Disclaimer: Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and others not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance and Mistery.
Warning: Author Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat) dan Masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Etc.
Arc III: Early and Late
Chapter 22: Daybreak — An Undeniable Reality! Naruto True Identity and His Past Life!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua pasang mata yang sedari tadi menatap garang Ophis seketika melebar mengisyaratkan perasaan sok terkejut. Orochimaru, nama yang sejak Konohagakure dihancurkan selalu Madara dan Hashirama cari-cari keberadaannya terucap lembut dari mulut Sang Dewa Naga. Beberapa pertanyaan pun muncul dalam benak kedua ninja itu. Siapa sebenarnya gadis bernama Ophis itu? Bagaiamana dia bisa mengenal Orochimaru? Apakah mereka pernah bertarung? Atau parahnya lagi, apakah Ophis juga terlibat dalam penyerangan Konohagakure?
Masih dalam keadaan terhimpit diantara permukaan tanah dan benda padat yang terhubung dengan tubuh Ophis, diam-diam Madara mengacungkan jari tengah dan telunjuk yang saling ditempelkan. Hanya dalam satu kedipan mata, tubuh pria keturunan Uchiha itu meledak dengan suara 'Boft' kecil.
"Katakan, dimana ular brengsek itu sekarang ini?"
Ophis sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi terkejut maupun ketakutan saat benda yang terasa sangat dingin menyentuh kulit putih pucat di bagian lehernya, disusul pertanyaan dingin yang mampu membuat siapapun merasakan perasaan takut teramat sangat sampai ke ruas-ruas tulang. Tepat di belakang gadis bergelar [Ketidakterbatasan] itu, Madara berdiri dengan tangan kanan memegang kunai yang kapan saja bisa digunakan untuk menggorok leher Ophis. "Itu mustahil. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Dragon Power dalam jumlah banyak meledak dari tubuh gadis itu, menghancurkan senjata Madara sekaligus membuat pemiliknya mengambil satu langkah mundur sebelum melompat kebelakang dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Benarkah, Chibi-chan?" wajah Madara kembali datar, namun tetap memperlihatkan kemarahan dan kebencian yang meluap-luap bagai air mendidih di atas panci kecil. Selagi masih dalam keadaan melayang, Insou Tora (Tiger Handseal) dibentuk jari-jari tangan pria itu. "...Mari kita buktikan!" pipi Madara mulai mengempis, bibirnya sedikit dikerucutkna pertanda bahwa ia sedang menghisap udara sebelum menghembuskannya dalam bentuk elemen lain. "Kato—"
Akan tetapi, sebelum Madara mengeksekusi tehnik untuk menyerang Ophis, suara tanah retak dan getaran kecil terjadi pada permukaan bumi beberapa langkah di belakang satu-satunya sosok bergender perempuan disana. Tak berselang lama, sepasang sulur kayu muncul, melesat dengan kecepatan tinggi ke Madara dan mengikat kedua lengan pria keturunan Uchiha itu. "...Hashirama! " arah pandangan Madara beralih, kini fokus pada sahabatnya yang masih terhimpit namun telapak tangan menyatu dengan permukaan tanah. "...Apa yang kau lakukan?"
"Tenangkan dirimu!" Hashirama balas memandangi Madara. Matanya memperlihatkan sinar terang seolah-olah tidak ingin dibantah sekaligus penuh perhitungan akan dua sosok yang besar kemungkinan adalah musuh. "Kita belum tahu siapa dan sekuat apa mereka berdua. Jadi, tenangkan dirimu!"
"Huh...!" Madara mengeluarkan suara hidung menahan amarah. Ekspresi wajahnya mulai sudah melunak, yang sebelum sempat mengeras karena marah tindakan Hashirama menahannya untuk melancarkan serangan ke Ophis. "Sepertinya kau sudah memikirkan semuanya. Cih!" ia memulai dengan akhiran berupa decihan pelan. "Apa boleh buat. Lakukan sesukamu Hokage-sama." kata Madara dengan raut wajah tidak memperlihatkan bahwa ia sudah mengalah. Setelah Hashirama melepaskan kedua sulur yang mengikat kedua lengannya, Madara merubah Insou Tiger tadi menjadi acungan jari tengah dan telunjuk yang disatukan.
Berpindah dan muncul di samping sahabatnya yang masih terhimpit menggunakan Shunshin no Jutsu (Body Flicker Tehnique), Madara segera membebaskan Hashirama. Satu pukulan dilapisi chakra padat seketika menghancurkan benda hitam Ophis dengan mudahnya. Saat mantan Hokage itu sudah berdiri dan menepuk-nepuk debu yang menempel di pakaiannya, Madara menelengkan kepala. "Tapi, jika situasi sudah tidak memungkinkan lagi. Jangan menyalahkanku jika Konoha kembali menjadi medan pertarungan, Hashirama!"
"Ya, aku mengerti." Hashirama membalas singkat dengan wajah serius.
Keheningan terjadi sesaat di lokasi itu. Ophis nampaknya tidak peduli jika dua [Mangsa] itu terbebas dari himpitan benda hitan yang tercipta dari Dragon Power miliknya tadi. Dia merasa bahwa melakukan hal yang sama akan sangat mudah bila mana kedua manusia itu kembali memasang gestur tubuh siap bertarung.
Situasi yang sempat memanas karena Madara yang tiba-tiba tersulut api kebencian setelah mendengar nama Orochimaru kini mulai menghilang berkat keheningan tersebut. Belum lagi Madara dan Hashirama yang sudah tidak lagi memasang gestur tubuh siap untuk bertarung. Melihat hal tersebut, bibir mungil Ophis yang sedari tadi membentuk garis horizontak lurus sedikit melengkung. "Akhirnya, kalian mengerti!" entah kenapa, suara lembut nan halus namun dikeluarkan dengan nada datar Ophis membuat Hashirama kesal sekaligus bernostalgia singkat karena teringkat akan sosok Madara dan mendiang Tobirama. "Seberapa kuat pun kalian. Kalian tidak akan bisa mengalahka—"
"Maaf menyela Ojou-chan!" Hashirama menyahut cepat sebelum kalimat meremehkan yang semakin mempermirip sosok Ophis dengan Madara dan Tobirama terlontar dari mulut gadis kecil bermata ungu kusam itu. Pria ini berpikir, Ophis adalah gadis yang sejak [dilahirkan] sudah memiliki kekuatan gila, namun belum mengerti kalau itu bukan sesuatu yang membuatnya tidak bisa dikalahkan. Maka dari itu, dengan nada bijak yang muncul entah dari mana, Hashirama memberikan nasehatnya pada pendiri Khaos Brigade itu. "Walau kekuatan Ojou-chan sangat gila sampai membuat tubuhku sedikit merinding, jangan pernah meremehkan seseorang. Faktanya, sebesar apapun kekuatan seseorang bukanlah patokan dia tidak bisa dikalahkan. Masih ada hal yang menjadi penentu. Contohnya saja, untuk apa dia bertarung dan seberapa pandai dia menggunakan kekuatannya, sekecil apapun itu."
Namun sepertinya ceramah panjang lebar Hashirama masuk telinga kanan keluar telinga kiri agak lancip panda bagian atas milik Ophis. "Tapi, tetap saja kalian tidak bisa mengalahkanku."
Urat kening Hashirama mencuat keluar membentuk pola mirip pertigaan jalan, nampaknya ia kesal perkataan panjang lebarnya tadi sia-sia saja. Saking kesalnya, Hashirama sampai kepikiran untuk mencincang Ophis. Selain itu, dia juga menambahkan satu poin lagi kalau memang gadis itu mirip, sangat mirip dengan Madara dan mendiang Tobirama. Mereka bertiga sama-sama keras kepala dan mau menerima kekalahan dalam adu argumen. Maka dari itu, mengalah mungkin jadi satu-satunya cara untuk tidak kembali memanaskan situasi. Seperti yang dikatakan Madara tadi, dia sudah memikikan semuanya dan tidak ingin kesempatan mencari tahu kenapa pemuda berambut perak di samping Ophis sangat menginginkan Naruto sampai harus meminta bantuan gadis itu dengan menyusupkan ular hitam ke wilayah kekuasaan Kyoto Youkai-ha (Kyoto Youkai Faction)
"Haaah..." ia menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. "Baik, baik, Ojou-chan. Kami tidak mengalahkan Ojou-chan."
"Untuk saat ini." Madara menimpali dengan suara yang menyembunyikan rasa tidak senang.
Hashirama mengangguk setuju. "Ya, benar. Kami tidak bisa mengalahkan Ojou-chan sekarang ini. Makanya, kami memilih jalan damai saja. Bagaimana? Apa Ojou-chan setuju?"
Mata ungu kusam Ophis yang tidak memiliki sinar sedikit pun memandang lurus Madara dan Hashirama. "Itu bukan urusanku. Vali yang ingin bertamu kalian. Aku cuma membantunya."
"Brengsek!" ketenangan sekuat tenaga Hashirama pertahankan seketika runtuh pernyataan Ophis terlontar. Dengan kepala yang mulai nyut-nyutan, dan urat-urat kening yang kembali menyembul keluar. Dia merengut kesal selagi bertanya dalam soal pernyataan Ophis tadi. Jikalau memang pertemuan ini bukan urusan Ophis? Kenapa dia langsung menimpuk dirinya dan Madara beberapa saat yang lalu?
