Di suatu tempat yang lokasinya berada sangat jauh dari konferensi bertensi tiga fraksi...
"Le Fay, kau bohong! Aku sama sekali tidak merasa senang sudah membantu Vali."
Ocehan yang tidak terdengar seperti ocehan pada umumnya karena bernada datar itu meluncur dengan mulusnya dari mulut seorang gadis belia berambut hitam panjang yang tengah duduk di tengah-tengah ruangan. Pakaian Gothic Lolita hitam yang dikenakan seolah menjadi nilai plus dari gadis tersebut, sangat menyatu dengan rambut hitam dan mata ungu kusam. Ophis, nama mahluk dalam bungkusan gadis belia—atau sebut saja Loli, sang Mugen no Ryūjin (Infinity Dragon God) sedang meminta hal yang beberapa hari belakangan ini sangat ingin dirasakan kepada salah satu anak buahnya, Le Fay Pendragon.
Memasang wajah cemberutnya, yang malah terlihat imut, Le Fay memberitahu sang ketua yang mulai hilang kesabaran. "Ophis-sama harus sabar. Cepat atau lambat Ophis-sama akan merasa senang sudah membantu Vali-niisama."
"Aku tidak suka menunggu."
"Mooouu~~"
Le Fay memanyunkan bibir melihat tingkah sang ketua. "Aah benar juga." dia tiba-tiba menyahut riang, teringat akan satu hal lagi yang diminta ketua timnya kepada ketua organisasinya. "Bagaimana dengan permintaan Vali-niiisama yang itu? Kalau Ophis-sama setuju dengan permintaan Vali-niisama, rasa senang yang Ophis-sama tunggu akan cepat muncul loh!"
Ophis berpikir sesaat dengan wajah kosongnya. "Baiklah." dia mengangguk setuju. "Tapi, jangan membohongiku lagi, Le Fay!" ancamnya kemudian datar dan dingin.
Le Fay mengangguk dengan wajah ketakutan yang tak dapat disembunyikan. Mengingat dirinya diancam oleh eksistensi yang bahkan Tuhan sendiri dikatakan takut mau tak mau memaksa perasaan takut menjalar ke sekujur tubuh gadis keturunan Morgan Le Fay. "Aku janji tidak akan bohong lagi Ophis-sama."
"Khakhakhakha... Sungguh Dewa Naga yang—Hmmmptttt!"
"Jangan bilang seperti itu Bikuo-sama, Ophis-sama bisa tersinggung, tau."
Pemuda yang sedang duduk di samping Le Fay sambil membersihkan tongkat panjang tidak sempat menyelesaikan ucapannya saat gadis berambut pirang itu membekap mulutnya sampai kesulitan untuk bersuara. Sang pemuda berpenampilan sedikit nyentrik dengan pakaian tempur zaman duluhu negara China—yang sekarang menjadi Tiongkok, berambut hitam lurus dan ditata rapi menghadap ke atas. Dialah satu diantara tiga anggota laki-laki di Tim Vali, Bikou.
Bikou mengangguk singkat dalam keadaan masih dibekap oleh Le Fay. Setelah melakukannya, Le Fay membebaskan mulutnya dan berjalan ke tengah ruangan. Sambil memasang wajah serius yang malah terlihat errr, imut. Gadis kecil yang memakai topi penyihir biru berukuran besar mulai berpidato.
"Ophis-sama sudah setuju. Sekarang waktunya melakukan tugas dari Vali-niisama." seru Le Fay keras agar semua orang disana—kecuali Ophis dapat memperhatikannya.
Bikuo yang sempat cemberut langsung memandangi Le Fay. Satu pemuda lagi yang sedang mengelap sebuah pedang ikut memandang ke tengah ruangan, dan terakhir seorang gadis yang sedang tiduran di atas sofa menguap malas lalu melakukan hal yang sama.
Mendapatkan apa yang diinginkan, perhatian. Le Fay memperbaiki penampilannya agar terlihat seperti seorang pemimpin. Topi biru besarnya yang miring di luruskan, bajunya yang kotor dibersihkan lalu mulai memerintah satu per satu orang disana. "Bikuo-sama, pergi jemput Vali-niisama yang sedang menghadiri pertemuan tiga fraksi di Kouh dan sampaikan Ophis-sama sudah setuju."
Hormat ala tentara Bikou lakukan. "Yes Ma'am!" dan entah kenapa, dia mau-mau saja menuruti Le Fay tanpa ada sedikit pun niat untuk menolaknya. Tidak berselang lama, Bikou sudah berjalan keluar meninggalkan ruangan bersama bau keringat monyetnya yang sedari tadi berkeliaran dalam ruangan.
"Kuroka-neesama. Panggil semua anggota organisasi atas perintah Ophis-sama yang diwakili olehku."
Gadis berambut hitam yang memakai kimono hitam bangkit dari sofa. "~Nyaan... Oke." dia mengeluarkan suara mirip kucing dan menyusul pemuda monyet tadi.
"Niisama, berhenti mengelap pedang dan bersihkan ruangan ini. Aku dan Ophis-sama mau bermain!"
Pemuda bernama Arthur sweatdrop diberi tugas paling mudah sekaligus paling menjengkelkan. Apalagi tugas itu diberikan oleh adiknya sendiri. "Sebenarnya aku atau dia yang kakak?" lalu dia melihat seisi ruangan dan dibuat makin sweatdrop. "Dan apa-apaan tugasku itu? Membersihkan ruangan mirip kandang ayam ini?"
Le Fay senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya kembali memberi perintah kepada anggota Tim lain. "Jadi pemimpin bagus juga... Ah, nanti kuminta Vali-niisama mengangkatku jadi wakil ketua Tim Vali, deh."
"Apa aku melakukannya tidak benar? Aku harus menanyakan lebih jelas ke Le Fay!"
Dan Ophis... Sampai saat ini masih sangat-sangat penasaran dengan yang dijanjikan ole Le Fay.
Hal tersebut menegaskan apa yang ingin dikatakan Bikou beberapa saat lalu tepat sasaran bahwa Ophis... Sungguh dewa naga yang benar-benar polos!
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto, High School DxD [Ichie Ishibumi] and others not Mine!
Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Hurt/Comfort, Romance and Mistery.
Warning: Still and Always Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat) dan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, HalfDevil!Naruto, GradualyOverpowered!MainCharacter, Gray!MajorityMainCharacter, Etc.
.
.
Arc III
[Early and Late]
.
.
Chapter 28
[Daybreak — Naruto Lucifer!]
.
.
.
.
.
"Hahahah... Apa kau pura-pura lupa dengan kesalahanmu dulu? Ataukah ini caramu untuk bersembunyi dan menghindar dariku? Oh, atau mungkin dengan bergabung dengan pihak yang menginginkan perdamaian agar mendapat bantuan yang lebih kuat, begitu Naruto Lucifer?! Atau lebih enak kupanggil—"
"—Onii-sama!"
.
.
.
Sekali lagi. Hal penuh kejutan menghantam kepala setiap orang di konferensi tiga fraksi—kecuali Madara, Hashirama, Hilda dan Yuki.
Bukan hanya satu, tapi dua... Dua pemuda yang dalam tubuh mereka mengalir darah Raja Iblis Lucifer dengan kekuatan yang sudah melewati standar para mahluk supernatural. Sang adik adalah Hakuryūkō (White Dragon Emperor) yang digelari terkuat sepanjang masa oleh Azazel, dan sang kakak dengan kemampuan memakai secara sempurna Senjutsu (Nature Energy) serta pengendalian elemen api yang melewati klan Phenex, sekaligus murid dua shinobi yang mampu mengalahkan dan membunuh dua veteran Great War tanpa mengalami luka fatal sehingga bisa disejajarkan dengan iblis kelas Ultimate atau bakan Mauō (Satan).
Walau masih belum pasti apa benar Naruto benar-benar kakak dari Vali sekaligus keturunan Lucifer, para peserta konferensi setidaknya ingin mendengar secara jelas identitas Naruto dari Vali. Bahkan Azazel yang diketahui memiliki informasi cukup banyak mengenai keturunan Lucifer masih belum bisa mempercayai kata terakhir yang keluar dari mulut muridnya. Namun, melihat banyaknya emosi yang terkandang dalam setiap kata-kata Vali membuatnya sedikit percaya bahwa keduanya bersaudara.
Kakak? Oh, tidak cukupkah hari ini Azazel dibuat terkejut oleh beberapa hal. Bahkan setelah dirinya mengenal baik Naruto? Ternyata masih ada rahasia besar yang disembunyikan Naruto darinya, atau mungkin ada sesuatu dibalik ucapan Vali mengenai nama lengkap Naruto?
"Ayah... Sudah sekacau apa dunia ini setelah Ayah pergi meninggalkan kami semua?" renung gubernur Da-Tenshi itu dalam. "Dari ciri fisik, kau memang mirip dengan Vali, kalau memang seperti itu... Lucifer, Kurama dan Senjutsu. Monster macam apa kau Naruto?" dia melirik kebawah, memandang takut pemuda yang lebih terkejut dari semua orang dibawah sana. "Bahkan dengan kekuatanmu yang kuketahui, kau hampir mengirimku menyusul Ayah."
Dengan iris biru gelap yang melebar dan bergetar hebat akibat terkejut, Naruto menatap tidak percaya ke pemuda yang mengaku sebagai adiknya. "A-Apa maksudmu, Hakuryūkō? Aku kakakmu? Seorang yang juga dalam tubuhnya mengalir darah Maōu Lucifer sebelumnya? Aku sama sekali tidak mengerti dan tidak ingin mempercayainya!" ya, selain terkejut, Naruto juga bingung dengan semua hal yang tiba-tiba saja datang ini. "Perlu kau ketahui, Hakuryūkō. Namaku adalah Uzumaki Naruto, nama yang sudah diberikan sejak lahir. Naruto Lucifer, kalau niatmu ingin membuat Maōu Lucifer masa kini dan pengikutnya membunuhku karena informasi sialan itu, kupastikan detik ini juga, kau akan kubunuh."
"Kesalahanku yang dulu? Memang apa yang sudah kuperbuat padamu, hah? Lari dan bersembunyi? Kalau kau ingin bertarung, sekarang juga akan kubuat kau menari sampai bertemu pendahulumu, Lucifer!" seru Naruto mengakhir dengan nada dingin mencekam.
"Begitu rupanya..." Vali menyahut singkat. "Aku mengerti sekarang..."
"Apa yang kau mengerti? Cepat katakan, brengsek!"
