Disclaimer: Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and other not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance and Mistery.
Warning: Author Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi-Genre, Bahasa Gado-Gado, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Etc.
Arc III: Early and Late.
Chapter 20.5: After Match — Naruto and Family Side!
Author Note: Well, ini masih bagian dari Chapter 20, singkatnya Chapter 20.5. Di Chapter ini sama seperti yang terjadi di Chapter sebelumnya yang mana menceritakan apa yang terjadi setelah pertarungan melawan Kokabiel. Bedanya, disini yang dibahas adalah pihak Naruto. Dan mungkin Chapter ini cukup membosankan karena gak ada hal menarik yang terjadi, mungkin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ugh—!"
Lenguhan pelan dari seorang pemuda menandai hari baru telah dimulai. Pemuda itu—Naruto, mengusap-ngusap mata beriris biru langitnya dengan tangan kanan kemudian mengalihkan pandangan ke arah jendala asal cahaya matahari yang membuat dirinya terbangun di pagi indah ini. Indah karena masalah yang dulu menjadi salah satu beban hidupnya telah berakhir. Dan itu semua berkat dua anggota keluarganya, Madara dan Yuki serta sedikit bantuan dari Irina dan Hilda. Harus ia akui, ini mungkin suasan pagi terbaik yang pernah dirasakan sejak meninggalkan Underworld. Pagi ini, tidak ada lagi setumpuk pertanyaan dalam kepalanya tentang bagaimana keadaan Rias ataupun hal lain yang menyangkut sang mantan Ojou-sama.
"Sudah berakhir, huh." ujarnya dalam hati mengutarakan isi kepala peraknya. Ia mengalihkan pandangan kembali ke depan sehingga mengarah langsung ke langit-langit kamar yang dicat warna putih polos. Selain hal tersebut, saat ini ia tengah memikirkan bagaimana keadaan Irina, Yuki, Yasaka dan Kunou. Untuk Madara, Hashirama, Jiraiya dan Hilda... Persetan dengan empat mahluk merepotkan itu! Mau lelah, terluka bahkan sekarat pun asalkan tidak meregang nyawa, itu sudah cukup baginya.
"Engghhh~"
"—Eh!"
Jantung Naruto hampir lompat keluar dan membuat lamuannya buyar saat erangan lembut terdengar dari sebelah kiri. Selimut yang menutupi ujung kaki sampai dada segera ia sibak. Nampaklah sesosok mahluk paling indah-imut-menggemaskan yang pernah berjalan di muka bumi tertidur pulas dengan posisi menyamping ke arah berlawanan darinya.
Dengan segala daya dan upaya untuk tidak membangunkan sosok yang berperan penting dalam penyelesaian masalah cinta bertepuk sebelah tangannya, ia berusaha untuk duduk... dan usahanya berhasil.
"Terima kasih, Yuki!" ujarnya dengan suara lembut diiringi helusan yang tidak kalah lembut pada rambut putih mulus panjang, nan tebal milik adik Loli-nya.
Sontak saja tindakan Naruto membangunkan sang bidadari imut dari tidur pulasnya. "Umh, pagi Onii-chan!" sapa Yuki selagi mendongakkan kepala ke wajah sang kakak. Ia mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk menjernihkan pandangan. Mata hitam besar itu masih memancarkan rasa kantuk.
"Selamat pagi, Yuki." Naruto membalas dengan suara sama seperti sebelumnya.
Sambil memberi kesempatan kepada Yuki untuk duduk, Naruto memikirkan kenapa sang adik bisa tertidur di kamarnya. Isi kepala perak itu mulai diobrak-abrik mengingat kejadian semalam. Gambaran pertama yang muncul adalah pertarungan melawan Kokabiel dan kelompok Gremory berakhir. Dia pura-pura pingsan agar mendapat tumpangan gratis di punggung Hashirama. Terus nyanyian tepat sasaran Kurama yang memakasanya kembali ke alam bawah sadar untuk memberi pelajaran ke sang rubah sialan. Selesai dengan itu, Naruto keluar dan sadar kalau sudah berada di kamarnya. Karena terlalu lelah, dia langsung tidur tanpa mengecek keadaan sekitar.
Tak kunjung mendapat jawaban, Naruto menarik satu kesimpulan menuduh orang paling senang melihatnya menderita. "Haaa! Kalau ini ulah Uchiha Bangsat itu. Akan kubakar selangkangannya sampai jadi sosis gosong!" pikirnya sedikit tidak jelas dibagian akhir. Kemudian, ia mengalihkan atensi ke sang adik yang kini duduk tidak jauh darinya. "Nee, Yuki..."
"Nguh, ada apa Onii-chan?" respon Yuki selagi mengucek-ngucek mata.
"Kenapa kau tidur di kamarku?" tanya Naruto dan belum sempat Yuki menjawab, ia kembali berbicara karena teringat ucapan sang adik semalam. "Bukannya kau sedang marah, Hmm?"
"Aku tidak marah lagi ke Onii-chan." Yuki segera menjawab dengan suara sedikit dikeraskan dan itu membuat rasa kantuk sirna seketika dari tubuhnya. Tatapan penuh selidik bak seorang detektif dari sang kakak yang sudah terpampang jelas sama sekali tidak ia perdulikan.
"Benarkah?"
"Benar, Onii-chan!" Yuki menyahut cepat sekali lagi. Tidak lupa juga memberi anggukan mantap.
"Terus, kenapa malah tidur di kamarku?"
"Tadi malam, Onii-chan tidak bangun-bangun di punggung Ojii-chan," nada Yuki ketika berbicara tiba-tiba berubah pelan yang menyiratkan banyak kekhawatiran di dalamnya. "A-aku takut. Onii-chan tidur seperti dulu, lama sekali. M-makanya Onii-chan kutemani biar cepat bangun." tambahnya masih dengan nada sama tanpa ada kebohongan sedikit.
"Tenanglah! Masalah kecil seperti itu tidak akan membuatku tidur tiga hari lagi, kok. Tapi, terima kasih atas semuanya, adik imutku." Naruto kembali mengelus rambut seputih salju itu, membuat wajah sang empunya sedikit memerah karena senang atas keadaan sang kakak dan sedikit...malu, mungkin sebab helusan dan panggilan tadi.
"A-ano, apa masalah Onii-chan sudah selesai?" tanya Yuki, mengalihkan topik yang menjadi penyebab ia marah ke Naruto beberapa jam yang lalu.
Kini giliran Naruto yang menganggukkan kepalanya. "Ya, sudah selesai. Dan itu semua berkatmu." jawabnya disertai senyum seribu watt.
"Syukurlah!" Yuki menghela nafas lega dengan tangan menyatu di depan dada. Kata-kata pada malam kepergian tiga orang paling berharganya ke Akademi Kuoh selalu ditunggu-tunggu akhirnya muncul. "Terima kasih sudah mengabulkan keinginanku, Jashin-sama."
"Hah?" tiba-tiba saja mata Naruto mengerjap keheranan. Dia merasa ada yang aneh pada ucapan sang adik barusan.