Hashirama mengambil satu langkah besar dengan kaki kanan ke depan, permukaan tanah retak saat bertemu telapak kakinya yang dilindungi alas kaki khas ninja. Tangannya dikepal lalu diarahkan langsung ke wajah Ophis. "Oi, dengar gad—NGOH!"
Belum sempat Hashirama mengeluarkan lolongan seperti anjing kelaparan, kepalanya sudah terlebih dulu bertemu tanah sampai tertimbun beberapa senti. Pelaku yang membuat Hashirama sampai mencium tanah air cuma mendengus frustasi sambil menggelengkan kepala. "Dasar dobe!"
Mantan Hokage yang posisi bersujud itu memposisikan kedua tangan di samping kepalanya yang tertimbun. Kemudian dengan satu kali tarikan kuat, kepalanya berhasil tercabut. Dia langsung menelengkan kepala ke kiri sedikit ke atas. "Brengs—" umpatan Hashirama berhenti di tengah jalan. Mata hitamnya melihat dengan jelas delikan Madara yang mirip pisau siap menusuknya. "Etto, aku memaafkan Madara-sama."
Sang Uchiha kembali mendengus dan mengejek sahabatnya itu. "Bagus. Sekarang lanjutkan apa yang ingin kau lakukan, B.o.d.o.h!"
"Tidak usah dieja juga kali." Hashirama memanyunkan bibir ke depan selagi bangkit berdiri dengan bantuan tangan kanan, sedangkan yang lain mengelus-ngelus tempat pukulan Madara mendarat tadi. "Baiklah Ojou-chan...? Apa Ojou-chan dan Hakuryūkō-dono setuju untuk tidak melakukan pertarungan disini?"
Raut wajah tanpa emosi Ophis tetap setia menemani selagi ia menjawab, "Kalau aku terserah Vali. Dia yang ingin bertemu kalian."
Atensi kedua ninja itu teralihkan pada pemuda yang diketahui bernama Vali. Pemuda yang belum pernah angkat suara sejak menampakkan batang hidungnya di depan Madara dan Hashirama. Berdehem pelan untuk menambah ketenangan yang terjadi sekarang ini, Hashirama segera berbicara, "Sebelum mulai, ada baiknya kita memperkenalkan diri dulu. Aku Senju Hashirama..." ia memulai dengan suara yang tidak menyimpan kemarahan lagi untuk mempertahankan situasi tenang sekarang ini. Dia kemudian memposisikan tangan kiri di samping kepala, dan mengarahkan ibu jari ke sahabatnya yang berdiri di samping sana. "...Dan dia, Uchiha Madara."
Pemegang Sacred Gear [Divine Dividing] itu diam sejenak untuk berpikir. Apa ia harus memberitahukan identitas lengkapnya atau tidak. Hampir semenit lamanya ia melakukan itu sebelum menghela nafas kalem. "... Vali atau golongan akhirat dan supranatural lainnya memanggilku Hakuryūkō." dengan tenangnya ia memberitahukan nama depan dan gelar yang disandang sebelum menoleh ke samping, ke tempat Ophis berdiri. Saat melakukan itu, mata biru es-nya sedikit memancarkan cahaya keraguan yang sama seperti di awal-awal. Namun, keraguan itu segera ditepis Vali tatkala mengingat kalau sang ketua sama sekali tidak peduli dengan apapun, kecuali tujuan merebut [Rumahnya]. "Dan dia Ophis... atau dikenal sebagai Mugen no Ryūjin (Infinite Dragon). Ouroboros Doragon, Ophis."
"Mugen no Ryūjin, Ouroboros Doragon... Ho, hooo...!" Madara menyahut dengan suara tinggi bak seorang penyanyi seriosa, tangannya segera ia lipat di depan dada sebelum melanjutkan. "Pantas saja kau mengenal ular brengsek itu, Chibi-chan. Ternyata kau pemimpin oraganisasi yang dimasuki."
Hashirama yang juga sempat terkejut atas informasi dari Vali ikut berbicara. "Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang!" ia menimpali disertai anggukan ringan.
Kenapa Madara dan Hashirama bisa tahu tentang pemimpin Khaos Brigade adalah Ophis setelah mendengar gelar [Ouroboros Doragon]? Jawabannya ada pada ingatan Orochimaru yang diambil saat pertarunagn melawan tiga—ah, empat [Edo Tensei]. Kala itu Madara menemukan banyak hal tentang perjalanan Orochimaru, termasuk seluk beluk Khaos Brigade serta dua organisasi bernama KyūmaŌ-ha (Old Satan Faction) dan Eiyū-ha (Hero Faction). Ada satu ingatan yang memperlihatkan penghianat desa itu sedang mendiskusikan sesuatu bersama tiga pemimpin KyūmaŌ-ha. Topik utama diskusi itu adalah memanfaatkan kekuatan pendiri sekaligus pemimpin Khaos Brigade yang digelari [Dewa Naga Ketidakterbatasan], Mugen no Ryūjin dan Ouroboros Doragon, tanpa mereka tidak menyebutkan nama si pemilik gelar yang ternyata adalah Ophis
Sedangkan Hashirama diberitahukan setelah pertarungan selesai, dan ternyata gadis di depan mereka inilah pemilik dari gelar yang bahkan [Tuhan] sendiri takut akan itu.
Samping kiri garis datar yang dibentuk bibir Madara turun beberapa senti membentuk seringai miring. Sinar mata hitam kelamnya pun terlihat menginginkan sesuatu. "Mungkin kalian akan marah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh orang seperti kami..." ia memulai dengan suara datar bak tembok raksasa Tingkok. "Hanya untuk memastikan saja... Apa benar setiap golongan di organisasi kalian tidak akur dan memiliki tujuan masing-masing?" tanya Madara tanpa mengungkit-ngungkit soal tujuan KyumaŌ-ha yang ia ketahui. Itu disimpan apabila pertanyaan ini tidak membuat Ophis ataupun Vali terpancing.
Bukannya marah, bahkan terkejut pun tidak, Ophis malah memperlihatkan sikap acuh akan pertanyaan yang bersifat umpan Madara. Kemudian, ia segera membalasnya datar, "Aku tidak peduli mereka akur atau tidak, maupun memiliki tujuan masing-masing. Selama mereka ingin membantuku mengalahkankan si [Merah Bodoh]. Itu tidak masalah."
Hashirama mengerjit keheranan. Dia yang memang mantan seorang pemimpin mengerti betul susahnya mengembang posisi itu. Mulai dari mengawasi dan menjaga semua yang berada di bawah naungan kekuasaan, mencari tahu apabila ada pihak-pihak yang tidak sejalan dengan pikiran tentang masa depan kelompok atau tempat yang dipimpin, sampai ke masalah-masalah kecil berakibat hancurnya organisasi atau tempat yang dipimpin. Hashirama mengerti semuanya. Namun, baru kali ini dia menemukan seorang pemimpin/ketua yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan bawahannya selama mereka membantu untuk melaksanakan tujuan dari dibentuknya organisasi, bahkan jika Ophis dimanfaatkan hanya untuk kepentingan bawahannya. Pria keturunan terakhir Senju ini pun menarik satu kesimpulan lain dari sosok Ophis, seorang pemimpin bodoh!
Lain lagi dengan orang yang menebar umpan tadi, Madara. Bukannya memakan umpan, Ophis malah mengacuhkannya. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh sang Uchiha. Sempat Madara berpikir kalau Khaos Brigade, organisasi Ophis lumayan juga untuk dimasuki, dimana pemimpin bersikap acuh pada anggotanya. Namun sayangnya, sebagai seorang ninja, apalagi berasal dari Uchiha. Dia tidak ingin dipimpin kecuali oleh Hashirama seorang saja. Sahabat yang paling dihormati sekaligus dibenci karena sifat hiperaktif yang kadang kebodohannya melewati batas normal.
Selain Khaos Brigade, Madara juga menemukan sesuatu dibalik kalimat Ophis yang membuatnya cukup penasaran. Selama menjalani hidup diluar ruang lingkup Konoha, dia hanya pernah bertemu dua orang—iblis yang memiliki ciri khas berwarna merah. Pertama adalah Rias Gremory, iblis betina yang sempat membuat Naruto sampai uring-uringan, dan satunya lagi adalah orang yang bisa kapan saja ia penggal kepalanya karena sebuah perjanjian. "Si Merah Bodoh? Siapa lagi itu? Sirzechs, kah?"
Melihat kedua pria di depannya yang terdiam dengan raut wajah berbeda. Ophis kembali berbicara. "Apa kalian tertarik untuk bergabung?" ia memulai langsung ke intinya, memberi tawaran yang dengan mulusnya meluncur dari mulut mungil itu. "Kekuatan kalian sudah kuakui. Kau..." Ophis mengarahkan jari telunjuk ke Hashirama. "...kurasakan lebih kuat dari Orohimaru. Jadi, apa kalian mau bergabung denganku?"
"Sayang sekali Ouroboros-dono, kami tidak tertarik untuk menjadi bawahan siapapun. Apalagi organisasi tidak jelas macam punya anda." bukan Madara yang menjawab, melainkan Hashirama disertai gelengan pelan. "...bahkan jika bergabung memperbesar peluang kami untuk menemukan Orochimaru."
