Floating Bridge of Heaven, Ama-no-uki-hashi.

"... Jadi begitu yang terjadi sekarang ini?"

Yasaka, yang tengah duduk bersimpuh di depan sosok wanita cantik menganggukkan kepala hormat.

"Iya, Amaterasu-sama."

Wanita di depan Yasaka, salah satu Dewi dari Mitologi Shinto diam beberapa lama mencerna semua yang pemimpin Yōukai Kyoto katakan beberapa saat lalu. Itu adalah sesuatu yang benar-benar mengejutkan.

Bahkan sejak dia hidup dan menyaksikan banyak hal terjadi, tetap saja mengejutkan.

"Amaterasu-sama?"

"Ara, maaf-maaf... Aku melamun, Yasaka-chan."

Amaterasu mengukir senyum kecil di wajah cantik, anggun dan penuh wibawanya. Yasaka juga tersenyum, walau itu senyum canggung karena tingkah berbeda dari Dewi di hadapannya.

"Siapa yang menyangka... Hakuryūkō, Pemegang Seiken terkuat, keturunan Sun Wukong, bahkan Mugen no Ryūjin membentuk kelompok dengan mereka dan menyerang teritori fraksi iblis, yang sejak Great War berakhir tak ada yang berani mengusiknya..."

Tatapan Yasaka berubah serius bercampur khawatir. "Apa yang harus kita lakukan, Amaterasu-sama?"

"Hmmm..." Amaterasu memegangi dagu indahnya, berpikir sesaat. Menimang-nimang beberapa hal sebelum mengambil tindakan serius atas laporan yang Yasaka berikan.

"Kita tak perlu ikut campur. Maaf, Yasaka-chan, terlalu beresiko untuk kita melawan pihak lain sekarang ini. Lagipula masih terlalu awal untuk dunia mengalami perang melebihi Great War... Dewa dan Dewi lain pun pasti berpikir demikian."

Keputusan Amaterasu seketika membuat mata Yasaka melebar sempurna.

"Ta-tapi—"

"Aku paham—sangat paham apa yang sekarang kau rasakan, Yasaka-chan. Kehilangan anak, walau hanya anak angkat pastilah sangat menyakitkan. Kita tak bisa mengorbankan banyak pihak hanya karena satu nyawa telah mencapai tempat terdekat dari Surga..."

"—Ehh?"

Merasa ada yang salah atau ganjil dengan ucapan Sang Dewi membuat Yasaka mengeluarkan suara aneh seperti terkejut dan bingung disaat yang sama.

"Hmm, ada apa, sayangku?"

"...I-itu tadi... Anda mengatakan—"

"Aah, itu ya,.."

Amaterasu menyahut paham apa yang mengganggu Yasaka. "Rubah bodoh itu masih hidup, Yasaka-chan. Walau kecil dan sangat lemah, aku masih bisa merasakannya dan dia...masih di dunia ini."

Yasaka ingin menyahut sekali lagi, namun Amaterasu mendahuluinya berbicara.

"Kau bilang, sebelum mereka menyerang Mekai, mereka berpisah menjadi tiga kelompok mencari sesuatu. Aku tak bisa mencari tahu apa yang ingin mereka lakukan, ada yang menghalangi pandanganku—Tapi, aku berpikir mereka benar-benar kelompok gila setelah mendengar ceritamu tadi... Mereka ingin mengambil kembali apa yang telah direnggut dari mereka..."

Yasaka tak bisa lagi berkata-kata. Bahkan apa yang ingin dia katakan sebelumnya sudah hilang terlupakan begitu saja karena terkejut tak percaya terhadap ucapan Dewi Amaterasu.

"Ma-maksud anda..."

"Ya." Dewi Amaterasu mengangguk sekali lagi. "Seperti yang kau pikirkan, Yasaka-chan."

Seketika Yasaka dibuat tenggelam dalam pikiran sendiri. Apa yang baru saja dia dapatkan benar-benar mengejutkan sampai harus mengakui bahwa yang dikatakan Dewi Amaterasu tentang mereka itu benar...

Mereka—Kelompok Madara benar-benar kelompok yang gila!