Naruto berseru kasar dan tidak sabaran menunggu sebenarnya apa yang ingin diucapkan oleh pemuda berarmor diatas langit. Sejauh yang dia tahu—lebih tepatnya terekam dalam memorinya. Sejak pertama kali membuka mata, melihat keindahan dunia yang dibaliknya begitu kejam, namanya adalah Naruto Uzumaki. Dia juga pernah melihat data pribadinya di kantor Hokage, disana tertulis bahwa dirinya yatim piatu. Hanya ada nama Jiraiya sebagai ayah walinya. Kalau tidak salah, Jiraiya menulis bahwa dirinya ditemukan oleh pak tua mesum itu tidak jauh dari perbatasan desa. Dibawa dan dibesarkan sebagai shinobi. Masuk ke akademi dan lulus sebagai Genin dengan nilai di atas rata-rata murid lain sampai Madara, Hashirama, Izuna dan Tobirama menjadikannya anak didik khusus.
Jika ingin jujur, sejak dirinya sudah bisa menggunakan otak dan pikiran, Naruto tidak pernah peduli dan tidak ingin tahu mengenai asal-usulnya. Walau hal tersebut berakibat buruk padanya, kurang mendapatkan teman di akademi maupun Konoha karena dianggap orang luar. Terlebih lagi tidak memiliki chakra yang merupakan hal paling utama untuk menjadi shinobi. Beruntung, Hashirama memberi kebijakan khusus untuk dirinya agar bisa masuk akademi walau nantinya hanya bisa menggunakan Taijutsu dan Kenjutsu tanpa bantuan chakra.
Biarpun masa kecilnya di Konoha sebagian besar adalah kekejaman dunia yang menganggap perbedaan adalah hal yang menjijikan. Naruto tetap mensyukuri hal tersebut, dan seperti sebelumnya—
—Membuat dirinya tidak pernah peduli dan tidak ingin mencari tahu soal asal-usul, orang tua, sampai mahluk apa sebenarnya dia ini.
Namun...
Setelah sekian lamanya tidak peduli, hari ini Naruto dipaksa untuk peduli!
.
.
.
.
.
Sirzechs diikuti semua orang disana menolehkan kepala menuju pemuda dengan rambut perak gelap itu, memandanginya tajam selagi bertanya. "Apa artinya semua ini, Naruto-kun?"
"I-ini bohongkan?" Rias menatap terkejut sekaligus tidak percaya ke yang ditanyai oleh kakaknya. "Naruto adalah cucu Maōu Lucifer? Ini benar-benar tidak mungkin!"
.
.
.
Berbeda dari para mahluk supernatural disana, Madara malah melakukan hal lain yang tidak kalah pentingnya. Pria Uchiha segera menghampiri Yuki yang berdiri tidak jauh disamping kanan Naruto.
"Loli-chan...!" saat gadis kecil berambut putih menoleh ke arahnya, Madara mengaktifkan Sharingan dan fokus pada mata hitam legam yang menatapnya penasaran. Tidak sampai lima detik, Yuki sudah terlelap dan dengan sigap ditangkap oleh Madara sebelum jatuh menghantam permukaan tanah. "Tidurlah, Loli-chan. Ini demi kebaikanmu."
"Bocah..." dia berseru dingin mengalihkan perhatiannya ke Naruto. "Apa lagi yang sembunyikan dari kami, hah? Apakah tidak cukup membuat kami harus menerima hubunganmu dengan ras yang sudah membantai Konoha?" Sharingan Madara berkilat penuh kebencian, gigi yang bergesekan satu sama lain sampai mengeluarkan suara kecil dan tangan yang terkepal sangat kuat membuat Naruto merasa sangat berat untuk memandangi dirinya.
"M-Madara, dengarkan aku du—"
"Apa lagi, hah? Masih ingin menyembunyikannya?"
"Jangan memotong saat aku berbicara, sialan!" Naruto menghentakkan kaki kanan kuat-kuat. "Dengar! Kau sendiri tahu, kan. Aku ditemukan Ero-Sennin dan dibawa ke Konoha. Mengertilah, aku sama sekali tidak—ARRRRGGGGHHH, SIALAN!" Naruto yang berusaha membela diri namun tidak tahu harus mengatakan apa ke Madara sehingga membuatnya berteriak frustasi. "MADARA! CEPAT BERI YUK—"
"Menyedihkan!" pandangan Madara berubah jijik bercampur benci. "Kau sangat menjijikan bocah. Aku belum bisa memastikan apakah memang benar kau keturunan Lucifer atau bukan. Namun, jika memang benar, ingatlah ini baik-baik. Lupakan semua yang telah kulakukan. Lari, lari dan larilah... Karena tidak peduli sejauh mana kau berlari, aku akan datang, menghancurkanmu bersama dengan semua hal yang telah kulakukan untukmu!"
"Kumohon Madara..." Naruto berusaha meyakinkan pria Uchiha untuk tidak terlalu cepat mempercayai ucapan Vali. "Dengarkan aku dulu..."
"Madara, hentikan! Kau sudah berlebihan!"
Pria kedua yang berhasil mencapai tahap Ēien no Mangekyō Sharingan (Eternal Kaleidoscope Copy Wheel Eye) mengacuhkan Naruto yang menoleh dengan pandangan memohon ke arahnya dan memilih untuk mengurus si bodoh bermulut ember sahabatnya yang kadang tidak bisa diandalkan soal rahasia-rahasian. "Diamlah, Hashirama!"
"Bagaimana bisa aku diam jika kau seperti ini?"
"Jangan bilang kau menerima identitas bocah itu?"
"Ya... Aku tidak peduli. Mau dia cucu Maōu Lucifer, bahkan jika dia itu cucu Tuhan sekalipun. Bagiku... Naruto tetap Naruto. Murid terbaik yang pernah kupunya! Persetan dengan masa lalu dan asal usul!" nampaknya, Hashirama juga serius. Sebaik mungkin, dia mencoba untuk membuat Naruto tidak terlalu tertekan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Madara dan Vali. "Jika kau bertindak lebih dari ini... Aku tidak akan main-main untuk menghentikanmu!"
Sayangnya, hari ini Hashirama tidak dalam mode si bodoh bermulut embernya, dan itu tentu saja sebuah masalah besar untuk Madara.
"Cih! Senju dan kasih sayang mereka yang berlebihan." dan pada akhirnya, Madara memilih tutup mulut. Sahabatnya itu seperti benar-benar serius untuk berada di pihak Naruto, sampai melupakan perjanjian yang mereka dengan Vali di reruntuhan desa beberapa hari yang lalu. "Bodoh!" dia mengumpati Hashirama dan beralih ke sang Hakuryūkō yang masih diam menunggu respon Naruto. "Vali... Kuserahkan padamu. Bisa gawat jika aku berbicara lebih banyak. Hashirama sudah masuk mode penuh kasih sayang mengerikannya."
"Yare-yare~~" Azazel mendesah, terlalu lelah dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi. "Perpecahankah? Tidak kusangka konferensi yang mungkin menjadi penentu masa depan dunia malah semakin mengejutkan saja... Keturunan Lucifer... Pecahnya keluarga yang menginginkan balas dendam... Selanjutnya apa? Tuhan kembali hidup dan datang menyelesaikan masalah ini?"
Pertanyaan terakhir dari malaikat jatuh itu sontak mengundang amarah Michael, bahkan jika malaikat bersayap emas ini tahu hanyalah sebuah candaan ringan.
"Jaga ucapanmu, Azazel."
"Baik, baik. Aku minta maaf. Oke?!"
.
.
.
"Ini bohongkan? Jadi, aku sudah melawan cucu Maōu Lucifer dua kali dan berhasil selamat?"
Sang Sekiryūtei dilanda kebingungan tingkat tinggi. Entah sekarang ini dia berpikir harus bangga sudah melawan dan membuat sekarat seorang cucu Lucifer yang terkenal sangat kuat, takut apabila Naruto membalas tindakan mereka pada malam insiden Kokabiel mengingat pemuda itu dan kelompoknya bisa dibilang pembalas dendam, dan merasa beruntung masih bisa menghirup oksigen hingga hari ini setelah dua kali melawan Naruto. Untuk ukuran pemuda yang persentase dalam otaknya didominasi hal mesum, ini semua terasa sangat berat untuk dipikirkan.
Lain lagi dengan Yūto dan Xenovia, mereka malah menatap Naruto dengan pandangan tidak percaya.
"A-Aku benar-benar tidak menyangka, Naruto-san..." pikir keduanya serentak.
Terakhir Akeno, gadis yang terkenal dengan gaya 'Ara-ara, ufufufu~' ini malah penasaran dengan perasaan ketuanya sekarang ini. Setelah semuanya, pemuda yang diabaikan Rias ternyata masih bagian dari ras iblis sendiri.
"Rias... Apa yang selanjutnya yang akan kau lakukan? Laki-laki yang sudah kau buang dan buat menderita adalah cucu Maōu Lucifer sebelumnya. Sekarang kau tidak bisa lagi menggunakan perbedaan ras dan status sebagai alasan tidak pernah melihat dan memperhatikan Naruto-kun."
.
.
.
.
.
Menyedihkan!
Seperti yang dikatakan Madara sebelumnya. Naruto mulai berpikir bahwa dirinya benar-benar menyedihkan. Tidak, tidak hanya dirinya, sebagian besar yang dialami juga sama menyedihkannya. Disaat kebencian teramat sangat besar pada golongan pengikut Raja Iblis yang lama sudah tertanam dalam dirinya, sebuah fakta mengejutkan yang entah kenapa sangat ingin dia tolak—bahkan terima kebenarannya muncul ke permukaan.
Apakah karena yang mengatakan hal tersebut adalah Vali, si Hakuryūkō yang mengaku sebagai adiknya. Disaat sebagian besar dirinya mati-matian untuk menolak fakta tersebut, ada setitik bagian yang malah menerima hal tersebut. Mungkin saja penyebab dia menjadi begitu adalah kata 'adik' yang disebut Vali. Ya, mengingat dia adalah seorang Good Onii-chan bagi Yuki. Tidak pernah sejak menjadi kakak Yuki kurang lebih setahun lalu, dia menolak apa yang diinginkan ataupun tidak mempercayai setiap ucapan dari gadis belia dengan sifat semi-polosnya itu.
"Lucifer, kah? Apa benar dalam tubuhku ini mengalir darah yang sama dengan Hakuryūkō? Tidak! Tidak!" Naruto menggeleng-gelengkan kepala, berusaha untuk menghancurkan sisi yang begitu mudahnya menerima ucapan Vali. Namun, sepertinya hal tersebut bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. "Kenapa, kenapa begitu sulit menyanggah semua ucapan Hakuryūkō?"
