Daybreak
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas semua yang muncul dalam Fic ini.
Genre : Family, Supernatural, Adventure, Romance, Mystery, Etc.
Rate : M [Untuk bahasa, timeline dan scene lainnya]
Pair : Akan muncul dengan sendirinya.
Warning : AU, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC [Amat sangat], Adult-Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan, dll.
Arc : III — Early and Late
Chapter : 18 — Bad Scenario, Duo Shinobi vs Kokabiel!
.
.
.
.
.
.
"Tck...! Kenapa sampai terjadi hal seperti ini?!"
Nampak seorang pemuda yang tengah duduk bersilah sambil menyatukan telapak tangan di depan dada merutuki sesuatu dalam hatinya dengan nada kesal. Walau sedikit kesal, tersirat pula kekhawatiran yang mendalam kepada dua utusan Pihak Gereja [Exorcist] yang dua hari sebelumnya ditemui. Namun, rasa kesal dan khawatirnya harus dikesampingkan dulu demi menemukan keberadaan mereka; Xenovia dan Irina, yang hilang kontak sejak terakhir bertemu. Mereka hilang kontak setelah beberapa jam keluar bersama empat iblis yang Naruto ketahui adalah Issei, Kiba, Koneko dan Saji.
"Seandainya dari awal aku mengikuti saran orang brengsek disamping, ini tidak akan terjadi. Cih..!" sesal sang pemuda masih diucapkan dalam hati.
Sementara pemuda yang diketahui adalah Naruto tengah berkonsentrasi melacak dengan [Senjutsu], di sampingnya ada pria dewasa berambut raven sepunggung bernama Uchiha Madara. Keduanya saat ini berada di atas apartemen. Langit jingga menghiasi kota Kuoh, menandakan gelapnya malam akan segera tiba. Malam yang akan merubah segalanya dalam hidup Naruto dan keluarganya.
Madara memasang pose andalannya ketika mengejek/meremehkan lawan, menyilangkan lengan pada dada kekarnya sambil memasang tampang datar seperti tembok raksasa Cina. Masih dalam pose yang sama, ia melirik pemuda di samping kirinya melalui ekor mata dan melayangkan pertanyaan dengan nada mengejek.
"Heeeh... Apa ini termasuk dalam rencanamu, Tuan sok pintar?"
"Damare!"
Hilanglah sudah konsentrasi Naruto untuk melacak keberadaan Irina dan Xenovia. Ia tersulut emosi mendengar ejekan Madara tadi. Seandainya saja situasi tidak segawat ini, tanpa pikir panjang Naruto pasti berdiri dan melayangkan bogem mentah ke wajah datar Madara—ya, itu hanya seandainya saja. Sekarang bukan waktunya untuk berdebat dan bertengkar seperti anak kecil. Kesempatan untuk mendapatkan informasi kapan saja bisa melayang apabila tidak menemukan keberadaan dua gadis Exorcist yang berada di bawah perlindungan mereka.
"Setidaknya bantu aku mencari mereka dengan mata iritasimu, Uchiha bangsat."
"Cih! Baiklah...! Berharaplah mereka berdua tidak tertangkap, bocah sableng."
Walau tidak menyukai cara Naruto memerintah dirinya, Madara tetap melakukannya. Segel tangan tunggal segera dibentuk Madara dengan tangan kiri di depan dadanya. Bersamaan dengan itu, Madara berkedip cepat memunculkan efek udara terdorong menjauh dari tubuhnya dan bergumam pelan menyebut nama mata kebanggannya...
[Sharingan]
Iris mata pria Uchiha kini berganti. Dari yang awalnya onix kelam berubah menjadi merah darah dihiasi tiga tanda menyerupai koma yang bersinar di kegelapan malam. Madara mulai mengedarkan pandangan ke penjuru kota Kuoh dari atas apartemen. Hanya butuh beberapa menit baginya untuk menemukan keberadaan satu dari dua gadis yang dicari-cari.
"Irina?!"
Madara tersentak, mata saktinya melihat cukup jelas pancaran aura Irina sangat lemah dalam keadaan berbaring di tanah lapang jauh dari lokasinya bersama Naruto. Segera, ia memanggil pemuda di sampingnya dengan nada cukup keras.
"Naruto...!"
"Apa kau sudah menemukan mereka?"
Mengarahkan telunjuknya ke barat, lokasi tempat Irina terbaring tidak berdaya yang merupakan sebuah tanah lapang kosong di pinggiran kota Kuoh. Madara bergumam datar memberi penjelasan yang tidak selesai karena terjadi sesuatu yang cukup dibenci olehnya.
"Disana... Gadis cerewet yang mulai tertarik padamu dalam keadaan terlu—"
"Naniiiii...?! Cepat katakan, dimana dia!"
Naruto tidak dapat menahan dirinya untuk berteriak khawatir memotong penjelasan Madara setelah mendengar keadaan Irina. Saking khawatirnya, ia sampai lupa kalau Madara sudah menunjuk lokasi tempat gadis pemegang [Excalibur Mimic] beberapa saat yang lalu. Madara yang perkataanya terpotong, menggeram rendah kemudian membentak pemuda pengguna Senjutsu itu
"Jangan potong penjelasanku, bocah!—Dengar! Ini mungkin ada hubungannya dengan mereka yang tiba-tiba menghilang. Di sekitar tubuh gadis cerewet itu terdapat jejak energi mahluk supranatural. Aku tidak tau milik siapa, yang jelas bukan milik mahluk-mahluk hina itu."
Madara memperlihatkan tampang sangat serius menjelaskan apa yang ia lihat. Namun, di benak pria Uchiha ini bertanya-tanya kenapa Sharingan miliknya mampu melihat jejak energi supranatural yang dimaksud malayang bebas di sekitar tubuh Irina. Sepengetahuannya, hanya Chakra yang mampu dilihat Sharingan miliknya. Baik itu di dalam tubuh para shinobi yang tersisa maupun di udara dalam bentuk jurus.
"Apa karena terlalu banyak kontak dengan mereka, Sharingan-ku beradaptasi dengan energi mereka?" ia membatin penasaran. Tapi yang pasti, Madara tetap akan mencari kejanggalan mata saktinya ini. Mungkin saja, di masa depan nanti bisa dimanfaatkan melawan mahluk supranatural terutama iblis.
Tanpa menunggu lama lagi, Naruto segera berdiri dari posisi duduk bersilahnya sambil mendesis mengeluarkan pernyataan dingin.
"Jangan bilang kalau petinggi fraksi Da-Tenshi itu sudah mulai bergerak!"
—Dibalik desisannya itu, rasa khawatirnya semakin bertambah. Tidak ingin banyak membuang-buang waktu. Naruto segera menciptakan cahaya keemasan melintang vertikal dengan memukulkan lengan kanan berselimut energi alam. Sebelum melompat masuk, ia menoleh ke Madara dan meninggalkan sebuah pesan/perintah.
"Kau tetap disini dan cari keberadaan Xenovia-chan!"
Sepeninggal Naruto yang melompat masuk ke dalam cahaya keemasan tadi. Madara tidak bisa menahan emosinya diperintah dengan tidak sopan oleh pemuda berambut dark-silver tadi.
"Bocah keparat!"
.
.
"Irina-chan!"
Sebuah teriakan khawatir menggelegar tepat setelah kemunculan cahaya keemasan muncul diatas langit tanah lapang yang dimaksud Madara. Tak berselang lama, pemuda yang berteriak mendarat cukup keras hingga menciptakan kepulan debu pada permukaan tanah. Pemuda yang berteriak tadi—Naruto, segera berlari keluar dari kepulan debu menuju gadis yang dipanggil beberapa saat sebelumnya.
"Na...ruto-kun?!"
Mendengar suara yang mulai dikenal dua hari yang lalu. Irina sangat ingin menoleh ke sumber suara. Tapi ada daya, tubuhnya tidak dapat digerakkan se-inci pun bahkan menggerakkan jari-jarinya saja terasa sangat sulit.
Insting Naruto yang diturunkan dari Jiraiya, Hashirama dan mendiang Izuna langsung bertindak melihat kondisi gadis berambut coklat. Mengesampingkan dulu bagaimana caranya Irina sampai terluka sedemikian rupa, Naruto mengangkat tubuh gadis Exorcist dengan gerakan lembut layaknya pengantin baru. Naruto tidak peduli walau mereka baru 2 hari mengenal satu sama lain. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan gadis cantik yang sekarang sudah berada di gendongannya.
"Jangan banyak bergerak!" perintahnya dengan nada lembut. "Kau bisa menjelaskan semuanya di apartemen. Tentu saja setelah Hashirama-ossan memulihkan kondisimu."
"Oh, tidak! Kenapa disaat seperti ini, sih?"
Nampaknya, hari ini dewi fortuna tidak memihak kepada Naruto, didepannya muncul lingkaran sihir merah khas keluarga bangsawan iblis Gremory. Dari lingkaran sihir tersebut muncul satu pemuda dan empat gadis cantik berbeda warna rambut. Walau keikutkan sertaan kelompok itu termasuk dalam rencana Naruto, tapi kemunculan mereka terlalu cepat dari yang diharapkan. Selang beberapa saat setelah kemunculan kelompot itu. Satu-satunya iblis jantan disana mengumpat kasar lalu bertanya dengan nada tinggi.
"Naruto-teme...! Apa yang kau lakukan pada Irina-chan, hah?"
Hyoudou Issei marah besar melihat kondisi teman masa kecilnya berada di gendongan Naruto dalam keadaan tidak sehat. Andaikan Irina tidak ada digendongan pemuda yang meluluh-lantahkan kelompoknya dua minggu silam. Issei sudah pasti berlari dan menghajar habis-habisan Naruto tanpa memperdulikan kalau dirinya masih terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut.
Rias menghembuskan nafas pelan melihat reaksi berlebihan dari Pawn-nya. Mungkin saja Issei tidak mendengar penjelasannya beberapa menit yang lalu di ruang klub perihal infomarmasi yang didapat oleh Familiar-nya.
"Ise, tenangkan dirimu."
"Ta-tapi Bochou..."
Rias menggeleng pelan memberi kode kepada Pawn-nya untuk memahami situasi yang sekarang melanda kelompok mereka dan kota Kuoh. Yuuto Kiba menghilang bersama dengan Xenovia, lokasi ketiga pecahan Excalibur yang dicuri belum ditemukan. Dan sekarang, kemunculan secara tiba-tiba Naruto semakin meruyamkan situasi. Sambil menyilangkan lengan di bawah dua payudara jumbo-nya, Rias menatap Naruto dengan wajah setenang mungkin dan melayangkan sebuah pertanyaan.
