Beberapa hari sebelumnya...
Madara meringis kesakitan selagi berusaha untuk tidak terpental jauh terkena hembusan angin dasyat yang tercipta dari ledakan besar benturan Ninjutsu (Ninja Technique) miliknya dan Hashirama. Kaki kanannya diinjakkan kuat-kuat pada permukaan tanah, kedua tangan mengambil bentuk menyilang di depan wajah sebagai pelindung dari material-material berbagai bentuk dan ukuran yang beterbangan.
"Dimana tukang judi sialan itu?"
Iris berhias tiga simbol menyerupai tanda koma milik Madara bergerak liar ke segala arah, menelusuri dengan teliti lokasi di sekitar.
"Disitu!"
[Susano'o]
(Tempestous God of Valour)
Tiga simbol bernama Tomoe di mata pria itu berputar cepat membentuk pola baru mengetahui jika sesuatu yang sangat besar datang dari depan dan kemungkinan bisa memberikan luka serius hingga kematian, dan tidak berselang lama perubahan itu susunan rangka tulang rusuk tercipta di sekitar tubuh Madara tepat sebelum naga kayu berukuran besar menerkam.
Benturan hebat terjadi. Naga kayu barusan hancur menyisahkan bongkahan-bongkahan kayu yang beterbangan melewati tubuh dibalik susunan tulang rusuk Susano'o Madara. Namun, pria Uchiha itu nampaknya tidak bisa berucap syukur lolos dari serangan barusan, dia bisa melihat sesosok mahluk setinggi puluhan meter berjalan ke arahnya dibalik kepulan debu pekat pada area itu. saking besarnya mahluk itu sampai menciptakan getaran kecil saat mengambil langkah.
"Hn, dia mulai serius rupanya..."
Madara bergumam dan dibiarkan menggantung. Ledakan aura kebiruan seketika menyapu bersih area tersebut, menghilangkan debu-debu bekas ledakan beberapa saat yang lalu. Perlahan tapi pasti aura kebiruan yang sudah terkumpul menyatu dan membentuk susunan rangka tubuh manusia, mulai dari kaki, tubuh bagian bawah dan atas, perut, lengan, dan terakhir kepala. Madara yang berada tepat di kepala sosok mirip Raja Tengu mengepalkan kuat-kuat kedua tangan sembari fokus melakukan fase terakhir untuk menyempurnakan Susano'o, dan dia berhasil melakukannya.
"... Sekarang, mari kita buktikan omongan orang itu tentang kekuatan dari evolusi terakhir Sharingan!"
"Oii, oii, yang benar saja! Seperti inikah wujud sebenarnya dari Susano'o? Besar sekali!"
Dia atas kepala sosok yang sudah terlihat jelas adalah monster kayu raksasa yang tidak kalah besar dari milik Madara, rival pria itu melotot tidak apa yang tersaji di depan matanya. Sesosok mahluk biru agak transparan yang mengambil bentuk Raja Tengu berdiri kokoh siap melawan monster kayu miliknya.
"Benar-benar tak bisa dipercaya! Secepat itukah kau bisa menggunakan kemampuan mata barumu, Madara?"
"Hoho... Terkejut?"
Hashirama menggeleng pelan. "Sama sekali tidak!" dia berujar dengan raut wajah memaksa untuk tidak terkejut. "Hanya saja, aku heran kenapa bisa kau secepat itu mengetahui tehnik apa saja yang bisa dibangkitkan oleh mata iritasi itu."
Madara tersenyum arogan sambil bersikedep. "Tentu saja karena aku jenius!"
"Aaah... Dasar Uchiha lebay!" Hashirama dilanda sweatdrop melihat tingkah absurd sahabatnya yang hanya bisa keluar bila mereka bersama-sama. "Jenius apanya kalau belum pernah sekalipun menang melawanku."
Urat kening Madara menyembul keluar. "Coba katakan sekali lagi, Hokage-dono?" dia mencoba tersenyum ramah yang dipadukan dengan raut wajah menahan amarahnya. "Nee... Coba katakan sekali lagi, Hokage-dono?"
"O-O-Oee, Ma-Madara..." Hashirama berujar dengan suara tergagap di tambah wajahnya yang sudah memucat pasih. Tepat di hadapannya, Susano'o Madara menarik pedang panjang kebiruan dan diarahkan ke langit, siap membelah dua Hashirama bersama Mokujin (Human Wood) miliknya dengan sebuah tebasan vertikal. "A-Aku tadi cuma bercan—"
Sayang sejuta sayang, Hashirama sudah terlambat. Dalam hitungan detik saja, pedang panjang Susano'o itu sudah terayun vertikal ke bawah, membelah Mokujin miliknya beberapa senti dari tempatnya berpijak. Dikarenakan besar dan kuatnya ayunan pedang tersebut, bukan hanya tehnik kayu Hashirama yang terkena dampaknya, cahaya senada dengan warna pedang ikut muncul, menciptakan suara keras berdesing disusul ledakan maha dasyat membentuk garis panjang sejauh beberapa kilometer hingga hampir mencapai lapisan pelindung pada area itu.
Dalam keadaan terkepung kepulan debu bekas ledakan, dan perlahan-lahan tubuhnya dimakan gaya gravitasi serta efek sabetan pedang tadi, Hashirama mencerca sahabatnya...
"GAAAH~~! DASAR MUKA TEBING BRENGSEK!"
"MAKAN TUH TUSUK GIGI SUSANO'O, SENJU SIALAN!"
.
.
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto, High School DxD [Ichie Ishibumi] and others not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Romance and Mistery.
Warning: Still and always Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-GadoAlur tak menentu Kadang cepat, kadang lambatdan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, HalfDevil!Naruto, Gray!MajorityMainCharacter, GradualyOverpowered!MainCharacter, Etc.
.
.
Arc III
[Early and Late]
Chapter 26
[Daybreak — Re-Match! Konoha Survivor vs Old Satan Faction Leader!]
.
.
.
.
.
"Hmmmnnn...?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Naruto, Azazel malah menyipitkan mata selagi bergumam tidak jelas. Dia segera menoleh ke luar jendela beberapa saat setelah sensasi asing tadi menerpa tubuhnya. Seketika, ekspresinya mengeras bagai besi murni.
Sebagai seorang yang sudah lama meneliti benda langka ciptaan Tuhan yang dikhususkan untuk para manusia ataupun setengah manusia, Azazel tahu betul sensasi barusan berasal dari Sacred Gear. Hanya saja, ada enegi lain yang ikut serta, bercampur hingga memperkuat efek dari serangan tak kasat mata barusan. Tidak hanya sekali saja, namun penguatan itu terjadi terus-menerus hingga keyakinan muncul dalam diri Azazel jika sekarang ini tengah terjadi sabotase atau lebih parahnya sebuah serangan pada konferensi tiga golongan pertama ini.
"Jangan-jangan—"
Azazel dengan cepat mengalihkan perhatian ke ruang konferensi. Dia pun terkejut, sebagian kecil peserta rapat tubuh mereka diselubungi aura hitam keunguan. Walau belum sepenuhnya mengetahui—Atau lebih tepatnya melakukan penelitian, namun dia sedikit mengetahui kalau sensasi aneh barusan, dan apa yang sedang menimpa empat iblis muda di belakang Sirzechs berasal dari kekuatan Sacred Gear.
"—Forbidden Balor View!"
Azazel melenguh panjang sebelum bergumam dengan suara setengah bercanda. "Sepertinya kita telah tertipu."
"Menurutku juga begitu, tapi sebelum itu..."
Michael mengangguk setuju atas pernyataan mantan musuhnya di Great War, sebelum akhirnya malaikat dengan dua belas pasang sayap emas ini mengalihkan perhatian menuju tengah-tengah ruangan diikuti oleh Azazel. Michael tersenyum muram, Azazel mendesah lelah. Sepertinya kelompok Naruto dan pihak iblis sama-sama tidak menyadari hal barusan karena terlalu asik saling mengancam.
Walaupun sudah ribuan tahun hidup, melihat bagaimana manusia dan mahluk-mahluk lain berkembang, dan puluhan tahun meneliti Sacred Gear. Namun, kali ini dia dibuat sedikit terkejut oleh sekelompok manusia yang sama sekali tidak termakan oleh kekuatan Sacred Gear tanpa bantuan artefak suci, kekuatan suci, atau kekuatan lain yang berada di atasnya. Sungguh, sebenarnya apa yang mengalir dalam tubuh Madara, Hashirama dan Hilda membuat Azazel benar-benar penasaran. Chakra? Dia bahkan belum pernah melihat Yōkai kuat yang sudah menguasai Chakra dengan baik bisa membuat Sacred Gear seolah-olah hanya sebuah benda tak berguna.
"Huh, dasar! Sebenarnya, kalian semua manusia macam apa sih? Pengguna Sacred Gear? Majūtsu? atau eksistensi asing yang bersembunyi dibalik wujud dan aura manusia?"
—Mungkin saja alasan dibalik tidak adanya keluarga Naruto yang terkena efek penghentian waktu karena terdapat chakra keturunan Kaguya Ōtsutsuki mengalir dalam tubuh tiga dari mereka. Walau memilik nama yang sama, namun cara penerapan dari keturunan Kaguya dalam menggunakan chakra sangat berbeda dari para Yōkai. Secara garis besar, keturunan Kaguya lebih baik menggunakan chakra, terbukti dari banyaknya tehnik bertarung yang diciptakan oleh mereka. Ninjutsu (Ninja Technique), Taijutsu (Body Technique), Kenjutsu (Sword Technique), Fūinjutsu (Sealing Technique) sampai Kinjutsu (Forbidden Technique) yang menurut keturunan Kaguya sendiri merupakan tipe yang paling berbahaya.
Selain itu, asal usul dari chakra yang dimiliki keturunan Kaguya sampai saat ini masih menjadi misteri. Kapan munculnya? Berasal dari mana? Sampai sekuat apa kekuatannya? Semuanya masih menjadi tanda tanya besar bagi dunia.
Bisa saja chakra para ninja ini muncul sebelum Tuhan menciptakan Sacred Gear. Karena hal itulah, banyak dari kemampuan spesial artefak suci itu sama sekali tidak memberi efek berarti. Selain itu, sampai sekuat apa perkembangannya tak akan bisa diukur mengingat yang memilikinya adalah manusia, ras terlemah namun tidak memiliki batasan untuk terus berkembang.
Madara mengalihkan perhatian tanpa melepas cengkramannya di lengan Grayfia setelah mendengar penyataan Azazel barusan.
"Hn. Apa maksudmu?"
Azazel tak yakin jika ada diantara kelompok yang bersitegang itu menyadari kejadian barusan. Melenguh panjang terlebih dahulu, Azazel kemudian menjawab. "Aah, dasar! Kalian terlalu asik beradu siapa yang paling menakutkan sampai tidak sadar terjadi hal yang lebih merepotkan."
Paham apa yang dimaksud oleh malaikat jatuh mesum itu, Madara mengedarkan pandangan dan menyadari kalau memang ada sesuatu yang aneh terjadi pada area sekitar. "Apa yang terjadi disini?" dia melepas dengan gerakan teramat kasar cengkramannya lengan Grayfia sampai ratu dari Maōu Lucifer meringis kecil kesakitan. "Hmn, sudah dimulai, rupanya. Tak kusangka mereka mulai menyerang disaat pemimpin mahluk hina ini sudah tersulut emosi." pikirnya diakhiri desahan kecewa. "Aah, apa boleh buat."
Vali menyeringai tipis. Dirinya memang sudah mengetahui akan adanya sabotase yang terjadi pada pertemuan ini, dan semua dimulai dengan dimanfaatkannya salah satu budak iblis keluarga Gremory. "Akhirnya mereka bergerak juga."
Sirzechs melepas paksa lengan Hashirama, kemudian menolehkan kepala ke Azazel dan Michael. "Apa yang terjadi?"
"Hahahahahahaha..." Madara kembali tertawa layaknya orang gila, menarik perhatian semua orang yang tidak termakan kekuatan dari Sacred Gear milik budak iblis Rias Gremory. "Lihatlah wahai mahluk naïf yang menginginkan perdamaian! Bahkan sebelum kalian bekerja sama untuk mewujudkan omong kosong itu, sudah terjadi hal seperti ini."
