Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Anime, Light Novel dan Game dalam Fanfic ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!
Warning: Still and always Newbie, Multi-Crossover, Alternative Universe, Alternative Timeline, Alternative Reality, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-Gado, Alur tak menentu (Kadang cepat, kadang lambat dan masih terkesan kacau), OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, HalfDevil!Naruto, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Character, Sibling!NarutoVali, GradualyOverpowered!MainCharacter, Gray!MajorityMainCharacter, Gaje, Garing, Etc.
Main Summary: Kami hanyalah kelompok kecil yang memiliki masa lalu berbeda-beda namun melalui jalan kehidupan hampir sama. Bertahan diantara banyaknya eksistensi lain di dunia, tujuan kami saat ini hanyalah satu... Mencari dan membunuh semua yang terlibat dalam pembantaian Konohagakure.
Note: Well, Chapter ini merupakan pembuka dari Arc 4. Sekedar pemberitahuan di awal-awal. Akan ada tiga bagian dalam Arc IV ini. Saya tak akan menyebut bagian kedua dan ketiga, namun untuk bagian pertama saya beri judul: [Payback] yang mana Madara, Hashirama dan Vali yang akan ambil bagian. Seperti apa? Lihat saja nanti. Ngoahahahaha~
Oke, sekian notenya. Selamat membaca dan sakit mata!
.
.
.
[New Arc: Arc IV]
[First Stage]
.
[Chapter 30]
[Payback — What the Meaning of This?]
.
.
[Soft Opening Arc IV First Stage]
[Strike Back by. Back-On — Fairy Tail Opening 16]
.
.
.
.
.
"Madara! Bangun, Madara! aku butuh bantuan disini!"
Suara panik Hashirama menggema bagai tabuhan genderang perang di telinga Madara yang tengah terlelap di atas futon pada salah satu kamar penginapan kecil di pinggiran kota tetangga Kuoh.
"Oe, Bajingan! Jangan tidur terus, aku benar-benar butuh bantuan disini!"
Teriakan kedua memaksa kesadaran Madara ditarik menuju dunia nyata, padahal dia sedang bermimpi enak entah dengan siapa.
Bukannya bangun dengan tampang orang habis tidur, wajah Madara malah sangar bagai preman tukang palak di pinggir jalan.
Masih di atas futon miliknya, Madara menoleh ke lokasi teriakan Hashirama berasal. Keningnya mengkerut sesaat sebelum mengabaikan Hashirama yang butuh bantuan,
"Berisik!"
—Dengan kembali berbaring dan menutup mata seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Urus saja perawan sialan itu sendiri. Selamat tidur!"
"Oe, sialan! Jangan tidur lagi, aku butuh bantuan."
"Kau bunuh saja dia. Aku tak peduli, malah bagus kalau dia mati. Bikin darah habis saja."
"Aku mendengarnya, Madara-kun. Aku tak mati sebelum mendirikan harem yang isinya Ikemen semua. Kyaaaa..." Hilda membalas ucapan setengah berteriak Madara dari arah dapur.
"Bagaimana caranya? Kau saja ratusan kali gagal, apalagi aku?!—Dan, Hilda! Kembalikan handukku!"
"Ara, bukan aku yang mengambilnya, Hokage-sama."
"Terus siapa?!"
"Mana kutahu."
"Kalau begitu carikan, ini perintah!"
"Aah maaf, Hokage-sama. Aku sedang masak."
"Grrrrr... Bisakah sehari saja mendapatkan pagi yang tenang?!" dalam keadaan berbaring menyamping, Madara menggertakkan giginya kuat-kuat sebelum mengeluhkan dua mahluk bodoh yang ada saja tingkahnya setiap pagi. 'Heran, kenapa Sarutobi-sensei memilihnya sebagai penerus. Pakai [Henge] kek...'
"Aah, iya!"
Bunyi ledakan kecil setelah seruan Hashirama dari kamar mandi lantai bawah membuat Madara memutar bosan matanya.
'... Tumben pintar, terkejut aku.'
.
.
Setelah melalui adegan absurd hanya karena handuk Hashirama yang entah siapa mengambilnya ketika mandi, para pengangguran banyak acara ini melangsungkan acara sarapan yang pastinya tidak akan tenang.
Ada saja kejadian yang terjadi. Entah berebut Inarisushi yang akan dihentikan oleh Yuki dengan lemparan benda-benda disekitar, atau pun Hilda memasuki mode Big Tiddy Onee-san yang memaksa Madara ataupun Hashirama menahan rasa mual.
Ngomong-ngomong soal Yuki, Loli berambut putih ini sudah kembali seperti biasa. Semi-polos dengan rasa keingintahuan yang sangat tinggi sampai-sampai menanyakan apa itu Harem setelah meluncur dengan sangat mulus dari mulut Hilda.
Walaupun suasana sarapan seperti biasa, namun masing-masing dari mereka merasa ada yang kurang. Tentu saja keberadaan si bocah sableng.
Tidak perdebatan inarisushi lebih baik dari ramen.
Tidak ada orang yang membantu Madara mengolok-olok kebodohan Hashirama yang mengherankan bisa begitu mengerikan ketika tengah serius.
Tidak ada orang yang berani melempar godaan Hilda ke Madara.
Tidak ada tempat lain selain Maddie-niichan untuk Yuki bermanja-manja.
Dan perasaan kurang ini sudah berlangsung selama dua hari.
Jika sudah selama itu, sudah pasti ada yang akan sangat rindu, penasaran dan juga khawatir, walau tak tahu dengan jelas apa itu perasaan khawatir.
Siapa lagi kalau bukan Yuki.
Sambil meletakkan sendok yang baru saja dipakai pada piring kosong bekas sarapan, Yuki menoleh ke Madara, "Maddie-niichan, kenapa Onii-chan belum pulang?"
Madara meringis kecil melihat wajah khawatir Yuki yang terarah padanya. Dia meringis bukan karena wajah Yuki itu terlihat imut, melainkan tak tega mengelabui adiknya bersama Naruto dengan sebuah kebohongan.
Tidak hanya Madara. Hashirama dan Hilda pun demikian.
Hashirama yang kebetulan duduk di samping kanan Yuki menepuk pelan pundak adik Naruto. "Kakak Yuki-chan sedang melakukan sesuatu yang cukup penting. Jadi, mungkin tak akan kembali dalam waktu dekat. Minggu depan pasti kakakmu sudah kembali." ucapnya menenangkan dan menebar senyum penuh khawarisma seorang Hokage. Dia lalu menoleh ke Madara. "Benar kan, Madara?"
Sang Uchiha sempat melongo sesaat sebelum mengangguk. "Ya, dia akan segera kembali. Bersabarlah sedikit, Loli-chan. Kakak merepotkanmu itu tak akan kemana-mana."
"Memang Onii-chan kemana, Ojii-chan?"
"Hmm, sedang melalukan sesuatu." jawab Madara seadanya mendahului Hashirama. Takutnya mahluk kadang pintar kadang bego, tapi lebih banyak begonya itu salah memberi jawaban.
Yuki menoleh. "Apa itu, Maddie-niichan?" dia memiringkan kepalanya dan memasang wajah imut penasarannya.
Tenggorokan Madara tercekat dan salah tingkah. Terkutuklah insiden dua gunung kecil tanpa beha yang menindih punggungnya dua malam lalu, dia jadi begini. Sesangar-sangarnya Madara, dia tetaplah pria normal yang diumurnya sekarang harusnya sudah menikah bahkan punya anak. Sensasinya itu, Madara agak ragu bisa menahannya, jikalaupun dia bukan Lolicon apalagi Pedofil.