"Apa yang kau lakukan disini, Naruto?"
"Kebetulan lewat dan menemukan Irina-chan dalam keadaan terluka. Jadi kutolong saja. Memangnya ada yang aneh—"
Dengan sangat terpaksa, pemuda pengguna Senjutsu menghentikan perkataannya tatkala lingkaran sihir lain muncul tidak jauh dari Rias dan kelompok Occult Researc Club. Dari lingkaran sihir tersebut muncul dua gadis berkacamata yang salah satunya Naruto cukup familiar dengan wajahnya. Pemilik wajah yang Naruto kenali tadi tersentak melihatnya,
"Naruto? Kau Naruto, 'kan?"
Naruto tersenyum dan menjawab pertanyaan itu sekaligus memberi konfirmasi. "Yo...! Hisashiburidanna, Sona-sama! Anda semakin cantik saja."
Berbanding terbalik dengan wajah bersahabat yang diperlihatkan. Naruto mendesah internal karena situasi semakin diluar kendali atas kedatangan Heiress Sitri. Naruto bersumpah, lain kali Madara yang akan ia suruh menyusun rencana jika sesuatu yang besar akan terjadi, seperti sekarang ini. Dimana kesempatan emas untuk mendapatkan informasi sudah berada di depan mata.
"Serius Naruto! Apa yang sebenarnya kau laku—inginkan, hah? Tiba-tiba muncul di tempat Irina-san. Kau pasti mengetahui sesuatu."
Acara reuni Naruto dan Sona harus terganggu oleh Rias yang kembali melayangkan pertanyaan, namun kali ini sedikit diberi penakanan. Heiress Gremory tau seperti apa mantan pelindung-nya. Naruto bukanlah tipe orang yang suka berbicara banyak apabila terjadi masalah serius.
Sementara itu di sisi gadis bernama Sona. Ia mengerjit keheranan melihat interaksi antara Naruto dan Rias yang menurutnya sangat berbeda ketika di Underworld dulu. Gadis cantik berkacata menyimpulkan kalau ada sesuatu yang terjadi diantara kedua insan berbeda ras itu. Saat Sona sibuk sendiri dengan pikirannya, Naruto segera membalas perkataan Rias dengan nada tenang, sangat tenang malahan.
"Ya, aku tau semua yang terjadi kecuali bagaimana Irina-chan bisa terluka..."
Perkataan Naruto sangat jelas sengaja digantungkan, membuat anggota Occult Research Club tersentak sejenak lalu berubah penasaran. Sebelum melanjutkan, Naruto terlebih dahulu meminta saran kepada sosok Youkai Kitsune yang bersemayam di dalam tubuhnya. Tidak butuh lebih dari satu menit percakapan melalui telepati Naruto dan Kurama berlangsung, setelah menerima saran diinginkan, Naruto memperlihatkan tatapan menyelidik sambil menyambung perkataannya tadi...
"... Jujur, semua ini diluar dari apa yang kurencanakan. Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah... Apa yang membuat beberapa diantara kalian mau bekerja sama dengan Irina-chan dan Xenovia-chan? Setauku, Exorcist termasuk musuh iblis karena bertugas membasmu iblis-iblis yang membangkang tuannya... Hmmn, dunia semakin bengkok saja sampai-sampai terjadi hal seperti ini."
Penjelasan panjang Naruto yang diakhiri nada sarkastik langsung dihadiahi pelototan tajam dari beberapa iblis disana. Sedangkan dua diantara mereka yaitu; Issei dan Koneko memasang ekspresi bersalah dikarenakan mereka berdua'lah yang dibahas oleh Naruto. Dan penyebab hilang kontaknya Yuuto Kiba, Knight di kelompok mereka.
"Ara-ara... Ternyata Naruto-san pintar juga."
Gadis Miko bergelar [Ultimate Sadistic] yang merupakan Queen Rias menyuarakan pendapat mengenai pemikiran Naruto sambil memegang pipi mulus sebelah kanannya lalu menyungging senyum palsu. Sebenarnya, di balik pujian itu tersirat sedikit emosi dalam diri Himejima Akeno. Entah itu marah atau lainnya, yang jelas hanya gadis miko ini yang tau.
"Terima kasih untuk pujiannya, Akeno-chan."
"Ufufufufufufu... Sama-sama, Naruto-kun."
Suasana tegang penuh aura mengintimidasi satu sama lain di tanah lapang itu sedikit mereda karena percakapan ringan Naruto dan Akeno. Dan entah kebetulan atau hanya ingin menggoda pemuda pengguna Senjutsu di depannya, Akeno mengganti akhiran pada nama Naruto. Mungkin ini ada hubungannya dengan emosi yang tengah mengalir di darah campuran iblis, malaikat jatuh dan manusia yang dimiliki Akeno.
"Upss, aku melupakan beberapa hal penting disini!"
Naruto kembali bersuara, bergumam untuk dirinya sendiri. Perlahan-lahan aura keemasan mulai menguar di kaki kanannya membuat enam iblis di depannya tiba-tiba bersiaga. Sejurus kemudian, Naruto menghentakkan kaki yang teraliri energi alam pada permukaan tanah dan menciptakan media teleportasinya. Sebelum melompat masuk, ia meninggalkan pesan penting kepada iblis-iblis muda disana serta sebuah perintah datar kepada seseorang.
"Rias-chan! Sebaiknya kau dan Peerage-mu segera mencari keberadaan Kiba-san. Kuyakin iblis yang memiliki dendam tidak berguna pada benda mati itu dalam situasi tidak baik bersama Xenovia-chan. Dan yang ada dibelakang pohon sana... Keluarlah! Jangan bersembunyi seperti anak kecil."
Memanfaatkan momen ketika Rias dan kawan-kawan terkejut dengan pesan yang ditinggalkan sekaligus penasaran siapa yang disuruh keluar dari balik pohon, Naruto langsung melompat masuk ke dalam cahaya melintang vertikal yang tadi diciptakan bersama Irina.
"Skenario terburuk, 'kah? Rencanaku benar-benar hancur berantakan..."
.
.
.
.
.
Di atas apartemen quartet mahluk absurd ditambah Loli Rank-SS. Dua dari empat mahluk absurd yakni, Naruto dan Madara kini siap terjun menuju pertempuran untuk membawa pulang Xenovia yang diyakini ikut bersama Occult Research Club melawan dalang di balik menghilang tiga pecahan Excalibur. Kronologis bagaimana Irina bisa terluka beberapa jam lalu sudah diketahui Naruto dan Madara, tentu saja setelah gadis utusan pihak Gereja dipulihkan kondisinya oleh Hashirama. Keduanya mengutuk dalam-dalam tindakan gegabah Xenovia yang tidak menggubris saran Irina untuk mengirim pesan singkat ke Naruto sebelum mengejar Valper dan pendeta sesat, Freed Selzan.
Saat ini, keduanya sudah berganti pakaian untuk mempermudah pertarungan nanti, apabila benar-benar ada. Naruto mengenakan kaos putih dibawah mantal biru gelap dengan garis putih, dua tali yang ujungnya terdapat aksesoris berbentuk perisai menggantung di bawah tudung mantelnya. Celana biru tua simpel dan longgar terselip di dalam ujung sepatu boot-nya (Pakaian Jellal di Menara Surga). Sedangkan Madara mengenakan zirah kramatnya.
Mendengar langkah kaki disetai suara logam saling bergesekan satu sama lain yang asalnya dari arah belakang, Naruto melirik melalui ekor matanya dan melayangkan sebuah pertanyaan dengan nada datar.
"Bagaimana keadaan Irina-chan?"
"Keadaannya mulai membaik, beberapa lukanya sudah kesembuhkan. Tapi, dia masih syok mengingat kejadian yang menimpanya."
Naruto mengangguk pelan dan bersyukur Irina tidak mengalami luka fatal yang mengancam nyawa. Jujur, Naruto benar-benar marah setelah mendengar cerita Shidou Irina mengenai penyerangan salah satu petinggi Fraksi Da-Tenshi. Ia merasa gagal menjalankan tugasnya melindungi Irina dan Xenovia demi mendapatkan secuil informasi. Namun, keinginannya untuk menghajar orang yang menyerang Irina harus diurungkan. Naruto memiliki masalah sendiri yang ingin diselesaikan...
Setelah menerima pencerahan singkat dari Madara beberapa saat yang lalu, Naruto sadar bahwa ia harus segara bangun dari kenyataan dunia yang menurutnya sudah bengkok ini! Tidak selamanya apa yang diharapkan akan benar-benar terjadi. Semakin lama ia memendamnya, semakin bertambah pula keyakinannya jika hal yang dia inginkan adalah...
...Ketidakmungkinan yang selalu disemogakan!
"Arigatou, Madara-niisan! Sudah menyadarkanku akan hal tersebut."
Naruto tersenyum kecut tanpa sepengetahuan dua shinobi di dekatnya. Mungkin, ini pertama kalinya Naruto memanggil Madara dengan embel-embel [Nii-san] sejak mengetahui pria di sampingnya tidak menganggapnya murid ataupun keponakan, melainkan adik kecil sekitar dua minggu yang lalu.
"Jadi, kita benar-benar akan bertarung malam ini?"
Pertanyaan dari Hashirama membuyarkan lamuan Naruto. Pemuda pengguna Senjutsu mengangguk pelan menjawabnya lalu mengalihkan pandangan diikuti Madara dan Hashirama menuju Kuoh Akademi yang saat ini dilapisi pelindung [Kekkai] biru menyerupai kristal, menjadikan pemandangan malam ini semakin indah sekaligus menyeramkan.
"Hn."
"Hmmmn, mungkin hanya aku yang bertarung. Tapi, jika terjadi hal yang tidak diinginkan... Ossan, Madara-teme, aku mohon! Ulur waktu sebanyak mungkin untukku. Ada yang ingin kuselesaikan."
"Cih! Tidak kau minta pun akan kulakukan, bocah sableng!"
"Tentu...!"
Madara dan Hashirama menyahut secara bersamaan. Diantara kedunya, Madara yang terlihat sangat antusias mengenai permintaan murid mereka. Itu karena dialah aktor utama yang menyebabkan Naruto menjadi seperti tadi, memohon kepada mereka dengan sorot wajah sangat serius penuh tekad.
"Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya lawan kita sampai-sampai harus mengenakan zirah merepotkan ini?" tanya Hashirama disertai gerutuan tidak berguna tentang armor shinobi milik Madara yang dikenakan. Ukurannya agak kebesaran pada bagian dada dan bahu, membuat armor bagian tersebut sering melorot.
"Petinggi fraksi Da-Tenshi, Veteran Great War bernama Kokabiel."
Naruto menjawab cukup dingin terutama saat menyebut nama malaikat jatuh beringas itu. Suara seseorang berdehem membuat Naruto mengalihkan perhatiannya ke samping kiri. Terlihat Hashirama kesusahan untuk menyebut nama malaikat jatuh yang mungkin menjadi lawan mereka nantinya.
"Ko-ko... Ko-bi... Kokabibir?! Ah, namanya sulit sekali disebut."
"Omoshiroi...! Aku tidak sabar lagi untuk menari bersamanya!"
Lain lagi dengan Madara, darah Uchihanya seolah terpompa sangat cepat karena tidak sabar lagi untuk melawan Veteran perang terhebat sepanjang masa. Sekuat apapun Kokabiel nantinya, Madara tidak akan membiarkan malaikat jatuh beringas itu mengintimidasi dirinya. Prioritas utamanya malam ini adalah mengulur waktu untuk Naruto dengan melawan dan mengorek sebanyak mungkin informasi dari Kokabiel, berharap ada secuil informasi mengenai 'Tempat terdekat dari Surga'. Mengenai Xenovia, ia menyerahkan sepenuhnya gadis berambut biru kepada Naruto. Berpikir mengenai Naruto, Madara hampir melupakan satu hal penting...
"Oii, bocah sableng—"
"Hn, ada apa?"
"—Ingat! Tidak ada kata ampun!"
"Hn, wakatta!"
Sebelum berangkat menuju medan pertempuran besar. Naruto meminta hadiah perpisahan dari mendiang Tobirama ke Madara ataupun Hashirama karena tidak tau siapa yang menyimpan gulungan tersebut. Hashirama selaku orang yang menyimpan segera mengeluarkan gulungan itu dari kantong peralatan shinobi miliknya dan diberikan ke Naruto.
"Arigatou, Ossan...! Ikuze!"
.
.
.
Sementara itu jauh dari lokasi Naruto, Madara dan Hashirama yang sama-sama dari barat.
Sesosok pemuda berpakai t-shirt V-neck hijau gelap yang ditutupi jaket hitam, celana jeans burgundy hitam disetai rantai perak yang dibiarkan turun dan tiga wristband melingkar betis kiri, sebagai pelengkap pemuda itu mengenakan sepatu hitam. Berdiri dengan memasukkan tangan kiri di saku celana, rambut dark-silver pemuda itu melambai-lambai terkena tiupan angin malam kota Kuoh.
"Mustahil!"
Mata pemuda itu melebar tidak percaya, iris Ice-blue miliknya bergetar hebat menangkap sosok Naruto yang mengaktifkan tehnik teleportasi untuk masuk ke dalam pelindung yang sedari tadi diamati. Bibir pemuda itu ikut bergetar sama seperti iris Ice-blue miliknya menatap pemuda yang dikira sudah menghilang—mati lebih dari sedekade yang lalu.
"Aku tidak percaya kalau dia masih hidup!"
Seketika tangan kanan pemuda itu terkepal hebat seperti menahan sesuatu yang pastinya menyangkut sosok Uzumaki Naruto atau lebih tepatnya Naruto Lucifer, pemuda yang sama dengannya. Manusia yang di dalam tubuh mereka mengalir darah dari mantan Raja Iblis Lucifer.
Lama setelah kejadian tidak diinginkan oleh pemuda itu, kejadian lain kembali terjadi!
Sebuah cahaya kekuningan tiba-tiba meluncur dengan cepat dan menembus pelindung biru itu hingga membelah langit malam kota Kouh. Mata pemuda yang dihalangi beberapa helai rambut dark-silvernya menyipit tajam melihat cahaya kuning yang masih setia bersinar menyinari kota Kuoh. Sebenarnya pemuda ini ingin segera ke lokasi pertarungan, namun kehadiran sosok Naruto membuatnya enggan bergabung dalam waktu dekat. Dia berniat masuk ke medan pertempuran di saat yang tepat.
"Tunggu aku, disana..."
.
.
.
"Jadi cuma segini kemampuan seorang veteran Great War yang katanya perang terhebat sepanjang masa?"
Suara datar memecah keheningan mengcekam di lapangan Kuoh Akademi setelah Kokabiel mengungkapkan rahasia besar gugur-nya Tuhan pada Great War ribuan tahun yang lalu. Kokabiel selaku orang yang dibicarakan mengedarkan pandangan ke segala arah mencari sumber suara yang membuatnya agak geram karena diejek. Sama halnya malaikat jatuh beringat itu. Rias dan Peerage-nya; Akeno, Issei, Kiba dan Asia ikut melakukan hal yang sama.
"Dibuat kerepotan oleh sekelompok mahluk hina dan gadis yang membuat orang susah, sungguh mengecewakan!"
"Bala bantuan, kah?"
Kokabiel akhirnya menemukan orang yang meremehkan dirinya tadi. Cukup jauh dari lokasinya berdiri, di atas salah satu gedung bertingkat Kuoh Akademi berdiri sosok yang ia ketahui hanyalah manusia. Rias dan Akeno yang berdiri berdekatan menoleh ke gedung tadi dalam keadaan terengah-engah. Begitupula Issei dan Asia yang bersimpuh dekat Koneko yang terbaring dalam keadaan terluka habis terkena sapuan sayap lawan mereka.
"Naruto-san, Hashirama-san, Madara-san?!"
Gadis berambut biru yang diketahui bernama Xenovia tidak dapat menahan dirinya untuk meneriaki nama ketiga pendatang baru itu. Gagang Pedang Suci Durandal ia pegang erat-erat karena takut ketiga orang itu datang untuk memarahinya. Xenovia sadar, sebagian besar penyebab pertarungan hidup mati yang dilakukan bersama Peerage Rias adalah salahnya tidak mendengarkan saran Irina untuk menghubungi Naruto. Di samping kiri tidak jauh dari gadis bersambut biru, Kiba mengerjit keheranan.
"Kau mengenal mereka?"
Pemegang Durandal mengangguk lemah tanpa mengalihkan pandangannya dari tiga manusia (satu setengah manusia) di atas gedung. Melihat Xenovia mengarahkan pandangan ke dirinya, Naruto berteriak cukup keras agar bisa didengar oleh semua orang di lapangan.
"Kau bisa menjelaskan nanti, Xenovia-chan!"
Setelah berteriak, Naruto maju beberapa langkah ke depan menuju samping kiri Madara dan membisikkan sesuatu sambil menatap penuh perhitungan lawan mereka, Kokabiel. Madara mengangguk setuju dengan wajah datarnya apa yang dibisikkan oleh pemuda pengguna Senjutsu. Setelahnya, dua lelaki yang sering berkelahi ini mulai mendiskusikan sesuatu tanpa sepengetahuan Hashirama. Hashirama sendiri malah sibuk memperhatikan kondisi sekitar.
"Veteran peperangan terhebat sepanjang masa, enam Iblis muda, satu Exorcist... Satu dari iblis muda itu mungkin tidak bisa bertarung lag—Ehh!"
Hashirama awalnya memasang wajah serius menganalisa pertarungan yang terhenti karena kedatangannya bersama Naruto dan Madara. Namun, tiba-tiba saja ia terkejut mengetahui sebuah fakta baru. Sangat jelas ia merasakan energi alam mengalir di dalam tubuh gadis Loli berambut silver yang berbaring tidak berdaya di samping gadis bernama Asia. Ternyata di dunia ini, bukan hanya dia, Naruto dan Jiraiya yang mampu menggunakan Senjutsu. Akan tetapi, ada hal yang sedikit mengganggu Hashirama perihal gadis bernama Koneko.
"Kenapa dia tidak menggunakannya secara maksimal?!"
"Apa yang kau gumamkan, Dobe?" tanya Madara datar.
"Bukan hal penting!"
"Sudah selesai'kah? Strategi apapun yang akan kalian pakai untuk melawanku, kalian tidak akan pernah bisa menang, sampah!"
Kokabiel berujar penuh rasa percaya diri membuat Naruto dan Madara yang kembali berdiskusi menghentikan kegiatan mereka. Kokabiel yakin kalau dirinya bisa, ah pasti mengalahkan tiga pendatang baru itu apapun strategi yang digunakan untuk melawannya. Walaupun ketiganya manusia yang mungkin pengguna [Sacred Gear], tetap saja mereka adalah manusia. Ras terlemah yang memiliki batasan diantara ras-ras lainnya, setidaknya itu yang dipikirkan Kokabiel sehingga berpikir dia sudah pasti mengalahkan lawan barunya.
Betapa salahnya Kokabiel karena berpikir seperti itu. Memang manusia memiliki batasan, namun hal tersebut tidak berlaku untuk Uchiha Madara dan Senju Hashirama.
"Bocah sableng! Carikan nama yang pas untuknya!"
"Bagaimana kalau... Toothy-kun?"
"Hn, bagus juga."
Xenovia, Rias dan yang lain merasa sedikit aneh terhadap tingkah 3 orang di atas gedung sana yang bisa mereka dengar jelas apa yang dibicarakan. Bagaimana bisa mereka malah rapat membahas hal tidak penting di depan seorang musuh yang tidak bisa dipandang remeh kekuatannya, ya walaupun Rias dan Peerage-nya sudah merasakan yang namanya diluluhlantahkan oleh Madara dan Naruto.
"Percaya diri sekali mereka bertiga." pikir mereka semua.
"Untuk ukuran seorang veteran Great War. Kau banyak bicara juga. Bagaimana kalau kita buktikan saja, heh Toothy-kun?"
Yang berbicara adalah Madara. Ia merasa sedikit kesal diremehkan oleh gagak berwajah abnormal itu. Genderang perang pun ditabuh olehnya dengan menantang Kokabiel secara terang-terangan.
"Hooh? Rupanya kalian ingin pembuktian, sampah? Baiklah, akan kukirim kalian ke alam kematian sebelum membunuh adik Maou-Lucifer disana!"
"Hoho, omoshiroi...! Berikan aku tarian terbaikmu, gagak!"
