Di atas langit berjarak lumayan jauh tempat pertarungan antara tiga kubu yang terjadi di Kuoh Akademi. Sosok misterius mengawasi jalannya pertarungan yang kini terbagi menjadi dua. Dilihat dari jarak sosok itu dan Kuoh Akademi yang kira-kira 10 kilometer jauhnya, menandakan jika ia bukanlah mahluk sembarangan. Pandangannya sangat tajam dan efektif sampai-sampai bisa melihat apa yang terjadi di dalam lapisan penghalang biru bersinar terang itu.

Berdiri di depan bulan besar yang bersinar terang membuat tubuhnya hanya nampak seperti siluet manusia tinggi dengan rambut panjang yang melambai-lambai tertiup angin malam.

"Kuatlah, Naruto! Jikalau kau berhasil melalui malam yang sudah kau nanti-nantikan ini. Aku mengakui... Kau yang sekarang, sudah melampaui diriku yang sudah ratusan tahun lamanya tidak pernah merasakan kebahagiaan dan juga. . . ."

Bergeser ke bawah sosok itu. Puluhan Iblis kelas rendah sampai Iblis kelas menengah berserakan dimana-mana pada tanah lapang sudut kota Kuoh. Sosok itu kemudian membuka telapak tangan kirinya, diarahkan menuju puluhan iblis yang ternyata bala bantuan Maou Lucifer yang Akeno minta. Gumpalan energi aneh berwarna ungu seukuran bola voli muncul di depan telapak tangan sosok itu. Sedetik kemudian, benda ungu tak diketahui apa itu hancur beterbangan membentuk sesuatu seukuran kelereng, dan melesat menuju kawanan iblis di bawah.

Lima puluh iblis, dan lima puluh pecahan energi ungu itu tepat sasaran mengenai kepala targetnya. Sebuah pembantaian sempurna tanpa meninggalkan jejak pertarungan sedikit pun terjadi. Hebatnya lagi, tidak ada yang merasakan pancaran kekuatan sosok itu, termasuk Sona dan kelompoknya.

". . . . kekalahan."

Dia berbalik, dan berjalan di atas langit seolah disana terdapat tanah kokoh tempat kakinya berpijak. Meninggalkan kawanan iblis yang sudah hancur tak bersisah terkena serangan brutal namun sangat sempurnanya tadi.

Ternyata, tanpa disadari oleh Naruto. Seseorang telah mengamati pemuda itu selama ini, sampai-sampai masalah dengan Rias pun diketahui. Sebelum menghilang di gelapnya malam. Sosok itu mengeluarkan tawa aneh selama beberapa detik sebelum bergumam menyampaikan sesuatu.

"Aku sudah menghilangkan para pengganggu kegiatanmu. Sampai jumpa di pertemuan kita selanjutnya... Saat kau sudah menyadari bahwa sesuatu yang kau harapkan itu hanyalah. . . . ."

". . . . Ketidakmungkinan yang selalu kau semogakan!"

.

.

.

.

.


Disclaimer: Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas semua yang muncul dalam Fic ini.

Genre: Family, Supernatural, Action, Adventure, Romance and Mysteri.

Warning: AU, Semi-AT, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC (Amat sangat), Adult-Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan, dll.


Arc III: Early and Late.

Chapter 19: Ketidakmungkinan yang selalu disemogakan! — [Naruto vs Kelompok Gremory]


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Haaah, hidup memang merepotkan! Seperti yang dikatakan orang itu." Naruto menghela nafas panjang karena merasa bersalah kepada seseorang yang pernah menasehatinya. "Maaf, selama ini aku salah menilai pendapatmu."

Setelah kepulan debu hasil Madara melompat tadi hilang sepenuhnya. Sosok Naruto akhirnya terlihat di mata Rias dan kawan-kawan, mata pemuda itu setengah tertutup balik memandangi kelompok iblis muda di pinggir lapangan lari Kuoh Akademi, cahaya hangat dari iris biru langit yang sering diperlihatkan kepada orang-orang meredup. Melirik sekilas pertarungan dua anggota keluarganya melawan Kokabiel yang sudah terjadi tepat di tengah-tengah lapangan, Naruto kemudian melompat turun dari gedung dengan gerakan santai.

Mendarat agak kasar pada permukaan tanah hingga muncul sedikit kepulan debu, kemudian berjalan keluar dari sana menuju lokasi Xenovia yang saat ini bersama Knight Gremory. Secara terang-terangan Naruto mengabaikan Issei yang terus sedari tadi mengumpatan kasar hingga membuat sang Sekiryūtei terlihat seperti anjing gila kehilangan ekor saja.

"Oii, dengarkan aku, brengsek!" sekali lagi, Issei berteriak.

"Cih, kau berisik sekali, Sekiryūtei!"

Sambil melayangkan ucapan dengan nada datar itu, Naruto berhenti dan menoleh sejenak ke lawan bicaranya sebelum lanjut berjalan menuju Xenovia. Sesampainya di tujuan, tidak peduli pada iblis muda yang sudah pasti bisa mendengar pembicaraannya dengan Xenovia, Naruto mulai menanyakan beberapa hal ke Xenovia. Mulai dari maksud pemegang Durandal tidak mendengarkan saran dari Irina, lalu kenapa Xenovia tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah Irina diserang dan hal-hal yang tidak jauh dari rencana kecil mereka untuk mengambil kembali tiga pecahan Excalibur yang dicuri.

Seperti yang diharapkan oleh Naruto, beberapa iblis muda disana tersentak kaget mendengar semua ucapannya.

Knight dari Peerage Rias yang berdiri paling dekat dari Xenovia menoleh ke gadis berambut biru itu. "Apa itu benar Xenovia-san? Selain bekerja sama dengan kami, kau dan Shidou-san juga bekerja sama dengan Naruto-san?" tanyanya dengan nada menuntut kejelasan.

"Lebih tepatnya, mereka bekerja untuk kami sebagai rencana cadangan apabila terjadi hal diluar dugaan, seperti sekarang ini..."

Xenovia tidak perlu lagi melanjutkan penjelasan karena Yuuto Kiba sudah mengerti apa yang dimaksud. Jika ingin jujur, Xenovia merasa kerja samanya bersama Irina dengan pihak Naruto tidak membuahkan hasil memuaskan kecuali memberi mereka tempat istirahat, menolong Irina yang sekarat dan juga kemunculan pemuda itu bersama Madara dan Hashirama yang membuat dia dan kelompok ORC terselamatkan dari Kokabiel yang berniat membunuh mereka semua demi terwujudnya Great War jilid II.

Dan sebaliknya, bersama kelompok Gremory. Dia dan Irina lebih banyak menghasilkan informasi yang berharga seperti: terungkapnya dua penghianat dari pihak Gereja yang bekerja sama dengan Kokabiel, adanya korban selamat dari proyek mengerikan beberapa tahun silam dan masih banyak lagi yang sedikit mengubah pandangan Xenovia terhadap fraksi iblis.

Tapi, dibalik itu. Pihak Naruto tidak bisa disalahkan begitu saja. Tugas mereka hanyalah menjamin keselamatan Xenovia dan Irina selama berada di Kuoh dan itu sudah terbukti. Tepat sebelum Irina meregang nyawa di tanah lapang beberapa jam lalu, Naruto muncul dan membawanya ke apartemen untuk dirawat. Mencengkram kuat-kuat gagang Durandal yang dipegang tangan kanannya, Xenovia mulai berbicara pelan tanpa menatap wajah Knight Gremory.

"A-aku minta ma—"

"Kau tidak perlu meminta maaf ke mereka, Xenovia-chan." sebelum Xenovia menyelesaikan, Naruto menyahut cepat memotong ucapan gadis berambut biru dengan nada datar.

"Maksudmu apa, hah? Melarang Xenovia meminta maaf?" raung Issei meminta kejelasan dari pemuda berambut perak gelap itu.

Naruto beralih memandangi sang Sekiryūtei, "Karena seharusnya kalianlah yang meminta maaf, terutama ke Irina-chan." kemudian, dia mengembalikan pandangan ke depan, lebih tepatnya ke Xenovia... "Begitupula denganmu." sambungnya dengan nada memerintah seperti seorang bos besar. Dan bertepatan setelah ia selesai, cahaya keemasan berkumpul di tangan kanannya lalu dihantamkan pada udara kosong sehingga menciptakan semacam portal kecil senada dengan yang terdapat pada tangannya.

"Jadi, kembalilah ke apartemen dan lakukan hal yang kuminta."

Tanpa ijin dari Xenovia, Naruto meraih dan mengcengkram kuat-kuat lengan gadis itu sebelum dilempar masuk ke dalam tehnik teleportasinya. Tepat sebelum tehniknya menghilang, Naruto sangat jelas mendengar Xenovia menguarkan umpatan kasar yang ditujukan kepadanya.

Sebenarnya, Naruto tidak berniat memperlakukan Xenovia seperti itu. Dia bisa saja meminta baik-baik ke gadis itu agar kembali ke apartemen karena mulai detik ini bukan lagi pertarungan yang menyangkut kerja sama untuk mengambil kembali tiga pecahan Excalibur yang dicuri. Namun yang menjadi pertimbangan Naruto adalah: apa Xenovia akan menuruti perintahnya? Ditambah lagi keadaan mental Xenovia yang agak terguncang setelah mendengar berita gugur-nya Tuhan dalam Great War dari mulut Kokabiel.

Menghela nafas ringan sejenak, Naruto kemudian menghubungi mahluk yang bersemayam di dalam tubuhnya melalui telepati. "Baiklah... Mari kita mulai Kurama! Apa kau sudah siap?"

"Aku yang harusnya menanyakan itu, bocah bodoh." mahluk yang diketahui bernama Kurama mendengus, nampak kesal mendengar apa yang barusan Naruto ucapkan. "Apa kau siap melakukan semua yang ada di otakmu itu?"

"Siap atau tidak, tetap harus kulakukan."

"Huh, andai saja dari awal adikmu mengetahuinya. Kuyakin masalah cintamu yang bertepuk sebelah tangan selesai saat itu juga." Kurama membalas dengan nada mengejek diakhiri kekehan pelan saat mengingat kejadian sekitar satu jam sebelum Naruto, Madara dan Hashirama berangkat ke Kouh Akademi. Sesuatu yang membuat Youkai Rubah ini percaya akan kekuatan seorang adik Loli Polos yang mampu melalukan sesuatu, yang bahkan dia dan Madara cukup sulit untuk melakukannya.

