Author Note: Well. Sebagai pembuka Chapter ini yang mulai masuk bagian baru ini, walau masih termasuk [Arc III: Early and Late]. Saya mau memberitahukan bahwa sejatinya ada 3 bagian dalam Arc ini... Pertama: Bagian Yuki yang menurut Madara, Naruto dan Hashirama terlalu cepat mengenal dunia supernatural [Early]... Bagian kedua: Selesainya kisah cinta bertepuk sebelah tangan Naruto yang sudah sangat terlambat dikarenakan , dan juga di sisi Rias terlambat menyadarinya [Late], Arc Excalibur masuk bagian ini... Dan bagian ketiga [Daybreak], judul Fic ini. Seperti apa bagian ini? Terus baca aja (Kalau mau, Hehehe).
Oke, silahakan dinikmati Chapter terbaru ini.
Disclaimer: Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and others not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance and Mistery.
Warning: Author Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Etc.
Arc III: Early and Late.
Chapter 21: Daybreak — Beginning!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di atas sebuah gedung tinggi terlihat seorang pemuda dengan rambut perak gelap yang melambai-lambai diterpa hembusan angin malam. Ia berdiri dengan posisi tangan dijadikan penopang tubuh pada pagar besi pembatas. Sesekali, helaian poni miliknya menutupi pandangan, namun hal itu bukanlah masalah baginya karena apa yang dipandang bukanlah hal penting... Hiruk pikuk suasana malam hari di dunia yang ribuan tahun lalu ditinggal pergi oleh pencipta-Nya.
"Hmn, Ophis. Tumben kau mendatangiku malam-malam begini. Ada apa gerangan? Misi baru?"
Tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun, ia berbicara dengan datar kala aura yang sangat familiar tiba-tiba muncul dan dirasakan dari arah belakang.
Dari balik kegelapan, sosok yang diketahui bernama Ophis muncul. Pancaran sinar lampu dari tiang besar puncak gedung tersebut mulai memperlihatkan sosoknya. Seorang gadis kecil cantik-imut-menggemaskan dengan ciri-ciri: kulit putih pucat yang bersih, rambut panjang berwarna hitam seperti kegelapan tempat dia muncul, mengenakan pakaian Gothic Lolita yang terbuka pada bagian depan, menunjukan payudara dalam masa pertumbuhan yang hanya tertutupi dua pita ditempel menyilang.
"Aku khawatir padamu, Vali." balas Ophis. Suaranya lembut dan halus, namun nadanya datar seperti ekspresi yang diperlihatkan. Seolah-olah apa yang diucapkan tidak tergambar pada wajahnya.
"Huh! Apa aku tidak salah dengar?" pemuda bernama Vali melirik ke samping kiri, tempat dimana Ophis berdiri. Melihat gadis Loli itu menggeleng kecil, dengusan lain kembali ia keluarkan. "Huh! Aku tak menyangka, Dewa Naga ternyata bisa khawatir dengan seseorang." ucapnya secara tidak langsung mengirim sebuah ejekan.
Namun melihat siapa yang diejek, maka bisa dipastikan kalau itu sama sekali tidak berefek. Ya, Ophis bukanlah gadis Loli biasa. Dia adalah gadis Loli luar biasa. Dibalik sosok imut-nya, dia merupakan salah satu mahluk terkuat yang 'katanya' ditakuti Sang Pencipta. Di luar sana, apabila mahluk-mahluk supernatural mendengar nama Ophis. Pikiran mereka semua pasti tertuju eksistensi yang dikenal sebagai: Dewa Naga Tak Terbatas, [Ouroboros Dragon] dan [Infinite Dragon God] ataupun [Mugen no Ryūjin].
"Diantara anggota organisasi. Kau dan tim-mu yang paling loyal dan kupercaya." balas Ophis masih dengan nada datarnya mengutarakan alasan kenapa mengkhawatirkan pemuda itu.
"Tidak heran jika kau lebih sering berbicara dengan kami dibanding yang lain. Namun kau salah anggapan jika kami anggota yang loyal. Alasan kami bergabung tidak lebih dan tidak kurang demi mendapat kebebasan untuk berpetualang dan mencari hal-hal baru. Selain itu, ada lagi alasan khusus. Dengan bergabung dalam organisasimu, aku bisa bertarung dan mengalahkan orang-orang kuat untuk menjadi yang terkuat." jelas Vali panjang lebar lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke langit.
"Ya, menjadi yang terkuat! Dengan begitu, aku membayar lunas tindakan dua orang yang sudah membuat hidupku jadi seperti ini." ujarnya lagi menambahkan, dan secara tidak sadar karena mengeluarkan terlalu banyak emosi di dalamnya, pegangan dua tangannya pada pagar pembatas menguat sampai muncul suara penyok di sana.
Tepat setelah Vali berbicara. Hening tercipta selama beberapa menit. kedunya sama-sama diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Vali yang memikirkan ucapan terakhirnya, dan Ophis dengan pikiran polos-nya untuk mengambil kembali rumah penuh kedaimaian yang menjadi alasan didirikannya organisasi bernama Khaos Brigade. Serta sedikit pula memikirkan pemuda di sampingnya.
.
.
"Hey, Ophis." panggil Vali memecah keheningan yang terjadi. Gadis Loli di sampingnya mengangguk pelan sebagai balasan. "Jika tidak ada hal lagi yang ingin disampaikan. Bisa kau tinggalkan tempat ini?" pintanya memutar balikkan status bos dan anggota.
"Aku tidak akan pergi!"
"Tck!"
"Apa yang terjadi Vali, tidak biasanya kau seperti ini. Seharian penuh, tidak bersama dengan mereka."
"A-apa yang terjadi pada Dewa Naga ini?" Vali sempat keheranan mendengar kalimat langka lainnya terlontar dari mulut sang Dewa Naga. Namun, tak berselang lama tetapannya berubah tajam ke gadis Loli itu. "Apa yang kau inginkan? Cepat katakan dan pergi dari sini. Secepatnya akan kukabulkan keinginanmu itu."
"Kepala si Merah Bodoh." jawab Ophis dengan nada dan ekspresi datarnya.
"Dasar Dewa Naga sialan! Kau pikir si Merah Bodoh yang kau maksud itu sapi? Langsung didatangi dan potong lehernya?" umpat Vali dalam hatinya kesal, namun kekesalannya seketika sirna kala Ophis menambahkan hal yang diinginkan.
"Dan juga apa yang kau pikirkan!"
"Hah?"
"Cepat katakan, apa yang kau pikirkan! Aku akan membantumu." ucap Ophis tanpa diiringi wajah seseorang yang hendak menawarkan bantuan. "Le Fay yang mengatakannya padaku. Jika seseorang pernah membantuku, suatu saat aku harus membalasnya. Sekarang aku ingin membalas bantuan yang sudah kau berikan, Vali."
Sekarang Vali benar-benar mengerti kenapa Ophis yang dia ketahui adalah gadis polos, bodoh dan naif yang isi kepalanya cuma ada: 'Aku ingin kepala si Merah Bodoh' atau 'Aku ingin mengalahkan si Merah Bodoh' dan juga 'Merebut kembali rumahku' menghilang entah kemana. Ternyata penyebabnya adalah Le Fay, salah satu anggota dari tim yang ia dirikan.
"Baiklah kalau itu maumu Ophis." jeda sejenak, Vali menghela nafas panjang karena ya—dia tidak mau ada orang lain yang ikut campur dalam masalah pribadinya. Tetapi, sumber dari penyebab dirinya menjadi sekarang ini cukup sulit untuk ditemukan jika hanya dia seorang diri yang mencari. Apalagi, setelah insiden Kokabiel berakhir, orang-orang yang dia cari menghilang tanpa jejak dari kota Kouh. "Dengan kekuatanmu yang tak terbatas itu, mungkin akan berhasil."
"Apa itu? Cepat katakan!" sekilas, ekspresi datar Ophis berubah. "Aku mau cepat-cepat merasakan yang dikatakan Le Fay kalau membalas bantuan seseorang bisa membuatku senang." setitik cahaya menyiratkan rasa tertarik muncul pada mata ungu kusam itu. Wajar saja bagi Ophis begitu tertarik dengan hal itu, perasaan mahluk hidup termasuk sesuatu yang langka baginya.