"Onii-chan?" Yuki memanggil dengan nada bingung sambil menatap kakaknya dengan kepala dimiringkan ke kanan. Membuatnya terlihat imut di mata siapapun, terutama para Lolicon yang mulai menjamur keberadaannya.
"..."
Tidak ada jawaban dari Naruto, matanya masih setia mengerjap keheranan sambil memaksa otak dalam kepala perak itu memproses keganjilan yang terjadi pada adiknya. "Jashin-sama, Jashin-sama, Jashin-sama, Jashin-sama, Jash—Perempuan brengsek itu!" kesimpulan akhirnya Naruto temukan. Menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak kencang hingga kediamannya mengalami goncangan hebat.
"HILDAAAAAAAAAAAAAA!"
Sementara di dapur pada lantai satu. Gadis yang namanya dipanggil cuma tertawa nista sembari menyiapkan sarapan untuk yang lain. Dan berharaplah, Hilda tidak menaruh racun ataupun obat peransang karena kemesumannya yang hampir menyamai Stark Fullb—Ah, Issei maksudnya.
Ah, benar-benar pagi yang indah!
.
.
.
Kini, pagi telah berganti menjadi siang. Kesibukan yang lain dari biasanya terjadi di kediaman quartet absurd ditambah satu mahluk terindah yang pernah diciptakan. Madara, Hashirama dan Hilda tengah melakukan penyegelan benda-benda yang perlu dibawa pergi dari kota Kuoh ke dalam beberapa gulungan penyimpanan. Sedangkan Naruto duduk berhadapan dengan sang adik di ruang tengah.
Naruto memijit pelan pelipisnya selagi mendesah dalam hati. Sungguh, ia sama sekali tak menyangka jika adiknya bisa diajarkan jalan sesat aliran Jashin-sama oleh Hilda. Beruntung sang adik lebih patuh kepadanya dan juga Madara. Alhasil, Yuki langsung membuang jauh-jauh apa yang diajarkan Hilda dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, tentu saja setelah ia memberi ceramah panjang lebar soal aliran tidak jelas itu.
Gadis berambut abu-abu memang licik, memanfaatkan situasi ketidak-adaan dirinya dan Madara. Dan mulai saat ini, Naruto bertekad untuk menjauhkan Hilda dari Yuki, demi menjaga kepolosan sang adik. Sempat ia berpikir dari mana aliran tersebut muncul dan siapa pencetusnya. Suatu saat apabila bertemu orang itu, ia pasti menghajarnya sampai babak belur. Karena aliran itu, kehidupannya jadi merepotkan.
Oh, hampir lupa. Pagi tadi, Irina juga sudah bangun dan disambut bahagia oleh Naruto dan Yuki. Namun, Irina tidak bisa berdiam diri. Ia ingin mencari dimana Xenovia serta fragmen pecahan Excalibur, dan juga ingin pulang ke Vatikan melaporkan hasil misi [Penculikan Excalibur].
Selesai dengan sang adik, ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju lokasi ketiga manusia pengguna chakra yang tengah berkemas. Sempat terjadi perdebatn singkat antara Hashirama dan Madara yang berakhir dengan kemenangan sang Uchiha berkat wajah sangarnya. Sedangkan Hilda malah diselimuti aura suram selagi menyelesaikan tugas yang diemban.
Melihat hal tersebut, Naruto tersenyum kecil dan membatin.
"Ya... Setidaknya Madara-teme tidak mengungkit-ngungkit masalahku lagi. Dan juga perempuan mesum itu tidak banyak bicara lagi."
.
"Yosha, ini yang terakhir!" sahut Hashirama selesai merapikan beberapa lembar pakaian. Perhatian pria ini kemudian beralih ke kiri kala Naruto ikut gabung membantu merapikan barang-barang yang masih berserakan. "Jadi, kita benar-benar pindah malam ini?" tanyanya meminta kejelasan dengan tampang bodoh.
"Jangan banyak tanya, Dobe. Cepat masukkan semua pakaian itu!" Madara meraih sebuah gulungan merah dan dilempar ke wajah sahabat sehidup-sematinya.
Hashirama menoleh ke Madara di sebelah kanan. Ia segera membuka tangan kanan dan mengakap gulungan tersebut sebelum mengenai wajahnya. "Gak usah pake tatapan itu juga, Teme!" tampang bodohnya menghilang tergantikan oleh ekspresi sebal, ia memajukan bibir beberapa senti karena merasa terganggu dengan tatapan tajam Madara. Namun ia tetap melakukan tugas yang diberikan untuknya, membuka dan meletakkan gulungan tersebut di atas lantai. "Kita sedang berkemas, bukan bertempur." selagi tangannya sibuk merangkai segel, mulut dan pikiran Hashirama tidak tinggal diam.
"Fuin!"
Beberapa barang yang berada di depan Hashirama menghilang diikuti kepulan asap putih. Setelah sesi penyegelan selesai, perhatiannya teralih ke seseorang. "Huh, jadi memang benar kalau masalahnya sudah selesai." ia melirik objek yang ada dipikirannya saat ini. Naruto, pemuda yang semalam sempat membuatnya terkejut tak percaya. Sempat ia berpikir untuk memberi bogem mentah ke pemuda itu dan juga Madara yang sudah main rahasia-rahasian darinya. Rahasia besar tentang hubungan antara pemuda itu dengan gadis iblis bernama Rias Gremory.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Ossan? Apa ada yang salah denganku?" tanya Naruto menyadari sang mantan Hokage menatap langsung ke arahnya.
Hashirama tersentak lalu diam sejenak, memikirkan kata apa yang tepat untuk dikeluarkan. Dari mulutnya keluar desahan pelan, kemudian mulai berbicara. "Huh, tak kusangka akan secepat ini kau mengabulkan apa yang diminta Yuki-chan."
"Ya, mau bagaimana lagi. Secara tidak langsung bendera perang sudah kukibarkan ke fraksi Iblis terutama klan Gremory yang menjadi penguasa kota ini. Huh, aku jadi penasaran bagaimana Maōu Lucifer menanggapi perbuatanku pada adiknya." ujarnya tenang seolah apa yang ia katakan bukanlah masalah besar. "Lagipula, sulit bagiku menolak permintaan Yuki. Apalagi Yuki yang membuatku sadar akan perkataan seseorang jika... Hal yang selalu kusemogakan itu tidak akan pernah terwujud."
"Ohhh, begitukah." Hashirama mengangguk-ngangguk seperti hiasan dasbor mobil.
"Oi, bocah!" Ia menoleh ke Madara. "Kau pikir, kata-katamu barusan bisa dimengerti otak kerbau miliknya?" sindiran kasar yang ditujukan pada Hashirama pun meluncur mulus dari mulut sang Uchiha terakhir ini.
Seketika tubuh mantan Hokage itu membeku dengan pose seperti orang terkena anak panah tepat di bagian dada. Sindiran itu tepat sasaran, Hashirama memang tidak terlalu paham maksud kalimat terakhir Naruto. Madara mengambil satu gulungan kosong di dekatnya, lalu dilempar ke kepala sahabatnya. "Cepat selesaikan, Dobe! Setelah ini masih banyak yang perlu kita lakukan." ujarnya menunjuk beberapa lembar kertas dengan berbagai macam tulisan dan simbol aneh di salah satu sisinya.
