"Mau kemana kau, hmm?"

Di ambang pintu, Madara menghentikan langkahnya. Sempat diam selama beberapa detik, dia kemudian menoleh ke belakang memandangi satu per satu orang di ruangan lalu berhenti ke sang pelempar pertanyaan tadi.

"Tanpa kujawab sekalipun, kau sudah pasti tahu." Mata Madara bersinar berbahaya seperti saja ada sebuah bohlam yang menyala di dalamnya. "Dan aku tak peduli jika kau berniat menghentikanku,..."

"Jangan melakukan hal bodoh!"

"—Dan kau juga tak usah melakukan hal yang sia-sia!" Madara membalas sengit. Dia seperti tak ada niat untuk mendengarkan siapapun sekarang ini. Bahkan Hashirama saja dalam mode Shin Hokage tak mampu beberapa saat lalu. "Jika kalian tak sependapat. Duduklah dengan tenang disitu. Aku tak perlu bantuan."

"Aku ikut...!"

Seketika, semua orang di ruangan tersebut menatap Vali yang tiba-tiba mengutarakan keinginan dari sudut. Sebenarnya beberapa dari mereka sudah menduga Vali akan setuju, hanya saja timingnya yang agak lambat. Nampaknya sang Hakuryuukou tak ingin dilihat paling mencolok emosinya.

"... Tapi, tidak sekarang." Vali melanjutkan ucapannya lalu menghela nafas pelan. "Akan sia-sia jika melakukannya sekarang. Mereka tak akan berkumpul di satu tempat. Itu akan menyulitkan jika hanya berdua saja."

"Cih!" Madara mendecih tak suka mengira Vali benar-benar ingin ikut bersamanya saat ini juga, ketika dia sudah tak tahan lagi sampai kedua tangannya yang terkepal bergetar hebat. "Kalau begitu, diam dan tunggu saja sampai aku menyelesaikannya seorang diri." Tandasnya hendak melanjutkan langkah.

"Tunggu dua hari lagi, Madara. Mereka telah mengirim pesan ke Pihak Asgard. Dua hari dari sekarang mungkin menjadi satu-satunya momen mereka semua berkumpul di satu tempat dalam waktu dekat ini."

Mendengar itu Madara langsung mengurungkan niat dan kembali memandang Vali dengan mata menyipit penasaran. "Darimana kau tahu itu, bocah kaleng?"

"Pagi tadi. Sebelum ke sini, aku dan Ophis mendapatkan informasi dari Grigory bahwa ada pertemuan besar di Dunia Bawah dua hari mendatang, dan sesuatu yang menarik akan terjadi dalam pertemuan nanti."

"Apa maksudmu, Vali?"

Itu adalah Hashirama yang melayangkan pertanyaan. Memang benar tadi pagi Vali dan Ophis sempat berpamitan ingin keluar sebentar, sempat Hashirama melarangnya karena itu bisa saja membuat mereka tercium keberadaannya oleh Khaos Brigade ataupun pihak-pihak lain. Aah, sepertinya Vali cukup sigap juga melakukan sesuatu di tengah-tengah kacaunya situasi sekarang tanpa diketahui pihak manapun. Ya, walau ini sebenarnya bisa dibilang keberuntungan lain yang datang menghampiri dan memberikan solusi entah bagaimana Vali mendapatkannya.

"Pihak aliansi mengadakan pertemuan dengan Argard untuk membahas keikutsertaan dalam aliansi. Disaat yang sama ada hal yang cukup menguntungkan bagi kita terjadi."

"Kau yakin ingin menyerang ketika para pemimpinnya berada di satu tempat?" tanya Arthur merasa ini malah akan membahayakan. Melawan Sirzechs Lucifer bersama Daiyondai Maou, Azazel, Michael, Odin dan entah siapa lagi yang bukan berkemampuan kaleng-kaleng. "Aku memang setuju untuk terus mengikutimu, Vali. Tapi kurasa ini bunuh diri namanya bahkan jika memanfaatkan hal menarik yang kau maksud."

"Haaah..." Madara menghembuskan nafas agak panjang dan berpikir sesaat tentang ucapan Vali yang memang benar adanya. Lagipula, dia dan yang lain rata-rata ahli dalam penyergapan dengan persiapan matang.

"Dua hari lagi, bukan?"

Vali mengangguk singkat.

"Kalau begitu tentukan siapa yang ingin ikut dan tidak. Aku menunggu keputusan kalian sampai besok."

Mendengar ucapan Madara. Dua orang di ruangan itu tersenyum kecil tanpa sepengetahuan yang lain.

"Dua hari ya... Daripada kalian cuma diam menunggu saja, lakukanlah hal yang berguna."

"Hn?"

"..."

...

.

.

.

.

.

.

.


Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


.

.

.

[Arc IV: Nearest Place From Heaven]

.

[Chapter 33]

[Playback — Lilith Assault, Okita Sōuji vs Uchiha Madara]

.

.

.

.


Gremory Territory, Underworld. Two Days Later.

Siang ini di Mansion megah keluarga Gremory, pada salah satu ruangan tengah berkumpul Rias bersama Peerage-nya kecuali Issei untuk mendengarkan instruksi selanjutnya dari Azazel yang ditunjuk sebagai guru mereka.

Tempo hari, sehari setelah ke Kyoto dan bertemu Yasaka. Azazel mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Grigory dan mengangkat Shemhazai sebagai pengganti. Walaupun alasannya agak kurang keren, yaitu untuk menghindari kerepotan mengurusi banyak hal, namun tetap mendukung penuh aliansi. Itulah kenapa sekarang dia terangkat sebagai guru Peerage Rias Gremory karena sudah berjanji juga untuk membantu Issei menyamai bahkan melampaui Vali yang diketahui adalah terkuat sepanjang masa.

Tahap awal latihan yang diberikan kepada Issei adalah berlatih bersama salah satu [Five Dragon King], Tannin di tempat terpisah. Makanya sekarang tinggal Issei yang tak nampak batang hidungnya.

Selain Issei, Azazel juga telah memberikan guru ataupun metode latihan pada masing-masing Peerage Rias.

Yuuto dan Xenovia dilatih oleh Knight Sirzechs, Okita Shouji. Lalu Baraqiel yang ditunjuk untuk melatih Akeno menggunakan Holy Lighting dari darah Malaikat Jatuh miliknya. Sisanya, sementara ini hanya metode latihan untuk mempelajari kemampuan masing-masing. Koneko dengan Senjutsu ras Nekoshu-nya dan Asia bersama Gasper kemampuan Sacred Gear.

Hanya dalam hitungan hari saja, mereka semua sudah meningkat cukup baik dari pandangan Azazel sebagai guru—kecuali Issei yang belum bisa memperlihatkan hasil latihan.

"... Kalian, kerja bagus."

Azazel tersenyum lebar pada anak didiknya. "Mulai malam nanti sampai dua hari kedepan, kalian boleh beristirahat ataupun bersenang-senang... Khusus Malam ini ada pertemuan besar dengan Dewa Odin untuk membahas keikutsertaan Mitologi Nordik dalam Aliansi." Ungkap Azazel kemudian, bahkan sempat tersenyum mesum tadi.

"Aliansi benar-benar cepat mengambil tindakan, bukan? Setelah Kyoto, sekarang Asgard." Ujar Yuuto dibalas anggukan mengiyakan dari beberapa rekannya. "Kuharap nanti malam akan berjalan lancar, tidak seperti konferensi di akademi." Tambahnya lalu tersenyum takut mengingat betapa brutalnya tempo hari dimana beberapa dari mereka menyaksikan kekuatan dari masing-masing pemimpin, termasuk juga kekuatan sesungguhnya dari seorang Naruto Lucifer yang sudah sangat jauh jika dibandingkan dengan mereka.

"Ehem!"

"Ara ara... Yuuto-kun—!"

"Aah, maaf!"

Tanpa diminta Yuuto langsung berucap demikian setelah mendengar suara batuk disengaja Azazel dan nada khas si Ratu Sadis. "Ngomong-ngomong aku penasaran sekuat apa Issei-kun sekarang ya?" secepatnya Yuuto mengubah topik percakapan sesempa melirik sesaat ketuanya.

Rias, yang tahu maksud Yuuto menanyakan itu langsung memasang ekspresi normal. "Tenang saja, Ise akan menjadi lebih kuat." Senyum kecil tercetak di wajah cantik Rias, senyum kecil yang ingin dia perlihatkan kepada yang lain bahwa keadaannya baik-baik saja. "Pokoknya kita juga harus berusaha. Kita tak boleh ditinggalkan Ise!"

Peerage Gremory dan Azazel tahu Rias berusaha menutupi perasaannya saat ini dengan bertingkah seperti tak ada apa-apa hanya menjawab serentak bersemangat, kecuali Azazel yang cuma pamer senyum ceria nan aneh.

""Tentu saja, Buchou!""

Ralat! Sejatinya ada dua iblis yang diruangan yang menyembunyikan sesuatu. Berbeda dengan Rias yang sudah lama, satunya lagi bermula ketika mereka berangkat ke Dunia Bawah dalam rangka liburan musim panas sekalian menghadiri pertemuan iblis muda dan persiapan Rating Game dalam waktu dekat ini.

Tak lama setelahnya, senyum Azazel berubah seringai tipis. Dia tiba-tiba merasakan kedatangan sesuatu yang tak asing dari arah belakang mansion megah keluarga Gremory. "Ya, sepertinya yang kalian bahas baru saja tiba. Pergilah dan sambut. Dia pasti merindukan kalian semua, hehe..."

Tak lama setelah itu, suara gaduh disusul kepakan sayap yang ukurannya lumayan besar terdengar dari halaman belakang mansion.

Tanpa diberitahu lebih lanjut lagi siapa yang datang, Peerage Gremory segera meninggalkan ruangan diikuti Azazel. Namun, setibanya di salah satu dari sekian banyak koridor di bangunan megah ini, dua orang dari kelompok itu melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Salah satunya adalah Rias. Keduanya malah hendak berpisah dan beristirahat katanya, padahal mereka sudah selesai latihan 2-3 jam yang lalu. Jika Rias, mereka bisa memakluminya bagaimana pun tadi Yuuto kembali mengungkit luka yang baru-baru ini terbentuk di hati. Tapi yang satunya agaknya sedikit dipertanyakan biarpun orang itu tak terlalu suka pada Issei.

Ya, siapa lagi kalau bukan Koneko yang tak terlalu menyukai sisi mesum si Sekiryuutei. Lagipula sejak menginjakkan kaki di Dunia Bawah, Koneko sudah memperlihatkan gelagat aneh. Takut, khawatir dan gelisah tanpa sebab jelas.

Sebelum memisahkan diri, Rias sempat memberitahukan Peerage-nya untuk menikmati permandian air panas milik Gremory bersama-sama sore nanti. Tidak lupa tentang pesta penyambutan Odin.

Lepas ketua mereka yang berbelok kanan di koridor. Giliran Koneko yang pergi menyusul Rias dengan langkah pelan dan kepala tertunduk seperti tengah memikirkan hal penting.

"Ara-ara... Apa cuma aku yang berpikir Koneko-chan agak aneh sejak terakhir kita ke Dunia Bawah?"

"Bukan Akeno-senpai saja. Kami juga berpikir begitu." Kiba merespon pelan sambil memberi satu tatapan panjang di ujung koridor tempat orang yang mereka bicarakan menghilang. "Aku dan Asia bahkan sudah berbicara dengannya, tapi Koneko-chan malah bilang tak ada apa-apa."

Xenovia yang baru saja bergabung dan belum tahu semua seluk beluk temannya mengutarakan apa yang ada di pikirannya. "Apa mungkin Koneko pernah mengalami sesuatu yang buruk di Dunia Bawah. Dia kulihat seperti gelisah dan takut pada sesuatu."

"Ya, pernah terjadi sesuatu memang. Sebelum masuk anggota Peerage Buchou. Kejadian itu pula yang membuat Koneko-chan tak mau memakai kemampuan Senjutsu miliknya." Akeno menjelaskan singkat. Lagipula dia tak terlalu tahu garis besar insiden yang dialami Koneko di masa lalu, dia hanya tahu garis besarnya saja. 'Walau begitu aku juga sama.' Sisanya, Akeno hanya bisa berucap dalam hati dan sesaat wajahnya menampakkan ekspresi sulit diartikan namun cepat-cepat dikembalikan agar tak ada yang menyadarinya.

"Koneko-chan..."

"... Apapun masalah Koneko-chan. Kita harus memberi bantuan untuk menyelesaikannya."

Menyambung Asia yang menyebut nama Kouhai mereka dengan nada dan ekspresi khawatir, Yuuto menggumamkan kalimat penuh tekad. Setelah semuanya, Yuuto telah bersumpah pada Rias dan juga Issei akan selalu mendukung dan membantu teman-temannya di keadaan apapun, bahkan jika nyawa taruhannya.

Dan deklarasi Sang Knight serentak dibalas anggukan mereka semua sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke halaman belakang dimana Issei sudah menunggu mereka—Payudara segala ukuran mereka tepatnya.

...

.

.

Helaan nafas panjang mengikis perlahan keheningan kamar yang sengaja dibuat kedap suara oleh pemiliknya. Di atas tempat tidur besar, Rias Gremory membaringkan tubuh yang agak lelah fisik dan tentu saja mental setelah kejadian di ruangan Azazel tadi.

Iris blue-green indah itu memancarkan banyak sekali perasaan yang tak mampu dibendung oleh sang empunya. Mengeluarkannya sekaligus setelah agak lama ditahan agar tak ada yang tahu isi hati Rias Gremory sesungguhnya.

Rias entah kenapa sejak pertarungan melawan Naruto jauh hari pada malam insiden Kokabiel benar-benar jadi ahli menyembunyikan perasaannya.

Beberapa orang terdekatnya mungkin sudah tahu bahwa penyesalan sudah mengendap di hati Rias, namun lebih dari itu ada sesuatu yang hanya Rias sendiri yang tahu. Belum lagi dibuatnya dia bersama yang ikut dalam konferensi kemarin harus tutup mulut menambah sulit sesuatu itu terungkap.

