Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Anime, Light Novel dan Game dalam Fanfic ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


.

.

[Arc IV]

.

[Chapter 33]

[Payback — One Step Closer]

.

.

.

.

.


Jika ada hal yang paling dibenci Hashirama dan Madara, mungkin mereka akan menjawab mahluk-mahluk yang telah membantai penduduk Desa Konoha. Ya, apalagi kalau bukan itu?

Namun hari ini nampaknya akan bertambah hal yang mereka benci, yaitu: menunggu.

Ya, ini cukup menjengkelkan terutama untuk Madara. Selain karena dia bersama sahabatnya, serta Yuki dan Hilda yang sudah hampir sejam lamanya setelah bersiap-siap, entah kenapa cuaca hari ini terasa sangat panas dari kemarin-kemarin yang membuat kekesalan mereka sedikit menanjak.

Memang sih, musim panas sudah memasuki hari kesekian. Tapi baru hari ini panasnya minta ampun sampai dua pria dalam kelompok ini sudah bertelanjang dada dalam ruangan.

Tidak hanya mereka, Hilda dan Yuki pun ikut-ikutan. Bukan buka baju, melainkan memakai yang pakaian sangat minim.

Sangat minim malahan untuk Hilda. Dia hanya memakai rok hitam pendek sepaha dan beha hitam saja tengah berbaring di sofa sambil mengibas-ngibaskan buku tipis. Tidak lupa ekspresi tersiksa karena panasnya yang ya, cukup menggelikan. Terlihat seperti anjing kehausan yang menjulurkan lidahnya. Lalu Yuki hanya menakai kaos berkain tipis putih polos dan hot pants abu-abu tengah duduk di sofa tunggal dengan ekpresi imut kepanasannya.

Survey membuktikan, sejelek apapun ekspresi Loli, keimutan mereka tetap melekat.

Gara-gara temperatur udara pula Madara, Hashirama dan Hilda sempat berebut kipas angin yang bodohnya mereka lupa jika ada lebih dari satu jumlahnya di penginapan. Mungkin karena pengaruh panas maka otak mereka jadi overheat hanya untuk memikirkan hal tersebut.

"Aah, panasnya."

Hashirama yang melakukan hal yang sama dengan Hilda mulai mengeluarkan keluhan, bahkan keberadaan dua kipas angin di ruangan ditambah kibasan buku kecil sama sekali tak bisa menghilangkan hawa panas yang serasa membakar kulit. Hokage terakhir ini lalu menelenkan kepala ke Madara dan memasang wajah memelas bercampur keringat.

"Madara..." panggilnya dengan nada seperti merajuk. "Tolong kipas aku memakai Gunbai punyamu."

"Enggak!"

"Oh, ayolah Madara. Setidaknya benda kramatmu itu ada kegunaan selain untuk bertarung."

"Enggak!" ulang Madara dan kali ini nada yang dikeluarkan seperti tak ingin diganggu gugat lagi keputusannya. "Shinobi macam apa kau kalah oleh panas? Katon milikku bahkan beratus-ratus kali lebih panas."

"Ini kekuatan alam, Madara. Bukan perubahan chakra."

"Berisik. Masuk kulkas saja sana!"

Hashirama sedikit dongkol pada sahabatnya. Lagian, dia tahu kalau Madara juga menderita oleh panas ini. Hanya saja tsundere dalam diri Madara bisa menutupinya dengan baik sambil pasang wajah datar macam tembok.

Namun, apa yang ada diluar sangat membanding terbalik dengan di dalam kepala Madara.

'Sialan! Kemana orang suruhan bocah kaleng itu? Lama sekali mereka.' nampaknya indikator kemarahan Madara sudah hampir mencapai titik tertinggi, tinggal menunggu waktu atau pemicu agar meledak. 'Aaah, panasnya!'

Beruntung, sangat beruntung apa yang Madara dan Hashirama tunggu-tunggu tiba juga. Merasakan energi supernatural muncul dalam radius dua puluh meter arah selatan penginapan, helaan nafas mengalun penuh kelegaan keluar dari mulut mereka sambil mengucapkan kalimat yang sama dalam hati.

""Akhirnya!""

...

.

.

Tanpa membuang banyak waktu dan keringat, diarahkan oleh Madara, mereka semua langsung bersiap-siap. Pakaian segera diganti, Madara dan Hashirama memakai perlengkapan tempur lalu ditutupi dengan [Henge] sebagai penyamaran, Hilda kembali dengan satu set pakaian Dalam Gothic Lolita yang cukup untuk membuat mimisan para gigolo diluar sana, dan Yuki seperti biasa hanya berbalut pakaian sederhana berupa kaos biru dan celana training senada serta tak lupa sepatu kets putih sebagai pelengkapnya.

Lalu, hanya dengan dua-tiga langkah memasuki lingkaran sihir besar mirip sebuah cermin raksasa di tengah-tengah ruangan yang diciptakan Kuroka, akhirnya kelompok dengan kelainan masing-masing ini—kecuali Yuki—lepas dari derita panas menyengat musim panas negeri Sakura.

...

.

.

Di sebuah kastil tua peninggalan abad pertengahan di dataran Eropa yang sudah ditetapkan menjadi situs warisan dunia UNESCO. Nampak dari luar, kastil ini begitu terawat walau sudah lama tak ada yang menetap di dalamnya. Namun, itu hanyalah sudut pandang manusia biasa, tidak untuk mahluk-mahluk yang dalam tubuh mereka mengalir energi spiritual di atas rata-rata seperti manusia berstatus penyihir, iblis dan lain sebagainya.

Kastil besar ini merupakan satu dari sekian banyak markas organisasi teroris bentukan sang Ouroboros Doragon Ophis. Organisasi yang berisikan beberapa golongan dengan tujuan dan maksud berbeda.

Walau berbeda, namun mereka memiliki alasan yang sama kenapa sampai ikut serta. Tidak lain dan tidak bukan adalah keberadaan sang pemimpin mereka, Ophis yang ingin dimanfaatkan. Kekuatan tak terbatas yang bahkan Tuhan sendiri dikatakan takut pada sosok Ophis sudah lebih dari cukup untuk mewujudkan masing-masing golongan di dalamnya.

Entah dimanfaatkan seperti Ophis oleh golongan-golongan ini. Bisa dipastikan itu bukan untuk hal yang baik untuk dunia ini.

...

.

Madara kini berada dalam sebuah ruangan yang berlokasi di salah satu menara kastil bersama Hashirama, Hilda, Vali, Arthur, Bikou dan Kuroka.