"Cih!"
Sirzechs mendecih sangat pelan. Dia mengabaikan ocehan Madara agar dirinya tidak semakin tenggelam dalam kemarahan dan mulai berjalan menuju tempat Azazel dan Michael yang nampaknya tengah membicarakan hal serius tidak jauh dari jendela.
Mengedarkan pandangan ke segala arah, Azazel mencari tahu siapa saja yang tidak terkena efek penghentian waktu. Mereka adalah empat pemimpin, Grayfia, kelompok Naruto, Vali, Diehauser, Sōji, Dulio, Issei, Kiba, Xenovia dan Koneko. Walau empat yang terakhir belum sadarkan diri akibat dari adu kekuatan kelompok Naruto dan pihak Iblis tadi.
"Haruskah aku terkejut merasakan limpahan sesuatu yang hangat, namun besar dan sangat kuat dalam ruangan ini?" Azazel menoleh ke Naruto. "Apa ini ulahmu, bocah siscon?"
"Hah?" Naruto membalas tatapan Azazel sembari mengeluarkan nada kebingungan.
Azazel mendesah. "Lihatlah disekitarmu, Naruto-teme. Apa kau tidak menyadari sesuatu yang aneh sedang terjadi?"
Melakukan apa yang diminta malaikat jatuh itu. Naruto mulai mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, barulah dia menyadari kalau apa yang dikatakan Azazel memang benar. "Are?" dia bertambah bingung setelah melihat beberapa orang disana tubuhnya diselubungi aura hitam keunguan. "Apa yang terjadi pada mereka?" tanyanya menunjuk para korban serangan Forbidden Balor View.
"Aah, sebaiknya—"
"Ugh~~ Kepalaku sakit sekali!"
Azazel berhenti sejenak saat mendengar rintihan dan keluhan itu. Saat dia berbalik, senyum kecil mengejek muncul di wajahnya. "Oh, Sekiryūtei dan yang lain sudah kembali."
Issei memperhatikan sekitarnya selagi bangkit berdiri diikuti anggota Okarutō Kenkyū-bu yang sudah mampu menggerakkan tubuh masing-masing. Saat kesadaran pemuda ini benar-benar sudah kembali utuh, pandangannya berubah kebingungan. "Apa terjadi sesuatu?"
Lain Issei, lain pula Koneko yang ternyata ikut serta tidak terkena efek penghentian waktu. Seketika wajahnya memucat pasih ditambah tubuh yang bergetar hebat. "I-i-ini—"
"Ada apa Koneko-chan?" tanya Yūto yang juga sudah pulih sepenuhnya sambil memegang pedang suci-iblis tak beraturan yang muncul tanpa diperintah, melainkan merespon untuk melindunginya dari serangan mendadak. "Apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa Rias-Buchō dan yang lain terhenti?"
Azazel yang tidak tahan lagi mendengar pertanyaan mengenai situasi sekarang segera menjelaskan kepada budak-budak iblis Rias Gremory disana itu. "Seperti yang kalian lihat. Sekarang ini sedang terjadi sesuatu. Lihatlah ke luar sana!"
Issei, Kiba, Xenovia dan Koneko melakukan perintah Azazel. Saat melihat keluar jendala, mereka bisa melihat lingkaran sihir berukuran sangat besar melayang tepat di atas lapangan utama Akademi Kuoh. Dari lingkaran sihir tersebut, orang-orang berjubah hitam tak henti-hentinya keluar sambil menembakkan proyektik sihir berupa laser ke segala arah, membabat habis pasukan dari tiga fraksi...
"Kurama, sampai kapan mode ini bisa bertahan?"
"Entahlah... Aku belum memikirkan mengenai batas waktunya. Tapi kuperkirakan, dilihitung dari banyaknya Senjutsu yang terpakai, sekitar lima sampai tujuh menit."
"Serius, hanya sesingkat itu? Bahkan setelah memakai Senjutsu yang selama ini kusimpan?"
"Tentu saja bodoh"
"Bagaimana dengan efek sampingnya?"
"Hmnn... Bisa dibilang tidak akan terjadi apa-apa pada tubuhmu kecuali kehabisan tenaga, dan itupula yang menyebabkan batas waktunya sedikit lebih cepat. Aku membagi Senjutsu dan kekuatanku, setengah digunakan seperti biasa ketika mengaktifkan mode ini, dan setengahnya lagi menyelubungi setiap organ dalammu, melakukan penyembuhan secara terus menerus selama mode ini aktif. Dengan kata lain, efek samping mode ini sepenuhnya menghilang."
"Serius Kurama? Benar- benar tidak ada efek samping?"
"Ya, itu benar Namun sayang... Daya seranganmu berkurang cukup besar walau sudah mencampurnya dengan seluruh kekuatanku... Aah, intinya, tidak ada lagi efek samping, namun batas waktu penggunaan dan daya serang berkurang cukup besar hingga hanya setengah dari total kekuatanku."
"Oke, oke." Naruto menyudahi percakapannya dengan Kurama, selain karena sudah mendapatkan kejelasann mengenai versi revisi dari mode terkuatnya saat ini, dia juga mendengar ada hal yang cukup merepotkan dari Azazel yang sedang menjelaskan situasi sekarang ini pada Okarutō Kenkyū-bu. Menoleh ke pemimpin Malaikat Jatuh itu, dia melayangkan sebuah pertanyaan.
"Oee, Ero Datenshi. Apa maksudmu?"
Azazel menoleh ke kontener Kurama. "Kubilang, Taichō-san, Kōtei-kun dan Rook Gremory mampu bergerak karena terpengaruh Senjutsu milikmu." jelasnya kemudian mendesah panjang. "Haaaah, sudah kuduga kemampuanmu yang satu ini benar-benar merepotkan sekaligus mengungtung disaat-saat tertentu."
Naruto mengukir senyum kecil selagi memandangi orang yang disebut oleh Azazel. "Kalau begitu, berterima kasihlah padaku."
Namun sayang, yang didapatkan Naruto hanya sebuah decihan tidak suka dari Sōji Okita dan Diehauser Belial. Namun tidak untuk Koneko.
"K-K-Kau..."
Suara bergetar dari Koneko mengalihkan perhatian Naruto. Bukan hanya Naruto saja, anggota Okarutō Kenkyū-bu yang mampu bergerak ikut memandangi gadis Nekoshū itu. Saat melihat ekspresi Koneko yang sekarang ini, Kiba dan Issei terkejut bukan main karena untuk pertama kalinya melihat Kouhai imut mereka ketakutan sampai sebegitunya.
"... Ke-kenapa bisa kau setenang itu memakai Senjutsu yang sangat banyak?"
"Oh, jadi kau Yōkai yang dimaksud Lucifer-dono. Hmmn, kalau tidak salah namamu Koneko-chan, bukan?"
"Jawab saja!" alih-alih menjawab, Koneko malah semakin penasaran kenapa Naruto bisa sesantai itu memakai kemampuan yang menurutnya sangat berbahaya. "Ba-bagaimana caramu melakukannya sampai tidak lepas kendali?!"
Naruto tersenyum kecil, dan entah kenapa terlihat sedikit kesombongan didalamnya. "Itu karena aku sudah berada pada tingkat dimana tubuhku benar-benar menyatu dengan alam, dengan kata lain..." Naruto menjeda kalimatnya, membuat dia mendapatkan pandangan tajam penuh selidik dari Koneko. "... Aku sudah menguasainya secara sempurna!"
Hasil dari pernyataan Naruto yang terakhir membuat Koneko terdiam. Dan entah kenapa rasa takutnya menghilang, digantikan oleh kekaguman sekaligus ketertarikan pada pemuda yang berhasil menyempurnakan tehnik yang sangat tidak ingin dia pakai lagi. Bahkan ada keinginan untuk bertanya lebih jauh lagi bagaimana Naruto bisa menyempurnakan Senjutsu, namun keinginannya itu pasti akan ditolak mentah-mentah oleh sebagian besar anggota Okarutō Kenkyū-bu.
Naruto beralih ke Azazel dan dua pemimpin fraksi disana. "Jadi, apa yang akan kalian lakukan menghadapi situasi ini, hmm?"
"Untuk sekarang..." Azazel menoleh ke luar jendela dengan sebuah desahan panjang. Kemudian, tombak cahaya tak terhitung jumlahnya bermunculan di langit luar gedung. Beberapa detik berselang, hujan tombak cahaya menghujani semuanya di saat yang sama pemimpin Malaikat Jatuh itu menurunkan tangan. Walaupun para penyihir di luar gedung menciptakan semacam perisai sihir, namun serangan itu menembusnya tanpa masalah dan melenyapkan para penyihir di luar sana. "Cih!" Azazel mendecih melihat kejadian yang selanjutnya terjadi di luar sana. "Sudah kuduga akan seperti ini hasilnya."
"Jangan terlalu banyak gaya, Ero-Datenshi." tukas Naruto mulai terlihat panik mengingat tidak ada cara yang terpikirkan untuk melewati situasi ini dalam otaknya. "Cepat pikirkan sesuatu selagi modeku ini masih aktif, mungkin saja ada yang bisa kulakukan."
"Sabar sedikit, bocah siscon! Aku perlu menganalisa semuanya sebelum mengambil keputusan." sembur Azazel kesal dengan kontener Kurama yang tidak sabaran itu. "Sekolah ini dilapisi sebuah perisai. Tapi, meski begitu, mereka muncul dalam perisai. Pasti ada lingkaran sihir tipe transfer atau seseorang menyambungkan gerbang ke dalam wilayah ini. Yang manapun, kalau mereka meningkatkan efek dari Forbidden Balor View lebih dari ini, dikhawatirkan kalau mereka juga menghentikan kita semua..."
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Azazel. Anggota Okarutō Kenkyū-bu, dan kedua pengawal Sirzechs terkejut. Mereka sampai tidak habis pikir sekuat apa sebenarnya Perdana dari keluarga Rias Gremory itu sampai bisa menghentikan orang macam Azazel, Michael dan Sirzechs.
"... Dengan menghentikan kami disini dengan serangan cepat, mereka berniat melenyapkan masing-masing gedung sekolah ketika waktu terhenti. Huuuh, benar-benar merepotkan! Mereka sepertinya memakai kekuatan tempur yang patut diperhitungkan."
Saat melihat tatapan Azazel yang mengarah ke luar jendela. Para peserta rapat ikut mengarahkan pandangan ke sana. Lingkaran sihir bermunculan di beberapa tempat di wilayah sekolah, dan mulai bersinar cerah. Dari lingkaran sihir muncul sosok-sosok yang sama dengan kelompok Penyihir yang dihabisi Azazel sebelumnya.
"Yang terjadi hanya pengulangan. Mereka akan terus muncul bahkan kita sudah menghabisi dan membantai mereka. Namun, meski kemampuan dan waktu para teroris itu bagus, mungkin saja mereka mendapatkan informasi dari orang dalam. Apa ada penghianat tak terduga disini?"
Efek dari pertanyaan dari Azazel berhasil kembali mengejutkan semua orang disana, dan langsung beralih fokus ke satu-satunya kelompok yang patut di curigai.
Berhenti melakukan diskusi yang belum diketahui apa itu, Madara memicingkan pandangannya ke setiap orang disana yang memandang penuh rasa curiga ke dirinya dan kelompoknya. "Jika menuduh kami adalah penghianatnya... Akan kupastikan ancaman Hashirama yang tadi benar-benar terjadi!"
"Kami bukan menuduh, hanya curiga saja. Apalagi melihat bagaimana tingkah kalian sebelumnya, sudah sepatutnya kami curiga."
"Hn." Madara berguman tidak jelas dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kepada Sirzehcs yang baru saja berbicara. "Kalau begitu... Apa yang akan kau lakukan bila memang kamilah penghianatnya, heh mahluk terkutuk?"