Sepertinya hari ini naluri berlebihan Naruto sebagai seorang kakak akan mendatangkan hal merepotkan pada dirinya sendiri.
Tawa keras yang keluar dari mulut Vali menarik kembali kesadaran Naruto yang perlahan-lahan frustasi. Bahkan, tinggal sedikit lagi—atau menunggu waktu lagi mental pemuda dengan rambut berwarna identik dengan Vali akan segera runtuh.
"Beberapa menit sudah lewat dan kau tetap diam Onii-sama... Setelah melihat keadaanmu yang sekarang, aku benar-benar sudah mengerti sekarang dan bisa kukatan bahwa kau sungguh—"
Naruto mengepal kedua tangannya yang menggantung bebas di dekat pahanya. "Kau sudah mengatakannya dua kali, brengsek!" dia mendongak dengan ekspresi wajah yang sudah mengeras bagai baja. Walau wajah pemuda dengan rambut perak gelap ini memperlihatkan kemarahan yang tidak disembunyikan, namun sebenarnya dia frustasi memikirkan dan menunggu kepastian benar atau tidak dirinya adalah keturunan Lucifer. "Jadi, cepat katakan apa yang kau mengerti..."
"—menyedihkan! Kau benar-benar menyedihkan, Onii-sama!"
Nah, bukan hanya Madara dan dirinya sendiri. Vali juga berpikir demikian.
"Saking menyedihkannya, aku sampai tidak tahan untuk segera membunuhmu." Vali mendesis dingin kemudian yang mengirim hawa dingin ke tulang belakang Naruto. "Ingatan, bahkan jiwa iblismu yang sekarang ini benar-benar tidak bisa kurasakan ternyata kau segel—atau mungkin hilangkan setelah kabur dari kejadian malam itu untuk melupakan semuanya... Kejadian di malam kita—Tidak! Dimalam aku kehilangan ibu."
Seluruh oksigen dalam rongga jantung Naruto langsung dipaksa keluar sampai berhenti melakukan tugasnya selama beberapa saat, kerongkongannya pun ikut terasa kering sehabis dilewati oksigen yang keluar tadi, dan berakibat otaknya mengalami kegagalan fungsi. Namun, ketika otak pemuda ini mengalami malfungsi, perasaannya malah meneriakkan sesuatu yang selama tidak pernah dia pedulikan barang sedikit pun. Walau didunia ini, mustahil bagi seorang anak lahir tanpa ibu kandung, namun Naruto sama sekali tidak menyangka akan mendengar seseorang mengungkit soal ibu kandungnya, apalagi itu berasal dari pemuda yang mengaku adiknya. Belum lagi nada bicara dari Vali yang sangat sulit untuk menemukan sebuah kebohongan dibaliknya.
Tapi apa maksud dari Vali yang menolak menyebut seibu dengannya, dan kalimat sebelum itu mengartikan seolah-olah dialah penyebab ibu mereka meninggal.
Karena tidak tahu ingin membalas apa Naruto memilih diam, atau mungkin belum yakin benar atau tidaknya pernyataan Vali yang cukup untuk membuatnya makin frustasi, tidak mampu berucap barang sedikit pun. Jangankan berbicara, bernafas saja serasa sangat berat untuknya.
"Jika takdir dan keajaiban dibuat khusus untukku... Maka kau sebaliknya, Onii-sama—Cih!" Vali mendecih keras seolah-olah tidak sudi untuk memanggil pemuda yang sedari tadi memenuhi pikirannya dengan sebutan kakak. "Kau adalah aib dari keluarga kita! Terlahir sebagai setengah iblis Lucifer cacat tanpa sedikit pun mewarisi kekuatannya, tapi Haha-uē (Mother) tetap menyayangimu seperti dia menyayangiku." Vali menambahkan dengan intonasi suara yang sudah tidak setinggi tadi, dan samar-samar bagi orang peka mampu merasakan ada semacam perasaan rindu mendalam terselip kepada sang ibu, yang sudah tidak ada lagi, dan untuk melakukan apa yang diucapkannya itu dalam setiap rangkaian kata dari mulut Vali. Menekuk dalam-dalam kepalanya ke bawah, dan mengepal tangannya kuat-kuat, Vali mengakhiri. "Namun, semua itu akhirnya berakhir pada malam itu..."
Hening.
Para peserta konferensi yang entah kenapa mulai larut dalam drama kakak-beradik Lucifer disana tidak ada satupun yang ingin angkat suara selama beberapa menit. Ikut campur dalam masalah rumit seperti ini malah akan menambah pertarungan yang terjadi, mengingat baik Naruto maupun Vali sudah terlihat seperti bom waktu yang siap meledak. Hanya waktu ataupun satu kata pemicu sebuah pertarungan hebat akan terjadi. Begitulah yang ada pikiran beberapa orang disana.
Selain itu, bagi Sirzechs, Michael dan Azazel memiliki alasan lain untuk tidak ikut campur. Bisa saja dari apa yang keluar dari mulut sang Hakuryūkō selanjutnya adalah petunjuk besar untuk mengetahui sila-sila keluarga Lucifer yang sampai saat ini sebagian besar masih menjadi misteri.
"Tunggu!"
Setelah hampir semenit diam. Sesuatu memaksa jantung dan otak Naruto kembali bekerja. Kontener Kurama menyadari ada satu kata yang Vali ucapkan sebanyak tiga kali dalam rentang waktu tidak berjauhan dan tiga kalimat berbeda, namun selalu saja diucapkan dengan banyak perasaan berkecamuk.
"Malam itu? Ja-Jangan bilang kalau aku—"
"Ya, itu benar!" Vali merespon cepat dan singkat. "Pada akhirnya kau sadar sendiri sebelum aku mengatakannya."
Vali tiba-tiba mengubah posenya di atas udara. Posisi yang sedari tadi terlihat santai diubah menjadi pose siap bertarung habis-habisan, kedua sayap mekanik dari armor [Balance Breaker: Vanishing Dragon Scale Mail] melebar dengan energi keperakan keluar dalam jumlah banyak. Bersamaan dengan itu, dalam radius yang cukup luas, aura pembunuh pekat bercampur aura naga terasa. Iblis-iblis muda dan malaikat yang pengawal Michael mengambil langkah mundur sedangkan sisanya bersiaga untuk kemungkinan terburuk terjadi sebuah pertempurang dahsyat.
"Gara-gara kau terlahir sebagai iblis cacat di dunia ini! Kedua orang tua sialan itu mulai menyiksamu dan juga menyiksaku karena keberadaan Albion yang menurut mereka bisa membayahakan. Dia takut aku akan lepas kendali bila melihatmu disiksa. Aku yang dulu belum mengerti, hanya bisa diam dan menerima semuanya... Tapi, di malam itu... Semuanya berubah dan kau yang menyebabkanya, Narutoooo!"
[Vali, hentikanKau terlalu berlebihan, kalau seperti ini kita berdua akan...]
Suara Albion yang tiba-tiba ikut campur membuat inner sang inang tersentak. "Tch! Maaf, Albion... Aku—"
[Tidak apa-apa. Lanjutkan saja, tapi kali ini jangan terlalu berlebihan seperti barusan.]
Inner Vali mengangguk singkat. "Haaaaa~~" Dia menghela nafas panjang dalam rangka menenangkan diri yang sempat meluap-meluap. "Malam itu... Adalah malam yang tidak akan pernah kulupakan. Haha-uē mengorbankan dirinya demi anak yang hanya memberi kesengsaraan padanya dan adiknya. Sejak saat itulah, setelah kabur dan bertemu Azazel. Aku bersumpah akan menjadi yang terkuat dengan hanya satu tujuan." berhenti sejenak, Vali melirik Azazel yang mengkerutkan kening. "Membunuh siapapun yang terlibat kematian ibuku!"
"Sudah kuduga... Ujung-ujungnya tetap balas dendam." Azazel memegang sisi kepala kanan dengan tangan yang sama, lalu menggeleng pelan. "Kau memang keturunan Lucifer, Vali... Dan apa-apaan itu, tujuan kalian benar-benar mirip. Aku jadi semakin yakin kalau kalian ini memanglah saudara kandung... Huh, dasar merepotkan."
Vali menggerakkan tangan kanan, mengacungkan jari telunjuk dan mengarah tepat ke Naruto. "Dan kaulah yang paling ingin kubunuh!"
"Ikatan kita sebagai saudara kandung? Perasaanku yang sebelumnya sangat menyayangimu sebagai seorang adik? Aku tidak peduli dan tidak mau lagi memilikinya! Yang ada sekarang adalah dendam dan kebencian teramat sangat kepadamu bersama dua orang sialan bernama belakang Lucifer itu!"
Satu dinding sebelum mencapai dinding penahan terakhir dalam diri Naruto akhirnya hancur digempur kalimat-kalimat mengejutkan Vali. Lutut pemuda itu langsung kehabisan tenaga, mata beriris biru cerah Naruto yang sudah mendapatkan cahaya setelah dihajar Madara karena melupakan gadis bernama Hina-chan selepas insiden di pertunangan Rias Gremory dan penculikan Yuki kembali menghilang. Sekaligus membuat pemuda ini menegaskan bahwa diri dan kehidupannya benar-benar menyedihkan.
Dirinya bisa saja menerima dibenci oleh Vali. Namun, sebagai seorang kakak, tidak diakui dan tidak diinginkan lagi oleh sang adik adalah sesuatu yang tidak dapat dia tahan, walau kepastian mengenai hubungan sedarahnya dengan Vali belum terbukti benar. Bukan hanya tidak mampu menahannya, hal tersebut bahkan mampu menghancurkan mental yang sudah terasah sejak kecil, tidak peduli bila itu sekeras baja bahkan berlian sekalipun.
Disaat beberapa orang di dunia cukup kesal bahkan benci dengan keberadaan seorang adik dalam hidup mereka. Karena keberadaan adik kemungkinan besar mengalihkan perhatian orang tua dari kakak ke adik, karena sang kakak disalahkan atas kesalahan yang dilakukan adik, dan masih banyak lagi alasan yang kadang-kadang membuat beberapa kakak di dunia ini berpikir seharusnya adik itu tidak perlu dilahirkan. Ada pula yang sangat menginginkan keberadaan seorang adik lebih dari apapun. Dari sebagian besar dari mereka, Naruto termasuk di dalamnya.