Sesi perkenalan antara dua kelompok ini juga telah usai yang mana Madara dan Hashirama dibuat sedikit kagum atas kemampuan masing-masing dari Tim Vali. Walaupun sempat memanas kala Kuroka sebagai iblis reinkarnasi memperkenalkan diri. Beruntung saja berkat keterangan Vali, Madara berhasil diyakinkan bahwa Kuroka bereinkarnasi menjadi iblis karena terdesak oleh keadaan yang bisa dibilang hanya satu-satunya jalan untuk tetap hidup.

Ya, setidaknya Madara harus mulai membiasakan diri untuk membedakan mana iblis murni, setengah dan reinkarnasi demi memperbaiki keadaan yang sedang terjadi saat ini.

"Oke, karena kita sudah saling mengenal satu sama lain..."

Suara dari Vali yang kembali berbicara lalu memberi jeda membuat semuanya sontak beralih perhatian yang tadinya sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah mendapat apa yang diinginkan. Vali melanjutkan.

"... Akan kujelaskan apa yang malam nanti kita lakukan. Jadi, dengarkan baik-baik..."

.

.

.

.

Di lain ruang, tiga mahluk imut dari dua kelompok tersebut juga tengah melakukan sesuatu yang tak kalah seriusnya. Mereka adalah Yuki Uzumaki, Le Fay Pendragon dan Ophis.

Menyaksikan dua dari tiga eksistensi imut yang masing-masing di wajah terpasang ekspresi serius tak ubahnya senjata biologis pemusnah massal kaum Lolicon. Sekali lihat, diabetes. Dipandang lama penuh penghayatan, mati kehabisan darah. Diculik dan diapa-apakan, penjara menunggu.

Di tengah-tengah ruangan yang interior dan perabotnya sudah diubah sedemikian rupa oleh Le Fay menggunakan sihir membuat ketiganya duduk dengan nyaman sambil melakukan sesuatu.

"Ummm..." tanpa mengubah ekspresinya, Le Fay memperhatikan dengan seksama tangan kanan Ophis yang bergerak ke kiri dan kanan di depan Yuki.

Begitupun adik angkat Naruto yang tak kalah seriusnya, bahkan setetes keringat sudah nampak di pipi kiri berkulit putih bersih mulusnya.

"Ini menyebalkan." Ujar Ophis dengan suara datarnya mengambil empat kartu yang dipegang Yuki. "Kalau bisa ambil semuanya, kenapa cuma satu?" Tuturnya seperti kesal namun sama sekali tak tergambar di wajah.

"Tak boleh Ophis-sama!" Le Fay menegur pemimpin Khaos Brigade itu cepat. "Itu sudah peraturannya."

"Apa itu peraturan?" Ophis memiringkan kepala menatap penyihir pirang yang imutnya sebelas dua belas dengan dia. "Apa itu penting?"

"Sangat penting, Ophis-sama." Jawab Le Fay mantab. Dia kemudian beralih pandang ke Yuki, "Benarkan, Yuki-sama?"

"Um—ummu..." Yuki hanya mengangguk ragu.

"Apa itu bisa kupakai mengalahkan Baka-Red?" Ophis bertanya lagi. Dari nadanya, tersirat sedikit harapan bodoh akan hal yang dia tanyakan bisa terjadi dan mewujudkan impian menguasai kembali Celah Dimensi.

Le Fay menggeleng cepat sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Tidak. Tidak, Ophis-sama. Peraturan bukan kekuatan, Ophis-sama dan sama sekali tak bisa dipakai untuk mengalahkan Great Red-sama."

—Dan interaksi tiga mahluk imut diatas berlanjut ke membahas hal-hal tidak penting. Mulai dari Yuki dan Le Fay membicarakan siapa itu Baka-Red yang mana disebabkan oleh Ophis, yang tak terkadang diiringi sumpah serapah dengan wajah kosong, hingga pembahasan yang mulai menampakkan sisi Brocon Yuki dan Le Fay.

Sungguh pemandangan penuh akan godaan iman bagi para Lolicon.

.

.

.

"... Awalnya aku tak berpikir untuk melakukan ini. Hanya saja, jika tak dilakukan maka akan memunculkan kecurigaan."

—Dengan mengatakan itu, Vali telah menyelesaikan bagiannya. Di samping adik Naruto itu Madara hanya mengangguk-ngangguk dengan ekspresi andalan.

"... Begitu rupanya. Kuakui ini cukup beresiko untuk dilakukan, namun jika berhasil akan sangat menguntungkan."

"Arthur benar. Kau sungguh gila Vali ingin menculik Loli-Doragon terang-terangan di depan kelompok Cao Cao dan golongan iblis pengikut Maōu terdahulu. Meskipun berhasil, kita pasti diburu habis-habisan—Tunggu dulu..."

"Nah, sepertinya kau sudah paham." Vali dengan cepat menyela Bikou yang baru saja membenarkan ucapan pemuda pemegang salah satu pedang suci terkuat. "Tapi, lebih tepatnya ini hanyalah rencana cadangan bila rencana utama mengalami kegagalan."

"Nyan—Aku mulai paham."

Madara mendengus. "Ya, setidaknya kucing satu ini lebih tanggap." Komentarnya datar sambil menunjuk Kuroka yang duduk disamping kiri Vali.

"Aku baru tahu kucing lebih pintar dari monyet."

"Woy!" semprot Bikou tak terima mendelik Hashirama yang tak sengaja mengucapkan hal tersebut, hal yang membuatnya sedikit tersinggung. "Kami Yōukai pak tua, bukan hewan."

"Nyan—Ya itu benar. Kami punya otak, Ossan. Walau punya monyet ini tidak berguna sih."

"Diamlah, kucing hutan!"

Madara, Vali dan Arthur mengabaikan tiga mahluk yang mulai adu argumen tak berguna itu, mereka lebih memilih untuk berbicara lebih jauh lagi tentang apa yang akan mereka lakukan esok malam. Lagipula, Hashirama bersama Bikou dan Kuroka peran mereka tak terlalu vital, tak ikut serta juga tak mengapa.

Sambil menoleh ke Arthur, Madara membentuk segel tangan tunggal dalam rangka mengeluarkan sesuatu dari Fuinjutsu tipe penyimpanan miliknya. Kepulan asap putih kecil terjadi di tangan kiri Madara yang ditadahkan ke atas, tak lama setelah efek pengeluaran sesuatu dari segel penyimpanan itu menghilang, sebuah gulungan merah sudah berada di genggaman sang Uchiha.