Tepat setelah Madara dan Kokabiel mengeluarkan penyataan masing-masing. Keduanya langsung melakukan pergerakan. Kokabiel mengepak ke-sepuluh pasang sayap hitamnya dan terbang ke gedung. Sedangkan Madara melompat dengan kedua telapak kaki dialiri chakra, menciptakan ledakan besar dan kepulan debu. Naruto dan Hashirama jadi batuk-batuk akibat dari ulah Uchiha pengidap Messiah-complex itu.
"Ah, tunggu aku Teme!"
Teriakan Hashirama terdengar dari dalam kepulan debu. Tepat setelah itu, mantan Hokage ikut lompat menyusul Madara yang sudah beradu pukulan dengan Kokabiel di atas udara yang menimbulkan gelombang kejut yang cukup kuat. Tak selang beberapa lama setelah Hashirama menyusul Madara, kepulan debu tiba-tiba menghilang akibat kibasan tangan kanan Naruto yang cukup kuat.
"Haaah, hidup memang merepotkan! Seperti yang kau katakan... Maaf, selama ini aku salah menilai pendapatmu." pikir pemuda pengguna Senjutsu itu.
Setelah sosok Naruto terlihat jelas di atap gedung. Matanya setengah tertutup memandangi Rias dan Peerage-nya di tanah lapang dalam keadaan kurang baik sehabis melakukan pertarungan sengit dengan Kokabiel dan tiga Cerberus. Cahaya hangat yang sering terlihat di iris biru sapphire Naruto mulai meredup tatkala membayangkan apa yang akan menimpa sosok Rias Gremory. Melirik sejenak pertarungan Madara dan Hashirama yang sudah terjadi di tanah lapang, Naruto kemudian melompat turun dengan gerakan santai.
Saat mendarat agak kasar pada permukaan tanah dan berjalan menuju lokasi Xenovia dan Kiba. Naruto tidak menggubris Issei yang terus-terusan menanyakan apa yang ia lakukan disini. Karena terus-terusan diabaikan Issei jadi naik pitam dan mengumpat sepenuh hati ke Naruto dengan nada tinggi.
"Oi, dengarkan aku, brengsek!"
"Cih, kau berisik sekali, Sekiryūtei!"
Suasana tiba-tiba berubah, yang awalnya suram setelah mendengar berita kematian Kami-sama kini berganti menjadi penuh akan aura mengintimidasi. Rias memandang khawatir Pawn satu-satunya. Sangat jelas Heiress Gremory melihat wajah Issei mengeras sambil menggertakan gigi, ia tau apa yang dirasakan oleh inang Ddraig. Siapa yang tidak marah jika teman masa kecilnya dibawa kabur oleh seseorang dalam keadaan terluka. Lalu, rencana yang disusun oleh pembawa kabur Irina secara tidak langsung membuat teman-temannya menghadapi situasi hidup-mati melawan salah satu petinggi fraksi Da-Tenshi. Belum lagi, orang itu—Naruto sudah melukai rekan-rekannya dua minggu yang lalu.
"... Ise..."
Rias menatap satu per satu anggota Peerage-nya. Akeno yang dalam keadaan kini tertekan identitasnya terungkap, Koneko dalam pengobatan Asia setelah terkena serangan sayap Kokabiel. Bisa dibilang saat ini hanya dirinya, Issei dan Yuuto yang baru saja membangkitkan [Irrguler Balance Breaker] bernama [Sword of Betrayer] yang masih bisa bertarung.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Ia—Rias, mulai memutar otak untuk menghadapi situasi yang tiba-tiba berubah karena kedatangan Naruto, yang saat ini tengah beradu argument dengan Issei. Saking fokusnya berpikir, ia tidak ada waktu untuk mendengar percakapan keduanya yang mulai memanas. Jika memilih mundur dan menyerahkan Kokabiel kepada Madara dan Hashirama, ia dan Peerage-nya akan lolos dari maut tapi bayarannya adalah hancurnya kota Kuoh di tangan Kokabiel karena bukan tidak mungkin setelah mundur, Madara dan Hashirama serta Naruto ikut mundur sehingga memuluskan rencana malaikat beringas itu untuk menghancurkan kota Kuoh sehingga memicu Great War jilid dua akan terjadi.
Itu mungkin saja benar-benar akan terjadi... Great War jilid dua jika kota Kouh hancur di tangan Kokabiel.
Fraksi Malaikat akan marah besar apabila kota Kuoh dihancurkan oleh Kokabiel, ribuan nyawa tak bersalah akan melayang sebagai bayarannya.
Fraksi Iblis pun tentu akan marah juga terutama Sirzechs Lucifer. Kota Kuoh yang merupakan wilayah di bawah pengawasan dua klan besar Underworld [Gremory dan Sitri] dikira lalai menjalankan tugasnya oleh Fraksi-Fraksi lain.
Fraksi Malaikat Jatuh. Ya, tidak ada yang tau apa yang akan dilakukan fraksi ini. Pemimpinnya terlalu santai dan cenderung tidak peduli dengan tindakan bawahannya.
"Tidak ada cara—"
Perkataan Rias yang hendak mengambil keputusan tidak sempat terlesaikan. Ia dibuat terkejut oleh suara pukulan yang mengenai telak targetnya dari lokasi Issei. Gadis berambut crimson mengalihkan pandangan ke sumber suara dan langsung melebarkan matanya. Disana, Naruto menyarangkan sebuah uppercut ke perut Issei sambil bergumam;
"... Akan kukabulkan keinginanmu!"
"Ise!"
"Issei-kun!"
"Issei-san!"
Rias, Akeno, Kiba dan Asia berteriak kencang dengan wajah khawatir melihat pemegang [Boosted Gear] meringis kesakitan dan memuntahkan banyak air liur. Tidak sampai disitu saja, Naruto kembali melancarkan serangan lain dengan menendang lurus perut Issei hingga terpental, terseret, menghantam tanah beberapa kali dan berhenti setelah ditangkap oleh Kiba.
"Arigatou, Ikemen!" ucap Issei.
Naruto memperbaiki posisi setelah melakukan tendangan tadi. Sekilas, ia melirik Rias yang nampak memandang marah ke arahnya lalu dialihkan ke pertarungan lain yang terjeda sebentar karena Kokabiel terbang dengan kesepuluh sayapnya ke atas menjauhi Madara dan Hashirama.
"Ini akan menjadi malam yang panjang, Madara-teme, Ossan..."
"Dan kupastikan ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya..."
.
.
.
Sementara itu, di bagian tengah lapangan Kuoh Akademi. Pertarungan antara Madara dan Hashirama melawan Kokabiel sebentar lagi memasuki babak baru dan bukan tidak mungkin salah satu diantara mereka bertiga ada yang tewas. Madara melirik ke samping kiri saat mendengar samar-samar gumaman Naruto yang tadi. Ini saatnya bagi mereka berdua mengulur waktu untuk membiarkan Naruto menyelesaikan sesuatu yang seharusnya sudah lama terselesaikan.
"Skenario buruk, huh? Kau pikir kami akan mati jika melawan gagak sialan itu? Kau terlalu meremehkan kami, bocah sableng." pikir Madara agak jengkel ke Naruto mengenai rencana pemuda itu yang menurutnya terlalu pesimis dirinya dan Hashirama bisa mengalahkan Kokabiel.
"Oi, Dobe. Kau siap untuk ronde berikutnya?"
"Maksudmu, mulai mengulur waktu untuk Naruto?"
"Hn. Kalau perlu kita bunuh gagak menyebalkan itu."
Kini, mata Mangekyō Sharingan Madara telah aktif begitupula dengan Hashirama yang mulai memasang wajah serius. Mereka berdua sudah siap untuk melaksanakan permintaan Naruto, bahkan jika perlu membunuh Kokabiel. Kali saja mereka bisa menarik perhatian ke-tiga Fraksi utama apabila mendengar seorang veteran Great War mati ditangan dua manusia biasa. Ya, ini diluar rencana mereka sih. Tapi, apapun resikonya, mereka tetap harus melakukannya. Demi Yuki dan Konohagakure.
Dalam keadaan melayang, Kokabiel memandangi Madara dan Hashirama dengan seringai keji terpampang di wajahnya. Walaupun samar-samar Kokabiel meraksan tekanan yang dikeluarkan dua manusia itu berubah setelah keduanya membicarakan dengan nada cukup keras hingga sampai ke telinganya.
"Khukukukuku... Ternyata mereka bukan bala bantuan adik Sirzechs. Dengan begini, aku tidak perlu repot lagi. Tinggal mengurus dua manusia rendahan ini sebelum membunuhnya."
"Untuk ukuran ras terlemah di dunia ini. Kalian berdua lumayan juga."
Hal pertama yang dilakukan Kokabiel setelah pertarungan terhenti sejenak adalah memancing kemarahan lawannya. Namun, yang terjadi selanjutnya malah Kokabiel tersulut amarahnya karena balik diremehkan Madara dengan berkata.
"Untuk seorang veteran Great War. Kau sangat mengecewakan. Apa hanya ini yang kau punya, Toothy-kun?"
"Bangsat! Seharusnya kau hal bilang begitu, manusia!"
"Oh, ya? Coba buktikan jika kau memang bisa membunuh kami, malaikat busuk!"
"K-kau..."
Mata Kokabiel berkendut marah. Manusia dibawah benar-benar membuatnya tidak tahan untuk segera mengirim keduanya ke alam kematian. Madara ikut menyeringai, berhasil memancing Kokabiel. Sebelum berlari ke lokasi tempat lawannya terbang, ia menyempat diri membisikkan sesuatu ke Hashirama.
"Persiapkan Mokuton-mu."
"Hahahaha...! Kau ingin menyerangku? Sadari posisimu yang berada di bawah, manusia!"
Kokabiel mengacungkan dua tangan ke udara, menciptakan Light Spear berukuran cukup besar. Sebelum melempar senjata berbasis cahaya suci itu, ia memandangi Madara dan Hashirama secara bergantian untuk memilih target yang bagus untuk diserang. Jika Madara, cukup sulit karena tengah berlari. Jadi pilihannya adalah...
"Pertama-tama. Yang disana itu!"
Light Spear itu pun dilempar ke Hashirama sambil meneriakkan kata 'mati'. Madara menyeringai apa yang dia prediksikan kalau Hashirama yang dipilih ternyata benar. Sedangkan Hashirama yang melihat kedatangan tombak emas berhias cincin putih segera merangkai segel tangan dengan gerakan sangat cepat yang diakhiri sebuah tepukan keras.