"Itulah kenapa kita tak boleh—atau mungkin belum ikut campur pada ini Yasaka-chan... Setiap pilihan yang ada, semuanya berujung pada kehancuran sesuatu..."

Karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Yasaka entah dengar atau tidak, sama sekali tak memperhatikan Dewi Amaterasu yang tengah membicarakan sesuatu.

"—Maka dari itu, kita biarkan saja takdir menentukan semuanya... Apakah kita akan kehilangan sekutu, sekali lagi... Ataukah..."

.

.

.

.

.

.

.


Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


.

.

.


[Arc IV: Nearest Place From Heaven]

.

[Chapter 35.0]

[Payback Finale — This isn't over, it's not even started yet! Clash of The Titans]


.

.

.

.

.

.


...

Hutan Sebelah Utara Kastil Lucifer.

[Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost] [Boost]

[Over Boost]

[Welsh Dragon Balance Breaker]

"Sekarang dan sampai kapan pun, bahkan jika kau kakaknya, aku tak membiarkanmu menyentuh Koneko-chan seujung jari pun!"

—Dibalik Armor merah Sekiryūtei yang telah aktif, deklarasi tersebut terlontar tanpa keraguan sedikit pun dari mulut Issei Hyōdō. Aura kemerahan yang menyelubungi tubuh Issei seakan menggambarkan tekad yang dimiliki untuk melindungi gadis kecil bernama Koneko.

Dibelakang Issei, Rias bersama Koneko yang tengah berlutut akibat dari racun berupa kabut ungu di sekitar sedikit melebarkan mata terkejut atas perkembangan Issei yang begitu pesat sampai bisa mengaktifkan Balance Breaker sesuai keinginan.

Di atas langit, seekor Naga tiba-tiba muncul entah dari mana sambil menyemburkan api berskala besar. Naga itu menolehkan kepala ke bawah, menghentikan semburannya kemudian berbicara dengan suara berat khas mahluk besar.

"Sungguh Ryūki yang sangat besar dan kuat, bocah, Ddraig! Kuserahkan Rias-hime dan kalahkan kucing itu!"

Setelahnya, naga tersebut menghilang dibalik lebatnya pepohonan mengejar sesuatu.

Kembali ke tanah, di sisi lain Kuroka agaknya sedikit terkejut Issei sudah jauh berbeda dari yang diinformasikan. Vali mengatakan bahwa rivalnya itu tak lebih dari gumpalan nafsu berjalan yang bahkan tak bisa mengaktifkan Balance Breaker tanpa pemicu.

Kenyataannya Issei justru mampu berbuat seperti Vali. Masuk mode terlarang Sacred Gear walau durasinya belum diketahui sama juga, atau tidak.

Mengikis keheningan yang terjadi sesaat setelah Issei melakukan gebrakan besar, Kuroka tertawa keras.

"Ahahaha—Haa! Menarik sekali! Kalau begitu, aku kutunjukkan serangan campuran Senjutsu dan Youjutsu!"

Dua energi berbeda muncul di masing-masing tangan Kuroka. Dua energi kemudian diubah menjadi serangan dengan melemparnya.

Issei tak bergeming serangan Kuroka mengenainya telak. Asap mengepul di sekitar tubuh Sekiryūtei. Setelah menghilang, Issei nampak baik-baik saja walau asap masih keluar di bagian dada. Bahkan, armor merah Issei masih padat tanpa retakan.

"... Hanya ini?"

Ekspresi Kuroka berubah terkejut. Dia bahkan merasa bahwa nada yang dikeluarkan Issei seperti meremehkan kekuatannya. Dia tak suka itu.

Issei melompat ke depan kuat-kuat dan menutup jarak antara dia dan Kuroka.

"Jangan merasa hebat!"

Kuroka kembali menyerang, menembakkan serangan yang seperti sebelumnya. Issei menerima semua serangan Kuroka, entah dengan tubuh ataupun tinjunya.

Issei terus mendekat hingga tiba di depan Kuroka dan mengayunkan tinju tangan kanan.

"Permisi sebentar!"

Udara di sekeliling mereka berdua bergetar hebat, tumbuhan juga ikut berguncang, terakhir debu mengepul cukup banyak kemudian menyelubungi Kuroka.

