Kurang lebih dua tahun yang lalu...
Pada pinggiran sungai yang terletak tak jauh dari pusat perkotaan di daerah Eropa, Azazel tengah melakukan kegiatan favoritnya pasca Great War berakhir ribuan tahun lalu. Apa lagi kalau bukan memancing.
Dengan fokus yang melebihi ketika melawan petinggi fraksi iblis dan malaikat di perang ribuan tahun lalu, matanya tak pernah lepas dari pelampung kuning pada permukaan sungai yang mulai bergerak perlahan-lahan tanda ada sesuatu tersangkut disana.
"Baiklah ikan sialan! Kali ini kau tak kubiarkan lolos lagi!"
Azazel mengeratkan pegangannya pada tongkat kayu yang digunakan sebagai joran pancing. Setetes keringat mengucur di pelipisnya, namun dihiraukan begitu saja sama halnya suara kepakan sayap nyamuk yang cukup mengganggu.
Detik demi detik berlalu Azazel menunggu waktu yang tepat untuk menarik keluar mahluk yang tersangkut pada kail mata pancingnya. Hingga pada suatu momen, pelampung kuning pancingannya ditarik tenggelam, disitulah Azazel langsung menarik joran apa adanya itu.
Ledakan besar terjadi!
"Demi celana dalam merah muda Gabriel-chan aku dapat ikan besar!"
Azazel berseru kegirangan melihat bayangan besar dibalik cipratan air. Tidak salah lagi, dirinya mendapatkan ikan besar dan ini bisa membungkam mulut muridnya yang menyebut dirinya tidak akan pernah mendapatkan tangkapan yang besarnya tak lebih dari kepalan tangan.
"Eh, Are? Eh, Eeeeeeeh?!"
Ketika tangkapannya sudah berlabuh pada rerumputan di samping kirinya, Azazel bingung harus heran, terkejut atau kesal. Pasalnya, mahluk di samping kiri bukanlah ikan seperti yang ada pikirannya melainkan sosok pemuda berambut perak gelap mengenakan kaos hitam dan celana training merah serta sepatu kets hitam.
"Manusia? Ah, tidak mungkin ada manusia yang hidup di bawah sungai ini, ikan saja jarang—mungkin. Apa dia manusia ikan jadi-jadian atau Youkai ikan?"
Azazel menatap penuh selidik sosok pemuda yang baru saja menjadi tangkapan kesembilannya selama menekuti hobi memancing ini. Serius?
"Dia ini mahluk apa sih? Kenapa bisa ada di bawah sungai ini. Ya, kalau dia perempuan cantik sih, aku nggak apa-apa."
"Tck! Gagal lagi, kah?"
"Eh, masih hidup?"
"Anda berisik sekali, Ossan."
"Wah, wah... Selamat malam, anak muda—Pantatmu, apa kau tidak sadar baru saja menggagalkan tangkapanku yang ke sembilan tahun ini, hah? Lagian, apa pula yang kau lakukan di bawah sungai malam-malam begini? Habis diputuskan kekasih dan loncat dari jembatan, kah? Jika benar, kau terlalu lebay anak muda. Carilah cara mati yang keren, menelan bom rakitan di tengah kerumunan misalnya."
"Urusai na, ossan!"
Urat kening Azazel mencuat dan berdenyut kesal. "Dasar, kau benar-benar perlu kupukul sampai mewek, anak muda."
"Ah, mau kau habis diputuskan atau apapun itu, lupakan sajalah! Sekarang, katakan siapa kau sebenarnya, anak muda? Aah, lebih tepatnya apa kau ini?"
Azazel sebenarnya sudah tahu ada hal aneh dalam diri pemuda yang masih berbaring di rerumputan dengan ekspresi tidak jelas karena tertutup helain poni agak panjang itu. Hanya saja, karena dirinya kesal gagal dapat ikan, malah jadi cerewet seperti tadi.
"Naruto, Uzumaki Naruto..."
Selagi bangkit berdiri, pemuda di depan Azazel memperkenal diri dengan menyebut namanya saja. Sontak saja Azazel mengerjit kecil, dia merasa tidak asing dengan marga Uzumaki pemuda di depannya.
"Uzumaki... Uzumaki... Uzumaki..." ulang Azazel beberapa kali mencoba mengingat atau sekedar mencari tau dimana dia pernah melihat dan mendenar nama itu. 'Sial, dua tahun tidak mengurusi Grigory membuatku lupa beberapa hal!'
"Sudahi saja basa basinya, Ossan. Maksudku, Datenshi-san..."
Seketika Azazel dibuat terkejut oleh pernyataan Naruto. Pemuda itu tahu dirinya bukanlah manusia. Tidak salah lagi, pemuda ini pernah berurusan dengannya atau barang sedikit ikut andil dalam peristiwa supranatural.
'Tunggu dulu?! Uzumaki, Uzumaki Naruto... Ini bukan candaan kan?'
Azazel kembali dibuat terkejut. Demi apapun, Kenapa ia bisa lupa dengan nama Uzumaki Naruto itu. Nama yang dulu sering muncul di kertas laporan bawahannya.
Azazel menghela nafas pendek menenangkan diri. "Yare, yare... Aku tak menyangka akan bertemu ketua divisi penghancur Dunia Bawah di tempat seperti ini. Apakah Lucifer masa kini telah memberi perintah untuk membunuhku dan memulai perang, huh?"
Tak ada respon berarti yang diberikan Naruto atas pertanyaan sinis barusan. Azazel bahkan melihat mata biru sama sekali tak berubah.
"Pandangan kosong bagai mayat hidup, mata yang kehilangan cahayanya. Tak salah bisa bangsaku menyebutmu salah satu mesin pembunuh terkuat dunia bawah. Ekspresimu itu benar-benar bikin merinding."
"Tck,"
"Hmm...?!"
Merasakan lonjakan energi yang sempat membuatnya kebingungan karena hanya terasa samar-samar, kini Azazel mengetahui dengan jelas energi apa itu.
'Senjutsu? Pemuda Uzumaki ini benar-benar berbahaya, dia menguasai Senjutsu walau bukan Youkai. Pantas saja banyak bawahanku kelimpungan melawannya.'
"Wo, wo, wo! Santai Uzumaki-san, aku sama tak mau bertarung di—"
Azazel tak sempat menyelesaikan ucapannya dan terkejut, sebab Naruto entah bagaimana caranya sudah berada di depannya sedikit menunduk lalu melancarkan uppercut yang hampir saja menghancurkan rahangnya andai kata tak melompat kebelakang.
"Haaah..." Malaikat Jatuh itu menghela nafas panjang. "Sepertinya berbicara tak akan mengakhiri semua ini. Jadi, memang benar kau dikirim untuk membunuhku, heh? Tindakan anehmu diawal hanyalah sandiwara, bukan?"
Kembali, Azazel tidak menerima respon apapun dari Naruto. Pemuda itu hanya diam ditempat sambil menundukan kepala sehingga bayangan dari poni agak panjang itu menetupi hampir setengah wajahnya.
Dalam keheningan agak lama yang tercipta, Azazel memunculkan lingkaran sihir emas khas malaikat jatuh di sebelah kirinya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah kubus yang bersinar putih cukup terang.
"Tapi, sebelum itu..."
Sinar putih itu semakin terang hingga membuat area pinggiran sungai hsampai akhirnya kedua laki-laki disana ikut tertelan.
Naruto segera menutup matanya dengan tangan kanan, untuk menghindari kerusakan penglihatan. Walau dipandangan calon lawannya, Naruto seperti mayat hidup, namun itu tidak berlaku untuk insting bertarungnya yang sudah sangat menajam.
Ketika cahaya mulai meredup, garis datar yang sedari tadi terbentuk di mulut Naruto sedikit melengkung.
"Apakah ini akhir untukku?"
Azazel terkesiap mendengar gumaman Naruto muncul diantara suara desingan cahaya di sekitar yang mulai meredup.
'Akhir untuknya? Misi bunuh diri 'kah? Heh, itu tidak mungkin! Mengirim salah satu senjata terbaiknya untuk misi bunuh diri? Apa Sirzechs sudah hilang akal sehatnya?'
Azazel membatin bingung, sedang pikirannya sibuk mencari tahu lebih jauh makna dari pertanyaan Naruto barusan. Pada akhirnya, Azazel sama sekali tak mengerti semunya. Otaknya overhead mencari tahu segala macam kemungkinan yang ada, dan lagi ia tidak mau terlalu ambil pusing. Yang penting harus segera mengakhiri ini untuk kembali melanjutkan hobinya.
'Anjing! Gak jelas banget anak ini. Sumpah!'
"Apa bisa aku melarikan diri dari rasa sakit?"
"Haa?"
Azazel makin bingung. Seketia ia berpikir apa benar Naruto Uzumaki di depannya benar-benar kapten divisi penghancur dunia bawah?
'Apaan sih, kampang? Bacotmu makin gak jelas ah.'
Namun, Azazel harus mengesampingkan pikirannya. Naruto, pemuda itu memanfaatkan cahaya yang mulai meredup di sekitar untuk merangsek maju ke depan dengan kecepatan yang mampu membuat Malaikat Jatuh Veteran itu sedikit tak percaya.
'Cepat sekali bocah ini.'
Ia hendak menjaga jarak dari Naruto dengan mencoba untuk melompat kebelakang untuk kali kedua. Namun, baru saja menekuk dua lututnya, Naruto bereaksi cepat atas tindakannya itu.
Naruto memutari Azazel dan melompat kecil di belakang malaikat jatuh itu dan memperlihatkan pose hendak melancarkan pukulan. Lagi, tindakan Naruto yang terjadi bahkan tidak sampai 1 detik itu membuat Azazel terbelalak.
'Bocah ini tidak normal untuk seorang manusia. Sudah menguasai Senjutsu, dia juga punya kecepatan dan reaksi yang gila—Dan sekarang apa? Api? Selanjutnya apa? Daya tahan monster dan serangan berdaya hancur super?'
Namun, apa yang terjadi benar-benar melampaui harapan Azazel. Bukan dari api oreng yang tiba-tiba tersulut di tangan kanan Naruto. Ia menoleh ke belakang. Seketika matanya membulat sempurna dan pupilnya bergetar hebat, sebab terkejut bercampur sedikit rasa takut—mungkin.
Apa yang ia lihat bukanlah hal baru. Itu hal yang tak asing baginya, mengingatkannya pada mimpi buruk Great War ribuan tahun lalu. Ia tak pernah melupakan itu, dan malam ini kembali dilihat setelah ribuan tahun tertimbun dalam ingatannya.
Senyum—tidak, tidak! Seringai itu, seringai yang menjadi pembuka Great War!
Seringai dari mahluk yang berani menantang Tuhan.
Seringai yang menjadi penyebab jutaan Iblis, Malaikat dan Malaikat Jatuh tewas di peperangan.
Seringai dari seorang Lucifer!
"Da-tenshi yo... Buktikan apakah ini benar-benar akhir dariku, dan bisa membuatku kabur dari rasa sakit!"
"Bacotmu gak jelas bocah bangsat!"
"...Waktunya menari!"
.
.
.
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto, High School DxD [Ichie Ishibumi, and other not mine!
Arc III
[Early and Late]
(Final Chapter)
.
Chapter 29.0
[Daybreak Finale — End of Me...]
.
Dan khusus pula untuk Chapter ini. Jika kalian ada yang menyimpan lagu [Ashes Remain: End of Me] serta salah satu Backsound Entrance ter-epic menurut saya sendiri [Luffy Moukou — One Piece Ost] dan [Next to you — Parasyte Ost] nanti saya akan memberi tahu untuk memutarnya agar lebih mantul bacanya. Mudah-mudahan sih!
.
.
.
.
.
"Jadi, apa yang kau temukan Naruto?"
Kurama menatap penasaran inangnya yang sudah kembali. Sebenarnya sudah dari tadi Naruto berada di tempat biasanya mereka berbicara, hanya saja Kurama sibuk bertarung dan tak bisa langsung mengalihkan kesadarannya ke sini. Bisa tewas mereka ditangan Sirzechs kalau sampai melakukannya.
