Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!
.
.
.
[Arc IV: Nearest Place From Heaven]
.
[Chapter 34.1]
[Payback — Lilith Has Down Part II: Death Sign?]
.
.
.
.
.
.
.
...
—Hutan Sebelah Barat Kastil Lucifer.
Tanah yang perlahan-lahan berhenti berguncang memberi tanda untuk Hashirama mendekati objek penyebabnya. Di tanah lapang yang agak luas di tengah hutan hal yang tak biasa berserakan dimana-mana.
"Aku belum pernah menggunakan ini selainpada Madara dan Susano'o, tapi mari berharap ini juga bisa menahan seorang Petinggi Malaikat Jatuh..."
Sambil bergumam demikian, Hashirama melihat hasil dari tenik Senpō: Myōjinmon yang baru saja dia lepaskan untuk menahan pergerakan Azazel.
Di depannya puluhan gerbang merah khas Negara Jepang dari yang mulai setinggi tubuh manusia hingga setinggi belasan meter bertumpuk tak beraturan menindih Azazel dalam mode Balance Breaker-nya dalam keadaan tengkurap.
Jika diperhatikan sedikit lebih detail, nampaknya tehnik Hashirama selain menahan, juga telah memberi sedikit kerusakan pada zirah emas Azazel. Terlihat ada retakan di beberapa bagian tubuh Azazel kecuali kepala.
Seperti yang Hashirama harapkan, Senpō: Myōjinmon ternyata bisa menahan pergerakan ataupun pancaran Tangeki bercampur Ryūki Azazel. Mantan Gubernur Grigory ini hanya bisa menggerakkan kepala menuju ke Hashirama ketika mendengar suara langkah kakinya.
"Tehnik yang mengerikan. Kekuatanku seperti dikekang sesuatu agar tak bisa dikeluarkan. Mahluk apa sebenarnya kalian ini, huh?"
—Dan komentar Azazel semakin meyakinkan Hashirama bahwa Gerbang Pemurah tak hanya bisa menahan chakra, energi apapun ternyata bisa terkekang.
Berhenti tepat di depan kepala Azazel, yang satu-satunya tak ditindih Gerbang Pemurah, Hashirama menancapkan pedang besar yang digenggam tangan kanan pada permukaan tanah lalu mengambil posisi duduk bersilah.
"Hmmmn."
Sambil mengeluarkan suara bingung, Azazel menyandarkan dagu pada permukaan tanah agar bisa memandang ke depan, melihat ke kaki Hashirama. Dia tadi sempat berpikir kalau Hashirama akan menusuk kepalanya dengan pedang besar tadi, ternyata tidak.
"Bisa hilangkan helm anda, Azazel-san. Untuk berjaga-jaga bila kau berbohong, aku bisa memeriksanya lewat ekspresi wajah—"
'—Walaupun aku tak sehebat divisi intel atau Madara, hehe!'
"Apa yang membuat saya percaya anda tak akan membunuh saya jika melepaskan Balance Breaker, Senju-san?" Azazel membalas sengit bercampur keformalan mendadak.
"Aku hanya ingin bicara." Hashirama memberi balasan singkat dan ringan terlebih dulu. Kemudian, tangan kanannya bergerak ke gagang pedang besar yang menancap di sebelah kanan. "Seandainya aku ingin membunuh, aku bisa mengambil semua senjataku disana. Menusukkan semuanya di tubuh anda, kemudian untuk memastikan anda benar-benar mati, pedang ini akan memisahkan kepala dan tubuh anda sampai berubah jadi kunang-kunang cantik di malam yang tenang ini..."
Walaupun Hashirama mengatakan itu dengan nada bercanda, Azazel tetap merasakan ancaman main-main Hashirama merasuki tubuhnya hingga sedikit bergetar.
"Baiklah..."
Akhirnya Azazel hanya bisa menurut untuk melepaskan armornya tanpa kekusahan sedikit pun, dan itu membuatnya sedikit penasaran kenapa begitu mudah seolah Gerbang yang menindihnya sempat melonggar daya kekangnya. 'Tadi... Apa kekangannya tergantung kemauan penggunanya?'
"Ya, seperti yang anda pikiran. Aku melonggarkan kekangannya agar bisa melepas zirah kaleng tadi."
Mendengar ucapan Hashirama. Azazel mendongak agar bisa melihat wajah Hashirama, dan dia sedikit terkejut dengan bercak merah di sekitar mata dan kening pria itu. Terasa pula perasaan yang sama ketika berada di dekat mendiang Naruto.
'Dia juga pengguna Senjutsu? Apa dia yang mengajarkan Naruto? Tapi Senjutsu-nya berbeda dengan Naruto.'
Ya, Azazel baru merasakan dengan pasti bahwa Hashirama menggunakan Senjutsu padahal beberapa saat lalu sudah menyebutkan Senpō. Bahkan Gerbang yang menindihnya pun sama. Ya, Azazel tak terlalu memperhatikannya tadi.
"Baiklah... Sekarang, mari kita berbicara santai, Azazel-san." Hashirama menonaktifkan Senjutsu dan mengadopsi ekspresi santai bersahabat. "Etto... Mulainya dari mana yaa?"
"Kenapa anda dan kelompok anda melakukan ini semua?"
Azazel mengambil inisiatif untuk memulai, walau kembali, dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu sebelumnya. Namun, karena sekarang Hashirama hanya ingin berbicara, bukan bertarung. Ini waktu yang tepat mengambil informasi lebih banyak tanpa mengeluarkan keringat.
Ya, tanpa berkeringat, tapi bermandikan rasa takut akan berubah menjadi kunang-kunang kalau salah bicara. Fuck!
"Bukannya tadi jawabannya sudah kuberikan pada kalian..."
"Lalu kenapa sekarang anda ingin berbicara? Tadi anda mengatakan bahwa saya adalah musuh anda, dan anda akan menghancurkan kami?"
"Oooh, yang tadi ya, tadi. Sekarang beda lagi." Bahkan jika direspon dengan suara yang meninggi, Hashirama masih tetap tenang dan santai membalasnya. "Aku baru kepikiran untuk berbicara denganmu empat mata saat kau seorang diri yang datang melawanku... Yang tadi itu jawabanku sebagai anggota keluarga mereka, sekarang ini... Sebagai aku sendiri, ingin berbicara dengan anda yang merupakan... teman baik Naruto."
Azazel sempat terdiam. Orang satu ini, cukup sulit ditebak. "Bagaimana jika bukan aku yang datang melawan anda? Bagaimana jika itu Michael atau Sirzechs?"
