Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Anime, Light Novel dan Game dalam Fanfic ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!

Note: Ini hanya bagian kedua dari Chapter 29 kemarin, sekaligus menjadi Epilogue dari Arc III.

Ok, itu saja. Selamat membaca!

.

.

.

[Arc III]

[Early and Late Epilogue]

.

[Chapter 29.1]

[Daybreak Finale — End of Me! Run Away From The Pain]

.

.

.

.

.

"Astaga, dia benar-benar keturunan Lucifer. Bahkan disaat-saat terakhir mereka pun sama. Tidak menyerah pada nasib, dalam keadaan kematian sudah di depan mata, masih saja bersikeras."

Azazel berkomentar setengah bercanda setelah dirinya bersama tiga pemimpin lain berdiskusi mengenai apa yang terjadi.

Beberapa saat yang lalu, tepat dimana tombak cahaya Michael yang dilempar oleh Sirzechs, dalam keadaan tak mampu berbuat apa-apa lagi Naruto yang mungkin tubuhnya bereaksi sendiri atau Kurama yang mengambil alih sesaat sebelum ajal menjemput mereka melakukan perlawanan terakhir.

Perlawanan itu berupa mengaluarkan api jingga dari seluruh tubuh untuk menghancurkan tombak-tombak di sekitar tubuh mereka.

Sayangnya, merema terlambat. Sebelum api tersebut membesar dan menghancurkan semua senjata berbasis cahaya itu, tombak berlapis power of destruction sudah lebih dulu menembus kobaran api itu, menancap tepat pada lokasi jantung yang memang ditargetkan oleh sang Pengeksekusi, Sirzechs Lucifer.

Mereka semua, kecuali Issei dan Diehauser yakin seratus persen bahwa Naruto tewas tertusuk, lalu melebur tanpa menyisahkan apapun seperti mahluk supernatural umumnya ketika mati menurut Azazel dan yang lain. Adanya suara benda tajam menamcam pada daging, serta sensor Koneko yang tak lagi merasakan Senjutsu ataupun life force dari Naruto maupun Kurama beberapa saat setelahnya.

Ingin berspekulasi bahwa mereka mengeluarkan api lalu melakukan teleport akan sulit untuk diterima. Sebabnya, Azazel mengatakan hal tersebut sangat mustahil terjadi. Karena tehnik teleport Naruto yang hanya bisa berpindah-pindah pada ruang sama tak bisa dipakai untuk keluar dari sini, jikapun berteleport untuk lolos dari tusukan, Koneko dan yang lain pastinya merasakan keberadaan Naruto atau energi yang dipancarkan.

Belum lagi untuk melakukan teleport dalam mode biasa, Naruto perlu membuka portal dan itu tentu saja tak bisa dilakukan dalam rentan waktu sedetik, bahkan jika reflek dan respon gila pemuda itu dipakai sekalipun.

Lalu, kemungkinan lain dari Michael. Ada seseorang yang mengambil Naruto dari luar dimensi buatan Azazel. Itu lebih tak masuk akal lagi bagi Azazel. [Sacred Gear] buatannya ini hanya bisa perpindahan satu arah dan yang mengontrolnya adalah sang pengguna sendiri. Itupun harus menghapus ruang yang diciptakan untuk memindahkan orang-orang, dengan kata mereka semua ikut juga dikeluarkan.

Tidak hanya itu saja, segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dan itu meloloskan Naruto dari kematian mereka sudah diskusikan selama beberapa saat. Namun tak ada satu pun yang bisa membuktikan Naruto berhasil lolos dari mereka, karena semua kemungkinan itu dipatahkan dengan mudah oleh Azazel maupun Sirzechs.

Maka dari itu, setelah mempertimbangkan segala tindakan Naruto selama konferensi berlangsung. Mau tidak mau, aliansi tiga fraksi Injil yang menginginkan perdamaian tercipta di dunia menyatakan bahwa...

... mantan pelindung Rias Gremory dan ketua divisi penghancur Dunia Bawah, inang dari pemimpin sebenarnya dari Ras Youkai, Manusia keturunan setengah iblis Lucifer, dan Eksistensi yang sempat digadang-gadang oleh Michael dan Azazel menjadi penerus malaikat terkuat Kushiel, Naruto Lucifer...

...adalah musuh yang telah dinyatakan tewas!

Azazel, yang tadinya sempat memperlihatkan wajah setengah bercanda menghela nafas. Pandangannya lalu dialihkan menuju lokasi Naruto tewas dan seketika ekspresinya berubah sedih. Ia menyakasikan sisa-sisa tombak miliknya mulai hancur menjadi serpihan cahaya keemasan yang beterbangan ke langit seolah-olah itu adalah sisa-sisa jiwa Naruto.

"Walau kami menetapkanmu sebagai musuh. Untukku pribadi yang sudah mengenalmu dua tahun lebih, kau adalah kawan bicara yang menyenangkan. Kawan yang bisa diandalkan. Salah satu orang terhebat yang pernah kukenal." Azazel berujar dengan nada menyiratkan rasa kehilangan yang sangat dalam. Ia sama sekali tak menyangka akan seperti ini nasib dari kawannya itu. Ia kemudian menunduk,

"Beristirahatlah dengan tenang, kawan!"

Mendengar ucapan Azazel, beberapa orang disana ikut menundukkan kepala dalam diam. Mereka adalah Michael, Dulio, Pengawal Michael dan Asia.

Masing-masing dari mereka punya alasan tersendiri kenapa bertindak sama seperti Azazel.

Namun, hal tersebut tak dilakukan oleh fraksi iblis kecuali dua orang, yang salah satunya adalah Asia Argento.

Sirzechs, setengah dari dirinya sebenarnya ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, sisi lain dirinya menolak hal tersebut. Bahkan apa telah diberikan pemuda itu untuk adik, bangsa dan wilayahnya.

Ingin membandingkan antara tindakan Naruto selama berada di bawah naungannya dan tindakan yang dilakukan malam ini pastinya akan berat sebelah. Namun setelah hampir membunuh Rias Gremory dua kali, melukai keluarga iblis adiknya, meludahi wajahnya dan mengancam tujuannya untuk perdamaian dunia membuat Sirzechs melupakan semua kebaikan yang pernah diperbuat oleh Naruto. Menyebabkan dimatanya Naruto tak lebih dari seorang pemberontak yang harus dilenyapkan.

Sifat alami iblis, mungkin.

Serafall pun sama sepemikiran. Bahkan Raja Iblis Leviathan ini tadinya benar-benar ingin membunuh Naruto dengan serangan sihir air terkuat yang ia miliki ketika adiknya hendak dibunuh.

Sedangkan Rias. Gadis ini, sejak Naruto tewas kesadarannya langsung menghilang, sebab mental yang dia miliki terguncang hebat.

Para iblis muda lain, hampir mengalami hal sama, hanya saja mereka tak sampai pingsan kecuali Issei dan Diehauser.

Terakhir Grayfia. Sejak menerima serangan terakhir Naruto untuknya, raut wajahnya kembali seperti semula. Datar.

Kembali ke Azazel. Setelah selesai melakukan penghormatan dalam diam, dia menadahkan wajah ke langit dimensi buatannya. Dia tersenyum, namun itu bukan senyum bercanda atau senang. Itu adalah senyum yang menggambarkan perasaannya saat ini. Sedih, kecewa dan kehilangan.

Sejenak dia mengabaikan fakta bahwa tiga fraksi Injil telah mengambil langkah awal menuju perdamaian. Sebuah perjanjian kerjasama untuk mencapai hal itu, perjanjian yang mengadopsi nama tempat konferensi berlangsung. [Perjanjian Kuoh] itulah nama yang akan dipakai.

Itu adalah langkah yang besar untuk tiga fraksi Injil, termasuk fraksinya. Namun, langkah tersebut harus dibayar cukup mahal bagi pihak Azazel. Baik sebagai pemimpin, maupun pribadi.

Dia kehilang tiga hal. Puluhan anak buah yang loyal dan patuh, murid terbaik sang Hakuryuukou, dan satu teman terbaik. Jelas ini adalah sebuah kehilangan yang sangat besar bagi Azazel.

Lebih dari itu, ada yang lebih menyakititkan lagi,

"Aku... bahkan belum menyucapkan salam perpisahan."

.

.

.

Azazel memulai proses pengeluaran dari dimensi buatan [Sacred Gear] miliknya. Meninggalkan lokasi bekas pertarungan yang mana kali pertama terjadi sejak Great War berakhir tiga pemimpin bekerjasama melawan satu musuh, ya hanya satu. Lucunya, dia hanyalah manusia setengah iblis.

Walau musuh itu harus menerima kekalahan telak hingga tewas, namun untuk ukuran ras terlemah—walau hanya setengah, bertarung solo melawan tiga pemimpin yang kekuatannya lebih dari kata kuat saja ditambah bawahan terkuat ketiganya merupakan sebuah pencapaian luar biasa andai kata dunia mengetahuinya.

Ya, andai kata dunia mengetahuinya.

Setibanya di dunia manusia tepatnya akademi Kuoh, Sirzechs langsung memerintahkan Grayfia dan budak iblis Rias untuk membawa yang terluka ke tempat aman untuk memulihkan kondisi mereka.

Kini tinggallah Azazel, Michael dan Sirzechs, serta Dulio dan pengawal pemimpin Malaikat di halaman sekolah yang kondisinya tak bisa dibilang bagus lagi.

Azazel menoleh ke sang Raja Iblis.

"Sirzechs, apa kau bisa menjamin mereka bisa tutup mulut soal kejadian dalam dimensiku tadi, terutama Naruto?" dia memulai dengan sebuah pertanyaan. "Sebenarnya aku ingin mendiskusikan ini dipertemuan selanjutnya, namun kutakutkan ada kebocoran informasi terjadi."

Saat dihadiahi tatapan bingung dari Sirzechs dan juga Michael, Azazel mendesah.

"Sudah kuduga kau tidak mengetahui alasanku ingin menyembunyikan informasi kematian Naruto. Dia memang sudah mati, namun apa yang akan timbul karena kematiannya yang kutakutkan. Sejauh yang kutahu, koneksi yang dimiliki Naruto adalah Yasaka karena keberadaan Kurama."

"Naruto memiliki hubungan dengan Yasaka? Bukannya kau bilang Kurama sudah menghilang sangat lama?"

"Ya, dia punya." Azazel membenarkan. "Bukan hanya itu saja, bagaimana kalau dia punya koneksi selain Yasaka? Kau ingat, dia pernah menghilang selama beberapa tahun. Kita sama sekali tak mengetahui dimana dia selama itu, apa yang dilakukan, dan siapa yang ditemui."

"Masuk akal." Michael mengangguk. "Untuk mencegah tindakan balas dendam dari pihak-pihak itu, bukan?"

"Itu maksudku. Sasuga Tenshi-sama! Otaknya encer juga ternyata. Kukira isinya cuma Tuhan, Tuhan, Tuhan dan Tuhan saja." seru Azazel sedikit bercanda, memang sudah bawaannya dia tak mau serius terus menerus. Dia hanya terkekeh pelan kala diberi delikan tajam oleh Michael. "Maa, maa... Aku cuma bercanda, kawan."

"Candaanmu sama sekali tak lucu, Azazel."

"Ya, maaf." Azazel tersenyum riang, jarang-jarang bisa membuat Michael sejengkel itu padanya sampai mendelik. Ini juga dia lakukan agar bisa melupakan sejenak rasa sedih dan kehilangan dalam hati yang tengah mendera. "Oke, lupakan saja. Mari kembali serius."

"Dih..." dan Michael cuma bisa mengeluarkan aneh dari mulutnya.

"Baiklah, untuk urusan Yasaka. Biar aku yang akan mengurusnya. Aku akan ketempatnya dengan kedok mengajukan proposal ikut serta dalam aliansi ini. Tinggal mencari alasan yang tepat untuk mengelabui rubah seksi itu mengenai kematian Naruto. Lagipula, yang kutahu hubungannya dengan Kurama kubilang tak cukup baik dari cerita Naruto, ya itu kalau dia tak membohongiku, hanya saja tak pernah melakukannya."