Sirzechs kembali dibuat emosi akan pertanyaan Madara, namun belum sempat Maōu itu membalas, dia sudah didahului oleh Michael yang sama sekali tidak berpikiran kelompok Naruto adalah penghianatnya. "Aku kurang yakin bila kelompok Uzumaki-dono penghianatnya. Karena jika yang terjadi seperti itu, kami dari pihak Surga tidak akan memberikan informasi apapun."
"Ya, itu benar. Lagipula, jika kami penghianatnya. Sudah sejak dari tadi kami membunuh salah satu diantara kalian karena kuyakini, tujuan utama dari serangan ini adalah membunuh salah satu diantara kalian." ujar Hashirama selagi menunjuk secara bergantian empat pemimpin tiga golongan di dekat jendela. "Tapi, aku juga tidak bisa menyanggah kecurigaan kalian, mengingat Madara sudah banyak berulah tadi."
Naruto mendesah. "Kau benar-benar membuang percuma waktuku. Azazel, cepat katakan apa yang bisa kulakukan untuk bisa lolos dari sini?"
"Kita tak bisa lolos dari sini. Selama perisai yang melindungi seluruh sekolah tidak meleleh, kita tak bisa keluar. Tapi, kalau perisai dilelehkan, kerusakan akan dirasakan oleh dunia manusia. Kita harus menunggu sampai pemimpin musuh muncul dulu. Kalau kita mengurung diri kita sementara, mereka akan lelah menunggu dan menampakkan wajahnya. Aku ingin tahu siapa otak dibalik ini dengan cepat. Selain itu, kalau kita keluar dan bertarung sesuka hati, bisa saja kita melakukan apa yang musuh harapkan."
"Selain itu, kita para pemimpin tak bisa bergerak selagi membuat persiapan. Namun, tujuan pertama kita adalah mengambil kembali Gasper dari gedung sekolah lama yang sudah menjadi markas teroris." tandas Sirzechs sekaligus mengakhir serangkai penjelasan dari Azazel.
Naruto mendecih keras sebelum berkata dengan suara seperti kesal. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, Ero Datenshi-teme!"
"Hoho... Begitu rupanya. Aku sudah mengerti maksudmu, bocah siscon." Azazel menyeringai. "Dengan salah satu kemampuan unik modemu itu, kau bisa melakukan hal tersebut dengan mudah. Baiklah, apa kau ingin melakukannya?"
Naruto balas menyeringai ke Azazel. Kemudian, dia mengalihkan perhatian ke Madara dan Hashirama. "Bagaimana menurut kalian? Apa aku harus melakukan sesuatu terhadap situasi ini?"
"Hn. Terserah Hashirama saja, dia yang memimpin disini." Madara nampaknya tidak terlalu peduli bila mana Hashirama akan menyetujui Naruto pergi menyelematkan Bishop dari Rias Gremory yang menjadi penyebab terhentinya waktu di sekitar mereka.
"Jika memang kita pun bisa terkena efek penghentian waktu bila berlama-lama tidak mengambil tindakan. Apa boleh buat, mengamuklah diluar sana Naruto."
"Dimengerti, Hokage-sama!" Naruto membalas dengan hormat. "Oh, iya!" kemudian, dia menepuk kedua tangannya. "Bagaimana jika kuikutkan Yuki sekalian? Hitung-hitung untuk memberinya pelajaran pertama dalam sebuah tarian sesungguhnya."
Hashirama langsung bersorak antusias. "Benar juga! Baiklah, kalian berdua, pergilah!"
Naruto mengangguk pasti. Dia kemudian menoleh ke sang adik yang sejak dari tadi sudah diturunkan gendongannya, namun tetap memegangi tangan sang adik agar tidak terlalu terkena efek kekuatan besar yang dipancarkan mahluk-mahluk disana. "Nee, Yuki..."
"Iya, Onii-chan?" gadis kecil itu mendongak menatap wajah kakaknya.
Berjongkok untuk menyamakan dengan tingginya dengan sang adik. Naruto kemudian menepuk-nepuk kepala Yuki. "Mau ikut menari bersama Nii-san?"
"Benarkah Onii-chan mau mengajakku menari?"
Perlu diketahui bahwa Yuki adalah murid kedua Madara setelah Naruto, sehingga sebagian besar kebiasaan pria Uchiha itu akan diturunkan kepada sang murid. Dan salah satu kebiasaan itu ialah menari bisa diartikan sebagai pertarungan atau pertempuran.
Mengangguk pelan sebagai jawaban kepada sang adik, Naruto kemudian bangkit berdiri dan memutar tubuhnya ke arah empat pemimpin tiga golongan disana. "Sudah kuputuskan, aku dan adikku yang akan pergi ke markas Rias-chan." tatapan pemuda itu kemudian berubah, menyipitkan mata dan memasang tampang datar warisan dari Madara. "Tapi jangan salah sangka. Aku melakukannya bukan untuk kalian, aku melakukannya untuk keluargaku, agar kami tidak terkena efek penghentian waktu dan tewas mengenaskan di tempat ini sebelum menyelesaikan tujuan kami. Camkan itu baik-baik!"
"Haik, haik. Terserah kau saja, bocah siscon." Azazel membalas selagi menggaruk malas bagian belakang kepalanya, seolah-olah ia mengetahui kalau Naruto akan mengatakan hal tersebut. "Tapi, apa kau yakin mengajak adikmu ke markas teroris sekarang ini?"
"Kau terlalu meremehkan kami, terutama adikku Azazel." Naruto menatap Malaikat Jatuh satu itu dengan mata yang memicing tajam tidak suka. "Tapi, ya memang itu kenyatannya. Kami manusia memang selalu diremehkan... Tapi, sebelum itu—" menghela nafas sejenak setelah menjeda kalimatnya, Naruto kemudian memukul udara kosong di sebelah kirinya, menciptakan cahaya keemasan yang mengeluarkan aura Senjutsu cukup besar. "—akan kubuatkan gerbang ruang dan waktu yang tujuan berada di luar bangunan markas Okarutō Kenkyū-bu. Setidaknya, aku ingin ada satu atau dua orang anggota dari Rias-chan yang menyelematkan Bishop itu."
Sirzechs mengerutkan kening atas pernyataan Naruto. "Apa maksudmu menyelamatkan Bishop Rias? Bukannya kau dan adikmu yang ingin melakukannya?"
"Tidak lagi...! Sudah cukup beberapa tahun silam aku melakukannya." Naruto membuang muka, menghindari tatapan penuh selidik dari Sirzechs untuk dirinya. "Yang ingin kulakukan hanyalah menari di markas Rias-chan. Aku tidak pernah mengatakan ingin menyelematkan Bishop miliknya. Itulah kenapa aku menyiapkan gerbang dimensi ini, agar ada satu atau dua orang yang pergi melakukannya."
Meringis kecil, Sirzechs hanya bisa melakukan hal tersebut selagi memandangi Naruto. "Dia benar-benar ingin memutus semua hubungannya dengan kami." ucap Maōu itu dalam hati. Nampaknya Sirzechs telah mengetahui maksud dari perkataan kontener Kurama itu sebelum membuang muka darinya.
"Naiklah, Imouto!" perintah Naruto selagi berbalik kemudian berjongkok di depan sang adik.
Mengangguk kecil, Yuki kemudian melakukan apa yang diinginkan sang kakak. Dengan gerakan pelan di mengalungkan kedua lengan pada leher Naruto. "Sekarang—" pemuda itu bangkit berdiri. Di mulutnya terukir seringai kecil sebelum menggumamkan kalimat yang paling sering diucapkan oleh Madara sebelum memulai pertarungan.
"—Waktunya menari!"
.
.
.
.
.
"Keh, bocah siscon itu benar-benar deh. Dia tidak pernah pergi tanpa berbuat ulah, dasar!"
Gerutu Azazel beberapa detik setelah Naruto menghilang bersama sang adik, dan tak berselang lama dentuman keras disertai kilauan cahaya keemasan muncul dari arah gedung milik klub penelitian ilmu gaib. Dia lalu mengalihkan perhatiaannya ke empat anggota Okarutō Kenkyū-bu. "Untuk kalian. Jika ingin rekan kalian selamat, segeralah menyusul Naruto. Ya, mengingat kalian pernah bertarung, sampai membuatnya sekarat. Kutakutkan dia tidak peduli dengan bocah setengah vampire itu dan ikut menjadi korban api merepotkannya."
Issei, Kiba, Xenovia dan Koneko mengangguk paham. Keempatnya pun mulai berjalan menuju cahaya emas menyilaukan di tengah-tengah ruangan. Akan tetapi, sebelum mereka melompat masuk. Azazel mencegat mereka dan memberikan sesuatu ke sang Sekiryūtei, tidak lupa menjelaskan sesuatu apa yang diberikan itu.
"Bagiamana denganku, Hentai Otoko?"
Merasa bahwa dirinya yang dipanggil, Azazel menoleh ke Hilda yang sejak pertemuan dimulai baru angkat suara. "Siapa yang kau panggil laki-laki bejad, hah? Asal kau tau, aku bukan laki-laki bejad, tapi laki-laki super bejad!"
"Terserah."
Hilda memutar bosan matanya, entah kenapa dia merasa tidak asing lagi dengan kata-kata barusan, mengingatkan dirinya akan sosok pertapa agung namun mesum yang sekarang ini tidak diketahui permandian air panas daerah mana lagi yang menjadi sasaran penelitian.
"Apa tidak ada yang bisa kulakukan? Aku nggak mau Naruto-chan saja yang menari diluar sana."
"Kalau begitu pergilah ke luar sana dan menari atau kalian sebut apa sebuah pertarungan itu, dasar kelompok aneh. Mungkin saja, bila ada gadis menyeramkan yang mengobrak-abrik medan pertempuran, dalang penyerangan ini akan keluar."
Hilda mengukir senyum mengerikan dan tidak lupa memposisikan Sanjin no Ōgama yang entah sejak kapan sudah dikeluarkan di punggung, membuat gadis itu terlihat persis dengan Shinigami versi perempuan.
"Khukukuku~~"
Tawa gadis berambut abu-abu itu sangat menyeramkan sampai membuat Azazel, Sōji Okita, Diehauser dan Dulio merinding mendengarnya. Sungguh, tinggal menambah aksen tengkorak saja, gadis itu sudah menjadi perwujudan perempuan dari Shinigami ataupun si Dewa Tengkorak penguasa salah satu tingkat dunia bawah, Hades. Tanpa menunggu lama lagi, Hilda melakukan lompatan dengan cukup tenaga hingga kaca-kaca jendela hancur ditembus begitu saja. Dalam keadaan melayang dan menangkis beberapa proyektil sihir yang mengarah ke dirinya, Hilda berujar.
"Jashin-sama, Anda kebanjiran tumbal... Terimalah persembahan dari tarian hamba malam ini!"
.
.
.
"Hiiiii... Perempuan itu benar-benar semenakutkan yang kukira." ujar Azazel sambil menoleh ke luar jendela. Pada area lapangan, hanya dalam waktu yang cukup singkat, puluhan tubuh penyihir yang sebagian besarnya tidak sempurna lagi berserakan dimana-mana. "Huh, dasar! Ternyata perempuan itu tidak kalah mengejutkannya dari kalian bertiga." Azazel menoleh ke Madara dan Hashirama. "Aah, setelah pertemuan ini, akan kupastikan tidak bawahanku yang terlibat pembantaian desa mereka."
Usai memikirkan hal tersebut, Azazel menoleh ke bawahannya yang paling berpotensi melakukan tindakan tersebut. "Kuharap bocah setengah Lucifer itu tidak ada sangkut pautnya. Bisa merepotkan jadinya."
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Azazel?"
Azazel menggeleng pelan ditanyai seperti itu oleh Vali. "Tidak ada apa-apa." jawabnya berbohong. "Daripada berdiam diri saja, bagaimana kalau kau keluar menyusul perempuan itu mengacaukan pertempuran. Mungkin saja perempuan mengerikan ditambah Hakuryūkō membuat bos dari penyihir-penyihir diluar sana akan keluar."