"Oh, Le Fay. Lama-lama kau bisa mengubah Dewa Naga ini menjadi orang yang kelewat baik." batin Vali miris. Sempat dia memikirkan apa jadinya Ophis bila terus-terusan bergaul dengan gadis bernama Le Fay itu. Dari Dewa Naga yang sangat ditakuti menjadi Dewa Naga yang senang membantu seseorang. "Aku ingin kau mencari keberadaan seseorang. Tebar ular milikmu ke segala penjuru dunia, dan ingat! Ular-ularmu tidak boleh ketahuan oleh siapapun."
Ophis mengangguk paham. Apa yang Vali ingin untuk dia lakukan bukanlah hal sulit. Apa gunanya gelar tak terbatas yang disandang Ophis apabila tidak bisa melakukannya? Kira-kira begitu yang ada di pikiran pemuda berambut perak gelap itu.
"Dan satu lagi. Apa kau tahu apa itu ciri-ciri fisik seseorang?" Ophis kembali mengangguk. "Coba jelaskan seperti apa ciri fisikku!" pinta Vali sebelum Ophis memulai. Dia hendak mengetes ketua-nya itu dulu. Percuma juga bila Ophis menebar ular-nya tapi tidak tahu siapa dan bagaimana orang yang dicari.
Kembali memasang ekspresi andalannya, Ophis mulai berbicara. "Kau berambut perak, matamu berwarna biru dan kau sekarang kau memakai baju dan celana hitam. Seperti itu?" tanyanya meminta kepastian benar atau tidak apa yang dia jelaskan.
"Ya, itu benar. Sekarang dengarkan..." ucap Vali disertai anggukan pelan. Setelahnya, ia mulai memberikan gambaran ciri-ciri fisik orang yang dicari. Bukan hanya itu saja, ia juga memberikahukan seperti apa pancaran aura dan kekuatan orang yang ingin Ophis carikan untuknya. "... Kira-kira seperti itu. Kau paham, Dewa Naga tukang paksa?!"
Bibir Ophis bergerak membentuk lengkungan tipis sebagai jawaban. Ia pun segera memulai apa yang disuruh oleh Vali, tangan kanan diarahkan ke atas. Aura hitam keunguan keluar dari sana dan mulai berkumpul membentuk bola berdiameter cukup besar. Sedetik setelah bola itu tercipta, ia mengepal tangan kanannya. Bersamaan dengan itu, ular hitam kecil dalam jumlah yang tak dapat dihitung keluar dari sana dan melesat ke segala penjuru.
Kening Ophis mengkerut saat bola hitam yang diciptakan sudah habis menjadi jutaan—mungkin milyaran ular kecil. Mengkerutnya kening Ophis karena sesuatu yang ditunggu tidak muncul-muncul.
"Le Fay bohong padaku. Aku sama sekali tidak merasa senang sudah membantu Vali."
.
.
.
.
.
.
.
[Keesokan harinya, pukul 08:10]
"Dobe, ini milikku!"
"Tidak, tidak Teme. Kau sudah makan lima Inarisuzhi. Ini bagianku!"
"Kerbau sepertimu tidak layak makanan seperti ini. Sana makan rumput saja!"
"Kau saja yang makan rumput sana, biar muka tebingmu itu ditumbuhi rumput."
"Grrrr, Kau pilih mana? Inarisuzhi atau aku timpuk Susano'o?"
.
"Ne, ne, Kunou-chan. Onii-chan melatihku banyak gerakan loh!"
"Benar'kah? Mouu, aku juga mau dilatih Naruto-oniichan."
"Kalau gitu, nanti kita latihan sama-sama. Onii-chan pasti senang!"
"Horee, Makasih Uki-chan!"
.
"Mou... Naru-chan nggak asik!"
"Diam kau Hilda. Sudah kubilang sana sama Uchiha Lapuk itu saja mainnya!"
"Madara-kun nggak mau. Naru-chan kan habi—"
"Diam, atau kubuat sate kepalamu itu!"
"Aku maunya Naru-chan yang tadi sate, biar bisa aku 'makan'."
"Arggh, dasar gadis menyimpang!"
.
Yasaka tidak mampu menahan diri untuk tersenyum. Tepat di hadapannya suasana anti-mainstream tersaji kala sarapan hampir selesai. Suasana kediamannya yang biasa penuh akan sisi formal kini berubah 180 derajat. Dua pria berumur tiga puluh tahunan berebut satu-satunya Inarishuzi yang tersisah, dua gadis Loli berceloteh ria dan seorang pemuda harus menahan kekesalannya digoda oleh gadis dua puluh tahunan berambut abu-abu.
Semalam, Yasaka sempat terkejut atas kedatangan Naruto yang secara tiba-tiba. Padahal ia tidak menerima kabar apapun soal itu. Dan keterkejutannya semakin bertambah kala Naruto menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari dicurinya pecahan Excalibur oleh pihak Malaikat Jatuh yang dipelopori Kokabiel. Lalu dengan santainya Madara berbicara jika Malaikat Jatuh itu sudah tewas di tangannya dan Hashirama. Dan yang terakhir, ia sampai tidak habis pikir dengan tindakan Naruto yang menyerang pewaris klan Gremory.
Tetapi, ia yakin jika dibalik tindakan Naruto menyerang Rias Gremory ada sebuah alasan kuat. Dan Kurama pasti ikut campur di dalamnya. Ya, walaupun Yasaka sampai saat ini masih marah kepada rubah tukang tidur itu.
.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"
Naruto, Madara, Hashirama dan Hilda menghentikan kegiatan, sementara dua mahluk terindah di muka bumi masih sibuk dengan urusan mereka. Keempatnya secara serentak beralih perhatian ke Yasaka yang melayangkan pertanyaan tadi. Naruto dan Madara selaku orang yang mempelopori rencana kabur ini saling bertatapan dan mengangguk.
"Secepatnya, mungkin nanti siang. Aku bersama Yuki dan Kunou keluar mencari tempat tinggal baru."
"Kenapa tidak disini saja, Naruto-kun?"
"Err, tidak bisa. Keselamatan Yasaka-kaasan dan Kunou bisa terancam." ucap Naruto pelan, takut menyinggung pemimpin Fraksi Youkai Kyoto yang sudah menjadi ibu angkatnya. Terlihat dari akhiran yang disematkan pada nama Yasaka.
"Hee, keselamatanku dan Kunou-chan terancam?" seringai kecil terukir pada wajah Yasaka. "Kau lupa aku ini siapa, Naruto-kun?" tanyanya seperti sedang membanggakan diri sendiri serta gelar yang disandang.
Naruto tersenyum kecil sebagai tanggapan. "Siapa pun pasti tau Yasaka-kaasan. Pemimpin fraksi Youkai Kyoto yang kekuatannya setara seorang Maōu." sedetik setelah memberi jawabannya, ia memasang ekspresi serius penuh perhitungan. "Tapi sekarang, mungkin saja fraksi Iblis sudah menganggap kami sebagai musuh. Dan Yasaka-kaasan pasti tahu jika Underwold dipimpin empat Maōu, bukan satu. Bagaimana kalau mereka tau kami bersembunyi disini dan mengirim dua Maōu sekaligus?" jelas Naruto mengutarakan alasan kenapa mereka tidak bisa tinggal di kediaman Yasaka.
Dan beruntung, Yuki dan Kunou sibuk berceloteh ria sampai mengabaikan semua yang terjadi di meja makan.
"Nfufufufufufu..." seringai Yasaka menghilang digantikan oleh tawa halus yang bisa membuat pecinta Mami-Muda kena diabetes tingkat tujuh. "Apa otakmu sudah rusak sampai berpikir fraksi Iblis mengirim dua-tiga Maōu sekaligus jika kalian ketahuan disini?" tanya Yasaka dengan nada mengolok Naruto kenapa sampai berpikir sejauh itu demi keselamatannya.
"Huh," Naruto mendengus. "Aku—maksudku, kami sudah memikirkan semuanya, termasuk kemungkinan terburuk bila ketahuan. Makanya kami ingin jauh-jauh, dalam artian tempat tinggal dari Yasaka-kaasan dan Kunou. Kumohon mengertilah Kaa-san! Kami tidak mau melibatkan Kaa-san, Kunou dan fraksi Youkai Kyoto dalam masalah kami."
"Naruto benar, Yasaka-san." sahut Hashirama akhirnya ikut masuk dalam pembicaraan. "Kami mengerti Yasaka-san ingin membantu. Tapi, ketahuilah Yasaka-san, merahasiakan keberadaan kami sudah sangat membantu." tambahnya dengan tampang serta suara penuh wibawa yang entah darimana datangnya.