"Hn. Dia melakukan yang sesuatu sangat penting. Sangat penting sampai harus pergi sendirian."
"Mouu... Apa sesuatu itu lebih penting dari Yuki, Maddie-niichan, Ojii-chan dan Hilda-nee?"
Madara dan Hashirama terdiam sambil menatap satu sama lain. Sedang Hilda, dia malah bodoh amat sambil menikmati sarapan tanpa mau ikut campur.
'Oke, ini urusanmu, Madara. Urus sendiri sana. Dosanya tanggung sendiri. Dosaku sudah sangat banyak, dan itu gara-gara Yasaka-himesama dan Maid-nya yang punya dada gede.'
Tahu maksud tatapan Hashirama padanya, Madara menghela nafas panjang. "Sama pentingnya. Hanya saja ini harus diseleseikan segera, Loli-chan." Madara menjawab setengah berbohong, memang benar kalau Naruto harus menyelesaikan apa yang dia inginkan. 'Cepatlah bocah sableng. Lama-lama takut khilaf aku lihat wajah Yuki yang begini—Bangsat...'
"Madara, mukamu memerah—"
Mendengar ucapan Hashirama. Hilda menoleh ke sang Uchiha dan menyeringai. Madara lantas memandangnya garang dengan wajah memerah bukan karena membayangkan hal-hal laknat ke Yuki, melainkan marah.
"Woy perawan keparat! Apa yang kau masukkan ke Inarisushi ini?"
"Ara..." seringai Hilda menghilang. "Itu... Obat perangsang yang kemarin kubeli di supermarket dekat perempatan." Ucapnya kini dengan senyum tanpa dosa. Pantas saja dia dari tadi diam, ternyata menunggu obat yang ditaruh bereaksi.
Sedang Hashirama, buru-buru memutahkan sup jamur yang sudah lewat di pertengahan tenggorokan.
"Hilda...!"
"Keparat!"
Abis keduanya mengumpat penuh penekanan. Mereka buru-buru beranjak dari dapur dan menuju kamar masing-masing.
Melihat tingkah dua laki-laki tangguh kalah oleh obat laknat, Hilda tertawa terbahak-bahak memukul permukaan meja beberapa kali.
Yuki, jangan ditanya dia sudah pasang wajah macam apa dengan satu pertanyaan dalam benaknya. 'Apa itu obat perangsang?
Di kamar masing-masing pria sableng itu. Keduanya tengah mati-matian menahan hasrat terpendam yang sudah menggebu-gebu.
'Hilda keparat, kubunuh—kuew—kubunuh—Aah, dadanya segede punya Yasaka-himesama—Kuingin pegang dada—Sialan obat ini!'
'Aku bukan Pedofil, bukan, bukan—Sialan, Loli-chan tadi imut—Bangsat, sadar anjing! Onore Kuso-onna, kubunuh kau—Tapi diew—Keparat, diamlah libido sialan!'
""Tertukuklah kau, perempuan gila!""
"Madara-kun, ena-ena yuk!"
"Tak akan!"
"Dadaku gede loh~"
"Wogh, dada gede—"
"Bukan anda Hokage-sama, tapi Madara-kun~"
"Bodoh amat. Punya Loli—Bangat, kubunuh kau perawan gak guna!"
"Ara ara, nfufufufufu..."
Aah, pagi yang benar-benar tenang untuk sang Uchiha. Sepertinya harapan untuk mendapatkan pagi yang tenang sehari saja akan sangat sulit terkabulkan.
.
.
.
Menjelang siang, Madara benar-benar ingin membunuh Hilda. Dia meminjam gulungan penyimpanan yang isinya seluruh senjata ninja bekas invasi Konohagakure.
Tentu saja setelah pengaruh obat laknat menghilang.
Mengelabui Hilda kalau dia masih terpengaruh, Madara mengajak Hilda ke salah satu ruang kosong penginapan dan membantainya disana. Puluhan senjata ninja menusuk tubuh Hilda dan menahan perempuan untuk tidak bergerak dari tengah-tengah ruangan.
"Madara-kun, ini sakit loh... Aaah,..."
"Bodo."
Madara tanpa berbalik melengos keluar dari ruangan, meninggalkan Hilda yang sudah mendesah keenakan menikmati rasa sakit di tubuhnya.
'Sudah mesum, masokis pula. Apa dosaku sampai dekat dengan mahluk aneh ini, Kaguya-himesama?!'
Selesai dengan Hilda. Sekarang tinggal melakukan aktivitas rutinnya saja. Madara berjalan menuju halaman belakang penginapan yang mereka sewa.
Lokasinya yang kebetulan berbatasan langsung dengan hutan membuat penginapan ini benar-benar sempurna untuk bersembunyi sementara tanpa harus mengabaikan Yuki yang sangat memerlukan latihan agar bisa menjaga diri.
Untuk semakin aman bersembunyi disini. Madara tidak lupa memakai otak liciknya untuk menghalalkan segala cara. Mulai dari menginap gratis, dan menutup tempat itu agar hanya ada mereka.
Terakhir, memasang Kekkai (Barrier). Jadilah tempat ini jadi persembunyian paling sempurna dua hari pasca konferensi tiga fraksi.
Tiba di beranda belakang yang disana sudah ada Yuki menunggunya. Sebelum memulai latihan rutin adik imutnya, dia lebih dulu ingin memastikan sesuatu.
"Loli-chan..."
"Iya..."
"Bagaimana tarian pertamamu dua hari yang lalu?"
Yuki yang memakai pakaian santai berupa kaos biru bergambar karakter imut, celana diatas lutut berbahan kain lentur dan sepatu olahraga memasang tampang berpikir—yang tentu saja sangat imut dan untung Madara sudah lepas dari pengaruh obat—mencoba mengingat-ingat acara menari pertamanya di konferensi.
"Mereka lebih cepat dari Onii-chan. Tapi tidak seperti klon Maddie-niichan. Mereka juga punya sinar-sinar aneh yang dilempar ke Yuki. Hmmpt, mereka mengikuti jurus rahasia Yuki. Mereka bikin Yuki kesal."
Madara terkekeh datar melihat tingkah Yuki. Perubahan eksresi tiba-tiba Yuki ketika menjelaskan yang membuat Madara bereaksi demikian. Adiknya itu pertama serius, lalu penasaran dan akhirnya kesal.
Lagipula jurus rahasia apa yang dimiliki Yuki? Jurus lemparan sandal atau benda lain, mungkin.
Lebih dari itu, Madara bangga atas pencapaian Yuki yang lumayan memuaskan. Di pertarungan pertama, berbekal latihan dan seni bertarung ciptaan Naruto, Yuki berhasil mengalahkan beberapa Majutsu yang levelnya dikatakan Azazel setingkat dengan iblis kelas atas.
"Hn. Mungkin sudah waktunya menaikkan levelnya." Madara tersenyun kecil kemudian menepuk pelan kepala Yuki. "Kau benar-benar membuatku bangga, Loli-chan."
'Ya, walau perkembangannya jauh dibawah Naruto yang benar-benar mengejutkan. Potensi anak itu... Tak berdasar, dan tak terbatas untuk terus berkembang.'
