Daybreak

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas semua hal yang muncul dalam Fic ini.

Rate : M

Genre : Family, Supernatural, Adventure, Romance, Mystery, Etc.

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya!

Warning : AU, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC [Amat sangat], Adult-Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan, dll.


Arc : III — Early and Late.

Chapter : 17 — Back to Kuoh.


.

.

.

.

.

.

.

Sementara meminum ocha hangat yang disedikan oleh Maid kediaman pemimpin fraksi Youkai Kyoto, menikmati sensasi hangat minuman tradisional negara Jepang itu saat melewati tenggerokannya, Senju Hashirama mengeluarkan desahan pelan. Seteleh selesai, dia melirik tiga sosok di dekatnya dengan pandangan meminta penjelasan dan berkata.

"Selanjutnya apa yang kita lakukan? Semua yang dilakukan Naruto selama empat hari ini sia-sia."

Perkataan Hashirama sontak mengalihkan pandangan Naruto dan Hilda menuju ke pria berambut raven panjang yang tengah memasang wajah datar bak tembok raksasa Cina. Di tengah malam yang sunyi pada kediaman Yasaka. Kelompok kecil Naruto kecuali Yuki berkumpul di salah satu ruangan untuk mendiskusikan langkah selanjutnya yang akan mereka ambil.

"Sudah jelas bukan? Mencari informasi." jawab pria bernama Uchiha Madara itu tidak banyak membuang kata. Kemudian, perhatiannya beralih ke satu-satunya sosok muda di sana yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.

"Oiy, bocah sableng!"

Naruto tersentak dan segera membalasnya dengan nada agak ketus di telinga sang Uchiha terakhir. "Hn, ada apa?"

"Besok persiapkan semuanya. Kita kembali ke kandang kudamu." Madara memasang wajah menakutkan sambil bersikedep dada seolah tidak ingin menerima penolakan sehingga membuat pemuda yang dipanggil bocah sableng mengeluarkan desahan panjang.

Sambil menggelengkan kepala dengan gerakan pelan. Naruto menjawab. "Tidak, tidak Teme. Kita kembali besok lusa."

"Apa maksudmu? Jangan bilang kau masih ingin tinggal disini, bocah sableng."

Jawaban bersifat menolak dari Naruto sontak membuat Madara meraung kesal. Urat kening pria Uchiha itu menyembul keluar membentuk semacam perempatan disana. Melihat hal itu, Naruto mencoba untuk tidak mengutuk dalam-dalam sifat keras kepala si Uchiha yang selalu ingin menjadi orang yang memerintah, bukan diperintah.

"Memang. Besok, ada sesuatu yang harus kulakukan." balas Naruto tanpa mengutarakan alasannya untuk tinggal sehari lagi. Sore tadi, dia sudah berjanji untuk menemani Kunou dan Yuki jalan-jalan kota Kyoto seharian penuh. Sudah sangat lama bagi pemuda itu tidak menghabiskan waktunya bersama sang pewaris tahta kepemimpinannya fraksi Youkai Kyoto semenjak tersesat dan terikat kontrak dengan klan Gremory di Underworld.

Mendengar hal tersebut. Madara tidak lagi kesal, melainkan marah. Bisa-bisanya kontener Kurama itu tidak memikirkan akibat dari tindakannya mengulur-ngulur waktu pencarian Tempat terdekat dari surga. Bagi Madara sendiri, mendahului Orochimaru merupakan kesempatan emas untuk membunuh mantan Senpai-nya itu bersama Hashirama. Ada beberapa hal yang dia temukan di kepala Orohimaru dan tidak memberitahukannya ke yang lain.

"Dengan ya, bocah sableng! Kita sudah banyak membuang waktu disini. Bagaimana jika Orochimaru menemukan tempat itu lebih dulu dari kita?"

Lagi, Naruto mengeluarkan desahan panjang memikirkan kenapa Madara terlalu fokus ke Orochimaru dan dendam mereka ke Old-Faction Maou [OSF]. Apakah di kepala Uchiha itu hanya ada dua hal tersebut sampai lupa bahwa mereka tidak membuang waktu percuma di kediaman Yasaka. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk melatih Yuki. Tidak mau berdebat terlalu panjang lagi, Naruto akhirnya pasrah dan mengemukan alasannya untuk tinggal.

"Begini... Kemarin sore aku berjanji ke Kunou dan Yuki untuk menemani mereka berjalan-jalan di taman seharian penuh. Sudah sangat lama bagiku semenjak meninggalkan tempat ini aku tidak menghabiskan waktu bersama." jelas kontener Kurama itu sedikit menoleh ke luar jendela mencoba mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan Kunou yang sebagian besar dia hampir lupakan. Menimang-nimang masalah tersebut. Sebenarnya ini juga salah Naruto saat berada di Underworld yang selalu ingin berada di dekat Rias Gremory agar gadis itu menyadari perasaannya sampai lupa bahwa dia mempunyai adik di Kyoto. Ah, cinta memang membuat orang lupa akan segalanya.

"Haaa... Kenapa disaat seperti ini malah teringat dengannya." batin Naruto segera menggeleng-gelangkan kepalanya membuang jauh-jauh ingatan tentang Rias. Gadis iblis yang merupakan Ketidak-mungkinan yang selalu ia semogakan. Setelah selesai, Naruto kembali memandang Madara dan berkata.

"Lagian, tidak ada salahnya kita bersantai sejenak Madara-teme. Dan asal kau tau... Aku juga sama sepertimu. Ingin mengetahui tempat itu sesegera mungkin karena penasaran dengan masa lalu Yuki..." jelas pemuda itu dan tanpa ada sadar bahwa kalimat tersebut terdengar menggantung karena Naruto menyelesaikannya dalam hati. "... Dan juga segera mengetahui siapa sebenarnya wanita yang memanggilku."

"Haaa... Ini terlalu menyebalkan. Kalau aku sih, hanya mengikuti apa yang akan kalian lakukan tidak peduli siapa yang benar."

Di sisi paling kiri diantara mereka semua, Hilda tiba-tiba angkat suara sambil mengibas-ngibaskan tangan kanan pada udara kosong didepan wajah cantiknya. Bisa dibilang gadis cantik berambut abu-abu ini sudah kehilangan tujuan hidup setelah kehancuran Konohagakure. Sekarang, ia hanya ingin mengikuti tujuan Madara, Hashirama dan Naruto. Itung-itung bisa memberikan banyak persembahan ke Jashin-sama. Setelah mengutaran pendapat, Hilda segera menyuruput ocha hangat miliknya dan tidak peduli lagi dengan perdebatan Naruto dan Madara yang kembali berlanjut.

"Grrrr, bocah sialan. Apanya yang bersantai sejenak, hah? Kita sudah banyak bersantai di sela-sela latihan Yuki. Kalau memang kau ingin segera mencari... Kita harus kembali besok dan aku tidak menerima penolakan. Titik!" tanda Uchiha itu kini siap mengamuk kapan saja apabila Naruto kembali menolak perintahnya.

"Itu hanya beberapa jam. Kali ini berbeda dan aku juga tidak menerima penolakan." Naruto ikut melakukan hal sama. Aura tidak mengenakkan mulai keluar dari tubuh pemuda itu membuat Hashirama tercekak tenggorakannya.

"Oi, oi, oi. Bisa kita bicarakan hal ini secara da—"

"Damare!"

"Tutup mulutmu, Ossan!"

Hashirama yang hendak melerai keduanya malah mendapat bentakan kasar disertai pelototan tajam, seolah ingin membakar dan memakannya hidup-hidup. Ia segera mengangguk patuh layaknya anak anjing disertai keringat dingin mengucur dari rambut hitamnya.

"Ba...Bakemono!" pikir Hashirama melihat wajah bak monster kedua orang di depannya.

