Disclaimer:Naruto [©Masashi Kishimoto], High School DxD [©Ichie Ishibumi] and others not Mine!

Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance, Hurt/Comfort, and Mistery.

Warning: Still Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat) dan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, HalfDevil!Naruto, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, GradualyOverpowered!MainCharacter, Gray!MajorityMainCharacter, Etc.


Arc III: Early and Late.

Chapter 25

[Daybreak — High Tension Conference, Begins! Part II]


.

.

.

.

.

Saat tiba di ruang pertemuan, Azazel tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat siapa saja yang hadir disana. Di pikirannya, baik Michael maupun Sirzechs yang notabene adalah temannya masih belum sepenuhnya percaya pada dia. Itu terlihat dari pengawal yang kedua pemimpin itu bawa. Dikarenakan dirinya yang cukup terkejut sekaligus heran, dalam posisi duduk pada kursi yang sudah disediakan untuknya, Azazel berujar...

"Aku tahu ini adalah pertemuan yang sangat penting, tapi apa kalian tidak berlebihan membawa pengawal?"

Azazel mengarahkan pandangan pada sisi Iblis yang berhadapan langsung dengannya. Pada kedua kursi yang disediakan untuk fraksi itu, Sirzechs Lucifer dan Serafall Leviathan duduk sebagai pemimpin, di belakang keduanya adalah perempuan berambut perak yang sudah dia kenal. "Ya, kalau Grayfia Lucifuge. Sudah wajar untuk hadir karena dia adalah ratumu, Sirzcehs... Tapi, untuk mereka berdua?"

"Hanya untuk berjaga-jaga, Azazel. Kau sendiri tahu siapa yang akan kita hadirkan dalam pertemuan ini."

"Ya, ya, ya... Terserah kau."

Pria berponi pirang ini menjawab selagi mengalihkan perhatian dari Sirzechs menuju dua pengawal yang dibawa pihak Iblis. Yang pertama adalah seorang pria di akhir umur 20 tahunan, memakai seragam Shinsengumi tradisional yang terdiri dari haori dan hakama di atas kimono, dihias tali putih yang disebut tasuki melintang di atas dada dan diikat di belakang, tasuki itu sendiri berfungsi mencegah lengan kimono agar tidak mengganggu gerak lengan, haori berwarna biru, salah satu warna tradiosional Jepang.

"Hmmmn, suatu kehormatan bisa bertemu mantan kapten unit pertama Shinsengumi, Knight dari Lucifer masa kini, Sōji Okita."

Orang yang Azazel sebut membungkuk hormat selagi membalas. "Suatu kehormatan bagiku juga bisa bertemu dengan anda, Azazel-dono."

Mengalihkan pandangan ke pengawal Sirzechs yang kedua, Azazel memperlihatkan seringai ketertarikan pada pria berambut abu-abu dan bermata senada itu. "Dan ini yang membuatku terkejut, mendatangkan Kōtei (The Emperor), Juara dari Rating Game... Diehauser Belial sebagai pengawal." dia kembali mengalihkan pandangan, memandangi Sirzechs dengan kening mengkerut. "Apa pihakmu sudah kehabisan iblis kuat sampai membawanya, Sirzechs?"

"Sudah kubilang, ini hanya untuk berjaga-jaga Azazel. Selain untuk pertemuan ini, tentu saja untuk Mekai juga. Kutakutkan, apabila membawa iblis di atas Diehauser-kun, Mekai akan menjadi sasaran utama penyerangan KyumaŌ-ha. Informasi soal pertemuan penting ini sudah tersebar di kalangan mahluk supernatural, dan itu termasuk mereka—"

"Haik, haik... Aku paham apa yang kau maksud." sela Malaikat Jatuh itu cepat. "Karena aku pun melakukan hal yang sama, hanya membawa bocah di belakang sana bersama lima puluh pasukanku saja." tambahnya sembari memposisikan tangan kanan di sebelah kepala, sebelum mengarahkan jempolnya ke Vali yang tengah bersandar di tembok sambil bersikedep dada.

Di posisinya, Vali hanya mendengus kesal dipanggil bocah sebelum mengalihkan pandangannya dari sang guru.

Selesai dengan fraksi iblis, Azazel beralih ke fraksi tempatnya sebelum menjadi bagian sekaligus pemimpin Grigory. "Wah, wah... Michael, tumben kau turun dari Surga tidak bersama Gabriel-chan atau kedua malaikat merepotkan itu."

Sang pemimpin Surga hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Azazel, walaupun sedikit kesal atas panggilan Azazel untuk kedua Seraph yang dia ketahui adalah Raphael dan Uriel. "Ya, seperti Sirzechs-dono... Kami juga setidaknya ingin berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk dengan adanya konferensi ini. Maka dari itu Gabriel, Uriel, Raphael dan anggota dari Ten Seraph yang lain kuperintahkan tetap di markas besar."

"Jadi, siapa kedua pengawal yang kau bawa?" Azazel memandangi secara bergantian kedua pengawal Michael yang belum bisa dia lihat wujudnya, namun sudah bisa merasakan dari ras apa keduanya. "Seorang Malaikat yang dari pancaran Tangeki miliknya memiliki dua atau tiga pasang sayap, dan satunya seorang manusia dengan energi suci gila-gilaan serta..." saat dia pandangannya sudah terkunci pada sosok bertubuh kekar yang dibalut jubah itu, senyum penuh rasa ketertarikan berkembang di wajah 30 tahunan miliknya. "... Sacred Gear tipe Longinus."

Dengan pernyataan itu, membuat beberapa orang disana tersentak kaget. Ternyata, selain kehadiran tiga pemimpin tiga fraksi akhirat, ada juga kejutan lain dimana akan ada 3 pemegang Longinus. Mereka adalah Vali sebagai pemegang Divine Dividing, Hyōdō Issei sebagai rival dari Vali sendiri yang memegang Boosted Gear, dan yang terakhir,

"Bukan begitu Saikō Ekusoshito (The Strongest Exorcist), pemegang dari Zenith Tempes... Dulio Gesualdo?"

"Sebuah kehormatan bagiku bisa dikenali oleh sang Gubernur Grigory..." pria yang diketahui adalah Dulio itu membuka tudung mantel yang dikenakan, menampakkan rambut pirang dan mata hijaunya yang begitu menenangkan. Setelah itu, dia membungkuk hormat kepada Azazel, Sirzechs dan Serafall selagi berkata. "Ya, walaupun aku agak malas, tapi mau bagaimana lagi... Ini adalah perintah langsung dari Michael-sama untuk mengawal beliau, maka dari itu... Mohon kerja samanya dalam pertemuan nanti, semuanya."

Vali yang sebelumnya terlihat tidak begitu peduli dengan keadaan ruangan kini berubah. Senyum kecil berkembang di wajahnya. Apa yang dia katakan semalam bahwa akan ada hal menarik selain pertemuannya dengan Naruto akan terjadi. Dia bahkan sedikit tidak percaya, orang yang termasuk dalam daftar yang paling ingin dilawan tidak disangka-sangka ikut dalam pertemuan ini.

Sehabis Azazel memperkenalkan pengawal Sirzechs dan Michael, terjadi sedikit perbincangan ringan diantara ketiga pemimpin itu yang berakhir dengan kedatangan kelompok Rias Gremory tanpa Bishop-nya, sang bocah setengah vampir Gasper Vladi.

Saat memasuki ruangan, Issei menelan kasar ludah merasakan perasaan gugup teramat sangat melihat tiga pemimpin dari fraksi yang dia ketahui pernah saling bertikai di Great War. Ditambah lagi dengan kehadiran Vali dan tiga orang—dua iblis, satu malaikat dan satu manusia beraura di atas rata-rata dalam ruangan itu. Dia pun bertanya-tanya, siapa manusia dengan aura yang menurutnya setara dengan milik ketuanya itu, selagi berharap orang itu tidak seperti Vali yang nampak sudah siap kapan saja untuk bertarung melawannya.

Tidak jauh beda dari sang Sekiryūtei, Asia pun merasakan hal yang sama. Untungnya ada Issei yang segera memegang tangannya sehingga membuat dia merasa aman.

Sementara itu, di barisan depan klub penelitian ilmu gaib, sang pemimpin Rias Gremory menelusuri setiap sudut ruangan, memandangi satu per satu orang yang hadir di sana. Setelah selesai, dia menghela nafas ringan. Naruto bersama kelompoknya belum hadir, itupun membuat kelegaan muncul dalam hatinya mengurangi sedikit rasa gugup dalam sana. Ya, selain gugup untuk bertemu Naruto secara langsung, dia juga merasakan hal yang sama dengan Issei dan Asia melihat tiga pemimpin hadir dan bertemu dalam satu ruangan.

Namun, ada hal yang membuatnya sedikit keheranan. Masih terdapat dua kursi kosong di antara tempat duduk Sirzechs dan Azazel, yang berhadapan langsung dengan Michael. Beberapa detik berpikir, akhirnya dia paham ditujukan untuk siapa kedua kursi kosong tersebut. "Begitu rupanya, Naruto benar-benar akan hadir. Kuharap tidak ada apa-apa yang terjadi sampai pertemuan ini selesai." harapnya dalam hati, sangat berharap malah karena dirinya membutuhkan suasana yang sangat mendukung untuk sekedar berbicara dengan Naruto sekaligus meminta maaf atas semua tindakan dan ketidakpekaannya selama ini. "Dai Maōu-sama, Kami-sama, atau siapa pun diluar sana berikanlah padaku kekuatan untuk mengatakan semuanya di depannya. Kumohon~!"

Kedatangan kelompok Rias yang sudah berada pada posisi mereka tepat di belakang Sirzechs dan Serafall menciptakan sedikit keheningan selama beberapa menit.

.

.

Azazel yang mulai kesal tidak ada satupun yang mengeluarkan suara selama beberapa menit memutuskan untuk mengambil inisiatif membuka percakapan. Dirinya mengetahui kalau Sirzechs selaku pihak yang keberatan atas ulah Kokabiel tempo hari tidak akan memulai tanpa kehadiran Naruto. Mengetuk meja sebanyak tiga, dia kemudian mengeluarkan desahan panjang pertanda kekesalannya. "Haaaa... Sudah kuduga bocah merepotkan itu akan terlambat. Bisa kita mulai saja pertemuan ini tanpa dia dan kelompoknya?"

Dan seperti Azazel duga, Sirzechs langsung menolak usulan tadi. "Tidak bisa Azazel! Naruto-kun bersama kelompoknya harus hadir sebelum memulainya. Mereka adalah topik sekaligus tujuan utama pertemuan ini tercipta."

Azazel tersenyum miring. "Topik utama, heh?" gumamnya pelan seperti menyindir pemegang gelar Lucifer itu. "Tidak cukup dengan menjual namaku pada Michael, sekarang kau menjual nama Naruto, heh Sirzechs? Dari awal, tujuan utamamu—Tidak! Tujuan utama pertemuan ini adalah menjalin kerja denganku dan Michael. Penyerangan Kokabiel dan Naruto terhadap kelompok adikmu pihak iblis gunakan sebagai alasan menerima usulanku." pikirnya semakin memperpanjang senyum miringnya. "Sayangnya, niatmu itu tidak akan pernah tercapai, karena aku yang akan memulainya."

"Sebenarnya aku setuju dengan Azazel. Pertemuan ini sebaiknya dimulai saja, penjelasan kenapa Uzumaki-dono bersama kelompoknya menyerang Kokabiel-dono dan kelompok Rias Gremory-dono bisa dikesampingkan dulu." ujar Michel cukup panjang akhirnya ikut dalam percakapan. Saat dirinya diberi tatapan mencari tahu kepastian kehadiran Naruto dari Sirzechs, dia tersenyum kecil. "Tenang saja, Uzumaki-dono akan hadir, mau tidak mau. Mereka terikat perjanjian dengan pihak kami, dan hadir disini adalah syarat untuk perjanjian itu."