"Ya, ya. Aku meng—"
"Permisi!"
Serentak, empat mahluk nista itu mengalihkan perhatiaan ke sumber suara feminim tadi. Tepat di ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu berdiri seorang gadis cantik yang mereka kenali sebagai Irina Shidou.
Naruto mengerjit keheranan, Irina hanya seorang diri. Tidak ada tanda-tanda dari Exorcist satunya, Xenovia. "Teme, Ossan... Selesaikan ini. Aku ada urusan." ujarnya datar sambil bangkit kemudian melangkahkan kaki menuju sofa tidak jauh dari sana. "Irina-chan, cepat kesini!" ia memanggil Exorcist itu setelah mendudukkan bokongnya pada sofa. Di ambang pintu Irina hanya membalas dengan anggukan lalu berjalan ke tempat pemuda itu.
.
.
"Hey, Madara!"
"Hn?"
Raut wajah Hashirama berubah serius. "Bagaimana dengan orang yang mengaku [Hakuryūkou] kemarin? Maksudku permintaanya itu."
Madara berpaling menatap sahabatnya, wajah ke wajah. Kemudian, ia memasang tampang malas tidak tertarik dengan orang yang menyebut dirinya sebagai [Hakuryūko] atau Kaisar Naga Putih. Tapi tidak dengan tujuan orang itu. "Kalau memang dia serius mau mengambil bocah sableng disana itu. Pastinya dia memiliki sebuah alasan..."
"... Itulah yang ingin kuketahui. Tidak, ingin kucari tahu."
.
.
Sementara Madara, Hashirama dan Hilda sibuk melanjutkan tugas. Naruto bersama Irina sudah larut dalam percakapan yang membahas beberapa hal. Dari awal, Naruto cukup penasaran kenapa hanya Irina yang kembali, tidak ada tanda-tanda dari Xenovia. Sempat terselip di pikirannya kalau Xenovia marah akan tindakan seenak udelnya yang melempar gadis rambut biru itu ke dalam tehnik teleport.
Namun apa yang ia pikirkan langsung menghilang kala Irina menceritakan kejadian di taman tempatnya dan Xenovia bertemu setengah jam yang lalu. Saat Irina bercerita, ia menangkap jelas ekspresi kecewa terpampang jelas pada wajah gadis itu. Dan hal itu memaksanya mengurungkan niat untuk membahas masalah imbalan yang diinginkan. Ya, ia tidak ingin membuat kekecewaan Irina bertambah, datang berdua ke kota Kouh melaksanakan sebuah misi yang kemungkinan selamatnya hanya tiga puluh persen saja, dan sekarang harus kembali seorang diri.
Cepat-cepat ia mencari cara untuk menemukan momen yang pas membicarakan masalah imbalan mereka sudah membantu Irina dan Xenovia. Hampir satu menit ia berpikir sebelum akhirnya menemui titik terang. "Kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai bandara. Setidaknya kau punya teman bicara sebelum perjalanan penjang ke Vatikan. Akan kuajak Yuki sekalian, biar tambah ramai."
"Ehh? I-itu tidak per—"
"Apa kau punya uang untuk membeli tiket pesawat?"
"A-aku bisa meminta markas besar untuk mengirim orang yang bisa—"
"Tidak, tidak! Sudah menjadi tugasku menanggung semua keperluanmu di Kouh. Lagipula, masalah bisa tambah rumit kalau [Pihak Gereja] datang ke sini. Mereka pasti mencari tahu kenapa Xenovia-chan tidak mau kembali."
Melihat raut wajah Naruto yang cukup serius sekaligus tidak ingin dibantah lagi. Irina pun menyanggupi permintaan itu dengan sebuah anggukan ringan. Setelahnya, Naruto tersenyum kecil dan bangkit berdiri lalu beranjak dari ruang tengah menuju lantai dua untuk mengganti pakaian yang saat ini hanyalah kaos oblong dan celena pendek selutut.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan pakaian normal untuk bepergian. Di belakangnya, Yuki berjalan mengekor dengan wajah berseri-seri bahagia. Setelah berkumpul diruang tengah, tanpa menunggu lama lagi, ia mengajak dua gadis berbeda fisik itu untuk segera berangkat menuju bandara terdekat dari kota Kuoh.
.
.
.
[Bandara Internasional Tokyo — Pukul 13.43]
Seteleh menempuh perjalanan dari Kuoh ke Tokyo yang makan waktu sekitar 2 jam lebih. Naruto, Yuki dan Irina akhirnya tiba di bandara. Bagi Irina, sebenarnya dia bisa saja meminta [Pihak Gereja] mengirim Malaikat yang bisa melakukan sihir teleport. Tapi, mau bagaimana lagi. Naruto nampak tidak ingin ditolak keinginannya. Ditambah lagi, mereka sudah terlanjur datang ke bandara serta tiket perjalanan ke Roma dipesan. Kini tinggal menunggu pesawat datang.
Bukan hanya itu saja, Naruto bahkan memberi Irina satu set pakaian. Menurut pemuda itu, aneh rasanya melihat dia dengan pakaian Exorcist berbalut jubah norak, bisa-bisa gadis itu dikira orang gila yang tersesat ke bandara.
"Nee, Irina-chan." panggil Naruto, sambil melirik ke arah kanan, tempat Yuki yang sedang asik sendiri dengan sebungkus cemilan yang dibeli beberapa menit yang lalu pada bangku ruang tunggu bandara. "Kau masih mengingat apa yang kita bicarakan di restoran, kan?"
Spontan saja Irina mengalihkan perhatian ke kiri, menatap pemuda berambut perak itu dengan wajah seperti paham akan sesuatu. "Oh, jadi ini maksud Naruto-kun mau mengatantar sampai ke Bandara?" Naruto tertawa canggung karena apa yang direncakan ketahuan. Lalu, dengan anggukan, ia membenarkan pertanyaan barusan. "Hmmpt, kenapa bukan tadi saja kita membicarakannya? Kan nggak enak bicara soal dunia supernatural di tempat ramai seperti ini?" tanya Irina sambil memelankan suara agar hal tak ada yang mendengar kecuali pemuda di samping kirinya.
"Ya... Katakan saja aku mengerti saat itu kau sedang bingung dan sedikit kecewa dengan tindakan Xenovia-chan." Naruto mengalihkan perhatian ke orang-orang yang lalu lalang di hadapannya dan Irina. "Karena itulah, aku tidak mau membahas masalah ini saat kau sedang kecewa. Bisa saja kau tambah kecewa. Di misi ini kau dan Xenovia-chan berangkat bersama, namun hanya kau seorang diri yang kembali. Berbeda dari yang kau harapkan."
