Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!
.
.
.
[Arc IV: Nearest Place From Heaven]
.
[Chapter 34.0]
[Payback — Lilith Has Down Part I]
(Ketika dunia yang tak tersentuh kehancuran selama ribuan tahun rata dengan tanah hanya dalam semalam)
.
.
.
.
.
.
.
Author Note: Alur Pertempuran/Peperangan ini maju-mundur. Jadi, agar lebih mudah dimengerti. Setiap pergantian Scene akan ada keterangan tempat [—] dan keterangan waktu [#] sebagai penanda.
.
.
.
.
.
—Daerah Hutan, Sebelah Barat Kastill Lucifer
Meliuk-liuk,
Menerjam,
Menerkam,
Silih berganti, seekor naga kayu sepanjang puluhan meter melakukan hal tersebut. Bahkan puluhan penetrasi tombak cahaya dan proyektil demonic powerr sama sekali tak menhentikan sang naga kayu. Bahkan banyaknya serangan balasan tersebut hanya mampu memberi sedikit kehancuran. Jikapun hancur, naga tersebut langsung menukik ke dalam tanah dan entah bagaimana caranya bagian tubuh yang hancur itu meregenerasi lalu kembali membabi buta cari korban.
Area sekitar yang tadinya merupakan tanah lapang di pinggiran hutan telah hancur. Tak terhitung kawah berbagai ukuran berada di mana-mana, cekungan dan parit panjang tak ketinggalan juga tercipta.
"Apa sebenarnya asal kekuatan mereka sampai Yōuki dan Tangeki sama sekali tak berdampak banyak?"
Azazel bergumam sedikit tak percaya. Selama dia hidup, baru kali ini melihat kayu yang begitu kuat. Dia memang tahu itu berasal dari energi bernama chakra, namun asal usul energi itu yang menjadi masalah. Kapan dan bagaimana bisa sekuat ini.
"Tak mungkin chakra lebih tua daripada kita, bukan?!"
"Tak ada yang tahu... kecuali mereka."
Michael menjawab seadanya. Sama halnya Azazel, Malaikat satu ini pun bertanya-tanya hal yang sama. Terlebih dia adalah Malaikat yang ditunjuk menggantikan posisi Sang Ayah ribuan tahun lalu. Sejak saat itu pula Michael terus mengawasi apa yang ditinggalkan Tuhan. Namun selama ribuan tahun mengembang tugas mengawasi manusia, satu ini, manusia yang memiliki energi bernama chakra barang sedikit pun taktterundus olehnya begitupun malaikat lain.
"Tapi tak menutup kemungkinan bahwa chakra ini memang lebih tua dari kita, Azazel."
"Tck!"
Mau tak mau Azazel diikuti Michael harus bermanuver di udara ketika naga kayu merepotkan yang mereka lawan kembali mengincar. Azazel berdecak, dia tadinya ingin membantah ucapan Michael menjadi urung dilakukan.
"Baraqiel!"
Azazel mendesis pelan cahaya terang biru bercampur kekuningan muncul dari langit. Kilatan Holy Thunder turun dan menghantam sang naga hingga mengeluarkan suara raungan, seperti saja memiliki nyawa.
Ketika naga kayu tersebut terhenti sesaat disetrum ribuan volt, Azazel menelenkan kepala menuju pemiliknya. Pada permukaan tanah cukup jauh dari sana, dikelilingi beberapa akar pohon yang bergerak-gerak pelan, Hashirama sama sekali tak tersentuh disana.
"Bisakah kalian menahan naga ini?" Michael, Baraqiel dan iblis-iblis yang terkikis setengah dari jumlah awal hanya mengangguk. "Karena tak mungkin kau yang membunuhnya, Michael. Maka biarkan aku yang meladeni Senju Hashirama."
Azazel berbalik. Garis penglihatan kini tertuju pada Hashirama yang tengah berjongkok dengan tangan menyatu di depan dada. Di sekitar Hashirama ada beberapa akar kayu yang bergerak-gerak seolah miliki pikiran sendiri. Selain itu, ada gulungan besar yang dihiasi banyak tulisan dan simbol tak kenali terbuka di depan Hashirama.
'Fafnir, aku membutuhkan bantuanmu!'
Azazel mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. "Balance Breaker!" sambil mengatakan kata sakti pengguna Sacred Gear, dia melesat ke tempat Hashirama diselubungi aura keemasan.
"Down Fall Dragon Another Armor!"
Dalam balutan zirah emas yang mengambil dasar Balance Breaker [Divine Divinding] ditambah tombak bermata dua, Azazel menukik tajam.
"Itu mirip punya Vali." Hashirama bergumam menyaksikan detik-detik sebelum Azazel mencapai lokasinya tanpa rasa takut sedikitpun. Justru raut wajah waspada yang terpampang setelah melihat kemampuan lain dari seorang Azazel. 'Kecepatannya meningkat drastis. Nggh—Sialan!'
"Aku sebenarnya menyimpan ini untuk Sirzechs jika Madara membutuhkan bantuan, tapi kau sepertinya tak bisa kami abaikan begitu saja, Azazel-dono..."
Dengan kaki kanan, Hashirma menginjak simbol paling besar pada gulungan di depannya. Berbagai macam senjata tajam seketika bermunculan di sekitar Hashirama. Menancapkan pada permukaan tanah ataupun akar-akar.
Secepatnya Hashirama mengambil dua senjata tak bernama lalu diposisikan menyilang tepat sebelum tombak dua mata Azazel menghujam wajah.
Dentingan logam diikuti gelombang kejut tak terelakkan. Hebatnya kekuatan dari benturan dua mantan pemimpin ini sampai menghancurkan tanah di sekitar dan beberapa akar besar Hashirama terlempar cukup jauh.
'Pedangnya tak hancur?!'
Azazel cukup terkejut tusukan tombak yang dibantu kecepatan miliknya hanya berefek pada sekitar. Hashirama cukup dengan dua pedang menyilang berhasil bertahan, hebatnya lagi dua senjata Hashirama masih utuh.
Ketika Hashirama sedikit menurunkan posisi pedangnya, Azazel entah kenapa sedikit merinding pada sekujur tubuh. Dia melihat dengan jelas, Hashirama mengukir senyum kecil.
Azazel segera mencari tahu maksud dari senyum tersebut. Sayangnya, dia sudah terlambat. Delapan akar pohon tembuh dan ujung runcingnya terarah tepat ke Azazel yang tengah tertahan di udara.
'Sejak kapan?!'
"Sejak awal..."
Seperti menebak isi kepala Azazel, Hashirama bergumam demikian. Sejak awal area ini memang sudah berada dalam kendali Hashirama, dengan kata lain, sudah dipersipakan sedemikian rupa untuk melawan musuh yang lebih dari satu. Dibawah tanah ada banyak Mokuton ditumbuhkan namun ditahan posisinya.
'Sejak melawan Toothy-kun, aku sadar bahwa rata-rata mahluk supernatural adalah tipe jarak jauh. Maka dari itu, jika mereka menguasai udara dan jarak, akan kukuasai bawah tanah dan area sekitar... Untung Naruto mau memberi tahu cara kerja salah satu tehniknya itu...'
"Jika memang kau pernah melawan Naruto yang mengeluarkan semua kemampuannya, kau pasti tak asing dengan tehnik ini bukan..."
Permukaan tanah yang sudah tak rata lagi tiba-tiba bergetar hebat. Berbeda dengan getaran yang beberapa saat lalu terjadi, getaran kali ini tak beraturan dan lebih besar.
Azazel melebarkan mata di balik helm zirah Balance Breaker miliknya.
Tak ingin berakhir cepat di tangan Hashirama, Azazel menarik tombaknya lalu berputar sambil mengayunkannya, menghancurkan delapan akar kayu yang mengincarnya tadi sebelum segera terbang menjauh.