"Ambillah," Madara menyodorkan gulungan tersebut ke Arthur. "Itu merupakan gulungan yang bisa digunakan untuk membuka pintu kecil pada Kekkai (Barrier) sekitar apartemen kami di pinggiran kota Kyoto. Alamat lengkapnya sudah tertulis di bagian luarnya. Lihatlah..."

Arthur menerima gulungan tersebut, memutar-memutar untuk mencari tulisan yang dimaksud Madara. Tak lama mencari, dia menemukannya dan mulai membaca. Seketika keturunan Pendragon ini dibuat sedikit heran dengan alamat yang tertera pada gulungan tersebut. "Apa ini tidak salah?"

"Salah bagaimana?"

Madara dan Vali serentak balik bertanya, lalu pemilik dari [Divine Divinding] itu memandang Madara dengan alis terangkat, begitupun dengan Arthur.

"Alamat ini... Berada di wilayah kekuasaan fraksi Yōukai Kyoto dan mitologi Shintō." Ucap Arthur mengemukan alasan dia keheranan.

"Oh, itu. Tenang saja. Asal kalian tahu, sebelum kalian, fraksi Yōukai sudah menjadi bagian dari kami secara sembunyi-sembunyi berkat Naruto yang menjadi anak angkat dari pemimpin mereka—Yasaka, dan juga karena keberadaan Kurama dalam tubuhnya."

Dengan penjelasan panjang Madara itu, anggota Tim Vali yang berada di ruangan itu kembali dibuat terkejut terutama Bikou dan Kuroka yang mengetahui dua fakta penting.

"Yang benar saja—Nyan... Kurama, salah satu Yōukai terkuat yang pernah ada, yang dikabarkan menghilang sudah sangat lama berada di dalam tubuh kakak Vali?" Ya, karena berasal dari ras yang sama. Tentu saja Kuroka sedikit tahu tentang legenda dari Kurama, pemimpin yang seharusnya memegang tahta Kyoto.

"Khakhakhakhakha—Kakakmu benar-benar sesuatu sekali Vali."

Bikou sudah tak tahu lagi harus berkata apa soal kakak dari ketuanya itu, yang lagi-lagi membuat mereka terkejut bukan main atas pencapaian yang dilakukan serta beberapa pencapaian lainnya.

"Hampir membuat punah satu klan kuat Iblis saat masih bocah ingusan, menjadi kapten Divisi penghancur Dunia Bawah, imbang melawan Gubernur Grigory. Sekarang apa lagi? menjinakkan dua Yōukai Kitsune kuat yang katanya sama-sama keras kepala. Aku jadi penasaran... Apa kakakmu itu bisa membuat Ophis lupa pada tujuannya merebut kembali celah dimensi dari Great Red."

"Monster macam apa sebenarnya kakakmu itu Vali." Arthur sepertinya menyalah artikan kata-kata Bikou soal menjinakkan dua eksistensi kuat dari ras Yōukai. "Tidak heran sih, adiknya saja begini."

Vali hanya mendengus pelan atas ucapan terakhir Arthur yang seperti menyamakan dirinya dan Naruto sebagai monster mengerikan. Walau nyatanya memang begitu.

"Hn, sudah lupakan saja bocah sableng itu. Sebentar lagi senja akan tiba, sebaiknya kalian bersiap-siap terutama kau, Dobe." Semprot Madara yang nampaknya agak kesal pembahasan malah melenceng jauh ke Naruto. "Kau yakin kapasitas chakra-mu cukup untuk radius beberapa kilometer di sekitar kastil?"

Hashirama mengacungkan jempol sambil tersenyum kecil pada sahabatnya. "Tenang saja, walau tak sekuat bila dibuat empat Jōunin elit, tetap bisa menahan pancaran kekuatan untuk tidak terasa. Oke, kalau begitu aku melakukan bagianku dulu."

Lepas mengatakan itu, Hashirama berdiri dari acara lesehannya di lantai dan beranjak meninggalkan ruangan. Namun, bukan ke pintu keluar, melainkan jendela besar yang mengarah ke timur.

Sepeninggal Hokage—mantan Hokage itu, giliran Tim Vali yang beranjak menuju ruangan tempat Ophis, Le Fay dan Yuki tengah berkumpul.

Kini di ruangan tersebut hanya menyisahkan Madara dan Hilda. Tidak seperti biasanya yang apabila cuma berdua, apalagi dengan Madara, Hilda akan menggoda habis-habisan Uchiha satu itu. Di wajah gadis berambut abu-abu malah terpasang ekspresi serius selagi menatap Madara.

"Nee, Madara-kun..."

"Hn?"

"...Bolehkan aku memakainya malam ini?"

Madara menyipitkan mata. "Maksudmu kemampuan itu?"

Hilda mengangguk pelan. Sejujurnya dia sudah sangat lama tidak menggunakannya, dan itu bisa mendatangkan sesuatu yang buruk bagi tubuhnya.

"Jangan dulu." Madara menjawab singkat sambil bangkit berdiri dan berjalan ke belakang Hilda. Kemudian dia menepuk pelan pundak kanan gadis abnormal itu dengan tangan kiri. "Kemampuan itu sangat berguna pada waktunya nanti. Itu adalah salah satu kartu as kita..."

.

.

"... Kartu yang bahkan para Dewa tak memiliki obat untuk lolos dari itu."

...

.

.

.

.

Memasuki malam waktu Eropa, kumpulan cahaya kebiruan bermunculan di sekitar kastil markas Khaos Brigade. Cahaya-cahaya tersebut lalu memadat dan membentuk lempengan segi lima dalam jumlah yang tak terhitung, saling menyatu hingga akhirnya menciptakan sebuah kubah raksasa kebiruan di tengah hutan.

Sebuah kemampuan tipe pelindung dari salah satu golongan penyihir yang ikut dalam organisasi Ophis, berfungsi sebagai penghalang pancaran kekuatan di dalamnya terasa oleh mahluk-mahluk bertipe sensor di luar sana, khususnya Iblis dan Malaikat Jatuh yang ketahui cukup ahli dalam hal merasakan dan melacak pancaran energi supernatural.

Dilihat dari persiapan yang dilakukan para penyihir, sepertinya pertemuan besar-besaran akan terjadi antara semua golongan dalam organisasi Khaos Brigade.

Benar saja, tak lama setelah Barrier terbentuk pulahan bahkan ratusan lingkaran sihir ataupun media tehnik teleport bermunculan pada halaman kastil.

Di sisi timur adalah kelompok kecil beranggotakan dua laki-laki dan satu perempuan. Dua laki-laki itu lantas terlihat sangat berbeda dari segi penampilan. Satunya berpakaian tradisional negara China dan lainnya memakai setelan formal hitam lengkap dengan kacamatanya. Lalu sang perempuan adalah gadis remaja berambut pirang dengan ekor kuda yang menjuntai hampir mencapai tanah berparas cantik layaknya gadis suci.