Baik Sirzechs maupun Michael hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Sirzechs juga berpikir, memang tepat Azazel yang menemui Yasaka mengingat ada sedikit keraguan bila ia yang pergi, keraguan Yasaka mau menerima kedatangannya dengan baik. Belum lagi jika Yasaka tahu apa yang telah diperbuat adiknya terhadap Naruto, entah apa yang akan terjadi. Membayangkannya saja Sirzechs tahu akan seperti apa jadinya.

"Masalah Yasaka kalian setuju, kan?" lagi, kedua pemimpin itu mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan Azazel. "Nah, untuk koneksi Naruto yang tidak kita ketahui bisa dikesampingkan karena ada yang lebih mengkhawatirkan lagi."

Michael, Sirzechs bahkan Dulio dibuat terkesiap. Ada yang membuat Azazel sekhawatir itu. Baru kali ini mereka melihatnya. Mereka berpikir, itu adalah Khaos Brigade bentukan Ophis, sayangnya bukan.

"Kekuatan misterius yang telah menampakkan diri setelah lama bersembunyi. Senju Hashirama, Uchiha Madara, dan gadis menakutkan bernama Hilda." jelas Azazel dengan mata mengeluarkan kilatan tajam bahwa mereka yang ia sebut bukanlah mahluk sembarang. "Mereka telah memperlihatkan pada dunia, pada kita. Dua eksistensi yang tak bisa dibilang lemah, Katerea Leviathan dan Kokabiel mereka kalahkan tanpa luka berarti, membuktikan mereka benar-benar bisa menjadi ancaman serius. Apalagi jika mereka tahu kita telah membunuh Naruto."

"Tunggu—"

"Aku belum selesai." sela Azazel terhadap Sirzechs yang nampaknya hendak mengemukan sesuatu. "Dan yang paling berbahaya... Hakuryuukou terkuat sepanjang masa, Vali Lucifer."

"Aku tahu yang ingin kalian katakan. Mereka saat ini saling membenci, bukan? Baik Vali maupun Uchiha ingin membunuh Naruto."

"Itu yang ingin kukatakan." Sirzechs berseru, lalu berpikir sejenak kenapa harus mengkhawatirkan tiga manusia itu dan Hakuryuukou. "Tunggu dulu...!" detik selanjutnya, dia menemukan jawaban. "Jangan bilang kalau mereka akan mengalihkan sasaran mereka ke kita karena telah membunuh Naruto?"

Azazel menggeleng pelan. "Tak sepenuhnya benar. Kau hanya benar pada kita yang akan menjadi sasaran karena telah membunuh Naruto. Alasannya yang salah, mereka berempat, ingin membunuh kita atas dasar balas dendam. Mereka berempat hidup membawa dendam. Uchiha, Senju dan gadis itu terhadap iblis golongan Raja Iblis Terdahulu, dan Vali pada kakeknya."

Setelah mengkoreksi prangka dari Sirzechs, Azazel mulai menjabarkan alasan dia khawatir pada empat mahluk yang dalam nadi mereka mengalir darah manusia, ras terlemah dengan potensi tak berdasar, tak punya batasan untuk tetap berkembang.

"Sejak awal aku mulai curiga pada Vali, awalnya kecurigaanku mengarah ke Khaos Brigade, ternyata benar. Dia bagian dari kelompok teroris bentukan Ouroboros Doragon. Hanya saja, semuanya berubah setelah insiden Kokabiel. Pasca insiden itu, Vali mulai bertingkah aneh. Tidak seperti biasa, dia selalu beralasan untuk mencari seseorang yang kuat diajak bertarung, pasca insiden dia hanya mengatakan ada urusan kecil, bahkan beberapa kali mengabaikan panggilanku."

Semakin ke sini, baik Michael ataupun Sirzechs mulai paham. Kecuali pada bagian kenapa Azazel harus khawatir kalau bukan karena Uchiha dan Vali direbut kesempatannya untuk membunuh Naruto.

"Puncaknya, konferensi tadi. Walau sempat kulupa beberapa saat karena ulah dan kematian Naruto. Beruntung aku bisa mengingatnya kembali setelah berpikir ini adalah hari paling sialku. Kehilangan banyak hal, harga diri di depan kalian karena bawahanku, Vali banyak berulah dan berhianat, lalu kematian Naruto..."

Azazel memberi jeda sejenak sambil menghela nafas, termakan oleh perkataan sendiri mengakibatkan ia kembali teringat bawah hari ini kehilangan tidak hal penting.

Dua pemimpin di samping gubernur itu hanya diam, tak ingin mengganggu Azazel yang mereka tahu betul tengah merasa kehilangan. Mereka bahkan melihat adanya perubahan wajah Azazel selama beberapa detik sebelum menggelengkan kepala.

Entah kenapa sekarang Azazel mulai berpikir untuk mengundurkan diri sebagai gubernur Grigory. Menjadi seorang pemimpin benar-benar merepotkan. Terkadang harus diuji antara keinginan pribadi dan tugas sebagai pemimpin.

'Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya...'

Secara pribadi, banyak hal yang sekarang mengganjal pikirannya setelah Vali berhianat dan Naruto tewas di depan matanya.

Dilain pihak, sebagai pemimpin Grigory yang telah menyetujui perjanjian kerjasama mengharuskan dia membuang pikiran-pikiran yang mengganjal di otaknya.

Lebih dari itu, secara pribadi dan sebagai pimpinan. Ada satu yang sangat diinginkan. Kedamaian, dan inilah keputusan yang akan dia ambil. Sambil menghela nafas panjang, dia membatin.

'...Maaf, Vali, Naruto...!'

"... Selama konferensi berlangsung. Ini kali pertama aku melihat Vali bertingkah berlebihan, dan membuatku berpikir memang ada yang anak ini sembunyikan selain identitasnya sebagai keturunan Lucifer dan anggota Khaos Brigade. Maka dari itu, ketika pertarungan Katerea melawan Uchiha dan Senju, lalu berlanjut ke pertarungannya dan Issei, aku mencari tahu apa yang anak itu sembunyikan dari semua hal yang kuketahui darinya... Kepribadian, tingkah laku, masa lalu, keinginan, tujuan. Lalu digabubg dengan kejadian-kejadian beberapa saat lalu." Azazel melanjutkan penjelasannya setelah mengambil keputusan tadi.

"Dan yang kudapat dan kusimpulkan benar-benar membuatku terkejut sampai ingin tertawa."

"Azazel, kau membuat kami bingung saja dengan semua ocehanmu itu. Cepat katakan saja kenapa Uchiha dan Senju serta Hakuryuukou yang harus kita khawatirkan." Sirzechs menyela Azazel dengan suara penasaran dan sedikit kesal dengan penjelasan malaikat jatuh itu yang terlalu bertele-tele.

"Aah, maaf, maaf. Kalian juga yang salah tak memikirkan segala hal yang terjadi selama konferensi."

"Ya, mau bagaimana lagi. Kami tak seperti dirimu yang bahkan hal sepele diperhatikan juga. Aku hanya fokus pada tujuan konferensi ini. Demi kelangsungan rasku, hal-hal yang harus dilakukan untuk mempererat kerjasama ini menuju kedamaian dunia. Diluar daripada itu, selama tak menghalangi tujuan utama konferensi, akan kukesampingkan."

"Sama seperti Lucifer-dono, aku juga hanya memikirkan tujuan utama konferensi ini. Membangun aliansi dan bekerja sama demi masa depan yang lebih baik untuk dunia ini dan penghuninya." Michael ikut berpendapat, bahkan sebenarnya ia sudah menginginkan hal ini terjadi jauh-jauh hari, bahkan mungkin sebelum sesudah Great War. Belum lagi dirinya adalah Malaikat yang dikenal dengan kebaikan dan sifat mereka yang menginginkan kedamaian dibanding perpecahan apalagi peperangan. "Tak bisa dipungkiri bahwa kita telah lama saling bertikai, dan dengan terbentuknya kerjasama ini sungguh membuatku bahagia bukan main. Walaupun masih ada beberapa kelompok atau golongan yang tidak sejalan, kuharap kita bisa mengatasi hal tersebut."

"Tck, oke-oke." Azazel berseru sambil menggaruk malas tengkuknya. "Ucapan Michael yang terakhir. Kelompok dan golongan yang tak sejalan, bahkan mereka ingin menghancurkan kita, tiga aliansi dan golongan lain yang akan bergabung di masa depan nanti. Khaos Brigade dan kelompok—ah, mantan kelompok Naruto ditambah Vali."

"Dimulai dari kemunculan para penyihir dan Katerea Leviathan. Secara tak langsung ada yang menyabotase konferensi dari awal, dan Vali lah orangnya. Namun, ternyata bukan hanya itu, membuat perkiraanku melenceng cukup jauh mengenai Vali adalah anggota Khaos Brigade dan tujuannya." Azazel akhirnya kembali ke pembahasan awal mengetahui kelompok Naruto dan Vali. "Anak itu, yang hobinya hanyalah bertarung dan bertarung untuk kali pertama memikirkan sebuah rencana, dan kemungkinan besar Uchiha Madara ikut serta didalamnya."

Michael menoleh ke sang gubernur. "Mungkin itu yang dia maksud urusan pribadi, Azazel."

Azazel mengangguk. "Nah itu. Urusan pribadi. Bertemu Uchiha Madara untuk menyusun sesuatu yang akan dilakukan hari ini. Menyebabkan ada tiga pihak serta tujuan berbeda yang ikut serta dalam konferensi tadi." ucapnya membenarkan, dan semakin ke sini Sirzechs dan Michael mulai mengerti maksud darinya. Terbukti dua pria itu mengangguk-angguk setuju. "Kita dengan tujuan menjalin kerja sama, Khaos Brigade yang bertujuan membunuh salah satu diantara pemimpin yaitu kita bertiga agar jalan mereka melakukan revolusi semakin mudah. Terakhir Vali, bukan sebagai anggota Khaos Brigade, melainkan bersama si Uchiha, dan tujuan mereka adalah... Naruto, Naruto Lucifer tepatnya."

"Maksumu, kita dan konferensi ini telah dimanfaatkan oleh mereka berdua? Bukannya tujuan mereka ke Naruto adalah ingin membunuhnya? Kalau seperti itu kenapa harus dikonferensi ini, apalagi Uchiha yang seharusnya bisa membunuh Naruto saat lengah?" tanya Sirzechs bertubi-tubi setelah Azazel menjabarkan soal dua orang yang musti dikhawatirkan tujuannya adalah Naruto. Hal itupun membuatnya kembali kebingungan. "Uchiha membenci iblis, dan baru mengetahui Naruto juga adalah iblis keturunan Lucifer setelah Vali membongkarnya tadi." sedetik kemudian dia mengingat ucapan Azazel mengenai tingkah aneh Vali.

"Astaga, jangan bilang kalau Uchiha sudah mengetahui dari Vali soal Naruto adalah keturunan Lucifer sekaligus kakak dari Vali sebelum konferensi ini."

"Aku sepemikiran dengan Lucifer-dono. Lalu, pertanyaan Lucifer-dono soal tujuan Uchiha-dono dan Hakuryuukou-dono ingin membunuh Naruto-dono. Kalau memang itu tujuannya, kenapa tak melakukannya sebelum konferensi ini dimulai. Kalaupun tak bisa, kenapa mereka tidak membunuhnya tadi? Bukannya malah pergi?"

Azazel tertawa kecil atas kedua pemimpin itu yang nampaknya melupakan hal penting dari fakta seorang Naruto Lucifer, fakta yang telah disebutkan terang-terangan oleh Vali dan Kurama.

"Awalnya aku juga berpikir demikian loh." dia menjawab santai diakhiri nada aneh seolah tengah bersenandung. "Uchiha adalah pembenci Iblis, ya itu benar, bahkan terlihat dari kilatan matanya pada Sirzechs dan Naruto ketika mengetahui identitas anak itu tadi, atau kemungkinan itu hanyalah sebuah sandiwara bagian rencana Vali. Sayangnya, kalau berpikir Uchiha ingin membunuh Naruto karena dia keturunan Lucifer, kalian salah besar. Belum lagi kenapa dia sampai bekerja sama dengan Vali? Padahal Vali dan Naruto itu sama, bahkan kakak-beradik."

Azazel lalu mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk angka dua, Michael dan Sirzechs sejenak fokus pada itu lalu kembali ke wajahnya kala melanjutkan ucapannya.