Irina tertegun mendengar penjelasan Naruto. Ia tak menyangka kalau pemuda itu mengambil langkah seperti ini demi dirinya. "S-sebenarnya—"
"Aku tahu..." sahut Naruto cepat memotong ucapan lawan bicaranya. "Xenovia-chan pernah mengatakan apa yang ingin kau katakan barusan. Kesempatan kalian berdua selamat dari misi ini hanya tiga puluh persen saja. Itulah alasan kalian meminta pada [Pihak Gereja] untuk dikirim... Kalian siap mengorbankan diri."
"I-itu sudah menjadi harapan kami. Siap mengor—"
"Jika seperti itu. Maka ubahlah apa yang kalian, terutama kau, harapkan." ujar Naruto kembali memotong Irina yang hendak membalas. "Ketahuilah, di sana, di Vatikan pasti ada yang menanti kepulang kalian, walau misi yang kau dan Xenovia-chan lakukan memiliki persentase kecil untuk selamat. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama denganku..." ekspresi yang sulit diartikan mulai terpancar di wajah Naruto kala beralih menatap langit pada dinding kaca bandara.
Selagi pemuda itu memberi jeda. Terlihat Irina melirik wajah lawan bicaranya itu.
"...Aku siap mengorbankan apapun termasuk nyawaku. Memaksakan diri untuk sampai ke sebuah tempat yang tak akan pernah bisa kugapai. Membuatku lupa dengan orang-orang yang ternyata sangat menanti kepulanganku dibanding tempat tersebut." tanpa sadar ketika selesai berbicara, Naruto tenggalam dalam ingatannya sendiri. Ingatan saat ia menghabiskan waktu beberapa tahun lamanya demi bertemu dengan seseorang. Ya, seseorang yang malah memberi banyak luka tak terlihat setelah bertemu.
.
.
"...uto-kun!"
"...ruto-kun!"
"Naruto-kun!"
"Eh! Ada apa?" pemuda yang namanya 3 kali dipanggil akhirnya menyahut setelah pulih dari nostalgia singkat tadi. "Maaf, maaf. Aku tadi melamun."
"Ie, nggak papa kok." Irina menggeleng-gelengkan kepala. Namun, lain dimulut, lain lagi dihati. Ia penasaran dengan maksud dari cerita Naruto. "Sesakit apakah masa lalu yang kau miliki sampai memasang wajah seperti tadi, Naruto-kun?" pikirnya bertanya-tanya dengan nada lirih. Ya, nampaknya bukan hanya cerita tadi yang membuatnya penasaran, melainkan semua hal tentang pemuda itu.
Seperti yang dikatakan Madara sore kemarin, saat memberitahukan lokasi Irina ke Naruto di atap apartemen.
"Ah, lupakan saja yang tadi. Intinya kau harus berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan untuk mengorbankan diri... Jadi bagaimana dengan perjanjian kita? Kau masih ingat, 'kan?" tanya Naruto segera mengalihkan topik, tidak ingin Irina bertanya lebih lanjut perihal cerita singkatnya tadi. Baginya, itu sebuah masa lalu yang mungkin tidak perlu diingat lagi.
Seperti paham situasi yang diinginkan oleh pemuda itu. Irina mengangguk, selagi menjawab dengan nada bersemangat. "Tentu saja. Jika sudah sampai, setelah melaporkan hasil misi. Akan kutanyakan pada yang lain."
"Baguslah." seru Naruto, kemudian merogoh saku kiri celana panjang yang dikenakan. Dari sana ia mengeluarkan sesuatu lalu diberikan ke Irina.
Dengan wajah bingung, gadis itu menerima dua benda tersebut. "Untuk apa kertas dan pena ini Naruto-kun?" tanya Irina dengan nada yang sama dengan wajanya, bingung.
"Malam ini, aku dan yang lain berencana menghilangkan bukti keberadaan kami. Makanya, selepas mengantarmu, kontak, handphone, jejak keberadaan dan lain-lain akan kami lenyapkan. Tapi, khusus untukmu dan tiga keluargaku di tempat lain. Itu tak berlaku. Tulis nomor kontakmu disana, cepat atau lambat aku akan menghubungimu, paham?"
Irina tersentak selepas Naruto mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan. Serangan panas mulai menerpa wajah cantiknya, yang pastinya bukan efek udara ataupun terik matahari. Wajar saja bila ia merasakan hal tersebut. Walaupun tumbuh di keluarga berkeyakinan tinggi dan juga sedikit tomboy ketika masih gadis Loli, ia sedikit mengerti hal-hal berbau romantis yang sekarang mulai merajela dan tidak pandang umur lagi sekarang ini.
"K-khusus untukku?!" dua kata inilah yang membuat wajahnya mulai memanas. Hanya dia dan tiga keluarga Naruto yang diberi ke-istimewaan ini. Apalagi dua kata tersebut diucapkan oleh pemuda yang datang menolong setelah diserang oleh Kokabiel, dan juga orang pertama yang mengutarakan rasa syukur dengan senyum hangat saat siuman pagi tadi.
"Ya, memang ada yang salah dengan itu?" Naruto balik bertanya.
"Tentu saja ada yang salah! K-kenapa hanya aku dan tiga keluarga Naruto-kun yang boleh tahu?"
"Karena kita masih memiliki perjanjian. Coba pikirkan? Nanti, bagaimana caranya mengimformasikan tentang bayaran kami jika kau tidak tahu tempat tinggal ataupun kontakku?" sembari menjawab dengan nada sedikit bercanda, jari telunjuk Naruto teracung ke atas.
"Jadi itu alasannya, ya?" gumam Irina pelan sambil tertunduk menatap lantai bandara. Ternyata apa dipikirkan salah! Dan entah dari mana datangnya, muncul sedikit kekecewaaan saat mendengar jawaban tersebut. Apakah ia terlalu berharap ada alasan selain perjanjian tersebut sehingga membuatnya kecewa? Hanya Irina dan Author Brengzeck ini yang tahu.
Kebetulan Naruto sadar akan hal ganjil yang terjadi pada gadis disampingnya, tadi sempat memasang wajah bingung, penasaran dan terkejut. Kini, malah tertunduk lesuh. "Hey, kenapa tiba-tiba murung seperti itu?" Irina menoleh ke dirinya saat berbicara. "Oh, aku ingat sekarang! Kau berharap lebih dari itu alasanku meminta kontakmu, bukan?"
Naruto yang sekarang bukanlah pemuda yang tidak peka, dan juga dia bukan Naruto lain dari dimensi berbeda yang tidak peka apalagi menyakut perasaan perempuan. Banyak hal sudah dilewati olehnya, termasuk bagaimana rasanya tertarik dengan lawan jenis bahkan sampai ke titik dimana perasaan cinta muncul ke permukaan. Oh, sepertinya memang benar kalau pengalaman adalah guru terbaik sekaligus terkejam. Ingat itu!
Dan jangan lupakan kalimat 'aku ingat sekarang' yang sempat terucap di mulutnya barusan.
"K-kau bilang apa, bodoh?! M-mana mungkin aku berharap lebih dari itu!" sembur Irina kesal. Apa yang dia pikirkan mampu dibaca oleh pemuda di sampingnya. "Jangan mengada-ngada, Naruto-kun!" tambanya dengan nada membantah.