Ya, tempo hari. Tepat sehari setelah konferensi, sore hari dimana Rias menjadi korban terakhir yang sadarkan diri setelah Issei, Asia dan Diehauser. Sirzechs mengumpulkan semua yang hadir dalam konferensi kemarin dalam satu ruangan di Istana Lucifer.

Mereka semua disumpah untuk tak mengungkap kejadian sebenarnya dari konferensi, terutama bagian penutup. Sebaliknya, jika ada yang bertanya maka skenario buatan Azazel yang diceritakan demi menjaga rahasia dibalik kacaunya konferensi kemarin, terutama kematian Naruto Lucifer. Kematian yang menurut Azazel mampu membuat sebuah kekacauan luas biasa besar menimpa dunia ini.

Kekacauan dimana diantaranya kemarahan Fraksi Yōukai dan Mitologi Shinto hingga mengakibatkan perang kapan saja bisa pecah. Lalu jika perang pecah, bukan tak mungkin banyak pihak-pihak lain akan memanfaatkan itu.

Pokoknya Azazel benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila hanya dengan terungkapnya kematian seseorang tak terlalu berpengaruh pada dunia.

Sebetulnya Sirzechs sempat menyarankan Memori Alteration pada mereka. Namun, Azazel merasa itu cukup beresiko. Menghapus, mengganti ataupun menyegel ingatan masih dapat membocorkan rahasia. Ingatan yang disegel, hapus ataupun hilang masih bisa kembali kapan pun apabila seseorang atau sesuatu yang terkait sebagai pemicu muncul.

Maka dari dipilihlah jalan mereka disumpah dan itu pula salah satu alasan kenapa Azazel mengajukan diri untuk melatih Peerage Rias. Dia bisa mengawasi mereka untuk tetap tutup mulut.

Sungguh, Rias benar-benar tak menyangka akan seperti akhir dari konfliknya dengan Naruto. Bukannya membaik, keadaan malah tambah rumit.

'Mengatakannya memang mudah, Onii-sama... Tapi nyatanya sangat sulit.'

Rias bermonolog singkat dalam hati. Dia tak habis pikir juga dengan kakaknya yang malah mengatakan bahwa tak menyinggung sedikit pun tentang Naruto Lucifer mampu membuatnya perlahan-lahan lupa.

Justru sebaliknya yang terjadi. Semakin Rias tak ingin menyinggung Naruto, di pikirannya pemuda itu makin sering terlintas seperti hantu yang hanya ada satu yang bisa menghilangkannya.

"Apa ini pembalasan sebenarnya dari semua yang sudah kulakukan untuknya?"

Ya, setiap kali sosok Naruto muncul di benaknya, Rias selalu saja bertanya demikian entah pada siapa.

Apa yang dilakukan Naruto di malam insiden Kokabiel disusul usaha pembunuhan di konferensi hanyalah permulaan atau pemanasan. Jika di kedua kejadian hanya diberi luka fisik, sekarang mental dan pikiran yang diserang bertubi-tubi sampai ingin gila. Perlahan-lahan mematikan jiwa Rias Gremory.

Rias mengangkat tubuh bagian atas dan mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur. Iris blue-green yang tadi sempat memancarkan banyak perasaan perlahan-lahan meredup.

"... Jika memang iya. Apa ada cara untuk lepas dari ini?" Sambil melanjutkan monolognya, Rias berdiri dan berjalan gontai menuju sisi kanan kamar yang terdapat sebuah lemari besar.

Dia membuka lemari tersebut lalu mulai mencari sesuatu dibalik tumpukan pakaian lama yang sudah tak terpakai. Apa yang dia cari mungkin menjadi satu-satunya kenang-kenangan berwujud dari Naruto.

Tak lama mencari, Rias menemukannya. Selembar foto yang sudah kusut. Dia menemukannya beberapa hari setelah insiden Kokabiel. Di foto tersebut menampilkan dia, Naruto dan teman masa kecilnya sebelum Akeno muncul, Karin Adrealphus.

Di foto, dia bisa melihat Naruto yang tersenyum kecil sambil merangkul Rias dan Karin di kiri dan kanan, mereka berdua tersenyum begitu bahagia. Rias sendiri lupa kapan foto tersebut diambil, namun satu hal yang pasti disitu adalah masa-masa terindah dalam hidupnya. Masa dimana ada seseorang yang tak memandang dia sebagai pewaris Gremory eksis di dunia.

'Bisakah berharap Naruto belum mati? Atau jika memang sudah mati. Bisakah aku berharap dia bisa hidup kembali?'

Mungkin harapan tersebut masuk kategori mustahil. Namun Rias tak ingin membuangnya apapun yang terjadi.

Dengan berharap demikian, Rias juga mulai mengerti maksud dari Naruto tentang...

Sebuah ketidakmungkinan yang selalu disemogakan.

...

.

.

.

.

Lilith, Underworld.

Di sebuah hutan yang lokasinya cukup jauh dari pusat ibukota Dunia Bawah, Madara dan beberapa anggota kelompoknya kini tengah bersiap-siap untuk memulai pergerakan terencana mereka beberapa saat lagi.

Tidak seperti biasa ketika hendak terjun menuju pertempuran Madara dan Hashirama hanya mengenakan baju besi kramat masing-masing, saat ini ada sedikit perubahan. Di punggung keduanya sudah bertengger benda berbeda bentuk namun memiliki satu kesamaan yakni alat bantu pertarungan. Gunbai yang sepaket dengan sebilah sabit besar dan gulungan berukuran hampir setinggi tubuh Le Fay.

Sayangnya, masih ada satu masalah yang cukup menganggu dan itulah sekarang ini mereka ingin bahas.

"Tck! Bocah kaleng itu, apa yang sebenarnya yang dia lakukan, hn?"

Sekitar sepuluh meter dari tempat Madara, Bikuo yang tengah bertengger di atas pohon sambil memain-mainkan tongkat segera menyahut. "Sepertinya dia sedikit kesulitan mencari. Lagian apa dicari Vali itu sebenarnya hal yang cukup merepotkan. Wajar bila lama untuk menemukannya."

"Coba kutahu dia akan kesulitan. Aku saja yang mengambil bagiannya, tck!"

"Sekarang kau mungkin menyesal sudah menolak permintaan Yasaka-himesama." Sahut Hashirama di samping kanan sahabatnya. Dia tak habis pikir juga kenapa Madara sampai mengambil keputusan tersebut karena alasan yang masih sama. "Tanpa adanya Vali, Arthur pasti kesulitan. Apa kita perlu mengubah pembagiannya, Madara?"

Ditanyai seperti itu dengan wajah sedikit khawatir dari Hashirama membuat Madara harus berpikir selaku penyusun strategi. Selagi berpikir, Madara menoleh ke Kuroka. Gadis Yōukai yang ada permintaan khusus kenapa ingin ikut padahal resiko cukup besar.

Gara-gara Vali dan Kuroka pula Arthur bersama Bikou memutuskan untuk ikut juga. Ada beberapa alasan yang melandasi keputusan mereka dan tak perlu disebutkan.

Seolah tahu maksud Madara sampai menatapnya, Kuroka menggeleng pelan tanda tidak ingin posisinya dirubah apapun alasannya.

Madara menghela nafas maklum jika Kuroka menolak. Dia sedikit mengerti perasaan Yōukai itu mendapat kesempatan menginjakkan kaki kembali di Dunia Bawah setelah sekian lama.

"Tak akan ada perubahan. Mengerti?"

Semuanya mengangguk kecil kecuali Arthur. Pemuda itu malah mengacungkan tangan.

"Aku memiliki satu cara untuk menutupi tempat Vali... Le Fay—"

"Iya, Onii-sama?"

"Arthur, jangan bilang kau mau Le Fay mengisi tempat Vali?"

Bikou tiba-tiba menyahut dengan suara sedikit tinggi. Agak terkejut Arthur yang begitu sayang dan tak mau terjadi apa-apa pada adik imutnya malah akan dikirim ke garis depan. Pada tim yang paling beresiko jadi target utama.

Arthur geleng-geleng kepala. "Bukan seperti itu."

"Aaah, aku tahu!"

Jika tidak seperti yang dikatakan Bikou, maka jawabannya hanya ada satu dan Le Fay sudah tahu apa itu sampai bersorak dengan begitu ceria. Untuk bagian yang ditugaskan sebagai pengacau, Le Fay tak perlu turun tangan langsung. Dia tinggal memakai salah satu sihir terbaik yang dimiliki. Salah satu sihir yang paling dikuasai sampai sebutan salah satu penyihir terbaik di [Golden Dawn] disandang Le Fay.

"Serahkan padaku, Onii-sama, Madara-sama!"

"Hn, baguslah."

Menyadari bahwa Le Fay bisa diandalkan untuk menutupi tempat Vali membuat Madara tak perlu repot-repot lagi merotasi. Nampaknya keputusan Madara tak salah menerima ajakan Vali untuk masuk dalam kelompoknya—bahkan menganggap mereka keluarga. Dengan adanya Tim Vali, kualitas dan kuantitas cukup meningkatkan pesat dan sangat membantu.

Tak berselang lama, informasi baru telah masuk ke dalam kepala Hashirama yang mengirim Bunshin ke istana Lucifer sekitar satu jam lalu. Bunshin yang dikirim bukanlah yang seperti biasanya. Bunshin telah diberi sedikit sihir oleh Le Fay untuk menyamarkan energi san auranya seperti iblis kebanyakan.

"Madara, pertemuan sudah dimulai. Sebaiknya kita segera bergerak."

"Hn, baiklah." Madara mengangguk pelan. Dia menatap satu per satu orang disana lalu mengadopsi ekspresi serius. Arthur dan Tim Vali yang sudah dia anggap keluarga sendiri tak boleh Madara abaikan apapun yang akan terjadi diluar dari rencana mereka nanti, terutama mati. Bahkan sudah memberi amanat bila tersudut lebih baik mundur ke tempat aman atau tim terdekat untuk mendapatkan bantuan.

"Sepertinya kalian sudah tau apa yang akan kukatakan, bukan?"

"Tentu saja."

"Nyan—Tentu saja."

"Khakhakhakhakhakakha—Tenang saja pak tua. Kau bisa mengandalkan kami."

Tanpa menghilangkan ekspresinya, Madara balik badan. Tanpa ada yang melihat, dia hanya tersenyum agak kecut. 'Mereka sama sekali tak mengerti rupanya—Bodohlah! Waktunya pembalasan, dan bersiaplah merasakan yang kami rasakan, makhluk-makhluk keparat,...!'

.

.

"—Saatnya menari!"

...

.

.

.

.

Lucifer Castle, Lilith.

"Si-siapa kalian?!"

"Hanya tamu tak diundang. Matilah, kecoa!"

Di gerbang barat istana Lucifer yang baru di kawasan ibukota Dunia Bawah. Tanpa diundang, Madara bersama Hashirama dan Hilda berniat menghadiri pertemuan penting antara pihak Aliansi dan Asgard yang tengah berlangsung. Akibatnya mereka harus berurusan dengan beberapa penjaga istana yang sedikit bernasib buruk harus meregang nyawa di hadapan ketiga ninja itu.

Ketiga korban selamat dari pembantaian Konohagakure menghabisi para penjaga begitu brutal. Ada yang harus dipisahkan badan dan kepala, hangus terbakar, hancur tak bersisah ataupun menjadi tumbal tak jelas untuk Dewa tak kelas asal usulnya.

"Sepertinya Dewa gila yang Vali maksud sudah memulai pesta."

Sambil berkata demikian Madara menatap serius bangunan megah di depan sana yang dari dalamnya baru saja terjadi ledakan cukup besar. Jika diperhatikan lebih seksama, di salah satu kubah istana megah itu, cahaya kuning-biru yang diketahui dari bentuknya adalah sebuah petir menyala-nyala.

"Disana kah..."

Kembali bergumam datar, tanpa menunggu lama lagi Madara disusul Hilda dan Hashirama segera merangsek masuk tanpa sedikitpun rasa ragu dan takut akan kemunculan belasan pasukan Iblis dari pintu masuk.

"Penyusup lain kah?!"

"Hentikan mereka!"

"Bersi—"

"Minggir!"

Tanpa sedikit pun menurunkan kecepatan, Madara cukup dengan satu segel tangan tunggal disusul menarik nafas dalam-dalam melancarkan serangan.

"Katon: Gokakyu!" (Fire Release: Great Fire Ball)

"Apa-apaan itu?!"

"Cepat sekali!"

Ketidaksiapan dari belasan keroco-keroco iblis di depan pintu akhirnya membuat mereka hanya bisa menerima serangan tersebut tanpa pertahanan sama sekali. Itu bukan sihir ataupun kemampuan supernatural yang harus didahului dengan penciptaan lingkaran sihir, mantra atau semacamnya. Hanya dengan gerakan tangan yang simpel ditambah entah cara apa sebuah bola api sudah menerjang dan menghanguskan para iblis.

Sebisa mungkin Madara, Hashirama dan Hilda berusaha menghemat tenaga dan chakra sebagai persiapan melawan mahluk bukan level kaleng-kaleng di dalam sana. Makanya seminimal mungkin untuk mengurusi iblis kelas bawah yang akan mengganggu, mereka hanya akan bertarung dengan Taijutsu atau Ninjutsu yang tak memakai terlalu banyak chakra.

"Hilda!"

Hanya dengan panggilan nama saja, Hilda langsung mengerti apa yang Madara ingin dia lakukan. Lekas Hilda mengambil Sanjin no Ogama di punggung dan merangsek masuk ke dalam kepulan asap hitam bekas serangan Madara.

"Kami duluan, berhati-hatilah!"

"Serahkan padaku, Hokage-sama!"

Berbeda dengan gadis tua(?) yang tak mengubah arah berlari, Madara diikuti Hashirama mulai memisahkan diri mengitari sisi kanan dan kiri kepulan asap dengan kecepatan yang cukup mencengangkan untuk ukuran manusia biasa.

