Yoooooo~~~ Berjumpa lagi dengan Author Kampret, Malas, Buangsat, Brengzeck dan banyak lagi kejelakannnya. Errr, sebelumnya, yang kenal di Pesbuk mengatakan kalau akan Update Fic secara bersamaan. Tapi, yaa... Krn dua dari empat Fic yang akan diupdate belum selesai dirivisi, maka hanya Fic ini yang diupdate. Ya... Krn udah banyak sekali yang nagih di PM sampai ada yang ngancam, dan yang paling banyak minta di Update adalah Fic Daybreak ini. Menyusul Trio Uzumaki lalu Uzumaki D. Naruto dan terakhir dari Wind Dragon Slayer.

Well... Untuk Chapter ini sebenarnya sangat panjang, sampai wordnya menyentuh 20K lebih. Aah, karena banyak pertimbangan dan saran dari author lain di pesbuk. Makanya dibagi dua, lalu diupdate bersamaan.

Saaa... Tanpa banyak bacod lagi. Silahkan dinikmati Chapter terbaru dari Fic Daybreak yang bakalan semakin gak jelas dan buanyak Dedek-Dedek Loli-nya.


Disclaimer:Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and others not Mine!

Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance, Hurt/Comfort, and Mistery.

Warning: Still Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat) dan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, HalfDevil!Naruto, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, GradualyOverpowered!MainCharacter, Gray!MajorityMainCharacter, Etc.


Arc III: Early and Late.

Chapter 24

[Daybreak — High Tension Conference, Begins! Part I]


.

.

.

.

.

"Ini bukan sebuah candaan!"

Rias Gremory mengangkat alis dengan ekspresi kemarahan tercetak jelas di wajahnya. Dia memakai seragam musim panas Kuoh Gakuen yang berlengan pendek dan duduk pada meja miliknya di ruang utama markas Okarutō Kenkyū-bu (Occult Research Club) dengan gestur tubuh serius namun sedikit memancarkan aura sama seperti raut wajahnya tadi. Tepat di hadapannya, para anggota klub yang ia dirikan dan semuanya adalah anggota Peerage-nya berkumpul.

Sang Queen, Akeno Himejima berdiri di depan meja, sedikit ke kiri agar tidak menghalangi pandangan Rias. Yūto Kiba dan Koneko Tōjō pada sofa panjang yang menghadap ke jendela, sedangkan Asia Argento dan Issei Hyōdō mengambil posisi di sofa yang berhadapan dengan milik dua orang sebelumnya.

Masih mempertahankan wajah yang sama, tubuh Rias bergetar mulai dalam kemarahan selagi menjelaskan sesuatu kepada budak-budak iblisnya yang sudah ia anggap keluarga sendiri. "Memang benar, meski sudah diputuskan kalau pertemuan pemimpin iblis, malaikat dan malaikat jatuh akan diselanggarakan di kota ini. Tapi, kenapa pemimpin Malaikat Jatuh bernama Azazel itu menyusup ke wilayahku dan ikut campur urusan kami...!"

"Anoo, Buchou...!" sahut Issei dengan tangan kanan teracung di samping kepala dan itu mengalihkan perhatian dari Rias beserta anggota Okarutō Kenkyū-bu yang lain. "Sepertinya Azazel memang mengincar Sacred Gear-ku. Bahkan dia dengan senang hati memberikan banyak nasehat tentang latihan yang sekarang ini kujalani bersama Ddraig." sangat jelas terlihat kalau saat ini dia tengah dilanda kekatakutan sampai imajinasi dalam kepala dengan rambut coklat itu sulit membayangkan apa yang akan terjadi apabila berursan dengan malaikat jatuh bernama Azazel. "Mungkin dia melakukan itu agar bisa lebih mudah mendapatnya."

Sehabis mendengar ungkapan Issei, pangeran tampan Kuoh Gakuen (Kuoh Academy) membuka mulut. "Aku dengar dari seseorang kalau Azazel memang memiliki pengetahuan mendalam tentang Sacred Gear. Aku juga dengar kalau dia mengumpulkan pemiliki Sacred Gear potensial. Tapi tak akan apa-apa." terus melanjutkan ucapannya, Kiba melihat rekan sesama laki-laki anggota Okarutō Kenkyū-bu seolah dia akan kehilangannya. "Aku akan melindungimu!"

"Ugh!" Issei meringis pelan karena ucapan dari Kiba yang menurutnya terasa menjijikan. "... Tidak, umm, aku senang tapi...bagaimana bilangnya ya...kalau aku mendengar itu dari laki-laki dengan wajah tulus, aku akan kebingungan untuk meresponnya."

Masih setia mempertahankan wajah tulusnya, Kiba membalas ucapan pemegang Boosted Gear itu. "Sudah jelas kalau aku akan mengucapkannya dengan wajah tulus. Kau sudah menolongku. Kau adalah temanku yang berharga. Kalau aku tidak bisa menolong teman yang kesulitan maka aku tak bisa menyebut diriku knight dari keluarga Gremory."

"Iya. Aku paham soal itu. Tapi...asal kau tahu saja, nada bicaramu tidak cocok diarahkan pada teman, atau rekan, belum lagi aku ini laki-laki. Sudah jelas kau harus mengatakan itu pada seorang Ōhime-sama (Princess)."

Tanpa memperdulikan penjelasan dari Issei barusan. Kiba melanjutkan, "Tak ada masalah. Sacred Gear-ku yang mencapai Balance Breaker dan Boosted Gear Issei-kun, kalau kita gabungkan keduanya, aku merasa kita bisa melampai semua kesulitan berbahaya." ia berhenti menciptakan jeda sejenak. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal tersebut. Berdasar pada pertarungan melawan Naruto, pemuda itu merasa kalau Seimaken (Holy Demonic Sword) miliknya cukup kuat sampai bisa membuat Naruto pingsan, apalagi jika digabungkan dengan Boosted Gear milik Issei yang termasuk dalam kategori 13 Longinus. Kalau sudah seperti itu, bisa dibilang keduanya adalah perpaduan yang cukup mengerikan. Sehabis itu senyum kecil muncul pada wajah Bishounen miliknya. "...Fufu. aku bukan tipe orang yang mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Setelah berteman denganmu, kesiapanku pada rekan tim juga berubah. Tapi aku tak paham kenapa aku tak bisa membenci itu...kadang terasa hangat di dadaku."

"... Me-menjijikan. Kau sangat menjijikan, Kiba! Jangan dekat-dekat denganku! Jangan sentuh aku!"

Senyum kecil dan wajah tulus pemilik Seimaken (Holy Demonic Sword) itu langsung menghilang setelah mendengar penuturan frontal Issei. Ia meringis layaknya orang patah hati selagi berkata. "Ti-tidak mungkin... Issei-kun!"

Bukannya Issei tidak mau melakukan apa yang dijelaskan Kiba barusan tantang penggabungan dari Boosted Gear dan [Sword of Betrayer]. Ia hanya tidak ingin rumor tidak senonoh menyebar di kalangan siswa-siswi Kuoh Gakuen kalau mereka berdua berdekatan. Dicap Trio Mesum bersama dua sohibnya saja sudah buruk apalagi kalau dicap Homo-an dari pangeran sekolah. Bisa-bisa impiannya menjadi raja harem tak akan pernah terkabul.

Mengacuhkan kedua Peerage bergender laki-laki dalam keluarga iblisnya, Rias berucap dengan nada suara yang tidak lagi menyiratkan kemarahan, melainkan seperti orang yang sedang bimbang. "Namun, aku penasaran apa yang terjadi...di samping tak mengetahui pergerakan mereka, sulit untuk bergerak disini juga. Pihak lain itu adalah Gubernur Malaikat Jatuh. Kita bahkan tidak bisa mengontak mereka."

Issei yang mendengar rajanya memberi kejelasan soal Azazel sang Gubernur Malaikat Jatuh berhenti mengomeli Kiba. "Buchou...!" panggilnya membuat Rias menoleh. "Selain mengincar Sacred Gear-ku. Azazel juga memberitahukan sesuatu kepadaku."

"Apa itu?" tanya gadis itu diikuti tatapan penasaran dari anggota Peerage-nya yang lain.

"Ini soal Naruto-teme." ucap Issei pelan mengetahui jika nama itu cukup sensitif bagi rajanya. "Azazel mengatakan jika sekuat apapun kita berusaha untuk melawan, kita tidak akan bisa menang. Azazel bahkan menyebut kita beruntung masih lengkap sehabis melawannya."

Walaupun Issei sudah memelankan suara saat menyebut nama pemuda yang sudah meluluhlantakkan mereka dua kali, Rias tetap bisa mendengar. Hal itu pun membuat sang pewaris klan Gremory tersentak. Dinding pelindung yang sekuat tenaga dia pertahankan runtuh. Wajah cantik gadis itu seketika menyendu ditambah mata yang berkaca-kaca dan tidak lupa perasaannya yang kembali dibuat kacau. Segera dia menundukan kepala untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya itu selagi bergumam dalam hati. "Naruto, kah?"

Beruntung atau mungkin tidak? Sebelum anggota Okarutō Kenkyū-bu menyadari apa yang terjadi pada ketua mereka, seseorang datang menyelematkan Rias dari hujan pertanyaan anggotanya.

"Azazel memang seperti itu, Rias!"

Tiba-tiba, suara yang bukan dari anggota anggota Okarutō Kenkyū-bu terdengar. Semua orang segera mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara barusan. Di sana berdiri Sirzechs Lucifer tengah tersenyum simpul ditemani oleh ratunya, Grayfia Lucifuge.

Akeno, Koneko dan Yūto segera berlutut. Sedangkan Issei dan Asia malah kebingungan dengan situasi yang tiba-tiba saja berubah hanya karena kedatangan dua iblis paling berpengaruh di dunia bawah. Anggota baru Okarutō Kenkyū-bu, Xenovia juga memasang ekspresi yang sama dengan keduanya. Lain lagi dengan Rias. Gadis berambut merah crimson itu hanya menolehkan kepala dan memandangi sang kakak dengan kening mengkerut, bingung atas pernyataan beberapa detik yang lalu.

Masih mempertahankan senyum simpulnya, Sirzechs kembali berbicara. "Azazel tidak akan bertingkah seperti yang Kokabiel lakukan beberapa hari lalu. Dia mungkin suka membuat lelucon seperti sebelumnya. Gubernur Jendral akan datang lebih cepat dari tanggal yang direncanakan." sedetik kemudian, senyum di wajah Sirzechs menghilang digantikan dengan ekspresi yang mengungkapkan sebuah penolakan . "Namun, aku tidak setuju dengan leluconnya yang kedua itu."

Menyadari perubahan tiba-tiba dari pemimpin fraksi iblis. Issei dan Asia salah menyangka kalau Maōu satu itu tersinggung mereka tidak membungkuk hormat, atau mungkin Asia belum mengetahui secara pasti siapa pria berambut merah seperti Raja-nya itu. Segera Issei membungkukkan badan seperti yang dilakukan Akeno, Koneko dan Yūto. Melihat tindakan pemuda berambut coklat itu, Asia ikut melakukan hal yang sama menyisahkan Xenovia, yang sepertinya masih kebingungan.

Rias segera berdiri. Ia mengetahui kalau ucapan kakaknya barusan itu berkaitan dengan pemuda yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini. "Apa maksud Onii-sama tidak setuju?"

"Aku tahu persis level kekuatannya, begitupun dengan sifatnya. Tidak mungkin untuknya membunuh salah satu diantara kalian malam itu." jelas Sirzechs. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke anggota peerage sang adik. Kembali, senyum bersahabat tercetak di wajahnya. "Kalian, santai saja. Aku datang karena urusan pribadi hari ini."