[Mokuton: Hōtei no Jutsu]
Dua tangan kayu raksasa mencuat dari dalam tandah di depan Hashirama, Light Spear Kokabiel langsung dijepit sebelum menabrak si pemanggil tangan tadi. Melihat hal tersebut, Kokabiel melebarkan mata terkejut dan berkata dalam hati.
"Mustahil! Dia mampu menahannya! Apa dia seorang pengguna Sacred Gear?!"
"Hyaaaahhhh!"
Bersamaan dengan teriakan Hashirama yang dilakukan sambil memperkuat tepukannya, dua tangan kayu raksasa yang diciptakannya pun menghancurkan senjata berbasis cahaya Kokabiel. Hal tersebut menambah keterkejutan Kokabiel. Memanfaatkan momen singkat yang baru saja diciptakan sahabatnya, Madara segera bertindak dengan melakukan [Shunshin] ke depan Kokabiel dengan aura biru menguar dalam jumlah besar menguar di tubuhnya.
"Kau lengah gagak!"
Kokabiel pulih dari keterkejutannya mendengar sahutan Madara yang sudah berada di depannya. Kembali, sang malaikat jatuh mengumpat kemudian menciptakan Light Sword dan diposisikan melintang di atas kepala saat sebuah lengan besar berwarna biru lengkap dengan sebuah senjata menyerupai keris tercipta dari ketiadaan di samping kiri tubuh pria di depannya. Hanya dalam hitungan detik setelah tercipta, lengan besar itu terayun dari atas kebawah.
"Ihh, kau pikir benda sekecil itu mampu menahannya?"
Apa yang ditanyakan oleh Madara benar terjadi. Light Sword Kokabiel tidak mampu menahan tebasan pedang [Susano'o] Madara kemudian hancur berkeping-keping. Beruntung bagi Kokabiel, tubuhnya terdorong kebawah sebelum pedang Susano'o tersebut membelah dua dirinya dan dikirim menuju alam kehampaan tanpa bisa bereinkarnasi lagi.
"Lumayan juga, heh." ujarnya setelah menapak permukaan tanah.
"Ini belum berakhir!"
Suara bariton itu membuat Kokabiel tersentak. Hashirama ternyata sudah menunggu dengan tangan kanan terkepal disertai aura biru [Chakra]. Uppercut pun dilancarkan mantan Hokage yang mengenai telak dagu pria jangkung di depannya hingga terpental ke atas dimana Madara sudah menunggu lengkap dengan lengan Susano'o. Tidak ingin tertebas benda biru bertekanan mengerikan itu, Kokabiel segera membentuk sayapnya menyerupai kepompong untuk melindungi diri.
"Cih, mereka kuat juga."
"Aku dengar itu, gagak!"
Tanpa ampun, lengan Susano'o Madara berniat menebas sang lawan yang kini dalam mode pertahanan. Suara dentingan keras disertai bunga-bunga api terdengar dan terlihat di udara membuat Madara mengerjit keheranan. Pedang Susano'o miliknya menghantam sesuatu yang keras seperti baja, bukannya kumpulan bulu-bulu hitam halus.
"Besi?!"
"Butuh seratus tahun bagimu untuk mengalahkanku, manusia!"
"Oh, begitukah?"
Madara menyahut datar melayangkan sebuah pertanyaan singkat membalas penyataan penuh rasa percaya diri Kokabiel dari dalam benda menyerupai kepompong tersebut. Sedetik kemudian, Uchiha terakhir menyeringai bak dewa kematian sambil memunculkan lengan kedua Susano'o miliknya yang langsung mengirim pukulan telak pada lawannya. Kokabiel pun terlempar jauh ke sisi utara Kuoh Akademi, lebih tepatnya di sebuah hutan kecil.
Perlahan-lahan, tubuh Madara yang disertai dua lengan Susano'o melayang kebawah. Setelah mendarat, ia menghilangkan dua lengan mahluk astral yang merupakan salah satu jurus terkuat Mangekyō Sharingan miliknya. Madara melirik ke samping dan memberikan sebuah perintah ke sahabatnya.
"Ikuze, Hashirama!"
"Hmnn, oke!"
Kedua shinobi itu pun segera berlari menuju kepulan debu tempat Kokabiel terjatuh jauh di sisi utara. Selama perjalanan kesana, Madara dan Hashirama membicarakan sesuatu yang menyangkut Naruto.
"Jadi, kau berniat memisahkan pertarungan ini dengan Naruto?"
"Hn."
"Bagaiaman kalau dia kalah?"
"Siapa yang tahu? Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi dengan bocah sableng itu."
"Oiy, oiy... Kenapa kau seperti tidak peduli dengan Naruto, Teme? Dia adikmu setelah semuanya. Ingat itu!"
Hashirama nampak kesal, urat-urat di keningnya menyembul keluar mendengar Madara seolah-olah tidak peduli akan Naruto yang kini bertarung sengit melawan Peerage Rias [Occult Research Club]. Setidaknya, Hashirama menginginkan agar Madara memberikan sedikit kekhawatiran terhadap satu-satunya murid mereka. Namun, balasan dari Madara selanjutnya membuat Hashirama bungkam sambil menghela nafas panjang...
"Makanya, aku tidak mau kita ada disana sebagai pengganggu. Aku ingin dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak peduli menang atau kalah."
...Dengan berakhirnya penyataan datar Madara itu, Hashirama hanya bisa membatin keheranan.
"Mereka kakak-beradik yang aneh."
Karena percakapan mereka yang cukup membingunkan, bagi Hashirama. Tanpa disadari, keduanya sudah tiba di lokasi Kokabiel mendarat (menghantam tanah). Terlihat di tengah-tengah sebuah kawah berukuran cukup besar Kokabiel berdiri dengan keadaan tanpa luka sedikit pun berkat ketahanan fisik ekstrimnya, namun pakaian kantoran yang dipakai kotor terkena debi yang beterbangan. Melihat keadaan lawannya, Madara memperlihatkan senyum mengejek ke Kokabiel dan berkata.
"Bagaimana rasanya, hmn, Da-Tenshi-dono?"
"Tidak berefek sama sekali, Ningen! Dan sekarang giliranku. Bersiaplah, sampah!"
"Madara, siapkan kembali Susano'o milikmu jika terjadi hal yang tak terduga."
Isting tajam seorang Senju Hashirama berteriak kencang saat Kokabiel mengepak ke-lima pasang sayapnya dan menembakkan ribuan bulu-bulu sekeras baja. Bersamaan dengan ia, Hashirama meninggalkan pesan kepada sahabatnya dan mulai merangkai segel tangan dengan gerakan sangat cepat lalu berjongkok siap mengeksekusi sebuah jurus bertipe pertahanan.
[Mokuton: Mokujōheki]
Kubah kayu langsung terbentuk dari banyak balok yang mencuat permukaan tanah dekat Hashirama dan membentuk sebuah kubah yang melindungi keduanya dari serangan frontal Kokabiel. Namun, banyaknya bulu-bulu sekeras baja itu membuat Mokuton Hashirama perlahan-lahan retak di beberapa bagian. Melihat jurus sudah berada di ambang batas kehancuran, Hashirama membatin kesal dan sedikit menyesal.
"Tck! Sudah kuduga akan seperti ini. Seharusnya kubuat yang lebih besar, aku terlalu meremehkannya."
"Baka, kenapa kau membuat sekecil ini." umpat Madara kesal karena sahabatnya itu tidak menciptakan kubah kayu tidak sebesar biasanya.
Segera, Madara kembali mengaktifkan Susano'o dan melindung Hashirama dengan menyilangkan lengan biru itu di depan kedunya dari ribuan bulu-bulu sayap Kokabiel yang sudah menghancurkan kubah kayu tadi. Setelah serangan berhenti. Madara menyeringai sadis, sebuah rencana kecil untuk menyerang tiba-tiba muncul di otaknya. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Lengan kiri Susano'o memunculkan pedang kemudian ditusukkan ke dalam tanah. Dan selang tiga detik setelah itu—
"Arrrrggghhhh...!"
—sebuah teriakan kesakitan menggema di area itu. Pedang biru besar Madara muncul tepat di bawah Kokabiel dan mengenai dua sayap sebelah kirinya hingga terpotong. Malaikat jatuh itu melirik sejenak kedelapan sisa sayapnya kemudian kembali memandang marah dua lawannya dan mengumpat penuh amarah.
"Onore..."
"Hn. Cukup efektif juga." Madara malah tersenyum tipis melihat rencana kecilnya membuahkan hasil cukup memuaskan.
"Yurusenai!"
Kini, amarah Kokabiel sudah hampir mencapai pucuk kepalanya. Dua sayap hitam kebanggaannya harus berpisah dari tubuhnya akibat ulah dari Madara yang notabene seorang manusia. Ya, lagi-lagi hal tersebut kembali berputar di kepala Kokabiel. Manusia adalah yang terlemah! Terlemah diantara ras lain! Harga dirinya sebagai petinggi Da-Tenshi seolah-olah terinjak oleh tindakan dua manusia di depannya. Dengan aura pembunuh pekat yang sudah menguar akibat kemarannya, ia mengepak kedelapan sayapnya yang tersisah terbang cukup tinggi dari jangkauan lawannya. Di atas sana, sebuah Light Spear berukuran lebih besar dari sebelum-sebelumnya mulai tercipta.
"Ap...! Besarnya!"
"Matilah!"
Hashirama lumayan takut melihat tombak seukuran bis kota yang sudah bersiap dilempar ke mereka. Lain halnya dengan Madara yang tampak tenang-tenang saja dan mulai merangkai segel tangan masih dengan dua lengan Susano'o bertengger di sampingnya lalu memundurkan tubuh bagian atas kebelakang dan tidak lupa menggembungkan pipi. Dan bersamaan setelah Kokabiel melempar senjata berbasis cahaya itu, Madara menggumamkan nama jurus yang dikeluarkan.
[Katon: Gōka Mekkyaku]
Madara menyemburkan api berintensitas sangat besar dan membentuk sebuah dinding api menuju ke atas. Dua tehnik berbeda unsur penciptaan itu pun berbenturan di udara. Namun, milik Kokabiel nampaknya lebih unggul. Light spear tersebut tidak hancur, melainkan bertambah pelan hingga akhirnya menghantam tanah dan menciptakan ledakan dasyat yang bahkan mendominasi api milik Madara hingga menghilang.
...