Ini sudah menjadi formasi umum mereka kala melakukan pertempuran dimana Hilda mengurusi keroco-keroco tingkat rendah, sedangkan sisanya akan fokus ke lawan terkuat. Namun akan berbeda ceritanya jika terjadi situasi gawat dimana mengharuskan Hilda turut membantu dengan kemampuannya sebagai salah satu trump card.

Hanya butuh beberapa detik saja untuk duo ninja Konoha untuk memasuki bangunan yang pintunya telah hancur. Sayangnya ketika mencapai koridor utama istana, lawan yang mereka hadapi semakin bertambah jumlahnya muncul. Entah dari ujung koridor yang pintunya tiba-tiba terbuka ataupun iblis-iblis yang memang bertugas di tempat tersebut.

"Sepertinya akan memakan waktu cukup lama untuk mencapai ruang pertemuannya, Madara."

"Tak perlu meladeni mereka semua."

Madara membentuk segel dengan tangan kiri sambil berlari dalam rangka mengeluarkan sesuatu. Sedetik kemudian, sebilah katana sudah berada dalam genggaman tangan kiri Madara, sedangkan tangan kanan telah meraih sabit besar dipunggung.

"Tangkap!"

Madara melempar katana tadi ke Hashirama yang berada di samping kanan. Nampaknya Madara mengetahui jika hanya dengan tangan kosong Hashirama akan cukup sulit mengikuti kecepatannya nanti. Daripada Hashirama menghentikan laju untuk mengeluarkan sesuatu dari gulungan besar di punggung yang pasti akan memakan cukup banyak waktu, Madara lebih baik meminjamkan katana sedangkan dia cukup dengan sabit besarnya.

"Terima kasih, ini sangat membantu." Hashirama tersenyum kecil sahabatnya tahu saja dia butuh sesuatu untuk menerobos ke depan tanpa mengurungi kecepatan.

Setelah persiapan telah matang, Madara dan Hashirama kembali memfokuskan pandangan ke depan tatkala puluhan proyektil Demonic Power menyerupai laser dilancarkan para iblis. Walaupun kecepatan dari serangan jarak jauh itu masih bisa dilihat denga mata telanjang, jumlah dan interval waktu peluncuruan cukup untuk memaksa Madara dan Hashirama melakukan gerakan zig-zag, menunduk bahkan berseluncur di lantai ataupun melompat rendah.

Setelah berhasil melewati serangan gelombang pertama, Madara dan Hashirama kini harus fokus pada gelombang selanjutnya dimana belasan iblis terbang dengan kecepatan cukup tinggi menuju mereka.

Melihat dari senjata yang dibawa iblis-iblis itu, Madara menyeringai buas. Segerombolan iblis tipe jarak dekat bersenjatakan pedang dan tombak.

"Pemanasan sebelum tarian utama dimulai. Sini kalian, makhluk-makhluk keparat!"

"Jangan terlalu percaya diri. Serang mereka!"

"Jangan biarkan mereka masuk lebih dalam lagi!"

"Wakanda Forepaaaaa!" Salah server, woy!

Dengan satu kali lesatan yang diperkuat dengan chakra, Madara menerobos empat iblis terdepan dari formasi diserqtai ayunan sabit besar tadi. Empat iblis itu pun hanya bisa terdiam sejenak sebelum dikirim ke alam lain dengan cara yang cukup brutal. Kepala mereka sudah berpisah dari tubuh sebelum sempat melakukan tindakan.

Disisi lain, Hashirama tak sebrutal Madara yang sekali serang dapat empat kecoa. Dengan gerakan cepat nan agresif, dia menyelesaikan satu demi satu iblis yang berada di hadapannya.

Mengetahui bahwa lawan mereka cukup kuat telah membantai cukup banyak memaksa para iblis untuk mundur sejenak. Atas perintah dari salah satu yang nampaknya memiliki tingkatan sedikit lebih tinggi, para keroco-keroco itu menjauh dari Madara dan Hashirama.

"Sial! Mereka bukan orang sembarang! Kalian, berhati-hati!"

"Mengerti, ketua!"

"Kuberi dua pilihan. Minggir atau mati."

Di tengah-tengah koridor, Madara yang tengah menenteng sabit menatap datar iblis-iblis yang jumlahnya sekitar lima belas ekor. Sayangnya ketua regu tersebut sedikit keras kepala. Pilihan yang salah malah dia ambil.

"Jangan terlalu percaya diri, brengsek! Kalian jangan ada yang meninggalkan lokasi ini. Kita harus menahan mereka."

Madara mengeluarkan decakan dari mulut. Setelah diberi jawaban sedekimian rupa menjadikan satu-satunya untuk mencapai ruanga pertemuan adalah membersihkan jalan.

Diikuti Hashirama, Madara pun kembali melaju dengan kecepatan cukup tinggi sambil mempersiapkan senjata.

"Pilihan yang salah..."

...

.

.

.

Sementara itu di tempat lain, di hutan kecil tak jauh dari istana Lucifer juga tengah berlangsung reuni dari kakak-beradik Kuroka dan Koneko atau Shirone. Selain mereka berdua, di tempat tersebut ada juga Bikou, Issei dan Rias.

Walaupun harus diganggu oleh bacotan Issei dan Rias, Kuroka sama sekali tak memperdulikannya dan hanya fokus berbicara dengan sang adik yang dirindukan.

"Nyan—otak dan hatimu benar-benar sudah dipengaruhi oleh mereka ya, Shirone?" Kuroka memasang ekspresi sedih, dia sama sekali tak menyangka setelah sekian lama tak bertemu dengan sang adik malah diberikan sesuatu yang cukup menusuk hati. Rindu dibalas amarah dan kebencian. "Bahkan Onee-chan sampai kau lihat sebagai musuh. Kau membuat Onee-chan sedih, Shirone..."

"Jangan bercanda, sialan!"

"Sekiryuutei, kah?"

Tatapan Kuroka beralih ke Issei dan menajam sesaat. Dia belum selesai berbicara, inang dari Welsh Dragon itu malah seenaknya memotong sambil mengumpat. Umpatan yang membuat Kuroka tak bisa lagi mengabaikan Issei dan Rias, apalagi mood yang sudah hancur.

Lagipula buat apa juga dua orang iblis tak tahu diri itu ada disini, ikut campur reuni reuni Kuroka dengan sang adik. Merusak suasana saja.

"—Tunggu, Onee-chan?! Dia kakakmu, Koneko-chan?"

Melihat bagaimana bodohnya Issei baru sadar fakta tersebut membuat Kuroka tak tahan untuk tertawa. Padahal Koneko sejak awal melihat dia sudah memanggil demikian.

"Pantas saja Vali kecewa dengan rivalnya. Ternyata begini orangnya—nyaan."

"Berisik!"

"Onee-chan,... Kenapa Onee-chan kembali?"

Kuroka kembali memandang ke adiknya. "Nyaan—Tentu saja mengambil Shirone-ku tersayang."

Setelah penyataan Kuroka tersebut, Issei melangkah satu meter ke depan Koneko dan merentangkan tangan kiri tepat di depan wajah adik kelasnya itu. Nada bicara Kuroka mungkin terdengar tak mengancam, namun Issei agaknya sedikit sadar kalau makna kalimat tersebut adalah mengambil Koneko apapun caranya.

"Jangan bercanda! Koneko-chan adalah Benteng keluarga iblis, Buchō. Adik kelasku. Teman kami! Tak akan kubiarkan kau mengambilnya!"

"Fufu~ tapi aku kakak kandungnya—Nyaa."

Issei, Koneko bahkan Rias seketika tersentak. Rias mungkin boleh menyebut Koneko adalah keluarganya, namun itu secara harafiah hanyalah anggapan karena bagian dari Peerage-nya. Teman, adik kelas, dua status itu tak belum sedalam hubungan kakak kandung.

"Sungguh, aku penasaran apa yang Mauō Lucifer atau kau beritahukan pada Shirone sampai dia menatapku seperti itu setelah sekian tak bertemu. Apakah kebenaran tentang kejadiannya atau hanyalah tipu daya lain. Nyaan—Dilihat bagaimana Shirone menatapku, sepertinya aku sedikit tahu apa itu."

"Apa maksudmu, Onee-chan?"

Bersamaan dengan pertanyaan itu terlontar dari mulut Koneko, raut wajahnya mulai melunak. Bahkan sedikit terlihat penasaran.

Mengetahui akan kemana arah percakapan ini berujung membuat Rias tak tahan untuk angkat bicara. Sungguh, dia tak ingin kehilangan lagi, apalagi Koneko yang merupakan bidak kedua di Peerage-nya.

"Berhentilah mengatakan hal-hal bodoh untuk membujuk Koneko. Kau memanglah kakak kandung Koneko. Tapi jangan lupakan statusmu sebagai kriminal tingkat SS dunia bawah. Dibanding bersamamu, Koneko lebih aman bersamaku... Benarkan, Koneko?"

Sayangnya, ketika Rias sudah berharap sangat besar Koneko akan setuju. Apa yang dia dapatkan malah sebaliknya, Koneko sama sekali tak menjawab dan itu membuat Rias hanya bisa memanggil Benteng-nya lirih.

"... Koneko..."

"... Buchō." Issei hanya bisa memanggil ketuanya dan tak tahu harus mengatakan apa untuk membantu.

"Nyaaan—Ada apa Shirone? Kenapa kau diam? Apakah kau penasaran tentang kejadian sebenarnya waktu itu? Baiklah, kalau Shirone penasara, Onee-chan akan memberitahukannya seka—"

"Jangan bercanda! Kau adalah seorang pembunuh. Membunuh Raja sendiri merupakan sebuah kejatahan yang sangat berat di Dunia Bawah... Koneko, jangan dengar apa yang dia ucapkan. Ingatlah, kau adalah keluarga iblisku yang berharga. Onii-sama sudah menyelematkanmu dan menitipmu kepadaku."

"Nyaan—Jadi itu yang kau dan Maōu Lucifer beri tahupada Shirone sampai dia membenciku. Betapa jahatnya mengambil tempat seseorang yang lebih pantas..."

"Apa maksudmu?!"

"Kuroka. Hentikan basa-basinya. Jika kau ingin mengambil adikmu kembali, lebih baik melakukannya sekarang sebelum terlambat. Aku sudah bosan daritadi cuma menonton drama kalian."

Bikou yang sedari tadi hanya jadi obat nyamuk yang duduk diatas dahan pohon angkat bicara. Ketika Rias dan Issei merespon ucapannya dengan wajah mengeras, Bikou langsung lompat turun dan berjalan mendekati Kuroka.

Kuroka menoleh kebelakang. "Nyaaan—Kau menggangu saja, Bikou. Padahal sudah masuk bagian serunya." Kemudian pandangannya kembali terarah ke depan. "Tapi kau benar. Kita tak punya banyak waktu."

Udara di sekitar tubuh Kuroka mulai berubah. Nampak sesuatu mulai keluar perlahan dari permukaan tanah dan terkontaminasi dengan udara hingga menciptakan efek seperti asap hitam tipis. Menyusul setelahnya adalah lingkaran sihir tak biasa berjumlah tiga buah muncul di kiri kanan dan atas Kuroka.

"Cukup bicaranya dan kembalilah ke Onee-chan, Shirone~"

...

.

.

.

.

.

Kembali menuju Istana Lucifer dimana Madara, Hashirama dan Hilda tinggal selangkah lagi mencapai ruang pesta setelah sebelumnya harus sedikit berurusan dengan puluhan Iblis tingkat menengah kebawah.

Di dalam lift menuju lantai empat kastil Lucifer. Ketiga ninja Konoha sebanyak mungkin memulihkan chakra dan stamina mereka yang sediki terpakai hanya untuk menerobos—membantai keroco-keroco di bawah sana.

Sebentar lagi, salah satu pertempuran terberat akan mereka jalani yang akarnya berasal dari tindakan pihak aliansi. Tindakan-tindakan di lain hari mungkin masih bisa ditoleransi, namun yang terakhir ini sudah tak bisa lagi. Madara, Hilda bahkan Hashirama yang biasanya tak terlalu peduli kecuali menyangkut keluarganya sudah tak bisa menahan kesabaran.

Ketika lampu indikator lift sudah menunjukan angka empat dan berhenti bergerak, Madara mengambil satu nafas panjang mengumpulkan semua tekad yang dia punya untuk terjun ke pesta kemudian dengan sedikit kekuatan menendang pintu lift.

"... Kalian siap?!"

...

.

.

Suasana ruang pesta yang mulai kondusif setelah Ajuka Beelzebub berhasil mengirim sang pengacau, Dewa Jahat Loki bersama anaknya Fenrir ke tempat entah berantah seketika kembali berubah. Suara dentuman bercampur dentingan besi dari sisi kanan ruangan memaksa iblis dan beberapa mahluk lain di ruang pesta menoleh ke sisi barat.

Sial, tak berselang lama kemudian dari kepulan debu di salah satu lift, plat besi besar tiba-tiba terbang dan menghantam seseorang yang entah siapa dia.

"Sirzechs-sama!"

Sang Maōu Lucifer yang dipanggil oleh salah satu Peerage-nya mengalihkan pandangan ke depan saat sekelebat bayangan hitam melesat dari kepulan debu menuju langsung ke arahnya.

Hanya dalam sepersekian detik saja, bayangan hitam tadi kini sudah berada tepat di hadapan Sirzechs yang tak lain dan tak bukan adalah Madara.

Sirzechs menatap datar Madara yang siap menebaskan sebilah sabit tepat berada di hadapannya dalam keadaan melayang. Tak ada rasa takut ataupun terkejut sama sekali atas kemunculan mendadak Madara yang menatapnya dengan mata merah bak predator.

"Aku tak menyangka tamu tanpa undangan lainnya adalah kalian... Uchiha Madara, Senju Hashirama dan Hilda..."

Tepat setelah bergumam demikian, ujung sabit yang dipegang Madara tinggal beberapa centimeter lagi dari matanya.

"Cih!" Madara nampak sedikit kesal serangan pembuka digagalkan seseorang.