"A-apa?!"
Namun, Hashirama tak ingin membiarkan gagak itu kabur ke angkasa. Hashirama tak kalah cepat dari Azazel melempar sembarang pedang di tangan kanan. Dia melompat dan meraih kaki Azazel lalu dihempaskan pada permukaan tanah.
Dentuman keras dan kepulan debu menghiasi tempat Azazel dihempaskan.
"Maaf... Kau yang menginginkan ini..."
Akar-akar berbagai ukuran diamter dan panjang tak terhitung jumlahnya muncul dari bawah tanah. Meluncur ke langit sesaat sebelum menukik tajam ke tempat Azazel. Memberikan tusukan beruntun disana, pada permukaan tanah.
...
.
"... Aah, aku berlebihan... Sekarang, aku harus bilang apa ke Naruto kalau tahu teman baik-nya babak belur, ya? Dia pasti ngoceh gak jelas lagi."
Hashirama hanya bisa pasang wajah bego andalannya.
"... Aah, bodo amat!"
Disela-sela ketegangan yang melanda, Hashirama sempat-sempatnya mengeluarkan sisi bodoh. Namun, tak lama berselang, berdiri di atas salah satu akar pohon yang sengaja dibuat menjadi pijakan aman dari serangan anti-area tadi dia merangkai segel tangan.
.
.
"Senpō: Myōjinmon." (Sage Art: Gate of Great God)
.
.
.
.
.
...
—Bagian Utara Kota Lilith, Dekat Kastil Lucifer
Madara tak menyangka, kekuatan Sirzechs yang diketahui bernama Horobi no Chikara (Power of Destruction) ternyata memiliki dampak serangan yang sama seperti api Naruto dan Kurama.
Beberapa menit berlalu sejak tarian utama melawan Sang Maōu Lucifer dimulai, Madara yang telah mengeluarkan Perfect Susano'o harus dipaksa bertahan. Ukuran Susano'o yang mencapai tinggi puluhan meter membuat perwujudan konversi chakra padat tersebut menjadi sasaran empuk serangan jarak jauh Horobi no Chikara.
Beberapa kali, Madara harus memulihkan bagian tubuh Susano'o yang hancur dihantam kekuatan turunan Bael.
Jika melihat dari sisi lain pertarungan. Madara seperti terdesak Sirzechs. Kenyataannya tak sesederhana itu.
'Iblis ini, cukup waspada tak ingin dekat-dekat. Tak salah memang dia disebut salah satu mahluk terkuat.' Madara tanpa mengalihkan sedikit pandangan dari Sirzechs membatin demikian. Bahkan sejak awal tarian memang Madara menahan diri untuk melakukan serangan balasan. Dia menunggu saat yang tepat. Itu bisa dilihat dari bagaimana Susano'o sama sekali belum menyentuh katana di pinggang.
Sayangnya Sirzechs tak seperti yang Madara perkirakan akan dekat-dekat dengannya. Iblis satu ini malah tak beranjak dari posisi dan hanya mengirim serangan-serangan manja Horobi no Chikara terkompres sempurna hingga sedikit saja melakukan kontak dengan Susano'o, bagian tersebut langsung hancur tak bersisah.
"Hanya itu yang kau punya, iblis?"
Walaupun jarak dari Madara ada ratusan meter, Sirzechs masih bisa mendengar ucapan tadi. Sirzechs pun tahu jika Madara hanya memprovokasi, sayangnya dia tak ingin jatuh ke lubang yang sama seperti di Pertemuan Tiga Fraksi kemarin.
Sirzechs menoleh ke samping kanan, lokasi pertarungan lain yang masih bisa disaksikan walau pertarungan tersebut sudah bergeser ke Timur Laut kota Lilith.
'Diantara semuanya, mungkin Ajuka dan Serafall yang paling kesulitan. Pedang Suci dan [Divine Divinding]. Dua-duanya cukup menyulitkan.'
Agaknya Sirzechs sedikit khawatir pada keduanya. Melawan dua kemampuan yang cukup merepotkan. Pedang Suci yang merupakan kelemahan alami Iblis dan satunya mampu membagi setengah kekuatan seseorang dalam 10 detik lalu menjadi milik sang empunya Sacred Gear. Ajuka dan Serafall berada dalam situasi yang cukup merepotkan.
Sirzechs melempar pandangannya kembali ke Madara. Dia harus cepat menyelesaikan pria gila ini!
"Oh, iya... Aku merasakan banyak sekali energi kehidupan jauh di arah sana."
Sirzechs menyipitkan mata mendengar celotehan santai Madara. Arah yang dimaksud Madara, jari telunjuk pria itu mengarah ke arah tenggara jauh di luar kawasan Kota Lilith.
Bahkan memiliki sensor yang tak kalah hebat?! Sungguh sejauh mana sebenarnya kemampuan yang dimiliki Uchiha Madara ini?!
Sejatinya Madara tidak merasakan, melainkan melihat dengan Eien Mangekyo Sharingan. Seperti yang pernah Madara katakan, mata andalannya itu telah beradaptasi mampu melihat energi selain Chakra pada tubuh seseorang.
"K-kau?"
"Hn, apa? Kau mengatakan sesuatu?"
Madara yang merupakan manusia tak biasa tentu saja tak bisa mendengar ucapan Sirzechs karena terpisah jarak ratusan meter. Sebaliknya, Sirzechs justru mampu mendengar semua yang diucapkan Madara.
"Tidak! Lupakan saja. Mari kita lanjutkan, Uchiha-san!"
Mengarahkan tangan tangan yang terbuka ke Madara, tiga lingkaran sihir berukuran besar tercipta di depan Sirzechs. Tiga lingkaran sihir tersebut berputar cepat dan memuntahkan bergalon-galon Horobi no Chikara yang melesat seperti tornado buatan menuju mahluk biru besar disana.
Agaknya ada satu perkataan Madara yang membuat Sirzechs mau tak mau meningkatkan tempo pertarungan ataupun output kekuatan.
Madara berdecak menyaksikan serangan Sirzechs. Tangan kanan Susano'o mulai bergerak, menuju pinggangnya, menarik satu katana jumbo yang menggantung disana. "Kau tahu, Tikus. Aku sudah bosan dengan semua ini. Kau sendiri tahu serangan-serangan bodohmu ini tak akan berguna... Aku butuh sesuatu untuk memicumu..."
Sirzechs mengerjit tak mengerti dengan gumaman Madara barusan sampai dia melihat tindakan sosok Raja Tengu milik pria itu.
Memegang katana biru besar yang bilahnya terhunus ke langit dengan dua tangan, ketika Horobi no Chikara Sirzechs mengeliminasi jarak puluhan meter, sosok Raja Tengu memberi satu tebasan horizontal dengan kekuatan penuh dan terpusat.
—Yang terjadi selanjutnya adalah petaka bagi Sirzechs maupun Lilith.
Hanya sekali ayunan pedang, kota Liliht mengalami kehancuran yang tak bisa diperkirakan sejauh mana.
Berlindung di balik lingkaran sihir yang dibuat setelah serangan tersebut dimulai, Sirzehcs tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat apa yang terjadi selama beberapa detik sebelum kepulan debu bercampur material menutupi sekitarnya.
—Terlihat dari atas langit oleh seseorang, tebasan Susano'o berefek cahaya biru melintang dari ujung ayunan dimulai hingga berakhir, seperti bulan sabit raksasa yang semakin melesat semakin luas jangkauannya. Efek tebasan itu melesat tak terhentikan oleh apapun, mengekor di belakang adalah guncangan hebat yang diakibatkan oleh permukaan tanah beserta bangunan-bangunan kota Lilith berubah menjadi ombak material padat. Apapun yang dilewati dua itu hanya meninggalkan kepulan debu menutupi seluruh permukaan tanah.