Di tempat lain. Naruto dan anggota ORC yang tengah bertarung meneteskan keringat dingin melihat dan merasakan efek ledakan tersebut. Bahkan kelompok Sona yang berada di luar Kekkai hampir kehilang konsentrasi untuk menjaga Kekkai agar tidak hancur.
"Ledakan apa itu? Besar sekali!"
"Fokus Saji. Kita tidak boleh menghilangkan Kekkai ini!"
Perintah ketua kelompok itu dengan nada datar kepada satu-satunya lelaki disana. Tapi sebenarnya, gadis itu—Sona juga bertanya-tanya siapa pelaku dari ledakan itu. Kekhawatiran pun muncul di benak gadis berkamacata itu. Jujur saja, Sona yakin Rias tidak akan menang dalam pertarungan ini.
"Kuharap kalian baik-baik saja, Rias... Bertahanlah sampai bantuan Lucifer-sama datang."
...
Kembali ke lokasi asal ledakan tadi. Di atas langit, Kokabiel menyungging senyum penuh kemenangan. Di bawahnya, kawah berukuran seperempat luas Kuoh Akademi tercipta dan pada bagian tengah kepulan asap masih mengepul. Namun, senyum tersebut tidak berlangsung lama. Karena setelah kepulan asap menghilang terjadi hal yang sangat diluar dugaan Kokabiel.
"Mustahil! Ini benar-benar mustahil!"
"Kenapa? Kenapa manusia seperti kalian harus ada di dunia ini? Kenapa?!"
Setelah membatin tidak percaya, Kokabiel berteriak sekencang-kencangnya seolah tidak menerima keberadaan Madara dan Hashirama yang mampu bertahan setelah terkena serangan dasyatnya tadi. Kokabiel memang tau ada manusia spesial yang dianugrahi Sacred Gear, namun ini pertama kalianya ada manusia yang selamat dari serangan sebesar itu.
Terlihat agak samar-samar karena terhalang kepulan debu, di pusat kawah tersebut sesosok mahluk biru bercampur cahaya emas melindungi Madara yang terengah-engah dan juga Hashirama. Mantan Hokage yang sudah memasuki Sennin Modō mengedarkan pandangan melihat Uncomplete Susano'o Madara hancur pada di bagian kepala, tangan kiri dan tulang rusuk tengah. Menyadari mereka selamat dari maut berkat kerja sama, Hashirama melirik sahabatnya dan berkata.
"Andai saja Susano'o milikmu tidak dilapisi Senjutsu. Mungkin kita sudah mati, Madara. Sudah kuduga veteran Great War memang monster!"
"Hn.
Setelah memberi respon, Madara tiba-tiba ambruk dan memakai lutut kanannya sebagai tumpuan. Ia meringis kesakitan dalam hati merasakan mata seperti terbakar. Melihat keadaan salah satu lawannya. Kokabiel memperlihatkan seringai meremehkan dan berkata.
"Hoooh, sudah mencapai batasan heh, Ningen? Padahal ini belum seberapa."
—Walau mulut Kokabiel mengatakan dirinya masih belum mencapai batas, ternyata hal yang sama juga terjadi dengannya. Ia menyembunyikan rapat-rapat dengan wajah arogannya, dirinya ternyata cukup terkejut dan juga mulai kehabisan stamina serta Light-Based Power. Membuatnya harus berpikir dua kali untuk menciptakan Light Spear sebesar tadi untuk kedua kalinya. Ia berniat menyimpan kekuatannya yang tersisah untuk membunuh Rias dan Peeragenya. Ya, lagi-lagi rasa percaya diri Kokabiel yang setinggi langit membuatnya yakin bisa mengalahkan dua shinobi itu.
Sementara Kokabiel bergelut dengan pikirannya, Madara dan Hashirama mulai membicarakan sesuatu yang diawali sebuah pertanyaa.
"Oiy, Daijobuka Madara?"
"Chakra-ku banyak terkuras gara-gara menciptakan Susano'o sampai ke tahap ini."
"Syukurlah, kukira tubuhmu mengalami sesuatu."
"Kita harus menyelesaikannya sebelum aku kehabisan Chakra. Dia hampir mencapai batasnya..."
Sambil berbicara, Madara mendongak ke atas memperhatikan sejenak kondisi Kokabiel. Dengan Mangekyō Sharingan masih aktif. Dan apa yang Madara perkirakan jika mata andalannya beradaptasi dengan mahluk-mahluk supranatural ternyata benar. Ia bisa melihat samar-samar di dalam tubuh Kokabiel mengalir sesuatu berwarna emas bercampur hitam. Menghela nafas sejenak untuk menengkan pikirannya gara-gara efek samping penggunaan Mangekyō Sharingan yang cukup berlebihan hari ini, Madara kemudian bangkit dan berkata dengan nada tinggi
"Apa itu serangan terkuatmu? Dan kalau tidak salah, tadi aku mendengar kau ingin memulai Great War jilid dua? Melukai tubuhku saja tidak bisa apalagi menjalankan sebuah peperangan. Tujuanmu terlalu tinggi untuk orang lemah sepertimu... Hahahahahahahahah...!"
Mendengar perkataan dan tawa kesetanan Madara membuat amarah Kokabiel tidak dapat terbendung lagi. Jika tadi harga dirinya diinjak-injak, sekarang harga diri-nya sebagai seorang veteran perang terhebat sepanjang masa sudah hancur berkeping-keping diremehkan seperti itu. Mengabaikan Kokabiel yang kembali mengumbar aura pembunuh pekat sambil meraung-raung layaknya anjing gila di atas udara. Madara melirik Hashirama dan bertanya dengan wajah serius.
"...Kau siap?"
"Ya! Mari kita akhiri ini. Aku muak mendengarnya mengoceh seolah dirinya yang terkuat."
"Hn. Aku suka semangatmu itu Dobe... Iku—"
"Mati kalian, bangsat!"
Namun, belum sempat Madara dan Hashirama memulai serangan mereka. Kokabiel berteriak keras menginterupsi keduanya sambil melesat dengan kecepatan tinggi ke bawah. Duo Shinobi segera melompat ke arah yang berbeda sebelum Kokabiel menghantam mereka. Kemarahan sang malaikat jatuh ternyata menambah kecepatan dan daya hancur serangannya. Terbukti dengan ledakan besar yang terjadi tepat ketika Kokabiel menghantam tanah tempat berpijak kedua lawannya tadi.
Belum sempat Madara menapak tanah, Kokabiel meluncur dari balik kepulan debu bekas ledakan menuju ke arahnya. Serangan frontal pun dilancarkan Kokabiel ke Madara yang dengan agak susah payah dihindari.
"Kecepatan dan daya hancurnya meningkat pesat! Apa ini yang disebut kekuatan dari amarah?!" batin Madara di sela-sela menghindari dan menahan serangan sang malaikat beringas yang sudah menjadikan dirinya target utama.
Tidak mau sang sahabat mati di tangan malaikat jatuh yang sudah marah besar, Hashirama segera membantu Madara. Pertarungan sengit berkecepatan tinggi pun terjadi di hutan kecil bagian utara Kuoh Akademi. Saling tukar pukulan, ledakan besar maupun kecil dan pepohonan yang tumbang satu demi satu menghiasi pertarungan bertempo cepat ketiganya. Saking cepatnya, sampai-sampai sangat susah diikuti apabila hanya dilihat dengan mata telajang.
Pada suatu momen singkat, Madara terkena sapuan empat sayap sebelah kanan Kokabiel hingga terpental dan menghantam pagar besi hutan kecil tersebut. Hashirama tidak tinggal diam. Tepat setelah sahabatnya terpental, ia muncul di belakang Kokabiel dan menedang kepala belakang malaikat jatuh itu hingga tersungkur.
Dalam keadaan tersungkur, Kokabiel mendecih dan berguling ke samping lalu terbang menjauh sebelum Hashirama menginjak kepalanya. Tanah yang diinjak Hashirama dalam Sennin Modō pun hancur menggambarkan seberapa kuat fisiknya dalam mode itu.
"Hashirama!"
"Hn, wakatta!"
Secara bersamaa, di tempat yang berbeda. Madara dan Hashirama melompat naik menyusul Kokabiel. Dalam keadaan melayang di atas udara, Hashirama merangkai segel tangan kemudian mengarahkan tangan kanan ke depan.
[Mokuton: Daijurin no Jutsu]
Lengan kanan tadi berubah menjadi sulur-sulur kayu yang mulai memanjang dan terbelah menjadi banyak. Angkasa yang merupakan area kekuasaan Kokabiel membuatnya dengan mudah bermanuver menghindari serangan Hashirama. Karena lelah terus menghindar, malaikat jatuh itu pun mulai menghancurkan sulur-sulur kayu Hashirama menggunakan tendangan, pukulan dan juga hantaman sayap sekeras bajanya.
"Kau ingin mengalahkanku dengan mainan bocah itu? Jangan bercanda!"
Bukannya berkurang setelah dihancurkan Kokabiel sambil berucap dengan nada keras, sulur-sulur kayu Hashirama malah bertambah banyak. Dan berkat bantuan sulur Hashirama yang memenuhi angkasa di sekitar Kokabiel. Madara dengan mudahnya mengikuti pergerakan malaikat jatuh itu. Menggunakan sulur Hashirama sebagai pijakan dan menyerangnya secara membabi buta namun efektif hingga menimbulkan cukup banyak luka lebam pada tubuh Kokabiel. Lain lagi dengan Hashirama yang tidak menghentikan serangan, semakin memperburuk keadaan Kokabiel.
"Argh, ini semakin menyebalkan!"
"Tidak ada gunanya mengomel tidak jelas! Eksistensimu sebentar lagi terhapus, gagak!"
Madara mengeluarkan sebilah katana dari fuinjutsu penyimpanan miliknya. Setelah memijak satu sulur Hashirama, ia melesat menuju Kokabiel dengan katana tadi terhunus kedepan. Hendak ditusukkan pada dada lawannya. Sayang, Kokabiel berhasil menghindar dengan terbang ke kiri. Namun, satu sulur Hashirama berhasil mengenai kepalanya hingga oleng dalam keadaan melayang.
"Bangsat! Akan kubunuh kalian berdua!"
Bersamaan dengan pernyataan itu, Kokabiel mengacungkan kedua tangan ke udara menciptakan lingkaran sihir berukuran cukup besar, pikiran Kokabiel mulai kacau, sampai-sampai rencana menyimpan sedikit kekuatan untuk membunuh Rias menghilang entah kemana. Melihat hal tersebut, Madara menyipitkan mata dan segera melompat menjauh, begitupula Hashirama yang ikut seperti sahabatnya (menyipitkan mata) saat tubuhnya mulai melayang bawah masih dengan Mokuton terhubung dengan tangan kanan.