"Tak akan kubiarkan anda melukai, Sirzechs-sama..."

Adalah Okita Sōuji yang menggunakan kecepatan tingkat dewa muncul di antara Sirzechs dan Madara. Dalam keadaan berjongkok, Okita yang menghentikan tebasan sabit Madara menggunakan sebilah katana.

"Minggir!"

Mata Sharingan Madara berputar ganas dan membentuk pola baru. Kumpulan energi biru mulai berkumpul di sekitar Madara dan membentuk tangan mahluk astral dalam beberapa detik saja dan melakukan gerakan untuk menukul.

Tak kalah cepat dari tangan tersebut. Sirzechs dan Okita segera melompat mundur demi menghindari hancurnya tubuh mereka.

Setelah serangan kedua kembali mengalami kegagalan, Madara menoleh sejenak ke kiri. Dia melihat Hashirama dan Hilda ternyata juga sudah terlibat pertarungan sengit. Beberapa dari lawan keduanya Madara kenal, namun sisanya tidak. Entah siapa, Hashirama dan Hilda harus menahan mereka apapun yang terjadi selagi Madara berusaha memburu Sirzechs.

Hanya saja, Madara terlebih dahulu harus berurusan dengan Okita yang tak ingin dia menyentuh Sirzechs barang sedikitpun. "Minggir, atau kau juga bernasib sama dengan kecoa-kecoa dibawah sana."

"Maaf saja, saya tak akan melakukannya." Okita membalas serius sambil memasang kuda-kuda bertarung. Tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun, dia kemudian berkata kepada Sirzechs dibelakangnya. "Pergi dari sini, Sirzechs-sama. Biar aku yang mengurusnya. Dan jika tak merepotkan, bisakah anda memanggil Beuwolf-san untuk membantu disini. Saya menduga dia bukanlah lawan yang mudah."

"Aku mengerti. Berhati-hatila—"

Sirzehcs belum sempat menyelesaikan pesannya kepada Okita karena Madara tak ingin membuang banyak waktu. Bersama dengan tangan astral biru di sampingnya, Madara merangsek maju dan melancarkan serangan.

Okita tak tinggal diam. Menggunakan kecepatan tingkat dewa, dia menghilang dalam sekejap dan tahu-tahu sudah berada di samping kanan Madara yang menurutnya cukup terbuka diserang dalam keadaan berlari.

Okita memang cepat—sangat cepat, namun kecepatan tersebut bukanlah hal sulit bagi mata Madara untuk melihatnya. Dalam sekejap pula, Madara memunculkan lengan kedua di sisi yang kosong.

Okita yang tak menyangka hal tersebut harus rela tubuhnya dihantam kepalan tangan raksasa dari atas.

'Dia bisa melihat gerakanku?!'

Dalam keterkejutan bercampur rasa sakit di kepala yang menjalar ke tubuh, Okita diberi rasa sakit susulan kala kepalan tangan biru itu meneruskan pukulan hingga ke lantai.

'Apa-apaan tangan besar ini?! Kekuatannya sungguh gila—sialan!'

Dihimpit kekuatan berlipat-lipat dari pukulan Rook tingkat tinggi dengan lantai tak ayal membuat Okita hanya bisa meraung kesakitan diantara suara dentuman besar pada lantai.

Tak hanya dentuman, efek dari pukulan lengan Susano'o Madara bahkan menyebabkan lantai perlahan-lahan retak dan ambruk ke bawah bersama Okita diantara reruntuhannya.

Ketika pupil Madara bergerak ke tengah setelah melirik ke kanan untuk menyerang Okita tadi. Apa yang ditangkap penglihatannya hanya sebuah lingkaran sihir merah melayang dan perlahan-lahan menghilang.

"Sialan!"

"Madara, kejar keparat-keparat itu! Mereka pasti ke tempat Arthur. Disini biarkan kami yang mengurusnya."

Madara menoleh pada Hashirama yang berteriak di balik kubah kayu yang menahan puluhan serangan jarak jauh. Mengangguk paham, Madara segera beranjak dari ruang pesta tanpa lewat pintu, melainkan lewat dinding yang dijebol pakai pukulan lengan Susano'o.

...

Sepeninggal Madara, ruang pesta sekarang tinggal menyisahkan beberapa orang saja. Mereka adalah Hashirama dan Hilda tentu saja yang bertarung melawan Azazel, Baraqiel, Michael, Grayfia, Odin dan dua Iblis kelas atas entah siapa mereka.

Sepertinya, bertetapan dengan serangan kejutan Madara di awal, Azazel memerintah semua hadirin untuk menjauh dari lokasi termasuk Peerage Rias dan beberapa iblis muda lain demi keselamatan.

Sementara Hashirama masih bertahan di balik kubah Mokuton, Hilda sibuk mengurusi hujaman tombak es Grayfia yang dibantu beberapa iblis kelar atas.

Nampaknya Hilda menemukan lawan yang cukup sulit. Dirinya adalah tipe jarak menengah ke bawah dan Grayfia mengatasi hal tersebut dengan terus menjaga jarak selagi melancarkan serangan.

"Aah, mou! Ini menyebalkan!"

Hilda mengerang kesal tak berhenti mengayunkan senjata secara acak menghancurkan tombak-tombak es. Dia bisa saja membiarkan dirinya tertusuk dan menerima luka. Namun, dampaknya pasti akan sulit melakukan pergerakan. Pertempuran masih panjang dan terluka diawal-awal pasti akan berakibat fatal.

"Kau curang, jalang!" umpatnya seperti orang bodoh saja yang tak terima dibikin repot.

Hashirama yang melihat Hilda yang agak kesusahan mau tak mau harus mulai bertindak serius. Mana pula kubah kayu yang melindungi Hashirama juga mulai hancur tanpa henti dibombardir Yōuki (Demonic Power) dan Tangeki (Divine Power) berbeda bentuk serta warna.

"Hilda, aku akan membuka jalan. Setelah terbuka, pergi dan cari orang yang tadi berurusan dengan Madara. Kuyakin dia akan terus mengejar Madara dan berusaha menghentikannya."

"Haa? Anda bilang apa Hokage-sama? Aku tidak dengar!"

"Kubilang cari samurai tadi. Dia pasti mengejar Madara jika tidak tewas dipukul Susano'o."

"Apaa? Lebih keras!—Ah, es sialan!"

"Bangsat!"

Seolah-olah tidak dalam kondisi terjepit, Hashirama yang sibuk mempertahankan kubah kayu dan Hilda mengurusi serangan-serangan Grayfia saling lempar teriakan diakhir umpatan.

Dilain pihak, mendengar dua lawannya sedang merencanakan sesuatu. Tim dadakan Azazel yang terdiri dari Baraqiel, Michael dan Odin harus mencari tahu rencana macam apa itu. Banyaknya suara lain di ruangan membuat mereka tak tahu apa yang diteriakkan Hashirama maupun Hilda dengan jelas, bahkan jika mereka adalah mahluk supernatural yang memiliki pendengaran diatas rata-rata.

Hanya saja sebelum Azazel dan tim dadakannya bertindak, Hashirama sudah mendahului.

"Mokuton Hijutsu: Jukai Kōtan!" (Wood Release Secret Technique: Nativity of a World of Tree)

Berpusat dari tempat kubah kayu Hashirama dan mulai merambes segala penjuru ruangan bahkan istana, guncangan hebat terjadi hingga mengejutkan semua orang yang merasakannya. Menyusul getaran tersebut, giliran retakan demi retakan bermunculan pada lantai, dinding dan langit-langit.

"Tehnik ini! Gawat...!"

"... Menciptakan hutan dalam sekejap!"

"Hutan? Bagaimana mungkin manusia sepertinya memiliki kemampuan semacam itu? Apa dia pengguna Sacred Gear?"

Baraqiel yang tak hadir dalam konferensi kemarin dan belum tahu tentang apa yang diumpati Azazel disusul perkatakaan Michael hanya bisa melayangkan pertanyaan.

"Bukan waktunya yang kukhawatirkan. Tapi tempat kita ini! Orang-orang ini, apa mereka sudah tahu tentang Naruto?! Tapi bagaimana bisa?"

"Lupakan dulu itu, Azazel!... Sebaiknya kita segera menjauh dari sini sebelum remuk!"

Situasi semakin menegangkan tatkala akar disusul batang dan daun dengan jumlah sangat banyak mulai tumbuh dari retakan-retakan di ruangan. Lantai, dinding, langit-langit bahkan pilar besar aura hancur silih berganti terkana pepohonan Hashirama yang gila pertumbuhannya.

Pohon-pohon yang ditumbuhkan Hashirama semakin besar dan besar. Tak sampai lima menit saja bagian dalam istana Lucifer sudah berubah menjadi hutan lebat dengan batang pohon tak karuan bentuk dan susunannya memenuhi hampir semua ruangan yang ada, dan bahkan masih tetap tumbuh tak tahu kapan berhenti.

Disisi lain ruangan tempat Hilda. Nampaknya gadis ini cepat bertindak ketika mendengar seruan tehnik Hashirama yang begitu menggelegar. Tanpa menunggu aba-aba, Hilda berlari cepat menuju lubang bekas pukulan Susano'o Madara yang mana tepat sebelum ruangan dipenuhi pepohonan dia sudah lebih dulu melompat turun.

Dan beruntungnya Hilda, Grayfia bersama iblis iblis yang tadi menjadi lawannya sibuk mengurus diri masing-masing untuk lepas dari jeratan tehnik Hashirama sehingga dengan leluasa dia bisa bergerak.

Akan tetapi, keberuntungan Hilda habis ketika dia mendarat agak kasar di dekat tumpukan bekas lantai yang ambruk.

"Keparat!" Hilda mengumpat kasar matanya menangkap beberapa bongkahan batu seperti habis dipindahkan. "Aku terlambat—Huaaa! Sampai mana kau mau mengamuk, Hokage-sama!"

Kedatangan tehnik Hashirama memaksa Hilda untuk segera bergerak sejauh mungkin sampai itu selesai bertumbuh. Sayangnya Hilda sama sekali tak menyadari bahwa cukup jauh di belakang sudah ada Grayfia menuju arah yang sama.

...

Beralih menuju lokasi Madara. Madara yang sebelumnya menyusuri lorong istana tanpa hambatan harus terganggu oleh Mokuton Hashirama yang sudah mencapai lokasinya.

"Tak menahan diri lagi, hn. Ternyata dia yang paling marah diantara kami semua tak peduli siapa yang salah... Beginilah jadinya jika Hashirama sudah bersumpah, dia pasti melakukannya... "

Sambil bergumam demikian, Madara menggunakan kelincahan dan kecepatan yang dimiliki berusaha agar tak terjepit batang ataupun tertusuk ujung runcing pepohonan. Tanpa kesulitan yang berarti efek dari puluhan bahkan ratusan kali sudah berurusan dengan Kekkai Genkai sahabatnya, Madara menggunakan setiap celah yang ada agar tak terkena serangan tak kenal mana lawan mana kawan.

Tak terasa, sudah berlalu hampir lima menit dan Madara mulai melihat pertumbuhan pohon-pohon di sekitarnya mulai melambat. Tanpa membuang waktu memanfaatkan hal ini, dia melanjutkan perjalanan dengan melompat ke dahan ke dahan lain yang arahnya menuju langsung ke pusat kota Lilith dari istana Lucifer.

Ketika tengah asik berakrobat diantara lebatnya hutan, Madara yang sudah menurunkan tingkat mata ke Sharingan harus berhenti di salah satu dahan pohon.

Madara berdecak kesal. Nampaknya sebelum mencapai lokasi Sirzechs, dia harus menyelesaikan urusannya dengan salahsatu Knight terkuat Dunia Bawah yang sudah pasti akan menahan selama mungkin di tempat ini.

"Kau benar-benar cari mati, ya?"

"Itu adalah kata-kata yang harusnya saya tanyakan pada anda, Uchiha-san."

Okita yang tengah melayang berkat kemampuannya sebagai iblis perlahan-lahan turun. Dengan jarak yang cukup jauh dan dihalangi beberapa dahan dan batang pohon namun masih bisa melihat pisisi Madara dari celahnya, Okita mendaratkan kaki.

"Saya sedikit penasaran. Atas dasar apa anda melakukan tindakan segila ini menyerang Mekai ketika pemimpin masing-masing fraksi berkumpul, Uchiha-san?"

"Bukan urusanmu."

"Tak ingin buka mulut kah?" Okita berkata diakhiri helaan nafas.

Okita yang menjadi salah satu saksi dalam tragedi di konferensi kemarin mulai berpikir jika Madara sudah mengetahui kematian Naruto. Tak ada alasan yang lebih masuk akal dibanding hal tersebut sampai bertidak gila. Dia bertanya demikian hanya sedikit berbasa-basi dan mengulur waktu. Bahkan jika Madara menjawab tak peduli.

'Tapi, jika mereka sudah tahu, darimana itu? Padahal setelah kejadian semua yang menyaksikan disumpah untuk tutup mulut. Rias-Ojousama bersama iblis muda lain yang ditakutkan tak bisa menjaga mulut diantisipasi Sirzechs untuk tetap berada dalam pengawasan.'

"Sekali dan terakhir kalinya. Minggir atau kau kubunuh, tikus!"

"Sekali dan terakhir kalinya juga, saya tak akan membiarkan anda mendekati Sirzechs-sama."

Dari luar istana Lucifer yang sudah tak berbentuk lagi, angin berhembus pelan dan masuk melalui lubang baik besar maupun kecil dari berbagai sisi ke lokasi dua pria ini. Angin tersebut juga membuat poni agak gondrong Madara sedikit bergoyang-goyang di depan mata Sharingan yang berkibar.

Hampir satu menit berlalu. Hanya ada suara hembusan angin yang terdengar di tempat tersebut. Baik Madara maupun Okita saling menatap tajam selagi memikirkan hal yang berbeda. Madara tengah menyusun strategi paling efektif dan cepat menyelesaikan Okita tanpa harus menggunakan banyak Chakra.