Hashirama menoleh ke atas dan menjawab. "Yaaa, situasi ini tak akan terjadi. Aku tetap akan menghancurkan mereka atau kau setelahnya, Malaikat terang itu—sialan, aku baru tahu kalau Malaikat bisa seterang itu, bikin sakit mata saja kalau lama-lama didekatnya, atau kepala merah yang cepat panas itu... Sesimpel itu."
Azazel jadi sweatdrop, entah itu karena keluahan Hashirama tentang Michael ataupun panggilan yang disematkan untuk Sirzechs. Selain itu, dia juga begitu karena—
'Aku sama sekali tak tahu dia ini lagi serius atau sedang ngelawak. Gak jelas amat...'
"Huh, baiklah. Jadi, apa yang ingin anda bicarakan secara pribadi denganku yang merupakan teman baik Naruto..."
"Mendiang Naruto Lucifer..."
Koreksi tepat sasaran Hashirama membuat Azazel tersentak. Jantungnya pun mulai berpacu lebih cepat bahkan jika sudah memperkirakan kalau pria di depannya sudah tahu. Itu terjadi karena Azazel merasa takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
Bisa saja dia benar-benar jadi kunang-kunang.
"Tak usah menyembunyikan lagi, dan juga tak usah takut aku merubah anda jadi kunang-kunang... Sudah kubilang aku hanya ingin bicara..." Hashirama mungkin berkata demikian, dan dia sama sekali tak berbohong. Hanya saja, itu untuk sekarang ini agar mendapatkan informasi. Setelahnya, akan berbeda.
'Kampret... Orang ini—Kalau salah bicara sedikit saja...'
"—Kecuali anda salah bicara nantinya, ya maaf saja! Anda benar-benar akan jadi kunang-kunang."
'Fuck!'
"Aku sudah tahu kalian—Kau, Malaikat Terang, Kepala Merah dan beberapa orang mengeroyok Naruto sampai tewas setelah kami pergi malam itu... Yang ingin kubicarakan adalah, kenapa dan apa alasan kalian sampai berbuat demikian ke Naruto. Padahal beberapa dari kalian pernah dibantu dan berhubungan baik dengannya..."
Azazel tak langsung menjawabnya. Bagaimana pun topik ini cukup berat. Dia sampai menutup mata dan menghela nafas panjang untuk menguatkan dirinya.
"Jauh dalam lubuk hatiku, aku menentang untuk ikut serta dalam pembunuhan malam itu. Bagaimana pun Naruto adalah teman baikku dan aku berhutang banyak hal padanya..." Azazel belum membuka mata, namun mulutnya mulai berbicara. Dia terlalu takut untuk melihat ekspresi macam apa yang dipasang Hashirama mendengar celotehannya. "... Anda dulunya seorang pemimpin kan?"
"Ya, aku dulu pemimpin desa tempat Naruto tumbuh." Hashirama menjawab sambil mengangguk, walaupun anggukannya itu tak berguna karena Azazel tak melihat.
"Malam itu, aku dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan sebagai seorang teman untuk Naruto, dan pilihan sebagai pemimpin Grigory. Sebagai teman,... Aku menentang, sangat menentang."
Kini, giliran Hashirama yang dibuat tersentak. Selain karena suara Azazel yang terasa begitu menyakitkan, dan dia merasakan itu. Hashirama juga melihat setitik cairan bening berusaha merembes keluar dari mata Azazel yang terpejam.
"Aku tak mengatakan ini pada siapapun malam itu... Tapi, setidaknya aku sekarang bisa jujur pada anda yang merupakan keluarga Naruto... Aku benar-benar tak tega menyaksikan Naruto melawan kami semua walaupun aku tak tahu kenapa dia sampai berjuang mati-matian sebegitunya..."
Azazel berhenti sesaat, itu karena potong kejadian yang dia bicarakan tiba-tiba muncul di benaknya tanpa diinginkan. Seolah-olah itu ditarik oleh kata-katanya barusan untuk muncul...
Bayangan ketika Naruto dihentikan oleh bongkahan es Serafall kemudian menggumamkan sesuatu tentang 'mahluk yang dikutuk' atau 'Berakhir di tangan orang terdekatnya' dengan ekspresi yang amat sakit untuk dilihat.
Atau bayangan ketika Naruto dikepung tombak cahayanya. Dia masih ingat bagaimana keadaan Naruto menjelang kematiaanya saat itu. Dari sudut bibir darah merembes turun, tubuh penuh luka goresan dan lebam, dan yang paling menyakitkan... Ekspresi putus asa yang tak akan pernah Azazel lupakan.
"... Itu benar-benar pukulan telak untukku dan dalam-dalam aku mengutuk takdirku karena menjadi seorang pimpinan di situasi malam itu dan terpaksa menghujani teman baik sendiri dengan tombak cahaya agar tak bergerak untuk dieksekusi di tempat..."
"...Azazel..."
"Aku tahu kata-kata barusan sulit dipercaya untuk orang yang ikut serta dalam pembunuhan Naruto—"
"Aku percaya!"
Jawaban berisikan dua kata itu seketika membuat Azazel membuka mata. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia memberi tatapan tak percaya ke Hashirama.
"... A-anda!"
"Aku percaya." Hashirama mengulang. Sejatinya dia juga ingin menangis melihat keadaan Azazel—diluar keadaan tubuh tengkurap tak berdaya. "Anda teman baik Naruto... Dan tak mungkin untuk kedua kalinya berbohong—melakukan kebohongan untuk orang yang sudah mati, apalagi teman baik anda sendiri... Jika iya, aku berani bertaruh, anda sudah tak memiliki hati lagi di dalam sana.."
Azazel tak bisa lagi berkata-kata. Dia hanya bisa mengarahkan wajahnya ke tanah dan menenggelamkannya dalam-dalam untuk mengekspresikan perasaannya sekarang.
Azazel begitu agak lama sampai dia mengeluarkan satu kalimat panjang penuh penyesalan.
"... Terima kasih... Dan sebagai teman baiknya, aku benar-benar minta maaf dan turut berduka pada kematian Naruto..."
"Tak apa..." Hashirama menjawab dengan suara pelan. "Sekarang..."
Tanpa menggerakkan kepala, Azazel membuka mata agak cepat ketika mendengar suara Hashirama berubah diikuti suara gerakan pria itu bangkit berdiri.
"... Berikan alasanmu sebagai pemimpin kenapa melakukan itu pada Naruto..."