"Perjanjian?"

Michael mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan singkat Sirzechs barusan.

"Gah~!" kembali, Azazel mengeluarkan suara aneh. Sepertinya malaikat jatuh satu ini kembali dibuat kesal, bukan lagi karena dua pemimpin didekatnya, melainkan kepada Naruto yang bisa-bisanya terlambat datang apabila memang benar akan hadir seperti ucapan mantan musuhnya dari pihak Surga di Great War. "Palingan bocah itu sedang berduaan dengan adiknya. Asal kalian tahu saja, terutama kalian berdua..." dia melirik Sirzechs dan Rias. "... Dia itu menderita penyakit Siscon akut melebihi dirimu Sirzechs."

Sang Maōu Lucifer mendecih tidak suka atas ucapan terakhir Azazel. Bisa-bisanya malaikat jatuh nista itu malah mengungkit penyakitnya disaat-saat penting seperti ini. "Aho Da-tenshi (Dumbass Fallen Angel)!" umpatnya dalam hati sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menghantam Power of Destruction sebesar gedung di wajah mupeg Azazel.

"Tck! Bocah itu benar-benar merepotkan, dasar! Setelah memberi perpisahan yang sangat meriah langsung menghilang di telan bumi."

Di belakang pihak iblis, Rias tersentak. Saat dirinya tengah mengumpulkan segenap tenaga menguatkan mentalnya, orang yang membuat dia sampai seperti ini malah dibahas cukup detail oleh Azazel. Sehabis itu, dia menundukan kepala, menyembunyikan raut wajah menyesalnya disertai dengan iris mata biru-hijaunya yang mulai berkaca-kaca.

Akeno yang merasakan bahwa sang sahabat kembali merenungi kesalahan di masa lalu segera mengambil tindakan. Di tepuklah dengan gerakan lembut pundak Rias untuk mengalihkan perhatian sahabatnya. Saat gadis berambut merah crimson itu menoleh, dia memperlihatkan senyum lembut nan tulusnya yang jarang sekali muncul, senyum yang seketika membuat Rias kembali tersentak.

Jika ingin jujur, Akeno sebenarnya tidak ingin melihat sahabatnya berkubang dalam kesedihan terus menerus. Segala macam cara sudah dia lakukan untuk membantu Rias, dan itu dimulai setelah kejadian ganjil di kolam renang beberapa hari lalu, saat dia merasakan bahwa sahabatnya itu tengah menyembunyikan masalah yang sangat serius sampai tidak memperdulikan godaan mode S dan M-nya pada Issei.

Maka dari itu, setelah pertemuan mereka dengan Hakuryūkō beberapa hari yang lalu, diambillah sebuah inisiatif untuk memaksa Rias memberitahukan apa yang tengah terjadi. Beruntung, dia berhasil meruntuhkan kekeras kepalaan Rias dan akhirnya terbongkarlah semua. Sungguh, saat itu dia benar-benar tidak menyangka bahwa selama beberapa tahun Naruto menyimpan sebuah perasaan terhadap sahabatnya, tidak peduli walau sudah dicerca, dimaki bahkan dibenci, perasaan Naruto tetap utuh hingga berakhir di insiden Kokabiel.

Setelah mengetahui hal tersebut, untuk pertama kalinya dalam hidup Akeno, dia menampar dan memberikan ceramah pada sahabatnya. Membenarkan semua yang Rias rasakan, bahwa semua itu adalah salah gadis itu. Bahkan, dia mengatai Rias adalah gadis terbodoh yang tidak pernah melihat semua maksud dibalik tindakan Naruto. Karena, andaikan dirinya yang menjadi Rias, Akeno sudah pasti mengetahui semua hal dibalik tindakan Naruto itu.

Namun, semua sudah terjadi dan Rias tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain meminta maaf.

Menurut Akeno sendiri. Perasaan Naruto pada raja-nya telah lenyap bersama sisa-sisa banyak kejadian mengerikan dalam insiden Kokabiel. Maka dari itu, yang dia bisa lakukan sekarang ini hanyalah memberikan sebanyak mungkin bantuan untuk sang sahabat menghadapi masalah ini.

"Tenanglah... Aku akan selalu berada di sisimu. Andai saja memang pertemuan kalian akan terjadi, kupastikan aku berada disana untuk membantumu, percayalah, Rias."

Rias tidak dapat menahan rasa harunya. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, dia berucap dengan nada suara yang terbata-bata memanggil nama sahabatnya itu. "A-A-Akeno... Terima kasih."

"Sama-sama Rias. Setelah semuanya, aku adalah ratu sekaligus sahabatmu."

Namun, belum sempat Rias membalas ucapan Akeno. Suara sang kakak menginterupsi. "Baiklah..." Sang Maōu Lucifer itu menoleh ke Rias, Akeno dan Sona. Dengan raut wajah serius, Sirzechs memberikan perintah kepada sang adik dan kedua sahabatnya, bukan sebagai kakak, melainkan sebagai pemimpin. "Rias Gremory, Himejima Akeno, Sona Sitri... Sebagai saksi atas insiden Kokabiel tempo hari. Bisakah kalian bertiga maju dan menceritakan secara detail apa yang terjadi malam itu?"

Menoleh serentak, ketiganya pun membalas.

"Baik, Lucifer-sama!"

.

.

.

"—Itu saja. Laporan dari saya, Rias Gremory atas insiden Kokabiel bersama Peerage-ku."

"Saya sendiri, Sona Sitri membenarkan apa yang dilaporkan oleh Rias Gremory."

Dengan berakhirnya laporan dari Rias diikuti oleh komfirmasi benarnya apa yang dijelaskan Rias dari Sona. Atmosfir ruangan tiba-tiba berubah, memberikan tekanan yang cukup besar bagi beberapa iblis muda disana. Sedangkan empat pemimpin disana malah memberikan respon berbeda-beda. Michael mendesah lesuh, Sirzechs dan Serafall terdiam menunggu jawaban dari kedua pemimpin di depan mereka, dan Azazel hanya mengeluarkan tawa kecil seolah-olah insiden Kokabiel hanyalah masalah kecil.

Karena tidak ada dari kedua pemimpin disana yang mengeluarkan pendapat, Sirzechs pun memulai kembali diskusi, dan kini memasuki sesi serius dimana dirinya tidak ingin lagi melihat Azazel yang terlalu santai dan tidak peduli akan apa-apa. "Baiklah, Azazel. Setelah mendengar laporan yang disampaikan, aku ingin mendengar pendapatmu sebagai pemimpin Grigory."

Seusai Sirzechs berbicara, pandangan semua orang langsung tertuju ke Azazel. Aah, tidak semuanya dikarena Vali nampaknya tenggelam dalam pemikiran sendiri, sama halnya dengan Rias yang sudah berada di posisi semula saat pertemuan dimulai.

Senyum malas langsung disungging oleh orang yang ditatap. "Tentang insiden beberapa hari yang lalu, karena Kokabiel sudah mati, kami tidak mendapatkan informasi apapun darinya. Namun, dari diriku sebagai pemimpinnya, dia bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri, dengan kata lain, membangkang perintah langsung dariku untuk tidak berurusan lagi dengan kalian dan dunia manusia, ya walaupun harus berakhir tragis. Aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rencana bodohnya itu tentang melanjutkan Great War, menciptakan Great War jilid dua atau apalah itu." jelasnya panjang lebar diakhir desahan tidak kalah panjangnya.

Michael menoleh ke Azazel dengan raut wajah tidak kalah seriusnya dari Sirzechs dan Serafall. "Menurut laporan, itu adalah kategori terburuk Kokabiel harus mati—Aku tahu cerita tentangmu yang secara pribadi tidak ingin membuat hal besar pada kami. Apa itu benar?"

"Aah, aku tidak tertarik dengan peperangan lagi. Saat menyadari Kokabiel membangkang langsung perintah dariku, aku diam-diam menyusup ke Kouh dan mengirim Hakuryūkō saat Kokabiel mulai menyerang. Sayang, Hakuryūkō terlambat beberapa menit untuk membawa kembali Kokabiel hidup-hidup. Bukankah kalian sudah membaca laporannya?" terang Azazel diakhiri sebuah pertanyaan ke Sirzechs dan Michael. Melihat kedua merespon dengan anggukan, dia menggerakkan tangan kanannya yang sedari tadi diam pada permukaan tanah ke atas, saat sudah sejajar dengan wajahnya, jari telunjuknya teracung mengarah tepat ke Rias. Lalu, dengan mata yang menyipit, dia kembali berbicara. "Dan untuk insiden Naruto dan nona Gremory disana itu..."

Selagi menjeda dan telunjuknya masih pada posisi yang sama, dia menoleh ke Sirzechs. "... Di laporanmu tertulis kalau masalah mereka berdua tidak hubungannya dengan rencana Kokabiel." kembali Sirzechs mengangguk membenarkan. "Jadi benar. Kalau begitu, aku tidak ingin campur tangan. Jika ingin menetapkan Naruto dan kelompoknya sebagai musuh Mēkai, jangan pernah membawa-bawa nama Grigory walaupun aku mengenalmu cukup baik Sirzechs. Jujur saja, aku tak ingin lagi berurusan—Aah, menjadi musuh bocah itu dan kelompoknya. Kokabiel saja yang merupakan salah satu jendralku dibunuh dengan mudahnya—"

"Kau takut dengan mereka?" sela Sirzechs cepat. Atas pertanyaannya itu, para peserta pertemuan terdiam, para iblis muda menelan kasar ludah mereka menunggu jawaban. Namun sebelum itu, dia kembali berbicara. "Dan asal kau tahu saja, Azazel. Aku pun tidak ingin menjadi musuh Naruto dan kelompoknya, tetapi para tetua klan yang tersisah dari tujuh puluh dua pilar Mēkai bersikukuh Naruto berbahaya bagi kami. Mereka nampaknya masih belum bisa melupakan Naruto yang pernah tinggal di Mēkai. Tapi disisi lain, aku juga khawatir. Satu dua orang kelompok Naruto sangat membenci kami."

"Ya, kuakui aku takut dengan mereka, terutama Naruto."

Sirzechs tersenyum meremehkan, Azazel pun tersinggung. "Walau Naruto pernah bersamamu selama beberapa tahun... Kau tidak tahu seberapa kuat sebenarnya bocah siscon itu—" ujar Azazel mengundang tanda tanya besar di kepala semua yang dalam ruangan kecuali Vali. "—dan mahluk yang mendiami tubuhnya." tambahnya dalam hati merinding sendiri, karena langsung teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Naruto.

"Apa maksudmu seber—"

"Permisi!"

Belum sempat Sirzechs menyelesaikan kalimat, suara pintu yang dibuka dari luar disusul salam dari suara seorang pemuda mengalihkan pandangan semua orang. Seketika, mereka semua mengarahkan pandangan ke sumber suara dekat pintu masuk ruangan, disana mereka melihat lima sosok yang tiga diantaranya sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. Kelimanya adalah: Naruto, Madara, Hashirama, Hilda dan Yuki.

Dalam rangka menghadiri pertemuan ini Naruto mengenakan kaos hitam polos dibawah hodie merah yang dibiarkan terbuka pada bagian dada, celana biru tua simpel yang pada bagian bawah terselip bagian atas bot hitam yang dikenakan.

Sedangkan Madara dan Hashirama kali ini tampil beda. Masing-masing mengenakan setelan jas yang pada bagian punggung terdapat lambang klan masing-masing. Sepertinya, mereka sudah meminta beberapa maid Yasaka untuk dibuatkan beberapa pasang pakaian, mereka tidak membeli karena Naruto yang sejak meninggalkan Kuoh selalu mengeluh soal keuangan.

Yuki sendiri, mengenakan satu set pakaian yang sering dia pakai berlatih bersama kedua kakak angkatnya. Kaoh hitam yang lengannya mencapai bawah sikut dengan gambar karakter lucu pada bagian dada, celana biru tua pendek dibawah lutut longgar yang dipadukan dengan sepatu kets senada.