Madara melirik Hashirama dengan alis kanan terangkat. "Dobe kesambet apa sampai wibawanya kembali?" pikir Uchiha ini keheranan.
"Baiklah." ujar Yasaka nampaknya mulai memperlihatkan gelagat akan mengalah. "Tapi, setidaknya sebelum pindah, tinggallah beberapa hari disini. Aku dan Kunou-chan sedikit rindu dengan Naruto-kun dan Yuki-chan." ia berucap dengan nada dan raut wajah memohon. Sudah sewajarnya jika Yasaka merindukan Naruto dan Yuki padahal belum beberapa hari mereka berpisah. Sedangkan Kunou, jangan ditanya lagi. Gadis Loli pewaris tahta Fraksi Youkai Kyoto itu lebih dari apa yang ibunya rasakan.
Tiga laki-laki itu saling bertatap muka sebelum akhirnya mengangguk bersamaan. Hilda hanya diam mendengarkan karena tidak tau atau mungkin tidak ingin ikut campur.
"Kurasa itu bukan ide yang buruk. Lagipula, kita belum bisa bergerak sampai Irina dan Jiraiya memberi informasi." ucap Naruto menyelesaikan.
Yasaka tersenyum senang. Sedangkan di dalam tubuh Naruto, Kurama mengukir seringai misterius seolah mengerti kenapa sang rubah betina sangat ingin Naruto bersama keluarganya tinggal beberapa hari. "Dasar licik. Tapi aku suka itu! Bagus Yasaka-chan!" pikir rubah jantan itu dengan seringai semakin lebar sampai gigi taringnya terpampang jelas.
.
Sarapan kembali dilanjutkan dan beberapa menit kemudian akhirnya selesai. Yasaka segera menuju ruangannya untuk mengecek perkembangan Fraksi yang dipimpin. Sementara Naruto dan lainnya, beranjak menuju ruang santai di lantai dua. Dalam perjalanan, Hashirama memanggil pemuda yang berjalan di sampingnya dengan suara sangat pelan—berbisik.
"Psst, psst, Naruto..."
Naruto menoleh ke kiri. "Hmn, ada apa Ossan?" tanyanya dengan suara pelan seperti Hashirama.
"Sejak kapan kau menjadi anak Yasaka-san?" Hashirama balik bertanya penasaran masih dengan bisikan. Sebenarnya, ia sudah mendengar Naruto memanggil Yasaka dengan akhiran tersebut saat di geraja tua Kuoh. Tapi dia berpikir pemuda itu cuma keceplosan. Barulah di tengah-tengah sarapan yang baru saja selesai dia sadar kalau Naruto tidak keceplosan atau salah dengar.
"Pas kita mau kembali ke Kouh. Saat Yasaka-kaasan memanggilku ke ruangan lain."
Hashirama memandangangi punggung gadis Loli berambut pirang keemasan yang berjalan di depan mereka. "Hoo, jadi. Malam itu kau melamar Kunou-chan? Atau sebaliknya, Yasaka-san menjodohkanmu dengan Kunou-chan? Huh, pantas saja kau mau melupakan perasaanmu ke gadis bernama Rias—Ouch! Kenapa kau memukulku Naruto?" Hashirama meringis pelan lengannya mendapat hadiah pukulan mentah dari Naruto.
"Jangan bahas itu lagi, Ossan." sahut Naruto datar.
Hashirama mengangguk-ngangguk seperti anjing Chihuahua. "B-baik, baik!" ucapnya setengah takut melihat tampang datar menyeramkan Naruto. "Buset deh... Anak ini makin mirip Madara-teme. Sama-sama menakutkan!" gerutu Hashirama dalam hatinya.
"Terus masalah aku jadi anak Yasaka-kaasan. Anggap saja karena keberadaan Kurama. Selebihnya tidak bisa kukatakan, Ossan. Maaf." detik selanjutnya, suara Naruto terdengar pelan menjawab pertanyaan pertama Hashirama. Kemudian, wajahnya kembali terlihat menyeramkan. "Dan singkirkan dari otak kerbau Ossan itu soal aku melamar Kunou atau dijodohkan. Dia itu adik angkatku!" desisnya tajam agar mantan Hokage itu tidak lagi berpikir sedemikian bodoh.
Seringai kecil diperlihatkan Hashirama untuk pemuda perak itu. "Sudahlah Naruto, akui saja. Tidak usah malu." ucapnya dengan nada aneh dan itu pun mengundang kemarahan Naruto yang masih saja dituduk melamar Kunou.
"Sudah kubilang jangan soal dijodohkan atau apa, Baka-Ossan!" dengan ikhlas, Naruto meng-sedehkan pukulan disertai api ke lawan bicaranya itu.
"Huaaahhh!"
Hashirama terlempar ke samping. Dan gawatnya, disana ada Madara yang berjalan dengan wajah datar. Hasilnya, kedua sahabat sehidup-semati itu bertabrakan dan jatuh menghantam lantai. Hening pun terjadi setelah kejadian itu, baik si pelaku pemukulan maupun Madara dan Hashirama tidak ada yang berbicara selama hampir semenit lamanya.
.
.
"Wah, wah. Akhirnya status perjaka mulut kalian menghilang. Selamat ya, Teme, Ossan." sahut Naruto akhirnya berbicara dengan wajah tanpa dosa melihat hasil dari tindakannya barusan. Tepat di depan mata kepalanya, Madara dan Hashirama berhimpitan di atas lantai. Dan parahnya, mulut keduanya saling berhubungan—ciuman tak disengaja. Hoek!
"Bangsat! Menyingkir dariku otak kerbau!"
Mendengar pernyataan Naruto. Madara tanpa ampun melempar tubuh Hashirama ke atas hingga bertabrakan dengan langit-langit. "Bocah Keparat!" desis Madara dingin sembari bangkit. Aura mengerikan mulai bermunculan di sekitar tubuhnya, mata saktinya pun sudah berkibar siap memberi balasan setimpal ke Naruto.
"Ya, ada apa Uchiha Homo?" Naruto masih setia mempertahankan wajah tanpa dosanya, tidak sadar jika itu akan membuat amarah sang Uchiha naik hingga melewati atap kediaman Yasaka. "Yeah! Senjata baru!" teriak Naruto dalam hati seperti orang yang baru saja menang lottere. Ia tak menyangka tindakannya memukul Hashirama malah memberi keuntungan bila beradu mulut dengan Madara di lain waktu.
"Kau akan mati, Api Sialan!"
"Huaaaaaaa, ampun Uchiha Homo!"
Naruto langsung kabur kalang kabut menghindari amukan Madara. Di belakang pemuda itu, Sang Uchiha mengejar dengan aura mengerikan tingkat dewa yang liar mencari korban. Yuki dan Kunou memiringkan kepala secara bersamaan hingga terlihat imut-menggemaskan. Dua Loli itu bingung, tiba-tiba saja Naruto disusul Madara berlari melewati mereka.
"Onii-chan main apa dengan Maddie-niichan?" Yuki memandang pertigaan di ujung lorong tempat kedua kakaknya menghilang.
"Tidak tahu. Ikutan yuk, Uki-chan!" balas Kunou disusul ajakan untuk ikut bermain kejar-kejaran seperti yang dilakukan dua mahluk nista tadi. Dua mahluk terindah ini pun segera berlari ke arah yang sama.
Tinggallah Hashirama seorang diri pada lorong itu. Nampaknya, pemimpin tak punya wibawa ini hilang kesadaran saat menerima sedekah pukulan Naruto. Ditambah lagi tubuhnya yang menghantam langit-langit dan lantai memperparah hal tersebut. Barulah lima menit kemudian Hashirama sadar. Mengejap-ngerjap selagi mengedarkan pandangan, ia bertanya dengan wajah polos entah kepada siapa.
"Are? Kemana semua orang?"
.
.
.
.
.
.
.