Senyum Madara semakin melebar, dia kembali mengingat hari-hari melatih Naruto. Sepertinya, anak itu benar-benar memiliki masa lalu yang menyimpan banyak misteri. Dia bahkan masih mengingat jelas bagaimana tubuh kecil Naruto waktu itu bisa menerima latihan ekstrimnya di hari pertama, dan berakhir dengan mengalahkan dua Kagebunshin, ya walaupun harus menderita puluhan luka lebam, sayat dan tusuk.
"Benarkah Maddie-niichan?" Yuki bertanya antusias, dan itu membuyarkan lamunan Madara.
"Hn." Madara mengangguk singkat. "Anggap saja hadiah berhasil melewati acara menarimu yang pertama Loli-chan."
"Yeay! Horee! Maddie-niichan yang terbaik!"
Yuki bersorak dalam kegembiraan dan melompat-lompat kegirangan di depan Madara. Sungguh, dopin macam apa yang dipakai Uchiha sialan ini sampai Yuki jadi macam ini. Begitu antusias dalam latihan.
"Hn. Baiklah. Mari kita mulai saja!"
Madara membentuk segel tangan jari telunjuk dan tengah dirapatkan lalu dibentuk tanda tambah dengan tangan lainnya.
"Kagebunshin." (Shadow Clone)
Tiga kepulan asap putih muncul di tengah-tengah halaman, setelah bekas asapnya menghilang diterpa angin pelan. Disana sudah berdiri tiruan sempurna Madara yang mengenakan pakaian santai kaos hitam polos dan training pendek hijau berjumlah sama dengan ledakan tadi.
"Gunakan Taijutsu (Body Technique) di atas level Loli-chan, kunai dan shuriken. Namun jangan menargetkan organ vitalnya. Hari ini fokus ke kecepatan, reflek dan analisis keadaan untuk Loli-chan. Paham?"
Perintah Madara pada tiga klon miliknya hanya dibalas anggukan dan 'Hn' serentak.
"Waah, ditambah lagi! Yuki akan berusaha!"
"Loli-chan... Ingat yang kuajarkan." sela Madara ketika melihat begitu bersemangatnya sang adik. Dia menggerakkan tangan kanan dan memberi kode ke Yuki untuk menghampirinya. "Jangan terlalu memperlihatkan emosi ketika menari. Semangat juang, tekad, semuanya..."
"... Itu harus ditaruh disini." Yuki menyambung ucapan Madara sambil menyentuh dada kiri. Sedetik kemudian, perubahan ekspresi besar-besaran terlihat di wajah Yuki.
Tak ada ada lagi Yuki bersemangat, antusias dan penuh tekad demi sesuatu. Kini hanya ada Yuki tanpa ekspresi berarti dengan mata hitam legam yang redup.
"Yuki mengerti!"
"Hn. Itu baru muridku."
"Waktunya menari!"
"Hn. Benar-benar muridku."
.
.
.
"Hmm... Kau menambah lawan tanding Yuki rupanya."
Madara yang tengah sibuk mengamati setiap gerakan Yuki menghindari serangan beruntun dari tiga klon diinterupsi oleh suara Hashirama dari arah belakang. Dia menoleh ke belakang melihat sahabatnya yang datang membawa dua gelas berisi minuman berasap di atas nampan.
"Mempercepat perkembangan Loli-chan untuk berjaga-jaga. Setelah konferensi mahluk-mahluk sialan itu, nama dan tujuan kita pasti diketahui dunia."
Madara berujar sambil mengembalikan fokus ke Yuki yang baru saja melompat anggun ke belakang agar tidak terkena tendangan rendah, lalu tak butuh lebih dari satu detik setelah kaki kanan menapak tanah langsung melesat dengan kecepatan tertinggi yang dimiliki.
Dan, latihan Yuki kembali berlanjut.
"Gaya bertarung itu..."
"Ya, Loli-chan mulai terbiasa dan nyaman memakainya."
Hashirama berhenti sejenak memperhatikan bagaimana Yuki berusaha mendaratkan satu serangan pada klon Madara namun harus urung dilakukan karena dua kunai tiba-tiba datang dari arah kanan.
"Refleknya berkembang pesat." Hashirama dibuat kagum menyaksikan Yuki menangkap dua kunai tadi dan dilempar ke sembarang arah dan melanjutkan apa tadi sempat tertunda. "Aah, kukira Yuki akan memakai kunai tadi."
"Dia belum sampai pada tahap itu. Untuk sekarang aku ingin Loli-chan setidaknya bisa melindungi diri dari serangan menengah ke bawah, dan yang paling penting membuatnya bisa menghindar dari serangan-serangan jarak dekat."
Hashirama mengangguk setuju atas penuturan Madara. Memang benar Yuki ada yang terlemah diantara mereka, mungkin jika melakukan penyerangan Yuki tak perlu diikutkan. Namun jika terjadi sebaliknya. Akan menjadi masalah yang cukup serius.
Hashirama bersama Naruto dan Madara adalah petarung jarak menengah ke atas, dan kebanyakan tehnik mereka adalah tipe penghancur yang tak kenal mana kawan mana lawan jika di keluarkan. Lalu Hilda, perempuan gila itu memang tipe jarak dekat, hanya saja tipe jarak dekat penyerangan, bukan defensif. Jadi, menyerahkan perlindungan Yuki pada mereka bila diserang bukanlah hal bijak. Bukannya dilindungi, malah terkirim ke alam lain dan ketemu Loli disana.
Sementara Vali, menurut Madara kemampuan [Divide] dari [Sacred Gear] berisikan kadal putih itu lebih condong ke support. Bantuan untuk melemahkan lawan dengan mambagi kekuatan tempurnya.
Hashirama yang sedikit letih berdiri terus mengambil posisi duduk di samping Madara. Nampan yang dibawa diletakkan di depan mereka.
Madara menatap curiga dua gelas yang dibawa Hashirama. "Itu aman?"
Butuh waktu beberapa detik untuk Hashirama mengerti maksud dari pertanyaan sahabatnya. "Tentu saja. Kau pikir aku mau memasukkan obat terkutuk yang dibeli Hilda?"
"Siapa yang tahu. Kali saja kau mau balas dendam." tutur Madara datar mengambil satu gelas dan hendak meminumnya pelan. "Kalau kau lakukan. Kucincang kau pakai Susano'o."
"Iya, iya." Hashirama memutar bosan bola mata lalu melirik Madara yang sudah menyesap teh hangat buatannya itu. "Nee, Madara..."
"Hn?"
"Kenapa kau ingin Naruto yang memimpin kita nanti? Ini tidak seperti kau yang biasanya."
Madara menyesap untuk kali kedua teh hangatnya dan mendesah dalam kenikmatan setelah benda cair itu melewati tenggorokan. "Aku percaya padanya."
"Hanya itu? Kalau itu dari dua hari lalu aku taunya, Teme."
"Semua hal tentang anak itu yang kuketahui." Madara meletakkan tehnya dan menatap langit biru dan mulai bermonolog. "Mata anak itu, dibalik kekosongan yang kadang diperlihatkan. Tersembunyi mata ambisius dan penuh tekad. Aku menyadarinya saat pertama aku melatih anak itu."
"Kekosongan?" beo Hashirama sedikit bingung.
"Masa lalunya mungkin, atau hal lain. Tersegelnya ingatan bocah itu meninggalkan kekosongan yang sangat besar, namun dia abaikan begitu saja dan menutupinya dengan ambisi, tekad dan apa yang penting untuknya."
"Hmm, begitu rupanya." Hashirama mengangguk-anggukan kepala. "Kekosongan itu, setelah terisi disitulah Naruto tahu jati diri dan tujuannya, bukan?"