"Hn, benar! Kami, Shinobi tak akan pernah tunduk dan diperintah oleh ras lain, kalaupun itu manusia sendiri, apalagi organisasi tak jelas macam Khaos Brigade. Cukup bocah sableng dan si mesum bangsat itu yang melakukannya." kata Madara menimpali. "Serta ular terkutuk itu." tambahnya mirip sebuah desisan dingin, bahkan mata hitamnya sempat memancarkan sinar kebencian teramat sangat.
Merasakan aura kebencian memancar jelas dari sinar mata dan suara yang dikeluarkan Madara, muncul setitik ide dalam benak Vali untuk membalikkan apa yang hendak dilakukan Madara, memancing mereka untuk bekerja sama. Dia sudah menyadari jika pria itu sengaja menebar umpan dengan pernyataan yang menyakut dua kelompok di Khaos Brigade tadi. "Sepertinya kau masalah dengan Orochimaru, heh?" pertanyaan menyiratkan sindiran itu meluncur mulus dari bibir Vali yang sudah membentuk lengkungan kecil. Pandangan dengan mata disipitkan Madara langsung saja mengarah ke dirinya. "Sebesar apa itu?"
"...Huh!" Madara mendengus. "Bukan urusanmu, bocah kaleng."
"Kalau bagitu. Semoga kalian berhasil menemukan markas kami, terutama Orochimaru yang sangat sulit diketahui lokasi dan kerjaan apa yang sedang dilakukan."
Usai mengatakan itu. Vali menelenkan kepala ke Ophis sebagai tanda untuk sang Dewa Naga segera mempersiapkan tehnik teleport-nya. Mengerti akan telengan dari anggota yang paling dipercayai, Ophis mengangguk pelan. Dewa Naga yang mengambil wujud Bishojo-sama itu pun membuka dan mengarahkan telapak tangan kanan ke atas, asap hitam keunguan mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Sebelum Dragon Power berwujud menyerupai gas itu menyelubungi tubuh sang pemilik dan Vali, Hashirama mulai panik rencana untuk berdiskusi [baik-baik] kandas di tengah jalan, dan sayangnya dia tidak tau maksud Madara tadi mengomentari soal Khaos Brigade. Lain lagi dengan Madara yang membuang nafas lelah akan sifat sahabatnya itu yang selalu memilih jalan damai untuk menyelesaikan sesuatu. Bahkan, sejak Hashirama mencegatnya untuk melancarkan serangan, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Itulah sebabnya dia berusaha memancing Ophis maupun Vali, dan sepertinya itu juga kandas di tengah jalan, atau mungkin itu belum cukup.
Karena jalan diskusi baik-baik memperlihatkan akan kandas. Segera, Madara putar otak menyusun kembali segala macam strategi bertempur yang ia buat sejak melihat kekuatan dalam tubuh Ophis dengan Sharingan miliknya. Tentu saja pertarungan untuk memaksa Ophis mengatakan keberadaan Orochimaru. Dalam rentang waktu yang sangat tipis, tidak ada satupun strategi yang bisa memberikan presentase kemenangan di atas lima puluh persen apabila bertarung, bahkan jika bersama Hashirama sekalipun. Dalam perhitungan Madara, bukan hanya kekuatan diatas kata abnormal Ophis yang menjadi kendala. Sejak serangan pertama Ophis tadi, ia sudah menyadari jika Ophis dengan sangat mudahnya menggunakan kekuatan berwarna hitam keunguan tadi tanpa melakukan apapun, dengan kata lain sama sekali tidak bisa diprediksi kapan dan sebesar apa serangan yang akan dilancarkan.
Dan untuk pertama kalinya, Madara harus menerima kenyataan bahwa memang benar ia dan Hashirama tidak bisa mengalahkan Ophis untuk saat ini. "Sial!"
Di tengah-tengah kebuntuan dan kekesalan keturunan Uchiha itu tidak menemukan cara untuk menang dan memaksa Ophis, Hashirama mengambil tindakan nekad. Dia mengambil satu langkah ke depan, lalu mengulurkan tangan kanan untuk mencegat mereka. "Tu-tunggu, Vali-san, Ouroboros-dono!" saat Vali memandangi mantan Hokage itu, dan Ophis yang membatalkan niat untuk berpindah. Hashirama segera mengutarakan niatnya mencegat kedua orang berkekuatan naga itu sekaligus topik utama yang sudah ia inginkan sejak mendengar nama Orochimaru. "Vali-san. Anda menginginkan informasi tentang Naruto, kan? Bagaimana kalau kita melakukan pertukaran saja? Kalian memberi informasi soal Orochimaru dan kami memberitahu semua hal tentang Nar—"
"Maaf saja. Yang kuinginkan bukan informasi, tapi orangnya." Vali segera menyela sebelum Hashirama menyelesaikan kalimatnya. "Apa gunanya sebuah informasi kalau orangnya tidak bisa kutemui."
Pernyataan terakhir Vali sontak saja memunculkan titik cerah dalam kepala Madara. Dia yakin kalau Naruto sudah melakukan sesuatu kepada Vali sampai-sampai pemuda pewaris [Divine Dividing] itu sangat menginginkan sosok yang ia anggap adik. Namun, sebelum mengeluarkan apa yang ada di pikirannya, Hashirama sudah terlebih dahulu berbicara.
"Oke, oke. Kami akan memberitahu Naruto jika dicari oleh seseorang. Selanjutnya, terserah dia ingin bertemu atau tidak."
Sialnya, apa yang Hashirama ucapkan terbilang sangat cepat. Madara ingin kalau kalimat itu diucapkan setelah apa yang membuatnya sangat penasaran terungkap. Dan itu bukan hanya tujuan Vali sangat menginginkan Naruto, namun juga penyebab itu bisa terjadi. "Cih! Tidak ada cara lain." segera Madara memalingkan wajah ke sahabatnya. Memandanginya dengan sorot mata yang dibuat sangat tajam. "Dobe, apa yang kau lakukan?"
"Tenang saja." Hashirama membalas pandangan Madara. Senyum kecil terbentuk di wajah pria itu. "Lagipula, Naruto tidak selemah yang kau kira."
"Bukan itu masalahnya, Dobe."
"Hah?" Hashirama memasang tampang bego tidak mengerti andalannya. Madara mengerluarkan dengusan dari hidung membuat tampang bego Hashirama berubah penasaran seperti pria Uchiha itu. "Kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti ini, Teme? Bukannya kau sendiri yang ingin cepat-cepat membunuh Orochimaru dan anggota KyūmaŌ-ha? Dan sekarang kau malah tidak menginginkan informasi itu dan lebih perhatian ke Naruto?" selagi memberondong tiga pertanyaan sekaligus yang seperti mengolok-ngolok lawan bicaranya, Hashirama mengambil satu langkah ke samping mendekati Madara, lalu menempelkan punggung tangannya pada kening pria itu, setelah menyisingkan poni merepotkan—menyeramkan Madara tentu saja. "Apa hari ini kau sedang sakit?"
Madara mengeluarkan decihan tidak suka dan menepis kasar tangan Hashirama yang menempel di keningnya. "Justru kau yang sakit disini, bodoh! Coba pikirakan ini baik-baik! Kita belum tau bocah kaleng itu siapa dan apa tujuannya sangat ingin bertemu Naruto. Masalah kuat, aku percaya bocah sableng itu tidak akan kalah kalau cuma bocah kaleng itu yang menjadi lawannya."
"Lalu, apa yang kau khawatirkan?"
"Khawatirkan? Untuk apa juga aku khawatir bodoh. Lihat saja nanti, kau akan tau sendiri nantinya."
Setetes keringat besar hinggap di kepala belakang rambut hitam Hashirama atas pernyataan Madara yang sama sekali tidak mau mengakui bahwa dia mengkhawatirkan Naruto, padahal memang tidak. Tapi sebelum mulut pria itu mengeluarkan balasan, Vali sudah terlebih dahulu berbicara setelah diam beberapa saat mengamati. "Tenang saja, hanya satu yang kuinginkan dari Naruto..."
"Apa itu?" Madara dan Hashirama serentak mengalihkan perhatian mereka pada Vali.
Sebelum orang yang ditanya menjawab. Madara memasang seringai misterius, kesempatan yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. "Aah, apakah itu sesuatu yang menyangkut Naruto dan masa lalunya?"
Vali tersentak, lalu pupil biru es miliknya tiba-tiba saja memperlihatkan banyak sinar yang cukup sulit untuk diartikan oleh dua ninja itu. "Membalas semua yang sudah dia lakukan padaku!" Vali menatap dengan wajah lurus kedua ninja itu, dan itu semakin menambah sulit apa sebenarnya yang ingin ia lakukan terhadap Naruto. "Apapun akan kulakukan itu, walau harus melawan dunia sekalipun!"
"Bingo! Kena kau bocah kaleng!" seringai Madara makin lebar. "Hooo..." Dia kemudian menyahut dengan suara tinggi. Sebenarnya, Madara setuju untuk mempertemukan Naruto dan Vali, bahkan sangat ingin. Tentu saja untuk memberikan bocah sableng itu balasan sudah memberikan gelar menjijikan kemarin siangnya, walau bukan ia yang secara langsung menghajar, namun Naruto pulang dalam keadaan luka-luka sudah lebih dari cukup.