[Kota Vatikan — Hari berikutnya, pukul 12:31]
Hiruk pikuk penduduk kota pusat ajaran umat Kristiani ini dihiraukan oleh seorang gadis cantik bernama Irina Shidou. Saat ini, sang gadis Exorcist sedang berada di salah satu taman teramai di kota Vatikan. Irina hendak melepas penat sehabis melaporkan misi di kota Kuoh pada atasan yang memakan waktu hampir empat jam lamanya. Dan tidak lupa memberitahukan tentang permintaan Naruto yang ingin diberikan informasi sabagai bayaran atas bantuannya menyelesaikan misi pencurian [Excalibur]. Awalnya petinggi [Pihak Gereja] enggan untuk menyanggupi apa yang diminta oleh Naruto. Namun, setelah banyak pertimbangan dari laporan Irina. Akhirnya mereka setuju dan memberitahukan ke Irina bahwa secepatnya mereka akan menghubungi Malaikat di Surga perihal permintaan ini.
Kembali ke Irina. Pandangan takjub tidak pernah lepas dari wajah cantiknya memandangi patung-patung yang tertata rapi di taman yang ia kunjungi. Hingga pada suatu momen, getaran kecil dari saku pakaian yang dipakai menghentikan kegiatan Irina. "Ah, mengganggu saja." gerutunya sebal mulai merogoh dan mengambil benda yang sudah mengganggu aktivitasnya.
"Ehh—? Nomor baru?" Irina keheranan melihat kontak yang menghubunginya tak tercantum nama siapapun. Beberapa detik memikirkan siapa sang penelpon, Irina bergumam keras memanggil nama seseorang, "Naruto-kun!" cepat-cepat ia menekan tombol terima seraya berharap kalau memang benar pemuda itulah yang menelpon.
[Irina Shidou, bener?]
"Iya, benar. Ini saya sendiri, Irina Shidou. Kalau boleh tahu. Dengan siapa saya ini berbicara?" balas Irina dengan nada formal. Setidaknya untuk berjaga-jaga apabila bukan Naruto yang berada di ujung telpon, mengingat suara yang terdengar berbeda dari suara pemuda itu, dan juga suara riuh dari ujung telepon yang sedikit menganggu.
[Hahahah, hentikan sikap formalmu, Irina. Itu tidak cocok untukmu. Ini aku, Naruto. Masa kau tidak mengenali suaraku sih?]
"Maaf, Naruto-kun. Suaramu berbeda sih, makanya aku nggak kenal." suara Irina meninggi di akhir. Toh, memang benar kalau suara Naruto agak berbeda. Terdengar seperti pria paruh baya, ditambah lagi kebisingan yang terjadi di ujung telepon tempat Naruto sekarang. "Ngomong-ngomong, Naruto-kun dimana? Kok berisik sekali?"
[Ah, sekarang lagi di pusat kota Akita. Membawa Yuki dan Kunou jalan-jalan sebelum mencari tempat tinggal baru di Akita. Tapi, ya...]
"Tapi kenapa? Dan siapa itu Kunou? Apa dia perempuan? Apa cantik? Imut?" tanya Irina tanpa jeda sedikitpun karena sangat penasaran dengan sosok Kunou. Terdengar suara orang terkekeh di ujung telepon sebelum akhirnya Naruto memberi jawabannya.
[Itu... Akita ternyata berada di bawah pengawasan salah satu klan di Underworld, samar-samar ada puluhan aura iblis kudeteksi dengan Senjutsu. Kunou adik angkatku selain Yuki. Soal cantik, jangan ditanya lagi, apalagi ke-imutannya yang tidak kalah dari Yuki. Aku sampai tidak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.]
Rasa lega pun muncul di hati Irina kala mengetahui siapa itu Kunou. "Oh, begitukah. Semangat ya cari tempat tinggalnya, Naruto-kun!" balasnya kemudian dengan suara ceria.
[Hehehehe, Terima kasih Irina. Terus, bagaimana dengan informasi yang kami inginkan? Apa Pihak Gereja mau memberikannya sebagai bayaran?]
"Tenang saja, Naruto-kun. Saat ini mungkin petinggi [Pihak Gereja] menghubungi Michael-sama untuk mendiskusikan hal tersebut." jawab Irina disambut helaan nafas lega dari Naruto yang terdengar jelas pada handphone di telinga kanannya.
Acara telpon-telponan mereka pun berlanjut. Keduanya sama-sama menikmati, Irina sebagai pelepas penat, dan Naruto sebagai hiburan selagi Yuki dan Kunou selesai bermain. Banyak topik yang mereka bahas. Mulai dari reaksi [Pihak Gereja] tentang keputusan Xenovia, saling menanyakan kabar masing-masing, saling mengejek karena Irina salah menyebut sesuatu, Naruto juga menceritakan soal ciuman tak disengaja Madara dengan Hashirama yang seketika mengundang gelak tawa Irina, dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan lewat telepon.
Dan ketika itu berakhir, Irina hanya bisa menyesal tidak menanyakan hal-hal menyangkut Naruto padahal tadi merupakan kesempatan langka yang kemungkinan tidak akan muncul lagi.
"Haah... Seharusnya tidak kututup dulu telponnya."
.
.
.
.
.
.
.
[Akademi Kouh — Dua hari kemudian, pukul 17:10]
Di gedung tua pada bagian belakang Kuoh Academy sedang terjadi hal yang mengejutkan. Bagaimana tidak? Xenovia, yang anggota ORC ketahui lumayan membenci iblis sakarang malah bergabung dalam fraksi itu sebagai [Knight] dari Peerage Rias. Segera Xenovia memberi penjelasan kenapa dirinya memilih untuk menjadi Iblis. Semua dimulai pada malam pertarungan dengan Kokabiel. Pada bagian dimana informasi tentang gugurnya Tuhan dalam [Great War] terlontar dari mulut Kokabiel. Xenovia merasa hidupnya sudah gagal dan memutuskan untuk menjadi pelayan iblis, apalagi adik seorang Raja Iblis adalah pilihan yang tepat. Walau pada awalnya sedikit ragu.
Dan tidak lupa Xenovia menjelaskan tentang nasib [Excalibur] yang sempat dicuri dan digabungkan oleh Valper dan Kokabiel. Singkat cerita, setelah dihancurkan oleh Kiba. Xenovia mengambil sisa [Fused Excalibur] lalu diberikan ke Irina bersama dengan Excalibur Destruction miliknya untuk dibawa kembali ke markas pusat. Begitulah penjelasan yang diberikan Xenovia untuk anggota ORC.
Berbicara tentang ORC, pasti tidak akan lepas dari sosok Rias Gremory selaku ketua.
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian Rias mulai paham maksud perkataan Naruto. Hari ini, Rias yang dikenal anggota ORC sudah kembali. Tegas dan anggun seperti biasa, itu terlihat dari bagaimana cara dia menjelaskan kenapa Xenovia ingin bergabung dengan Peerage-nya. Anggota ORC pun menyambut baik kembalinya ketua mereka.
Namun, sikap Rias yang sudah kembali hanya diperlihatkan di depan orang-orang saja. Jika seorang diri maka Rias berubah 180 derajat seperti hari dimana perasaan Naruto untuknya terungkap. Sudah tak terhitung bayang-bayang wajah Naruto muncul kala Rias sedang menyendiri. Ini selalu terjadi karena Rias terus mengingat semua yang sudah dilakukan pemuda itu demi dirinya. Hal tersebut semakin menambah besar lubang pada hati sang pewaris klan Gremory.
Sekuat apapun Rias mencoba melenyapkan lubang yang disebabkan oleh rasa penyesalan itu, dia sangat sulit untuk melakukannya. Karena bagaimana pun Naruto adalah laki-laki pertama yang setiap hari berada di sampingnya. Menjadi pelindung sekaligus teman, walau kadang-kadang Naruto bersikap formal kepada Rias. Tetapi, dalam beberapa kesempatan, Naruto menghilangkan sikap formal itu. Menjadikan adik Raja Iblis Lucifer tidak seperti biasanya, dianggap sebagai Rias Gremory, melainkan Rias. Seperti gadis muda pada umumnya.
Dan sekian banyak alasan kenapa Rias sulit menghilangkan rasa itu, ada satu yang menjadi penghalang terbesarnya. Berkat Naruto, Rias menemukan teman pertama yang paling mengerti akan perasaan dan keinginannya tidak dianggap sebagai Rias Gremory, pewaris klan Gremory. Seorang Iblis muda dari klan [Adrealphus], klan bagian dari 72 Pilar Dunia Bawah—Underworld yang masih tersisah.
.
.