"Wah, tumben cepat paham. Terkejut aku."
"Woy! Aku tak sebego itu juga kali."
Madara terkekeh kecil. Hal langka ini. "Tak usah membantah, kau memang bego dan murni dari DNA Senju dalam tubuhmu."
"Dih—"
Sebelum Hashirama mengumpat. Sebuah kunai hampir saja menembus kepalanya andai kata tak cepat di miringkan. Dia menatap horor kunai yang menancap di daun pintu lalu mengalihkan perhatian ke asal senjata ninja itu datang.
"Ups?"
"'Ups' bijumu!"
Urat kening Hashirama menyembul keluar melihat senyum tanpa dosa klon Madara sebagai pelaku pelemparan.
"Itu sengaja."
"Keparat!"
"Good job."
"Diamlah, teme! Tidak Bunshin, tidak orangnya. Sama saja."
Hashirama menghela nafas lelah. Hidupnya terlalu dikutuk sepertinya dikelilingi orang-orang berkelainan. Masokis, mesum, sadis, polos dan lain sebagainya nanti.
"Mata anak itu juga memiliki hal lain..."
Kekesalan Hashirama semakin reda ketika Madara kembali berbicara. "Yang lain?"
Madara mengangguk. "Hn. Matanya bisa menembus segala macam kebohongan dan keburukan seseorang untuk mencari kebaikan dibaliknya, membuat dia sangat mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Aku, kau, Hilda, Yuki dan orang-orang yang pernah berhubungan dengannya adalah bukti dari itu." Tutur Madara agak panjang diakhiri lemparan senyum berarti pada langit biru di atasnya. "Bukankah semua itu sudah lebih dari cukup membuat Naruto cocok untuk berdiri di depan kita semua..."
Hashirama ikut tersenyum dan mengangguk setuju akan hal itu. Dia kemudian menambahkan sebuah ungkapan bermakna sangat dalam. "... Sebagai perisai terkuat dan tombak tertajam yang pernah ada."
"Ya, mungkin kau ada benarnya."
"Coba dari awal kau mengatakan semua ini. Aku pasti ikut serta dalam rencanamu dan Vali, teme."
"Aah, sudahlah. Rencananya juga sudah setengah jalan. Sekarang tinggal menunggu Naruto saja menyelesaikannya selagi melakukan sesuatu beberapa hari lagi."
Hashirama langsung menatap sahabatnya penuh tanda tanya. "Eh, apa itu? Bukannya sekarang kita hanya perlu menunggu Naruto selesai?"
"Hn. Tidak!" Madara menggeleng pelan. "Sudah kubilang dari awal, kita akan memanfaatkan semua yang ada termasuk waktu. Sebentar lagi bocah kaleng itu akan memberi informasi dan susunan rencana, secepatnya pembalasan akan dimulai. Daripada diam menunggu Naruto, lebih baik kita melakukan apa yang bisa dilakukan. Lagipula, selain mereka pasti ada orang-orang lain yang terlibat secara tidak langsung. Percayalah." tutur Madara panjang lebar sempat membingungkan Hashirama untuk kali kedua sebelum akhirnya mengerti. "Firasatku mengatakan bukan hanya ular sialan dan mahluk-mahluk keparat itu dibalik kehancuran Konoha."
Hashirama diam mencerna ucapan Madara. Walau itu hanya firasat sahabatnya, namun bisa saja itu benar. Dunia ini begitu luas yang di atasnya berbagai macam mahluk hidup dengan sifat dan tujuan berbeda.
"Balas dendam kah? Ini benar-benar sangat berbeda dari pesan yang ditinggal Kaguya-himesama untuk kita. Kita tidak hidup selaras dengan mahluk-mahluk dunia ini, malah ingin menghancurkan sebagian kecil dari mereka."
"Tck, dasar bodoh." sindir Madara tidak seperti biasanya, yang pedas dan menusuk. Ini justru lebih ke menggelitik pemikiran Hashirama itu. "Lalu kau sebut apa bocah sableng, adik-adiknya dan Yasaka, huh?"
"Bukan itu maksudku, Madara."
"Lalu?"
"Kita melawan arus dunia, Madara. Secara tak langsung tak selaras dengan mahluk-mahluk lain, dan kuyakin Kaguya-himesama ingin kita selaras dengan mereka yang menginginkan perdamaian untuk dunia ini." jelas Hashirama dengan suara lirih. Seperti saja dia merasa melawan keinginan leluhurnya.
"Ya, ya... Mungkin itu bisa kita lakukan setelah tujuan kita ini terselesaikan, Hashirama."
Hashirama menoleh ke Madara dan tersenyum kecut. "Aku ragu akan hal itu, kau tahu..."
"Hanya saja..." Madara mengabaikan komentar dengan nada menyindir Hashirama padanya dan melanjutkan ucapan tadi yang ternyata belum selesai. "... Apa kau yakin dunia ini benar-benar bisa damai?"
"Hahaha..."
Hashirama tertawa kering atas pertanyaan yang tak bisa diberikan jawaban pasti itu. "Dulu aku percaya pada kalimat 'hasil tak akan mengkhianati usaha' karena beberapa kali sudah terbukti di depan mataku... Bodohnya aku masih tetap pada percaya pada itu untuk yang satu ini."
"Ya, itulah kebodohan yang bukan dari kelainanmu." Madara berkomentar datar sambil melirik sahabatnya itu. "Bahkan jika penghuni dunia ini bersatu untuk mewujudkannya, akan ada satu sisi yang tak akan mau dan menentang..."
Ini merupakan sebuah kelangkaan. Entah keberapa kalinya, dan itu masih bisa dihitung jari Madara dan Hashirama memiliki pendapat sama. Selama beberapa saat, mereka saling menyambung kalimat yang terucap dari mulut masing-masingnya.
"... Dunia tak pernah berubah—" Hashirama memulainya.
"—Namun tidak penghuninya."
"... Kedamaian tak akan pernah ada untuk dunia ini sampai kapan pun, kecuali—"
"—hancur bersama para penghuninya."
.
.
.
Madara dan Hashirama sama-sama tersenyum karena ini seperti masa kecil mereka yang selalu sejalan dalam memikirkan sesuatu, sekarang pun masih hanya saja jarang—sangat jarang terjadi.
"Aku jadi kasihan pada aliansi tiga fraksi, mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin terjadi kecuali mereka hancur atau saling menghancurkan sampai tak bersisah. Ini seperti keinginan Toothy-kun yang ingin mengobarkan kembali perang antara ketiganya."
Hashirama tiba-tiba menautkan alisnya bingung. Kenapa Madara tiba-tiba mengungkit Jendral Perang Fraksi Malaikat Jatuh yang sudah mereka bunuh waktu itu dan tujuannya.
"Percaya atau tidak... Tujuan dari malaikat jatuh itu berlandaskan kecintaannya pada manusia. Dia ingin semua mahluk supernatural termasuk rasnya sendiri musnah tak bersisah meninggalkan manusia saja di alam semesta ini." Madara berujar pelan dan datar, lalu melamun sejenak hendak mengingat-ingat kepingan memori Kokabiel yang dia ambil. "Dengan mengobarkan kembali perang antara tiga fraksi, golongan lain bukan tak mungkin tinggal diam. Konsep keseimbangan. Bila ada satu ras yang punah, itu akan mengakibatkan keseimbangan dunia terganggu dan membuka pintu menuju kehancuran. Ini merupakan kisah lama yang Kokabiel dapatkan dari malaikat yang pertama jatuh di dunia ini..."
