Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Anime, Light Novel dan Game dalam Fanfic ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


.

.

[Arc IV: Nearest Place From Heaven]

.

[Chapter 32]

[Payback — Everything have a Cost!]

.

.

.

.

.


Kyoto, Japan

Saat ini, di kediaman pemimpin Fraksi Youkai dilanda kesibukan mendadak. Banyak pasukan nampak berjaga di segala sisi kediaman Yasaka. Alasannya tiada awan tiada angin tiba-tiba saja perwakilan dari aliansi Tiga Fraksi Utama datang berkunjung di wakili oleh Azazel seorang diri.

Andaikata Azazel diawal kedatangan tak mengungkapkan keinginannya asal serobot wilayah Kyoto dengan damai dan berniat merundingkan sesuatu kemungkinan kecil Grigory harus mengganti pemimpin.

Bagaimana tidak, baru saja menapak tanah Kyoto, puluhan Youkai yang dipimpin langsung oleh Yasaka dan dua bawahan kuatnya sudah siap menyambut Azazel.

Lalu, disinilah Azazel bersama Yasaka dan dua Youkai berstatus lumayan tinggi Fraksi Kyoto berada. Bertempat di salah satu ruangan kediaman Yasaka, keempatnya akan membicarakan tentang para Yōukai akan ikut serta dalam aliansi atau tidak.

"Ya... Ini cukup mendadak Azazel-dono. Tanpa pemberitahuan diawal, anda malah datang seorang diri membawa proposal ini."

Sambil memegang selembar kertas, Yasaka di meja kerjanya berbicara dengan penuh wibawa sebagai seorang pemimpin. Tidak jauh dari meja itu, Azazel tengah duduk sambil menikmati minuman hangat yang disediakan oleh Maid beberapa saat lalu.

"Maaf soal itu, Yasaka-san. Aku sengaja melakukan ini untuk menghindari kemungkinan terburuk terjadi apabila ini direncakan jauh-jauh hari. Perlu anda ketahui konferensi kemarin saja sampai disabotase beberapa pihak."

Atas informasi itupulah, Yasaka akhirnya mendapatkan sedikit jawaban atas kejadian beberapa hari lalu di area Kyoto yang mana itu bertepatan dengan konferensi tiga fraksi.

'Ternyata begitu kejadiannya. Mungkin itu alasan Yōuki Kurama tiba-tiba terasa melonjak sangat besar, sampai mengaktifkan [Overlimit Layline] miliknya.' Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Azazel, Yasaka membatin demikian. 'Kuharap kalian baik-baik saja.' Harapnya tidak lain untuk Naruto bersama keluarga.

Jujur, Yasaka sempat khawatir karena Kurama sampai mengaktifkan salah satu kemampuan spesial yang hanya dimiliki seorang. Kemampuan dimana tanpa berada di area Kyoto, Kurama mampu mendapatkan suplai Yōuki dalam jumlah banyak.

Bagi Yasaka sendiri, dia tahu jelas seberapa besar Yōuki Kurama. Bahkan jika dibandingkan miliknya, perbedaannya terbilang lumayan jauh, namun sampai mengaktifkan kemampuan itu kemungkinan besar Naruto mengalami pertarungan sengit melawan musuh kuat—sangat kuat.

Mumpung sekarang salah satu pemimpin dari pihak yang terlibat konferensi kemarin berada di hadapannya, Yasaka bisa mencari tahu apa yang terjadi. "Kalau boleh, apakah Azazel-dono berniat menceritakan apa yang terjadi dalam konferensi kemarin?" pintanya sopan.

Azazel tersentak. Inilah pertanyaan yang paling tidak diinginkan olehnya Yasaka lontarkan.

Sebaliknya Yasaka. Menyadari bahasa tubuh Azazel yang nampak aneh memicingkan mata. Dilain sisi kekhawatirannya semakin besar. "Azazel, kuharap tak ada yang terjadi pada Naruto-kun dan Kurama. Setelah semuanya, Kurama masihlah pemegang tahta kepemimpinan fraksi Youkai yang sah. Dari sini kau tahu sendiri bagaimana selanjutnya yang terjadi apalagi sesuatu menimpa keduanya." Seketika suara Yasaka sedikit dibuat mengancam selagi memberi satu tatapan panjang ke Azazel.

Tensi ruangan seketika menegang. Tidak hanya Yasaka, dua Yōukai lain disana memicingkan matanya ke Azazel tidak peduli jika orang itu adalah pemimpin Grigory. Bagi para Yōukai, ini bukan masalah sepele, ini menyangkut sosok penting bagi mereka dan juga anak angkat Yasaka sendiri.

'Sial!'

Azazel mengumpat dalam hati, namun cepat-cepat mengembalikan ekspresi santai dan ceria di wajahnya. "Tenanglah. Mereka semua baik-baik saja, Yasaka-dono. Tak perlu sekhawatir itu." Azazel semaksimal mungkin berakting seolah-olah tak terjadi apa-apa demi menyembunyikan fakta yang bisa saja mendatangkan masalah sangat besar bila terungkap. "Aku jamin itu." Tambahnya untuk meyakinkan lawan bicara.

"Benarkah?" Yasaka kembali bertanya. "Lalu, bisa kau jelaskan kenapa beberapa hari sebelumnya, tepat di hari konferensi kalian berlangsung terjadi lonjakan Yōuki dari Kurama? Dan perlu kuingatkan bahwa Naruto dan yang lain diundang langsung dalam konferensi kemarin atas tindakan membunuh Kokabiel, melukai putri keluarga Gremory dan sebuah persyaratan untuk perjanjian dengan Michael-dono—Pemimpin Fraksi Malaikat."

"Aah itu..."

"Hmmmn?"

'Ah, sial! Aku tak menyangka akan seperti ini. Terkutuklah kalian Rias Gremory, Michael!' Umpat Azazel merutuki kesialan yang tak disangka-sangka akan terjadi. Dia tak bodoh bila tak menyadari makna tersembunyi dari kalimat Yasaka. Yōukai betina bertubuh aduhay itu curiga ketiga fraksi telah merencanakan sesuatu—kecuali Fraksi Malaikat. Tentang Kokabiel, ya dia sudah ada alasan untuk meluruskan masalahnya. Namun melukai pewaris klan Gremory, ini pasti membuat Yasaka berpikir Sirzehcs hendak melakukan sesuatu atas tindakan Naruto itu.

Menurut Azazel jika berada di posisi Yasaka. Dia pasti berpikir Sirzechs telah menjebak Naruto dan yang lain. Jika hanya iblis kelas atas yang statusnya tak terlalu penting, Sirzechs atau pihak Iblis tak akan terlalu ambil pusing. Namun karena ini menyangkut Rias Gremory. Pewaris dari klan Gremory, salah satu dari 72 Pilar yang tersisah dari Great War dan Perang Saudara Dunia Bawah. Lebih parah lagi karena adik dari Maou Lucifer saat ini. Itu sudah lebih dari cukup untuk Sirzechs Lucifer memgambil tindakan serius pada Naruto dan yang lain.

Ya, kurang lebih begitulah yang Azazel pikirkan jika bertukar posisi dengan Yasaka.

Fuck! Bahkan setelah mati, ternyata Naruto masih saja bisa membuatnya kerepotan. 'Kau benar-benar merepotkan, Naruto! Sudah tiada saja bisa mengakibatkan perang besar pecah!'