Keduanya sama-sama tak bergerak selama beberapa saat. Issei berpose habis melakukan tinju dan mempertahankannya, sedangkan Kuroka terdiam di balik kepulan debu bersama dengan separuh tangan Issei hingga ke siku.

Agak lama mempertahankan posenya, Issei kemudian terkejut ketika suara besi retak dan berjatuhan di permukaan tanah terdengar. Tak lama setelahnya rasa nyeri menyerang tangan kanannya.

"Arrrgggghh!" dia mengerang kesakitan dan melompat mundur.

Issei melihat tangannya yang terasa semakin nyeri seperti terbakar. Besi-besi yang melindungi tangan kanannya telah hancur hingga ke pergelangan, darah segar mengucur dan membasahi permukaan tanah. Mengabaikan rasa sakitnya, Issei beralih pandang ke depan ketika kepulan debu di sekitar Kuroka mulai menghilang.

Ada sesuatu di depan wajah terkejut dan ketakutan Kuroka. Itu sebuah bilah pedang yang mengkilat terkena cahaya bulan. Itu sebuah pedang yang terhunus ke atas.

Menurunkan sedikit pendangannya, Issei melihat seorang pemuda pirang mengenakan kacamata berjongkok di depan kaki Kuroka memegang gagang pedang tersebut.

"Kumohon jangan jatuh cinta pada setelah aku muncul layaknya ksatria berpedang dan menolongmu, Kuroka. Aku tipe laki-laki yang setia, tahu."

Pikiran Kuroka sempat melayang entah kemana sebelum kembali ke tempatnya setelah mendengar kalimat setengah bercanda tersebut. Dia menoleh ke bawah,

"Tck, Arthur-teme, Eh! Arthur?!"

Arthur bangkit secara perlahan dan elegan layaknya bangsawan kelas atas. "Yo..." sapanya santai sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor terkena debu. "Kulihat kau sedang dalam masalah dan Bikou malah enak-enak bermain dengan salah satu Godai Ryū'ō (Five Dragon King)." Ujarnya kemudian mensejajarkan posisi berdiri dengan Kuroka.

"Aah, ada Sekiryūtei. Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi, salam kenal, Sekiryūtei-dono. Arthur Pendragon, pendekar pedang dari Tim Rival anda Vali Lucifer." Dia kemudian memperkenalkan diri dengan keformalan yang benar-benar alami.

Disamping kanan pemuda itu Kuroka hanya sweatdrop dengan kelakuan Arthur yang tak berubah sedikit pun. Selalu memperkenalkan diri dengan gaya khasnya tak peduli lawan dan kawan. "—Nyaan, biarkan saja monyet itu. Rabies Monyetnya kambuh lagi ketemu Godai Ryū'ō. Ngomong-ngomong kenapa kau disini, Arthur?"

"Hoiy teme! Apa maumu?!"

Arthur mengabaikan balasan perkenalan Issei sambil menyarungkan pedangnya, dia menoleh ke tenggara lalu menjawab Kuroka. "Vali sudah datang dan dia menyuruhku mundur karena lawannya Maōu Beelzebub dan Maōu Leviathan..."

Di sisi Issei. Issei terkejut mendengar bahwa rivalnya datang dan melawan dua Maōu. Begitupun Rias dan Koneko yang sama terkejutnya. Mereka memang sudah tahu bahwa terjadi serangan, dan sudah beberapa kali merasakan gempa. Hanya saja Kekkai yang dipasang Kuroka membuat mereka tak bisa merasakan apapun selain gempanya.

"Ya, awalnya aku mengira menyuruhku mundur hanya karena lawannya dua Maōu. Namun, setelahnya aku menyadari kalau ada sesuatu selain itu yang jadi alasan dia menyuruhku mundur. Kurang lebih begitulah."

"—Nyan, paling juga dia ingin melampiaskan nafsu bertarungnya yang sudah tertahan sejak Konferensi lalu."

"Sekiryūtei-boya, Rias-hime, berhati-hatilah pada pemuda itu."

Suara besar Tannin menginterupsi percakapan Arthur dan Kuroka. Naga besar itu kemudian mendaratkan tubuh tak jauh dari lokasi Rias, menyebabkan hembusan angin yang cukup kuat. "Pemuda itu, dua benda di tangannya sangat mematikan."