Mengira bahwa ini telah berakhir, Azazel terpaksa menelan pemikiran itu untuk sesaat. Dia segera mengangkat wajahnya, tanpa menghapus jejak air mata ataupun debu yang menempel disana memberi satu tatapan panjang pada kedua kaki Hashirama.
Kembali, Azazel diam beberapa saat memikirkan kata-kata yang harus dia keluarkan. Dia harus jujur, namun tak boleh menyinggung perasaan Hashirama yang bisa berujung kematiannya.
Bahkan Azazel sudah melupakan Michael atau siapapun akan datang memberi pertolongan. Azazel sudah pasrah akan dibunuh oleh Hashirama, malam ini, tempat ini, karena perbuatan.
"Sebagai pemimpin, malam itu, walau bertentangan,... Aku terpaksa ikut serta demi kelangsungan hidup bawahanku dan tentu saja untuk kedamaian dunia ini di masa depan yang jadi alasan kami beraliansi... Malam itu, entah apa alasannya, Naruto berjuang mati-matian untuk membunuh Sirzechs, Serafall dan adik-adik mereka... Bukannya berjuang untuk kabur... Aku benar-benar kehilangan tiga hal yang sangat penting malam itu. Bawahanku yang setia, muridku, dan terakhir teman baikku,.. "
Dengan wajah lurus, entah dilihat Hashirama atau tidak, dia tak peduli, Azazel mulai berbicara panjang lebar.
"Karena tindakan Naruto yang hampir membunuh Rias Gremory dan Sona Sitri,... Sirzechs dan Serafall seolah melupakan semua yang sudah dilakukan Naruto untuk tempat ini dan bangsa mereka... Dua iblis itu, mereka sama sekali tak menahan diri untuk membunuh Naruto... Seandainya saja Naruto memiliki niat untuk kabur, aku bisa membantunya secara diam-diam, tapi itu sama sekali tak kulihat di matanya,... Dia bahkan melihatku sebagai musuh entah karena apa."
Azazel masih terus berbicara, dan sempat terjadi perubahan nada di tengah-tengah. Itu adalah nada ketidaksukaan pada sesuatu atau seseorang.
"... Dan keputusan malam itu, Naruto dan juga kalian ditetapkan sebagai musuh karena secara terang-terangan telah mengibarkan perang terhadap aliansi—"
"Sekedar informasi. Kami hanya ingin membunuh iblis-iblis atau mahluk apapun yang terlibat pembantaian desa kami,... Dan juga mereka yang ingin merenggut keluarga kami. Selain daripada itu, tak ada niat dari kami untuk menghancurkan dunia. Bahkan kami sebenarnya ingin perdamaian tercipta seperti yang diinginkan leluhur kami."
Oke, Azazel akan mengingatkan ini baik-baik. Mereka sama-sama menginginkan kedamaian karena itu juga keinginan leluhur kelompok ini. Sayangnya kelompok ini lebih peduli pada tujuan balas dendam atas pembantai kampung halaman mereka.
"Aku—kami juga merasa kasihan pada kalian..."
"Kasihan?"
"Kalian menginginkan sesuatu yang tak akan pernah terwujud kecuali kalian semua mati... Percayalah, tak akan ada namanya perdamaian di dunia selama masih ada yang mendiaminya—Sudahlah, lupakan. Itu hanya pendapat kami. Kalian tentu punya pendapat sendiri, bukan?" Hashirama mengakhiri dengan pertanyaan, namun sebelum Azazel menjawab, dia lebih dulu memerintah. "Baiklah, lanjutkan!"
Azazel meneguk ludah. Perintah tadi, benar-benar dingin dan tak ingin dibantah, dan bagaimanapun nyawanya berada di tangan pria yang berdiri di depannya. Mau tak mau seperti ludahnya, dia menelan bantahan yang sempat dipikirkan dan lanjut memberikan penjelasan sesuai perintah Hashirama.
"Singkat cerita... Michael, setelah melihat apa yang bisa dilakukan Naruto seorang diri, setuju bahwa Naruto berbahaya dan bisa menjadi ancaman dimasa depan..."
Azazel kembali berhenti. Inilah bagian yang harus dia pikirkan baik-baik setiap kalimatnya agar tak memicu Hashirama.
"... Terakhir aku, sebagai pemimpin... Melawan keinginan pribadiku,... Aku terpaksa setuju. Anda yang pernah memimpin desa atau organisasi pasti mengerti yang kurasakan. Mengesampingkan keinginan pribadi dan perasaan demi kepentingan banyak orang, bawahan dan bangsa anda, bahkan dunia ini sendiri..."
"Oke. Sudah cukup. Aku sudah mengerti kenapa Naruto harus dibunuh malam itu..."
"Heh?"
"Ya, aku sudah menger—"
Ketika Hashirama ingin memberi kepastian. Getaran yang lebih besar dan tak bertempo kembali mengguncang tanah tempat mereka berpijak.
Di sisi Hashirama, dia bisa merasakan gempa tadi disebabkan oleh Madara. Dia merasakan lonjakan besar Chakra Madara beberapa detik sebelum getaran terjadi.
Sementara Azazel tidak tahu dan penasaran penyebab gempa ini. Sayangnya dia tak bisa bergerak dari tempatnya ataupun merasakan karena baik tubuh maupun kekuatannya sama-sama terkekang Myōjinmon.
Setelah gempa mereda, Hashirama melanjutkan apa yang ingin dilakukan tadi. Dia mencabut pedang besarnya dan diangkat tinggi-tinggi, bilahnya terarah tepat ke leher tubuh tak berdaya di permukaan tanah.
Azazel mulai pasrah setelah mendengar suara cabutan pedang tadi. Dia tenggelam beberapa saat dalam pikirannya. Memikirkan apakah dia memiliki penyesalan sebelum pergi dari dunia ini. Aah, dia memiliki banyak penyesalan, namun dua atau tiga yang benar-benar disesali...
—Dia tak dapat melihat murid-muridnya mencapai tujuan mereka...
—Tak bisa merasakan kedamaian yang dia dan anggota alinasi impikan...
—Harus ikut serta dalam pembunuhan Naruto, teman baiknya...
—Tak bisa lagi menikmati payudara wanita di permandian air panas dan semasa hidup tak pernah sekali pun melihat payudara Malaikat Tercantik di Surga, Gabriel.
'Aah, itu empat penyesalan. Aku salah hitung hitung... Jadi pada akhirnya, apapun jawaban dan bagaimanapun penjelasan yang kuberikan...'