Sebenarnya bukan Naruto yang bisa mengakibatkan perang besar pecah, melainkan Kurama—Yang juga sudah Azazel pastikan tewas bersama Naruto. Kurama adalah pemilik resmi tahta kepemimpinan Yōukai Kyoto, dan mereka bagian yang sangat penting bagi Mitologi Shinto. Singkatnya, jika Yasaka tahu Kurama tewas ditangan pemimpin tiga fraksi utama maka sudah pasti para Yōukai mengibarkan bendera perang dan sangat besar kemungkinan para petinggi Mitologi Shinto tak akan tinggal diam kehilangan salah satu pilar penting. Belum lagi keduanya tewas di wilayah Kuoh. Wilayah pinjaman dari Mitologi Shinto untuk fraksi Iblis.

Ini jelas-jelas masalah yang sangat besar bila terjadi.

Aah, sial! Baru saja membentuk aliansi demi kedamaian. Beberapa rintangan besar telah terpasang sangat indah di depan mereka.

Mengurusi Khaos Brigade saja sudah sangat merepotkan. Apalagi jika kelompok Madara dan Mitologi Shinto ikut-ikutan. Tiga kekuatan ini tak bisa mereka anggap remeh.

Namun, bukan Azazel namanya jika tak punya cara menghindari kemungkinan terburuk. Sebuah skenario penuh kebohongan sudah dia siapkan dalam otaknya demi menyembunyikan kabar kematian Naruto dan Kurama.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Konferensi kemarin telah disabotase oleh pihak lain. Pihak tersebut adalah pengikut Golongan Raja Iblis Lama, golongan yang ingin dihancurkan oleh Naruto dan keluarganya." Azazel mulai menjelaskan, betapa berdosanya dan khawatirnya dia berbohong sebaik itu.

Tapi bodoh amatlah! Demi kedamaian dan mencegah peperangan pecah, dia rela melakukan ini.

"Singkat cerita, para penyusup itu dipimpin langsung oleh salah satu keturunan Raja Iblis, Katerea Leviathan. Tidak hanya itu, ternyata mereka bekerja sama dengan sebuah organisasi yang dipimpin oleh salah satu eksistensi terkuat, Ouroboros Doragon Ophis."

Awalnya Yasaka mendengarkan dengan seksama tanpa ingin melewatkan sedikit pun informasi. Lalu, ketika tahu bahwa anak angkatnya bersama Madara dan yang lain melawan salah satu eksistensi [Monster In The End] kekhawatirannya semakin besar. Sampai di penghujung dia dipaksa terkejut dan membulatkan mata.

"Ophis katamu? Sang Mugen no Ryujin (Infitiny Dragon God)?"

Azazel mengangguk pelan. "Ya, Ophis yang itu. Aku tak tahu apa tujuannya mendirikan organisasi berisikan makhluk-mahkluk kuat, namun yang pasti organisasi itu adalah ancaman terbesar saat ini. Untuk informasi lebih lanjut tentang organisasi ini akan kami berikan demi kebaikan tentu saja."

"Terima kasih untuk itu."

"Baiklah. Lanjut. Mengetahui bahwa target muncul di hadapan mereka. Langsung saja terjadi pertarungan sengit, sangat sengit sampai mereka dibuat kewalahan oleh Katerea yang ternyata memiliki kekuatan pemberian dari Ophis. Saking besarnya niat mereka untuk membunuh Katerea. Aku, Maou Lucifer dan Michael bahkan ditolak mentah-mentah untuk membantu, malah sampai diancam jika ikut campur. Ketika mulai kewalahan, Naruto dan Kurama akhirnya menggunakan semua kekuatan mereka mengingat lawan mendapatkan bantuan sangat besar. Bahkan akupun yang sudah mengenal Naruto dua tahun lamanya belum pernah melihat dia all-out seperti itu..."

Sambil menceritakan skenario pertarungan palsu itu, Azazel tak henti-hentinya berharap Yasaka mempercayai kebohongan tersebut.

"Astaga..." Yasaka berujar lirih.

Meskipun dia sama sekali tak melarang Naruto untuk mewujudkan tujuan balas dendamnya bersama Madara dan Hashirama. Namun jika sudah begini, ujungnya dia pasti khawatir juga sebagai ibu angkat. Meskipun sudah meyakinkan dirinya untuk percaya tujuan itu pasti terwujud, jalan yang mereka lalui pasti penuh dengan bahaya. Seperti ini misalnya, melawan musuh yang tak disangka-sangka bekerja sama dengan salah satu mahluk superior.

Mengembalikan pandangannya ke Azazel. Untuk sekarang, Yasaka sepertinya bisa sedikit mempercayai Azazel yang dia lihat begitu serius menjelaskan sebelum mendapatkan kepastian pasti dari Naruto atau Madara, yang sekarang tak tahu dimana gerangan batang hidung mereka berada. Bagaimanapun Yasaka tahu melawan salah satu keturunan Raja Iblis yang diperkuat kekuatan dari sang Dewa Naga sudah pasti membutuhkan kekuatan setara atau malah diatasnya, bahkan jika Madara dan Hashirama ikut serta. Madara dan Hashirama mungkin bisa membunuh Kokabiel, namun lain ceritanya jika melawan Katerea Leviathan yang mendapatkan bantuan Ophis. Mungkin itulah kenapa Kurama sampai mengaktifkan [Overlimit Layline] untuk mengimbangi kekuatan Ophis yang sejatinya tak diketahui sampai dimana batasannya.

Setidaknya itu pikiran Yasaka yang belum tahu kekuatan sebenarnya dari Madara dan Hashirama.

Lalu dengan wajah khawatirnya yang tak dapat disembunyikan, Yasaka menatap Azazel. "Apakah mereka menang?" tanyanya penuh harap.

Azazel mengangguk mantap. "Ya, mereka berhasil membunuh Katerea dan membabat habis para penyusup bersama peserta konferensi lainnya tanpa mengalami luka fatal."

Dalam hati, Azazel bersyukur—sangat bersyukur Yasaka sepertinya mempercayai cerita yang dia bawakan dengan sangat lancar tanpa adanya tanda-tanda berbohong.

"Namun, setelah pertarungan berakhir. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Naruto berpisah dengan Uchiha-san dan yang lain."

"—Eh?!" baru saja Yasaka bersyukur mendengar Naruto dan Kurama keluar sebagai pemenang tanpa luka serius, informasi mengejutkan malah datang menghujam. "Mereka berpisah? Apa yang terjadi?"

"Mohon maaf, Yasaka-dono. Untuk satu itu aku sama sekali mengetahuinya. Tapi, yang paling penting mereka baik-baik saja kecuali lelah karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka meninggalkan lokasi tanpa luka fatal yang mengancam nyawa." Jelas Azazel diakhir senyum penuh kelegaan. Kelegaan yang dia tujukan untuk kebohongan Naruto baik-baik saja serta lega Yasaka memercayai semua itu setelah melihat wanita itu ikut tersenyum lega juga. "Dan aku benar-benar tak menyangka mereka berhasil membunuh Katerea yang jelas-jelas berlipat-lipat kekuatannya oleh pemberian Ophis."

Nampak luar, Azazel mungkin bisa berakting. Namun innernya kini dipenuhi rasa bersalah teramat besar pada Yasaka dan tentu saja pada Naruto juga walaupun dia sudah memantabkan pilihan melakukan ini demi masa depan. 'Maaf dan kumohon jangan kutuk aku dari sana sudah mempermainkan kematianmu serta membohongi Yasaka, Naruto!'