"Tannin-ossan! Memangnya benda apa itu?"

"Pedang Raja Suci Collbrande. Juga dikenal sebagai Caliburn. Collbrande juga disebut dengan Pedang Suci Terkuat, sampai berada di pihak Hakuryūko... Kau beruntung tanganmu tak hancur setelah memukulnya."

"Pe-Pedang suci terkuat? Lalu yang satunya, juga pedang suci?"

Arthur menunjuk pedang satunya yang masih tersarung dan digantung pada pinggang. "Ini adalah Excalibur akhir yang ditemukan baru-baru ini, yang terkuat dari ketujuh pecahan Excalibur asli, [Excalibur Ruler]."

"Sampai berbicara seperti itu, bahkan setelah melawan dua Maōu bersama Vali. Kau cukup kalem, bukan?" Kuroka mencibir karena bagaimanapun sifat Arthur itu membuatnya sedikit merasa aneh di beberapa kesempatan.

Arthur mengangguk. "Ya, sebenarnya aku juga merasa tertarik dengan rekan orang-orang ini. Sekiryūtei-dono, bisakah kau anda menyampaikan sapaanku pada Penggunaan Seimaken dan Seiken Durandal? Suatu saat nanti saya sangat ingin menghadapi mereka sebagai sesama pengguna pedang—Mengerti?"

"—Ah, tidak perlu sepertinya." Arthur tiba-tiba saja maenarik ucapannya setelah mengingat sesuatu. "Aku lupa kalau kalian semua tak akan dilepaskan lagi. Secepatnya, kita akan segera bertemu. Adik Kuroka—" Arthur menunjuk Shirone. "—lalu, Rias Gremory—" sekarang giliran gadis berambut merah yang masih bersimpuh menahan sesak nafas, entah di dengar atau tidak. "—dan sahabatnya. Telah diincar beberapa dari kami, dan entah kebetulan semuanya hanya karena ingin menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan."

"Shirone sudah pasti... Tapi Rias Gremory dan Sona Sitri? Kenapa?" Kuroka jelas tak tahu hal ini. Kemungkinan karena dia sempat tak hadir pada satu percakapan serius sebelum malam ini. "Aah, tak usah. Aku sudah tahu—Nyaan!" dan kemudian dia menemukan jawabannya sendiri tanpa diberitahu. Ya, itu berhubungan dengan Vali dan Madara.

"Baiklah. Kita mundur. Dimana Bikou?"

"Yooooottooooo—"

Bikou panjang umur. Karena baru dicari langsung muncul dari langit dan mendarat agak kasar di sebalah kanan Kuroka. "Pantas saja naganya tiba-tiba hilang. Kau datang rupanya."

"Le Fay sudah membagikan informasinya. Tak kusangka bisa memakan waktu lebih dari sehari."

"Hoiy, tunggu brengsek!" Issei yang sedari tadi menyimak tiba-tiba meraung. Dia agak terkejut tadi Rias dan Sona sudah menjadi incaran mereka setelah Koneko. "Kalian pikir kami akan membiarkan kalian pergi setelah mengancam Koneko-chan dan Buchou?!"

"Biarkan mereka pergi!"

Arthur membungkuk hormat. "Aah, terima kasih untuk membiarkan kami pergi, Ryū'ō-dono." Setalah bangkit dan memandang sekali lagi tiga iblis muda di hadapannya, Arthur menyentuh telinga kanan.

"Baiklah, Le Fay. Tarik mundur kami sekarang..."

[Baik Arthur-niisama]

Tiga lingkaran sihir emas masing-masing muncul di bawah kaki Arthur, Bikou dan Kuroka.

Namun, sebelum mereka ditarik mundur, Kuroka sempat melakukan sesuatu. Dia menghilangkan kabut racun yang dia sebar tadi hanya dengan sekali jentikan jari. Bagaimanapun, melihat adiknya sesak nafas seperti itu membuat hatinya terasa teriris. Ini semua gara-gara Issei dan Rias yang harus mengikuti Shirone sehingga memaksa dia mengeluarkan racun, dan sayangnya Issei tak terpengaruh. Ditambah kedatangan Tannin semakin menambah masalah hingga tak mampu mengambil adiknya kembali.