Singkat cerita. Sekitar satu setengah jam sebelumnya, hal yang belum pernah Naruto alami sebelumnya terjadi tepat di depan matanya dan secara tidak langsung Kurama juga melihatnya. Hal tersebut ialah Yuki yang tidak mau mendengar setiap ucapan Naruto saat tahu jika sang kakak memiliki masalah dengan iblis—yang menurut pandangannya adalah orang jahat. Detik itu pula dada Naruto terasa sesak melihat adiknya meneteskan air mata yang menyiratkan perasaan sedih, khawatir, takut dan kecewa karena permasalahannya dengan Rias yang terbongkar akibat mulut ember Hilda.

Dari kejadian singkat itu pula Kurama menarik kesimpulan bahwa Yuki yang mampu merubah sosok Naruto. Air mata ke-sedihan, khawatir, takut dan kecewa dari sang gadis Loli bagaikan anti-virus bagi kakaknya yang terjangkit virus cinta. Naruto yang awalnya sangat-sangat-sangat sulit melenyapkan perasaannya ke Rias Gremory, bahkan setelah dibuat berjanji oleh Madara. Semua itu dikarenakan setiap kali dia bertatap muka dengan Rias perasaan itu selalu muncul. Itu terbukti dari peringatan yang diberikan kepada sang Heiress Gremory mengenai status Yuuto Kiba beberapa jam sebelumnya di tanah lapang sudut kota Kuoh... Waktu itu, Naruto tidak ingin Rias kehilangan anggota keluarganya.

Namun...

Sekarang ini, Naruto sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan menimpa Rias beserta Peerage-nya. Dia sudah berjanji di depan sang adik dan juga Madara untuk menyelesaikan semunya hingga tuntas. Sesaat setelah ia meninggalkan Yuki menangis tanpa suara dalam kamar tempat Irina terbaring tak sadarkan diri.

"Ya, mungkin saja benar kau Kurama..."

"Hahahahahah..." eksistensi berkekuatan setara dengan seorang Maou di dalam tubuh Naruto tertawa keras layaknya orang gila. "Sungguh, semua yang sudah kau alami membuat perutku sakit Naruto..."

"...Satu perhatian kecil yang diberikan oleh Rias Gremory kepadamu beberapa tahun lalu adalah awal dari perjalanan cinta bertepuk sebelah tangan yang akhirnya terhenti oleh air mata adikmu. Benar-benar kisah yang patut diberi perhargaan... Hahahahahah~~" dan tawa Kurama kembali berkumandang khidmat dalam tubuh Naruto yang membuat sang empunya sedikit kesal.

"Cih, diam rubah sialan!"

"Haha...ha...ha... baik, baik. Aku diam bocah sableng." terdengar sangat jelas sesaat setelah membalas perintah dari Naruto, Kurama mendengus kesal.

"Ngomong-ngomong tentang Yuki. Kuyakin saat ini ia sedang duduk di ruang tengah menunggu kepulanganku dengan Teme dan Dobe-ossan." pikir Naruto sambil membayangkan adiknya melakukan apa yang baru saja dia bicarakan.

Namun betapa salahnya Naruto karena yang terjadi di apartemen tidak seperti yang ada dalam pikirannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Keparat kau Naruto-san!" Xenovia tidak dapat menahan dirinya untuk menyumpahi pemuda yang baru saja menarik lengan kirinya kemudian dilempar masuk ke cahaya aneh keemasan tadi. Kemudian, dia mengedarkan pandangan untuk mencari tahu tempatnya sekarang. Cat dominan putih dan furniture bergaya modern tertangkap mata kuning gadis itu yang artinya ia saat ini berada di—

"Xenovia-san?"

Suara imut cetar membahan dari arah belakang itu mengajetkan sang pemegang Durandal. Saat berbalik, seorang gadis imut-cantik-menggemaskan berambut putih panjang menatap ia dengan wajah polos penasaran. Ya, karena sifat Xenovia yang agak dingin, membuat Yuki tidak menambahkan embel-embel [nee] seperti Irina.

"Yuki?"

Gadis yang tadi memanggil Xenovia mengangguk dengan wajah semi-polosnya yang terlihat kebingungan. Gadis itu—Yuki bingung gadis berpakaian agak terbuka yang dominan hitam tiba-tiba muncul dari tehnik yang dia ketahui milik kakaknya. Tak berselang, datang gadis lain yang lebih dewasa dari Yuki. Gadis berambut abu-abu bernama Hilda datang disertai wajah tertekuknya menghampiri dua gadis itu di ruang tengah.

Mengabaikan Hilda yang langsung mengomel tidak jelas tentang dewa Jashin-nya. Yuki kembali berbicara.

"Anoo, Xenovia-san dari mana saja? Kenapa tidak bersama Irina-nee?"

"Bukan urusanmu." dengan nada datar ditambah ekspresi dinginnya, Xenovia menjawab sembari bangkit berdiri menggunakan pedang Durandal miliknya sebagai bantuan. Entah masih marah dengan tindakan Naruto ataukah syok dengan berita kematian Tuhan yang membuatnya seperti ini. "Mana Irina?" tanyanya kemudian.

Yuki hendak menjawab, namun didahului oleh Hilda. "Oii, Jalang! Jaga nada bicara dan ekspresi wajahmu di depan Yuki-chwan!" Hooh, Hilda nampaknya tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Sudah cukup dia dibuat seperti ini oleh Madara yang tidak mengijinkan dirinya ikut dalam pertempuran, padahal sudah sangat lama Jashin-sama tidak menerima persembahan darinya. Dan juga, Xenovia merupakan salah satu alasan ketidak-ikut sertaannya bersama yang lain. Madara memberinya tugas menunggu berambut biru itu di apartemen.

"Memang ada masalah dengan itu, hah, wanita brengsek?!" balasan tidak kalah tajamnya dilontarkan Xenovia.

"Tentu saja masalah buatku. Yuki-chwan itu adik imutku, aku tidak suka dia diperlakukan seperti tadi dan alasan lainnya tidak perlu kujelaskan. Jadi, bersiaplah menjadi persembahan untuk Jashin-sama." entah berasal dari mana, senjata berupa sabit panjang tiga mata muncul di punggung Hilda. Wajah tertekuknya tadi sudah menghilang tergantikan ekspresi bak dewa kematian yang disertai seringai mengerikan. Diambil'lah sabit itu dan ujungnya dia arahkan ke Xenovia.

Gadis berambut biru tidak mau kalah, Pedang Suci Durandal miliknya pun ikut diarahkan ke depan. Aura tidak enak yang terasa berat mulai memenuhi ruangan. Keduanya sama-sama mengumbar tekanan pembunuh lumayan besar yang membuat gadis penyebab terjadinya perselisihan kecil ini kesulitan bernafas. Dengan susah payah, sang gadis berujar menghentikan kedua mahluk mengerikan, nan merepotkan itu.

"He-hentikan, Hilda-neecahan, Xenovia-san!"

...

"Cih! Kau beruntung kali ini. Suasana hatiku sedang kacau." Xenovia mengeluarkan decihan tidak suka dan berbicara seolah dirinya mampu mengalahkan Hilda. Menarik kembali Durandal dan beranjak meninggalkan ruangan atau lebih tepatnya berniat meninggalkan apartemen Naruto untuk pergi ke suatu tempat. Saat berada di ambang pintu menuju ruang tamu, tatapan tajam penuh intimidasi dia kirimkan ke Hilda.

Namun, tidak memberikan efek sama sekali pada gadis berambut abu-abu. Itu karena... "Kenapa kau menghentikan kami, Yuki-chwan? Padahal aku mau menjadikan dia persembahan untuk Jashin-sama. Hmmpt!" sepeninggal Xenovia, Hilda tiba-tiba berubah seperti anak kecil yang merengek kepada ibunya, sabit bermata tiga [Sanjin no Ōgama] miliknya pun sudah dihilangkan. Lawan bicaranya cuma menggembungkan pipi sehingga terlihat imut, kemudian membalas dengan nada cemberut.

"Moou... Hilda-neechan sih, selalu saja mau berkelahi sama seperti Onii-chan dan Maddi-niichan, sih."

"Hey, hey. Aku tidak seperti mereka. Aku cuma ingin memberi persembahan ke Jashin-sama kalau tidak, aku bisa dikutuk."

"Dikutuk? Dan siapa itu Jashin-sama, Hilda-neechan?" Yuki memiringkan kepala, ia bingung. Ini sudah kesekian kalinya mendengar nama dewa itu terlontar dari mulut Hilda yang tentu saja disertai kata persembahan yang membuatnya penasaran. Itu karena, nama dewa itu tidak ada dalam cerita Naruto mengenai dunia ini beserta mahluk-mahluk penghuninya.

Mendengar pertanyaan itu, rencana busuk bagi Madara dan Naruto muncul dalam otak Hilda. Sambil menyeringai, Hilda berbicara. "Kau yakin ingin tau siapa Jashin-sama?" Yuki mengangguk antusias sehingga semakin memperlebar seringai Hilda. "Yosh! Kalau begitu, akan kuceritakan siapa Jashin-sama di kamar tempat gadis menyebalkan itu pingsan."

Kedua gadis itu pun beranjak menuju kamar tempat Irina terbaring pingsan di lantai dua. Selama perjalanan, Hilda membayangkan dirinya bersama Yuki menyembah-nyembah Dewa Jashin di atas simbol aliran Jashin-sama pada lantai. Khukukuku~ Ternyata ditinggal pergi oleh dua lelaki pengidap Siscon tidak hanya meninggalkan kekesalan saja, ada juga kesenang yang akan terjadi karena tidak adanya mereka berdua pikiran semi-polos Yuki bisa dimasukkan sedikit ajaran Dewa Jashin.

"Fufufufufufu... Jashin-sama, pengikut anda akan bertambah!" kira-kira begitulah pikiran nista gadis berambut abu-abu ini diiringi tawa liciknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebelah barat lapangan utama Kuoh Akademi... Aura tidak mengenakkan mulai berkumpul di sana. Sekitar satu menit setelah Naruto memutus komunikasinya dengan Kurama, dia mulai memprovokasi Rias beserta anggota ORC, terutama sang Sekiryūtei yang menjadi targer utamanya.