Bahkan di detik-detik penghujung nyawanya, Azazel masih sempat melakukan kebodohan. Sunggu, Malaikat Jatuh yang tak biasa...
'... Aku tetap dijadikan kunang-kunang...'
.
.
"Aku sudah mendapatkan jawaban. Sayangnya, kalian melakukan kesalahan besar. Bukannya mengurangi ancaman di masa depan dengan membunuh Naruto, kalian justru menambahnya..."
Walaupun sempat terganggu oleh getaran yang disebabkan oleh apapun tehnik sahabatnya, Hashirama beralih pandang dari arah pancaran Chakra Madara ke tubuh tak berdaya Azazel yang dikekang.
Rambut gondrongnya bergoyang diterpa angin, di wajah tak ada sedikit ekspresi ragu dan takut untuk mengambil nyawa pria setengah baya di depannya. Dia Shinobi setelah semuanya, membunuh salah satu tugasnya.
"Ya, pada akhirnya anda membunuhku, bukan?"
"Tentu saja. Kau ikut serta malam itu, bukan?"
"Dan karena sudah merenggut hidup Naruto dari kalian, ini akibatnya kan?"
Hashirama tak lagi merespon. Bilah pedang besarnya memunculkan kilatan putih terkena cahaya bulan buatan yang keluar dari balik kepulan awan kala terayun menuju leher target.
Azazel diam menunggu dan pasrah. Mempersiapkan apapun yang diperlukan ketika berpindah alam nanti. Dia bahkan sudah bisa merasakan hawa kematian memberi salam selamat datang di setiap milidetik yang berlalu.
—Dan semua terjadi begitu lambat...
...Ketika bilah pedang besarnya tinggal sedikit lagi mencium leher Azazel, Hashirama melebarkan mata terkejut dan terpaksa melepas genggaman dan melompat menjauh.
Satu tombak berpendar emas datang tanpa peringatan menghujam pedang Hashirama hingga hancur, dan tak lama setelah itu puluhan tombak datang menyusul, menyapu bersih Gerbang Pemurah dan lokasi tempat Hashirama berdiri tadi.
Hashirama mendarat diantara banyak senjatanya yang tersisah dan memberi satu tatapan kesal ke arah datangnya tombak-tombak tadi.
Di lain sisi, Azazel juga terkejut. Bukannya kematian yang datang, justru suara besi beradu lalu pecah dan ledakan beruntun yang seketika membebaskan tubuhnya dari kekangan.
"Gak jadi mati ya? Hahahahahaha—"
Suara tawa Azazel menggema dari balik kepulan debu di depan Hashirama yang berdecak kesal.
"Untuk ukuran orang yang baru selamat dari kematian. Kau sama sekali tak berubah, Azazel-dono."
Azazel mengalihkan perhatian ke sumber suara penuh wibawa tadi. Baik Azazel maupun Hashirama melihat sang penolong dan pengganggu barusan. Enam pasang sayang emas membentang lebar, halo senada bersinar tak kalah terang dari sayap di punggung itu.
Azazel tersenyum kecil. "Ya, sang Malaikat penolong datang rupanya. Padahal tadi aku sudah pasrah pada kematian atau kau dan Baraqiel yang tak akan datang menolong."
"Naga kayu tadi lumayan kuat dan terus menerus beregenerasi setiap terkena serangan kami... Beruntung ada momen kecil regenerasinya melambat dan Baraqiel-dono langsung menghentikan pergerakannya dengan Holy Thunder." Malaikat itu—Michael segera menjelaskan alasan dia terlambat kemudian melayang turun ke samping Azazel yang tengah membersihkan wajah. "Anda baik-baik saja, kan?"
"Selain perasaan didatangi kematian tadi, kurasa aku baik-baik saja. Yaaa, tadi itu benar-benar nyaris..." ujar Azazel santai memperhatikan sekitar yang mana banyak sekali reruntuhan Gerbang Merah Hashirama berserakan. "Berhati-hatilah pada benda yang menahanku tadi. Itu bisa mengekang pergerakan maupun Tangeki, Michael."
"Oh, iya." Azazel kembali bersuara, dan memutar kepala dari samping ke depan. "Aku lupa menanyakan ini tadi." Azazel melihat raut wajah kesal Hashirama sedikit melunak. "Aku sedikit penasaran, darimana kalian mengetahui tentang kematian Naruto?"
Michael tersentak atas pertanyaa Azazel ini. "Jadi, mereka telah mengetahuinya?"
"Hmn..." Hashirama tersenyum kosong. "Sayangnya waktu berbicara telah usai, Azazel."
"Begitu ya? Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku sangat penasaran. Informasi tersebut hanya diketahui mereka yang hadir saat kejadian... Tapi jika sudah bocor begini—"
"Berpikir ada penghianat diantara kalian?" Azazel mengangguk singkat. "—Ups, aku terlalu banyak bicara!" Hashirama langsung sadar dan cepat-cepat menutup mulut dengan kedua tangan. Bercampur rasa penasaran, Azazel dan Michael sweatdrop.
'Gah, mulut sialan! Hampir saja—Madara dan Vali pasti marah besar kalau tahu aku keceplosan—Dasar mulut tolol!'
Hashirama mengalami panik internal. Bisa-bisanya dia bicara sampai sejauh itu padahal sudah berjanji ke Madara dan Vali tak akan buka mulut ke siapapun, bahkan Yasaka.
Bukannya mereda, rasa panik Hashirama semakin bertambah ketika gempa lain terjadi dan lebih besar dari yang lain. Lebih parahnya, sebagai tipe sensor terbaik setelah Naruto di kelompok, hal yang menyebabkan gempa ini bukan milik Madara, tapi orang yang dilawan.
Masih menutup mulut dengan dua tangan, wajah Hashirama mengeras, kerutan dan peluh muncul di keningnya. 'Apa-apaan? Tingkat kekuatan ini...hampir mendekati milik Ophis! Benar-benar besar!' Hashirama mengalihkan perhatian ke sumber yang dia rasakan. '... Madara,'
Di lain sisi, Azazel dan Michael juga meradakan hal yang sama dengan Hashirama. Namun berbeda dari pria itu, baik Azazel maupun Michael tahu siapa pemilik dan apa yang terjadi...
"Lucifer-dono..." Michael memanggil,
"... Dia menggunakannya—Hitogata ni Ukabiagaru Horobi no Ōra (Human-Shaped Aura of Destruction)!" dan Azazel menjelaskan situasi.