Adik. Ya, adik. Bagi Naruto yang sejak kecil tidak memiliki ingatan dan menjalani masa kecil yang sulit di konoha. Keberadaan seorang adik adalah hal yang paling penting baginya, sepenting hidup menyedihkan dan ikatannya dengan orang-orang yang dia sebut keluarga. Bahkan jika tubuhnya harus hancur, dia akan melindungi semua itu.
Selain sangat penting baginya, seorang adik juga menjadi sosok yang berperan penting dalam hidup pemuda itu. Jika ingin bukti seberapa penting peran seorang adik bagi Naruto... Kurama adalah salah satu yang paling tahu akan hal ini.
Dimulai ketika pemuda itu masih dibelenggu perasaan cinta tak terbalaskannya dengan Rias Gremory, disaat mulai putus asa mencari jalan pulang ke genggaman pewaris tahta Gremory, Naruto yang pada waktu itu seperti orang habis dicuci otak oleh Rias Gremory, dimana pemuda itu tak memperdulikan apapun selain kembali ke dunia bawah sampai-sampai Kurama pusing bagaimana cara menyembuhkannya. Dalam sebuah kejadian yang sangat terduga Naruto bertemu—lebih tepatnya menemukan Yuki bersama seseorang tidak jauh dari daerah kekuasaan fraksi Youkai Kyoto, Kurama cukup dibuat tidak percaya bagaimana sebuah janji untuk menjaga Yuki mampu membuat Naruto berhasil mendapatkan kembali kehidupannya.
Selang beberapa bulan setelah membuat janji itu dan mengangkat Yuki sebagai adik angkat. Kehidupan seorang Naruto Uzumaki yang dulu Kurama kenal mulai kembali, mulut yang selalu saja membentuk garis datar mulai bengkok membentuk lengkungan indah menghangatkan, mata sebiru lautan itu mulai terisi cahaya yang sama kembali, mulai peduli akan sekitarnya sampai-sampai orang sekelas gubernur malaikat jatuh memberi respek dan kepercayaan yang sangat besar kepadanya, dan yang terbaik dari semua itu untuk sosok Youkai dalam tubuh Naruto, perlahan dilupakannya sosok Rias Gremory.
Setelah kurang lebih setahun berlalu dan Naruto benar-benar sudah kembali seperti semula, ketika tinggal bersama Yasaka. Sirzechs Gremory datang menghancurkan segalanya, datang dan memberikan sebuah misi yang seketika memunculkan kembali perasaan Naruto kepada Rias Gremory. Diberi sebuah misi untuk membatalkan sebuah pertunangan yang ternyata adalah pertunangan Rias Gremory, Naruto dengan mudahnya mengatasi Burung Kecil dari Phenex dan memenangkan pertarungan.
Singkat cerita, sebuah kemenangan bukanlah segalanya. Setelah mengalahkan Riser Phenex, terjadi sesuatu yang membuat Kurama serasa ingin keluar dari tubuh Naruto dan menghancurkan kedua Gremory itu karena hampir saja kontenernya kembali seperti zombie berjalan seandainya tidak ada Madara, Irina dan tentu saja Yuki.
Berkat puluhan bogem mentah Madara yang tinggal sedikit lagi menghancurkan kontenernya, dan beberapa milliliter air mata dari Yuki, kontenernya mengambil sebuah keputusan yang sejak dulu ditunggu-tunggu oleh Kurama. Pada malam insiden Kokabiel, yang disaat bersamaan ketika Cadre Malaikat Jatuh itu tewas, Naruto mengakhiri semua yang terjadi antara dia dan Rias, memporak-porakdakan kelompok penelitian ilmu gaib dan mulai melancarkan pembalasan halus pada Rias dengan cara menghancurkan gadis itu secara perlahan-lahan dari dalam.
Dua dari banyak kejadian ini hanyalah bukti bagi Kurama untuk menyimpulkan jika sosok adik adalah hal terpenting bagi Naruto selain keluarga. Maka dari itu tidak perlu heran kenapa Naruto sampai seperti sekarang ini hanya karena ucapan Vali.
"Huh, dasar! Seberapa besarkah sebenarnya rasa sayang bocah ini pada adiknya sampai sehancur ini, bahkan sebelum dia mengingat semuanya." renung Kurama tidak menyangka akan mendapatkan partner se-unik Naruto. Selain itu, rubah satu ini juga berpikir, Hashirama yang pernah menjadi guru Naruto pasti juga berperan penting membentuk jati diri kontenernya yang sekarang ini. "Nalurinya sebagai seorang kakak benar-benar mengerikan. Beruntungnya mereka yang dianggap adik oleh bocah siscon ini."
Kurama, dalam tubuh Naruto mengubah posisi meringkuk malasnya menjadi duduk bersilah, mulai serius memandang kedepan, lebih tepatnya memandang apa yang dipandangi oleh Naruto. Sebenarnya, dia bisa saja memberitahukan kepada Naruto kebenaran mengenai semua hal yang dikatakan oleh Vali. Namun, karena alasan tertentu, Kurama belum ingin ikut campur.
"Sekarang... Mari kita sampai mana bocah naga itu bisa menghancurkan dinding kedua terakhir sebelum sampai ke sini."
.
.
.
.
.
Melanjutkan ucapannya, suara yang keluar dari mulut Vali semakin mengecil.
Berbeda dengan Naruto. Walau suara Hakuryūkō semakin mengecil, namun dia merasakan kalau perasaan yang terkandung dalamnya semakin membesar.
"Namun, lama setelah aku kabur dari rumah... Aku bepergian kemana-mana untuk mencari keberadaanmu. Namun, semua itu sia-sia saja bahkan informasi tentangmu tidak pernah kudengar, membuatku berpikir 'Apakah dia sudah membunuh dirinya sendiri karena merasa bersalah', 'Apakah dia sudah tewas disiksa oleh ayah dan kakek sialan itu?'. Itu sekian dari banyaknya pertanyaan yang terus-menerus berputar dalam kepalaku."
"Maka dari itu kuputuskan untuk melupakan semua itu. Namun—"
"Hentikan..."
"—tidak peduli seberapa kuat aku mencoba melupakan semua... Tetap saja, bayangan Haha-uē tewas selalu menghantui tidurku—"
"Kumohon, hentikan! Semakin banyak kau bicara, semakin yakin aku adalah kakakmu, Hakuryūkō. Kumohon—"
"Sekaligus bayangan dirimu yang cuma bisa menangis tidak berdaya di belakang Haha-uē ikut muncul..."
"—hentikan!"
"Ketika aku mulai putus asa mencari demi menghilangkan mimpi buruk itu... Akhirnya. Akhirnya di malam penyerangan Kokabiel, untuk pertama kalinya. Aku melihatmu. Saat itulah..."
"Kalau seperti ini... Aku, aku, aku bisa saja—"
"Tujuanku dulu—Ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri kembali muncul, bahkan lebih besar dari sebelumnya!"
Dengan selesainya rangkaian kalimat Vali yang diakhir teriakan keras, tiga hal yang mengejutkan bagi Naruto, Kurama dan Vali tentu saja terjadi. Selain itu, untuk menambah seberapa besar keinginan sang Hakuryūkō melakukan apa yang diucapkan, dia melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak cahaya putih pada angkasa, jalurnya mengarah tepat ke Naruto yang sama tidak bergerak barang sedikit pun.
Namun, tidak bergerak tidak berarti Naruto tidak merespon tindakan dari Vali. Dengan teriakan yang sama besarnya, dia membalas tepat sebelum pukulan berbalut armor perak dan dua energi berbeda menghantam wajahnya.
"Kalau begitu... Bunuh saja aku sekarang juga jika memang itu hal yang paling ingin kau lakukan, Baka-Otouto!"
"Huh?"
.
.
.
Menyeringai misterius, Kurama berujar dalam hati menyaksikan kejadian singkat barusan yang menyebabkan suara mirip kaca pecah terdengar di bawahnya. Inilah salah satu alasan kenapa tidak ingin campur sebelum waktunya tiba.
"Sungguh tak bisa dipercaya!" Kurama menundukkan kepala, melihat sesuatu yang bersinar redup putih tepat di bawah tempatnya duduk. "Segel yang kau sebut mutlak tak kusangka bisa dipatahkan perasaan kuat mereka berdua. Sekali lagi, kau berbohong padaku—" decihan kecil yang terdengar kesal lolos dari mulut Kurama sebelum dia melanjutkan.
"—Mahluk merepotkan..."
.
.
.
"Tidak kusangka, kau akhirnya memanggil Vali dengan sebutan adik, Naruto... Jadi—"
Laser putih menyilaukan hampir saja menghancurkan kepala Azazel kalau tidak cepat menghindar. Ekspresi horor terpampang sesaat di wajahnya sebelum berubah terkejut melihat dari mana serangan dadakan barusan datang, disana Vali dengan tangan terarah ke dirinya dan masih dialiri sesuatu menyerupai petir. "Ho, kau benar-benar berani menyerang gurumu sendiri, heh Vali?"
"Tch!" Vali mengalihkan pandangannya dari Azazel. "Jadi, kau sudah mengingatnya?"
Alih-alih diberi sebuah jawaban, Vali malah mendapatkan sebuah ucapan yang tidak hanya dia, namun membuat beberapa orang disana terkejut sekaligus bingung.
"Walau samar-samar... Aku ingat, dulu aku pernah mengalami sebuah mimpi yang sangat aneh. Mimpi yang di dalamnya aku bertemu dengan seseorang yang membawa dua buku..." selagi menggumam dengan suara lirih, mata yang sudah kehilangan cahaya itu memandang kosong ke Vali. "Dia memberitahukan bahwa aku bersama segilintir orang di dunia ini adalah eksistensi spesial. Eksistensi spesial yang suatu saat harus menentukan pilihan 'menerima jati diri kami yang sebenarnya' atau 'membuangnya jauh-jauh dan melanjutkan hidup'."
Mengepal tangannya kuat-kuat dan mengeraskan wajahnya, Naruto melanjutkan. "Aku yang pada saat itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa berpikir itu hanyalah mimpi yang cepat atau lambat akan kulupakan. Namun, hari ini sepertinya itu bukanlah mimpi belaka... Semua yang dikatakan benar. Entah apa itu, sesuatu dalam diriku secara naluriah memanggilmu adik dan dengan senang hati ingin mengabulkan keinginanmu untuk membunuhku... Selain itu, ada bagian dari diriku yang tidak bisa menyanggah bahwa kita adalah saudara kandung, membuat semua yang kau katakan mungkin benar-benar sebuah kebenaran—"
Berkat helm Balance Breaker miliknya, tidak ada yang mengetahui seperti apa sekarang ini raut wajah Vali dibaliknya. Kecuali Albion yang hanya bisa melongo tidak percaya.