"Shirone. Ingatlah, Onee-chan tetap akan datang menjemputmu suatu hari nanti. Mereka bukan keluargamu, mereka hanya temanmu, dan tak berhak mendapatkan rasa terima kasih dari kita. Uzumaki Naruto, atau sekarang Naruto Lucifer adalah yang pantas kita beri rasa terima kasih... Walaupun menjadi budak Rias Gremory tak ada yang dia janjikan... Setidaknya, dia telah menyelematkan kita..."

Selagi berbicara, Kuroka memandang adiknya terakhir kali sebelum bertemu kembali nantinya. Tidak hanya itu, dia juga menambahkan pesannya,

"—Di pertemuan selanjutnya, jika memiliki banyak waktu... Akan kuceritakan semua yang terjadi malam itu, dan saat mendengarnya... Kuharap kau mau kembali bersama Onee-chan lagi... Jaa nee, Shirone-chan. Walau gagal mengambilmu dan situasinya jadi begini... Onee-chan tetap senang bisa melihatmu kembali..."

Koneko hanya bisa terdiam menahan rasa sakit, baik karena racun kakaknya, ataupun apa yang dia lihat dan dengar. Dia bukan melihat kakak yang dikenal sebagai penjahat kelas SSS Dunia Bawah dan pembunuh hanya karena kekuatan, namun kakak yang dulu dia kenal begitu sayang kepadanya dan rela menjadi budak iblis demi dirinya.

Ketika lingkaran sihir emas itu sudah menelan Kuroka hingga leher, dia bisa melihat bahwa bibir kakaknya masih bergerak mengatakan sesuatu yang tak bisa dia dengar namun bisa mengerti...

"... Onee-chan ..."

.

.

.

.

.

...

Hutan sebelah Barat Kastil Lucifer.

"Yare yare... Guru dari seorang monster sudah pasti monster juga. Anda benar-benar mengerikan untuk ukuran manusia biasa yang diberkahi kekuatan bernama Chakra itu, Hashirama-san."

Setelah beberapa lama, bersama Michael dan Baraqiel mengoroyok Hashirama seperti hal yang dilakukan pada Naruto, hanya komentar bermaksud memuji itu yang bisa dikeluarkan Azazel.

Ya, walaupun mereka bertiga belum mengeluarkan sepenuhnya kekuatan yang dimiliki, bahkan Azazel tak menggunakan Balance Breaker ataupun Armageddon Mode, Hashirama setidaknya mampu menahan imbang mereka bertiga tanpa mengalami luka berarti.

—Dan sekarang, mereka bertiga mengepung Hashirama dari angkasa sambil melayang dengan sayap masing-masing.

Di bawah, di permukaan tanah, Hashirama yang di sekitarnya sudah jadi lautan kayu dan pepohonon akibat dari segala macam upaya pertahanan dari gempuran tiga Malaikat—Satu murni, dua setengah murni di atasnya.

"Aku bisa menganggap itu pujian." Hashirama merespon apa adanya. "... Dan sekarang aku bisa mengerti apa yang dirasakan Naruto ketika melawan kalian,... Benar-benar melelahkan." Satu tarikan nafas berat Hashirama lakukan lalu merilekskan tubuh yang agak letih di beberapa bagian.

"Aaah, aku mulai lelah bertahan terus. Kalau sampai Madara tahu ini. Cerewetnya pasti kambuh..."

Azazel menyipitkan mata pada ucapan Hashirama. Dia tahu kalau maksud pria itu dia akan mulai menyerang setelah sebelumnya hanya bertahan dan terus bertahan dari mereka bertiga.

Dan benar saja apa yang Azazel perkirakan. Dibawah sana Hashirama tiba-tiba saja merangkai segel tangan,

"Mokuton: Daijurin no Jutsu." (Wood Release: Great Forest Tehnique)

Lepas menyelesaikan dan menyebut nama tehnik yang dikeluarkan, Hashirama mengarahkan lengan kanan ke Azazel. Lengan tersebut lantas berubah menjadi balok kayu, pertama hanya satu melesat ke Azazel, namun ketika telah mengikis seperempat jarak balok kayu tersebut terbelah sangat banyak dan berbelok ke segala arah.