Usai Sirzechs mengucapkan itu, Issei bersama yang lain kecuali Xenovia dan Rias menegakkan kepala mereka serentak. Setelahnya, terjadi sedikit percakapan antara Sirzechs dan Rias. Mereka berdua membahas soal ruangan yang bisa-bisanya dipenuhi oleh gadis-gadis walau banyak ornament lingkaran sihir khas iblis menghiasi.

Setelah basa-basi mereka berakhir, Rias mulai mengeluhkan kedatangan sang kakak yang menurutnya sangat mendadak. Dia merasa kalau kedatangan sang kakak bukan tanpa alasan, dan dia perlu mengetahui itu.

Saat itulah Sirzechs mulai menjelaskan maksud kedatangannya.

"Tentu saja aku kesini karena kunjungan kelas sudah dekat. Aku juga ikut serta. Apalagi aku ingin melihat adikku bekerja keras dalam pendidikannya, dan juga keadaannya setelah hari itu."

Seseaat, Rias terkejut mendengar alasan yang terlontar dari mulut kakaknya. Menolehkan kepala satu-satunya orang—iblis yang menjadi alasan kenapa sang kakak mengetahui soal kunjungan kelas. "Grayfia-nee, kan?" dia mendelik sesaat wanita berambut perak itu. Rias sebenarnya tidak suka apabila urusan pribadinya dicampuri lebih jauh oleh seseorang, terutama sang kakak yang kadang berlebihan mengambil tindakan. Apalagi soal urusannya dengan Naruto yang saat ini tengah sangat membebani pikirannya sampai ke titik dimana dirinya tidak bisa tidur nyenyak, dan dia mengetahui kalau ketidaksetujuan sang kakak terhadap lelucon kedua dari orang bernama Azazel menyangkut soal pemuda itu. "Kau yang memberitahukan hal ini pada Onii-sama?"

Dengan cepat Grayfia merespon. "Ya, laporan dari sekolah datang dengan cepat, dan keluarga Rias-ojousama mempercayakannya kepadaku. Tentu saja karena aku Queen Sirzechs-sama, hal itu harus kulaporkan pada beliau." dia kemudian menolah ke rajanya sebelum mendesah dalam hati yang disambung dengan sebuah ucapan. "Ditambah lagi Sirzechs-sama yang selalu memikirkanmu sampai menelantarkan sebagian besar pekerjaannya."

Rias mendesah lelah. Dia sadar bila meminta alasan yang lebih jelas ke kakak iparnya hanya akan berakhir sia-sia. Keseluruhan jawaban yang terlontar dari mulut Grayfia sudah dia prediksi akan lari ke status sebagai kepala pembantu keluarga Gremory.

Lain lagi dengan anggota Okarutō Kenkyūbu. Mereka berpikir jika sang ketua sama sekali tidak tertarik dengan kunjungan kelas, tidak suka apabila keluarganya datang berkunjung.

"Meskipun tugasku sebagai Maōu itu berat, biarpun harus mengambil izin dari pekerjaanku, aku ingin hadir di kunjungan kelas adik perempuanku dan melihat keadaannya." Sirzechs berhenti sejenak dan memperlihat senyum yang entah kenapa membuat Rias semakin khawatir. "Dan jangan khawatir. Otou-ue akan datang juga."

"I-itu tidak benar. Bukankah Onii-sama adalah Maōu?" Rias menyela cepat dengan sebuah pertanyaan. Kadang-kadang, penyakit Siscon kakaknya membuat dia sering dilanda situasi memalukan. Bukannya dia tidak ingin diperhatikan oleh keluarganya terutama sang kakak. Dia hanya merasa kalau sang kakak yang sekarang ini lebih perhatian dibanding satu bulan yang lalu, yang mana tidak bisa berbuat banyak ketika terjerat status tunangan Riser Phenex. "Meninggalkan pekerjaan dan datang kesini? Maōu tidak bisa memperlakukan satu iblis saja secara istimewa. Kenapa Onii-sama tiba-tiba jadi begini sih?!"

Senyum Sirzechs semakin melebar. "Tidak, tidak!" sanggahnya selagi mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. "Ini juga bagian dari pekerajaanku, Rias. Sebetulnya tempat konferensi antara tiga fraksi sudah kutetapkan, tinggal menginspeksi saja. Tempatnya adalah sekolah ini."

Dengan itu, Sirzechs menjatuhkan bom pada ruang utama Okarutō Kenkyū-bu.

Mata Rias melebar terkejut akan informasi barusan. "...Disini? Sungguh?" tanyanya memastikan.

Sama halnya dengan pewaris klan Gremory itu, semua orang yang berada di ruangan kecuali Sirzechs dan Grayfia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka atas informasi barusan. Mereka semua tidak menyangka pertemuan yang kemungkinan besar menjadi penentu masa depan dunia akan dilakukan di Kouh Gakuen (Kuoh Academy). Untuk memperjelas sekolah ini dipilih, Sirzechs segera mengucapkan alasannya memilih sekolah ini.

"Aah, begini. Aku merasa sekolah ini entah kenapa sangat diikat oleh takdir. Adik perempuanku, kau..." Sirzechs mengarahkan pandangan ke sang adik lalu berpindah ke iblis-iblis muda lain di ruangan tersebut. "Sang Sekiryūtei (Red Dragon Emperor) legendaris, pengguna Seimaken, Seiken Dyurandaru (Holy Sword Durandal), adik perempuan Maōu Serafall Leviathan juga berdomisili disini." dia berhenti menciptakan jeda sesaat untuk menghirup oksigen. "Kokabiel dan kelompok Naruto menyerang tempat ini, tempat tewasnya salah satu petinggi fraksi malaikat jatuh yang mana Kokabiel sendiri orangnya di tangan dua manusia berkekuatan misterius, dan pertarungan yang membuat dunia bawah sempat dilanda kegelisahan hampir kehilangan salah satu pewaris klan yang tersisah dari tujuh puluh dua pilar. Ini adalah fenomena yang kurang tepat disebut sebagai kebetulan. Kekuatan dan kejadian besar terus berkumpul disini, seperti gelombang. Kupikir dua orang yang menggerakkan arus ini adalah Sang Sekiryūtei —Hyōdō Issei dan Uzumaki Naruto."

Selesai memberikan penjelasan yang cukup panjang dan nampaknya sudah dimengerti oleh semuanya, Sirzechs mengalihkan perhatian ke sang adik dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah serius. "Dan berbicara soal Naruto... Kemungkinan besar dia dan kelompoknya akan ikut serta dalam konferensi mendatang."

"Na-Naruto?" untuk kedua kalinya, Rias kembali meminta sebuah kepastian. "Onii-sama, kau tidak bercanda, kan?"

Sirzechs menggeleng pelan. "Aku serius, Rias. Mau tidak mau, jika tidak ingin menjadi buronan tiga fraksi besar, mereka harus ikut serta dalam konferensi nanti. Itu karena ikut campurnya mereka dalam urusan antar tiga fraksi ini, bahkan sampai membunuh petinggi Grigory. Selain itu, pihak kita—Iblis juga membutuhkan informasi yang lebih detail tentang penyerangan yang dia lakukan terhadap kalian." jelas pria pemegang gelar iblis terkuat di Underworld itu diakhiri pandangan dengan mata yang sedikit disipitkan melihat reaksi berlebihan dari adiknya menanggapi kalimat terakhir.

"Lain daripada semua yang kusampaikan barusan... Senang bisa melihat keadaanmu sudah mulai membaik dari kemarin-kemarin, Imouto."

Rias membalas senyum kakaknya, namun miliknya terkesan sangat-sangat dipaksakan dan tidak ada yang menyadari hal tersebut. "Lebih baik darimananya? Kedatangan Onii-sama dan langsung menyebut-nyebut dia malah semakin memburuk keadaanku."

Aah, memang benar kalau kedatangan Sirzechs dan Grayfia berhasil menyelamatkan Rias dari terbongkarnya rahasia yang terjadi antara dia dan Naruto. Namun, sisi buruknya, gadis berambut crimson itu harus dibuat merasakan kembali senbuah penyesalan teramat sangat sudah menyia-nyiakan pemuda yang ternyata sangat mencintai dirinya tanpa pandang apapun.

Sementara sisi baiknya, Rias mendapat informasi bahwa beberapa hari lagi dia akan bertemu dengan pemuda yang belakangan ini sering membuatnya sulit tidur nyenyak di malam hari. Dan pada saat hari itu akan tiba nantinya, dia ingin memastikan sesuatu sesudah meminta maaf secara langsung di depan pemuda itu. Maka dari itu, dalam beberapa hari ke depan dia harus mencoba untuk terlihat seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang mengganggu beban pikirannya di depan anggota Okarutō Kenkyū-bu.

Selagi berharap tak ada seorang pun yang menyadari masalahnya ini.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya, berpindah lokasi ke Kyoto. Lebih tepatnya kediaman megah pemimpin Kyoto Youkai-ha (Kyoto Youkai Faction) yang ditempati oleh Naruto dan kelompoknya.

Sarapan baru saja selesai, tidak seperti biasanya setelah kegiatan rutin tersebut selesai, Naruto tidak langsung melatih Yuki dan Kunou. Dia memilih untuk berdiam diri dalam kamarnya. Dalam keadaan berbaring menatap langit-langit, dia memijit frustasi keningnya.

Tiga hari telah berlalu sejak perubahan tiba-tiba Madara dan insiden yang hampir membuat kepalanya ditembus sebilah katana tajam. Sejak saat itu Madara bersama Hashirama dan Hilda terus meminta kepadanya untuk di kirim reruntuhan Konohagakure no Satu (Hidden Leaf Village) menggunakan tehnik teleport berbasis Senjutsu (Nature Energy) miliknya. Dan kembali, hari ini kejadian yang sama kembali terjadi. Madara meminta ditransfer ke Konoha untuk berlatih sehabis sarapan. Kadang, dia bertanya-tanya kenapa latihan mereka bertiga selalu dilakukan di Konoha dan sang keturunan terakhir Uchiha yang dengan tegas nan pedas akan menolak apabila meminta untuk ikut serta.

Belum lagi alasan dibalik perubahan Madara yang sampai saat ini masih menjadi salah satu dari sekian banyak beban pikirannya.

"Haaah...!" Naruto mendesah pelan sebelum bangkit dari tempat tidurnya. "Dasar merepotkan." keluhnya sesaat setelah berdiri tegak di samping perabotan yang wajib ada di setiap rumah itu. Sebelum beranjak keluar kamar, dia meregangkan beberapa bagian tubuhnya yang terasa kaku hampir satu setengah jam lamanya berbaring. "Mudah-mudahan saja perubahan muka tripleks menyebalkan itu cepat selesai." harapnya selagi melangkahkan kaki keluar kamar.

Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor panjang kediaman ibu angkatnya, saku sebelah kiri celana selutut yang ia pakai tiba-tiba bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk ataupun pesan singkat dari satu diantara tiga orang yang memiliki nomor baru miliknya. Segera dia merogoh saku asal getaran itu berasal dan melihat nama yang tertera pada layar smartphone itu. "Irina?" keningnya sedikit mengkerut, tidak biasanya gadis mantan pemegang Excalibur Mimic itu menelpon di jam segini. Karena penasaran, dia menekan tombol terima.

"Halo...halo?"

[Halo juga Naruto-kun...]

Di ujung saluran telepon, Naruto mendengar suara khas seorang gadis remaja membalas sapaannya dengan ceria. "Aah, tumben kau menelpon sepagi ini, Irina. Ada apa gerangan?"

[Mouu... Naruto-kun. Kenapa sih setiap berbicara denganmu, kau selalu saja bertanya langsung ke intinya?]

"Aah, maaf, maaf. Itu sudah menjadi kebiasaaku." kontener Kurama terkekeh pelan sejenak saat mendengar dengusan sebal di ujung saluran komunikasi. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu?"

[Baik Naruto-kun. Terima kasih sudah bertanya.]

Kontener Kurama tersenyum kecil. "Sama-sama."

[Naruto-kun sendiri, bagaimana kabarmu?]