Sebaliknya Okita berpikir cara untuk menahan lawannya selama mungkin, dan jika memungkinkan membunuh Madara jika ada kesempatan.

'Seorang samurai dengan kecepatan dewa, hmm... Ini mungkin memakan waktu cukup lama, tapi bisa menghemat banyak chakra dan stamina...'

'Dua senjata aneh. Sabit besar dan sesuatu mirip perisai, ditambah tangan mahluk misterius tadi. Menjaga jarak tanpa kehilangan dia mungkin cara terbaik.'

'Kuharap Arthur bisa bertahan dari amukan iblis-iblis keparst itu sampai aku tiba disana...'

'—Ini akan menyulitkan sampai mengetahui semua kemampuanya.'

Sampai keduanya benar-benar merasa yakin pada strategi masing-masing. Seolah menjadi pemberi aba-aba, terhentinya hembusan angin di tempat tersebut menjadi tanda pertarungan dimulai.

Tanpa ada kalimat khas pembuka pertarungan yang biasa diucapkan, Madara membentuk segel tangan tunggal dimana jari telunjuk dan tengah mangacung saling dempet. Tujuan Madara melakukan hal itu tentu saja untuk mengekstrak chakra dalam tubuhnya.

"Katon: Haijingakure!" (Fire Release: Hiding in Ash)

Muntahan abu hitam bercampur api seketika memenuhi area yang cukup lebar hingga mencapai lokasi Okita. Panas yang dihasilkan kompresi chakra dalam bentuk abu dan api itu cukup untuk membakar pepohonan.

Sayangnya Okita sadar cukup cepat akan datangnya serangan pembuka Madara. Tepat sebelum tertelan abu panas, dia segera berpindah tempat.

Sementara mulut sibuk memuntahkan aliran abu bercampur api, pupil merah Madara bergerak liar mencari keberadaan Okita yang sudah dia tahu tak akan menyerang, bahkan mendekat.

'Ketemu kau, tikus!'

Sharingan terkunci pada sisi kanan diantara lebatnya pepohonan. Segera Madara menggerakan kepala ke arah sana untuk mengarahkan serangan yang belum terhenti keluar dari mulut pada lokasi Okita.

Okita untuk kali kedua dibuat terkejut. Madara kembali sukses mengikuti pergerakannya yang dia yakin tak bisa diikuti manusia biasa.

"Nah, sekarang kemana lagi, tikus?"

Setebal apapun kepulan abu di sekitar, Madara tetap bisa melihat pergerakan Okita. Dia sangat berterima kasih pada semua mahluk supernatural yang telah berurusan dengannya sampai membuat Sharingan beradaptasi sedemikian rupa.

Kanan, atas, bawah. Kepala Madara bergerak demikian mengikuti kemana Okita berusaha menghindar.

Kemudian, pada satu momen Okita berhenti pada dahan pohon hanya untuk mengecek daerah sekitar agar tak kehilangan Madara lalu bergerak lagi.

Madara mulai memakai otak dan instingnya memprediksi masa depan setepat mungkib.

'Menjaga jarak aman tanpa kehilangan keberadaanku... Kalau begitu, cukup begini saja...' Madara menghentikan semburan asap dan api. Pupil merah berhiaas tiga tomoe bergerak seirama dengan pergerakan Okita di sisi lain yang tak terkena dampak Haijingakure.

Madara berniat memulai serangan utamanya.

"Jadi begitu rupanya. Asap bercampur api ini menghalangi pandanganku, sebaliknya dia bebas melihat pergerakanku entah bagaimana caranya. Kalau begitu, tak ada cara lain lagi..."

Ketika Okita hendak melakukan sesuatu. Insting tajam yang dia miliki berteriak kencang pada sesuatu. Benar saja apa yang dirasakan insting tajamnya itu, dia melakukan pengereman mendadak di atas dahan pohon. Kurang dari sedetik kemudian Okita langsung membungkuk yang mana diantara sepersekian detik sebelumnya, kilatan putih dia lihat dari balik abu panas dan melesat kencang hampir saja memotong lehernya.

'Apa yang dia lakukan?' Okita berpikir heran sambil menolehkan kepala pada sabit Madara yang menancap pada batang pohon di belakangnya. 'Tunggu dulu... Jangan bilang dia memanfaatkan abu pekat—Sialan!'

Menyadari tindakan Madara cukup mencurigakan, Okita segera mencari posisi terbaik melihat asal sabit tadi berasal. Setelah bergarak sekitar sepuluh meter ke kanan Sesuatu menyerupai kabut namun berwarna hitam keunguan pekat keluar dari seluruh tubuh Okita. Kabut itu berkumpul di lima titik berbeda kemudian memadat. Dari pemadatan akhirnya terbentuk lima mahluk berbeda.

Dengan perintah batin, kelima mahluk yang merupakan Yōukai merangsek masuk ke dalam abu panas Madara yang telah membakar habis area tersebut.

Suara tanda pertarungan langsung terdengar sedikit jauh dari lokasi Okita. Hanya saja, hanya dalam waktu semenit saja Okita harus kembali mengeluarkan Yōukai lain. Lima Yōukai sebelumnya telah dibunuh Madara tanpa mengetahui berhasil melukai atau gagal. Tapi setidaknya bisa memastikan Madara masih berada di tempat yang sama.

Untuk menghilangkan gangguan utama saat ini. Okita mengeluarkan dua Yōukai yang memiliki elemen angin dan air. Yōukai berelemen air yang lebih dulu bekerja dengan tehnik air berskala besar untuk memadamkan api. Uap putih hasil tabrakan api dan air yang bercampur dengan abu panas kemudian diterbangkan ke langit oleh Yōukai satunya.

Kini pandangan Okita ke depan tak ada lagi yang menghalangi. Area di depannya yang lumayan luas sudah menjadi ruang kosong akibat pepohonan habis dilalap Haijingakure Madara. Di sisi lain ruang kosong tersebut Okita melihat sang lawan berdiri pada batang pohon yang didekatnya ada lima Yōukai yang sebelumnya dikeluarkan sudah menjadi mayat.

"Aku tak menyangka tehnik anda barusan mampu berbuat begini."

Okita berbicara cukup keras agar di dengar Madara di seberang sana. Dia juga bersyukur tak terlalap tehnik Haijingakure. Pohon yang begitu banyak dan besar saja mampu dihanguskan, mungkin saja dia bisa berakhir demikian andaikata salah perhitungan.

"Dan kau sepertinya cukup pintar untuk tidak dekat-dekat..."

"Begitulah..."

"Bagaimana kalau kita selesaikan sekarang juga? Gunakan Katana milikmu, tikus!"

"Sayang sekali saya tak akan melakukannya. Walaupun mengalahkan anda bisa menyelesaikan semuanya, namun itu bukanlah tujuan utama saya disini... Jadi, maaf saja!"

Seperti yang dikatakan Okita. Jika biasanya ketika bertarung dia akan menarik keluar katana dari sarung di pinggang, dia malah manambah jumlah Yōukai yang dikeluarkan. Tak seperti sebelumnya yang hanya berukuran kecil, kali ini Okita mengeluarkan yang lumayan besar sejumlah lima ekor. Kini total Yōukai di dekat Okita adalah tujuh ekor.

Melihat hal tersebut Madara menyipitkan mata. "Jadi itu kemampuanmu selain ahli berpedang." Dia akhirnya tahu dari mana lima mahluk yang memiliki pancaran energi mirip dengan Yasaka dan Kunou tadi. "Kemampuan yang cukup merepotkan, tck!"

Setelah menggerutu, Madara yang tak ingin membuang banyak waktu kembali melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda beberapa saat. Dengan kekuatan yang cukup besar disalurkan ke kaki, Madara melompat ke depan, tepat menuju Okita dan tujuh Yōukai tak dia ketahui jenisnya.

Okita merespon Madara dengan mengirim tujuh Yōukai sekaligus.

Bertemu di udara, Madara tak habis akal untuk melenyapkan tujuh gangguan di hadapannya. Bukannya menyerang, dia malah mengambil Gunbai di punggung melihat Yōukai terbesar bersama dua Yōukai berelemen air dan angin yang mengambil ancang-ancang menyerang.

Madara menyeringai bengis ketika dua pusaran air dan angin dilancarkan. Dia langsung menggunakan Gunbai untuk menahannya. Bukan hanya menahan, namun serangan itu juga seperti dihilangkan atau dihisap.

"Ambil kembali milik kalian!"

Setelah memblok, hilangkan dan menghisap dua serangan berelemen. Madara mengarahkan Gunbai ke tujuh Yōukai di depannya. Bukan hanya tujuh mahluk itu, Sharingan Madara juga ikut mengunci Okita, sehingga bagian lebar Gunbai digerakkan sedikit ke kiri.

"Uchiha Gaeshi!" (Uchiha Return)

Gelombang udara cukup padat hasil konveksi serangan yang dihisap tadi keluar dari Gunbai. Lima Yōukai Okita harus rela terhempas jauh di sapu serangan pembalik. Sedangkan dua sisanya serta Okita berhasil lolos.

Dua Yōukai mengeluarkan sayap mereka dan terbang ke dua arah berlawanan, begitupula Okita yang juga kekiri, hanya saja dia cukup dengan melompat.

"Sialan!"

Madara mengumpat kesal tiga targetnya berhasil lolos dan dua diantaranya kini melesat dengan kecepatan tinggi menuju tepat ke arahnya dari dua sisi berbeda.

"Tak kusangka justru akan berakhir seperti ini. Apa boleh buat. Selesaikan!"

Dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi Okita berkata demikian. Dua Yōukai-nya merubah lengan kanan mereka ke bentuk menyerupai tombak tak karuan namun begitu runcing. Menambah kecepatan yang dimiliki menuju ke Madara yang dilihat dari manapun sudah tak bisa melakulan apa-apa karena dalam keadaan melayang di udara.

Dan itu benar. Satu-satunya yang bisa dilakukan Madara hanyalah melebarkan mata. "Tikus sialan!"

Di udara, tanpa bisa berbuat apa-apa, Madara menerima dua tusukan telat. Satu di rusuk kanan yang tembus ke bawah ketiak kiri, dan satu lagi tepat di dada lokasi jantung berada.

Okita memandang datar Madara yang telah dilumpuhkan dua Yōukai-nya dan hanya tinggal menunggu kematian tertusuk pada bagian dada hingga tembus ke punggung.

Ini benar-benar diluar perkiraan Okita bahwa Madara cukup kuat dan akan sulit dikalahkan. Menurutnya Madara terlalu terburu-buru. Dengan niat yang sangat besar untuk membunuhnya agar bisa menyusul Sirzechs tanpa membuang waktu banyak justru membawa Madara pada kekalahan.

Tanpa berpikir bahwa menyerang iblis ataupun Yōukai yang memiliki kemampuan terbang di udara bisa sangat merugikan. Madara malah terang-terangan melompat menuju ke arahnya. Walau sempat mengelurkan tehnik yang cukup menarik tadi, tetap saja melompat ke depan dimana tempat berpijak ada sekitar sepuluh meter di bawah adalah kesalahan fatal bila berurusan dengan mahluk yang punya kemampuan terbang.

"Cuma segini ternyata kekuatan anda. Saya heran kenapa Azazel-dono begitu takut pada sosok anda. Sepertinya ketakutan Azazel-dono sama sekali tak berguna."

"Bacot, tikus!"

Bukannya meringis bahkan meraung kesakitan. Madara malah menyeringai puas.

Sedetik kemudian... Terjadi hal yang tak terduga.

Dua ledakan kecil terjadi. Satu adalah Madara yang tengah tertusuk di udara. Satunya lagi berasal dari belakang Okita, pada batang pohon yang disana adalah tempat sabit besar menancap.

Okita sempat bingung ingin fokus pada ledakan mana. Belakang atau depan, dua ledakan yang tak terlalu berbahaya itu sama-sama tak dia ketahui jelas apa maksudnya. Apakah serangan atau pengalihan lain Madara untuk kabur.

Beberapa detik berpikir, dipilihlah arah belakang karena bagaimanapun dua Yōukai miliknya bisa mengurus bagian depan.

Namun, sebelum berbalik badan. Mata Okita membulat sempurna, menyusul setelah itu adalah rasa sakit teramat sangat di punggung, dada dan perut.

"Cough—"

Mulut Okita memuntahkan banyak sekali cairan merah kental. Sekujur tubuhnya perlahan-lahan terasa dingin dan berakhir mati rasa.

Dengan gerakan lambat dan kaku, Okita menunduk untuk melihat benda yang menusuk punggungnya hingga tembus ke perut dan dadanya. Pedang berwarna biru terang yang ukurannya sangat besar. Sangat besar karena bilah pedang tersebut menusuk tepat dibawah leher dan berakhir di bawah pusar.

"Sudah kubilang bukan, minggir atau mati. Tapi kau malah mengambil pilihan yang salah."

"Cough—Sebuah hal paling hina bagi saya sebagai samurai tertusuk dari belakang—Cough..."

"Hn."

Bermasa bodoh pada jalan hidup samurai Okita. Di belakang Knight Sirzechs Madara hanya memperlihatkan wajah datar dengan satu lengan Susano'o yang memegang ujung pedang biru besar tersebut.

Andaikata Madara lebih masa bodoh lagi terhadap Okita. Dia bisa saja memakai Bunshin untuk menyibukkannya, namun karena suatu alasan dan dorongan dari dalam diri Madara mengatakan bahwa Iblis satu ini harus dia bunuh.

Maka dari itu, dia harus rela membuang sedikit waktunya meladeni Okita. Menyusun strategi bertarung yang tepat dan tak memakan banyak chakra, stamina serta waktu.

Secara singkat, strategi pertarungan yang Madara pakai sebenarnya cukup simpel namun efektif. Madara memanfaatkan keadaan, dia hendak maju dan Okita berusaha menahan selama mungkin. Situasi tersebut otomatis membuat Okita yang merupakan tipe petarung dekat akan menjaga jarak aman tanpa harus kehilangan keberadaan Madara.