Rias menghela nafas berat untuk mulai mencerita informasi yang cukup penting. "Kebenaran tentang insiden ini sudah dikirim kepada fraksi Malaikat dan fraksi Iblis oleh Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel. Pencurian Excalibur adalah tindakan yang hanya diketahui Kokabiel. Pemimpin yang lain sama sekali tidak mengetahuinya, bahkan Azazel sendiri. Kokebiel berencana mematahkan ketegangan diantara tiga fraksi besar untuk mencoba memulai perang lagi, yang berarti Great War jilid dua." Rias menjelaskan kepada anggotanya. Dua iblis reinkarnasi disana cukup terkejut mendengarnya, mereka adalah Asia dan Koneko.
"Berkat insiden ini. Akan diadakan pertemuan besar-besaran antara perwakilan Iblis, Malaikat dan Malaikat Jatuh. Nampaknya ada sesuatu yang ingin Azazel ingin bicarakan." tambah Rias membuat anggotanya ikut terkejut sama seperti Asia dan Koneko. Karena menurut mereka, pertemuan ini akan mempengaruhi masa depan.
Issei berdiri dari sofa kemudian menoleh ke Rias. "Bagaimana dengan Naruto?" tanyanya dengan suara seperti menahan amarah.
Rias tersentak mendengar nama Naruto kembali terucap dari mulut Pawn-nya. Sebisa mungkin, Rias mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya. "Saat ini Onii-sama berusaha mencari keberadaan Naruto dan keluarganya. Walau mereka bukan bagian dari tiga fraksi besar, keterlibatan mereka dalam insiden ini mengharuskan mereka hadir. Apalagi, mereka berhasil membunuh Kokabiel. Iblis, Malaikat dan Malaikat Jatuh membutuhkan sebuah penjelasan dibalik tindakan mereka."
"Dan satu lagi. Kita juga diundang dalam pertemuan itu. Kita harus memberikan laporan karena kita sudah terlibat di dalamnya." tandas Rias.
"Serius?" tanya anggota ORC serentak dibalas anggukan ringan oleh Rias.
Acara perkenalan anggota baru ORC pun berlanjut. Xenovia secara langsung meminta maaf ke Asia karena tindakan tempo hari. Dengan polosnya, Asia memaafkan Xenovia. Melihat hal tersebut, Issei berharap keduanya bisa memperbaiki ikatan dan menjadi teman baik.
Setelahnya, Xenovia beralih ke Yuuto Kiba dan mengatakan sesuatu tentang beradu kekuatan antara pengguna [Holy Sword Durandal] dan [Holy Demonic Sword]. Kiba membalas sambil tersenyum. Seluruh anggota ORC terutama Issei bisa merasakan kekuatan dan kepercayaan diri dari tubuh Kiba. Sebuah kejadian di malam pertarungan telah mengubah sesuatu dalam diri sang Knight.
Rias menepuk tangan sebagai isyarat kepada Peerege-nya. "Sekarang. Karena semuanya sudah kembali, mari kita mulai kegiatan klub!"
"Ya!" semua anggota ORC menjawab serentak.
Hari ini, keceriaan kembali menghiasi ruang klub Penelitian Ilmu Gaib. Tetapi, dibalik semua itu terselip sebuah rasa sesal teramat dalam yang disembunyikan rapat-rapat oleh ketua mereka.
.
.
.
.
.
[Rumah Yasaka — Pukul 17:45]
Langit jingga mulai menghiasi langit kota Kyota. Cahaya jingga dari sang mentari menyinari sebuah taman yang menghadap langsung ke barat. Taman tersebut berada di lantai dua kediaman Yasaka, dibuat langsung oleh Naruto ketika menetap. Rumput buatan menjadi alasnya, pada setiap sisi berbagai macam jenis bunga ditanam pada pot-pot kecil. Dan tepat di tengah-tengah, terdapat pohon sakura yang ditanam pada sebuah pot berukuran besar.
Taman ini merupakan satu dari beberapa tempat favorit Naruto kala santai di kediaman Yasaka. Seperti sekarang ini, Naruto bersama Yasaka dan anggota keluarganya kecuali dua adik imutnya sedang mendiskusikan sesuatu di taman tersebut.
"Huh, bagaimana ini? Kita sudah mencari kota yang aman dari pengawasan tiga fraksi besar. Tapi tak ada satu pun yang aman. Tokyo, Akita, Semboku, Nagoya, Fukushima dan kota-kota lainnya selalu ada saja yang mengawasi." Naruto menggantungkan ucapannya, lalu beralih perhatian ke Yasaka yang malah senyum-senyum sendiri. "Mungkin, hanya Kyoto satu-satunya yang aman." tambahnya semakin memperlebar senyum Yasaka.
"Tck, dasar mahluk-mahluk serakah! Apa mereka tidak puas dengan Underword dan Grigory." sahut Madara, suaranya menyiratkan perasaan marah.
Naruto beralih ke Madara yang kembali memperlihatkan ketidaksukaan terhadap mahluk-mahluk supernatural. "Jika kita mencari tempat tinggal di negara lain. Kau, Ossan, Hilda dan Yuki terkendala bahasa. Ya, kalau aku sih, sedikit tau bahasa internasional." ucap Naruto sedikit berbangga diri. Ia sengaja mempelajari bahasa internasional selama beberapa tahun demi kelancarakan berkomunikasi dengan orang asing. Itu dilakukan saat dirinya masih terpaku pada tujuan kembali ke Underworld. "Terus, jika memilih Konoha ataupun desa-desa di pedalaman Jepang..."
Hashirama, Madara dan Hilda mengangguk setuju saat perhatian Naruto tertuju pada Yuki dan Kunou yang sedang bermain tidak jauh dari mereka. "Aku mengerti maksudmu, Naruto." sahut Hashirama.
"Hn. Loli-chan pasti kecewa." timpal Madara memperjelas maksud Naruto memandangi Loli berambut putih itu.
"Huh, aku juga akan kecewanya dengan Yuki-chwan jika tinggal di desa atau pedalaman seperti Konoha." sahut Hilda mengutaran perasaannya. Ya, dia tidak mau jauh-jauh dari keramaian kota yang mulai menarik minatnya.
"Makanya Naruto-kun, semuanya. Tinggal saja disini. Aku jamin kalian tidak akan ketahuan, apalagi terdapat lapisan pelindung kuat yang menyelimuti area ini sehingga aura kalian tidak akan pernah dideteksi." Yasaka ikut andil dalam percakapan, memberikan saran terbaik bagi Naruto dan yang lain. "Bagaimana, hmmn? Tertarik?" tanyanya disertai senyum yang menggoda nafsu bagi para pecinta Mami-Muda.
"Hei, Teme..." panggil Naruto dibalas dua trademark khas Uchiha. "Mulai besok, kau saja yang memikirkan masalah tempat tinggal dan juga permintaan Yasaka-kaasan." ucap Naruto memberi perintah seolah dialah pemimpin kelompok itu. Ia sudah pusing memikirkan masalah kota yang bagus untuk mereka tinggali. Lagipula karena Madara pula mereka sulit menemukannya. Walau Madara cukup menikmati acara bunuh-bunuhan mahluk supernatural, tujuan mereka yang tetap diutamakan. Dan sekarang, kelompok (keluarga) kecil ini sesegera mungkin ingin memulai pergerakan mereka.
Madara mendengus. "Huh, bilang saja kau ingin santai-santai bocah sableng." tuduhnya sedikit menahan kekesalan.
"Hehehe, tidak sepenungnya santai-santai sih." Naruto memperlihatkan cengiran andalannya yang sempat hilang beberapa hari. "Mulai besok, Yuki dan Kunou menjadi prioritas utamaku. Melatih sekaligus menghabiskan waktu bersama adik-adik imutku." ia bangkit berdiri, pandangannnya sempat tertuju ke pria Uchiha yang duduk di sebelah kanan Hashirama sebelum akhirnya berjalan menuju tempat Yuki dan Kunou.
Entah kenapa Madara merasakan firasat buruk saat melihat wajah Naruto tadi. "Bocah Bangsat! Kalau sampai dia memanggilku seperti itu lagi. Akan kupotong-potong tubuhnya!" ia sangat yakin kalau arti raut wajah Naruto tadi sama seperti hari julukan baru untuknya ditemukan. Julukan yang benar-benar merusak image Uchiha miliknya.
Saat jarak dirasa aman. Naruto berhenti dan melirik ke belakang, lebih tepatnya ke Madara. "Tidak sepertimu, Teme. Pfffftttt...Hahahahahaha... Sudah banting stir ke arah lain...Hahahahahahahaha." Naruto tertawa keras sebelum lari terbirit-birit menjauh dari orang yang disindir.