"Kuncinya ada dua kenapa aku mengatakan Naruto tujuan mereka, dan bukan ingin membunuhnya. Entah kalian mengabaikannya atau melupakannya. Kedua kuncinya adalah Naruto tidak sepenuhnya iblis, masih ada darah manusia mengalir dalam tubuhnya begitupun Vali, inilah alasan kenapa Uchiha tidak membunuh mereka padahal membenci iblis." setelah mengucapkan itu, Azazel menurunkan jari tengahnya. "Kunci kedua sekaligus menjadi tujuan mereka ke Naruto. Kurama dan Vali mengatakannya tadi. Ingatan dan sisi iblis Naruto yang tersegel."

Michael, Sirzechs bahkan Dulio yang sejak tadi hanya menyimak saja melebarkan mata, sebab terkejut dan tak menyangka bisa melupakan hal tersebut. Dalam diam, dua pemimpin itu hanya merutuki kelalaian mereka sampai melupakan atau mengabaikan hal sepenting itu sampai mereka kebingungan.

"Ini adalah kesimpulan yang kudapat, dan kuyakin inilah tujuan dari rencana mereka..." Azazel memperlihatkan raut wajah seriusnya. Selain karena ini menyakut murid dan rekannya, ini juga menyangkut apa yang akan terjadi di masa depan nanti dan kenapa Vali bersama kelompok Madara harus dikhawatirkan. "... Vali mengatakan Naruto mungkin sengaja menyegel ingatannya untuk melupakan kejadian masa lalu atau mungkin Naruto mengalami hilang ingatan. Namun, Kurama memperjelasnya bahwa dia disegel ke Naruto bersamaan dengan ingatan dan sisi iblis anak itu... Dengan kata lain, tujuan mereka adalah ingin Naruto membuka atau mengingat ingatan masa lalunya yang tersegel itu, atau paling tidak mencari cara membukanya jika tidak tahu seorang diri—"

'—Dan jujur, sebenarnya aku juga penasaran pada masa lalu Naruto sebagai kakak Vali. Mata-mata yang kukirim mengawasi Vali sejak mengetahui keberadaan Albion sama sekali tak memberikan informasi soal Vali memiliki seorang kakak, dan itu adalah Naruto.' sambung Azazel dalam hati. Dia tak ingin membeberkan hal ini karena bersifat ke pribadi. Belum lagi dia bisa dicurigai menyembunyikan sesuatu lebih dari hobinya meneliti artefak peninggalan Tuhan.

Sungguh, Azazel berpikir dunia begitu luas sekaligus sempit disaat yang sama. Sempit karena dia bisa mengenal dua orang berbeda dan satunya tak memiliki masa lalu yang ternyata adalah kakak-beradik. Lalu luas karena dia sama sekali tak menyadari jika salah satu orang yang dia kenal adalah keturunan Lucifer, yang ternyata adalah kakak dari muridnya.

"—Lalu, alasan mereka melakukannya di konferensi ini, menjadikannya panggung utama. Mereka ingin Naruto tak berpikir mereka tak merencanakan hal ini dan tak bekerja sama. Vali berada di sisiku, sedang Madara di sisinya. Mereka juga memanfaatkan undangan Sirzechs pada pihak Naruto, dengan begitu ada alasan kuat untuk mereka bertemu di sini. Lalu, Vali membongkar identitasnya setelah kupancing dan identitas Naruto di depan kita dan Madara agar efeknya semakin berdampak besar, apalagi Uchiha sangat membenci iblis. Mereka ingin agar Naruto benar-benar ingin mencari cara membuka segel yang menyimpan ingatan masa lalunya. Soal kematian ibu mereka yang dikatakan Vali pembunuhnya adalah Naruto mungkin juga hanya pemicu agar semakin memperbesar niat Naruto, namun ada juga alasan lain yang belakangan kuberitahukan pada kalian kenapa Vali menggunakan alasan ingin membunuh Naruto dan sangat membencinya."

Azazel menyambung penjelasannya. Tiga mahluk supranatural ditambah satu di dekatnya semakin dibuat tak percaya akan semua penjelasan Azazel, tak percaya sejauh itu Madara dan Vali merencanakan semua itu hanya untuk Naruto mengingat kembali masa lalunya. Mereka ingin menyahut, namun Azazel yang masih mempertahankan ekspresi seriusnya membuatnya urung dilakukan, serta dari ini mereka tahu masih ada yang ingin dikatakan pria paruh baya itu.

"Jujur saja, mereka menyusun rencana ini benar-benar sangat sempurna, membuatku kagum bukan main sekaligus khawatir dan takut diwaktu yang sama. Bahkan hal yang hubungan dan efeknya tidak terlalu besar pada tujuan mereka juga diperhatikan sangat detail."

Seperti yang dipikirkan Michael dan Sirzechs, Azazel ternyata masih memiliki hal yang ingin disampaikan perihal tindak tanduk Madara dan Vali, sekilas mereka juga melihat ekspresi Azazel berubah sejenak menunjukan perasaan yang sebutkan tadi, khawatir dan takut.

"Hal ini berhubungan dengan Rias Gremory, fraksi iblis, dan karena kita telah menjalin aliansi, akan menarik fraksiku dan fraksi Michael ikut di dalamnya."

Lantas, ucapan Azazel yang menyebut adik dan fraksinya membuat Sirzechs menautkan alis. Perasaan tak mengenakkan juga mulai menghampiri dirinya. Apakah ini yang membuat Azazel khawatir pada dua orang itu? Mereka akan menargetkan Rias dan Fraksi Iblis sebagai target balas dendam karena tewasnya Naruto bila informasi itu bocor? Belum lagi Madara dari awal memang sudah membenci iblis, dan Rias sudah menyakiti Naruto terlalu dalam, serta Insiden penculikan Yuki Uzumaki yang membuat kepalanya kini ditangan Madara Uchiha karena dijadikan jaminan bila bawahannya melalukan sesuatu terhadap Madara ataupun keluarga orang itu.

"Sebelum aliansi ini terjalin, pihak kalian," Azazel menoleh ke Sirzechs. "dari awal sudah bermasalah dengan mereka. Dari yang kuketahui adalah insiden penculikan adik Naruto, lalu insiden yang hampir menewaskan Rias Gremory dan mengakibatkan Sekiryuutei serta beberapa Peerage adikmu dalam keadaan sekarat. Insiden kedua itu yang menjadi patokan dari kesimpulanku ini."

Sirzechs mau tidak mau harus mengangguk menyetujui tamparan telak dari Azazel yang mengatakan dari awal fraksinya memang bersamalah dengan pihak Madara.

"Bila dihubungkan dengan sandiwara Vali dan Madara, yang secara terang-terangan di depan kita mengutarakan kebencian mereka ke Naruto dan sangat ingin membunuhnya. Selain untuk tujuan utamanya, ini juga ditujukan untuk kalian dan juga pihakku dan Michael. Mereka ingin agar kita berpikir pihaknya dan Naruto sekarang berada di sisi berbeda. Kalian berpikir mereka yang akan membereskan Naruto, lepas tangan pada anak malang itu, membiarkan dan tidak mengganggu Naruto mencari cara mengambil ingatan masa lalunya yang tersegel. Dan juga membuat kalian berpikir Madara bersama Vali akan memburu Naruto, dan juga Naruto akan sibuk kabur dari keduanya sehingga melupakan masalah mereka dengan pihakmu Sirzechs. Sampai sini kalian mengerti, bukan?"

Azazel mengakhiri penjelasan terpanjangnya sampai saat ini dengan menoleh ke Sirzechs. Pria merah itu mengangguk pelan, sedangkan Michael hanya mengeluarkan komentar atas itu.

"Sungguh rencana yang sangat sempurna." Michael tak tahu lagi ingin berkata apa selain itu. "Aku bahkan masuk dalam rencana mereka. Jujur, aku tadi berpikir dengan Naruto-dono sibuk menghindari keduanya, perjanjian antara kami akan dilupakan. Astaga, Tuhan! Mereka benar-benar monster. Selain kekuatan, otak mereka juga tak kalah mengerikannya sampai menjebakku."

"Ralat... Aku juga berpikir demikian, Michael-san." ujar Sirzechs secara tak langsung mengakui ia dan pihaknya juga termakan oleh rencana ini. "Dan sekarang aku paham kenapa kau khawatir pada mereka, Azazel." tambahnya dibalas anggukan oleh Michael.

"Nah, itu dia. Dengan kematian Naruto. Rencana mereka dikatakan gagal total. Dengan begitu mereka dipastikan memburu kita habis-habisan bila kematian Naruto terbongkar." Azazel membenarkan. "Sepertinya mereka tak memperkirakan keberadaan Kurama atau lupa dengan itu. Disini, penyebab utamanya adalah tindakan Kurama yang melawan kita, sedangkan Naruto mulai melakukan yang mereka inginkan, menurutku."

"Entah apa yang Naruto dapatkan selama kita melawan Kurama, perkiraanku dia mendapatkan kembali ingatannya dan itu bukanlah hal yang manis. Terlebih, seseorang terkadang menyegel ingatan dengan alasan terlalu buruk untuk diingat kembali. Alasan lain yang kupikirkan kenapa Naruto sampai bertindak gila tidak mencoba kabur dan malah ingin membunuhmu—"

Azazel mengarahkan pandangannya ke Sirzechs dengan raut wajan yang sulit diartikan.

"—dan Serafall, serta adik kalian adalah permintaan Kurama, yang arahnya menuju alasan awal dia ingin bertarung melawan kita. Tapi, ya kalian membantah alasan tersebut. Jadi, lupakan sajalah hal ini."

"Bantahanku memiliki dasar Azazel. Kami, para Daiyondai Maou sejak terangkat sangat jarang meninggalkan Dunia Bawah, apalagi jika itu berurusan dengan tugas membunuh seseorang atau kelompok."

"Ya, ya, ya. Aku tahu, aku tahu. Makanya kubilang lupakan. Alasan lainnya, Naruto—"

"Bertarung atas dasar ingin mengalihkan semua perhatian kita ke dirinya setelah mendapatkan ingatan masa lalunya. Bahkan jika itu berakibat kematian." potong Michael sebelum Azazel menyelesaikan. Ia berspekulasi macam ini setelah mengingat-ingat semua yang terjadi di dimensi buatan Azazel tadi. "Mengingat kau mengatakan Naruto-dono merasa putus asa untuk keluar dari dimensimu, dan bisa kita katakan itu berhasil, bukan? Pengorbanan yang dia lakukan?"

"Ya, itu berhasil!" Azazel menjawab sekaligus membenarkan ucapan Michael sebelumnya. "Dengan khawatirnya kita bila kematiannya tercium oleh Madara, Vali dan kelompoknya. Kita secara tak langsung membuat pengorbanannya berhasil. Agar kematiannya tak tercium, khawatir agar mereka tak membalas kematiannya, kita harus memilih untuk menghindari kontak dari mereka. Secepatnya beritahukan kepada Rias dan yang lain agar tidak berurusan kelompok mereka sampai informasi kematian Naruto diketahui bukan dari kita."

Sirzechs lalu mengembalikan pandangannya ke Azazel dengan mata menyipit heran. Ia sungguh heran kenapa Azazel sampai sekhawatir itu pada dua orang yang diketahui adalah guru Naruto dan satu lagi adik Naruto yang dilabeli Hakuryuko terkuat sepanjang masa hanya karena darah Lucifer mengalir dalam nadinya.

Azazel yang merasa dipandangi sebegitunya oleh Maou itu mendesah. "Hey, aku khawatir bukan tanpa alasan tahu. Jika kemampuan bertarung Naruto yang seorang diri mampu mengimbangi kita sampai kau dan ratumu babak belur tak karuan, bagaimana dengan kedua gurunya? Jangan hanya karena levelmu berada di atas mereka, kau memandang mereka sebelah mata Sirzechs. Ini adalah peringatanku sebagai teman dan aliansi. Jangan sampai menyesal dikemudian hari. Mereka mungkin sulit membunuhmu, tapi bagaimana jika orang terdekatmu yang diincar?"

"Dan tenang saja," lepas itu, Azazel tersenyum kecil. Senyum yang memiliki niat tersendiri dibaliknya. "Aku akan membantu di bagian Vali, di pihak kita ada Issei, Sekiryuutei. Akan kubantu anak itu untuk mencapai level Vali sehingga tinggal dua manusia merepotkan itu yang harus dicari cara menjinakkannya."