Madara mengembalikan pandangannya ke pengguna Senjutsu katak lalu berucap datar namun penuh dengan penekanan di setiap katanya. "Kita harus segera bergerak, bocah. Ini sudah hampir dua minggu kita berada disini... Kau pikir setelah tidak ada lagi harapan dari Yuki. Para malaikat akan turun dari surga dan memberikan informasi begitu saja?"

"Siapa yang tau?" Naruto membuang muka jauh-jauh dari lawan bicaranya. "Mungkin saja itu benar-benar akan terjadi. Lagipula ada Ero-Sennin." tambahnya dengan nada datar seperti Madara. Beberapa hari yang lalu, dia—Naruto menghubungi guru Senjutsu-nya dan diberitahukan bawah pencarian tempat tersebut sudah dimulai oleh jaringan mata-mata yang dipimpin oleh Jiraiya sendiri.

"Temeeee!"

Madara mendesis bak dewa kematian atas respon datar seolah tidak peduli dengan situasi yang dikeluarkan Naruto. Mata sakti pria raven itu mulai berkibar siap memberikan teror kematian siapa pun yang melihatnya. Dan pada akhirnya, Naruto juga yang harus mengalah jika situasi sudah tidak mengenakkan seperti sekarang ini. Pemuda ini segera memutar otak mencari jalan keluar masalah kecil [Besar bagi Madara] ini. Beberapa menit berpikir, jalan keluar pun ditemukan oleh Naruto namun tidak yakin Madara akan menerimanya.

"Begini saja... Kita kembali besok, lebih tepatnya besok malam setelah selesai jalan-jalan bersama Kunou dan Yuki." jelas Naruto diakhiri helaan nafas panjang melihat wajah Madara belum sepenuhnya berubah. Masih memancarkan kemarahan dengan Sharingan berkibat gagah.

"Aku setuju dengan Naruto." Hashirama kembali angkat suara sambil mengangguk. Mantan Hokage ini kemudian menoleh ke satu-satunya perempuan disana."Bagaimana menurutmu Hil—"

"Are? Dia tertidur?!" keringat sebesar biji jagung menetes di batok kepala Hashirama. Nampaknya, perdebatan dua orang tadi menjadi nyanyian nina bobo bagi Hilda yang sudah tenggelam dalam mimpi indahnya.

"Hn. Aku menang, Uchiha keparat!" Naruto melempar seringai penuh kemenangan menuju Madara. "Jadi, sudah diputuskan. Besok malam kita kembali, kalau tidak mau... Jalan kaki sana!" tandas pemuda berambut dark-silver itu semakin memperlebar seringai tatkala melihat Madara mendengus tidak suka akan keputusannya.

"Cih, baiklah. Kita kembali besok malam. Namun, setibanya di Kuoh. Kau harus menemui orang yang kulihat di ingatanmu, bocah sableng."

.

.

Keesokan harinya. Naruto bersama Kunou dan Yuki menghabiskan waktu mereka seharian penuh. Bukan hanya mereka bertiga saja. Madara, Hilda, Hashirama bahkan Yasaka pun ikut serta. Banyak hal dilakukan di taman kota Kyoto tidak jauh dari kediaman Yasaka tak terkecuali memandangi bunga sakura yang lagi bermekaran bulan ini. Di sela-sela kegiatan mereka, Naruto memberitahukan Kunou perihal rencana mereka kembali ke Kuoh. Walau cukup berat bagi Kunou dan Yasaka, mereka tidak dapat menghentikan rencana itu. Agar Kunou tidak sedih. Naruto berjanji untuk datang lagi jika ada waktu luang atau masalah yang dihadapi selesai.

Siang berganti malam. Saatnya bagi Naruto dan yang lain untuk kembali. Isak tangis menghiasi perpisahan antara Yuki dan Kunou. Sedangkan bagi Naruto, terjadi hal yang membuatnya bingung harus bagaimana. Itu karena Yasaka tiba-tiba mengajaknya berbicara empat mata di tempat lain. Pembicaraan itu memakan waktu sekitar 10 menit tapi bagi keduanya terasa sangat lama karena yang dibahas merupakan hal rumit. Tidak lupa juga, Yasaka memberitahukan Naruto mengenai permintaan Kunou yang ingin dilatih. Dengan senang hati Naruto mau melakukannya apalagi sudah berjanji ke Konou. Tapi untuk melakukannya, dia harus menunggu waktu yang tepat. Ada waktu luang atau mereka sudah menemukan lokasi tempat terdekat dari surga.

Setelah perbicaraan antara Naruto dengan Yasaka selesai. Tanpa menunggu lama, mereka pun berangkat menggunakan tehnik ruang dan waktu dari Senjutsu milik Naruto.

Lebih detik kemudian...

Sebuah cahaya keemasan melintang vertikal muncul di ruang tengah apartemen besar di kota Kuoh. Dari cahaya itu melompat keluar Naruto dan yang lain. Walau hari sudah malam, ruangan tersebut tetap diterangi cahaya lampu. Ini karena Naruto membiarkan lampu tengah apartemen menyala terus walau tidak ada yang menginap. Persetan dengan tagihan listrik, ada Madara yang bisa dimanfaatkan kemampuan mata Iritasinya untuk menghinotis pegawai negara bagian kelistrikan.

"Heee... Jadi ini tempat tinggal kalian?!"

Hilda mengedarkan pandangan menelusuri setiap sudut ruang tengah. Menatap satu per satu perabotan bergaya modern seperti; tiga buah sofa, meja, tv flatsceen dan lain-lain. Melihat rapi dan bersihnya tempat tinggal keluarga barunya, seringai misterius muncul di bibir indah Hilda.

"Lumayan juga untuk orang tidak berguna macam kalian." ejek Hilda kepada tiga laki-laki di ruangan tersebut sambil melipat kedua tangannya di bawah payudara yang hanya terbalut pakaian Maid dari tempat Yasaka.

"Haaah? Apa kau bilang, Ero-Onna?" orang pertama yang termakan ejekan tadi adalah Madara. Pria Uchiha ini tidak terima dikatai tidak berguna, padahal disini dialah yang paling berguna. "Kalau si bocah sableng dan Dobe sih, memang tidak berguna." jelasnya tanpa sadar mendeklarasikan perang mulut kepada Naruto dan Hashirama.

"Uruse!"

"Damare, Uchiha Bangsat!"

Dan ajaibnya, dua kubu yang lain terpancing. Baik Naruto ataupun Hashirama juga tidak terima dengan hal tadi. Terjadilah perdebatan hebat antara ketiga penduduk Konohagakure itu hingga menjerumus ke perkelahian anak kecil yang dimulai oleh Naruto karena memukul wajah Madara. Ketiganya pun saling menyerang satu sama lain di dalam kepulan debu pada permukaan lantai.

"Makan ini!"

"Mati kalian berdua!"

"Kalian memang tidak berguna... Rasakan kemarahan seorang Uchiha!"

"Grrrr, jangan menggigit Ossan!"

"Teme pakai kunai. Itu curang, hoii!"

"Kau sendiri jangan pakai Senjutsu, Ushi-dobe!"

Perkelahian ity terus berlanjut disertai lempar ejekan yang mengikut sertakan para penghuni kebun binatang. Lalu dimana sosok Yuki yang selama ini bisa menghentikan perdebatan dengan melempar sandal atau benda-benda lain? Ternyata sesampainya di apartemen. Yuki langsung pergi ke kamarnya tanpa sepengetahuan yang lain. Yuki tertalu lelah berjalan-jalan seharian dan mungkin butuh waktu meredam kesedihannya karena berpisah sementara dengan Kunou.

Setelah lima menit, perkelahian berakhir tidak damai. Ketiganya sama-sama tergeletak tidak berdaya dilantai dengan wajah babak belur tak berbentuk. Tidak jauh dari mereka, Hilda berdiri terbengong-bengong disertai keringat besar menetes pada bagian belakang rambut abu-abunya. Gadis cantik ini tidak habis pikir, jika Hashirama yang bertingkah bodoh sudah biasanya baginya. Namun, apa jadinya kalau Madara juga ikut-ikutan seperti Hashirama?