Mumpung sekarang ini Sirzechs dan yang lain tidak bisa menyerang karena kobaran api dari tehnik berskala pemusnah melindungi tubuh Naruto, Kurama segera menemui inangnya itu.
"Tidak banyak." Naruto menjawab dengan suara dalam nan pelan.
Karena link mereka yang sudah sempurna, Kurama bisa merasakan perasaan Naruto sekarang ini. Tebakan Kurama, Naruto sepertinya menemukan beberapa kepingan ingatan yang membuat dirundung banyak perasaan. Sedih, kecewa, marah, putus asa! Kurama tak bisa memastikan yang mana paling dominan.
"Aku ingin mati saja, Kurama."
"Hah?"
"Aku ingin mati saja, Kurama. Seharusnya kau tadi tidak menghentikanku untuk dibunuh oleh Madara atau Vali."
Sama halnya perasaan Naruto yang campur aduk tak menentu. Pikiran pemuda itu pun tidak kalah kacaunya. Ia seperti putus harapan untuk hidup lagi, sebab menemukan ingatan yang tidak pernah disangka-sangka begitu menyakitkan, bahkan melihat Rias dan Issei berciuman kalah jauh.
"Mereka, semuanya—"
"Tunggu dulu, bocah! Kenapa tiba-tiba mau mati, hah? Lalu, apa gunanya aku mengatakan semuanya tadi? Soal bukan kau yang membunuh ibumu?"
"—mati!"
"Bicara yang jelas, bocah!"
"Aku tidak tau siapa mereka, tapi mereka semua...mati, dan yang membunuh mereka adalah...aku."
Kurama menggeram dalam hati. 'Grrrr, apa yang dilakukan si bodoh itu pada ingatan bocah ini! Jangan bilang dia mengacaknya, atau paling buruknya memasang ingatan palsu. Sialan, aku harus memeriksanya!' tanpa menunggu lama, Kurama segera berkonsentrasi untuk masuk ke dalam ingatan Naruto. Baginya, ini hal yang mudah. Sembari melakukan itu, ia juga mengumpulkan Senjutsu untuk berjaga-jaga. 'Grrr, jangan padam dulu api sialan! Aku membutuhkan waktu disini.'
Beberapa menit, mungkin 4 sampai 5 menit. Selama itu Kurama berharap api dari serangan terakhirnya tak padam. Akan tambah merepotkan bila melebihi itu, selain membuka ruang untuk Sirzechs dan yang lain menyerang, efek samping Senpō: Museigen no Furu Pawā.
juga sangat berbahaya bila tak cepat-cepat. Untuk menanggulangi ini, ia sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diambil agar bisa kembali bartarung, itulah kenapa dirinya tak lupa mengumpulkan energi Senjutsu serta memulihkan Yōuki selagi berbicara dengan Naruto..
Harapan Kurama nampaknya terkabulkan. Hanya butuh kurang dari dua menit ia sudah melihat ingatan macam apa yang didapatkan inangnya di labirin tadi.
Kurama akan berbohong jika dirinya tak merasakan apa yang Naruto rasakan setelah melihat semuanya. Selama ini, rasa penasaran atas apa yang telah dilalui Naruto sebelum ia tersegel—disegel dalam tubuh pemuda itu sering muncul dalam benaknya.
"Naruto!"
Kurama menghela nafas pendek, sebab tahu bagaimana perasaan Naruto sampai hanya merespon mendongak sekilas lalu kembali menundukan kepala.
"Alasan kenapa kau ingin mati, karena merasa apa yang kau lihat di ingatanmu benar-benar terjadi, bukan?"
"...Kau melihatnya?"
"Tentu saja. Aku baru saja memeriksanya di kepalamu." kembali, Kurama menghela nafas, kali ini agak panjang. Seperti saja tengah bersiap-siap untuk segala kemungkinan terburuk apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Dan kutahu kau punya kepala yang kerasnya mengalahkan berlian. Jadi apapun yang kukatakan tak akan mengubah keinginanmu..."
Naruto mendongak. "...Ku-Kurama, kau..." ia berbicara dengan suara terbata-bata, sebab tak percaya. Sahabatnya itu, setuju dengan keinginannya tanpa beradu argumen terlebih dulu?
Tak ada Kurama yang pemarah, dan sulit mengalah. Ia merasa, seperti bukan Kurama saja.
"Lagipula, situasi di luar juga kemungkinannya sangat kecil untuk kita selamat. Tck! Sial, kukira Azazel tidak punya benda yang kita hancurkan dua tahun lalu."
Naruto, semakin dibuat terkejut dan tak percaya dengan penjelasan Kurama atas apa yang terjadi selama ia mencari kepingan-kepingan masa lalu di alam bawah sadarnya. Tanpa seizinnya, Kurama melakukan sesuatu yang menambah keyakinannya untuk segera mati saat ini juga.
Bagaimana tidak, meluluhlantakkan lokasi konferensi yang bertujuan untuk mencapai kedamaian di masa depan, menantang dan menghajar habis-habisan Raja Iblis dan Ratunya.
Bahkan, andai kata ia tidak ada niat untuk mati. Kedepannya ia akan diburu hingga ke ujung neraka atas tindakan menghalangi tujuan tiga fraksi untuk menciptakan perdamaian. Ya, itu hanya andai kata karena situasi di luar sana seperti yang dibilang Kurama, kemungkinan untuk mereka selamat sangatlah kecil, mendekati kata keajaiban malahan.
"...Maafkan aku Naruto."
Naruto menggeleng pelan. "Ie, kau tak perlu minta maaf Kurama." ia kembali menadahkan wajah ke sahabatnya. "Benar-benar tak perlu."
Seketika perasaan Kurama kembali dibuat campur aduk melihat ekspresi wajah inangnya. Mata yang sama kembali terlihat, tanpa cahaya barang sedikit pun, kosong bagai ikan yang sudah tak bernyawa lagi. Dan yang paling terasa adalah senyum kecil disana. Senyum yang mengatakan tak ada lagi harapan untuk sang empunya.
"Jadi, bagaimana caraku mengeluarkanmu, Kurama? Kau harus tetap hidup. Ini pilihanku, keputusanku, takdirku. Sedang kau, tidak!"
"Tck! Dasar bodoh!"
"Hmmm?"
"Kau pikir setelah belasan tahun bersama, aku akan meninggalkanmu untuk mati begitu saja? Tentu saja tidak, Naruto! Ingat, kita ini dua kehidupan dalam satu tubuh. Sejak aku tersegel dalam tubuhmu, kita sudah terhubung. Kau hidup, aku hidup, matipun begitu."
"Ta-tapi, Kurama. Ini keputusanku, pilihanku!"
"Dan ini juga keputusanku, pilihanku."
Balasan dari Kurama yang tersirat keinginan tak ingin dibantah lagi membuat Naruto tak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
Ingin rasanya Naruto bersyukur Kurama selalu ada untuknya sampai sekarang, walau kadang rubah itu sama keras kepalanya dengan dirinya dan juga menyebalkan. Namun sayang, keadaan dan pikiran membuatnya harus membuang jauh-jauh rasa syukurnya itu karena sebenar lagi kehidupan menyakitkan ini akan segera berakhir.
"Kau bisa keras kepala dan egois, akupun bisa, bocah. Belasan tahun bersama membuatku paling tahu dirimu luar dan dalam."
Tawa hambar tak berarti apa-apa meluncur dari mulut Naruto. "Mengatakan hal seindah itu tak akan mengubah keputusanku, Kurama. Lagipula kau itu jantan."
"Ya ya ya, aku tahu, bocah! Namun, sebelum kita berdua mati. Aku punya permintaan terakhir untukmu."
"Apa itu, Kurama? Jika itu bisa kulakukan, akan kulakukan. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku sudah menemaniku hingga akhir dan semua yang sudah kau lakukan untukku."
Kurama mendesah internal. 'Percuma saja, anak ini, kalau memikirkan sesuatu yang penting, pasti melupakan beberapa hal yang tak kalah penting miliknya. Dia memang keturunan keduanya. Ambisius, egois, keparat, dan tentu saja keras kepala. Merepotkan!'
"Kurama...?!" panggil Naruto pelan mendapati sahabatnya hanya diam seperti tengah memikirkan sesuatu. "Apa yang kau minta kulakukan?"
"Mari kita bertarung habis-habisan untuk terakhir kalinya. Berikan sebuah tarian terindah padaku serta pada dunia busuk ini, dan jika memungkinkan, aku minta kau membunuh semua atau setidaknya dua tiga iblis kelas atas di luar sana..." pandang Kurama yang tadinya sulit untuk diartikan kini berubah total. "... Akan sangat memalukan bagiku jika bertemu dengan seseorang tanpa sebuah cerita yang mengagumkan."
Naruto bisa menerka ekspresi apa yang kini Kurama perlihatkan, namun diabaikan begitu saja. Lebih tepatnya tak peduli.
"Bagaimana? Apa kau sanggup, Uzuma—Bukan! Naruto Lucifer, salah satu mahluk yang dikutuk keberadannya?"
Sekilas, Kurama mampu membaca gestur tubuh Naruto. Dari yang ia lihat, inangnya itu hendak mengatakan sesuatu dengan keadaan di luar sana karena sempat mendongak selama beberapa saat lalu menghela nafas panjang. Kurama menyeringai.
"Tenang saja, urusan tubuhmu yang mulai terkena efek Senpō: Museigen no Furu Pawā, aku bisa mengurusnya. Ada satu kemampuan Yōujutsu (Demon Art) yang sempat kupelajari untuk situasi macam ini diam-diam setelah kau menciptakan modemu itu."
Kurama bukanlah mahluk bodoh, sejak mengetahui efek samping dari mode mengerikan Naruto. Ia berpikir akan ada waktu dimana kemampuan itu akan menjadi bomerang bagi Naruto dan dirinya sendiri. Misalnya saja, sehabis menggunakan mode itu dan lawannya masih belum mati, bisa habis Naruto mengingat dia adalah murid dari Madara yang paling anti dengan yang namanya lari dari pertarungan.
"Baiklah..." Naruto berbalik. Sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Kurama, ia memutar sedikit tubuhnya ke kanan dan mengulurkan kepalan tangan yang sama ke rubah di belakangnya. "Terima kasih untuk semuanya, Kurama. Ini adalah yang terakhir, mari kita bersenang-senang."
Kurama tersenyum kecil. Ia lalu mengarahkan lengan depan sebelah kanannya dan menabrakan kepalan tangan yang besarnya berpuluh-puluh kali lipat dari punya Naruto. "Huh, dasar. Aku tak menyangka nasib kita akan berakhir seperti ini. Ya, mari kita bersenang-senang,..."
'...dan juga mengakhiri rasa sakit masa lalumu, bocah!'
Lepas membalas kepalan Naruto tadi, Kurama menarik kembali lengan kanannya. Ia lalu mengkonsentrasikan sejumlah Senjutsu yang tadi dikumpulkan serta Yōuki dalam tubuhnya. Lepas itu langsung menyatukan telapak tangan di depan dada.
"Yōujutsu: Seimei Kikan." (Demon Art: Life/Existence Return)
Setelah efek dari tehnik yang barusan Kurama keluarkan mulai terasa, Naruto mulai berjalan menjauh dari sahabatnya itu. Berjalan menuju panggung penutup dari kehidupannya yang dikutuk oleh banyak orang.
Sekilas, potongan-potongan ingatan yang menyebabkan Naruto hilang harapan dan keinginan untuk hidup muncul dalam benak.
Sungguh, rasanya benar-benar menyakitkan untuk sang keturunan Lucifer ini. Begitu menyakitkannya sampai mati adalah satu-satunya jalan untuk kabur.
Maka dari itu, inilah pertarungan terakhir untuknya bersama Kurama. Lagipula, seperti yang dikatakan sahabatnya itu tadi. Diluar sana, akhir dari hari ini sudah ditetapkan dan tak akan berubah. Menang atau kalah sudah tak berarti lagi, kematianlah yang menjadi penghujung hari ini...
—Akhir darinya, yang melarikan diri dari rasa sakit.