Di sisi selatan ada segerombolan mahluk bersayap yang dipimpin dua pria yang penampakannya ditutupi jubah hitam.

Dan masih ada beberapa lagi yang bermunculan dengan tehnik teleport masing-masing.

...

.

Di pintu masuk sebelah kiri, kelompok yang hanya beranggotakan tiga orang agaknya tengah membicarakan sesuatu sambil berjalan masuk.

"Cao Cao, apa kau tidak merasa aneh Ophis tiba-tiba mengumpulkan kita semua, seluruh golongan dalam organisasi terkutuk ini?"

Pemuda bernama Cao Cao lantas menatap balik orang yang menanyakan hal tersebut. "Tentu saja aku merasa aneh. Belum alasan dibalik dilaksanakannya pertemuan ini, sudah lebih dari cukup untuk membuatku curiga pada kelompok Vali atau Pengikut Golongan Raja Iblis Terdahulu. Untuk itulah aku menyiagakan yang lain tidak jauh dari kastil ini untuk berjaga-jaga sekaligus mengurangi kecurigaan golongan yang lain." Jelas Cao Cao panjang selagi memainkan sebuah tombak yang dari rupanya bukanlah senjata sembarangan.

"Khaos Brigade mulai dikenal dunia dan Ophis khawatir pada ini? Sepertinya kepalaku baru saja terbentur keras." Gadis pirang di samping Cao Cao ikut berbicara dengan komentarnya yang sedikit sarkas. "Lagipula, untuk apa khawatir pada mahluk-mahluk rendahan itu jika aku bisa membakar mereka hidup-hidup, menenggelamkan dalam lautan api pembalasan leluhurku."

Pemuda berkacamata memandang ngeri sang gadis. "Untuk ukuran reinkarnasi gadis suci, kau terlalu sadis, Jeanne."

"Tck, aku tak mau mendengar komentar dari tukang interior sepertimu."

"Cukup, berhenti berdebat. Kalian membuat telingaku panas saja." Lerai Cao Cao sedikit terganggu oleh tingkah kedua rekannya itu yang sama sekali tak mencerminkan kaum pahlawan seperti nama golongan mereka. "Jangan pernah lengah sedikitpun. Jika merasa ada hal aneh, segera beritahukan padaku. Mengerti?"

Dan keduanya hanya bisa mengangguk patuh dan diam melanjutkan perjalanan menyusuri lorong demi lorong kastil yang panjangnya lumayan membuat pegal kaki.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi mereka untuk tiba di aula utama kastil. Dimana pada sebelah kanan ada sebuah meja panjang yang sudah ada menunggu beberapa orang disana, tengah membicarakan sesuatu entah apa itu.

"Kalian tiba juga akhirnya."

"Hmmn..."

Cao Cao bergumam tak jelas membalas sambutan dari Vali yang duduk pada salah satu jejeran kursi melingkari meja. Mengedarkan pandangannya, dia bisa melihat beberapa orang disana termasuk Vali.

Dibelakang Vali, ada Arthur dan Kuroka berdiri di belakang ketua tim mereka.

Lalu, lima kursi arah kanan Vali ada dua perwakilan dari golongan pengikut Raja Iblis Terdahulu yang Cao Cao ketahui bernama Orochimaru dan Shalba Beelzebub.

Selain dari beberapa yang sudah dikenal Cao Cao, ada beberapa orang—mahluk yang tidak.

Terakhir, disamping kiri kursi Vali adalah sang pemimpin Ophis.

Tanpa membuang waktu banyak, apalagi sedikit jijik pura-pura akur hanya karena satu ruangan dan organisasi dengan beberapa mahluk dari tujuan golongannya, Cao Cao diikuti dua anggotanya mengambil kursi yang tak ada dalam jarak tiga kursi orang mendudukinya.

"Baiklah. Karena kalian sudah berkumpul, akan kuberitahu alasanku memanggil kalian semua disini."

Itu adalah Ophis yang membuka percakapan dengan suara dan nada datarnya. Tak ayal semua mata langsung tertuju pada perwujudan Naga dalam bentuk Loli itu.

"Dunia telah mengetahui keberadaan kita melalui pertemuan tiga fraksi beberapa hari lalu. Katerea dan kalian..." Ophis mengambil jeda dan mengalihkan pandangan ke perwakilan iblis disana. "... Bertindak tanpa persetujuanku. Menyerang mereka tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya."

"Tck..."

Shalba berdecak pelan kala mata hitam legam Ophis menampakkan sedikit cahaya ketidaksukaan ke arahnya. 'Untuk apa pula kami meminta persetujuanmu. Kau hanyalah lambang dan sumber kekuatan kami. Tak lebih tak kurang, Naga Bodoh!' Keluhnya dalam hati tak suka.

Ophis lalu beralih ke golongan penyihir yang dipimpin pria kekar berjubah sangat tertutup. "... Dan kalian juga. Ikut serta menyerang. Bodoh!"

Seperti Shalba, pria tersebut hanya bisa berdecak dan mengeluh dalam hati. Tanpa menyadari hal ganjil di situasi sekarang ini.

Namun, hal yang sama tak terjadi pada Cao Cao dan beberapa golongan lain disana. Selain tak mendapat teguran, mereka menyadari keganjilan situasi sekarang.

Tidak lain dan tidak bukan adalah Ophis sendiri. Sejak kapan pemimpin—Pemimpin Bodoh menurut mereka itu peduli pada anggotanya dan apa yang dilakukan. Ini benar-benar bukan Ophis yang mereka kenal sebagai Naga polos bodoh dan naif dengan hanya satu hal saja tujuan hidupnya.

Terutama Cao Cao, dia sudah sangat lama ingin melakulan sesuatu terhadap Ophis maka dari itu semua hal tentang subjek rencana busuknya itu harus diketahui. Belum lagi Ophis tadi sempat memperlihatkan cahaya mata walau sangat tipis dan samar.

'Aneh!'

Cao Cao membatin selagi melirik bergantian Vali dan Shalba. Kecurigaan mulai muncul dalam kepalanya pada dua keturunan Raja Iblis terdahulu itu. Awalnya dia mengira Ophis adalah palsu, namun setelah memastikan energi di sekitar Loli itu. Tak ada yang berubah. Itu adalah Ophis asli yang energinya bukanlah sesuatu berujung dan bisa ditemukan.

