Author Brengzeck Note's:
Nyiahahahahaha... Author Malas, Brengzeck, Kampret dan masih banyak lagi kejelekannya muncul lagi. Pertama-tama, saya minta maaf kelamaan buat muncul. Alasannya sejak masuk tahun 2017, saya berhenti kuliah dan milih untuk nyari kerja, dan beruntung udah dapat sehingga waktu buat nulis makin sedikit. Mau ngalong sampai jam 3 dini hari, takut besoknya gak bisa bangun pagi. Mau nulis pas kerja, takut ditegur terus dipecat. Jadi, ya... Cuma bisa nyicil pas lagi ada waktu luang.
Untuk Chapter ini. Mungkin agak membosankan. Udah panjang, gak ada yang menarik lagi. Jadi, yaa... saya minta maaf kalau nantinya memang membosankan.
Oke. Sekian basa-basinya. Silahkan dinikmati Chapter 24 Fic Daybreak yang mana semakin ke sini tambah GaJe dan buanyak Dedek-Dedek Lolinya :"v
Disclaimer: Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and others not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance and Mistery.
Warning: Still Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat) dan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, Etc.
Arc III: Early and Late
Chapter 23
[Daybreak — A Temporary Change!]
.
.
.
.
.
Tiga sudah hari berlalu sejak pertemuan dengan Vali di reruntuhan desa Konoha yang membuat Hashirama dan Madara terkejut bukan main atas kenyataan tak terbantahkan dari pemuda berstatus murid mereka, Naruto. Selama ini, baik Madara ataupun Hashirama benar-benar menganggap Naruto adalah manusia tulen yang di dalam tubuhnya bersemayam mahluk raksasa bernama Kurama. Mahluk yang tergabung dalam ras Youkai spesies Kitsune (Fox) seperti Yasakan dan Kunou, sekaligus menjadi sumber kekuatan Naruto untuk memanipulasi api sesuka hatinya.
Alasan mereka selama ini menganggap Naruto adalah manusia tulen berdasar pada hari dimana pemuda itu menginjakkan kaki di Konohagakure no Sato (Hidden Leaf Village) bersama Jiraiya saat masih terlihat seperti bocah tujuh tahunan.
Waktu itu, sebelum diterima menjadi penduduk—ah, lebih tepat keberadaannya di Konoha, Naruto melalui beberapa tahap pemeriksaan demi keamanan desa. Bisa saja Naruto adalah mata-mata dari pihak lain yang hendak mencari tahu tentang Konoha, atau lebih buruknya dalam tubuh bocah yang nampak berumur tujuh tahun itu terdapat tehnik bertipe [Self-Destruction] atau semacamnya dengan tujuan untuk meratakan Konoha dari dalam.
Tidak tanggung-tanggung, hari itu pihak Konoha benar-benar memeriksa Naruto beserta bagian tubuh dan ingatan sampai bagian ke akar-akarnya. Beberapa Elite-Jōnin dari klan Yamanaka bersama dua Jōnin spesialis introgasi, ditambah tiga anggota klan Uchiha yang salah satunya adalah Madara diturunkan langsung untuk memeriksa bocah itu. Hampir dua jam introgasi, tidak ada hal yang mencurigakan dalam kepala, bahkan mereka terkejut melihat isi kepala bocah itu. Hanya terdapat ingatan saat bertemu Jiraiya, sisanya hanyalah ruang kosong tanpa ada satupun ingatan. Maka dari itu, mereka berasumsi jika Naruto mengalami hilang ingatan karena sebuah alasan yang masih belum diketahui apa itu, dan satu-satu perkiraan mereka adalah: Naruto habis mengalami sebuah kejadian mengerikan hingga membuatnya syok dan hilang ingatan.
Akan tetapi, walau isi kepala Naruto kosong, namun tidak untuk tubuhnya. Orang-orang yang bertugas memeriksa/mengecek dengan berbagai metode pada bagian itu menemukan sesuatu yang begitu menarik namun juga mencurigakan tertanam disana. Semacam tehnik penyegelan yang hampir mirip dengan Fūinjutsu (Sealing Tehnique) milik mereka. Bedanya hanya pada energi yang dipakai untuk memasang tehnik tersebut serta mekanisme kerja saja. Konohagakure yang notabene sangat minim pengetahuan tentang dunia luar pun kesulitan mencari tahu soal tehnik penyegelan itu dan cara membukanya, sekaligus mencari tahu apa yang berada di baliknya.
Beruntung, di tengah-tengah kebuntuan Madara dan yang lain, Jiraiya muncul entah dari mana di ruang pemeriksaan. Segera, Pertapa yang terkenal akan kemesuman tingkat dewa dan novel dewasanya itu memanggil tiga orang penting dalam sesi tersebut. Dia memberitahu mereka bertiga bahwa sesuatu dibalik segel dalam tubuh Naruto itu adalah kekuatan yang cukup mengerikan dan memang harus disegel. Entah dari mana dia mengetahui hal tersebut, pastinya sebagian besar yang Jiraiya beritahukan benar adanya.
Usai Jiraiya mengatakan hal tersebut pada mereka bertiga. Dipastikanlah Naruto hanya seorang bocah tidak biasa yang dalam tubuhnya terdapat sebuah kekuatan mengerikan tersegel. Maka dari itu, akhirnya Naruto diterima menjadi penduduk Konohagakure, dan itu Hashirama sendiri yang mengutarakannya di depan orang-orang di ruangan pemeriksaan. Bagi pemimpin desa serta beberapa orang disana termasuk Jiraiya dan Madara, Naruto bukanlah ancaman, melainkan sebuah anugrah. Mereka bahkan berpikir bahwa di masa depan nanti, Naruto bisa saja menjadi shinobi terkuat Konoha apabila kekuatan yang menurut Jiraiya sangat mengerikan itu berhasil dikuasai.
Kemudian, beberapa hari setelah resmi menjadi penduduk Konoha. Naruto dimasukkan ke akademi untuk diajarkan dasar-dasar shinobi serta sejarah Konoha. Selain di masukkan ke sana, anak itu juga resmi menjadi murid dibawah bimbingan Hashirama, Madara, Tobirama, Izuna dan Jiraiya. Mereka berlima melakukannya demi masa depan anak dengan potensi besar itu karena selain keberadaan kekuatan yang belum diketahui apa itu, pikirannya juga terbilang masih sangat kosong bagai bayi yang baru lahir membuat semua ajaran dari mereka akan sangat mudah diserap.
Ya, begitulah kisah singkat bagaimana Naruto dianggap manusia tulen oleh kelima gurunya beserta penduduk Konoha.
Namun, setelah hampir dua puluh tahun lamanya Madara bersama yang lain menganggap Naruto sebagai manusia tulen bertahan. Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan mencuat ke permukaan. Vali Lucifer, manusia setangah iblis yang digadang-gadang sebagai Hakuryūkō (White Dragon Emperor) terkuat sepanjang masa mengungkapkan kepada Madara dan Hashirama bahwa Naruto merupakan keturunan gabungan dari manusia dan Maōu-Lucifer terdahulu, sama seperti dirinya.
Awalnya Madara maupun Hashirama sedikit tidak percaya dengan itu. Namun, melihat bagaimana raut wajah Vali saat memberitahukan hal tersebut pada akhirnya membuat keduanya percaya juga. Apalagi Naruto memiliki ciri-ciri yang sebagian besar mirip dengan Vali. Rambut mereka sama-sama berwarna perak gelap, walau berbeda model. Mata pun hampir sama, hanya saja milik Naruto sedikit lebih terang dan penuh dengan kehangatan, berbeda dengan Vali yang terkesan dingin dan menyimpan banyak sekali kebencian di dalamnya. Mungkin saja penyebabnya adalah masa lalu kelam pemegang [Divine Dividing] itu.
Adapula, kenyataan ini membuat titik terang tentang kekuatan yang mungkin tersegel dalam tubuh Naruto. Walaupun mereka sudah mengetahui soal Kurama saat pertama kali Naruto mengeluarkan api Youkai itu, namun mereka—Madara dan Hashirama berpikir kalau kekuatan yang dimaksud Jiraiya bukanlah Youkai Kitsune itu. Menurut kedunya, kalau memang kekuatan itu yang dibilang mengerikan, rasa-rasanya sedikit meragukan. Mereka sudah melihat pemuda dengan rambut perak gelap itu bertarung dengan mengeluarkan semua yang dimiliki, menggunakan kekuatan Kurama yang digabungkan dengan Senjutsu saat penyerangan Konohagakure. Madara bisa melihat kalau Naruto hanya selevel dengan Hashirama waktu itu. Ya, setidaknya itu yang Madara dan juga Hashirama pikirkan.
Kalaupun Kurama adalah kekuatan tersegel itu. Bagaimana dia bisa memberikan Naruto kekuatannya? Padahal, dari pengamatan Madara dan Hashirama serta orang-orang yang dulu memeriksa tubuh Naruto, cukup mustahil untuk Kurama membukanya karena kerumitan formula yang dipasang pada segel itu. Lagipula, kekuatan mengerikan pasti mengirim tekanan yang sama, namun entah kenapa semenjak mereka mengetahui keberadaan Kurama dan sering melihat serta merasakan kekuatan Youkai itu saat digunakan, Naruto sama sekali tidak mengirim tekanan semerikan itu, bahkan ketika tengah dalam keadaan marah seperti pada waktu mendengar kematian Izuna dan Tobirama.
Kembali ke kekuatan Naruto yang tersegel itu. Kalau bukan Kurama yang dimaksud oleh Jiraiya, satu-satunya hal yang paling masuk akal adalah informasi dari Vali soal Naruto memiliki setengah darah Maō-Lucifer terdahulu, dan itulah yang sekarang ini dalam keadaan tersegel. Ya, mengingat Maō-Lucifer terdahulu dikenal sangat kuat sampai memulai peperangan hebat yang dinamai [Great War], bahkan ada kabar angin yang beredar di kalangan mahluk supernatural terutama ras iblis bahwa Lucifer yang membuat [God from the of Bible] tewas dalam perang tersebut.
Hal inilah yang membuat Madara dan Hashirama percaya kalau kenyataan kalau Naruto adalah hibrid manusia-iblis seperti Vali benar adanya!
Andai saja Jiraiya tidak pergi mencari informasi lebih lanjut soal siapa saja yang terlibat dalam penyerangan Konohagakure selain KyumaŌ-ha, dan juga melakukan 'Penelitian' untuk novel mesum, bejat, tidak patut dibaca dan tak bermoral seperti penulisnya yang diberi judul [Icha-Icha Paradise]. Pastinya Madara dan Hashirama langsung mengintrogasi pertapa mesum itu soal kekuatan mengerikan Naruto karena dialah yang menemukan dan membawanya ke Konoha. Apalagi, Jiraiya tidak memberitahukan secara detail soal kekuatan itu sekaligus asal-usul Naruto yang bisa saja ditulis dalam sebuah surat atau apalah saat dia menemukannya.