Terakhir Hilda, masih sama seperti biasa. Satu set pakaian Gothic Lolita yang seketika membangunkan nafsu Azazel dan Issei.

"Wowww~~!" kedua gumpalan nafsu itu serentak berseru kegirangan dalam hati melihat lekuk tubuh sempurna Hilda yang semakin mengundang sisi negatif dikarenakan begitu pas dengan pakaian Gothic Lolita itu.

"Demi Malaikat Jatuh Pertama di dunia ini!" Azazel semakin menggila, fantasi-fantasi liar mulai mengambil alih pikirannya. "Dimana Naruto menemukan harta dunia ini? Payudara itu, pantat itu, wajah itu... Benar-benar mahakarya terbaik! Kira-kira berapa yang Naruto inginkan agar aku bisa enak-enak dengannya, ya?"

Lain Azazel dan Issei. Lain pula yang terjadi dengan Rias. Dirinya sudah tidak tahu lagi harus apa. Senang karena Naruto benar-benar menghadari pertemuan ini, gugup karena belum bisa menemukan kalimat yang paling pantas disebutkan saat meminta maaf, takut dikarena Naruto mungkin saja tidak memaafkannya serta tekanan berat yang dia rasakan dari Madara dan Hashirama, dan terakhir menyesal dikarena ratusan kenangan indah maupun pahit dia dan pemuda itu kembali muncul di benaknya.

Kembali ke Issei. Usai memandangi Hilda dari ujung kaki sampai ujung kepala dan mengagumi payudara yang ukurannya hampir menyamai milik Rias, dia menggeleng pelan menghilangkan semuanya. Mengalihkan pandangan dari gadis berambut abu-abu itu, dia kini memandangi Naruto dengan raut wajah menahan amarah. Pemuda itu, yang sudah membuat sang ketua bertingkah aneh, dan yang sudah membuat rekan-rekannya hampir tewas.

Terakhir Vali. Jangan ditanya lagi, seketika rasa malas dan jengkel yang sedari tadi melekat bagai lem menghilang seketika. Dia menyeringai dalam hati melihat kedatangan targetnya dan sesekali mengarahkan mata beriris biru es itu ke Madara yang ternyata juga balas meliriknya. Sebagai balasan, garis datar di mulutnya sedikit melenkung membentuk senyum kecil.

.

.

.

"Maaf... Apa kami terlambat?"

Naruto berucap sopan selagi menundukan badan, memecah keheningan yang terjadi akibat dari kedatangannya yang bersama kelompoknya secara tiba-tiba sebelum Sirzechs mempertanyakan pernyataan terakhir Azazel, yang secara tidak langsung menyebutkan kalau pemuda berambut perak itu belumlah memperlihatkan seluruh kekuatan.

"Haaaa..." Azazel untuk kesekian kalinya mendesah panjang, dan kali ini disertai wajah kesal. "Kau sangat terlambat, tahu? Darimana saja kau, hah? Mencari dan mengambil harta dunia di sebelah sana, kah?" saat pendangannya yang sudah berubah mesum mengarah ke Hilda, dia pun diberikan sebuah pelototan tajam yang seketika membuat nyalinya ciut dengan wajah memucat disertai keringat dingin yang bercucuran. "O-oke, lupakan yang tadi. Aku hanya bercanda, Ojou-san."

"Demi Sempak Baraqiel! Gadis ini lebih mengerikan dari yang kuduga. Sialan kau Naruto! Membawa monster mengerikan bersampul Malaikat Cantik!" umpat Azazel sepenuh hati. Bukan hanya pelototan tajam Hilda yang membuat dia takut, dia juga menyadari kalau gadis berambut abu-abu itu bukanlah orang sembarangan, ada semacam tekanan misterius yang datang dari gadis itu yang membuat perasaannya dilanda kegelisahan mengenai sesuatu yang buruk akan terjadi. "Sialan! Kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak sejak kedatangan mereka."

"Haaah... kami tersesat di jalan kehidupan. Jadi, kami mohon maaf atas keterlambatannya Lucifer-dono, Leviathan-dono, Michael-dono."

"Nggak apa kok, Naru-tan..." Serafall membalas ceria, nampaknya dia belum menganggap Naruto adalah musuhnya. "Lama tidak bertemu, Naru-tan."

"Ya, lama tidak bertemu, Leviathan-dono!"

Interaksi biasa saja dari Naruto dan Serafall setidaknya merubah sedikit suasanan ruangan yang terlalu kaku akibat dari banyaknya aura kegugupan menumpuk. Beralih ke Sirzechs, kening pria ini malah mengkerut atas panggilan formal Naruto padanya. Pikirnya, Naruto sudah benar-benar memutus ikatannya dengan Underworld, terlihat dari disebutkan gelar Sirzechs, bukan namanya.

Suara meja yang digebrak, mengalihkan perhatian semua ke Azazel selaku pelaku tindakan tersebut. "Oiiiii!" pria itu berteriak keras ingin memprotes sesuatu. "Kenapa cuma Sirzechs dan Michael? Dimana rasa hormatmu padaku sebagai pemimpin Grigory, hah?"

"Kutinggalkan di wc tempat tinggalku."

Michael, Serafall, Grayfia, Sōji, Diehauser, Dulio dan beberapa peserta rapat yang tidak banyak pikiran berusaha keras menahan tawa mereka atas balasan Naruto. Apa-apaan itu? Meninggalkan rasa hormat pada pemimpin malaikat jatuh di wc apartemen, serendah itukah Azazel sampai diperlakukan seperti itu? Dua pertanyaan menjadi pemikiran orang-orang disana yang berusaha menahan tawa.

"Sialan!" cerca Azazel sembari memberikan pelotan setajam silet ke Naruto.

Puas membuat Azazel kesal, yang tentu saja tidak akan dibawa serius oleh malaikat jatuh itu. Naruto kembali ke mode seriusnya. "Sekali lagi kami meminta maaf atas ketidaksopannya terlambat datang, padahal kami diundang secara langsung ke pertemuan penting ini. Beberapa dari kalian mungkin sudah mengenalku, perkenalkan namaku Uzumaki Naruto... Mereka adalah keluargaku, yang disana itu Uchiha Madara." dia mengarahkan jari telunjuk ke Madara yang berada paling kanan. "Disamping Madara, adalah Senju Hashirama... Lalu Hilda, dan terakhir adikku, Yuki."

Hashirama kecil sebelum menyebut kembali nama dan posisinya sebagai pemimpin manusia pengguna chakra, Madara hanya mengeluarkan dua huruf andalannya, Hilda melambai ringan sedangkan Yuki berusaha untuk tidak takut selagi bersembunyi di belakang sang kakak.

Azazel selaku satu-satunya orang yang tidak bermasalah dengan Naruto—kecuali soal kehormatannya yang diinjak-injak tadi segera memperkenalkan para anggota rapat yang tidak dikenal oleh Naruto. Sempat, pemuda berambut perak seperti Vali itu terkejut mengetahui bahwa salah satu peserta rapat adalah pemegang 13 Longinus. Selain itu, terkejut juga mengetahui kalau Sōji Okita yang beberapa kalo menjadi lawan sparring saat masih dibawah naungan keluarga Gremory ikut hadir bersama sang juara rating game.

Usai sesi perkenalan, Madara dan Hashirama segera mengambil posisi duduk pada dua kursi yang disediakan untuk mereka. Di belakang keduanya, Naruto bersama Hilda dan Yuki berdiri sejajar.

.

.

.

"Baiklah... Karena semuanya telah hadir, mari kita lanjutkan pertemuannya." mulai Sirzechs kembali serius.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada kelompok Naruto yang nampaknya tidak terlalu termakan banyak tatapan berbeda ekspresi disana. Setelahnya, Azazel pun memulai sesi tanya jawab dengan memandangi dengan raut wajah tertarik ke Madara dan Hashirama secara bergantian.

"Jadi, kalian berdua yang melawan dan membunuh Kokabiel?"

Madara yang awalnya acuh tak acuh melirik sebentar Azazel selagi bertanya balik dengan sedikit mengintimidasi pria berambut hitam bercampur kuning itu. "Kau keberatan—Tidak! Kau marah kami membunuh anak buahmu?"

"Wow, wow! Santai, bung! Tidak usah pakai intimidasi segala. Aku datang dengan damai kesini." ucap Azazel dengan sedikit nada bercanda terkandung di dalamnya, namun tersembunyi sebuah maksud untuk memberikan Madara sebuah peringatan untuk tidak memanaskan suasana. "Naruto... Kelurgamu yang satu itu gila. Apa dia tidak tahu kalau di hadapannya ada empat pemimpin fraksi akhirat yang kapan saja bisa membunuhnya?"

Tidak ingin pertemuan penting ini menjadi tidak terkendali atas tingkah seenaknya Madara yang mengirim intimidasi ke Azazel. Hashirama dan Michael segera memberi teguran halus ke pria Uchiha itu.

"Tenang Madara—"

"—Ini pertemuan resmi, Uchiha-dono."

Madara melenguh panjang, kemudian menyandarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi. "Oke, oke. Aku tidak akan ikut campur masalah kalian, kecuali... Kalian menyungging sesuatu tentang kami." ucapnya sembari melipat tangan di depan dada, tidak lupa memandang dengan wajah sedikit terangkat beberapa orang di depannya. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah lesuh. "Haaa, andai saja tidak ada utang yang ingin kutagih, dan sebuah persyaratan yang mengharuskan kami hadir. Aku tak akan mau berada disini."

"Jadi," pria Uchiha itu mengalihkan perhatian ke sahabatnya. "Lakukan sesukamu. Nanti saja kubahas hal yang kusebut tadi."

Mengangguk paham, Hashirama setelahnya mengalihkan perhatian ke sang gubernur malaikat jatuh disana. "Begini—Errrr...?"

"Azazel, panggil saja Azazel."

"..., Azazel-san. Sebenarnya, kami tidak berniat membunuh, errr... siapa ya?" Hashirama berhenti sejenak sambil memasang tampang bingung andalannya, bukan karena tidak tahu ingin berkata apa, namun lupa akan nama petinggi Malaikat Jatuh yang mereka bunuh. "... Kolaka? Kobaka? Kobi? Kaka? Aaa! Toothy-san. Ya, Toothy-san!"

Azazel hampir saja kelepasan untuk tertawa saat mendengar nama pemberian kelompok Naruto untuk bawahannya yang telah pergi menyusul rekan seperjuang di Great War, dan juga ekspresi bingung Hashirama yang entah kenapa terlihat lucu dimatanya. Beruntung, dia sadar kalau saat ini bukan waktunya untuk bercanda, lagipula itu terlalu penting untuk ditertawai.

"Kami berdua bersama Naruto hanya ingin menolong Xenovia-san agar perjanjian kami tidak batal." Hashirama melanjutkan, dan gadis yang disebut namanya tersentak dan hendak menyeruakan protes andai saja pria Senju itu tidak segera menyambung penjelasannya. "Namun, setelah mendengar tujuan Toothy-san, terpaksa kami tidak punya pilihan selain membunuhnya."

"Ya, kami sudah tahu hal itu. Kokabiel hendak menghancurkan Kuoh dan membunuh dua pewaris tahta klan disana itu," Azazel menunjuk Rias dan Sona. "untuk memulai kembali peperangan diantara ketiga fraksi."

"Jujur saja, tujuannya untuk memulai peperangan tidak bisa kuterima. Jadi, sekali lagi kami meminta maaf telah membunuh bawahan anda Azazel-san!" Tiba-tiba saja Hashirama menundukan kepala hingga membentur meja dan menciptakan suara yang cukup keras sampai mengejutkan beberapa orang disana. "Benar-benar—" dia mengangkat kepala dan sekali lagi melakukan hal yang sama, dan kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Benar-benar minta maaf!"