"Baiklah, mungkin cuma itu yang ingin kusampaikan, selebihnya akan kujelaskan di pertemuan berikutnya. Untuk urusan perbaikan sekolah, biar aku dan Michael yang mengurusnya. Kau urus saja yang terluka dari fraksimu, Sirzechs."

Michael mengangguk atas penawaran Azazel itu. Begitu Sirzechs yang berpikir demikian. Rias dalam keadaan syok, Issei dan Diehauser bisa dibilang sekarat setelah perut mereka menjadi bulan-bulanan pukulan berbalut Senjutsu dan kekuatan penuh Youki Kurama.

"Oh, iya, Azazel. Masih ada satu hal yang sedikit mengganjal di pikiranku."

"Hmm?" Azazel beralih menatap Michael.

"Aku sedikit penasaran. Kau tadi bilang kalau Hakuryuukou-dono bertingkah tidak seperti yang kau kenal. Kalau begitu, kenapa Hakuryuukou-dono melakukan semua ini? Bahkan sampai melakukan kebohongan luar biasa ingin membunuh Naruto-dono, kakaknya sendiri?"

Azazel mengangguk paham maksud pertanyaan Michael sambil tersenyum misterius. Iya jadi ingat bahwa tadi tak menyebutkan soal Vali yang bertingkah tak seperti biasanya. "Ya, Vali yang selama ini kukenal adalah bocah dingin, dan pandai menyembunyikan dan juga jarang mengeluarkan perasaannya kecuali ketika bertarung, itupun lebih ke nafsu sebenarnya. Namun tadi, untuk kali pertama dia mengumbar perasaannya, bahkan didepan orang banyak dan begitu besar sampai membuatku terkejut. Maka dari itu, jika kau bertanya kenapa Vali melakukan semua ini, jawabannya begitu singkat..."

Senyum misterius Azazel berubah haluan. Ia sekarang malah terlihat bahagia oleh sesuatu. Ya, ia bahagia sebab muridnya—mantan muridnya setidaknya masih memiliki sisi baik, walau sesuatu atau seseorang yang memunculkan sisi baik muridnya itu telah tiada.

"... Dia sangat menyayangi kakaknya, Naruto Lucifer."

.

.

.

.

.

.

"Nee, Madara. Kenapa kita malah kesini? Melawan wanita iblis tadi membuatku lelah, lapar dan ngantuk. Yasaka-hime juga pasti mencari kita."

"Hn, diamlah, Dobe."

Madara menyahut dingin sebagai ancaman, ia lalu menoleh ke kiri pada Hilda yang berjalan sambil mengoceh tak karuan disampingnya. "Kau juga diamlah, Ero onna. Apa yang ada di kepala kalian akan terjawab disana." dia mengembalikan pandangan ke depan, sedikit mendongak. Garis pandangannya tertuju pada sebuah bangunan terbengkalai di puncak bukit yang tengah mereka daki dengan tenang. "Hn, merepotkan. Kenapa juga harus di tempat ini."

Saat ini Madara, Hashirama, Hilda dan Yuki—yang masih dalam pengaruh Genjutsu digendong oleh Madara di punggung tengah berada di kota tetangga Kuoh. Lebih tepatnya sebuah bukit kecil di pinggiran kota itu.

Tepat setelah meninggalkan lokasi konferensi tiga fraksi kurang lebih sejam yang lalu, Madara kembali melakukan cara picik untuk mencapai lokasi ini, cara picik yang sampai Hashirama dibuat geleng-geleng kepala menyaksikannya tadi. Madara memberhentikan satu pengedaran mobil, menghipnotisnya dengan Genjutsu agar diantar ke lokasi ini lalu disuruh menunggu di bawah bukit.

Entah siapa pengendara itu, Hashirama merasa kasian telah menjadi korban otak bangsat Madara.

"Nghhh~"

Di punggung Madara, Yuki melenguh dengan suara yang begitu lembut dan halus, belum lagi serak-serak basahnya yang begitu menggoda iman seorang Madara Uchiha, mengakibatkan di bawah mata Madara sudah tercetak warna merah mudah agak pudar.

Inner Madara berteriak keras selaras dengan semakin jelasnya warna di pipinya itu. Madara bukan Lolicon apalagi Pedofil, namun kenapa wajahnya sampai memerah begitu hanya karena lenguhan Yuki? Oh, tentu saja bukan suara Yuki Ferguso!

Penyebabnya adalah kedua lengan Yuki yang melingkar di lehernya mengerat, menyebabkan leher sensitif Madara bersentuhan langsung dengan kulit putih mulus lembut tanpa cacat adiknya. Belum lagi di punggungnya merasakan tekanan dari dua gundukan kecil yang masih dalam masa pertumbuhan.

Ngomong-ngomong, Yuki nggak pakai beha.

'Oh, fuck!'

Alhasil, Madara cuma bisa mengumpat dalam hati dihantam godaan iman seorang bagi aliran penuh berkah Lolicon. Demi kecantikan Kaguya Otsutsuki-himesama, dia bukan Lolicon! Fetishnya bukan Loli! Kalau sampai Hilda melihatnya, habislah sudah!

"Ara ara, Madara-kun..."

'Sialan! Mati aku!'

Sayang seribu sayang, tapi tak nikah-nikah juga. Harapan yang dipanjatkan Madara kepada siapapun diatas sana tak dikabulkan. Ini hari sialnya. Hilda entah kebetulan, atau insting mode Big Tiddy Onee-san miliknya merasakan ada mangsa di sebelah kanan menoleh, mendapati wajah memalukan seorang Uchiha.

"Wajahmu memerah... Nfufufufu~"

"Berisik!"

Tampang horor penderita Superiority complex Madara sudah terpasang sangar di wajahnya. Ingin rasanya ia mengempeskan dua melon yang menggantung di dada Hilda saat ini. 'Lama-lama kutusuk kunai juga dada perempuan laknat ini!'

"Hee, benarkah wajah brengsek ini memerah?" Hashirama menyusul di samping kanan Madara, mendekatkan wajahnya untuk memastikan apa yang ia dengar. Ketika sahabatnya itu mengarahkan wajah ke arahnya, ia hampir saja terjengkal kebelakang saking terkejutnya.

"Keparat! Memerah apanya, Hilda?! Malah mirip setan itu!"

"Benarkah? Tadi memerah loh, nfufufufu~~"

Kening Madara mulai nyut-nyutan.

"Sial! Padahal aku mau lihat!"

"Makanya jangan lambat, Hokage-sama. Tadi, Madara-kun sangat imut, sampai tak tahan aku untuk memakannya."

Disusul satu perempatan kecil,

"Memang dia memerah kenapa?"

"Dipeluk Yuki-chwan mungkin. Wagh, Madara-kun pedofil ternyata. Ah, biar pedofil aku tetap nggak bakal mundur Madara-kun. Aku padamu."

"Pffft— Wah, wah... Madara, tak pernah kusangka, kau... Halo, polisi?"

Dua, tiga, empat sampai lima perempatan menyusul. Bom pun akhirnya meledak.

Hashirama yang merasakan lonjatan chakra dalam jumlah besar langsung menoleh dengan tampang horor ketakutan.

"O-o-oe, Madar—"

"Susano'o."

"Kenapa hanya aku, ya Lord?!!"

Mengabaikan Hashirama dan teriakan yang terdengar dari langit habis ditabok lengan mahluk astral birunya, Madara menoleh ke Hilda.

"Aku bukan pedofil, perawan tak suci!"

"Lolicon berarti? Bukannya itu sama saja?"

"Bukan, juga. Lagian, Pedofil dan Lolicon memang sam—"

Madara menghentikan ucapannya. Entah kenapa tubuhnya langsung merinding tak karuan merasakan firasat sesuatu yang buruk akan terjadi bila menyelesaikan ucapannya.

"Ara... Ada apa Madara-kun?" tanya Hilda heran.

Mengembalikan ekspresi andalannya, datar. Madara menggeleng pelan. "Tidak, lupakan saja."

'Tak akan kulanjut. Sesuatu yang mengerikan pasti terjadi. Ciuman dengan Hashirama-dobe saja bikin mimpi buruk tujuh malam berturut-turut.'

.

.

.

.

.

Sementara itu, di tempat lain.

Sang Hakuryuukou tengah mengistiratkan tubuh dan mentalnya setelah melakukan dua pertarungan berbeda. Ia tengah duduk pada kursi kayu yang menghadap langsung ke satu-satunya jalan masuk tempatnya sekarang bersama Bikou. Itu adalah sebuah ruangan yang cukup besar, berlantai keramik putih dan dinding biru, beberapa perabotan yang biasanya ditempatkan di ruang tamu sudah hancur dimakan waktu.

Ini adalah tempat biasanya Vali beristirahat bila malas untuk kembali ke Grigory ataupun tempat istirahatnya yang lain di suatu tempat.

Mengabaikan Bikou yang tengah memain-mainkan tongkatnya di sudut ruangan, Vali merilekskan tubuh sejenak lalu mendongak, menatap langit-langit biru diatasnya. Dengan satu helaan nafas panjang, dia menampakkan ekspresi rumit, pikirannya pun langsung menerawang jauh ke masa lalu.

Ke masa lalu, ke masa ketika dia, mendiang ibunya dan Naruto masih bersama. Dari sekian banyak kenangan yang dia miliki, hanya kebersaama itu yang paling indah.

Namun, sebuah kejadian terjadi dan mengubah semuanya menjadi malapetaka.

Kakeknya, Rizevim Livan Lucifer yang menjadi penyebab kejadian itu. Malapetaka yang mengakibatkan dirinya tak bisa lagi melihat sang ibu dan senyum hangatnya. Senyum yang selalu menjadi obat paling ampuh ketika banyak luka diterima tubuh kecilnya. Entah itu luka fisik atau batin dari beberapa orang yang ibunya katakan adalah keluarga.

Mengusap kasar wajahnya, Vali berujar lirih dalam benaknya.

'Haha-ue...'

Dia memanggil sosok yang kini keberadaan tak diketahui lagi, namun dia yakin telah mati—lebih parahnya dibunuh. Jika memang begitu kenyataannya. Siapapun orang yang membunuh ibunya, akan diburu Vali hingga ke neraka terdalam.

Bahkan jika itu pembunuhnya Naruto, kakaknya sendiri.

'...apa yang kulakukan ini benar?'

Ketika asik melamun, mengingat-ingat masa lalu, Vali mendengar suara pintu dibuka pelan oleh seseorang. Lamuannya buyar dan segera mengalihkan pandangan menuju pintu yang terbuka.

Bikuo menghentikan kegiatan, ikut menoleh ke tempat yang sama.

Disana, berdiri tiga orang dan satu berada di gendong yang di tengah. Perawakan mereka tak terlihat jelas karena cahaya dari bulan di belakang keempatnya.

Vali tersenyum kecil.

"Aku sudah menunggu kalian. Selamat datang di tempatku."

"Hn."

Dari dua huruf konsonan dan nada datar itu, diketahui orang itu adalah Madara Uchiha. Di gendongannya adalah Yuki, sedang di samping kiri dan kanannya adalah Hashirama dan Hilda.

Mereka berdua, dibuat kaget oleh orang yang ingin ditemui Madara. Orang itu adalah Vali, adik Naruto. Sampai disini, perlahan-lahan Hashirama maupun Hilda mulai memahami satu hal. Semua ini berhubungan dengan Naruto.

"Kuharap kau tidak membuang-buang waktuku datang ke sini hanya untuk diberitahukan sebuah kebohongan dan omong kosong, bocah."

"Kau pikir aku akan membuang-buang waktuku menunggu kalian disini hanya untuk menyampaikan sebuah kebohongan dan omong kosong belaka?" Vali membalas ucapan Madara agak dingin dengan sebuah pertanyaan. Agaknya Madara dan kedua orang di sisi pria itu masih belum percaya padanya seperti mereka percaya pada kakaknya. "Apalagi ini menyangkut Naruto. Dialah alasanku melakukan semua ini."

"Hn. Baiklah."

Lepas mengatakan itu disusul helaan nafas pendek. Madara bersama yang lain berjalan masuk, Hashirama yang entah begonya kumat atau sekedar keformalan saja malah mengucapkan salam.