"Aku tidak menyangka mereka ternyata sebodoh ini." pikir Hilda masih sweatdrop. Dunia luar memang diluar dugaannya, mampu merubah Madara yang terkenal tenang, cool, berwajah datar dan tidak mudah terpancing emosi menjadi seperti yang ada di hadapannya.

"Grrrr, akan kubalas kalian berdua." Naruto sekuat tenaga bangkit dari posisi terlentangnya. Wajah tak berbentuknya tak pernah berhenti mengirim pelototan kepada duo shinobi yang sudah duduk bersilah sambil mengusap-ngusap luka bekas perkelahian. Setelah berdiri dengan sempoyangan, Naruto melirik jam dinding sejenak yang sudah menunjukan pukul sembilan lewat lalu berkata cukup pelan.

"Setelah aku kembali,..."

Secara bersamaan Madara dan Hashirama menaikkan sebelah alis mereka yang tidak bengkak melihat Naruto mulai beranjak meninggalkan mereka menuju pintuk ke ruang tamu. Madara yang mengerti makna dari ucapan pemuda itu segera memberi perintah untuk tetap di tempat.

"Oi, bocah sableng! Kau mau kemana...?! Kita masih ada urusan yang perlu dibahas!" Pria Uchiha ini segera menghentikan kontener Kurama sebelum keluar ruangan/apartemen.

Naruto menuruti perintah tadi. Dia berhenti tepat di depan pintu menuju ruang tamu. Tapi hanya itu yang dia lakukan selama hampir 1 menit, hanya berdiri menghadap pintu berbahan kayu mahoni itu. Spontan, tingkah anehnya ini membuat Madara, Hashirama serta Hilda keheranan.

"Nee, Teme... Bukannya kau sendiri yang bilang." Naruto akhirnya bersuara juga, tapi dengan tidak sopannya dia tidak menatap lawan bicaranya.

"Hn?" Madara tidak terlalu peduli Naruto tidak berbalik dan menatap dirinya, asalkan mendapat kepastian itu sudah lebih dari cukup.

Sekilas, tubuh Naruto merinding akan sesuatu namun tidak ada yang menyadari hal tersebut. Lalu, dengan nada gagap Naruto segera berkata. "K-kau ingin aku menemui kenalanku sesampainya di-disini. Jadi, aku mau keluar. Mu-mungkin saja dia bisa memberikan informasi." aura suram seketika muncul entah dari mana di ruangan tersebut. Setelah selesai menjelaskan Naruto menundukan kepala, menatap sesuatu pada bagian bawah tubuhnya.

"Oiy, oiy... Apa-apaan nada bicaramu itu Naruto? Kau seperti mau mati saja." sahut Hashirama keheranan. Apalagi, mantan Hokage itu belum tau siapa orang yang mau ditemui murid-nya itu. Bisa saja orang itu adalah lawan yang sangat kuat dan Naruto berniat mengalahkannya agar mendapat informasi.

"Gelagatmu sangat aneh Naruto-chan. Apa orang itu lawan? Kalau iya, aku ikut ya, ya, ya?! Sudah lama aku tidak memberi persembahan kepada Jashin-sama." si biang kerok perkelahian tadi ikut berbicara, namun agak menyimpang karena mengikut sertakan ajaran sesatnya.

"Sebaiknya kau jangan mengajak Ero-Onna ini, Naruto!" Madara berucap sinis sambil mengarahkan ibu jari tangan kanannya ke Hilda. Tampaknya dia masih marah dikatai tidak berguna. Tipikal orang yang tidak mau melupakan sesuatu walau hanya hal kecil.

Naruto segera berbalik dan langsung terdiam dengan wajah aneh. Di depannya, tiga anggota keluarganya memasang ekspresi wajah berbeda-beda. Hashirama terlihat khawatir walau wajahnya masih bengkak di beberapa bagian. Hilda malah terlihat begitu antusias sampai-sampai iris ungu-nya penuh dengan cahaya-cahaya aneh menyilaukan. Sementara Madara cuma memasang wajah datar seolah tidak peduli dengan sekitarnya. Naruto menghela nafas sejenak lalu menjawab dengan nada lesuh.

"Dia cuma teman. Tidak perlu ada yang ikut. Malah akan merepotkan kalau ada yang ikut, terutama kau Hilda."

"Haaaaah...?" seketika, sang mantan Hokage membuka mulutnya lebar-lebar dan kembali menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa bingung dengan Naruto. Tadi bertingkah suram seperti mau mati, sekarang malah terlihat sangat malas.

"Terus kenapa dengan nada bicaramu tadi?" Hilda pun berpikiran sama dengan Hashirama. Merasa aneh dengan tingkah pemuda itu.

"E-etto... Anoo... A-Aku memang seperti mau mati..."

Ketiga orang di depan Naruto tiba-tiba terdiam tidak tau mau berkata apa lagi mendengar jawaban mengejutkan itu. Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat mereka kesal bukan main saat Naruto melanjutkan ucapannya dengan wajah penuh dengan cucuran keringat dingin serta membiru pada bagian kening hingga mata.

"... Selangkanganku kena tendang."

"Mati aja sana!"

.

.

.

.

.

Setelah Naruto melalui adegan memalukan tadi serta diberi obat pereda rasa sakit oleh Hashirama [Senjutsu]. Dia pun segera menuju tempat orang yang ingin ditemui. Hanya butuh beberapa menit saja dengan berjalan kaki dari apartemennya menuju pinggiran sungai kota Kouh. Namun, sesampainya disana, Naruto tidak menemukan seseorang pun. Yang ada hanya suara jangkrik, katak dan hewan nocturnal lain yang bernyanyi. Mungkin saat ini lagi musim kawin para hewan.

"Are? Tumben Ero-Datenshi itu tidak memancing disini?" Naruto mengedarkan pandangan ke sisi lain sungai siapa tau orang yang dia cari pindah lokasi agar bisa mendapatkan ikan. Namun, hasil yang didapat berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan.

"Tck, kemana sih dia? Tidak dibutuhkan ada, sekarang sangat butuh malah tidak ada." rutuknya kembali dibuat kesal untuk kedua kalinya namun dari orang yang berbeda.

Karena sudah terlanjut berada di tempat ini dan takut oleh amukan Madara apabila pulang tanpa membawa hasil apapun. Naruto terpaksa menyerap energi alam yang melayang bebas di sekitarnya. Walau memiliki cadangan Senjutsu jauh di dalam tubuhnya, ia tetap menghisap karena cadangan tersebut berfungsi sebagai tindakan jaga-jaga apabila ada serangan tiba-tiba oleh Da-Tenshi ataupun Iblis dan Iblis Liar yang ada di kota Kuoh.

Setelah tubuhnya dirasa cukup menyerap energi alam. Naruto mulai mencari keberadaan Aura milik Azazel—orang yang dicarinya menggunakan kemampuan sensorik yang sudah dikembangkan sedemikian rupa.

"Sekiryūtei?"

Kening Naruto mengkerut keheranan mendeteksi aura naga milik Pawn mantan Ojousama-nya berada dekat dengan aura suci bercampur gelap milik Azazel. Daripada penasaran dengan tindakan Azazel yang aneh ini. Naruto memutuskan untuk menemui Gubernur Da-Tenshi itu agar tau apa yang terjadi diantara mereka. Tanpa basa basi, Naruto segera beranjak dari pinggiran sungai tempatnya menuju apartemen Azazel yang berlokasi tidak jauh dari sana. Dan lagi, dia memilih berjalan kaki. Sama seperti yang dilakukannya dari apartemen menuju ke pinggiran sungai tadi.

.

.