Adapula skenario terburuk yang sempat terpikir di kepala sang Uchiha adalah... Jiraiya mungkin saja sudah mengetahui tentang identitas Naruto yang setengahnya bukanlah seorang manusia. Informasi itu sengaja Jiraiya sembunyikan rapat-rapat, bahkan disegel atau dihapus karena puluhan hari yang lalu, lebih tepatnya pagi hari usai penyerangan Konoha berakhir Madara mengambil semua ingatan pria itu lalu dibagikan ke Hashirama. Lalu kedeketakan antara Jiraiya dan Sirzehcs—pemegang gelar Lucifer yang baru setelah meninggalkan desa bersama Naruto mungkin saja bertujuan untuk mencari tahu soal asal-usul Naruto sebagai cucu Maō-Lucifer terdahulu maupun informasi yang lebih detail lagi perihal Lucifer beserta keturunannya.
Lalu, alasan kenapa Jiraiya menyembunyikan informasi apabila benar ia sudah tau soal Naruto, tentu saja demi diterimanya bocah itu belasan tahun lalu sebagai penduduk Konoha.
Namun, soal kekuatan serta Jiraiya sepertinya harus dikesamping dulu, mereka bisa mengurus hal tersebut apabila sang Pertapa Mesum kembali pulang. Sekarang ini yang terpenting adalah jati diri Naruto itu dan bagaimana mereka berdua menyikapinya. Hashirama mungkin tidak peduli dengan itu dan tetap menerima pemuda itu, siapa dan dari ras apapun dia. Akan tetapi itu tidak berlaku bagi Madara. Bisa dibilang ia cukup sulit melakukannya.
Entah bagaimana dia harus mengatakan hal ini. Pemuda yang sudah dianggap adik sendiri, murid kebanggaan karena memang hanya dia seorang yang diajari banyak hal, dan mungkin saja akan menjadi sosok yang berperan sangat penting dalam pembalasan dendam mereka kepada ras iblis terutama KyumaŌ-ha ternyata bagian dari ras itu sendiri. Fraksi besar berisikan keturunan dari empat Maōu terdahulu beserta iblis-iblis pengikut setianya yang telah menghancurkan Konoha dan membunuh hampir semua manusia pengguna chakra hingga tersisah empat orang saja.
Fakta memang mengatakan bahwa Naruto sama sekali tidak mengingat soal jati dirinya, atau dalam kasus pemuda itu ingatannya sengaja disegel seseorang atau mungkin dia sendiri yang melakukannya demi melupakan kejadian buruk di masa lalu. Akan tetapi, kenyataan tak terbantahkan tentang identitas asli Naruto membuat sebagian besar amarah dan kebencian Madara pada ras yang menyerang Konoha teralih ke sosok yang dia anggap adik itu. Seolah-olah beberapa saat setelah mengetahui kenyataan itu, semua hal yang sudah terjadi diantara mereka berdua selama ini hilang dan terlupakan begitu saja.
Tentu saja Madara akan berekasi seperti itu karena dia memang sangat, sangat, sangat membenci iblis, akan tetapi sisi lain dari dirinya mengatakan kalau memberikan reaksi yang sama pada Naruto tidak akan merubah apapun. Adik kandungnya, Tobirama bersama seluruh penduduk Konoha tetap mati dan tidak akan dihidupkan kembali—kecuali menggunakan tehnik [Kuchiyose: Edo Tensei] (Summoning: Impure World Reincarnation) ciptaan adik sahabatnya ataupun mengambil jiwa mereka di salah satu tingkat Mekai (Underworld) yang dikuasai oleh salah satu Dewa Mitologi Yunani.
Dan sama seperti sisi lain dari dirinya itu. Berandai-andai juga tetap menghasilkan hal yang sama, dan Madara tau akan hal itu. Baginya, berandai-andai kalau Naruto tidak bertemu Jiraiya semuanya tidak akan berakhir seperti ini malah akan membuatnya pusing sekaligus menambah besar kebenciannya ke Naruto. Jadi, apa gunanya berandai-andai kalau kenyataan sudah sampai pada titik ini, dan pastinya tidak dapat diubah lagi. Benar bukan?
Lalu, pada malam di hari yang sama sehabis kembali dari Konoha. Ketika Madara tengah memikirkan apa yang harus dilakukan pada Naruto di dalam kamarnya, terjadi sesuatu yang membuat sisi lain yang menginginkan dirinya untuk menerima Naruto apa adanya semakin membesar. Bukan hanya untuk mencegah perpecahan berujung saling membunuh, namun juga demi tujuan mereka untuk menghancurkan siapapun yang terlibat dalam penyerangan Konoha dapat diselesaikan. Dan untuk mencapai tujuan itu, Madara sepertinya harus mulai mempercayai sekaligus membantu Vali untuk membalas semua yang sudah dilakukan Kontener Kurama pada sang Hakuryūkō di masa lalu demi infromasi tentang Orochimaru dan KyumaŌ-ha.
Walau begitu, Madara juga harus mencari tahu apa yang dilakukan maupun terjadi pada Naruto setelah malam kejadian di cerita Vali. Bisa saja, sebelum bertemu Jiraiya ada kejadian yang membuat Madara setuju dengan pendapat Hashirama soal Naruto di masa lalu serta keluarga Vali tidak sejalan dengan ras iblis, sekaligus membuat pria Uchiha itu akhirnya menerima jati diri Naruto yang sebenarnya.
Maka dari itu, mulai besok Madara akan merubah sikapnya ke Naruto. Ini demi mengetahui apa yang terjadi sebelum Jiraiya memungut Naruto, dan bisa saja perubahan itu membuat Naruto bisa mengingat masa lalunya, atau seenggaknya pemuda itu sama seperti Madara. Ingin mencari tahu apa telah dilalui sebelum bertemu Jiraiya.
Beruntung, Madara memiliki alasan yang cukup masuk akal untuk perubahannya nanti.
.
.
.
Sesuai dengan yang sudah diputuskan oleh Madara di malam sehabis mengetahui jati diri muridnya itu. Dalam kurung waktu yang cukup singkat, sikapnya benar-benar berubah drastis ke Naruto. Dimulai pada sarapan dua hari yang lalu dan tetap berlanjut sampai hari ini, Madara tidak pernah mengajak Kontener Kurama berbicara barang satu kata pun. Sarapan, bersantai, melatih Yuki dan Kunou, dan aktivitas lainnya dilalui keduanya tanpa bertegur sapa. Bukan cuma itu saja, setiap kali berpapasan dengan Naruto, hanya pandangan penuh kebencian yang ia perlihatkan sehingga membuat Hashirama beberapa kali memberinya tatapan mata setajam silet sebagai peringatan.
Dan sekarang ini, sarapan tengah berlangsung di kediaman Yasaka. Seperti biasa, kegaduhan kembali terjadi walau cuma disebabkan oleh hal-hal sepele seperti perebutan makanan antara kedua ninja yang rivalitasnya menyaingi Nitenyū (Two Heavenly Dragon) di luar sana, serta perdebatan kecil antara dua gadis Loli berstatus adik Naruto yang juga memiliki ikatan rivalitas kuat, bahkan melebihi Madara dan Hashirama. Namun, dari semua yang sudah biasa terjadi, ada satu hal yang berubah. Tentu saja tidak adanya interaksi antara Madara dan Naruto, yang ada hanya tatapan seperti berisikan gelimang besi dingin dari Madara. Hal ini terus berlangsung selama sarapan apabila mata mereka saling pandang satu sama lain, lebih tepatnya Naruto tertangkap garis penglihatan sang Uchiha.
Tidak tahan lagi akan sikap Madara kepadanya. Naruto akhirnya mengambil keputusan untuk sekedar meminta maaf ke sang Uchiha itu ketika sarapan berakhir. Dalam beberapa menit sambil menikmati sarapannya, Naruto mencoba merangkai kata-kata yang pas untuk meminta maaf. Ya, begini-begini dia tau betapa susahnya dimaafkan oleh Uchiha keras kepala itu.
Lamuan Naruto yang sedang berpikir buyar kala mendengar suara kursi terdorong kebelakang, dan itu merupakan milik orang yang mengisi pikirannya saat ini. Mengabaikan Omu Rice yang masih tersisah seperempat di piringnya, dia ikut berdiri dan segera menyusul Madara yang tinggal dua langkah lagi sampai di pintu keluar ruang makan. "Madara, tunggu sebentar!"
"Oh, tidak! Jangan bersikap dingin ke Naruto lagi, Teme!" Hashirama ikut berhenti menikmati sarapan yang merupakan hidangan favoritnya, berupa sup yang dicampur dengan jamur. Dia sesungguhnya tidak bisa lagi berbuat banyak apabila Madara kembali bersikap sedemikian rupa pada keturunan Lucifer itu. Berbagai ancaman yang ia keluarkan untuk sahabatnya sama sekali tidak berpengaruh. Andai saja, dia mengetahui apa yang terjadi pada Naruto setelah malam pemuda itu berpisah dengan Vali, serta hubungan mereka berdua. Sudah pasti dia akan mengambil tindakan yang lebih dari sekedar ancaman.
Namun setidaknya hari ini semuanya akan terungkap. Walaupun perubahan sikap Madara tidak membuahkan hasil memuaskan. Dalam kurung waktu tiga hari, Naruto tidak menyadari kalau perubahan sikap Madara disebabkan oleh identitasnya sebagai hibrid manusia setengah iblis, dan juga ingatan masa lalunya yang tersegel. Jangankan kedua hal yang cukup mustahil untuk terjadi itu, mencari tahu tentang apa yang terjadi padanya sebelum bertemu Jiraiya sama pun sekali tidak Naruto lakukan.
"Haaah..." Naruto menghela nafas berat dengan ekspresi wajah terlihat menyesali perbuatannya sampai membuat Madara berubah dingin padanya. Dalam pandangan pemuda itu, Madara bersikap sedingin itu karena ulahnya yang secara tidak sengaja membuat pria itu berciuman dengan Hashirama serta munculnya panggilan 'Uchiha Homo' untuk Madara. "Kenapa kau tiba-tiba berubah sedingin ini, Madara? Apa karena kejadian waktu itu? Kalau begitu, aku minta maaf."
"Cih!" Madara mengeluarkan suara tidak mengenakkan dari mulut dan itu membuat Naruto kembali harus menghela nafas atas respon barusan. "Kau kira kau akan kumaafkan sebegitu mudahnya, bocah sialan?" tanya pria itu yang sontak saja membuat Hilda dan Yasaka berjengit sampai menghentikan sarapan mereka. "Dan jangan ganggu aku lagi."