Naruto meringis pelan melihat Hashirama sebegitu menyesalnya telah membunuh Kokabiel. Begipun dengan Madara dan Hilda, walau mereka tidak terlalu memperlihat ekspresi yang berarti.

"Ossan!"

"Dobe!"

"Hokage-sama!"

Walau dimata ketiga orang diatas, Hashirama adalah keturunan Senju Bodoh hobi bermain judi yang sekali pun tidak pernah menang. Namun, jika sudah memasuki Hokage-Mode, tidak ada yang lebih menghormati Hashirama dibanding ketiganya, dan siapapun yang merendahkannya sudah dipastikan akan berumur pendek tidak peduli siapa pun itu.

Dan sepertinya, Azazel dan ketiga pemimpin di ruangan tersebut bisa merasakan apa sesuatu yang ganjil terhadap perubahan aura dari Naruto, Madara dan Hilda. Maka dari itu tidak ada dari Michael, Sirzechs dan Serafall yang mengintrupsi demi kelancaran konferensi ini.

Ya, setidaknya itu yang keempat pemimpin disana inginkan. Akan tetapi apa hal tersebut akan terjadi?

Azazel tersenyum selagi berkata dengan santai. "Maa, maa. Angkat wajah anda Senju-san! Santai saja, kehilangan satu anak buah, terutama yang keras kepala dan susah diatur macam Kokabiel tak akan membuatku marah."

"Dia benar, Dobe!" Madara ikut andil dalam percakapan keduanya, kemudian memerintahkan sang sahabat untuk mengakhiri kegiatan menundukan kepala seperti yang diinginkan Azazel. "Angkat kepalamu. Kau itu seorang pemimpin, tidak sepatutnya kau merendahkan diri di depan mereka." terdengar sangat jelas bahwa ada nada kebencian terselip dalam kalimat Madara pada bebepara kata di bagian akhir.

Tidak kunjung mengangkat kepala, Madara pun dibuat kesal. "Kubilang. Angkat kepalamu!" bentaknya kasar seketika membuat Hashirama menoleh ke arahanya. "Cepat hentikan, atau tidak, kau akan kucincang dan kujadikan patung kayu cacat!"

"Ba-baik."

Selepas itu, keringat jatuh memenuhi beberapa batok kepala bagian belakang orang-orang disana. Bagaimana tidak, Hashirama kini dalam keadaan drop dengan awan hitam mengepul di atas kepala. Sedangkan Madara sudah dalam mode kesal bukan main dengan urat kening yang menyembul keluar dan sesekali menggeram marah layaknya srigala kelaparan.

Serentak, mereka yang sweatdrop berpikir demikian.

"Apa benar dia seorang pemimpin?"

.

.

Disaat beberapa orang—iblis, malaikat dan malaikat jatuh disana tengah dilanda sweatdrop massal. Itu tidak terjadi pada Rias Gremory. Gadis ini malah fokus ke seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu ke gadis kecil berambut putih panjang di sana. Dalam hati Rias, terus memanggil-manggil nama seseorang itu—Naruto. Berharap agar pemuda itu mendengar dan mau berbicara dengannya selagi ada waktu dimana peserta konferensi tengah dilanda hujan keringat. Sayangnya, kesempatan tersebut terbuang sia-sia, jangankan memanggil, memandang Naruto saja entah kenapa sangat berat untuk dia lakukan.

.

.

Kembali ke meja.

Merasa bahwa masalah Kokabiel telah selesai bagi pihak pembunuh dan pihak yang kehilangan, Sirzechs hendak mengalihkan topik pembahasan lain yang tidak kalah penting. Awalnya, dia hendak membahas soal penyerangan Naruto terhadap adiknya, namun saat melihat keadaan sang adik yang tengah gelisa membuatnya urung membahas hal tersebut. Mengalihkan perhatian dari Madara dan Hashirama yang tengah bersitegang ke Azazel. Pria pemegang gelar Lucifer ini pun memulai.

"Azazel,"

Pemimpin tidak pedulian itu menoleh merespon panggil Sirzechs.

"Aku ingin menanyakan satu hal, sebenarnya sudah sangat lama aku ingin menanyakannya—Tapi, kenapa harus mengumpulkan pemilik Sacred Gear selama beberapa dekade ini? Awalnya aku mengira kau bermaksud mengumpulkan manusia, dan mencoba memperkuat potensi bertarung kalian. Aku bahkan mengantisipasi perang melawan Surga dan kami..."

Sirzechs memberi jeda. Pada saat yang bersamaan, Naruto dan kelompoknya tertarik akan topik ini. Mereka segera menghentikan kegiatan dan mulai serius memperhatikan, dikarenakan Sirzechs sempat menyebutkan kata yang cukup Madara tunggu-tunggu di keluarkan. Sebelum Sirzechs melanjutkan, dia sudah didahului oleh Michael yang nampaknya satu pemikiran dengan Maōu Lucifer itu.

"... Ya, tak peduli beberapa waktu berlalu, kau tak mengangkat perang melawan kami. Bahkan, saat mendengar kau membesarkan Hakuryūkō, aku dihantui kewaspadaan tinggi."

Azazel tersenyum pahit. Apa yang selama ini dilakukan secara diam-diam ternyata sudah diketahui sejak lama. "Itu semua demi penelitian Sacred Gear. Kalau begitu, bagaimana kalau kukirimkan bagian material penelitianku pada kalian? Biarpun aku melakukan penelitian, aku takkan berperang melawan kalian dan juga mereka berdua—" dia melirik Madara dan Hashirama yang menatap serius ke arahnya. "—atau semacamnya. Bukankah dulu aku pernah memberitahukanmu Sirzechs?" pandangannya kembali tertuju ke orang yang sebut. "Huh, jangan bilang kau lupa?"

Pertanyaan Azazel barusan langsung dibalas senyum kecil oleh Sirzechs tanda bahwa memang sudah dilupa.

"Sialan kau Sirzechs! Dasar pikun!" Azazel mengumpat kesal sepenuh hati. "Baiklah... Langsung ke intinya saja. Aku tak tertarik pada perang di jam segini. Lebih baik memancing atau apalah. Aku sudah puas dengan dunia yang sekarang. Aku sudah memerintahkan dengan keras pada bawahanku 'Jangan ikut campur dengan urusan dunia manusia', tahu? Aku tak punya niat ikut campur dalam keagamaan juga, atau mempengaruhi bisnis para Iblis—Sial! Apa aku yang paling tidak dipercaya diantara ketiga—tidak, tidak! Ke-empat kekuatan besar ini?"

Ya, keempat. Azazel menganggap jika Madara, Hashirama dan Naruto yang seorang manusia patut diperhitungkan.

Serafall bersama Grayfia, Sōji Okita dan Diehauser mengangguk serentak sebelum Maōu Leviathan itu mewakili. "Benar sekali!"

"Sangat benar!" dan Michael nampaknya sepaham dengan bangsa iblis.

"Sedikit." Sirzechs menjawab ragu, namun dalam hatinya merasa kalau Azazel terlalu cepat mengambil keputusan. "Sial! Padahal penjesalan soal penyerangan Naruto terhadap Rias dan yang lain belum dibahas, tapi Azazel mulai memperlihatkan tanda ingin mengadakan kerja sama untuk kedamaian dunia ini." yang dia inginkan adalah sebelum menjalin kerja sama, setidaknya kelompok Naruto harus dipastikan ikut serta dalam hal tersebut.

Melihat gerak-gerik Sirzechs, Naruto meringis memprediksikan bahwa Maōu itu tengah memikirkan sesuatu yang penting. Pikirnya, kembali Azazel mengambil langkah duluan sebelum penyerangannya terhadap Rias dibahas, dan bagaimana keputusan dia dan kelompoknya apabila memang benar akan terjalin kerja sama. "Sepertinya memang benar jika dia ingin kami berada di sisi putih atau setidaknya tidak menjadi musuh. Sayangnya, sudah kuputuskan untuk tidak berurusan lagi dengan kalian kecuali kalian terlibat dalam pembantaian itu." pikirnya panjang lebar dan ditambah keyakinannya tentang Sirzechs mulai takut akan duo kombo shinobi kelompoknya.

"Tenang saja, Aho Ero-Datenshi (Dumbass Pervert Fallen Angel)." puas mengamati dan mencari tahu kenapa Sirzechs sampai bertingkah seperti itu, Naruto beralih ke Azazel yang kembali diberi pelototan tajam akibat panggilannya barusan. "Aku percaya padamu tidak menginginkan peperangan lagi."

Lain lagi dengan Madara yang sama sekali tidak peduli dengan mengeluarkan dua huruf andalannya. "Hn."

"Jika Naruto percaya padamu... Aku hanya bisa mengikutinya saja."

Beruntung, dengan adanya Naruto dan Hashirama yang percaya dirinya membuat situasi menjadi netral bagi Azazel. Madara tidak terhitung karena ketidakjelasan jawaban yang dikeluarkan. Usai itu, dengan santainya Azazel mengorek lubang telinga selagi mengucapkan kalimat panjang yang menjadi pemicu naiknya tensi konferensi ini.

"Cih! Kupikir beberapa diantara kalian lebih baik dari Tuhan dan Lucifer generasi sebelumnya, ternyata kalian—Iblis dan Malaikat, dan satu manusia apalah dia itu merepotkan juga. Diam-diam meneliti tidak membuat kalian nyaman rupanya, ya... Aah, aku paham—"

Saat jeda pendek itu muncul. Sirzechs mengetahui bahwa Azazel akan segera mengajukan kerja sama. Dengan tatapan horor, dia memandang temannya itu selagi membatin. "Azazel...! Jangan-jangan kau...!"

"—Kalau begitu, kita bekerja sama saja—Aah, tidak, tidak! Berdamai saja. Sejak awal niat kita seperti itu, kan? Malaikat, iblis dan kalian berdua?"

.

.

.

Dengan berakhirnya pertanyaan Azazel itu. Setiap golongan yang berada di ruangan tersebut terkejut untuk sesaat. Bahkan Madara yang awalnya tidak peduli, pria ini tidak menyangka kalau secepat ini Azazel akan mengajukan hal tersebut, yang seharusnya diprediksi akan terjadi di penghujung konferensi. Rias yang sejak tadi tenggelam dalam pemikiran sendiri juga ikut terkejut. Sepertinya permintaan Azazel tentang kerja sama dan perdamaian adalah hal yang patut dikejutkan bagi pihak supernatural, walau sebenarnya ketiga pemimpin disana memang menginginkan hal tersebut.

Bagi Issei sendiri yang tidak mengerti situasi ini berpikir jika pemimpin salah satu golongan mengajukan hal tersebut, maka itu adalah hal yang hebat. Apakah dirinya akan menyaksikan momen bersejarah yang mungkin hanya terjadi dalam seumur hidup ini?

"Woaah! Kau akhirnya mengatakan hal itu juga Azazel. Padahal kukira itu hanya akan menjadi mimpimu belaka. Selamat untukmu!" seru Naruto cukup keras berpura-pura tidak tahu akan seperti ini jadinya konferensi tiga fraksi sekarang.

"Sudah kubilang bukan? Aku tidak main-main soal ini." ujar Azazel bangga. Namun selanjutnya dia malah keheranan melihat raut wajah Naruto yang selang beberapa saat setelah bertanya berubah drastis. Raut wajah yang begitu sulit diartikan olehnya. "Apa yang terjadi dengannya? Apa dia ragu Michael dan Sirzechs setuju? Atau takut jika kerja sama benar terjadi dia dan kelompoknya akan dicap musuh karena permintaan dari pihak iblis?" renungnya dan berharap tidak benar.