Naruto tertawa pelan. "Tak usah mengelak, Irina-chan. Kau tahu, mata Uchiha brengsek itu sangat tajam loh. Walau aku masih ragu dia cuma bercanda atau tidak dengan ucapannya. Sore kemarin, saat menemukanmu dalam keadaan terluka. Uchiha brengsek itu bilang "Gadis cerewet yang mulai tertarik padamu, bla-bla-bla" ya, kurang lebih seperti itu." jelasnya santai, tapi dua kali nadanya berubah jengkel ketika mengutip gelar yang dia sematkan ke Madara.
"Huh, Madara-san pasti bercanda!" bantah Irina sekali lagi.
Dan karena malas atau tidak ingin membalas masalah seperti ini lagi. Naruto mengangguk seolah setuju dengan pendapat gadis Exorcist itu. "Ya, aku pun berharap dia cuma bercanda. Bisa repot kalau dia benar-benar serius, haha..." tandas Naruto diakhir tawa hambar. "Ya, bisa repot... Huh, benar-benar merepotkan!" pikirnya melanjutkan.
"Anoo, Onii-can dan Irina-nee sedang bicara apa?"
Mendengar suara Yuki yang sudah selesai dengan urusan makan cemilannya. Naruto mengalihkan perhatiannya ke arah kiri. "Cuma hal tidak penting kok, Yuki."
"Apa itu, Onii-chan?" Yuki kembali bertanya, meski itu tidak penting tetap saja membuatnya penasaran.
"Hmmn, soal perjalanan Irina-chan nanti, Yuki." dan akhirnya Loli itu ber'oh' ria sambil mengangguk. Toh, itu memang tidaklah penting bagi Yuki, dan mungkin karena terlalu senang tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan polos yang terlontar dari mulutnya seperti biasa.
Tak selang 3 menit lamanya. Pihak bandara Tokyo pun mengumumkan informasi keberangkat pesawat tujuan Roma. Cepat-cepat, Irina menulis kontaknya pada kertas tersebut lalu dikembalikan ke Naruto. Setelah itu ia beranjak pergi dari lokasi Naruto dan Yuki menuju gerbang masuk area khusus penumpang.
"Sampai ketemu lagi, Irina-nee!" teriak Yuki sambil melambaikan tangan kanan.
"Jaga dirimu baik-baik... Omonganku tadi jangan dimasukin ke hati. Masukin saja ke saku terus buang ke tempat sampah!" timpal Naruto, ikut melakukan hal yang sama seperti adiknya.
"Tentu saja, Dasar Bodoh!" balas Irina berteriak kesal yang ditujukan ke Naruto, lalu beralih menatap adik pemuda itu. "Dadah, Yuki-chan!" dan khusus untuk sang mahluk terindah di muka bumi, ia memberikan senyum hangat sebagai hadiah perpisahan.
Sedangkan Naruto, setelah berteriak. Dia memandangi punggung sang gadis Exorcist yang sudah berbalik sebelum hilang di tengah kerumunan. "Terima kasih, Irina. Walau semalam kau hanya berbaring penuh luka dan sedikit campur tangan Hilda serta Madara-teme, namun itu yang membuat Yuki menangis. Tangisan yang menjadi akhir masalahku dengan Rias... Maaf, untuk saat ini. Aku belum bisa membalas semuanya. Tapi, suatu hari nanti kubalas semuanya—"
"—apapun itu!"
.
.
.
Sepulang dari bandara yang kembali memakan waktu dua jam, giliran Naruto yang mengemas barang-barang miliknya ditemani cahaya jingga yang menembus jendela kamar. Sebenarnya ia bisa menyuruh ketiga manusia penggunan chakra merepotkan itu menyegel barang-barangnya dalam gulungan penyimpanan, namun entah kenapa ia merasakan firasat buruk kalau Madara akan melakukan hal aneh terhadap barang-barangnya, terutama yang bersifat pribadi dan rahasia.
Menggunakan tas ransel hitam, ia mulai memasukkan satu per satu pakaian yang hendak dibawa. Saat ransel itu hampir penuh dan menyisahkan ruang untuk satu pakaian saja, pandangannya fokus pada satu set pakaian yang dikenakan di malam pertunangan Rias. Mendesah pelan, ia memikirkan apa pakaian itu harus dibawa atau tidak karena berpengaruh cukup besar dalam hidupnya. Karena pakaian tersebut adalah hadiah dari seseorang, pada akhirnya ia memilih untuk membawanya.
"—!?"
Ia tersentak karena terkejut, sebuah kalung terjatuh ke lantai saat menarik pakaian terakhir yang ingin dibawa. "I-Itu kan..." ia memandang lama kalung berbantul kristal biru sebelum menunduk dan mengambilnya. "Aku kira benda ini sudah hilang. Ternyata selama ini ada di dalam lemari..." ucapnya pelan. Ia kemudian mensejajarkan bandul kalung tersebut dengan matanya dan tersenyum kecil.
"Kenangan yang indah... dan mungkin sulit untuk dilupakan." pikirnya sebelum kembali tenggelam dalam ingatan ketika masih berada di Underworld—bukan ketika ia mulai jatuh cinta, melainkan kenangan bersama seseorang. Kemudian, beberapa saat setelahnya pandangannya berubah sendu.
"Underworld... Underworld, bahkan setelah kutinggalkan masih saja memandang rendah yang lemah. Maaf, waktu itu aku tidak disana. Semoga kau tenang dimana pun sekarang kau berada—"
"—Karin."
.
Selesai berkemas-kemas, tanpa menunggu Hilda tobat dari aliran sesatnya Naruto segera menyusul yang lain diruang tengah. Setibanya di sana keningnya mengkerut melihat kegiatan Trio Mahluk Merepotkan. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya bingung sambil mengedarkan pandangan. Di sana-sini, di setiap sudut ruangan, puluhan kertas berukuran kecil tertempel. Setiap kertas yang tertempel memiliki tulisan dan simbol-simbol aneh yang ia yakini adalah kertas peledak buatan desa Konohagakure.
"Mendekorasi ulang apartemenmu." sahut Madara asal-asalan.
"Kalian gila? Apartemen ini bisa kita jual, oii! Asal kalian tahu keuanganku mulai menipis!" ucap Naruto kesal dengan ulah Madara, Hashirama dan Hilda. Nampaknya, ia harus mempertanyakan dimana otak ketiga orang itu ditaruh sampai-sampai bertindak sejauh ini hanya untuk menghilangkan keberadaan dari pengawasan ketiga Fraksi Besar.
"Keuangan? Kurampok bank dunia pasti keuanganmu kembali sehat pakai sekali, bocah sableng." balas Madara diakhir dengusan pelan.
"Itu malah lebih gila lagi, Uchiha Bangsat!"
"Orang gila tidak tahu mereka gila. Aku tahu aku gila. Jadi, apa aku termasuk gila?" ucap Madara mengambil quote kampret dari kapten kampret di film [Pirates of CabeCabean] sehingga membuatnya keluar dari sifat yang biasa.