"Permisi!"

"Silahkan masuk."

Dan parahnya, Bikou malah membalas. Interaksi keduanya pun mengundang sweatdrop oleh yang lain kecuali Yuki.

.

.

Kini, Madara berdiri bersandar pada dinding di samping Vali sambil menyilangkan lengan di dada setelaha menyerahkan Yuki ke Hashirama. Hashirama sendiri sudah menidurkan adik Naruto—mendiang Naruto pasa sofa panjang, sedang dia dan Hilda duduk diantara Loli yang masih terpengaruh Genjutsu itu.

"Jadi, bagaimana menurutmu, bocah? Apa kau yakin mereka akan melakukan yang kita inginkan?"

Madara memulai percakapan mereka tanpa menoleh sedikit pun ke Vali. Dia sebenarnya juga sedikit kaget akan rencana yang dirancang Vali ini. Selain itu, keraguan juga menghinggapi Madara mengingat Naruto melakukan banyak hal pada pihak Iblis, entah baik atau buruk.

"Entahlah. Kuharap itu berhasil." Vali terlebih dulu menjawab seadanya. Tangannya yang juga disilangkan di depan dada tiba-tiba meremas lengannya. "Namun, jika mereka tetap mengejar Naruto. Maka tak ada cara lain selain menghancurkan mereka, tak peduli jika harus berhadapan dengan aliansi tiga fraksi setelahnya."

Madara tersenyum kecil mendengar ungkapan penuh tekad dari Vali. Ia melirik pemuda itu dan membantin. 'Mereka benar-benar mirip.'

"Selama konferensi berlangsung, fraksi iblis tak pernah melepaskan perhatian mereka pada Naruto dengan berbagai macam ekspresi. Yang paling sering adalah, Sekiryuutei dan Rias Gremory. Mereka berdua,..."

"Ya, ya... Kau akan." Madara menyahut datar, ia tahu apa yang dilakukan bocah naga disampingnya pada Rias Gremory dan pionnya itu. "Mereka berdua belakangan ini memang magnet masalah untuk Naruto. Tck, kenapa pula bocah sableng itu harus nyasar ke wilayah iblis beberapa tahun lalu."

"Sekarang, berharaplah kebohongan dan akting yang kau lakukan berhasil mengelabui mereka semua. Tapi, kuakui aktingmu benar-benar alami, bocah."

"Tck, sebenarnya aku juga benci padanya. Benci karena melakukan tindakan bodoh yang membuat kami terpisah, padahal kami merencanakan pelarian itu bersama-sama."

Madara tertawa pelan. Ia tahu apa yang dibicarakan oleh Vali, salah satu masa lalu Naruto yang menurutnya cukup menarik. Ia tak bisa membantah Naruto sebelum hilang ingatan adalah anak yang menarik di segala kekurangannya.

Cacat namun istimewa. Itu adalah kalimat yang sangat pas untuk muridnya itu.

Madara dan Kurama nampaknya sepemikiran.

Selain daripada kedua laki-laki yang berciri khas minim ekspresi ini. Mereka yang ada disana hanya diam menyimak saja karena tak tahu akan dibawa kemana percakapan keduanya. Terutama Bikou yang sama sekali tak tahu soal ini.

"Kami sudah melakukan apa yang kau minta. Sekarang giliranmu. Tapi, sebelum itu. Apa kau yakin mau melakukan apa yang kuminta?"

Vali mengalihkan perhatiannya ke Madara. Matanya berkilat tajam menebar ancaman pada pria Uchiha itu. "Kau meragukanku, pak tua?"

Oke, Madara cukup kesal dipanggil tua. Tapi diabaikan saja olehnya. "Kau akan menghianati, memburu dan membantai kaummu sendiri. Kau yakin ingin melakukannya?"

"Ya, aku akan." Vali menjawab tanpa keraguan sedikitpun di dalamnya. "Walau aku bangga akan darah Lucifer yang mengalir dalam tubuhku. Namun, jika untuk membalas semua yang telah Naruto lakukan padaku—tidak, untukku. Apapun resikonya, akan kulakukan." jelasnya kemudian. Belum cukup itu saja, untuk semakin meyakinkan Madara, ia menambahkan. "Lagian tidak pernah ada dalam ingatanku aku memiliki kaum, sekutu atau teman. Yang kumiliki hanyalah keluarga"

Tandas Vali lalu mengalihkan perhatiannya ke Bikou. Salah satu yang termasuk dalam kata yang ia ucapkan terakhir tadi. Bahkan, jika diperhatikan lebih jelas, ada lengkungan kecil yang dibentuk mulut Vali.

Mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dari Vali membuat Bikuo terkesiap. Ia lalu memandang ketuanya itu dengan pandangan tak percaya.

"Vali, kau tidak sakit, kan? Kukira kau hanya menganggap kami bawahan, bukan, bukan. Rekan setim, mungkin."

"Jangan membuatku mengatakannya dua kali, monyet." balas Vali sengit lalu membuang muka dari petarung generasi kedua Victorious Fighting Buddha itu. "Itu salah satu yang diajarkan padaku dulu." sambungnya sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Bikou dan Madara di sampingnya.

Suasana yang sedikit menjerumus ke haru itu harus hancur oleh teriakan penuh sukacita dari Hilda. Sungguh label perusak suasana cocok ditempelkan pada jidat atau dada jumbo perempuan satu ini.

"Kyaaaaa... kau benar-benar tsundere. Ini resmi, kau akan masuk dalam harem-ku, Va-chan!!"

Memperlihatkan ekspresi yang berbeda-beda memandang Hilda. Bikou, Madara dan Vali membatin bergantian.

'—Tsundere?!'

'—Harem?!'

'—Va-chan?!'

Bikou matanya berkedip-kedip cepat, dan langsung menahan tawanya dengan tangan karena panggilan imut ketuanya itu. Madara menatap jijik perempuan yang ingin mendirikan kerajaan reverse harem dimana ia masuk dalam target. Sedang Vali wajahnya mengkerut kesal diberi panggilan imut yang bikin jijik.

Dipandang sedemikian rupa tak membuat Hilda merasa aneh atau bagaimana. Ia malah menyeringai mesum hingga Madara, Hashirama dan Vali serasa ingin muntah ditempat.

Selanjutnya yang terjadi, ketiganya langsung membatin serentak melihat senyum bikin eneg Hilda.

'Perempuan ini gila!'

'Dasar perawan tak suci sableng!'

'Kubunuh kau!'

Vali menoleh ke Madara setelahnya. "Apa mahluk aneh itu ikut juga?" tanyanya sambil menunjuk Hilda.

"Hn." Madara menjawab ambigu lalu menghela nafas panjang. "Mau bagaimana lagi, dia juga bagian dari kami. Mau kubunuh juga tak bisa-bisa. Dia mahluk paling aneh diantara yang teraneh yang pernah kutemui. Aku menyesal sudah mengenalnya."

"Makasih pujiannya, Madara-kun."

"Itu bukan pujian, bego!"

Vali yang menyaksikan tingkah nyeleneh Hilda hanya bisa mendesah frustasi. Hari-hari kedepannya akan lebih mengerikan dari yang telah ia lalui.

'Kuroka saja merepotkan, malah ditambah satu yang sejenis. Bokongnya sebelas dua belas lagi dengan punya Kuroka.'

.

.

Setelah melalui adegan absurd yang garing tadi, Madara dan Vali kembali ke pembahasan mereka di awal, yang tidak jauh-jauh dari Naruto dan rencana selanjutnya. Sementara Bikou dan Hashirama kembali diam menyimak selama beberapa menit. Terakhir Hilda...

Jangan ditanya perawan tak suci ini Madara bilang, dia sudah tenggelam dalam imajinasi liarnya. Membayangkan kerajaan haremnya sudah berdiri.

Hampir dua puluh menit berlalu, yang jika ditotal sudah hampir setengah jam kelompok Madara disini, Hashirama yang masih belum terlalu ngeh pada rencana Madara dan Vali kedepannya akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Baiklah, Madara. Bisa kau jelaskan maksud semua ini? Aku bukannya bodoh, cuma kurang mengerti saja semua yang kalian bahas."

"Apa bedanya, bego?" Madara bertanya datar dan dibalas delikan tajam oleh sahabatnya. Wah, sudah berani Hokage itu mendeliknya. "Baiklah. Ya, kuharap otak dangkalmu itu bisa mengerti. Jadi, dengarkan baik-baik."

"Kami ingin Naruto mencari cara membuka segel yang menyimpan ingatannya. Aku, bersama bocah kaleng ini," Madara mengarah telunjuknya ke Vali yang hanya mendengus tak suka dengan panggilan itu. "ingin tahu apa yang dialami bocah itu setelah berpisah dari Vali dan sebelum ditemukan Jiraiya. Apakah kau tidak merasa aneh Naruto ditemukan Jiraiya hanya kebetulan semata dalam keadaan ingatan yang tersegel."

"Aku sudah tahu bagian itu. Yang lain maksudku. Tujuan dari semua rencana kalian untuk Naruto tepatnya."

"Selain daripada keinginan Vali itu dan juga ingin kekutahui. Aku secara pribadi ingin anak itu menemukan jati dirinya, dan menyatukan semuanya. Kita mengenal dia sebagai Uzumaki Naruto, sedangkan Vali sebagai Naruto Lucifer."

Hashirama akhirnya paham. Dia mengangguk-angguk sambil memperlihatkan eskpresi [begitu rupanya] di wajah begonya di mata Madara.

"Ketika dia sudah mendapatkan jati dirinya, akan kuhancurkan masa lalunya sebagai Naruto Lucifer itu." sekilas, kilatan kebencian menyala pada iris hitam kelam Madara sebelum meredup lalu disumbunyikan dengan cara menutup mata sambil mengeluarkan helaan nafas. "Aku ingin dia sendiri yang menemukannya, tanpa bantuan dariku dan Vali atau kalian yang ada diruangan ini."

"Lalu, tindakan kami di pertemuan mahluk-mahluk sialan adalah rencana untuk menjauhkan mereka dari Naruto. Kutakutkan, makhluk-makhluk sialan itu memanfaatkan kondisi mental Naruto yang saat ini bingung menentukan siapa dia sebenarnya, apakah Uzumaki Naruto atau Naruto Lucifer. Dengan kondisi seperti itu, akan sangat mudah menarik bocah itu ke sisi mereka, apalagi dia pernah dekat dengan beberapa diantara mereka, bahkan sampai jatuh cinta pada salah satunya."

Dari penjelasan Madara ini. Apa yang Azazel asumsikan ternyata masih kurang. Walaupun itu masih dalam ruang lingkup tidak mengejar Naruto. Kekurangan yang tak didapatkan Azazel ternyata soal jati diri Naruto, dan bisa mereka manfaatkan kondisi yang bisa dikatakan adalah krisis identitas agar berpihak pada aliansi.

Dengan kata lain... rincian singkat rencana Madara sebagai berikut.

Pertama: membuat aliansi tiga fraksi berpikir kelompok Madara dan Naruto tengah bersiteru sehingga mereka membiarkan dua sisi ini saling menghancurkan agar penghalang menuju dunia yang damai berkurang. Madara memposisikan mereka saat ini adalah ancaman untuk aliansi itu.

Kedua: Agar Naruto tak memiliki gangguan selama melakukan apa yang Madara dan Vali inginkan.

Ketiga sekaligus terakhir: Tidak didekati, dimanfaatkan kondisi Naruto oleh aliansi tiga fraksi itu agar berpindah ke pihak mereka.

Sasuga Madara-sama!

Bukan hanya ketiga tujuan itu.

Lebih jauh lagi, masih ada tujuan lain yang hanya Madara seorang mengetahuinya. Tujuan yang muncul dalam benaknya ketika fajar pertama terjadi setelah Konoha hancur, dan sejak saat itu mulai dipikirkan dengan sangat berhati-hati dan penuh ketelitian agar tak salah mengambil keputusan.

Lalu kemunculan Vali sebagai adik Naruto, sekaligus orang yang memiliki hubungan dengan golongan yang menghancurkan Konoha akhirnya membulatkan keputusan Madara soal tujuannya ini.

Entah ini terlalu awal atau sudah terlambat. Inilah keputusan Madara.