Abu bercampur asap yang dikeluarkan diawal berguna untuk mengetahui tindakan seperti apa Okita akan ambil bila pandangannya dihalangi. Selain itu, Katon: Haijingakure juga berfungsi untuk berjaga-jaga agar Okita tak harus mengeluarkan katana-nya. Akan menyusahkan bila Okita benar-benar memakai kemampuan aslinya sebagai samurai berkecepatan dewa berkat bidak Knight yang tertanam dalam tubuh.

Itu berbuah informasi.

Okita selalu mengambil lokasi yang cukup strategis untuk melihat sekeliling, terutama lokasi Madara yang dia ketahui.

Strategi pun di mulai.

Tanpa diketahu Okita, Madara mengeluarkan satu Kage Bunshin (Shadow Clon) lalu dirinya melakukan Henge (Transformation) menjadi sabit besar.

Sayangnya, strategi Madara hampir dibuat gagal ketika Okita mengeluarkan kemapuannya selain Master Swordman. Sebuah kemampuan yang diperoleh Okita di masa lalu sebelum menjadi iblis reinkarnasi. Okita yang telah melakukan banyak sekali ritual berbau supernatural menjadikan tubuhnya sebagai sarang Yōukai.

Beruntung klon Madara mampu mengatasi kemampuan Okita, bahkan mampu berimprovisasi hingga strategi berhasil lebih cepat dari yang diperkirakan.

Penentunya adalah Counter dari Uchiha Gaeshi. Alasan Kage Bunshin Madara sedikit membidik ke kiri untuk mengarahkan Okita lebih dekat pada Madara yang tengah menancap di batang pohon sebagai sabit.

Walau strategi Madara berhasil, bisa dibilang Okita sendiri yang menuntun dirinya menuju kekalahan. Dengan hanya fokus untuk memperlambat dan mahanan Madara selama mungkin, Madara mampu merancang dan mengeksekusi strategi tanpa harus repot melawan Okita dalam jarak dekat.

Dan yang paling besar mempengaruhi kekalahan Okita adalah penolakan untuk memakai katana karena berpikir Madara lebih hebat dalam pertarungan jarak dekat ditambah dengan lengan mahluk astral yang cukup sulit diatasi.

Benar-benar kesalahan yang sangat fatal!

"... Selamat tinggal, tikus!"

Lengan Susano'o Madara bergerak kebelakang menarik kasar pedang yang menembus tubuh Okita.

Darah segar pun muncrat kemana-mana dari luka tusukan pada perut dan dada maupun dimuntahkan mulut Okita, membasahi dan memberi warna merah pada dahan pohon tempat kedua pria ini berada.

Dalam keadaan sekarat dan tubuh yang sudah mati rasa, akibat tarikan tersebut tubuh Okita terhuyung ke belakang.

Namun, sebelum Okita ambruk ke permukaan dahan. Madara benar-benar ingin memastikan lawannya benar-benar mati.

Lengan Susano'o yang kedua Madara munculkan. Lengan itu langsung meraih Okita, menggenggamnya kuat. Selanjutnya yang terjadi adalah kematian mengenaskan salah satu Knight terkuat Dunia Bawah.

Bagaikan balon lonjong berisikin air yang digenggaman. Susano'o meremas tubuh Okita hingga remuk dan hancur—meledak lebih tepatnya. Beberapa liter darah pun menyembur kemana-mana, semakin menambah warna merah di tengah-tengah hijau kecoklatan pepohanan.

Menyusul darah tersebut adalah kejadian umum ketika mahluk supernatural mati. Sisa tubuh Okita entah bagian apa itu melebur menjadi serpihan cahaya.

Wajah Madara yang pelipis dan pipi kiri terkena cipratan darah Okita mengadopsi ekspresi dingin melihat anak catur berwarna merah bersinar terang terjatuh dari kepalan tangan Susano'o di hadapannya.

.

.

"—Satu selesai,...!"

...

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu di dua tempat berbeda. Situasi juga mulai memanas

...

Di tempat Hilda telah meningkat tensinya ketika Grayfia berhasil mencegat. Hanya saja karena Grayfia cukup hebat dalam pertarungan jarak jauh membuat Hilda harus kerepotan.

Dibombardir sihir es tipe jarak jauh dan tak bisa mendekat barang sepuluh meter benar-benar membuat Hilda kesal.

Lebih menambah rasa kesal Hilda. Ketika dia mengoceh dibumbuhi sumpah serapah, Grayfia hanya diam dengan wajah datar dan dingin.

"Aah, mouuu! Ampun deh. Aku salah pilih lawan! Seseorang tolong ganti posisi!"

...

.

.

Di lain tempat. Berlokasi di luar kastil Lucifer. Ratusan meter jaraknya dari batas pertumbuhan Jukai Kōtan. Berbeda dengan Madara dan Hilda yang hanya berhadapan satu lawan satu, Hashirama baru saja menyelesaikan babak pertama baku hantam melawan Azazel bersama Baraqiel, Michael dan beberapa iblis kelas ultimate yang identitasnya tak diketahui. Odin, Dewa itu nampaknya dimintai Azazel melakukan sesuatu di lain tempat.

Walaupun dalam situasi di kroyok, Hashirama sama sekali tidak terdesak. Semua berkat kontrol sempurna Mokuton ditambah chakra dan stamina monster. Cukup dengan kemampuan tersebut, Hashirama bisa menahan segala macam serangan ataupun melancarkan counter yang cukup merepotkan lawan.

"Sekarang aku tahu kenapa Kokabiel dan Katerea bisa mereka bunuh dengan mudah. Cukup dengan satu macam kemampuan, begitu efektif menyerang dan bertahan."

"Kukira kemampuan dia dulu hanya bisa menumbuhkan. Ternyata lebih dari itu, dia bisa mengendalikan sesuka hati pepohonan."

Michael berbicara demikian menimpali Azazel yang sama-sama melayang tak jauh dari lokasi Hashirama di permukaan tanah dikelilingi tehnik Mokuton. Sementara Baraqiel dan iblis-iblis disana hanya bisa diam menyimak tanpa mengalihkan pandangan dari lawan.

"Senju-dono..." Michael memanggil sang lawan. Menyadari Hashirama seperti tak ingin mengambil tindakan lebih lanjut setelah serangan terakhir kombinasi dia dan Azazel dipentalkan, dia ingin memanfaatkan situasi ini. "Bisakah kita membicarakan ini baik-baik?"

Hashirama mendongak. "Membicarakan apa memangnya, Tenshi-san?"

"Tentang mengapa anda melakukan semua ini."

Tanpa banyak berbasa-basi, Michael langsung masuk ke inti saja. Dia tak ingin kehilangan kesempatan mengetahui motif penyerangan ini. Insiden kematian Naruto seperti yang dia ketahui benar-benar dirahasiakan dari dunia luar. Tapi jika memang benar insiden tersebut yang melandasi penyerangan, darimana kelompok Madara mengetahuinya.

Itu yang Michael dan Azazel cari tahu lebih jauh.

Tersenyum kecut. Hashirama menjawab pelan. "Kenapa kalian berpura-pura tak tahu? Sepertinya tanpa kujawab sekalipun, kalian sudah tahu bukan?"

'Sial! Kenapa—Tidak! Darimana mereka tahu?' Azazel membantin panik. Selain Hashirama dan Madara, efek dari informasi kematian Naruto bisa membuat salah satu ketakutan terbesarnya bila terungkap bisa menjadi kenyataan. 'Kalau seperti ini... Kami tak bisa lagi membiarkan mereka hidup. Kyoto dan Shinto benar-benar akan menjadi musuh kalau dibiarkan lolos dari sini!'

Ya... Ketakutan Azazel akan perang besar pecah antara Aliansi dan Mitologi Shinto benar-benar terjadi!

Azazel sempat berpikir Kyoto sudah tahu juga, dan bukan tidak mungkin Madara telah bertemu Yasaka. Secara empat membicarakan tentang konferensi kemarin dimana Azazel mengarang cerita untuk Yasaka, sedangkan Madara dan Hashirama punya versi asli.

Dari kebohongan Azazel ke Yasaka dan ketiadaan informasi tentang Naruto sekarang ini membuat Madara bersama kelompoknya berpikir pemuda itu tewas di tangan pemimpin Aliansi.

Hanya saja... Pikiran Azazel tadi dipentalkan oleh situasi sekarang. Kyoto maupun Mitologi Shinto sama sekali tak ada tanda-tanda pergerakan atau ancaman akan apa yang di takutkan terjadi.

'Jadi... Darimana mereka tahu tentang Naruto jika bukan dari Yasaka?'

Sekarang kebingunganlah yang melanda Azazel. '—Atau jangan-jangan... Ada duri di aliansi kami?!'danberakhirlahAzazelmenarikkesimpulan paling bisa diterima. Inilah yang perlu Azazel dan pihak Aliansi cari tahu. '... Tapi siapa?'

Mungkin ini akan menjadi tindakan bodoh Azazel, tapi siapa tahu Hashirama mau buka-bukaan. Azazel mengembalikan pandangan ke Hashirama, dia juga memasang senyum kecut.

"Jadi, kalian sudah tahu kebenarannya?"

Hashirama tak begitu saja merespon kata-kata Azazel. Dalam diam, Hashirama berusaha mengingat sesuatu selagi merangkai kalimat yang tepat untuk memberikan jawaban pada Azazel.

"Dulu... Aku pernah mengatakan pada Sirzechs dan Madara. Kami tak akan melakukan apapun yang berbahaya ketika kebenaran tentang pembantaian desa kamimulai menemui titik... Namun—"

Sambil mengambil jeda yang cukup panjang, Hashirama menunduk sesaat. Entah untuk apa dia melakukannya. Sementara Azazel dan mereka yang menjadi lawan bicara Hashirama hanya bisa diam menunggu dengan rasa penasaran di benak.

"—Tak perduli siapa yang salah dan memulai... Aku bersumpah akan meratakan Dunia Bawah bila Sirzechs atau siapapun dari pihak iblis melakukan sesuatu yang melibatkan keluargaku!"

Ketika menyelesaikan apa yang ingin diucapkan, tekanan chakra dan niat membunuh yang sangat besar Hashirama lepaskan. Dalam pelepasan itu, ada efek seperti udara yang didorong menjauh dari sekitar Hashirama dan mencapai lokasi Azazel.

Seketika Azazel dan timnya dibuat menelan kasar ludah mereka merasakan sesuatu yang dikeluarkan Hashirama. Veteran Great War yang berada disana bisa merasakan bahwa Hashirama hampir setara Iblis Super dengan tekanan sebesar itu ditambah niat membunuh.

Hashirama tanpa beban lagi mengeluarkan semua yang dia punya dan sedikit menyesal dulu terlalu lembut dan naif memandang dunia. Seharusnya dari awal mengikuti kemauan Madara yang memandang rata iblis. Namun tentu saja pengecualian untuk Vali, Kuroka dan Naruto.

Lagipula... Hashirama telah bersumpah dan melanggarnya adalah sesuatu yang cukup sulit bahkan hina bagi seorang ninja.

Hashirama mengangkat kepala. Sedikit mendongak ke atas, dia melihat lawannya yang tengah melayang dengan mata tajam menyala bagai predator.

"... Tujuanku sekarang adalah Sirzechs dan Dunia Bawah... Berikan jawaban kalian berada di sisinya atau membiarkanku lewat?"

"Kami telah membentuk aliansi bersama fraksi iblis. Jadi, musuh Sirzechs dan Fraksi Iblis adalah musuh kami juga."

Ancaman Hashirama direspon Azazel tanpa keraguan sedikitpun. Mengikuti pilihan mantan Gubernur Grigory, Michael dan yang lain hanya merespon dengan pose siaga siap tempur.

"Begitu ya..."

Hashirama memasang wajah maklum. Sudah menduga akan seperti ini jadinya. Mereka melawan dunia akan menjadi cerita tambahan dalam perjalanan menuju pembalasan dendam tragedi Konoha yang hampir selesai.

Takut? Mungkin sedikit.

Menyesal? Tak ada sekalipun setelah memutuskan untuk menjadi musuh golongan terkuat saat tak peduli seberapa besar resikonya.

"... Kalau begitu, apa boleh buat lagi... Sumpah tetap sumpah tak peduli lawannya seisi dunia sekalipun. Kami telah kehilangan banyak keluarga hanya karena kesalahan kalian di masa lalu, dan tak akan lagi!"

Hashirama menyatukan tangan di depan dada. Bercak merah muncul di sekitar mata dan di tengah-tengah kening. Benar-benar tak menahan diri lagi, Hashirama akhirnya menggunakan salah satu kemampuan yang tak sempat untuk dipakai dalam pembantaian Konoha dan menyesal akan hal itu.

"Sennin Mōdō!" (Sage Mode)

"... Siapapun yang telah dan berencana merenggut mereka dari kami... Akan kuhancurkan!"

.

.

"Senpō Mokuton: Mokuryū no Jutsu." (Sage Art Wood Release: Wood Dragon Technique)

...

.

.

.

.

.

.

Melesat dengan kecepatan tinggi diantara lebatnya hutan ciptaan Hashirama. Lepas membunuh Okita tak ada lagi yang menghalangi laju Madara. Ya, setidaknya untuk saat ini karena kastil telah di kosongkan setelah Loki disingkirkan.

Entah kenapa, setelah membunuh Okita hasrat membunuh Madara semakin menggebu-gebu dan tak dapat ditahan lagi. Makanya dia benar-benar tak sabar lagi untuk mencapai lokasi Sirzechs yang sekarang berada di pusat kota Lilith.

Madara juga sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan Arthur untuk menggantikan posisi Vali. Namun, ada pula sedikit kekhawatiran anggota tim Vali itu kenapa-kenapa. Begini-begini dia sudah menggangap Tim Vali sebagai keluarga juga.

Ketika satu per satu celah pepohonan memunculkan cahaya, Madara menyeringai keji telah mencapai ujung Jukai Koutan.

Sayangnya, gangguan lain sepertinya muncul di hadapan Madara. Pada salah satu celah, sesosok bersayap terbang menuju lokasi Madara. Menyusul sosok tersebut, semakin bertambah yang muncul sampai Madara perkirakan ada sekitar sepuluh gangguan.