"Oh, ayolah Teme. Masa cuma gara-gara tindakan tidak sengajaku dan panggilan itu kau harus bertingkah seperti ini? Bocah kau ini?" tanya Naruto sedikit bercanda. Setidaknya dengan seperti itu, mungkin saja kekeras kepalaan Madara bisa sedikit dicairkan dan menerima permintaan maaf darinya. Akan tetapi, bukannya mendapat jawaban, pria yang ia tanya malah melengos pergi dan tidak lupa memberikan lirikan setajam silet untuknya. Hal itu sontak membuat Naruto tidak habis pikir lagi. Segera, dia menyusul Madara dan merangkul pundaknya. "Oii, aku sudah meminta maaf dan kau malah pergi. Setidaknya katakan padaku, apa ada hal lain yang membuatmu bertingkah seperti ini, Madara."
Rangkulan tangan kanan Naruto pada pundak kirinya sontak membuat Madara berhenti. Dia kemudian melirik tajam pemuda di belakangnya selagi berkata dengan nada yang selaras dengan tindakannya. "Itu bukan urusanmu!" sangat jelas ia melihat Naruto berjengit di belakangnya, namun tetap merangkul pundaknya. "Lepaskan tangan menjijikanmu dari pundakku!"
"Tidak!" Naruto menyahut, dan kini suaranya ikut menajam. "Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau memaafkanku—tidak, tidak! Menjelaskan kenapa kau bersikap seperti ini."
Madara menggertakan gigi kuat-kuat. "Cih! Sepertinya tidak mudah untuk membuat dia melakukan apa yang kurencanakan . Tidak ada cara lain, akan kubuat dia sadar kalau ada sesuatu yang dia lupakan!"
Menyadari kalau Madara hendak melakukan sesuatu yang lebih dari sebelumnya membuat Hashirama segera berteriak. "OII, MADARA! JANGAN BERTINDAK LEB—"
Sayangnya, teriakan dari Hashirama terlambat beberapa detik. Madara sudah terlebih dahulu melakukan sesuatu sebelum kalimat itu terselesaikan. Dengan gerakan yang sangat cepat sampai sangat sulit untuk diikuti oleh mata manusia biasa, keturunan terakhir klan Uchiha itu memutar tubuhnya menghadap ke Naruto, tangan kanan yang merangkul pundaknya terlepas lalu ditangkap dengan dua tangan. Hanya dalam waktu kurang dari dua detik setelahnya, dia membanting tubuh Naruto sampai menciptakan retakan besar pada lantai kayu ruang makan.
"Naruto-kun!"
"Naruto-chan!"
"Onii-chan!"
"Naru-oniichan!"
Yasaka, Hilda, Yuki dan Kunou serentak memanggil nama pemuda itu dengan pandangan terkejut. Belum cukup hanya dengan membanting Naruto, Madara membentuk Insou (Handseal) tunggal dengan kanan dan memunculkan sebuah katana di tangan yang sama. Lalu, setelah memegangi gagang katana yang sempat melayang itu, dia mengarahkan bilah senjata tajam itu ke bawah sebelum akhirnya ditusukkan pada lantai yang sudah retak tempat Naruto berbaring.
"Ma-Madara?!" mata Naruto bergetar hebat saking terkejutnya. Namun, sepertinya tidak hanya terkejut, dia juga ketakutan. Ketakutan itu muncul bukan dari tusukan Madara yang tidak sepenuhnya meleset karena bilah tajam dari katana itu berhasil menggores pipi kirinya sampai cairan merah merembes keluar, mengalir turun melewati bagian belakang telinga dan membasahi lantai. Hal yang membuat ia takut adalah mata merah berhias tiga simbol menyerupai tanda koma yang memandang penuh kebencian ke arahnya. Walau sudah sering dihadiahi tatapan seperti itu, namun baginya ini benar-benar sebuah kebencian murni yang baru kali ini diberikan oleh Madara untuknya, dan itu sangatlah berbeda dari kejadian saat pria itu mengetahui kalau dia mempunyai perasaan ke Rias. "A-ap-apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Seisi ruangan seketika terdiam. Entah kenapa, Yasaka dan Hilda bisa merasakan ada sedikit aura kebencian terpancar dari tubuh Madara. Sedangkan Yuki dan Kunou malah terlihat ikut ketakutan dan juga khawatir dengan apa yang baru saja menimpa kakak tercinta mereka.
Madara menarik kembali katana miliknya kemudian dikembalikan ke tempat penyimpan berbasis Fūinjutsu (Sealing Tehnique) yang sudah dimodifikasi sedemikian kiri sehingga bisa dimunculakan hanya dengan segel tangan tunggal. Kemudian, masih dengan mata Sharingan yang setia menatap penuh kebencian ke Naruto, dia memberikan sebuah saran. "Sebaiknya kau ingat sendiri penyebab aku menjadi seperti ini, bocah bangsat!"
"A-apa maksudmu mengingatnya sendiri? Aku sama sekali tidak mengerti, Madara."
"Mengerti atau tidaknya, itu urusanmu." jelas Madara singkat kemudian beranjak dari atas tubuh Naruto dan mengambil langkah menuju pintu keluar ruang makan meninggalkan keheningan yang tercipta atas tindakannya barusan. Tiba di ambang pintu, dia berhenti dan berbalik menghadap ke Hashirama yang sudah menatap tajam ke arahnya. "Hashirama, kalau kau ingin memberi ceramah atau apalah. Aku ada di kamar tidur memikirkan semuanya."
Sepeninggal Madara, Naruto bangkit berdiri dan mengusap luka goresan di pipi kirinya beserta jejak darah yang masih terlihat. Saat dia mengedarkan pandangan untuk menatap semua orang yang berada di ruang makan. Gerakan kepalanya kemudian berhenti di Yuki dan Kunou saat melihat raut wajah keduanya yang dia tahu jelas sekarang ini. "Haha, tidak usah takut. Aku baik-baik saja kok."
Tangan kanan Yuki perlahan-lahan bergerak ke wajah Naruto kemudian menunjuk bekas sayatan kecil yang sudah berhenti mengeluarkan darah di sana. "Ta-tapi pipi Onii-chan—"
"Tenang saja!" sahut Naruto cepat menghentikan ucapan sang adik yang ia sudah ketahui mengarah kemana kalimat itu nantinya. "Ini cuma luka kecil. Nanti siang juga pasti sembuh dengan sendirinya."
"Huaaa... Madara-kun menakutkan sekali!" lain lagi dengan yang malah mengeluarkan pekikan keras setelah efek dari kebencian yang ia rasakan sang Uchiha sudah menghilang. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Madara-kun sampai berbuat seperti itu padamu, Naruto-chan?"
Emosi Naruto sedikit naik selagi menjawab pertanyaan dari Hilda. "Mana kutahu, bodoh!"
"Ara..." sama seperti Hilda yang sudah tidak lagi merasa takut akan aura kebencian Madara, Yasaka segera menyahut di ujung meja makan berbentuk persegi panjang. Saat pemuda yang berstatus anak angkatnya menoleh ke arahnya, dia segera mengutarakan apa yang dalam pikirannya soal pria Uchiha itu. "Mungkin karena Madara-kun benar-benar marah dengan panggilanmu, Naruto-kun. Dari yang kulihat selama ini, Madara-kun sepertinya tipe orang yang sangat peduli dengan harga dirinya."
Naruto mengangguk cepat setuju akan pemikiran ibu angkatnya. "Lebih dari yang Yasa—"
"Hm, hmmmmn..." Yasaka bergumam panjang memberikan sebuah kode keras untuk Naruto.
"Aah, maksudku, Kaa-san!" beruntung Naruto mengerti jelas maksud dari suara panjang yang keluar dari mulut Yasaka. "Lebih dari Kaa-san katakan. Dia itu sangat, sangat, sangat mementingkan harga dirinya, bahkan lebih penting dari nyawanya mungkin. Tck! Dasar Uchiha dan harga diri mereka yang setinggi langit ketujuh." jelasnya diakhiri sebuah sindiran untuk klan dengan ciri khas dua huruf konsonan dan wajah temboknya itu. Mungkin Izuna satu-satunya Uchiha yang Naruto kenal tidak menjunjung tinggi harga diri seorang Uchiha, serta sangat jarang memasang wajah bak dinding. "Sialan! Aku jadi pusing apa yang sebenarnya terjadi dengan muka triplek brengsek itu."
"Mungkin saja Madara-kun benar-benar tersinggung dengan panggilan yang kau berikan padanya, Naruto-kun." sahut Yasaka sekali lagi mengutarakan pendapat atas perubahan sikap Madara tiga hari belakangan ini. Ya, setelah mengetahui sifat lainnya dari Madara. Dia mulai yakin kalau memang benar apa yang diutarakan tadilah penyebabnya. "Tapi—"
Hilda bangkit dari kursi dengan kasar sehingga menciptakan hentakan kuat sekaligus membuat ucapan Yasaka terhenti. "Naruto-chan!" panggil Hilda, saat pemuda itu balas memandangi dirinya, ia memulai dengan sorot mata penuh menyiratkan semacam ancaman. "Katakan padaku! Siapa laki-laki yang membuat Madara-kun jatuh cinta sampai-sampai kau memanggilnya Uchiha Homo. Akan kujadikan dia sebagai tumbal untuk Jashin-sama!"
"Huaaaa—" Yuki dan Kunou sama-sama mengeluarkan pekikan keras melihat tindakan dari pengguna Ryūketsu Ninpō (Blood Method Ninja Art) itu, belum cukup sampai disitu, keduanya kembali menyahut serentak.
"—Hilda-nee menakutkan!"
"—Hilda-anesama menakutkan!"
Beda lagi dengan Yasaka yang malah berusaha untuk menenangkan gadis itu karena bisa-bisa tindakan tersebut malah akan membuat masalah semakin membesar. "Sabar, Hilda-chan! Ini cuma masalah kecil, tidak perlu ada pembunuhan atau ritual pengorban segala. Lagian, kalau Naruto-kun memberithukan siapa laki-laki itu, dan kau membunuhnya. Madara-kun bisa saja tambah parah tingkahnya. Ya, itupun kalau memang benar Madara-kun adalah Homo." sahut Yasaka berpendapat sebelum menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya soal Madara. "Tapi yang membuatku bingung... Kalau memang ini cuma masalah panggilan Naruto-kun, buat apa juga Madara-kun sampai mengancam dengan katana? Apalagi sampai tidak ingin memaafkan Naruto-kun."
"Huh, dia memang kadang berlebihan walau cuma masalah sepele, Kaa-san." gerutu Naruto dengan perasaan kesal yang ditahan. "Lama-lama kalau masih dia bertingkah seperti bocah, kuhanguskan juga tubuh bersama harga diri setinggi langit ke tujuh miliknya itu." tambah pemuda diakhiri sebuah dengusan yang makin memperlihatkan kalau sekarang ia tengah menahan rasa kesal.
"...Ara." Yasaka kembali menyahut dan itu mengalihkan atensi sang anak angkat. "Sudah kubilang tidak perlu ada pembunuhan, bakar-membakar atau semacamnya. Itu malah akan memperpanjang masalah kalian."