Pulih dari keterkejutannya, Michael tersenyum. "Ya, aku juga bermaksud mengajukan perdamaian dengan pihak iblis dan Grigory. Kalau kita terus melanjutkan hubungan ketiga golongan seperti sebelumnya, hal itu akan menimbulkan kekacauan di dunia ini. Aku, pemimpin para Malaikat mengatakan itu karena—penyebab awal peperangan, Tuhan dan Maoū-sama lenyap." pada interval ini. Dia—Michael nampaknya sudah sadar akan sesuatu dan menginginkan perdamaian.

Sama halnya dengan Michael. Madara yang juga sudah pulih menundukan kepala, menyembunyikan raut wajahnya saat ini dibalik bayangan poni. Dalam keadaan seperti itu, dia menyeringai. Nampaknya ada sesuatu yang tengah direncanakan Uchiha satu ini, dan Naruto sama sekali tidak tahu akan itu.

Lain halnya dengan Azazel. Dia malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerama dari Malaikat bersayap emas itu.

Michael, Sirzechs, Serafall, Grayfia, Sōji, Hashirama dan Naruto mengerutkan kening bingung kenapa Azazel tiba-tiba bertingkah seperti orang gila.

"Ha! Si keras kepala Michael mulai angkat bicara. Biarpun dia hanya berkutat soal Tuhan, Tuhan, Tuhan sebelumnya."

"Aku sudah kehilangan banyak hal Azazel. Namun, tak ada artinya mencari hal-hal yang saat ini tidak ada. Tugas kamilah untuk membimbing manusia. Kami anggota Ten Seraph memiliki pendapat yang sama bahwa hal terpenting adalah mengawasi anak-anak Tuhan mulai dari sekarang dan seterusnya, serta membimbing mereka."

"Hei, hei, hei, dengan pidatomu tadi, kau akan 'Jatuh' tau?—Aku memikirkan itu, tapi kau yang mengambil alih [System] kan? Ini menjadi dunia yang bagus. Benar-benar berbeda dari waktu ketika kami 'Jatuh'." jelas Azazel, dan setiap orang berotak di atas rata-rata di rungan itu mampu menangkap ada nada iri dalam ucapannya.

Madara semakin memperlebar seringai di wajahnya. Menyadari ada keanehan terhadap gerak-gerik pria Uchiha itu, Naruto menyipitkan mata. "Sial! Apa lagi sekarang, Teme? Tadi, bersikeras untuk mengajak Yuki untuk ikut? Sekarang aku malah merasakan dia akan melakukan sesuatu—Jangan-jangan...!" tidak ingin kecurigaannya benar-benar terjadi, dia segera berjalan menghampiri Madara dengan Yuki yang setia mengekor karena masih memegang tangannya.

Hashirama melirik kebelakang mendengar langkah kaki Naruto yang mengarah ke dirinya dan Madara. "Ada apa, Naruto?" tanyanya selagi menoleh ke pemuda itu.

Grayfia, Sōji Okita, Diehauser, Dulio, Malaikat Tanpa Nama disana, Rias, Sona dan anggota Okarutō Kenkyū-bu mengalihkan fokus pemuda berambut perak gelap itu. Waspada apabila melakukan hal yang tidak terduga di konferensi ini.

Terakhir Vali. Berbeda dengan yang lain, dia malah fokus ke Azazel yang sekarang ini tengah menungggu respon Sirzechs dan Serafall ataupun pihak lain mengenai kerja sama nanti. "Permainan dimulai!" serunya dalam hati dengan senyum miring dibentuk mulutnya. "Beruntung Azazel bersama Michael menyinggung soal dunia dan manusia tadi."

Mengabaikan kelompok manusia di sebelah kanannya, Sirzechs malah memikirkan untuk segera menyetujui proposal kerja sama Azazel sebelum terjadi sesuatu yang bisa membatalkannya. "Kami juga sama. Biarpun Maōu yang asli tel—"

Namun, semua sudah terlambat bagi Sirzechs dan pihak yang ingin bekerja sama. Madara sudah terlebih dahulu mengambil tindakan awal mengenai rencananya di konferensi ini.

"Pfffttttttt~~" Suara seperti tawa datar yang sengaja ditahan Madara keluarkan, memotong ucapan Sirzechs. Iblis merah serta yang lain mengerutkan kening, bingung kenapa sang Uchiha tiba-tiba menahan tawa mengejek itu. "Kuharapa Hashirama tidak lupa mengenai perannya." pikirnya.

Memicingkan pandangannya ke Madara, Sirzechs bertanya. "Apa yang lucu Uchiha-san?"

"Haha... Hahahahahahaha... Ha...ha...ha... Hahahahahahahahahahahahaha~~"

Masih dalam pose yang sama, tawa Madara pun pecah dan menggema di seluruh ruangan hingga disangka sudah gila. Puas menertawai sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh siapapun kecuali Vali. Dia bangkit berdiri mulai berbicara dengan nada sarkatis. "Kerja sama? Perdamaian? Malaikat, Malaikat Jatuh dan... Iblis? Kalian ingin menyatakan kerja sama untuk mencapai perdamaian? Jangan membuatku tertawa, mahluk-mahluk sialan!"

Para Iblis dan Malaikat yang ikut bersama Michael tersinggung dengan ucapan Madara yang terakhir.

Mata Sirzechs memicing tajam ke Uchiha itu. "Jaga ucapanmu, Uchiha-san!"

Madara memasang raut wajah merendahkan seseorang andalannya. Dengan wajah terangkat, dia memandang rendah sang Maōu Lucifer hingga membuat semua iblis disana menggertakan gigi tidak suka. "Diam kau, kecoa dunia!" perintahnya seolah tidak ingin dibantah, tak peduli orang yang dia panggil sedemikian rupa adalah seorang pemimpin. "Dengar, ya, mahluk-mahluk sialan! Pasang telinga kalian baik-baik, jangan jadi hiasan saja."

"Kenapa kalian baru ingin berdamai?" Madara menjeda sejenak kemudina memunculkan seringai kecil. Seringai yang sangat jelas bahwa tengah meremehkan semua yang berada disana. "Apa karena salah satu petinggi fraksi Malaikat Jatuh mati di tangan dua manusia, heh?"

Pertanyaan terakhir dari pria Uchiha itu membuat semuanya terdiam. Memang benar, jika kematian Kokabiel di tangan Madara dan Hashirama cukup membuat dunia supernatural dilanda keterkejutan, terutama para tiga fraksi akhirat. Bukan karena apa, ini kali pertama ada veteran Great War berstatus petinggi yang tewas di tangan manusia, terlebih bukan pengguna Sacred Gear yang notabene merupakan salah satu kekuatan tempur manusia.

"Apa kalian tidak sadar juga? Gara-gara perang apalah namanya itu, kami manusia yang paling dirugikan. Dan malah kalian yang merasa paling dirugikan karena masing-masing dari kehilangan banyak anggota, bahkan Tuhan pun ikut mati? Hahahaha, kalian benar-benar pandai melawak."

"Apa maksud anda manusia yang paling dirugikan?" tanya Michael memberanikan diri, sekaligus berusaha untuk tidak terpancing.

"Hoho? Kau tidak tau? Bukannya tadi kau bilang 'mengawasi anak-anak Tuhan', mereka manusia, bukan?" tanya Madara. Michael mengangguk meyakinkan disertai senyum Bishonen-nya. "Lalu, dimana kalian saat para manusia dibunuh Malaikat Jatuh dan Iblis atau mahluk supranatural lain? Dimana kalian? Tapi, aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu dan fraksimu, bagaimana pun Malaikat tidak seperti Iblis dan Malaikat Jatuh yang bebas berkeliaran di dunia atas, wilayah milik manusia... Jadi, saat ini kau berada di pihak netral bagiku, Michael."

"Tidak peduli, berapa masa yang terlewat. Di setiap perselisihan mahluk supernatural, selalu melibatkan dan merugikan kami—para manusia." Michael seketika terdiam, dan itu berkat penekanan kata manusia di ucapan Madara. Kemudian, sang Uchiha beralih ke Azazel. "Aku tau kau, aku sudah melihat lewat ingatan bocah sableng itu. Saat anak buahmu seenaknya membunuh, kau malah memancing dan mengintip. Cih! Dasar mahluk hina."

Azazel cuma terkekeh pelan. Toh, dia tidak peduli mau dikatai apa, asal tidak sampai menjurus ke pertarungan. Lagipula, dia bisa membaca apa yang diinginkan Madara. Sangat yakin kalau pria Uchiah itu hanya ingin memancing emosi mereka—terutama Sirzechs. Jadi, diam adalah pilihan terbaik untuknya saat ini. Kecuali, Madara sudah bertindak berlebihan, contohnya saja menyerang secara sembarang ke peserta rapat lain.

"Cukup, Uchiha-san. Kalau anda tetap melanjutkan. Kami akan bertindak tegas!"

"Bertindak tegas?" tanya kembali dengan tatapan merendahkan. Lalu, dia mengarahkan tangannya ke Sirzechs, mengarahkan telapak tangan ke atas dengan jari telunjuk teracung tinggi sebelum akhirnya digerakkan maju mundur secara perlahan. "Maju sini! Aku sudah siap dari tadi!" tantangnya disertai mata merah andalannya yang kini berkibar-kibar tanda bahwa tidak main-main untuk meladeni Maōu Lucifer itu. "Apalagi kau, orang yang paling ingin kutebas!"

"Hahaha, akhirnya kau ingat, iblis sialan! Kau berhutang kepala padaku. Adikku disana adalah buktinya!" tunjuk Madara ke Yuki. Dan sekarang bukan hanya Sirzechs, Rias dan Peerage-nya ikut tersentak. Mereka yang saat itu menculik Yuki sehingga Sirzechs harus bertanggung jawab. "Jadi, apa kau sudah siap kepalamu kujadikan pajangan manis di kamarku?"

Asia yang mulai ketakutan akan sosok Madara meringkuk di belakang sang Sekiryūtei. "Issei-san, aku takut."

Sayangnya, Asia salah memilih orang untuk dijadikan tempat berlindung. Ketakutan Sang Sekiryūtei bahkan tidak kalah besarnya dari sang gadis mantan biarawati itu. Naruto saja, yang sudah meluluhlantahkan mereka dua kali tidak bisa dia kalahkan, jangankan menang. Bertahan melawan pemuda itu dalam pertarungan jangka panjang saja sudah termasuk hal mustahil. Apalagi Madara yang bisa membunuh Kokabiel tanpa mengalami luka berarti. Sedangkan dirinya, bersama anggota Okarutō Kenkyū-bu saja hampir tewas andai saja Naruto dan kelompoknya tidak datang.

Tidak jauh dari posisi Issei dan Asia. Akeno menoleh ke kiri, melihat Rias dan Sona dengan ekspresi mempertanyakan sesuatu. "Buchō, Kaichō... Apa yang harus kita lakukan?"

Rias menggeleng pelan sebagai jawaban. Sama halnya sang ratu, dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Lagipula saat ini pikirannya hanya tertuju pada Naruto. Dia sama sekali tidak peduli dengan hasil rapat ini, mau itu ketiga golongan bekerja sama atau tidak, yang jelas dia hanya ingin meminta maaf ke Naruto dan bukan tidak mungkin meminta kesempatan kedua untuk memperbaiki semua yang terjadi di antara mereka.

Tidak seperti sang pewaris Gremory. Sona nampaknya bisa mengerti situasi yang terjadi sekarang ini. Segera dia menjelaskan kepada para iblis muda disana. "Rias, Akeno dan yang lain. Jangan ada yang mengambil tindakan. Biarkan para pemimpin yang menyelesaikan ini. Dari yang kulihat, Uchiha-san sepertinya ingin memancing para pemimpin terutama Lucifer-sama." melihat beberapa dari anggota Okarutō Kenyū-bu mengangguk paham. Dia segera memberi perintah sebagai yang paling mengerti situasi diantara para iblis muda disana. "Jadi, untuk saat ini jangan ada yang mengambil tindakan kecuali diperintahkan oleh Lucifer-sama atau Onee-sama!"