Suara tawa yang membuat orang kesal apabila mendengarnya bergema di sebuah apartemen mewah berinterior gaya modern. Suara tawa itu berasal dari pria paruh baya berambut hitam dengan poni emas, mengenakan kimono coklat. Azazel namanya, sang Gubernur Da-Tenshi. Orang yang dari tadi Naruto ingin temui untuk diajak berbicara.

"Kau naik sepeda menuju pemanggilmu karena tidak punya cukup kekuatan untuk menggunakan sihir teleportasi?" Azazel bertanya dengan nada riang mendengar curhatan dari iblis berambut coklat yang duduk pada sofa di sebelah kanannya sambil memasang wajah malu.

"I-iya..." iblis yang dipanggil Azazel untuk membuat kontrak menjawab lesuh.

"Lucu sekali!" Azazel menambah volume tertawanya.

"Cara tertawanya membuat kesal." ringis si Iblis dalam hati, Hyodou Issei namanya. "Tapi aku membutuhkan kontrak ini... Tahan, tahan!" lagi, Issei membatin sambil menyesap air putih yang disediakan oleh Azazel untuknya. Namun, apa yang diucapkan sedikit berbeda. Issei berusaha menyemati dirinya sendiri karena tidak mau membuat Ketuanya—Rias Gremory kecewa untuk kesekian kalinya karena gagal mendapatkan kontrak.

"Menyena—"

Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Azazel, membuat dia dan Issei terkejut ada tamu di jam segini, "Tunggu sebentar Akuma-kun, aku kedatangan tamu." Azazel bangkit dari sofa kemudian berjalan menuju pintu masuk apartemennya.

Sementara Issei kini penasaran dengan tamu Azazel. Menurutnya aneh saja ada orang yang bertamu di rumah Azazel yang menurutnya sangat aneh malam-malam begini. Lalu, pikirannya langsung terbuka karena teringat bukan hanya bangsawan Gremory yang mengusai daerah Kuoh. Ada bangsawan keluarga Sitri yang dipimpin oleh Sona, sang ketua Osis Kuoh Akademi. Seketika mata Issei melebar terkejut mengira orang yang bertamu adalah Saji, Pawn milik Sona.

Kembali ke Azazel yang berada di pintu masuk, saat meraih gagang pintu dan ditarik pelan. "Naruto?" Azazel menaikkan alis, heran melihat pemuda berambut dark-silver berdiri dihadapannya setelah membuka pintu.

"Yo...! Hisasshiburadana Ero-Azazel." Naruto menyapa dengan nada riang sambil melambaikan ringan.

"Lama tidak bertemu gundulmu! Darimana saja kau? Aku jadi kesepian tidak ada yang menemaniku memancing tau." keheranan Azazel berubah menjadi kekesalan mendengar sapaan riang tadi. Segera ia mengeluarkan uneg-uneg yang langsung disambut tatapan jijik Naruto.

"Memang aku Uke-mu apa? Harus selalu ada di sampingmu saat kesepian melakukan hobi terkutuk itu." sahut Naruto masih mempertahankan ekspresi jijiknya. Melihat Azazel mengangguk pelan sontak membuat Naruto ingin muntah saja. Hampir sebagian besar wajahnya membiru menahan segala macam isi perut yang meronta-ronta ingin dikeluarkan.

"Aku masih normal, Hentai-Yarou... Dan ekspresi wajahmu sangat menjijikan. Ganti sana!"

"Hahahaha~ Aku cuma bercanda Naruto. Aku juga masih normal."

Gubernur Da-Tenshi itu langsung mengelak, dirinya memang masih normal dan impiannya adalah melihat dan meremas payudara untuk menambah daftar perempuan yang sudah diembatnya, dan perempuan yang sangat ingin Azazel masukkan dalam daftar itu adalah... Wanita tercantik di surga.

"Satu-satunya hal normal yang kutau darimu Ero-Azazel... Kau masih hidup."

Hati Azazel tertohok begitu dalam mendengar ucapan Naruto. Tapi itu ditutupi dengan wajah cerianya seperti biasa lalu membalas.

"Kau bisa saja Naruto." dan tanpa disadari olehnya karena terlalu asik bercengkrama bersama Naruto, dia melupakan tamunya yang pertama.

Tamu itu, Hyoudou Issei. Pemuda berambut coklat yang duduk di sofa bergaya modern terkejut mendengar orang yang bertamu. "Naruto?!" pikirnya sambil mengepal tangan kanan karena pemuda mantan pelindung Bochou-nya itu yang meluluhlantahkan dia dan rekan-rekan anggota Occult Research Club [ORC] dua minggu sebelumnya.

"Apa dia mengenal orang aneh yang mau memanggilku?"

.

.

"Oiy, Azazel-teme... Apa seperti ini kau memperlakukan tamumu? Membiarkannya berdiri di depan pintu?" gerutu Naruto sadar kalau orang di depannya cuma mengajak ngobrol di depan pintu bukannya mengajak masuk atau hal-hal yang menyangkut tata krama menerima tamu. Sebelum membalas, Azazel memasang wajah seperti tidak rela pemuda kontener Kurama itu bertamu.

"Bagiku, kau bukan tamu... tapi rentenir yang siap menyita waktu berhargaku." tentu saja itu cuma candaan dan Naruto mengerti akan itu sehingga membuat keduanya tertawa lepas selama beberapa saat.

Tak berselang lama, barulah Azazel sadar akan sesuatu—ah seseorang yang ada di dalam apartemennya. Sungguh malang nasib sang Sekiryūte dilupakan oleh sang tuan rumah hanya karena kedatangan tamu lain.

"Ah, kenapa aku bisa lupa... Masuk saja. Ada seseorang yang ingin kukenalkan."

Setelah itu, mereka berdua berjalan menuju ruang tamu, tempat dimana Issei sekarang berada dengan wajah tertekuk dalam-dalam karena menahan sesuatu yang sudah pasti karena kedatangan Naruto. Karena sudah mengetahui bahwa di tempatnya sekarang ada Pawn Rias Gremory, pemuda berambut dark-silver itu pura-pura memasang wajah kebingungan dan bertanya.

"Are? Issei-san? Kau juga kenal dengan orang aneh satu ini?"

Azazel mengerutkan keningnya dan sedikit kesal dipanggil orang aneh oleh Naruto. Kemudian secara bergantian dia menatap dua pemuda itu sambil memegang dagu kokohnya yang berhias jenggot tipis.

"Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya penuh menyelidik ke Naruto atau Issei. Azazel tidak terlalu terkejut apabila keduanya sudah mengenal, menurutnya Naruto yang memiliki hubungan dengan Sirzechs Lucifer sudah semestinya kenal dengan Sekiryuutei, Pawn adik Maou-Lucifer pengidap Siscon itu. Namun, yang membuatnya heran adalah aura tidak mengenakkan yang keluar dari tubuh Issei setelah kedatangan Naruto.

Issei diam sambil menatap tajam Naruto yang berdiri di samping Azazel. Tentu saja Issei tidak mau menjawab kalau pertemuan keduanya dengan Naruto merupakan sebuah pertarungan yang berakhir kekalahan telak. Azazel pasti tertawa keras lagi mengejeknya. Membayangkannya saja sudah hampir membuat Issei tidak tahan apalagi benar-benar terjadi.

Sementara Naruto malah sebaliknya, dia mengangguk singkat dan menjawab. "Hmmn, ini pertemuan ketiga kami." sekilas, Naruto melirik Issei yang menatap tajam dirinya dari sofa. Tapi dia tidak terlalu peduli dengan itu. Punya Madara lebih menakutkan daripada Issei.

"Baguslah. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri kalian masing-masing."