Madara tersenyum masam kemudian. "Andai Toothy-kun lebih membuka mata dan melepas ego yang kelewat besar miliknya sebelum menjalankan rencana perang akbar jilid dua itu, dia pasti berhasil. Ada banyak mahluk dan golongan yang menginginkan hal sama dengannya." tuturnya kembali membeberkan hal dia dapatkan dari ingatan Kokabiel tempo hari. Dimana dalam ingatan itu dia melihat Kokabiel didatangi sebuah kelompok yang ingin bekerja sama namun ditolak mentah-mentah karena alasan sepela. "Benar-benar mahluk bodoh bersel satu."
Hashirama mendesah panjang. Dia agaknya tak terlalu peduli pada Malaikat Jatuh yang telah gugur itu karena pikirannya saat ini lebih tertuju pada konsep keseimbangan dan tujuan mereka.
"Kalau memang konsep keseimbangan itu benar, bukannya akan berujung sama setelah kita membunuh seluruh pengikut golongan raja iblis terdahulu, Madara?"
Sang Uchiha lantas menatap heran sahabatnya itu kenapa sampai mengaitkan konsep tersebut dengan tujuan mereka. Alis Madara naik beberapa milimeter, sambil memasang ekspresi bertanya.
"... Lalu, apa arti semua ini ketika semuanya berakhir, Madara?"
"Arti dari semuanya ketika berakhir?" Madara mengulang dengan nada bertanya, dia tersenyum kecil setelahnya dan menjawab ambigu. "Kita akan mengerti pada akhirnya, Hashirama."
"Huh, entah kenapa belakangan ini kau banyak merahasiakan sesuatu, Madara."
"Tak ada lagi, Hashirama." Madara menjawab setengah jujur, namun setengahnya bukanlah kebohongan. Hanya saja, "Karena aku pun bertanya-tanya apa arti semua ini. Namun, satu hal yang pasti. Aku tak akan berharap sedikitpun untuk dunia ini bisa damai... Daripada berharap pada hal yang tak mungkin terjadi kecuali semuanya mati, lebih baik lakukan saja yang ingin dan bisa kita lakukan. Hanya itu."
Hashirama menghela nafas panjang. Sialan memang sahabatnya itu, mempermainkan kata-kata yang cukup sulit ditemukan jawabannya di dalam otak standar punya dia. "Haaa, kalau begitu aku terpaksa mengikutimu saja sampai kita mengerti." ucapnya akhir menentukan pilihan.
"... Dan itu, menyelesaikan tujuan kita sekarang, bukan?"
"Hn."
.
.
Dan siang itu, sambil memperhatikan latihan Yuki, Madara dan Hashirama meneruskan perbincangan mereka diselingi ejekan dari Sang Uchiha tentu saja.
Entah apa yang dibahas, pastinya itu bukan Hilda dengan kelainannya ataupun Yasaka dengan payudara besarnya, dan bukan juga soal Madara yang mulai menampakkan fetish terhadap Loli...
Kalau sampai membicarakan itu, Hashirama pasti ditabok sampai terbang ke langit lagi.
Madara bukan Lolicon apalagi Pedofil, hanya karena takut dinistakan, dia terpaksa menyerah pada keadaan.
.
.
.
.
.
Di sebuah tempat yang berada di wilayah pedalaman Rusia. Sekelompok orang yang jumlahnya ada lima baru saja melakukan pembantaian pada desa kecil entah apa alasannya.
Dari kelima orang yang tengah berdiri pada tanah lapang pusat desa, diketahui tiga berada di kisaran umur dua sampai tiga puluh tahunan dan dari postur diketahui dua pria satu wanita. Sedangkan dua sisinya dari fisiknya masih berusia di kisaran tiga sampai lima belas tahun.
Dan semuanya mengenakan jubah ungu yang hampir menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki.
"Kalian berdua, bakar semua mayat yang ada dan ratakan tempat ini. Sisanya ke desa terdekat untuk menghapus ingatan para penduduknya tentang desa ini. Tak boleh ada jejak sedikitpun yang tertinggal."
Salah satu pria berjubah memberi perintah, dengan nada berbeda-beda keempatnya menyahut. Ada yang malas, datar, bersemangat dan pura-pura tidak peduli.
Pria lain bersama satu anak-anak disana langsung menghilang ditelan lingkaran sihir aneh berwarna kebiruan, sedangkan wanita dan anak kecil satunya buru-buru membakar ratusan mayat yang bergelimpangan di penjuru desa.
Sementara empat bawahannya mulai bekerja, sang pemberi perintah juga nampaknya melakukan sesuatu di tempatnya. Dia memposisikan tangan kanan di dekat telinga mirip seseorang menelpon, tak lama berselang muncul lingkaran sihir kecil berwarna emas diantara telinga dan tangan.
"Kenapa tiba-tiba anda menghubung saya disaat seperti ini?"
Pria tersenyum kecil di balik bayangan tudung jubahnya. "Aah, abaikan saja basa basi saya barusan. Anda menghubungi saya tepat waktu. Kami baru saja menyelesaikannya berkat pemberian anda tempo hari. Tinggal melakukan tahap terakhir saja. Memang ada apa?"
Selama beberapa saat, perubahan ekspresi berarti terjadi pada wajahnya. Mulai dari terkejut, sedikit kekhawatiran dan merasa tak terima akan sesuatu.
"Baiklah, kami mengerti. Pencarian akan dihentikan sementara dan segera kembali ke markas,..." tuturnya serius. Tak lama setelahnya dia tertawa kering setelah diberitahukan sesuatu yang agaknya sedikit membuatnya khawatir namun ingin tertawa. Humornya receh mungkin.
"... Ya, ya... Aku tahu dia pasti marah-marah lagi setelah tahu hal ini."
.
.
.
.
.
.
Di hari yang sama, ketika malam menjelang pada sebuah kastil tua peninggalan abad pertengahan di dataran Eropa lingkaran sihir putih khas keluarga Lucifer muncul di depan gerbang.
Dari salah satu kemampuan dasar makhluk-makhluk berenergi supernatural dalam tubuh itu Vali Lucifer muncul dengan tangan dimasukkan ke saku celana yang dikenakan.
Dia tersenyum kecil menatap sejenak kastil yang merupakan salah satu dari sekian banyak markas Khaos Brigade. Dari sekian banyak, disinilah Vali paling sering menghabiskan waktu bila tak ada kegiatan seperti mencari lawan kuat, mencari hal-hal baru ataupun mencari informasi soal Naruto.
Berbicara soal Naruto. Setelah resmi ikut serta dalam kelompok Madara dua malam sebelumnya, keesokan paginya dia menyuruh untuk Bikou kembali duluan. Dia ingin melakukan sesuatu sebelum kembali dan meminta kepastian timnya ikut serta atau tidak.
Dari beberapa hal yang dia lakukan dua hari belakangan, mengunjungi Grigory menjadi agenda terakhir. Lebih tepatnya menyusup untuk mengambil barang-barang penting yang dimiliki lalu ditaruh pada sihir penyimpanan dasar.
Beruntungnya, ketika dia berkunjung—menyusup lebih tepatnya, keadaan Grigory tengah sibuk-sibuknya. Mulai dari pertemuan tiga pemimpin aliansi fraksi utama di Kastil Lucifer, digantinya Azazel sebagai pemimpin oleh Shemhazai dan beberapa keadaan lain yang memungkinkan Vali bisa menyusup dengan mudah.