"—Bahwa memang benar dalam diriku mengalir darah keturunan yang seharusnya kuhancurkan."
"Jadi ingatanmu sudah kembali, heh?"
Naruto menggeleng pelan. "Tidak! Ini tidak seperti sebuah ingatan."
"Lalu, kenapa kau bisa mengingat kalau aku adalah adikmu?"
"Mengingat? Itu tidak benar karena sejauh yang bisa kuingat... Aku tidak pernah memiliki adik sebelum Yuki, bahkan tidak ada ingatan masa kecil selain di Konoha."
"Tch!"
Naruto tersentak mendengar decihan kecil yang berbarengan dengan aura kebencian dikeluarkan oleh Vali. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu setelah malam itu? Apa benar ingatanmu tersegel atau... Jangan-jangan kau memang sudah mati dan sekarang ini cuma reinkarnasi orang yang paling ingin kubunuh?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu." Naruto b0erucap dengan bahu yang merost ke bawah. Dalam keadaan tubuh yang mulai terkuntai lemas sebab tak bisa lagi menahan kehancuran mentalnya, kepalanya ikut melemas, membuat pandangannya kini terpaku pada pemukaan tanah. "Namun, seperti yang kubilang tadi, ada sesuatu dalam diriku yang entah kenapa ingin memanggilmu adik, mengunci tubuhku saat pukulanmu tinggal seinci menghancurkan wajahku."
Mengerahkan semua yang dimiliki, Naruto berusaha untuk mendongak, meluruskan pandangannya menuju ke Vali. Berhasil melakukan hal tersebut, dia kembali berbicara dengan suara yang semakin lirih. "Terlepas dari semua itu, kembali ke soal mimpi barusan. Hari ini, aku ingin menentukan pilihanku seperti yang diinginkan."
Inner Vali mulai salah tingkah. Dengan raut wajah yang begitu sulit diartikan, bahkan untuk Albion sendiri, dia memandangi Naruto. "Apa aku berlebihan sampai dia sehancur ini? Tidak! Tidak! Ini masih belum seberapa..."
[Cukup sampai disini saja, Vali. Kau sudah sangat berbeda dari Vali yang kukenal]
"Diamlah, Albion. Ini adalah urusanku, yang perlu kau lakukan hanya membantuku saja."
[Grrr...Baiklah! Kau benar-benar sudah berubah setelah mengetahui kebenaran dia masih hidup, Vali]
Mengabaikan komentar dari Albion, Vali kembali memfokusnya dirinya ke dunia nyata, dia melihat dengan jelas mata sebiru lautan Naruto memancarkan cahaya redup yang terakhir kali dia lihat di malam pemuda itu menghilang.
"Aku menentukan pilihanku, memilih dua-duanya..." tangan Naruto yang sedari tadi menggantung bebas mulai bergerak dengan cukup pelan, perlahan-lahan naik hingga mencapai tangan kanan Vali yang tepat berada di depan wajahnya.
"Menyedihkan, bukan? Dengan tujuanku menghancurkan golongan yang sudah membantai penduduk Konoha, aku ternyata bagian dari golongan itu sendiri seperti yang kau katakan, seseorang yang dalam tubuhnya mengalir darah Lucifer. " Naruto menggenggam erat-erat lengan kanan Vali. Rasa sakit yang disebabkan oleh energi iblis dan naga pada lengan kekar berbalut besi murni itu Naruto abaikan walau wajahnya sedikit meringis kesakitan. "Tapi sekarang itu tidak penting lagi. Sebentar lagi aku akan mati." dia berhenti sejenak, menghela nafas yang entah kenapa terasa berat karena kerongkongan sedari tadi mengempis terlalu sering dilewati udara yang mondar-mandir sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Aku tidak tahu apa benar ibu tewas karena diriku atau bukan, tapi setidaknya... Aku minta maaf karena sudah memberikan penderitaan padamu, tidak mengetahui kalau selama ini ternyata aku memiliki adik kandung, tidak berada di dekatmu saat kekejaman dunia ini menambah penderitaanmu."
"K-Kau... Mempercayai semua yang kukata—"
"Tentu saja, bodoh." untuk pertama kalinya sejak Vali memberitahukan sesuatu yang mulai dia percayai, Naruto tersenyum. Walaupun tipis, itu semua mewakili apa selanjutnya keluar dari mulutnya. "—Bahkan jika itu sebuah kebohongan. Aku tetap akan percaya. Walaupun janji yang pernah kuucapkan hanya kuucap di depan Yuki, namun janji itu berlaku untuk semua yang kuanggap adik, terlebih untuk adik kandung yang tidak pernah kuingat dan kukenal."
Vali hanya bisa terdiam mendengar kalimat terakhir dari Naruto. Dia jadi berpikir, apa yang sudah dilalui pemuda di depannya sampai menjadi seperti sekarang ini. Dia jadi sangsi kalau Naruto di depannya adalah Naruto yang dia dulu kenal.
Melihat Vali yang tidak lagi berbicara, Naruto menelenkan kepalanya ke kiri. Saat garis penglihatannya menangkap ekspresi berbeda-beda Madara, Hashirama dan Hilda. Pemuda itu tersenyum kecil, namun entah kenapa senyum itu terasa sangat perih dimata Hashirama dan Hilda. "Nee, Madara-teme, Ossan, Hilda... Aku tidak tahu harus memulai dari mana." dia kembali menundukan kepala, berusaha memikirkan kalimat tepat yang harus diberikan kepada ketiganya, namun otaknya yang sudah tidak bisa lagi digunakan seperti bisa membuat dia tidak kunjung mendapatkannya. Dengan berat hati dia mulai mendongak dan terucap lima kata yang sudah lebih dari cukup mewakili perasaan dia saat ini dari mulutnya. "Sepertinya, cukup sampai disini saja, bukan?"
"Hn." Madara yang pertama merespon dengan dua kata andalan yang teramat sangat dinginnya. "Terima kasih untuk semua kebohongan sialanmu, keturunan menjijikan!"
Dalam tubuh Naruto, Kurama yang sudah tidak bisa lagi berdiam diri akhirnya memilih untuk ikut campur. "Oke, cukup sampai disini saja. Ini sudah sangat berlebihan."
"Jadi..." Naruto melempar tatapanya secara bergantian antara dua orang yang sangat ingin mengakhiri hidupnya sekarang ini. "Siapa dari kalian yang akan membunuhku? Orang yang sudah kuanggap kakak atau adik yang kulupakan keberadaannya?"
"T-Tunggu Naruto... Kau tidak perlu melakukan semua in—"
"Oii...Naruto, hentikan semua ini!!"
Serentak, Hashirama dan Kurama berteriak menolak keinginan Naruto yang secara sukarela menyerahkan nyawanya oleh satu dari kedua orang itu.
Tidak seperti teriakan Hashirama yang tak mampu ditangkap dengan baik oleh pendengaran Naruto, teriakan Kurama dalam kepala pemuda dengan rambut perak malah sangat berbanding terbalik. Tidak hanya tersadar, teriakan dari Yōkai itu bahkan mampu mengembalikan sedikit cahaya di mata Naruto yang korneanya sedikit melebar. Sialnya, kenapa selama beberapa menit dibuat tidak berdaya dengan kata-kata Vali, dia malah melupakan sosok yang selama ini berada dalam tubuhnya. "Oh, Kurama... Aku hampir lupa denganmu."
—Dan bisa saja menjadi salah satu yang mengetahui kebenaran soal jati diri dan masa lalu Naruto.
"TchKau benar-benar bocah yang merepotkan, tahu? Apa kau sudah lupa? Jika kau mati aku juga akan ikut mati bocah bodoh"
"Maaf, Kurama. Itulah kenapa aku bilang lupa denganmu. Kalau begitu, bagaimana kalau kau keluar dari tubuhku sekarang? Biarpun menyebabkan kematian, itu pasti tidak langsung. Dengan begitu, pasti salah dari mereka yang melakuk—"
"Jangan lupakan juga soal dirimu yang sekarang memegang lebih dari satu nyawa. Sudah lupakan saja. Cepat masuk ke tempat aku menarikmu saat tertusuk ped—"
Sebelum Kurama menyelesaikan. Tawa keras dari Vali menarik paksa kesadaran Naruto yang sedang berkomunikasi lewat telepati.
"Hahahahaha... Kau pikir dengan kata-kata menyedihkanmu barusan, aku terpengaruh dan niat untuk membunuhmu akan kuurungkan?" Vali melompat mundur, menambah sedikit jaraknya dari Naruto yang memandang heran ke arahnya. Dalam kisaran jarak 10 meter, dia mengarahkan telunjuk tangan kanannya tepat ke wajah Naruto. "Akan sia-sia bila aku membunumu sekarang jika kau tidak mengingat apa-apa. Lebih baik kembalikan dulu seluruh ingatanmu agar bisa merasakan apa yang selama ini kurasakan."
Dari kejauhan, Madara yang setuju dengan ucapan Vali ikut menyahut.
"Menjijikan. Aku tidak menyangka akan sependapat dengan keturunan menjijikan macam Hakuryūkō..." menjeda kalimatnya, Madara mengaktifkan Ēien Mangekyō Sharingan dan memandang penuh kebencian ke pemuda dengan rambut perak itu. "... Tapi yang dia katakan ada benarnya, kembalikan dulu seluruh ingatanmu. Karena yang ingin kubunuh adalah Naruto Lucifer, bukan Uzumaki Naruto—"
Di sela-sela kalimat dingin yang keluar dari mulut Madara. Hashirama akhirnya menyadari sesuatu yang masih belum jelas apa maksud sebenarnya. "Huh, dasar! Kalau ujung-ujungnya seperti ini. Aku tidak perlu mengancamnya tadi."
"—yang pernah menjadi muridku, sekaligus bocah sableng keras kepala menyebalkan yang sudah kuanggap adik!"
.
.
.
[Jadi, apa yang selanjutnya kau lakukan Vali]
"Kurasa kau sudah tahu dan tidak perlu menanyakannya lagi, Albion."
[Grrrr... Akhirnya!!! Kau tahu, sedari tadi tubuhku sudah gatal menahan semuanya...]
Merespon geraman Albion yang sejak tadi berusaha menahan sesuatu, inner Vali menyeringai bengis. Walau tidak sebanyak Azazel, dia mengetahui sedikit tentang Sacred Gear. Artefak peninggalan Tuhan bisa dibilang hal istimewa sekaligus cacat. Cacat karena tidak memiliki ketetapan untuk terus berkembang, dan salah satunya adalah perasaan. Sacred Gear akan merespon perasaan sang pemilik, semakin besar perasaan itu, semakin besar kekuatan yang dikeluarkan.