Keringat jatuh langsung menghiasi bagian belakang batok kepala Naruto. "Sempurna... Hidupku benar-benar sempurna. Orang kelewat gila, gadis mesum tak berguna dan pemimpin tak punya wibawa yang maunya diperintah terus... Selanjutnya apa? Banci kaleng teman Stark, kah?" pikir pemuda itu yang kini mengalami mental drop tingkat delapan meratapi kehidupan sehari-harinya selain bertarung, bertarung dan bertarung. Beruntung dengan adanya Yuki, kewarasannya masih bisa tertolong, kalau tidak... Cerita ini pasti tamat karena keempat mahluk absurd ini dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa terdekat.
"Kau gila... Sangat gila malahan sampai tidak ada rumah sakit jiwa yang mau menerimamu."
Madara menyeringai, menyilangkan tangan di depan dada yang dibusungkan ke depan. "Eheem..."
"Aku tidak memujimu, Uchiha Bangsat!" sembur Naruto emosi.
"Ampun deh... Lama-lama kubakar juga Uchiha Bangsat ini." pikirnya setelah emosi yang tadi mulai mereda tergantikan drop mental yang lebih parah.
.
Satu jam kemudian, Naruto kalah dalam adu argument tentang nasib kandang kuda mereka. Ya, malam ini kandang kuda mereka harus dihancurkan demi menghilangkan jejak. Walaupun itu sedikit berlebihan, namun bagi Madara malah menyenangkan karena dengan itu mereka memberi hadiah perpisahan meriah yang tak akan pernah dilupakan para mahluk supernatural di kota Kuoh.
Setelahnya, tidak ada hal yang mereka semua lakukan kecuali mendekorasi ruangan. Naruto dengan sangat-sangat berat hati ikut serta, bagiannya berada di lantai dua bersama Hashirama.
Kemudian, ketika bulan sudah menampakkan dirinya di langit. Semuanya telah bersiap untuk berangkat, walau hanya Naruto yang terlihat jelas dari pakaian serta tas ransel yang dipakai. Sebelum benar-benar menghilang dari Kuoh, ia bersama keluarganya menyempatkan diri makan malam lebih awal di restoran. Dan lagi-lagi restoran yang harus menguras kantongnya dipilih Madara, alhasil selesai makan dan dalam perjalanan ke salah satu tempat di kota Kouh, adu argumen yang sempat terhenti ketika makan kembali berlanjut.
"Aku tau kau gila, Teme. Tapi setidaknya pikirkan tentang keuanganku. Maōu Lucifer tidak bisa lagi menjadi sumber dana, Da-Tenshi mesum itu juga."
"Makanya kubilang, rampok saja bank dunia atau bank di sekitar sini. Keuanganmu pasti sehat kembali." ucap Madara.
"Kita sudah jadi kriminal dunia Supernatural di pihak Iblis dan kau mau menambahnya. Kabel merah otakmu benar-benar sudah putus, Uchiha lapuk." tegas Naruto diakhiri sindiran halus yang berarti 'Gila' ke lawan bicara.
"Ya, itu benar. Tapi masih mending otak daripada urat kelamin putus, mau mencobanya?" tawar Madara disertai seringai mengerikan. Di samping pria itu, Naruto langsung merinding membayangkan urat penyambung masa depannya putus.
"T-Tidak, terima kasih. K-K-Kau saja yang mencoba." ujarnya terbata-bata masih membayangkan hal tersebut.
Madara bersikedep. "Makanya jangan banyak protes."
Yuki yang berjalan di depan bersama Hilda dan Hashirama menoleh kebelakang dengan bibir maju beberapa senti, dan entah kapan mengambilnya, ada dua batu kecil di masing-masing tangannya. "Mouu~ Onii-chan dan Maddie-niichan berhenti dong!" ia melempar dua kakaknya dan tepat sasaran. Yuki Double Headshot!
Naruto dan Madara langsung meringis kesakitan sambil memegangi kepala mereka. Kontener Kurama menoleh ke kiri. "Cih, Shinobi macam apa kau? Dilempar batu sudah meringis." sindirnya.
"Kau sendiri, hah? Sampai pasang muka orang yang ketusuk pisau." ujar Madara sewot.
"Biar ada humornya gitu." balasnya sambil nyengir-nyegir tidak jelas, seperti ucapannya yang juga tidak jelas.
"Garing coeg!"
Naruto merasa terhina dengan itu. Dan ia sudah tidak lagi, sudah cukup hari ini Madara membuatnya pusing tujuh keliling soal keuangan. "AHH, BERISIK!" tanpa ampun, ia langsung menerjang sang Uchiha. Terjadilah perkelahian anak SD di tengah jalan sepi kota Kuoh.
"Brengsek, apa yang kau lakukan bocah?!"
"Akan kuhancurkan muka papanmu, Uchiha lapuk! Terus kujual di tempat daur ulang sampah!"
"B-Bangsat, kau menendang selangkanganku, Bocah Api!"
"Biarin!"
"Teeeemeee!"
Guling-guling, saling serang dan baku ejek terjadi dalam kepulan asap di tengah jalan. Tiga orang yang berjalan di depan berhenti. Kening Hashirama mulai nyut-nyutan dan tidak tahan lagi. Ia pun menghampiri duo itu dengan tangan kanan dikepal kuat-kuat, background lautan api memenuhi bagian belakang sang Pemimpin Tak Punya Wibawa ini.
"ARRGGHH... KALIAN MENGGANGGU KETERTIBAN WARGA, BERHE—"
""DIAM!""
Bukannya memukul, malah Hashirama yang harus kena pukul. Pakai api orange dan Chakra lagi. Alhasil, ia pun melambung jauh, terbang tinggi, bersama bintang...
"KENAPA HARUS AKU YANG KENA PUKUL?!"
.
.
.
.
Setelah melalui adegan nista itu, akhirnya Quartet Mahluk Absurd ditambah Mahluk Terindah di muka bumi tiba pada tujuan mereka. Entah bagaimana ceritanya, Hashirama bisa berkumpul bersama padahal sudah terbang jauh. Sedangkan perkelahian Naruto dan Madara terhenti dengan tidak elitnya, mereka dijitak sepatu oleh Yuki.
Berdiri di atas atap Gereja tua yang menjadi saksi pertempuran anggota ORC melawan Geng Raynare. Keluarga bahagia itu memandang jauh menuju lokasi apartemen mereka.
Madara yang berdiri paling kanan menoleh ke kiri.
Yang lain mengangguk pelan mengiyakan, walau terlihat jelas di wajah Naruto perasaan tidak rela dan juga kesal. Ia pun membentuk segel tunggal dengan tangan kanan, lalu berkata singkat, padat, jelas dan sediki... bersemangat?
"Katsu!"
Ledakan beruntun yang membentuk tumpukan bola api raksasa terjadi pada lokasi yang mereka pandangi. Asap hitam pekat mulai membumbung tinggi ke atas langit, dan akhirnya hadiah perpisahan meriah sang Uchiah dipersembahkan untuk kota Kouh. Dan tanpa mereka ketahui, Rias Gremory juga menjadi korban tidak sengaja dari ledakan tersebut.