"...Waktunya menari!"
.
.
.
.
"Sigh, tepat waktu!"
Azazel berucap lega disertai helaan nafas. Sungguh, ia tak menyangka Kurama akan mengeluarkan tehnik berskala besar yang dua tahun lalu menghancurkan prototipe berharga miliknya.
Di samping pemimpin Malaikat Jatuh itu, Michael bersama tiga iblis kelas ultimate serta Okita Shoji dan Dulio Gesualdomenatap keheranan ke segala arah. Mereka tak lagi berada di area akademi Kuon, melainkan di puncak gedung tinggi di pusat kota.
Tidak jauh dari mereka, dan masih di puncak gedung yang sama, kelompok Rias Gremory bersama Sona Sitri juga melakukan hal sama, kecuali Asia dan malaikat bawahan Michael yang fokus mengobati luka Diehauser Belial.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari lokasi gedung tempat para peserta konferensi berada, kubah api keemasan berkobar hebat melahap hampir sebagian kecil pinggiran kota Kuoh. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, kobaran api disana perlahan-lahan mulai mengecil ukurannya, meninggalkan tanah lapang yang awalnya mungkin saja bangunan-bangunan kecil yang sudah habis dilalap tehnik Kurama.
"Azazel, apa yang terjadi?" Michael melayangkan pertanyaan sambil menoleh ke mantan musuhnya. "Perasaan ini, seolah-olah kita berada di dunia lain saja. Bahkan tak ada satupun kehidupan yang kurasakan kecuali kita dan Uzumaki-dono."
"Benar sekali. Lebih tepatnya, di ruang lain."
Atas pernyataannya itu, Azazel berhasil membuat orang-orang menatapnya heran. Ia menghela nafas, ini akan panjang pikirnya, terutama karena adanya si Pengganti Tuhan Michael. Lebih tepatnya malaikat yang ditunjuk menggantikan tempat Tuhan bagi yang mengetahui sebagian kecil kebenaran di balik Great War.
"Kubuat singkat saja, mengingat keadaan sekarang ini. Huff, baiklah. Ini adalah kemampuan dari [Sacred Gear] buatan terbaikku hingga saat ini, dan aku sama sekali belum memikirkan namanya. Konsepnya sama seperti arena Rating Game kalian bangsa iblis, dan juga salah satu tiga belas [Longinus] yang mampu menciptakan ruang dimensi dan memindahkan orang-orang ke dalamnya untuk bertarung."
Mata Micheal dan beberapa orang disana melebar terkejut. Mereka memang tahu Azazel diam-diam meneliti peninggalan dari Tuhan, namun yang tak sangka-sangka adalah Azazel sudah sampai sejauh ini menciptakan Sacred Gear yang kemampuannya ditiru dari 13 [Longinus
"Azazel, kau...gila!"
Sang Malaikat Jatuh hanya tersenyum masam atas pernyataan Michael. "Aku tau itu. Ya, sebenarnya yang kulakukan hanya ingin melanjutkan apa yang Ayah tinggalkan. Kalian sendiri tahu bukan, sistem dari [Sacred Gear] masihlah cacat. Seimaken dari ksatria Gremory-san, Vali yang menerima Albion walau dalam nadinya mengalir darah Lucifer dan masih banyak lagi kecacatan dari sistem itu. Dan entah kenapa aku merasa kecacatan yang lebih parah lagi sudah menunggu untuk terungkap di luar sana."
Baik Michael ataupun yang lain berada di sana tak mampu membantah fakta itu. Azazel lalu terkekeh pelan lalu berucap dengan santainya. "Lagian, orang tua sepertiku butuh hobi selain memancing."
Namun, tak sampai 5 detik setelah itu, raut wajah Azazel berubah serius dan segera mengalihkan perhatiannya ke kobaran api Kurama yang mulai mengecil.
"Penjelasan lebih detail nanti saja, sepertinya mahluk yang lebih gila lagi sudah siap untuk menggila." Ucap Azazel yang entah kenapa merasakan firasat yang lebih buruk lagi ketimbang kedatangan awal Kurama tadi. 'Sial! Sensasi macam apa ini? Seperti saja kematian perlahan-lahan mendatangiku.'
.
.
#[Play: Luffy Moukou]
.
.
Dibalik kobaran api itu sendiri, bayangan hitam yang diketahui para peserta rapat adalah Naruto mulai berjalan keluar.
Indra pendengaran makhluk-makhluk dalam ruang khusus Azazel menangkap suara langkah kaki dan bebatuan kecil yang hancur terinjak bersama suara kobaran api.
Seirama dengan langkah kaki dari Naruto, semakin terdengar mendekat suara itu, semakin besar pula sensasi tidak mengenakkan yang dirasakan oleh Azazel. Dan sepertinya bukan hanya Azazel saja, bahkan semua peserta konferensi yang masih sadarkan diri kini merasakan hal sama.
Bahkan, beberapa iblis muda sampai dibuat bergetar ketakutan akan sensasi tersebut.
Sensasi ini tak sama ketika Kurama bertarung melawan para pemimpin tiga fraksi. Tak kuat dan berat, namun terasa begitu mengerikan sampai-sampai yang dikatakan Azazel sebelumnya seolah-olah benar terjadi. Didatangi langsung oleh kematian.
Ketika Naruto sepenuhnya keluar dari kobaran api yang kini ukurannya tak lebih besar gedung tempat para peserta rapat dalam keadaan menunduk, para pemimpin yang sempat melawan Kurama tadi dibuat terkejut oleh keadaan pemuda itu.
Selain daripada pakaian yang kini menyisahkan celana dan sepatu, serta banyak noda darah yang sudah mengering, semua kembali seperti sedia kala. Seolah-olah Naruto sama sekali belum melakukan pertarungan, tak ada luka tusukan ataupun lebam menghiasi tubuh Naruto.
Yōujutsu: Seime Kikan (Demon Art: Life/Existence Return), tehnik Kurama inilah yang membuat keadaan Naruto seperti sekarang. Dari namanya saja bisa diketahui bahwa tehnik adalah tehnik mengembalikan hidup atau eksistensi. Namun, dari segi efek sendiri tak lebih dari mengembalikan kondisi tubuh Naruto sebelum melakukan pertarungan.
Apa yang terjadi?
Kiranya begitu isi kepala dari semua yang berada disana, terutama Azazel yang sudah tahu betul efek samping dari mode mengerikan Naruto. Tehnik itu dirasakan Azazel sudah tak aktif lagi dan seharusnya Naruto sudah dalam keadaan sekarat, bukannya sehat bugar dan hanya Senjutsu serta sensasi mengerikan yang kini ia rasakan, begitupun para peserta rapat. Sedang Yōuki Kurama hanya sesekali terasa.
Dari semua itu Azazel berpikir Kurama tak lagi merasuki tubuh Naruto. 'Apa Kurama yang mengambil efek samping mode mereka? Itu mustahil! Mereka adalah dua mahluk yang berbagi satu tubuh, tak mungkin hal itu bisa dilakukan. Jadi apa sebenarnya yang dilakukan mereka?'
Setelah beberapa detik menerka-nerka, Azazel mengambil kesimpulan entah Kurama atau Naruto telah mengeluarkan tehnik yang membuat luka-luka mereka menghilang. Kurang lebih seperti itu.
Menghela nafas sejenak, Azazel lalu menoleh ke samping dimana Michael dan Sirzechs tengah berdiri memandangi Naruto. "Semuanya, dengarkan baik-baik..." ia memulai serius. "Entah beruntung atau malah sial, aku bingung ingin menentukannya."
"Apa maksudmu, Azazel?" tanya Michael.
"Saat ini, Naruto sudah kembali mengambil alih tubuhnya, dan entah apa yang mereka lakukan atau tehnik apa yang dikeluarkan, luka-luka yang diterima sebelumnya sembuh total. Kalian bisa melihatnya, bukan?"
Sirzechs, Michael dan Serafall mengangguk sebagai jawaban. Ya, tentu saja mereka menyadarinya, mata mereka bukanlah mata sembarangan.
"Beruntung karena tidak seperti Kurama, Naruto setidaknya bisa diajak bicara baik-baik. Dia pemikir yang handal dan tak sembarang mengambil tindakan atau kesimpulan. Yaa, walau terkadang kelepasan sih... "
Tak tanggung-tanggung, Azazel mulai menjelaskan semua yang ketahui tentang sang keturunan Lucifer. Hal ini pun membuat rasa iri muncul di hati beberapa iblis disana, mereka lebih lama mengenal Naruto namun Azazel malah lebih tahu banyak.
Maju sebagai perwakilan, Serafall melayangkan pertanyaan. "Bukankah itu bagus, Azazel-tan? Kita bisa berbicara baik-baik dengan Naru-tan sekarang, kan?"
Azazel mendesah, sebab Raja Iblis Leviathan itu sama sekali tak peka terhadap situasi mereka. "Iya, itu kalau bocah itu mau diajak bicara baik-baik. Hanya saja, apa kau yakin dengan sensasi ini, dia mau bicara baik-baik?" tanya Azazel dengan suara agak sarkas. "Sensasi ini, aku pernah merasakannya dua kali. Di pertemuan pertamaku dengan Naruto dan ketika adiknya diculik segerombolan malaikat jatuh yang ingin membalas dendam padanya telah membunuh pemimpin mereka."
Azazel mengambil jeda singkat sambil menerawang jauh ke masa lalu untuk mengingat dua kejadian yang ia sebut tadi. "Walau tak sebesar sekarang, namun sensasi ini benar-benar mirip. Dan percaya atau tidak, dua kali aku merasakannya, dua kali pula aku teringat pada sosok Lucifer di Great War. Sekarang, aku pun menemukan jawaban kenapa aku bisa teringat pada Lucifer pada sosok Naruto di dua kejadian itu. Huh, dasar! Dia benar-benar keturunan dari Lucifer."
"Kembali ke awal, Azazel. Apa yang membuatmu bingung kita ini sial atau beruntung?" tanya Sirzechs kemudian setelah mencerna baik-baik semua penjelasan Azazel yang tidak ia ketahui tentang sosok lain dari pemuda yang pernah melindungi adiknya selama beberapa tahun.
"Sial karena Naruto membuat kita merasakan sensesi ini."
"Maksud—"
"Dia ingin bertarung tanpa menahan diri lagi." Azazel memotong cepat. "Keputus-asan,... Mungkin karena itu Naruto mampu membuat di sekitarnya merasakan sensasi didatangi langsung oleh kematian. Aku tidak tahu apa yang dia lalukan selama Kurama mengambil alih tubuhnya, ataupun apa yang dikatakan Kurama padanya selama beberapa menit di dalam kobaran api tersebut, namun yang pasti. Anak ini, ingin bertarung serius dengan kekuatan penuh dari Kurama."
"Apakah itu buruk?"
Azazel memandang aneh Michael. "Buruk? Lebih dari itu, kurasa. Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Kurama yang kekuatannya di atas Yasaka dan Sun Wukong, dan digunakan oleh Naruto yang bisa bertarung lebih efektif dan efisien. Bayangkan saja sendiri lah..."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Azazel?" tanya Michael kembali.
Malaikat satu ini nampaknya sadar bahwa Azazel satu-satunya orang yang bisa diandalkan disini. Apapun yang akan Azazel katakan kedepannya, Michael akan mendengarkannya. Itu pemimpin golongan malaikat. Lain lagi dengan iblis yang sejak terakhir kali Serafall berbicara hanya diam menyimak.
"Baiklah... Dengarkan aku baik-baik..."
Beralih ke Naruto. Setelah keluar dari kobaran api, ia berdiri dengan kepala ditundukkan yang mana didalamnya berbagai macam cara tengah dipikirkan untuk mengabulkan permintaan dari Kurama.
Setelah mengambil keputusan bersama Kurama. Hanya itu yang selalu terlintas di pikirannya. Lalu setelahnya mati dengan membawa semua rasa sakit yang timbul setelah mengetahui sebagian kecil masa lalunya.
Kalau ingin jujur, Naruto mengatakan itu sangatlah sulit namun tidak mustahil. Hasil dari sebuah pertarungan tidak dapat diketahui hanya dari tingkatan ataupun kekuatan.