Tak ada yang tahu sejauh mana dataran yang hancur, bahkan Madara sendiri yang merupakan dalangnya.
Di kepala Susano'o, dia menyaksikan maha karya yang baru dibuatnya. Serangan tadi hanya berlangsung beberapa detik namun telah merubah permukaan Mekai sejauh mata memandang di depan Susano'o.
—Yang tadinya merupakan kota indah beserta hamparan pepohonan tak berujung dan beberapa bukit batu, telah berubah total. Kini hanya ada tanah lapang sejauh mata memandang dihiasi bebatuan besar berbagai bentuk dan ukuran tersusun tak beraturan.
Ketika Madara mengganti fokus matanya dari Terraforming yang baru saja dilakukan ke benda melayang sekitar 1km dari tempatnya, dia berdecak.
"Tck!"
Benda itu adalah Sirzehcs yang tengah dilindungi gumpalan Horobi no Chikara. "Dia menggunakan energi penghancurnya sebagai perta—"
Madara tak sempat menyelesaikan ucapan ketika gumpalan merah itu lenyap dan sesuatu melesat cepat dari baliknya, menabrak kepala Susano'o hingga terjatuh kebelakang menimbulkan getaran lain.
Sepertinya Madara sukses memicu sesuatu.
"Bagaimana rasanya?"
Madara bertanya dilengkapi seringai pada orang yang berdiri atas hidung Susano'o. Dia adalah Sirzehcs. Karena posisi Susano'o yang berbaring membuat Madara juga dalam posisi sama di kepalanya, seperti melayang terlentang di kening.
Wajah Sirzechs menggelap ditutupi bayangan poni. Ketika wajah itu bergerak dan terarah ke Madara, mata Sirzechs berkilat terang seperti ada bohlam di baliknya.
"... K-kau—"
"Kutanya sekali lagi... Bagaimana rasanya?"
"Kau takkan kumaafkan, Uchiha Madara!"
Madara memperlebar seringai. "Sayangnya aku tak berniat sedikit pun untuk meminta maaf, Sirzechs Gremory."
Energi merah hitam perlahan-lahan menyelubungi sekujur tubuh Sirzechs. Udara di sekitar ikut bereaksi dengan tiba-tiba terasa sangat berat sampai tubuh besar Susano'o mengeluarkan kepulan debu dari bawahnya.
Madara mengabaikan perubahan-perubahan yang terjadi, dan dengan santainya dia lanjut berceloteh. "Setidaknya sedikit berbahagialah. Kemungkinan ada yang selamat karena kalian memiliki tehnik teleport. Selain itu, sekilas ada lonjakan energi besar, sangat besar tadi. Bukan dari kalian, iblis ataupun malaikat... Itu Tangeki (Divine Power) dari salah satu mahluk lain yang ikut pertemuan tadi. Apa dia seorang Dewa?"
"Hn?"
Madara mengerutkan keningnya kemudian. Sirzechs sama sekali tak merespon, yang ada udara semakin terasa berat dan energi merah hitam di atas hidung Susano'o semakin menggila.
"Kau marah? Setidaknya, jawab pertanyaanku, Iblis... Bagaimana rasanya?"
Sirzechs kembali tak merespon. Sebaliknya, dalam satu hentakan kuat, energi merah hitam itu—Atau Power of Destruction tiba-tiba bertambah massanya dan berefek pada area sekitar. Gedung di sekitar tubuh Susano'o hancur tak berbekas, Susano'o sendiri seperti meleleh dan Madara sedikit terkejut melihat hal tersebut.
'Iblis ini—'
Tak ingin hancur begitu saja. Madara menonaktifkan Eien Mangekyo Sharingan sehingga Susano'o melebur habis menyisahkan Sirzechs dalam kepungan Horobi no Chikara melayang tak jauh darinya yang sudah menapak tanah.
'—Berat sekali... Level kekuatan ini, jangan bilang ini sebesar milik Chibi-chan?' sambil menahan beratnya tekanan udara, Madara memandang energi merah hitam yang semakin tak terkendali menghancurkan apa saja disekitar mereka.
'Hoho, jadi ini yang dikatakan Arthur dan Vali untuk mewaspadai Sirzechs Gremory...'
Tekanan energi dan pemandangan yang terjadi di sekitarnya membuat Madara mengingat percakapan mereka di apartemen sebelum berangkat.
.
...
Arthur mengatakan bahwa Sirzechs diangkat menjadi Maou Lucifer bukan hanya karena kontribusi dalam Perang Saudara silam.
Sirzechs dikatakan memiliki kemampuandan Demonic Power yang telah melewati batas standar dari para iblis terdahulu. Sama halnya Ajuka pemegang gelar Maou Beelzebub ataupun kakek Naruto dan Vali, mereka bertiga dikatakan berada di tingkat Iblis Super.
Selain dari itu, masih ada satu hal yang Arthur katakan. Diluar daripada daftar orang yang ingin dikalahkan ketuanya—Vali, Sirzechs patut dimasukkan dalam 10 Keberadaan Terkuat yang mana termasuk dari 10 selain Sirzechs adalah Chibi-chan, beberapa Dewa Mitologi di dunia dan tentu saja Sang Penjaga Celah Dimensi, Great Red.
Menurut Vali yang mendapatkan informasi ini dari Azazel, Sirzechs memiliki satu kemampuan yang dikembangkan dari penggunaan sempurna Power of Destruction.
True Form Sirzechs Lucifer. Sirzcehs mengkonversi dirinya sendiri ke bentuk Horobi no Chikara yang bisa menghancurkan apapun tergantung keinginan. Dikatakan bahwa ketika dalam bentuk tersebut, Sirzechs mengkompres Horobi no Chikara ke dalam bentuk manusia yang mampu melepaskan Demonic Power sepuluh kali lebih kuat dari Lucifer Orisinil.
.
...
'Hn, semua yang dikatakan Vali benar. Kekuatan iblis ini terasa meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya sampai menyebabkan gempa...'
Seperti yang digumamkan Madara dalam hatinya. Gempa kesekian kalinya kembali melanda Lilith, dan yang ini merupakan terhebat.
Bukan hanya Lilith, gempa akibat pengaktifan True Form Sirzechs ternyata dilanda seluruh Mekai saking besarnya Demonic Power yang dikeluarkan.
Setelah beberapa saat, gempa mulai merada bersamaan dengan sempurnanya bentuk manusia Horobi no Chikara yang melayang tak jauh dari Madara.
"Hitogata ni Ukabiagaru Horobi no Ōra." (Human-Shaped Aura of Destruction)
Samar-samar, Madara mendengar dibalik manusia merah hitam itu ada gumaman kecil.
"Kukira dalam bentuk itu kau tak bisa berbicara, ternyata bisa... Jadi,... Bagaimana rasanya, iblis?"
Mengabaikan kengerian True Form Sirzechs yang sudah tersaji di hadapannya, Madara kembali melayangkan pertanyaan yang sejak tadi belum dijawab Sirzechs. Disertai seringai setan, mengulang kembali namun kali ini lebih rinci,
.
.
"... Bagaimana rasanya kehilangan belasan ribu bangsamu dalam semalam, heh Raja Iblis?!"
.
.
.
.
.
.
.
...
—Di luar kota Lilith arah Tenggara, Underworld.
...
Akeno Himejima perlahan-lahan membuka mata yang terpejam setelah kejadian beberapa saat lalu memaksanya pasrah menerima kematian.
Mengerjap-ngerjap pelan berusaha menjernihkan penglihatan, telinga Akeno mendengar banyak suara rintihan, teriakan minta tolong, tangisan pilu dan lain-lain. Dia menoleh ke kiri dan kanan, melihat walau tak terlalu jelas ada puluhan iblis berada di area tersebut.