Dari lingkaran sihir Kokabiel, muncul Light Spear berukuran kecil dalam jumlah banyak. Mata veteran Great War terkunci pada kedua lawannya yang berada di lokasi yang berbeda. Lalu, dengan satu ayunan tangan kanan, Light Spear dalam jumlah banyak itu meluncur menuju Madara dan Hashirama.
Mantan Hokage mengarahkan beberapa sulur kayu untuk melindungi diri, sedangkan Madara melompat ke satu lokasi ke lokasi lain menghindari semua serangan yang ditujuhkan ke arahnya.
"O-Onore..."
"Owari da, Toothy-kun!"
Setelah serangan terakhir dihindari, Madara melesat menuju Kokabiel yang hendak menciptakan light spear. Namun, ia kalah cepat dari Madara yang sudah berada di depannya dan menebas lengan kanannya memuncratkan banyak cairan merah kental berbau amis.
"Arggggghhhhhhhh!"
Belum puas melihat lawannya meraung kesakitan, Madara menendang kuat-kuat malaikat jatuh itu ke bawah. Melesat dengan kecepatan tinggi, Kokabiel menghancurkan beberapa sulur kayu Hashirama hingga berhenti. Dalam keadaan berbaring di kayu hasil Mokuton Hashirama, Kokabiel mendongak ke atas. Terlihat tidak jauh di lokasinya, Madara merangkai segel tangan dengan pipi menggembung siap mengeluarkan sesuatu dari mulut. Dan untuk pertama kalinya sejak Great War terhenti, Kokabiel meneteskan keringat dingin. Hidupnya terancam bahaya!
[Katon: Haijingakaure no Jutsu]
Area di atas hutan kecil Kuoh Akademi tiba-tiba dipenuhi asap bercampur api yang melahap semua hal dalam jangkauan elemen api itu. Di dalam saja, terdengar jelas kalau korban jurus tersebut merintih kesakitan dan meneriakkan kata: panas dan umpatan-umpatan kasar.
"Hashirama, sekarang!"
Di permukaan, Hashirama yang sudah mendarat pada tanah langsung memegang lengan kanannya yang masih tersambung dengan Mokuton di atas udara sana.
"Disitu!" ucapnya dalam hati merasakan lokasi Kokabiel menggunakan sensor Sennin Mōdo-nya. Ia menyentuh lengan kanan yang tersambung dengan sulur-sulur kayu di atas udara sehingga membuat Mokuton di atas langit sana melesat ke atas lalu menukik turun menuju satu titik. Selang beberapa detik, dari balik kepulan asap Kokabiel terdorong ke bawah oleh puluhan sulur kayu Hashirama yang menusuk seluruh anggota tubuhnya.
"Ohokk!"
Darah segar langsung dimuntahkan malaikat jatuh itu saat menghantam tanah ditambah himpitan Mokuton. Tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun ke lawannya, Hashirama memotong balok kayu yang terhubung dengan tangan kanannya kemudian merangkai segel tangan lain. Beberapa akar kayu mencuat dari dalam tanah di sekitar Kokabiel yang tengah berbaring. Akar-akar tersebut dipercepat pertumbuhannya oleh Hashirama sehingga tubuh Kokabiel pun langsung terikat dan terciptalah pohon berukuran sangat besar di area tersebut. Dengan selesainya apa yang ingin dia lakukan, Hashirama menggumamkan nama jurusnya.
[Senpō: Dai Jubaku Eisō]
"Dengan ini... Selesai sudah eksistensimu di dunia ini, Da-Tenshi-dono! Kami sebenarnya tidak ingin melakukan ini... Tapi kau sudah melukai Irina, bermaksud menghancurkan kota yang dimana keponakanku dan penduduknya akan mati dan yang paling tidak kusukai—"
Hashirama berjalan mendekati pohonnya. Wajahnya seketika mengeras saat melanjutkan perkataannya.
"—Kau berniat memancing sebuah peperangan. Itu sudah cukup bagiku dan Madara untuk membunuhmu, Tothty-san."
"Namaku Kokabiel dan kalian'lah yang akan mati, brengsek!" sahut pria jangkung itu hendak melepaskan diri dengan mengeluarkan aura suci nan gelapnya sebanyak-banyaknya atau mungkin yang tersisa untuk menghancurkan Mokuton bercampur Senjutsu yang mengikatnya. Namun—
"Apa! Brengsek!"
"Percuma saja. Tidak ada yang bisa melawan alam kecuali penciptanya sendiri... Kami-sama!"
—Apa yang dikukan olehnya tidak membuahkan hasil. Membuatnya harus mengumpat dalam hati lalu memandang dengan wajah garang Hashirama yang bergumam tepat berdiri tepat di hadapannya. Saat mendengar nama 'Kami-sama' diucapkan orang yang kapan saja bisa membunuhnya, Kokabiel tertawa diikuti teriakan keras.
"Huahahahahahahah... Kau harus tau. Kami-sama telah tiada. Dia gugur dalam Great War, manusia!"
"Sudahi omong kosongmu. Itu adalah hal paling sangat tidak mungkin terjadi. Kau bisa mengeceknya sendiri jika sudah mati. Sekarang—"
"Tunggu, Dobe! Ada yang ingin kucoba."
Sebelum pria berambut hitam mengakhiri hidup Kokabiel entah dengan cara apa, Madara tiba-tiba menghentikan hal tersebut dan berjalan menuju Kokabiel yang sudah tidak berdaya lagi; dua sayapnya menghilang, wajah penuh luka lebam, sudut bibir mengeluarkan darah segar, lengan kanan yang terkena tebasan dan sudah kehabisan stamina serta light-based energi karena melawan dua kubu yang berbeda dalam sehari.
Oh, ya. Jangan lupakan kehilangan harapan untuk hidup setelah pertarungan ini.
Saat Madara menyentuh dahinya, Kokabiel berteriak marah.
"Apa yang kau lakukan brengsek?!"
"Diam! Sudah mau mati masih saja mengumpat, dasar mahluk sok ketinggian derajat!"
Setelah membuat Kokabiel bungkam, Madara segera memulai apa yang ingin dia lakukan. Mengaktifkan mata saktinya, ternyata bukan hanya aura/energi mahluk suprantural yang bisa dilihat [Sharingan] miliknya yang sudah beradaptasi entah bagaimana caranya. Dengan menyentuh kening Kokabiel, Madara berhasil masuk ke dalam kepala malaikat jatuh beringas itu mencari informasi mengenai tempat yang mereka cari. Namun, sekitar satu menit mencari. Ia tidak mendapatkan apa-apa sehingga membuatnya mengeluarkan desahan panjang tanda sedikit frustasi sambil melangkah mundur menjauh.
"Tidak ada juga ya? Apa boleh buat... Harapan kita hanya Irina dan Xenovia saja."
"Sekarang... Matilah!"
[Amaterasu]
Dengan sisa chakra yang tinggal sedikit, Madara memfokuskan sebagian besar chakra itu ke mata sebelah kiri. Darah segar langsung mengalir deras dari kelopak mata kirinya dan bersamaan dengan itu—
"Arrggghhhhhhhh!"
—untuk terakhir kalinya. Kokabiel meraung kesakitan sebelum ajal menjemputnya. Api hitam yang merupakan kemampuan spesial Mangekyō Sharingan selain Susano'o mulai membakar tubuhnya hingga tak bersisah lagi setelah tiga berlalu. Akhirnya, setelah hidup selama dua ribu tahun lebih lamanya. Salah satu petinggi fraksi Da-Tenshi akhirnya gugur juga. Dan lebih mengejutkan lagi, di tangan manusia yang tidak memiliki Sacred Gear melainkan kemampuan spesial bernama... Chakra!
Segera, Madara menghilangkan api hitam itu agar tidak membakar area sekitar. Mangekyō Sharingan-nya pun sudah tergantikan dengan onix hitam sekelam langit malam yang menjadi saksi tewasnya Kokabiel.
Sementara itu, dibelakang Madara. Hashirama yang sudah keluar dari Sennin Mōdo-nya menatap heran sekaligus terkejut api hitam Madara. Jujur, ini pertama kalinya ia melihat jurus tersebut. Karena penasaran, Hashirama segera bertanya.
"Hey, Madara. Api hitam apa itu?"
"Amaterasu. Salah satu kemampuan spesial Mangekyō Sharingan yang secara tidak sengeja kubangkitkan saat berlatih di Kyoto."
Madara memberikan penjesalan singkat sembari mengingat-ingat bagaimana dan apa penyebab api hitam itu secara tiba-tiba keluar dari matanya ketika mencoba sesuatu yang baru. Dan pada saat itu juga, dia mengetahui sesuatu yang tidak ingin diberitahukan kepada orang lain.
"Tapi..."
"Tapi, apa? Jangan bilang kau bisa menggunakan sekali saja?"
Madara menggeleng pelan. "Jutsu ini memakan banyak chakra-ku dan juga ada resiko lainnya, semakin sering aku menggunakannya. Penglihatanku semakin kabur dan itu juga berlaku untuk Susano'o."
"Jadi, itu alasannya kau menggunakannya disaat Kokabiel tidak bergerak. Aku paham sakarang. Jangan terlalu sering menggunakannya, ya."
"Ya, ya, ya. Kau tidak perlu memberitahuku, Dobe."
Madara kembali ke mode menjengkelkannya ke Hashirama. Saat ia hendak mengajak Hashirama untuk melihat keadaan Naruto yang entah seperti apa sekarang ini. Yang dikhawatirkan Uchiha terakhir akhirnya terjadi. Kedua matanya tiba-tiba terasa seperti terbakar. Penghilatannya mulai kabur seolah terkena gangguan mata stadium tujuh.
"Sudah dimulai rupanya." pikirnya sudah menduga penggunaan Uncomplete Susano'o dan Amaterasu dalam pertarungan yang sama akan berakibat seperti ini. Setelah rasa panas di matanya mulai menghilang, Madara mengulangi ajakannya untuk menemui Naruto.
Berjalan santai di belakang sahabatnya, Hashirama menatap punggung yang terdapat lambang kipas merah dan putih Madara dengan wajah khawatir.
"Huh, berlagak tidak terjadi apa-apa. Aktingmu terlalu jelek menutupinya, Madara."
.
.
.
.
.