Lebih dari itu, Vali juga agaknya sedikit rindu pada sesuatu.
'Aah, beberapa hari pergi, aku jadi rindu bokong Kuroka...'
Oke, sepertinya Sang Hakuryuukou terkuat sepanjang masa juga memiliki kelainan tersembunyi, tersembunyi dibalik sifat kalem dan dinginnya. Cocok memang jadi bagian dari kelompok Madara.
Tanpa menunggu lama, Vali segera beranjak dari gerbang menuju salah satu ruangan di kastil tersebut tempat biasa tim bentukannya berkumpul.
—Dan jangan lupakan senyum mesum yang terpampang di wajah sambil membayangkan pantat Kuroka bergerak kiri kanan saat berjalan.
Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Vali untuk sampai di ruangan tempat tim miliknya berada,
"... Selamat datang kembali—nyaan..."
Dan dia sudah disambut suara lembut dari dalam bahkan sebelum membuka pintu yang sudah diraih kenopnya. Vali menghilangkan senyum mesumnya tadi dan diganti dengan raut wajah yang biasa dia pasang. Datar, dingin dan kalem.
Benar-benar Tsundere keparat dengan kelainan terselubung!
Vali membuka pintu dan membalas salam tersebut.
"Hmn, aku kembali."
Di depan pintu yang masih terbuka, Vali memperhatikan seisi ruangan. Bikou, ada di sudut ruangan tengah membersihkan tongkatnya. Cewek yang tadi menyambutnya, dia berambut hitam panjang, memiliki telinga kucing mencuat di kepala dan dua ekor hitam bergerak-gerak tengah tiduran malas dengan posisi menyamping di atas sofa pada sisi kiri ruangan.
Lalu, ada satu pemuda berkacamata yang seumuran dengan Vali. Dia tengah duduk di kursi yang berhadapan dengan yang ditempati si Kucing Hitam tadi. Di pangkuannya, ada kepala berambut pirang yang tubuhnya direbahkan pada sofa sambil memeluk sebuah topi besar biru.
"Kemana Ophis?" tanya Vali memulai tak mendapati pemimpin organisasi tempat dia dan timnya bernaung. Siapa lagi kalau bukan Moefikasi naga hitam yang kena tendang dari celah dimensi oleh Great Red entah apa alasannya. "Biasanya dia bersama kalian kalau tak ada kegiatan organisasi."
"Nyan—Ophis tadi siang keluar untuk menemui seseorang katanya." cewek kucing menjawab dengan nada khasnya. "Ngomong-ngomong, kau darimana saja dua hari?"
"Hanya mengurus beberapa hal kecil, Kuroka." Vali menjawab dengan suara yang mengandung makna agar gadis kucing itu tak perlu khawatir ada sesuatu terjadi. "Mencari anggota baru lagi? Tumben Ophis berpikir mau menambah anggota... Memang siapa orang itu?"
Vali sekilas dirundung rasa penasaran. Sejak merekrut golongan terakhir sebulan lalu, Ophis tak pernah lagi mengatakan akan menambah anggota. Sempat pula dia berpikir orang yang diincar Ophis adalah Naruto—kakaknya, namun itu ditepis oleh fakta Naruto tak terlalu spesial di keadaannya yang sekarang.
"Hmnn, kami tak tau siapa dia, tapi Ophis bilang dia cukup kuat dan baru tahu orang itu beberapa hari yang lalu."
Oke, ini cukup untuk Vali berpikir lagi karena alasan tertentu. Semoga saja orang yang didatangi si Loli Doragon menolak ajakan bergabung. "Begitu kah." dia menjawab singkat lalu melirik gadis belia yang rebahan dan menaruh kepala di pangkuan pemuda berkacamata, Arthur Pendragon itu. "Apa Le Fay tertidur?"
Arthur mengangguk singkat dan itu dibalas hal sama oleh Vali sebelum beranjak menuju sofa tempat Kuroka berbaring malas-malasan.
Setelah meletakkan bokongnya pada permukaan lembut sofa, Vali mengukir ekspresi serius pada wajah dengan kedua tangan menyatu di depan mulut.
Menyadari gelagat sang ketua, Arthur dan Kuroka ikut serius, sedang Bikou tak menghentikan kegiatan namun pandangan kini tertuju ke titik yang sama. Tak biasanya ketua mereka bertindak macam itu. Belum lagi tingkahnya belakangan ini mengundang banyak tanda tanya besar di kepala masing-masing.
Keluyuran entah kemana dengan alasan urusan kecil. Jarang menggeluti hobi mencari dan melawan orang-orang kuat. Dan yang mengejutkan kemarin, Bikou mengatakan Vali menganggap mereka adalah keluarga, bukan rekan setim atau bawahan. Maka dari itu, satu hal yang pasti di setiap kepala tim kecil ini, itu adalah…
Vali berubah!
Itu satu hal yang pasti di kepala mereka, dan berharap itu bukan perubahan yang buruk, atau setidaknya tak mengarah ke sana.
Menghela nafas dalam rangka menguatkan diri atau apalah, Vali lalu memulai percakapan. "Aku tak tahu harus bicara apa dan darimana... Tapi, mungkin kata 'maaf' agaknya aneh untuk kuucapkan pada kalian."
Atas ucapan Vali itu, ekspresi heran seketika terpampang di wajah masing-masing kecuali gadis belia bernama Le Fay—Le Fay Pendragon yang tengah tertidur.
"Kau aneh Vali... dan semakin aneh saja sampai ingin meminta maaf." Arthur membalas sambil menatap dalam ketuanya. Di samping Vali, Kuroka mengangguk setuju. "Dari awal mengenalmu, kutahu kau orang yang sangat pandai menyembunyikan sesuatu dan hanya melakukan apa yang ingin kau lakukan tidak peduli apa itu, seperti berancana menantang mahluk sekelas Great Red dan menghabisi kakekmu."
Memberi jeda sejenak, Arthur mengarahkan telunjuknya ke Bikou. "... Lalu, cerita soal pertemuanmu dengan orang bernama Madara itu, aku cukup terkejut."
"Khakhakha..." Bikuo tertawa keras disana. "Kau akan tambah kaget kalau mendengarnya sendiri Arthur, Kuroka."
"Jujur, aku terkejut kau melakukan sesuatu, sampai menyusun rencana untuk seseorang. Kalau boleh tahu, siapa orang yang berhasil mengubahmu itu Vali? Kalau tidak salah namanya Naruto 'kan?"
"Ya, namanya Naruto." ucap Vali membenarkan sambil mengangguk.
Dia lalu berpikir sejenak mengenai hubungannya dengan Naruto harus dibongkar atau tidak. Keraguan agaknya hinggap dalam diri Vali, dia ragu setelah mengungkapkan identitas Naruto, rekan setimnya mungkin tak akan ikut serta. Namun, dilain sisi dia juga berpikir jika setidaknya membuka diri, anggotanya mungkin bisa semakin percaya padanya dan ikut serta dalam rangka membalas dendam terhadap golongan yang telah merenggut banyak orang terdekat kakaknya.
Ada hampir semenit lamanya Vali berpikir. Hingga, dia memutuskan untuk membongkarnya,
"... Naruto Lucifer tepatnya—Dia kakakku."
—Dan dengan itu bom dijatuhkan, Vali mengguncang seisi ruangan kecuali Le Fay dalam keterkejutan.