Ketika tengah sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi, ingatan-ingatan yang didapatkan tiba-tiba muncul dan mengganggu konsentrasinya.
[Kau monster, Naruto Lucifer!
[Menjauh dari kami!]
'Naruto, jangan diambil pusing! Cepatlah selagi Azazel membicarakan sesuatu disana dan itu pasti menyangkut dirimu!'
Beruntung suara Kurama langsung menggema dalam kepala Naruto dan menyadarkan pemuda itu. Naruto lalu menggeleng pelan. Tak perlu rencana untuk mewujudkan keinginan Kurama, lakukan saja seperti biasa.
Berimprovisasi!
Naruto sedikit menunduk, lalu dengan sedikit kekuatan dialirkan ke kedua kaki, ia melompat dan melesat sampai mencipta suara mirip roket menuju lokasi para peserta konferensi meninggalkan ledakan besar pada permukaan tanah tempatnya tadi berdiri.
"...Waktunya menari!"
.
.
.
"...Usahakan untuk tidak membunuhnya, karena jika sampai terjadi, itu malah akan mendatangkan masalah lebih besar nantinya. Namun, jika tak ada cara lain—"
Azazel berhenti menjelaskan ketika suara ledakan dari lompatan Naruto terdengar.
"Sialan, dia datang! Bersiaplah!" seru Azazel keras. "Aku yang akan menahannya!" tanpa menunggu lama, ia mengepak kedua belas sayapnya dan terbang menuju lintasan Naruto melesat.
Dentuman besar disertai gelombang udara tipis muncul. Azazel dan Naruto bertabrakan di atas langit tiruan kota Kuoh.
Setelah ledakan dan gelombang itu berlalu, terlihatlah Azazel dengan menahan kepalan Naruto yang hampir saja mencium wajahnya. Azazel tak perlu lagi terkejut dengan besarnya kekuatan pukulan yang diperkuat oleh momentum dari lesatan Naruto tadi.
"Ugh, Naruto, aku tak tau apa yang terjadi padamu beberapa saat lalu sampai menjadi seperti ini. Tapi ingatlah, aku tak pernah ingin menjadi musuhmu!"
Naruto tak menggubris ucapan Azazel. Mata biru redupnya bergerak ke kanan melihat melalui samping kiri kepala malaikat jatuh didepannya para peserta konferensi melakukan sesuatu di atas gedung. Apa yang ia lihat adalah Sirzechs, Serafall, Okita dan Dulio berada di depan Micheal bersama Grayfia tengah yang melindungi para iblis muda serta pengawal pemimpin fraksi Malaikat dengan sebuah barrier emas berbentuk bola.
'Formasi mereka? Benar-benar seperti yang dikatakan Kurama. Mereka ingin membunuhku.'
Semakin besarlah keyakinan Naruto akan apa yang dia lihat dalam ingatannya. Sungguh ironis, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya kini berbalik ingin membunuhnya, menegaskan bahwa...
[Kau... Kematian akan selalu menemanimu! Dirimu, ataukah orang-orang terdekatmu, semuanya akan menginginkan kematianmu ataupun orang terdekatmu, tidak peduli kebaikan macam apa yang pernah kau lakukan...]
[Naruto Lucifer! Kami mengutukmu atas apa yang kau lakukan!]
[Terkutuklah kau Naruto Lucifer!!]
[Shine, Naruto Lucifer!]
Suara-suara itu kembali menggema dalam kepalanya. Ia berdecak dalam hati.
'Tck! Aku tak butuh kutukan dan sumpah kalian. Aku yang akan mengakhiri semuanya setelah membunuh salah satu dari mereka!'
Iris Naruto kembali ke tengah, dan itu mengejutkan Azazel ketika melihatnya. Malaikat Jatuh itu tak menyangka, dia kembali melihat mata biru yang kehilangan cahayanya itu setelah terakhir kali terjadi dua tahun lalu.
Memanfaatkan keadaan Azazel, Naruto menggerakkan tangan kanannya dari bentuk kepalan ke genggaman kuat pada lengan Azazel. Lalu, menarik malaikat jatuh itu kedepan sedang dia bergerak ke kiri.
Dan Azazel tidak pernah menyangka tubuh akan digunakan sebagai batu loncatan Naruto setelah lengannya dilepaskan. Ia pun hanya bisa melihat Naruto kembali melesat dengan kecepatan tinggi menuju gedung tertinggi di kota Kuoh tempat peserta konferensi yang tersisa.
Ini diluar perkiraan Azazel mengenai Naruto akan meladeninya, ternyata malah dijadikan alat untuk menambah kecepatan. Tanpa menunggu lama, ia pun menyusul pemuda itu.
Naruto, dalam keadaan melesat bagai peluru mengepal tangannya dan mengalirkan kekuatan Kurama ke sana. Ketika tangan kanannya dipukulkan pada udara kosong, proyektil api berwarna jingga tercipta dan menargetkan Sirzechs dan Serafall yang berdiri berdampingan.
Sirzechs menatap datar serangan Naruto itu. Tangan kirinya lalu terarah ke depan sedikit kebawah, energi merah hitam langsung keluar dari sana dan beradu dengan api jingga Naruto hingga menciptakan ledakan dahsyat. Begitu dahsyat sampai ruang buatan Azazel mengalami gempa bumi lokal.
Serafall yang awalnya mengira Azazel hanya bercanda soal kekuatan penuh dari Kurama bisa saja melebihi dari Sirzechs bungkam sebungkam-bungkamnya. Di depannya, kekuatan bernama Horobi no Chikara menyebar ke segala arah seperti laser pada sebuah konser sehabis beradu kuat melawan api jingga Kurama.
Kekuatan penghancur mutlak yang ia rasa Sirzechs keluarkan tidak dalam komposisi lemah dipentalkan oleh api. Padahal tadi, ketika saling beradu, kedua kekuatan itu meledak dan melebur.
"Seperti yang dikatakan Azazel. Naruto benar-benar sempurna menggunakan kekuatan dari Kurama." Sirzechs berkomentar datar, "Serafall, belokkan arah api itu dengan lingkaran sihir pelindung. Mencoba menghalang dan menghancurkan hanya akan berakhir sama dengan Horobi no Chikara milikku."
Tanpa menjawab, Serafall melakukan perintah Sirzechs. Puluhan lingkaran sihir keluarga Sitri muncul membentuk formasi miring sejajar.
Hasilnya seperti yang diinginkan Sirzechs, setela menabrak formasi sihir pertahanan dari Serafall peluru api tersebut berbelok ke atas dan menghilang pada kegelapan langit malam tiruan kota Kuoh.
Setelah mementalkan proyektil api terkompres maksimal itu ke langit, kini perhatian Sirzechs bersama Serafall, Okita dan Dulio kembali ke depan.
Disitulah mereka kembali dibuat kaget oleh dentuman hebat yang disusul suara mirip kaca pecah dari salah satu lingkaran sihir pelindung Serafall.
Namun, belum sempat kelompok Sirzechs yang terdiri dari Okita, Dulio dan Serafall bertindak, mereka dikejutkan oleh suara kaki terseret di samping kiri Raja Iblis Lucifer.
Sirzechs tak lagi terkejut oleh kecepatan Naruto, karena beberapa saat lalu sudah melihat sendiri kecepatan tertinggi dari pemuda di sampingnya ini.
Dalam posisi tubuh yang miring habis melakukannya pengereman mendadak, Naruto melihat Sirzechs melapisi tangan kiri dengan power of destruction yang sama sekali tak ditahan kekuatannya hendak melukainya dengan pukulan chop. Menggunakan refleks gila yang ia miliki, Naruto melompat kecil dan berputar searah jarum jam, tidak lupa mengalirkan Youki Kurama pada bagian tubuh yang akan dipakai menyerang.
Dulio, Serafall bahkan Okita yang merupakan spesialis kecepatan dan refleks tak pernah menduga segila itu kemampuan bertarung Naruto yang dikatakan Azazel merata di berbagai macam aspek sampai-sampai mereka tak mampu bertindak barang sedikit pun.
Sedangkan Sirzechs, dirinya juga sama. Awalnya ingin menyerang, malah berbalik diserang. Rasa nyeri bercampur panas teramat sangat seketika menggerogoti kulit pada sisi wajahnya.
Bahkan, belum sempat ia mengadu atau apapun, serangan lanjutan terlebih dulu tiba.
"Senpō: Hoken." (Sage Art: Breakdown Fist)
Sekejap, Sirzechs sudah merasakan dirinya terbang lalu menabrak tanah dengan kerasnya, terseret dan tangannya yang disilangkan pada kepala merasakan banyak sekali tabrakan pada benda-benda keras. Ia bahkan tak bisa memperkirakan sudah seberapa jauh dirinya terpental hanya dengan sebuah pukulan berbalut Senjutsu.
Naruto menatap datar ulahnya pada orang yang memegang gelar nama belakangnya itu. Debu mengepul di perumahan dan membentuk garis tak karuan ke arah timur.
Ketika ia hendak menuju ke lokasi Sirzechs, Senjutsu miliknya tiba-tiba merasakan tiga aura berbeda kini menyeruak di sekitar.
Dalam hitungan sepersekian detik, Naruto melompat ke belakang dan bersalto ketika seekor naga yang terbuat dari air hendak menerkamnya dari atas, menyebabkan goncangan hebat pada gedung lima lantai itu.
Untuk kedua kalinya, insting dan Senjutsu Naruto kembali meneriakkan tanda bahaya, bahkan itu terjadi ketika ia masih dalam keadaan melayang. Dari arah kirinya, Okita muncul dengan katana terayun.
Naruto tak kehabisan akal untuk menghindar. Kedua kakinya mengeluarkan kobaran api jingga hingga momentum dari lompatannya batal dan menjadi berbalik melawan gravitasi.
"Aku tak punya urusan dengan kalian."
Untuk kali pertama, Naruto berbicara dalam keadaan melayang saat garis penglihatannya menangkap Dulio tengah berdiri dengan aliran air dan petir meliuk-liuk seperti ular di sekitar tubuhnya. Ia segera menyulut api dalam jumlah banyak ke kedua lengannya sebelum salah satu petarung terkuat pihak Surga itu melancarkan serangan.
"Enteikai." (Emperor Flame Command)
"...Jadi, menyingkirlah!"
"Hibashira." (Flame Pillar)
Naruto memukulkan kedua lengannya yang dibalut api Kurama pada udara kosong. Pilar raksasa berwarna jingga langsung menjulang tinggi ke langit, sedang dibawahnya, gedung itu sudah dilalap gemuruh api pemusah termasuk mahluk-mahluk di atasnya. Tidak hanya gedung itu, bangunan atau apapun yang berada di radius sepulu meter juga ikut terbakar.
Tanpa ingin tahu apa yang terjadi pada peserta konferensi apa mereka bertahan atau tidak, Naruto meluncur keluar dari kobaran apinya sendiri. Dia mendarat pada satu gedung lalu melompat ke gedung lain menuju lokasi Sirzechs. Tiba pada gedung terakhir sebelum mencapai daerah perumahan yang sudah sebagian kecil hancur, Naruto menggunakan bangunan terakhir itu sebagai pembuka momentum luncuran.
Namun, sebelum Naruto tiba di tempat tujuan, mereka yang tidak bersama Michael mengkonfrontasi dalam keadaan melayang. Dari sisi kiri, Azazel terbang dengan kedua belas sayapnya bersama Dulio yang menggunakan kemampuan [Sacred Gear] miliknya dengan menciptakan aliran air lalu dibekukan dan berseluncur di sana. Di sisi kanannya sendiri, ada Serafall dan Okita yang sama-sama mengepak sayap iblis mereka.
"Baiklah. Kalau kau tidak bicara, kami buat dirimu jinak dulu, Naruto. Jadi, maaf saja soal ini."
Naruto menoleh ke kiri, alisnya mengkerut sesaat menyaksikan lingkaran sihir keemasan bermunculan di sekitar Azazel. Puluhan tombak cahaya keluar dari sana dan memburu dirinya.