Bersaman dengan itu. Suasana ruang konferensi mulai mengcekam. Sirzech tidak bisa lagi berkata apa-apa, dia sudah melakukan perjanjian pada Madara, yang mana apabila ada yang bawahannya yang mengusik kehidupan Madara, kepala merahnya yang akan dipenggal. Sebagai seorang pemimpin, pantang baginya untuk melanggar janji.

Serafall sendiri. Karena tidak mengetahui soal perjanjian Sirzechs dan Madara memandangi kedua pria itu secara bergantian dengan pandangan bingung. Namun, satu hal yang pasti dalam benak pemegang gelar Leviathan ini, andai kata Madara benar-benar akan menebas kepala Sirzechs, dirinya tidak akan tinggal diam menerima hal tersebut walau terdapat perjanjian yang mengikat sang sahabat.

Lain lagi dengan Azazel dan Michael. Keduanya memilih diam dengan alasan tersendiri. Sang Malaikat Jatuh sama sekali tidak peduli walau sempat disindir sebegitu kasarnya oleh Madara. Sedangkan Sang Malaikat Bersayap Emas mengetahui Madara ingin menyampaikan sesuatu yang pastinya berhubungan dengan golongan atau ras manusia.

"Haaaah!" Madara menghela nafas sejenak. "Iblis... Apa perlu kujelaskan panjang lebar atau hanya dengan kalimat 'Golongan Maōu lama", kalian sudah mengerti? Terutama kau, pemimpin yang sepertinya ingin melangggar janjinya."

Sirzechs yang tahu betul apa maksud dari kalimat Madara barusan hanya bisa memasang tampang menyesal. Setelah [Great War] terhenti ribuan tahun, perpecahan terjadi di pihak iblis. Perang Saudara pecah, dan pengikut Maōu asli kalah dan diusir dari Underworld, namun disitulah inti yang ingin disampaikan Madara. Pihak Old-Satan Faction ingin membalas kekalahan mereka dengan meminta bantuan dari berbagai macam golongan, dan salah satunya adalah golongan manusia pengguna chakra, Ninja. Namun, golongan Madara menolak hal tersebut dengan alasan tidak ingin terlibat dengan dunia luar. Setelah itu, entah karena alasan apa, Old-Satan Faction pun membabat manusia pengguna chakra menyisahkan Madara, Hashirama dan Jiraiya [Hilda belum ia tahu bagian dari mereka].

"Jika kalian sudah mengerti, aku tidak perlu menyebutkan apa lagi kerugian yang kami alami." tuntas Madara.

Hashirama yang sedari tadi diam mencerna kata-kata sahabatnya, sekaligus mengawasinya apabila bertindak diluar dugaan akhirnya mengambil tindakan sebagai seorang pemimpin dan perwakilan dari golongan/ras manusia. Berdiri dengan gerakan cepat sampai kursi yang diduduki mengeluarkan suara keras berhasil mengalihkan perhatian semua orang.

"Pertama-tama, aku meminta maaf atas kelakukan Madara." dia memulai dengan tampang menyesal yang hanya bertahan selama beberapa detik saja. Setelah itu, wajahnya berubah serius. "Tapi aku sepenuhnya setuju dengannya tentang kerja sama dan perdamaian yang hendak kalian usung. Kenapa? Kenapa baru sekarang kalian ingin bekerja sama menciptakan perdamaian yang kuragukan akan benar-benar tercipta? Apa karena kami sudah membunuh Toothy-san dan membuat kalian mulai sadar bahwa ras terlemah tidak selamanya menjadi yang terlemah?—"

Tidak ada satupun yang ingin menjawab pertanyaan Hashirama yang kedua. Harus mereka akui, terutama ras iblis dan Sirzechs bahwa apa yang dikatakan Hashirama memang benar. Mereka selama ini memandang manusia adalah ras yang terlemah, bahkan setelah sebagian besar dari manusia sudah diberkahi Sacred Gear yang tiga belas diantaranya dikatakan mampu menandingi kekuatan Dewa bila sudah mencapai tahapan yang disebut Balance Breaker.

Lalu, mengenai kenapa baru sekarang mereka mengusung kerja sama. Ketiga memimpin memiliki alasan tersendiri, kematian Kokabiel hanya mereka jadikan sebagai pemicu untuk melakukan pergerakan besar-besaran ini.

"—Kenapa kalian hanya diam saja? Jawablah, kami sebagai ras terlemah membutuhkan jawaban kenapa baru sekarang kalian ingin bekerja sama demi mencapai perdamaian? Padahal kalian sendiri sadar peperangan hanya akan merusak dunia serta merugikan mahluk yang mendiaminya?"

Tidak ingin hanya Hashirama saja yang mendesak para mahluk supernatural disana. Naruto ikut serta untuk membantu. "Michael-dono, Lucifer-dono, Leviathan-dono, Azazel...-dono—" saat dirinya berhenti sejenak setelah menyebut nama pemimpin Malaikat Jatuh, sebuah pelototan tajam langsung terarah ke dirinya, dan itu berasal dari Azazel sendiri yang ingin dihormati. "Tolong, jawablah pertanyaan pemimpin kami. Mungkin saja, apabila jawaban kalian cukup memuaskan. Bukan tidak mungkin kami akan membantu mewujudkannya."

Sehabis Naruto, kini giliran Madara yang ambil bagian. Namun, sebelum itu, dia melirik Hashirama sejenak. "Hn, lumayan juga. Tidak kusangka dia berkata sedemikian rupa sampai membuat mahluk-mahluk hina ini terdiam." pikirnya kemudian beralih ke para pemimpin disana. "Kenapa kalian masih tetap diam? Atau memang benar kalian mulai ketakutan setelah kami membunuh gagak penuh omong kosong itu? Perlu kalian ketahui, kami tidak selamanya menjadi yang terlemah! Tunggulah sampai ada manusia yang berdiri di puncak tertinggi, dan kupastikan saat itu tiba. Kalian yang berada di bawah akan kami injak-injak lebih dari yang kalian pernah lakukan."

"Jadi, hanya sampai disini saja?" Hashirama hendak melangkahkan kakinya diikuti oleh Naruto, namun sebelum itu dia terlebih dahulu mengatakan sesuatu. "Jujur, aku kecewa. Padahal, niat awalku ingin hadir disini bukan hanya untuk memenuhi persyaratan Michael-sama, namun juga mengambil keputusan untuk langkah kami selanjutnya dalam mencari dalang pembantaian penduduk desaku." usai mengatakan hal itu, Hashirama membungkuk pamit selagi berkata. "Kalau begitu... Karena—"

"Tunggu, Senju-san!"

"Anda belum diperbolehkan keluar!"

Naruto, Hashirama dan Madara menghentikan langkah mereka yang baru beberapa meter meninggalkan meja konferensi. Sempat pula, sang Uchiha memberikan pandangan tajam kepada Sirzechs yang berkata seolah dirinya yang berkuasa disini.

"Jangan bertindak seolah-olah kau bisa memerintah kami!" desisnya tajam ke Sirzechs.

"Haaaaa..." Azazel mendesah panjang sambil menggaruk kepala belakangnya malas. Dia kemudian mengacungkan tangan kanan selagi memberi jawaban yang diinginkan oleh kelompok Naruto. "Kenapa baru sekarang kami mengambil langkah seperti ini... Ya, aku tidak tahu kenapa baru sekarang... Intinya, aku hanya ingin menikmati dunia yang sudah berubah ini."

Setelahnya, Azazel menoleh ke Sirzechs dan Michael berganti sambil memasang tampang yang seolah mengatakan. —Jawab saja, atau kau dan adikmu tidak akan mendapatkan alasan dibalik penyerangan Naruto—. Tentu saja hal tersebut ditujukan untuk Sirzechs yang notabene menginginkan hal tersebut.

Mengangguk paham. Michael ikut mengutarakan jawabannya. "Kami dari pihak Malaikat berpikir, ini waktunya untuk mengambil langkah baru. Demi kelangsungan kami dan juga, agar dunia ini tidak kacau." dirinya sebenarnya bisa saja membiarkan kelompok Naruto pergi, karena dengan begitu informasi soal tempat terdekat dari Surga batal diberikan ke kelompok itu.

Madara mendengus saat kalimat terakhir Michael tertangkap indra pendengarannya. "Huh, tidak kacau? Dari awal dunia sudah kacau, Michael." ujarnya dengan nada mengejek.

"Anda benar. Maaf, aku lupa jika Great War yang membuat kekacauan di dunia ini—dunia manusia. Namun, harus anda ketahui jika bukan hanya Great War saja. Beberapa mahluk suprnatural dan mitologi juga turut andil dalam kacaunya dunia ini seperti yang anda katakan beberapa saat lalu." jelas Micheal. Kemudian, dia menampakkan senyumnya. Ah, dia memang seorang malaikat! Disaat-saat seperti ini masih tetap tersenyum. "Dan itu juga yang membuat kami ingin bekerja sama mewujudkan perdamaian. Ingin agar dunia ini tidak tambah kacau. Dengan bekerja sama dengan mahluk-mahluk lain seperi Dewa, Youkai dan lain-lain. Beberapa dari mereka sepertinya setuju dengan perdamaian."

Terakhir, Sirzechs. Setelah penjelasan dari Michael berakhir, dia bangkit berdiri. "Ketahuilah, Uchiha-san, Senju-san... Dunia sudah berubah." ucapnya kalem, berharap dengan kalimat itu, Madara dan Hashirama setidaknya ingin berada di sisi mereka. Namun, merasa bahwa itu belum cukup karena kedua orang disana masih tetap diam, dia melanjutkan. "Itulah yang akan menjadi tonggak awal perdamaian untuk di dunia ini."

Naruto yang berada di barisan paling depan dari pintu mengambil beberapa langkah untuk mensejajarkan diri dengan Madara dan Hashirama. Lalu, entah karena memang sudah dia dan kedua pria rencanakan sebelum hadir, atau hanya kebetulan semata. Mereka serentak berujar:

"Dunia masih tetap sama. Hanya isinya saja yang berubah!"

.

.

.

"Apa maksud kalian berkata seperti itu?"

Beberapa saat setelah ketiga ninja itu berujar bersama yang menciptakan keheningan singkat, Azazel bertanya dengan nada bingung. Melihat hal tersebut, ketiga ninja disana saling bertatapan dan mengangguk serentak. Maju sebagai perwakilan, Naruto segera menjelaskan maksud dari kalimat tadi.

"Jika dulu tiga fraksi utama yang berperang, kini kalian bersatu dan menyatakan perdamaian. Asal kalian tau, biarpun kalian bersatu, dunia ini tetap sama, penuh dengan peperangan... hanya isinya saja yang berubah, orang-orang yang berperang itu... Hmmn, singkat saja. Kalian melawan Khaos Brigade, kira-kira begitu yang kuprediksi."

Azazel terkejut bukan main, tidak menyangka Naruto dan kelompoknya mengetahui soal adanya kelompok yang mengancam keseimbangan dunia yang sekarang ini. "D-Darimana kau tau tentang Khaos Brigade, Naruto?"

"Kau pikir, kami hanya keluyuran tidak jelas selama ini, Azazel? Mana mungkin kami bisa tinggal diam jika dalang pembantaian malam itu masih hidup." jelas Naruto diselingi candaan pada kalimat yang terucap di awal-awal dia berbicara.

"Dan jika saja ada diantara kalian yang terlibat... Heh, tidak ada tempat untuk bersembunyi dariku. Bahkan jika harus mencari di ujung neraka sekalipun." desis Madara dingin menimpali. "Lalu kau..." pandangannya kembali tertuju ke Sirzechs. "Jangan kau berpikir, kau bisa lolos walaupun sudah menyatakan perdamaian dengan Malaikat dan Malaikat Jatuh, Sirzechs Gremory. Kau masih punya utang kepala dan itu harus dilunasi. Aku tak peduli jika harus melawan kalian semua nantinya!"