"Kau,…" Arthur memandangi Vali dengan mata melebar tak percaya. "...punya kakak?"
Bukan hanya Arthur saja, Bikuo dan Kuroka pun tak percaya dengan kenyataan ketua mereka adalah seorang adik. Vali memang pandai menyembunyikan sesuatu, namun satu ini tentu saja hal yang tak seharusnya disembunyikan.
"Kenapa kau tak pernah memberitahukannya?" Bikou ikut bertanya.
"Karena sebelumnya, aku mengira dia telah mati." Vali menjawab tak sepenuhnya bohong karena ketiadaan kabar yang didapat membuat dia berpikir demikian. "Dan aku malas membahas seseorang yang telah lama mati."
Lain Arthur dan Bikou, hal yang berbeda malah terjadi pada Kuroka. Selain kaget dengan kebenaran ketuanya, dia juga merasa familiar dengan nama Naruto—Naruto Uzumaki yang dia ingat. Memang sih, bisa saja ada orang lain yang memiliki nama sama, hanya saja kecil kemungkinan bila dua orang bernama sama bergelut dengan dunia supernatural.
Maka dari itu, Kuroka tak salah bila menganggap Naruto Lucifer kakak Vali adalah orang yang sama dengan Naruto Uzumaki.
Ya Naruto Uzumaki, nama pemimpin regu pengejar yang hendak menangkap dia tepat setelah kejadian membunuh Raja-nya sendiri di dunia bawah.
'Dia kakak Vali?' Kuroka tak tahu lagi harus mengatakan apa. Dua orang, satu ingin menangkap dan satunya datang menyelematkan adalah kakak beradik. Apakah ini sebuah kebetulan semata ataukah memang takdir. 'Aku harus memberitahukannya!'
Namun, sebelum Kuroka merealisasikan niat tersebut, Vali menyahut lebih dulu.
"Baiklah... Kalian mungkin sudah mendengar semuanya dari Bikuo. Jadi, langsung saja. Aku ingin tahu keputusan kalian bila tujuan awal—tidak! Tim ini memiliki tujuan selain visi misi yang dulu kukatakan pada kalian."
"Sedikit, aku mengetahui tujuan barumu, Vali. Namun yang tak kekutahui adalah alasanmu tiba-tiba saja ingin ikut serta dalam rencana penghancuran golongan pengikut raja iblis terdahulu dari kelompok kakakmu..."
Sambil memberi jeda sejenak pada penuturannya, Arthur menelankan kepala ke Kuroka dan Bikuo bergantian.
Kuroka yang pertama ditatap menganggukkan kepala.
Lalu, Bikuo. Youkai monyet ini tersenyum kecil. "Kau tahu aku. Tentu saja aku setuju."
Arthur mengangguk yakin pada jawaban kedua Youkai itu lalu mengembalikan pandangannya ke Vali. "... Kita sudah lama saling mengenal dan melalui banyak sekali perjalanan menarik. Setelah diberitahu Bikou soal pertemuanmu dengan orang bernama Madara itu, kami langsung mendiskusikannya..."
Jeda yang kembali diambil oleh Arthur memaksa detak jantung Vali sedikit meningkat dalam rasa tegang dan tak sabar.
Vali tak sabar ingin mendengar keputusan timnya. Disisi lain, dia dilanda rasa tegang sebab harus melakukan dua hal pada timnya bila menolak tak ikut serta.
Dipaksa diam atau dibunuh. Tentu saja untuk mencegah pecahnya informasi ke pihak-pihak yang berpotensi jadi musuh di masa depan.
Memaksa ketiganya diam mungkin hal mudah bagi Vali. Namun akan sangat sulit bila paksaan tersebut gagal, dengan kata lain membunuh mereka. Terutama Kuroka.
"Kau terlalu tegang, Vali." Arthur melihat Vali dengan senyum yang mulai mengembang di wajah. "Seperti yang kubilang tadi. Kami sudah mendiskusikannya. Untuk sekarang, kau tak perlu memberitahu alasan tiba-tiba menambah tujuan dari tim ini..."
"Kalian..." Vali menatap satu per anggota-nya tanpa terkecuali dengan mata yang sedikit memancarkan sedikit rasa tak percaya.
Setiap dari mereka kecuali Le Fay, ketika ditatap demikian oleh Vali mengangguk dengan senyum masing-masing.
Dan mewakili Bikuo, Kuroka serta Le Fay tentu saja karena adiknya, Arthur berucap disertai senyum bangsawannya. "... Ya, tentu saja kami ikut."
"Terima kasih." Ucap Vali kini dengan kepala ditundukkan. "Aku menghargai keputusan kalian."
Melihat yang dilakukan Vali serta ucapan yang sangat jarang dikeluarkan oleh ketuanya itu, Arthur melongo sejenak. "Maa, santai saja, ketua. Kita keluarga, bukan?" ucapnya sedikit dibumbui nada bercanda kemudian.
"Arthur benar—nyaan."
"Khakhakhakha... Aku heran kenapa kita bisa berkumpul seperti dan memiliki ikatan aneh yang disebut keluarga. Ini takdir atau cuma kebetulan, ya?"
Lalu, semua larut dalam tawa menanggapi candaan terakhir Bikou, bahkan Le Fay sampai menggeliat pelan lalu tersenyum seolah-olah perasaan yang dipancarkan orang-orang di ruangan itu juga dirasakan olehnya.
"Lihatlah, Le Fay sampai tersenyum begitu." Arthur mengusap sayang pucuk kepala adiknya. "Keluarga Pendragon sudah membuangku setelah kabur membawa pedang yang sejak lahir sudah menjadi milikku. Mungkin Le Fay juga sama statusnya sekarang ini." Tutur Arthur bermonolog sejenak, juga mengingatkan bagaimana kejadian dirinya bisa sampai berakhir di tempat ini bersama Vali dan yang lain. "Lalu kau datang dan menawarkan tempat bernaung setelah keluar dari kelompok Cao Cao. Jadi, berubahnya tujuan kita tak akan mengurungkan niat untuk tetap ikut denganmu, Vali. Ingatlah itu."
"Ya, akan kuingat itu." Balas Vali singkat.
Sementara itu di sisi Kuroka. Pasca dia larut dalam tawa dan perasaan masing-masing member Tim Vali, dia mulai berpikir untuk mengungkapkan apa yang tadi muncul dalam kepala bermahkota hitamnya.
Namun lagi-lagi ketika Kuroka sudah membulatkan keinginan itu, Vali kembali mendahuluinya berbicara.
"Baiklah. Karena kalian sudah memutuskan untuk ikut serta, aku perlu memberitahu Madara. Kuroka, Bikou. Besok sore kalian jemput mereka."
Bikou mengangguk saja atas perintah Vali. Sedang Kuroka, dia mendesah internal lalu ikut mengangguk.
'Lain kali saja, dan mungkin lebih baik menunggu kakaknya. Aku juga ingin memastikan ucapannya waktu itu. Mungkin Naruto itu tahu soal Shirone.' Dan akhirnya Kuroka memutuskan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan keterkaitan Naruto dengan masa lalu kelamnya. 'Ini benar-benar tak terduga—nyaan...'
Ketika lamuan Kuroka buyar, dia sudah tak mendapati Vali di sampingnya. Pemuda itu, sudah berjalan menuju pintu sambil mengutak-atik sebuah telepon genggam.
Lalu tak lama berselang, Vali sudah berbicara dengan seseorang disana lewat perangkat telekomunikasi itu.