Serafall nampaknya tidak tinggal diam membiarkan Azazel enak-enak sendiri, dirinya juga menciptakan puluhan tombak es sepanjang dua meter.
Menatap bergantian serangan tersebut, Naruto memasang wajah datar. 'Aku benar-benar diremehkan oleh mereka. Ini bagus.' batinnya selagi meliuk-liuk di udara agar tubuhnya tak tertembus beberapa tombak dari dua unsur berbeda itu. 'Ini yang terakhir—'
'Naruto, di depanmu!'
Naas, Naruto terlalu fokus menghindari tombak-tombak Azazel dan Serafall. Sedang tiga lawannya tidak masuk dalam perhitungan radar bahaya Senjutsu.
"Anda memang tak punya urusan dengan kami, tapi menyerang Sirzechs-sama itu berarti mencari masalah dengan kami, Naruto-san." ujar Okita memegang katana yang diarahkan kebelakang setelah melakukan satu lesatan kecil ke depan Naruto setelah Serafall dan Azazel melancarkan serangan.
"Tck!"
"...Apa?!"
Dan lagi-lagi Okita dibuat melebarkan mata seraya berteriak dalam ketidakpercayaan, sebab terkejut. Salah satu tebasan tercepatnya sangat mudah dihindari Naruto dengan refleks gila.
Tidak hanya sekali saja.
"Kalian bertiga...pengganggu!" Naruto berucap dengan nada hampa selagi menghindari serangan petir dadakan Dulio dari arah atas, membiarkan elemen alam itu lewat dan menghancurkan insfratruktur kota Kuoh di bawahnya. Namun, karena tindakannya itu, ia diharuskan berhenti di tengah-tengah lima lawannya. Azazel di kiri, Serafall kanan, Dulio dan Okita belakang, terakhir Sirzechs yang sudah kembali dari acara menghancurkan pemukiman penduduk. "Urusanku hanya ada dua orang."
"Biar kutebak. Lucifer dan Leviathan, bukan?" Azazel menyeringai kecil. "Anehnya, kenapa hanya Sirzechs yang kau kejar, huh?"
"Naruto, apakah ini yang kau maksud ingin memutus segala hubungan dengan dunia bawah?" Sirzechs bertanya dengan wajah serius. "Tapi, tindakanmu malah mencerminkan bahwa kau ingin menjadi lawan kami. Apakah kau ingin kami mengeksekusimu sekarang juga, di tempat ini?"
Naruto menghela nafas, lalu memandang kosong ke sang Lucifer. "Kalau iya, mampukah kalian melakukannya? Lagipula mencoba kabur sangat sulit kecuali merebut kubus itu dari tangan Azazel. Jadi, kutanya sekali lagi, mampukah—tidak, maukah kalian melukannya?"
Pertanyaan yang ia lontarkan seketika membuat lawan-lawan terdiam sejenak, seperti tengah memikirkan jawaban yang tepat untuk itu. Bahkan, ia sempat melihat Azazel dan Sirzechs meringis kecil. 'Sudah kuduga, jadi memang benar...'
Kembali, dalam beberapa detik benak Naruto melayang kemana-mana.
[Naruto Lucifer...kau monster]
Gambaran singkat muncul di sana, dimana dirinya di masa lalu membantai sebuah klan.
[Kau... Kematian akan selalu menemanimu! Dirimu, ataukah orang-orang terdekatmu, semuanya akan menginginkan kematianmu ataupun orang terdekatmu, tidak peduli kebaikan macam apa yang pernah kau lakukan...!]
Setelah kalimat itu diucapkan oleh seorang wanita berambut perak yang memandangnya penuh benci, apa yang tengah berputar dalam kepalanya berubah.
[...Entah kau yang ingin dibunuh...]
Dimulai dari kejadian saat dia pertama kali tiba di dunia bawah dan diberi dua pilihan. Mati dieksekusi karena menerobos kawasan iblis atau menjadi pelindung pewaris tahta kepemimpinan klan Gremory.
[... orang terdekatmu yang ingin dibunuh...]
Ingatannya berganti ketika ia dan Rias dikepung oleh golongan pengikut Raja Iblis terdahulu, dimana para penyerang menginginkan kematian dari pewaris Gremory itu untuk membalas perbuatan Sirzechs merebut tahta Lucifer bersama tiga iblis ultimate lain.
[... orang terdekatmu yang ingin dibunuh...]
Ingatannya lalu dipaksa beralih untuk kali kedua. Itu terlihat seperti kejadian ia dan Sirzechs membicarakan tentang kematian Karin Andrealphus yang menjadi awal mula kebencian muncul dalam hati Rias Gremory terhadapnya, gadis yang ia cintai.
[... Entah kau yang ingin dibunuh, orang terdekatmu yang ingin dibunuh...]
Kalimat yang sama kembali berdengung, namun kali ini sedikit berbeda karena yang mengucapkannya ada beberapa suara dan digabung menjadi satu. Lantas itu membuat gambaran di kepalanya kembali beralih. Kini ia berada di tengah-tengah invasi Konoha, ratusan mayat penduduk desa bergelimpangan dimana-mana, termasuk jasad Izuna dan Tobirama yang tepat berada di hadapannya, lalu tak jauh dari situ dirinya yang lain tengah bertarung bahu membahu bersama Madara melawan Katerea Leviathan.
'Nii-san, Ossan...'
Ia mengeluarkan suara serak dalam kala dua jasad orang yang ia panggil perlahan-lahan hancur menjadi abu oleh api orange dari kedua tangannya.
'Tidak! Tidak! Tidak!!!'
Batinnya meronta-ronta melihat kejadian ini. Apa yang diucapkan orang-orang di ingatannya menjadi kenyataan. Dadanya terasa sesak, hatinya perih, mentalnya bajanya perlahan-lahan runtuh menyisahkan keputus-asaan. Putus asa karena kutukan itu perlahan-lahan menggerogoti kehidupannya tanpa ia ketahui, menyebabkan orang-orang yang pernah dekat dekannya terenggut satu per satu.
Dan puncaknya...
[... atau dirimu yang ingin dibunuh orang terdekatmu!]
Gambaran di kepalanya tak berpindah. Tetap di Konoha, ketika Katerea Leviathan berhasil dipukul mundur oleh dirinya yang lain. Namun, ada yang berbeda seolah-olah pikiran, perasaan dan mentalnya bekerja sendiri untuk menenggelemkannya lebih dalam pada jurang keputusaan.
Disana, di samping Madara, Vali tiba-tiba muncul mengenakan zirah besi dari balance breaker [Divine Dividing]. Naruto yang lain menoleh dan terjadi adu argumen sengit diantara mereka bertiga sampai pada akhirnya pertarungan besar-besaran tak terelakkan lagi.
Kala menyaksikan pertarungan berat sebelah itu dengan ekspresi yang tak bisa diartikan,
[Kenapa? Kenapa kau harus ke sini? Lihatlah, aku terpaksa mati membawa harapan besar ingin bertemu lagi denganmu,... Naru-kun]
Naruto dikejutkan oleh suara yang begitu ia kenal di masa lalu. Ia menelenkan kepala dan mengukir senyum kosong.
'...Hina-chan?'
[Lama tak bertemu, Naru-kun]
'Ya, lama tak bertemu. Lima belas tahun, kurasa.'
Naruto berjongkok, dan mengelus-elus rambut gambaran seorang Hina-chan dalam pikirannya itu.
'Kau masih bisa menunggu lagi, kan? Ada satu urusan lagi yang perlu kulakukan sebelum bertemu lagi denganmu di sana. Aku berhutang maaf dan penjelasan, bukan?'
Gadis itu menggeleng pelan. Naruto mengerjit dalam kebingungan.
Tak lama setelahnya, Hina-chan menghilang digantikan sosok yang lebih dewasa, mungkin seumuran dengannya, rambutnya panjang tergerai hingga punggung. Naruto tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok karena cahaya emas yang begitu terang mendangan
[Kau sudah besar, Naruto,...]
'Sia—'
Belum sempat Naruto bertanya, dirinya harus merasalan nyeri teramat sangat di kedua tangan dan memaksa benaknya kembali ke kenyataan. Namun, ia masih sempat mendengar sosok perempuan dewasa tadi mengucapkan satu kalimat yang tak lengkap.
[Jangan terlalu cepat menemui kami,...]
.
.
.
.
Pandangan Naruto kembali ke kenyataan, agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya serasa sangat dingin dihimpit dua bongkahan es raksasa menyisahkan kepala saja, rambut dan kulit wajah sampai leher terasa basah diterpa hujan buatan yang dari Senjutsu miliknya merasakan aura [Sacred Gear] dan terakhir dibalik bongkahan es, tangannya terasa nyeri yang ternyata ditusuk menggunakan dua tombak cahaya sepanjang puluhan meter namum tipis, ujung tombak itu mencuat dari sisi ke sisi bongkahan es yang dari pancaran kekuatannya milik Serafall.
'Bodoh! Apa yang terjadi padamu sampai teriakanku sama sekali kau dengar? Jangan bilang kau melamun lagi?'
Suara setengah marah dari Kurama membuat !Naruto tersenyum kering. 'Ya, maaf. Terjadi sesuatu tadi. Ingatan-ingatan itu kembali muncul saat melihat Sirzechs dan Azazel meringis tadi.'
'Sudah kuduga.' Kurama menyahut pendek lalu menghembuskan nafas panjang. 'Ngomong-ngomong soal Gremory itu, dia sepertinya mau berbicara denganmu.'
"Uzumaki Naruto, atau Naruto Lucifer. Dari awal konferensi dimulai, aku dan mungkin semuanya bingung dengan tujuanmu ikut serta." Sirzechs berbicara dengan raut wajah serius, mengabaikan fakta bahwa ekspresi kosong dari Naruto seperti tak memperdulikannya. "Kau datang bersama kelompoknya sebagai orang yang telah menyelamatkan Rias Gremory dan Sona Sitri dari rencana Kokabiel, serta untuk menjelaskan alasan dibalik kau menyerang salah satu pewaris klan yang tersisah dari 72 Pilar dunia bawah."
"Bisa sudahi saja basa-basinya. Cepat lakukan, kau—tidak, kalian ingin mengeksekusiku kan?"
Sirzechs menggeleng pelan. "Tidak, ada pilihan lain. Kau akan kami tahan di Coctycus, sebagai pengampunan. Tapi sebelum itu kau harus menjelaskan motif dibalik tindakanmu dan Kurama. Bagaimana?"
"Hehehe..." Naruto tertawa kering.
Sirzechs mengerutkan keningnya.
Begitupun Azazel dan lainnya yang bisa mendengar tawa seperti tengah mengejek sang Raja Iblis Lucifer.
Dan selepas tawanya itu berakhir, Naruto melakukan sebuah tindakan yang mana mengejutkan semua orang disana.
Tidak peduli status dan kekuatan dari pria di depannya, Naruto menghadiahi wajah Lucifer sekaligus iblis terkuat itu dengan sebuah air liur.
Ya, Naruto meludahi Sirzechs tepat di sisi kanan wajahnya.
"Pengampunan? Kau ingin memberiku pengampunan? Jangan bercanda, Sirzechs Gremory!"
Seirama dengan seruan setengah berteriak itu, Naruto memfokuskan Yōuki Kurama pada tangan kanan. Tombak cahaya dan bongkahan es di lokasi tangan itu langsung hancur berkeping-keping setelah diterpa pengeluaran dengan timing sempurna kekuatan dari Kurama.
Sirzechs tak sempat merespon tindakan kurang ajar Naruto karena lehernya sudah berada dalam genggaman Naruto.
"Memberi pengampunan dan membuatku kembali mengalami kejadian yang sama berulang kali?"
"Sial! Kita butuh lebih dari ini untuk menahan kekuatan Kurama dan Naruto. Ayah kenapa dirimu harus menciptakan takdir mahluk seperti mereka lahir di dunia ini?! Apa Ayah berniat menghancurkan ciptaan-Mu sendiri? Dunia ini?"