"Yah, jujur saja. Melawan rival kita sedikit tidak menantang apalagi keadaanmu yang sudah gatal untuk bertarung. Bukan begitu, Albion?"
[Apa boleh buat, Vali Hanya dia saat ini yang bisa kau lawan]
"Hm, kau benar. Apa boleh buat..."
Setelah kembali dari tempat biasa untuk berbicara dengan Albion mata-ke-mata, Vali memutar tumit kiri searah jarum jam. Ketika sosok yang akan dia gunakan untuk melampiaskan semua perasaan yang berkecamuk dalam dirinya tertangkap indra penghilatan, Vali berujar. " Walau cukup mengecewakan, setidaknya kau bisa menjadi obat gatal untuk Albion, Hyōdō Issei."
"Apa yang inginkan, hah?" Issei menggeram. Entah kenapa aura yang sedari tadi Vali keluarkan kini terarah padanya.
Dan malam itu, untuk Azazel selaku orang yang paling tahu soal Sacred Gear melihat hal baru. Dalam pertarungan sarat akan rivalitas yang terjadi antara pemilik kedua naga surgawi, Boosted Gear dan Divine Dividing kembali memperlihatkan perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
.
.
.
"Keh, apa sih sebenarnya yang kau ingin Naruto lakukan, Madara?" berujar bingung, Hashirama menelenkan kepalanya ke kiri. Memandang sang sahabat dengan pandangan yang sama. "Aku benar-benar tidak mengerti."
"Makanya kubilang jangan ikut campur kalau kemampuan otakmu kurang memadai, Dobe."
"Makanya jelaskan lebih rinci biar otakku bisa paham, Teme!"
"Makanya kalau punya otak jangan dipajang saja, Aho-Senju!"
Ketika Madara sibuk meladeni Hashirama. Entah bagaimana caranya sampai bisa bergerak, Naruto memanfaat kelengahan Madara tadi untuk kabur dari lokasi akedemi Kuoh.
Sadar jika hawa keberadaan Naruto menghilang, Madara segera menoleh ke tempat pemuda tadi berada. Pada mulut keturunan Uchiha muncul seringai tipis kala garis penglihatannya tertuju pada lokasi Naruto, disana hanya ada cahaya keemansan pada permukaan tanah yang menjadi sarana pemuda dengan rambut perak gelap untuk menghilang dari sana.
Merasa bahwa tidak ada urusan lagi untuk berlama-lama, Madara segera mengajak Hashirama dan Hilda untuk meninggalkan tempat konferensi berlangsung.
"Hn. Ayo kita pergi."
"Heh?" Hilda yang sedari tadi diam karena terlalu hanyut dalam interaksi intens Naruto-channya dan Vali tersadar. "Bagaimana dengan Naruto-chan? Kita nggak bisa ninggalin Naruto-chan gitu aja. Naruto-chan syok, Madara-kun. Naruto-chan membutuhkan seseorang!"
"Kau pikir aku peduli?" Madara bertanya sambil memperlihatkan raut wajah seperti ucapannya. "Ayo pergi, dan kali ini jangan membantah!"
"Ta-tapi, Madara-kun—"
"Jangan membantah!" Madara mengulangi dengan nada yang menyiratkan bahwa dia tidak mau mendengar argumen lagi. Baik dari Hashirama maupun Hilda.
Lalui pria bergelar orang kedua yang mampu mencapai tahap Ēien Mangekyō Sharingan melakukan gerakan lembut untuk memperbaiki posisi tidur Yuki di punggung. "Hn. Bagus. Sebelum itu—" merasa jika posisi gadis belia berstatus adik imutnya sudah teramat nyaman, dia berbalik, memfokuskan pandangannya ke para peserta konferensi. "—Untuk kalian, para mahluk-mahluk naïf."
"Hari ini... Akan menjadi hari yang akan kalian ingat selalu tentang munculnya sebuah kelompok dengan tujuan membunuh siapapun yang terlibat dalam pembantaian Konohagakure. Iblis, Malaikat, Malaikat Jatuh, Dewa, Naga... Tidak ada yang bisa lolos dariku—dari kami. Ingat itu baik-baik!"
.
.
.
.
.
Kurama mendesah dengan kepala ditundukan mengarah ke Naruto yang tiduran tepat dihadapannya. Entah harus berekspresi macam apa dia menanggapi masalah yang tengah menimpa inangnya. Syok terapi dari Vali benar-benar menghancurkan bocah itu sampai lupa pesan penting yang sudah tiga kali terucap dari mulutnya. "Huhsejujurnya aku sudah lama menduga hal ini. Cepat atau lambat kau akan bertemu Hakuryūkō, tapi tak kusangka kau malah dibuat seperti ini, bocah bodoh."
"Yah... Walau sebagian salahku tidak memberitahumu dari awal."
"Grrrrghh..." sang rubah mengeluarkan geraman rendah tidak mendapatkan respon apapun. "Percuma saja, mentalnya benar-benar hancur. Kalau begini, maaf mahluk merepotkan sudah waktunya untuk memberitahukan kebenaran pada bocah ini." pikir Kurama yang sekilas memperlihatkan wajah ketidaksukaan menyebut seseorang dalam kalimatnya.
"Seimbang melawan pemimpin malaikat jatuh, selamat dari gempuran ratusan iblis pengikut Maōu lama, menghancurkan pasukan elit berisikan iblis kelas ultimate dibawah pimpin Maōu Lucifer masa kini, mempecundangi Sekiryūtei dua kali sampai hampir membuat punah satu klan iblis... Tapi dihancurkan Hakuryūkō hanya dengan kalimat-kalimat omong kosong. Benar-benar menyedihkan."
"Bocah sialan!
Kurama yang perlahan-lahan kehabisan stok rasa sabar meninggikan suara. Namun, lagi-lagi dia tidak mendapatkan respon berarti. Hal itu memaksa Kurama untuk mengambil tindakan keras. Dia meraih tubuh Naruto sedikit kasar, kemudian melemparnya ke salah satu pilar yang melebihi tinggi tubuhnya hingga hancur.
"...Uhukk!"
Benturan keras antara pilar dan tubuh pemuda itu memaksa air liur terdorong keluar dalam jumlah banyak, tercecer pada lantai hitam yang merupakan tingkat teratas dari alam bawah sadar Naruto. Kepala pemuda itu sedikit bergerak, namun setelahnya kembali diam. Jika tadi Kurama masih bisa melihat bagaimana tampang menyedihkan Naruto, namun sekarang tidak lagi. Wajah pemuda itu terhalangi bayangan poni rambutnya yang terkena cahaya redup dari sembilan api jingga diatas pilar-pilar besar yang berbaris melingkar.
Untuk kali kedua, Kurama meraih tubuh Naruto, namun lebih kasar dari sebelumnya. Andaikan bukan pemuda itu yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini, sejak dari tadi Kurama meremukkan personafikasi jiwa Naruto hingga hancur.
Akhirnya, ada respon dari Naruto. Dia menggerakkan kepalanya, memandang kosong mata merah Kurama yang berkilat marah. "Kau sudah selesai?"
"Belum!" Memegang Naruto seolah itu hanyalah sebatang ranting kecil rapuh, Kurama memposisikan lengan kanan depannya tepat di hadapan moncong. Kurama menjawab tinggi pertanyaan bersuara hampa Naruto. "...dan tak akan selesai sebelum memb—"
"Kau butuh lebih dari ini untuk membunuhku, Kurama. Bukankah kau juga ingin melakukannya."
Menyeringai sinis, Kurama menjawab. "Heh, kau pikir, hanya karena alasan hubungan darah, aku akan membunuh orang yang sudah menyelematkanku?" entah kenapa, Kurama agak tersinggung dengan ucapan Naruto barusan. Dia mengangkat lengan kanan depannya tinggi-tinggi sebelum dihantamkan pada lantai hingga retak. Cairan kembali muncrat dari mulut Naruto, namun kali ini berwarna merah dengan bau yang lumayan amis. Mendekatkan kepalanya pada wajah Naruto yang lolos dari jepitan lengan semi-kolosal miliknya, Kurama meraung keras. "Tapi, kalau kau seperti ini terus, jangan salahkan aku jika sampai itu terjadi!"
—Yang dikatakan oleh rubah itu sepenuhnya tidak benar. Demi apapun, membunuh Naruto tidak pernah muncul dalam benak Kurama barang sedikit pun, tidak peduli bila bocah itu adalah keturunan Lucifer.
Melihat wajah Naruto yang makin menyedihkan terkena cipratan darah barusan pada bagian pipi kanan, sedikit diatas dan mengalir turun kebelakang telinga sehingga terlihat seperti air mata darah membuat Kurama merasa sedikit berlebihan. Niat awalnya yang hanya ingin membantu sang inang pulih dari keterpurukan untuk kesekian kali malah mendapat respon diluar dugaan sehingga menyebabkan amarahnya sedikit tersulut.
Menghela nafas panjang dengan mata tertutup dalam rangka menurunkan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya, Kurama kemudian berucap singkat dengan suara sedikit dalam. "... Maaf!"
Naruto membuka mata kanannya sehabis mendengar satu kata yang sangat jarang rubah itu ucapkan.
"Aku tak tahu harus memulai dari mana..." Kurama memulai dengan suara yang masih sama. "... Hal terpenting yang perlu kau ketahui sekarang ini adalah... sebagian besar yang dikatakan Hakuryūkō adalah kebenaran."
"Jadi..." efek dari kalimat yang sedari tadi berputar dalam kepalanya memaksa Naruto untuk kembali menutup mata kanannya dan dengan berat hati harus menerima kenyataan pahit mengenai siapa dia sebenarnya. "...memang benar kalau aku adalah keturunan Lucifer dan yang menyebabkan ibuku tewas."
"Ya, itulah kenyataannya. Namamu yang sebenarnya adalah Naruto Lucifer. Uzumaki Naruto hanyalah nama pemberian untuk menyembunyikan identistamu." berbeda dari kebanyakan orang, suara Kurama saat menyebut nama pemimpin pertama ras iblis sama sekali tidak menyiratkan kebencian. "Begitupula dengan Vali." namun selanjutnya, entah kenapa ada perasaan tidak suka saat menyebut pemilik dari Divine Dividing itu. "Dia memang adikmu—Adik kandungmu."