Hashirama menggeleng pelan. "Ie. Melawan kami lebih tepatnya!" tegas Hashirama. Walau menginginkan perdamaian, melindungi orang yang ia sayangi adalah yang paling utama. Lagipula, dia sedikit sangsi perdamaian bisa tercipta di dunia ini. "Tidak peduli jika kalian akhirnya menganggap kami musuh seperti yang Naruto katakan pada nona Gremory disana beberapa hari yang lalu."

Pernyataan terakhir Hashirama sontak membuat Sirzechs menyadari satu hal, dan itu semua saling berkaitan sejak Madara tertawa keras tadi. Dengan gigi yang terkatup rapat sampai menciptakan suara gemelutuk yang cukup keras, dia bangkit berdiri dan melangkahkan kaki menuju kelompok Naruto. "Sudah cukup!"

Pihak Iblis seketika memasang kewaspadaan tinggi saat pemimpin mereka mulai mengambil tindakan serius. Nampaknya, mereka sudah mengerti arti dibalik tindakan Sirzechs, mereka saja yang berstatus bawahan sudah tidak bisa lagi menahan, apalagi Sirzechs yang berstatus sebagai pemimpin.

"Awalnya, aku cuma mengira kalian, terutama Uchiha-dono berusaha untuk memancing emosiku. Namun, dari pernyataan Senju-san yang terakhir, aku sadar dan berpikir kalau kalian sebenarnya membenci kami—atau lebih tepatnya iri terhadap kami."

"Haha? Iri? Kepada kalian wahai mahluk terkutuk? Jangan berkhayal terlalu tinggi!" balas Madara yang tidak terima. "Ha, aku baru ingat! Sebenarnya kalian yang iri pada kami. Itulah sebabnya, pemimpin kalian yang pertama dibuang ke dunia bawah, tempat yang lebih rendah dari dunia tempat kami, para manusia berpijak."

"Tidak perlu lagi bertele-tele, Uchiha-san. Daripada membuang percuma tenaga mengucapkan omong kosong untuk memancing emosiku, lebih baik berterus terang saja!"

"Hn. Jadi kau sudah menyadarinya, heh kecoa dunia?"

"Ya. Apa yang kupikirkan memang benar! Bahkan dengan ucapanmu yang tidak peduli harus melawan kami semua, alasan Naruto-kun menyerang Rias Gremory dan Peerage-nya sebagian besar sudah kudapatkan." mata Sirzechs memicing tajam, bahkan memunculkan kilatan pertanda bahwa dirinya sudah benar-benar siap untuk melawan kelompok Naruto. "Dari pesan Naruto-kun yang ingin memutus semua hubungan dengan Mekāi, dan ditambah pernyataanmu barusan menegaskan bahwa kalian sebenarnya menargetkan ras iblis—bukan hanya KyumaŌ-ha dalam pembalasan dendam atas hancurkan desa manusia pengguna chakra."

Madara menyeringai bengis. "Bagus kalau kau akhirnya paham. Kalau begitu, bisa segera aku tagih utangmu. Dengan begitu, balas dendam kami akhirnya dimulai!"

Suasana ruangan pun kembali mencekam. Tidak ada satupun dari orang-orang disana kecuali Madara dan Sirzechs yang mengeluarkan suara. Namun, diamnya mereka belum tentu bertahan lama karena dilihat dari gerak tubuh masing-masing kecuali Asia dan Yuki. Mereka kapan saja siap melakukan pertarungan bila mana salah satu diantara dua pria yang bersitegang di tengah ruangan mengambil tindakan.

Di sisi Naruto. Dia memandang intens pada mantan gurunya di Konoha. "Benar-benar seperti yang dikatakan olehnya. Tidak peduli kalau Ossan bertindak diluar dugaan dengan perkataannya tadi, akhirnya tetap seperti yang diperkirakan. Lucifer-dono tersulut emosi!"

"Dengan kata lain... Kalian berlima secara terang-terangan mengibarkan bendera perang terhadap ras iblis, walau hanya KyumaŌ-ha yang menyerang desa kalian." pupil mata Sirzechs yang sejak tadi memandang tajam Madara kini memunculkan sesuatu menyerupai Power of Destruction dalam skala kecil. "Mengatai-ngatai fraksi yang kumpimpin, ya, aku tidak peduli. Memanggilku kecoa dunia, aku maafkan. Namun, mengancam fraksiku sekaligus perdamaian yang belum tercipta, itu tidak akan kumaafkan!"

Azazel dan Michael pun terkejut atas pernyataan barusan.

"Bodoh! Jangan bertindak gegabah Sirzechs!" pikir Azazel dan hendak menghentikan tindakan pria merah itu. Namun, sayang dirinya sudah terlambat.

"Sedari tadi, aku sudah mencoba untuk sabar menghadapi kalian, terutama Uchiha-san. Tapi, karena kalian sendiri yang menginginkannya."

Sirzechs mulai melangkahkan kakinya menuju ke lokasi Madara, aura kemerahan pun mulai bermunculan di kedua tangannya. Melihat tindakan pria itu, para iblis disana pun ikut melakukan hal yang sama. Serafall bangkit dari kursi, Grayfia memasang gerak tubuh siap bertarung, Sōji Okita memegang gagang katana yang disarungkan dan diikat pada bagian pinggul kiri, Diehauser membuka telapak tangan dan memunculkan energi iblis berskala kecil, dan para peerage Rias memasang kuda-kuda bertarung masing-masing kecuali Asia.

"—Akan kuperlihatkan sisi sebenarnya dari ras kami—iblis!"

Tidak berselang lama setelah itu, Sirzechs sudah berada tepat di hadapan Madara yang sama sekali tidak melakukan gerakan berarti. Dia mulai mengepal tangan kanan dan menyelimutinya dengan power of destruction.

Di sisi Naruto. Menyadari kalau bukan hanya Sirzechs yang ingin mengambil tindakan, dia segera mengambil tindakan. Tanpa menunggu lama, dia menarik adiknya—Yuki ke dalam pelukan perlindungan dengan tangan kiri. "Sial! Ini buruk!" setetes keringat dingin muncul di pelipisnya. "Kurama! Aku membutuhkan sesuatu yang besar dan—" dia segera meminta bantuan ke mahluk yang berada dalam tubuhnya. "—jika perlu, lebih besar dari semua orang yang berada disini!"

"Bagaimana dengan Senpō: Museigen no Furu Pawā?"

"Jangan bercanda Kurama?!"

"Tenang saja! Serahkan saja padaku. Aku sudah mendapatkan cara efesien untuk memakai kekuatan penuh mode ciptaanmu itu dan menciptakan versi mini yang sama sekali tidak memiliki efek samping pada tubuhmu."

"Serius?"

"Iya dan banyak tanya lagi. Pemimpin bodoh itu seperti sudah mengambil tindakan terlebih dahulu. Cepat lakukan sesuai dengan yang kuperintahkan. Pertama, keluarkan semua energi alam yang kau simpan."

"Hn. Oke!"

Tanpa menunggu lama lagi sebelum semuanya terlambat, Naruto melakukan perintah dari Kurama. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia mengeluarkan semua Senjutsu (Nature Energy) yang dia simpan. Mengirim sumber utama kekuatan Naruto saat ini ke Kurama yang tengah berkonsentrasi penuh dalam alam bawah sadar pemuda itu. Setelah semua persiapan selesai, Kurama pun mengaktifkan mode yang ingin dipakai oleh inangnya.

[Hiraku: Hyaku Pāsento]
(Open: One Hundred Percent)

Dalam alam bawah sadar Naruto. Beberapa simbol aneh bermunculan di sekitar Kurama yang tengah duduk dengan tangan menyatu di depan dada. Lalu, dengan perintah batin, simbol-simbo aneh tersebut mengeluarkan cahaya jingga yang langsung menyebar ke segala arah—menuju seluruh bagian tubuh sang inang.

"Sekarang, Naruto! Aktifkan modemu!"

"Ouuu!"

Dengan menyatunya energi alam dan kekuatan Youkai Kurama dalam tubuh Naruto, keduanya pun berujar secara bergantian.

[Senpō: Museigen no Furu Pawā—]
(Sage Art: Unlimited Full Power—)

[—Kai]
(—Revision)

Bersamaan dengan aktifnya mode terkuat Naruto yang baru beberapa kali dipakai, yang mana pernah dipakai saat invasi Konoha. Di ruangan konferensi, hal yang cukup mengejutkan terjadi dengan sangat cepat.

Sirzechs yang kepalan tangannya hampir mencapai wajah Madara terkejut bukan main. Hashirama tiba-tiba saja muncul tepat di samping kiri Sirzechs dan menangkap lengan pria itu yang tidak terselimuti power of destruction. Saat Maōu Lucifer itu menoleh ke samping, matanya terbelalak kaget, untuk kedua kalinya dia merasakan ada manusia yang memiliki kekuatan besar, dan kali ini berasal dari Hashirama.

"Menyentuh Madara seujung jaripun... Maka jangan salahkan kami bila rapat ini berakhir dengan jumlah peserta yang tidak lengkap!"

Sedetik setelah Hashirama mengeluarkan ancamannya. Dari pihak Iblis yang terdiri dari Grayfia, Serafall, Sōji dan Diehauser mengambil tindakan cepat. Akan tetapi, tindakan mereka berempat belum kalah cepat dari Madara, Naruto dan Hilda yang ternyata lebih dahulu melakukan pergerakan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, beginilah yang terjadi:

Grayfia selaku ratu Sirzechs muncul tepat di samping kiri Hashirama, sejajar dengan posisi rajanya. Dia hendak melepaskan cengkraman Hashirama, namun sudah didahului oleh Madara yang berpindah menggunakan Shunshin no Jutsu (Body Flicker Technique) ke belakang Hashirama dan menangkap lengan wanita berambut perak itu.

Lalu, beberapa meter dari posisi keempatnya, Serafall hendak melancarkan serangan berupa sihir berbasis es miliknya, itu terlihat dari telapak tangan kiri yang mengeluarkan uap tipis. Sayangnya, belum sempat mengeluarkan serangannya. Hilda muncul di samping kiri lengkap dengan sabit bermata tiga yang mana bagian bilah siap memisahkan tubuh dan kepala Maōu Leviathan itu.

"Ara~" Hilda mengeluarkan suara sensual. "Kalau aku menjadi kau, Jalang. Akan kupilih kepalaku terpisah dari tubuhku." ujarnya kemudian dengan senyum sadisnya yang begitu mengerikan.

"Cepat sekali?! Sejak kapan dia sudah berada di sampingku?!" batin Serafall terkejut bukan main seperti Sirzechs dan Grayfia, sekaligus merasakan tekanan misterius dari Hilda yang mana sempat juga dirasakan oleh Azazel. "Wanita ini bukan orang sembarang!"

Namun, diantara lima iblis yang mengambil pergerakan. Tidak ada yang bisa mengalahkan keterkejutan Sōji dan Diehauser. Bagaimana tidak, mereka yang bahkan belum melakukan pergerakan untuk melindungi atau mengancam balik Hashirama, Madara ataupun Hilda malah harus terlebih dahulu diancam oleh seseorang yang aura dan tekanan terbesar dalam ruangan tersebut. Terlebih lagi untuk Sōji yang merupakan pengkomsumsi bidak spesialis kecepatan.

Dia adalah Naruto. Muncul bersama dengan Yuki yang digendong gaya pengantin, mengalunkan kedua lengan di leher pemuda itu. Entah caranya Naruto memindahkan Yuki yang awalnya berada di belakangnya, sudah berada dalam gendongannya. Namun yang pasti, itu adalah salah satu kemampuan yang diperoleh berkat penguasaan sempurna Senjutsu.