"Akeno-senpai..."
Merasa dipanggil seseorang, Akeno menoleh kebelakang. "Yuuto... Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya penasaran. Yang dia ingat hanyalah sebuah kilatan biru besar melewati langit tempatnya berada, setelah itu tak ada lagi yang diingat Akeno.
"Oya oya, kalian sudah sadar."
Akeno dan Yuuto mengalihkan pandangan. Beberapa meter di depan mereka dan puluhan iblis yang tadi ikut dalam pertemuan antara Aliansi dan Petinggi Dewa Nordik, sang Petinggi itu berdiri di sana memegang sebuah tombak aneh.
Mengalihkan pandangan dari Odin, Akeno melihat dinding biru raksasa mengelilingi tempat dia dan para peserta pertemuan berada. Dinding itu terbuat dari air dan membentuk sebuah kubah raksasa dengan mereka berada di dalamnya.
"Odin-sama..." Yuuto memanggil dewa tua itu. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Yare yare, kalian tidak ingat yang terjadi?"
Akeno dan Yuuto mengangguk.
"Yang saya ingat hanya perintah dari Azazel-sensei untuk pergi ke tempat ini bersama yang lain—Tunggu, dimana teman-teman kami?"
"Kami disini, Akeno-senpai..."
Ratu Kelompok Gremory bersama Yuuto menoleh ke sumber suara, disana ada Gasper, Asia, Xenovia dan beberapa iblis muda lain berada di satu tempat. Akeno bernafas lega tak terjadi apa-apa pada mereka.
"Yare yare... Tak ada yang terlukan, kan?" Odin kembali bersuara. Dia menatap semua yang berada di dalam kubah air sambil menggaruk jenggot panjangnya. "Aku hanya sempat melindungi kalian yang berada di tempat ini... Di tempat lain..."
Odin tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya bisa menundukkan kepala sambil berekspresi kehilangan. Mereka yang melihat wajah Odin terbelalak tak percaya.
"Apa yang terjadi Odin-sama?"
"Ja-jangan katakan—"
"Ti-tidak mungkin!"
"Ya, seperti yang kalian pikirkan." Odin merespon pelan, masih menundukkan kepala. "Kalian yang berada di sini beruntung Azazel-boya menyuruhku melindungi kalian... Sisanya, penduduk Lilith yang berada di tempat lain, tak bisa selamat dari serangan tadi."
Odin berbalik, mengetahui kalau dia tak perlu lagi menjelaskan lebih jauh kepada iblis-iblis dalam perlindungannya ini apa yang telah menimpa kota Lilith dan penduduknya. Suasana menjadi riuh, banyak dari para iblis disana mengoceh tak jauh-jauh dari pernyataan tak mempercayai apa yang terjadi, meronta-ronta sambil berteriak tak jelas, menangis dan lain sebagainya.
Aura dalam kubah Odin menjadi begitu suram dan mencekam. Mereka yang bisa menerima berusaha menenangkan yang tak bisa menerima.
Kelompok Rias ditambah Sona berkumpul di satu tempat. Mereka berharap, berdoa—bukan kepada Tuhan, Rias bersama Issei dan Koneko tak ikut menjadi korban. Tidak hanya tiga iblis muda itu, mereka juga berharap kenalan mereka yang lain tak bernasib sama dengan sebagian penduduk Lilith.
Diantara ricuhnya keadaan, Odin kembali bergumam. Beberapa memilih mendengarkan,
"Sebaiknya kalian tetap disini. Keadaan diluar masih berbahaya untuk kalian ikut campur. Aku sama sekali tak tahu,... Mahluk apa yang telah pemimpin kalian bangunkan kemarahannya sampai melakukan ini..."
...
—Dan seolah merespon ucapan Odin tentang kondisi diluar masih berbahaya, gempa hebat efek dari pelepasan True Form Sirzechs kembali mengguncang Dunia Bawah.
.
.
.
.
.
.
.
...
—Bagian Timur Laut Kota Lilith.
"Vali, kau yakin Madara bisa melawan Maou Lucifer?"
Arthur yang tengah melayang berkat bantuan sihir adiknya, Le Fay menoleh ke sosok berbalut armor perak di samping kanannya yang beberapa saat lalu datang-datang langsung main tabrak tanah bersama Serafall Leviathan.
Arthur akui, cara datang ketuanya tadi cukup mengagumkan dengan belum ada beberapa detik ikut serta dalam pertempuran sudah memberi luka pada Maou Leviathan walau itu hanya goresan kecil saja.
Akibat dari kedatangan spektakuler Vali tadi, menyeret Ajuka ikut menjadi lawan mereka.
"Daripada khawatir padanya, lebih baik kau khawatirkan dua Maou lawan kita, Arthur."
"Kau benar." Arthur memutar-mutar pedang Caliburn di tangan kirinya sembari memperhatikan Serafall dan Ajuka yang sudah terlihat setelah penampakannya tengah melayang di atas kepulan debu bekas serangan Vali. "Ngomong-ngomong... Kau telat, Vali. Lihat itu, Goggmagog sampai jadi korban gara-gara kau terlalu lama. Le Fay pasti marah-marah lagi..."
Vali melirik ke arah yang ditunjuk ibu jari kanan Arthur. Monster batu raksasa tengah dihimpit dua bongkahan es. Dia mendengus dan mengarahkan tangan kanan ke sana. Lingkaran sihir muncul, dua bongkahan es tersebut seketika hancur dihujam petir biru dari lingkaran sihir dekat tangan Vali.
"Kembalilah, tugasmu selesai!"
"Grooooooooh!"
Merespon dengan lolongan berat, Goggmagog pun hilang ditelan lingkaran sihir emas.
"Mencarinya mudah, apalagi disana sedang kosong karena pertemuan ini. Hanya saja, Dia terlalu cerewet dan seperti biasa... Membuatku kesal dan malu. Butuh waktu sampai dia paham dan mau membantu."
"Sudah kuduga." Arthur tersenyum aneh dengan keringat di kening menerima keluhan Vali yang terdengar agak kesal. "Setidaknya dia mau membantu, kan? Itu berita bagus."
"Itu belum bisa dibilang kabar bagus sebelum perkataan orang itu terbukti."
"Hmn, benar... Jadi sekarang kita tinggal menunggu, bukan?"
Vali mengangguk singkat. Lalu secara bersamaan dia dan Arthur memandang ke depan, ke tempat lawan mereka sekarang.
...
Sementara Arthur dan Vali berbicara, Ajuka dan Serafall juga tengah melakukan percakapan serius mengenai penduduk Lilith.
"Jadi, sembilan puluh persen penduduk sudah di tempat aman?"
"Ya. Setelah sisanya bergabung, maka segera lenyapkan mereka semua. Itu perintah Sirzechs."
"Bagaimana dengan Lilith-tan? Lawan kita itu kuat, Ajuka-tan. Gak mungkin Lilith-tan bisa bertahan kalau mau melenyapkan mereka." Dengan suara khas anak-anaknya seperti biasa, Serafall berusaha mencari tahu apa yang diinginkan Sirzechs. "Melawan Pengguna Seiken dan monster itu—Eh, DIA KABUR! WAAAH—"
Ketika hendak menunjuk Goggmagog dan mengeluhkan sesuatu, monster yang di-summom Le Fay sudah menghilang ditelan lingkaran sihir emas. Menghilangnya Goggmagog seketika membuat Serafall menghentak-hentakkan kaki di udara sambil berceloteh kesal.
"—Jangan kabur kau monster batu jelek! Maou Shoujo Levia-tan belum memberimu hukuman sudah merusak Lilith-tan!"
Seketika Ajuka sweatdrop di samping Serafall sambil menutup telinga karena suara Maou perempuan ini cukup melengking. 'Aah, aku masih heran kenapa mahluk satu ini bisa menang melawan Grayfia.'