Vali yang sedari tadi bersandar di dinding akhirnya bergerak dari sana. Sambil mengangkat bahu tidak peduli, dia menjawab. "Terserah, lagipula aku juga kebosanan terus menunggu di tempat ini." selepas itu, dia mengeluarkan Sacred Gear miliknya berupa sepasang sayap mekanik biru-putih kemudian terbang keluar lewat jendela hancur bekas Hilda tadi. Setibanya di atas lapangan, tanpa menunggu lama Vali mengaktifkan mode tempur andalannya dengan gerakan-gerakan simpel.
"Balance Breaker!"
[Vanishing Dragon Balance Breaker!]
Setelah dibalut armor putih kebanggaannya, tanpa ampun Vali membabat habis puluhan penyihir hanya dalam satu kali serangan sihir pemusnah massal menyerupai aliran petir. Selesai memberi serangan pembuka, pemuda itu mulai melakukan serangan-serangan sederhana namun mematikan ke beberapa lawan yang disisahkan serangan pertama barusan.
"Cih...!" Vali mendecih kecil beberapa saat setelah membunuh penyihir terakhir yang disisahkan Hilda. "Lemah! Tidak ada satupun dari mereka yang menarik minat bertarungku." perlahan tapi pasti, dia melayang ke bawah dan akhirnya mendarat tepat di samping gadis penganut aliran Jashin-sama itu.
Hilda menoleh dan memasang wajah kesal. "Brengsek, kau mengambil persembahan terakhirku untuk Jashin-sama."
"Mulutmu busuk juga untuk seorang perempuan."
"Terima kasih."
Vali sweatdrop di tempat. "Itu bukan pujian, bodoh."
Bukannya bertambah kesal, Hilda malah menghilangkan raut wajahnya tadi. "Hmmn..." dia menyeringai tipis, ada sesuatu yang tiba-tiba menyangkut di otaknya berisi Jashin-sama dan hal-hal mesum. "Daripada membantai sampah-sampah ini tanpa perlawanan, bagaimana kalau kita bertanding siapa yang membunuh paling banyak? Bagaimana bocah kaleng?"
"Menarik..." Vali mengangguk pelan setuju dengan saran dari Hilda. Baginya, itu masih lebih baik daripada membantai para penyihir-penyihir yang mulai bermunculan di beberapa lokasi sekolah. "Lalu, jika aku menang, apa yang kudapat?"
Hilda menancapkan Sanjin no Ōgama pada permukaan tanah. Lalu dia memutar badannya hingga menghadap ke Vali yang sedikit dibuat penasaran dengan seringai kecilnya. "Kulihat-lihat, kau memang mirip dengan Naruto-chan. Kalian sama-sama imut dan membuatku tidak tahan untuk memakan kalian di ranjang." seringai kecil Hilda berubah mesum. "Ara~ benar juga. Aku baru ingat, kalian kan—"
"Jangan memanggilku imut!" sela Vali cepat tanpa ada yang tahu wajahnya kini dibuat memerah malu. Beruntung wajah itu kini terlindungi oleh helm armor Hakuryūkō miliknya. "Dan jangan pernah menyamakanku dengannya, walau kami—"
"Ara~ Tsundere kah?"
"Cih! Diamlah gadis sesat!"
"Ara~Ara... Jadi memang benar Tsundere. Huh, ternyata sifatmu dan Naruto-chan sangat berbeda jauh."
Vali mendengus. "Makanya jangan menyamakanku lagi dengannya." dia mengalihkan perhatian ke lokasi Naruto, dimana beberapa bunyi ledakan dan dentuman keras baru saja terjadi disana. "Kami itu, bila dibandingkan dari berbagai sisi... Bagai surga dan neraka."
"Aku duluan, Tsunragon (Tsundere Doragon)!"
Tanpa sepengetahuan Vali karena terlalu asik berbicara, Hilda sudah merangsek masuk ke dalam puluhan penyihir pada area lapangan selagi melantunkan kalimat bernada mengejek yang membuat sang Hakuryūkō hanya bisa menyumpahi gadis itu sepenuh hati sebelum ikut menerjang lawan.
"Onore, Ero-onna!"
.
.
.
Kembali ke ruang rapat. Setelah beberapa menit, apa yang Azazel tunggu-tunggu akhirnya muncul. Dalang dibalik penyerangan ini. Hal ini benar-benar seperti yang diinginkan pemimpin kaum malaikat jatuh itu dengan mengirim Hilda dan Vali keluar sana akan membuat boss besar pihak lawan menampakkan diri.
Namun sayang, kedatangan tamu tak diundang itu malah semakin menambah tensi dari rapat tiga golongan injil ini. Baru beberapa menit muncul, dia sudah meledakkan bangunan rapat sehingga memaksa Sirzechs, Serafall, Azazel dan Michael harus bekerja sama menciptakan pelindung super kuat untuk para peserta rapat yang terkena efek penghentian waktu.
Tindakan dari tamu itu sontak saja membuat Sirzechs yang mulai tenang kembali harus panas kepala.
"Iblis yang mewarisi darah Leviathan sebelumnya, Katerea Leviathan. Apa arti dari semua ini?"
Tamu yang diketahui adalah Keterea Levithan itu memandang sang Maōu Lucifer masa kini dengan senyum sinis. "Kami—para anggota golongan Maōu terdahulu sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan Khaos Brigade."
"Jadi ini perselisihan antara Maōu lama dan Maōu baru yang sudah mencapai skala besar. Iblis juga sungguh menyulitkan." sahut Azazel tersenyum seolah itu bukan urusan urusannya. Dia mengalihkan perhatian ke Madara dan Hashirama sudah berganti pakaian dari setelan jas ke armor shinobi mereka. "Dan lagi, perselisihan itu juga menarik kelompok manusia luar biasa ikut serta. Aahh, apa benar kedamaian untuk dunia ini bisa tercipta?"
"Katerea, tak apa-apakah untuk mengucapkan kata-kata itu dengan enteng?"
"Sirzechs, seperti yang kukakatan. Kami jugalah yang mendalangi serangan ini."
"—Jadi kalian bermaksud melakukan kudeta?"
Ya, secara tidak langsung serangan di pertemuan tiga fraksi ini adalah sebuah kudeta. Pemberontakan Maōu lama melawan Maōu baru. Menyatakannya di tempat dan waktu semacam ini—lebih jauh lagi, mereka bekerjamasam dengan kelompok teroris Khaos Brigade. Maōu lama memiliki ide yang bertentangan dengan pertemuan tinggi tinggi hari ini. Mereka sepakat, dengan gugurnya Tuhan dan Maōu yang asli, dunia harus ditata ulang.
"Sudahkan Ophis itu—pemimpin kalian melihat jauh ke masa depan? Kurasa tidak ya."
Katerea menghembuskan nafas menanggapi pertanyaan Azazel, lalu berucap dengan senyum penuh kebanggaan. "Disamping menjadi simbol kekuatan, Ophis hanya memikul posisi demi pengumpulan kekuatan. Kami sudah meminta bantuannya untuk menghancurkan dunia dan membangunnya lagi—Kamilah yang akan memimpi—"
[Katon: Gōryūka no Jutsu]
(Fire release: Great Fire Dragon Technique)
Bola api berbentuk kepala naga memaksa Katerea berhenti berbicara dan menghindari serangan itu. Wanita keturunan murni dari iblis Leviathan menoleh ke bawah, melihat Madara mengeluarkan asap dari mulut dengan mata memicing tajam.
"Cih!" Dia mendecih tidak suka. "Dasar pengganggu!"
"Ya, satu lagi mahluk sialan, sok kuat dan bertujuan menghancurkan dunia yang ternyata masih hidup setelah menerima serangan api itu. Hari ini aku benar-benar banyak terhibur dengan kalian semua mahluk-mahluk sialan." ujar Madara memperlihatkan senyum miring andalannya. "Perdamaian? Kehancuran dunia? Revolusi? Tidak adakah tujuan selain tiga omong kosong itu?"
Sebenarnya dia sudah mengetahui bahwa iblis betina yang saat ini melayang di atasnya masih hidup, yang awalnya dikira sudah tewas dipanggang api emas milik Naruto. Maka dari itu, kemunculan Katerea bukanlah hal mengejutkan baginya. Berterima kasihlah kepada Vali yang memberitahukan hal ini sebagai syarat kerja sama. Dan tentu saja, bukan hanya informasi mengenai Katerea yang Vali beritahukan. Jumlah anggota, nama-nama pemimpin, sekutu, bahkan tujuan dari KyumaŌ-ha sudah diketahui tiga dari empat pengguna chakra keturunan Kaguya Ōtsutsuki yang tersisah.
"Apa kau yakin? Chibi-chan akan menyokong kalian sampai tujuan itu tercapai?"
"Memang kau tau apa, mahluk rendahan?"
"Segalanya, bahkan siapa yang sudah meniduri tubuhmu."
"Sialan kau, mahluk rendahan!" Katerea mengumpat penuh emosi dikatai sedemikian rupa pedasnya oleh Madara. "Kali ini kupastikan kalian benar-benar mati!" lingkaran sihir kemudian diciptakan, dan dari sana meluncur balok-balok demonic poweryang menargertkan dua manusia di bawah.
Madara melirik kebelakang. "Dobe, buat dia tidak bisa bergerak bebas dengan Mokuton." perintahnya sebelum berlari ke depan untuk menghindari serangan selagi menunggu sahabatnya mengelurkan tehnik.
Melompat ke segala arah sebanyak lima kali, Hashirama berhasil menghindar sebelum merangkai segel tangan dengan kecepatan tinggi. Selesai merangkai, dia menyatukan telapak tangannya di depan dada dan mengaktifkan Sennin Modō (Sage Mode). Setelah persiapan dirasa cukup oleh The Last Hokage, dia berlutut dan melakukan apa yang diminta oleh sahabatnya.
[Mokuton Hijutsu: Jukai Kōtan]
(Wood Release Secret Technique: Nativity of a World of Tree)
Tidak main-main, Hashirama langsung mengeluarkan salah satu tehnik terkuatnya. Akar-akar kayu mulai bermunculan di sekitanya, mulai membesar, memanjang dan menumbuhkan ranting-ranting beserta daun-daunnya dalam jumlah banyak berkat pembakaran chakra besar-besaran yang terjadi. Madara melompat ke salah satu pohon yang menjulang tinggi ke langit dan mulai mengejar Katerea, yang meliuk-liuk di atas langit menghindari pohon-pohon yang pertumbuhannya semakin dipercepat.
Hanya dalam waktu kurang dari 3 menit setengah wilayah Kouh Akademi yang diselimuti pelindung kini berubah menjadi hutan. Bukan hutan biasa, melainkan hutan yang pohonnya tidak memiliki puncak dan berbelit-belit bak ular anaconda yang sedang berpesta seks di musim kawin. Hal itu pun akan menyulitkan Katerea yang lebih condong ke pertarungan jarak jauh karena hanya sedikit ruang kosong yang tersedia.
Sirzechs, Serafall, Grayfia, Michael, Azazel dan peserta rapat yang masih bisa bergerak hanya bisa terpaku dengan pandangan kagum. Baru kali ini mereka melihat ada seorang manusia mampu menciptakan hutan lebat—sangat lebat malahan hanya dalam waktu kurang dari 3 menit. Hal itu pun membuat Azazel tidak tahan untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat pihak iblis terdiam mendengarnya.
"Tck! Sialan! Sepertinya bukan hanya Khaos Brigade yang harus diwaspai. Kelompok Naruto juga bisa merepotkan kita bila-bila menjadi musuh di masa depan. Pikirkan itu, baik-baik Sirzechs, Serafall."
.
.
.
.
.
[Senpō: Kōen no Hōkō]
(Sage Art: Brilliant Flame's Roar)
Ruang tengah dari markas klub penelitian ilmu gaib seketika menjadi lautan api emas yang asalnya dari mulut Naruto. Bahkan, saking banyaknya api yang dimuntahkan oleh kontener Kurama, ruangan yang sebenarnya cukup besar tidak mampu menampung hingga membeludak dan keluar melalui jendela, ventilasi dan lubang-lubang kecil lain di sana.