Ketika tanah yang mereka pijak masih bergetar hebat, Azazel mendapatkan sesuatu. Sambil memasang wajah 'Kenapa baru sekarang', Azazel mengarahkan tangan kiri ke telinga sama. Disana muncul lingkaran sihir kecil,
"Oiy, Ajuka! Apa yang terjadi sampai dia menggunakan mode ini?" dia berusaha meminta penjelasan lebih lanjut. Sayang, bukannya apa yang Azazel minta, justru sebuah permintaan atau lebih tepatnya perintah yang dikatakan penuh dengan amarah di setiap katanya—
—Dan Azazel tak tahu harus berekspresi apa untuk menanggapinya,
.
[Penjelasan apa yang terjadi nanti saja... Yang terpenting sekarang adalah,... Bunuh mereka semua!]
.
.
.
.
.
...
—Reruntuhan Kastil Lucifer, Lokasi Hilda.
"Onore Kuso-Bitch!—"
"—Turun sini dan bertarung dengan jantan—Ah, kita perempuan! Secara betina sejati, Jalang sialan!"
Hilda tak bisa lagi menahan emosinya. Secara tak jelas, dia mengeluarkan sumpah serapah sambil mencak-mencak, dan tak lupa menunjuk-nunjuk wajah datar lawannya di atas sana.
Beberapa menit yang lalu. Entah tahu arah atau tidak, Hilda berusaha mengejar Okita Shouji seperti yang diperintahkan Hashirama. Dengan gerakan yang cukup cepat, Hilda menelusuri penjuru kastil Lucifer yang telah menjadi reruntuhan akibat dari Jukai Kōtan Hashirama.
Singkat cerita. Bukannya menemukan Okita Shouji, Hilda malah dicegat Grayfia di sebuah ruangan besar yang mirip sebuah aula. Lantai ruangan yang cukup besar masih utuh walau retak di beberapa bagian, namun dinding dan langit-langit sudah dipenuhi dahan pohon berbagai ukuran.
Pertarungan menyebalkan—Bagi Hilda—pun terjadi. Setelah mencegat, Grayfia mengambil posisi di atas dahan pohon sebelah utara ruangan, dan Hilda secara terus menerus diberi hadiah serangan jarak jauh di tengah-tengah.
Pertarungan mereka sudah berlangsung cukup lama dan mengabaikan semua yang telah terjadi. Seperti ledakan sihir Ajuka untuk Madara, atau gempa beraturan oleh langkah kaki Perfect Susano'o.
Kini, sampailah di waktu sekarang. Hilda sudah muak dan benar-benar kesal di serang jarak jauh terus menerus tanpa henti.
Grayfia tak merubah ekspresi. Tetap datar memandang turun ke bawah sana, tempat Hilda mencak-mencak tak jelas sambil menunjuk wajahnya.
Bagaimanapun. Dibalik kepribadian kasar dan urakan Hilda—belum terhitung mesum dan sesatnya, Grayfia mengakui kemampuan perempuan itu cukup hebat mampu bertahan dari berbagai macam serangan berelemen es miliknya tanpa luka berarti. Dan sejauh ini dia melakukan tugasnya dengan baik, menahan Hilda selama mungkin.
"Oiy, jalang! Katakan sesuatu! Jangan diam saja dengan wajah datar sialanmu itu!"
"Anda benar-benar kasar untuk seorang perempuan." Daripada kena semprot lagi, Grayfia pun berbicara apa adanya.
"Peduli setan!" Hilda membalas sambil menghentakkan kaki kanan pada lantai lalu mengarahkan telunjuk tangan kiri ke bawah. "Turun sini, aku ingin sekali menghancurkan wajah tembokmu—Ugh, kau mirip Madara! Seandainya kau laki-laki, aku mungkin sudah jatuh cinta padamu...atau, kau mau gunting-guntingan?"
Ada sedikit hentakan dan kendutan yang muncul di wajah Grayfia mendengar ajakan tersebut. Ekspresinya sempat berubah namun cepat-cepat dikembalikan ke normal. Sungguh, perempuan yang kotor! Pikir Grayfia tak tahu lagi mahluk macam apa sebenarnya lawannya ini.
"Mari kita akhiri saja ini. Anda tidak cocok berhadapan dengan saya."
"Nandatoooo?!"
Urat di jidat lebar Hilda karena mengikat rambutnya gaya ekor kuda panjang menyembul keluar. "Kau mau kujadikan tumbal untuk Jashin-sama, ya?!"
'Siapa lagi itu Jashin-sama?'
"Oke, oke! Cukup main-mainnya. Akan kujadikan kau tumbal, Iblis-jalang-muka-datar super-menyebalkan!"
Grayfia menyipitkan mata. Ada perubahan yang terjadi pada sang lawan, aura di sekitar tubuh perempuan itu berubah. Dia bisa merasakan itu dari tempatnya berdiri.
Mata Grayfia benar-benar tertuju pada Hilda yang mulai memutar-mutar senjata mirip sabit itu. Grayfia menunggu, terus menunggu langkah atau tindakan macam apa yang diambil sang lawan.
Dan ketika dia berkedip, itu terjadi begitu cepat sampai menampakkan raut wajah terkejut. Grayfia langsung berjongkok menghindari lemparan sabit super cepat Hilda yang hampir saja menghancurkan kepalanya.
'Cepat sekali!'
Grayfia membatin setengah kaget. Setelah menghindari sabit yang sudah menancap di dahan pohon belakangnya, dia langsung mengembalikan fokusnya yang sempat tertelan rasa terkejut serangan tak terduga tadi.
Hanya saja. Belum satu detik setelah menghindar dan melihat ke tempat Hilda, Grayfia mendengar sesuatu di atas kepalanya. Itu, seperti suara...
'Rantai?'
"Heeeeeeehaaaaaaaaa!"
Sekali lagi, gerakan tak terduga Hilda lancarkan. Sabit tadi—Sanjin no Ōgama telah dikaitkan pada sebuah rantai besi dan setelah ketiga mata tajam sabit itu menancap, Hilda menariknya agar terlempar ke lokasi Grayfia sambil berteriak seperti orang kesurupan.
Grayfia melompat turun dari lokasinya untuk pertama kali. Alhasil, Hilda hanya menyerang dahan pohon hingga debu mengepul disana. Dalam keadaan melayang beberapa di atas lantai, Grayfia memandangi kepulan asap disana takut serangan lanjutan terjadi.
"Masih belum!"