"Banting stir? Apa maksudmu, Naru-chan?" teriak Hilda penasaran.
"Madara-teme HOMO!"
"Bocah Bangsat! Kubunuh kau!"
"Huaaaaa, Madara-kun jahat! Kenapa, kenapa, kenapa kau jadi belok sih?! Kau membuatku sakit hati Madara-kun. Lima tahun aku menunggu cinta tulusmu, tapi kau malah belok mencintai seorang laki-laki... Huaaaaaaaaaa! Terkutuklah siapapun kau laki-laki brengsek yang sudah membuat Madara-kun jatuh cinta." Hilda mengomel tidak karuan disertai pekikan keras.
Hashirama dan Yasaka sama-sama menutup telinga mereka menghindari omelan serta teriakan Hilda yang mampu memecahkan gendang telinga lapis ke tujuh. Sambil melakukan hal itu, Hashirama memasang tampang bingung sedangkan Yasaka hanya terkikik pelan.
"Diam kau, gadis sesat!" Madara tanpa ampun menjedorkan kepala Hilda ke rumput buatan taman itu, tidak peduli jika sang korban adalah perempuan. Selesai dengan pengikut aliran ke-Jashin-an, Madara berbalik ke lokasi Naruto kabur. "Sekarang akan kub—Bangsat, dia kabur!" ia berujar dengan amarah memuncak atas menghilangnya orang yang dicari-cari bersama dua Gadis Loli.
"Anda memiliki keluarga yang unik, Hashirama-san." sahut Yasaka mengomentari tingkah Naruto, Madara dan Hilda yang menurutnya sangat anti-mainstream.
Hashirama mengangguk pelan seperti setuju dengan komentar tersebut. Kemudian ia beralih perhatian ke Madara yang saat ini dikepung aura mematikan. "Ck, ck, ck. Aku tidak menyangka kau sudah belok Madara. Mulai saat ini, kau bukan lagi sahabat dan rivalku!"
"Kau juga Dobe. Diam atau kupukul Susano'o!"
Tanpa mereka semua sadari karena terlalu marah, kecewa dan senang. Seekor ular kecil berwarna hitam ke-unguan mengawasi semua hal yang terjadi dari atas pohon sakura di tengah-tengah taman tersebut.
.
.
Sementara itu, di ruangan lain kediaman Yasaka. Naruto mulai terkena gejala sakit perut tingkat tujuh karena terlalu banyak menertawai Madara. Yuki dan Kunou yang kebetulan ikut bersamanya jadi panik.
Dua gadis Loli itu lari tak tentu arah mencari sesuatu untuk mengobati sang kakak tercinta yang sudah tergeletak sambil memegang perut.
"Uki-chan... Cari disana!"
"Dimana? Dima—Huaaaa, Onii-chan!"
.
.
.
Keesokan paginya. Naruto, Madara dan Hashirama berkumpul di halaman depan setelah menikmati sarapan. Madara tidak pernah melepas pandangan pembunuhnya dari Naruto, pemuda yang membuat Image Uchiha miliknya jatuh dan hancur berkeping-keping di depan Yasaka. Walau saat makan malam, ia sempat memberi pembalasan berupa pukulan yang tak terhitung jumlahnya. Itu belumlah cukup, ia masih belum puas. Naruto tidak sadarkan diri seharian penuh mungkin sudah cukup, kiranya begitu niat Madara yang sekarang ini tidak bisa dilaksanakan karena terkendala sesuatu.
"Kau beruntung bocah. Ada sesuatu yang harus kami lakukan di reruntuhan desa." ucap Madara dengan amarah yang tertahan. Sejak sore kemarin, setiap melihat Naruto, bawaannya ia selalu ingin memukul wajah brengsek pemuda itu. "Jadi cepat, siapkan tehnik teleport-mu ke Konoha!"
"Me—"
"Jangan banyak tanya dan cepat lakukan, bocah!" belum sempat Naruto mengucapkan kata pertama, Madara sudah terlebih dulu menyela dengan sorot mata tajam Uchiha. Alih-alih melakukan perintah tersebut, pemuda perak itu malah mendengus sambil menyilangkan tangan di dada.
"Tidak ada penjesalan. Tidak tehnik teleport."
"Tck, oke-oke bocah sableng sialan! Ada sesuatu yang ingin kami cek, sekalian mengambil senjata yang ada di gudang bawah tanah desa untuk jaga-jaga. Kami akan menelpon Yasaka-san jika sudah selesai agar kau bisa membuka portal untuk kembali."
"Oh, hanya itu. Baiklah, akan kupersiapkan." tanpa menunggu lama, apalagi tampang Madara sudah kembali sangar seperti biasa. Naruto cepat-cepat mengaktifkan alat transportasi massal keluarganya. "Tunggu dulu!" ucap Naruto menghentikan langkah dua pria itu.
"Hn?"
"Sampaikan salamku ke Hina-chan, Izuna-niisan, Tobirama-ossan dan yang lain... Bilang juga ke Hina-chan kalau aku minta maaf dan juga beritahukan soal masalahku yang sudah selesai." jawab Naruto lirih. Wajahnya tiba-tiba berubah sendu. Naruto tau dari Madara jika teman gadis masa kecilnya itu kemungkinan besar sudah mati. Maksud Naruto sebenarnya adalah Madara dan Hashirama mewakili dirinya berziarah ke makam penduduk Konoha.
"Kenapa kau tidak ik—"
"Hoi, Dob—"
"A-aku tidak bisa... B-belum saatnya untukku muncul di depan Hina-chan, Ossan." ucap Naruto mengutaran alasannya dengan nada lirih. "Minimal, salah satu impiannya kuwujudkan sebelum mengunjungi makamnya." tambahnya masih dengan nada yang sama.
"Baiklah. Akan kami lakukan." Madara berjalan masuk ke cahaya emas di sisi kiri Naruto disusul Hashirama.
"Kami pergi dulu, Naruto!"
.
.
.
.
.
[Reruntuhan desa Konoha, Bagian selatan wilayah Jepang]
Konohagakure no Sato atau [Hidden Leaf Village] dulunya merupakan desa ramai penuh akan keceriaan anak-anak, aktivitas penduduk asli keturunan Ōtsutsuki yang tidak memiliki aliran chakra ataupun kesibukan Shinobi/Kunoichi sebagai penjaga keamanan desa. Namun, sekarang keadaan desa Konoha sangat berbanding terbalik. Sejauh mata memandang bangunan-bangunan yang dulunya berdiri kokoh menghiasi pelosok desa kini tidak lebih dari reruntuhan saja, penduduk yang dulu sering berlalu-lalu lenyap digantikan suara gemerisik angin dan suara hewan yang menghuni reruntuhan serta area di sekitarnya.
Dua pria yang baru saja ditranfer ke sana memandangi keadaan desa mereka dengan ekspresi campur aduk antara sedih, marah dan menyesal. Dan jangan lupa rasa penasaran yang menjadi alasan utama mereka kembali ke kampung halaman.
"Suatu saat nanti, desa ini akan kembali ke masa kejayaannya... Tapi sebelum itu, semua yang terlibat dalam penyerangan malam itu akan kuhancurkan lebih dulu." gumam Madara datar penuh kebencian memecah keheningan yang terjadi di sana.
"Haaah..." suara helaan nafas terdengar dari samping Madara dan bersamaan dengan itu, tangan kekar menepuk pundak pria Uchiha itu. "Aku setuju denganmu, Madara. Tapi kita tidak perlu fokus mencari mereka semua. Sekarang ini yang terpenting ialah saling melindungi serta melatih diri agar tak ada lagi yang tewas dalam pertarungan selanjutnya." jelas orang yang menepuk pundak sang Uchiha, Hashirama.
Madara melirik sekilas sang sahabat sehidup-sematinya. "Kau salah, Dobe. Dalam pertarungan selanjutnya, pasti ada yang tewas..." saat ia memberi jeda, alis pria di samping berkendut heran. "... Mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam pembantai. Aku jamin itu!" sambungnya dengan desisan dingin penuh makna kebencian.