Naruto dan Azazel berjalan menuju sofa dan duduk pada sofa yang berbeda, Azazel di tempat awalnya dan Naruto pada sofa di depan Issei. Perbincangan normal pun terjadi antara ketiganya, Issei berusaha agar tidak kelepasan terus-terusan melihat wajah Naruto yang sesekali tersenyum dan tertawa apabila dia dan Azazel mengatakan hal yang lucu ataupun saling mengejek satu sama lain. Tentu saja tanpa membocorkan identitas Azazel sebagai Gubernur Da-Tenshi.

Beberapa menit berlalu...

"Apa kau berniat menjual jiwamu pada Issei-san, Azazel?" tanya Naruto memecah kesunyian yang tercipta karena mereka tidak ada bahan pembicaraan lagi untuk dibahas ketiganya.

Sontak Issei yang sebelumnya fokus menahan emosi terkejut bukan main. Ditambah Azazel menatap dia dengan mata menyipit penasaran. Segera, Inang dari Ddraig memutar otak mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sensitif dari Naruto yang tadi.

"T-Tidak sama sekali kok. Mengobrol dengan seseorang tidak sebanding dengan itu, lagipula dengan adanya Naruto-san disini tidak mungkin aku meminta jiwa anda."

"Oh, kau dermawan sekali." ucap Azazel memberi pujian sambil mengusap-ngusap jenggot tipitnya.

"Hmnn, aku tidak menyangka kau iblis yang baik Issei-san." Naruto ikut memuji Issei. Dan kali ini merupakan pujian yang tulus.

Bukannya senang, Issei malah kesal dalam hati. Wajahnya mengeras menahan segala macam emosi terutama marah yang sudah bertumpuk segunung akibat keberadaan Naruto serta pujian tadi.

"Bagaimana kalau lukisan itu?" Azazel kembali bersuara sambil menunjuk ke atas, lebih tepatnya ke sebuah lukisan yang bertengger manis pada dinding dibelakangnya. "Aku tidak punya apa-apa selain lukisan itu, hanya jiwaku yang bisa kuberikan padamu Akuma-kun." Azazel memasang tampang kasihan, membuat Naruto ingin muntah melihatnya.

"Dasar Da-Tenshi miskin." ejek Naruto dalam hati apa adanya. Toh, Azazel memang malaikat jatuh miskin—di dunia manusia tentunya. Makan saja sering menumpang ke apartemen Naruto kalau tidak dapat hasil dari memancing. "Ambil saja lukisan itu Issei-san, apa kau tidak mau mendapatkan kontrak ini dan membuat ketua-mu marah?" tanya Naruto mengalihkan pandangannya ke Issei sambil tersenyum tipis.

"B-Baiklah, akan kuambil lukisan itu." jawab Issei yang sudah tidak bisa lagi beralasan seperti apa, ditambah lagi senyum Naruto yang benar-benar membuatnya tidak tahan untuk segera meninggalkan apartemen Azazel.

Setelah Issei selesai membungkus dan membawa lukasin pemberian Azazel. Inang Ddraig berterima kasih dan berpamitan untuk segera pulang. Saat Sekiryuutei sudah benar-benar tidak bisa lagi mendengar pembicaraan mereka, Naruto langsung menatap serius gubernur Da-Tenshi di samping kirinya.

"Nah, Azazel, ada yang ingin kubicarakan padamu."

"Apa itu Naruto?"

Azazel ikut menatap serius Naruto, dia tau seperti kontener dari Kurama. Tidak mungkin membuang-buang waktu datang ke apartemennya hanya untuk menyapa dan berbicara dengannya saja, apalagi tidak memanggil 'Ero Da-Tenshi' seperti biasa serta penasaran kenapa pemuda itu tiba-tiba menghilang dari Kuoh selama dua minggu lebih. Sesuatu yang menarik pasti terjadi selama hilangnya Naruto dan Azazel sangat penasaran dengan itu.

"Kau tau 'kan kalau adik angkatku, Yuki ketemukan setahun yang lalu dalam keadaan pingsan dan tidak mengingat apa-apa selain namanya saja?" Azazel mengangguk-nganggukkan kepala, "Begini, alasan aku tidak pernah muncul dan menemuimu... Dua minggu ini aku berada di Kyoto dan menemukan sebuah petunjuk untuk mengembalikan ingatan atau setidaknya mengetahui siapa Yuki sebenarnya dan bagaimana masa lalunya." jelas Naruto, Azazel hanya diam mendengarkan karena tau kalau penjelasan Naruto belum sepenuhnya selesai.

"Sebagai seorang Gubernur Da-Tenshi, kau mungkin mengetahui tentang Tempat mengenai dari Surga, apa kau pernah mendengarnya?" tanya Naruto langsung ke intinya sekaligus mengakhiri penjelasannya. Bertele-tele terlalu lama bukanlah salah satu sifat Naruto.

"Tempat terdekat dari Surga?" Naruto menganggukan kepalanya saat Azazel balik bertanya meminta konfirmasi.

"Hmnnn,"

Azazel bergumam ambigu, memasang pose berpikir mengusap pelan dagu berhias jenggot disana untuk mengingat-ingat apa pernah mendengar tempat itu.

"Katakan apa saja, asalkan menyangkut tempat itu Azazel." Naruto memajukan tubuh, wajahnya terlihat begitu serius menatap Azazel yang masih berpikir. Saat ini informasi sesedikit apapun sangat dibutuhkan.

"Gomen, Naruto."

Azazel menghentikan acara berpikirnya, dia sama sekali tidak mempunyai petunjuk ataupun hal-hal yang menyangkut tempat itu. "Aku baru pertama kali mendengarnya, kau tau kan kalau aku sudah jatuh lebih dari 2000 tahun yang lalu?"

Naruto menganggukan kepala karena sudah diceritakan mengenai masa lalu Azazel. Dan sebagai imbalan, Naruto juga mengatakan kalau di dalam tubuhnya ada sosok Youkai Kitsune yang tersegel. Sehingga orang yang mengetahui keberadaan Kurama menjadi 8 orang, 5 masih hidup dan 3 sisanya sudah berada di tempat semestinya.

"Mungkin tempat itu berdiri setelah aku jatuh dari Surga. Aku sama sekali tidak mengetahuinya."

"Sayang sekali kalau begitu." hilanglah sudah wajah serius Naruto. Ternyata pemimpin fraksi Da-Tenshi pun tidak mengetahui apapun. Sebenarnya seberapa rahasia'kah tempat tersebut sampai-sampai Azazel dan Yasaka saja tidak mengetahuinya. Hal ini semakin membuat Naruto yakin kalau tempat tersebut bukanlah sekedar tempat saja.

Melihat raut kekecewaan di wajah pemuda di depannya membuat Azazel menjadi tidak tega. Semenjak mengenal dan berteman baik dengan Naruto, dia baru satu atau mungkin dua kali membantu Naruto. Sebaliknya, Naruto sudah banyak membantu dirinya seperti; memusnahkan banyak anak buahnya yang membelot, menginjinkan dia makan dan menginap di apartemen pemuda itu dan banyak lagi walau bukanlah hal penting. Segera, Azazel tersenyum tipis dan berkata.

"Tapi kalau kau membutuhkan bantuan, aku dengan senang hati akan membantumu Naruto. Akan kusuruh beberapa anak buahku untuk mencari tau tentang tempat itu."

Perkataan Azazel sontak membuat Naruto tersentak dengan mata sedikit melebar. Tidak lupa Azazel juga memberi sedikit saran kepada Naruto untuk bertanya ke fraksi Surga ataupun pihak Gereja mengingat gelar tempat tersebut mengandung kata 'surga'. Namun, ada sesuatu yang menjadi penghalang apabila ingin melakukan saran tadi.

Sejenak, Azazel mengalihkan pandangan ke arah jendala, menatap langit malam Kuoh dengan mata menyipit. "Namun itu sangat sulit jika dilakukan di kota Kuoh Naruto." kata Azazel tanpa menatap pemuda bersurai dark-silver di dekatnya.

"Memangnya kenapa kau bilang sangat sulit?"