"Oh, ayolah? Untuk apa juga aku memberitahukannya? Kuyakin otakmu yang cuma berisi payudara, payudara, payudara dan payudara itu tidak akan paham." Naruto menggerakkan tubuhnya yang sejak tadi terasa kaku karena terlalu lama berbicara dengan Xenovia dan Kurama.

"Kau harus tahu satu hal, bangsat..."

"Apa itu?"

"Dari awal aku sudah curiga kau berniat melakukan sesuatu. Itu dimulai saat aku menemui klien-ku dan kau tiba-tiba ada disana. Dan kecurigaanku semakin bertambah saat kau muncul dan membawa kabur Irina entah kemana." Issei memberi jeda sejenak, kemudian menunjuk wajah Naruto dengan tangan kanannya. "Jadi, katakan saja apa yang kau inginkan dari Irina dan Xenovia, bangsat! Apa itu tubuh mereka? atau Pedang Excalibur untuk membalas perbuatan Bochou menculik adikmu, hah? Cepat katakan, bangsat!"

"Hahahahahah," tawa Naruto langsung pecah tatkala mendengar perkataan panjang lebar dari pemuda yang berdiri cukup jauh darinya. "Tubuh mereka? Untuk apa juga aku menginginkannya. Ya walaupun kuakui, Irina-chan termasuk gadis tercantik yang pernah kutemui dan mungkin saja aku menginginkannya setelah malam ini berakhir. Siapa yang tahu, bukan? Kadang kala perasaan muncul secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan kita..."

"...hanya karena perhatian kecil dari orang yang memunculkan perasaan itu." karena tidak ingin orang-orang disana mendengar isi kepalanya, kalimat terakhir tadi cukup dia ucapkan dalam hati saja. "Lalu Pedang Excalibur? Tanpa pedang suci saja aku bisa mengalahkan kalian semua. Asal kau tahu, semua yang kulakukan hari ini tidak ada hubungannya penculikan Yuki atau kejadian dua minggu lalu. Ini murni demi tujuan kecil kami."

"Tujuan? Jangan bilang untuk—"

"Jangan memaksakan otakmu bekerja di luar batas memikirkannya, Issei-san. Walaupun kau bisa menebaknya, sampai kapan pun kami tidak akan memberitahukan benar atau tidaknya tebakanmu itu."

Mengeluarkan decihan kesal dari mulutnya, Issei mengepal tangan kiri berbalut [Boosted Gear] miliknya hingga terdengar suara besi bergesekan. "Kalau begitu, akan kupaksa kau mengatakannya, bangsat!" Issei memposisikan tangan kirinya di depan dada, kemudian berbicara dengan mahluk yang bersemayam di dalam tubuhnya. "Ddraig, ayo kita buat dia babak belur."

[Kau yakin ingin melawannya, partner? Kau hampir mencapai batasmu setelah melawan gagak tadi.]

"Tentu saja. Apapun akan kulakukan untuk mencari tahu dimana dan apa tujuan membawa Irina. Walau harus mengorbankan tubuhku sendiri!" Issei sudah membulatkan tekahnya. Selama tubuhnya masih bisa digunakan untuk bertarung, maka dia akan menggunakannya. Demi teman masa kecilnya, dan juga membalas apa yang sudah Naruto lakukan kepada rekan-rekannya terutam sang ketua dua minggu yang lalu.

[Hahahahaha, aku suka tekad besarmu itu! Baiklah, akan kubantu kau, Partner.]

"Terima kas—"

"Dari percakapanmu barusan, aku tahu apa yang ingin kau lakukan dan dengan senang hati..."

Belum sempat Issei mengucapkan rasa terima kasihnya, dia harus dipaksa menerima pukulan telak yang membuat punggungnya terdorong ke belakang, dan juga memuntahkan banyak air liur. Dengan ekspresi wajah yang menahan sakit, Issei mendongak, menatap wajah sang pemukul yang ternyata adalah Naruto. Naruto memanfaatkan momen singkat ketika dirinya berbicara dengan Ddraig untuk merangsek ke hadapannya dan melancarkan pukulan tadi.

"...akan kukabulkan keinginanmu!" tuntas Naruto diiringi seringai tipis yang terpantri di wajahnya.

Kiba, Akeno dan Asia, bahkan Rias yang tengah berkutat dengan pikirannya sendiri, langsung meneriaki nama pemuda pewaris [Boosted Gear] dengan wajah khawatir. Dan belum cukup sampai disitu saja, Naruto segera berjongkok dan melancarkan sapuan yang menghantam kedua kaki Issie. Saat posisi pemuda di depannya melintang horizontal di udara, Naruto memanfaatkan momen singkat itu, dia menghentakkan kaki kuat-kuat hingga melayang, memutar tubuh 360 derajat dan melancarkan tendangan kuat kaki kanan yang tepat menghantam perut Issei.

Hasil dari serangan kombo Naruto membuat Issei terlempar, menghantam tanah beberapa kali dan terseret beberapa meter sebelum dihentikan lajunya oleh Kiba yang entah kapan sudah berada di belakangnya. "Terima kasih, pemuda cantik!" ucap Issei sembari melepaskan diri dari pelukan Kiba.

"Cukup Naruto!" tidak jauh dari posisi Issei dan Kiba. Rias akhirnya mengeluarkan suara. "Aku tidak peduli apapun tujuan kalian. Tapi, jika kau menyakiti keluargaku. Kau tidak akan pernah kumaafkan!" ucap Rias. Tadi, dia sempat berpikir untuk segera meninggalkan Kuoh Akademi dan melepaskan tanggung jawabnya melindungi Kouh dari rencana busuk Kokabiel dengan bayaran Great War jilid dua akan pecah.

Namun, melihat Pawn satu-satunya, pemuda yang sejak dia reinkarnasi menjadi anggota ORC menarik hatinya diserang Naruto, sama seperti dua minggu lalu. Persetan dengan Great War jilid dua, Rias sudah tidak tahan lagi! Dan itu memaksa dia mengambil keputusan berat. "Akan kubuat kau membayar semuanya, termasuk tindakanmu malam itu, Naruto!"

"B-Buchou, apa ini tidak salah?" Akeno yang sedari tadi hanya diam sebagai penonton ikut angkat suara, ingin memastikan apa yang dia dengar. "Pikirkan baik-baik! Koneko-chan terluka, dan kita berdua hampir kehabisan sihir dan kekuatan iblis."

"Aku—"

"Bagus!" teriakan dari Naruto membuat Rias tidak sempat mengeluarkan balasannya. "Inilah Rias Gremory yang kukenal setelah menerima Evil Piece-nya. Mari kita buat tarian malam ini tidak pernah kulupakan!" setelah teriakan tanda dirinya menantang anggota ORC, Naruto memperbaiki posisinya. Sekilas, Naruto melirik Rias yang nampak memandang marah ke arahnya. Kemudian, perhatian Naruto ke pertarungan lain yang terjeda sebentar karena Kokabiel terbang menjauhi Madara dan Hashirama.

"Ini akan menjadi malam yang panjang, Madara-teme, Ossan..."

"Dan kupastikan ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya..."

.

#Scene Break#

.

Tepat setelah itu, lonjatan energi Senjutsu terjadi di lokasi Naruto. Tidak tanggung-tanggung, semua energi alam yang disimpan oleh pemuda itu dikeluarkan semua, tanda bahwa tidak main-main untuk mewujudkan tarian yang tidak akan pernah ia lupakan. Sebelum memulai, Naruto kembali memandangi semua iblis muda disana. Rias dan Issei yang menampakkkan kemarahan, Kiba yang senantiasa memasang wajah seriusnya, wajah kebingungan Akeno dan Asia yang memasang wajah khawatir sembari memulihkan kondisi Koneko.

"Jadi, apa yang kalian tunggu? Sebuah undangan'kah?" Naruto memainkan jari telunjuk tangan kirinya, menantang iblis muda yang masih mampu melakukan pertarungan di sana. Sedangkan tangan satunya ia masukkan ke dalam saku mantel biru gelap yang dikenakan.

"Aku tidak butuh undangan untuk menyerang! Bersiaplah!" sebuah pernyataan orang yang tak kenal kata menyerah. Dan tanpa pikir panjang setelah mengutarakan hal tersebut, Issei berlari menuju Naruto, mengabaikan teriakan anggota ORC yang hendak menghentikannya. Tangan kiri yang terbalut Boosted Gear dia pakai untuk melancarkan serangan. Namun dengan mudahnya Naruto menghindar masih dengan tangan kanan berada di saku mantel.

Mata Issei berkilat tajam sesaat tatkala melihat wajah Naruto yang seolah-olah meremehkan dirinya. Segera, dia memutar tubuh setelah kaki kirinya menapak tanah, sembari berputar dia menangkat tinggi-tinggi kaki kanannya, berharap kepala Naruto tidak dapat menghidarinya.

"Hanya ini?" pertanyaan meremehkan itu keluar dari mulut Naruto. Dia tidak menghindar, melainkan menahan kaki Issei memakai tangan kirinya yang bebas menggantung setelah dipakai untuk memancing anggota ORC untuk maju.

Bukannya membalas, Issei malah memperlihatkan seringai tipis. Tepat di atas mereka, sedikit dibelakang Naruto. Yuuto Kiba muncul disertai Holy Demon Sword yang siap menebas pemuda berambut perak itu.

"Enkai." Api berintensitas lumayan banyak tiba-tiba saja menguar dari bawah kaki Naruto kemudian melahap seluruh anggota tubuhnya beserta Issei yang memang berada sangat dekat. Hal tersebut memaksa Kiba mengurungkan niat untuk menyerang dan memilih menyelamatkan pemuda berambut coklat itu dari siksaan api panas milik Naruto.

Muncul bersamaan tidak jauh dari lokasi Naruto, Issei menatap Kiba di samping kirinya. "Cih, hampir saja. Sekali lagi, terima kasih Kiba." dan seperti biasa, Cassanova Kuoh Akademi hanya memperlihatkan senyum menawan.

"Setelah semua yang terjadi malam ini dan kemarin-kemarin. Aku bersumpah akan melindungimu dari siapapun yang mengincarmu. Bukan hanya itu saja, aku juga akan membantumu seberat apapun masalah yang kau hadapi..." di sela-sela pidato bijaknya, Kiba mengalihkan perhatiannya ke sang lawan baru malam ini. "Sangat sulit untuk mengatakan ini pada orang lain... Kau sudah menyelamatkanku. Aku tidak bisa menyebut diriku sebagai Knight Gremory lagi jika tidak bisa membalas budi. Dan juga. Setelah ini, aku akan meminta maaf kepada kalian secara langsung, terutama kepada Bochou." wajah tampan semi-cantik Kiba memperlihatkan keseriuasan serta tekad besar dari kata-katanya.