"Sudahlah. Biarkan saja mahluk tadi. Kau sendiri sudah tahu kalau mahluk tadi hanya pengalihan untuk memecah fokus kita. Sejauh ini rencana mereka berjalan mulus kecuali Azazel bersamaa Baraqiel-san dan Michael-san dikirim melawan orang bernama Hashirama itu. Kita berhasil dipecah menjadi beberapa kelompok. Mereka sudah melakukan kesalahan dengan memilih bertarung satu lawan satu—"
"Kesalahan? Jangan membuatku tertawa."
Ajuka berhenti. Vali tiba-tiba memotong penjelasannya pada Serafall yang agaknya sulit memahami strategi yang dia buat untuk keluar sebagai pemenang malam ini.
"Rencananya memang satu lawan satu kecuali Hashirama. Dia sendiri yang bilang akan berurusan dengan Michael dan Azazel walau harus ditambah Baraqiel. Lihatlah situasinya, apa kalian belum sadar pemisahannya? Kecuali kau—" Vali menujuk Ajuka yang seketika memberi tatapan ingin tahu. "—Pemisahannya benar-benar sempurna. Terima kasih sudah membantu rencana kami."
Ajuka awalnya sedikit bingung dengan maksud dari sempurna dikatakan Vali. Dengan cepat dia mulai memikirkan semuanya, termasuk informasi dari Tannin yang merasakan lonjakan energi Sekiryūtei di utara Kastil Lucifer, dan disana ada juga Rias dan Koneko.
'Rias dan Sekiryūtei. Azazel dan Michael-san di barat kastil melawan Senju Hashirama. Dalam kastil Grayfia kemungkinan dibantu Okita yang belum muncul juga bersama Beowulf menahan gadis bernama Hilda. Sirzechs di kota menanggapi undangan Madara... Terakhir disini, aku dan Serafall bersama Hakuryūkō...'
Satu per satu pemisahan Ajuka sebutkan. Masing-masing orang baginya tak dibagi berdasarkan kekuatan tempur, bahkan pembagian darinya sebagai peramu taktik dirasa paling efektif mengingat yang Azazel rasa paling patut diwaspadai adalah Hashirama dan Madara. Keduanya sudah ditahan orang yang tepat. Azazel bersama Michael, ditambah Baraqiel karena keinginan sendiri sudah dirasa cukup menahan Hashirama. Dan Sirzechs sejauh ini berhasil menahan Madara yang secara mengejutkan mampu memanggil mahluk setinggi puluhan meter disana.
Ya, tak ada salah dengan pembagian ini. Tapi mengapa Vali mengatakan ini sempurna?
'—Tunggu!'
Ajuka akhirnya mendapatkan satu hal setelah berpikir jauh kebelakang. Dari pemisahan ini, masing-masing memiliki satu kesamaan.
...Disetiap kelompok, ada satu atau dua orang yang merupakan peserta Konferensi Tiga Fraksi tempo hari.
'Jadi itu yang dia sebut sempurna.' Ajuka tersenyum tipis dan sedikit merasa bodoh tak cepat menyadarinya. 'Kepercayaan diri mereka benar-benar tinggi sampai yakin bisa mengalahkan kami semua.'
"Kau sudah selesai?"
Suara Vali menarik kesadaran Ajuka yang sedari tadi fokus berpikir. Ajuka lalu memandang dua pemuda itu masih dengan senyum tipis yang tak lepas dari wajahnya.
"Balas dendam, yaa?" Ajuka bergumam pelan, sangat pelan menarik kesimpulan tujuan dari penyerangan mendadak ini. "Ada yang membuatku penasaran, Hakuryūkō."
"Apa itu?"
"Aku penasaran. Apa yang membuat kalian sangat percaya diri mampu mengalahkan kami semua di tempat berbeda?" itu pertanyaan Ajuka, namun dia belum selesai. Masih ada yang mengganjal di kepalanya. "Kuakui, siapapun yang menyusun rencana ini pasti sangat percaya pada kekuatan kalian sampai seberani ini mengambil keputusan."
Vali menyeringai di balik zirah helm-nya. "Tak ada yang mengatakan kami ingin menang atau membunuh—belum ingin tepatnya."
"Huh?"
"Ini hanya pengisi waktu kosong. Daripada diam menunggu, setidaknya kami bisa melampiaskan apa yang aku—tidak! Beberapa dari kami rasakan—Begitulah."
"Melampiaskan?"
"Sudahlah. Kalian mungkin tak mengerti. Bisa kita mulai saja? Tanganku sudah sangat gatal sejak tadi ingin menghajar iblis Sitri disana itu..."
"Siapa yang kau panggil 'Iblis Sitri'? Aku—Maou Shoujo Levia-tan! Ingat itu baik-baik!" Serafall tiba-tiba berseru, kesal atas panggilan dan pernyataan Vali tadi. "Dan, hey?! Seharusnya aku yang bilang begitu sudah merusak Lilith-tan..."
Selesai mengatakan itu, Serafall melakukan gerakan-gerakan khas seorang penyihir di udara, puluhan lingkaran sihir Iblis Sitri bermunculan di area tersebut mengepung Vali dan Arthur.
Keduanya langsung bersiaga.
"Kusokurae! Mahou Shoujo Levia-tan Hissatsu Mahou!" (Eat this! Magical Girl Levia-tan Secret Magic)
Hujan tombak es memaksa Vali dan Arthur melakukan tindakan cepat. Vali meliuk-liuk di udara meninggalkan jejak cahaya perak, sementara Arthur mengambil langkah simpel dengan satu kali ayunan Caliburn menciptakan robekan dimensi dan menghisap semua tombak es yang mengarah ke dirinya.
Setelah berhasil lolos dari serangan beruntun Serafall, Vali melakukan serangan balik. Dia melesat menuju Ajuka dan Serafall, yang sedikit terkejut tambah kesal (Pura pura kesal serangan pamungkas Maou Shoujo).
"Serafall, jangan sampai dia menyentuhmu. Itu akan jadi masalah besar." Ajuka memperingatkan tanpa mengalihkan pandangan dari Vali yang meliuk-liuk di udara. Dia berusaha menjebak sang Hakuryūkō dan mengirimnya ke tempat lain seperti yang dilakukan pada Dewa Jahat Loki. Sayangnya itu tak semudah yang diperkirakan. Setiap lingkaran sihir tercipta di udara, selalu dihindari dan dijauhi oleh Vali.
Ketika Ajuka terpaku pada pergerakan Vali, keberadaan Arthur sebagai orang kedua sedikit terlupakan.
Arthur, yang satu-satunya tak bisa terbang dan hanya mengandalkan sihir adiknya memilih untuk mengambil area bawah. Melompat dari sisa gedung ke gedung lain, dia mencoba mengikis jarak untuk melancarkan satu serangan.
"Caliburn, aku serahkan padamu!" Arthur berhenti di atas gedung tertinggi di area tersebut. Dia memegangi gagang pedang sucinya dengan dua tangan dan merapalkan sesuatu.
"Valii. Menjauh dari mereka!"
Bergalon-galon energi suci dalam bentuk laser putih panjang Arthur lepaskan hanya dengan sekali tebasan kosong Caliburn. Serangan tersebut bersifat anti-area karena cakupannya yang luas dan terarah ke Serafall dan Ajuka, bahkan Vali masuk dalam hitungan target.
Ketiga iblis diatas langit segera menjauh dari jangkauan laser. Serafall dan Ajuka terbang mundur beberapa puluh meter, sedangkan Vali menukik ke bawah mengincar jalur yang dilalui serangan Arthur.