"Kuoh adalah wilayah fraksi Iblis Gremory dan Sitri, jadi sangat sulit bagi pihak Gereja mendirikan markas disini. Kau bisa melihat geraja kecil di bukit yang terbengkalai sebagai bukti." Azazel mengembalikan pandangannya ke Naruto, "Dan para malaikat sangat jarang turun dari Surga kecuali benar-benar mendesak." kata Azazel datar menambahkan.

"Aku mengerti..."

Naruto berdiri dari sofa dan berjalan menuju area yang cukup luas di ruangan. Perbincangan mereka sudah berlangsung lama dan takutnya yang lain jadi khawatir dengan keadaannya di apartemen.

"Kalau begitu. Aku pamit dulu, Ero-Datenshi dan maaf sudah mengganggu malam indahmu bersama Uke barumu tadi."

"Yare, yare... Tumben kau meminta ma—Oii, apa maksudmu dengan Uke baru, hah? Aku masih normal, Kuso-Hono!"

"Normal dengkulmu, Hentai-yarou!"

Naruto membalas singkat ejekan Azazel karena tidak ingin terlalu lama adu mulut lalu memukul udara kosong di samping kirinya, menciptakan cahaya keemasan melintang vertikal. Tanpa menunggu lama, ia segera melaompat masuk ke cahaya tadi. Kepergian Naruto sontak membuat Azazel sweatdrop. Keringat besar muncul di balik rambut hitamnya.

"Oh, sempurna...! Iblis yang datang naik sepeda, Naruto datang secara normal namun pulang dengan tehnik teleportasi... Selanjutnya apa?"

"Gabriel datang dalam keadaan tanpa busana 'kah?"

.

.

.

Di malam yang sama. Kira-kira 3 jam setelah Naruto meninggalkan apartemen Azazel, hujan melanda sebagian besar kawasan kota Kuoh. Di bawah guyuran air yang turun dari langit malam. Di kediaman keluarga Hyoudou, lebih tepatnya di dalam kamar sang Sekiryuuteri. Issei, Rias dan Asia tengah membahas mengenai perubahan yang terjadi pada Knight kelompok mereka setelah mengadakan pertemuan di tempat itu dan juga saat perburuan iblis liar beberapa saat yang lalu. Setelah mendengar cerita dibalik foto yang dimaksud dari Issei. Rias menyimpulkan jika gambar pedang dalam foto itu merupakan Pedang Suci walau tidak sekuat Excalibur, salah satu unsur yang ditakuti fraksi Iblis selain unsur cahaya.

Sementara di lain tempat di waktu yang sama. Dua sosok memakai jubah berjalan memasuki sebuah geraja tua yang disebut oleh Azazel tadi, tempat yang dulunya menjadi saksi tewasnya beberapa Da-Tenshi ditangan Occult Researc Club [ORC] dan terakhir... tempat Asia direinkarnasi menjadi Iblis.

Entah kebetulan atau tidak... Sekali lagi, dua kubu yang tengah berselisih karena masa lalu masing-masing satu anggota mereka akan kembali bertemu dan tidak menutup kemungkinan terjadi bentrokan besar. Penyebabnya tidak lain adalah kemunculan dua sosok tadi dan kenapa mereka ada kawasan kota Kuoh.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu informasi dari Azazel. Naruto memutuskan untuk menggunakan waktu berharga ini untuk melakukan hal yang merepotkan bagi seorang lelaki sepertinya... Membantu penghuni baru apartemen mereka keluar berbelanja pakaian. Dia adalah Hilda, selama dua hari yang dia kenakan adalah pakaian Yuki sedangkan ketika di kediaman Yasaka, dia memakai pakaian Maid. Penyababnya ialah pakaian yang dipakai saat pertemuan pertama sudah tidak layak pakai.

Sesampainya di kawasan pertokoan kota Kuoh. Naruto dibuat pusing oleh kelakuan Hilda. Sudah beberapa toko pakaian yang disinggahi namun Hilda tampaknya tidak menemukan model pakaian yang dicari. Perempuan memang sulit dimengerti, baik isi pikirannya maupun hal-hal lain yang hanya perempuan mengetahuinya termasuk model pakaian.

"Huh, sebenarnya model pakaian seperti apa yang kau cari Hilda? Kita sudah singgah di tujuh toko tau." Naruto akhirnya bertanya disertai wajah tertekuk akibar kelelahan memutari kawasan pertokoan kota Kuoh.

"Hmmmn," Hilda mengedarkan pandangan mencari gadis-gadis yang mengenakan model pakaian pilihannya diantara kerumunan warga kota Kuoh. "Seperti itu!" tak berselang, telunjuknya diarahkan ke seorang gadis cantik berambut hitam di seberang jalan tengah berdiri menghadap toko kue.

"Jadi... Model seperti itu yang dia cari." Naruto menatap malas gadis yang ditunjuk Hilda, mengenakan model pakaian Gothic Lolita. Terlihat sangat seksi dimata para lelaki. "Sangat cocok untuk sifat psikopat dan mesumnya." Naruto langsung sweatdrop mengingat dua sifat Hilda yang begitu merepotkan.

Naruto menghela nafas sejenak. Kenapa dia tidak menanyakan ini dari awal agar tidak sampai berkekeling. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Naruto segera mengajak Hilda dan Yuki yang kebetulan ikut bersama mereka. Ya, itung-itung agar adiknya tidak stres dikarenakan latihan yang diterima.

Setibanya di sebuah perempatan. Naruto berhenti dan menoleh ke belakang. "Baiklah... Aku tau toko yang menjual pakaian seperti itu. Ikuti ak—"

Ucapan Naruto terhenti ketika dua sosok bertudung di tengah terik matahari siang hari berjalan pada sisi lain terotoar. Dilihat dari arah berjalan kedua sosok itu, mereka hendak menuju ke Kuoh Akademi.

"Aura Suci?!" segera, Naruto mencari penyebab dirinya menghentikan ucapan. Diliriklah dua sosok bertudung tadi karena dari sanalah pancaran aura yang secara tidak sengaja tertangkap sensor cukup tajam miliknya. "Siapa mereka? Aku bisa merasakan aura suci menguar di sekitar tubuh mereka." pandangan Naruto kemudian tertuju pada benda besar terbungkus perban berbentuk seperti salib di salah satu punggung sosok bertudung.

"Heeh, siapa sangka apa yang kami cari-cari malah datang sendiri!" pikir Naruto seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah pin kecil berlambang [Pihak Gereja] bertengger pada jubah yang dikenakan dua orang itu.

"Naruto-chan?!"

"Onii-chan?!"

Lamuan Naruto buyar mendengar dua suara feminim berbeda intonasi memanggil dirinya dari belakang, "Ambil ini!" Naruto mengeluarkan beberapa lembar yen dari saku celana, cukup untuk membeli beberapa pasang pakaian kepada Hilda. "200 meter di depan ada toko yang menjual pakaian yang kau inginkan." jelasnya menunjuk jauh sebuah toko yang lumayan ramai pengunjung.

"Kau mau kemana Naruto-chan?" tanya Hilda kebingungan karena perkataan barusan menandakan Naruto hendak berpisah dengan mereka.

Di samping kiri Hilda. Yuki hanya menganggukkan kepala setuju atas pertanyaan itu.

"Gomen." Naruto beralih menatap adiknya yang berada di samping kiri Hilda. "Aku ada urusan. Jaga dirimu baik-baik." ucapnya disertai senyum hangat dan tidak lupa mengelus rambut putih panjang nan tebal milik Yuki. Kelakuan Naruto ini sontak membuat semburat merah tipis muncul di pipi Yuki karena malu.

Setelah selesai dengan Yuki. Naruto kembali ke gadis penyembah dewa Jashin-sama. "Dan kau, Hilda." sahutnya dengan sorot mata tajam.