"Sudah kuduga."
"Huh, dasar. Entah turunan siapa atau ulah siapa, rasa sayang dan nalurimu sebagai seorang kakak benar-benar mengerikan. Tidak hanya ke Yuki dan Kunou yang merupakan adik angkatmu. Vali, adik kandung yang bahkan tidak kau ingat bisa kau percayai kata-katanya, bahkan dengan senang hati mengabulkan keinginannya." Kurama berhenti sejenak, menghirup oksigen dengan sekali tarikan lalu dihembuskan sedikit keras. "Aku tidak tahu harus menyebutnya anugrah atau malah kutukan. Ini seperti pedang bermata dua, pada satu sisi sangat menguntungkan bagi adik-adikmu dan juga dirimu, namun dilain sisi bisa saja menghancurkanmu seperti sekarang ini."
Mendecih pelan, Kurama lanjut dengan mengeluarkan sebuah gerutuan. "Tck, setelah ini, saat mengambil alih tubuhmu di dekat Baka-Hokage, akan kubuat kuhanguskan tubuhnya sudah menurunkan prinsip 'Rasa sayang adalah segalanya' merepotkan itu. Serta Kuso-Uchiha yang menularkan penyakit Brother Complex miliknya." untuk sekarang, seperti itu yang bisa Kurama simpulkan untuk sang inang. "Beruntung, adik Kuso-Uchiha yang juga ikut andil dalam membentuk dirimu yang sekarang sudah pergi jauh."
"Tapi..." tiba-tiba saja suara Kurama berubah serius selagi menjauhkan lengan kanannya yang menghimpit tubuh personafikasi dari sang inang. "...yang adikmu katakan soal kau penyebab ibu kalian tewas tidak sepenuhnya benar."
Mata Naruto langsung terbuka, iris biru lautan yang mengusam itu balas memandangi Kurama. "A-a-apa katamu?"
"Seperti yang kukakatan barusan." inner Kurama menyeringai sudah menduga Naruto akan langsung terkejut mengetahui hal tersebut. "Yang dikatakan Hakuryūkō soal penyebab ibu kalian tewas tidak sepenuhnya benar." dia mengulang yang berakhir dengan sebuah dengusan pelan.
"Maksudmu... Ibu kami tidak tewas karena mengorbankan nyawa untukku?"
"Aku kurang tahu mengenai penyebab ibu kalian tewas, sebenarnya sih. Setidaknya kau sudah tahu bahwa ibu kalian meninggal bukan karena dirimu."
Jawaban tidak memuaskan Kurama terpaksa membuat Naruto harus berpikir ulang. Apa dia harus mempercayai Vali yang entah dalam hatinya sulit untuk menolak itu, atau mempercayai Kurama yang sudah menemaninya sejak kecil, atau bahkan lahir di dunia ini?
"Tunggu dulu..."
Yōkai Kitsune itu tersenyum kecil melihat perubahan ekspresi dan sorot mata Naruto. Dari yang Kurama lihat, sepertinya Naruto mulai penasaran dengan dua hal. Pertama adalah ucapannya sewaktu Naruto sekarat efek dari penggunaan [Senpō: Museigen no Furu Pawā] pasca invasi Konoha, dan kedua adalah hal baru yang cukup janggal namun tidak disadari sudah Hakuryūkō sebutkan beberapa saat lalu. "Kau mulai sadar, heh Gaki?"
"Ya." si pemilik tubuh—lokasi mereka berdua menjawab singkat sebelum balik menyanakan beberapa hal. "Jika aku adalah keturunan Lucifer, kenapa Azazel, Archangel Michael, bahkan Maōu Lucifer tidak merasakan aura iblisku? Dan sebenarnya kau disegel dalam tubuhku sejak kapan?"
Sebelum memulai, Kurama mengingat bahwa Naruto baru saja menggunakan versi revisi dari [Senpō: Museigen no Furu Pawā, yang mana pengaktifannya menghabiskan seluruh energi alam yang selama ini inangnya simpan. "Sebelum menjawab semua pertanyaan itu, ada sesuatu yang ingin kau lakukan. Anggap saja ini syarat untukku menjawab semua pertanyaanmu, Naruto."
"Apa itu?"
"Cukup kumpulkan energi sebanyak kau bisa."
"Hanya itu?"
"Hn."
"Memang kau mau melakukan apa dengan energi alam itu?"
Walaupun Naruto sudah mulai merespon Kurama serta banyak mengeluarkan kata-kata, namun suaranya masih tetap sama, suara yang penuh akan kekosongan. Setidaknya, untuk Kurama itu merupakan kemajuan yang baik bagi inangnya. "Grrrr... Lakukan saja."
"Hn. Sudah kulakukan."
Kurama mendongak ke atas, mata merah mengerikannya menatap jauh ke luar sana. Ingin memastikan Naruto sudah melakukan apa yang dia minta. Tanpa mengubah arah pandangannya, Kurama memulai. "Kau pasti masih ingat. Pernah aku mengatakan sekali bahwa aku disegel dalam tubuhmu adalah keputusanku sendiri?"
Entah ingat atau tidak karena pikirannya sangat kacau, Naruto hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. "Itu terjadi beberapa hari sebelum kau ditemukan kakek mesum itu. Waktu itu, aku masih terjerat sesuatu yang tidak bisa kujelaskan sekarang ini. Ada orang merepotkan yang tiba-tiba mendatangiku, dia memberikan sebuah tawaran."
"Tawaran?"
"Hn."
"Lalu, siapa orang itu? Apa dia ibuku? Ayahku? Ata—"
"Mana kutahu dia siapamu. Dia langsung datang dan menawariku penawaran tanpa memberitahu siapa dia. Bukan hanya itu saja, dia bahkan memakai jubah bertudung dan topeng untuk menutupi penampilannya. Makanya kupanggil dia orang merepotkan." Kurama berhenti sejenak, dalam jeda singkat itu dia berhenti mendongak. Iris merah yang kini tidak menampakkan sorot mengerikan fokus ke Naruto. "Mengenai tawarannya. Itulah alasan kenapa orang-orang disekitarmu tidak pernah merasakan aura iblismu. Sebuah tawaran dengan menyegelku bersama ingatan, aura dan kekuatan iblismu—seperti yang dikatakan adikmu. Sebagai bayaran, dia memberitahukan bahwa dengan tersegel bersama tiga hal tersebut dalam dirimu akan melepaskan apa yang selama ini menjeratku..."
—Apa yang Kurama ceritakan belumlah secara keseluran serta sebagian besar adalah sebuah kebenaran. Karena alasan tertentu, Kurama berpikir hanya itu yang perlu Naruto ketahui sekarang ini.
"...awalnya aku ragu dengan ucapan dia. Bahkan mahluk berotak bodoh pun akan ragu diiming-imingi kebebasan hanya dengan tersegel dalam sesuatu atau seseorang. Tapi..." kembali, Kurama mengambil jeda singkat. Mungkin rubah itu sedikit lelah bercerita dan butuh sedikit istirahat. "Aku menyesalinya. Aku menyesal ragu dengan apa yang dia ucapkan. Kau tidak perlu tahu apa yang membelungguku saat itu, tapi ketahuilah..." senyum yang entah kenapa terlihat sedikit arogan dibentuk kedua rahang Kurama. Memposisikan kepala sedikit dihadapkan ke atas selagi iris merah menyala melirik ke bawah, memandang rendah Naruto, Kurama berujar bangga. "Kau berhasil menghancurkan belenggu itu dan menjadikan dirimu orang kedua setelah dirinya yang mendapatkan rasa hormat dariku. Yōkai Kitsune yang seharusnya menduduki tahta kepemimpinan ras Yōkai."
Tidak tanggapan berarti dari Naruto atas ucapan Kurama. Pemuda itu masih tetap memasang ekspresi yang sama ketika tiba di tempat ini, bahkan setelah mendengar dan akhirnya mengetahui bahwa mahluk dalam tubuhnya itu sebenarnya memiliki status yang cukup tinggi.
Namun, senyum arogan Kurama tidak bertahan lama. Jika tadi dia memandang rendah pemuda yang masih berbaring, dia sekarang mengalihkan pandangan ke arah lain. "Maka dari itu, untuk pertama kalinya, izinkan aku untuk mengatakan satu hal padamu." seolah-olah tidak ingin bagaimana cara dia memandangi inangnya terpampang jelas.
"...Terima kasih atas segalanya,...!"
"Ehh?"
Naruto kembali dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Mata beriris birunya sedikit melebar. Bahkan dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berpikir dengan baik sebab masih syok, Naruto sadar kalau barusan hal yang tidak pernah dilihat baru saja terjadi. "Bi-bisa kau ulangi, Kurama?!"
"Tidak! Itu memalukan, bodoh."
"Kura—"
"Sudah lupakan saja yang barusan, atau kau tidak mendapatkan jawaban selanjutnya."
Karena ancaman dari Kurama itu, Naruto terpaksa urung meminta rubah itu mengulangi perkataannya. Menghela nafas pendek, Naruto berujar. "Huft, baiklah. Lanjutkan, Kurama."
Rubah yang seharusnya menjadi pemimpin ras Yōkai mengangguk paham dan lanjut berbicara. "Ketika kutanya kenapa dia ingin menyegel tiga hal itu bersamaku, jawabannya hampir sama dengan pertanyaan adikmu. Dia ingin kau lari, bersembunyi dan melupakan semua yang terjadi ketika kau dan Vali masih tinggal bersama. Salah satu alasannya sudah kusebut, karena dirimu hampir membuat punah satu klan iblis."
"Heh..." Naruto tersenyum pahit. "...Itu tidak mungkin." mengangkat tangan kanan dan diposisikan depan wajah, dia melanjutkan. "Kau lupa yang dikatakan Vali. Aku ini aib keluarga kami, cacat dan tidak mewarisi sedikit pun kekuatan Lucifer. Jadi tidak mungkin untukku hampir memunahkan satu klan iblis."
"Tidak!" sanggah Kurama dengan suara yang sulit untuk disanggah balik. "Jika adikmu mendapatkan Sacred Gear sekelas Longinus, maka kau bisa dikatakan hampir menyerupai Sacred Gear. Cacat namun disaat yang sama juga istimewa. Nah, inilah alasan kedua yang kuketahui kenapa orang itu ingin menyegel semua hal tentang dirimu..." ada jeda tercipta ketika Kurama tiba-tiba saja merubah ekpresinya sekeras baja, mata merah itu tidak lupa memancarkan kebencian yang cukup besar. "...dia ingin kau dijauhkan dari kakekmu yang hendak menjadikanmu senjata demi tujuan bodohnya..."