"Sekarang dia mengubah bagian tubuh menjadi kayu?! Sejauh mana sebenarnya pengendalian tehnik orang ini?!"

Sambil mengatakan hal tersebut, Azazel bersama Baraqiel dan Michael meliuk-liuk di udara berusaha untuk tak terkena balok-balok yang mengincar mereka secara terus menerus.

Berkaca pada pertarungan melawan Toothy-kun atau Kokabiel bersama Madara dulu, Hashirama akan melakukan skenario yang sama melawan tiga mahluk bersayap dan bisa terbang ini. Walaupun hanya sendirian, Hashirama tak kehabisan akal untuk mengulangi hal yang sama,

"Selanjutnya,... Moku Bunshin (Wood Clone)."

Dari punggung Hashirama keluar tiga balok kayu yang kemudian memisah dan membentuk tiga tiruan sempurna dirinya. Tiga klon itu lalu naik pada balok-balok kayu yang masih terus tumbuh, mengejar tiga Malaikat di atas langit hutan dengan cara berlari sangat cepat di atas balok yang sebetulnya sangat tipis itu sebagai pijakan.

Dari kejauhan, langit di atas area tersebut sudah dipenuhi balok-balok kayu. Itu terjadi karena setiap orang yang diincar hendak keluar dari area tersebut, beberapa balok kayu tumbuh dan menutup jalur pelarian.

'Sampai seberapa banyak dan panjang kayu-kayu ini akan tumbuh? Ini seperti tingkat rendah tehnik menciptakan hutannya itu,... Kalau begitu...' Batin Azazel segera melakukan sesuatu selain terbang menghindar. Dia menciptakan dua pedang dari cahaya di masing-masing tangan.

"Sudah kuduga!" Azazel berseru agak keras. "Kalian, kayu-kayu ini lebih lemah dari pohon dan naga tadi..." dia segera memberitahukan Baraqiel dan Michael informasi yang dia dapatkan. Informasi tentang dia barusan menghancurkan beberapa balok kayu yang mengincarnya.

Mendengar Azazel, Baraqiel dan Michael melakukan tindakan yang sama. Mereka berdua menggunakan kemampuan masing-masing untuk menghalau serangan yang datang.

.

.

Sibuk menghalau dan menghacurkan setiap balok kayu yang datang, Azazel tak lagi beranjak dari tempat untuk bertahan.

Namun, tanpa dia sadari. Serangan dalam bentuk yang berbeda kini mengincar.

Ketika dua balok terakhir telah hancur terkena sabetan pedang cahayanya, mata Azazel tertuju pada sekumpulan balok yang menyerang bersamaan dari depan.

Banyaknya balok itu membuat besar serangan yang datang tak akan hancur hanya dengan ditebas memaksa Azazel terpaksa menurun posisi dalam posisi terlentang,

"Sialan, hampir sa—"

Baru saja ingin bersyukur tak kena serangan, Azazel menjadi terkejut ketika balok kayu diatasnya yang masih melesat ada sesuatu.

Hashirama atau klon Hashirama menempel di bagian bawah dengan posisi berjongkok, dan ketika berada tepat di atas Azazel, klon tersebut melesatkan diri seperti peluru.

"—Ugh!"

Azazel melenguh merasakan tubrukan hebat terjadi di perutnya dan terdorong ke bawah menghancurkan banyak sekali balok kayu sebelum punggung bersayapnya bertabrakan dengan tanah begitu keras.

.

.

"Azazel!" Baraqiel berteriak ketika sahabatnya menabrak tanah. Matanya lalu fokus pada seseorang yang berlari di atas sebuah balok kayu dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya.

"Michael-dono,... Lindungi diri anda. Akan saya hancurkan semuanya sekaligus..."

Baraqiel mengambil beberapa jarak mundur walau banyak balok kayu mengincarnya. Dia tak bergeming dan tetap pada niat awal.

Di sekitar tubuh Baraqiel mulai bermunculan aliran-aliran petir. Aliran petir tersebut bergerak seirama dengan tangan Baraqiel.