Yasaka menghela nafas panjang. "Baiklah. Sekarang aku bisa mempercayaimu Azazel-dono." Katanya kemudian sudah kembali ke mode pemimpin, bukan lagi seorang ibu yang khawatir pada keadaan anaknya. Lagipula yang bercerita didepannya ini adalah Azazel, seorang pimpinan sekaligus teman dari Naruto sendiri. Cukup sulit bagi Yasaka untuk tidak percaya pada sosok yang anaknya juga percayai sebagai teman.

"Sekarang, mari kita bahas mengenai proposal ini. Namun, kuberitahu terlebih dahulu. Saya tak akan langsung setuju. Setidaknya perlu untuk para Dewa dan Dewi mengetahuinya. Mereka yang berhak memberikan keputusan."

"Ya, aku paham soal itu, Yasaka-dono... Lagipula, untuk itulah anda yang kuberikan proposal itu karena jika langsung menemui Petinggi Mitologi Shinto. Yang ada aku tinggal kabar kematian saja yang kembali seenaknya masuk ke wilayah mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu—Hahahahaha~" jelas Azazel diakhir tawa lepas sudah melewati bagian tersulit kedatangannya ke Kyoto. Jika saja bukan demi masa depan, Azazel mungkin sudah masa bodoh dengan ini dan lebih memilih menghabiskan waktu di pinggir sungai ditemani jorang pancing ala kadarnya mencari ikan yang tak kunjung datang dalam ukuran besar.

Dan setelah tawa Azazel berakhir, perbincangan lebih lanjut tentang proposal yang dibawa pria itu berlanjut ke hal-hal menyangkut tujuan dari inginnya pihak Aliansi fraksi Yōukai Kyoto dan Mitologi Shinto ikut serta dalam kerja sama menuju kedamaian.

.

.

Untuk saat ini Azazel dan pihak aliansi bisa bernafas lega. Namun, sebuah kebohongan tak akan bisa bertahan selamanya tak perduli seberapa sempurnanya itu disembunyikan, karena—

—Secantik-cantiknya waifu, pasti berakhir di Doujin juga!—Apa hubungannya, bangsat?!

...

.

.

.

.

.

.

.

Unknow Location, Somewhere in Europe.

"Tck! Seperti yang kuduga. Mereka pasti melarikan diri."

Sambil berkata demikian, Madara menusuk kepala sosok monster yang tengkurap di hadapannya menggunakan sebilah katana. Bunyi daging terkoyak yang disusul teriakan penuh rasa sakit menjadi akhir dari hidup lawan Madara ini.

Dengan matinya sosok yang merupakan iblis hasil percobaan Orochimaru itu mengakhiri pertempuran di malam panjang ini, dengan kelompok Madara dan Vali keluar sebagai pemenang.

Sang lawan yaitu kelompok Cao Cao, Shalba Beelzebub, Orochimaru, puluhan iblis dan penyihir berlevel tinggi selain daripada ratusan keroco-keroco yang tewas harus harus merasakan pahitnya kekalahan sementara. Kabur dari arena pertempuran menjadi keputusan cukup berat bagi mereka dengan beberapa alasan berbeda, dan yang paling utama adalah kurangnya persiapan. Pasukan sedikit dan tak ada support terbaik yaitu Ophis.

Singkat cerita, tepat setelah Madara mematikan indra penglihatan dan pendengaran lawannya, Kuroka segera membawa kabur Ophis dari aula kastil menuju kamar Le Fay yang sudah dipasangi sihir bertipe pelindung tingkat tinggi.

Untuk pihak Iblis sendiri. Ketiadaan sang support Ophis dan hanya diwakili oleh Shalba dan Orochimaru akan sangat sulit untuk menang. Belum terhitung adanya Vali yang mampu membagi setengah kekuatan mereka menjadikan situasi benar-benar mengharuskan mereka untuk kabur. Beruntung, Orochimaru mengikutkan beberapa iblis yang telah dia jadikan kelinci percobaan sebagai pengalihan untuk kabur.

Sedangkan kelompok Cao Cao, mereka sebenarnya sempat bertarung l cukup lama sambil menunggu bala bantuan dan juga melacak keberadaan Ophis dan Kuroka. Sayangnya bala bantuan yang mereka persiapkan malah tak merespon, begitupun menemukan keberadaan Ophis yang disembunyikan entah dimana dan bagaimana sampai tak terdeteksi karena ratusan energi lain memenuhi kastil. Maka dari itu mereka pun memutuskan ikut mundur dan Cao Cao bersumpah tak akan membiarkan Madara dan kawan-kawan menguasai sang kartu trump [Ophis].

Walaupun ini sudah diduga Madara akan terjadi apabila mengambil dan menyembunyikan Ophis. Jujur dia merasa sedikit kecewa dan kesal tak mampu membunuh atau setidaknya memberikan luka fatal ke Orochimaru dan Shalba.

"... Dasar kecoa-kecoa pengecut!"

"Khakhakhakhakha—Itu tadi lumayan menyenangkan."

Di samping Madara, Bikou berseru sambil menenteng tongkat di punggung. "Kau benar-benar hebat pak tua. Ini benar-benar seperti dugaanmu." Puji Bikou kemudian dan yang dipuji malah membalas dengan dua kata andalan.

"Hn."

Madara lalu mengedarkan pandangan. Puluhan jasad manusia atau anggota golongan penyihir bergelimpangan dimana-mana layaknya sampah. Sementara monster yang terakhir dibunuh mulai terurai tubuhnya menyusul belasan iblis lain menuju dunia/alam setelah kematian untuk para mahluk-mahluk supernatural.

Kemudian pandangan Madara tertuju pada pemuda yang keberadaannya menjadi salah satu alasan Shalba dan Orochimaru mundur dengan alasan kalah kekuatan, Arthur Pendragon. Pemuda itu tengah mengelap pedang yang kalau tak salah Madara ketahui namanya adalah Excalbur Ruler—satu dari pecahan Holy Sword Excalibur yang telah dihancurkan—pada jubah satu jasad di pinggir ruangan.

Setelah melihat aksi dari Arthur, Madara sedikit mengakui kemampuanya. Baik dari segi kekuatan maupun kemampuan berpedang. Kapan-kapan dia ingin mengajak keturunan Raja Arthur itu berlatih tanding sekaligus mengetes sejauh mana Kenjutsu miliknya melawan pengguna pedang yang katanya di Era ini cukup banyak dan rata-rata sangatlah kuat.

"Hilih, kau sama dinginnya dengan Vali, pak tua. Cocok benar jadi partner seperjalanan." Seru Bikou memandang bosan Madara. "Ngomong-ngomong, karena gagal membunuh Shalba dan Orochimaru. Tapi sukses menculik Ophis di depan mereka, apakah ini artinya rencana kalian gagal?"

"Gagal atau berhasil, atau mungkin bisa dibilang dua-duanya."

Itu bukanlah Madara yang menjawab, melainkan Vali yang datang menghampiri mereka berdua dalam keadaan normal setelah tadi tak pernah melepaskan baju besi [Balance Breaker] miliknya.

"Haaa?" Bikou mengeluarkan suara bingung atas jawaban plin-plan barusan. "Mana yang benar, woy?!"

"Sigh! Apa kau lupa ucapanmu tentang Ophis tadi siang?"

"Oh, yang itu." Dan akhirnya Bikou pun mengingatnya. "Aku paham sekarang. Walau gagal membunuh Shalba atau Orochimaru, tapi berhasil mengambil Ophis mereka akan mengejar kita, bukan? Jadi akan ada kesempatan kedua."