"Are... Sepertinya aku sedikit berlebihan."
Naruto menatap horor ruangan yang tadinya terlihat begitu elegan kini tidak ubahnya seperti habis terkena bencana alam. Perabotan tak berbentuk lagi, dinding yang tadinya indah dipandang mata kini berwarna hitam—gosong terkena semburan api pemuda itu.
"Rubah sialan! Apanya yang berkurang cukup besar! Beruntung Yuki tidak ada disini, kalau ada sudah pasti adik imutku mati terpanggang!"
"Bagiku itu cukup besar, bodoh! Kalau saja tidak kubagi, gedung—tidak! Sekolah ini sudah pasti tidak ada lagi."
"Serius? Kalau setengah sudah seperti ini. Bagaimana kalau sepenuhnya?"
"Nanti juga kau tahu sendiri, bocah... Sekarang kita—Aah, sepertinya tidak usah, mereka sudah datang.
Naruto langsung memutus koneksi dengan Kurama setelah merasakan kedatangan lima hawa keberadaan seseorang datang dari arah kiri. Dia menoleh ke sana dan tersenyum pada satu dari lima sosok yang berjalan memasuki pintu yang sudah kehilangan daunnya.
"Haha, sepertinya kau tidak perlu bantuanku. Jadi... bagaimana acara menarimu, Imouto?"
Yuki tersenyum riang dan menjawab. "Sedikit susah, Onii-chan. Mereka cukup cepat dari Onii-chan saat latihan."
Naruto ikut tersenyum sekaligus bersyukur sang adik berhasil melewati pertarungan nyata untuk pertama kalinya tanpa mengalami luka berarti, dan hebatnya lagi lawan dari adiknya adalah penyihir-penyihir yang dikatakan Azazel setingkat dengan iblis kelas menengah. Hanya ada beberapa luka memar kecil di lengan dan kaki yang bisa Naruto lihat jelas pada Yuki, dan itu bukan berasal dari serangan musuh, melainkan bekas tertabrak sesuatu. Mungkin saja Loli imut murid Madara hanya salah bergerak dan menabrak perabotan di ruang tempat Bishop Rias Gremory ditahan.
Menyusul kedatangan Yuki adalah anggota klub penelitian ilmu gaib. Dimulai dari Issei yang datang sambill memapah Bishop Rias yang bernama Gasper Vladi. Di belakang pemilik Ddraig, Yūto dan Xenovia datang sambil memegang pedang masing-masing. Terakhir, Koneko datang dan langsung memandang intens Naruto.
Naruto mengabaikan tatapan dari Koneko, dan lebih fokus pemuda yang dia rasa sangat membenci dirinya. "Huh, kau tahu Issei-san, memandangi seseorang dengan wajah seperti itu adalah hal buruk. Bagaimana kalau orang kau lihat merasa terganggu dan langsung menyerangmu, hmm?"
"Sudahlah hentikan basa-basimu Naruto, aku tahu kau mempunyai maksud tersembunyi melakukan semua ini, kan?"
"Kau tahu Sekiryūtei-dono, aku paling tidak suka dituduh sembarangan, ditambah lagi sejak tadi kubu kalian terus-terusan menuduh kelurgaku yang tidak-tidak... Penghianat, penghasut dan lain-lain semakin membuatku tidak tahan lagi dengan kalian semua. Beruntungnya, kami tidak peduli dengan hal itu dan lebih fokus ke—"
Guncangan hebat di gedung lama akademi kuoh yang disebabkan oleh tehnik Mokuton Hijutsu: Jūkai Kōtan milik Hashirama membuat Naruto berhenti. Melalui sensor tingkat tinggi mode miliknya,dia merasakan bahwa baru saja sang Hokage mengaktifkan Sennin Mōdo (Sage Mode) yang itu artinya sedang terjadi pertarungan hebat di ruang konferensi.
"Apa lagi sekarang?! Oh, tidak! Jangan-jangan mereka—"
Naruto menghampiri Yuki, meletakkan tangan kanannya di pundak kanan sang adik. Sebelum menghilang dari sana menggunakan kemampuan versi revisi dari mode full-power miliknya, Naruto menyentuh pucuk kepala Koneko yang tepat berada di samping kanan Yuki dengan tangan kiri. Perlahan tapi pasti, dari tangannya keluar aura berwarna emas pudar dan mengalir masuk ke dalam tubuh Rookdari Rias yang mulai terkena hawa menyejukkan dari Senjutsu sempurna tanpa sedikit pun kebencian di dalamnya
"Eeh?!" Koneko terkejut bukan main, ekor dan telinga khas seekor kucing muncul di bokong dan pucuk kepalanya. "A-a-apa yang kau lakukan? Cepat keluarkan benda mengerikan ini dari tubuhku!" ucapnya terbata-bata menolak apa yang baru saja Naruto berikan, namun itu sangat berbeda dari ekspresi wajahnya yang seolah menerimanya. "A-Aku tidak mau menggunakannya!"
"Ambil saja, itu untuk pertarungan nanti. Aku hanya tidak tahan melihat ras yang seharusnya mampu menggunakan Senjutsu malah tidak menggunakannya." Naruto tersenyum kecil ke Koneko. "Dan lagi, aku tidak mau pengguna Senjutsu seperti kita terhapus dari dunia yang mulai bengkok ini karena ketidak-inginanmu menggunakannya."
"Umuumuu..." Koneko malah bergumam tidak jelas dan membuang muka dari Naruto. Tidak ingin ekspresinya saat ini dilihat oleh orang yang seharusnya menjadi musuh baginya dan Peerage Rias Gremory. Sejujurnya, dalam hati gadis Nekoshū ini sangat menolak apa yang Naruto berikan, namun tubuhnya malah tidak ingin bekerja sama. Semakin menerima energi alam tersebut, dan pada akhirnya mulut Koneko ikut-ikutan tidak ingin berkompromi dengan keinginan hatinya . "Te-te-terima kasih!"
"Sama-sama, Neko-chan. Boleh kupanggil begitu?"
"Umu!"
Naruto kembali mengukit senyum kecil melihat Koneko mengangguk kecil disertai gumaman imut tanda bahwa tidak keberatan dipanggil seperti itu. Namun, ekspresi Naruto tidak bertahan lama, selepasnya dia beralih menatap Issei dengan wajah mengeras.
"Percayalah, Sekiryūtei-dono. Suatu hari nanti sifat yang cepat panas kepala dan menuduh orang sembarangan akan mengirimmu menuju kematian, bahkan jika kau seorang Sekiryūtei sekalipun. Percayalah."
Dan tepat setelah itu tanpa menunggu balasan dari Issei, Naruto sudah menghilang dari bekas ruang utama dari markas penelitian ilmu gaib bersama Yuki. Meninggalkan Issei yang kini merenungi perkataan dari pemuda berambut silver, ditambah lagi dengan Kiba dan Koneko yang ikut membenarkan penyataan tersebut.
.
.
.
Setibanya di lapangan utama akademi Kuoh, Naruto yang datang bersama Yuki disusul lima anggota Rias langsung dibuat terkejut. Bangunan yang tadi digunakan untuk konferensi kini sudah rata dengan tanah, di tengah puing-puing rombongan peserta rapat berdiri dibalik sebuah pelindung emas. Khusus untuk empat anggota Rias, mereka tambah terkejut melihat adanya hutan aneh yang menutupi setengah kawasan sekolah mereka.
Naruto menghela nafas lega melihat tidak ada dari empat pemimpin fraksi yang kurang. "Haaah... Kukira mereka melawan salah satu pemimpin fraksi, ternyata bukan." pikirnya selagi mengedarkan pandangan. Tidak jauh dari lokasi para peserta rapat, dia melihat Hilda dan Vali sedang berlomba siapa yang paling banyak membunuh penyihir-penyihir dari Khaos Brigade. "Lalu, siapa yang mereka lawan?"
Menoleh ke sang Gubernur Malaikat Jatuh, Naruto bertanya. "Azazel... Dimana Madara dan Ossan?"
"Oh, mereka!" Azazel membalas santai lalu menunjuk hutan buatan Hashirama. "Kedua manusia abnormal itu berada di dalam sana melawan Katerea Leviathan, salah satu keturunan Maōu asli yang tersisah."
Mendengar nama Katerea Leviathan tentu saja membuat Naruto terkejut. "Katerea Leviathan? Maksudmu Katerea Leviathan pemimpin KyumaŌ-ha? Dia masih hidup?"
"Bicara apa kau ini? Memang kau sudah membunuhnya?"
Naruto mengangguk ragu-ragu. "Ya, aku pernah melawannya, bahkan kukira dia sudah mati terkena serangan terakhirku."
Pernyataan ragu-ragu Naruto yang terakhir membuat Azazel dan para peserta rapat melebar mata. Bukan karena Katerea masih hidup, melainkan fakta bahwa pemuda berambut silver itu sudah pernah melawan Katerea Leviathan yang merupakan keturunan dari Raja Iblis Leviathan dan salah satu dari [Monster of The End, bahkan hampir membunuhnya. Akibat dari itu, para peserta rapat kecuali Azazel dan Yuki berpikir, sekuat apa sebenarnya seorang Naruto Uzumaki? Dan terkhusus untuk fraksi iblis, mereka juga-juga bertanya-tanya. Apa selama ini Naruto menyembunyikan sebagian besar kekuatannya?
"Sepertinya dia berhasil kabur sebelum tehnik [Senpō: Koen no Kogashira] (Sage Art: Brilliant Flame's Golden Pillar) milikmu memanggangnya hidup-hidup Naruto."
Setuju dengan apa yang diucapkan Kurama, Naruto bergumam kesal. "Benar juga, dia pasti kabur menggunakan sihir teleport! Cih, terkutuklah siapapun yang menciptakan sihir merepotkan itu!" umpatnya yang dihadiahi sebuah kekehan keras dari Kurama di dalam tubuhnya. "Jangan tertawa Kurama! Tiga hari sekaratku sia-sia tahu."
"Naruto."
Suara tegas dari Sirzechs mengintrupsi kegiatan Naruto yang tengah beradu mulut dengan Kurama melalui telepati. Si Kontener Kurama menoleh dan menjawab 'iya' sebagai respon. Sekarang, suasana disana kembali mencekam, Azazel serta peserta rapat yang lain ikut menoleh ke Naruto.
"Aku sebenarnya masih ragu permintaan itu langsung keluar dari mulutmu, dan sekarang aku ingin memastikannya... Apa benar kau ingin menjadi musuh kami?"
Pemuda itu melirik Rias sejenak sebelum kembali ke Sirzechs. "Karena Rias-chan sedang membeku dan tidak bisa kutanyai apa yang dia laporkan. Akan kujelaskan sekarang juga." raut wajahnya berubah serius saat memberi jeda. Sebelum melanjutkan, dia menarik Yuki dan meletakkan telapak tangan kanannya di pucuk kepala berambut putih sang adik yang mulai memperlihatkan ekspresi ketakutan. "Walau aku bilang ke Rias-chan ingin menjadi musuh Mēkai, namun itu tidak sepenuhnya benar. Yang kuinginkan hanyalah memutus semua hubungan dengan Mēkai. Anda tahu, sampai malam itu, Madara-teme selalu mendesakku. Dia sangat membenci Iblis dan sangat ingin aku melakukan itu. Begitulah yang kuinginkan, terserah kalian ingin menetapkanku sebagai musuh atau tidak."
"Apa itu juga termasuk hubunganmu dengan Rias?"
"Begitu rupanya..." Naruto bergumam pelan melirik bergantian Rias dan Grayfia. Saat lirikannya bertemu Grayfia, dia mendapatkan jawaban berupa anggukan pelan. "Ya, termasuk itu. Namun, selamanya, rasa hormatku ke Rias-chan tidak akan pernah hilang—Dan tenang saja, aku bukan orang yang mempermalasahkan hal yang katanya abadi itu seperti di pikiran kalian."
Menghela nafas sejenak, Naruto kemudian memandangi gadis berambut merah disana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Yah, selama Rias-chan tidak bertindak yang aneh-aneh. Maka, aku tidak pernah menyentuhnya."