Selanjutnya, Vali. Dia tahu soal penyerangan konferensi tersebut dan turut ikut andil di dalamnya, namun kenapa tak mendapatkan apa-apa dari Ophis. Belakangan ini Ophis juga lebih sering bergaul dengan kelompok Vali ketimbang keluyuran tak jelas mencari mahluk-mahluk superior untuk menambah kekuatan organisasi.

Keanehan-keanehan itupun membuat Cao Cao meyakinkan dirinya untuk makin waspada sesuatu dibalik terjadinya pertemuan ini.

"Apa hanya itu yang ingin kau sampaikan? Bukankah terlalu berlebihan hanya untuk itu sampai memanggil kami semua." Tutur Cao Cao membuka suara dan berhasil mengalihkan semua perhatian menjadi tertuju pada dirinya seorang.

Beberapa perwakilan golongan yang tak mendapatkan jatah ceramah singkat Ophis mengangguk setuju dengan pemuda itu.

"Ya, ya... Keturunan monyet bermata sipit itu benar. Ini terlalu berlebihan hanya untuk menegur kami." Shalba membenarkan.

Orochimaru hanya menggerakkan kepala tanda sepaham. Tak ayal ini juga memunculkan hal yang sama pada benak perwakilan iblis ini.

"Tidak!" Ophis menjawab datar, singkat dan padat. Namun suaranya begitu merdu bagai lantunan lagu surgawi dari para malaikat untuk para Lolicon. "Aku mengumpulkan kalian juga untuk memberitahukan agar kedepannya tak ada lagi kejadian sama kembali terjadi... Kalian adalah bawahanku dan aku sangat memerlukan kalian untuk tujuanku. Mengalahkan Great Red. Kehilangan Katerea Laviathan dan beberapa penyihir kuat tentu saja membuat kekuatan kita berkurang cukup banyak..."

Semua orang, kecuali Tim Vali langsung menyipitkan mata curiga.

Cao Cao dan Orochimaru serta yang lain sepertinya perlu mengingat apakah ini mimpi atau kepala mereka habis terbentur sesuatu. Ophis, menjelaskan lumayan panjang dan sedikit menggambarkan kepedulian terhadap mereka—walau ujung-ujungnya kepedulian itu hanya demi tujuan cukup tidak masuk akal mengalahkan Great Red terwujud.

"... Ya, kami mengerti akan hal itu. Tapi tak sampai juga menyuruh kami membawa pasukan."

Vali langsung menatap sinis Cao Cao yang seenaknya memotong.

"Sombong sekali pahlawan kita satu ini. Dua orang dia sebut pasukan. Apakah sebegitu kuat kalian sampai kau menyamaratakan dua orang dengan ratusan iblis dan penyihir serta mahluk lain diluar kastil?" tatapan sinis Vali menghilang digantikan sebuah seringai seperti menantang. "Kalau memang iya, kuharap setelah ini kita bisa bertarung. Buktikan beberapa orang milikmu itu setara ratusan pasukan."

Tensi pertemuan tiba-tiba berubah panas. Cao Cao balik menatap remeh Vali. "Sepertinya menarik. Ophis..." dia beralih kembali ke pemimpinnya. "... Tak apakan bayi naga satu ini tewas? Setelahnya akan kuganti dengan beberapa keturunan Dewa dan Pahlawan lain jika kau ingin."

"Tak apa jika mereka kuat."

"Aku menjamin atas nama tombak yang kupegang ini."

"Tapi, sebelum itu..." Ucap Vali, nampak seperti ingin kabur dari pertarungan namun tidak. "... Kuperingatkan, terutama kalian." Sambungnya sambil mengarahkan garis penglihatan ke Shalba dan Orochimaru.

"Dalam konferensi kemarin. Tiga Fraksi Besar resmi menjalin aliansi untuk bekerja sama mewujudkan perdamaian. Hmm, ini bukan hanya untuk kalian, tapi semuanya. Organisasi telah diketahui serta tujuannya maka dari itu kita resmi di cap kriminal yang harus dibumi hanguskan oleh mereka. Itu pula alasan Ophis menyuruh kalian membawa pasukan untuk berjaga-jaga apabila mereka melakukan pembalasan atas penyerangan kemarin."

Shalba, yang baru tahu hal ini langsung menggebrak meja. Sebenarnya tujuan golongannya melakukan penyerangan dengan menerjunkan Katerea ke konferensi untuk melemahkan kepercayaan Malaikat dan Malaikat Jatuh pada iblis agar tak terlaksana kerja sama yang sekarang ini terbentuk. Sayangnya rencana itu gagal, bahkan berujung kematian Katerea sendiri bersama dengan ratusan iblis dan penyihir.

"Iblis-iblis palsu itu... Telah menodai dan menghina darah murni dari pendahulu kami. Ini tak bisa dimaafkan!" desis Shalba penuh amarah tak tahan harga diri iblis telah hancur dengan bekerja sama dengan Malaikat dan Malaikat Jatuh yang merupakan musuh mereka di Great War. "Ini sebuah penghinaan!"

"Khukukukuku—" Orochimaru yang sedari tadi diam tertawa dalam suka cita menyaksikan kelabilan mental iblis di sampingnya. "—Haruskah aku mempercepat penelitianku, hmm?"

"Tentu saja harus. Dan jangan sampai mengecewakan, ular!"

"Tenang saja, aku sudah punya jawaban dari salah satu anggota penyihir hitam, bukan begitu?" Orochimaru mengalihkan pandangan ke salah satu penyihir disana dibalas sebuah anggukan singkat. Penyihir itu tentu saja yang menjalin kerja sama kecil dengannya beberapa hari sebelumnya untuk mengumpulkan DNA beberapa orang dengan imbalan setimpal tentu saja. "Serum penguat tak terbatas. Bukankah itu menarik?"

"Baguslah. Secepatnya kita akan menyusun rencana baru. Ophis dengar ini, kau bantu kami dengan ularmu itu atau kami—"

"Akan kuberikan!" jawab Ophis cepat tanpa harus mendengar Shalba menyelesaikan permintaannya. "Hal lain yang ingin kusampa—"

Ophis yang hendak menyampaikan hal lain entah apa itu terpaksa menghentikan ucapannya ketika Vali tiba-tiba main potong begitu saja.

"Maaf menyela. Namun, pihak iblis belum diberitahukan apa yang terjadi di konferensi tiga fraksi kemarin secara detail."

Seketika perhatian kembali tertuju pada keturunan Lucifer pemegang salah satu naga surgawi ini. Beberapa memandangnya sedikit kesal karena main serobot begitu saja padahal Ophis sepertinya ingin menyampaikan hal penting, ada pula yang melihatnya dengan raut wajah penasaran.