Yuki yang berdiri di depan Naruto merasa sedikit sedih. Tempat tinggal penuh kenangannya harus hancur tak bersisah oleh ulah kakak gilanya. Ragu-ragu ia memegang tangan kakak satunya yang melingkar di lehernya. "Nee, Onii-chan..." ia menoleh ke atas memandangi wajah Naruto. "Nanti kita tinggal dimana?"
Sebelum memberi jawaban, Naruto berpaling ke kanan. Tatapannya disambut anggukan oleh Hashirama dan Madara. "Sebelum mendapat tempat tinggal baru. Kita akan tinggal di Kyoto, bersama Yasaka-kaasan dan Kunou. Mengingat itu satu-satunya tempat kita kembali selain Konoha." ujarnya kembali ke Yuki yang masih mendongak.
"Hn, dengan begini. Fajar selanjutnya, satu lagi penghambat tujuan kita benar-benar menghilang." gumam Madara datar memberi sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Fajar, kah? Kata yang bagus." Naruto dan Kurama serentak berpikir.
"Kau benar, Madara. Sekarang tinggal menunggu kabar dari Irina dan juga Jiraiya." Hashirama ikut berbicara menimpali ucapan sahabatnya.
"Huh, aku tidak sabar lagi mau ketemu pengikut Maōu lama. Akan kujadikan mereka semua tumbal untuk Jashin-sama. Ufufufufufufu~~" lain lagi dengan Hilda yang kini berpakaian yang mampu membuat, errr—nafsu para lelaki hidung belang melalang buana ke langit ke-tujuh. Satu set pakaian Gothic Lolita hitam yang menampakkan belahan dada dan paha mulusnya, dan sepasang high heel panjang yang mencapai betisnya.
"Sekalian saja kau jadi tumbal seks Dewa Jashin-mu itu Hilda." celutuk Madara tidak diiringi tampang bercanda yang membuat Hashirama dan Naruto ingin muntah melihatnya.
"Aku maunya Madara-kun. Ayo kita lakukan!" ucap Hilda, mulai memamerkan dadanya yang tinggal sedikit lagi terekspos sempurna dan kebetulan yang berdiri di sampingnya adalah orang yang diajak berbicara, Uchiha paling keji dan gila se-jagad raya.
Madara berpaling ke arah lain menghindari senjata biologis itu. "Hn, tidak tertarik." sahutnya datar, namun rona merah di pipi mengatakan hal sebaliknya. Cie-Cie, Mbah-Madara malu-malu kucing, dunia sudah pasti mendekati akhir.
"Sana sama Dobe saja. Kasihan dia, sudah kepala tiga masih saja perjaka." tambahnya berusaha menggiring niat gadis mesum itu ke Hashirama.
"Hoii, kau juga sama perjakanya denganku, Uchiha lapuk!" sahut Hashirama cepat. Dia tidak terima atas hujatan Madara itu.
"Kau cari mati ya, Otak Kerbau?" Madara membalas dengan mata sakti yang sudah aktif, memberi teror kematian ke sahabatnya. Ah, ini orang... Suka menyindir, tapi tidak suka disindir!
"Maju kau, muka papan!" namun sayang, tatapan tajam disertai Sharingan dari Madara sudah menjadi santapan hari-hari Hashirama dan itu sama sekali tidak membuatnya takut apabila di situasi bercanda seperti sekarang ini.
"Mouuu, jangan berebut gitu dong! Kalian bisa bareng kok, adil kan?"
"Diam, gadis sesat!"
"Hn. Jangan ikut campur, mesum!"
"Ya, teruslah berdebat mahluk-mahluk nista. Kutinggal baru tahu rasa."
Madara, Hashirama dan Hilda bersamaan mengalihkan perhatian ke suara tadi. Dan sama serentaknya, kendutan kecil muncul di kening mereka. Naruto bersama Yuki sudah melompat masuk ke dalam cahaya emas yang mulai memudar. Terjadilah hal paling aneh dan cukup lucu dalam sejarah Senju dan Uchiha. Kedunya—tidak, bersama dengan Hilda. Mereka berebut masuk ke dalam satu-satunya alat transportasi penghubung lokasi sekarang dengan Kyoto.
Dalam keadaan berhimpitan pada tehnik teleportasi Naruto, mereka memasang tampang marah bercampur kesakitan yang nampak aneh. Lalu secara serentak mereka berteriak penuh penghayatan.
"BOCAH BANGSAT!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Oke... Sekian untuk Chapter 20.5-nya yang kira-kira berjumlah 5K lebih. Mungkin tidak ada yang menarik di Chapter ini dn cukup garing Humornya. Atau sebaliknya? Ada sesuatu yang penting tentang Pair Naruto di masa depan nanti #SenyumSenyumGakJelas. Atau yang lain? Entahlah? Saya juga bingung, makanya nanya #Plak!
Sebenarnya, Chapter ini mau digabung dengan Chapter kemarin, tapi takutnya entar kepanjangan dn jadi bosen bacanya. Makanya dipisah.
Dan yang nunggu Fic Uzumaki D. Naruto... Noh, saya udah Update bersamaan dengan Fic ini. Dan saya minta maaf sudah telantarin Fic itu sampai sampai lumut lain tumbuh di atas lumut yang numpuk #NgomongApaSih?
.
.
"Orang gila tidak tahu mereka gila. Aku tahu aku gila. Jadi, apa aku termasuk gila? "
—Captain Jack Sparrow
.
.
Sekarang waktunya balas Review dri para Reader. '0')/
Laffayete: Hahahahaha, Drama eplywel :v Yaps, adil! Gantian uring-uringannya... Oke, saran ide ditampung, makasih... Gak papa, tiap-tiap orang beda seleranya. Dn tenang, Milf bakalan banyak kok, tpi gak bakalan ngalahin para Loli (")... Oke, makasih sekali lagi! ^_^)/
Araqiel Tempest: Makasih, hehehehehe ^_^)/
Uzumaki melstorm: Nggak Discon kok. Cuma lgi Hiatus, Up selanjutnya mungkin Trio Uzumaki.
AE Hatake: Kapan berakhir? Hmn, hmn, mungkin masih lama. Tpi gak keseringan main Dramanya [Naruto-Rias] dn Gak bakalan kek sinetron kok... Chapter ini masih di Kuoh dn sisi Naruto DKK yng diceritain. Di Chapter depan baru pindah TKP dari Kuoh... Oke '-')b Rasengan ada kok, cuma Jiraiya yang ciptain, bukan Minato.
muh syaedir: Ya, mungkin saat ini masih lemah krn belum All-Out, yang di Chapter 3 itu juga tdak sepenuhnya All-Out Narutonya, dia cuma gabungin Senjutsu dan Api Kurama... Nggak! Kurama bukan mahluk lemah disini. Liat aja nanti di penghujung KTT 3 Fraksi. Alasannya akan terkuak kenapa Naruto terlihat lemah.