"... Berhasil. Sekarang giliranmu!" Arthur bergumam
Teralihkan oleh laser putih bikin ngeri kulit tersebut, Serafall dan Ajuka kehilangan jejak Vali. Mereka yang telah lolos dari energi suci Arthur, sambil melayang mencari-cari Vali baik itu pancaran kekuatan yang dialihkan serangan Caliburn ataupun secara visual.
"Serafall, dibawahmu!"
Seruan Ajuka direspon cepat Serafall.
Mata Serafall langsung tertuju pada sosok Vali yang terbang dengan kecepatan tinggi diantara gedung-gedung. Vali meliuk-liuk lincah sebelum akhirnya menghilang dalam satu kali lesatan dan muncul tepat di hadapan Serafall dengan tangan kanan terkepal lalu ditarik kebelakang siap melancarkan pukulan.
"Owari da!"
"Tidak semudah itu!"
Satu lingkaran sihir muncul pada sebuah gedung di bawah Serafall dan Vali. Balok es mencuat keluar dari sana.
"Vali, disampingmu!"
"Tck!"
Vali mengubah postur tubuh dari hendak menyerang ke bertahan. Dia menyilangkan tangan di sisi kepala telat sebelum dentingan keras berbunyi karena zirahnya ditabrak es padat dari arah kiri.
Hal selanjutnya dirasakan Vali adalah tubuhnya melayang bebas, menabrak beberapa bangunan dan berakhir di permukaan keras beton jalan setapak kota Lilith.
Meluncur dari balik kepulan debu dan melayang diatasnya dengan sayap mekanik di punggung bersinar terang, dibalik helm-nya tersungging seringai.
"Seperti yang kuperkirakan. Melawan dua Maou memang tak main-main... Tapi, disitulah menariknya!" seruan maniak Vali menggema di area tersebut. Darahnya mulai mendidih, jarang-jarang bisa merasakan gejolak seperti ini dari lawannya. "Mundurlah, Arthur! Mereka bagianku. Ini benar-benar menarik."
"Yaaah,..." Arthur menunduk dan memegangi kepalanya. "Maniaknya kambuh lagi..." keluhnya pasrah pada keadaan.
Arthur segera menjauh dari area sesuai permintaan sang ketua. Dia mencari tempat yang aman untuk mengawasi apabila nanti Vali membutuhkan bantuannya.
Tak lama mencari Arthur menemukan satu gedung yang agak tinggi, berjarak beberapa blok dari area pertarungan Vali tanpa ada penghalang. Sampai di puncak gedung tersebut, matanya langsung tertuju dua Raja Iblis yang telah mengundang nafsu bertarung Vali.
Mereka berdua, nampak tengah membicarakan sesuatu. Kemungkinan rencana lain untuk lepas dari situasi malam ini.
...
"Bagaimana rasanya dipukul Maou Shoujo, hmm? Sakit kan?"
Ajuka kembali sweatdrop melihat tingkah Serafall. 'Padahal tadi hampir saja. Kekhawatiranku sia-sia,... Bagaimana pun, dia tetap salah satu iblis terkuat Mekai.'
Lingkaran sihir kecil muncul dekat telinga Ajuka, membuat dia terpaksa mengabaikan Serafall yang masih bergaya entah apa itu di samping kanannya.
[Beelzebub-sama!]
"Ya,... Apa semuanya sudah selesai?"
[Seluruh penduduk telah berada di tempat yang anda sebut, siap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Kami tinggal menunggu perintah anda]
Sekarang Ajuka merasa bahwa pilihan untuk ikut dalam pertempuran adalah salah. Seharusnya dia mengurusi para penduduk, bukannya melemparnya ke Iblis-Iblis kelas atas yang setidaknya sudah menguasai sihir teleport. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan tanpa bantuanku?"
[Sekitar dua menit, Beelzebub-sama. Kami perlu memusatkan semua sihir kami untuk mengirim semua iblis disini yang jumlahnya belasan ribu]
"Dua menit?"
Ajuka tak percaya. 2 menit tersebut masih terbilang lama untuk situasi sekarang, walau semua penyerang sudah ditahan di beberapa tempat. Memindahkan penduduk sekali transfer adalah jalan paling bijak untuj menghemat waktu dan sihir. Jika memindahkan secara bertahap di beberapa tempat, itu akan memakan waktu dan sihir tak sedikit. Sekaligus beresiko tinggi akan diserang sebelum terkirim.
Itulah kenapa Ajuka lebih memilih mengumpulkan penduduk di satu tempat kemudian dikirim sekaligus, namun jika tanpa bantuannya membutuhkan waktu dua menit.
Dalam kurung waktu tersebut, hal yang diluar perkiraan Ajuka masih bisa terjadi. Dan firasat Ajuka mengatakan ini bahkan masih jauh untuk dikatakan sebagai akhir peperangan.
'Ini akan jadi malam yang panjang.'
"Baiklah. Lakukan yang harus kalian lakukan. Aku akan segera ke sana."
[Baik, Beelzebub-sama!]
"Oiy, Serafall."
"Hmmpt, apa?"
Mengabaikan respon Maou Leviathan yang nampak kesal kegiatannya diganggu, Ajuka memberi satu tatapan serius.
"Bisakah kau menahan—Tidak! Mengurusi Hakuryūkō dan pengguna Seiken ini sendirian?"
"Heh, apa?"
"Waktunya sedikit, jadi kujelaskan singkat saja... Aku takut mereka menyerang kita malam ini tidak hanya untuk melakukan yang dikatakan Hakuryūkō saja. Bukan sebuah kebetulan kita bertiga—Para Maou dipancing keluar dari kastil menuju Lilith menggunakan monster batu tadi. Belum lagi ketika Sirzechs meninggalkan Kastil, mereka bergerak serentak menarik Azazel, Michael-san dan Grayfia ke tempat berbeda dan menahan mereka untuk tidak ke sini membantu kita bertiga…"
"Hmnn, hmmm..." entah mengerti atau tidak, Serafall hanya mengangguk-angguk saja.
"...setelah mencapai lokasi Sirzechs yang berada di kota Lilith, Madara itu tanpa ragu memanggil mahluk yang lebih besar—"
Ketika penjelasan Ajuka mencapai tahap itu, mata Serafall melebar. "—Dia ingin bertarung dengan Sirzechs sekaligus menghancurkan Lilith-tan!"
Ajuka memberi satu anggukan pembenaran. "Tidak hanya menghancurkan, kemungkinan besar dia juga ingin membantai penduduk." Itulah yang diprediksikan Ajuka sampai sejauh ini. "Maka dari, setelah mereka muncul Azazel dan Grayfia kusuruh mengikuti keinginan mereka membiarkan Madara tetap sendirian disamping mengerahkan semua pasukan kita mengungsikan para penduduk dan akan mengirimnya ke tempat yang lebih aman jauh dari Lilith menggunakan sihir teleport berskala sangat besar."
"Muumuuhmuu—" Serafall mengeluarkan suara aneh dengan kening mengkerut. "Terlalu bertele-tele Ajuka-tan. Katakan saja cepat apa yang Maou Shoujo Levia-tan harus lakukan!"
Ajuka menghela nafas dan menampakkan wajah 'Sudah kuduga' disana. Seperti biasa, Serafall pasti yang jadi orang terakhir mengerti sebuah rencana, entah yang Ajuka susun ataupun orang lain. Entah pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti, Serafall tak akan pernah berubah di mata Ajuka.
"Baiklah, baiklah. Tugasmu kalahkan dua orang ini dan segera bantu Sirzechs setelahnya. Aku akan segera menyusul setelah mengirim penduduk Lilith ke Ag—"
Penjelasan Ajuka tak sempat diselesaikan, begitupun strategi dan rencana yang disusun tak akan berhasil. Untuk pertama kalinya dalam hidup Ajuka, kejeniusannya dalam memprediksi kejadian besar akan terjadi mengalami kegagalan.