Hingga pada satu momen Baraqiel menujuk ke atas langit, aliran petir tersebut meluncur naik diantara kepulan awan.

Langit di atas area tersebut tiba-tiba berubah. Dari yang awalnya hitam gelap serta diselubungi beberapa awan yang entah bagaimana bisa berkumpul di sana berubah. Itu menjadi sedikit terang dan sambaran-sambaran petir muncul diantara awan.

"Mengamuk dan hancurkan semuanya,... Seirai (Holy Lightning)!"

—Dan tepat setelah ucapan Baraqiel itu, gemuruh hebat terdengar dan hanya sepersekian detik setelahnya petir yang begitu besar menyambar hutan tempat mereka hingga menciptakan ledakan besar.

.

.

"Hampir saja. Itu tadi benar-benar petir yang sangat kuat, bahkan dari semua Raiton (Lightning Release) yang kuketahui."

Hashirama bergumam dalam lindungan Mokuton: Mokujōheki yang masih sempat dikeluarkan sebelum sambaran petir tadi menghantam area di sekitar. Bau gosong tercium jelas hidung Hashirama mengindikasikan bahwa bagian luar kubah kayu tebalnya mungkin hangus.

"Bah, padahal niat awalku selain hanya untuk menunggu seperti keinginan Madara adalah berbicara dengan Azazel. Tapi, siapa sangka malah dapat tiga burung sialan. Nasibku benar-benar sial malam ini."

Mulai menggerutu tak jelas, Hashirama mengabaikan kubahnya yang seperti diserang dari luar. "Kalau begini terus, daripada mati bodoh, mungkin membunuh salah satu mereka—Ah, tidak, tidak! Aku memang ingin menghacurkan mereka yang membunuh Naruto—Arrrrghhhhh, sialan! Kok jadi pusing sendiri!"

"Madara-teme... Kalau sampai aku mati disini. Ini semua salahmu tak mau duduk tenang menunggu!"

Hashirama mengeraskan wajah beberapa saat lalu menghela nafas. "Sebenarnya aku mau kabur saja, kemudian duduk tenang menunggu sambil menikmati ocha dan sup jamur... Tapi, entah kenapa aku merasa takkan puas kalau hanya sampai disini saja... Dan Madara pasti marah-marah lagi kalau aku hanya pulang cuma bawa informasi soal alasan Naruto dibunuh—Itupun kalau bisa pulang lengkap...!"

Memperbaiki posisi berdirinya, Hashirama menyatukan telapak tangan di depan dada sebelum menghilangkan kubahnya. Dan ketika itu terjadi, puluhan tombak cahaya dan aliran petir datang dari dua arah berbeda.

"Mokuton."

Dua akar besar keluar dari tanah di dekat Hashirama. Akar tersebut berhasil melindunginya dari serangan di depan dan samping kiri. Tanpa menghilangkan akar tadi, akar lain muncul dan melesat seperti ular raksasa mengincar tiga lawannya di atas langit.

Mata Hashirma tak kehilangan fokus walau harus secara bergantian melihat tiga lawannya. Azazel meliuk sebentar lalu menyerang. Di sisi kanan atas adalah Michael yang hanya fokus bertahan, dan terakhir Baraqiel yang sudah bergeser ke sisi belakang lalu melancarkan petir sekian kalinya.

Akar yang keluar pertama tadi kembali bergerak sebagai pelindung dan akar lain tetap fokus menyerang.

Tempo pertempuran mulai meningkat, saling serang dan bertahan menjadi pemandangan di area yang sudah jadi tanah kosong setelah hantaman petir dahsyat Baraqiel.

Tak ada yang ingin menyerah dan menurunkan tempo selama beberapa saat. Bahkan Michael juga telah ikut menyerang, namun Hashirama sama sekali tak tersentuh karena mengendalikan belasan akar besar untuk bertahan maupun menyerang.

—Dan satu hal lain yang perlu diperhatikan adalah, pihak Azazel seperti tak terlalu bernafsu mengalahkan Hashirama, bahkan setelah Ajuka memberi perintah untuk membunuh Hashirama.

Itu terlihat dari tempo dan tingkat serangan mereka yang tak meningkat.