"Selain resminya terbentuk kerja sama antara tiga fraksi besar, ada beberapa hal penting yang juga terjadi. Untuk kejadian ini, baiknya kalian—"

Shalba Beelzebub mengerjit beberapa saat kemudian menajamkan sorot mata kala pandangan yang entah kenapa terlihat meremehkan Vali lempar ke dia. Sedangkan Orochimaru malah menyeringai, seperti mulai tahu apa yang akan didengar dari mulut Vali selanjutnya. Lebih tepat bisa disebut kelompok kecil yang dimaksud Vali. Siapa lagi kalau bukan para junior Orochimaru di Konoha dulu.

"—mempersiapkan diri baik-baik. Ada kelompok kecil, anggotanya bahkan lebih sedikit dari Cao Cao memburu kalian untuk dimusnahkan tak bersisah."

"Hah?" Shalba mengeluarkan suara aneh dengan alis terangkat. "Kelompok kecil? Memburu kami? Para Maou palsu itu bersama pengikutnya saja tak mampu melakukannya sampai membentuk aliansi, apalagi cuma kelompok kecil saja. Jangan membuatku tertawa, Vali."

"Terserah. Aku hanya memperingati kalian saja... Lagipula ini alasan kenapa Ophis mengadakan pertemuan ini dan menyuruh kalian membawa pasukan. Berjaga-jaga andai sesuatu diluar dugaan terjadi. Tak ada yang tahu kapan Khaos Brigade akan diserang dan hancur. Entah di tangan aliansi, kelompok kecil itu atau pihak lain."

"Kheh... Aku malah senang jika mereka menyerang kita sekarang. Itu akan memudahkan revolusi dunia baru yang kami rencanakan terwujud." Shalba merespon diakhiri senyum miring.

"Begitukah...?" Vali menanggapi ringan.

Dia merilekskan tubuhnya setelah cukup lama duduk, melipat kedua tangan di dada kemudian menadahkan wajah ke langit-langit aula kastil. Dia memejamkan mata sejenak disertai helaan nafas pendek.

'Kalau begitu keinginan kalian, maka...'

Tak lama setelah Vali berpikir demikian. Hal yang diinginkan Shalba Beelzebub akan segera terkabul. Lima ledakan secara berurutan terjadi pada langit-langit, semua di ruangan itu dibuat terkejut.

Kecuali Vali dan timnya tentu saja. "Maaf saja..."

Vali kembali bersuara di tengah-tengah riuhnya keadaan. Beberapa orang meneriakkan adanya serangan, ada pula yang langsung bersiaga untuk bertarung, sisanya memerintahkan bawahan yang ada untuk memanggil pasukan di luar sana.

"Vali... Kau..." Cao Cao memberi satu tatapan panjang.

Apa yang diduga-duga Cao Cao tentang keanehan dibalik pertemuan ini benar terjadi. Kecurigaan pada Vali yang beberapa saat lalu sempat menghilang diputar balikkan menjadi kenyataan bahwa pemuda keturunan Lucifer itu adalah dalang dibalik berbagai macam keanehan sebelum dan selama pertemuan. Namun, dia masih belum ingin mengambil tindakan serius sebelum tahu betul apa yang direncanakan Vali dan juga tujuannya.

Di hadapan Cao Cao yang telah pulih dari keterkejutan, Vali tersenyum kecil. "Hebatnya para pahlawan ini, bisa tenang, sangat tenang dalam keadaan diserang."

Dengan gerakan yang pelan dan santai, Vali memisahkan pantatnya dari kursi. Melirik ke atas sejenak untuk melihat keadaan disana lalu kembali menatap ke depan, Vali berkata.

"Sebenarnya aku sangat ingin menguji seberapa kuat tombakmu itu. Hanya saja, sayang sekali kalian cukup beruntung tidak termasuk target kami..."

Dan itu menjadi kata-kata terakhir yang didengar Cao Cao diantara kekacauan dan seruan masing-masing perwakilan golongan di ruangan sebelum akhirnya suara desingan memekakkan telinga muncul dari salah satu dari lima kepulan debu dan asap bekas ledakan pada langit-langit.

Bersamaan dengan suara itu, cahaya putih terang ikut serta mematikan indra penglihatan semua mahluk disana. Dengan begitu mata dan telinga telah dimatikan fungsinya oleh dalang serangan dadakan ini...

Yang tak lain dan tak bukan adalah Madara Uchiha bersama Vali Lucifer dan masing-masing anggota mereka. Yang mana Madara kini sudah melayang turun lengkap dengan armor kramat dan Gunbai. Tidak lupa seringai bak maniak pertarungan sudah terukir indah di wajah.

"Mahluk-mahluk sialan... Mari menari!"

...

.

.

.

.

.

.

Elysium Field, Unknow Realm.

Dengan pandangan yang tak pernah lepas dari lawannya sekarang, decakan frustasi meluncur dari mulut seorang Naruto Lucifer akibat dari situasi yang dialami.

Situasi dimana dia saat ini terjebak di entah berantah bernama Dataran Elysium dan satu-satunya cara yang ada di otaknya saat ini untuk keluar adalah mengalahkan lawannya.

Namun, itu bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Bahkan dengan kekuatan api Kurama yang berada di tingkat anti-army bahkan anty-city, yang mampu menghancurkan materi hanya dalam hitungan detik dan sedikit lebih lama jika itu diperkuat atau tercipta dari energi spiritual mahluk-mahluk tertentu. Dan itu belum terhitung Senjutsu yang aktif lebih kuat dari biasanya berkat energi alam lokasinya sekarang.

Dengan dua kemampuan yang merupakan tombak dan tamengnya untuk bertahan hidup diantara sekian banyak mahluk supernatural selama hidupnya, kini tak bisa berbuat banyak.

Di hadapan sosok yang mengaku sebagai 'Eksistensi yang telah lama mati', dua kekuatan yang mampu meluluhlantakkan para pemimpin aliansi sama sekali tak memberi luka berarti.

Jangankan luka, menggores bahkan menyentuh kulit lawan saja tak bisa.

'Sial! Dinding pertahanan itu jauh lebih kuat dibanding [Susano'o] Madara-teme. Mahluk apa sebenarnya yang kulawan ini?' pikir Naruto penasaran diantara rasa frustasinya. 'Enegi yang mengalir dalam tubuh dan tehniknya tak pernah kurasakan sebelumnya.'