Dugaan Grayfia tepat. Bersama dengan teriakan tersebut, lemparan sabit kembali melesat dari balik debu, mengincarnya yang tengah melayang. Alih-alih terbang dengan kemampuan iblisnya, Grayfia justru menciptakan lingkara sihir pada lantai tepat dibawah lokasinya melayang.
Bongkahan es besar mencuat dari lingkaran di belakang Grayfia yang mengudara, suara dentingan besi menggema, sabit Hilda terlempar ke atas beradu dengan bongkahan es tadi.
Grayfia menapak tanah dengan anggun, seragam maid bagian bawahnya sedikit terangkat, memperlihat paha indah berbalut stocking putih yang menggugah selera penikmat fetish stocking.
"Woooh, paha yang indah!"
Komentar bernada sensual itu mengalihkan perhatian Grayfia. Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati Hilda tengah berlari mengitari sisi balok esnya dengan kecepatan diluar nalar manusia biasa.
Rambut abu-abu Hilda bergerak liar begitupun rok hitam model Gothic Lolita yang dikenakan. Dan dia tak berlari dengan tangan kosong, dia menyeret paksa rantai Sanjin no Ōgama yang tadi entah terpental kemana.
Suara desingan dan bunga-bunga api tercipta dari gesekan antara rantai yang diseret Hilda dan lantai keramik ruangan.
"Akhirnya kau turun dari singgasana cantikmu tadi. Sekarang, tak akan kubiarkan kau memakai kemampuan es menyebalkan tadi."
"Tck!"
Hilda menyerbu lokasi Grayfia yang tak sempat melakukan perapalan ataupun penciptaan lingkaran sihir.
Maid Lucifer berhasil terdorong beberapa meter oleh tubrukan bar-bar Hilda. Setelahnya, Grayfia dipaksa menahan ataupun menghindari pukulan dan tendangan beruntung Hilda. Dia bahkan tak dibiarkan sedikit pun mengambil tindakan selain daripada menghindar dan menahan.
Grayfia bukan tipe petarung jarak dekat. Kemampuan hand-to-hand combat Grayfia tak seimbang dengan milik Hilda yang tak beraturan namun agresif.
Beberapa kali Grayfia harus merasakan kulit mulusnya tergores ataupun dihantam bogem mentah dan tendangan, begitupun seragam maid-nyayang robek di beberapa bagian.
Hingga pada satu momen, Grayfia kehilangan keseimbangan dan pukulan telak berbalut rantai Hilda menghujam sisi kepalanya hingga membuat rambut perak serta bando yang dipakai hancur berantakan.
Grayfia terlempar dan segera memperbaiki posisi. Dalam posisi berjongkok, dia terseret beberapa meter meninggalkan bunyi decitan dan debu tipis.
Mengira serangan membabi-buta Hilda telah berakhir, Grayfia mendengar suara yang tak asing sejak berhadapan dengan Hilda. Suara rantai-rantai besi yang berdentin pelan tertangkap indra pendengaran supernya, tak lama kemudian ketika mengedarkan pandangan, Grayfia sudah dalam kepungan rantai yang melayang-layang dan dalam sekali tarik akan menjerat tubuhnya.
"Tck, aku mulai benci rantai-rantai ini!" Grayfia bergumam untuk dirinya sendiri.
Memanfaatkan celah waktu yang sangat sempit, Grayfia menempelkan telapak tangan pada lantai. Lingkaran sihir muncul pada lantai tepat dibawah Grayfia berjongkok.
Empat dinding es membentuk formasi persegi muncul dan menggantikan Grayfia sebagai korban lilitan. Dibalik dinding es, Grayfia membuang nafas, tangan kanannya meraba-raba rambutnya yang sudah berantakan. "Aku sudah salah mengira... Selanjutnya aku harus benar-benar menahannya!"
"Tck! Es terus. Lama-lama aku jadi benci dengan es!" cicit Hilda memegangi erat-erat rantai Sanjin no Ōgama yang meregang dan terhubung dengan formasi dinding es Grayfia. "Padahal sedikit lagi mendapatkan darahnya... Selanjutnya,..." menatap lekat-lekat sihir Grayfia yang dililit rantai, Hilda menyeringai buas. "Tak akan gagal, dan dia benar-benar jadi sesajen!"
Dengan satu kali tarikan kuat, formasi dinding es Grayfia hancur menjadi bongkahan-bongkahan yang berserakan pada lantai, dan Sanjin no Ōgama telah kembali ke tangan Hilda.
"Heh, kukira tadi kau sudah kabur entah kemana. Melapor ke Maou-mu yang,...kuakui tampan itu. Tapi belum mengalahkan Madara dan Naruto-chan-ku yang imut sih. Pokoknya mereka yang terbaik!"
Untuk kali kedua Hilda berhasil membuat Grayfia kehilangan ekspresi datarnya dan mengendutkan mata. Tersinggung atau mungkin tak habis pikir dengan perempuan yang tak bisa jaga mulut itu.
"Akan saya akhiri semuanya!"
"Hoiy... Itu kata-kataku, jalang!"
Membuktikan ucapannya, Grayfia mengarahkan telapak tangan yang terbuka ke depan. Dengan konsentrasi yang benar-benar tinggi terpancar di wajah, Grayfia memusatkan energi sihir dan Yōuki.
Gempa hebat tiba-tiba mengguncang area itu, lumayan untuk membuat Hilda sedikit bergerak ke sana kemari sambil berteriak,
"Hoiy, hoiy... Apa? Gempa? Hoiy, apa yang kau lakukan?"
'Ini bukan aku... Apa yang terjadi di luar sana?'
Mata Grayfia melirik ke sana kemari sambil mencari tahu apa yang terjadi. Dia yang tadinya sebentar lagi melepas serangan terpaksa terganggu konsentrasinya karena gempa ini.
Gempa berlangsung beberapa detik dan membuat sisa langit-langit yang lolos dari Mokuton Hashirama berjatuhan.
Berhasil menguasai diri dan melupakan apa dan siapa yang menyebabkan gempa, serta mumpung Hilda seperti tengah panik, Grayfia pun melancarkan serangan penghabisannya untuk Hilda.
"Owari da!"
Seketika lingkaran sihir khas keluarga Lucifuge memenuhi ruangan di setiap sisinya.
"Heh?" Hilda memperbaiki posisi dan menatap sekeliling. Seketika jidat lebarnya menitihkan keringan dingin. Mengembalikan pandangan ke Grayfia, "Onore Kuso-bit—"
Pada akhirnya, Hilda tak sempat menyelesaikan umpatan. Dalam sekejap ruangan besar tersebut sudah dipenuhi duri-duri es besar yang mengarah ke satu titik, tempat Hilda berdiri.