"Aku tidak ingin orang yang akan berdiri di depan kita semua sebagai ketua nantinya tak mengetahui siapa dia dan tujuan jelasnya. Orang itu adalah Naruto..." Madara berhenti sejenak, menatap satu per satu keberadaan dalam ruangan itu. "... Dia menyatukan kita—"

Kita dalam hal ini merujuk kepada korban selamat dari pembantai Konoha, Yuki dan Vali—yang sudah memutuskan ikut serta. Sedang Bikou dan orang yang dianggap keluarga masih belum pasti termasuk atau tidak.

"—Orang-orang yang memiliki masa lalu berbeda-beda namun melalui jalan kehidupan yang hampir sama. Akan bertahan diantara banyaknya eksistensi lain di dunia dengan satu tujuan saat ini... Mencari dan membunuh semua yang terlibat dalam pembantaian Konohagakure!"

Hashirama dan Hilda tertegun sekaligus kagum. Madara menyusun semua itu hanya untuk Naruto demi tujuan mereka, balas menghancurkan golongan pengikut raja iblis terdahulu beserta yang terkait dalam pembantai Konohagakure. Itupun membuktikan begitu besar kepercayaan seorang Madara Uchiha yang tak ingin tunduk dibawah perintah seseorang—kecuali Hashirama—pada sosok Naruto hingga ingin pemuda itu mengketuai mereka dalam perjalanan ini.

Sementara Vali hanya menyeringai dalam diam. Selain daripada melanjutkan tujuannya yang pernah hilang, dia juga bisa bertarung sesuka hati.

Dipikir-pikir, sepertinya perseteruan dua pihak ini sungguh ironis dari masing-masing sisi.

Di sisi Madara, ada Orochimaru yang dulu bagian dari mereka namun kini menjadi musuh bersama golongan pengikut raja iblis terdahulu.

Di lain pihak, walaupun dari awal tak mengakui kaummnya itu, Vali sebagai keturunan dari raja iblis terdahulu secara tak langsung menghianati golongan pengikut leluhurnya Dan ingin menghancurkannya.

"Sepertinya cukup sampai disini saja dulu. Aura nagamu terlalu mencolok dan tempat ini tak dilindungi Kekkai."

Madara menoleh ke Vali dan dibalas sebuah anggukan benar atas pernyataan itu. Akan sangat berbahaya bila keberadaan mereka ditemukan.

"Hn, ayo kita kembali." ajak Madara pada rombongannya selagi berjalan menuju pintu keluar disusul Hilda dan Hashirama yang menggendong Yuki.

Ketika Madara sudah berada di ambang pintu, Vali memangg pria itu.

"Madara..." adik Naruto itu melempar sesuatu yang diambil dari saku jaketnya. Madara menoleh dan menangkap benda itu. "Disana hanya ada kontakku saja, kau bisa menghubungiku bila terjadi hal tidak diinginkan. Menggunakan alat komunikasi berbasis sihir cukup berbahaya. Azazel atau Maou Beelzebub bisa saja membajak dan melacaknya."

"Hn." Madara mengangguk dan melirik sejenak telepon seluler di tangan kananya itu. "Kuberi waktu tiga hari. Pastikan orang-orang yang sebut keluarga itu ikut serta atau tidak. Jika tidak, kau harus mengurusnya sendiri bagaimana pun caranya. Tutup mulut atau mati jika tak ikut. Itu pilihannya."

"Ya, aku mengerti." Vali menjawab singkat dan mengangguk. Kemudian ia teringat pada ucapan Madara beberapa saat lalu. "Dan satu lagi..." Seketika wajahnya mengeras bagai baja, matanya memperlihatkan kilatan tajam yang penuh akan ancaman.

"... Jangan pernah berani menyentuh apalagi menghancurkannya. Tak akan kubiarkan dia hancur sebelum kukalahkan!"

Madara membalas ancaman Vali itu dengan seringai. "Kau ingin melindunginya dariku?"

"Kau bisa menganggapnya begitu."

"Heh, sebaliknya. Justru dia yang harus melindungimu dariku, bocah!" seringai Madara makin melebar. "Dia bukan lagi bocah cacat dan lemah. Aku bahkan ragu kau bisa bertahan semenit di hadapannya."

"K-kau..."

"Aku tak akan memilih dia untuk berdiri di depan kita sebagai ketua tanpa alasan jelas, bocah! Ingat itu baik-baik."

.

.

.

.

.

.

Berpindah ke tempat lain yang tak diketahui lokasinya, di waktu yang hampir bersamaan dengan deklarasi Madara akan terbentuknya kelompok baru mereka, seorang pria berambut panjang tengah menunggu kedatangan seseorang di depan sebuah pintu ruangan yang mirip sebuah laboratorium dengan minim penerangan.

Tak lama menunggu, lingkaran sihir emas muncul di depan pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Orochimaru. Penghianat dari pihak Madara Uchiha.

"Jadi, bagaimana konferensinya?"

Dari lingkaran sihir emas di lantai itu, muncul pria berjubah mirip dengan yang dipakai oleh segerombolan penyihir regu penyerangan Katerea Leviathan tadi.

"Saya tak tahu Orochimaru-san. Setelah Katerea-dono memulai serangan, saya segera melakukan apa yang anda minta sambil menunggu medan waktu dari [Sacred Gear] milik budak Gremory dilepaskan untuk kabur."

"Maa, aku juga tak terlalu peduli dengan mereka semua. Jadi, bagaimana? Apakah kau berhasil melakukannya?"

Majutsu itu mengangguk pelan dan berjalan mendekati Orochimaru. Tanpa menunggu lama, ia mengeluarkan sebuah kantung plastik bening berisikan banyak botol-botol kecil yang didalamnya terdapat banyak hal, diantaranya: Helaian rambut, darah, robekan kain, cairan bening dan hal lain lainnya yang berasal dari mahluk hidup.

"Saya tak bisa memastikan milik siapa semua itu. Belum lagi sangat sulit untuk mendekati para pemimpin dari tiga fraksi."

"Lalu, bagaimana kau mendapatkan semua ini?"

"Sihir pengendali, Orochimaru-san. Aku mengendalikan tikus, serangga, dan mahluk hidup kecil di area sekolah untuk mengumpulkannya."

"Baiklah..." Orochimaru berujar pelan. "Tunggu sebentar, akan kuambil bayaranmu."

Orochimaru beranjak dari tempatnya memasuki ruang laboratoriumnya. Tak lama setelahnya ia kembali membawa tiga serum kecil dan menukarnya dengan kantong plastik yang dibawa penyihir tadi.

"Itu adalah yang terbaru dan terkuat sekarang ini. Kau akan tahu manfaatnya ketika dinjeksikan pada tubuhmu." kata Orochimaru sambil tersenyum kecil yang menyembunyikan sesuatu dibaliknya.

"Terima kasih, Orochimaru-san. Senang bekerja sama dengan anda."

Lepas menerima dan mengucapkan itu, sang penyihir langsung meninggalkan tempat tersebut. Kini tinggallah Orochimaru seorang diri sambil memperhatikan dengan seksama isi dari botol-botol tersebut.

Lalu, matanya tertuju pada beberapa botol berisikan nyamuk yang masih hidup. Iris kuning Orochimaru sempat melebar lalu menyeringai setelahnya.

Penyihir yang tadi bekerja sama dengannya bukan sembarang penyihir. Orochimaru tahu kenapa mahluk penghisap darah itu ada disana. Nyamuk itu pasti dikendalikan untuk menghisap darah orang-orang di konferensi tadi. Tentu saja sihir yang tertanam pada tubuh nyamuk itu akan tersamarkan Youki, Tangeki, Ryuuki dan energi lain yang tekanannya lebih besar.

'Hee, siapa gerangan Majutsu itu? Aku lupa menanyakan dari keluarga mana dia berasal. Bodohnya aku.' sejenak, Orochimaru merutuki kebodohannya tidak mengenal lebih jauh orang suruhannya tadi. 'Aah, dia pasti kembali lagi setelah merasakan efek serum penguat energi supernatural itu. Maa, kau memang jenius sejati, Orochimaru.'

"Sekarang tinggal data dari para penghuni tempat terdekat dari surga itu yang perlu kucari... dan juga, beberapa data yang belum kumiliki dari para mahluk-mahluk terkutuk dunia ini."

Lepas mengetakan hal tersebut. Orochimaru kembali memasuki ruangannya sambil bergumam,

"Nee,... Arus dunia ini mengalami perubahan yang sangat besar. Kuyakin kalian tak akan mengikutinya dan memilih menyelesaikan dendam kesumat ini—"

"—Bukan begitu, Kouhai-kouhai imutku?"

.

.

.

.

.

.

Dipenghujung malam yang panjang ini, perubahan besar-besar telah terjadi pada dunia dan penghuninya. Perubahan yang tercipta dari arus kehidupan yang begitu keras. Yang mana perubahan arus itu dimulai dari tragedi beberapa bulan lalu.

—Pembantaian Konohagakure.

Dari kengerian yang diciptakan oleh golongan Pengikut Raja Iblis terdahulu, muncul kelompok kecil yang merupakan korban selamat dari tragedi itu.

Menyusul tragedi tersebut. Insiden-insiden kecil pun terjadi dan disebabkan atau dialami oleh kelompok yang muncul itu.

Insiden pertunangan Rias Gremory.

Insiden penculikan Yuki Uzumaki.

Puncaknya... Insiden Kokabiel dan penyerangan kelompok Rias Gremory.

Pada dua insiden ini. Keberadaan kelompok itu langsung dikenal golongan-golongan besar terutama tiga fraksi terbesar. Iblis, Malaikat dan Malaikat Jatuh.

Kemunculan mereka sangat jelas akan melawan arus dunia yang selalu diciptakan oleh golongan-golongan besar dan merubah arahnya ke dua pilihan untuk akhir dunia ini. Hancur atau damai. Mereka tak memihak pada salah satunya, pilihan mereka adalah menghancurkan yang terlibat dalam pembantaian Konohagakure tidak peduli siapa dan dari golongan atau pihak mana.

Jadilah arus yang awalnya diciptakan oleh dua sisi. Sisi yang menginginkan kedamaian dan sisi lainnya hendak merevolusi sistem dunia diinterupsi oleh pihak yang tidak menginginkan keduanya, melawan dan hendak membawanya ke akhir yang tidak akan disangka-sangka.

Rencana demi rencana telah tersusun, tujuan demi tujuan mulai terbentuk.

Di pihak aliansi fraksi Injil. Mereka yang baru saja melakukan langkah besar menyusun banyak rencana demi tujuan dunia mencapai kedamaian sesungguhnya setelah ribuan tahun tanpa henti mengalami konflik oleh penghuninya.

Lalu, pihak Khaos Brigade. Satu golongan yang telah membeberkan tujuan mereka untuk merevolusi dunia juga telah melaksanakan rencana busuk mereka, dan bukan tidak mungkin ada golongan lain di dalam pihak Khaos Brigade yang tujuannya tak jauh berbeda dari golongan pengikut raja iblis terdahulu.

Lalu pihak Madara yang saat paling sedikit anggotanya. Sedikit namun tak bisa dipandang sebelah mata sampai Azazel dibuat khawatir berat pada mereka. Selain kekuatan tempur yang mengerikan, otak mereka juga sama mengerikannya sampai berhasil menjebak pemimpin fraksi Malaikat dan Iblis.

Rencana yang begitu sempurna telah dilaksanakan dengan tujuan menjauhkan Naruto dari segala macam ancaman dari pengaruh agar beralih pihak.

Sayangnya,...

Kenyataan menyakitkan tanpa diketahui oleh kelompok Madara dan itu disembunyikan rapat-rapat oleh pihak aliansi telah terjadi.

Kenyataan yang bahkan bisa membelokkan arus lebih jauh, lebih gila, lebih mengerikan dan kemungkinan besar berujung pada kehancuran satu sampai tiga fraksi bila tercium oleh dunia terutama kelompok Madara.

Kenyataan yang secara tidak langsung menggagalkan semua usaha dan rencana Madara bersama Vali kecuali menjauhkan aliansi tiga fraksi dari mereka.

Karena subjek utama dari semua yang keduanya lakukan—

—kini telah berada di alam berbeda...

.

.

.

.

.