"Oke-oke. Terserah kau saja, Madara." melihat sahabatnya sudah masuk ke mode dingin, Hashirama segera menjauhkan lengan kanannya dan menatap sekeliling. "Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan disini? Aku tau, Madara. Kau membohongi Naruto soal mengambil senjata. Tapi tidak untukku. Semua senjata sudah diambil dan kusimpan di gulungan ini." ucap Hashirama serius dan tidak lupa memunculkan sebuah gulungan berukuran sedang di tangan kirinya.
Madara memutar tubuh sehingga posisinya kini berhadapan dengan Hashirama. "Soal itu..." ia menggantungkan ucapan. Kemudian mengeluarkan gulungan kecil dari saku pakaian santai yang dikenakan. "Sejak kemarin siang, ada yang mengawasi kita." sambungnya datar.
Tidak mau Hashirama bertanya lebih jauh lagi. Madara segera membuka gulungan tersebut dan menyentuh simbol lingkaran kecil pada bagian tengah. Setelah bunyi ledakan berlalu diikuti kepulan asap putih yang mulai menghilang diterpa angin. Kini, di tangan kanan Madara seekor ular hitam menggeliat tidak karuan ingin dilepas. Madara memandangi ular tersebut datar lalu dengan sekali remasan, ular itu hancur menjadi asap hitam.
"Bersiap untuk kemungkinan terburuk, Hashirama!"
.
.
.
Jauh dari lokasi kedua shinobi itu. Didalam sebuah ruangan berkumpul kelompok kecil yang terdiri dari enam orang. Tiga perempuan, sisanya laki-laki. Para perempuan tengah asik bermain kartu dan lelaki malah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Vali!" sahut perempuan yang diketahui dari ciri-cirinya adalah Ophis, sang Dewa Naga Tak Terbatas. Ia meletakkan kartu yang dipegang kemudian menoleh ke pemuda bernama Vali. "Ularnya dihancurkan." Ophis berdiri dari kursi yang diduduki lalu berjalan menuju area luas ruangan tersebut.
"Ada apa, nyan~?"
Sang pemuda berambut perak mengabaikan pertanyaan dengan suara lembut khas perempuan barusan dan berjalan menuju lokasi Ophis. "Kau tahu lokasinya?" Dewa Naga dalam bungkusan mahluk terindah di muka bumi itu mengangguk pelan. "Baiklah, ayo berangkat Ophis. Kalian... Tetap disini dan jangan mengikuti kami, paham?" ucap Vali menatap Ophis sebelum beralih ke orang-orang yang ada di ruangan tersebut saat memberi perintah/peringatan.
Beberapa dari mereka hanya mengangguk patuh kecuali seorang gadis berambut hitam yang memiliki telinga kucing di atas kepalanya. "Nyan~ Kalian mau kemana? Dan kenapa kami tidak boleh ikut? Kalian tidak asik, ~nyan. Menyembunyikan sesuatu dari kami."
"Hanya bisnis kecil." Vali menjawab seadanya diikuti anggukan Ophis untuk kedua kalinya. "Ayo berangkat, Ophis!"
Dalam hitungan detik, Ophis beserta Vali yang menyentuh pundak mungil sang Dewa Naga menghilang di telan asap hitam pekat. Sepeninggal keduanya, berbagai macam pertanyaan muncul di kepala orang-orang di ruangan tersebut. Dan pertanyaan yang sangat ingin mereka ketahui jawabannya adalah: Tingkah Vali yang beberapa hari belakangan ini cukup aneh.
.
.
.
"Hoho, akhirnya si penguntit muncul juga."
Sang Uchiha menyeringai keji kala asap kehitaman muncul beberapa meter di depannya dan Hashirama. Dari kepulan asap itu muncul dua sosok yang sama sekali tidak mereka kenal. Di kiri, seorang gadis kecil yang sangat imut-menggemaskan berambut hitam dengan ekspresi kosong di wajahnya. Sedangkan yang berada di sebelah kanan adalah seorang dengan rambut perak gelap dan mata biru es memandang lurus ke arah mereka.
Tunggu? Perak gelap dan mata biru es?
Entah kenapa Madara dan Hashirama cukup familiar dengan dua ciri fisik tersebut. Bukan cukup lagi, namun sangat. Rambut perak gelap yang sangat familiar dengan Naruto dan mata biru es tersebut hampir mirip, karena milik Naruto lebih ke biru terang.
"Apa benar mereka yang kau cari, Vali?" sang gadis Loli berbicara dengan nada kosong. Di sampingnya, pemuda yang dipanggil Vali mengangguk singkat dengan wajah menyiratkan sedikit kecewa dikarenakan orang yang dicari-cari tidak ada. "Mereka cukup hebat juga bisa mendeteksi ularku." tambah Ophis.
"Jangan bilang, kau ingin merekrut mereka Ophis?"
Ophis menggelen kecil. "Untuk saat ini...tidak! Aku belum tahu kekuatan mereka berdua."
"Ularmu mungkin bisa lolos dari deteksi lapisan pelindung Yasaka atau sensor Hashirama dan Naruto, tapi tidak untuk pandanganku, gadis kecil." sahut Madara mengalihkan perhatian Ophis dan Vali yang tengah berbicara. Saat pandangan dua pendatang tersebut fokus padanya, Madara mengaktifkan mata andalannya untuk mengintimidasi. Akan tetapi, malah dirinya yang terintimidasi melihat kekuatan dalam tubuh Ophis. "Dia bukan gadis biasa. Tingkat kekuatannya jauh melebihi Hashirama dan Yasaka." pikirnya dengan setetes keringat mengucur di kening.
Bukan tanpa alasan keringat itu muncul di kening Madara. Akibat dari terlalu banyak melakukan kontak langsung dengan mahluk-mahluk supernatural, [Sharingan], mata itu telah beradaptasi. Memungkinan sang pemilik dapat melihat kekuatan yang mengalir dalam tubuh seseorang. Seperti sekarang contohnya, cukup jelas Madara melihat kekuatan dalam tubuh Ophis. "Mahluk macam apa dia? Kekuatan miliknya berbeda dari Iblis ataupun Malaikat Jatuh dan...tidak bisa kulihat ujungnya. Tck! Ini akan memakan waktu yang cukup lama." secepatnya, Madara mulai menyusun beberapa strategi pertarungan untuk berjaga-jaga. Dan strategi terakhir mungkin saja adalah... Kabur!
Di samping Madara. Hashirama memperlihatkan wajah yang tidak kalah seriusnya. "Ojou-chan. Apa tujuanmu mengawasi kami?"
"Tidak ada!"
Wajah serius Hashirama seketika menghilang dan hampir terjungkal kebelakang kala mendengar jawaban datar, singkat dan jelas Ophis. "Yang benar saja? Terus untuk apa Ojou-chan buang-buang waktu dan peliharaan hanya untuk mengawasi kami?" tanyanya meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Untuk membatu Vali. Dia yang ingin mengawasi kalian." jawab Ophis polos.
Melihat respon gadis itu, tetesan keringat sebesar jempol kaki muncul di bagian belakang kepala sang mantan Hokage. "Oh, demi jenggot Hagoromo-sama yang belum pernah kulihat! Dia seperti gabungan Yuki-chan dan Madara-teme." pikir pria itu sedikit tidak jelas di awal.
"Kau mengawasi kami untuk apa bocah?" Madara kembali bicara sambil beralih perhatian ke Vali. Dan tepat setelahnya, "Hn, aku mengerti sekarang." Madara bergumam untuk diri sendiri. Mata andalan sang Uchiha melihat dengan jelas kekuatan yang sama ketika rencana Kokabiel kandas oleh dirinya dan Hashirama.
"Jadi, bocah kaleng. Kau benar-benar serius ingin menangkap Naruto sampai meminta bantuan gadis aneh di sampingmu itu."
Seringai kecil terbentuk di wajah Vali. "Menarik. Benar-benar menarik! Aku tak menyangka identitasku bisa diketahui hanya dengan sekali pandang mata merah itu."
"—!" Hashirama tersentak mendengar apa yang diucapkan Madara dan juga pernyataan bernada aneh dari Vali. Ia segera menolehkan kepalanya ke tempat Madara berdiri. "H-hey, Madara. Jangan bilang kalau pemuda itu—"
"Ya, bocah kaleng yang memanggil dirinya [Hakuryūkou] malam itu." sahut Madara datar memotong Hashirama yang ingin menebak identitas pemuda perak itu. "Dan kau yang disana. Dengar ya..." Madara mengalihkan atensinya kembali Vali. Ia menatap pemuda itu dengan wajah tenang. Sedetik kemudian, aura biru bermunculan di sekitar tubuhnya.