Saat peserta rapat disana tengah serius-seriusnya mendengarkan percakapan Naruto dan Sirzechs. Sihir putih menyerupai petir melesat menuju lokasi tersebut. Azazel yang pertama menyadari hal tersebut langsung menciptakan lingkaran sihir pertahanan. Saat gubernur dengan hobi memancing menoleh ke asal sihir ditembakkan, tidak ada seorang pun disana. Bersamaan dengan itu efek penghentian waktu menghilang. Rias, Akeno, Asia dan Sona terbebas. Namun, efek dari tekanan Madara dan Hashirama sebelumnya membuat mereka semua pingsan. Kiba dan Xenovia langsung menghampiri mereka dan berusaha memulihkannya.
"WAAAAHHH!"
Teriakan dari Gasper membuat Azazel dan peserta rapat langsung mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara. Di atas langit, Vali melayang bersama armor-nya mencekik Gasper yang meronta-ronta ketakutan. "Maaf, tapi aku harus menyegel itu. Akan menyusahkan kalau waktu terhenti!" ujar Hakuryūkō sebelum melakukan sesuatu di atas sana. Issei dan anggota klub penelitian ilmu gaib menggeram penuh amarah rekan mereka diperlakukan seperti itu.
"Tapi, harus kau ketahui, kalau saja kau menyadari kondisi kekuatan dan pengaktifannya, Sacred Gear itu bukanlah barang bagus, penuh dengan titik lemah. Ada banyak tehnik yang bisa menyegel pandangan seseorang. Juga, kalau sihirnya dikuras, dia akan berubah menjadi pedang bermata dua yang melukai temannya juga."
Di tengah-tengah amarahnya, Issei menggertakan gigi kuat-kuat mendengar penjelasan dari Vali. Dia setuju dengan pemuda berstatus rivalnya itu, Gasper dalam kondisi yang sekarang penuh akan titik lemah seperti dirinya. [Sacred Gear kuat = Kekuatan] hanyalah ilusi dalam kepalanya walau sudah menjalani latihan keras setelah melawan Naruto.
Itu seperti yang dikatakan Azazel sebelumnya. Meskipun Sacred Gear kuat, tak ada artinya kalau sang pemilik tidak berguna.
Bicara soal malaikat jatuh satu itu. Dia tiba-tiba saja berbicara dengan suara cukup keras. "Jadi... Kau menghianatiku, heh Vali?"
Vali melempar tubuh Gasper ke sembarang arah. Koneko yang kebetulan berada cukup dekat dengan lokasi yang akan ditempati Gasper menghantam tanah, serta yang sudah berada di level berbeda berkat Senjutsu pemberian Naruto segera terbang dengan sayap iblisnya dan menangkap tubuh si bocah setengah vampir.
"Begitulah, Azazel... Setelah sekian lama mencari-cari, tujuan hidupku yang sebenarnya sudah kutemukan kembali!"
.
.
.
.
.
Hashirama, dengan kecepatan normalnya berlari dan melompat dari batang ke batang. Sensor dari Sennin Mōdo fokus mencari keberadaan Madara dan Katerea dalam hutan yang baru saja dia ciptakan. Ke utara, ke sanalah dia mengarah. Pancaran chakra dan demonic power dalam jumlah besar terdeteksi di sana. Saat pria berumur kepala tiga itu melompat ke sebuah pohon. Tubuh wanita hampir telanjang muncul dari depan, melesat bak roket dan menghancurkan apapun yang menghalang.
"Seperti dugaan kami. Sebagian besar iblis bertipe serangan jarak jauh."
Hashirama berhenti pada salah satu batang pohon yang lokasinya tepat berada di depan lintasan wanita yang tengah terlempar itu. Mengalirkan sedikit chakra pada kedua kakinya, dia memperkuat pijakan sebelum melompat menuju tubuh wanita itu meninggalkan kawah besar pada batang pohon tadi.
"Cih! Sialan!"
Wanita itu—Katerea mengumpat kasar kala merasakan tekanan abnormal berasal dari belakang. Dalam posisi terlempar, dia memperbaiki posisi dan bersiap melakukan serangan sebelum sang lawan tiba. Satu lingkaran sihir tercipta di ujung tongkat keturunan Leviathan, dari sana balok demonic power melesat keluar menargetkan Hashirama.
"Matilah, manusia tidak berguna!"
[Mokuton]
(Wood Release]
Hashirama tidak tinggal diam begitu saja, dia merangkai segel tangan dan menyerukan tehniknya. Beberapa batang kayu bergerak liar menghalau balok demonic power hingga hancur. Memanfaatkan debu dan serpihan kayu yang beterbangan menghalangi pandangan Katerea, dia menerobos masuk dan menghadiahi lawan dengan pukulan berlapis chakra dan senjutsu.
Beruntung, Katerea sempat melapisi tubuhnya dengan kekuatan iblis berlimpah yang dimiliki sehingga pukulan tadi tidak memberi luka berarti. Namun, kekuatan pukulan berlapis senjutsu Hashirama yang berada di level abnormal memaksanya terlempar cukup jauh, menghantam, menembus beberapa batang pohon hingga tercipta lubang besar dan akhirnya berhenti dengan sebuah ledakan yang sangat besar disertai kepulan debu.
"Manusia sialan!" dengan satu kali kibasan tongkat miliknya, Katerea menghilangkan kepulan debu di sekitarnya. Selagi berusaha bangkit di tengah-tengah kawah besar pada batang pohon tempatnya terhantam, dia memandang tajam Hashirama. "Kau tidak akan kubiarkan lolos lagi!"
"Seolah kau bisa mengalahkan kami, mahluk terkutuk."
Tepat setelah mendarat, Hashirama menoleh ke atas saat mendengar suara sahabatnya. Senyum kecil mengembang di bibir Hokage terakhir melihat sang sahabat tidak mengalami luka berarti, bahkan terlihat sangat bugar. "Ya. Malam ini akan sangat berbeda dari malam itu, Katerea Leviathan."
Keturunan Leviathan itu tersenyum sinis. "Seperti kalian berkembang pesat setelah malam itu, manusia."
"Kau tau, manusia adalah ras dengan potensi tak terbatas, tidak akan ada waktunya ras kami berhenti berkembang selama menyadari potensinya itu." ucap Hashirama berceramah singkat.
"Hahahahahaha..." Katerea langsung tertawa dengan nada keras sambil memegang kepala, sehingga membuatnya terlihat seperti orang gila yang sedang sakit kepala. "Tetap saja, kalian adalah ras terlemah, dasar sampah!"
"Kita sudahi saja Hashirama. Aku ingin cepat-cepat melihat interaksi mereka berdua..." Madara mendongak ke atas, melihat Katerea yang sedang berdiri pada batang pohon 20 meter di atas dirinya dan Hashirama. Seketika, udara di sekitar pria Uchiha itu seperti terdorong kala mengaktifkan Sharingan. "Hashirama, lakukan! Dan kau, kecoa dunia—"
Hashirama mengangguk cepat dan mulai merangkai segel tangan.
"—Mari kita menari!"
"Tak akan kubi—"
"Itu kata-kataku, jalang!"
Belum sempat keturunan Leviathan orisinil itu menyelesaikan kalimat sekaligus menciptakan lingkaran sihir untuk melakukan serangan terlebih dahulu, matanya melebar terkejut. Hanya dalam hitungan detik saja, Madara sudah menghilang dan muncul tepat di sampingnya. Katerea segera melapisi tangan kanannya dengan kekuatan iblis dalam jumlah banyak dan melancarkan pukulan menyamping.
Dalam keadaan melayang di samping Katerea, mata Madara memicing tajam. Dia segera memblok serangan yang siap menghancurkan kepalanya dari samping dengan kedua tangan disilangkan. Meringis pelan saat bloknya beradu dengan pukulan Katerea, Madara mengumpat dalam hati. "Sialan!" dan tepat setelah itu, karena bercampur dengan kekuatan iblis, pukulan tersebut berhasil mementalkannya. "Cih! Dibuat terlempar dengan sebuah pukulan. Brengsek!"
Setelah hampir 50 terlempar, Madara berhasil menyeimbangkan dirinya dan mendarat pada batang pohon dalam keadaan vertikal. Menolah ke sahabatnya yang menunggu kode darinya, dia menyeringai kecil. "Sekarang, Hashirama!"
"Oke! Ouryaaaa!"
Akar kayu berujung runcing dalam jumlah tak terhitung tumbuh dari pohon di area tersebut. Katerea meliuk-liuk di udara menghindari semuanya, dari mulut wanita itu keluar umpatan-umpatan kasar karena serangan Hashirama tak henti-hentinya berusaha untuk membunuhnya. Tak tahan dipojokkan seperti itu, kekuatan iblis gila-gilaan keluar tubuh Katerea dan mulai melancarkan serangan fisik. Satu demi satu akar kayu Hashirama dihancurkan oleh wanita itu, adapula yang dihindari.
"Sialan! Tidak ada habisnya!"
Beberapa menit lamanya bergulat dengan tehnik merepotkan musuhnya, sebuah cela untuk menyerang balik didapatkan oleh Katerea. Tepat setelah menghindari satu akar kayu yang menargetkan kepalanya, dia mengarahkan tongkatnya ke atas, lingkaran sihir besar muncul 10 meter di atas Hashirama. Kekuatan iblis berbentuk menyerupai ular raksasa bersifat pemusnah pun meluncur turun dengan kecepatan tinggi.
"Mati, kau!"
"Sialan!" Hashirama secepat kilat mengubah rangkaian segel tangannya selagi berharap tehnik yang akan dikeluarkan cukup kuat untuk menahan serangan yang datang. "Beberapa susun mungkin cukup...!"
[Mokuton: Mokujōheki]
(Wood Release: Great Wood Dom)
Balok-balok kayu mencuat dari batang pohon di sekitar Hokage terakhir itu, saling bertabrakan hingga menciptakan dentuman keras dan mulai membentuk kubah kayu berlapi-lapis yang mengepung sang pembuat. Suara desingan keras menggema di hutan yang disertai kepulan debu pekat bermunculan di mana-mana kala serangan Katerea menggilas tiga lapisan luar tehnik Hashirama sampai mengeluarkan bunga-bunga api dalam jumlah banyak.
Katerea tertawa keras mengira Hashirama tewas dihancurkan serangannya. Namun, wanita itu melupakan satu hal penting.
Orang yang paling berbahaya masih berkeliaran bebas!
"Apa yang kau tertawakan, jalang?"
Madara muncul dari balik akar-akar Hashirama yang berhenti bergerak. Tangannya terlihat merangkai segel tangan dengan kecepatan tidak dapat dilihat mata telanjang. Menyelesai segel tangannya hanya dalam waktu singkat, Madara menghirup nafas diam-diam.
[Katon: Gōkakyū no Jutsu]
(Fire Release: Great Fire Ball Technique)
Bola api besar seukuran truk kontener dimuntahkan olehnya. Katerea terbebelak kaget dan segera menciptakan lingkaran sihir pertahanan. Bola apinya pun terbelah menjadi dua bagian. Namun, inilah yang diinginkan oleh Madara, tepat didepan kobaran api yang menggila disana, mata merah berhias tiga tomoe miliknya berputar cepat membentuk pola baru.
[Susano'o]
(Tempestous God of Valour)
Salah satu tehnik spesial dari [Ēien Mangekyō Sharingan] Madara akhirnya menampakkan diri. Di sekitar tubuh pria itu muncul dua lengan mahluk astral yang memegang pedang biru bergelombang. Bersamaan dengan hilangnya bola api barusan, kedua lengan mahluk astral tersebut mengayungkan pedang secara menyilang.
Dalam kepulan asap hitam, insting tajam Katerea merasakan bahaya datang dari depan. Untuk kesekian kalinya dan tinggal menunggu waktu saja hingga kehabisan, kekuatan iblis dalam jumlah banyak kembali dia keluarkan untuk melapisi tubuhnya. Mengira Madara akan melancarkan serangan fisik, Katerea harus rela terkena gelombang tipis kebiruan.