Dalam segi fisik dan kekuatan, Naruto masih sangat-sangat mampu untuk lanjut, hanya kini yang menjadi masalahnya adalah cara dia untuk mendaratkan serangan. Entah sudah berapa banyak cara dia gunakan untuk menjebol dinding emas transparan itu, tak ada satupun yang membuahkan hasil.

"Kenapa tak menyerah saja dan menunggu semuanya berakhir, wahai keturunan Lucifer?"

"Cih!"

Lamuan Naruto buyar dan langsung mengeluarkan decihan tepat setelah mendengar ucapan sang lawan yang tengah melayang beberapa puluh meter di depannya.

"Menyerah dan berakhir? Katakan itu saat kau berhasil membunuhku."

"Haaah... Benar-benar keras kepala."

Sang gadis menggeleng-gelengkan kepala pusing menghadapi sifat yang berasal dari darah Lucifer dalam tubuh Naruto. Sungguh, dia pusing bagaimana atau apa yang harus dia katakan lagi untuk meyakinkan Naruto. Selama pertarungan berlangsung, tak henti-hentinya kalimat bermakna sama terlontarr dari mulutnya, namun itu sama sekali tak menghancurkan kepercayaan Naruto.

"Sudah berapa kali kau mendengarnya. Apapun yang kau lakukan. Hukum di alam ini adalah mutlak. Sekali kau terkirim ke sini, maka kau tak bisa kembali. Bahkan diriku ini tak bisa berbuat apa-apa untuk itu."

Naruto mendongak, lalu memperlihatkan wajah serius selagi melayangkan pertanyaan. "Lalu bagaimana jika aku membunuhmu?"

"Jangan mengatakan sesuatu yang tak bisa kau lakukan, wahai keturunan Lucifer."

Melihat bagaimana lawannya mengatakan itu sebegitu santainya membuat Naruto kembali berdecak kesal. Memang benar apa yang dikatakan oleh , bukan Naruto namanya jika langsung menyerah hanya karena situasi seperti ini. Terlebih, ini adalah situasi dimana ketidakmungkinan selalu disemogakan, situasi yang sudah beberapa kali dialami selama dia hidup.

Ketika Naruto hendak memperbaiki kondisi hatinya yang kesal dan frustasi dengan menghela nafas panjang, gadis yang menjadi lawannya kembali berbicara,

"Aku mengakuinya. Selama kau hidup, entah itu semangat pantang menyerah atau hanya sikap keras kepalamu, benar-benar membuatku takjub. Bahkan setelah mencapai tempat ini masih sama. Katakan padaku, Naruto Lucifer. Apa yang membuatmu sangat ingin kembali sampai menentang takdir dan prinsip kehidupan..."

Gadis melayang di depan Naruto mengambil jeda sejenak hanya untuk menghilangkan suasana tegang yang sejak dimulainya pertarungan sangat terasa. Selain itu, untuk meyakinkan Naruto agar tak mengambil tindakan dan diajak berbicara tanpa baku hantam, sang gadis juga menghilang tehnik bernama lengkap Borg Al-Samm (Eight-Headed Defensive Wall) yang sedari tadi aktif lalu melayang turun dan menapak permukaan tak jauh dari Naruto.

"Itu bukan urusanmu."

Dan sepertinya usaha tadi sedikit bekerja, walau masih ada sedikit ketegangang yang muncul kala Naruto merespon dingin.

Sang gadis tersenyum kecil memaklumi. Sudah menduga akan sepeeri itu jawaban Naruto.

"... Apa karena janjimu pada adik-adikmu? Tujuan balas dendammu? Ingatan masa lalumu yang tak sempat kau ingat? Atau—"

"Kau..." Naruto kembali menatap dingin sang gadis. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya. "... Kenapa bisa tahu semua itu?"

"—Ataukah ingin mewujudkan keinginan dari Youkai bernama Kurama itu?"

Bukannya menjawab, sang gadis malah menambah pertanyaannya sambil mengedarkan pandangan. Menyaksikan efek dari pertarungan beberapa saat yang lalu.

"Kau menyesalinya bukan? Menahan setiap seranganmu terhadap lawanmu? Andaikan kau tak menahan diri, mengabaikan hati kecilmu yang tak ingin melukai orang-orang selain daripada yang kau targetkan. Mungkin saja kau berhasil mewujudkan keinginan Youkai itu sebelum semuanya berakhir. Dan banyak lagi penyesalan yang kau tinggalkan sehingga membuatmu sangat ingin kembali. Apakah sulit untuk merelakan semuanya?"

"Tutup mulutmu, brengsek! Memang kau tau apa, hah?!"

Sang gadis kembali tersenyum. "Semuanya."

"Semuanya katamu?"

Dan seketika mata Naruto membulat sempurna kala sang gadis menganggukkan kepalanya. "Ya, semua hal tentangmu dimulai ketika membuka mata hingga detik ini aku ketahui karena... Itulah sudah menjadi tugasku. Mengawasi setiap mahluk yang berpotensi berakhir di tempat ini... Tempat dari Gerbang Terjauh dari Kehidupan, Dataran Elysium."

"Ka-kalau be—"

"Sayangnya, aku tak bisa memberitahukannya. Itu bukanlah tugasku. Tugasku hanya mengawasi dan menyambut mereka yang datang kemari." Sela sang Gadis cepat mengetahui apa yang ingin Naruto katakan, tepatnya minta. "Karena jika aku memberitahukannya, akan semakin memperbesar keinginan untuk kembali ke dunia itu, bahkan lebih gawat lagi andaikata aku bisa memberitahukan masa lalu yang tak kau ingat itu."

"Temee!" umpat Naruto penuh penekanan. "Kau benar-benar penuh omong kosong, brengsek."

Tanah di sekitar tempat kaki Naruto berpijak memunculkan retakan besar yang menjalar ke segala arah sebelum akhirnya muncul gelombang kejut besar sampai menciptakan kawah lumayan besar.

Bersamaan dengan umpatan terakhirnya tadi, Naruto kembali mengaktifkan Senjutsu miliknya.

"Aku benar-benar muak dengan segala omong kosongmu itu!" menyusul pengaktifan Senjutsu, Naruto mengalirkan sejumlah besar Youki Kurama ke kedua tangan. "Elysium, Tugas, Yang Terpilih, bahkan siapa kau..."

"Aah, maaf. Betapa lancangnya diriku tak memperkenalkan diri. Kau bisa memanggilku Scheherazade."

"Bodo amat!"

"... Jangan bilang kau..." sang gadis yang diketahui bernama Scheherazade tubuhnya tersentak melihat iris mata Naruto memandang bukan ke arahnya, melainkan sesuatu di belakangnya. "Hm. Jadi itu rencanamu selanjutnya—"

Scheherazade menghela nafas setelah mengetahui apa yang selanjutnya ingin dilakukan bocah keras kepala di depannya.