Aah. Sepertinya Hashirama benar kalau Madara dan Naruto adalah pasangan adik-kakak angkat yang aneh. Bukannya saling mendukung dan melindungi, malah ingin melihat masing-masing dari mereka yang terluka!
"Sepertinya bocah sableng itu sudah melalukan sesuatu padamu sebelum bergabung dengan desa kami." balasan dari pernyataan inilah yang ingin diketahui Madara sampai harus beradu argumen singkat dengan Hashirama dengan berpura-pura tidak setuju untuk mempertemukan Naruto dan Vali. "Hn. Karena kau sudah membeberkan alasanmu sangat menginginkan bocah sableng itu. Mari lakukan apa yang diinginkan Hashirama."
"Tck!" Vali berdecak kesal dengan suara yang sangat pelan. Ia tak menyangka emosinya bisa terpancing dengan sangat mudah saat Madara menyebut-nyebut Naruto sudah melakukan sesuatu kepadanya di masa lalu. Saking kesalnya, dia sampai mengumpat masih dengan suara yang sangat pelan. "Sialan...!"
Ophis yang menyadari perubahan drastis pada inang dari Albion itu menelenkan kepala. "Ada apa Vali?"
Madara yang sama seperti Ophis memfokuskan padangan ke Vali dengan mengikut sertakan seringainya. "Heh..." mulut pria itu mengeluarkan suara yang seperti mengejek Vali. "Jadi memang benar kalau bocah sableng itu sudah melakukan sesuatu kepadamu, dan itu bisa kupastikan adalah hal yang buruk."
Mata biru es Vali berkilat tajam bagaikan silet yang siap menguliti sang Uchiha. "Diam!" bentaknya, ia lalu mengalihkan pandangan ke Ophis. "Kita pergi!"
Sebelum Ophis kembali mengeluarkan asap hitam keunguan yang akan mengirim dirinya dan Vali, Madara kembali berbicara mencegat keduanya. "Mau kabur, heh? Dimana bukti kata-katamu tadi, bocah kaleng? Dimana bukti kalau kau akan membalas semua yang sudah dilakukan Naruto kepadamu?" sebagai jawaban atas tiga pertanyaannya tadi, Madara mendengar Vali mengerlukan decihan. "Sudah kuduga. Selain licik dan serakah... Iblis ternyata mahluk pengecut juga!"
Dengan berakhirnya pernyataan sarat akan ejekan Madara, tubuh Vali menegang terkena serangan kata-kata pria itu. Wajah yang sejak beberapa saat lalu terlihat kesal sekaligus menyimpan banyaka amarah dan kebencian dalam berubah terkejut. "Ba-bagaimana kau...?"
"Jangan pernah meremehkan manusia, terutama manusia seperti kami yang memiliki aliran energi asing bagi kalian di dalam tubuhnya." kata Madara dengan seringainya yang kembali melebar. "Sejak kedatangan kalian kemari... Aku sudah melihat menyadari (Melihat) semuanya. Walau tidak sepenuhnya energi yang mengalir dalam tubuhmu adalah energi iblis, kau tetaplah iblis..." kalimat itu sengaja dibuat mengambang selagi Madara mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke Vali. "...Jadi, sekuat apapun kau berusaha untuk mengambil Naruto! Jangan harap kami akan tinggal diam begitu saja... Iblis!"
Hashirama yang belum sempat berkata-kata saat Madara menyebut Vali adalah seorang Iblis akhirnya mengambil kesempatan kecil ini. Dia memutar tubuh ke arah Madara. "Di-dia Iblis?"
Madara membalas tatapan penuh rasa penasaran sahabatnya itu dan mengangguk singkat. "Ya, walau dalam tubuhnya terdapat energi lain yang sama dengan Chibi-chan itu." jelas Madara sebelum sinar mata hitamnya sedikit berubah. "Jangan bilang kalau kau tidak menyadarinya, Dobe?"
"Tentu saja tidak, Teme." Hashirama membalas sengit. "Selain tekanan energi yang sama dengan Ouroboros-dono, aku sama sekali tidak merasakan apapun dari tubuhnya."
Percakapan Madara dan Hashirama tiba-tiba saja diinterupsi oleh suara tawa yang berasal dari Vali. Dia yang tadinya sempat kesal karena kecolongan sampai harus terang-terangangan mengatakan tujuannya sangat ingin bertemu Naruto kini berusaha untuk tidak masuk lebih jauh lagi dalam perangkap Madara. Harus ia akui kalau kedua orang di depannya, terutama Madara patut diwaspadai. Bukan hanya mampu membalikkan keadaan ketika diserang oleh Ophis, dan mampu mengetahui identitasnya sebagai seorang iblis hanya dalam sekali pandang, pria berambut hitam bercampur biru tua itu juga sangat pandai membuat orang-orang tersulut emosi hanya dengan kata-kata saja.
Usai menyelesaikan tawa kerasnya, Vali memasang tampang sombong nan arogan. "Tidak akan tinggal diam saja?" ia memulai dengan mengulangi salah satu pernyataan Madara dan mengubahnya menjadi sebuah pertanyaan. "Justru disitulah menariknya. Dengan melalui banyak rintangan, akan membuktikan jika aku benar-benar menginginkan Naruto! Dan asal kalian tau saja... Jangankan kalian berdua dan Kyoto Youkai-ha (Kyoto Youkai Faction). Meikai dan Ten (Heaven) pun akan kugempur seorang diri jika ingin!" serunya lantang yang menadakan bahwa ia secara terang-terangan mengibarkan bendera perang ke Madara dan Hashirama. "Camkan itu baik-baik!"
"Hahahahahah..." Madara balas tertawa, dan lebih keras dari milik Vali. Hampir setengah menit berlalu, ia berhenti dan segera memberikan balasan akan pernyataan lantang tadi. "Kalau begitu, kenapa tidak kau gempur saja Kyoto hari ini, nak? Lagipula, aku yakin kalau kau bukanlah bocah bodoh yang tanpa pikir panjang langsung menyerang salah satu fraksi kuat demi satu orang saja, bukan?" Vali terdiam atas pertanyaan itu, entah kenapa dia kesulitan untuk mencari jawaban yang pas agar tidak terlihat bahwa berniat mengelak. "Sudah kuduga..."
"Vali..." Ophis yang sejak tawarannya mengajak gabung Madara dan Hashirama ke dalam Khaos Brigade ditolak memilih diam akhirnya kembali angkat suara. Saat pemuda yang dipanggil menoleh ke arahnya, dia melempar pertanyaan yang akan memecah sebuah peperangan besar apabila Vali mengijinkannya. "Apa kau ingin aku menyerang Kyoto dan mengambil orang bernama Naruto itu sekarang juga?"
Sang Hakuryūkō tersentak. "Jangan bercanda Ophis!"
"Aku serius!" Ophis membalas datar. "Jika memang benar menyerang Kyoto sekarang juga bisa membuat aku membalas semua yang sudah kau lakukan untukku. Pasti akan kulakukan."
Vali mulai panik. Mata Ophis memperlihatkan bahwa dia benar-benar serius akan menggempur Kyoto apabila pemuda berambut perak gelap itu mengijinkannya. "Oi, oi. Aku hanya meminta bantuanmu untuk mencari keberadaan mereka berdua dan Naruto. Lebih dari itu, tidak ada lagi. Ini adalah masalah pribadiku—"
"Aku tidak peduli..." Ophis menyahut cepat sebelum Vali selesai. Satu hal dari Ophis kembali terungkap, apabila ia menginginkan sesuatu. [Mundur] ataupun [Berhenti] tidak akan pernah Ophis lakukan demi mencapai apa yang diinginkan, bahkan jika itu hanyalah hal sepele yang di lain sisi berakibat sangat fatal. "Aku tidak peduli jika satu ras musnah. Asal aku bisa membantumu, dan apa yang Le Fay beritahukan padaku benar-benar terjadi. Pasti akan kulakukan!"
"Hey, hey... ada apa ini? Kenapa kau malah menolak permintaan pemimpinmu, bocah kaleng? Atau memang benar aku hanyalah iblis pengecut bermulut besar yang dengan lantang mengibarkan bendera perang ke kami dan Kyoto Youkai-ha?"
Perhatian Vali kembali tertuju pada Madara yang baru saja mengirim serentetan pertanyaan, yang salah satunya terdengar begitu meremehkan Vali hingga mengundang amarah pemuda itu. "Tutup mulutmu, bangsat!"
"...Dan sekarang kau bersikap seolah-olah bisa memerintahku?" Madara kembali berbicara dengan seringai yang semakin menambah amarah dari sang Hakuryūkō. "Menyedihkan!"
Wajah Vali mulai mengeras bak baja kelas tinggi. Tanpa sepengetahuin orang-orang disana, dalam mulut Vali yang terkatup begitu rapat bergetar hebat menandankan bahwa rahang bawah dan atas pemuda sedang beradu hingga terdengar suara gemelutuk kecil. Beruntunnya, naga yang bersemayam dalam Sacrad Gear keturunan Lucifer itu segera mengambil tindakan sebelum inangnya mengambil tindakan nekad.