Seperti ungkapan Grayfia. Owari da (It's over), itu benar-benar menjadi akhir Hilda di mata Grayfia. Tak ada lagi suara melengking perempuan itu, hanya ada suara tetesan cairan yang terdengar terus menerus.
Satu-satunya lokasi yang tak tersentuh duri es adalah tempat Grayfia berdiri. Maid Lucifer ini menghembuskan nafas, karena dinginnya suhu ruangan hembusan nafas Grayfia nampak di udara seperti asap tipis.
Dia berjalan mendekati tempat Hilda dengan membersihkan duri es pada jalan yang dia lalui. Dia ingin memastikan lawannya itu sudah benar-benar berakhir.
Butuh waktu beberapa saat untuk sampai. Grayfia bisa melihat kondisi lawannya, tubuh ramping Hilda terangkat beberapa meter ke atas, belasan atau mungkin puluhan duri berhasil menembus tubuh indah berbalut gaun Gothic Lolita itu hingga cairan merah kental merembes keluar di banyak tempat.
Asik memandangi tubuh naaf Hilda. Gempa kedua terjadi dan meretakkan banyak es di ruangan. Grayfia kali ini tahu siapa penyebab gempa ini dan cukup penasaran kenapa Raja-nya sampai mengaktifkan mode sejatinya.
Walau begitu, setetes keringat tak bisa ditahan untuk menetes di kening Grayfia merasakan betapa kuat pancaran Yōuki dari Sang Maōu Lucifer. Itu berkali-kali lipat dari majikannya sebelumnya, Lucifer asli.
Selain Grayfia yang terganggu oleh gempa itu, secara mengejutkan, di luar dari apa yang dipikirkan Grayfia bahwa Hilda telah kalah atau bahkan mati. Kenyataan berkata lain dengan Hilda masih hidup dan bangun-bangun langsung mengumpat.
"Guhaaaa, Ini benar-benar sakit,...dan dingin, jalang!"
"K-kau...?!"
Mata Grayfia melebar tak percaya. Dengan luka sebanyak dan separah itu, Hilda masih hidup. Bahkan masih kuat meronta-ronta agar lepas dari es-es miliknya.
'Mahluk apa sebenarnya dia?'
Ada perasaan aneh yang timbul dalam tubuh Grayfia setiap Hilda bergerak di atas sana selain terkejut tak percaya. Perasaan aneh itu antara pernah dan tak pernah dia rasakan.
Ketika asik mencari tahu perasaan tersebut, sensasi seperti sentilan kecil terasa telinga kiri Grayfia. Di sana lingkaran sihir tiba-tiba muncul.
"Kebetulan sekali, Ajuka-sama... Apa yang terjadi sampai Sirzechs-sama mengg—"
[Penjelasan apa yang terjadi nanti saja... Yang terpenting sekarang adalah,... Bunuh mereka semua!]
Selepas perintah datar, penuh amarah dan padat itu, bibir Grayfia yang sedari tadi hanyalah garis datar tertarik ujungnya membentuk lengkungan kecil.
"Heh, apa yang senyumkan, jalang?!"
"Saya mendapat perintah untuk membunuh anda."
Bukannya takut atau apa, Hilda justru memberi respon tak terduga dan mengundang kendutan kecil di kening Grayfia. Sang Maid malah mendapatkan tantangan tak masuk akal,
Di hadapan Grayfia,
Hilda juga tersenyum, tidak! Dia menyeringai,
"Lakukan saja jika kau bisa, Jalang!"
.
.
.
.
.
.
.
...
—Kota Lilith Bagian Timur Laut.
"Apa ini tak berlebihan?—Tapi, diluar dari ini, seperti dugaanku... Guru dari adik seekor monster yang juga monster adalah monster sesungguhnya."
"Damare, Arthur!"
Tersinggung atas komentar yang dikeluarkan dengan suara sedikit bergetar takut, Vali langsung membungkam Arthur. Daripada mengurusi hal yang tak penting-penting amat itu, ada yang lebih penting harus diurusi.
—Itu adalah dua Maou yang kekuatan mereka telah melonjak drastis sampai ke titik naga dalam tubuh Vali bereaksi.
[Ho ho, menarik! Dua True Monster ditambah satu Ultimate Monster yang marah. Aku penasaran apa kalian bisa lolos dari ini, Vali]
Tentu saja Vali tahu siapa yang Albion maksud. Dua True Monster tersebut adalah Sirzechs dan Ajuka, sedangkan sang Ultimate adalah pemegang gelar Maou Leviathan.
"Hmnn, kau takut Albion?"
[Takut? Pada tiga serangga kecil seperti mereka? Itu tidak mungkin!—Ayo bersenang-senang, Vali! Jarang-jarang kita mendapat lawan seperti mereka!]
"Itu baru Albion yang kukenal."
"Oy, oy, oy...! Kalian serius ingin melawan mereka?"
Arthur yang pada dasarnya hanya manusia, tanpa menghitung Pedang Suci terkuat yang dia pegang, tentu saja agak ragu bisa lolos hidup-hidup dari kemarahan tiga Maou. Akal sehatnya masih ada, begitupun urat takutnya.
Vali sedikit menoleh. Dia merasakan ada keraguan dan sedikit rasa takut di nada yang Arthur keluarkan. Mengangguk paham, Vali berucap pelan.
"Mundurlah, Arthur! Pergi dari sini. Ini adalah pembalasan dendamku bersama Madara dan Hashirama. Kau—"
"Jangan harap ada yang bisa lolos hidup-hidup setelah semua yang kalian lakukan!"
Ucapan Vali terpotong oleh suara penuh amarah dari Ajuka yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Arthur. Vali melebarkan mata, beberapa potongan ingatan sempat berputar dalam kepalanya sebelum tubuhnya bertindak secara alami.
Vali menghilang dalam cahaya putih, melesat melebih kecepatan suara dan muncul diantara Ajuka dan Arthur.
Satu pukulan terkonsentrasi Demonic Power gila-gilaan berwarna hijau menghujam tangan Vali yang tersilang depan wajah.
Bunyi besi yang retak dan tulang yang remuk beradu hebat dengan suara dentuman antara pukulan Ajuka dan silangan lengan Vali.
"Jangan berpikir sekali lagi aku akan membiarkan keluargaku kalian renggut! Apalagi di depan mataku sendiri."