"Yaa... Kalau mau dibilang, sedikit pusing memikirkan beberapa masalah." jawab Naruto dengan suara yang sedikit dipelankan. Itu karena sembari menelpon, dia juga berjalan dan kebetulan posisinya saat ini berada tepat di depan pintu masuk ruang kerja ibu angkatnya. Dia takut kalau ibu angkatnya mengetahui kalau sedang bertelpon ria dengan seorang gadis, bisa-bisa sifat penggoda ibu angkatnya kembali kumat, dan dipastikan itu sangatlah merepotkan untuk dilawan.

"Jadi...untuk apa kau menelpon pagi-pagi begini?"

Beberapa detik setelah pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, Naruto hanya bisa mendesah atas jawaban yang diberikan oleh Irina. Sepertinya, masalah yang lebih merepotkan sudah menanti dia dan keluarga kecilnya beberapa hari lagi. Entah bagaimana caranya dia harus memberitahu Madara dan Hashirama, atau lebih tepatnya cara untuk mengajak mereka berdua untuk mengikuti apa yang baru saja diberitahukan oleh mantan pemegang Excalibur Mimic itu.

"Sebenarnya, apa yang salah dengan kami? Satu saja belum selesai, malah bertambah lagi." pikir keturunan Lucifer orisinil itu lesuh. "Entah masalah yang senang mencari kami, atau kami yang senang mencari masalah? Terkadang aku bingung dengan hal ini."

Terpaksa hari ini latihan Yuki dan Kunou harus ditunda Naruto, ada sesuatu yang harus dia sampaikan ke tiga shinobi anggota keluarganya. Yang mana hal tersebut mengharuskan dia menyusul ketiga orang tidak normal itu di desa tempatnya belajar banyak hal, sekaligus menjadi tempat penuh kenangan indah bercampur pahit.

"Aah, sungguh merepotkan!"

.

.

.

.

.

Dua ledakan besar mengakhiri sebuah pertarungan hebat di sebuah hutan yang sudah luluh lantak. Pohon tumbang dimana-mana, kawah berbagai ukuran dan bentuk tersebar di beberapa tempat, dan puluhan kepulan debu mengepul tinggi ke langit. Pada radius dua kilometer, tiga susun lapisan pelindung terlihat disana. Lapisan pelindung yang berguna untuk menahan pancaran kekuatan yang dipakai mahluk di dalam sana yang tengah bertarung tidak tidak terdeteksi. Saking kuat dan efektifnya lapisan pelindung berbasis Kekkai Ninjutsu (Barrier Ninja Technique) itu sampai-sampai eksistensi sekelas Super Devil ataupun Seraph tak mempu mengetahui apa yang sedang terjadi di dalamnya, sekaligus membuktikan bahwa keturunan dari Kaguya Ōtsutsuki tidak boleh dipandang sebelah mata oleh mahluk-mahluk lainnya.

Di tengah-tengah area yang seperti habis disapu angin topan itu, dua pria yang sudah tidak terbentuk lagi pakaiannya saling berhadapan dengan nafas tersenggal-senggal.

Pria yang pertama adalah Madara Uchiha. Mata berhias pupil berwarna merah menyala dengan symbol aneh milik pria itu memandang kesal ke lawan. "Jangan menahana...ha...ha...diri, Dobe." seru Madara dengan nafas yang tersenggal-senggal habis melawan sahabatnya dalam adu kekuatan dalam masing-masing gaya bertarung khas ninja. "Gunakan Sennin Mōdo (Sage Mode) milikmu!"

Lawan Madara yang tentu saja sudah diketahui adalah Hashirama Senju tersentak. "Kau gila, hah? Kita sudah berlatih tanding dengan serius selama hampir satu jam dan kau masih ingin melanjutkan? Sampai harus menggunakan Sennin Mōdo milikku?"

Madara hanya diam selagi merilekskan beberapa anggota tubuhnya yang mulai kelelahan. Tindakan itu tentu saja sudah lebih dari cukup sebagai jawaban untuk Hashirama. Menghela nafas pajang, mantan Hokage itu memandang rival-sahabatnya itu dengan pandangan meminta kepastian. "Kau yakin?"

"Tentu saja, tukang judi sialan!"

Untuk kedua kalinya, Hashirama menghela nafas. "Baiklah kalau itu maumu." dia segera menyatukan telapak di depan dada, tidak lupa menutup mata. Beberapa detik berselang, pigmen kemerahan muncul dibawah dan sekitar mata yang terpejam, dan juga pada bagian tengah kening. Kini masuklah mantan pemimpin Konohagakure no Sato itu dalam mode terkuatnya. Dia membuka mata dan memandang sahabatnya dengan senyum mengejek. "Jangan sampai menangis kalau sampai kau kubuat melihat langit biru, Teme."

Madara membalas dengan senyum yang sama. "Heh, itu pun kalau kau bisa, Dobe." dan seolah tidak ingin disaingi oleh sahabatnya, aura biru mulai berkumpul di sekitar tubuh Madara, memadat dan menyatu membentuk dua lengan mahluk astral serta susunan tulang rusuk yang berguna sebagai tameng tak tertembus. Karena sudah tidak sabar lagi untuk menghajar Hashirama sekaligus berharap kebodohan sahabatnya itu sedikit menurun, dia merangsek maju dengan kecepatan tinggi bersama tehnik Incomplete Susano'o miliknya. "Saatnya menambah tempo tariannya—"

Melihat Madara mengambil inisiatif pertama untuk menyerang, Hashirama ikut merangsek ke depan dengan kecepatan yang melebihi sahabatnya itu.

"—TUKANG JUDI SIALAN!"

"TERSERAH KAU, MUKA TEBING BRENGSEK!"

""HIIEEEEAAHHHHH""

Dan latih tanding mereka pun berlanjut dalam skala yang lebih besar. Hashirama dengan Sennin Mōdo, sedangkan Madara dengan Susano'o (Tempestour God of Valour). Yang mana sudah bisa dipastikan kalau ronde ke sekian pertarungan mereka ini akan semakin memperparah kerusakan yang terjadi di area hutan itu.

.

.

.

.

.

.

.

Vali Lucifer atau yang lebih dikenal sebagai Hakuryūkō (White Dragon Emperor) tersenyum kecil selagi memandangi bangunan sekolah Kouh Gakuen (Kuoh Academy). Rambut perak gelapnya melambai-lambai terkena hembusan angin. Hari ini, aktivitas belajar Kuoh Gakuen sedang diliburkan sehingga hanya ada beberapa murid saja yang berada disana, termasuk anggota Okarutō Kenkyū-bu yang ditugaskan untuk membersihkan kolam renang oleh ketua osis, Sona Shitori.

Setelah hampir 5 menit lamanya Vali memandangi bangunan sekolah yang akan menjadi lokasi konferensi tiga fraksi, dia menyadari kedatangan seseorang dari arah berlawanan dari pandangannya, dan sangat hafal betul sensasi dari orang itu.

"Hmmn, sekolah yang bagus, ya?"

"...Ya...lumayan sih..."

Seseorang yang menghampiri pemuda keturunan Lucifer itu menjawab ragu. Vali memutar tumit kiri searah jarum jam sehingga membuat posisinya berhadapan langsung dengan orang yang datang menghampiri. Dengan jarak kira-kira lima meter, dia membalas senyum yang dipaksakan orang di depannya, seorang pemuda berambut coklat dan mengenakan seragam Kouh Gakuen.

Sempat terjadi keheningan diantara mereka berdua sampai Vali mengatakan serentetan kalimat yang tak pernah dibayangkan oleh pemuda di depannya.

"Aku Vali, Hakuryūkō—Vanishing Dragon."

"Hah?"

"Ini pertama kalinya kita bertemu Welsh Dragon—Sekiryūtei, Hyōdō Issei."

Sesaat pemuda yang diketahui adalah Issei Hyōdō itu dilanda kebingungan. Di sama sekali tidak paham maksud dari perkataan pemuda di depannya. Maklum saja, ini adalah pertemuan pertamanya dengan pemuda yang mengaku sebagai Hakuryūkō itu. Hingga pada akhirnya lengan kiri Issei merespon perkataan Vali atau lebih tepatnya naga yang bersemayam dalam tubuh pemuda itu, lengan yang menjadi tempat Boosted Gear itu tiba-tiba saja diserang hawa panas teramat sangat. "Ughhhh~! Ddraig, apa yang terjadi? Ke-kenapa tanganku serasa terbakar?!"

[Tenangkan dirimu, Aibo (Partner). Ini hanya sensasi biasa ketika dua pemilik naga surgawi bertemu]

"Pemilik naga surgawi? Ja-jangan bilang kalau dia ini Si Putih yang dimaksud Xenovia?" ya, Issei sudah mengetahui soal si putih dan takdir yang mengikatnya sebagai pemilik dari Nitenryū (Two Heavenly Dragon). Kira-kira sehari sebelum insiden Kokabiel, di gereja terbengkalai bekas markas Raynare dan tempat yamg menjadi saksi peristiwa penyelematan Asia Argento, Xenovia memberitahukan yang diketahui tentang Nitenryū kepada Issei. "Hey, Ddraig, ini bukan sebuah candaan 'kan? Kami akan melakukan pertarungan rival di tempat ini?"

[Itu tergantung dengan pemilik si putih di depanmu. Jika dia ingin bertarung, maka satu-satu cara—]

"Tu-tunggu sebentar!" sela Issei cepat sebelum mengutarakan alasan menyela naga yang bersemayam dalam tubuhnya itu."Kau tahu sendiri kalau aku ini masih lemah. Bahkan mencapai mode Balance Breaker saja baru dua kali, itupun tidak sempurna. Kalau sampai dia ingin bertarung, aku bingung harus melawan atau...lari."

Melihat wajah Issei yang semakin bingung dan bertambah pucat, Vali memberikan senyuman aneh kepada pemuda itu. "Itu benar, untuk contoh, kalau kugunakan semacam sihir pada Hyōdō Issei disini—"

Namun, sebelum kalimat tersebut diselesaikan oleh sang keturunan Lucifer selain Naruto, yang mana disaat bersamaan tangan kanannya hampir mencapai hidung Issei, dua pedang yang berbeda bentuk dan warna namun memiliki kesamaan dalam aura menyerbu leher Vali. "—Hmmn?" selagi mengelurkan suara gumaman rendah, mata biru sedingin kutub utara itu melirik sekilas secara bergantian ke kiri dan kanan, melihat dua orang yang tiba-tiba muncul dengan kecepatan dewa.

Di kedua sisi sang Hakuryūkō adalah Kiba dan Xenovia. Mereka memegang Holy Demonic Sword dan Holy Sword Durandal. Sama dengan aura yang dikeluarkan dari kedua pedang tersebut, masing-masing pemiliknya meruncingkan pandangan, sampai terlihat begitu menyeramkan terutama bagi Issei yang sama sekali tidak menyadari kedatangan keduanya.

Semakin menatajamkan penglihatan masing-masing, Kiba dan Xenovia mengeluarkan kalimat secara bergantian dengan suara pelan dan dalam namun mengerikan.

"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi bukanlah leluconmu sudah berlebihan?"

"Kami tidak akan membiarkan kau bertarungan melawan rivalmu disini, Hakuryūkō."

"Lebih baik kalian hentikan itu." Vali berujar datar tanpa sedikit pun rasa takut ikut di sana, bahkan ketika dua bilah pedang tajam yang kapan saja bisa memisahkan kepala dan tubuhnya. Penyebabnya tentu saja karena dia melihat dengan sangat jelas apa yang terjadi dengan tangan kedua knight keluarga Gremory itu. "Bukankah tangan kalian berdua gemetaran?"

Kiba dan Xenovia mempererat pegangan mereka pada pedang masing-masing, namun ekspresi wajah mereka menjadi kaku.