Sangat jelas Naruto mendengar Azazel berseru panik dan bermonolog agak panjang, sebab dirinya dalam waktu kurang dari tiga detik setelah mencengkram leher Sirzechs sudah mencairkan sihir es Serafall dengan mengobarkan api Kurama melalu seluruh anggota tubuh.
"Kau," Naruto menatap Sirzechs bagai predator terhadap mangsanya. "ikut denganku!" lepas itu ia langsung melesat bak peluru menyusuri jalan-jalan kota Kuoh menuju lokasi Michael dan yang lain.
"Lepaskan, Naruto!!"
"Seperti aku akan."
Ketika Sirzechs hendak mengeluarkan power of destruction, Naruto menghempaskan tubuh Maou itu pada permukaan keras nan kasar aspal lalu menyeretnya.
Debu dan bekas seretan terlihat jelas disana, dan Azazel bersama lain menyusul sedikit di atas.
"Lepaskan—Ugh, atau aku akan benar-benar membunuhmu!" ujar Sirzechs bersusah payah melepaskan cengkraman Naruto, dan disaat yang sama mencari kesempatan balik menyerang dengan kemampuannya. "Sialan, Naruto!"
"Itulah yang kuinginkan."
Naruto melempar tubuh Sirzechs pada salah satu bangunan dekat lokasi Michael, menciptakan debu disana namun tidak mengurungkan niat Naruto untuk tetap mengejarnya. Benar saja, setelah menerobos masuk, bangunan tersebut langsung hancur dari bawah ke atas menadakan sesuatu terjadi di dalamnya. Belum lagi cahaya jingga dan merah menyala-nyala disana.
Sirzechs menembus atap, tubuhnya diselimuti api dan energi merah hitam.
"Kau terlalu menganggapku remeh, sialan!"
"Baiklah, aku akan sedikit serius!"
Mengarahkan tangannya ke Naruto yang muncul dari bangunan roboh itu, power of destruction berskala besar ia lancarkan.
"Tck!" Naruto berdecak dan mengeluarkan kekuatan melebihi skala dari milik Sirzechs. Semburan api raksasa dari kepalan tangan kanannya. "Satu per satu datang lagi..." ia lantas menyiapkan tangan satunya merasakan pancaran kekuatan Azazel, Serafall, Dulio dan Okita sudah mendekat.
"...Akan kuhadapi kalian semua!!"
.
.
.
.
Dibalik sihir pelindung emas Michael dan Grayfia yang membuat meraka melayang sehabis Naruto menghancurkan gedung yang mereka pijak tadi, Rias dan iblis muda lain menatap ngeri pertempuran yang makin memanas hingga sudah mencakup level penghancuran kota Kuoh.
Satu per satu insfratruktur kota Kuoh hancur terkena serangan nyasar ataupun tubuh salah satu peserta.
Bangunan hancur, retakan besar dan panjang, cekungan raksasa, kawah yang bisa dijadikan kolam renang, kepulan debu dan asap pekat menjadi pemandangan tambahan selain darimana masing-masing dari kekuatan yang bertempur di sana.
Nyala emas dari tombak cahaya Azazel, merah dan hitam power of destruction Sirzechs, putih mengkilap es Serafall, biru petir dan merah api serta hujan buatan [Zenith Tempest] Dulio, dan terakhir jingga dari api Kurama.
""Inikah kekuatan sebenarnya dari seorang Uzumaki Naruto, Maou Lucifer, Gubernur Datenshi, Knight terkuat dunia bawah dan Pemegang [Sacred Gear] tipe [Longinus] terkuat kedua?""
Begitu kiranya isi kepala para iblis muda ini. Melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri, memaksa satu pemikiran mutlak terlintas di benak masing-masing..
'Kami tidak ada apa-apanya dibanding mereka.'
Beda para iblis muda, beda pula Michael dan Grayfia yang melayang dengan sayap mereka di luar barrier.
'Semoga tak ada yang tewas dari mereka. Naruto-dono, Kurama-dono... Apa sebenarnya yang ingin anda lakukan?' Michael memanjatkan doa selagi bertanya-tanya tujuan dari pihak yang bersebrangan dengannya sekarang ini.
Sementara itu Grayfia, wajahnya yang penuh luka lebam dan darah mengering tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari pertarungan dengan ekspresi khawatir.
'Lucifer-sama...'
.
.
[Play: Ashes Remain — End of Me]
.
.
"Enteikai: Kyuuen Hōtengeki." (Emperor Flame Command: Nine Flame Heavenward Halberd)
Dalam keadaan terlempar jauh, Naruto melirik kobaran api dari serangan terakhirnya lalu mengepal tangannya kuat-kuat.
Sembilan pilar jingga menjulang ke langit dari campuran kobaran api dan kepulan debu hitam dua ratus meter dari lokasi Naruto. Pilar-pilar itu lalu terputus dari kobaran api dan membentuk semacam trisula yang berputar-putar sebelum jatuh menghujam lokasi Naruto tadi dikroyok.
Hujaman tombak itu seketika menciptakan ledakan maha dasyat membentuk mirip jamur raksasa. Efeknya semakin membesar sampai Naruto ikut tertelan, namun tak sampai lokasi Michael yang berada di radius sepuluh kilometer.
Beruntunglah Naruto yang memiliki satu kemampuan dari keberadaan Kurama dalam dirinya, tahan api. Dengan itu dia mampu bergerak cukup leluasa dalam lautan apinya sendiri.
'Sial, Sirzechs cukup sulit Kurama. Serafall dan Okita selalu datang menghalangi, Azazel dan pemilik [Zenith Tempest] hanya ingin menghentikan pergerakanku.'
'Ganti target?'
'Yap, Rias Gremory dan Sona Sitri. Bagaimana?'
'Apa kau bisa? Disana ada Michael yang bisa dengan mudah melukai kita. Dibanding yang lain, dialah lawan paling berbahaya.' Kurama bukanlah mahluk bodoh untuk meremehkan Michael. Lima kali Naruto mengaktifkan mode gabungan mereka, hanya Michael satu-satunya yang pernah memberi luka berarti. Ya, walau sebenarnya Kurama bisa menghindarinya dengan teleport instan mereka. 'Tangeki miliknya sangat murni. Gabungan api dan Senjutsu sampai sulit untuk menghancurkan tombak yang dia ciptakan tadi.'
'Kita tak akan tahu kalau belum mencoba, bukan? Lagipula ini pertarungan terakhir kita.'
'Ya, itu benar. Mari bersenang-senang!'
'Hmm...'
Naruto berjongkok, mengambil ancang-ancang sebelum tubuhnya dilontarkan ke udara menembus kubah apinya.
Tiba di atas langit, dia bisa melihat kubah itu menelam beberapa blok perumahan. Iris biru redupnya bergerak pelan setelah mendeteksi pancaran aura lawan-lawannya dalam kobaran api.
'Begitu rupanya, apimu ternyata bisa ditahan panas dan daya hancurnya memakai Tangeki (Divine Power) dan Yōuki (Demonic Power), Kurama.'
'Ya, ya, aku sudah tahu itu, bocah.'
Naruto memutus sepihak komunikasi sambil mengarahkan telapak tangan yang dibuka ke bawah, lokasi tempat lima pancaran Yōuki dan Tangeki terasa. Di depan telapak tangannya lalu muncul bunga api yang mengeluarkan desingan kuat sebelum menjadi lima semburan api raksasa mirip ular menuju kubah di bawah sana.
Kurama akan berbohong jika tak terkejut melihat Naruto sangat cepat beradaptasi dengan kekuatan penuhnya. Di lain sisi dia juga khawatir akan apa yang terjadi pada tubuh inangnya bila memakai kekuatannya secara berlebihan, karena selama ini ia hanya memberikan paling tidak sepuluh persen kekuatannya saja.
"Oke, kurasa itu sudah cukup untuk menahan mereka paling lama semenit."
Lepas mengatakan itu, Naruto langsung melesat bak peluru memakai semburan api di kakinya. Matanya sesekali terarah pada lokasi Michael yang tengah melayang selagi mencari-cari sesuatu.
"Dapat..."
Naruto tiba-tiba berbelok tajam ke kanan, ke pusat kota Kuoh. Tujuannya adalah sebuah gedung yang masih dalam tahap pengerjaan tempat dulunya Azazel dan Vali berbincang mengenai konferensi tiga fraksi.
Mengepal tangan kanannya, Naruto menembakkan peluru api pada sebuah tiang raksasa yang menopang derek.
"Apa yang Naruto-dono lakukan?" Michael menatap bingung tindakan Naruto yang menghancurkan derek itu hingga terjatuh.
"Haaaah!!"
Sebelum derek yang terjatuh itu mencapai permukaan, Naruto menambah kecepatannya lalu mendaratkan kedua kaki pada bagian tengah derek panjang tersebut hingga terlontar menuju lokasi Michael dan Grayfia serta para iblis muda.
Rias dan lain kecuali Diehauser menatap horor derek yang terbang menuju mereka, bunyi dentingan besi dan bangunan hancur seakan memperlihatkan seberapa kuat dorongan yang diberikan Naruto. Beda halnya Michael dan Grayfia yang hanya menatapnya datar.
"Lucifuge-dono."
"Dimengerti, Michael-san!"
Grayfia memunculkan lingkaran sihir keluarganya dan menciptakan aliran es besar yang langsung menghentikan laju derek itu. Setelah berhasil, ia dan Michael mengedarkan pandangan sekaligus menajamkan sensor mancari keberadaan Naruto.
"Itu pengalihan, cari Naruto-dono secepatnya. Kita targetnya sekarang ini."
Tidak hanya kedianya, para iblis muda juga mencari-cari Naruto walau ketakutan sudah menggerogoti mereka. Diluar dugaan, Koneko yang pertama merasakan keberadaan Naruto disusul yang lain.
""Diatas!!!""
"Bagaimana bisa? Secepat itu?"
"Tehnik manipulasi ruang dan waktu, Michael-sama, saya merasakan aliran Senjutsu miliknya berubah beberapa saat." Koneko menjawab datar menyaksikan aksi Naruto di atas sana, menciptakan sembilan trisula raksasa.
"Ini buruk! Lucifuge-dono!"
"Enteikai: Kyuuen Hōtengeki."
Sebelum sembilan api terkompres sempurna dalam bentuk tombak itu menghujam, Micheal dan Grayfia bertindak lebih dulu. Grayfia merentangkan tangan hingga kubah setebal puluhan meter sudah melindungi mereka, sedang Michael memperbesar barrier emasnya dengan dirinya dan Grayfia juga sudah berada di dalamnya.
Naruto memandangi datar mahakarya miliknya di bawah sana, kubah jingga raksasa kedua kembali menggila dalam ruang lain milik Azazel, melahap area pusat kota Kuoh hingga radius lima kilometer, sedang dirinya sendiri melayang tepat di atasnya.
Melirik sejenak kobaran pertama yang mengepung Sirzechs dan lainnya, Naruto bergumam. "Lebih lambat dari perkiraan."
'Tentu saja, kau mengompres lima serangan itu lalu melepasnya dengan timing sempurna, menyebabkan api itu seolah-olah punya nyawa sendiri untuk tetap menyala.'
'Konsep Mokuton, Human Strength dan beberapa kemampuan para ninja Konoha yang kugabung tentu saja. Salah satunya menyelipkan sebagian besar Senjutsu dalam Yōuki milikmu, membiarkannya beresonansi hingga Senjutsu itu habis... Hah, lupakan saja. Mari selesaikan ini!'
Naruto mengepal tangan kananya di depan wajah, kemudian menyulut Yōuki Kurama dan Senjutsu miliknya disana. Setelah dirasa cukup, ia langsung menukik tajam menerobos lautan apinya.
"Senpō: Entei Daihoken." (Sage Art: Emperor Flame Great Breakdown Fist)
Dentuman dahsyat menggema di penjuru kota dan menciptakan gelombang kasat mata yang seketika merubah bentuk kubah api Naruto menjadi cincin raksasa yang mengelilingi kawah seluas dua lapangan bola. Tak ayal itu seketika mengubah pusat kota Kuoh hanya tinggal tanah gersang bak habis dihantam meteor.