Issei tertegun setelah Kiba selesai berbicara, awalnya pikirannya yang hanya didominasi hal mesum mengira pemuda pirang itu hendak menyatakan perasaan ke dia, Hah? Ya, mengingat Kiba tidak pernah tertarik dengan lawan jenis yang berarti seorang homo. Issei segera mengangguk dan tersenyum, kemudian ikut memandang Naruto. "Baiklah. Mari kita hajar brengsek itu!"

"Ara-ara."

"A-Akeno-san?! Ja...jangan-jangan kau juga—" Issei menoleh ke samping saat telinganya menangkap gumaman khas dari wakil ketua ORC.

"Ufufu... Tentu saja. Mana mungkin aku membiarkan dua junior imutku ini melawan orang kuat sepertinya. Benar'kan, Buchou?" nampaknya, Akeno sudah memutuskan untuk ikut serta, walau pada awalnya agak ragu. Ini semua terjadi setelah Rias menjelaskan alasan untuk melawan Naruto ke dia. Ketuanya memanfaatkan situasi ketika Naruto sibuk meladeni Issei untuk berbicara dengannya.

"Ya, itu benar." Rias pun ikut bergabung dalam barisan, mengambil posisi tepat di samping kanan sang Sekiryūtei. "Jadi, sekarang. Kalian semua, perlihatkan kepadanya kekuatan dari Klub Penelitian Ilmu Gaib."

"Ha'I, Buchou!"

"Hoho, kekuatan dari Klub Penelitian Ilmu Gaib? Apa itu, semacam kerja sama melawan musuh?" dua pertanyaan bernada meremehkan itu keluar dari mulut Naruto. "Kalau begitu, apa sekarat bersama-sama juga termasuk 'kerja sama'?"

"Keh, kau seperti muka tripleks itu saja Naruto, suka meremehkan kekuatan orang lain." Kurama tiba-tiba menyela yang sontak dibalas kekehan dari kontenernya.

"Ya. Memang benar aku sama seperti Madara-teme. Diantara kelimanya, dialah yang menurutku paling banyak memberikan pelajaran." paling banyak memberi pelajaran, namun tidak semuanya berpengaruh terhadap kepribadian Naruto. Karena bagi sang Youkai, pelajaran dari Madara hanyalah tentang bertarung dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, begitupula dengan mendiang Tobirama. Berbeda dengan mendiang Izuna, Hashirama dan Jiraiya.

"Jangan samakan dengan dua minggu yang lalu, Naruto—"

"Cukup basa-basinya dan mari kita mulai saja!" sambil menyela Rias yang tengah berbicara, Naruto merangsek maju. Berlari beberapa meter sembari menghisap api yang berada di sekitar tubuhnya.

[Kōen no Hōkō]
(Brilliant Flame's Roar)

Rias bersama Akeno mengeluarkan sayap iblis mereka dan terbang ke atas menjauh dari api yang baru saja dimuntahkan oleh Naruto. Issei dan Kiba lain lagi, mereka berdua melompat ke arah berbeda, kemudian bersamaan melakukan gerakan maju dengan kecepatan masing-masing.

Diapit dari dua arah yang berada. Naruto yang sudah menggunakan seluruh energi alam di tubuhnya dengan mudah menghindari serangan pembuka dari kedua pemuda yang menyerangnya, Kiba dengan tebasan horizontalnya dan Issei yang melancarkan pukulan lurus tangan kiri. Pertarungan jarak dekat yang begitu sengit pun terjadi di atas permukaan tanah. Sementara di atas udara, Rias dan Akeno mencari celah kecil untuk menyerang.

"Akeno!" melihat dua pemuda di Peerage-nya mengambil tindakan mundur sementara dari pertarungan, Rias memberikan perintah, tidak lupa menciptakan lingkaran sihir.

Sang Gadis Miko mengangguk paham dan ikut menciptakan lingkaran sihir Gremory yang berbeda warna dari milik ketuanya.

Dua serangan berdaya hancur cukup kuat melesat ke bawah, menargetkan pemuda yang kini mendongak, memperlihatkan ekspresi netral di wajahnya. Power of Destruction milik Rias yang pertama menghantam lokasi Naruto, disusul petir Akeno yang menyebabkan ledakan besar disertai kepulan debu yang langsung muncul setelahnya.

"Ara-ara, berhasil menghindar rupanya." kedua tangan Akeno kembali teraliri petir melihat dua kawah besar di sisi kiri dan kanan lawan mereka. "Buchou, ini serangan terakhirku." tidak bisa dipungkiri lagi jika Akeno sudah hampir kehabisan sihir. Maka dari itu, dia dengan jujur dan sedikit kecewa memberitahukan hal tersebut.

[Raikohou]

Serentetan petir kembali menghujani lokasi Naruto, menciptakan ledakan beruntun yang anggota ORC yakini satu dari sekian banyak serangan itu ada yang mengenai target. Selang beberapa lama, beberapa pasang mata dipaksa membulat sempurna. Dari kepulan debu Naruto melompat keluar dalam keadaan 'cukup baik', hanya ada luka bakas yang masih berasap di lengan kirinya. Dan yang membuat mata mereka membulat adalah arah lompatan pemuda itu mengarah ke Akeno yang sangat rentan terkena serangan.

Rias segera terbang menuju lokasi Queen-nya. Namun terlambat beberapa detik saja karena Naruto sudah tepat berada di atas Akeno dengan gesture tubuh siap melakukan tendangan salto, ditambah kobaran api yang menyelimuti kaki kanan.

"Kagizume." tanpa memandang sang lawan yang seorang gadis, Naruto mendaratkan tendangan tepat di punggung Akeno. Ledakan kecil yang terjadi seketika membuat Akeno melesat cepat menuju posisi Issei yang memang adalah strategi Naruto sengaja mengarahkan efek serangannya ke sana.

"Haaaaaaahhhh...!"

"Akeno!"

"Akeno-san!"

Setelah melancarkan serangan, Naruto menyulut api di kedua tangan sembari memperbaiki posisi tubuhnya. Kedua tangannya kemudian diarahkan ke atas, membuka telapak tangan sehingga api di masing-masing menyatu dan terkompres menjadi sesuatu yang padat.

[Kōen no Hōtengeki]
(Brilliant Flame's Heavenward Halberd)

Sesuatu padat yang berasal dari kompresan api di kedua lengan Naruto dilempar menuju ke lokasi Issei yang sudah menangkap tubuh Akeno sebelum menghantam tanah. Dalam pelukan 'tidak sengaja' Issei, Akeno mendongak, begitupun dengan Issei setelah mendengar peringatan tanda bahaya dari Rias dan Kiba. Dan untuk kedua kalinya dalam rentan waktu yang cukup dekat, mereka berdua harus melebarkan mata.

Tepat di hadapan mereka—sedikit di atas, kira-kira berjarak 10 meter dan terus melesat bak peluru kendali, sebuah tombak besar yang terbentuk dari api mengarah tepat ke Issei dan Akeno. Tidak tahu ingin berbuat apa lagi, keduanya pun pasrah dan... Ledakan lumayan besar akhirnya terjadi membentuk kubah orange yang di dalamnya Issei dan Akeno terpanggang.

Peerage Rias yang tersisah hanya bisa berteriak dilingkupi kemarahan dan kekhawatir melihat nasib dua rekan mereka.

"Satu sudah tumbang..." Naruto berujar datar sembari menatap hasil karyanya.

"Naruto... Kau tidak akan pernah kumaafkan. Tidak akan!" Rias yang biasanya tenang dan penuh rasa percaya diri, kini tidak dapat lagi mempertahankan dua hal tersebut. Melakukan gerakan agresif di udara diakhiri dengan terciptanya lingkaran sihir merah di hadapannya... "Enyahlah dari dunia ini!" dia berteriak penuh amarah, energi merah hitam dalam massa cukup besar keluar dari lingkaran sihir tadi, menargetkan Naruto yang dalam keadaan melayang ke bawah.

Mimik wajah Naruto sama sekali tidak berubah, api yang sama kembali muncul di bawah telapak kakinya. Digunakan sebagai alat pelontar menghindari Power of Destruction itu, lalu terbang meninggalkan jejak api di langit menuju lokasi Rias.

Sang Heiress Gremory tidak tinggal diam. Dia segera bermanuver ke segala arah untuk menghindari kejaran Naruto. Sembari meliuk-liuk di atas Kouh Akademi, Rias melirik ke bawah dimana Knight-nya berada. Segera, dia menukik tajam kebawah, melirik kebelakng dan Naruto masih saja mengejar dirinya. "Yuuto, sekarang!"

Setelah memberi komando, Rias kembali berubah haluan ke atas. Sementara iblis muda yang dikomando segera menghilang dan muncul tepat di hadapan Naruto disertai pedang hitam beraksen tulisan-tulisan merah tanda adanya kutukan disana.

"Mudah sekali ditebak." detik-detik terakhir sebelum pedang Kiba membelah batok kepalanya, Naruto memutar tubuh yang dalam terbang horizontal. Ketika pemuda semi-cantik tepat berada di sampingnya, dia berniat melancarkan sebuah tendangan.

Namun...

Ledakan maha dasyat dari arah utara Kuoh Akademi mengirimkan gelombang kejut tidak kalah kuatnya dari ledakan itu sendiri (Serangan Light Spear seukuran bus sekolah Kokabiel) memaksa serangan tersebut tidak terjadi. Naruto, Rias, dan Kiba langsung terhempas secara bersamaan dan menghantam gedung besar disana. Asia dan Koneko hanya berguling-guling beberapa meter. Sedangkan Issei dan Akeno cukup beruntung. Berkat kawah bekas serangan Naruto, mereka berdua terselamatkan.

Selang beberapa lama, efek ledakan maha dasyat tadi menghilang. Mengerjap beberapa kali, Hyoudou Issei tahu dirinya habis terkena serangan Naruto bersama Akeno. Saat menoleh ke sebelah kiri, dia tersentak melihat Akeno berbaring tak sadarkan diri penuh dengan luka bakar di sekujur tubuh. Mengggertakan giginya kuat, perlahan tapi pasti Issei mulai bangkit dan berjalan tertatih-tatih menaiki pinggiran kawah.