Vali menyungging senyum mengejek kepada keduanya. "Membual itu tidak apa-apa. Tak memahami perbedaan kekuatan dengan lawanmu adalah bukti terkuat—diantara kita, terdapat perbedaan kekuatan yang jauh." senyum mengejek Vali semakin melebar dan terlihat jelas dimata Kiba, Issei dan Xenovia. "Kalian yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa di depan orang macam Kokabiel tak akan sanggup melawanku."

Ekspresi kaku kedua knight Gremory disana pun semakin terlihat jelas. Di pikiran mereka, seberapa kuat sebenarnya pemegang Divine Dividing yang sekarang sampai memandang rendah salah satu petinggi Grigory bernama Kokabiel, yang mana dengan gabungan kekuatan mereka semua tidak mampu menang dengan ucapan 'Orang macam...'

Namun, beberapa detik berselang setelah terjadi keheningan. Seringai Vali menghilang, yang ada sekarang adalah sebuah ekspresi penuh amarah dan kebencian. "Namun, aku tak bisa menerima bahwa dia dibuat sekarat oleh kalian yang bisa dibilang hanyalah semut-semut kecil di depannya." terlontar pernyataan ini membuat ketiga orang di dekat Vali meneguk kasar ludah. Kemudian, bola mata sedingin kutub utara itu beralih ke Issei. Saat pendangannya sudah terkunci pada pemuda itu, dia menghilangkan ekspresi mengerikannya dan menghela nafas yang sedikit memancarkan kekecewaan. Mungkin karena pemilik dari rival Sacred Gear-nya sangat lemah. Padahal, dia sangat ingin mendapatkan rival yang sebanding agar bisa menjadi yang terkuat. Ya menjadi terkuat agar bisa menang melawan dua orang yang menjadi target utamanya.

Dan kemungkinan besar kedua orang itu adalah Naruto Uzumaki—Aah, Naruto Lucifer dan kakeknya, Rizevim Livan Lucifer.

"Hyōdō Issei, sebagai seorang Sekiryūtei yang namanya sudah melegenda sejak Great War berakhir, menurutmu berapa peringkat kekuatanmu di dunia ini?"

Walau Vali sudah menghilangkan tatapan penuh amarah dan kebencian, Issei masih tetap merasa ketakutan dengan mata pemuda di depannya. Menahan rasa takut itu, dia berpikir keras tentang motif sejati dari pemuda yang merupakan lawan masa depannya itu.

"Dihitung dari atas kondisi Balance Breaker milikmu yang belum sempurna, mungkin bernomor empat digit—diantara seribu sampai seribu lima ratus. Tidak, untuk pemilik mesum, mungkin lebih rendah lagi?"

Tanpa menunggu respon dari Issei atas pertanyaan meremehkannya itu, Vali melanjutkan. "Ada banyak orang-orang kuat di dunia ini. Bahkan Maōu Lucifer yang sekarang, Sirzcehs Lucifer, tak akan masuk peringkat sepuluh besar."

"A-ap-apa? Masih ada yang lebih kuat dari Sirzechs-sama?" pekik Issei dalam hati terkejut sampai tidak mampu untuk membayangkan sekuat apa orang-orang yang menduduki peringkat 10 besar.

Tidak hanya Issei. Kiba dan Xenovia pun berpikir demikian.. Sirzechs Lucifer, Iblis yang dijuluki Strongest Devil tidak masuk dalam hitungan orang kuat milik Vali? Kalau sudah seperti itu, sekuat apa orang-orang yang berada di tingkat sepuluh besar itu. Memikirkan itu saja membuat setetes keringat mengucur di wajah ketiganya. Untungnya kedua knight Gremory itu masih mampu mempertahankan ekspresi normal di wajah mereka agar tidak terlihat ketakutan.

Lalu, masih dalam keadaan leher terkepung dua pedang beraura suci, Vali mengacungkan jari telunjuk dan tengah, ditujukan untuk Issei yang masih berkutat dalam pikiran sendiri. "Namun, posisi pertama dan kedua telah ditentukan. Posisi kedua diduduki oleh eksistensi yang tak tertandingi..." ia memberi jeda sejenak yang mana secara bersamaan menurunkan jari tengah menyisahkan jari telunjuk. "Dan untuk posisi pertama dipegang oleh—"

"Apa maksud dari tindakanmu ini, Hakuryūkō?"

Namun, sebelum Vali sempat menyebutkan siapa yang menduduki posisi pertama dalam daftar orang yang paling dia lawan. suara yang sangat dikenali oleh Issei, Yūto dan Xenovia terdengar dari arah belakang pewaris dari Divine Dividing itu. Saat mereka bertiga mengarahkan pandangan ke sumber suara tadi, Rias Gremory ditemani sang ratu Akeno Himejima disusul oleh Koneko dan Asia berjalan mendekat.

"Buchou!" pekik Issei diikuti helaan nafas lega sebelum bersyukur akan kemunculan Rias yang menurutnya akan membuat Vali urung melakukan pertarungan pemilik Nitenryū. "Aku selamat!"

Lain lagi dengan Yūto dan Xenovia. Mereka mengendurkan kuda-kuda bertarung, lalu meniadakan pedang masing-masing diikuti jejak cahaya merah kehitaman untuk Yūto dan kuning keemasan khas pedang suci Durandal milik gadis berambut biru itu. Setelahnya, mereka berjalan menghampiri Rias yang sudah berada di samping kiri Issei.

Sempat terjadi keheningan yang begitu mengcekam di depan gerbang di Kouh Gakuen. Hampir semenit lamanya, baik Vali maupun kelompok Okarutō Kenkyū-bu tidak ada yang bersuara. Saling tatap mereka pun sama-sama mengeluarkan aura mengintimidasi yang kuat sampai-sampai tangan Rias, Issei dan Asia mengeluarkan keringat dingin. Menahan rasa gugupnya, Rias akhirnya buka suara menghancurkan kehingan melanda mereka.

"Kutanya sekali lagi, Hakuryūkō..." Rias memberi jeda sejenak, matanya memicing tajam. "Apa maksud dari tindakanmu ini? Kalau kau memiliki ikatan dengan malaikat jatuh, maka kontak yang lebih diperlukan itu—"

"Huh!" dengus Vali cepat, menghentikan ucapan gadis berambut merah crimson didepannya itu. "...Nitenryū, naga yang dijuluki seperti itu, Welsh Dragon dan Vanishing Dragon. Di masa lalu keduanya tidak menjalani hidup yang memuaskan—Lantas bagaimana akhir darimu bila terlibat lebih jauh daripada ini?"

Menanggapi pertanyaan barusan, Rias hanya bisa terdiam.

Sedangkan Issei yang melihat hal tersebut dibuat sedikit penasaran, apa ketuanya sedang memikirkan dirinya atau sesuatu lain yang menyangkut pertanyaan dari pemuda berambut perak di depan mereka itu.

Melihat tidak adanya respon berarti dari Rias maupun anggota Okarutō Kenkyū-bu, Vali akhirnya menyampaikan niat sebenarnya dia mengunjungi sekolah ini. "Aku tidak datang kemari untuk bertarung melawan Hyōdō Issei. Aku hanya mengunjungi sekolah yang sepertinya akan menjadi tempat berbeloknya sebuah takdir yang sudah ditentukan sejak dahulu kala. Selain daripada itu, aku datang ke Jepang sambil menemani Azazel, dan yang terpenting... Aku tidak punya banyak waktu walau sekedar untuk meladeni kalian."

Usai mengatakan serentakan kalimat yang membuat banyak tanda tanya di kepala Rias dan yang lain itu, Vali melangkahkan kaki dari tempatnya berdiri, berjalan melewati kelompok itu tanpa menoleh sedikit pun. Namun, setelah jarak sudah tercipta hampir 10 meter jauhnya, Vali berhenti dan menoleh ke belakang.

"Dan satu lagi..." mata Vali menyipit tajam, iris biru es itu semakin terlihat lebih dingin dari sebelumnya. "Kuperingatkan padamu Rias Gremory. Dengarkan baik-baik! Jangan terlibat lebih jauh lagi dengannya kalau tidak ingin terjadi apa-apa pada dirimu ataupun orang terdekatmu. Mungkin sekarang ini dia masih terlihat biasa-biasa saja, namun cepat atau lambat dia akan segera memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia adalah monster berdarah dingin yang siap—"

"Tunggu sebentar, Hakuryūkō!" sahut Rias cepat memotong kalimat Vali. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan pemuda di depannya itu.. "'Terlibat lebih jauh', 'Siapa dirinya yang sebenarnya', 'monster berdarah dingin'. Apa kau sedang membicarakan seseorang yang pernah kulawan bersama peerage-ku?"

Sejauh ini, dia tidak pernah berurusan dengan orang yang Vali kenal. Dalam daftar orang-orang atau kelompok yang pernah dilawan dan sebagian besar dikalahkan oleh kelompok Okarutō Kenkyū-bu adalah kelompok Raynare dalam insiden penyelamatan Asia, Riser Phenex bersama peerage dalam rating game yang mempertaruhkan status tunangannya bersama keturunan Phenex itu, Kokabiel dalam insiden diculiknya pecahan Excalibur, dan terakhir adalah Naruto dan kelompoknya.

"Atau jangan-jangan..." kemudian, Rias akhirnya tersadar. Hanya satu orang yang berpotensi bisa menjadi lawannya selanjutnya. "... Orang yang kau bicarakan itu—"

"Ya." Vali mengangguk lemah. "Naruto—Uzumaki Naruto!"

"I-itu tidak benar, Hakuryūkō!"

"Apanya yang tidak benar? Asal kau tahu saja, dia memiliki kemampuan untuk membuat orang-orang disekitarnya berpikir dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Kemudian, saat semua sudah sesuai dengan apa yang dia harapkan dalam rencananya, kau akan dibuat hancur sampai menyesal sudah mengenalnya."

Vali lalu mengembalikan pandangan ke depan dan berkata tanpa sedikit memperlihatkan ekspresi yang tercetak di wajahnya. "Dan salah sangka dulu, aku memperingatkanmu bukan karena peduli atau apa, aku hanya tidak ingin kehilangan rivalku begitu cepat karena berurusan dengan dia." dia berhenti sejenak, memasukkan kedua tangan di saku celan lalu memberika kalimat terakhir yang mungkin saja bisa merubah pemikiran gadis crimson di belakangnya.

"Ingatlah pesanku tadi Rias Gremory... atau kau akan menyesal seumur hidupmu—Tidak, tidak! Bahkan setelah kematian pun kau akan menyesalinya!"

Rias hanya bisa terdiam sehabis Vali memberikan pesan terakhirnya. Mata beriris blue-green itu terus menatap tidak percaya akan ucapan pemuda berambut perak yang sudah melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Hampir semenit lamanya Rias memandangi punggung lebar pemuda berambut perak yang sudah hampir menghilang dari garis penglihatannya, dia kemudian menutup dan mencoba untuk memikirkan semuannya.

Apa memang Naruto adalah seseorang seperti yang dibicarakan oleh si Hakuryūkō barusan? Kalau memang benar, itu berarti semua ini termasuk rencana Naruto. Mulai dari Naruto yang secara suka rela menerima permintaan kakaknya—Sirzechs untuk menjadi pengawalnya. Lalu setelah beberapa tahun, dan dia mulai mempercayai Naruto, pemuda itu mengambil langkah selanjutnya untuk menguji rasa percaya dia dengan menghilang dari dunia bawah. Dalam kurung waktu yang cukup lama, dia mempercayai pemuda itu akan kembali ke dirinya, namun kenyataan berkata lain. Naruto tidak kembali, menginkari janji yang telah dibuat dan menyebabkan sang sahabat—Karin Andrealphus harus tewas dengan cara mengenaskan.

Disitulah titik balik berubahnya rasa percayanya berubah menjadi sebuah kebencian.