"Tenangkan dirimu Vali. Emosi malah akan membuat kau semakin tenggelam dalam perangkap orang itu. Aku sudah menduga sejak orang bernama Senju Hashirama itu ingin memberitahukan pada dia kalau kau mencarinya. Sebaiknya kau lakukan saja apa yang mereka inginkan. Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang kau punya untuk mengetahui apa yang terjadi padanya setelah malam itu." dengan suara berat nan mengerikannya dalam kepala Vali, mahluk yang mendiami Sacred Gear [Divine Dividing] memberi ceramah yang lumayan panjang kepada inangnya. Mendengar Vali bergumam meminta kejelasan dari maksud dari ceramahnya barusan, Albion segera memperjelasnya. "Dari ekspresi orang itu saat menyebut kata [Iblis], bisa kupastikan kalau dia sangat membenci iblis. Dan kenapa aku mengatakan ini satu-satunya kesempatanmu? Mereka bersama Naruto sepertinya tidak menetap di satu lokasi dalam waktu lama. Baru beberapa hari yang lalu mereka ada di Kouh, sekarang di Kyoto, lalu berakhir disini."
"Selain itu... Melawan mereka bisa saja membuatmu terbunuh, walau Ophis berada di dekatmu sekarang ini. Bisa kau lihat sendiri bagaimana mudahnya dia berpindah ke belakang Ophis tanpa kalian sadari, bukan?"
"Kau takut pada mereka, Albion? Ini tidak seperti kau yang biasanya."
"Takut? Itu bisa saja. "
Jawaban tidak jelas dari Albion itu sontak membuat Vali mengerjit heran. Oh, ayolah! Masa mahluk yang berbagi gelar dengan Ddraig sebagai Nitenryū (Two Heavenly Dragon) ragu inangnya bisa mengalahkan Madara dan Hashirama, bahkan sampai berpikir bisa membuat inangnya terbunuh. Jangankan manusia, ketiga fraksi besar saja takut akan kekuatan Albion. Jujur saja, Vali benar-benar penasaran kenapa naga yang bersamayam dalam tubuhnya itu bisa mengalami hal seperti ini.
Namun, tanpa sepengetahuan Vali. Albion sebenarnya sangat ingin untuk inangnya itu bertarung dan menghajar salah satu diantara Madara dan Hashirama karena sebuah alasan yang hanya ia seorang mengetahuinya. Selang beberapa detik kemudian, terdengar suara desahan panjang di kepala Vali. "Haaah... Tidak usah memikirkan kenapa aku berpikir mereka bisa membunuhmu, Vali. Lakukan saja yang mereka inginkan. Ini demi tujuanmu! Bisa saja setelah mengetahui rahasia masa lalumu, mereka malah akan memberimu bantuan karena kebencian mereka pada ras iblis."
"Kau yakin?" Vali bertanya meminta kepastian.
"Tidak sepenuhnya. Namun, ketahuilah... Apapun yang terjadi setelah kau menceritakan semuanya, aku tetap akan membantumu!"
Akhirnya Vali memantabkan pilihannya. Dia akan memilih untuk mengikuti apa yang Albion inginkan. Sudah sangat terlambat baginya untuk mundur. Naruto yang selama ini ia sangka sudah mati, ternyata masih hidup dan bersama dua orang yang tidak boleh dipandang sebelah mata kekuatannya sampai naga dalam tubuhnya memberitahukan dia untuk tidak melawan mereka, bahkan jika Ophis berada di dekatnya.
Apa yang akan dia katakan—ceritakan selanjutnya mungkin adalah rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat seorang diri. Akan tetapi, demi tujuan yang masih belum pasti apa itu, beberapa orang mungkin tak apa bila mengetahuinya, apalagi jika orang-orang itu memiliki hubungan dekat dengannya ataupun Naruto. Di penghujung renungannya yang memakan waktu hampir semenit lamanya bila ditambah dengan percakapan dengan Albion, Vali berharap semoga keputusannya ini tidak salah.
Diamnya Vali selama beberapa menit membuat suasana di reruntuhan desa Konoha jadi sedikit sunyi. Hanya suara desiran angin yang menyapu debu, dedaunan kering dan serpihan benda kecil di atas permukaan tanah yang terdengar. Madara dan Hashirama sendiri memilih ikut tutup mulut setelah ejekan terakhir pria Uchiha tadi tidak ditanggapi Vali.
Menelenkan kepala ke Ophis, Vali memecah kesunyian dengan meminta sesuatu kepada pemimpinnya itu. "Ophis, berjanjilah kau tidak akan mengatakan apa yang kuceritakan nanti." bukan tanpa alasan ia meminta Ophis untuk melakukan itu. Yang akan ia jelaskan kepada Madara, Hashirama dan Ophis nantinya adalah penyebab dirinya menjadi sekarang ini. Seorang pemegang Longinus maniak bertarung demi menjadi yang terkuat. "Bagaimanan Ophis?"
"Tenang saja. Asal kau membantuku mengalahkan Si Merah Bodoh." kata Dewa Naga itu menanggapi. Suara yang awalnya lembut dan halus berubah jengkel di akhir ketika mengutip nama mahluk yang paling ia tidak sukai. "Dan aku bisa membantu menyelesaikan masalahmu agar apa yang dikatakan Le Fay terjadi. Aku tidak akan membocorkannya."
"Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih." Vali kembali mengarahkan wajahnya ke depan, memandang serius dua ninja di garis penglihatannya. "Kalian berdua..." Madara mengeluarkan dua huruf khas Uchiha sebagai balasan, sedangkan Hashirama menganggukkan kepala sekali. "Ini penawarannya. Akan kuceritakan semua yang pernah Naruto lakukan padaku dan memberi kalian informasi tentang Orochimaru. Tapi sebelum itu, kalian harus menceritakan semua hal tentang Naruto sejak mengenalnya, dan setuju untuk mempertemukanku dengannya untuk membalas semua yang sudah dia lakukan padaku... Terima atau tidak, itu terserah kalian."
Madara dan Hashirama saling pandang dan mengangguk setuju. sSetidaknya, bukan hanya masa lalu Naruto dan informasi mengenai Orochimaru yang akan mereka dapatkan. Dengan Vali menceritakan masa lalunya, secara tidak langsung mereka juga mendapatkan informasi berharga tentang ras iblis. "Ya, kami menerimanya." sahut Hashirama mewakili.
Vali mengangguk singkat. "Karena kuyakin ini akan memakan waktu cukup lama. Ada baiknya kita mencari tempat yang tepat."
.
.
.
.
.
Sekitar setangah jam setelah kepergian Madara dan Hashirama ke reruntuhan Konohagakure, Naruto saat ini berada di Dojo kediaman Yasaka. Tempat yang biasanya digunakan untuk berlatih tanding itu terletak di halaman belakang dan dipisahkan dengan bangunan utama, tujuannya agar tidak mengganggu orang-orang ketika ada yang memakai.
Walau tadinya dia sempat mengalami jatuh mental karena mengingat kembali sosok [Hina-chan], gadis masa lalunya yang diyakini sudah tewas dalam penyerangan Konoha. Namun sekarang mentalnya sudah kembali seperti biasa. Itu semua berkat obat paling mujarab yang dia miliki. Obat itu ialah dua adik angkat yang selalu melimpahkan kasih sayang kepadanya, Yuki dan Kunou. Jangankan kasih sayang, melihat keduanya tersenyum senang sudah membuat Naruto senang bukan kepalang.
Ya, seperti yang dia katakan kemarin. Mulai hari ini ia akan fokus ke Yuki dan Kunou. Dia ingin menghabiskan waktu bersama-sama sekaligus melatih mereka sebelum terjun ke medan pertempuran yang terasa semakin dekat kedatangannya. Hanya tinggal menunggu waktu dan mencari tahu lokasinya saja.
Berdiri di depan kedua adiknya sambil menyilangkan lengan depan dadanya, Naruto memandangi Yuki dan Kunou dengan senyum penuh rasa ingin tahu. "Nah, bagaimana pemanasannya? Apa melelahkan atau tidak?" ia bertanya karena keadaan dua adiknya karena tubuh mereka kini bermandikan banyak keringat namun sama sekali tidak memperlihatkan raut wajah tidak suka atas kegiatan yang baru saja dilakukan. Sungguh, Naruto merasa semangat dua gadis Loli rank-S itu benar-benar diluar akal sehat apabila melakukan sesuatu bersama dengannya. "Dan siapa yang menang?"
"Skornya tiga lawan satu, Onii-chan." yang menjawab adalah Yuki. Suaranya terdengar agak pelan. Mungkin karena dia kalah dari Kunou.
"~Fufufufufufufu..." tawa yang sangat mirip dengan sang ibu, baik nada maupun raut wajah menggoda Kunou sontak saja membuat Naruto jadi merinding sendiri. "Uki-chan, aku sudah menang! Aku yang akan dapat hadiah dan yang kumintam Naru-oniichan harus tidur sama aku malam ini."