"Aah, sudah, sudah! Lupakan saja muka triplek sialan itu! Paling seminggu dia sudah kembali seperti semula lagi."
"Tidak, Naruto-chan! Aku tidak bisa melupakan ini begitu saja!"
"...Hah?" Naruto mengerjit usai Hilda berujar dengan suara yang akan sedikit dinaikkan volumenya. "Memang kenapa?"
Wajah Hilda menggelap bagai setan yang siap menerkam apapun di depannya. "Aku tidak bisa—tidak akan melupakan ini! Madara-kun tercintaku sudah jatuh cinta, dan parahnya pada seorang laki-laki brengsek. Cepat katakan Naruto-chan! Siapa sebenarnya laki-laki brengsek itu?! Akan kubunuh, kutusuk-tusuk lalu kucincang menjadi delapan potong tubuh busuknya sebelum jadi tumbal untuk Jashin-sama." tanpa jeda sedikit pun, Hilda berbicara dengan berbagai macam umpatan dan sumpah serapah. Dia tidak peduli kalau di ruangan itu ada Yasaka, Kunou dan Yuki. Sedetik kemudian, wajah menghitam Hilda berubah cerah, bahkan semburat merah sudah timbul di sana. "Huhuhu, andai saja aku yang ada di posisi laki-laki brengsek itu. Aku pasti merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini." ucap gadis berambut abu-abu itu dengan pikiran yang terbang entah kemana membayangkan ucapannya barusan.
"Aku benar-benar tidak mengerti, dia ini serius atau cuma bercanda?" pada interval ini, kekesalan Naruto yang sedari tadi ditahan sirna seketika. Yang ada sekarang hanyalah cucuran keringat di bagian belakang batok kepala pemuda dengan rambut perak gelap itu melihat Hilda yang memeluk tubuhnya sendiri. "A-aku tidak bisa memberitahumu Hilda. Ini adalah senjata rahasiaku untuk melawan Madara-teme!"
Hilda berhenti melakukan gerakan-gerakan erotis yang tidak terlihat menggoda bagi Naruto dan Hashirama, melainkan aneh nan menjijikan. "Katakan!" ia memberi perintah dengan suara mengerikan. "Katakan, Naruto-chan!"
"Tidak!"
"Katakan, atau kau kuperkosa Naruto-chan!"
Naruto meneguk kasar ludahnya yang entah kenapa terasa begitu berat karena dua pilihan sama-sama menyulitkan dirinya. "I-Itu lebih baik daripada harus memberitahukanmu. Bisa-bisa bukan cuma Madara-teme yang marah padaku."
Seringai mesum tercetak di wajah Hilda. "Hee..." ia menjilati bibirnya sendiri. "Jadi kau lebih memilih kuperkosa, Naruto-chan?"
Tidak ada sahutan dari Naruto sudah cukup menjadi jawaban untuk Hilda. Segera gadis dengan rambut abu-abu itu mulai beranjak dari tempatnya berdiri menuju lokasi Naruto. Selagi melakukan hal tersebut, pinggul proporsional milik gadis itu bergoyang ke kiri dan kanan untuk menambah kesan erotis namun mengerikan di mata Naruto.
Sayangnya, sebelum Hilda mencapai posisi Naruto. Di ujung meja, Yasaka tiba-tiba berdiri. "Kalau kau ingin memperkosa Naruto-kun. Kau harus melewatiku dulu, Hilda-chan." bulu kuduk pemuda yang menjadi rebutan di ruangan itu langsung berjoget ria. "Selama aku masih disini, keperjakaan Naruto-kun tidak boleh hilang dulu!"
"Oi, oi, oi... Apa lagi sekarang?" pikir Naruto dan Hashirama yang sama-sama bingung menyaksikan kejadian di depan mereka.
Bahkan, bukan hanya kedua laki-laki yang merasa kebingungan. Kurama yang sejak merasakan ketakutan dari Naruto mulai mengawasi semua yang terjadi pun ikut-ikutan bingung. "Haaah..." sehabis mengeluarkan desahan panjang, dia berujar dalam hati. "Kalau sudah seperti ini. Lebih baik tidur daripada melihat hal-hal nista." dan pada akhirnya, siluman rubah itu kembali melakukan kegiatan yang paling senang ia tekuni.
Kembali ke ruang makan. Benar atau tidaknya, Hilda sepertinya mulai memahami sesuatu diantara Naruto dan Yasaka, atau mungkin ini hanya imajinasi liarnya saja.
"Ara, ara... Ternyata Yasaka-hime—"
"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, Hilda-chan!" sahut Yasaka yang jadi salah tingkah karena mengetahui isi pikiran dari gadis penganut aliran Dewa Jashin itu. "Ma-maksudku itu—"
"—menyukai dan tidak ingin kepejakaan Naruto-chan hilang." sambung Hilda yang tidak peduli dengan sahutan bersifat sanggahan dari Yasaka barusan. "Kalau begitu... Kita perkosa saja Naruto-chan, Yasaka-hime. Berdua pasti lebih menyenangkan."
Yasaka bangkit dari kursi dan menggebrak meja dengan kedua tangan. "Sudah kubilang ini tidak seperti yang kau pikirkan, Hilda-chan!"
"Ahh, Yasaka-hime tidak perlu malu mengakuinya. Aku rela membagi Naruto-chan atau Madara-kun kalau Yasaka-hime menginginkan salah satu dari mereka."
Atas pernyataan dari Hilda barusan. Hashirama dan Naruto kembali mengalami hal yang sama. Di belakang batok kepala mereka masing-masing, tetesan keringat mengucur selagi berpikir kalau gadis berambut abu-abu itu hendak mendirikan kerajaan Harem—Aah, kerajaan Reverse-Harem lebih tepatnya.
Lain lagi dengan Yuki dan Kunou. Bisa dibilang sejak mengeluarkan pekikan keras beberapa saat yang dulu, mereka memilih diam menyaksikan semunya. Namun, setelah kata-kata yang terbilang asing di telinga mereka tertangkap, rasa penasaran yang cukup besar akan kata itu pun mulai timbul, dan ini dipastikan berakibat buruk—atau malah baik untuk kakak mereka.
Kembali ke perdebatan dua mahluk bergender perempuan itu. Yasaka yang nampaknya tidak bisa menahan diri lagi segera mengeluarkan bantahan untuk kesekian kalinya. "Bukan itu maksudku, gadis mesum!" dan untuk pertama kalinya, di akhir kalimatnya, dan depan orang-orang pula, Yasaka mengeluarkan sebuah umpatan yang lebih mengarah ke sebuah ejekan.
"Ne, Okaa-sama..."
Yasaka menghela nafas panjang sejenak untuk menengkan dirinya sempat lepas kendali beberapa saat yang lalu. Usai itu, dia menoleh ke sang anak yang baru saja memanggilnya. "Ya, Kunou-chan?"
Raut wajah penasaran dari gadis pewaris tahta kepemimpin Kyoto Youkai-ha itu membuat Yasaka mengerutkan kening. Begitupula dengan Yuki yang juga menoleh ke arahnya dengan ekspresi sama. "Perkosa itu apa?" dia memulai dengan raut wajah yang tambah penasaran namun terlihat begitu imut. Yasaka dan Naruto berjengit serentak. Sedangkan Yuki mengangguk-ngangguk dengan suara 'Hmn' beberapa kali keluar dari mulutnya. "Dari tadi Okaa-sama dan Hilda-anesama merebutkan Naru-oniichan untuk melakukan itu." jelas Kunou menambahkan.
Wajar saja bila Kunou maupun Yuki tidak mengetahui tindakan yang termasuk dalam kriminalitas itu. Untuk gadis yang berstatus pewaris tahta kepemimpinan macam Kunou, sejak dini ia tidak pernah mengetahui hal tersebut karena yang diajarkan oleh Yasaka bersama maid serta Youkai lain di kediamannya hanya berisikan hal-hal tentang cara memimpin dan hal-hal khusus anak-anak seumurannya saja. Lain lagi dengan Yuki yang secara kronologis seperti bayi berumur satu tahun lebih karena kehilangan ingatan saat Naruto menemukan dan mengangkatnya menjadi seorang adik.
"Kalian belum wa—"
"Itu tidak perlu kalian ke—"
"Perkosa itu artinya melakukan yang menyenangkan Kunou-chwan, Yuki-chwan!" seru Hilda penuh semangat dengan tangan terangkat ke udara sebelum Naruto dan Yasaka menyelesaikan ucapan mereka secara bersamaan. Saat pasangan ibu-anak angkat itu memandanginya tajam, Hilda memperlihatkan senyum penuh kemenangan. "Apa kalian juga ingin ikut? Bakal tambah menyenangkan kalau kalian juga ikut, loh."
Hashirama yang juga menjadi pengamat sejak Madara meninggalkan ruangan makin sweatdrop. "Ini cuma perasaanku saja atau memang tingkah aneh Hilda makin menjadi-jadi sejak bertemu Yasaka-san." dan karena tidak tau bagaimana cara untuk membantu Naruto lepas dari situasi yang melandannya, dia hanya bisa menyemangati pemuda keturunan Lucifer itu. "Semoga otak di atas rata-ratamu bisa menang melawan otak mesumnya, Naruto."
Seakan tidak peduli atau memang ucapan Hashirama sama sekali tidak berguna untuk membantunya, Naruto mempertahankan delikannya ke Hilda. "Gadis mesum brengsek!" ia mendesis tidak kalah tajam. Ini kedua kalinya, ia harus berhadapan dengan rasa penasaran kedua adiknya terhadap sesuatu yang asing bagi mereka, dan parahnya itu menjurus ke hal-hal berbau mesum. "Aku sudah memberitahumu untuk tidak lagi mengotori pikiran suci Yuki dan Kunou. Apa tidak cukup kau menyebutku pedofil dan membuat Yuki ikut aliran sesatmu itu, hah?"
"Are, bukannya kau sendiri yang ingin kuperkosa? Dan kebetulan Yuki-chwan dan Kunou-chwan mendengarnya. Ya, kujawab saja pertanyaan mereka. Lagian, memang benar kalau memperkosa itu hal yang menyenangkan."
"'Menyenangkan' kotoran dewa sesatmu, brengsek!" sahut Naruto. Volume suaranya naik beberapa tingkat saking marahnya pada gadis penganut aliran Jashin-sama itu. "Kalau tingkahmu masih seperti ini terus, kusuruh juga Madara-teme memasang Genjutsu pernamen ke otak sesatmu itu!"
Hilda yang tidak takut dengan apa yang baru saja Naruto katakan menoleh ke tiga mahluk bergender perempuan di sana. "Jadi sekarang apa lagi yang kita tunggu?" dia bertanya dengan seringai mesum pada ketiganya. "Saatnya melakukan hal menyenangkan ke Naruto-chan!"
"OUUU~~!" Yuki dan Kunou berseru serantak sambil melempar kedua tangan ke udara.