Puncaknya, saat hari pertungan Rias dan Riser. Naruto muncul sebagai ksatria yang menyelematkannya dari jeratan putra kedua keluarga Phenex itu. Bertarung atas namanya dan berhasil menang. Mengingat hari membuat Rias berpikir kalau apa yang direncanakan oleh Naruto hancur pada hari itu. Bukannya berterima kasih atau apa, dia malah mengutarakan rasa bencinya secara terang-terangan.

Rias mengerang dalam hati. Kembali, gara-gara mengingat hari itu, rasa sesal muncul dalam hatinya.

Dengan perasaan yang entah kenapa begitu sakit rasanya itu, Rias kembali mengingat, memikirkan dan mencoba merangkai semuanya. Jika memang semua ini adalah rencana Naruto, artinya perasaan pemuda itu ke dia juga termasuk... Atau mungkin ini adalah rencana baru Naruto setelah rencana sebelumnya hancur karena kejadian pada hari pertunangannya dengan Riser.

Kalau memang seperti itu kenyataannya, artinya apa yang dikatakan oleh si Hakuryūkō benar!

Karena setelah semua yang telah terjadi diantara mereka berdua, Rias merasa kalau sekarang ini dia tengah dibuat hancur secara perlahan-lahan.

"Apa yang harus lakukan? Semua yang terjadi belakangan ini seolah sudah direncakan. Tidak mungkin jika semua ini rencana yang disusun Naruto. Sejauh ini, hanya Onii-sama yang kutahu paling mengenal Naruto, tapi kulihat Hakuryūkō juga sepertinya mengenal Naruto sebelum bertemu kami." gumam Rias dalam hati di sela-sela memikirkan tentang Naruto dan kaitannya dengan yang ucapan kakaknya kemarin dan si Hakuryūkō beberapa saat lalu. "Siapa yang harus aku percayai? Onii-sama? Hakuryūkō? Ataukah... Naruto?"

.

.

"—chō?!"

"—uchō?!"

"BUCHŌ?!"

"Ehhh?!" lamuan Rias buyar kala Akeno, Iseei dan Asia memanggilnya dengan suara yang sedikit dikeraskan. "A-ada apa?"

"Kami yang harusnya menanyakan itu." ucap Akeno mewakili. "Apa yang kau pikirkan sampai terus-terusan memandangi pemuda tadi, Buchō?"

Rias segera mengembalikan ekspresi wajahnya ke seperti biasa selagi membalas dengan jawaban seadanya. "Ie, tidak ada apa-apa. Aku hanya memikirkan apa yang Hakuryūkō katakan barusan..." kalimat tersebut sengaja digantungkan, dia kemudian menoleh ke kiri. Menatap Akeno dan Issei yang berdiri di sisi tersebut, dan untuk menambah kesan dirinya hanya memikirkan soal Issei, senyum yang terlihat sedikit dipaksakan tersungging pada wajahnya. "... dan memikirkan bagaimana cara Ise-ku yang manis ini bisa mengalahkan rivalnya itu."

Karena kegugupan yang disebabkan oleh Vali masih berbekas pada sebagian besar anggota Okarutō Kenkyū-bu. Sebagian besar dari mereka tidak mampu membaca dengan baik ekspresi dibuat-buat milik Rias. Alhasil, mereka hanya bisa mengiyakan apa yang dipikirkan oleh sang ketua, tentang cara bagaimana Issei bisa menang, atau setidaknya tidak terbunuh saat melawan sang rival suatu saat nanti.

Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Akeno yang memang sudah mengenal gadis berambut crimson itu cukup lama. Sejak kemarin, Akeno memang mulai curiga terhadap reaksi berlebihan raja-nya saat mendengar nama Naruto. "Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua." gumamnya dalam hati. Lalu dengan mata yang menyipit penuh selidik dia menolehkan kepala ke kanan dan memandang sahabatnya selama beberapa saat .

"Rias... Kau memang hebat dalam menyembunyikan isi pikiranmu di depan yang lain. Tapi, itu tidak berlaku untukku yang sudah lama mengenalmu."

Dengan sadarnya Akeno akan keanehan yang terjadi pada Rias. Apa yang diharapkan oleh sang pewaris tahta klan Gremory perlahan mulai pupus dan hanya tinggal menunggu waktu saja akan segera terungkap sebelum konferensi tiga fraksi dimulai beberapa hari lagi.

.

.

.

.

.

[Menurutku, kau sedikit berlebihan Vali]

Suara besar nan berat tiba-tiba berdengung dalam kepala pemuda berambut perak itu. "Menurutku, itu masih belum apa-apa. Lagipula, memang benar jika Rias Gremory tetap ingin berurusan dengannya, sudah dipastikan kalau ujungnya adalah... sebuah kematian!"

[Dari pihak mana?]

"Tentu saja dari pihak Rias Gremory."

[Bukannya dia itu salah satu penghalangmu? Kenapa kau malah memperingatkannya? Bagus jika gadis itu mati... Dengan kematiannya, semua akan menjadi lebih mudah]

"Hanya ingin saja. Lagipula aku tidak ingin menunggu beberapa tahun atau mungkin puluhan tahun lamanya untuk pemilik baru Welsh Dragon muncul lagi—Itu sangat membosankan, sama seperti dunia tanpa Tuhan ini... Kau tahu sendirikan seberapa mengerikannya kekuatan yang hampir menghancurkan satu klan iblis milik dia, bukan?"

[Jangan mengatakannya lagi! Beruntung waktu itu kau berhasil membangkitkan kekuatanku di detik-detik terakhir dan membagi dampak serangannya]

Suara milik Albion—naga yang bersemayam dalam tubuh Vali yang awalnya besar dan mengerikan, tiba-tiba saja berubah pelan, Tersirat pula sedikit rasa takut didalamnya. Sebuah momen langka di mana satu dari dua naga yang memporak-porandakan medan perang kala Great War berlangsung takut akan kekuatan seseorang.

Tersenyum kecil, Vali menghentikan langkah tepat sebelum memasuki sebuah perempatan pada daerah padat penduduk kota Kuoh. "Ya... Entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengatakannya. Terdengar sangat mengecewakan, bukan? Seekor naga yang begitu disegani hampir menghilang untuk selama-lamanya dari dunia membosankan ini."

[Diam bocah Lucifer sialan! Kau beruntung dipilih menjadi pemilikku, dengan begitu kau mempunyai modal besar untuk mengalahkannya. Kau harusnya berterima kasih, bukan mengejekku]

"Terserah kau saja."

[Grrrrr! Terkutuklah siapa pun wanita yang sudah melahirkan bocah merepotkan ini]

Senyum kecil Vali semakin mengembang. "Wanita yang baru saja kau kutuk adalah awal mula aku dipilih sebagai pemilikmu. Berterima kasihlah padanya sehingga kau mendapatkan partner kuat sepertiku."

[Arrggghh... Bocah bangsat! Kau makin merepotkan saja setelah mengetahui dia masih hidup. Cih! Menyesal aku meyakinkanmu untuk menerima kesepatan dengan dua ninja abnormal itu]

Dan kembali, sebuah kejadian langka terjadi. Kekehan kecil meluncur mulus dari mulut Vali sebelum mendongakkan kepala ke atas menatap langit biru yang dihiasi jajaran awan, garis yang sama seperti saat Albion kesal beberapa saat lalu kembali muncul di wajah Bishōnen miliknya.

Berbanding terbalik dengan mahluk di dalam tubuhnya, Vali tidak menyesali keputusan yang diambil beberapa hari yang lalu di desa Konoha.

Dengan membongkar masa lalu kelamnya ke Madara dan Hashirama serta Ophis, dia mendapatkan informasi yang berharga tentang apa yang terjadi antara Naruto dan Rias. Berbekal informasi tersebut, dia setidaknya berhasil untuk membuat Rias kebingungan. Itu artinya satu langkah lagi berhasil diambil untuk mencapai tujuannya yang sempat menghilang bersama ketiadaan informasi soal Naruto.

"Dengan begini, satu lagi penghalang sebentar lagi menghilang. Kini tinggal mengurus Sirzechs Lucifer, Azazel, KyumaŌ-ha dan juga kakek sialan itu..." gumam Vali dibiarkan menggantung sambil menutup mata dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka mata, memperlihatkan iris biru es yang memancarkan perasaan dalam hatinya sekarang ini.

"... untuk menyelesaikan tujuanku yang pernah hilang!"

.

.

.

.

.

Waktu menunjukan pukul 5 sore untuk wilayah Jepang dan sekitarnya. Terlihat di salah satu kamar kediaman Yasaka, Naruto bersiap untuk menjemput Madara dan Hashirama yang tengah berlatih di reruntuhan Konohagakure no Sato (Hidden Leaf Village). Namun, berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari ini tidak ada sedikit pun ekspresi tak rela terpancar di wajahnya yang disebabkan oleh tingkah seenak muka tembok Madara menjadikan tehnik teleportasi miliknya sebagai alat transportasi.

"Sekarang... Apa yang harus kujelaskan pada mereka berdua agar bisa ikut dalam pertemuan tiga fraksi nanti." gumam Naruto dengan tampilan lelah terpampang jelas di wajahnya. Lelah memikirkan cara untuk merealisasikna ucapannya. "Atau kuberitahukan saja yang Irina katakan tadi..."

Beberapa saat lamanya berpikir, Naruto pun akhirnya mengambil pilihan satu-satunya...

"Aah, sepertinya memang itu cara satu-satunya untuk mengajak mereka, terutama Madara-teme."

Dan tepat setelah itu, tanpa membuang banyak waktu lagi dia segera berangkat ke Konoha menggunakan mobil—ups, tehnik teleport miliknya.

.

.

Tiba di tempat tujuannya. Bukannya disambut atau apalah. Yang Naruto dapatkan adalah sebuah pemandangan mengerikan. Hampara hutan yang terlihat seperti habis terjadi peperangan besar di sana. Bukan hanya itu saja, beberapa detik setelah tiba mendarat di tempat itu, ledakan maha dahsyat yang terjadi beberapa kilometer dari lokasinya. Ledakan yang menurutnya tidak mungkin terjadi hanya karena latihan Madara dan Hashirama.

"Apa itu? Sebuah pertarungan?"

Mengalihkan pandangan ke sumber ledakan. Dari arah timur asap tebal bercampur debu dan berbagai macam material membumbung tinggi ke atas langit sampai menghalangi sinar orange sang mentari yang sebentar lagi tenggelam. Menyipitkan mata untuk memperjelas apa yang dilihat, dia mendapati dua bayangan besar setinggi puluhan meter dibalik kepungan asap bercampur debu disana. Salah satu bayangan itu cukup dia kenal. Salah satu tehnik milik Hashirama, kalau tidak salah bernama Mokuton: Mokujin no Jutsu (Wood Release: Wood Human Technique).

"Lalu siapa pemilik bayangan yang satunya?" tanya Naruto penasaran selagi memandangi lawan monster kayu Hashirama yang sepertinya mulai memudar. Jika itu milik Madara, dia masih belum yakin. Setahunya, pria bermuka tembok itu tidak memiliki tehnik yang bisa menciptakan mahluk sebesar milik Mokuton Hashirama barusan. "Oii, oiii... Jangan bilang kalau mereka sedang bertarung melawan seseorang?"

Tanpa menunggu lama lagi, Naruto segera melesat menuju lokasi tersebut. Menghiraukan sebuah kompleks pemakaman yang sempat dilalui pada arah kirinya, dimana pada kompleks pemakan tersebut ada satu nisan dengan tulisan nama seseorang yang sebenarnya sangat ingin dia kunjungi.

Bukan tanpa alasan dia berpikir kedua keluarganya sedang melawan seseorang. Itu karena belakangan ini dia sering khawatir tanpa mengetahui apa penyebabnya. Bisa saja perasaan itu muncul karena Madara ataupun Hashirama dibuat sekarat oleh seseorang. Selain itu, dia juga merasa sedikit kesal. Jika memang mereka berdua sedang melawan seseorang, kenapa dia tidak diajak? Padahal mereka adalah trio monster keluarga kecil ini.