Madara dan Vali pun hanya menganggukkan kepala sebagai respon untuk tebakan Bikou itu.

"Tapi, resiko dari ini bukan hanya para Iblis itu yang mengejar kita. Cao Cao pun begitu karena dari awal yang kutahu dia memiliki tujuan pada Ophis sampai menerima tawaran bergabung padahal di Organisasi ada target mereka."

Itu adalah suara Arthur yang berbicara sedikit keras sambil berjalan karena jaranya agak jauh dari Madara, Arthur dan Bikuou. Tentu saja Arthur mengetahui ini mengingat dulu sempat berada di pihak Cao Cao dan sedikit mengetahui rencana besar kelompok Pahlawan itu.

"Cao Cao tidak akan berhenti sampai menyelesaikan rencananya. Maka sudah dipastikan dia akan terus mengejar kita, menurutku."

Karena tak mampu menahan rasa penasarannya terhadap sosok Cao Cao yang entah kenapa terlihat dikhawatirkan oleh Arthur dan Bikou, Madara pun menanyangkan kapasitasnya. "Memang sekuat apa bocah itu, hn?"

"Kuat atau mungkin sangat kuat. Jika Arthur dikatakan sebagai pemegang Pedang Suci Terkuat. Maka si Cao Cao ini adalah pemegang Sacred Gear terkuat, satu dari tiga belas [Longinus]. Tombak suci, [True Longinus]."

Awalnya Madara hanya memasang wajah datar mendengar penjelasan Bikuo, namun diakhir-akhir garis datar yang dibentuk bibirnya dimiringkan. Ya, Cao Cao sepertinya semenarik Arthur, lebih malah. Memegang senjata terkuat buatan Tuhan, tidak buruk untuk menjadi lawan.

"Hn, itu menjawab rasa penasaranku pada energi suci gila-gilaan selain milik Arthur tadi. Jadi, itu darinya." Ujar Madara. Bukannya takut dan khawatir, dia malah sedikit tertarik namun tak akan dia perdulikan kecuali Cao Cao yang memulai perkara, dan adanya Ophis di tangan mereka sudah pasti akan terjadi baku hantam di masa depan nanti. "Jadi, cuma itu yang kalian khawatirkan tentangnya."

"Khakhakhakhakha—Kau juga sesuatu sekali pak tua seperti kakak Vali. Sama sekali tak ketakutan mendengar [True Longinus] apalagi kau cuma manusia."

"Untuk apa aku takut pada kecoa itu, hn?! Selama punya jantung, tak masalah mau dia pemegang senjata terkuat, iblis super, Seraph bahkan dewa sekalipun."

Ketika mengatakan itu, Madara sempat terpikirkan bagaimana keadaan Hilda yang dia tugaskan mengurusi area luar kastil. Tapi, tak lama kemudian Madara sadar tak ada gunanya memikirkan mahluk tak normal itu. Cewek bego itu pasti bersenang-senang dengan ratusan iblis dan penyihir atau mahluk-mahluk lain di luar kastil.

Eh, baru saja membuang jauh-jauh pikiran itu. Orang yang dipikirkan malah nongol dari pintu masuk aula sambil menenteng senjata tak normal berupa sabit tiga mata penuh noda darah.

Panjang umur si Hilda dan Madara pasti mengutuk ini karena harus mengurusi sisi lain gak berguna gadis itu lebih lama. Bangsat menurut Madara.

"Ara ara—Itu tadi menyenangkan. Jashin-sama juga pasti senang atas pemberianku~"

"Oi, oi, oi! Apa kau baik-baik saja?!"

Seketika Bikou mengeluarkan suara panik kala Hilda sudah berada di dekat mereka. Mata Bikou sedikit melebar bersama dengan Arthur menyaksikan keadaan Hilda yang dari penampilan tak bisa dikatakan sehat. Sedang Vali memasang wajah sedikit horor.

Hampir semua bagian tubuh dilumuri darah yang sudah setengah kering, entah itu darah Hilda atau lawannya. Bikou, Arthur dan Vali sama sekali tak tahu karena ada beberapa luka tak kecil di beberapa bagian tubuh Hilda. Di bagian perut pakaian Gothic Lolita dua robekan mempelihatkan luka yang cukup dalam, begitupula di lengan kiri dan paha kanan. Terakhir luka robek panjang dan masih mengeluarkan darah menghiasi kening.

Dibanding mengatakan menang, kalah mungkin lebih cocok di mata ketiga pemuda itu atas kondisi Hilda.

Namun, semua itu berbanding terbalik bagi Madara. Dia malah memandangnya bosan. "Huh, kau nggak mati ya? Sayang sekali."

"Jadi kau mau aku mati ya, Madara-kun?" Tanya Hilda memasang wajah cemberut. "Jahatnya."

"Ya, itu salah satu impian terbesarku—dan jangan sok imut, beruk. Menjijikan!"

"Heeee... Kau benar-benar jahat, Madara-kun!"

Urat di kening Madara menyembul keluar menyaksikan Hilda yang sok imut—Tapi keliatan seperti Yandere kelas berat.

"Hentikan, bego!" Perintah Madara dingin lalu beralih ke Arthur yang tadinya agak panik, kini melongo seperti orang goblok bersama Vali dan Bikou. "Hoiy, kalian kenapa?"

Arthur yang pertama sadar dan tahu dirinya ditatap Madara menatap balik. "Err, dia baik-baik saja ya?" dia menunjuk Hilda tanpa menatapnya.

"Hn. Iya. Sudah kubilang bukan kalau dia mahluk teraneh diantara paling aneh yang pernah kutemui. Itu malah membuatnya senang. Dan kalau mau, kupersihkan dengan sangat untuk kalian membunuhnya. Ya, kalau bisa."

Serentak trio itu setelah Vali dan Bikou sadar serentak, bersama dengan Arthur memandangi Hilda. Wajah mereka nampak pucat dengan warna biru mulai dari kening sampai mata masing-masing menghiasi.

'Dia masokis, njiiir!'

...

"Arthur. Adikmu bisa sihir penyembuhan, kan?"

"Sepertinya bisa. Dia pernah bilang sudah mengusai Yousei Mahou (Fairy Magic)."

"Hn." Respon Madara singkat lalu menolahkan kepalanya ke Hilda, tidak lupa ekspresi jijik ikut menyertai. Sungguh, keberadaan Hilda sangat ingin Madara lenyapkan dari dunia andai tak berguna, dan tentu saja menemukan cara untuk membunuhnya. "Ke ruangan Ophis dan yang lain sana, Beruk. Keberadaanmu hanya merusak suasana."

"Hmmpt!

'Anjir pengen muntah lihatnya!'

...

Setelah itu Hilda beranjak pergi dan tak lupa menyarangkan serangan telak ke lambung laki-laki disana. Jika tadi Bikou mengatakan dalam hati ingin muntah seperti yang lain, dan ternyata benar-benar kejadian. Dia tak bisa menahan rasa mual menyaksikan The Worst Pout Ever milik Hilda.

Mengabaikan Bikou yang sudah mengeluarkan efek-efek pelangi dari mulut sambil bersujud kesakitan, Madara bersama Vali dan Arthur hendak melanjutkan pembicaraan mereka yang harus tertunda oleh Hilda.

"Sial, lambungku masih sakit. Dasar betina liar sialan."

Namun terlebih dahulu Madara mengeluhkan rasa nyeri di perut yang masih terasa. Bayangkan saja, muka penuh darah sambil pasang ekspresi ngambek menjijikan. Siapa yang tak mual melihatnya? Madara saja ter-knock out dibuatnya.