"GADIS SESAT SIALAN!"
Naruto berteriak sekencang-kencangnya selagi berlari mengitari meja menuju tempat Yuki dan Kunou. Terlihat kalau dua gadis Loli itu sudah mengambil ancang-ancang sehabis berteriak merespon perintah dari Hilda. Sampai di belakang adik-adinya, Naruto memakai energi alam yang disimpan dalam tubuh untuk membuka portal tehnik teleport miliknya. Tidak mau pikiran polos adik-adiknya semakin dirusak oleh Hilda, dia langsung menarik mereka berdua dan melompat masuk ke cahaya emas menyilaukan itu.
Melihat targetnya sudah menghilang entah kemana membuat desahan lesu lepas dari mulut Hilda. "Haaah, mereka kabur. Padahal hampir sedikit lagi..."
"Haah..." Hashirama ikut mendesah disertai gelengan kepala. "Kalau kau masih mempertahankan tingkahmu ini, aku sangat yakin kalau nanti kau akan kesulitan mencari suami, Hilda."
Jawaban berupa gelengan tidak peduli dari Hilda pun menambah hal yang harus dipikirkan Hashirama. Sebagai mantan pemimpin dari desa tempat tinggal Madara, Naruto dan Hilda, dialah yang seharusnya mencari jalan keluar dari masalah tiga orang itu. Ya, walaupun masalah Hilda tidak terlalu wajib untuk dipikirkan karena jodoh itu pasti datang sendiri kecuali... Hilda memang ditakdirkan untuk mati sebelum bertemu jodohnya.
Menggelengkan kepala untuk kedua kalinya, Hashirama mengalihkan tugas otaknya ke permasalahan yang terjadi antara Naruto dan Madara.
Jujur saja, dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus diberitahukan ke Madara agar menerima jati diri Naruto sebagai hibrid manusia setengah iblis Lucifer, atau mungkin belum mendapatkan caranya karena hari ini dia bersama sahabatnya akan kembali ke Konoha untuk menemui Vali. Dia berharap semoga Madara bisa menerima jati diri Naruto sehabis mengetahui hubungan antara pemuda itu dan Vali, atau setidaknya mulai belajar untuk menerima Naruto dengan alasan masa lalu dan jati diri tidak akan bisa merubah semua hal yang terjadi diantara mereka berdua—seperti yang dia lakukan.
Selain daripada masalah di atas. Sebenarnya dia juga sedikit penasaran dengan laki-laki yang sudah membuat Madara jatuh cinta.
Oh, seandainya Hashirama mengetahui apa yang sebenarnya melatari panggila 'Uchiha Homo' disematkan Naruto pada Madara, bisa dipastikan kalau mantan Hokage akan marah ke Naruto. Ya, begini-begini Hashirama masih normal dan tertarik pada perempuan, terutama yang berdada besar macam tetangga mereka sewaktu masih tinggal di Kouh. Entah apa yang akan terjadi apabila kebenaran tentang gelar 'Uchiha Homo' terendus oleh Hashirama, apalagi tentang ciuman tak sengaja antara pria itu dan Madara. Yang pasti, itu akan semakin menambah masalah internal kelompok absurd ini.
Ya, walaupun ini cuma masalah sepele sih!
.
.
Berjalan mengekori Hashirama, Naruto memandangi punggung pria itu sambil melayangkan pertanyaan dengan rasa penasaran yang cukup besar. "Ossan, apa sebenarnya yang kau ingin katakan padaku sampai harus menunda latihan Yuki dan Kunou?" baginya, tidak biasanya pria itu mengganggu dia saat melatih kedua adiknya, kalaupun mengganggu paling hanya mengganggu dalam arti sebenanya. Datang-datang langsung ikut serta dengan maksud ingin menjadi muridnya ataupun ikut bersama Hilda untuk menggoda. Namun, ini kali pertama kegiatan rutin setiap harinya itu diganggu Hashirama dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang serius.
Melihat tidak ada respon berarti dari mantan Hokage itu membuat dia sedikit kesal. "Ossan?"
Hashirama melirik sesaat pemuda yang berada tepat di belakang sebelum pandangannya kembali ke depan dan menjawab. "Aku dan Madara ingin memintamu melakukan sesuatu." dia memulai dengan nada datar tidak seperti biasanya. "Mungkin saja dengan menerima permintaan kami, Madara bisa memaafkanmu." seketika kekesalan Naruto sirna mendengar ucapannya, walau tidak melihatnya, namun dia yakin kalau pemuda itu pasti memasang raut wajah meminta kepastian. Tidak ingin membuat Naruto nantinya dilanda kekecawaan, segera ia kembali berbicara dengan memberikan secamam peringatan lembut. "Tapi, jangan terlalu berharap. Kau tau sendirikan sifat dari Madara."
"Ya, ya, ya. Aku tau itu, Ossan." Naruto menjawab lesuh. "Tapi setidaknya, akan kuminta dia menjelaskan kenapa sikapnya berubah sebagai imbalan kalau memang benar kalian ingin memintaku melakukan sesuatu." usai bergumam dengan suara pelan sebagai tambahan, dia kembali memandangi punggung lebar berbalut pakaian santai didepannya. "Ngomong-ngomong, apa yang ingin kalian minta aku lakukan?"
"Kalau itu..." Hashirama sengaja menggantungka kalimatnya sehingga jeda panjang tercipta saat mereka berbelok ke kiri di ujung koridor. Setelah mereka sudah menyusuri koridor yang mengarah ke halaman belakang komplek kediaman Yasaka, pria itu melanjutkan ucapan yang tertunda tadi."...kau akan tau sendiri nantinya."
Naruto menutup mata dan helaan nafas panjang yang menyiratkan kekecawaan keluar dengan mulus dari mulut sehabis menerima jawaban yang tidak memuaskan. Walau begitu, ia tidak ingin memikirkan lebih jauh lagi karena nanti juga diketahui sendiri, dan setidaknya seperti yang dikatakan pria di depannya, bisa saja Madara mau memberi penjelasan sekaligus memaafkan dirinya apabila menyanggupi permintaan dari keduanya.
Beberapa menit kemudian, setelah menyusuri lorong-lorong kediaman Yasaka yang bisa membuat manusia biasa kelalahan menyusurinya, Naruto dan Hashirama tiba di halaman belakang dimana Madara sudah menunggu mereka dalam keadaan membelakangi pintu keluar.
Menyadari kedatangan dua orang itu, Madara angkat suara tanpa menoleh sedikitpun. "Kuharap kau tidak mengatakan apa-apa padanya, Dobe."
"Tenang!" Hashirama menjawab singkat. Saat sahabatnya berbalik, dia mengacungkan jempol tangan kanannya. "Aku sama sekali tidak mengatakan apapun pada Naruto seperti yang kau inginkan."
"Hn, bagus." Madara menyahut singkat sebelum beralih perhantian ke Naruto yang berdiri tepat di belakang Hashirama. "Bocah bangsat!"
Naruto berjengit. Lagi-lagi Madara bersikap dingin padanya, bahkan tidak ada panggil 'Bocah Sableng' seperti biasanya. Pada saat itulah, dia merasa kalau Madara hendak memintanya untuk melakukan sesuatu yang cukup gila dan mengerikan agar bisa dimaafkan. Seperti menjilati kaki pria itu, atau yang lebih parahnya dia diminta untuk menjadi samsak latihan. Menahan kegelisahan yang mulai menggerogoti tubuhnya, Naruto memberanikan diri untuk merespon, walau itu hanyalah satu kata yang diucapkan sedikit tergagap. "A-apa?"
"Persiapkan tehnik teleport milikmu untuk ke Konoha, dan seperti biasa jemput kami jam lima sore." kata Madara tanpa basa-basi sedikit pun. Melihat mulut Naruto mulai bergerak hendak untuk memberi balasan yang pastinya berupa penolakan atau bukan menanyakan tujuannya dan Hashirama ingin pergi ke Konoha, dia segera menyahut dengan nada yang masih dingin. "Jangan banyak tanya, cepat lakukan saja!"
"OII~" Naruto berteriak tanda penolakan. "Apa maksudmu jangan banyak?! Tentu saja aku harus menanyakan apa yang ingin kalian berdua lakukan di Konoha."
Madara mendesah dalam hati atas pernyataan dari sosok yang memandangi saja membuat ia tidak tahan untuk mengeluarkan Ninjutsu Katon (Fire Release) dan membakarnya hidup-hidup. "Latihan." katanya singkat dan pastinya itu sebuah kebohongan belaka karena alasan sebenarnya dia ingin ke Konoha untuk menemui Vali yang kemungkinan besar sudah berada di sana. "Kami ingin latihan."
"...Hah?" mulut Naruto terbuka cukup lebar seraya memasang tampang bingung yang sangat jelas terlihat di mata kedua pria disana. "Untuk latihan?" dia menoleh ke Hashirama dan pria itu mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa jauh-jauh pergi ke Konoha hanya untuk latihan? Disini ada Dojo dan halaman yang cukup luas, aku bisa memindahkan tempat latihan Yuki dan Kunou kalau kalian mau memakai salah satunya."
"Kau pikir latihan yang ingin kami lakukan Taijutsu saja?" kini giliran Naruto yang mengangguk karena memang latihan seperti itu yang dia pikir ingin Madara dan Hashirama lakukan. "Haah..." sekali lagi Madara mendesah dan kali ini tidak dilakukan dalam hati lagi. "Kami ingin berlatih Ninjutsu, dan juga melakukan latih tanding dengan kekuatan penuh."
Kepala Hashirama bergerak naik turun kala tatapan Naruto kembali diarahkan kepadanya. "Itu benar Naruto." dia juga ikut-ikutan berbohong walaupun itu sangatlah sulit dilakukan, terutama ke Naruto. "Sejak kita berada disini. Aku dan Madara tidak pernah berlatih dengan kekuatan penuh dengan alasan keamanan dan keanyamanan Yasaka bersama orang-orang sekitar sini. Kutakutkan kalau jarang berlatih seperti itu, kekuatan tempur kita jadi menurun."
"Jangan banyak tingkah, bocah bangsat! Cepat lakukan saja!"
"Oke, oke! Akan segera kupersiapkan." Naruto akhirnya mengalah. Energi alam yang disimpan dalam tubuh untuk berjaga-jaga apabila terjadi serangan mendadak segera dia pakai dua puluh persennya, dialirkan menuju tangan kiri kemudian memukul udara kosong di samping kiri. Sebuah portal berwujud cahaya emas menyilaukan yang membentuk garis vertikal tercipta disana. Sesaat sebelum kedua pria di dekatnya melompat masuk, Naruto mencegat mereka. "Tunggu, Teme, Ossan!"
"Apa lagi, bocah bangsat?!"
"Woi, woi, santai Teme! Tidak perlu memakai tampang segarang itu juga."
