunjuk di depan wajah seriusnya. Merasa penjelasan Naruto belum selesai, Madara hanya ber'hn' pelan sebagai kode agar pemuda itu segera melanjutkan.

"Saat itu, aku sama sekali belum curiga padahal hanya kita berlima ditambah Ero-Sennin yang mengetahuinya. Menurutku, ada diantara kita yang memberitahukan Yuki mengetahui tempat itu... Namun, lagi-lagi aku salah. Ternyata Yuki mendengar hal itu secara tidak sengaja—"

"Mungkin saja Yuki mendengarnya dari aku dan Madara... Sebelum memulai tes tadi, kami sempat membicarakannya..."

"...lagipula memang sudah ciri khas Loli-chan yang selalu penasaran dengan hal-hal baru didengar olehnya."

Ketika Naruto tengah serius-seriusnya menjelaskan, Hashirama dan Madara langsung memotong dengan cepat. Namun, Naruto segera membantah hal itu.

"Ossan salah... Yuki tidak mengetahuinya dari kalian berdua. Dan memang benar kalau sudah menjadi hal yang umum Yuki selalu penasaran dengan hal-hal baru... Tapi, asal kalian tahu, Yuki mendengarnya dari Ero-Sennin seminggu yang lalu sehabis pertarungan. Bukankah aneh jika Yuki memendam rasa penasarannya selama itu?"

Pertanyaan Naruto sontak membuat Madara dan Hashirama terdiam memikirkannya. Sementara Yasaka dan Hilda memilih diam...err, terkhusus untuk Hilda, gadis ini diam karena tertidur dalam posisi duduk. Percakapan Mada-Hashi-Naru seperti menjadi nyanyian nina bobo baginya.

Setelah beberapa menit berlalu, Madara pun satu pikiran dengan Naruto mengenai Yuki yang keluar jalur dari sifat semi-polos dan rasa keingintahuan besarnya.

"Hn, begini saja bocah sableng... Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya kau pancing-pancing Yuki agar menjelaskan mengapa dia melakukan sampai sejauh itu."

"Oiy, kenapa hanya aku? Bagaimana denganmu dan Ossan? Apa yang akan kalian lakukan?"

"Aku? Tentu saja melanjutkan latihan pribadiku untuk Loli-chan."

Madara memberi jeda singkat, mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menghela nafas. Kemudian setelah selesai, ia langsung memasang wajah tidak suka saat menggerakkan kepalanya menuju Hashirama.

"Apa kau mau orang berotak kerbau yang mulutnya tidak bisa dijaga ini melakukan hal sesulit itu? Bisa-bisa Loli-chan malah tau apa yang kita rencanakan."

Hashirama seketika mengirim tatapan tajam ke Madara yang tengah menunjuk lurus ke arahnya. Dan Naruto yang entah kenapa setuju dengan perkataan Madara hanya bisa mengangguk tanda setuju. Sedangkan Yasaka, ia malah tersenyum melihat kejadian yang terbilang anti-mainstream di kediamannya.

"Cih, sialan kau teme! Aku tidak sebodoh kerbau tau!"

"Ya, kau memang tidak sebodoh kerbau... Otakmu yang sama bodohnya dengan kerbau."

Dan diskusi itu pun berakhir dengan perdebatan antara Naruto dan Madara melawan Hashirama. Yang tidak lain memperdebatkan otak Hashirama, apa benar sebodoh kerbau atau bahkan lebih parah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yooo~~ '-')/

Ketemu lagi ama ane, Author Newbie yang gak jelas asal-usulnya, di Chapter terbaru Fic Half-Devil—Ah, maksudnya Fic Daybreak.

Mungkin di Chapter ini banyak Typo yang bertebaran dan sedikit GAJE... Karena ini pertama kalinya ane nulis satu Chapter Full lewat HP. Dan jujur, susahnya itu minta ampun tujuh keliling coeg. -_-)

Dan jika kalian merasa ane terlalu banyak membahas LOLI di Chapter ini ... Maka, ane cuma bisa bilang...

#WelcomeToLoliconZone :v

.

.

Balasan Review :

REVANOFSITHLORD : Njriiittt... sadis amat lo tong!

Hero Villager : Klo sampe kejadian, bakalan dibakar ama Naruto... Hmnn, oke!

Tenshisha Hikari : Yaps bener.

Loki DG : Mereka semua udah tau cara ngalahin ET. Madara yang bakalan ngasi tau krn udah ngambil ingatan Orochimaru.

TanakaKanako3 [My Imuoto] : Nih udah mulai muncul... Yasaka ama Dedek Kunou (") ... Hmnn, bisa aja sih ane munculin Mami-Anna, hahahahha :v :v

Aka na Yuki [My Imouto] : Tumben mualas ngoreksi :v ... Nih udah ku-Update Dedek Yuki '-')/

Raitogecko : Mada-Hashi-Jiraiya bisa kuchiyose kok.

dark : Gue bukan Njeng ... Gue Lolicon :v

Izaya orihara : Masih rahasia ... yang jelas bukan OC.

Lusy922 : ET ke-4 cukup mengenal Naruto ... Yaps, bakalan terbongkar sedikit demi sedikit.

dandidandi185 : Mungkin Jiraiya krn umur Naruto belum tidak diketahui ... mengenai pair, Mini-Harem 75%, Single 25% :v

Madara Outsutsuki28 : Hmmnn, dia anggota Khaos Brigade.

Ae Hatake : Bisa jadi ... Kita lihat saja nanti di ronde ke-2 Naruto and the geng vs Orochimaru.

Yang Review 'Lanjut' 'Next' dan sebangsa-nya, Nih udah ane Lanjut walau kelamaan.

.

.

Okee... See~yaaa

Root Loliwood and Stark Milfbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy ama Dedek Scheherazade dulu! '-')/