"Tadi aku serius. Kalau mau membunuhnya, silahkan saja."

"Maaf, kami tak tertarik berurusan dengannya, kurasa." Kata Arthur mewakili. Setelah menyaksikan secara langsung sosok Hilda, seketika gadis itu menjadi daftar nomor satu Tim Vali harus dihindari. Sudah masokis, mesum, punya mode Big Tiddy Onee-san, sesat pula. Sebuah paket komplit jika ingin kehidupan sehari-hari dipenuhi kegilaan tak terhingga dan melampauinya.

Sungguh, Arthur masih ingin hari-harinya berjalan seperti biasa. Tak dipenuhi kegilaan selain dari hobi ketuanya yang doyan gelud.

"Nah, setelah ini. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Arthur kemudian memgembalikan pembahasan ke serius dan seketika ditatap Madara.

"Hn, kurasa kembali ke Kyoto. Dengan keberadaan Ophis yang sekarang kita pegang, Kyoto jadi satu-satunya tempat teraman saat ini untuk menyembunyikan Ryuki (Dragon Power) miliknya dari deteksi musuh." Jawab Madara yang memang belum ada rencana apapun selain menunggu kepulangan Naruto setelah satu ini diselesaikan. "Sebetulnya tadi kita beruntung Kekkai Mahou (Barrier Magic) milik adikmu beserta Ophis didalamnya tersamarkan pancaran kekuatan kita dan kecoa-kecoa tadi sampai tak terdeteksi. Haaa, pada akhirnya Arthur dan yang lain tak perlu repot-repot kabur ke Kyoto lagi."

"Kita berangkat malam ini?" tanya Vali tak memperdulikan penjelasan terakhir Madara yang menyinggung keberuntungan.

"Tidak. Besok atau lusa. Berangkat malam ini entah kenapa firasatku mengatakan sedikit berisiko."

Sepemikiran dengan Madara, Arthur mengangguk setuju.

Lagipula mereka butuh istirahat. Jika langsung ke Kyoto, sangat besar kemungkinan mereka disambut oleh ribuan pertanyaan oleh Yasaka yang akan jadi wartawan dadakan. Tak adanya Naruto, siapa Vali dan kelompoknya, dan tentu saja ikutnya Ophis Madara prediksi akan jadi banyak menyita perhatian dari Yasaka.

Serta untuk menghindari dilacaknya mereka apabila salah bertindak ketika ingin berpindah dari tempat sekarang ke Kyoto. Madara tahu, setelah kehilangan Ophis, para iblis dan kelompok Cao Cao pasti meningkatkan sensor mereka.

Maka dari itu, dibanding mengambil resiko besar disergap. Berdiam diri untuk sementara dan meningkatkan kewaspadaan menjadi jalan yang dipilih Madara melewati hari lumayan berat ini.

"Untuk jaga-jaga. Kita akan gantian berjaga sepanjang malam. Aku yang pertama. Selanjutnya tinggal kalian tentukan saja."

"Baiklah."

Sambil mengatakan itu, Vali beranjak dari aula disusul Arthur yang membopong Bikou. Sepertinya monyet satu itu benar-benar K.O oleh Hilda.

Kini tinggallah Madara seorang diri di ruangan tersebut. Dia menghela nafas sejenak. Sekarang situasi sudah seimbang yang mana baik dia maupun golongan pengikut raja iblis terdahulu akan saling memburu satu sama lain. Yang berarti waktu bersantai maupun melatih Yuki bisa terganggu kapan saja bila mana penyergapan untuk mengambil Ophis terjadi.

Maka dari itu Madara mulai berpikir perkembangan Yuki harus dipercepat dengan lebih mengefektifkan latihan. Ketika tengah memikirkan hal itu, Madara langsung mengingat satu hal lain yang harus ditemukan. Tempat yang mungkin saja adalah kampung halaman Yuki.

Aah, masalah ini sebetulnya bukan dia yang punya urusan. Ini milik Naruto, lagipula bocah itu yang melakukan perjanjian dengan Fraksi Malaikat. Tanpa Naruto, tak akan kemajuan berarti untuk mendapatkan informasi.

'Sigh! Cepatlah bocah!'

Madara dengan nada dinginnya berharap Naruto segera muncul dan menyelesaikan perjanjiannya dengan fraksi Malaikat. Penting untuk mereka menemukan tempat itu lebih dahulu sebelum Orochimaru.

Ya, tempat itu juga dicari Orochimaru. Akan gawat jadinya bila ular sialan itu yang menemukan pertama dan langsung melakukan penelitiannya. Melawan kelinci-kelinci percobaan Orochimaru yang sekarang saja cukup merepotkan. Regenerasi mereka hampir mendekati level Hashirama, kekuatan fisik dan sihir yang berada di level High Class Devil atau malah lebih, dan insting membunuh yang meledak-ledak sudah lebih cukup membuktikan bahwa makhluk-makhluk itu sangat merepotkan, apalagi jika sudah ditambah kemampuan dan jumlahnya. Satu-satunya cara yang sekarang Madara tahu untuk membunuh monster itu adalah menusuk tepat di jantung atau hancurkan kepala. Atau jika hanya ingin mematikan sementara pergerakan mereka khusus untuk pejantan, cukup tendang pelernya.

Setelah melamun agak lama, Madara kembali menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Tubuhnya sudah lumayan lelah dan tak ingin terlalu berpikir, tapi jika tak melakukan apa-apa malah bosan di aula ini memandangi jasad-jasad penyihir yang sama sekali tak diurusi.

Agar tak dilanda kebosanan sambil menunggu waktu jaganya berakhir 2-3 jam lagi, Madara memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri setiap sudut istana ini. Siapa tahu dia menemukan sesuatu, jackpot berupa harta karun misalnya. Lumayan untuk menutup mulut Naruto bila kembali nanti akan bacot panjang lebar soal keuangan yang begonya malah menolak ajakan merampok bank dunia.

Ya, namanya juga bocah sableng murid kesayangan si pertapa sableng, Jiraiya.

Satu per satu ruangan mulai dijelajahi, sayangnya Madara sama sekali tak menemukan sesuatu yang menarik sebelum akhirnya tiba di balkon lantai dua kastil. Saat memandang turun, matanya sedikit melebar menyaksikan pemandangan yang tersaji di halaman kastil di bawah.

Keadaannya lebih brutal dari aula. Jika dia bersama Vali, Bikou dan Arthur hanya melawan puluhan walau ada belasan tingkatannya lebih kuat serta merepotkan.

Madara tersenyum kecil. "Pantas saja dia babak belur begitu."

Ya, sekarang Madara tahu alasannya kenapa Hilda bisa mengalami beberapa luka tusuk dan belasan luka lebam dan gores. Ternyata gadis itu seorang diri membantai lebih dari seratus iblis dan penyihir, dan melawan entah berapa lagi jumlahnya yang berhasil kabur tak dijadikan tumbal untuk Dewa sembahan Hilda.

Madara mungkin tak menyukai dan sangat ingin membunuh Hilda karena sisi mesum, masokis dan hal-hal tak berguna lain gadis itu. Namun, semua yang mengenal lama Madara tahu jika pria ini sangat mengakui kemampuan Hilda sebagai salah satu kunoichi terkuat dalam catatan sejarah desa Konoha. Hanya saja Madara tak mau mengakuinya secara terang-terangan di depan yang lain. Dih, Tsundere sialan!