Serangan itu, hanya berlangsung singkat namun begitu mengerikan sampai pertahanan ganda Michael dan Grayfia tak mampu membendungnya. Sekilas mereka bahkan melihat begitu dahsyatnya pukulan tunggal Naruto itu sampai menghancurkan pelindung Michael, sedang kubah es Grayfia sudah terlebih dulu meleleh ditelan api.
Mengerjap-ngerjapkan matanya, Michael memandangi area pasca kejadian, cincin api yang mengelilingi kawah perlahan mulai padam. Di berada di bibir kawah, tidak jauh darinya Grayfia tengah berusaha untuk berdiri. Mengalihkan perhatiannya ke sisi lain, ia melihat Naruto berdiri di dekat rombongan iblis yang tiga diantara mereka pingsan yaitu Diehauser, Asia dan pengawalnya.
"Na...ruto..." Rias setengah mati mencoba untuk berdiri, sayangnya dirinya terlalu syok, takut, lelah hanya untuk melakukannya.
Naruto hendak mendekati sosok Rias, namun Issei dan Kiba yang sudah bersumpah untuk melindungi Raja mereka hingga titik darah penghabisanmenekan dalam-dalam rasa takut dan juga lelah yang dialami. Mereka berdua sudah berada di depan Rias dengan kuda-kuda bertarung terpasang mantab.
"Aku tak punya banyak waktu..." Naruto bergumam pelan hampir berbisik. Ia harus segera memenuhi permintaan Kurama sebelum terlambat.
[Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost]
[Overboost]
[Welsh Dragon Balance Breaker]
Saking besarnya tekad Issei, [Boosted Gear] bersama Ddraig merespon dengan aktifnya Balance Breaker.
Baik Issei, Rias maupun yang lain terkejut akan itu. Pasalnya Issei sudah hampir pingsan setelah melawan Vali. Issei sendiri, agak bingung namun ia mengabaikan itu dan fokus untuk menahan Naruto sebelum Lucifer dan yang lain kembali. Aah, otaknya mulai agak encer untuk tak bertindak gegabah.
Namun itu tak berlaku untuk Naruto. Ia memandang datar hal itu sebelum mengambil tindakan cepat.
Hanya butuh waktu dua detik untuknya menumbangkan Kiba dengan satu lesatan dan sebuah tendangan.
"Kiba!!!"
Issei berteriak dan hendak bergerak. Hanya saja, sebelum ia sempat meninggalkan tempatnya barang seinci, Naruto muncul di hadapannya. Dibalik helm-nya, Issei lantas terkejut bukan main dan rasa takut yang lebih besar muncul dari mahluk di depannya.
Ia bukan melihat sosok Naruto, melainkan sosok yang begitu besar, mengerikan dan menakutkan dengan pandangan kosong.
"Jangan menghalangiku. Ketahui batasanmu!"
Tanpa ampun, Naruto menjejalkan bogem berbalut Senjutsu dan sedikit Yōuki Kurama pada Issei yang ketakutan setengah mati sampai tak mampu bergerak. Tekad Issei tadi, sudah menghilang entah kemana ditelan rasa takut.
Bunyi besi yang hancur disusul suara daging remuk, darah yang tercecer dan tulang patah menjadi suara terakhir yang didengar Issei sebelum kesadarannya ditelan kegelapan dan ambruk.
"Is—Ugh!"
Rias, yang hendak meneriaki pion miliknya tak sempat melakukannya karena Naruto kembali bergerak dengan cepat dan mengcekik dirinya.
Ia menutup pasrah matanya karena tak tahu dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekilas dia merasakan Naruto kembali bergerak masih dalam keadaan mengcekiknya. Tau-taunya ketika membuka mata, Sona juga sudah dalam posisi yang sama. Ia di tangan kiri, dan sahabatnya di kanan.
"Kalian berdua, mat—"
Baru saja Naruto ingin menyelesaikan urusannya entah bagaimana caranya, ia terpaksa melepas kedua gadis itu dan menyilangkan lengan di depan dada dengan telapak mengarah ke samping.
Semburan api raksasa ia lepaskan dari telapak tangan kalah dua serangan berupa naga air kolosal dan aliran energi merah yang tak sedikit jumlahnya dalam kecepatan tinggi hampir saja menewaskannya. Bukan apa, dia merasakan Yōuki terkuat dari Serafall dan Sirzechs dari dua serangan itu.
Jadilah di tengah-tengah kawah itu tiga kekuatan saling beradu hingga menjulang tinggi ke langit.
Naruto mengerahkan semua kekuatannya untuk menahan dua serangan itu, namun ketika dirinya tengah berjuang, tombak sepanjang satu meter menembus perutnya.
"Uhuk..." Ia memuntahkan banyak darah, dan disitulah perjuangannya berakhir. Tangannya mulai kehilangan tenaga, sebelum kalah dalam adu serangan, dia mengerahkan semua Senjutsu sejumlah besar Yōuki Kurama untuk melindungi diri. 'Sialan!'
"Azazel, sekarang!!!"
Mendengar teriakan Sirzechs, Naruto menoleh ke atas ketika merasakan pancaran aura orang yang diteriaki sang Lucifer dari sana.
"Maaf, Naruto. Inilah akhirnya dan kami tak bisa lagi mentolerir semua tindakanmu."
Lepas mengatakan itu, tombak cahaya dalam jumlah banyak berjatuhan dari lingkaran sihir yang Azazel ciptakan.
Benar yang dikatakan Azazel, inilah akhirnya. Kedua tangannya juga habis tenaga, jadilah dirinya dihantam tiga serangan telak, walau begitu ia berharap Senjutsu dan sejumlah besar Yōuki Kurama bisa untuk tidak membuatnya tewas agar bisa berbicara untuk terakhir kalinya bersama sang partner.
Beruntung, harapannya terkabul. Lepas diobrak-abrik sihir air Serafall, power of destruction Sirzechs dan hujanan tusuk gigi besar Azazel. Dirinya masih selamat dan terseok-seok untuk tidak ambruk walaupun keadaanya sudah bisa dibilang diambang kematian.
"Benar-benar mengejutkan. Kau berhasil lolos dari tiga serangan mematikan itu, Naruto. Bahkan masih mampu berdiri."
Naruto menyeringai dibalik ekspresi menahan rasa sakitnya di sekujur tubuh terutama perut. "Aku tak ingin berakhir dengan sebuah serangan kejutan seperti tadi." ia berujar dengan suara parau. 'Terlalu fokus dan bernafsu membunuh Rias dan Sona membuatku lupa pada Azazel dan lainnya. Sialan!!'
'Maaf Kurama.'
'Ya, mau bagaimana lagi. Tak apa, setidaknya kau memberikan tarian terakhir yang begitu mengagumkan. Itu sudah lebih dari cukup. Kau mampu berbuat sejauh ini seorang diri melawan mereka semua. Tak pernah dalam hidupku aku melihat pertarungan seperti ini.'
'Kau yakin tak apa? Aku tak mampu mengabulkan permintaanmu.'
'Sudah, lupakan saja. Simpan sisa-sisa tenaga dan Senjutsu-mu untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.'
'Yang akan terjadi selanjutnya?'
'Kau akan tahu nanti.'
Sebelum dirinya kembali berbicara dengan Kurama, Naruto harus kembali merasakan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya kala Azazel menghujamkan puluhan tobak untuk menahan pergerakannya.
Kini, posisinya dikepung puluhan tombak cahaya yang menancap pada permukaan tanah di sekitarnya, dan bergerak seinci saja akan mengakibatkan rasa sakit lain.
Matanya bergerak ke depan, disana ia melihat Michael menciptakan satu tombak dan diserahkan ke Sirzechs yang melapisi tangan dengan power of destruction. Kemampuan turunan Bael itu lalu mengalir ke sekeliling tombak Michael, dengan kontrol sempurna Sirzechs mampu melakukan hal ini.
"Eksekusi langsung di tangan orang yang dulu mati-matin kulindungi wilayah dan adiknya... Berakhir begini tidak buruk juga, pada akhirnya kutukan memang benar sudah merusak takdirku. Inilah akhir untukku."
Lepas mengatakan itu dengan suara hampa, Naruto menulikan pendengarannya, membutakan penglihatannya dari Sirzechs yang berceramah panjang lebar disana. Ia lebih memilih untuk menerbangkan pikirannya entah kemana agar semuanya berakhir tanpa rasa sakit. Mungkin ini yang dimaksud Kurama kenapa menyuruhnya menyimpan tenaga dan Senjutsu.
Dibanding rasa sakit akan kematian yang akan dia alami sebentar lagi. Rasa sakit dari dalam benaknya lebih parah lagi.
Dirinya, keberadaanya dikutuk.
Entah dirinya, orang terdekatnya, akan dibunuh! Bukan mati, karena mati dan dibunuh adalah dua hal berbeda. Mati bisa karena penyakit atau umur, sedang dibunuh sama halnya direnggut paksa.
Itu sudah terjadi. Izuna, Tobirama, Karin, Hina-chan dan penduduk Konoha sudah termakan kutukan itu. Belum lagi orang-orang terdekarnya di masa lalu yang belum sempat ia ingat, yang mana kemungkinannya pasti ada yang dibunuh, contohnya saja adalah sang ibu yang dikatakan Kurama mati bukan karena dirinya, dengan kata lain dibunuh.
Itu salah satu kutukannya. Kutukan lainnya adalah orang-orang terdekatnya yang ingin membunuhnya, bahkan bila ia pernah berbuat kebaikan kepada mereka.
Ingin rasanya Naruto tertawa dalam keputusasaan tentang hidupnya.
Dia tak buta akan kenyataan bahwa kutukan itu mulai bekerja. Ia melihat, menyaksikan dan merasakan orang-orang terdekatnya atau yang pernah dekat dengannya kini berbalik untuk membunuhnya.
Rias Gremory, Sirzechs Gremory, Souji Okita, Serafall Sitri dan Azazel di depannya saat ini.
Lalu, dua anggota keluarganya. Orang yang dia anggap kakak, Madara Uchiha dan adik yang tak dia ingat, Vali Lucifer. Beberapa saat lalu dengan kebencian teramat sangat mendeklarasikan ingin membunuhnya dengan dua alasan berbeda. Madara karena dirinya adalah manusia keturunan iblis Lucifer, dan Vali karena dialah penyebab sang ibu tewas.
Terlepas dari itu. Dia tak bisa membayangkan jika kutukan itu juga melalap keluarganya selain Madara dan Vali.
Dia tak bisa membayangkan jika Yuki, Hashirama, Hilda, Yasaka, Kunou dan Jiraiya, serta beberapa orang yang dekat dengannya dibunuh atau ingin membunuhnya.
Itulah alasan dibalik dirinya yang ingin mati saat ini juga. Akhir darinya. Dengan kematiannya, kutukan itu akan berakhir. Ia tak perlu lagi menyaksikan kutukan itu kembali terjadi dan membuatnya semakin merasakan rasa sakit lebih jauh lagi.
Dengan mati, dia bisa melarikan diri dari rasa sakit—
'—Eh!?'
Tiba-tiba saja, Naruto mengalami sesuatu, lebih tepatnya mengingat sesuatu hingga membuatnya tersentak.
'ITU DIA, BODOH!!'
Bersamaan dengan itu, Kurama berteriak sekencang-kencangnya dari dari dalam tubuhnya. Lalu, secara sepihak dirinya ditarik ke alam bawah sadarnya.
.
.
[Play: Next to you — Parasyte OST]
.
.
"Kenapa kau melupakan semuanya, hah? Hanya karena beberapa ingatan buruk yang kau lihat, ingatan yang mana itu hanyalah sebagian kecil masa lalumu?!"
Dari setiap kata yang terucap dari mulut Kurama, Naruto bisa merasakan kemarahan dan kekecewaan didalamnya.
"Masih ada ingatan lain yang belum kau lihat, kenapa kau tidak mengingat kenangan indahmu selain ingatan dan kenangan buruk yang hanya kebetulan semata terkait dengan kutukan mahluk-mahluk sialan itu?"