"Hn, kenapa?" Hilda membalas jengkel karena Naruto tidak selembut Yuki ke dirinya.

"Jangan macam-macam dengan Imuoto-ku." ancam Naruto dengan aura pembunuh kelas kakap menguar dari tubuhnya. "Kalau tidak ingin kubakar!" tambahnya dengan suara cukup berat.

"Ya, ya... Terserah kau Naruto-chan." Hilda beralih ke mode ogah-ogahan, tidak terpengaruh dengan ancaman dan aura pembunuh dari Naruto. "Naruto-chan benar-benar sangat mirip dengan Madara-kun." pikir Hilda semakin yakin kalau bocah polos yang dulu dia kenal sudah berubah 180 derajat akibat pengaruh si Uchiha muka tebing.

"Jaa nee..." Naruto beranjak meninggal dua gadis anggota keluarga-nya dan tidak lupa melambaikan tangan sembari tersenyum tipis —untuk Yuki saja. Naruto malas, sangat malas untuk memberikan senyumnya ke Hilda.

"Huh, dasar Naruto-chan itu!"

"T-tidak apa kok Hilda-neechan." Yuki menghampiri Hilda dan menggenggam tangan gadis penyembah Jashin-sama. "Onii-chan memang begitu kalau ada urusan." ucap Yuki. Dan dapat terdengar jelas kalau dia cukup kecewa kakaknya tidak menemani mereka.

Hilda membuang nafas sebal, namun tak berselang lama wajahnya berubah drastis. Dia terlihat bahagia. "Ayo bersenang-senang Yuki-chwan!" seru Hilda riang dibalas seruan yang tidak kalah riangnya dari Yuki. Ya, setidaknya Yuki masih bisa jalan-jalan.

.

.

"Matte!"

Dua utusan dari pihak Gereja yang mengenakan jubah putih menghentikan langkah mendengar suara seseorang memanggil mereka dari arah berlakang. Saat berbalik, seorang pemuda berambut dark-silver berdiri menatap mereka dengan wajah bersahabat.

"Siapa kau?"

Berbanding terbalik dengan pemuda itu—yang kita ketahui adalah Naruto. Salah satu dari utusan pihak Gereja malah menyambut dengan pertanyaan tajam. Naruto berasumsi jika si penanya adalah seorang gadis yang kira-kira berumur 17-18 tahun. Suaranya terdengar sedikit feminim walau terkesan tajam.

"Xenovia-chan, bisa tidak kau berkata seperti itu ke orang asing?" rekan dari gadis bernama Xenovia ikut berbicara menegur kelakuan rekan se-misinya untuk lebih bersahabat ke orang lain.

"Damare Irina!" respon gadis bernama Xenovia membuat gadis lain bernama Irina ciut, "Dan kutanya sekali lagi... Siapa kau?" Xenovia kembali menatap tajam Naruto.

"Maa, maa. Aku tidak menyangka utusan dari Pihak Geraja yang dikenal sangat patuh kepada-Nya bisa memperlihatkan sorot mata setajam itu." komentar Naruto ketika melihat sorot mata tajam Xenovia dari balik tudung jubah putih yang dikenakan. Kedua gadis di depan Naruto tersentak sehingga membuatnya memiringkan bibir beberapa derajat.

"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau bisa tau kami adalah utusan pihak Gereja?" kini giliran gadis bernama Irina yang melayangkan pertanyaan.

"Naruto, Uzumaki Naruto." wajah bersahabat kembali diperlihatkan Naruto ketika memperkenalkan namanya, "Dan kenapa aku bisa tau kalian adalah utusan pihak Gereja? Hmnn, bisa dibilang aku cukup tau banyak tentang dunia ini termasuk benda ber-aura suci di punggung Xenovia-san." jelas Naruto lalu menunjuk benda menyerupai mumi di punggung salah satu gadis di depannya.

"Pedang Suci 'kah?"

Pertanyaan dari Naruto sontak mengejutkan dua utusan pihak Gereja itu, mereka berdua sigap mengambil beberapa langkah mundur lalu menyentuh senjata mereka masing-masing, Irina menarik lengan kiri jubahnya sedangkan Xenovia menyelipkan tangan kanan ke dalam jubah untuk mengambil gagang pedang berukuran lumayan besar yang bertengger di punggung.

"Siapa kau sebenarnya? Aku merasakan kau hanya manusia biasa." kata Xenovia menyipitkan mata sebelah kanannya menatap Naruto, sedangkan mata kirinya tertutupi poni rambut biru-nya. "Dia bukan orang sembarangan!" pikir Xenovia merasakan aura kuat dari dalam tubuh Naruto walau masih samar-samar karena tertutupi oleh aura manusia yang lebih dominan dibanding aura Youkai Kurama.

"Woy, woy... Tenang gadis-gadis, aku tidak ingin bertarung melainkan berbicara dengan kalian." balas Naruto agar dua utusan Gereja di depannya tidak membuat keributan dengan mengeluarkan Pedang Suci mereka di tengah-tengah keramaian kota Kuoh. Bisa gawat jadinya bila itu terjadi. Rias dan Iblis lain di kota ini pasti mendeteksinya. "Sangat jarang ada utusan Gereja yang datang ke Kuoh yang merupakan wilayah kekuasaan dua klan besar fraksi iblis, makanya aku ingin berbicara dengan kalian." tambahnya.

Mata kanan Xenovia kembali normal memperhatikan gerak tubuh Naruto yang benar-benar tidak ingin bertarung dengan mereka, dia mulai berpikir Naruto cukup mengetahui daerah kota Kuoh sampai ke hal-hal menyangkut supranatural sehingga bisa meminta bantuan agar mempermudah misi yang sedang dijalani bersama Irina, menoleh ke samping kanan dimana rekan se-misi tidak melepaskan pandangan dari Naruto, Xenovia menganggukkan kepala sekali seolah mengatakan -Kau setuju denganku?-.

Irina menoleh sejenak dan ikut menganggukan kepala.

"Huuft baiklah, apa yang ingin kau bicarakan Naruto-san?" tanya Xenovia yang secara bersamaan menarik kembali tangan kanannya dari jubah yang dikenakan.

Irina ikut melakukan hal dilakukan rekannya, menarik kembali lengan jubah yang dikenakan lalu mengalihkan pandangan ke Naruto.

"Err, mungkin kita bicara di tempat lain saja," Naruto mengedarkan pandangan melihat warga kota Kuoh yang memandang heran mereka bertiga. Ternyata mereka sudah menyita perhatian para pejalan kaki karena tindakan tiba-tiba dari kedua gadis pengguna pecahan Excalibur. "Tidak enak berbicara tentang hal-hal supranatural di tempat seperti ini, Bagaimana? Ada saran tempat yang bagus untuk berbicara?"

"Di restoran saja, kami lelah dan lapar sudah berjalan mengelilingi kota." Irina langsung menjawab cepat tidak peduli dengan Xenovia yang sudah menatap tajam dirinya.

"Irina!" panggil Xenovia penuh penekanan.

"Baiklah." Naruto terkekeh pelan dan langsung mengajak dua gadis cantik itu mencari restoran setelah sebelumnya menanyakan nama mereka berdua agar tidak terlalu kaku nantinya ketika berbicara.

.

.

"Mereka berdua monster!"

Keringat yang lumayan besar muncul di rambut dark-silver Naruto. Bagaimana tidak? Di depannya, dua gadis utusan Pihak Gereja makan seperti anjing kelaparan. Hampir semua yang disediakan pelayan restoran dilahap habis oleh Xenovia dan Irina hanya dalam waktu singkat. Walau makanan yang dipesan terbilang banyak, sangat banyak malahan. Naruto tidak terlalu ambil pusing mengenai tagihan. Toh, tabungan dari imbalan misi Sirzechs maupun Azazel selama setahun masih banyak.