Ketika asik menghitung jumlah mayat dibawah sana karena kurang kerjaan, tiba-tiba saja ada yang terlintas pikirannya.

"Hn. Apa aku melupakan sesuatu...?"

...

.

.

Sekitar dua kilometer dari kastil bagian barat. Di tengah-tengah lebatnya hutan seonggok manusia sudah terkapar tak berdaya. Dia adalah Hashirama yang habis melakukan bagiannya dan sedikit mengurusi tugas tambahan mendadak.

Stamina dan chakra Hashirama benar-benar habis terkuras setelah tugas tambahan tadi diurusi. Kakinya terlalu letih hanya untuk berdiri apalagi berjalan kembali ke kastil. Mau merangkak pakai tangan sama saja.

Jadi, akhirnya Hashirama cuma berbaring dan menunggu seseorang menyadari dia tak kembali setelah pertempuran selesai.

"Seseorang... Tolong aku..."

...

.

Kembali ke Madara. Beberapa lama mengingat-ingat. Dia tak kunjung tahu apa yang dia lupakan atau hanya pura-pura lupa soal Hashirama dan tak mau peduli karena dia masih merasakan kalau sahabat bodohnya itu masih hidup dan pasti sedang berkeliling hutan mencari jamur untuk dibuat sup favorit.

'Ah, hanya perasaanku saja.'

...

.

.

.

.

.

.

.

Kyoto, Japan.

Senja mulai menyapa kawasan salah satu kota besar di Jepang ini. Ditemani cahaya jingga di ufuk barat, sebagian besar penduduk mulai mengakhiri aktivitas. Namun, ada juga yang baru memulai kesibukan mereka, entah kesibukan macam itu.

Para mahluk supernatural diantaranya.

Di kediaman megah sang pemimpin Fraksi Kyoto puluhan Yōukai dalam wujud manusianya nampak menggeluti tugas mereka masing-masing. Para pembantu sibuk membersihkan halaman serta bangunan, para prajurit mulai mempersiapkan diri untuk berjaga sepanjang malam di sekitaran kota dan aktivitas lain yang membuat bangunan itu lebih ramai biasanya.

...

"Cepatlah, Haha-ue!"

"Ibu tahu kau sangat rindu kakakmu itu seminggu tak ketemu. Sabarlah, sedikit Yōukai muda!"

"Hmmpt!"

'Imutnyaaaa...!'

Para Maid yang tengah membantu Yasaka mengenakan yutaka tak ayal langsung berbunga-bunga hati mereka menyaksikan ekspresi cemberut melampaui batas keimutan standar dari Kunou.

Saat ini di kamar sang pemimpin, persiapan sederhana tengah berlangsung. Sejujurnya Yasaka tak ingin dibantu memilih pakaian, tapi karena paksaan dari para Maid, mau tak mau dia hanya menurut saja dan itu menyebabkan Kunou harus kesal harus menunggu lama. Padahal dia juga tadi hampir sejam hanya untuk memilih baju dan lain-lain. Dasar perempuan! Berpakaian saja seperti mau perang saja!

"Padahal kami hanya ingin mengunjungi mereka." Dan Yasaka hanya bisa memijit pelipisnya pelan selagi para maid memasangkan beberapa aksesoris. "Dasar kalian ini."

"Anda adalah pemimpin Yasaka-sama. Anda harus memperlihatkan itu, apalagi di depan Kurama-sama yang baru saja kembali setelah lama bersembunyi di tubuh Naruto-san."

"Ya, ya. Terserah kalian. Cepatlah sebelum Kunou tambah cerewet."

"Jangan bawa-bawa Kunou, Haha-ue!"

...

.

.

Entah berapa lama kemudian setalah berpakaian, menata rambut, dandan, ganti oli shockbreaker busi isi angin segala macam, Yasaka bersama Kunou akhirnya berangkatt menuju apartemen sederhana yang sehari sebelum konferensi tiga fraksi diberikan untuk Naruto dan lainnya.

Niat awal Yasaka sebenarnya tak ingin memberikan apartemen itu dan menyuruh Naruto bersama yang lain untuk tinggal di kediamannya saja. Hanya saja Naruto dan Madara menolak dengan alasan yang sama yaitu keselamatan serta keamanan Yasaka bersama fraksinya.

Maka dari itu, daripada harus terpisah jauh lagi untuk kali kedua dengan sang anak dan Kurama, terpaksa jalan ini yang diambil agar Naruto tetap berada dalam pengawasannya. Dengan memberikan mereka apartemen yang berlokasi masih di dalam area Kekkai (Barrier) fraksi Yōukai Kyoto. Itulah kenapa Yasaka tahu sekitar tiga jam lalu Madara telah kembali ke apartemen.

Akan tetapi, Yasaka hanya merasakan pancaran kekuatan dari Madara, Hashirama, Hilda serta beberapa aura atau energi yang beberapa diantaranya agak familiar. Dan yang terpenting adalah, Informasi bahwa Naruto tak bersama Madara adalah benar. Yasaka sama sekali tak merasakan Yōuki Kurama barang sedikitpun.

Sebelumnya, Yasaka tak ingin memberitahu Kunou tentang Naruto, dia ingin menyerahkan ini ke Yuki. Yasaka yakin adik Naruto yang secara tidak langsung jadi adik Kunou juga bisa meyakinkan soal kakak mereka. Tidak hanya Yuki, Yasaka juga berpikir Madara pasti bisa meyakinkan Kunou. Ya, itu yang Yasaka pikirkan.

...

Kini Yasaka telah tiba di depan apartemen Naruto dan lainnya. Apartemen itu tepat berada di pinggiran yang mana halaman belakang langsung berhadapan dengan hutan kota Kyoto. Bangunannya bergaya modern yang sedikit dipadukan tradisional Jepang, memiliki dua lanntai dengan sebuah balkon kecil, halaman depan dan samping tak terlalu luas namun cukup indah dengan banyak bunga serta tanaman bonsai buatan Hashirama.

Berdiri sekitar satu meter dari pagar Apartemen itu, Yasaka sedikit terkesima pada sesuatu dan itu juga yang membuat dia berhenti sejenak diikuti Kunou di belakangnya. Ada semacam Barrier tak kasat mata yang melindungi area Apartemen. Dia bisa merasakannya sangat jelas.

"Memasang Kekkai di dalam Kekkai. Mereka benar-benar menyembunyikan keberadaan." Ungkap Yasaka mengakui totalitas Madara yang tak ingin keberadaan mereka tak terdeksi. Dia bahkan hanya merasakan sedikit sekali hawa keberadaan di dalam apartemen padahal itu berada dalam wilayah dimana kekuatannya bisa dibilang sangat efektif berkat Layline. "Dengan begini aku tak perlu khawatir lagi kecuali mereka bepergian."

Yasaka tersenyum kecil ketika pintu apartemen terbuka dan menampakkan Hashirama dalam kondisi santai. Pria tiga puluh tahunan itu ikut tersenyum dan memberi sapaan sebagai sambutan.

"Aah, selamat sore, Yasaka-san, Kunou-chan!"

Yasaka balas tersenyum. "Selamat sore, Hashirama-san!"

"Sore, Ojii-san!" Kunou ikut memamerkan senyum paling imutnya.

Namun, senyum hangat Hashirama hanya bertahan sementara dan berubah masam. Yasaka menyadari hal tersebut seketika menghela nafas pendek. Rasa khawatir dan takut akan terjadi apa-apa pada Naruto kembali menjalar ke hati Yasaka.