"Asia, Koneko-chan..." kemarahan sang Sekiryūtei mulai terlihat dari wajahnya melihat dua gadis yang dia sebut mengalami hal yang sama, kecuali luka bakar. Pandangannya kemudian teralihkan, dia mendengar suara seseorang yang merintih kesakitan dari arah bangunan tidak jauh darinya. "Kiba, dimana Buchou?" tanya Issei dengan suara seraknya.

"Tidak tahu..." jawab Kiba seadanya. Memang, saat terkena gelombang kejut tadi, Kiba fokus untuk menghindari hantaman sehingga pandangannya dari Rias sedikit teralihkan. "Setelah ledakan tadi—"

Ledakan pada lantai dua gedung dibelakang Kiba mengalihkan perhatiannya bersama Issei. Dari debu bekas ledakang tersebut Rias terlempar keluar, mendarat cukup kasar di permukaan tanah kemudian ambruk. "Ouch, ouch... Itu tadi lumayan sakit." dengan satu kali kibasan tangan kanan, kepulan debu menghilang dan menampakkan sosok yang berbicara tadi. Sosok itu—Naruto, mengalihkan perhatiannya ke utara dan menghembuskan nafas ringan. Chakra dan energi kehidupan dua anggota keluarganya masih dapat dia rasakan melalui sensor Senjutsu.

"Syukurlah mereka tidak mati. Huh, bikin khawatir saja."

.

.

.

.

.

.

.

Di luar Kekkai, tepat di lokasi gerbang masuk Kuoh Akademi. Kelompok OSIS terus-menerus mempertahan Penghalang yang mereka ciptakan. Walau'pun beberapa diantaranya sudah mencapai batas. Contohnya saja Saji, satu-satunya laki-laki di kelompok itu. Untungnya, ledakan besar beberapa saat yang lalu tidak sampai hancur.

"Hyoudou. Aku serahkan padamu, bro."

"Kau tidak mendengar perintah Kaichou, Saji. Fokus dan percayalah, Rias-sama dan yang lain bisa menanganinya."

"Baik Fuku-Kaichou." Saji yang tadinya menundukan kepala langsung ditegakkan. "Tadi Kaichou. Sekarang Fuku-Kaichou yang mengatakan itu." pikirnya lesuh.

Di ujung paling kanan, ketua dari kelompok OSIS menoleh ke kiri. "Tsubaki dan aku masih mampu, tapi yang lainnya mulai kehabisan sihir." pikirnya lalu mengembalikan pandangannya ke depan. Gadis berkacamata itu kembali berharap... Berharap sahabatnya mampu bertahan sampai bantuan yang dimaksud Akeno tiba sebelum keadaan semakin memburuk. Namun, apa yang diharapkan oleh Sona tidak akan pernah terjadi.

Bala bantuan yang dikirim Maou-Lucifer, sudah habis dibantai seseorang beberapa saat yang lalu tanpa sepetahuannya.

"Rias..."

.

.

.

.

.

.

.

Dalam keadaan tengkurap, Rias menatap Issei yang sejak dirinya ambruk menundukan kepala. Permata hijau pada bagian punggung tangan kiri pemuda itu mulai berkedip-kedip, seolah merespon perasaan dari sang pemilik Sacred Gear tersebut sekarang ini.

Seperti yang diperkirakan oleh Naruto, serangan [Kōen no Hōtengeki] tadi tidak akan membuat sang Sekiryūtei tumbang. Butuh lebih dari itu, seperti [Guren Bakuenjin] contohnya. Melompat turun dari lubang pada lantai dua, Naruto langsung menoleh ke Issei setelah mendarat. "Lihatlah, Issei-san! Apa yang kutanyakan dua minggu lalu mulai memperlihatkan jawabannya. Kekuatan kalian terutama kau, yang sekarang ini belumlah cukup untuk melindungi Rias-chan. Bahkan setelah Kiba-san membangkitkan Balance Breaker apalah namanya itu."

"Diam, bangsat!" Issei menyela ucapan Naruto, sambil menundukan kepala. Tanpa sadar karena emosinya yang meningkat, aura merah kental mulai bermunculan dari sarung tangan merahnya, tumpah dan menyelimuti tubuhnya secara perlahan-lahan. Sacred Gear berubah karena kemauan pemiliknya, begitupula dengan [Boosted Gear] milik Issei. "Aku... Aku... Aku..."

"Kau kenapa? Ingin mempersiapkan kata-kata perpisahan untuk Irina-chan, Rias-chan dan yang lain kah? Atau—"

"Kubilang diam! Aku akan membuatmu membayar semuanya, Naruto..."

[Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost]

[Welsh Dragon Over Booster]

Aura merah kental di sekitar tubuh Issei meledak hingga menciptakan retakan pada tanah tempatnya berpijak. Bahkan Naruto dan Kiba sampai terdorong beberapa meter terkena hempasan aura merah tadi. Setelah efek ledakan menghilang, Issei kini terbalut armor naga merah yang disekelilingnya menguar-nguar aura berwarna senada.

[Welsh Dragon, Balance Breaker!]

"Balance Breaker?!" Rias berujar dengan nada terkejut setelah mendengar suara yang dia ketahui berasal dari naga di dalam tubuh Issei. Seandainya situasi tidak seburuk ini, dia bisa berbangga diri karena untuk kedua kalinya, Issei mampu mengaktifkan gerakan terlarang dari Sacred Gear miliknya.

"Hoho, jadi ini Balance Breaker dari [Boosted Gear]. Menarik juga, huh."

"Teruslah mengoceh tidak jelas bangsat. Akan kubuat kau babak belur sampai mengatakan dimana Irina berada, bangsat!" Issei langsung melesat menuju lokasi Naruto, berkat roket pendorong di punggungnya berdampak kecepatan miliknya sedikit meningkat.

"Majulah dengan semua yang kau miliki, Sekiryūtei!" Naruto ikut merangsek ke depan, menggunakan cara yang sama ketika terbang. Beberapa meter sebelum dia dan Issei saling bertemu, ia menyelimuti kepalan tangan kanannya dengan api Kurama.

Suara dentuman disertai dua aura berbeda yang saling beradu tercipta ketika dua kekuatan dari ras berbeda itu bertemu. Ketika saling beradu pukulan, Sacred Gear Issei kembali menggandakan kekuatan sang pemilik beberapa kali sehingga membuatnya unggul. Tangan kanan terbalut besi merah crimson itupun menghantam tepat di wajah Naruto. Terlempar, guling-guling di tanah sebelum memperbaiki posisi dan terseret beberapa meter harus dialami oleh pemuda berambut perak itu.

"Jangan lari kau, bangsat!" Issei kembali melesat bak peluru kendali, memburu target hingga hancur.

Naruto mengankat kepalanya, diarahkan ke depan dalam posisi berjongkok, sejurus kemudian kaki kanannya yang sedikit kebelakang dihentakkan kuat-kuat hingga meninggalkan retakan besar disertai kerikil yang beterbangan. Dia tidak langsung menyerang saat berada di depan Issei, melainkan menunggu pemuda itu melakukan serangan. Dia tahu, beradu pukulan bisa jadi membuahkan hasil yang sama seperti sebelumnya.

Dan harapan Naruto nampaknya terkabulkan. Issei melancarkan pukulan lurus yang diarahkan ke wajah Naruto. Menundukan tubuhnya beberapa derajat sebelum akhirnya melakukan counter yang tepat sasaran. Uppercut mendarat telak di dagu Issei. Tanpa membuang kesempatan serangan balasannya masih berefek, Naruto secara frontal melancarkan berbagai macam gaya pukulan yang disertai api.

Tidak tinggal diam, Issei pun melakukan hal yang sama.

"Issei-kun!" pendengaran akurat Yuuto Kiba sebagai Iblis menangkap dengan jelas pemuda yang ia panggil tidak pernah mendaratkan satu pukulan pun pada Naruto. Sebaliknya, pukulan dari Naruto malah berhasil menanggalkan bagian demi bagian dari armor Issei. Suara besi retak dan terjatuh menghiasi adu jotos kedua pemuda yang masing-masing di dalam tubuh mereka terdapat mahluk berkekuatan abnormal. Memunculkan pedang lain di tangan kirinya, sang Knight itu pun meninggalkan lokasinya dengan kecepatan bidak yang dimiliki. Berniat membantu Issei.

"Tck, sialan!" kemunculan Kiba disertai dua hunusan tepat di atasnya memaksa Naruto melompat mundur.

Mendarat di depan Issei, Kiba menoleh ke belakang. "Kau tak apa, Issei-kun?"

"Brengsek itu menghancurkan armor [Scail Mail] milikku." geram Issei Balance Breaker miliknya dipreteli Naruto pada beberapa bagian seperti; perut, bahu dan penutup wajah.

[Sebaiknya kau hindari pertarungan jarak dekat denganya, partner.]

"Apa maksudmu, Ddraig?" kening Issei mengkerut bingung sekaligus marah mendengar saran dari mahluk yang mendiami Sacred Gear-nya. Secara singkat dan jelas (Agar otak mesum Issei dapat paham) Ddraig menjelaskan maksudnya memberikan saran tadi. Dari penjelasan singkat tersebut Issei dan Kiba mengetahui sebuah fakta mengejutkan dari Naruto.

"Serius? Jadi, aku harus bagaimana?"

[Aku tidak bercanda, partner. Baru kali ini aku melihat orang seperti dia. Kusarankan kau menyerangnya dari jarak jauh, biarkan Knight itu yang menyerang dari dekat menggunakan pedang barunya.]

"Aku meng—"

"Ise..."

"Issei-kun..."

""...dibelakangmu!""

"Jangan pernah kehilangan fokus saat bertarung, . . . . Kagizume!"

Belum sempat Issei menoleh kebelakang ketika mendengar suara barusan diikuti peringatan dari Kiba dan Rias, dia harus rela terlempar ke samping terkena tendangan di rusuknya. Sedangkan Kiba langsung mengayunkan dua pedangnya secara acak menyerang Naruto yang muncul tepat di belakang Issei menggunakan tehnik teleportasi.