.

.

.

"—KURAMA!!!"

Naruto langsung meneriaki nama partner kala kesadaran kembali ke tubuhnya. Kesadaran atau lebih tepat disebut jiwanya sempat berada di sebuat tempat gelap tak berujung.

Itulah yang jiwanya alami setelah terakhir kali berada di alam bawah sadarnya. Ia mengingat jelas perasaan itu, perasaan berada di tempat hitam kosong yang tak memiliki ujung. Sendirian dan tak tahu harus apa atau kemana.

Bahkan dia merasa kejadian tadi sudah berlalu sangat lama. Sedang ingatan sebelum berada di tempat itu serasa baru berlalu beberapa jam saja.

Mengingat hal tersebut, Naruto menyadari sesuatu.

Dia merasakan tubuhnya tengah berbaring di atas rerumputan atau hamparan ladang bunga, beratapkan warna ungu gelap. Itu bukan langit yang biasa Naruro lihat karena ketiadaan cahaya dari bintang.

Naruto mengangkat tubuh bagian atasnya perlahan-lahan. Memposisikan tubuhnya senyaman mungkin duduk di atas hamparan bunga hijau kekuningan sejauh matanya memandang ke depan, dalam benaknya hanya satu pertanyaan untuk saat ini.

"Dimana ini?"

Dia menoleh ke kanan. Agak jauh di arah yang dipandangi, hamparan bunga berakhir di sebuah danau yang begitu luas sampai ujungnya tak dapat dilihat.

Beralih ke sisi sebaliknya, hampir mirip dengan pemandangan di depannya. Warna hijau kekuningan yang seolah-olah bersentuhan langsung dengan langit ungu gelap tak berbintang tempat aneh ini.

'Sialan, dimana ini sebenarnya? Dan bagaimana bisa sampai kesini?'

Ketiadaan keberadaan mahluk hidup di tempat ini ataupun informasi dimana dan siapa yang membawanya ke sini memaksa Naruto memikirkannya sendiri.

Ingatan yang paling segar dalam pikirannya saat ini adalah pertarungan putus asanya melawan pemimpin tiga fraksi ditambah tiga bawahan terkuat dari fraksi iblis dan malaikat.

Di penghujung pengeroyokan yang dialami, situasi berubah total. Diawal dirinya ingin mati berhasil dipatahlan oleh serangan verbal Kurama. Ketika keinginannya untuk melanjutkan hidup sudah melampaui keputus-asaannya, ia hendak kembali ke pertarungan namun Kurama tiba-tiba menghilang dari hadapannya.

Dan setelahnya, giliran kesadarannya yang menghilang entah kemana ke sebuah tempat hitam kosong tak berujung.

Naruto menggeleng pelan untuk membantah pikiran buruk yang sudah masuk ke dalam kepalanya, yang mengatakan dirinya telah mati.

Ia harus bertanya pada Kurama. Rubah itu mungkin memiliki petunjuk barang sedikit pun.

'Kurama!'

Tak ada jawaban dari rubah dalam tubuhnya. Aah, sahabatnya itu mungkin lelah dan tengah tertidur mengistirahatkan diri.

'Kurama, woiy bangun pemalas. Kurama, oii Kurama!'

Masih tak ada jawaban.

'Sialan! Ini sama sekali tak lucu, Kurama. Aku masih merasakan Youki milikmu. Jangan bercanda disaat seperti ini.'

Tetap tak ada jawaban.

'Kurama... sialan!'

Mau tak mau, Naruto harus memeriksa sendiri keberadaan Kurama. Dia langsung berkonsentrasi dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Tempat demi tempat di alam bawah sadarnya dia periksa.

Tempat biasanya ia berbicara dengan Youkai itu.

Diatas segel pertama yang menyegel sisi iblisnya, di atas lingkaran sihir keluarga Lucifer yang masih berada disana.

Terakhir, adalah labirin tempat ingatannya tersebar menunggu untuk ditemukan. Ia menelususinya hingga lokasi terjauh yang sempat dijelajahi beberapa jam? atau mungkin hari yang lalu.

"Kuramaaa!! Jangan membuatku berpikir kita benar-benar sudah mati? Lalu kenapa kau berada di tempat yang sama denganku berakhir?!"

Kembali, rasa putus asa mulai menggeroti tubuh Naruto yang sebelumnya telah dihilangkan oleh Kurama.

Dia belum ingin mati!

Dia masih belum menyelesaikan tujuannya membalaskan kematian Izuna, Tobirama, Hina dan penduduk Konoha!

Dia belum mengetahui masa lalunya, dan ketiadaan Kurama yang mungkin mengetahui seluk beluk segelnya tak memungkinkan untuk dibuka. Dia mungkin cerdas, namun kerumitan seni penyegelan yang membelenggu ingatan dan sisi lain dirinya sebagai iblis keturunan Lucifer sama sekali tak bisa dipecahkan oleh otak diatas rata-rata miliknya.

... Dia bahkan belum sempat melunasi janjinya dengan Shidou Irina.

Dan yang terpenting... dia harus kembali!

Yuki, Kunou, Yasaka dan yang lain menunggu kepulangannya.

Dia tak ingin membuat sedih semuanya!

'Aku harus kembali apapun yang terjadi!'

Dia mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Masih ada satu arah yang belum diperiksa. Mungkin saja di belakangnya ada petunjuk, seseorang atau pintu keluar dari tempat aneh tak jelas ini.

Namun, baru saja menggerakkan kepalanya. Sesuatu lewat tepat di samping kiri, sesuatu itu menyerupai serangga terbang yang seluruh tubuhnya berwarna emas terang hingga menerangi sisi wajah Naruto.

"Kupu-kupu?"

Mengira hanya ada seekor dan itu adalah mahluk hidup yang berhabitat di tempat ini, Naruto terkejut ketika banyak mahluk tersebut muncul dari satu arah. Di belakangnya.

Naruto langsung berbalik dan semakin dibuat terkejut atas apa yang dilihat oleh matanya.

Mahluk itu, jumlahnya ada ratusan bahkan ribuan, terbang membentuk garis cahaya menuju ke pemandangan yang berbeda dari sebelumnya.

Jauh di sana, di ujung barisan kupu-kupu bercahaya yang beterbangan bagai penerang jalan terdapat formasi batu besar mirip sebuah pilar mengelingingi sebuah pohon. Pohon itu sendiri belum pernah Naruto lihat sebelumnya.

Lalu, jauh dibelakang bebatuan dan pohon tersebut ada benda yang biasa muncul ketika malam menjelang. Namun sedikit berbeda dan aneh. Ada dua bulan. Salah satu begitu besar dan telihat sangat dekat sedangkan satunya lagi cukup jauh perbandingan ukurannya.

'Well, itu mengagumkan namun juga aneh untuk sebuah tempat yang tak kalah anehnya.' Naruto membatin dalam keterkejutan menyaksikan pemandangan yang tak bisa ditemukan di dunia asalnya.

Buru-buru Naruto bangkit berdiri dan tanpa menunggu lama segera berlari ke formasi batu dan pohon aneh itu.

Selama dia berlari menyusuri hamparan bunga diterangi cahaya emas dari kupu-kupu yang sama sekali tak terganggu, Naruto berharap—sangat berharap tempat ini bukanlah alam selanjutnya setelah kematian.

Dia sendiri mengetahui bahwa bila mahluk supernatural mati akan berakhir di kehampaan, dan ia termasuk di dalamnya walau hanya setengah.

Lalu tempat ini tidak bisa dia sebut kehampaan atau kekosongan. Masih ada sesuatu, bahkan mahluk hidup juga ada di dalamnya. Langit, daratan, danau atau mungkin laut yang didalamnya mungkin ada ikan, bunga, pohon, dan hal yang belum ia temui sekarang ini.

Memakan waktu sekitar sepuluh menit bagi Naruto menyusuri padang bunga ini untuk sampai ke tujuannya.

Tiba di sana, Naruto untuk kali kesekian dibuat terperangah oleh keanehan di sekitarnya. Bebatuan tadi diluar dugaannya ternyata lebih tinggi dari perkiraan. Lalu pohon tadi, Naruto tak bisa mendeksripsikannya dengan baik. Akar, batang, ranting, daun bahkan buahnya memiliki bentuk unik dan juga bercahaya namun tidak seterang kupu-kupu emas yang berterbangan di sekitanya.

Selain apa yang bisa lihat, keanehan tak kasat mata juga terasa oleh kulit Naruto. Suasana—bukan, itu sebuah energi yang begitu murni dan menenangkan.

Puas memandangi pohon tersebut, Naruto menggeser garis penglihatannya sedikit ke kanan. Sekitar dua meter dari batang pohon, kupu-kupu emas atau mahluk apalah itu berkumpul mengerubungi sesuatu sehingga tak dapat ia lihat jelas apa itu akibat terangnya cahaya yang berpijar.

"Jadi, kau sudah datang rupanya..."

Naruto terkesiap, suara yang begitu lembut mengalun dengan nada datar menjengkelkan khas Madara Uchiha dari balik kepulan cahaya emas disana.

"Siapa?"

"...Aku sudah lama menunggumu disini, dan kau malah tertidur lelap disana tadi."

Oke, Naruto akui suara yang dia pastikan berasal dari perempuan itu begitu lembut dan tidak kalah menenangkannya dari suara dua adik imutnya. Namun, entah kenapa nadanya yang begitu datar cukup membuatnya sedikit kesal, belum lagi pertanyaan yang ia lontarkan malah diabaikan.

"Jangan bermain-main denganku siapapun dirimu, nona!" Naruto mengubah nada bicaranya sedikit mengancam. Ia tak punya waktu. Ia harus segera keluar dari tempat ini.

"... Fufufu..."

Pemilik suara itu mengeluarkan tawa lembut, namun tetap, nadanya begitu datar hingga mengurangi kesan lembut dan indahnya.

Kemudian, entah diperintah atau karena pemilik suara tersebut sedikit bergerak, kupu-kupu yang mengerubungi terbang menjauh sehingga menampakkan pemilik suara tersebut.

'Anak-anak?'

Ini diluar dari apa yang Naruto pikirkan. Ia tadi mengira bahwa perempuan yang berbicara dengannya berada di kisaran umur Hilda atau Yasaka.

Perempuan itu duduk pada batu agak besar membelakangi Naruto. Setinggi Yuki dan Kunou jika Naruto lihat dengan seksama, memiliki rambut pirang bergelombang panjang lebat menutupi seluruh tubuh bagian atas bahkan setelah dikepang dua higga mencapai bunga-bunga pada permukaan tanah. Di pucuk kepala, terdapat karangan bunga kuning yang diikat tanaman merambat sebagai mahkota atau mungkin sekedar hiasan.

Sempat terlintas pikiran yang diwariskan Jiraiya dan ditambah pengaruh Azazel di kepala Naruto. Perempuan itu, karena duduk membelakanginya dan rambut menutupi dari kepala hingga pantat membuat Naruto berpikir dia tak memakai sehelai benang pun.

Dasar Lucifer laknat! Ternyata memiliki sifat mesum sedikit mengarah ke Lolicon terselubung!

Naruto menggeleng pelan agar pikiran laknat itu hilang dari kepalanya. Ia lalu menghela nafas, lalu berbicara dengan nada formal. "Permisi, adik kecil. Ada yang ingin kutany—"

"Jika kau sudah sadar dan berada disini. Itu berarti kau adalah orang ke... yang mencapai tempat ini."

'Demi celana dalam Hilda! Kutabok juga ini anak lama-lama!' geram Naruto ucapannya dipotong dan itu sama sekali tak nyambung. "Aku tak mendengarnya dan tidak mengerti apa yang kau katakan, adik kecil."

"... Fufufufu "

'Grrr... Andai ada orang lain. Kubunuh kau, bocah!'

Setelah mengeluarkan tawa menjengkelkannya di telinga Naruto, perempuan—anak perempuan itu berdiri dan berbalik memperlihatkan wajah dan sosoknya.

Tenggorokan Naruto tercekat. 'Sial! Dia imut!'