Sebelum mempersilahkan Ratu dan Putri Yōukai itu masuk, Hashirama terlebih dulu memeriksa keadaan seketika. Dirasa aman tanpa adanya tanda-tanda manusia, Hashirama merangkai segel tangan tunggal. Simbol dan tulisan aneh bermunculan tepat di hadapan Yasaka, membentuk persegi panjang.

"Nah, silahkan masuk!"

...

.

.

Yasaka benar-benar terkejut bukan main. Kelompok Naruto yang awalnya hanya ada Madara, Hashirama, Hilda dan Yuki kini bertambah banyak. Itulah sumber energi supernatural selain milik mereka yang Yasaka rasakan sebelumnya.

Selain daripada bertambah jumlah. Kekuatan dari orang-orang yang baru Yasaka temui tak kalah mengejutkannya kala masing-masing dari mereka memperkenalkan diri dengan detail—kecuali Vali.

Dimulai dari dua keturunan Raja Arthur. Arthur dan Le Fay Pendragon. Sang kakak Arthur merupakan pemegang Pedang Suci Terkuat [Caliburn] dan sang adik Le Fay penyihir belia tempahan asosiasi penyihir [Golden Dawn] hingga kemampuannya dikatakan sudah berada di level tinggi bahkan sangat tinggi dalam penggunaan berbagai macam sihir.

Selanjutnya adalah Bikou. Keturunan dari Yōukai yang berada setingkat dengan Yasaka sendiri, Sun Wukong.

Lalu Kuroka. Ini juga cukup mengejutkan Yasaka bagaimana seorang kriminal tingkat SS berada di sisi Madara sekarang ini. Yasaka bahkan sempat ingin melumpuhkan Kuroka andaikata Madara dan Vali tidak cepat menghentikan sang Ratu. Berkat keterangan asli Kuroka tanpa adanya kebohongan sedikit pun, Yasaka mulai percaya. Ditambah lagi Kuroka mengatakan bahwa dia memiliki hutang pada seseorang hingga mau berada di posisi sekarang.

Lalu, Vali. Pemuda ini hanya memberitahu nama depan dan gelarnya sebagai pemegang [Divine Dividing], selain daripada itu perkenalan Vali harus terhenti karena Yasaka di tengah-tengah penasaran dengan energi paling kuat tekanannya di apartemen.

Terakhir, dan yang paling mengejutkan sekaligus memberikan sebuah kontradiksi pada informasi Azazel. Tidak lain dan tidak bukan adalah Ouroboros Doragon Ophis. Inilah yang membuat perkenalan Vali tak selengkap lainnya. Yasaka terlalu penasaran sekaligus kaget pada Ophis ini.

Yasaka benar-benar tak menyangka Madara bahkan menggaet Dewa Naga Tak Terbatas sebagai anggota.

"... Tunggu dulu!"

Yasaka bukanlah mahluk bodoh dan tak peka. Dia menyadari kontradiksi keberadaan Ophis di Madara sekarang ini dengan informasi Azazel.

"Ada apa?" Madara tiba-tiba mengadopsi wajah serius, tak biasanya Yasaka menghentikan penjelasan penting. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran sang Ratu sampai bertindak demikian. Tak lama kemudian, Madara akhirnya mulai sadar arah pikiran Yasaka. "Ah, aku mengerti. Tentang Chibi-chan, bukan?"

"Chibi-chan?"

"Ophis."

"Nah, itu Ophis..."

"Apa anda tahu sesuatu tentangnya?"

"Tak terlalu banyak, namun sangat menggangguku."

'Sudah kuduga.' Batin Madara menyipitkan mata curiga.

Tanpa berlama-lama Yasaka segera mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya tentang Ophis yang dia ketahui dari informasi pemberian Azazel. Semakin jauh Yasaka bercerita, semakin besar pula kecurigaan Madara hingga akhirnya beragam pemikiran gila mulai hingga di kepala pria ini. Bukan hanya Madara, Vali dan yang lain di ruangan itu kecuali Yasaka juga sama.

...

"Maaf saja Yasaka-san. Apa yang anda katakan sebagian besar adalah omong kosong yang dibuat-buat oleh makhluk-makhluk sialan itu."

Tanpa sedikit pun menyembunyikan emosi, Madara berkomentar dan sontak mengejutkan Yasaka saat itu juga.

"Azazel keparat! Apa yang dia sembunyikan sampai-sampai berbohong seperti itu?!" Vali yang bahkan adalah murid Azazel sendiri kini benar-benar kecewa dan tentu saja sedikit marah. Entah kenapa, setelah melepaskan sedikit beban masa lalunya, kini Vali sedikit lebih emosional dan ekspresif. "Sialan! Sesuatu pasti terjadi setelah meninggalkan tenpat itu."

"Kalian tak bercanda, kan? Azazel berbohong?" Yasaka meninggikan sedikit suara. Tanda tak percaya mengetahui fakta tersebut. Dia tak perlu berpikir panjang untuk percaya pada Madara, tak seperti Azazel yang tempo hari. "Dia seorang pemimpin, apalagi ini demi masa depan dunia. Tak mungkin dia hanya membual tentang konferensi kemarin karena bagaimanapun dia pasti sadar jika berbohong, kami akan menolak ajakan ikut serta dalam aliansi... Apalagi Azazel teman baik Naruto-kun."

Seketika suasana ruangan mulai memanas. Mengikis secara perlahan diskusi santai namun serius tadi.

"Semua itu mungkin terjadi jika seseorang sangat menginginkan sesuatu, Yasaka-san. Jangankan teman, keluarga saja bisa dibohongi dan dikhianati ketika seseorang sangat menginginkan atau berambisi pada sesuatu." Setalah diam selama hampir jalannya diskusi, Hashirama akhirnya ikut serta dengan komentar bijaknya yang dia ambil langsung dari pengalaman pribadi. Tentu saja itu adalah Orochimaru. "Sebagai pemimpin, saya sendiri rela anda penggal kepalanya jika Madara berbohong tentang Azazel hanya membual."

Sebuah sumpah yang begitu menegaskan posisi sebagai pemimpin telah terlontar dari mulut Hashirama. Ini menandakan bahwa Hashirama benar-benar sudah berada dalam mode Hokage-nya, bukan lagi pemimpin kaleng-kaleng tak berwibawa berotak kadang tak pintar.

Alasan Hashirama masuk modenya ini tidak lain tidak bukan Naruto'lah yang jadi sebab. Memberitahukan sebuah kebohongan mengenai Naruto kepada ibu angkat pemuda itu benar-benar bikin Hashirama tak tahan. Secara garis besar dia paham bahwa Azazel berbohong untuk mendapatkan kepercayaan Yasaka dan ikut serta dalam aliansi. Namun, yang tak dia pahami adalah apa penyebab kebohongan itu dibuat. Sangat mencurigakan dengan tujuan yang cukup besar.

Seketika, perubahan Hashirama ini mengundang rasa tak percaya Madara dan Hashirama. Kelompok Vali disana yang terdiri dari Vali sendiri, Bikou dan Arthur hanya menyimak saja. Walau tadi sempat juga terkejur mendengar kata penggal kepala segala.

"Tck!"

Decakan kasar Madara mengikis keheningan yang sempat tercipta. Dia tiba-tiba saja berdiri dari sofa. Kepala dia sedikit tolehkan ke Hashirama dan Vali secara bergantian.

"Jelaskan pada Yasaka yang sebenarnya terjadi. Aku mau mencari udara segar dan memikirkan hal ini."