Sedikit kewalahan, Naruto menghindari tebasan demi tebasan dari Kiba. Setiap kali [Holy Demonic Sword] milik Kiba hampir menggores tubuhnya, entah kenapa Naruto selalu merasakan perasaan tidak enak yang berasal dari pedang itu. Sibuk menghindar, Naruto tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya ingin menjedorkan kepala ke tanah karena sudah melupakannya.

Tersadar dari lamuan singkatnya, Naruto segera berjongkok menghindari tebasan menyilang Kiba. "Kuharap kau benar-benar mengabulkan permintaanku, Uban." secepat kilat, Naruto mengeluarkan gulungan yang tersimpan di saku mantelnya. Beruntung dia sedikit diajari cara kerja gulungan penyimpan oleh Izuna dan Jiraiya. Namun, belum sempat ia menyelesaikan urusannya, teriakan Issei diikuti suara mekanik yang berdegung keras mengalihkan perhatian Naruto.

"Kiba menjauh dari sana!"

[Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost]

[Dragon Shot]

Sebuah laser merah yang sangat besar ditembakkan Issei. Seketika, mata Naruto melebar melihat daya hancur serta kecepatan dari serangan tersebut, saking cepatnya sampai-sampai rambut perak pemuda itu melambai-lambai. Tanpa membuang waktu banyak, Naruto berguling-guling ke samping kiri dan bersamaan dengan itu laser merah Issei menghancurkan segala macam benda yang dilewati. Setelah selesai, dia melakukan proses mengeluarkan isi gulungan tersebut. Membuka, menggigit ibu jari dan meneteskan darah yang keluar pada salah satu pola lingkaran aneh dalam gulungan tersebut.

"Bangsat! Kenapa malah Katana yang sudah menusuk tubuhku ratusan kali... Dasar Uban Sialan!" ribuan memori ketika menjalani latihan yang lebih ke neraka dunia bagi Naruto muncul di kepalanya tatkala memandangi Katana tipis hadiah dari mendiang Tobirama. Tidak ambil pusing dengan hal tersebut, Naruto menggenggam erat gagangnya dan menyerbu lokasi Yuuto Kiba berada.

Seringai tipis muncul wajah semi-cantik sang Cassanova. "Kesalahan fatal, Naruto-san." Kiba ikut merangsek ke depan.

"Begitukah?" tanya Naruto balik.

Adu pedang pun terjadi diantara keduanya. Mengandalkan insting bertarung serta sedikit ajaran Kenjutsu dari dua gurunya, Naruto berhasil mengimbangi permainan dari Knight Gremory. Hingga pada sebuah kesempatan emas ketika mementalkan dua Holy Demonic Sword Kiba ke atas, Naruto memindahkan Katana-nya ke tangan kiri, sedangkan tangan kanan sudah terbuka, dan diarahkan tepat ke perut Kiba.

[Senpō: Kawazu Tataki]

"Ohockk!" hampir semua organ dalam Kiba yang berada di bagian perut serasa remuk terkena serangan tak kasat mata, disusul muntahan darah segar yang mengenai wajah Naruto tepat sebelum terpental jauh melewati Issei, yang saat ini hanya bisa membulatkan mata tidak percaya.

Dua tumbang. . . . Kini tinggal satu orang yang perlu disisihkan Naruto!

[Lihat'kan, Partner? Orang itu benar-benar hebat memadukan dua kekuatan dalam tubuhnya.]

"Sebuah kehormatan bagiku dipuji Welsh Dragon, Ddraig-sama. Terima kasih, terima kasih." Naruto berbicara dengan wajah lurus, yang tidak diiringi tampang orang merendah setelah mendengar nada berat dari permata hijau di punggung tangan Issei.

Sementara Issei, jangan tanya lagi. Saat ini kemarahan sang Sekiryūtei sudah melewati ubun-ubun, namun secara bersamaan juga menyesal dan sedikit kecewa pada dirinya sendiri sudah menantang Naruto yang baru saja Ddraig akui kehebatannya. Betapa percaya dirinya ia tadi, saat mengeluarkan pernyataan akan menghajar Naruto sampai buka suara perihal tujuan membantu Irina dan Xenovia.

Namun, sebaliknya... Kini dialah yang dibuat babak belur di mode terlarangnya [Balance Breaker]. Dan bukan hanya dia saja yang babak belur. Akeno, Kiba dan Rias juga mengalami hal yang sama. Sedangkan Asia dan Koneko lain ceritanya. Pingsan karena terkena hantaman gelombang kejut.

"Yo, Sekiryūtei-sama. Kenapa diam? Sudah tidak mampu lagi, huh! Mengecewakan." lagi, Naruto melontarkan kalimat mengejek. Setelahnya, Naruto meringis dalam diam saat menarik paksa hingga robek bagian kiri mantel yang dia kenakan. "Aku terlalu berharap padamu bisa memberikan tarian indah. Kalau begitu, mari kita selesaikan urusan kita sebelum memulai semuanya." Rias yang kebetulan belum hilang kesadaran, sontak keheranan mendengar ucapan Naruto. Muncul tanda tanya besar dikepala merah sang Heiress Gremory perihal apa yang ingin pemuda itu mulai.

"Arrrghhhh!"

Teriakan keras diikuti suara besi retak membuyarkan lamuan Rias. Saat menoleh, dia langsung berteriak, "Hentikan, Naruto!"

Tidak jauh dari lokasi gadis merah itu, tarian indah Naruto kembali berlanjut. Katana tipis yang menjadi senjata Naruto menancap pada kaki kiri Issei, mengirim rasa sakit beberapa tingkat dibawah [Light Spear] pada sang Sekiryūtei. Tidak cukup sampai disitu saja, Naruto berjongkok lalu menendang dagu berbalut helm pelindung itu dan mengirim Issei terbang ke udara tepat di atas Rias.

Menggunakan cara yang sama. Naruto terbang ke atas mendahului Issei mencapai titik tertinggi. Menyulut api yang lebih banyak dari sebelumnya di lengan kanan hingga mencapai siku...

[Kōen no Gekitetsu]
(Brilliant Flame's Firing Hammer)

...Sebuah pukulan keras disusul ledakan besar pun terjadi membuat Rias kembali berteriak memanggil nama Pawn tercintanya. Beberapa detik kemudian, dari api yang meluap-luap di atas Rias, Issei meluncur deras terarah ke dia. Memaksa tubuhnya untuk bergerak, Rias susah payah bangkit dan menangkap tubuh Issei.

"Terima kasih, Buchou—Arrrgggghhhh!" teriakan kembali keluar dari mulut Issei saat katana Naruto dicabut paksa Rias.

[Kōen no Hōkō]

Belum sempat mereka berbincang-bincang, dari sisa-sisa api di atas keduanya, semburan berelemen sama melesat. Tidak ingin ketuanya terluka lebih dari sini, Issei melakukan tindakan nekat. Menarik lengan Rias kemudian dilempar ke sembarang arah tepat sebelum serangan Naruto menghantamnya hingga tercipta ledakan untuk kesekian kalinya.

[Maaf Partner. Waktunya sudah—]

Peringatan Ddraig kepada inang-nya tidak akan pernah terselesaikan. Sisa armor [Scail Mail] yang membalut tubuh Issei pecah bagaikan cermin disusul getaran kecil pada tanah yang disebabkan pendaratan kasar Naruto.

"Terima kasih sudah melempar Rias, Issei-san." ujar Naruto pelan.

"Apa maks—Ughh!" uppercut keras menghantam perut Issei, air liur-nya kembali muncrat kemana-mana. Sedetik kemudian, rasa takut menjalar di sekujur tubuh Issei. Matanya menangkap jelas kilauan putih dari katana yang tiba-tiba berputar diantara tubuhnya dan Naruto setelah mendengar suara kaki dihentakkan.

"Berhenti Naruto... Kumohan jangan sakiti Ise lagi!" teriak Rias memohon dari kejauhan.

Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti mata Issei maupun Rias. Naruto meraih katana-nya, lalu dihunuskan ke perut pemuda di hadapannya. Tepat setelahnya, Naruto melompat dan melancarkan tendangan putar yang mengenai ujung gagang katananya hingga tembus dipunggung Issei dan mengirim pemuda itu ke pohon dekat lokasi Asia terbaring.

"Ohockkk!" cairan merah kental dan amis kembali dimuntahkan Issei dalam posisi bersandar pada pohon yang dihantamnya. Ujung katana menancap dengan pada batang pohon, menahan tubuh yang perlahan-lahan hilang kesadaran. "Buchou, semuanya... A-a..ku minta maaf!" begitulah kata-kata terakhir Issei dan juga gambaran terakhir yang dia lihat sebelum pandangannya menghitam adalah Naruto berlari menuju lokasi Rias.

...

...

Sambil berlari, mata biru langit Naruto terpaku pada satu titik. Tangan kanan yang dulunya selalu dia gunakan untuk melindungi kini berbalik untuk menyakiti demi terselesaikannya masalah antara dirinya dan sesuatu yang dipandangi. Api yang mulanya berwarna orange pada tangan itu, kini berganti merah crimson akibat terlalu banyak dikompres dan tercampur dengan seluruh rasanya kepada... Rias Gremory.

Ya, Rias Gremory. Gadis yang sedang duduk bersimpuh dengan mata biru-hijaunya sudah hampir kehilangan cahaya. Seolah mengetahui maksud dari Naruto yang sudah hampir mencapai tempatnya, dia perlahan menutup mata, pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebelum Naruto tiba, Rias bergumam dengan suara parau.

"Maaf..."

Sekilas, Naruto tersentak ketika berlari. Namun sudah terlambat baginya menerima permintaan maaf dari Rias.

"...dan terima kasih atas semua hal yang sudah kau lakukan untukku selama ini." kiranya, begitu kata-kata terakhir dari sang pewaris Gremory yang berniat mengeluarkan kalimat yang belum pernah ia berikan untuk Naruto, tepat sebelum pemuda itu berhenti di hadapannya dan melancarkan serangan.

[Guren Hōken]
(Crimson Lotus: Demolition Fist)

Ledakan berskala besar yang berbeda dari sebelum-sebelumnya terjadi. Baik dari segi daya hancur maupun warna, merah pekat dan menghancurkan apapun sejauh puluhan meter dibelakang Rias.

"Huh—!"