"Cepat katakan! Aku tidak tahan melihat tampang menjijikanmu itu terus-terusan." kata Madara sedikit pedas karena sudah tidak bisa lagi menahan kebenciannya terus berhadapan dengan pemuda yang mewarisi darah dari pemimpin terdahulu ras iblis itu. "Dan kau juga Dobe! Tidak perlu membelanya!"
Hashirama yang sempat ingin memperingati Madara untuk tidak bersikap berlebihan lagi langsung nyiut nyalinya. Dengan setetes keringat di keningnya, dia berujar. "—Ba-baik. Aku mengerti!" sehabis mengeluarkan isyarat mengalah, dia melirik Naruto selagi mengeluh dan mengumpat secara bersamaan dalam hatinya. "Haaah, seandainya tidak ada Naruto. Sudah pasti kebuat gepeng juga kau pakai Mokuton, Teme."
Pandangan Madara kembali ke Naruto. "Sekarang katakan apa maumu? Lama-lama aku makin tidak tahan untuk melampiaskan kemarahanku padamu ke muka bodoh Dobe saat latih tanding nanti!" seakan tidak peduli dengan teriakan tidak terima Hashirama dan lenguhan panjang dari Naruto, dia melanjutkan dengan sedikit nada dan sorot mata sedikit mengancam. "Cepat katakan, bocah bangsat!"
"Begini..." Naruto memulai dengan serius. "Aku ingin, setelah kau kembali dari Konoha. Jelaskan alasan kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini. Jujur, itu sangat menggangguku, begitupun dengan Kaa-san, Yuki dan Kunou."
Madara membuang muka. Kini dia wajah menghadap langsung ke portal Naruto dengan mata tertutup untuk menghinari cahaya menyilau dari tehnik itu. "Aku tidak janji." keturunan Uchiah itu menjawab pelan, sebuah awal yang baik untuk Naruto karena tidak ada lagi nada dingin ataupun mengancam. Namun, semua kembali seperti tiga hari belakangan ini bagi pemuda itu saat Madara melanjutkan. "Tapi jangan pernah berharap kau bisa kumaafkan semudah apa yang ada di pikiranmu, bocah bangsat!"
"Aku tau—" Naruto menjawab lesuh, lalu melanjutkan kalimat terpotong itu dalam hati selagi menutup memejamkan mata. "—Karena kau dan harga diri tinggimu itu sangat merepotkan untuk dilawan!"
Pada akhirnya, Naruto tetap saja mengira kalau perubahan mendadak Madara yang tiga hari belakang ini bersikap dingin bahkan hampir menusuk dan dihadiahi pandangan berisikan kebencian murni disebabkan oleh tindakan tidak sengeja serta panggilan menjijikan darinya. Saat mengalihkan perhatian ke portal, ternyata Madara dan Hashirama sudah berangkat tanpa sepatah kata pun meninggalkan pemuda itu seorang diri di halaman dengan harapan bisa dimaafkan, dan juga mendapatkan penjelasan lengkap soal perubahan keturunan Uchiha gila itu.
Karena tidak ada lagi keperluan di tempat tersebut, Naruto memutuskan untuk kembali ko dojo yang berlokasi di halaman belakang. Selama perjanan menyusuri lorong demi lorong bangunan utama kompleks kediaman pemimpin Kyoto Youkai-ha itu, dia melakukan apa yang diminta Madara saat diancam pagi tadi. Semua yang terjadi diantara mereka berdua diingat-ingat untuk mencari tahu penyebab perubahan sang Uchiha.
Dia mengacak-ngacak rambut perak gelapnya karena frustasi tidak mendapatkan apapun, dan memutuskan untuk tidak lagi berpikir lagi. Cepat atau lambat, Madara juga akan memberitahukannya. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh kontener Kurama ini.
.
.
.
.
.
Siang hari waktu Mekai (Underworld), beratapkan warna kehijauan langit buatan berlokasi di ruang atau dimensi berbeda dari dunia manusia yang merupakan daerah kekuasaan ras iblis. Di tengah-tengah ibukota Dunia Bawah yang dikenal dengan nama Lilith, sebuah kastil megah berdiri kokoh sebagai bangunan pusat untuk mengontrol pemerintahan Mekai. Kastil yang sudah dipindahkan dan diubah namanya. Dari [Lucifer Castle] yang berlokasi di Lucifaad menjadi [Four Great Satans Castle] yang berlokasi di ibukota sekaligus teritori sekarang dari Dai Yondai Maōu (Four Great Satans). Bangunan tersebut bergaya Eropa abad pertengahan yang sangat besar dan terdapat banyak sekali ruangan. Mulai dari ruang rapat, ruang penyimpanan dokumen penting, ruang kerja empat pemimpin tertinggi Mekai dan masih banyak lagi.
Menelurusi bagian dalam kastil tersebut, masuk ke ruang kerja pemegang gelar Lucifer. Di dalam sana, Sirzechs mengeluarkan desahan panjang selagi memijit pelan pelipisnya yang terasa sedikit pening sehabis membaca beberapa lembar dokumen dari pendiri sekaligus pemimpin dari organisasi tempat bernaung para Malaikat Jatuh, Grigory. Beberapa hari yang lalu, karena peristiwa yang didalangi oleh Kokabiel terjadi di kota Kouh dan melibat tiga fraksi sekaligus—walau fraksi malaikat hanya diwakili oleh Exorcist dari pihak Gereja, hubungan antara ketiga fraksi itu terpengaruh sampai titik tertentu. Sebagai hasilnya, pimpinan dari masing-masing fraksi akan berkumpul untuk mendiskusikan masa depan.
Sirzechs sebenarnya senang dengan pernyataan Azazel yang hendak mengadakan pertemuan dengan pemimpin fraksi Iblis dan Malaikat demi membahas hubungan antara ketiga fraksi ke depannya. Namun sayang, sifat kurang peduli dari Malaikat Jatuh satu itu yang seenak udelnya menyuruh dia dan fraksi iblis mengurusi lokasi pertemuan mendatang menambah hal-hal merepotkan harus dipikirkan oleh sang pemegang gelar Lucifer masa kini. Dan pada akhirnya, setelah melalui cukup panjang pertimbangan, pertemuan dipastikan akan berlangsung di Kuoh Gakuen (Kouh Academy), dan baru kemarin Sirzechs mengimformasikan hal ini kepada pihak Grigory dan Surga.
Namun, penyebab utama kepala Sirzechs dipenuhi hal-hal merepotkan hingga menyebabkan rasa pusing muncul disana bukan soal pertemuan tiga fraksi dan tempat berlangsungnya, melainkan masalah yang sekarang ini melanda adik tercintanya. Masalah yang muncul bersamaan dengan insiden Kokabiel, dan penyebabnya adalah seseorang yang tidak pernah dia sangka-sangka menjadi dalangnya, Naruto Uzumaki.
Saat mengetahui hal itu, Sirzechs sempat bertanya-tanya dari sekian banyak orang di dunia, kenapa pemuda yang sudah banyak membantu adik dan Underworld selama beberapa tahun lamanya itu yang harus jadi topik utama dari laporan kedua sahabat dan salah satunya memegang peranan Queen dalam Peerage adiknya.
Dari laporan kedua sahabat dari pewaris klan Gremory yang diketahui adalah Akeno dan Sona menyebutkan kalau Kokabiel berhasil dibunuh oleh dua anggota keluarga Naruto, sedangkan pemuda itu sendiri malah melawan Peerage adiknya dan hampir menewaskan Hyodou Issei kalau saja sahabat Rias dari klan Sitri tidak cepat mengambil tindakan.
Karena keikutsertaan Naruto dan keluarganya dalam insiden Kokabiel mau tidak mau membuat Sirzechs harus mengirim balasan kepada pihak Grigory serta proposal pertemuan kepada pihak Surga. Dalam balasan dan proposal itu, dia meminta kepada masing-masing dari pemimpin kedua pihak itu untuk mencari keberadaan kelompok/keluarga penuh kejutan itu yang hilang bagai ditelan bumi sehari setelah insiden. Tentu saja dengan alasan untuk menghadirkan dua anggota keluarga Naruto yang dia kenal bernama Madara Uchiha dan Hashirama Senju dalam pertemuan nanti, dan juga mencari tahu alasan mereka membunuh Kokabiel atas permintaan dari Azazel sebagai pemimpin pihak Grigory.
Walau begitu, sebenanarnya maksud dari permintaannya itu adalah menginginkan Naruto hadir dalam pertemuan dan meminta pemuda itu untuk menjelaskan secara detail kenapa sampai melawan Peerage adiknya hanya untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
Selain itu. Bukan hanya pertarungan antara Naruto dan Peerage adiknya yang membuat Sirzechs pusing. Apa yang terjadi setelah pertarungan itu ikut menjadi permasalahan sekaligus penyebab utama kepalanya pening memikirkan bagaimana keadaan sang adik sekarang ini. Dia sudah mengetahui semunya, kira-kira usai kembali dari ruang adiknya dia menyuruh Grayfia untuk menceritakan apa yang terjadi diantara adik dan pemuda dengan rambut perak gelap itu.
Jujur saja, Sirzechs benar-benar terkejut mendengar semuanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Naruto memiliki perasaan kepada adiknya, dan itu terus dipertahankan sampai insiden beberapa hari yang lalu. Namun sekarang, dia tidak tahu apa perasaan itu masih ada atau sudah dihanguskan sampai tak bersisah. Dari sini pula dia akhirnya mengerti semua yang telah dilakukan Naruto kepada adiknya. Kenapa saat pertemuan mereka sehabis menghilang dari Mekai, pemuda itu mati-matian untuk kembali, dan kenapa pula pemuda itu menerima dengan lapang dada dibenci oleh Rias, bahkan hanya tersenyum pahit saat mendengarnya secara langsung.
Lalu, sehari setelahnya. Dia kembali mengunjungi Rias, bukan sebagai Maōu, melainkan seorang kakak. Dalam kunjungannya itu, dia melihat secara langsung keadaan sang adik dan juga bagaimana responnya saat mendengar nama Naruto. Pada saat itu pula, dia mulai merasa prihatin atas keadaan sang adik.
"Sirzechs-sama?"
Lamuan pria bergelar Maōu Lucifer itu buyar saat mendengar suara lembut memanggil namanya dari pintu masuk ruangan. Kepala yang sebelumnya diarahkan ke atas selagi berpikir ditelenkan ke arah pintu. "Aah, Grayfia. Ada apa?"
"Ada yang ingin saya sampaikan." wanita dengan rambut perak dan memakai pakaian maid itu berjalan menghampir pria berstatus [King] sekaligus suaminya itu. "Dan mungkin hal yang akan saya sampaikan ini bisa sedikit membantu meringankan beban Sirzechs-sama."
Kening Sirzechs mengkerut. Dia melihat kalau sang istri datang menghampiri meja kerjanya tidak dengan tangan kosong. "Membantu meringankan apanya?" dia bertanya sedikit lesuh selagi melirik benda yang dibawa istrinya. "Yang ada kau malah menambahnya dengan dokumen-dokumen itu."