Cukup pintar Scheherazade akui. Jika mengalahkan dirinya sangat sulit untuk Naruto, maka cara lain yang akan terpikirkan tentu saja hal itu. Bahkan jika diperhatikan benda tersebut seolah-olah adalah pusat dari dataran ini dimana para kupu-kupu bercahaya berkumpul. Lagi dilokasi itu pula energi lebih terasa kuat namun disaat yang sama menenangkan.

Terakhier, keadaan dataran indah ini setelah pertarungan sudah tak seperti awal Naruto tiba.

Selain daripada tempat Naruto dan Scheherazade berada. Bisa dibilang 50 persen dari bagian Elysium hancur oleh serangan membabi-buta Naruto selama pertarungan yang jika dihitung sejak dimulai hingga sekarang kurang lebih sudah memakan 3 hari hitungan dunia.

Danau indah hampir mengering dikarenakan panasnya udara di sekitarnya mengakibatkan air menguap ke udara. Puluhan, tidak ratusan kawah berbagai ukuran dimana-mana, dan padang yang tadinya dihiasi bunga sejauh mata menadang kini hangus di lalap api orange.

Hanya langit yang tak mengalami kehancuran serta dua hal disana.

Yaitu formasi batu dan pohon aneh di pusatnya. Dan itulah yang tadi dilirik Naruto, hal yang ingin dihancurkan agar bisa dikeluarkan dari sini.

"Sungguh kekuatan yang mengerikan." Scheherazade bergumam pelan memandangi tempatnya kini tak ubahnya daratan bekas peperangan besar, padahal hanya satu orang yang mengakibatkannya.

Namun, yang tak terpikirkan olehnya adalah jika mampu berbuat sejauh ini, kenapa Naruto tak mengeluarkan semuanya untuk selamat atau tak menutup kemungkinan mampu membunuh salah satu Raja Iblis. Malah menahan diri hanya karena tak ingin orang selain yang diinginkan sosok Kurama untuk dibunuh tak menjadi korban.

'Sungguh anak yang unik.' Batin Scheherazade hendak mengembalikan pandangan ke Naruto. Sayangnya, sebelum dia berucap sepatah kata. Naruto telah melesat dengan kecepatan tinggi melewati sisi kiri sampai-sampai rambut pirang panjang nan lebatnya melambai-lambai.

"Itu percuma saja..."

Scheherazade berbalik dan menyaksikan Naruto sudah mempersiapkan serangan yang bisa dipastikan skalanya berada di skala sangat besar.

.

.

.

"... Karena pohon itu lebih berbahaya dariku yang bahkan tak bisa kau sentuh, keturunan Lucifer!"

...

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut!]


Akwakwakwakwakwak... Well satu lagi Chapter Ampass dari FF Ampass ini kelar dengan waktu yang sangat lama... Ya maaf, akwakwakwakwakwak~

Untuk Chapter-Chapter awal Arc ini. Memang seperti banyak pertarungan, namun sayangnya beberapa akan saya skip. Bukan tak berguna, hanya yaa~ agak gimana kalau gak di skip. Pemenang dan hasil dari pertarungannya sudah sangat jelas siapa menang dan kalah.

Selanjutnya, sang gadis Loli. Ya, seperti yang saya bilang di Chapter sebelumnya. Dia adalah Dedek Scheherazade. Disini perannya sudah sedikit terungkap dari percakapan tak jelasnya dengan Naruto.

Singkatnya Scheherazade adalah eksistensi yang diberi tugas oleh seseorang atau entah mahluk apa untuk menjaga Dataran Elysium selagi mengamati siapapun yang berpotensi berakhir disana, salah satunya Naruto.

Selanjutnya, Madara dan Vali. Ya, dichapter ini kembali Madara akan menggunakan otak dan ototnya. Tujuan rencananya sudah disebut oleh Bikou diatas dan lebih lanjutnya akan dibahas pada Chapter selanjutnya.

Ya, disini saya tak akan membuat Madara dan yang menjadi Pembalas Dendam Bar-Bar. Dibanding langsung membinasakan Keturunan Maou Lama, Madara malah mengambil langkah sedikit demi sedikit sambil mencari tahu apakah ada pihak lain yang terlibat. Lagipula kalau langsung balasin dendamnya, cerita ini akan kelar karena di Summary sudah tertera akan kemana cerita ini.

Selanjutnya... Banyak yang bertanya. Apa Naruto akan kembali?

Saya persilahkan berspekulasi segila mungkin. Jika ingin berspekulasi Naruto akan keluar hidup-hidup, tak akan ada yang namanya 'Dewa atau Eksistensi Baik Hati Yang Akan Membantu Naruto" atau lain sebagainya yang begitu mudahnya spekulasi tersebut jadi kenyataan.

Lalu Pair... Well, sudah pernah saya bilang bahwa Pair-nya nanti Harem dengan jumlah 3 atau 4 Heroine. Siapa? Well, kalian tahu Fetish saya, jadi tebak saja, akwakwakwakwakwak~~

Oh, iya. Untuk PM. Saya sengaja mematikannya.

Alasannya.

Ada orang—bukan, bukan! Mahluk goblok yang gak tau apa itu artinya 'Unleash Your Imagination', diajak adu argumen malah ngaku-ngaku dewa Ngegas. Ya, ngegas emang, tpi ngegas kek bocah. Bukannya adu argumen berfaedah. Bahkan ampe spam PM sampah. Makanya dimatikan itu PM untuk sementara.

Dan karena saya adalah Author Pinggiran Ampass nan baik hati yang pasti membalas Review yang muncul. Jadi, akan saya balas Review anda Wahai Dewa Ngegas...

[Bacot sono sepuas lu. Gua dah bodoh amat ama mahluk goblok kadar tinggi macam elu yang dibikinnya pake kondom bocor. Diajak adu argumen malah ngegas. Nih jari tengah gua ngirim salam!]

So, TeraBap—Whatever your Penname... Translate that reply... Yeah, of course if Google can translate it... Akwakwakwakwakwak~

Oke, sekian duku AN dan bacotan tak bergunanya. Kurang sedikit lebihnya mohon dimaklumi.

...


Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini out.

Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade setelah bermain-main sebentar dengan Dedek Eldridge, Dedek Laffey, Dedek Ayanami, Dedek Nimi dan Dedek Javelin di Azur Lane.

Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut ini.

—BUKAN PEDO, BGSD!

Ciao~