Kini giliran inner Rias yang tersentak mendengar dengusan itu. Ditambah lagi, rasa sakit bahkan kematian yang tadinya sudah membukakan pintu, malah tak terjadi. Membuka mata secara perlahan, Rias pun terkejut. Tepat di hadapan gadis itu, Naruto memperlihatkan ekspresi wajah yang sulit diartikan. "Kenapa?" tanya Rias pelan dan melirik ke samping kanan dimana kepalan tangan Naruto yang masih berapi-api.

"Satu hal yang perlu kau ketahui, . . . ." Naruto menarik tangan dari samping kepala Rias, dan gadis itu mengikutinya sehingga wajah mereka hanya berjarak 1 meter saja. "Tidak mungkin untukku membunuh orang yang sudah menyelamatkan nyawa dan kemanusiaanku." Naruto berbicara dengan nada sangat, sangat, sangat pelan. Rias yang masih ragu itu adalah alasan kenapa Naruto membuat serangannya meleset memilih diam.

"Tapi jujur, . . . . aku tidak menyangka kalimat tersebut akhirnya kau ucapkan juga setelah sekian lama." bergumam untuk dirinya sendiri, Naruto awalnya tidak mempercayai apa yang dia dengar tadi. Tapi setelah melihat wajah Rias, Naruto pun yakin kalau yang dia dengar tidak salah.

Sontak saja perkataan Naruto memunculkan rasa geram Rias. "J-jadi..." lingkaran sihir hendak diciptakan olehnya untuk menyerang, namun tangan kanannya sudah berada dalam genggaman Naruto. "Akhh~" memekik pelan karena kesakitan. Rias kemudian melayangkan pertanyaan. "Apa maksudmu sebenarnya, Naruto? Jang—"

"Huh! Buang jauh-jauh pikiran anehmu itu, Rias-chan. Tanpa memintaaf pun, aku sudah memaafkanmu. Namun..." jeda sejenak, Naruto berusaha menguatkan diri. "Yang tak Kusangka itu, kau malah berterima kasih. Apakah butuh situasi seperti tadi baru kau mengucapkannya? Situasi dimana hidupmu terancam."

"Memangnya salah kalau aku berterima kasih sebelum mati, Hah?" Rias menyela dengan bentakan kasar.

Naruto mengerang kecil atas tanggapan tidak enak dari Rias, kemudian balik bertanya. "Terus, kalau sebaliknya?" Rias pun terdiam mendengarnya. "Bagaimana kalau aku yang berada di tempatmu. Kuyakin, hal yang kau lakukan hanya tersenyum puas melihat orang yang sudah menyakiti budak-mu pasrah menerima kematiannya, tidak seperti kejadian beberapa tahun lalu. Saat pengikut golongan Maou lama menyerang..."

Diamnya Rias masih tetap berlangsung dikarenakan sesuatu tak kasat mata tiba-tiba menghampirinya. "Ucapanmu waktu itu masih sangat jelas di kepalaku sampai saat ini. Kau memintaku kembali apapun yang terjadi . . . . Perlu kau ketahui, mati-matian aku mencoba mengabulkan permintaanmu itu, sampai lupa jika kau bukan satu-satunya orang yang memintanya." tanpa Naruto sadari, cengkramannya pada lengan kiri Rias menguat hingga gadis itu kembali memekik kesakitan.

Kebetulan juga Kiba yang kesadarannya kembali muncul mendengar pekikan King-nya langsung bangkit ke posisi berlutut. "Rias-Buchouuu...!"

Naruto dan Rias menoleh ke asal teriakan itu, di sebelah kiri mereka. Sedetik kemudian, keduanya terkejut melihat empat lingkaran sihir merah tercipta tepat di atas Naruto. "Yuuto... Berhenti!"

"S-sialan!" umpat pemuda yang menjadi target Kiba.

[Sword Birth]

Empat Holy Demonic Sword dengan indahnya menancap di punggung Naruto, membuat pemuda itu harus memuntahkan banyak darah. Sedangkan Rias malah tidak habis pikir kenapa dia ingin menghentikan perbuatan Knight-nya beberapa detik lalu.

"Cih, kuat juga kau bisa bertahan dari [Kawazu Tataki]. Tapi, sayang sekali...uhuk, uhuk... cukup sampai disini kau sadarkan diri, Kiba Yuuto." Naruto memalingkan wajah ke iblis yang diajak berbicara, pipinya tiba-tiba menggembung. Tehnik [Kōen no Hōkō] kembali Naruto lancarkan hingga sang Knight harus tenggelam dalam lautan api.

"K-kau..." Rias menggeram penuh amarah. Tamparan dengan tangan kiri yang tidak berefek apapun dia hantamkan ke Naruto, membuat wajah pemuda itu berpaling ke arah sebaliknya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Naruto? Kenapa hanya aku yang kau tidak serang? A-apa kau ingin melihat... hiks, hiks, hiks..." isakan kecil mulai keluar dari mulut Rias. Sedari tadi dia berusaha untuk tidak menangis, melihat tiga budaknya di sakiti, namun tidak terakhir Naruto meruntuhkan pertahanan Rias.

"Uhuk, uhuk... Aku melakukannya karena kau pantas menerimanya. Kau'lah...uhuk, uhuk, cough... gadis penyebab mataku tertutup dari segala hal, gadis yang membuatku lupa dengan beberapa orang yang ternyata menunggu ke...uhuk...pulanganku, gadis—Arrrgggghhhhhh!" belum sempat Naruto selesai berbicara, tubuhnya tiba-tiba merasakan rasa sakit yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Efek samping dari tusukan pedang Kiba mulai terasa.

"Gawat... Naruto cepat selesaikan!" muncul perintah dari Kurama di kepala Naruto. Mengangguk cepat, pemuda itu segera melaksanakannya.

"Ugh! Tujuan utama aku melakukan semua ini. Tentu saja untuk memutus hubunganku dengan fraksi iblis serta permintaan Madara-teme yang belum puas. Uhuk, uhuk... Dengan bertarung dengan kelompokmu, bahkan hampir membunuh kalian untuk menyelesaikan apa yang Madara-teme belum selesaikan saat kalian menculik adikku. Sirzechs tidak akan tinggal diam pewaris klan besar di Underworld sekaligus adiknya hampir dibunuh. Itu membuat Sirzechs dan Underworld... uhuk, uhuk, uhuk, cough... pasti mencap kami sebagai musuh—"

"Cepatlah bocah. Ucapkan saja! Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama!"

"Sebenarnya...uhuk, uhuk... apa yang terjadi disana Kurama?"

"Sudahlah... Lakukan saja!"

"Hn, oke!"

"Tapi, kenapa hanya aku yang tidak kau serang?" Rias menyela percakapan Naruto dan Kurama yang diiringi muntahan darah. Dan pertanyaan yang dilontarkan Rias nampaknya mengarah ke apa yang ingin disampaikan Naruto. Hmmn, keberuntungan di tengah situasi genting!

"Bukannya pertanyaan itu sudah kujawab, walau yang tadi aku bilang 'membunuh'. Dan itu bukan sepenuhnya alasan utamaku tidak menyerangmu." Naruto melepaskan tangan Rias. "Cough," kemudian tangan kanann itu dipakai untuk menutup mulutnya yang kembali dipaksa memuntahkan darah segar.

"B-bukan sepenuhnya?"

Naruto mengangguk pelan. "Pertama-tama... Ijinkahlah aku melakukan hal ini untuk pertama kalinya..." tangan kanan Naruto yang berlumuran darah digerakkan ke wajah Rias, mengelus lembut pipi putih mulus pewaris Gremory itu. Entah karena apa, Rias sama sekali tidak menolak tindakan itu, seolah ada yang membuat gadis itu tidak berani melakukannya. "Beberapa bulan sebelum kau menerima [Evil Piece]... uhuk, uhuk... sesuatu yang baru pertama kali kurasakan...uhuk, uhuk... muncul, sesuatu yang sampai detik ini menjadikan dirimu—"

"Maaf Naruto... Cukup sampai disini. Lain kali saja kau tuntaskan!"

Dengan berakhirnya pesan Kurama yang terdengar sangat menyesal. Pandangan Naruto mulai gelap, perlahan tubuhnya mulai ambruk ke depan sehingga tangan yang berada di pipi Rias ikut terjatuh dan meninggalkan jejak darah di wajah gadis itu. Namun, sebelum benar-benar hilang kontrol akan tubuhnya. Naruto masih sempat berbicara. Dan itu membuat Rias hanya bisa terdiam, syok, tidak tahu lagi ingin berkata apa sampai iris biru-hijau itu kembali kehilangan cahaya. Seperti memahami semua kalimat dari Naruto termasuk kata-kata dibawah ini.

"—Ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan. . . ."

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara tubuh seseorang yang terjatuh dari ketinggian menggema di sebuah tempat minim cahaya. Hanya ada dari kobaran api di atas sembilan pilar besar yang menjadi penerangan tempat tersebut.

"Kurama, kau perlu menjelaskan semuanya." Naruto, orang yang jatuh tadi mengarahkan wajah ke depan dengan posisi tiarap, menatap tajam meminta penjelasan ke rubah semi-kolosal yang duduk bersilah di depannya. "Kau tahu? Aku belum menyampaikan semuanya, dasar rubuh sialan!"

"Simpan saja itu di pertemuan selanjutnya. Nyawa kita berdua lebih penting dari itu, bocah bangsat!" Kurama malah sewot, karena panggilan terakhir Naruto barusan.

"Oi, oi... Apa kau lupa kalau besok kami mau pindah dari Kuoh?" nampaknya Naruto masih belum bisa melupakan tindakan Kurama yang seenak udel menariknya ke tempat angker ini.

"Oho, sepertinya pertemuan selanjutnya tidak dibutuhkan lagi, Naruto. Aku bisa melihat gadis iblis itu mengerti semua yang kau ucapkan barusan." ujar Kurama dengan nada senang. Salah satu kemampuan segel orang yang menyegelnya di dalam tubuh Naruto adalah; dia mampu melihat apa yang terjadi di luar tubuh inangnya, walau tubuh itu dalam keadaan pingsan.

"Cih, baiklah." balas Naruto pelan. Kemudian, dia bangkit secara perlahan dan mengambil posisi duduk. "Ngomong-ngomong, dimana ini Kurama? Ini kali pertama kau kesini." sambil mengedarkan pandangan ke segala arah, Naruto bertanya penasaran.