"Dua orang brengsek itu... Mendapatkan sesuatu yang enak tanpa membaginya padaku! Akan kuhanguskan mereka berdua nanti!"

Sepertinya, sifat maniak bertarung Madara perlahan mulai menular ke Naruto, atau mungkin pengaruh darah Lucifer dalam nadinya mulai mencuat ke permukaan.

.

.

"Haaah..." Naruto menghela nafas pendek setibanya di ujur bibir kawah berukuran sangat besar yang tercipta dari ledakan beberapa saat lalu. "Kukira mereka melawan seseorang... Ternyata hanya latihan—Tunggu!" dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan segera mengalihkan perhatian dari Hashirama ke rival mantan Hokage itu. "Itu berarti, mahluk yang dilawan Mokujin Ossan tadi milik...Madara?" dia tentu saja terkejut mengetahui fakta tersebut, ditambah dia juga sedikit penasaran. "Apa itu Ninjutsu baru, atau Kuchiyose?"

Pindah ke pusat kawah, Madara menggumamkan dua huruf andalan klan miliknya. "Hn." dia menyadari kedatangan Naruto dan segera menolehkan kepala ke kiri yang sedikit didongakkan menuju bibir kawah yang dipijaki sekarang. "Bocah bangsat, kau terlalu cepat."

"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian." ujar Naruto cukup keras langsung ke topik utama, tidak memperdulikan delikan yang dikirim Madara kepadanya. "Ini sangat penting."

"Itu ti—"

Perkataan Madara langsung terhenti kala tekanan yang sangat berat datang menghampiri dari arah depan, disusul suara permukaan tanah yang retak. Saat pria keturunan Uchiha itu menolehkan kepala ke sumber suara retakan tadi, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di kening dan berbaur dengan keringat bekas pertarungan beberapa saat yang lalu.

Meringis pelan, Madara memandang tidak percaya bercampur sedikit rasa takut pemilik tekanan tadi. "Sialan! Sebenarnya berapa banyak stamina dan chakra yang dimiliki tukang judi sialan itu!" kira-kira, 10 meter di depannya, untuk kali kedua baginya melihat orang di depan sana memasang tampang yang begitu berat dan menakutkan untuk ditatap lama. "Bahkan setelah bertarung dengan kekuatan penuh, dia masih bisa menjadi semenakutkan ini!" batin Madara mulai merasa diungguli dua tiga langkah. "Cih! Aku harus banyak berlatih lagi. Tidak mungkin untukku tidak bisa menang melawan orang berotak kuda, tapi bermesin sepuluh ribu tenaga kuda sialan itu!"

Ya, Hashirama'lah sumber tekanan berat tadi. Mungkin mantan Hokage itu sudah habis kesabaran atas tingkah Madara ke Naruto yang sudah sangat berlebihan. "Sudah hentikan! Biarkan mereka yang menyelesaikannya. Peran kita cukup sampai disini saja, Madara." ucap Hashirama tenang, namun berbanding terbalik dengan matanya yang menyipit tajam penuh akan ancaman di dalamnya. "Lagipula, masalah mereka ini sudah ada jauh sebelum kita mengenal mereka."

Madara menyembunyikan rasa takutnya itu sangat baik sampai Hashirama maupun Naruto tidak sadar akan itu. "Huh." dia mengeluarkan suara hidung yang terdengar kesal dan tidak terima atas pernyataan sahabatnya barusan. "Baik, baik. Aku tidak akan bertingkah lagi sampai hari itu tiba."

Mengangguk pelan, Hashirama kemudian mengalihkan perhatiannya ke Naruto yang sepertinya tidak mendengar percakapan mereka. "Jadi, apa—"

"Tapi jangan harap, saat mereka bertemu nanti. Aku akan tinggal diam, Hashirama!" sela Madara dingin. Sahabatnya beralih memandanginya dengan mata yang kembali disipitkan tajam. "Camkan itu baik-baik, Hokage-sama!"

Sekali lagi, Hashirama mengangguk lalu membalas dengan nada yang tidak kalah datarnya dari kebiasaan berbicara Madara. "Ya. Aku mengerti." dia menyahut singkat sebelum menambahkan. "Dan sama sepertimu, aku juga tidak akan tinggal diam bila kau berlebihan terhadap Naruto."

Akhirnya, perdebatan singkat kedua rival sehidup-semati ini berhenti. Tanpa menunggu lama lagi agar Naruto tidak curiga dan penasaran dengan apa yang baru saja mereka debatkan, mereka segera menyusul pemuda keturunan Lucifer selain Vali yang tengah berdiri di bibir kawah.

.

.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami, bocah?"

Naruto menghela nafas panjang. Nampaknya Madara belum berubah sedikit pun, tetap dingin terhadap dirinya. "Pagi tadi, Irina menelponku."

"Irina-chan? Tumben dia menelponmu pagi-pagi—" Hashirama menghentikan ucapannya, wajah yang tadi sempat dipenuhi keseriusan berubah total. "Hooooh!" dia menyahut panjang dengan tampang yang membuat Madara jijik melihatnya. "Jangan-jangan, kalian sudah—Ekhem, ekhem... Kau benar-benar cepat mengambil tindaka—Oucch!"

Tanpa ampun Madara mendaratkan bogem mentah pada kepala Hashirama sampai membuat sahabatnya itu meringis kesakitan. "Jangan membelokkan topik, otak kerbau!" habis mencerca Hashirama dengan gelar pemberian Naruto, dia memalingkan wajahnya ke pemuda itu. Seketika pandangan datar penuh kebencian tercetak jelas wajahnya. "Lanjutkan, bocah bangsat!"

Naruto menghela nafas panjang sebelum mengembalikan keseriusan yang sempat menghilang gara-gara si Hokage Bodoh Sepanjang Masa Itu. "Begini... Sepertinya rencana kita untuk menyembunyikan diri harus diundur dulu." dia memulai serius karena rencana yang disebut barusan telah disepakati oleh semuanya.

Namun, sayangnya Madara dan Hashirama tidak mengikutinya karena keterlibatan mereka dengan Vali dan Ophis.

Berpura-pura seolah masih ikut serta dalam kesepatakan itu, Madara bertanya. "Maksudmu?"

"Seperti yang kukatakan barusan. Tadi pagi Irina menelpon, dia memberitahukan sesuatu yang sangat, sangat, sangat merepotkan."

"Kalimatmu kelebihan kata 'sangat' tuh, Naruto."

"Diam!"

"Jangan banyak komentar, Ossan!"

"B-baik!" sahut Hashirama ketakutan dihadiahi tatapan tajam oleh Madara dan Naruto sampai setetes keringat dingin meluncur pada pelipisnya. "M-Mereka berdua menakutkan!"

Ok, sekarang kita perlu mempertanyakan... Siapa sebenarnya yang menakutkan diantara mereka kelompok ini. Apa Hashirama seperti yang dikatakan Madara? Hashirama yang baru saja mengatakan kalau Madara dan Naruto menakutkan? Dan Vali yang mengingat Naruto pernah menjadi sangat menakutkan sampai membuat Albion hampir mati? Atau mungkin Hilda yang pernah mengaku kalau dirinya yang paling menakutkan di depan Edo Tensei Kagami Uchiha? Terakhir Yuki dan Kunou yang menurut Naruto sangat menakutkan apabila menggunakan tatapan memelas?

"Akan kujeleskan semua yang Irina beritahukan padaku." Naruto mengalihkan perhatian ke Hashirama, matanya memicing tajam. "Dengarkan baik-baik dan jangan menyela kecuali ada yang kalian tidak pahami!"

"Hn." Madara berkicau tak peduli.

Lain lagi dengan Hashirama yang hanya merespon dengan sebuah anggukan kaku.

Naruto memposisikan tangan kanan tepat di hadapan kedua shinobi abnormal itu, "Pertama..." dia kemudian mengacungkan jari telunjuk. "... akibat yang dtimbulkan dalam pertempuran melawan Toothy-kun tempo hari telah menyeret kita ke dalam masalah yang lebih merepotkan." selesai dengan poin pertama dalam penjelasaannya, dia mengacungkan jari lain untuk beralih ke poin ke dua. "Dan kalian sudah pasti mengetahui karena kalian yang melawan dan membunuh Toothy-kun, atas tewasnya dia di tangan kalian, hubungan antara ketiga fraksi besar bergerak pada posisi tertentu dimana mereka merencanakan sebuah konferensi di Kuoh Gakuen tiga hari lagi. Ero-Azazel sebagai pihak yang kehilangan anak buahnya yang mengajukan konferensi ini—"

Saat Naruto memberi jeda, terjadi perubahan pada raut Madara. Bibir pria Uchiha itu yang awalnya membentuk garis datar dimiringkan sedikit. "Heh, kau sangat terlambat mengetahuinya, bocah!"

Namun, jeda yang diciptakan oleh Naruto bukan karena ingin memberi waktu pada Madara dan Hashirmaa untuk mencerna penjelasannya, melainkan untuk mengatakan sesuatu yang menjanggal pikirannya soal informasi dari Irina. "—Walau begitu, aku ragu Ero-Azazel yang sepenuhnya mengajukan pertemuan ini dan keharusan kami untuk ikut serta." disinilah kejanggalan yang dia rasakan. Setahunya, Azazel tidak pernah mempermasalahkan anak buah yang tewas, terutama pembangkang macam Kokabiel. "Ini pasti ulah Sirzechs-dono. Dia ingin aku hadir dalam konferensi mendatang untuk mencari tahu alasanku melawan Rias-chan bersama peerage-nya. Dan kebetulan saja Ero-Azazel ingin mengetahui soal membangkangnya Toothy-kun dan alasan kenapa dua mahluk absurd didepanku ini membunuhnya—"

Hampir mencapai ujung kenapa semua ini terasa janggal, Naruto tiba pada bagian yang belum bisa dia mengerti sampai-sampai keningnya memunculkan kerutan kecil. "—Sekarang tinggal fraksi surga. Membicarakan soal hubungan antara Malaikat, Malaikat Jatuh dan Iblis mungkin sudah pasti disetujui oleh mereka. Tapi, bagaimana mereka bisa menggunakan kesepakatanku dengan Irina sebagai alat untuk hadir dalam konferensi nanti... Benar-benar tidak masuk akal sampai kami harus hadir demi sebuah informasi yang kemungkinan akan bocor ke fraksi Malaikat Jatuh dan Iblis bila memberitahukan hal sepenting itu di depan mereka." pada titik ini, dia mulai kebingungan.

"Atau mungkin... Sirzechs-dono bersama Ero-Azazel meminta bantuan fraksi Surga untuk mencari dan meminta kami untuk ikut serta dalam konferensi nanti."

Bukan tanpa alasan Naruto berpikir demikian. Sebagai tanda pertemanan mereka—atau mungkin sudah dibilang teman dekat, baik dirinya maupun Azazel sama-sama memberitahukan sedikit rahasia masing-masing. Dia memberitahukan pada Azazel tentang keberadaan Kurama dalam tubuhnya, serta kemampuannya menggunakan Senjutsu secara sempurna. Sedangkan Pemimpin Grigory itu memberitahun sedikit tentang masa lalunya, termasuk perang akbar dan juga hubungannya dengan pemimpin fraksi Surga.

Karena hubungan antara Azazel dan pemimpin fraksi Surga yang inilah yang membuat Naruto berspekulasi mengenai bagaimana kesepatan dengan Irina mengalami sedikit perubahan.

"Hoho... Begitu rupanya, aku sudah mengerti sekarang!" Naruto menyeringai kecil. "Setelah mengetahui bahwa Toothy-kun tewas di tangan Teme dan Ossan, Sirzechs-dono mulai gelisah dan terburu-buru, belum lagi KyumaŌ-ha yang masih belum bisa menerima kekalahan di perang saudara sampai bergabung ke Khaos Brigade. Sirzechs-dono yang awalnya terlalu meremehkan Teme akhirnya sadar akan kekuatan Uchiha Bangsat itu dan mulai ketakutan. Hehe... Ternyata bukan hanya konferensi mendatang yang melengceng jauh dari dugaanku."