Langit malam kota Lilith tiba-tiba diterangi cahaya biru yang berpusat pada lokasi mahluk besar Madara dan terus menjauh. Berasal dari objek menyerupai bulan sabit yang baru saja muncul di cakrawala.
Menyusul objek tersebut adalah gempa hebat yang memaksa Ajuka dan Serafall menambah ketinggian untuk melihat apa yang terjadi.
—Dan ketika melihat secara jelas yang terjadi. Dua Maou ini tak bisa menahan perasaan mereka untuk tak terkejut. Di depan mata mereka, kehancuran Lilith dan daerah sekitarnya tak terelakkan oleh objek selain bulan sabit tadi.
Hempasan angin bergejolak hebat menerbangkan apapun yang dilalui. Jika bertahan dari angin barusan, giliran dataran yang seolah-olah berubah menjadi lautan mengurusi sisanya.
Dataran yang begitu keras Dunia Bawah berubah menjadi permukaan air berombak. Seperti ada energi tak kasat mata yang mendorong, mengekor di belakang cahaya biru dan hembusan angin tadi, permukaan tanah berubah menjadi gulungan ombak setinggi puluhan meter menghempaskan apapun. Bahkan gunung batu yang berjuta-juta ton beratnya tak luput dihancurkan dan dihempaskan.
Terlalu terpaku pada serangan penghancur berskala antar benua itu membuat Ajuka sempat lupa pada satu hal paling penting.
"I-ini..."
Kepalanya bergerak ke kiri dari kota Lilith yang terkena dampak hingga ke arah tenggara.
"—Tak mungkin!"
Mata Ajuka melebar sempurna ketika tertuju pada satu titik di arah tenggara sana. Kejadian seperti ini memang sudah pernah dialami olehnya di Perang Saudara ataupun Great War ribuan tahun lalu. Namun, itu terjadi ketika statusnya masih iblis biasa.
"Ke-kenapa bisa seperti ini? Ini—"
"Hey, Ajuka. Kau kenapa?" Serafall jadi panik sendiri karena melihat Ajuka yang tak seperti biasa. Tubuh pria itu bergetar hebat. "Serangan ini memang sangat besar, tapi Sirzechs bisa melakukan lebih dari ini!"
Rasa sakit yang bercampur aduk dengan rasa bersalah dan ketidakmampuan menggerogoti hati Ajuka. "Serafall, apa sebenarnya tugas dari seorang Maōu?"
"Huh, apa? Kenapa kau menanyakan itu sekarang?"
"Di awal, setelah memenangkan Perang Saudara, aku mencalonkan diri dan diangkat menjadi Maōu hanya sekedar mengikuti Sirzechs..."
Dengan kepala tertunduk, Ajuka mulai berbicara sendiri. "...Namun, lambat laun aku mulai serius menjalankan tugasku sebagai Maōu selain menekuni hobi meneliti sesuatu, tidak hanya karena Sirzechs melakukannya dengan serius, itu karena aku mulai menyukai pekerjaan ini... Ta-tapi—"
"Kau kenapa sih, Ajuka? Hey, kau menakut-nakutiku tau..."
Masih dengan kepala tertunduk, Ajuka mengarahkan telunjuk tangan kanannya pada satu titik yang masuk dalam ruang lingkup kehancuran karean disapu serangan Madara. "Disana... Seluruh penduduk Lilith yang berkumpul disana agar bisa dipindahkan ke Agares..."
Sedikit demi sedikit Serafall mulai paham maksud Ajuka. Tubuhnya menegang, "Tidak mungkin! Jangan-jangan mereka—"
Serafall tak melanjutkan, takut bila tebakannya benar. Ketika Ajuka hanya memberi satu anggukan lemah, Serafall tak kuasa menahan tangan kanan yang bergerak secara alami menutup mulutnya. Sama halnya Ajuka, perasaan yang sama juga telah berjegolak dalam diri Serafall.
"Kau benar! Ribuan penduduk Lilith tewas disapu serangan tadi. Bawahanku juga tak merespon panggilan sihir komunikasi. Ini diluar yang terpikirkan olehku, orang itu—"
Ketika dia mulai serius dalam mengembang tugasnya sebagai Maōu, seperti beberapa saat lalu mengambil tindakan cepat mencegah kejadian yang di prediksi akan terjadi.
Sayangnya,...
Prediksinya melenceng jauh, sangat jauh! Diluar semua yang prediksi dan berusaha mencegahnya. Yaitu: jatuhnya korban jiwa tak bersalah penduduk Lilith, Madara malah mematahkan semua itu hanya dengan satu serangan berskala antar-negara bahkan benua.
Belasan ribu penduduk Lilith baru saja tewas,...
Perlahan rasa sakit, kehilangan dan ketidakmampuan mulai menghilang ditelan amarah yang tak dapat ditahan lagi dalam tubuh Ajuka.
Kepala Ajuka kembali bergerak, ekspresinya juga berubah. Lekuk wajah mengeras, gigi terkatup rapat, mata yang berkilat tajam menuju satu titik. Titik di tempat Power of Destruction sahabatnya bergemuruh hingga ke langit malam.
'Sirzechs... Nyawa ribuan bangsa kita baru saja dia renggut. Aku tak mengampunimu jika tak membunuh orang itu...!'
Seolah merespon amarah Ajuka, dan mungkin juga Serafall. Dunia Bawah, tanah mereka, tanah yang baru saja dihancurkan dan direnggut penduduknya, mengalami guncangan hebat melebihi yang pertama tadi efek dari aktifnya True Form Iblis terkuat di Dunia Bawah.
Tidak hanya bertaruh pada Sirzechs, Ajuka juga ingin yang lain melakukan hal sama pada lawannya. Dia langsung menghubungi Azazel dan Grayfia.
Dia telah gagal dalam menjalankan tugas, namun sekarang dia memiliki tugas lain dan tak peduli apapun, itu harus terselesaikan!
[...] [...]
"Penjelasan apa yang terjadi nanti saja... Yang terpenting sekarang adalah,... Bunuh mereka semua!"
Entah apa yang akan dilakukan kelompok Madara. Kini mereka harus menahan amarah 3 Raja Iblis!
.
.
.
.
.
.
.
—Bagian Utara Lilith, dekat Kastil Lucifer [Lokasi Madara]
...
Madara menatap lekat-lekat mahluk yang melayang tak jauh di hadapannya. Setelah beberapa lama mengalami pembentukan, mahluk tersebut kini hampir dikatakan sempurna dalam wujud manusia terlubungi Power of Destruction yang se melepas energi itu ke sembarang arah dan menghancurkannya.
Memberi sedikit pasukan chakra ke matanya, Sharingan berkendut kecil.
Apa yang terjadi selanjutnya setelah melihat tubuh berbalut Power of Destruction Sirzechs memaksa Madara sedikit melebarkan mata.
"Benar-benar Yōuki yang sangat besar,...dan kontrol yang hampir sempurna. Ini sudah melebihi semua yang pernah kulihat..."
Komentar Madara direspon Sirzechs. Dari tubuh sang Maōu meluncur Power of Destruction yang tak sedikit jumlahnya. Madara melompat jauh dari area tersebut dan mendarat pada tumbukan besi dan beton. Dari sana dia melihat area yang baru saja Sirzechs serang, area yang sebelumnya penuh reruntuhan sudah jadi lubang kosong tak berdasar.
'Sekali terkena benda itu, berakhir sudah...'
Serangan selanjutnya datang, dan kini bukan hanya satu, namun banyak. Madara tak mau mengambil resiko dan mulai menghindari satu demi satu serangan Sirzechs.
Itu berlangsung beberapa menit,
Sirzechs tanpa bergerak seinci pun, melancarkan serangan terus menerus dari tubuhnya. Entah itu proyektil kecil Power of Destruction, ataupun berbentuk aliran energi bermassa tak sedikit.