"Beberapa tingkat dibawah tempat kita sering berbicara—Cih, masih masuk juga ternyata." tiba-tiba saja, dua ekor Kurama mengibas dua benda aneh yang tiba-tiba muncul dan mengincar tubuh Naruto. Sontak saja itu mengundang rasa ingin dari Naruto. "Alasanku menarik paksa jiwamu ke sini adalah benda aneh barusan. Itu adalah aura bersifat perusak dari pedang bocah cantik tadi. Benda itu mengincar dan ingin menghancurkan jiwamu..." setidaknya, penjelasan itu sudah bisa dimengerti Naruto. Karena sebenarnya, bukan hanya jiwa Naruto yang diincar efek tusukan [Holy Demonic Sword] Kiba. Setengah darah iblis Naruto juga menjadi incaran pedang itu, walau saat ini dalam keadaan tersegel. Karena pada umumnya, hal berbau suci tertarik untuk menghancurkan Iblis.

"Jadi, itu penyebab rasa sakit yang muncul beberapa saat setelah Yuuto-san menusukku?" melihat Kurama mengangguk, pose berpikir ala detektif Naruto perlihatkan. "Huh, ternyata ada juga Pedang yang seperti itu. Benar-benar mengerikan." ada nada takut diakhir kalimat Naruto. Setelahnya, dia melompat ke atas kepala Kurama dan berbaring di sana. Sontak saja, tindakan itu mengunggah rasa penasaran Kurama.

"Bagaimana keadaanmu bocah?"

"Selain tertusuk empat pedang dan sambaran petir. Selebihnya aku baik. Belum pernah sebaik ini malahan."

"Baguslah. Oh, iya! Selagi menunggu efek pedang itu menghilang, bagaimana kalau aku menceritakan semua hal yang terjadi sekarang ini?" tawar Kurama.

"Ide bagus! Cepat ceritakan!"

"Muka tripleks dan Pemimpin tak punya wibawa itu berhasil membunuh Kokabiel."

"Syukurlah." singkat dan pelan. Itulah jawaban yang Naruto lontarkan.

"Dan muka tripleks itu mengejek kekalahanmu."

"Oii, siapa bilang kalau aku kalah? Tidak selamanya yang berdiri terakhir itu pemenang."

"Ya, ya. Terserah kau saja." sahut Kurama yang mengerti Naruto merasa menang atas pertarungan tadi. "Ohooo... Hal menarik baru saja terjadi, Naruto." nada Kurama berubah antusias. Dan itu ikut membuat Naruto penasaran.

"Menarik, apa itu?"

"Hakuryūkou muncul!"

"Hakuryūkou? Rival Sekiryūtei?" Kurama meraung pelan mengiyakan pertanyaan Naruto. "Tidak menarik dan itu bukan urusanku!" dan itu yang Naruto utaran mengenai kemunculan Hakuryūko di dunia nyata. Yang Kurama tidak beritahukan jika kemunculan Hakuryūko ternyata mengincar pemuda itu.

"Cih, semoga saja bocah naga itu tidak mengatakannya." batin Kurama penuh harap. Bisa gawat jadinya jika sang Hakuryūko mengatakan hal yang ditakutkan Kurama.

Hening pun melanda tempat gelap itu. Selama beberapa menit, baik Kurama maupun Naruto tidak ada yang berbicara. Karena bagaimana pun, Naruto tidak tertarik dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Setelah hampir 10 menit diam, sang Youkai akhirnya berbicara memberikan update terbaru.

"Naruto... Semuanya sudah selesai, kau bisa kembali ke tubuhmu." sahut Kurama.

"Bagaimana dengan Katana-ku?"

"Tenang saja, orang yang kau panggil Dobe sudah mencabutnya dari tubuh Sekiryūtei."

"Kalau begitu, aku pergi dulu Kurama. Sampai ketemu lagi~~" setelah itu, Naruto duduk dan berkonsentrasi kembali ke dunia nyata. Meninggalkan Kurama yang sudah memperlihatkan senyum kecil hingga gigi-gigi tajam penuh liur terlihat.

.

.

Membuka mata dan mengerjap beberapa kali. Hal pertama yang Naruto lihat adalah atap rumah penduduk Kouh dan rambut hitam yang sekali-kali menghalangi pandangannya. Menoleh ke samping kiri, terlihat Madara melompat dari atap ke atap. Karena tidak tahu dan juga belum sepenuhnya bisa menggerakkan tubuh serta mulutnya, Naruto memilih diam di gendongan Hashirama.

Sementara Naruto asik menikmati tumpangan gratis Hashirama. Di dalam tubuh pemuda berambut perak itu, Kurama mulai melantunkan lagu singkat bertempo lambat di baris pertama dan kedua, lalu berubah tempo jadi cepat di baris-baris selanjutnya. Lagu yang sangat jelas mengirim sindiran halus ke inang-nya.

"Hati-hati memilih hati~~"

"Jangan sampai salah hati~~"

"Kalau sudah salah hati, jadinya patah hati~~"

"Dan bisa-bisa sakit hati~~"

"Kalau sudah sakit hati..."

"Jangan sampai bunuh diri, dibawah pohon jati pakai belatiiii~~"

"Burung kutilang, burung cendrawasih..."

"Cukup sekian dan terima kasih~~"

...

Setelah lagu Kurama berakhir... Naruto langsung menyumpahi Kurama sekaligus sang Author.

"MATI SAJA KALIAN BERDUA!"

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Ha-ha-ha-ha #Ketawa_Kering

Sekian Chapter 19 yang dihiasi Scene GAJE NaruRias ini. Salahkan otak yang sama GAJE-nya sampai kepikiran buat Scene kek gitu. Bagi yang nge-fans sama Kelompok Gremory, terutama Issei. Gue minta maaf Issei dkk disiksa Naruto sampai babak belur. #Peace :v #SaveIsseiDKK

Trus yang merasa aneh kenapa Naruto tumbang. Udah kejawab semuanya kan? Bagaimana Naruto bisa roboh (Dibilang sekarat oleh Hashirama) di akhir pertarungan? Jiwanya tiba-tiba ditarik Kurama untuk menghindari efek tusukan [Holy Demon Sword] milik Kiba. Selain itu, luka yang diderita Naruto hanya empat tusukan itu dan sambaran petir Akeno.

Dan Chapter berisi word bersih 9K kurang ini merupakan akhir dari masalah Naruto ke Rias, mungkin #Plak. Tapi intinya, gak ada lagi rasa Naruto ke Rias. Biar itu Rias mau ngasi senyum paling cantik bak malaikat dalam bungkusan Iblis, atau bahkan telanjang bulat di depan Naruto... Gak bakalan ngefek lagi ke Naruto.

.

Balasan Review :

Ashuraindra64: Makasih... Noh, udah kejawab di AN... Ah, Issei jangan dibikin mati. Entar siapa yng jadi Rival Vali... Tiga pertanyaan lain bakalan terjawab di Chapter 20-21... Oke '-')b

Grand560: Bukan Vatikan... Yaps, keturunan Lucifer sama kek Vali. Lebih tua Naruto.

Hikari no Rakuen: Tenang aja, bakalan jadi EMS kok. Kan mereka punya mata MS Mbah-Izuna... Hahaha, Naruto cuma beruntung ketusuk [Holy Demonic Sword] Kiba disaat lengah... Oke '-')b

Aka na Yuki [My Imuoto]: Nah itu tau :v . Ya, kemungkinan Pair-nya Loli sekitar 150% (")... Ugh~~ Benar kan? Imposibbru buat hilangan tuh bakteri Fic... Horeeeeeee \('0')/ Kagak ada... Hahaha, Di Chapter ini cuma Kurama yng nista nyanyiin lagu kemaren :v :v... Lebih lucu lagi klo Naruto-nya jdi Female+Loli (")... Di Chapter depan, Scen Dedek Yuki mulai berlimpah (")... Oke '-')b

NR010/Archilles/Madahashinaru/tyson/kenaialrivanbeabychyank: Udah kejawab di AN.

uzumakynurroni: Di Chapter 20-21 bakalan terjawab... Oke '-')b

nikowahyu4869: Ya, sedikit dipercepat.

Dx23: Keknya Sasaku gak ada. Masalah Rival, mungkin sama. Gak ada juga.

lusy jaeger ackerman: Sayang sekali, Scene itu tidak muncul. Di Chapter 20-21 baru muncul... Oke '-')b

Pendy: Makasih. Ada kok.

Tanaka kanako03 [My Imouto]: Hehehe, maaf kelamaan Dedek Rin... Itu Vali, si kaisar naga pantat :v... Udah kejawab di Chapter ini Dedek Rin '-')/... Iya, Onii-chan hafal Penname Dedek Rin kok.

Marvell569: Oke '-')/ ... Yng bener itu, Lolicon (")

novalian manzur: Makasih kritiknya... Udah saya jawab di PM krn kepanjangan balasannya.

arifu: Terjawab di Chapter 20-21.

Kazekage726: Makasih, hehehe... Oke '-')b

alfin: Hmmmn, semuanya udah selesai di Chapter ini... Tenang aja. Rias bakalan dapat yang lebih berat dari Chapter ini.

Ae Hatake: Kejawab di Chapter 20-21... Udah kejawab di Chapter dan AN di atas.

Death race: Fic itu masih dalam proses. Baru dapat 4K

Kuro XI V IX: Di Chapter ini Fight-nya.

MaXVyo: Hehehehe, emang Loli Rank-SS... Chapter 20-21.

Kurosaki Kitahara: Cie, yang kelamaan nunggu #Plakk :v... Hahahah, lu aja yang baca ngakak. Apalagi ane yng nulis :v... Noh, udah ada Scene yng lu tunggu-tunggu.

The ereaser: Ane tau Fic ini masih banyak kekurangan. Sama kek mulut ama jari lu yng kekurangan rem sampe ngatai-ngatain orang... Ah, maaf aje. Ane sibuk di RL makanya kelamaan Update. Udah itu aja. Malas ane ladenin orang bermulut gak punya Rem kek lu.

m u albab: Bakalan make kok biar gak bisa buta... Yaps, kurang lebih sama kek Anbu... Oke '-')b

Hyoudou Serafall: Ini sudah lanjut kok.

A Zoldyck: Lu keselek Loli pak?

Yang Review Lanjut, Next, sebangsa senegara-nya. Nih udah dilanjut walau kelamaan.

.

.

Brengzeck 014 [Root Loliwood] and Stark sayang mami kushi selalu (Njriiit! Bikin sakit mata nih Pen-name Kampret) Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/

Salam Lolicon!