Wanita bernama Grayfia itu menggeleng pelan sesampainya di depan meja kerja Sirzechs. "Tidak, tidak, Sirzechs-sama." katanya selagi meletakkan dokumen itu pada permukaan meja Sirzechs dan sengaja dibalik menghadap ke pria itu. "Justru dokumen ini bisa sedikit meringangkan beban pikiran anda."
Awalnya Sirzechs enggan untuk membaca apa yang tertulis pada dokumen itu. Dia mengira kalau isinya pasti tidak jauh-jauh dari permasalahn yang terjadi pada Mekai ataupun pertemuan tiga fraksi mendatang. Namun, rasa enggan pria itu langsung sirna kala Grayfia kembali berbicara. "Itu adalah dokumen dari Kouh Gakuen (Kuoh Academy) untuk kegiatan kunjungan kelas Rias-ojousama, Himejima-san, Tojou-san dan Yuuto-san yang akan berlangsung besok, Sirzechs."
"Kunjungan kelas?"
Grayfia mengangguk singkat. "Benar, Sirzechs-sama!" senyum kecil tercipta di wajah tanpa ekspresi miliknya. "Orang tua Sirzechs-sama menyerahkan tugas untuk mengurus dokumen kunjungan kelas Rias-ojousama dan yang lain. Dan juga, Sirzechs-sama harus memberitahukan hal ini pada Rias-ojousama hari ini juga."
Secepat kilat Sirzechs menyambar dokumen-dokumen tersebut dan mulai menuliskan beberapa yang wajib diisi disana. "Grayfia!"
"I-iya, Sirzechs-sama!" wanita itu sedikit tersentak karena perubahan tiba-tiba dari mood suaminya.
"Cepat carikan aku pakaian yang pas dan bersiap-siap mengaktifkan lingkaran sihir teleport. Kita akan mengunjungi Ria-tan untuk melihat kondisinya!"
Setetes keringat sebesar jempol kaki hinggap di kepala Iblis Betina bergelar [The Strongest Queen] itu melihat sindrom Siscon suaminya kambuh lagi. Dia sudah tau kalau belakangan ini Sirzechs sering terlihat memikirkan sesuatu dengan raut wajah khawatir dan itu dipastikan menyangkut soal Rias, dan beginilah jadinya kalau ada sesuatu yang setidaknya bisa membuat pria itu bertemu dan melihat kabar dari sang adik.
"Sudah kuduga ini akan terjadi."
.
.
.
.
.
Beberapa detik setelah melompat masuk ke dalam tehnik Naruto dan keluar di desa Konoha. Seperti yang diperkiaran oleh Madara sebelumnya. Orang yang ingin dia temui bersama Hashirama sudah berada di tempat reruntuhan desa ninja ini, dan datang sendirian tanpa ditemani oleh gadis bernama Ophis karena tidak adanya aura gila-gilaan yang terasa hampir di segala penjuru. Tanpa menunggu lama lagi, keduanya berjalan menuju tempat mereka dimana mereka mengetahui identitas dan sebagian kecil masa lalu Naruto. Sebuah bangunan sederhanan yang masih berdiri dimana Vali sedang duduk pada sebuah kursi kayu menunggu mereka.
"Maaf Vali-san. Ada sesuatu yang terjadi sebelum kami berangkat."
Permintaan maaf dari Hashirama disambut gelengan pelan dari Vali selagi berucap singkat. "Tidak apa-apa." dia bangkit berdiri kemudian memasukkan kedua tangan pada saku celana burgundy dengan hiasan rantai perak dan tiga wristband pada betis kanan yang dipakai. "Jadi, bagaimana? Apa dia sudah mengingat semua kejadian sebelum bergabung dengan desa ini?"
Giliran Madara dan Hashirama yang menggelengkan kepala. Kemudian, sang Uchiha yang memberikan penjelasan dengan nada datar andalannya. "Tidak sama sekali. Bahkan semua yang sudah kulakukan padanya, dia berpikir kalau semua itu disebabkan panggilan menjijikannya untukku. Cih, dasar bocah bangsat!" dia menutup penjesalan dengan sebuah desisan tajam mengandung dua emosi negatif, dan dua orang di dekatnya bisa mengatahui kalau itu merupakan sebuah amarah dan kebencian yang cukup besar. Menghela nafas sejenak untuk menenangkan diri, Madara kembali berbicara. "Kalau sudah seperti ini, mungkin mempertemukan kalian adalah cara satu-satunya untuk membuat dia mengingat semua yang terjadi."
"Apalagi dengan adanya Kurama dalam tubuh Naruto. Aku yakin kalau kalian berdua bertemu dan mengungkapkan semuanya, Naruto pasti meminta Kurama untuk memastikan itu benar atau tidak." kata Hashirama menimpali. Atas perkataannya itu, Vali langsung memberikan tatapan penasaran ke arahanya namun diabaikan begitu saja. "Bukan begitu, Madara?"
Madara mengangguk singkat. Sementara Vali yang dibaikan sedikit mengeluarkan semacam gumaman rendah untuk mengalihkan perhatian dua lawan bicaranya. "Kurama? Di dalam tubuhnya? Apa maksud kalian?"
"Ha-ha-ha..." Hashirama tertawa garing selagi menggaruk bagian belakang kepala dengan rambut hitamnya. "Aku lupa memberitahukan ini sebelumnya." dia memulai dengan tampang meminta maaf. Pihaknya dan pihak Vali sudah terikat sebuah perjanjian, dan salah satu syaratnya mereka tidak boleh merahasiakan sesuatu penting yang menyangkut perjanjian tersebut. Itu berarti keberadaan Kurama dalam tubuh Naruto harus diberitahukan juga. Soal Kurama sendiri, kelima guru Naruto sudah mengetahuinya sejak pertama kali pemuda itu mengeluarkan api jingga yang diberi nama Kōen (Brilliant Flame). "Sebenarnya, selain ingatan dan semua hal berbau iblis Naruto yang disegel, ada pula sosok Youkai spesies Kitsune bernama Kurama yang ikut tersegel dan kekuatan Youkai itu yang menjadi senjata utamanya dalam pertarungan selain Senjutsu."
"Youkai Kitsune?" tanya Vali yang semakin dibuat penasaran dengan informasi tentang Naruto ini. Setaunya, pemuda yang sama-sama mewarisi darah Maōu Lucifer itu tidak memiliki sesuatu dalam tubuhnya sebelum mereka berpisah. "Maksud kalian seperti pemimpin Kyoto Youkai-ha?"
Madara dan Hashirama mengangguk serentak.
"Aah, jadi memang benar terjadi sesuatu padanya sebelum ditemukan oleh orang bernama Jiraiya itu." wajah penasaran Vali berubah seperti tengah berpikir keras. "Atau jangan-jangan..." dia melebarkan mata sesaat. Satu perkiaraan muncul dalam benaknya, dan itu mungkin saja menjadi penyebab Naruto bisa melupakan semua masa lalunya. "...Youkai itu ada hubungannya dengan ingatan Naruto yang disegel?"
"Ya... Sebenarnya kami juga berpikiran seperti itu." Hashirama menyahut serius. Di samping pria itu, mulut Madara menggumamkan dua huruf universal Uchiha yang maknanya sangat jelas membenarkan pernyataan barusan. Selepas itu, wajahnya tiba-tiba berubah mendung layaknya orang yang sudah putus asa. "Sayangnya, siapa yang menyegel serta alasan itu terjadi mungkin saja hanya Kurama-san yang tau, dan juga dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk memberitahukan Naruto tentang hal tersebut."
"...Tck!" Vali berdecak kesal. "Kembali buntu rupanya."
Kepala Madara bergerak ke kiri dan kanan membantah ucapan dari pemuda keturunan Lucifer itu. "Tidak sepenuhnya." dia memulai dengan datar. "Masih ada satu cara, dan sudah kukatakan beberapa saat yang lalu."
"Maksudmu mempertemukan Naruto dan Vali-san?" sela Hashirama melayangkan sebuah pertanyaan. Selagi menganggukkan kepala, seringai mengerikan muncul di wajah sahabatnya sampai membuat ia merinding mengetahui makna di balik garis miring yang dibentuk oleh bibir Madara itu. "Oh, demi janggot Hagoromo-sama. Tidak cukupkah kau melihat Naruto frustasi dengan tingkahmu itu, Madara?"
"Membuat bocah bangsat itu frustasi saja belum cukup bagiku." desis Madara. "Aku ingin lebih dari itu, bahkan aku berencana untuk bertarung melawannya. Bukan latih tanding antar guru dan murid, melainkan sebagai musuh yang bertarung dengan niat membunuh satu sama lain."
Vali langsung menoleh ke Madara. Matanya memicing tajam selagi meminta kepastian dari keturunan Uchiha itu. "Apa maksudmu melawannya sebagai musuh?"
"Kau sudah tau alasanku, bukan?" salah satu dari chakra keturunan kuat dari Kaguya Ōtsutsuki itu balik menatap Vali dengan dagu terangkat. "Lagipula aku cukup penasaran dengan kekuatan yang hampir membuat punah satu klan iblis milik bocah bangsat itu. Bisa saja itu adalah kekuatan mengerikan yang Jiraiya maksud."
"Haah... Aku mengerti." Vali akhirnya mengalah dan setuju Madara akan bertarung melawan Naruto suatu saat nanti. Namun ia nampaknya tidak ingin hal itu terjadi begitu saja. Setidaknya, selain dipertemukan dengan Naruto, masih ada yang diinginkan olehnya. "Kalau begitu, aku ingin meminta—tidak! Ingin kalian melakukan sesuatu pada Naruto saat kami bertemu nanti. Ya, anggap saja ini adalah imbalan aku mengijinkanmu bertarung melawannya."
Madara mendecih agak keras sebelum melontarkan sebuah kalimat yang terdengar cukup menyakitkan di telinga Vali. "Aku tidak memerlukan ijinmu untuk bertarung melawan bocah bangsat itu, keturunan menjijikan!"
Seolah tidak peduli dengan panggilan pedas Madara. Vali melanjutkan apa yang belum sempat ia ingin beritahukan kepada keduanya. "Selain itu, aku juga punya informasi menarik soal KyumaŌ-ha. Informasi yang bisa saja membantu kalian untuk membalas dendam penduduk desa ini." dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru tempatnya sekarang ini. Selagi sibuk melakukan hal tersebut dan kedua shinobi didepannya juga melakukan hal yang sama, ia lanjut berbicara. "Beberapa hari lagi. Pertemuan antara ketiga fraksi akan berlangsung, dan kalian yang sudah membunuh Kokabiel mau tidak mau harus hadir untuk menjelaskan alasan dibalik tindakan tersebut."
"Pertemuan tiga fraksi?"
"Dan kami harus hadir disana?"