Gadis belia itu, seperti yang Naruto gambarkan memiliki wajah yang imut. Tubuh dan wajah imutnya memberikan figur gadis di umur empat belas tahun. Lalu, tubuhnya, tidak seperti yang Naruto bayangkan tadi. Gadis itu memakai jubah putih mirip stola atau pakaian wanita zaman romawi kuno yang dibuat longgar di bagian bahu atas dan pada bagian dada terdapat pita merah yang melingkar. Kalau tidak salah Naruto pernah melihat model pakaian itu dipakai para Dewi mitologi Yunani dan pengikut wanitanya.

Mata gadis itu dipejamkan sehingga Naruto tak tahu apa warna dibalik kelopak lentik itu. Apakah indah dan menambah kesan imutnya? Atau malah mengerikan sampai ditutup segala?

Terakhir, terdapat bintik hitam dibawah mata kiri sang gadis menambah imutnya dimata Naruto walau belum melihat warna matanya.

Imut? Ya, Naruto mengakui keimutan gadis itu. Bahkan mengalahkan Yuki dan Kunou, mungkin.

'Sialan! Ini bukan waktunya untuk jadi Lolicon! Tunggu! Sejak kapan aku jadi Lolicon?'

"Errr... Siapa kau? Dan dimana ini sebenarnya?"

"Tempat yang indah, bukan begitu?"

Lagi-lagi gadis sama sekali tak nyambung jawabannya, ya walau masih membahas tempat ini, yang ditanyakan Naruto.

Naruto mengangguk. "Ya, indah. Sekarang, jawab pertanyaanku. Tempat apa sebenarnya ini?"

"Walaupun indah, di tempat ini hanya mereka." wajah sang gadis pirang sedikit bergerak ke kupu-kupu emas yang tidak sedikit pun berhenti menari-menari di sekitar keduanya. "Terkadang muncul harapan ada yang ingin menetap, dan kau sepertinya sedikit lebih lama disini sebelum berakhir sama dengan yang lainnya."

Naruto yang awalnya kesal dengan nada datar dan ketidak-nyambungan gadis didepannya sekarang malah jadi bingung sendiri. Dia bingung mau kesal atau malah kasihan pada gadis ini setelah ucapan terakhir tadi mengandung kesedihan dan kesepian yang cukup baik disembunyikan.

"Akan salah bila menyebut ini adalah tempat. Ini merupakan dunia atau alam terakhir lokasi dari Farthest Gate sebelum mencapai tempat bagi mereka yang terpilih, Elysium... Atau sebut saja dunia atau alam atau tempat ini Elysium Field."

"Dataran Elysium?" satu alis Naruto terangkat. Dia pernah mendengar nama itu sebelumnya, dan lagi-lagi itu berhubungan dengan mitologi Yunani.

Oke, ini semakin membingungkan untuk Naruto. Pertama, gadis didepannya berpakaian khas perempuan zaman dahulu dalam kepercayaan Mitologi Yunani, lalu tempat ini pun tak jauh-jauh dari sana. Naruto bukan berasal dari mitologi ini, namun kenapa malah terlempar kesini.

"Bukannya itu tempat para roh pahlawan, dewa dan orang suci dari mitologi Yunani?"

"Tempat ini bukan."

Oke, itu menyelesaikan kebingungannya. Selain daripada itu,

'Aah, akhirnya bisa nyambung juga percakapan sialan ini. Dasar bocah kampret!'

"Elysium sama sekali tak berhubungan dengan golongan Zeus dan pengikutnya. Bahkan semua golongan di dunia itu."

Kembali, Naruto menautkan alisnya untuk kali kedua. "Dunia itu? Maksudmu—"

"... Disinilah semua dimulai dan berakhir."

'Astaga bocah ini! Benar-benar ingin kubakar hidup-hidup.'

Kekesalan kembali hinggap pada Naruto. Selain karena dengan lancangnya bocah pirang imut di depannya menyela, apa yang dia bicarakan juga cukup untuk dibuat pusing.

Sama sekali tak memiliki hubungan dengan golongan apapun di dunia, tempat atau alam semuanya dimulai dan berakhir.

"...Dengan kata lain. Jika sudah berada disini, berarti... Kau telah berakhir, Naruto Lucifer!"

Mata Naruto melebar dalam keterkejutan mendengar kalimat terakhir tersebut, yang bisa ia artikan maksudnya. "Be-berakhir? Maksudmu mati?!"

"Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas jawabannya?"

Naruto memulihkan keterkejutannya dan mengeraskan ekspresinya. "Tidak! Ini belum berakhir. Aku masih berada disini, Youki Kurama masih bisa kurasakan dalam tubuhku. Aku bahkan bisa menghisap energi disini untuk dijadikan energi Senjutsu."

"Wujudmu yang sekarang tak lebih dari manifestasi jiwamu. Mereka yang datang sebelum dirimu juga mengalami hal sama. Datang membawa apa yang mereka miliki di dunia itu hingga berakhir disini. Ingatan, kekuatan, perasaan. Semuanya."

"Jangan bermain-main denganku!" mata Naruto berkilat tajam, ia mulai merasa dipermainkan oleh gadis di depannya. Bukan permainan percakapan tak nyambung, namun soal keberadannya disini. "Apa yang kau ucapkan sama sekali tak masuk akal dan membingungkan. Jadi, katakan! Siapa kau dan apa yang kau inginkan?"

"Hanyalah eksistensi yang telah lama mati."

"Tck! Bodoh amat!" emosi Naruto semakin memuncak. Selain siapa dan apa tujuan gadis di depannya, setiap ucapan atau jawaban yang dia lontarkan seperti menyembunyikan sesuatu dengan memakai kata-kata membingungkan, membuat Naruto semakin curiga padanya. "Aku tak punya waktu untuk segala macam omong kosongmu, keparat. Aku harus segera kembali, dan apapun akan kulakukan untuk itu, termasuk—"

"... Kau ingin melawan takdir dan prinsip kehidupan?!"

"Jika hanya itu satu-satunya cara untuk keluar dari sini. Ya, aku akan!"

Suasana di formasi batu besar dan pohon itu berubah mencekam, Naruto bisa merasakannya melalui kulit dan instingnya. Untuk berjaga-jaga, atau tepatnya bersiap-siap. Naruto segera melalukan sesuatu yang biasa ia lakukan sebelum memulai pertarungan. Apalagi si Gadis tadi menyebut tempat ini alam, itu berarti ada energi alam disini untuk ia memasuki mode Senjutsu.

Naruto langsung dibuat terkejut, kurang dari semenit ia sudah selesai. 'I-ini... Cepat sekali! Energi alam sebanyak ini dalam waktu singkat, dan begitu... murni?!'

"Aku tak peduli siapa kau, tempat apa ini, dan apa tujuanmu. Jadi, cepat keluarkan aku dari sini!"

"Itu... adalah keinginan yang tak bisa terwujud,... Aku tak bisa mengembalikanmu, begitupun kau yang tak bisa melakukan apapun untuk kembali."

"Omong kosong!"

Naruto meraung dengan perasaan campur aduk dalam dirinya.

Dia merasa tertekan karena memikirkan ucapan gadis yang mengatakan dirinya sudah berakhir atau mati.

Lalu, putus asa ikut serta di dalamnya karena tak ada kejelasan dirinya bisa keluar dari sini kecuali melakukan apa yang hendak dilakukan nanti. Belum lagi, dia berpikir keinginannya sebelum berakhir disini seolah-olah menjadi kenyataan apabila mempercayai kata-kata si pirang depannya.

Marah, ini juga tengah berkecamuk dalam dirinya. Dipermainkan sedemikian rupa oleh mahluk yang sudah lama mati katanya.

Terakhir... Dia bertekad harus keluar dari tempat ini sekarang juga, dan hanya ada satu cara di pikirannya saat ini untuk mewujudkan itu.

"Kalau begitu..."

Jarak Naruto yang hanya sekitar sepuluh meter memungkinkannya mencapai lokasi dari sang gadis hanya dengan satu dorongan kecil, menyebabkan retakan kecil pada tempatnya berdiri dan kelopak bunga kuning kehijauan beterbangan kemana-mana begitupun kupu-kupu emas tadi.

Melayang di atas sang gadis, Naruto membungkukkan badannya sedikit dan mengepal tangan kanan yang sudah teraliri Senjutsu dan Youki peninggalan Kurama.

"...Kuhancurkan tempat ini saja bersama dirimu, keparat!"

Sang gadis tak bergeming. Dia malah mengulang kalimat yang sempat diucapkan beberapa saat lalu, namun kali ini nadanya sedikit berbeda.

"Jadi,... Kau benar-benar ingin melawan takdir dan prinsip kehidupan."

"Senpō: Entei Daihoken." (Sage Art: Emperor Flame Great Breakdown Fist)

.

.

.

"Borg Al-Samm." (Eight-Headed Defensive Wall)

.

.

.

.

.

.

TBC!

[TrouBlesome Cut]

.

[Soft Ending Arc III]

[Sora wa Takaku Kaze wa Utau by. Luna Haruna — Fate Zero Ending Song 2]

.

[Arc III: Early and Late]

[Completed!]

.

Author Note:

Ngoahahahaha, rekor Update tercepat saya tahun ini. Sebuah rekor yang sangat membanggakan untuk Author Brengzeck yang malasnya minta ditabok. Ya, maaf...

Arc III akhirnya selesai dengan pembagian Chapter kurang lebih 16 Biji. Jika ada yang masih bingung atau tidak tahu apa yang terjadi selama Arc III ini, akan saya buatkan rangkuman dan akan ditempatkan di AN Chapter selanjutnya.

Well, untuk Chapter bagian kedua Chapter 29 kemarin. Mungkin tidak ada peristiwa penting yang terjadi, namun banyak petunjuk—Ranjau Darat sudah saya tebar dimana-mana tinggal dicari dan dirangkai, walah... Apa yang terjadi di Arc selanjutnya bisa ditebak.

Voila! Vali resmi bergabung bersama Madara and the Genk. Itulah kenapa dia terpasang pada Tag Main Character.

Lalu Naruto?

Apa dia mati?

Sepertinya Scene Terakhir di Chapter ini sudah menjadi jawaban yang sangat jelas. Belum lagi percakapan dan deskripsi Scene After Fight antara Michael, Azazel dan Sirzechs juga bisa menjadi penjelas nasib Naruto.

Naruto sendiri... Dia bertemu seorang gadis Loli di tempat semua dimulai dan berakhir bernama Elysium Field.

Well, silahkan tebak siapa dan dari Anime mana Loli itu. Dari ciri-ciri dan Tehnik yang dia keluarkan diakhir sepertinya sudah sangat jelas bukan siapa dia... Intinya, ya... Dia Loli! #Hail Loli! #Hail Lolicon United!

Well... mungkin hanya itu yang perlu dijelaskan. Sekarang waktunya membalas Review, saya hanya akan merangkumnya saja.

Yaaaa... Saya gak nyangka Chapter kemarin banyak yang bilang Chapter terbaik. Padahal saya ragu akan hal tersebut. Serius looh~

Tamat? Errr... Masih jauh tamatnya. Ini cuma Epilog Arc III, bukan Epilog ceritanya.

Kurama mengorbankan diri? Kita lihat saja nanti bagaimana nasib Kurama. Saya hanya akan bilang. Jiwa Naruto dan Kurama saat ini berpisah, sedangkan tubuh Naruto. Ya, kemungkinan paling besar adalah melebur layaknya mahluk supernatural umumnya.

Kenapa bisa jiwa Kurama dan Naruto terpisah? Mereka berdua berasal dari dua Mitologi berbeda. Jadi, apa yang terjadi setelah kematian Naruto akan jadi lain ceritanya. Mungkin Kurama berakhir di Yomi. Tempat setelah kematian menjemput mahluk mitologi Shinto. Youkai berasal dari Mitologi Shinto kan? Jepang kan? Ya maaf kalau salah.

Feel... Hmmm, gak nyangka juga ternyata bisa dapat Feel Chapter kemarin seperti yang reader katakan.

Untuk Hanakirei-chan... Kalau senpai ngambil Loli saya... Baku hantam kita, bujank!!!

.

.

Oke, itu saja sepertinya. Mohon maaf kalau ada kekurangan dan salah...

Brengzeck-id 014 beserta mereka yang ikut serta dalam proyek Fanfic Daybreak ini... Out!!

Mau bobok cantik bareng Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu...

Salam Lolicon dari Author Lolicon ini...

—BUKAN PEDO, BGSD!!!

Ciao~~