Naruto tidak habis pikir, Sirzechs yang selama ini dia kenal jarang mengambil keputusan gegabah berubah hanya karena kematian Kokabiel di tangan Madara dan Hashirama. Yang dia dapatkan dari semua yang aneh dalam pengajuan konferensi tiga fraksi mendatang akhir disimpulkan.

Tersenyum kecil, Naruto akhirnya menutup semua yang ingin pikirkan dengan satu serentetan kalimat yang menyinggung ras iblis. "Heh, cukup licik. Setelah didahului oleh Azazel, dia malah mengambil keputusan mengejutkan dengan menjual nama Ero-Azazel kepada fraksi surga demi menghadirkan kami. Pada akhirnya, bukan hanya mengetahui alasanku melawan Peerage Rias-chan, namun juga mendapatkan bala bantuan yang lebih besar untuk melenyapkan KyumaŌ-ha secara permanen dari muka bumi."

"Dan biar kutebak..."

Sahutan Madara barusan membuat Naruto keluar dari pikirannya yang sempat melayang jauh meninggalkan lokasi ini.

Saat pemuda keturunan Lucifer itu menoleh ke arahnya, Madara melanjutkan. "... Dalam konferensi nanti, kita harus berada disana."

"Ya...Huhh!" jawab Naruto diikuti sebuah desahan yang terdengar lelah menghadapi tingkah kedua ninja di depannya. "Beginilah jadinya kalau kalian terlalu bersemangat bertempur sampai membunuh lawan. Pasti akan ada hal yang merepotkan ikut serta."

"Oiii!" sahut Hashirama menyeruakan sebuah protes atas tuduhan Naruto. "Jangan menyalahkan kami. Salahkan Toothy-kun dan tujuan tidak jelasnya sampai tidak ada pilihan selain membunuhnya."

"Heh!" Madara ikut menyahut. Namun, tidak seperti Hashirama yang memprotes tuduhan Naruto. Sahutannya malah terdengar mengejek Naruto, dan memang seperti itu faktanya. Menyilangkan tangan di dada, dia kemudian memandang dengan sorot mata mengejek keturunan Lucifer di depannya. "Seolah kau tidak seperti itu juga, bocah bangsat!"

Naruto balik memberitakan pandangan dan sorot mata yang sama ke keduanya. "Jangan samakan aku dengan kalian yang berotak kerbau—"

"Oiii... Jangan sembarangan memanggikku otak kerbau Naruto!" sela Hashirama namun dihiraukan saja oleh Naruto.

Sama seperti Naruto, Madara juga tidak memperdulikan ketidak-terimaan dari sahabatnya, dan hanya bergumam tidak jelas seperti biasa. "Hn." atau mungkin gumaman itu juga ditujukan untuk Naruto.

"Sialan! Aku diabaikan!" lesuh Hashirama tegurannya tadi sama sekali tidak diperdulikan. "Kacang mahal, kacang mahal!"

"—dan berotak bata dibalik tembok itu, Madara."

Ketidakpedulian Madara berakhir. Mata merah dengan pola aneh miliknya langsung dikibarkan tepat di hadapan Naruto, memandang penuh amarah pemuda itu. "Kau ingin mati, bocah menjijikan?" entah kenapa, belakangan ini dia sedikit sensitif dan sangat mudah terpancing emosinya bila bersama pemuda keturunan Lucifer itu.

Seketika, Naruto meneguk ludahnya yang entah kenapa terasa sangat kasar karena tatapan dan mata merah Madara itu. "H-hey, aku cuma bercanda, Madara-sama." Naruto menghela nafas lega, Madara sudah menonaktifkan mata sakti Uchiha itu. "Jangan salah sangka, sebelum terjun ke medan pertempuran malam itu. Aku sudah memperhitungkan beberapa hal yang mungkin terjadi ke depannya... Ya, walaupun yang terjadi sekarang ini sedikit melenceng dari perhitunganku. Aku sama tidak memperhitungkan adanya konferensi tiga fraksi mendatang. Itulah kenapa aku sedikit bingung mengenai tindakan apa yang harus kita ambil."

Keturunan Lucifer itu mengalihkan pandangan ke atas. "Jadi... Jadi... Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" dia mengakhiri dengan sebuah pertanyaan tanpa mengalihkan perhatiannya dari langit yang mulai berwarna jingga di atas sana. "Tetap bersembunyi di Kyoto atau ikut serta dalam konferensi di Kuoh."

"Bagaimana...jika kau menolak untuk ikut serta?"

"Sudah kuduga akan seperti hasilnya." pikir Naruto disertai senyum kering. Beberapa saat kemudian, senyum itu menghilang. Berganti menjadi sebuah garis datar. "Kalau begitu... Katakan selamat tinggal untuk kesempatan kita satu-satunya untuk mendapatkan informasi mengenai tempat terdekat dari surga itu." tandasnya serius.

Madara dan Hashirama mengerjit keheranan atas informasi dari Naruto yang tidak dimiliki oleh Vali. "Maksudmu?" tanya Hashirama mewakili.

"Ya... Entah siapa yang memberitahukan soal kesepatan kita dengan Irina—Fraksi Malaikat. Mereka tiba-tiba memberikan syarat lain dalam kesepatakan itu."

"Aaaah..." Hashirama melenguh panjang. "Jangan bilang kalau Fraksi Malaikat tidak akan memberikan informasi apabila kita tidak hadir?"

Naruto menggerakkan kepala ke atas dan bawah. "Ya. Persis seperti yang Ossan katakan." dia berhenti sejenak, mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan Irina pagi tadi. Bahkan, dia merasa tidak enak pada gadis itu karena membuatnya meminta maaf tidak bisa berbuat banyak. "... Andaikan konferensi tiga fraksi mendatang tidak terjadi, pihak surga akan segera mengadakan pertemuan dengan kita, kalau tidak salah Irina mengatakan lokasinya berada di Vatikan."

"Hn. Aku merasa ada yang aneh disini."

Hashirama dan Naruto mengalihkan perhatian ke Madara yang tiba-tiba menyahut. Bahkan, di wajah pemuda keturunan Lucifer itu sudah terlihat sebuah senyum kecil. Sang Uchiha mulai tertarik, bahkan dia yakin kalau Madara sudah mengetahui keanehan berubahnya persyaratan yang dilakukan dengan fraksi surga. "Apa itu?" tanyanya berpura-pura tidak tahu, dan lagi dia ingin mengetahui apa Madara berpikiran sama dengannya.

Menyipitkan mata layaknya seorang detektif yang sedang memecahkan kasus pembunuhan, Madara memulai. "Kau bilang... Fraksi Malaikat Jatuh yang mengajukan konferensi ini." dia mengalihkan pandangan ke Naruto. Pemuda itu mengangguk singkat. "Berarti fraksi Malaikat berhak untuk menolaknya, bukan? Karena mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Toothy-kun."

Untuk kedua kalinya, Naruto mengangguk. Begitupula dengan Hashirama.

"Lalu, bagaimana jika ada maksud—tujuan lain dalam konferensi nanti?"

"Tujuan lain? Apa maksudmu, Madara?" tanya Hashirama mewakili.

Madara menyeringai. "Kerja sama." jawabnya singkat.

Pandangan takjub segera Naruto perlihatkan untuk mantan gurunya itu. "Heee... Dia bisa mengetahui maksud dari konferensi nanti hanya berbekal informasi dariku. Tidak salah orang-orang menyebutkan si Jenius dari Uchiha saat aku masih berada di Konoha."

Betapa salahnya Naruto berpikiran seperti itu. Justru dialah disini yang lambat. Jauh-jauh hari, Madara sebenarnya sudah mengetahui tujuan utama dari konferensi nanti berkat informasi yang lebih banyak dari Vali. Bahkan, Madara sudah menyimpulkan bagaimana ending dari konferensi nanti. Pria Uchiha ini yakin, jika memang nanti KyumaŌ-ha benar-benar menjalankan rencana mereka, sudah dipastikan kerja sama akan terjalin antara tiga fraksi besar untuk menghadapi musuh di masa depan.

"Jadi, bagaimana Madara? Apa kau bersedia ikut serta?"

"Hey, Madara..." Hashirama menepuk pundak sahabatnya. "Kau tidak memikirkannya terlalu lama, aku tahu kau hanya berpura-pura."

Pandangan Naruto beralih ke Hashirama. "Apa maksudmu, Ossan?"

Wajah Hashirama seketika memucat pasih. "Ugh, Sial! Aku keceplosan." pikirnya kemudian menoleh ke Madara. "Mati aku! Si Uchiha bangsat pasti marah besar!"

"Gawat!" pekik Madara saat menyadari sahabat bodohnya itu hendak mengatakan sesuatu mengenai bagaimana dirinya bisa tahu tujuan utama dari konferensi mendatang. "Ano Baka-Hokage! Kalau sampai Naruto menyadari hal ini. Dia pasti meminta penjelasan ke Hashirama, dan Aho-Hokage itu pasti mengatakan kalau kami berdua mendapatkan informasi dari Vali. Kalau sampai itu terjadi, bocah menjijikan ini—" mata hitam kelamnya bergerak ke kiri tanpa sepengetahuan siapapun, melirik Naruto yang menatap penuh selidik ke Hashirama. "—pasti mencari tahu darimana dan siapa yang memberikan informasi ini."

"Begini, Naruto... Sebenarnya—"

"Aku ikut!"

Sahutan Madara yang memotong ucapan sang sahabat membuat Naruto terlonjak kaget, ditambah sedikit rasa senang. Namun, perasaan tersebut tidak berlangsung lama. Dia merasa ada yang Madara dan Hashirama sembunyikan darinya. "Aneh..." Naruto memandang penuh selidik ke Madara. "Kenapa tiba-tiba kau mau ikut, Teme?"

"Memang aku pernah mengatakan untuk tidak ingin ikut?"

Pandangan penuh selidik Naruto menghilang. Dia menggeleng pelan. Bila ingatannya masih sehat, dia tentu saja mengingat dengan jelas ucapan Madara beberapa saat yang lalu, memang benar kalau pria itu belum menolak ajakannya, yang ada hanya meminta pendapat padanya dan Hashirama bila menolak untuk ikut. "Lalu, kenapa kau begitu cepat memotong penjelasan Ossan, seolah-olah ada hal yang kalian ketahui dan tidak ingin aku mengetahuinya."

"Memangnya salah jika ada sesuatu yang kusembunyikan? Lagipula itu bukan urusanmu."

Naruto menghela nafas panjang sebelum menggeleng pelan untuk kedua kalinya. "T-tidak ada yang salah kok." ucapnya pelan dan sangat berbanding terbalik dengan keinginannya yang sangat besar mengetahui apa yang disembunyikan oleh pria Uchiha itu darinya. "Aah, setidaknya dia berhasil kuajak untuk ikut serta. Itu sudah lebih dari cukup." dan ia menyadari kalau berdebat dengan Madara akan semakin memperburuk hubungun mereka yang sekarang ini tengah memanas. "Cepat atau lambat, dia pasti mengatakannya, begitupula dengan apa yang membuatnya berubah belakangan ini."

Lain Naruto, lain pula Madara. Setelah mengetahui tentang persyaratan baru yang diberikan fraksi malaikat, alasannya untuk ikut serta dalam konferensi tiga fraksi nanti bertambah. Selain untuk membantu Vali agar ingatan Naruto bisa kembali, atau setidaknya bocah sableng itu mencari tahu soal ingatan dan kekuatan miliknya yang tersegel, serta apa yang terjadi pada priode waktu setelah berpisah dengan Vali dan sebelum bertemu Jiraiya.