Sambil menunggu Xenovia dan Irina selesai. Naruto memanfaatkannya untuk menghubungi Madara melalui smartphone yang selalu dibawa. Beberapa menit kemudian, Madara akhirnya datang dan bersamaan dengan itu, kedua gadis utusan Pihak Gereja selesai. Tanpa menunggu lama, Naruto memulai percakapan. Tentu saja sebelumnya dia memperkenalkan Madara kepada Irina dan Xenovia.

Setelah melalui percakapan yang alot. Keduanya akhirnya setuju untuk bekerja sama. Naruto dan Madara akan membantu mereka melaksanakan misi dari Markas Besar para Excorcist di Vatikan. Dan sebagai imbalan, Xenovia dan Irina harus memberikan informasi mengenai tempat terdekat dari surga. Tidak peduli dari mana atau bagaimana caranya. Mereka berdua sama sekali tidak mengetahui perihal tempat itu.

.

.

"Jaga diri kalian. Xenovia-chan, Irina-chan." Naruto melambai-lambaikan tangan kepada dua gadis cantik utusan Pihak Gereja yang sudah berjalan meninggalkan dia dan Madara di depan pintu masuk restoran tempat mereka tadi.

Di samping Naruto ada Madara yang mengenakan setelan jas hitam khas orang kantoran dan pada bagian punggung terdapat lambang klan kebanggaanya. "Kau yakin dengan ini, bocah sableng?" Madara melirik ke Naruto, dia masih ragu dengan rencana kontener Kurama yang tadi dibahas bersama Xenovia dan Irina.

"Kalau masalah menepati janji, aku yakin..." Naruto berjalan meninggalkan Madara yang masih setia berdiri menunggu kejelasan. "... Kalau masalah yang lain. Siapa yang tau? Ini tergantung bagaimana Xenovia-chan dan Irina-chan melakukannya."

Madara mendecih pelan lalu ikut berjalan menyusul Naruto. "Awas saja kalau sampai bertindak diluar rencanamu itu. Akan kubuat kau menyesal, bocah!" ancam Madara penuh penekanan di bagian akhir.

"Ya, ya, ya. Kau dan ancamanmu Uchiha bangsat!"

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yooo~~ '-')/

Ketemu lagi ama ane, Si Author Lolicon yang masih Newbie dan gak jelas asal-usulnya di Chapter terbaru Fic Daybreak.

Hmmn, ada beberapa yang nanya kenapa ganti Tittle-nya. Begini... Singkat saja. Di awal-awal, ane bingung mau make Tittle seperti apa makanya milih The Half-Devil Lucifer... Tapi setelah Stark Fullbaster 12 bantu ane nyusun dan nyelesain alurnya sampai ke detil terkecil. Ane pun mendapat Tittle yang pas... Dan itu yang sekarang.

Alasan lainnya... Klo make Tittle pertama. Maka Fic ini seperti hanya berfokus ke Naruto dan identitasnya sebagai Hybrid Manusia/Iblis... Perlu kalian ketahui, identitas serta masa lalu Naruto sebagai Half-Devil hanya mengambil 35-40% dari jalan cerita keseluruhan [Setelah alurnya diselesaikan]. Sedangkan Madara dan Hashirama sekitar 20%... Yaitu, pembalasan dendam mereka terhadap Penyerangan Konoha oleh OSF [Hilda dan Jiraiya juga termasuk]. Sedangkan Yuki, lihat saja nanti. Begitu Chara-chara lainnya yang akan bergabung dengan kelompok Naruto.

Dan sisanya masih rahasia... Tapi yang jelas, semuanya akan berhubungan satu sama lain. Kek Indonesia... Sambung-menyambung menjadi satu!

.

.

Balasan Review :

Stark Milfbaster 012 [Si Kampret tukang kritik pedas] : Gak papa pak... Klo Tittle-nya ane pertahanin ampe pertemuan 3 Fraksi selesai seperti yang ada direncana alur. Bakalan banyak yang ngira hanya Naruto MC-nya pak. Kan disini Mbah Madara-teme, Mbah Hashirama-dobe dan muncunyal udah deket juga termasuk MC.

Guest : Hashirama cuma bodoh kalau bersama NaruMadaHilda. Kalau udah serius bakalan beda, ya walau masih muncul sifat bodohnya sih sedikit saja.

Aka na Yuki [My Imouto] : Horeeee! Udah ada peningkatan :v :v ... Yang mungkin juga sih Dedek Yuki klo pake HP gak ngaruh banyak dn Chapter ini bagaimana? Banyak Typo kah? ... Loli emang Is Da Best dan juga Dedek Yuki [Di Fic ini maupun yng asli] emang imut, menurutku. (") ... Di Chapter ini Yuki jarang muncul lagi, bahkan cuma beberapa bagian. Tpi, Di Arc selanjutnya... Hampir di setiap Chapter Dedek Yuki selalu muncul dan banyak ambil bagian.

Tenshisha Hikari : Hmnnn, kemungkinan benar mengenai ET ke-4 bukan berhubungan dengan Naruto melainkan Yuki sekitar 50% ... Mengenai 'Tempat terdekat dari surga' bisa dikatakan sebagai fraksi kecil, kurang lebih seperti Hero-Faction. Tunggu saja di Arc III. Disana semuanya akan terungkap.

Lusy922 : Benci mungkin iya. Toh, Klan Lucifer termasuk dalam golongan Old-Satan Faction walau yang tersisah, Rizevim dan Vali tidak ikut dalam perang saudara Underworld dan juga tidak terkait penyerangan Konohagakure. Tapi, nanti kebencian akan menghilang karena sesuatu. Tunggu saja di Arc III. Disana akan terjawab.

TanakaKanako3 [My Imouto] : Tergantung Dedek Rin. Klo nanti Mami Anna dibutuhin ya kumasukkan... Nggak'lah. Ane tetap Lolicon dan tidak akan berubah, Dedek Rin... Hahahahah, Typo emang gak bisa dihindari walau udah diperiksa... Yaps, Dedek Yuki bakalan mengingat kembali masa lalunya. Tapi masih lama. Tunggu saja di Arc III. Disana akan terjawab.

Pie Chocolate : Bukan, bukan. Vatikan tetap menjadi markas besar para Exorcist. Tempat terdekat dari surga semacam fraksi yang hubungannya cukup kuat dengan Fraksi Malaikat.

uzumakynurroni : Hehehehe, Makasih oiiy '-')/ ... Yaps, Dedek Yuki berasal dari sebuah fraksi... Paling cepet minggu depan keknya. Kalo gak ada kendala.

feba anata : AN diatas penjelasannya.

dandidandi185 : Entahlah. Mungkin juga iya... Ane juga kagak tau kenapa banyak yang dukung. :v :v

ayub pratama 792 : Bukan. Dedek Yuki bukan malaikat... Oke '-')b

StiffMarco : AN diatas penjelasannya... Yeah. Loli is da best #HidupLoli #HidupLolicon :v :v

Ae Hatake : Jawabannya di Chapter depan dan didepannya lagi [18 dan 19].

Mhd487 : Well~~ Kalo ane jawab Katerea Leviathan pasti kagak ada yang percaya kan? ... Untuk Pair. Dia perempuan, cantik, mungkin dia Loli dan yang terpenting bukan dari Fraksi Iblis, setidaknya.

Tatsu : Bukan, bukan. Vatikan tetap menjadi markas besar para Exorcist. Tempat terdekat dari surga semacam fraksi yang hubungannya cukup kuat dengan Fraksi Malaikat.

nawawim451 : Masih lama keknya... Di Chapter dan juga Chapter depan bakalan terlihat.

Yang Review Lanjut, Next, sebangsa-nya dan senegara-nya. Nih udah ane Lanjut walau kelamaan.

.

.

Issue for Next Chapter : Bad Scenario, Duo Shinobi vs Kokabiel!

Root LoliWood and Stark Milfbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu! '-')/