"Oh, demi sempak tanpa jahitan Hashirama-ossan yang belum pernah dicuci! Aku lupa kalau yang menang akan kulakukan apapun permintaannya." pikir Naruto baru sadar akan ucapannya sebelum memberi menu pemanasan kepada dua adiknya, dan tidak lupa memberitahukan sesuatu agar mereka bersemangat. "Kalau sudah seperti ini. Pasti ujung-ujungnya hadiah yang mereka minta tidur sekamar denganku." Naruto mendesah pasrah dengan bahu yang merosot ke bawah. "Aah, merepotkan!"
Naruto yang tengah merenungi nasibnya malam nanti tiba-tiba saja tersentak. Perasaan tak mengenakkan tiba-tiba ia rasakan, dan diyakini bukan dari apa yang terjadi malam nanti setelah Yuki maupun Kunou meminta hadiah mereka. Perasaan tak mengenakkan itu berkaitan dengan Madara dan Hashirama yang sedang mengunjungi reruntuhan Konoha. Entah apa penyebabnya, namun Naruto tau pasti itu adalah sesuatu yang buruk.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" Naruto kini dilingkupi perasaan khawatir. Memang sih, ia kadang-kadang kesal dengan Madara ataupun Hashirama. Akan tetapi, mereka berdua adalah keluarganya, dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. "Kuharap kalian baik-baik saja disana, Teme, Ossan."
Kurama yang memang sedikit bisa merasakan apa yang dirasakan inangnya tiba-tiba berbicara lewat telepati mereka. "Ada apa Naruto?"
Sadar bahwa ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari mahluk yang mendiami tubunya, Naruto segera menjawab dengan suara pelan menyiratkan banyak kekhawatiran di dalamnya. "Ini tentang Madara-teme dan Hashirama-ossan."
"Bukannya mereka pergi ke Konoha? Memangnya ada apa dengan dua orang bodoh itu?"
"Ya. Mereka pergi ke Konoha." Naruto menjawab singkat pertanyaan Kurama tadi sebelum lanjut ke yang kedua. "Namun entah kenapa aku merasa kalau mereka mengalami sesuatu disana."
"Hmmn?" Kurama menggumam pelan, namun malah terdengar seperti anjing yang menahan amarah atau kelaparan. "Mengalami sesuatu? Aah, kalau itu sebuah pertarungan. Tidak usah khawatir, bodoh. Kokabiel saja bisa mereka bunuh dengan mudahnya."
"Aah, kau ada benarnya Kurama. Tck, kenapa juga harus mengkhawatirkan muka triplek dan pemimpin tak punya wibawa itu. Buang-buang waktu saja."
.
.
"Onii-chan!"
Tidak ada respon dari orang dipanggil Yuki. Pemuda itu masih tetap diam, walau matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya sedang terbang entah kemana beberapa saat lalu. "Naru-oniichan!" kini giliran Kunou yang memanggilnya, namun hasilnya tetap sama. Pewaris tahta kepemimpin Kyoto Youkai-ha ini menoleh ke saudara angkat perempuannya dan saling mengangguk.
Secara serentak, dua gadis Loli Rank-S itu mengambil beberapa langkah maju ke hadapan Naruto kemudian berteriak sekeras-kerasnya...
"ONII-CHAN!"
"NARU-ONIICHAN!"
Teriakan itu membuahkan hasil memuaskan. Pemuda yang dipanggil terkejut sesaat sebelum menoleh ke sumber suara. "HUAAAA!" Naruto makin terkejut karena wajah kedua adiknya yang berjinjit sehabis berteriak hanya berjarak beberapa senti saja dari miliknya. Segera dia mengambil dua langkah kebelakang. "Kalian bikin kaget saja berdiri depanku!"
Yuki berhenti berjinjit kemudian memasang tampang sebal yang malah terlihat imut di depan Naruto. "Onii-chan sih! Kami panggil-panggil tidak dibalas." ia memulai dengan sebuah gerutuan. Naruto membalasnya dengan tampang pura-pura polos yang seolah mempertanyakan apa benar Yuki dan Kunou dari tadi memanggil dia terus saat melamun. "Memang ada apa Onii-chan?"
"Tidak apa-apa kok." kata Naruto berusaha untuk tidak memberitahukan penyebab dia melamun satu menit lamanya, dan juga percakapannya dengan Kurama tadi. "Nii-san cuma melamun saja, maaf membuat kalian menunggu lama."
"Ano... memang Naru-oniichan melamunkan apa?"
Pupil biru cerah mata Naruto bergerak sedikit ke kiri menuju Kunou yang barusan bertanya dengan nada penasaran plus bingung. "Bukan hal penting. Nanti juga kalian tau sendiri."
Yuki memanyunkan bibir sejenak. "Mouu, Onii-chan!" ia merajuk terlebih dahulu kemudian mendongakkan kepala disertai tampang memohon yang tak mampu ditahan oleh siapapun terutama Naruto. "Kami mau tau sekarang, Onii-chan. Benar'kan, Kunou-chan?"
Naruto berpaling ke arah lain untuk menghindari kontak langsung dengan senjata andalan adiknya. Sudah berapa kali ia melihat tampang memohon adiknya yang begitu imut, dan tak pernah sekalipun berhasil melawannya. Dia beberapa kali melirik kedua adiknya itu sebelum memberi jawabannya. "Errr, nanti saja Nii-san kasih tau ke kalian. Sekarang kalian tidak perlu tau."
"Tidak! Tidak! Tidak!" Kunou menggeleng-gelengkan kepala. "Kami maunya sekarang Naru-oniichan!" kata Kunou ikut melancarkan serangan. Tatapan memohon/memelas yang tidak kalah imutnya dari Yuki juga ia perlihatkan.
"Oh, sial! Dua serangan langsung. Aku harus mencari cara untuk mengelak—Ah, benar juga...!" di balik kepanikan yang disebabkan oleh tekanan kuat dari kedua gadis Loli, muncul ide brilian di kepala perak Naruto. Dengan wajah masih berpaling ke arah lain, dia segera berbicara. "Bagaimana kalau kita mulai saja latihannya? Yuki masih punya kesempatan menang. Dalam latihan nanti, ada tiga perlombaan. Jadi, semangat Yuki!"
"Benarkah, Onii-chan?" ekspresi memohon Loli Rank-SS milik Yuki berganti menjadi wajah penuh cahaya terang menyilaukan, terutama di mata hitam besar gadis itu.
Naruto mengangguk singkat. "Tentu saja."
Sama halnya dengan Yuki. Tatapan memelas Kunou ikut menghilang. "Naru-niichan tidak adil! Kenapa cuma Uki-chan yang dikasih semangat." sekarang, Kunou malah mencak-mencak tidak jelas di depan Naruto. Ia sedikit iri, merasa kalau kakaknya lebih perhatian ke Yuki, yang sekarang merupakan adik sekaligus rival untuk menjadi Good-Imouto Naruto. "Aku juga mau, Naru-oniichan!"
"Iya deh. Kau juga Kunou..." Naruto menggerakkan leher pelan sehingga wajahnya kini memandangi adik Youkai-nya. "...Semangat, ya!"
"Uhm, baik Naru-oniichan!"
Usai Kunou membalas ungkapan penyemangatnya, Naruto mengacung jari telunjuk. "Dan satu lagi..." Yuki dan Kunou kembali fokus ke dirinya. "... Khusus untuk Kunou. Hadiah yang akan kuberi jika menang. Kunou kuijinkan tidur di kamarku malam ini."
"Ehh!" gadis pewaris tahta kepemimpinan Kyoto Youkai-ha itu menyahut dengan suara seperti tidak setuju. "Kenapa bisa begitu, Naru-oniichan? Kan aku belum menang, kok hadiahnya sudah Naru-oniichan sudah tentukan?"
"Are? Bukannya kau sendiri yang bilang tadi. Jadi seperti itu, deh." jawab Naruto dengan senyum kecil yang lebih mirip seringai penuh kemenangan. Karena dengan begini yang dikhawatirkan tentang pertanyaan penyebab dia melamun tadi sudah berkurang, dan kini tinggal Yuki yang berpotensi menjadi ancaman. Namun, di sela-sela Naruto menikmati kemenangan kecilnya, muncul suara geraman tidak suka dari dalam kepalanya. "Ada apa Kurama?"
"Kenapa kau tidak memberitahu mereka saja soal keberadaanku, terutama pada Kunou-chan."
"Justru itulah alasanku tidak memberitahukannya, rubah bodoh. Bisa gawat jadinya kalau Kunou tau kau ada dalam tubuhku."
Kurama mendengus. "Huh... Gawat apanya? Yang ada malah lebih baik. Dengan begitu kau tidak dianggap kakak lagi, melainkan Youkai jantan."
"Sudah, kau diam saja disana atau tidur dan jangan bangun-bangun lagi."
Kurama terkekeh pelan kemudian melancarkan balasan. "Terima kasih doanya, Bocah. Kuharap Yuki-chan yang menang. Khukhukhukhukhu..." dengan berakhirnya tawa mengerikannya itu, Kurama memutus sepihak telepati mereka.
Helaan nafas yang terdengar kesal keluar dari mulut Naruto. Entah kenapa akhir-akhir ini Kurama suka sekali mengganggu bahkan sampai menggoda dirinya. Ya, mungkin saja sekarang adalah musim kawin ras Youkai sehingga Kurama mulai banyak tingkah supaya dia kesal dan akhirnya mengeluarkan rubah itu, yang tidak mungkin bisa dilakukan karena akan berakibat fatal.