Yuki ChibiHitsu-chan: Hahahaha, biar adil! Dulu Naruto yng uring-uringan, sekarnag giliran Rias... Yaps pergi, nih udah di ceritain di Chapter ini... Yaps, Rias mastiin apa Naruto punya perasaan, tpi sayang, Naruto udah keburu pergi... Chapter 22-23 kebenaran tentang Naruto dn reaksi Madara terlihat... Wokeh '0')/
Ashuraindra64: Hmn, hmnn. Memang di Canon Naruto, Senjutsu adalah malapetaka buat Pain. Tpi di Fic ini... Walau udah Perfect Senjutsu, tapi Naruto cuma make dalam 3 hal... Sebagai peningkat kekuatan fisik, Serangan [Kawazu Tataki] dan Media Teleport... Namun, jika masuk ke Mode mirip Hachimon Tonkou no Jin [Di Chapter 3] akan beda lagi. Kedepannya bakalan nambah kuat kok Senjutsu Naruto, pas Jiwa Iblisnya udah gak kesegel. Sejarah, saat ini tubuh Naruto masih manusia [Kurama hanya meminjamkan kekuatannya, itupun tidak semuanya, bahkan setengah pun tidak] yang sudah dilatih beberapa tahun oleh MadaHashiTobiIzuna... Trus Api Kurama. Liat aja nanti di Penghujung KTT 3 Fraksi.
ArdianUzumaki: Dapat kok.
saputraluc000: Oke '-')b
Mangetsu-kun: Hehehehe, Maaf-Maaf... Soal Manga itu, semacam pancingan aja biar Rias sadar. Pan, Rias juga susah buat mastiin kenapa Naruto melalukan semua itu. Ya, pancingan buat dia sadar aja.
Aka na Yuki [My Imouto]: Hehehehehehehe, biar orang-orang tau... LOLICON GAK AKAN PERNAH HILANG DARI DUNIA #HUAHUAHUAHAHAHAHAHAHAH... Oke-oke. Nanti kukasih tau deh, Dedek Yuki. Lewat PM, oke! ... Typo, ah sudah biasa dn gak akan bisa dihilangin... kalimat tidak efektif, shit! kagak ilang-ilang juga nih satu hal merepotkan... Dan terakhir... ARGGGGGHHHHHH TERKUTUKLAH KAU FEEL YANG GAK DAPEEEETTT '0')9 ... Nyiahahahaha, bakalan diceburin kok si Stik-nya.
t shuichi10: Hehehe, makasih ^_^) ... Wokeh, nih udah Update '-')/
Hyoudou Serafall: Wokeh, Reader tercinta ^_^)/ ... Heheheheh, makasih! ^_^) ... Apartemen itu meledak gara-gara Madara yng mau ngasih perpisahan meriah untuk kota Kouh, Kelompok ORC, Iblis-Iblis dan Malaikat Jatuh penghuninya.
Lusy922: Ya, Rias udah menyadari kesalahannya ke Naruto... Mungkin dia bakalan ngejar-ngejar Naruto buat minta maaf dan batalin keputusannya untuk menjadi musuh Fraksi Iblis, mungkin... Wokeh '0')/
hann-chan: Udah diUpdate bersamaan ama nih Fic. Cek aja!
Ttpod: Wokeh '0')/ ... Udah gak naksir lagi, walau perasaannya masih ada [mungkin]... Muahahahahahaah! Noh Mbah-Madara udah gila [bukan kekuatannya]. Soal gila kekuatan, keknya masih lama.
Guest 01: Maafkan saya... Masih dalam tahap belajar T-T) Makanya nggak terlalu ngena.
Guest 02: Maaf deh kalau kurang ngena. Tapi, makasih udah mau komen soal Feel-nya... Hehehehe, tenang aja. Masih banyak yng nunggui Rias di depan sana... Oke, makasih. Saran diterima. '-')b
Pendy: Udah menyesal kok Mbak-Rias-nya. Gak, kalau ampe terjadi, Naruto nantinya dibantai Mbah-Madara. Pastilah, nih udah dilanjut.
Shinta Dewi468: Hehehehehe... Gak papa kok, dibaca aja udah senang, apalgi di Review. Pertama, makasih atas reviewnya ^_^) ... Banyak kok yang berpikir sama kek Dedek Dewi soal Fic ini ngebosenin, dan sampai sekarang mungkin masih seperti itu beberapa di antara mereka. Sedikit Spoiler, salah satu dari pairnya udah muncul, tpi gak terlihat jelas klo bakalan jadi pair Naruto entar [Mungkin]... Tenang aja, gak bakalan ada Lemon kok... Wokeh '0')/
Al-Faraoh: Makasih, hehehehe ^_^) ... Semangat bikin makalah, jangan sama kek saya. Kerjanya cuma Copy-Paste punya temen klo ada tugas #Plak ... Itu kerjaan si Uchiha Lapuk yng mau ngasih hadiah perpisahan meriah untuk kota Kouh. Klo Hilda ngamuk mah, bakalan banjir darah :v :v
Deadpool: Tenang, Chara Loli bakalan nambah kok. Di Arc IV nanti bakalan jadi [Arc Loliland] alias Full-Loli (")
TsukiNoChandra: Wokeh '-')/ ... Hahahahah, setuju-setuju. Tpi bedanya, saya lebih ke Character yng berperan penting yng dibikin uring-uringan... Gila! Lu sama Gila-nya kek Mbah-Madara... Heheheh, gak papa kok. Saya juga kek gitu, mulai malas buka FFn kecuali klo mau UP Fic ato gak Fic Fav Update.
Mangetsu Ringu: Begitulah #SaveMbakRias... Semoga, ya semoga saja. Kedepannya bakalan banyak kok yng kek begini. Bedanya, bukan cuma Naruto dan Rias yng ambil bagian. Beberapa Chara pun akan dapat bagian kek beginian.
nn: Klimaks itu bagusnya di taruh di belakangan. Hahahahahaha!
DeniTria: Makasih-Makasih ^_^)... Tenang, semua orang bakalan tau kok yang terjadi antara Naruto dan Rias.
Kurosaki Kitahara: Makasih... Sory, habis kena otak blank plus Bertapa 7 hari 7 malam di gunung kembar Dedek Sherry (") makanya kelamaan... Chapter depan si Kaisar Naga Pantat nongolnya... Yaps, tentang Pair, hampir semua tebakanmu benar. Masih lama Naruto bakalan dapat pair, lebih tepatnya Naruto tentuin keputusannya... Wokeh '-')/ Bakalan diusahain cepat!
raitogecko: Hahahaha... Gak papa kok. Dibaca aja udah senang, apalagi direview... Benar sekali! Fic ini berisi mahluk ter-imut diantara mahluk-mahluk badass, kampret bin nista... Bukan, yang ledakin si Mbah-Madara yng mau ngasih hadiah perpisahan kepada Kuoh.
Yang Review Lanjut, Next, sebangsa-nya dan senegara-nya. Nih sudah dilanjut! Dn tumben gak makan waktu sebulan lebih.
.
.
Brengzeck 014 [Root Loliwood] and Stark sayang mami kushi selalu (Njriiit! Bikin sakit mata nih Pen-name Kampret) Out! Saya mau main dengan Dedek Shiina Mashiro dulu! '-')/
Salam Lolicon!