"Arrrrgggggghhhhhh—Mahluk sialan!"
Madara menyeringai. Suara tubuh tertebas dan teriakan pilu terdengar dari dalam kepulan asap disusul jatuhnya lengan kanan Katerea.
Dan ternyata, gelombang tipis menyilang tadi tidak hanya mengenai Iblis keturanan Maōu lama itu. Serangan itu terus melesat menebas apapun yang ada di jalurnya hingga keluar hutan dan menghilang saat menghantam dinding pelindung Kuoh Akademi. Hal ini pun mengakibatkan ledakan dan guncangan hebat yang membuat para peserta rapat terkejut dan bertanya-tanya siapa pemilik serangan hebat barusan kecuali Naruto dan Hilda.
Berkat mata miliknya, Madara sangat jelas melihat posisi lawan dalam kepulan asap. Dia menerobos masuk dan kembali menebaskan pedang lengan kanan Susano'o miliknya. Suara dentuman keras muncul disusul Katerea yang terlempar dan banyak menghancurkan kayu-kayu yang berada di jalurnya kembali terjadi.
Di bawah kepulan debu itu. Kubah kayu Hashirama terbelah, sang pemilik langsung melompat menuju lokasi yang dituju Katerea nanti.
"Bangsat! Akan kubunuh kal—Ughhhh!"
Umpatan dan sumpah Katerea tidak sempat terselesaikan. Hashirama, yang sudah berada di belakangnya memberi bogem mentah hingga membuatnya kembali terlempar. Akar dan batang pohon berbagai ukuran hancur terkena tubuhnya yang melesat dengan kecepatan peluru. Madara menghilangkan pedang [Susano'o] sebelah kiri, lengan itu kemudian menggapai salah satu akar dan berayun mengikuti laju Katerea. Setelah berhasil menyusul Iblis itu, Madara menangkapnya dengan lengan tadi dan dilempar kembali ke posisi Hashirama.
Terjadilah permainan badminton yang Madara dan Hashirama sebagai pemain, dan Katerea sebagai kop/bolanya.
Ya, walau sudah unggul, sangat unggul. Baik Madara dan Hashirama tidak ingin mengakhiri iblis itu dengan cepat. Mereka sepakat untuk menyiksanya terlebih dulu.
Beberapa kali Katerea harus terkena pukulan lengan Susano'o, pukulan dan tendangan berlapis Senjutsu. Area pertarungan yang tadinya dipenuhi akar-akar kini terlihat sangat berantakan. Batang pohon berlubang, patah dan hancur terlihat di sana sini. Sebagai penutupan, Madara melakukan smash [baca: tebasan] yang kembali harus menghilangkan salah satu bagian tubuh Katerea yaitu kaki kiri.
Di atas batang pohon, kedua lelaki perkasa itu memandang lawan mereka yang tengah melayang dengan nafas tersenggal-senggal. Pandangan itu tentu saja membuat Madara memperlihat raut wajah meremehkan andalannya. Lain pula Hashirama yang malah memperlihatkan wajah kasihan.
"Hanya segini?" Madara dengan senyum miring yang sangat-sangat-sangat menjengkelkan dimata Katerea. "Dengan kekuatan segini kau ingin menciptakan dunia baru dan menjadi Tuhan? Menyedihkan sekali dirimu bermimpi seperti itu."
"Brengsek! Aku tidak akan mengampuni kalian, mahluk rendahan!"
Katerea yang saat ini dalam keadaan terluka parah ternyata masih dapat bertahan berkat daya tahan ekstrim yang sudah dimiliki sejak lahir, dan malah dengan lantang menyerukan pernyataan seolah dia masih bisa menang dalam kondisi sudah sangat memprihatinkan. Tubuh wanita penuh dengan luka lebam, tangan dan kaki kiri sudah menghilang entah kemana, pakaian yang tak berbentuk lagi, dan kacamata yang tadinya bertengger manis di atas hidung juga menghilang.
"Demi jenggot Hagoromo-sama, apa memang iblis selalu seperti ini?" ujar Hashirama yang tidak habis pikir melihat kepercayaan diri tinggi dari sang lawan. "Lihatlah posisimu, Akuma-san. Tidak mungkin lagi untukmu mengalahkan kami dengan tubuh penuh luka seperti itu."
Katerea tersenyum sinis. "Bahkan, hanya dengan kepalaku saja aku bisa mengalahkan kalian." ujarnya. "Cih! Apa sebenarnya yang terjadi? Seingatku, orang itu tidak sekuat ini. Apa karena saat itu dia cuma dibantu bocah yang bisa mengendalikan api? Apa yang harus kulakukan? Jika kabur dari sini tanpa membunuh satu pun pemimpin tiga fraksi, akan sulit untuk mencapai tujuan kami. Tapi, lolos dari kedua ini juga bukan hal yang mudah."
Dia mulai berpikir keras untuk menentukan pilihan. Menerobos kedua lawannya menuju lokasi empat pemimpin fraksi, mundur dan memulihkan tenaga sebelum kembali menyususn rencana penyerangan, atau bisa-bisa mati ditangan... mahluk rendahan ini?
"Jangan bercanda! Aku—Keturunan Maōu Leviathan mati di tangan manusia. Mau ditaruh dimana harga diriku? Cih! Tidak ada cara lain..." tongkat yang sedari tadi ia pegang dibuang ke sembarang arah.
Senyum miring Madara semakin lebar saja. "Hoho, jadi kau sudah menyerah? Pilihan bijak! Cepatlah ke sini, akan kuakhiri tarian kita ini dengan cepat dan tanpa rasa sakit."
"Menyerah pada kalian? Jangan bermimpi, MANUSIA!" teriak Katerea sambil membuka telapak tangan kiri. Muncul lingkaran sihir kecil dan ular-ular hitam keunguan keluar dari sana. Ular-ular tersebut lalu memanjang, menutupi tubuhnya, dan akhirnya menghilang. Hanya dalam waktu singkat, berkat pemberian—atau rampasan kekuatan Ophis, aura serta kekuatan iblis milik wanita itu meningkat drastic sampai-sampai semua hal yang berada disekitar sana bergetar hebat. Sayang, kekuatan dari Ophis tidak mampu untuk mengembalikan kedua bagian tubuh Katerea yang sudah dibabat oleh Madara. "Akan kuakhiri mereka dengan cepat sebelum ular Ophis habis. Dengan begitu masih ada sisa kekuatan untuk membunuh salah satu dari mereka walau harus mengorbankan diriku."
"Ular? Sepertinya Vali benar. Chibi-chan benar-benar hanya dimanfaatkan oleh mereka. Cih!"
Madara mengeluarkan decihan kecil tanda tidak suka dengan situasi sekarang dan juga yang menimpa Ophis. Entah kenapa, sang Uchiha merasa kasihan dengan sang Ouroboros. Seorang ketua yang hanya dimanfaatkan saja.
"HAHAHAHAHAHAHA... Dengan begini, eksistensi kalian benar-benar akan kuhilangkan."
Madara menoleh ke sahabatnya. "Hashirama, sebaiknya kini akhiri saja. Aku muak mendengar omong kosong keluar dari mulut busuknya."
Hashirama hanya mengangguk ringan tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun dari lawan.
"Ayo!"
Keduanya pun berlari pada batang pohon berbeda.
Katerea memandangi lawannya bergantian. Melihat kecepatan Hashirama yang sedikit lebih lambat dari Madara memilih pria itu sebagai target serangan pertama. Lingkaran sihir disusul balok kekuatan iblis berbentuk monster ular sili berganti menyerang.
Hashirama melakukan gerakan zig-zag menghindari semuanya. Hingga pada satu momen, dia berhasil merangkai segel tangan dan bergumam 'Mokuton' dalam waktu singkat. Peluru-peluru kayu dalam jumlah banyak berbalik menyerang Katerea. Namun dengan mudahnya dihindari oleh iblis betina merepotkan itu.
Tidak sampai disitu saja, Katerea kembali menciptakan banyak lingkaran sihir di sekitarnya. Puluhan tentakel demonic power kembali menyerang sili berganti, dan kini bukan hanya Hashirama saja, namun Madara juga dibuat sedikit kerepotan.
"Ah, ini semakin menyebalkan!" gerutu Madara mulai kesal dan mengeluarkan kembali dua lengan Susano'o. Gempuran lawan pun dia belokkan semua menggunakan dua lengan itu sampai akhirnya melompat ke sumber masalah.
Katerea menyeringai bengis Madara berjarak 10 meter di depannya. Dia mengarahkan tangan ke depan. Lingkaran sihir yang lebih besar dari yang pertama muncul. "Matilah!"
Madara melebarkan mata sesaat. Dia segera bertindak dengan meningkat level dari Susano'o miliknya. Aura biru menguar hebat, mulai membentuk tubuh bagian atas Susano'o sebelum gempuran Katerea yang berbentuk ular dengan jumlah tak terhitung dan kekuatan penghancur tinggi menghantam, dan mendorongnya jauh ke belakang.
Selesai dengan Madara, Katerea memutar tubuh dan merubah tangannya menjadi tentakel-tentakel menjijikan dalam jumlah banyak. "Akan kuremuk tubuhmu sampai hancur!"
"Sialan! Apa ini?!" Hashirama langsung memasang tampang jijik tubuhnya dilit. Namun itu hanya sementara karena sekarang dia tersenyum kecil dan membentuk segel tunggal dengan tangan kiri. "Sayang sekali... Lawanmu seorang shinobi, nona."
[Kawarimi no Jutsu]
(Body Subtitution Technique)
Bunyi 'Poft' disusul ledakan asap putih mengagetkan Katerea. Selang satu detik, tubuh Hashirama sudah berubah menjadi sebatang kayu yang ditempeli puluhan kertas bersimbol aneh. Satu kertas itu mulai terbakar ujungnya, satu ledakan kecil memicu ledakan lain sehingga menciptakan serentetan ledakan beruntun yang mendorong tubuh tidak sempurna Katerea ke belakang.
"Hashirama, bersamaan!"
"Ouuu~!"
[Yasaka Magatama]
(Eight Slopes Curved Jewel)
[Mokuton: Mokuryū no Jutsu]
(Wood Release: Wood Dragon Technique)
Dua suara bariton yang asalnya dari bawah dan belakang memaksa Katerea harus berpikir cepat. Namun, seberapa cepat pun dia berpikir semua sudah terlambat. Tujuh api hitam berbentuk Magatama dan seekor naga kayu lebih cepat menggilas, menerkam, meledakannya di udara.
"I-I-Ini ti...dak...mun..gkin—Uhuk,...dika..la..hkan..oleh... ..sia..." dengan suara terputus-putus karena rasa sakit dari serangan yang mengenainya, Katerea berucap dalam keadaan melayang ke bawah. Kawah besar pun tercipta saat tubuh wanita itu menabrak batang pohon. Dalam keadaan berbaring, pandangan yang mulai kabur melihat Madara dan Hashirama mendarat tidak jauh darinya. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Katana dan pedang berbilah besar nampaknya sudah siap untuk mengakhiri hidupnya. "Cih! Tidak ada pilihan lagi... Aku harus kabu—"
"Arrrghhh...!"
Tusukan itu membuat Katerea yang sebentar lagi berhasil kabur dengan sihir teleport sirna begitu saja. Hashirama tanpa rasa ampun menusuk tubuh Katerea dengan pedang besarnya itu. "Itu untuk Tobirama dan ini untuk..." pedang itu lalu didorong ke depan sehingga tubuh Katerea sedikit lagi terbagi dua. "...penduduk Konoha!"
"Uhuk... Se-sebenarnya apa tujuan kalian?"
Harus Madara dan Hashirama akui. Katerea menjadi lawan tertangguh yang pernah mereka lawan. Wanita itu masih bisa berbicara cukup lancau walau hidupnya sudah berada di ujung tanduk.
"Tentu saja... Membunuh kalian, pengikut keturunan Maōu asli dan siapapun yang terlibat dalam pembantaian malam itu tanpa tersisah. Juga..."