"Heee..." dia menyeringai dalam diam. "Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada kami. Satu batu, tiga empat burung langsung kena... Sekarang tinggal menunggu komfirmasi dari bocah kaleng itu, kuharap dia cepat-cepat memberitahukannya..."

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian...

Vali menyandarkan punggung lebarnya pada besi baja tempatnya sekarang ini bersama Azazel, disebuah bangunan bertingkat yang sedang dalam masa pembangunan. Hembusan angin yang cukup kencang membuat rambut perak gelap miliknya melambai-lambai, yang mana bagian poninya sesekali menghalangi pandangan mata beriris biru es itu.

Menyilangkan lengan di depan dada, dia melirik gurunya. "Nee... Azazel, apa benar pertemuan besok akan benar-benar terjadi?"

"Memang ada apa kau bertanya?" pria berponi pirang itu balik bertanya.

"Hanya ingin memastikan saja."

"Jadi... Sekarang kau tertarik pada sesuatu selain bertarung sampai ingin memastikan apa benar pertemuan besok akan berlangsung, begitu?" Azazel kembali bertanya, namun belum sempat Vali menjawab, dia teringat penyebab konferensi esok hari bisa terjadi. "Jangan bilang kalau tertari dengan kelompok yang membunuh Kokabiel, serta menghancurkan kelompok Gremory sampai rivalmu dalam keadaan sekarat?"

Vali berhenti melirik Azazel, dia kini memandangi langit hitam yang membentang luas di atasnya. "Mungkin seperti itu, karena jika tidak, aku tak akan mau menghadiri pertemuan besok."

Azazel tertawa renyah selama beberapa saat sebelum berhenti dan memberikan saran penting kepada muridnya itu dengan raut wajah yang sudah berubah serius. "Sebaiknya kau jangan berurusan dengan mereka Vali. Lagian, hadir atau tidaknya mereka kau tetap harus ikut bersamaku menghadiri pertemuan itu sebagai pengawal dan pemegang dari salah satu naga langit."

"Terima kasih untuk sarannya, namun aku sama sekali tidak membutuhkannya."

Hembusan nafas lelah Azazel keluarkan dari mulut, tanda bahwa dia sudah mengetahui akan seperti ini jadinya bila sang murid menemukan seseorang yang mungkin saja memuaskan hasrat bertarungnya. "Bisakah..., bisakah sekali saja dalam hidup penuh pertarunganmu ini Vali, kau mendengar saran dariku?" ujarnya dengan nada lelah bercampur frustasi menghadapi jalan hidup sang murid. "Kau hanya mencari pertempuran. Kau benar-benar mirip dengan naga sesungguhnya. Kau adalah tipe orang yang tidak akan hidup lama."

"Sayangnya, aku tidak tertarik untuk hidup lama. Hanya saja, aku merasa kecewa karena lahir di era ini. Era dimana dunia tanpa Tuhan—Setidaknya salah satu tujuanku, mencoba mengalahkan Tuhan."

"Haha..." Azazel kembali tertawa renyah. "Itu benar-benar seperti Hakuryūkō. Dan setelah mengalahkan orang-orang kuat, apa yang akan kau lakukan?"

"—Aku akan mati—"

"Hah? Serius? Sesederhana itukah jalan hidupmu, Vali?"

Vali dengan cepat menolehkan kepala ke Azazel. "—Aku belum selesai!" selanya bersamaan tepat setelah pandangannya bertemu dengan sang guru. "... Atau mungkin menyerahkan hidupku pada takdir yang mengikatnya, tidak peduli jika takdir itu menginginkanku untuk hidup selamanya."

"Hah?" Azazel berjengit heran, baru kali ini dia mendengar sang murid berkata sedemikian rupa, seolah sudah pasrah akan takdir yang diterima. "Kau bilang apa tadi? Aku tidak tau tadi itu aku cuma salah dengar atau telingaku yang sudah dimakan usia. Jadi, bisa kau ulangi dan memastikan telingaku masih berfungsi dengan baik."

"Tidak!" Vali memalingkan wajah, menghindari tatapan heran bercampur konyol gurunya. "Lupakan saja, aku hanya membual."

Bukannya mengalah atau menerima bahwa itu hanya bualan sang Hakuryūkō, Azazel malah makin penasaran. "Oh ayolah Vali... Aku tau kau bukan orang yang suka berbicara omong kosong atau semacamnya."

"Ah, sudahlah." bisik Vali pelan, sangat pelan berharap agar Azazel tidak mendengarnya. Sehabis itu, punggung yang sedari tadi bertopang pada besi baja mulai berpisah, yang mana tepat setelah itu mulai berjalan menuju satu-satunya ujung baja yang mencuat ke udara yang kira-kira berjarak 500 meter dari permukaan tanah. "Aku mau pulang, jangan lupa ingatkan aku untuk datang ke pertemuan esok hari."

Usai mengatakan hal tersebut, Vali menjatuhkan dirinya dan tidak berselang lama muncul kembali dari bawah dengan kecepatan tinggi hingga meninggalkan jejak cahaya biru yang muncul dari sepasang sayap mekanik biru-putih pada punggungnya. Kepergian sang Hakuryūkō secara mendadak ini sontak memunculkan berbagai macam pertanyaan di kepala Azazel, dia sangat yakin ada yang sedang disembunyikan oleh sang murid.

"Aah, bocah itu main pergi begitu saja." keluh Azazel diakhiri desahan frustasi. "Hidup hanya untuk pertarungan, bertarung melawan orang-orang kuat, tidak ingin hidup lama sampai ingin bertarung melawan Ayah—" dia berhenti sejenak selagi mendongak ke atas langit. Selagi memandangi langit malam yang dihiasi milyaran bintang, ingatan-ingatan yang hampir sama banyaknya dengan bintang diatas sana muncul di benaknya. Ingatan selama dia hidup di dunia ini, termasuk apa yang diketahui tentang musuh terbesar mahluk yang dia panggil 'Ayah'.

Sesungguhnya, Azazel sudah mengetahui identitas asli sang murid. Dia adalah eksistensi yang bisa dikatakan adalah candaan dari takdir itu sendiri, seorang manusia yang diberkahi Sacred Gear tipe Longinus bernama Divine Dividing, sekaligus keturunan yang tidak pernah dia sangka-sangka kemunculannya...

.

.

"—Dasar Lucifer dan kegilaan mereka!"

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya.

"Heh, kau tau Vali... Belakangan ini, entah kenapa aku merasa kalau kau sedikit berubah."

"Bisa kau hentikan omong kosongmu, Azazel? Kau membuat moodku semakin rusak malam ini."

"Huh, dasar... Sejengkel itukah kau padaku, Vali?"

"Tentu saja, Baka-Shisō! Siapa juga yang tidak jengkel bila apartemennya dijebol seseorang, dan parahnya setelah menjebol, orang itu kemudian menarik paksa pemiliknya yang masih tertidur pulas untuk menghadiri pertemuan bodoh yang sudah jelas apa tujuannya."

Seketika wajah santai Azazel menghilang digantikan ekspresi serius, tidak lupa mempercepat langkah menyusul sang murid yang ada didepannya. Ketika sudah beriringan, dia menoleh ke kiri, memandang sang murid dengan ekspresi demikian. "Apa maksudmu sudah jelas tujuannya, Vali?"

"Kau pikir, aku tidak tahu apa yang kau dan Lucifer masa kini inginkan dalam pertemuan nanti?" Vali membalas tatapan serius guru yang dia kenal sangat mesum itu. "Ahh, sudahlah. Aku malas menjelaskan panjang lebar... Intinya, kau bersama Lucifer dan Seraphim Michael setuju untuk melakukan pertemuan yang sudah pasti berakhir dengan kerja sama."

"Hoho..." Azazel berujar dengan nada tinggi selagi memegang dagu. "Aku tidak menyangka kau bisa mengetahui tujuan dari pertemuan ini." sambungnya dengan suara yang menyiratkan rasa tidak percaya atas ucapan Vali barusan. "Sebenarnya, sejak kemenangan Sirzechs bersama yang lain atas KyumaŌ-ha, kami bertiga sudah berniat melakukan kerja sama. Sayang tidak ada diantara kami yang cukup berani untuk mengajukan pertemuan. Masing-masing memiliki masalah tersendiri, mulai dari iblis yang ketua dari klan 72 pilar menolak hal tersebut, lalu para Malaikat yang sepertinya masih terpukul atas tewasnya Ayah, dan terakhir, kita yang masih dicurigai berniat melanjutkan Great War dengan kuangkatnya kau menjadi muridku dan pengumpulan para pengguna Sacred Gear kuat..."

Setelah memberi sedikit jeda untuk mengambil nafas, Azazel kemudian melanjutkan penjelasannya. "... Dan akhirnya, hari yang kami tunggu-tunggu tiba juga. Bermula dari membangkangnya Kokabiel hingga berakhir dengan penyerangan Naruto terhadap keluarga Gremory. Aku pun mengirim permintaan pada Sirzehcs dan Michael untuk mengadakan pertemuan. Michael yang pada dasarnya menginginkan perdamaian, langsung menyetujuinya, namun tidak untuk pihak iblis yang hampir saja kehilangan salah satu pewaris dari tujuh puluh dua pilar dunia bawah yang tersisah. Lucifer, Beelzebub dan Asmodeus sebenarnya sudah setuju sama seperti Michael, namun tidak untuk Maou Leviathan mereka yang cerewet serta ketua klan dunia bawah yang tidak bisa menerima dua pewaris mereka diserang oleh Kokabiel dan kelompok Naruto."

"Hn."

Beda dengan respon Vali yang begitu singkat, dalam benaknya dia malah memikirkan hal lain. "Hmmn, jadi benar-benar terjadi. Kuharap mereka semua, terutama dia bersiap-siap." Ya, nampaknya dia memiliki tujuan lain dalam pertemuan ini, dan itu dipastikan berhubungan dengan kelompok Naruto yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh ketiga fraksi akhirat karena ulah mereka beberapa hari sebelumnya.

Lain pula Azazel yang cukup kesal akan respon muridnya itu. Urat kening tiba-tiba mencuat dan membentuk perempatan kecil disana. "Apa-apaan responmu itu Vali?" tanyanya dengan nada sama seperti perasaannya setelah menjelaskan panjang lebar dan hanya dibalas dua huruf konsonan yang begitu menjengkelkan di telinga. "Sialan!" umpatnya sehabis memandangi kembali sang murid yang ternyata tidak peduli dengan penjelasannya barusan. "Kutarik kata-kataku barusan, kau sama sekali tidak berubah, masih dingin, menyebalkan dan kurang ajar padaku seperti biasa."

Pada akhirnya, Azazel pun berhenti menjelaskan apa yang ingin dia jelaskan. Selain karena Vali sama sekali tidak tertarik, mereka berdua juga telah tiba di depan pintu gerbang Kouh Akademi yang nampaknya sudah siap melakukan konferensi tiga fraksi. Itu terlihat dari selaput biru tipis yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa sudah menyelubungi sekolah itu. Kubah biru yang menjulang setinggi ratusan meter di udara, menutupi seluruh area sekolan yang mana bila dipandang dari kejauhan terlihat seperti permata biru terang di tengah keheningan malam.

Berhenti tepat di depan pintu gerbang, Azazel memasukkan kedua tangan pada saku jubah hitam penuh ornament yang dikenakan. Dengan pose yang cukup keren menurutnya, dia mulai berujar. "Jadi, sekarang... konferensi yang akan menentukan masa depan dunia ini—" sesaat setelah menjeda ucapannya, di atas langit tepat di belakangnya muncul puluhan lingkaran sihir khas Da-Tenshi (Fallen Angel) yang mana tidak berselang lama memunculkan pasukan berupa mahluk bersayap hitam dengan jumlah sama.

.

.

.

"—akhirnya dimulai!"

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut!]


Untuk Author Brengzeck-id NoteChapter ini... Ada di Chapter selanjutnya yang di-Update secara bersamaan.