Beruntungnya, Kuroka merupakan iblis reinkarnasi sehingga memungkinkan untuk mendengarkan percakapan Vali dan orang bernama Madara.
[Kuharap kau sudah memiliki keputusan sampai mengganggu istirahatku, bocah]
"Tentu saja."
[Hn. Baguslah. Jadi, bagaimana?]
"Timku setuju ikut serta. Besok sore kalian akan dijemput dua dari mereka."
[Daerah perbukitan, barat daya perbatasan Kuoh]
"Sisanya akan kuurus. Cukup persiapkan diri kalian."
[Hn]
Dan tepat setelah jawaban singkat mengundang keringat jatuh sebesar biji jagung oleh Kuroka yang mendengarnya, Vali menutup telepon dan berbalik.
Garis penglihatan pemuda itu lalu tertujuh pada Arthur dan Le Fay.
"Besok pagi jika Ophis sudah kembali, suruh Le Fay menemuiku. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya." Tutur Vali langsung dihadiahi tatapan penuh tanda tanya dan kekhawatiran dari kakak Le Fay, pemuda itu mungkin mengira dia ingin sang gadis imut dengan kemampuan sihir handal melakukan sesuatu yang berbahaya.
Untuk menghindari kesalahpahaman, Vali segera menambahkan. "Tenang, itu hanya hal kecil yang tak akan membahayakannya. Dan kalian, besok mungkin ada sedikit pertempuran. Jadi bersiap-siaplah."
"Pertempuran. Kedengarannya menarik."
Vali menyambut komentar bernada antusias dari Bikou dengan sebuah seringai khas seorang Ksatria Naga Putih yang memiliki hasrat bertarung sangat tinggi terhadap lawan kuat.
"Tentu saja, dan ya... Ini baru pembukaan."
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut!]
Author Brengzeck Notes: Wado, sepertinya Chapter pembuka ini sedikit ampas. Ya, ampas. Dimulai dari scene abaurd di awal-awal. Scene obat perangsang yang ditaruh Hilda. Dan ya, sedikit lebih pendek dari biasanya.
Ini hanyalah Chapter pembuka Arc IV. Tak ada yang spesial, tapi tentu saja ada beberapa hal diselipkan sebagai petunjuk bagaimana nanti jalannya Arc IV ini.
Chapter ini juga tak berat-berat sekali. Kan aneh baru saja selesai panas-panas di penutup Arc III langsung dibuat panas, apalagi ini Chapter pembuka untuk membentuk pondasi Arc.
Lalu, keputusan anggota Tim Vali yang sudah resmi bergabung ke kelompok Madara dan akan ikut serta dalam pencarian dan penghancuran golongan yang terlibat dalam pembantaian Konohagakure. Mungkin cuma bagian ini yang sedikit penting.
Selanjutnya. Sedikit dipaksakan mungkin keikut sertaan kelompok Vali hanya karena alasan mereka adalah keluarga. Well, tapi mau diapa lagi, genre utama yang dicantumkan dalam tag adalah 'Family'. Jadi ya, genre itu yang pastinya banyak ambil bagian selain genre Supernatural dan genre lainnya.
Lalu Toothy-kun alias Kokabiel kembali diungkit oleh Madara kali ini. Untuk yang satu ini. Kokabiel, setelah dibunuh tak akan dilupakan begitu saja. Akan ada nanti dimana dia akan ambil bagian, dalam artian bukan hidup kembali. Melainkan jadi salah satu unsur penting salah satu konfliknya. Sayang kan, Character Kokabiel cuma dibuat numpang lewat saja dan menjadi pemicu damainya 3 Fraksi Injil.
Oh, iya. Mungkin Arc ini akan menjadi surga untuk para Lolicon, terutama saya. Arc IV ini akan kebanjiran Loli. #HailLoli #Loliland #HailLoliconUnited
Selanjutnya. Karena ada beberapa biji PM yang bilang bingung dengan apa yang terjadi Arc III sebelumnya. Akan saya buat rangkumannya disini kalau malas baca ulang.
Pertama. Latihan Yuki akhirnya dimulai. Tentu saja agar tak menjadi beban dan hiasan saja dia di cerita ini. Walaupun sedikit lebih cepat [Early] dilatihnya.
Kedua. Rencana penyerangan Kokabiel yang menjadi awal terbentuknya aliansi dan terputusnya secara resmi hubungan Naruto dan Dunia Bawah, termasuk Rias Gremory dan Sirzechs Gremory, walaupun sudah sangat terlambat karena banyak hal hilang dari Naruto [Late]. Yang mana di bagian ini juga Naruto dan Madara bisa mendapatkan petunjuk tentang 'Tempat Terdekat dari Surga' yang membuat Yuki tak seperti biasanya. Memendam sesuatun yang membuatnya penasaran. Di bagian ini juga muncul kandidat Pair Naruto, yaitu Shidou Irina.
Ketiga. Di Arc III identitas asli Naruto akhirnya diketahui oleh Madara dan yang lain. Naruto Lucifer, keturunan manusia setengah iblis kakak dari Vali Lucifer. Yang mana Vali sendiri yang memberitahukan Madara. Terungkapnya hal ini dari Vali menjadi titik temu bergabung Vali ke kelompok Madara, dan mereka langsung merangkai sebuah rencana untuk Naruto. Agar Naruto mau mencari tahu masa lalunya dan tentu saja tahu jadi dirinya.
Keempat. Konferensi Tiga Fraksi. Well, untuk ini sepertinya tak usah dijelaskan panjang lebar. Karena masih segar, mungkin.
Oke, sekian Author Brengzeck Notes yang agak panjang.
Ulasan Riview:
Madara bukan Lolicon, apalagi Pedofil.
Cerita ini tak mungkin berlanjut kalau MC—Naruto mati. Lihatlah di Tag Main Character. Apakah disana cuma ada Naruto? Disana ada Vali, Madara dan Hashirama. Entah Naruto akan kembali dari kematian atau tidak? Jawabannya ada di balik Beha Hilda :v
Naruto sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi disini. Pernyataan Loli yang ditemui Naruto di dataran Elysium itu dikatakan bukanlah kebohongan. Baik sang Loli atau Naruto, tak bisa berbuat apa-apa untuk kembali dihidupkan Narutonya, bahkan jika Naruto membunuh sang Loli dan menghancurkan Elysium.
Sedikit spoiler, Naruto benar-benar akan menghancurkan Elysium Field tapi tak membunuh sang Loli. Namun, itu tak akan mengembalikan Naruto.
Sang Loli sendiri. Dia adalah Scheherazade dari Seri Magi. Disini, dia peran dan statusnya apa?
Scheherazade sudah lama mati—kata Scheherazade sendiri. Lalu apa dia? Hmm, perannya tak jauh-jauh dari perannya di Seri Magi sampai tewas. Free F for Dedek Scheherazade.
Saya berterima kasih untuk yang memberikan semangat dan doa agar tetap sehat dan melanjutkan ceritanya. Saya akan usahakan akan tamat. Dan semoga kalian semua juga selalu sehat, dan jangan lupa untuk bahagia, eaaa :v
Oke, sekian ulasan Reviewnya. Sampai ketemu di Chapter depan.
Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini out.
Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade setelah bermain-main sebentar dengan Dedek Eldridge, Dedek Laffey, Dedek Ayanami, Dedek Nimi dan Dedek Javelin di Azur Lane.
Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut ini.
—BUKAN PEDO, BGSD!
Ciao~