"Apa-apaan ini?!"
Hashirama tidak bisa menahan dirinya untuk berteriak melihat pemandangan sangat buruk di depannya. Tepat hadapannya dan Madara tersaji sesuatu yang sangat mengerikan untuk dilihat. Area tersebut dipenuhi puluhan pedang dan kawah berbagai macam bentuk dan ukuran. Lalu, tiga anggota ORC yaitu Kiba, Koneko dan Akeno tergeletak tidak sadarkan diri dengan luka bakar memenuhi tubuh sang Queen dan Knight itu. Sedangkan Koneko, hanya mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya dan bajunya compang-camping. Tidak jauh dari ketiganya, di sebuah batang pohon, Hyoudou Issei bersandar dengan katana menancap indah tepat di perut.
Di dekat pohon tempat sang Sekiryuutei. Seorang gadis pirang pingsan karena tidak mampu melihat teman-temannya terluka.
Sementara pemimpin kelompok ORC sendiri, Rias Gremory duduk bersimpuh dengan wajah syok. Iris blue-green gadis itu seperti kehilangan cahaya hidup walau dirinya tidak menderita luka serius tidak seperti anggota Peerage-nya kecuali Asia. Pada bagian pipi kirinya terdapat bercak darah yang sudah mengering. Seragam Kuoh Akademi yang dikenakan terkoyak di beberapa bagian.
Hashirama tidak terlalu peduli dengan keadaan mereka semua karena yang terpenting adalah...
"Naruto!"
Dan kondisi paling buruk diderita oleh pemuda yang dipanggil oleh Hashirama. Pemuda itu—Naruto, tergeletak tidak sadarkan diri dengan senyum mengembang di wajahnya yang penuh noda darah kering. Lengan kiri mantel yang dikenakan robek memperlihat luka bakar parah pada kulitnya. Dan yang terburuk adalah empat pedang suci terkutuk yang Hashirama dan Madara yakini dari [Irreguler Balance Breaker] milik Yuuto Kiba menancap cukup dalam dipunggung terbalut mantel biru gelap pemuda itu.
"Jadi, dia kalah. Huh, menyedihkan."
Madara berkomentar sinis melihat keadaan Naruto yang sudah dipapah Hashirama setelah keempat pedang tersebut dicabut.
"Bagaimana keadaannya?"
"Sangat buruk... Kita harus merawat lukanya sesegera mungkin. Kalau tidak, Naruto akan mati."
"Baiklah... Ayo kita kem—"
Namun, nasib buruk nampaknya berpihak pada kubu Naruto cs. Sebelum mereka kembali ke apartemen. Cahaya putih menyilaukan muncul dari atas langit menghancurkan Kekkai yang dibuat oleh Sona Sitri dan kelompoknya. Melihat kejadian itu, Hashirama merutuki serentetan kejadian tidak terduga hari ini.
"Oh, apalagi sekarang?!"
"Perkenalkan. Aku adalah Hakuryuukou. Dan aku kesini—"
Cahaya tadi meredup dan mempelihatkan sosok yang dibalut armor putih dan sayap mekanik dominan warna biru. Duo Shinobi terutama Madara memandangi sosok yang baru saja memperkenalkan diri dengan tatapan tidak mau tau siapa dan sekuat apa pendatang baru itu. Lebih tepatnya pandangan malas.
"—untuk mengambil orang bernama Naruto itu!"
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Yooo~~ '-')/
Ketemu lagi ama ane, Si Author Lolicon yang masih Newbie dan gak jelas asal-usulnya di Chapter terbaru Fic Daybreak.
Kuharap pertarungan antara Duo Shinobi melawan Kokabiel tidak terlalu mengecewakan. Dan iya, jangan berpikir jika disini Kokabiel cukup lemah. Dia selevel dengan Madara. Namun, lain ceritanya jika Hashirama yang lebih kuat dari Madara ikut campur dan bekerja sama dengan baik. Apalagi, stamina dan Light-Based Power Kokabiel sudah sedikit terkuras ketika melawan Rias dkk.
Dan beginilah jadinya. Madara dan Hashirama tidak mengalami luka serius. Hanya kelalahan dan sedikit goresan di tubuh Hashirama serta kerusakan mata untuk Madara. Sedangkan Kokabiel, sudah berpulang ke tempat yang seharusnya.
Dari Chapter ini kalian sudah bisa menebak ikut atau tidaknya NaruMadaHashi dalam KTT 3 Fraksi nanti.
Kokabiel mati!
Rias dan Peerage-nya hampir mati di tangan Naruto pada bagian akhir. Pertarungan lengkap dan apa yang terjadi antara NaruRias akan terungkap di Chapter depan.
Oh. Iya... Karena banyak yang nanyain seperti apa itu 'Tempat terdekat dari surga'... Nih ane kasih sedikit bocoran. Tempat merupakan Fraksi yang bekerja di bawah naungan Fraksi Surga. Berbeda dengan Exorcist, bisa dibilang tempat ini dihuni orang-orang berkekuatan setara atau bahkan di atas Exorcist, bahkan ada kemungkinan satu dua orang setara dengan Maou. Mengenai pekerjaan, jika Exorcist adalah pembasmi iblis liar. Maka orang-orang di Fraksi tersebut bertugas membasmi segala macam ancaman yang ada di dunia atas perintah dari beberapa petinggi Fraksi Malaikat dan lebih terorganisir dalam melakukan pekerjaan. Bekerja tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Semacam organisasi rahasia'lah, kurang lebih.
Tempat ini sendiri nantinya bukan dari Canon Naruto maupun DxD, kecuali orang-orang yang tinggal disana [Beberapa Chara Naruto dan DxD] mungkin jadi penduduk tempat itu. Siapa mereka dan bagaimana tempat terdekat dari surga ini. Lihat saja nanti, heheheheheh!
.
.
Balasan Review :
Kurosaki Kitohara : Sama. Ane juga Silent Reader, tapi itu dulu :v :v ... Noh di atas NaruRias udah ketemu dan berakhir tragis ... Tunggu aja di [Arc IV], disono bakalan jadi Loli-Land alias Full-Loli Arc :v :v dan Dedek Yuki yang banyak ambil bagian disana #All_Hail_Loli #Hiduf_Lolicon ... Nih, udah lanjut dan yng lawan Kokobibir alias Toothy-kun adalah Mbah Madara-teme dan Mbah Hashirama-dobe.
Name Death Stalker : Sorry bro! Ane dah tovat bikin Lemon-Lemonan, palingan cuma Lime-Lime-an yang ada. Itupun klo mau :v :v :v
Acto Namikaze : Makasih! ... Hina-chan masih rahasian besar. Bisa jadi dia Kushina, Hinata, Hoshina [Upps, ini Dedek ane], OC ataupun Chara DxD. Begitupun dengan statusnya apakah masih hidup atau udah mati, masih rahasia juga ... Hehehe, ternyata ada juga yang menyadari hilangnya suffix -chan pada panggilan Yuki dan Kunou. Itu seperti perubahan Naruto di Fic ini. Itu bakalan terungkap di awal [Arc IV] ... Ane gak bisa janji bisa Update cepat, tapi ane usahain biar cepat.
Aka na Yuki [My Kawai-Imuoto] : Ya, udah tau kan Good Onii-chan seperti apa? Lolicon gitu looooh! Jadi pasti gak jauh-jauh dari kata Loli :v :v ... Horeeeeee, banyak peningkatan! \('0')/ ... Yaps, sedikit berbeda. Tapi, Chapter ini mungkin sama di Chapter 16 ... Makasih udah ngingatin, Dedek Yuki. Kedepannya Good Onii-chan usahain gak ada Typo lagi #Imposibble :v dan juga kalimat yang tidak efektifnya ... Word per-Chapter tergantung Chapter itu sendiri, seperti Chapter ini yang cukup puanjang [7K+] ... Intinya, Dedek Yuki tetap imut [Baik di Fic ini maupun yang asli] :v :v ... Begitulah Dedek Yuki. Good Onii-chan bakalan nistain mereka :v :v ... Oke Dedek Yuki '-')b
StiffMarco : Soryy! Ane buanyak kegiatan pas bulan Puasa ... Soal tempat terdekat dari surga. AN diatas sudah ada penjelasan singkatnya ... Ane gak janji, tapi usahain cepat-cepat! ... Yeah #All_Hail_Loli #Hiduf_Lolicon.
MATA — kantongbolong : Idenya lagi mentok di Scene Sasuke dan Itachi. Ku-usahain secepatnya deh.
Madara's queen : Makasih Uchiha-hime[?] ... Yaps, mereka ketemu di Chapter ini. Berantemnya di Chapter depan ... Oke, Uchiha-hime.
Guest : Bukan. Vatikan tetap Vatikan. Tidak ada yang kuubah! ... Okeeee! ('-')b
ahmad gunawan27 : Gak nentu.
dandidandi185 : Ada... Pairnya Mini-Harem
uzumakinurroni : Ya, mungkin saja hehehe. Kan disana tempat yang mewakili fraksi malaikat... Itu di pending dulu gara-gara mentok di Scen SasuSaku lawan pemuda misterius yang muncul.
Ae Hatake : Noh, di Chapter ini udah kejawab.
Lusy922 : Yang dicari NaruMadaHashi adalah tempat yang diyakini Naruto ada sangkut pautnya dengan Dedek Yuki... Kejawab di Chapter depan ama di KTT 3 Fraksi.
The KidsNo OppAi : Okee... Noh udah kejawab.
Laffayete : Hahah, Typo adalah musuh utama yng sulit dibrantas :v :v ... Datang, kan yng bunuh/menghentikan Kokabiel adalah Madara dan Hashirama... Noh di akhir Chapter terselip 'Happy To Be Continue' :v :v :v
Tenshisha no Hikari : Yaps, ironi di atas ironi :v :v :v
Yang Review Lanjut, Next, sebangsa-nya dan senegara-nya. Nih udah ane Lanjut walau kelamaan.
.
.
Jika ada yang tidak suka dengan Scene terakhir antara Naruto, Rias dan Peeragenya. Silahkan tuangkan di kolom Riview. Bahkan jika ada yang ingin nge-Flame Scene itu... Silahkan, silahkan lakukan sesuka hati. Saya akan menerima dengan tanah lapang penuh dada dan paha—upss, lapang dada maksudnya.
Issue for Next Chapter : Naruto vs Occult Research Club!
Root LoliWoodand Stark Milfbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/
.
.
Oh satu lagi...
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan!