Tidak ingin Yuki dan Kunou melihatnya kembali melamun, Naruto geleng-geleng kepala menghilangkan pikiran absurd tadi. "Baiklah... Mari kita mulai latihannya!"
"Ooouuuuu~~!"
.
.
.
.
.
Di bawah perlindungan atap salah satu sisa bangunan yang masih berdiri kokoh desa Konoha, Hashirama dan Madara tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan sehabis Vali menyelesaikan cerita yang berakhir pada hari penyerangan Kokabiel terhadap Kuoh Gakuen (Kuoh Academy), seolah-olah mereka baru saja mendengar sesuatu yang begitu luar biasa sekaligus mengerikan. Dan diantara sekian banyak hal yang mereka dengar dari Vali, dua diantaranya yang membuat keduanya, terutama Hashirama sangat terkejut.
Walaupun yang diceritakan oleh Vali hanya sebagian besar dari masa lalu kelamnya.
"Aku benar-benar tidak percaya... Ternyata, ada juga anak yang lahir dari pernikahan iblis dan manusia sepertimu, Vali-san. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Meikai bila mendengar hal ini, apalagi iblis yang menikahi manusia itu adalah keturunan Maōu Lucifer." pemuda keturunan Lucifer itu hanya mengangguk setuju akan pernyataan Hashirama soal rasa penasrannya tentang reaksi Meikai. "Naruto... Naruto... Ternyata dia memiliki masa lalu yang begitu mengerikan sebelum bertemu Jiraiya."
Vali mengangguk untuk kedua kalinya. "Begitulah. Aku juga tidak menyangka kalau setelah malam itu, ternyata dia masih hidup dan bersembunyi di desa ini." ia berkomentar pelan dengan mata yang memperlihatkan dua emosi berbeda. Sedih dan penuh kebencian secara bersamaan. "Dan sekarang, setelah mengetahui apa yang sudah ia lalui. Tujuanku yang sebenarnya kembali muncul."
"Tck!" Suara decakan keras dari Madara mengalihkan perhatian kedunya. "Biarpun kau hanya setengah iblis. Aku tetap tidak bisa menahan diri untuk membunuhmu sekarang juga, bocah kaleng. Apalagi kau adalah cucu pemimpin terdahulu dari ras yang paling ingin kuhancurkan."
"Oii, tunggu Madara! Apa kau tidak mendengar semu—"
Mantan Hokage itu tidak sempat menyelesai kalimatnya karena Madara tiba-tiba saja memotongnya. "Namun, dari ceritamu barusan. Ada satu yang membuatku begitu penasaran. Kenapa Naruto, yang seorang manusia, bisa ikut campur dalam masalah keluargamu."
"[Seorang manusia]?" beo Vali dengan alis kiri terangkat beberapa senti. "Ternyata bukan hanya ingatannya saja yang tersegel..."
"Apa maksudmu, Vali-san?"
Sinar kebencian di mata Vali tiba-tiba mendominasi. "Naruto itu, sama sepertiku. Dalam tubuhnya juga mengalir darah yang sama—Setengah darah Maōu terdahulu, Lucifer. Aku jadi bingung, kenapa kau—" dia menunjuk Madara. "—tidak bisa merasakan aura iblis dari tubuh Naruto seperti yang kau rasakan dari tubuhku."
Fakta itu sontak saja membuat Madara dan Hashirama kembali harus dilanda keterkejutan. Mata mereka sama-sama melebar syok tidak percaya, pemuda yang selama ini bersama mereka ternyata cucu dari pemimpin pertama ras yang membantai Konoha. Dan entah bagaimana caranya, sebelum diterima di Konoha, dalam pemeriksaan menggunakan tehnik klan Yamanaka dan mata Sharingan Madara, mereka tidak menemukan tanda-tanda adanya darah, aura serta kekuatan iblis yang mengalir dalam tubuh Naruto.
Selang beberapa detik, rasa terkejut Madara berubah menjadi amarah dan kebencian yang begitu pekat. Giginya sampai digertakkan kuat-kuat sampai menciptakan suara gemelutuk keras menahan dua emosi yang berkecamuk itu.
Lain lagi dengan Hashirama. Dia yang masih terkejut mencoba untuk memperjelas maksud Vali barusan demi mengetahui siapa dan mahluk apa sebenarnya Naruto. "Ma-maksudmu... dia sama sepertimu. Hibrid setengah manusia dan iblis Lucifer, begitu?"
Satu anggukan kepala dari Vali menadakan kalau ia tidak berbohong soal Naruto. "Ya... Namun aku tidak tau apa yang terjadi malam itu sampai ia lupa jati dirinya sendiri. Mungkin ia mengalami amnesia permanen karena syok atau bisa saja sengaja menyegel ingatannya sendiri untuk melupakan semuanya." jelas Vali sebelum raut wajah dan sinar matanya kembali dipenuhi kebencian, bahkan tubuhnya sendiri sudah memancarkan aura yang sama. "Yang jelas, nama lahirnya adalah Naruto Lucifer." ia mendesis dingin. Seolah-olah nama yang ia sebut sangat ingin dihancurkan.
Retakan besar tiba-tiba saja muncul pada permukaan tanah, membuat Vali dan Hashirama terkejut karena ulah Madara yang memukulnya disertai banyak chakra. "Bocah bangsat! Ternyata dia memiliki rahasia sebesar ini. Akan kubuat dia menyesali sudah dilahirkan saat bertemu nanti!" sehabis itu, dia beralih ke Vali. "Kau juga, sekali saja kau menginkari perjanjian kita yang tadi. Akan kukirim kau ke kehampaan bersama bocah itu!"
Tidak tahan melihat Madara yang kembali dipenuhi kebencian, dan parahnya diarahkan kepada Naruto membuat Hashirama memberikan pelototan tajam pada sahabatnya itu. "Tunggu, Madara!" saat dia menyahut, nama sahabatnya diberi penekanan berat yang membuat Madara berjengit. "Aku tau kalau sangat membenci iblis, namun perlu kau ketahui. Aku pun merasakan hal yang sama. Mereka'lah penyebab Izuna, Tobirama dan penduduk desa tewas." Hashirama berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ketika menghembuskan nafas dan membuka mata, dia memperlihatkan ekspresi wajah yang begitu berat untuk dipandangi. "Tapi, ini Naruto... Naruto! Murid kita bersama Izuna, Tobirama dan Jiraiya. Orang yang kau anggap adik. Dan berkat dia juga, di malam penyerangan desa kita berhasil keluar hidup-hidup untuk menghancur semua yang terlibat di dalamnya."
"Lalu kau mau aku apa, hah? Menerimanya begitu saja?" Madara membalas sengit.
Melihat kedua orang di depannya berdebat hebat. Vali memilih diam, dia mengerti kenapa Madara begitu membenci iblis, dan Hashirama yang mati-matian membela Naruto. Sedangkan Ophis, gadis itu sama sekali tidak peduli. Bahkan sejak Madara dan Hashirama menceritakan soal Naruto.
Kembali ke keduanya. Wajah Hashirama makin memberat, mata pun bertambah tajam saat memandangi Madara. "Tentu saja tidak! Setidaknya kita harus mencari tahu semua yang sudah dialami Naruto sebelum ingatan dan kekuatan iblisnya tersegel. Lagipula, dari cerita Vali-san. Kau pasti mengerti kalau Naruto yang dulu dan keluarga Vali-san sama sekali tidak terlibat dalam penyerangan Konoha, bahkan ikut serta dalam perang saudara ras iblis saja tidak. Yang itu berarti, mereka tidak sejalan dengan fraksi iblis, baik KyumaŌ-ha (Old Satan Faction) maupun yang dibawah kepemimpinan Yondai Maōu (Four Great Satan)."
"Terus, kalau sudah mengetahuinya, apa yang kau lakukan?"
"I-itu..." Hashirama langsung kehilangan kata-kata. Walau dia sudah menerima jati diri Naruto sebagai iblis setengah manusia. Dia tidak tahu ingin berbuat apa setelah mengetahui apa yang dialami Naruto setelah malam kejadian di cerita Vali. Jujur, Hashirama berharap Naruto tidak melakukan apa-apa yang membuat ia berubah pikiran soal ketidakpeduliannya terhadap identitas pemuda berambut perak itu. "...Aku tidak tau."
"Cih! Sudah kuduga." Madara mendecih lumayan keras. Dia kemudian beralih pandang ke Vali. "Oii, bocah...!" Vali mengangguk sambil mengeluarkan gumaman tidak jelas. "Apa kau sudah punya rencana untuk mereka berdua, terutama bocah sableng itu?"
Kali ini, Vali menggelengkan kepala. "Untuk Naruto. Sebenarnya belum ada." ia memulai dengan nada datar. "Ya, seperti yang kukatan sebelumnya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata selama ini dia masih hidup."