Lagi dan lagi, Kurama mulai memborbardir serangan verbal ke Naruto. Sebenarnya ia sudah memikirkan semua ini. Hanya saja, ia merasa Naruto tak akan mendengarkannya bila otak dan mental pemuda itu fokus pada satu hal saja.
Seperti yang Kurama katakan sebelumnya. Ia mengenal Naruto luar dan dalam. Ambisius, egois, keparat dan keras kepala. Jika tak didukung oleh kondisi pikiran dan mental yang memadai, akan sulit untuk mematahkan sifat-sifat bocah itu.
Kurama masih mengingat jelas, dikali pernah Naruto menggunakan Senpō: Museigen no Furu Pawā. Saat itu, Naruto merasa putus asa dan tak tahu lagi harus bagaimana kecuali mengalahkan orang yang menjadi lawannya. Tidak peduli apapun yang dikatakan Kurama, Naruto hanya fokus pada satu hal. Hingga pada momen Naruto hampir tewas, disitulah Kurama mengatakan hal yang seketika menyadarkan inangnya.
Menyadarkannya untuk menyerah bertarung mempertaruhkan nyawa hanya untuk hal sia-sia. Kurama waktu itu mengatakan bahwa ada orang yang menunggu kepulangannya, ya walau Naruto menanggapinya salah. Mengira maksud Kurama adalah Rias Gremory, padahal Yasaka dan Kunou.
Tapi setidaknya, ia berhasil menghancurkan sifat keras kepala dan ambisius Naruto, sekaligus menyelamatkan pemuda itu.
Dan, sekarang ini. Kejadian yang sama harus Kurama lakukan sekali lagi.
Sejujurnya, Kurama merasa kalau tadi, sebelum Naruto dihimpit balok es dan ditusuk tombak cahaya tangannya, lebih tepatnya ketika Naruto dipaksa oleh pikirannya sendiri, ia bisa mengubah pikiran inangnya itu serta keputusan untuk mat itu. Hanya saja, teriakan sama sekali tak didengar Naruto, dan baru kembali setelah ditusuk kedua tangannya.
"Izuna dan orang-orang terdekatmu direnggut bukan karena omong kosong kutukan itu, melainkan karena memang sudah takdirnya."
Naruto terkesiap, "Tapi, mereka—"
"Sudah kubilang itu sudah takdir mereka!" salip Kurama sebelum Naruto menyelesaikan. "Semua yang telah terjadi adalah takdir. Aku bertemu dan disegel dalam tubuhmu juga takdir, kau ditemukan Jiraiya dan menjadi bagian dari Konoha juga takdir. Entah siapa yang merancangnya. Mereka yang telah direnggut darimu memang sudah tiada dalam bentuk fisik, namun selama kau masih mengingat mereka tak berarti telah mati. Seseorang baru dikatakan mati ketika dia dilupakan. Camkan itu dalam kepala kerasmu!" (1)
Naruto tak bisa lagi mengeluarkan argumen apapun. Sepertinya, Kurama perlahan-lahan mengangkat inangnya dari jurang keputua-asaan.
"Niatku sebenarnya ingin mengatakan ini diawal-awal tadi, namun seperti yang kukatakan." Kurama mengambil jeda sejenak, mengambil nafas yang lupa dilakukan dikarenakan terlalu banyak berbicara. "Akulah yang paling tahu dirimu luar dalam, bocah!"
"Terimalah masa lalu itu namun jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada apa yang kau punya sekarang ini, dan yang ingin kau lakukan di masa depan, tujuanmu. Apa kau ingin membiarkan mereka yang merenggut orang-orang terdekat di masa lalumu berkeliaran bebas?"
Terkejut, tentu saja Naruto terkejut sekaligus merutuki dirinya yang sampai bisa melupakan tujuannya hanya karena terlalu putus asa dan hanya memikirkan kutukan itu lalu mati. Ia sekarang ini hidup untuk menghancurkan golongan pengikut raja iblis terdahulu, dan juga orang yang telah merenggut, membunuh ibunya dan Vali.
"Dan yang paling penting... Apa kau ingin meninggalkan Yuki, Vali, Kunou, Yasaka dan yang lain? Membuat mereka sedih akan kematianmu? Mereka semua masih membutuhkanmu, menginginkamu hidup, menunggu kepulanganmu bahkan jika dirimu adalah keturunan dari Lucifer, mahluk yang memang dari awal dikutuk keberadaannya."
Setiap kata yang terucap dari mulut Kurama semakin membuat rasa sesal dalam diri Naruto bertambah karena melupakan hal sepenting itu. Kurama benar, ia memang kehilangan orang-orang terdekatnya, namun karena itu pula dirinya masih hidup hingga saat ini.
Sementara untuk orang-orang yang ingin membunuhnya, ia mulai mengabaikan hal tersebut.
"Jadi, katakan sekarang juga. Katakan kau masih ingin hidup untuk semua yang kukatakan sebelumnya?"
Seketika, mata biru Naruto yang tadinya benar-benar kehilangan cahaya, memancarkan sinarnya kembali. Ia mendongak, memperlihatkan ekspresi serius kepada Kurama.
"Ya, aku masih ingin hidup!"
"Hidup sebagai mahluk yang dikutuk keberadaannya untuk membunuh mereka yang merenggut orang-orang terdekatku, serta hidup melindungi apa yang penting untukku agar tidak direnggut lagi."
"Dan sekarang adalah gilaranku untuk mengatakan hal sebenarnya sudah kukatakan sejak pertama kali kita berkenalan, hanya saja kau waktu itu masih bocah yang terlalu polos untuk mengerti." Kurama menyeringai dalam luapan emosi yang kini memenuhi dirinya dan Naruto.
"Aku bersumpah demi gelarku sebagai pemimpin ras Youkai. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku sudah pernah berjanji, bukan? Dan kau tahu? Walau itu hanyalah sebuah janji, namun itu adalah janji terbaik yang pernah kubuat dan sampai kapan pun dan tidak peduli apapun yang ingin kau lakukan akan tetap kupertahankan. Bahkan jika kau ingin menghancurkan dunia sekalipun!"
"...I-itu...?!"
Kurama mengangguk tau lanjutan dari kalimat yang akan diucapkan inangnya.
Sementara Naruto, setelah mendapatkan kepastian dari partnernya langsung menundukan kepalanya. Ia ingat betul kalimat yang barusan Kurama paparkan. Itu adalah janjinya kepada Yuki. Seketika, pikirannya dipaksa kembali ke kenangan satu tahun lalu, menuju ke kejadian bertemu Yuki dan mengucap janji itu.
[Aku tak akan meninggalkanmu. Aku sudah pernah berjanji, bukan? Dan kau tahu? Walau Itu hanyalah janji, namun itu adalah janji terbaik yang pernah aku buat dan sampai sekarang masih aku pertahanankan. Untuk merubah hal yang sering kau impikan itu menjadi sebuah kenyataan]
[Janji?]
[Iya, janji!]
[Terima kasih...]
[Onii-chan. Mulai sekarang kau adalah adikku...]
[... Onii-chan...]
Naruto lantas menadahkan kepalanya. "Apa yang telah kulakukan, Kurama?"
Kurama mendengus, "Lupakan saja itu. Bukannya ada hal yang lebih penting lagi harus kau sele—Siala—"
Mata Naruto melebar sempurna atas apa yang terjadi di hadapannya. Sebelum Kurama menyelesaikan ucapannya,
"Kurama...?"
Rubah raksasa itu, tubuhnya mengurai menjadi serpihan cahaya jingga dan dalam hitungan detik menghilang dari hadapan Naruto.
"...KURA—Ugh, apa yang terj—"
Dan kini tiba gilirannya. Rasa sakit teramat sangat menghujani pada bagian dada dan perutnya dalam satu detik, pandangannya mulai mengabur.
"Jangan bilang... Semua sudah terlamb—"
.
.
.
.
.
[TBC!]
[TrouBlesome Cut!]
Yo, lama tak bertemu Fanfic Daybreak ini. Sebelum membahas apa yang terjadi sampai Chapter ini, saya ingin minta maaf atas terlalu lamanya saya tidak Update Fanfic Multi-chapter dari Author Brengzeck-id 014 ini. Intinya itu, Ya maap karena lama menelantar Fanfic Multi-chapter.
Oke, sekarang kembali ke pembahasan apa yang terjadi di Chapter ini sekaligus menjawab beberapa pertanyaan di kolom Review.
Hoho, Naruto mengamuk ternyata. Bisa dibilang apa yang terjadi pada Naruto di Chapter ini hampir mirip dengan yang menimpa Monkey D. Luffy di Post-War Marineford. Ketika dia sudah sadarkan diri di pulau Wanita. Singkatnya saja, Naruto setelah melihat kepingan kecil ingatannya yang mana itu gambaran orang-orang mengutuknya telah membantai klan mereka, Naruto langsung mengaitkan kutukan itu dengan kejadian-kejadian yang sudah dia alami. Hingga pada akhirnya Naruto mengalami yang namanya putus asa tak bisa menerima semua itu dan seketika ingin mati saja agar tidak semakin banyak yang terkena kutukan.
Sayangnya, Kurama berhasil menyadarkan Naruto, sama halnya Luffy yang disadarkan Jimbei.
Well, sebenarnya kalau dipikir-pikir, sebagian besar orang memang seperti ini. Ketika sedang mengalami depresi dan putus asa, mereka akan cenderung mengingat hal-hal yang membuat mereka merasa seperti itu, dan hal-hal penting menurut mereka terkadang di lupakan. Mungkin seperti itu, kurang lebih.
Untuk Shinn Kazumiya dan mengatakan Naruto sudah OverpoweredYa kekuatan Naruto kalau diukur dari kekuatan saja masih dibawah Indra dan Shiva. Itupun bukan kekuatan Original Naruto karena adanya Kurama. Hmm, apakah hanya dengan Senjutsu dan Kekuatan Kurama yang diatas Yasaka dan Sun Wukong bisa dikatakan Overpowered? Entahlah, intinya di Chapter ini Naruto bertarung secara all out dengan segala yang dia punya, walau masih pilih target dan melakukan serangan mematikan ke targetnya saja.
Di Chapter ini kalian juga pastinya sudah tahu kenapa mengatakan Naruto bisa dibilang sekuat Karna di Fate Series. Untuk Shinn Kazumiya lagi, kalau Karna sangat gila karena solo melawan alien penguasa Planet Mars, di Chapter ini Naruto juga sangat gila bertarung solo melawan Azazel, Okita Souji, Serafall, Dulio, Michael, Grayfia dan Salah satu Strongeat Being Sirzechs Lucifer, wkwkwkwkwkw.
Dan saya juga mengatakan Naruto tidak sembarangan menyerang dengan api Kurama karena hanya beberapa orang yang ingin dia bunuh. Bagaimana kalau sembarangan? Asal tembak api Kurama yang daya hancurnya selevel dengan Power of Destruction dalam skala besar? Jangankan Kuoh, Jepang saja Naruto bisa ratakan loh dengan api Kurama kalau dia mau.
Ya, walaupun saya menggantungkan ending Pertarungan mereka. Entah Naruto beneran mati ditusuk tombak cahaya bercampur Power of Destruction, atau selamat.
Silahkan berspekulasi. Dan sekedar informasi, saya tak suka loh MC yang selalu menang dalam setiap pertarungannya :v
Soal scene pertarungannya. Ya maap kalau cuma segini. Ini kali pertama membuat scene pengeroyokan berskala satu kota yang menjadi arena. Sangat luas dan dampak pertarungan sangat gila.
(1) Penggalan kalimat dari perkataan Dr. Hiluluk di One Piece. [...Orang baru mati ketika mereka dilupakan.]
[Issue for Next Chapter: Daybreak 29.1 — Arc III Epilogue! End of Me! Run Away From Pain]
Oke, itu saja sepertinya. Mohon maaf kalau ada kekurangan...
Mau bobok cantik bareng Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu...
Brengzeck-id 014 beserta mereka yang ikut serta dalam proyek Fanfic Daybreak ini... Out!!
Salam Lolicon dari Author Lolicon ini...
Ciao~~