"Cih, lagi dan lagi datang hanya untuk memberi nyawanya!"

Di lain sisi. Sosok yang berada paling depan, yang merupakan bantuan untuk Okita adalah pemimpin regu. Dia adalah Beowulf, satu dari dua Pawn dalam Peerage Sirzechs.

Melihat Madara melesat tak terhentikan di hadapannya membuat pikiran negatif bermunculan di kepala Beowulf.

'Okita-san gagal menahan dia? Apa mungkin—Tidak! Ini tidak mungkin! Okita-san tak mungkin kalah begitu cepat di tangan orang ini. Aku harus menghubungi Sirzehcs-sama!' Secepatnya, Beowulf mengaktifkan sihir komunikasi untuk menghubungi Sirzechs.

Sayangnya, sebelum Beowulf membalas ucapan di ujung saluran komunikasi. Puluhan bola api dua kali ukuran mobil van satu per satu melumpuhkan iblis-iblis di sekitar Beowulf.

Fokus Beowulf terganggu oleh teriakan iblis lain, dia menggerakkan kepala ke kiri dan kanan melihat berapa bawahan yang tumbang. Ketika hendak mengembalikan pandangan ke depan, kekuatan berlipat-lipat dari Rook kelas menengah ke atas menabrak tubuhnya hingga terpental ke belakang tanpa sempat melihat ke depan.

"Minggir!"

Madara yang kembali mengeluarkan Susano'o, setelah melancarkan serangan kejutan barusan melanjutkan perjalanan dengan melompat dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa iblis bawahan Beowulf yang selamat diabaikan begitu saja.

Tiba di ujung hutan buatan Hashirama. Madara berhenti karena suatu alasan. Dia melihat menuju kejauhan ke pusat kota Lilith. Mata Sharingan melihat empat sosok tengah mengudara, dua saling berdekatan, sedangkan sisanya seperti baru saja saling serang belasan meter di angkasa kota Lilith.

Menggerakkan kepala sedikit ke kiri. Madara menyipitkan mata penasaran pada sosok raksasa tertahan bongkahan es raksasa.

"Jadi itu yang Arthur maksud menggantikan posisi Vali. Apa mahluk itu dari Le Fay?" Madara bergumam pelan memperhatikan bagaimana mahluk yang dia bahas tengah meronta-ronta ingin lepas dari kekangan es.

Namun, Madara yang sibuk memperhatikan pemadangan kota Lilith melupakan sesuatu. Terlalu asik menyaksikan ledakan yang terjadi dimana-mana, kepulan asap dan bangunan hancur tersaji indah entah perbuatan siapa. Semua itu membuat pikiran Madara teralih dari keberadaan Beowulf yang tadi dibuat terpental keluar hutan.

"Dimana kecoa itu? Dia pasti masih hidup!"

Tak lama mencari, Madara menemukan Pawn Sirzechs berada dekat pagar istana Lucifer tengah berjongkok. Dia menajamkan penglihatan, melihat Beowulf memposisikan tangan kiri dekat telinga, seperti sedang berkomunikasi.

Tak kehabisan akal karena jarak Madara terlampau cukup jauh dari Beowulf. Madara mengembil tindakan cepat dengan mengeluarkan satu kunai dan langsung dilempar menuju Beowulf.

"Kunai Kagebunshin no Jutsu!" (Kunai Shadow Clone Technique)

Diikuti rangkaian segel tangan dan pengucapan tehnik. Satu kunai yang dilempar tadi langsung digandakan dalam jumlah tak terhitung.

Beowulf yang fokus pada kegiatannya sama sekali tak menyadari datangnya hujan senjata Madara. Ribuan kunai seketika menghujam. Beowulf yang sama sekali tak sadar akan serangan itu harus rela tubuhnya terkena tusukan dan sayatan dalam jumlah sangat banyak.

Penderitaan Beowulf masih awal.

Madara, tepat setelah ribuan kunai dilancarkan tenyata dia ikut melompat. Dengan perhitungan yang sangat matang, setelah berada di atas Beowulf yang bersimpuh kesakitan, Madara kembali mengaktifkan Susano'o yang lagi-lagi masih dalam bentuk lengan disertai pedang.

Untuk kali kedua, Peerage Sirzechs tewas ditangan Madara dengan tehnik yang sama pula. Pedang biru besar Susano'o sukses menusuk punggung Beowulf hingga tembus ke perut hingga ke permukaan tanah.

Tanpa perlawanan apapun, Beowulf menyusul Okita Souji menuju alam kematian untuk para mahluk supernatural. Seperti halnya Okita, jasad Beowulf perlahan-lahan melebur hingga hanya menyisahkan beberapa bidak Pawn yang tergeletak di atas genangan darah.

Sial bagi Madara. Belum sempat merayakan kematian dua iblis yang berstatus terkuat di dunia bawah. Alasan tadi Beowulf seperti melakukan percakapan jarak jauh dengan seseorang memakai sihir menampakkan diri.

Madara mendongak disertai umpatan. "Bangsat!"

Enam formasi lingkaran yang diameternya tak main-main muncul puluhan meter tepat di atas lokasi Madara. Selain daripada ukuran, Madara juga merasakan energi yang tak kalah gila pancarannya dari sana.

Dari enam linkaran sihir tersebut turun dalam kecepatan sangat tinggi limpahan Yōuki menyerupai laser berwarna kehijauan.

Diawali suara desingan tajam, ledakan maha dahsyat yang sampai mengakibatkan gempa lokal mengguncang kota Lilith dan sekitarnya.

...

Beberapa saat berlalu.

Sirzechs tak melepaskan pandangan dari serangan yang dilancarkan orang di samping kanannya, Ajuka.

"Sekarang tinggal mengurusi mahluk besar dan pemegang pedang Caliburn yang sedikit merepotkan Serafall."

Sirzechs cukup yakin sihir dahsyat Ajuka tadi berhasil melukai bahkan bisa saja membunuh Madara di halaman Istana Lucifer, dan tinggal menunggu informasi dari Beowulf bahwa Madara benar-benar mati walau harus kehilangan salah satu aset penting Underworld, kastil sekaligus tempat kerjanya. Bagi Sirzechs itu tak apa asal cepat-cepat menyelesaikan kekacauan yang terjadi.

"Jangan lepaskan pandangan dari kastil. Para pengacau masih ada beberapa dan diurus Azazel dan yang lain."

"Kau yakin serangan tadi berhasil menyelesaikan orang bernama Madara?"

"Kita tunggu saja setelah asap menghilang dari tempatnya ataupun informasi dari Beowulf."

Ketika kedua iblis super asik berbicara, kumpulan awan di langit buatan Dunia Bawah mengalami perubahan mendadak. Sambaran petir beruntun terjadi sampai menerangi langit yang agak gelap.

Sirzechs mendongak. "Sepertinya badai akan tiba."

"Tidak, ini bukan petir biasa."

Ajuka menyipitkan mata melihat kilatan petir yang masih berlanjut. Setahunya, langit buatan Dunia Bawah tak memiliki cuaca se-ekstrim ini sampai badai petir segala.

Benar saja apa yang Ajuka pikirkan. Kilatan petir yang awalnya tersebar mulai menyatu di satu titik dan terlihat mendekat ke arah mereka. Semakin dekat dan dekat hingga menampakkan sesuatu yang diterangi cahaya kebiruan.

"Itu—"

Ajuka tak sempat berkata lebih lanjut karena sesuatu dibalik kumpulan petir tersebut tiba-tiba menukik tajam sangat cepat meninggalkan jejak cahaya biru keputihan di angkasa.

Dengan cepat Sirzechs dan Ajuka memalingkan kepala mereka menuju target benda tersebut yang hanya melewati lokasi mereka begitu saja.

""Serafall!""

Ternyata benda itu menargetkan Serafall yang hendak melanjutkan pertarungan melawan Arthur, yang mana Arthur berusaha membebaskan raksasa tersebut dari himpitan es namun selalu diganggu Serafall.

Sayangnya, panggilan peringatan dua Sirzechs dan Ajukai terlambat beberapa detik. Serafall yang tak menyadari serangan dadakan tersebut harus rela terhantam benda berkecepatan tinggi dan mendarat sangat keras pada kota Lilith.

Efek tabrakan Serafall dan benda asing tersebut hampir menyamai ledakan dari serangan Ajuka terhadap Madara. Debu pekat bercampur kilatan petir menjadi pemandangan paling jelas terlihat dari kejauhan selain monster raksasa yang terkekang balok es.

"Tck!" dan Sirzechs hanya bisa berdecak atas apa yang terjadi barusan. "Tadi itu, sudah pasti..."

"... Hakuryuukou!"

"Uchiha Madara dan kelompoknya... Sekarang Hakuryuukou... Kalau seperti ini. Tidak salah lagi jika kematian Naruto sudah diketahui mereka."

Ketika Sirzechs tengah memikirkan hal yang sama persis dengan Azazel. Sekali lagi, hal lain diluar dugaan muncul dan mengalihakan seketika pandangan Sirzechs menuju kastil.

Dari kepulan debu yang masih memenuhi sebagian besar area kastil. Guncangan beritme teratur seperti seseorang tengah berjalan terjadi. Setiap detik yang berlalu, semakin terasa dekat pula guncangan tersebut terjadi.

Baik Sirzechs, Ajuka maupun orang-orang yang merasakan guncangan tersebut berasumsi diakibatkan oleh mahluk besar dua atau mungkin tiga kali lipat ukuran monster batu di pusat kota.

Tak lama kemudian Sirzechs, Ajuka bahkan Arthur melebarkan mata mereka tak percaya apa dilihat.

Melangkah keluar dari kepulan asap dan debu, itu adalah sosok biru transparan setinggi puluhan meter berwujud menyerupai Raja Tengu. Di kepala mahluk tersebut tak lain adalah Madara yang zirahnya sudah tanggal menyisahkan bawahan saja.

"Siapa sebenarnya orang ini?" Ajuka melayangkan pertanyaan entah pada siapa akan sosok Madara yang tidak dia sangka bisa memiliki kemampuan semacam itu. "Tidak, tepatnya, mahkluk apa dia sebenarnya?"

Walau mahluk seukuran milik Madara itu sudah biasa di kalangan supranatural. Namun, jika itu dimiliki atau dikontrol oleh seorang manusia agaknya perlu dipertanyakan, bahkan jika orang itu adalah penyihir tingkat atas seperti Mephisto Peles.

Ajuka bahkan merasakan bahwa sosok Tengu tersebut tak hanya ukuran yang gila. Kekuatan yang dimiliki pasti tak kalah karena dia merasakan energi besar dan dikontrol cukup sempurna dari mahluk tersebut.

"Ajuka, bagaimana dengan evakuasi penduduk?" Sirzechs berbisik pada rekannya.

"Sepertinya sudah sembilan puluh persen penduduk berada di tempat aman jauh dari kota."

"Kalau begitu... Waktunya untuk kita turun tangan. Hakuryuukou dan pemegang Caliburn kau urus bersama Serafall." Sirzechs menengok sebentar ke lokasi Maou Leviathan tadi dan merasakan Yōuki miliknya masih terasa, bahkan mulai meningkat. "Uchiha Madara, biarkan aku yang mengurusnya langsung seperti yang dia inginkan..."

Setelah mendengar instruksi Sirzechs, Ajuka langsung tancap gas menuju tempat Serafall.

Kini tinggallah Sirzechs yang melayang di atas angkasa Lilith, dan beberapa kilometer di depannya adalah sang lawan Madara Uchiha bersama raksasa mirip Raja Tengu.

"Cukup sampai disini saja kalian merusak kota."

Aura merah hitam seketika berkumpul di sekitar tubuh Sirzechs. Tak lupa mata biru-hijau telah berkilat tajam pada sosok Madara yang menjadi salah satu paling bertanggung jawab atas kekacauan.

Di kepala mahluk biru berwujud Raja Tengu yang merupakan tahap sempurna dari Susano'o, sosok Madara melihat perubahan mendadak di sekitar tubuh Sirzechs menyeringai maniak. Dia bisa tahu kalau Maou Lucifer sebentar lagi bergabung dalam pesta.

.

"—Tarian utama dimulai!"

...

.

.

Sebentar lagi kota Lilith akan menjadi saksi bisu pertempuran kembali akan terjadi pada Dunia Bawah.

Intensitasnya mungkin tak sebesar Great War atau Civil War, namun ini akan menjadi kali kedua sejak pemerintahan fraksi iblis diambil alih golongan pengikut empat Raja Iblis Baru, tiga dari mereka bertempur bersamaan. Bukan hanya mereka, Azazel bersama Michael juga ikut serta di dalamnya, sedangkan Odin belum pasti akan ikut atau hanya akan menjadi pengawas saja.

Apapun hasil dari pertempuran nantinya, tetap akan berujung kekacauan besar melanda dunia beserta isinya.

—Atau bisa disebut sebagai pintu menuju perubahan yang lebih besar pada arus dunia.

...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berpindah dari Lilith menuju lokasi yang sangat jauh, bahkan sudah melintasi alam dan dimensi berbeda.

Jika di Lilith pertempuran baru akan dimulai, di tempat ini—Elysium Realm satu pertarungan, tidak! Lebih tepatnya takdir sebentar lagi berakhir untuk Naruto Lucifer.

Beberapa hari nonstop melawan Scheherazade dan satunya hanyalah sebatang pohon dikelilingi formasi baru melingkar telah dilalui Naruto yang berakhir kekalahan telak.

Naruto memang berhasil menghancurkan sembilan puluh persen dataran Elysium, namun sepuluh persen sisanya yang menjadi kekalahan telak untuk keturunan Lucifer ini.

Jika pertama kali Naruto tiba di Elysium, tempatnya adalah dataran bunga tak berujung bersama danau biru nan luas. Kini Elysium benar-benar hancur menyisahkan tanah tandus yang ketinggiannya berkurang sangat banyak dari permukaan awal.