"...Kakeku?"
"...Rizevim."
"... Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya." Naruto bergumam untuk dirinya sendiri. Mungkin karena ingatan darah yang dia dan orang bernama Rizevim itu miliki, tubuhnya langsung saja merespon dan mengatakan bahwa dia pernah mendengar nama itu. "Tapi, dimana?"
Kurama menghilangkan tatapan kebenciannya dan tersenyum kecil melihat Naruto yang kembali memperlihatkan ekspresi selain terkejut dan syok. Kali ini dia melihat inangnya memasang tampang bingung, selain itu ada hal lain yang membuat kedua rahangnya membentuk lengkungan kecil. "Huh, untung dia tidak mengingatnya"
Naruto yang tiba-tiba bergerak dari posisi tidurannya kemudian mengambil posisi duduk dengan kaki disilangkan membuat Kurama berhenti memanjatkan permohonan entah pada siapa agar pemuda itu tidak mengingat dimana pernah mendengar nama Rezivim.
Dengan posisi yang sudah berubah, Naruto mendongak. "Nee... Kurama. Apa kau bisa membuka—tidak! Melepas segel itu, walau aku belum ingin aura dan kekuatan iblisku kembali, setidaknya dengan melepas segel itu ingatanku juga ikut kembali."
Menghembuskan nafas yang entah kenapa terdengar sedikit frustasi, Kurama menjawab. "Jujur saja, segel yang digunakan orang itu sangat rumit. Resiko dari melepas segelnya sangatlah besar. Alasannya cukup gampang, karena akulah kunci untuk melepas segel tersebut. Jika aku keluar dari tubuhmu, otomatis segelnya akan lepas. Tapi, kau tahu sendiri kalau hal tersebut kulakukan?" Kurama menyatukan kedua tangan di depan dada, sedikit berkonsetrasi dan mengalirkan sedikit Yōuki dan kekuatan spiritualnya menuju bagian perut. "Kematian... Itulah resikonya."
Satu demi satu simbol aneh yang tidak dikenali Naruto muncul pada bagian perut Kurama, lambat laun mulai bergerak seirama ke segala arah disamping memunculkan simbol-simbol lain sampai pada akhirnya menyatu membentuk pola segel yang sangat rumit dipecahkan bahkan untuk Naruto yang memiliki kapasitas otak diatas rata-rata. Namun ada satu simbol yang entah kenapa Naruto cukup kenali, dan itu berada tepat di tengah-tengah.
Mengerjitkan heran, Naruto menatap lama simbol yang tersebut. "I-itu..."
"Ya, seperti yang kau lihat." mempertahan pose mirip orang yang tengah bersemedi, Kurama mengibaskan dua ekornya cukup kuat sampai menciptakan hembusan angin besar. Efek dari hembusan itu membuat delapan api yang masih berkobar di atas pilar padam. Kegelapan sempat melanda lokasi tersebut sampai cahaya putih perlahan-lahan muncul dari bawah, menyinari Naruto dan Kurama yang sudah melihat datangnya cahaya tersebut. "... Mahōujin (Magic Circle) milik keluargamu, Lucifer."
Iris biru Naruto bergerak ke samping, fokus pada bagian luar lingkaran sihir besar di bawah sana. "Retak?" melupakan apa yang dia lihat, Naruto bergumam pelan dan rendah. "... Jadi, selamanya aku tidak akan bisa mengingat masa laluku?"
"Walau segel ini bisa dibilang mutlak karena tidak bisa dilepas sampai kematian menjemput kita bila mengambil resiko, kau masih bisa mencari tahu masa lalumu." penjelasn dari Kurama ini membuat Naruto berhenti memandangi bagian retak dari lingkaran sihir di bawah sana. "Dengar baik-baik. Segel ini memiliki tiga lapisan—empat bila menghitungku. Lapisan pertama adalah lingkaran sihir dibawah sana, berfungsi sebagai penghalang bagi siapapun yang ingin mengambil ingatanmu, seperti yang kau lihat, lingkaran sihir itu retak dan penyebabnya adalah perasaan dan naluri mengerikanmu sebagai seorang kakak untuk Vali. Lapisan kedua, kau harus berhati-hati disini, aku beberapa kali kesana untuk mencari tahu masa lalumu yang sebenarnya cukup membuatku penasaran, tempatnya mirip sebuah labirin raksasa..." Kurama berhenti sejenak selagi melepaskan posisi bersemedinya. Dia mengangkat tinggi-tinggi lengan kanan depan, hanya dalam hitungan detik lantai tempat dia dan Naruto berpijak hancur terkena pukulan keras. Walau lantai tempat mereka berpijak sudah hancur, yang mana itu ikut menghancurkan gaya gravitasi di tempat tersebut sehingga membuat keduanya melayang di atas lingkaran sihir besar tersebut.
"...Lapisan terakhir, sekaligus bagian terdalam dari dirimu. Disanalah tempat disegelnya aura, kekutan iblis, dan ingatan terpenting dalam hidupmu, serta seluruh kekuatanku yang entah bagaimana caranya bisa kuakses dan kuberikan kepadamu."
"I-itu artinya..."
Kurama mengangguk kecil dan kembali memperlihatkan senyum kecil. "Ya, turunlah ke bawah sana dan cari cara untuk mengembalikan ingatanmu tanpa merusak segelnya demi keselamatan kita berdua. Tenang saja, tentang fungsi dari lingkaran sihir itu sebagai pelindung tidak berguna untuk kita berdua. Kau akan menembusnya begitu saja." jelasnya saat melihat mulut Naruto hendak bergerak. "Aah, sebelum pergi. Sudah berapa banyak energi alam yang kau kumpulkan?"
"Lumayan banyak."
"Dalam mode itu, kira-kira berama lama akan bertahan?"
"Sekitar lima sampai tujuh menit."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Bersamaan dengan munculnya seringai mengerikan Kurama, cahaya lain diikuti gemuruh besar muncul dari arah bawah. Awalnya, kedua cahaya yang menyinari tempat tersebut beresonasi sampai pada akhirnya cahaya jingga semakin terang dan mengalahkan cahaya putih dari lingkaran sihir keluarga Lucifer. Tidak sampai tiga menit, sumber dari cahaya dan gemuruh barusan akhirnya nampak. Semburan api jingga yang sangat besar datang dari bawah lingkaran sihir tersebut dengan kecepatan tinggi, bahkan ruang lingkup dari api itu sekitar 5 kali lebih besar dari serangan [Gōka Mekakkyū] milik Madara.
Semburan itu terus melaju bagai laser, namun Kurama maupun Naruto tidak bergerak dari posisi mereka sampai ditelan kekuatan utama dari sang Yōkai Kitsune. Dalam kepungan api tersebut, Naruto merasa kalau panasnya berada di level yang tidak pernah dipakai. Bahkan, salah satu kemampuan dasar yang didapat dari Kurama, [High Fire Resistence] tidak sanggup menahannya.
"Sialan! Jadi ini kekuatan sebenarnya dari Kurama. Gila!"
Selagi berpikir demikian, Naruto melihat samar-samar bayangan sosok Kurama mulai mengecil. Dia menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan, namun ganasnya semburan api itu tidak mudah untuk ditembus.
Tidak hanya wujudnya, suara Kurama pun ikut mengecil kala bergumam. "Masuklah kesana,... Akan kuluruskan apa yang baru saja adik...lakukan dan yang terpenting..."
Untuk kali kedua, Naruto mendengar Kurama berbicara dengan nada dan suara yang berbeda dari biasanya, bahkan kata yang awalnya dia kira hanya salah dengar kembali tertangkap telinganya. Tidak hanya itu saja, wujud rubah berekor sembilan semi-kolosal Kurama sudah benar-benar menghilang digantikan sosok yang tingginya hampir sama dengan Naruto.
"...ada urusan serius yang harus diselesaikan dengan Sirzechs Gremory dan Serafall Sitri!"
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut!!
Author Brengzeck Note:
Well, uhukkk... Chapter yang dipenuhi Drama yng diragukan ngena feelnya. Naruto terlalu lemah mentalnya? Entah mau bilang apa, itu emang sudah termasuk dalam rencana Development Character Naruto. Tahan banting di cinta-cintaan, lemah namun bisa kuat disaat yang sama terhadap Adiknya. Seperti yng Kurama bilang, Rasa Sayang dn Naluri yang begitu mengerikan. Dn disaat yang sama bisa disebut Anugrah maupun Kutukan.
Author minta maaf kalau Drama-nya kurang ngena. Soalnya Drama salah satu genre yng sulit bagi Author. Maklum Newbie dan selalu menjadi Newbie.
Next... Dan terjawablah hubungan Naruto dan Vali. Mereka saudara kandung yang terpisah entah bagaimana caranya. Beberapa dari kalian yang mungkin mengikuti LN DxD dan tahu Azazel sebetulnya sudah lama mengawasi Vali melalui anak buahnya. Well, akan ada pembahasan kenapa Naruto bisa lolos dan tidak ketahuan.
Lalu, krn Author sedang gak mood untuk membalas semua Review kalian. Author akan rangkum saja jawabannya.
Soal ingatan Naruto. Beberapa clue sudah bertebaran di atas. Kapan itu semuanya kembali? Akan terjawab di Arc V kalau bukan VI.
Lalu, masalah Update. Ya... Ini adalah musuh utama Author sekarang. Beberapa dari kalian mungkin sudah tahu alasannya. Author sibuk di RL. Udah itu saja.
Lalu Fic lain... Ya, well. Ini juga masuk bagian kenapa lama Update. Selain sibuk, Laptop Author baru saja masuk Rumah Sakit dan di vonis tidak bisa lagi sembuh. Alhasil, semua Chapter yang sudah ditulis, hilang tak bersisah kecuali data Daybreak yang kebetulan sempat di Save di Doc Manager.
Dan kalian yang memberi nomor WA namun belum sempat diinvite, mohon maaf. Slot untuk member saat ini sudah penuh. Tapi, tenang. Nomor kalian sudah Author save dan tinggal diinvite bila slot udah tersedia lagi.
Terakhir... Yang mereview lanjut, next dan sebagainya. Ini Author sudah lanjut dan terbilang cepat :v
.
.
.
Brengzeck-id 014 [Root Loliwood] and Stark Fullbaster (Yang sekarang ini mungkin sudah berkubang dalam darah kebejatannya :v) Out! Mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/
Salam Lolicon dari Lolicon KBH!
—BUKAN PEDO OIIII!
... And ...
Mind to Review?