Madara diikuti Hashirama melayangkan pertanyaan berbeda dan hanya dijawab dengan satu jawaban oleh Vali. Sekali anggukan kepala dengan wajah kalemnya.
"Kalau aku menolaknya bagaimana?" Madara kembali bertanya datar.
Pemegang Sacred Gear Divine Dividing itu menggeleng pelan. "Aku sama sekali tidak tau apa yang akan terjadi apabila kalian menolaknya. Yang kutahu hanya informasi dari Azazel yang menyuruhku mencari kalian semuanya."
"Etto..." saat Hashirama mengeluarkan suara bingung sambil mengacungkan tangan kanan di samping kepala. Vali dan Madara menoleh ke pria itu. "... Lalu apa hubungan antara pertemuan ini dan KyumaŌ-ha ini, Vali-san?"
"Mereka bekerja sama dengan Majūtsu-ha (Magician Fraction) dan berniat menyabotase pertemuan nanti." Vali memulai dengan seringai yang langsung muncul saat melihat raut wajah penuh rasa kerterikan Madara akan informasi barusan. "Bahkan, kudengar-dengar. Satu dari tiga pemimpin tertinggi mereka yang akan turun langsung untuk menimbulkan kekacauan disana dengan tujuan membunuh satu pemimpin tiga fraksi besar."
"Hooo..." Madara menyahut dengan suara ditinggikan. "Aku mengerti sekarang." dia mengangguk-menganggukkan kepala. "Kau ingin menjadikan pertemuan nanti sebagai panggung pertemuanmu dengan bocah bangsat itu, bukan?"
"Tepat." Vali menganggukkan kepalanya. "Saat aku mendengar informasi tentang pertemuan ini." berhenti menggerakkan kepala, wajahnya tiba-tiba menggelap. "Aku langsung berpikir untuk memulai kembali tujuanku yang sempat hilang sehabis kejadian malam itu." jelasnya dengan wajah yang masih sama dan sedikit menundukan kepala, memandangi permukaan tanah dengan dua-tiga perasaan yang berkecamuk serta ingin saling mendominasi satu sama lain dalam hatinya.
"Oke, oke. Sekarang bisa kau jelaskan apa yang sedang ada dalam kepala perakmu itu, dan jangan lupa soal janjimu sebelum berpisah tiga hari lalu."
Vali menegakkan kepala, menadang lurus wajah dua pria yang memiliki hubungan dekat namun masih belum kalah dekat dari miliknya dan Naruto. Mengambil nafas panjang terlebih dulu, sebelum akhirnya satu lagi rahasia terbesar yang ia simpan seorang diri selama puluhan tahun kembali dibongkar. Rahasia yang mungkin saja dapat mengubah sudut pandang Madara terhadap dirinya dan Naruto di masa depan nanti.
.
.
.
"... Hee. Ini sungguh mengejutkan, bukan begitu Madara?"
"Aku tidak peduli... Asal kau bisa memberi bantuan agar bocah bangsat itu mengingat semuanya, dan juga membantu kami menghancurkan KyumaŌ-ha. Lakukan saja sesukamu!"
.
.
T.B.C!
[TrouBlesome Cut]
Author Brengzeck Notes:
Well, satu lagi Chapter panjang berisi 9K Word sedikit bersih dari Fic Daybreak selesai!
Hmn, hmn. Untuk saat ini cerita bagaimana Naruto bisa bergabung ke Konoha dan jadi murid Madara, Hashirama, Tobirama, Izuna dan Jiraiya masih dalam bentuk penjelasan dulu. Rencana setelah Arc selanjutnya yaitu: [Arc Nearest Place from Heaven] atau [Arc Loliland] selesai, akan ada satu Arc yang akan menceritakan semuanya secara detail. Mulai dari bagaimana Jiraiya dan Naruto bertemu, latihan Naruto dibawah bimbingan kelima ninja itu, lalu berakhir pada bagian Naruto dan Jiraiya berpisah di kediaman Yasaka. Ya, bisa dibilang itu nanti menjadi Flashback Arc untuk memperjelas sebagian besar inti dari Fic Daybreak ini.
Selanjutnya... Seperti tertulis di ABN Chapter kemarin. Reaksi Mbah-Madara setelah mengetahui identitas Naruto sebagai Hibrid Manusia/Iblis barulah dimulai, dan di Chapter ini belum dibuat panas walau Mbah-Madara hampir menusuk kepala Naruto dengan alibi panggilan 'Uchiha Homo' serta tindakan pemuda itu yang membuat Madara dan Hashirama harus berciuman sebagai pemicu perubahan sikap Sang Uchiha. Ya, inilah alasan adegan ciuman tak disengaja itu dibuat. Untuk ALIBI, ya ALIBI Madara untuk menyembunyikan kebenciannya ke Naruoto dan jati diri sebenarnya dari pemuda itu.
Lalu, untuk bagian panas antara Madara dan Naruto. Setelah KTT 3 Fraksi bakalan ada Pertarungan secara All-Out antara Naruto dan Madara, tidak menutup kemungkinan Vali juga bakalan ikut namun belum pasti akan berada di pihak mana, kemungkinan besar sih berada di pihak Madara. Di pertarungan itupula nanti asumsi Madara soal Naruto hanya selevel dengan Hashirama akan melenceng jauh, Khukukukukuku...!
Terakhir... Soal hubungan Naruto dan Vali serta apa yang terjadi diantara mereka berdua. Bakalan terungkap di Chapter 25 dan 26 karena di Chapter depan KTT 3 Fraksi baru dimulai dengan Madara dan Hashirama yang menjadi pembahasan utama karena mereka mulai menggila sekaligus memperlihatkan sedikit kekuatan dari Manusia Pengguna Chakra keturunan Mami-Ōtsutsuki Kaguya.
Oke. Sekian Author Brengzeck Notes-nya.
Balasan Review:
Laffayate: Well... Selamat sudah menjadi yang pertama nge-review Chapter 23 kemarin ... Hmmn, hmmn. Gak nyangka kalau Chapter kemarin bisa munculin banyak tanda tanya dan ambigu sampai baca 3 kali ... Tunggu saja, Mbah-Madara bakalan jitak kepala Naruto pakai lengan Susano'o ... Well, kita lihat saja nanti saat KTT 3 Fraksi di Chapter depan untuk mengetahui hubungan Naruto dan Vali ... Makasih atas sarannya. Saran saya terima ... Hahahah. Oke-oke, masalah selera. Masing-masing orang memang berbeda ... Gak apa-apa kok. Justru malah bagus kalau reviewnya panjang dan yaa... selamat tahun baru juga #TelatOiii ... Wokeh, ini sudah dilanjut walau kelamaan.
yellow flash115: Wokeh '-')b ... Madara ataupun Hashirama tidak bisa membuka segel dalam tubuh Naruto. Dan juga, segel itu masih lama buat terlepas.
Yuki ChibiHitsu-chan: Yaps... Sudah masuk bagian serunya. Terus pantengin saja ... Oke '-')b
TsukiNoChandra: Ahh... Saya gak pernah nyulik Dedek-Dedek Loli kok :v ... Yaps, agak berat dn kurang dialognya. Begitupun dengan Chapter 23 ini. Semoga sama bagusnya dengan Chapter kemarin ... Simbol-simbol sudah saya kurangin di Chapter ini ... Oke '-')b
Sederhana: Kita lihat saja nanti saat KTT 3 Fraksi di Chapter depan ... Oke '-')b
reyvanrifqi: Ampun pak! ... Oke. Ini sudah dilanjut walau kelamaan.
Paijo Payah: Yaps, Naruto itu seorang Lucifer. Lebih tepatnya setengah Lucifer ... Yoii-yoii, salam Loli balik dari Lolicon Brengzeck ini ... Oke '-')b
Guest [01]: Yaps, Naruto keturunan tak terduga.
Guest [02]: Oke '-')b ... Makasih penyemangatnya. Ini saya sudah lanjut walau agak kelamaan.
Loliloliloliloli: Njrittt. Nama Dedek Loli tuh susah amat disebut. Lidah saya sampai keseleo :v ... Well. Kalau memenuhi kriteria karakter yang saya cari. Akan saya masukkan kok ... Hehehe. Hina-chan saat ini tidak dibahas dulu. Entar kalau masalah Naruto adalah keturunan setengan Lucifer selesai baru Hina-chan ngambil bagian lagi ... Oke '-')b
Nagato Kuroyuki: Oii-oii, waktu itu kagak ilang. Cuma hilang kontak bentar kok ... Wow, gak nyangka kalau Chapter kemarin gak ada typonya :v ... Soal kalimat yang tidak tertata. Saya minta maaf soal itu. Mudah-mudahan di Chapter ini agak berkurang atau semoga nggak ada ... Aah. Sudah ingat kok. Tenang saja, dia bakalan banyak ambil peran disini. Walau belum pasti bakalan jadi pair atau tidak ... Lemon... No! Lime... Yes! ... Ya, mereka saling kenal kok. Kalau soal hubungan mereka. Nanti kita lihat saja pas Kurama keluar dari tubuh Naruto ... Chapter 24 dan 25. Disana Madara sudah dapat Eien Mangekyo Sharingan ... Masih lama. Tapi sepertinya, Issei cuma akan selevel dengan Naruto, tidak lebih kuat ... Tanyakan saja, akan saya jawab seperlunya agar tidak terlalu banyak Sop Iler :v
JUstice DrAgoN: Makasih koreksinya.
Ae Hatake: Yaps. Misterinya nambah lagi.
Ardi: Sabar. Akan saya lanjut kok. Walaupun nanti satu-satu lanjutnya dan itupun agak lama.
januardi: Fic selanjutnya yang akan saya Update mungkin Wind Dragon Slayer.
Re Ciel: Di Fic ini. Naruto memang akan punya One-Side Harem. Udah keliatan bagaimana Dedek Kunou dan Dedek Yuki sangat dekat dengannya walau sekarang masih dalam tahap kakak-adik. Ditambah lagi Irina yang sudah mulai ada tanda-tanda tertarik ... Setuju sekalee! Dedek Le Fay lebih imut dari Mbak-Irina. Akan saya usahakan, lagian Dedek Le Fay itu salah satu Dedek Favoritku :"v ... Hahaha. Selamat Tahun Baru 2017 juga #TelatOii ... Amin, Amin, Amin!
Calarrdiant: Sabar. Akan saya lanjut kok. Walaupun nanti satu-satu lanjutnya dan itupun agak lama.
Guest [03-04]: Fic selanjutnya yang akan saya Update mungkin Wind Dragon Slayer.
Yang Review [Next], [Lanjut], [Kapan Lanjut/Update], sebangsa dan senegera-nya. Ini sudah saya lanjut/Update. '-')/
Brengzeck 014 [Root Loliwood] dan Stark sayang mami kushi selalu (Bikin sakit mata Pen-name kampret ini) Out! Saya mau Tidur Cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Mavis dulu '-')/
Mind to Review?
...and...
Salam Lolicon!