"...Malam itu kami agak lelah walau hanya untuk meladenimu, bocah kaleng. Tapi, hari ini berbeda. Jika memang kau sangat ingin menangkap dan mengambil Naruto dari kami. Perlihatkan seberapa besar usahamu!" mata merah Madara bergerak pelan menuju Ophis. "Kau pun sama Gadis Kecil." tantangan yang ujung-ujungnya adalah sebuah pertarungan ia lontarkan kepada dua orang pengguna kekuatan Naga tersebut.
Senyum kecil mengembang di bibir mungil Ophis. "Itu mustahil! Kau tidak bisa mengalahkanku." ujar pemilik mata ungu kusam itu mengeluarkan pernyataan meremehkan.
Seketika, Madara dan Hashirama ditabrak benda hitam keunguan dari arah atas yang entah kapan dan dari mana munculnya. Keduanya pun harus rela terhimpit antara benda hitam itu dan permukaan tanah. Dalam keadaan seperti itu, Madara mengarahkan wajahnya ke depan dan terkejut. Mata merahnya melihat benda yang sama keluar dari tubuh Ophis.
"Gadis gabungan Yuki-chan dan Madara-teme itu... S-sejak kapan dia mengeluarkannya?" pikir Hashirama dengan mata melebar tak percaya setelah melakukan hal yang sama seperti sahabatnya.
Senyum di bibir Ophis berubah menjadi seringai kecil yang menyembunyikan sesuatu. "Perkataanmu memang benar kalau mereka orang-orang yang menarik, Vali." ucapnya yang nampak nampak seperti meralat rencananya barusan untuk merekrut Madara dan Hashirama. Setelah kekuatan miliknya menyentuh tubuh mereka, pancaran kekuatan yang sangat besar Ophis rasakan, terutama di tubuh Hashirama. Dan juga, ia merasa cukup familiar dengan kekuatan itu. "Mereka berdua memberikan sensasi yang mirip dengan—"
.
.
"—Orochimaru."
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut!]
Buahahahahahah... Yang ingin Mbah-Madara dan Mbah Hashirama dinistain. Nah satu lagi kenistaan mereka muncul dan tolong jangan kepikiran Madara-teme dan Hashirama-dobe bakal jadi pasangan Yaoi. Saya masih normal dan tertarik ke Dedek-Dedek Loli, terutama Dedek-Dedekku di Pesbuk dan Dedek Loli Tsundere di rumah (") Dan ada alasan tersendiri kenapa Scene 'Ciuman tak disengaja' itu dibuat, bukan hanya untuk humor saja (Walaupun garing dan sedikit dipaksakan). Chapter depan baru terlihat apa itu.
Hohohoho... Tinggal sedikit, sedikit lagi identitas Naruto sebagai Hibrid Manusia dan Keturunan Maōu Lucifer sebelumnya terungkap. Sedikit petunjuk, Madara nantinya menerima identitas Naruto, namun ada sesuatu yang ingin dilakukan dulu sebelum benar-benar menerimanya. Itupun akan memakan waktu cukup lama.
Balasan Review:
Laffayete: Ah, maaf-maaf kalau kelamaan Update... Yaps, saatnya bikin Mbak-Rias uring-uringan sampai ke ujung Gap Dimension... Ah, itu menurutmu. Kalau saya amah, Loli lebih mantab ("). Kecantikan, kepolosan, keimutan dan kesempurnaan mereka bikin melayang sampai ke langit tingkat tujuh (")
SabrinaRizky-chan: Hahahaha... Biar tau rasa tuh si Stik kampret :v :v
pikri robiayansah: Di Chapter ini malah tambah OOC :v ... Ciuman dengan Mbah Hashirama-dobe :v ... Oke '-')b
TsukiNoChandra: Yaps, Chapter kemarin gak terlalu penting, tapi penentu jalan cerita nanti... Oke, saran diterima '-')b ... Wah! Makasih udah bilang Fic saya ini bagus ^_^) dan maaf soal Update yang lama. Otak saya kembali sering blank... Hmmn, mau bikin Fic gak? Saya ada satu ide yang nyantok di otak. Tapi, kagak bisa dibuat karena saya sudah banyak utang ke reader. Kalau tertarik... PM saja. Akan saya kasih tau.
Shinta Dewi468: Yaps... Dedek Favoritku dibikin ikut aliran sesat Jashin-sama. Lihat aja, entar tuh si Hilda saya nistain... Oke Dewi-chan '-*) ... Makasih udah bilang Fic saya ini bagus ^_^) ... Sama-sama, Dewi-chan. Saya memang sudah tobat bikin begituan, cukup satu Chapter Fic Trio Uzumaki yang jadi korban -_-)" ... Oke '-')b
Pandora's Actor234: Oke '-')b ... Pair Naruto ditambah Gabriel? Hmn, hmm. Nanti saya pikirkan. Dn tunggu yng lain kalo ada yang nyaranin Gabriel ditambahin ke Mini-Harem Naruto—ah, mungkin jadi Harem entar.
Aka na Yuki [My Imouto]: Muehehehehehe :v ... Oke. '-')b Udah dapat jawabannya 'kan, Dedek Yuki? ... Oke-oke, Dedek Yuki. Chapter ini sudah teliti buatnya, mudah-mudahan kagak ada Typo dan kalimat tidak efektif. ... HOREEEEEEEEE! \('-')/ Gak ada kalimat tidak efektif di Chapter kemarin. Soal Typo. Aah, tuh virus kagak ilang-ilang juga... Makasih sarannya, Dedek Yuki. Ini lagi belajar menghayati dengan nonton Anime genre Romance dan Sinetro Tukang Tuak Naik Haji :v ... Nih, di Chapter ini Mbah Madara-teme dan Mbah Hashirama-dobe tambah nista :v Nyahahahahah, Si Uchiha Paling Gila Blushing. Dunia bakalan kiamat! ... Stark ya, mungkin ada hubungannya #SenyumSenyumMisterius
Lusy Jeager Ackerman: Ke Kyoto. Tempat Mami-Yasaka dan Dedek Kunou.
aydie lucifer: Cuma adik angkat. Tapi tidak menutup kemungkinan jadi akan muncul perasaan selain rasa sayang ke kakak untuk Naruto nantinya.
Guest: Oke '-')b ... Unsur nyeseknya akan saya tambah.
saputraluc000: Makasih ^_^) ... Oke '-')b ... Salam juga dari Orang Paling Brengsek Se-Jagad, Brengzeck 014 [Root Loliwood].
yellow flash115: Oke '-')b ... Hmn, hmmn. Lihat saja nanti. Apa Irina bagian dari Mini-Harem Naruto. Dn kalau tidak, akan saya pikirkan untuk masukin Irina.
perseus cullen: Makasih ^_^) ... Trio Uzumaki sudah saya Update bersamaan dengan Fic ini... Hehehe, gak papa. Saya juga sering banyak bacot kagak guna kok.
ardilegeng: Liat saja nanti. Apa Irina bagian dari Mini-Harem Naruto. Dn kalau tidak, akan saya pikirkan untuk masukin Irina.
Namikaze Tobi Lucifer: Dasar mesum... Oke '-')b
Kai'i-kun: Daripada saya terus yang kena di Pesbuk. Jadi, saya balas di FFn :v :v
Re Ciel: Hahahahaha... Tenang. Lihat saja nanti, Irina bagian dari Mini-Harem Naruto atau tidak. Dn kalaupun tidak masuk. Kalau banyak yang minta dimasukin, akan saya pikirkan.
Kami no die: Well... Lihat saja nanti, Irina bagian dari Mini-Harem Naruto atau tidak. Dn kalaupun tidak masuk. Kalau banyak yang minta dimasukin, akan saya pikirkan. Sekarang udah ada empat yang minta Irina.
... ... ...
Yang Review Lanjut, Next, sebangsa-nya dan senegara-nya. Nih sudah saya lanjut.
.
.
Issue for Next Chapter: Kabar Mengejutkan, Lucifer dan dimulainya Pertemuan Tensi Tinggi yang menentukan masa depan dunia.
Brengzeck 014 [Root Loliwood] and Stark sayang mami kushi selalu (Njriiit! Bikin sakit mata nih Pen-name Kampret) Out! Saya mau Tidur Cantik dengan Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/
Salam Lolicon!