Bisa dilihat melalui sebatang pohon dan formasi batu yang berubah menjadi menara batu alami setinggi ratusan meter dari permukaan tanah Elysium sekarang dengan dua hal tersebut menjadi puncaknya.

Tak jauh dari menara batu tersebut, ada Scheherazade yang tengah melayang tanpa bantuan apapun seolah-olah gravitasi hanya omong kosong belaka.

"Tak disangka dia mampu berbuat seperti ini. Menghancurkan Elysium."

Scheherazade bergumam selagi mengarahkan wajah dengan mata terpejam jauh ke arah dua bulan di langit sana. Ini kali pertama ada yang bertindak sejauh ini hanya untuk melawan prinsip kehidupan.

Setelah cukup lama memandangi benda langit di atas sana, Scheherazade menurunkan pandangan. Tertuju pada dalang perusakan total Elysium.

"Hanya saja, kau terlalu percaya diri bisa menghancurkan pohon itu, Keturunan Lucifer..." dan untuk kali pertama sejak Naruto tiba di Elysium, Scheherazade membuka kelopak mata, memperlihatkan iris hijau yang begitu menyejukkan. "... Sekarang tinggal menunggu proses pengembalian jiwanya ke tempat seharusnya."

Mata hijau Scheherazade fokus pada Naruto yang dijinakkan. Pada sisi menara sekitar dua puluh meter di bawah pohon tersebut ada kumpulan akar saling melilit satu sama lain. Melalui celah-celah sempit lilitan, Scheherazade bisa melihat Naruto tertusuk hampir di sekujur tubuh kecuali kepala.

"Aah, akhirnya kau datang. Kuharap kau membawa kabar baik. Anak ini cukup merepotkan."

Di samping Scheherazade tiba-tiba muncul lingkaran sihir putih. Dari sana sosok pria muncul.

"Maaf agak lama sampai membuat tempat ini hancur. Kau tahu sendiri kalau era sekarang benar-benar kacau. Jadi saudaraku cukup sibuk karena bukan hanya keturunan Lucifer ini yang harus diurusi. Untungnya kita beruntung tak ada yang mati diwaktu yang berdekatan."

"Sebanyak itukah sampai memakan waktu berhari-hari hitungan waktu dunia itu?"

"... Begitulah..."

Scheherazade menengok sesaat melihat pria di sampingnya. "Kau ganti penampilan lagi?"

Pria itu menggeleng pelan. "Inilah penampilanku yang sebenarnya. Kalau tidak memakainya, mungkin saudaraku akan mengira aku seorang penyusup."

"Hmmmm... Setelah lama tak melihatnya, aku sampai lupa penampilanmu ini."

Scheherazade melihat dengan teliti penampakan pria yang terakhir dia lihat sudah sangat lama. Rambut putih bersih acak-acakan berpadu dengan wajah umur dua puluh tahunan begitu sempurna, tipikal salah satu mahluk suci. Setelan jas hitam campuran putih modern, mungkin untuk mengikuti perubahan zaman. Terakhir, Pria itu memegang dua buku bertulisan aneh pada sampul yang dijepit diantara tangan kiri dan dada.

"Seingatku kau punya—"

"Aah itu. Sengaja kusembunyikan. Sedikit aneh menurutku untuk dipelihatkan." Pria itu terkekeh pelan ketika Scheherazade hanya memberi respon berupa gumaman datar. "Jangan memintanya, Hera. Kau mau cicit Lucifer itu kaget melihat wujudku?"

"Muuuu—Padahal aku sangat ingin melihatnya." Cicit Scheherazade pelan seperti anak kecil yang merajuk. Tubuhnya memang anak-anak sih, umurnya saja yang kelebihan tua.

Pria itu memgembalikan pandanganya ke Naruto. Wajahnya berubah prihatin.

"Sayang sekali untuknya. Alasan dia berusaha untuk kembali malah akan menyusulnya. Pada akhirnya takdir memang tak dapat dihindari, bagaimana pun caranya."

Scheherazade ikut memandang Naruto. Namun sama sekali tak prihatin. Seolah apa yang dia dengar barusan sudah menjadi hal biasa untuknya. "Jadi, salah satu keluarganya akan menyusul dalam waktu dekat?"

"Masih samar-samar. Aku membaca sekilas saja."

"Kebiasaan kurang teliti masih belum hilang... Heran kenapa harus kau yang ditunjuk," Scheherazade menggerutu pelan. Dia agaknya sedikit penasaran. Bagaimana pun salah satu kemampuan spesial dia hanya mengawasi, bukan memprediksi. Sangat berbanding terbalik dengan pria di sampingnya, hanya saja terlalu masa bodoh mungkin jadi tak terlalu digunakan maksimal.

"Hey, itu masa lalu. Tak usah dibahas."

Tak peduli pada permintaan pria di sampingnya. Scheherazade tetap lanjut berbicara karena kalimat yang ingin dia ucapkan belumlah mencapai akhir.

.

.

"—untuk memegang rahasia terbesar kehidupan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pesan singkat: Budayakan membaca AN dan sebagainya.

.

.

.

.

.

.


TBC!

TrouBlesome Cut!


Author Note:

Errrrrr—Akwakwakwakwakwakwakwak.

Tidak disangka sampai chapter kemarin lumayan banyak kritik yang masuk. Entah soal Naruto ataupun Madara dkk. Untuk kritik dan Reviewnya ulasannya ada di bawah nanti. Baca yak!

Well. Chapter ini cukup panjang, jumlahnya kurang lebih 12k. Sebenarnya mau dibagi dua, tapi karena beberapa pertimbangan. Dibuat satu saja. Alasan paling besar untuk menghindari sesuatu yang sudah banyak di kolom Review muncul lagi.

Oke, sekarang waktunya mengulas beberapa Review yang beberapanya bikin berpikiri tujuh keliling harus dijawab bagaimana—Akwakwakwakwakwak

...


Ulasan Review:

Yang pertama. Entah kesekian kalinya minta maaf karena Update-nya yang tak menentu dan ngaret. Beberapa mungkin udah tahu alasannya kalau sibuk ngurusin toko dan main Azur Lane ngumpulin Loli—Akwakwakwakwakwak

...

Kedua untuk gedelaba05 Jadi seperti itu pemikiran anda tentang Fanfiction sektor Crossover? Tanpa MC salah satu Seri-nya tak bisa dianggap Crossover? Haduh, haduh. Kau tahu, Review anda sungguh... Bikin ngakak sekaligus bingung.

Lalu, ribuan Fanfiction di Fandom lain yang tak memakai MC serinya harus ditaruh di Fandom apa? Boku no Pico? Tukang Bubur Naik Haji, atau Fandom Ganteng-ganteng Serigala, begitu?

Tahu gak esensi dari Crossover? Kalau nggak, saya jelasin yang saya tau deh... Crossover itu Fandom yang berisakan dua seri berbeda yang digabungkan, bisa juga lebih asalkan porsi dua seri utama lebih banyak dari seri tambahannya. Kalau dari sini udah ngerti... Saya mau tanya sesuatu...

Madara, Hashirama, Vali, Hilda (Fem!Hidan) Tim Vali, Ophis, Jiraiya dan karakter lain yang sudah muncul berasal dari mana?

Lalu... Setting Fanfiction ini adalah Alternative Universe yang mana setting tempatnya adalah DxD Universe.

Jadi, sudah jelas bukan harus ditaruh di Fandom mana Fanfiction ini?

Yakali harus di taruh di Fandom Boku no Pico atau OniChichi. Padahal setting universe, Main Character ataupun Character yang muncul masih di dominasi Naruto Shippuden dan High School DxD.

Cuma itu pertanyaan Author Pinggiran Ampass Eternal Nubi Pengidap Lolicon Akut Kadar Maksimal Tak Tertolong ini untuk Yang Mulia Reader ber-Penname gedelaba05.

...

Ketiga. Si Bocah Sableng Naruto Lucifer. Munculnya masih potongan-potongan. Chapter depan akan jadi yang terakhir untuk bagian Payback ini dan akan beralih ke Bagian kedua sebelum masuk inti Arc Nearest Place from Heaven ini. Jadi, sabar yak buat yang nunggu Naruto. Dia bakalan full tampil buat nentuin nasibnya.

...

Bunuh karakter brengsek—Bukan saya yak— seperti Azazel, Sirzechs dan Michael? Kalem... Jika biasanya Fanfiction Naruto DxD Harem dan Heroin yang bejibun... Maka Fanfiction ini akan seperti The DxD dn beberapa lainnya. Death Character yang bejibun. Sampai disini baru empat. Karin Andrealphus (Karin Uzumaki), Kokabiel, Souji Okita dan Beowulf. Sisanya nyusul...

...

Untuk dua Pemakai Akun Sejuta umat. Poklexz, Guest 02, dan Alix Nostrand disatukan ulasan Reviewnya.

Untuk kesekian kalinya, MC cerita ini bukan cuma Naruto. Ingat, bukan cuma Naruto. Padahal ini sudah disinggung AN berantai di Chapter-chapter kemaren. Apa kalian bertiga gak pernah baca AN-nya? Ah, baca ceritanya saja skip² apalagi AN. Lain kali, bukan hanya di sini. Budayakan baca Author note. Itu pesan Author untuk reader yang membaca ceritanya agar bisa dipahami ataupun diterima perubahan yang dibuar dari Canon.

Mungkin memang cerita ini bertele-tele. Tidak seperti cerita lain yang MC diperkenalkan, Villain muncul, mereka gelud, kelar!

Tapi mau bagaimana lagi, bukan? Konsep cerita ini tak sesimpel yang ada dipikiran kalian bertiga. Plotnya sudah jadi, tinggal dieksekusi saja per Chapternya. Dan beginilah jadinya, bertele-tele tapi tak melenceng jauh dari tujuan utama empat MC-nya. Kalau mau dibikin kelar ceritanya... Gampang sekali! Tinggal ngubah plotnya biar MC cepat-cepat ketemu target mereka dan membunuhnya. Selesai!

Naruto mati ya mati saja? Tahu sebab dan akibat? Contohnya, kalian boker dan tak cebok? Sebabnya tak ada air, akibatnya kalian jadi bau tai. Nah, kurang lebih seperti itu kenapa Naruto dibikin mati. Ada sebabnya, ada juga akibatnya nanti. Salah satu akibat yang mungkin terjadi sudah disebut di atas dn Chapter sebelumnya... Makanya jangan baca skip²! Kadang ada petunjuk yang diselipkan di setiap paragraf.

Melebih-lebihkan DxD Universe. Begini, baca LN DxD yak! Jangan hanya nonton Anime-nya karena kebelet liat Oppai Rias dkk goyang-goyang. Atau baca cerita lain yang plotnya sudah lewat dari Anime DxD Season 4, bukan cuma cerita yang banyak Fanservice macam Lemon, Harem, dll. Baca FF yang lebih mementingkan Plot dan Alurnya.

Dragon Ball? AKWAKWAKWAKWAKWAK

Kenapa pula harus ambil dari seri lain kalau di DxD ataupun Naruto Shippuden banyak tehnik yang bisa dipake? Kembali! Baca LN DxD sana! Jangan hanya karena Sange nonton Anime-nya doang buat liat Oppai goyang-goyang...

Mbah Madara dan Hashirama lemah dan lembek? Padahal di Canon Naruto mereka OP like hell... Lagi dan lagi ini sudah pernah dijelaskan di AN. Begini? Apa pernah di AN cerita ini tertulis Madara sudah sekuat di PD 4 Canon Naruto Shippuden, punya Rinnegan Mokuton dll? Kalau ada, tolong kasih tau chapter berapa.

Dari Chapter satu, Madara di sini itu pas di Canon sebelum Konohagakure berdiri dan akan terus berkembang seiring berjalannya cerita, dan ya perkembangannya beda dari Canon.

Selanjutnya... Begini. Bagi saya Feast DxD itu diatas Naruto Shippuden. Ambil contoh saja... Sirzechs... Cuma ngaktifin True Form saja sudah bikin Underworld yang sangat luas terguncang. Itu Cuma pengaktifan, belum serangannya.

Lalu, Cao Cao... Itu Cao Cao punya kemampuan yang benar-benar Overpower. Lebih lanjut baca saja di Wiki dan itulah alasan buat saya bilang Feast DxD diatas Naruto. Jadi, butuh beberapa penyesuaian buat kedua seri ini imbang. Makanya dikasih Setting Alternative Universe.

...

Dan yaa... Karena mulai chapter depan mungkin mulai masuk Multi-crossover. Saya berusaha seminimal mungkin tak mengurangi porsi DxD dan Naruto Shippuden dibanding Seri lain yang akan diambil untuk melengkapi Plotnya. Toh... Ini Fandom mereka, masa iya pemilik Fandom jatahnya lebih sedikit dari seri yang bukan tempatnya.

Malu lah sama tuan rumah jatahnya sedikit dibanding yang hanya tamu. Latar tempat tersingkirkan, Heroine diambil alih dan lain sebaginya. H3h3

...

Untuk yang ngasih Review Legend. Ini saya sudah lanjut. Dan terima kasih untuk yang mendoakan sehat selalu.

...

Oke, sekian dulu ulasan Review-nya. Jika ada yang tak diulas, saya bukan tak membacanya. Mungkin Chapter depan baru diulas karena ulasan Review Chapter ini sudah sangar panjang.

Dan maaf kalau cerita ini masih jauh dari kata bagus. Namanya juga Author Pinggiran Ampass Eternal Nubi Pengidap Lolicon Akut Kadar Tinggi Stadium Akhir Tak Tertolong.

Dan maaf juga kalau Bacotannya terlalu panjang untuk mengulas kritikan yang masuk. Saya menghargai kritikan kalian karena memang dibutuhkan agar tahu apa dan dimana letak kesalahan cerita ini.

...


Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini out.

Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade setelah bermain-main sebentar dengan Dedek Eldridge, Dedek Laffey, Dedek Ayanami, Dedek Nimi dan Dedek Javelin di Azur Lane.

Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut ini.

—BUKAN PEDO, BGSD!

Ciao~