Muncul di tengah-tengah dua iblis yang langsung diancam untuk melakukan pergerakan. Tangan kanannya berada tepat di depan wajah Diehauser dengan posisi siap melancarkan serangan Senpō: Kawazu Tataki (Sage Art: Fog Slap). Sedangkan tangan kiri memegang Katana peninggalan mendiang Tobirama, berbeda dengan sang Emperor yang diancam tepat di wajah, Naruto malah memposisikan tangan yang memegang katana beberapa senti dibawah perut Sōji, lalu ujung bilah yang mengeluarkan kilauan cahaya katana itu diarahkan dagu Knight Maōu Lucifer.

"Maaf, Kenshin-san, Kōtei-san!" ujar Naruto tenang, disertai wajah santai. "Kalian akan menambah rasa takut adikku bila terjadi hal yang lebih dari ini."

Wajah Sōji dan Diehauser seketika dibuat memucat pasih kala ledakan energi besar-besaran keluar dari tubuh Naruto. Yang mana selang beberapa detik empat ledakan dari dua sumber berbeda ikut muncul hingga memunculkan retakan besar pada permukaan lantai dan merembes ke dinding-dinding ruangan. Walau begitu, milik Naruto tetap menjadi yang terbesar dan terkuat, itu semua dikarena Kurama mengerahkan seratus persen kekuatannya ditambah seluruh Senjutsu yang tersimpan dalam tubuh pemuda itu.

Merasakan energi yang berasal dari Madara, Hashirama, Sirzechs dan Grayfia itu. Rias, Sona dan kelompok Okarutō Kenkyū-bu serta malaikat pengawal Malaikat Michael jatuh berlutut tidak mampu menahannya. Sementara Vali dan Dulio menahan diri untuk tidak terjatuh sampai-sampai wajah mereka terlihat meringis kesakitan. Sedangkan Azazel dan Michael hanya meringis pelan dengan setets keringat dingin mengucur di pelipis mereka.

Selesai mengancam dua pengawal Sirzechs, Naruto mengalihkan perhatian ke sang pemimpin Malaikat dan Malaikat Jatuh.

"Nee... Apa benar perdamaian bisa terwujud jika seperti ini? Bahkan sebelum kerja sama untuk mewujudkannya tercipta?"

.

.

.

.

.

.

.

Namun, diantara banyaknya kejadian yang terjadi dalam waktu singkat itu. Ada hal lain yang terjadi, dan tidak ada yang tahu akan hal tersebut kecuali dua mahluk yang mengalaminya. Diantara para peserta rapat, terdapat dua mahluk yang ikut serta namun tidak terlihat oleh siapapun, namun bisa disadari keberadaannya. Mereka adalah Ddraig dan Albion ternyata juga terkejut bukan main dalam tubuh kontener masing-masing. Kedua naga surgawi ini bukan terkejut karena besarnya tekanan dan aura yang saling berbenturan, melainkan ada sesuatu yang lain yaitu:

.

.

[Sensasi tidak mengenakkan ini muncul lagi... Jangan-jangan salah satu diantara mereka...!]

[...Sudah kuduga apa yang kurasakan di desa ninja waktu itu tidak salah. Walau tidak sebesar dengan milik orang yang menghentikan pertarunganku dan Ddraig, namun sensasi yang kurasakan dari kekuatan mereka tidak salah lagi... Benar-benar mirip dengan orang itu!]

.

.

.

Kemudian, setengah menit setelah serentetan kejadian tersebut. Tanpa ada satu pun yang merasakan karena ruangan dipenuhi oleh Senjutsu, tekanan chakra dan energi iblis. Sensasi aneh menyentuh setiap tubuh yang berada di sana. Sensasi yang berbeda dari sebelumnya, dan Issei tahu betul apa itu. Sensasi yang sama seperti saat Gasper menghentikan waktu menggunakan kekuatan Sacred Gear Forbidden Balor View.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Author Brengzeck-id Note:

Puah... Satu lagi Chapter panjang Fic Daybreak selesai dengan word hampir mencapai 20K! Dengan begitu, chapter 24 dan 25 Daybreak ini menjadi Chapter terpanjang yang pernah saya buat! Ya, walaupun saya membagi dua Chapternya atas saran beberapa Author di Pesbuk.

Errrr? Pusing dan capek baca chapter sepanjang ini? Nah, kalau kalian saja yang baca capek, apalagi saya yang nulis :v :v

Inilah alasan selain kesibukan di RL yang membuat Fic ini Update-nya lama. Ya, entah kenapa...semakin ke sini, wordnya semakin banyak.

Untuk Chapter ini sendiri. Ada beberapa bagian yang diambil dari LN DxD yang sedikit dimodifikasi sana-sini-sono-dono-kasino-indro. Mulai dari pertemuan Issei dan Vali. Percakapan Vali dan Azazel sebelum dimalam sehari sebelum KTT dimulai.

Lalu, pertemuan tiga fraksinya sendiri mengikuti LN dan sama seperti di atas, dimodifikasi sana-sini. Mulai dari Gasper yang hanya sendirian ditinggal Mbak Rias-chan dkk di bangunan klub penelitian ilmu gaib. Mbak Sona-chan yang hadir seorang diri tanpa ditemani Mbak Tsubaki-chan. Sedangkan untuk perubahannya, Mbak Irina-chan tidak hadir. Yang mengawal Michael adalah malaikat perempuan lain—Bukan Mami Gabriel dan Dulio Gesualdo. Sedangkan dari pihak Iblis. Yang hadir adalah Sirzechs bersama Serafall sebagai pemimpin, dan mereka dikawal oleh Grayfia Lucifuge, Sōji Okita dan Diehauser Belial.

Hanya dari pihak Malaikat Jatuh yang tidak ada perubahan. Tetap Azazel bersama Vali.

Untuk saat ini peran Character tambahan untuk KTT ini belum dimunculkan. Baru di Chapter depan dan depannya lagi baru dimulai.

Apalagi ya... Untuk Penampilan Hilda (Fem!Hidan)... Cari saja di Gugel dan padukan dengan pakaian Hilda/Hildagarde dari Beelzebub.

Sekian dulu untuk penjelasan di Chapter ini. Mungkin, apabila ada yang tidak dibahas, itu berarti akan segera terjadi di Chapter depan. Oke! Saatnya untuk membalas review!


TsukiNoChandra : Oii, Oiii! Lolicon, bukan Pedo :v ... Errr, tunggu saja, scene Mbak Rias-chan akan muncul di penghujung KTT 3 Fraksi ini.

Ae Hatake : Sayangnya, ingatan Naruto tidak akan terbuka di KTT 3 Fraksi ini, atau mungkin tidak sepenuhnya? Lihat saja nanti di penghujung KTT ... Okee! '-')b

saputraluc000 : Hahaha, Maaf baru Update lagi ... Saya sendiri yang nulis merasa kurang ngeh sama Chapter kemarin.

gedesandyyasa : Ada kok Pairnya ... Incest? Aah, nanti saya pikirkna. Tpi, ya sebenarnya bukan Incest klo pair Naruto x Yuki. Toh Yuki bukan adik kandung Naruto.

th0822626 : Okee! '-')b ... Maaf, baru Update sekarang. Sibuk soalnya!

reyvanrifqi : Ya, mungkin karena dah lama nggak nyentuh Keyboard pas ngetik Chapter kemarin makanya kek gitu jadinya. Dan mudah-mudahan Chapter ini udah agak mendingan, mengingat tidak kalah lama nggak pegang keyboard dari Chapter kemarin ... Okee! '-')b

readersss : Hmmmn, jawabannya akan terjawab di Chapter depan.

Azura : Okee! '-')b

Laffayete : Yaps, chapter kemarin hanya penyampaian ... Errr, nanti klo mang ada One-Side Harem, itu bakalan terjadi bukan karena Naruto terlalu tamvan dan berani. Ya, kurang ngeh klo masuki Mami Griselda. Errr, yang temenin Michael itu Malaikat Tanpa Nama dan Dulio Gesualdo, bukan Mami Griselda. Ya, belum ada keputusan soal Pair Naruto yang belum ke-lock, jadi belum tentu Irina atau Yuki atau Kunou ... Hoho, disitulah menariknya Dedek Kunou. Polos-polos menggairahkan, HIDUF LOLI! HIDUF DEDEK KUNOU! ... Errr, nanti saya pikirin soal Griselda dan bagaimana cara mereka ketemuan, ntar ... Errr, nanti pairnya Mini-Harem/Harem kok ... Buset dah, Mbak Rias dibikin modar! Ntar Si Iblis Tomat bakalan ngamuk loh, di chapter ini aja udah mulai ngamuk ... Awas loh, ntar digebukin ama Fans Issei :v :v

Yuki ChibiHitsu-chan : Hahaha... Yuki-chan aja yang baca ampe keligungang, apalagi yang nulis :v ... Errr, akan terjawab di Chapter depan kok soal hubungan Naruto dan Vali ... Okee! '-')b

DandiDandi : Gak papa kok. Saya juga baru muncul lagi, juga ... Mungkin saja. Lihat saja nanti.

God of Poverty : Gak papa kok. Dibaca aja udah seneng, apalagi direview, Fav and Fol ... Heheh, maaf, Update-nya kelamaan. Sibuk di RL soalnya -_-)"a

Guest : Aah, masih dilanjut kok. Ya, Cuma agak kelamaan.

Bus Damri : Diem lu, Upil Kuda!

Bus Damri Again : Biarin, yang penting gua hidup dan hepiii #TujuuuuhEnaaaaaam ini dah lanjut, Upil Kuda!

Akayuki Ai [My Imouto] : Errr, tandanya sudah Onii-chan hilangin kok. Ya, untuk memperjelas mungkin? :v ... Njiiitrrrr! Kalimat gak efektif muncul lagi -_-)a dan itu juga si Typo. Kagak ada kapok-kapoknya muncul -_-)a ... Ya, mudah-mudahan keduanya udah gak ada disini lagi ... Yaps, udah mulai masuk inti ceritanya. Eitsss! Salah, yang benar tujuh puluhan lebih, dan udah selesai dibuat Chapter mentahnya sampe Chapter 40-an ... Hahahah! Tunggu aja, Dedek Yuki disini bakalan menjadi yang ter-badass dari yang terbadass ngalahin Naruto dn Mbah Madara ... Sabar Dedek Yuki, sabar! Dedek Sabar disayang Good Onii-chan. :"v ... Ya, mungkin Onii-chan terinspirasi dari mahluk hijau satu itu :v :v ... Dah, cukup sampai disini balasannya :v

Re Ciel : Ululululululul~~ Hiduf Dedek Le Fay! ... Bahahaha, Chapter depan bakalan terungkap identitas Naruto kok. Soal ingatannya, masih lama keknya ... Errr, soal request, mungkin akan saya pikirin. Gak papa kok.

Nagato Kuroyuki : Okee! '-')b ... Tenang, gua punya fitur Anti-Cyduk, Buahahahahahahah!

Kashiki032 : Bahahahahaha... Tenang, gua punya fitur Anti-Cyduk :v :v

arif namikaze : Okee! '-')b

Unknow : Sudah hampir selesai kok. Tinggal direvisi di bagian akhirnya doang.

Ajisukma24 : Sudah hampir selesai. Tinggal direvisi di bagian akhirnya.

Yui Yutikaishi : Makasih! ... Maafkan Typo-nya yang berlebihan!

Tidak Ada : Udah lanjut nihh!

Yang Review [Next], [Lanjut], [Kapan Lanjut/Update], sebangsa dan senegera-nya. Ini sudah saya lanjut/Update. '-')/

Ya... walau agak kelamaan sih -_-)"


Oke, sekian dulu untuk Chapter 24 dan 25 beserta ABN-ABN tidak bergunanya...

Brengzeck-id 014 [Root Loliwood] and Stark Fullbaster 014 (Yang sekarang ini mungkin sudah berkubang dalam darah kebejatannya :v) Out!Mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/


Salam Lolicon!

... And ...

Mind to Review?