"Kalau begitu... Informasi tentang Orochimaru kau simpan saja dulu, sekalian mencari tahu lebih lanjut tentang rencananya baru kau beritahukan ke kami." kata Madara mengalihkan topik percakapan disambut tatapan heran dari Hashirama dan Vali. "Beri aku waktu tiga hari. Akan kupikirkan cara untuk mengembalikan ingatan yang tersegel bocah sableng itu. Bahkan jika perlu, akan kupaksa segelnya lepas untuk mencari tahu masa lalu yang tidak kita ketahui." tatapan Madara kembali menajam. "Dan jangan coba-coba untuk tidak menemui kami tiga hari lagi di tempat ini."
Vali bangkit berdiri dan mengangguk. "Tak akan pernah. Ini adalah kesempatan emas yang kedepannya mungkin akan sangat sulit untuk kudapatkan lagi." dia kemudian menelenkan kepala ke samping kiri, memandangi Ophis yang tengah duduk diam seperti tengah memikirkan sesuatu. "Ophis, kita pergi!"
"Tunggu Vali-san." sahut Hashirama dibalas teralihnya perhatian Vali ke arahnya. "Masih ada satu hal belum kuketahui dan sangat ingin kuketahui. Madara mungkin juga penasaran dengan ini..."
"Apa itu?" Vali bertanya datar.
"Selain sama-sama memiliki setengah darah Lucifer yang mengalir dalam tubuh kalian. Hubunganmu dan Naruto sebenarnya apa?"
"Untuk pertanyaan itu..." Vali berhenti sejenak menciptakan jeda yang cukup lama. Efek dari jeda tersebut membuat Hashirama dan Madara sampai menahan nafas mereka menunggu kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari mulut pemuda di depan mereka.
"... Akan kujawab di pertemuan kita selanjutnya."
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Hmn, identitas Naruto akhirnya diketahui oleh Madara dan Hashirama. Namun, itu belum pasti apakah Naruto dan Vali memiliki hubungan darah [Saudara Kandung] walaupun darah Lucifer mengalir dalam tubuh mereka masing-masing. Untuk sekarang, hanya empat orang itu [Ah, Ophis tidak dihitung jadi tiga orang saja] yang tahu soal soal kejadian yang melibatkan kedua keturunan Lucifer itu di masa lalu, sekaligus hubungan mereka nantinya.
Masih banyak kemungkinan lain seperti: [Ayah Vali mendirikan Harem], [Rizevim yang mendirikan Harem], atau bahkan [Naruto adalah adik tiri Rizevim yang lahir dari perselingkuhan Lucifer pertama dengan Manusia terus dikirim ke masa depan]atau malah yang lebih gilanya... [Naruto adalah anak Vali yang kembali masa saat Vali masih kecil untuk mencegah Vali disiksa Rizevim dan Ayah Vali, dan Vali tidak mengetahuinya]. Siapa yang tahu, bukan? Namun yang pastinya... Naruto pernah melakukan banyak hal ke Vali di masa lalu. Dan itu yang ingin Vali balas, tidak peduli apa yang harus dilakukan.
Dan soal reaksi Madara setelah mengetahui identitas Naruto... Ini masih permulaan.
Trus kenapa Madara selalu saja memilih pertukaran informasi, ataupun memberikan bantuan. Pertama... Prinsip Madara yng juga Hashirama menyutujuinya. Mereka tidak ingin dipimpin dan diperintah oleh seseorang. Kedua... Madara akan selalu melakukan berbagai macam demi tujuannya, biarpun informasi yang diberikan menyangkut Konoha. Karena bagaimana, Konoha sudah hancur dan sudah tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya.
Oke, sekian Author Note-nya. Sekarang waktunya untuk membalas Review dari para Reader ('-')/
.
.
Laffayete: Siapa yang tau? Barang kali Dedek Kunou entar tumbuh perasaan yang lebih dari rasa sayang seorang adik ke kakak... Yasaka? Hmn. Keknya nggak mungkin deh... Well, kalau soal Kurama yang seolah tau kalau Yasaka sedang ngerencanain sesuatu. Entahlah, mungkin itu karena ingin menjaga Naruto tetap berada di bawah pengawasannya... Yaps. Konflik dah mulai serius mulai Chapter ini.
saputraluc000: Hahahah... Makasih, makasih! ('-')/
TsukinNoCandra: Njriiittt! Bedain Pedofil ama Lolicon oii! ('-')/ ... Well. Bagian itu dah terungkap di sini. Kuharap respon Madara dan Hashirama cukup kerasa.
Irna Putri Asuna420: Di Chapter ini belum ada Pertarungan. Entar di KTT 3 Fraksi full-fight!
Lusy Jeager Ackerman: Udah kejawab di Chapter ini. ('-')/
Ae Hatake: Noh, Madara dah sempat buat perlawanan singkat. Cuma dicegat Hashirama sebelum kelurin Tehnik Katon ... Well, liat aja nanti di KTT 3 Fraksi. Disono MadaHashiHilda bakalan unjuk gigi.
Aka na Yuki [My Imouto]: Aah, mau gimana lagi. Emang mereka Pair Naruto, Dedek Yuki... HOREEEE \('0')/ Gak ada lagi kalimat gak efektif. Aah, walau tuh Virus Typo masih aja nyempil... Gak bakalan Dedek Yuki. Chara Favoritku, Mbah-Madara mana mau kunistaiin ampe jadi Maho. Gak bakalan! ... Bener juga sih! Yng ada cuma komedinya doang :v :v
Guest: Makasih (^_^) ... Kalau Rating Game Iblis yang dimaksud, Keknya masih lama. Masih ada Dua Arc lagi sebelum Rating Game Iblis Muda-nya dimulai.
Shinta Dewi468: Yaps... Rada-dara kasihan juga sama Mbah-Madara dikatai Homo... Oke ('-')b ... Tenang, Si Hilda bakalan dinistai juga kok.
Namikazefuii: Oke ('-')b ... Kalau masalah lama atau tidaknya Update. Itu tergantung situasi di RL.
Re Ciel: Naruto-Irina masih dipikirkan dulu. Apa dimasukin ke Mini-Harem yang kalau benar masuk bakalan jadi Harem... Hahahah, tenang-tenang. Entar bukan hanya Mini-Harem. Naruto juga bakalan punya One-Side Harem kok.
Archilles: BENAR SEKALI... HAIL LOLI ('0')/
yellow flash115: Oke ('-')/ ... Udah dekat Mbah-Madara bangkitin EMS-nya.
TanakaKanako3 [My Imouto]: Sabar-sabar Dedek Rin. Orang sabar disayang Good Onii-chan (") ... Gak ada Pertarungan kok, walau sempat memanas... Soal KTT nanti. Bakalan panas sepanas-nya. Jadi tunggu aja Dedek Rin ('-*)/
Ttpod: Hahaha... Panggilan Madara itu emang sudah ada sejak Naruto jadi muridnya... Oke ('-')b
Pendy: Hmmn, pertemuan Vali dan Naruto mungkin terjadi pas KTT 3 Fraksi... Well, melihat bagaimana bencinya Madara pada Iblis, sepertinya sangat mustahil untuk Naruto kembali ke Mbak-Rias... Sedikit jawabannya tentang bergabungnya atau tidaknya Madara and The Genk ke Khaos Brigade sudah terjawab di Chapter ini.
exo: Oke ('-')b ... Err, Pair Naruto yang sudah ke-Lock masih lama terungkap... Well, untuk saat ini Pair Naruto adalah Mini-Harem, tapi gak menutup kemungkinan bakalan jadi Harem. Hmn, Hilda yaa? Keknya nggak mungkin deh. Buat Hilda, pairnya juga ditentukan dan masih lama munculnya.
Nagato Kuroyuki: Makasih (^_^), soal EYD itu, mungkin bisa kuperbaiki untuk Chapter-Chapter selanjutnya... Well, mungkin bisa dibilang Mbah-Madara cari waktu yang pas, dan juga sedikit kesulitan krn Mbah-Orochi terus menghindari kontak langsung dengannya... Gak roboh karena ketahan Mokuton berbentuk pohon raksasa Mbah-Hashirama... Well, nanti akan saya buatkan Scene latihan Dedek Yuki dibawah bimbingan Mbah-Madara... Well, masih baikan kok, dan kedepannya tetap bakalan baikan. Gak bermusuhan... Crimson Lotus: Demolition Fist mungkin tetap Naruto keluarin, walau namanya akan diubah nantinya... Hahahaha, Makasih lagi (^_^) udah bilang Fee-nya kerasa... Irina tetap gabung ke ORC karena dia bakalan jadi perwakilan fraksi Malaikat di sana... Well, kita lihat saja nanti. Kalau banyak Reader yng minta Irina jadi bagian Harem Naruto, ya mungkin akan saya masukkan... Mbak-Rias? Mendiang[?] Mbak-Hina-chan? Atau malah Dedek Yuki dan Dedek Kunou? ... Jangan cuma dinyanyian, ingat juga. Itu pesan penting dari saya loh!
.
Yang Review [Next], [Lanjut], [Kapan Lanjut/Update], sebangsa dan senegera-nya. Ini sudah saya lanjut/Update. ('-')/
.
.
Brengzeck 014 [Root Loliwood] and Stark sayang mami kushi selalu(Bikin sakit mata saja Pen-name absurd ini) Out! Saya mau Bobok Cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! ('-')/
Mind to Review?
...and...
Salam Lolicon!