Madara menggantungkan kalimat dan menyelesaikan apa yang belum sahabatnya selesaikan. Membagi dua tubuh tak berdaya itu. Teriakan pilu kembali menghiasi suasana yang mulai sunyi di hutan Hashirama.
"...Memanfaatkan kekuatan Chibi-chan untuk sesuatu yang lebih berguna daripada tujuan kalian!"
Madara memfokuskan pandangan mata saktinya ke mata Katerea. Tanpa Katerea sadari, Madara sudah memasuki alam bawah sadar dan mengambil seluruh ingatan wanita itu dengan paksa menggunakan Genjutsu (Illusion Technique).
"Sepertinya sudah cukup—"
[Amaterasu]
(Heavenly Illumination)
Setelah mengambil ingatan yang diperlukan, Madara menutup mata kanan sedangkan yang sebelah malah mengeluarkan air mata darah. Perlahan tapi pasti tubuh Katerea mulai dilahap api hitam yang muncul entah darimana hingga akhirnya hangus tanpa menyisahkan apapun kecuali nama dan kabar kematian.
"—Sayonara, Motherfucker!"
Sekali lagi, salah satu eksistensi yang selamat dari perang terhebat yang terekam dalam ingatan para mahluk supernatural mati di tangan manusia, bahkan dari manusia yang sama serta tehnik yang sama pula.
"Hn, kita tepat waktu."
Berjalan beriringan keluar dari hutan buatan pada bagian utara akademi Kuoh, Madara berujar pelan melihat Azazel dan Vali melayang di atas para peserta rapat yang sudah membunuh para penyerang. Berterima kasihlah pada Vali yang berhasil menghentikan kekuatan penghenti waktu Gasper sehingga efek pengulangan setelah para penyihir mati menghilang.
Menoleh ke sahabatnya yang sedang memegangi bahu kiri, Hashirama sedikit dibuat khawatir. "Apa kau terluka, Madara?"
"Sepertinya..." Madara menggerakkan lengan kirinya, dia meringis pelan. "...tulang bahuku bergeser saat pertama iblis itu memukulku." walau bagi Shinobi seperti Madara bergesarnya tulang punggung adalah luka kecil. Namun, luka kecil tersebut bisa berakibat fatal bila berada dalam sebuah pertarungan. Beruntung, saat mengalaminya, Madara cepat melakukan tindakan sehingga tidak memperlambatnya dalam pertarungan. "Kau sendiri?"
Hashirama berpikir sejenak dengan wajah yang sudah tidak asing lagi bagi Madara. "Hmmm..." karena memang tidak mengalami luka berarti, dia pun menjawab asal-asalan mengikuti apa yang diiucapkan Jiraiya ketika melawan Orochimaru di Kyoto. "Sepertinya... Kolestrolku lumayan tinggi."
"Sekalian naikkan juga kebodohanmu itu. Cih! Kau beruntung bisa menggunakan Senjutsu seperti bocah itu."
"Hahahaha, jangan iri begitu, Teme. Kau sendiri punya mata itu... Pasti menyenangkan bisa menggunakan Amaterasu dan Susano'o tanpa takut buta lagi."
Melihat kedatangan keduanya, Naruto yang sudah tidak dalam mode Senpō: Museigen no Furū Pawā Kai (Sage Art: Unlimited Full Power Revision) lagi menoleh. "Bagaimana hasilnya?"
Keturunan Uchiha mendengus. "Kami kalah dan dibunuh oleh jalang itu."
Jawaban yang tidak diiringi tampang bercanda tersebut membuat Naruto pun kesal dan berniat memukul Madara kalau saja tidak pria itu mendongak seperti Hashirama untuk melihat apa yang terjadi di atas sana. Rasa penasaran pun muncul dalam diri Madara dan Hashirama melihat dengan jelas raut wajah Azazel yang cukup serius, namun sedikit menyiratkan rasa sedih.
Sepertinya, Azazel dan Vali saja membicarakan beberapa hal yang cukup penting dan itu membuat para peserta rapat terkejut bukan main. Saking terkejut, Rias dan orang-orang yang sempat mengurungkan niat untuk bertanya apa yang terjadi, bahkan untuk Rias, gadis itu sampai tidak melirik Naruto sedikit pun sejak pertama kali membuka mata. Dan para peserta rapat sampai tidak sadar jika Madara dan Hashirama sudah kembali dengan kabar berhasil membunuh Katerea Leviathan.
Hal yang mereka bicara pertama adalah Khaos Brigade yang ternyata Vali juga termasuk dalam jajaran anggota, dan pemuda itu pula yang menyediakan informasi serta melakukan persiapan . Lalu tentang Ophis yang mengumpulkan orang-orang kuat dari berbagai macam ras. Dan terakhir... Azazel yang merasa jika Vali dan Katerea ada hubungan dekat, bukan hanya sebatas anggota satu organisasi.
"Sepertinya malam ini,... malam yang mungkin sangat penting untuk menentukan masa depan dunia... Aku kehilangan harga diriku. Salah satu pengikutku melakukan penghianatan di depan pemimpin fraksi lain." ujar Azazel sambil mentertawai dirinya sendiri untuk menciptakan suasana dramatis sebelum menebak kedekatan Vali dan Katerea, serta identitas asli pemuda itu. "Kapan? Kapan kau memutuskan melakukan ini?"
"Sekitar satu bulan lalu, aku bertemu Ophis dan mendapat tawaran bergabung. Kelompok mereka sepertinya menarik untukku." ujar Vali masih berbalut armor kebanggannya. Kemudian, dia mengarahkan pandangan ke kelompok Naruto. "Namun, saat insiden Kokabiel. Aku akhirnya menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya, seperti yang kukatakan sebelumnya..."
"Tujuan sebenarnya? Cih! Pasti itu bertarung selama-lamanya, kan?"
Vali menggeleng pelan. "Itu dulu, sekarang tidak lagi. Tujuanku yang sekarang adalah membunuh dua orang yang sudah mengubahku menjadi seperti ini."
Azazel tersenyum kecut. Lalu dia berkata. "Begitu rupanya. Selain gila bertarung, ternyata memang sudah menjadi sifat aslimu—Seorang pembalas dendam. Jadi, memang benar kau punya hubungan dekat dengan Katerea, heh Vali?" tanyanya sedikit menekan nama Iblis yang baru saja mati itu.
Pertanyaan Azazel disambut pertanyaan lain dari Sirzechs. "Apa maksudmu, Azazel?"
Michael yang mulai tahu mau dibawa kemana topik percakapan dari pihak Malaikat Jatuh di atas sana ikut menimpali. "Jangan bilang..."
"Ya, itu benar Azazel." Vali membenarkan pertanyaan Azazel. "Nama sejatiku adalah Vali—Vali Lucifer."
"A-a-a-apa Lucifer?" seru Issei tidak percaya.
Rias yang juga sama terkejutnya ikut berseru lantang. "Lucifer katamu?"
Vali tertawa pelan, seperti bangga akan nama Lucifer yang disandangnya. "Aku adalah keturunan dari Maōu Lucifer sebelumnya yang tewas. Namun, aku anak berdarah campuran dari ayah yang merupakan cucu Maōu dan ibu manusia—aku mendapatkan kekuatan Sacred Gear [Vanishing Dragon] karena aku separuh manusia. Itu hanya kebetulan. Namun aku, yang merupakan kerabat darah sejati dari Lucifer dan juga seorang Hakuryūkou, terlahir. Kalau ada yang dinamakan takdir dan keajaiban, itulah aku—Cuma bercanda."
Sambil menjelaskan asal-usulnya, Vali memunculkan delapan sayap iblis dibalik sayap Sacred Gear miliknya. Semua orang dibuat kehabisan kata-kata melihat itu, bahkan Michael sampai mengucapakan nama [Tuhan] dan bertanya apakah ini bukan sebuah mimpi. Sirzechs akhirnya sadar, pantas mereka tidak tahu, itu semua karena iblis dan manusia yang melakukannya. Ternyata Lucifer selain Rizevim masih eksis—walau hanya setengah.
"Tak mungkin... Itu mustahil..."
Rias berujar lemah. Masih tidak percaya jika ada yang seperti itu. Jadi, hayalannya dulu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi. Bahkan, Lucifer yang melakukannya, menikahi dan menghamili manusia! Oh, andai saja dia dan Naruto—
Azazel pun tertawa, membuat Rias yang kembali kalut dalam pikiran dan rasa sesalnya berhenti. Apa yang Azazel ingin ketahui dari informasi salah anak buahnya mengenai setengah keturunan Lucifer ternyata benar-benar tepat, dan orangnya adalah Vali, bocah kecil yang dulu ditolong dan dijadikan murid karena kepemilikan Sacred Gear tipe Longinus. Segera, dia memberi kepastian kepada Rias dan yang lain.
"Itu benar. Kalau ada eksistensi menggelikan, itulah dia. Dia akan menjadi Hakuryūkou terkuat diantara yang kukenal sejak dulu sampai sekarang, dan mungkin sepanjang waktu juga. Eksistensimu bukan hanya menggelikan, Vali, namun juga seperti candaan dari takdir itu sendiri."
"Mungkin kau benar Azazel. Sekarang..." Vali memutar sedikit tubuhnya. Jika tadi dia melirik, kini arahnya benar-benar tertuju ke Naruto. "Mau sampai kapan kau bersembunyi—tidak, menyembunyikan dirimu... Naruto."
Mata Naruto memicing tajam, heran kenapa dirinya tiba-tiba ditanya oleh Vali, bahkan memanggilnya seolah mereka memiliki hubungan dekat. "Apa maksudmu? Apakah aku mengenalmu secara pribadi, Hakuryūkō?"
Menyeringai tipis, Madara memandang Naruto dan Vali secara bergantian. "Hoho, sudah dimulai."
"Hahahah... Apa kau pura-pura lupa dengan kesalahanmu dulu? Ataukah ini caramu untuk bersembunyi dan menghindar dari kejaranku? Oh, atau mungkin dengan bergabung dengan pihak yang menginginkan perdamaian agar mendapat bantuan yang lebih kuat, begitu... Naruto Lucifer?! Atau lebih enak kupanggil—"
.
.
.
"—Onii-sama!"
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
.
.
Author Brengzeck note:
Madara. Ya... Si Gila Mbah-Madara... Dia sudah memilik EMS. Walau itu terungkap dari Scene awal Chapter dan di Pertarungan melawan Katerea. Maaf, kalau tidak ada Scene saat mata Izuna ditransplantasikan... Mungkin, di beberapa chapter lagi akan dibuatkan scene itu dalam sebuah flashback singkat... So, sekarang kekuatan Madara sudah hampir sama kek di Canon Kecuali Rinnegan dan Mokuton.
Untuk Naruto dan Vali, kebenarannya akan di Chapter depan. Well, mungkin setting-nya agak mainstream dengan Naruto dan Vali memiliki hubungan seperti kakak-adik, atau lebih mainstreamnya lagi... Saudara kandung. Ugh~ Yaa... Tunggu saja di Chapter depan.
Oke, sekian dulu untuk Chapter 26 beserta ABN-ABN tidak jelasnya! Untuk balasan review, akan dibalas sekalian lewat PM bagi yang memiliki akun, dan yang tidak, akan dibalas pada Chapter depan.
Dan ya... hampir lupa. Bagi para reader yang mungkin ingin bergabung ke Grup WhatsApp yang di dalamnya lebih dari 100 Author dan Reader telah menjadi penghuni termasuk saya sendiri. Jika berminat, silahkan cantumkan nomor WhatsApp kalian di kolom Review atau PM.
PS: Kalau nggak ada yang gabung, Author ini akan hiatus jangka panjang karena dibantai Hime-nya :"""v
Tidak lupa Author mengucapkan selamat hari raya idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Maka dari itu, maafkan Author malas ini yang telah menelantarkan ceritanya hingga lumutan.
.
.
.
Brengzeck-id 014 [Root Loliwoodand Stark Fullbaster 014 (Yang sekarang ini mungkin sudah berkubang dalam darah kebejatannya :v) Out! Mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/
Salam Lolicon dari Lolicon KBH!
—BUKAN PEDO OIIII!
... And ...
Mind to Review?