Cukup dengan keinginannya saja, Power of Destruction di sekitar tubuh Sirzechs langsung merespon seolah-olah itu adalah kesadaran kedua dari Sang Maōu untuk menghancurkan apapun.
Sedangkan Madara hanya mengambil tindakan menghindar. Kecepatan dan kelincahan yang sudah dilatih sejak kecil benar-benar menguntungkan Madara, ditambah penglihatan Sharingan yang memperlambat serangan lawan beberapa detik semakin menambah efisiensi gerakan menghindar Madara.
Sudah tak terhitung jumlahnya benda yang berada di sekitar Madara sebelumnya—entah itu bangunan, tumbuhan atau properti, hilang tak berbekas meninggalkan lubang berbagai ukuran.
Madara tak menetap lama di satu tempat. Belum beberapa detik berada di satu tempat, dia langsung pergi ke tempat lain sebelum hancur.
Dan pergerakan Madara selama menghindari serangan demi serangan Sirzechs bahkan telah membuatnya tanpa sadar telah menjauh dari sosok merah hitam itu.
—Ini sontak membuat Madara kesal sendiri,
'Ah, mou! Ini semakin menyebalkan! Sampai kapan aku harus menghindar terus. Saatnya mencoba sesuatu melawan iblis merah ini!'
Setelah Madara mendarat pada dinding bangunan dalam posisi menyamping, dia membentuk segel tangan tunggal sembari matanya mencari sebuah lokasi yang tepat.
Ketikamelakukanperpindahan, Sharingan melirik sebuah bangunan lalu berpindah ke lokasi Sirzechs yang berada sekitar 200 meter di arah tenggara.
'Disana—'
Madara mendarat pada sebuah bangunan model jaman abad pertengahan, dan tak lama kemudian dihujani proyektil Power of Destruction hingga menciptakan ledakan beruntun dan kepulan debu.
Memanfaatkan kepulan debu tadi, Madara melompat keluar dari sisi yang tak terlihat oleh Sirzechs. Berlari lurus sejauh 50 meter ke depan adalah sebuah gedung besar yang lolos dari kehancuran, yang sebelumnya dia lihat ketika mengudara dan gedung itu memiliki tinggi melebihi posisi melayang Sirzechs.
Disanalah Madara melakukan sesuatu yang ingin dicoba.
"Hmn, mau kabur rupanya." Sirzechs bergumam setelah Madara berhasil lolos darinya untuk sesaat. Penglihatannya memang tak mendapati Madara, namun dia bisa merasakan keberadaan Madara dibalik kepulan debu disana. "Berbeda dengan Naruto yang punya api setara tingkatannya dengan Horobi no Chikara, kau yang hanya memiliki chakra tinggal menghitung waktu saja akan mati, Uchiha Madara!"
Belasan aliran Power of Destruction Sirzechs keluarkan. Aliran tersebut bertambah besar sebelum menghancurkan beberapa blok kota Lilith lokasi Madara tadi.
Mata Sirzechs berfokus pada kepulan debu bekas serangan besarnya. Itu mengepul cukup tinggi di depan sebuah gedung tinggi yang hampir roboh tanah di sekitarnya telah tiada.
Baru saja Sirzechs ingin berpikir Madara mungkin telah tewas disana, sebuah suara menyerukan sesuatu menggema dari balik gedung tinggi tersebut.
"Katon: Gōenka." (Fire Release: Great Flame Flower)
Bola api tak terhitung jumlahnya melesat dari balik gedung di setiap sisinya kecuali bawah lalu berbelok serentak ke lokasi Sirzechs, menciptakan suara seperti ratusan misil diluncurkan.
Sirzechs terpaku pada misil-misil bola api tersebut. Dari tubuh True Form miliknya keluar aliran Power of Destruction yang sama tak terhitungnya.
Banyak sekali ledakan yang terjadi di atas langit Lilith ketika dua serangan berjumlah banyak itu saling bertabrakan.
Beberapa bola api berhasil lolos dan mengenai tubuh True Form Sirzechs, namun itu tak memberi luka berarti. Sirzechs hanya terdorong ke belakang karena efek ledakan.
"Sekarang bagaimana?" Sirzechs bergumam ambigu tak bisa melihat ke sekitar karena kepulsan asap hitam hasil benturan serangan tadi. Menajamkan sensor yang dimiliki, tahu-tahu Sirzechs merasakan kekuatan besar terbang ke arahnya.
Dari asap hitam yang mengepul di atas kota Lilith, di hadapan Sirzechs, sesuatu yang besar muncul dari baliknya.
"Jangan memaksakan keberuntunganmu, Iblis!"
Madara muncul dengan Perfect Susano'o yang melompat tanpa peduli ukuran. Sosok Raja Tengu melompat dengan katana yang terhunus ke atas.
'Aku sebenarnya tak ingin memakai ini, tapi karena level chakra-ku yang sekarang berada jauh di bawahnya... Apa boleh buat. Kali ini saja,...!'
Bilah Katana Raja Tengu yang awalnya berwarna biru terang meredup dan perlahan-lahan berubah menjadi agak gelap.
Sambil memberi perintah batin untuk Susano'o melancarkan serangan, Madara berteriak kesetanan,
"Kepercayaan dirimu pada kekuatan Horobi—sialan apalah namanya itu sampai hanya diam dan menyerang jarak jauh seperti banci, membuatku benar-benar kesal!"
Dibalik wujud True Form, mata Sirzechs sedikit melebar menyaksikan bilah besar yang telah merenggut nyawa belasan ribu penduduk Lilith terayun vertikal ke arahnya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya terpancar dari pedang tersebut,
—Dan selanjutnya yang terjadi ketika Power Of Destruction bertabrakan dengan bilah Katana Susano'o adalah ledakan melebihi kekuatan bom nuklir.
Diawali suara dentingan yang menggema di penjuru kota, sinar merah hitam dan biru gelap kemudian membumbung tinggi ke langit malam hingga menjadi cerah, dan diakhiri ledakan melebihi kekuatan bom nuklir yang menelan keseluruhan wilayah utara Lilith.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue to Part II Lilith Has Down!
Author Note:
Penjelasan tempat-tempat kejadian/Pertarungan:
Sirzechs vs Madara [Di kota Lilith bagian utara dekat kastil Lucifer]
Vali vs Ajuka Serafall [Pinggiran Kota Lilith yang tak disapu serangan Madada, Bagian Timur Laut]
Hilda vs Grayfia [Dalam reruntuhan Kastil Lucifer]
Hashirama vs Azazel Baraqiel Michael [Hutan sebelah barat Kastil Lucifer]
Sisa kelompok Gremory + Odin + Tamu Pertemuan [Diluar kota Lilith arah Tenggara tak jauh lokasi penduduk yang disapu rata Madara]
Bagian Kota Lilith yang tak kena dampak serangan Madara adalah, Utara dekat Kastil Lucifer, Barat Laut dan Timur Laut (Tempat Vali).
Terakhir... Rias Koneko Issei Tannin vs Kuroka Bikou [Hutan dekat Kastil Lucifer yang sudah hancur, berlawanan arah dengan kota Lilith]—Bagian ini diambil dari Canon, jadi kemungkinan akan di-Skip sampai endingnya, karena hanya di Ending yang berbeda dari Canon DxD, dan juga pengaktifan Balance Breaker Issei bukan pake Puting Rias, tapi semangat dan tekadnya. Akan ada penjelasannya nanti.
.
.
Oke, istirahat dulu sejenak.
Silahkan Minum kopi, nikmati cemilan, atau Ngudud yang Ngudud, kemudian lanjut ke Chapter [34.1: Payback — Lilith Has Down Part II]
Santuy, Updatenya bersamaan. Tinggal tekan tombol Next saja...