Tanpa basa basi lebih lanjut, Madara beranjak meninggalkan ruangan menuju pintu belakang apartemen. Dia sempat melewati ruangan tempat Yuki, Kunou, Le Fay, Ophis dan Hilda berada yang mana mereka kecuali Sang Dewa Naga sudah terlelap tak beraturan di lantai beralaskan karpet lembut. Ophis malah seperti tengah memikirkan sesuatu. Mungkin mendengarkan percakapan mereka tadi.

Madara bodoh amat dengan pemandangan Loli-Loli tidur pulas dengan wajah imut mereka dan ekspresi kosong melompong Ophis yang duduk bersila. Ada hal yang cukup penting saat ini—

—Apalagi dia bukan Lolicon apalagi pedofil.

...

.

.

Kini Madara sudah berada di halaman belakang. Dia duduk bersila menghadap ke hutan yang merupakan pagar belakang alami benteng kecilnya.

Jujur saja, kepala Madara benar-benar dibuat kelimpungan. Informasi penting dari Yasaka tentang omong kosong jalannya konferensi seketika memunculkan banyak pikiran sekaligus perasaan tak enak dalam hati.

Madara sudah melihat siapa Azazel dan tahu sedikit bagaimana karakternya di konferensi tempo hari. Santai, sangat santai dalam berbagai situasi. Ketenangan luar biasa dalam situasi genting. Namun, bertindak gila demi mengajak Kyoto dan Fraksi Shinto ikut serta dalam aliansi benar-benar keluar dari karakter Azazel yang Madara ketahui...

... Kecuali!

Ada sesuatu yang disembunyikan Malaikat Jatuh itu bersama Aliansi Tiga Fraksi Akhirat. Dan sangat besar kemungkinan ini menyangkut Naruto.

Disaat rencana dia dan Vali dipikir sudah berjalan lancar malah dihantam sebuah kejadian yang tak diketahui apa itu sampai Azazel menciptakan sebuah cerita palsu kepada Yasaka.

'Bangsat! Kenapa malah jadi begini?! Padahal sebabnya cuma Azazel membohongi Yasaka?!'

Rencana mereka untuk menjauhkan aliansi dari Naruto sepertinya gagal total. Entah apa dan siapa yang penyebabnya, yang terpenting Madara penasaran dimana Naruto sekarang, apa dia lakukan, atau apa yang terjadi padanya sampai keadaan menjadi serumit ini.

Madara ingin memikirkan semuanya, namun sesuatu malah menghalanginya. Terkutuk'lah!

'Sialan kau Naruto! Kenapa memperlihatkanku sebuah jawaban harus sesulit ini?!'

...

"Sepertinya kau lagi ada malasah..."

Madara yang tengah pusing tiba-tiba terkejut bukan main ketika suara mengikis keheningan malam dan mengganggu acaranya.

[Sharingan] hanya berselang satu detik sudah bersinar waspada di kegelapan malam menuju pohon sekitar sepuluh meter di depan Madara. Di bawahnya ada sosok hitam yang tengah bersandar dengan tangan menyilang di dada.

Madara tentu saja waspada. Sosok tersebut bisa melewati lapisan luar Barrier di sekitar apartemen—bukan Barrier Kyoto tanpa Hashirama berlari keluar memberitahu ada yang terdektsi. Ingin berpikir orang itu cuma manusia biasa yang kebetulan lewat di hutan dan nyasar di bekalang apartemen langsung tertolak.

"... Tenanglah. Aku datang dengan damai, tak perlu sampai memperlihatkan mata itu."

Belum lagi dia tadi sempat melihat kesana dan tak ada seorang pun. Jadi, kemungkinan sosok itu muncul begitu saja beberapa saat lalu sekaligus memberi jawaban jelas.

'Dia bukan manusia biasa.' Pikir Madara semakin waspada walau lawan bicaranya secara terang-terangan tak ingin ada pertarungan terjadi. 'Sial, jangan bilang dia anggota si Capcay atau Cao siapalah itu. Kenapa malah sekarang, bangsat?!'

"Moodku sekarang lagi rusak. Jangan bikin masalah." Ancam Madara kemudian dengan mata merahnya semakin buas memandang.

"Kubilang aku datang dengan damai. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu."

"Bicaralah!"

...

.

.

"Sebelum itu... Kau, Uchiha Madara, bukan?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut!]


Hiya hiya hiya hiya :v

Keadaan mulai memanas, berarti klimaks untuk Arc IV Bagian Pertama sebentar lagi terjadi. Ya, mungkin pondasi Arc-nya masih cukup kaku dan agak buruk. Tapi, beginilah yang sudah disusun di Kerangka Plot-nya untuk Arc ini. Jadi, mohon maaf kalau 3 Chapter pertama Arc IV ini yang ampas gak ketulungan ini pondasinya agak jelek dan mungkin jauh dari ekspektasi kalian. Namanya juga Eternal Newbie :v

...


Ulasan Review:

Cerita ini mulai memembosankan?—bukan mulai tapi tambah membosankan? Plot dn alurnya mainstream, pace-nya kadang lambat dn kadang tiba-tiba lompat, Terlalu berputar-putar beda ama cerita lain yang langsung masuk inti konflik—MC dapat power entah dari latihan atau pemberian, villain muncul, gelud, kelar!—, Kaku dn ngambang, Minim Fanservice, Gak ada pair bahkan tanda-tanda kemunculan Pair belum ada. Itu bukan, alasan cerita ini tambah membosankan? :v

...

Naruto pasti kembali. Kita nantikan saja sama-sama. Apa itu benar atau tidak :v

...

Saya tekankan sekali lagi. Perhatikanlah Tag MC yang saya cantumkan. Disana bukan hanya Naruto saja, bahkan Naruto ditaruh di belakang dan MadaHashiVali di depannya. Tentang Harem. Di Tag MC salah satu dari mereka yang bakalan Harem. Sisanya 50:50 dapat atau tidak.

Mematikan satu MC tapi masih ada tiga MC membuat cerita masih bisa lanjut loh. Bahkan mati-nya satu MC bisa bikin Plotnya lari kemana-mana. Di Chapter bahkan sudah tertera bakalan lari kemana... Hiya hiya hiya hiya :v

Intinya tunggu saja bagaimana cerita ini akan berjalan. Apa Naruto gak bakalan muncul lagi atau tidak. Penentuannya tak akan lama lagi. Dan di penentuan itu, Naruto yang bakalan penuhin Chapter untuk melawan sesuatu yang tak bisa dilawan.

...

Untuk yang minta Update Kilat. Hmmn, itu agak sulit. Soalnya saya sibuk ngurus Toko.

...

Untuk yang ngasih Review Legend. Ini saya sudah lanjut. Dan terima kasih untuk yang mendoakan sehat selalu. Sayanya sih sehat. Tapi HP yng nggak. Seminggu lalu rencana mau Update, eh taunya HP malah nyebur gak ngajak², jadinya ngaret sampai HP sehat kembali tanpa kehilangan data. Kalau iya, bisa merepotkan :v

Oke, sekian dulu ulasan Review-nya. Jika ada yang tak dijawab, saya bukan tak membacanya. Hanya saja jawabannya itu bisa mengundang Sop Iler yang terlalu jelas.

...


Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini out.

Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade setelah bermain-main sebentar dengan Dedek Eldridge, Dedek Laffey, Dedek Ayanami, Dedek Nimi dan Dedek Javelin di Azur Lane.

Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut ini.

—BUKAN PEDO, BGSD!

Ciao~