Dragon Power atau Ryūki yang besarnya sebanding dengan milik Ajuka meluap begitu saja dari sayap Vali, menghempas Ajuka dan Arthur.
"Cepat. Pergi!"
Dua kata dari Vali itu sudah cukup untuk Arthur terpaksa meninggalkan ketuanya berhadapan dengan dua monster.
Ketika Serafall hendak melakukan hal yang sama seperti Ajuka sebelumnya, Arthur mendapatkan perlindungan dari Vali berupa aliran-aliran petir yang tercipta dari campuran Ryūki dan Yōuki yang seketika membuat Serafall berpikir dua kali untuk menerobosnya.
Serafall masih waras untuk tidak berusaha menorobos masuk petir gila bercampur energi Naga Surgawi dan Iblis Lucifer. Setelah semuanya, dia hanya Iblis Sitri kelas Ultimate yang tak sebanding dengan Lucifer apalagi ditambah Naga Surgawi.
'Tck! Dia mencampurkan Ryūki di dalamnya agar Kankara Formula tak bisa kugunakan. Anak ini, sepertinya tahu banyak tentangku. Bahkan sejak tadi dia sama sekali menggunakan Yōuki untuk menyerang. Dari mana dia mendapatkan informasi tersebut?' Ajuka membatin sedikit menyipitkan mata selagi mengamati situasi mencari-cari cara untuk setidaknya mendapatkan Arthur sebelum meninggalkan tempat ini.
Sekitar beberapa saat berpikir, Ajuka tak mendapatkan apapun.
"Cih!" "Tck!"
Serentak bersama Serafall, dia mengeluarkan suara tak suka merasakan satu orang hawa keberadaannya sudah tak terasa sejauh yang bisa dirasakan.
Diam-diam dibalik kepungan petir bercampur Ryūki dan Yōuki tersebut, sebuah keajaiban Arthur sama sekali tak terkena dampaknya dan cepat-cepat kabur kalang kabut dari sana menggunakan kemampuan Ruang dan Waktu Caliburn.
"Nah, sekarang tinggal kita berempat!"
Kembali berbicara, sayap mekanik Balance Breaker Vali terkepak beberapa kali. Disetiap kepakan, Ryūki dalam jumlah sangat besar disemprot keluar, menyebabkan Vali sekarang disekitarnya dipenuhi cahaya putih.
"Buat aku merasakan bagaimana rasanya diserang penuh amarah dan dendam karena selama ini aku yang melakukannya pada beberapa orang..."
[Albion,]
[Jadi itu rencanamu... Baiklah, mari kita lakukan!]
Cahaya putih di sekitar Vali mulai bergerak. Cahaya-cahaya tersebut memutari tubuh Vali dan perlahan-lahan naik ke langit. Di tengah-tengah kejadian yang cukup indah dipandang mata itu, sebuah lantunan kalimat-kalimat menggema di sekitar,
[I, who am about to awaken,]
[Am the Heavenly Dragon who taken the princeples of supremacy from God]
[I envy the "infinite" and I pursue the "dream"]
[I shall become the White Dragon of Supremacy]
[And I shall take you to the limits of white paradise]
[...]
[... Juggernaut Drive...]
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
TrouBlesome Cut!
Author Note: Oke, done dua chapter yang sebenarnya cuma satu dibagi dua.
Dimulai dari Chapter sebelumnya. Pertama adalah serangan Madara. Ya, itu sangat besar dan mengerikan. Itu diambil dari Scene Naruto Sasuke vs Momoshiki di Anime Boruto ketika Kyuubi dibalut Armor Susano'omengayunkan pedang. Serangannya hanya melewati udara di atas permukaan tanah, tapi efek gelombang kejut yang menciptakan ombak pada permukaan tanah yang membunuh belasan ribu iblis penduduk Lilith.
Atau sebut saja ada gelombang kejut yang tercipta dari ayunan pedang Susano'o. Gelombang kejut itu lantas menyapu kota Lilith hingga keluar. Otomatis karena disapu gelombang kejut, apapun yang disapu ikut terbawa (Bangunan, Pohon, Tanah bahkan Gunung) menciptakan ombak raksasa.
Itu mungkin terdengar biasa saja, namun penduduk Lilith disini bukan Iblis Tipe Petarung, rata² hanya Iblis biasa yang berprofesi sebagai penduduk untuk memajukan kota Lilith. Dan karena serangannya datang cepat dan tak terduga, otomatis bawahan Ajuka yang tengah berkonsentrasi pada sihir Teleport tak sempat bertindak. Bahkan jika itu Iblis, yang punya fisik diatas manusia biasa. Jika disapu dan ditimpa material yang sangat besar (Bangunan, Pohon, Bongkahan Tanah dan Batu hingga bukit/gunung kecil batu) pasti tewas bukan?
Next... Ajuka sedikit OOC dari Canon. Dia mulai serius pada pekerjaannya sebagai Maōu
Pindah ke Chapter ini.
Pertama, mungkin banyak yang kecewa Azazel gak jadi mati. Tenang, itu bukan tugas Hashirama. Ada orang yang lebih pantas dan berhak untuk melakukannya.
Untuk Senpō: Myōjinmon yang bisa menahan Azazel. Ya, itu bisa manahan Azazel. Itu salah satu Buff untuk Naruverse di FF ini. Lagipula di Canon Naruto, Senpō: Myōjinmon memang agak OP bisa menahan Juubi dan ET Madara.
Untuk percakapan Azazel dan Hashirama. Itu belum pasti adalah kebenaran 100% persen. Seperti yang Hashirama bilang, dia tak pintar membaca ekspresi orang. Dan Hashirama percaya hanya karena Azazel kemungkinan sempurna mempermainkan kata-kata dan ekpresinya.
...
Oke, mungkin hanya itu yang perlu ditambahkan dalam Author Note. Lebih dan kurangnya kalau bisa dikoreksi, dan akan diperbaiki jika Update selanjutnya.
Untuk Review Chapter sebelumnya. Disimpan dulu dan Chapter depan baru diulas.
Saya agak sibuk dan juga keadaan gak terlalu mendukung. Sudah lebih dari dua minggu disini Earth-chan sange parah sampai pakai Vibrator berulang-ulang. Seseorang tolong yang Waifu-nya Earth-chan, tolong hentiin Sange dia. Saya pengen tidur nyenyak ini...
...
Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini out.
Saya mau main-main bareng Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu...
Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut ini stadium akhir gak ada obat tak tertolong lagi ini,...
—BUKAN PEDO, BGSD!
Ciao~