Sepertinya tiga malaikat ini hanya ingin menahan saja sampai Hashirama lelah sendiri. Kemungkinan diluar perintah/permintaan Ajuka, Azazel memiliki pemikiran sendiri dan membaginya ke Michael dan Baraqiel. Bagaimanapun, Azazel juga tak tahu apa yang terjadi sampai Ajuka menyuruhnya demikian, serta Sirzechs yang mengaktifkan True Form.

.

.

"Tak berguna..."

Hashirama bergumam pelan setelah beberapa menit tak ada kemajuan yang terjadi. Tiga lawannya sama sekali tak tersentuh Mokuton. Chakra-nya juga perlahan menipis karena mengendalikan banyak akar untuk menyerang dan bertahan. Tak ada pilihan lain, Hashirama terpaksa akan berubah ke mode serangan penuh dengan,

"Sennin Mōdō."

Corak merah kembali muncul di sekitar mata dan tengah keningnya. Setelah masuk pada mode terkuatnya, tanpa pikir panjang dia hendak mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan,

"Senpō Mokuton: Shin Sū—"

Sayangnya, tepat sebelum mengeluarkan tehnik tersebut, lingkaran sihir emas muncul tepat di bawah dua kakinya, dan itu mengangetkan Hashirama.

"—Eh, apa ini? Woaaaaaaaaah!"

Selanjutnya yang terjadi adalah tubuh Hashirama ditelan sembari berteriak panik bukan main mengira itu adalah serangan.

.

.

.

Azazel, Baraqiel dan Michael menghentikan serangan mereka. Pandangan heran mereka keluarkan pada kejadian yang barusan terjadi.

"Hmmn, dia ditarik paksa oleh seseorang menggunakan sihir teleport." Azazel terbang turun menuju tempat Hashirama tadi. Ingin mencari tahu siapa yang menarik sepihak Hashirama tadi. "Jejak keberadaannya benar-benar menghilang. Ini sihir teleport milik penyihir [Golden Dawn] dan yang memakainya sangat ahli bisa melakukan ini tanpa sepengetahuan orang yang diteleport."

Michael datang menghampiri, mendarat di samping kiri Azazel. "Dia mundur?" dia mempertanyakan agak sedikit bingung.

Menyusul Pemimpin Fraksi Malaikat, Baraqiel ikut menghampiri keduanya. Dia tak berbicara karena memikirkan sesuatu, besar kemungkinan adalah putrinya, Akeno.

"Aku tak tahu." Azazel mengangkat bahu kemudian menoleh ke arah kota Lilith, yang mana pancaran Yōuki gila Sirzechs masih terasa. "Jika mereka mundur, apa arti semua yang terjadi malam ini?"

"Datang mengacaukan pertemuan dengan Odin-dono, mengatakan sesuatu tentang Naruto. Berpikir ingin membalas dendam tapi ditarik paksa seseorang sebelum membunuh salah satu dari kami, ini benar-benar membingungkan. Jawabannya mungkin ada pada alasan Ajuka menyuruh kita membunuh mereka."

Azazel sebenarnya sangat ingin tahu apa yang terjadi. Namun, dia tak mau terlalu ambil pusing, apalagi sekarang dia bukan lagi pemimpi fraksi Malaikat Jatuh. "Kita akan tahu nanti..."

"Azazel..." Baraqiel akhirnya bersuara juga memanggil sahabatnya itu. "Tentang yang kau katakan tadi..."

"Tunggu saja. Setelah tahu alasan Ajuka menyuruhku membunuh Hashirama dan kelompoknya, kau akan mengerti. Kalaupun tidak,... Akan kujelaskan di Grigory."

"Bagaimana denganku?"

Azazel menoleh ke Michael. Dia mendesah pelan. "Haaa, kau yang sulit disini. Kau bisa ketahuan kalau berbohong." Dia berkata dengan ekspresi pahit. "Malaikat benar-benar merepotkan, dan entah kenapa sekarang aku bersyukur sudah 'Jatuh' jauh sebelum Great War..."

"Jangan bermain-main terlalu banyak walau kau bukan lagi Gubernur Grigory, Azazel. Taruhannya adalah aliansi ini sendiri, bahkan bisa saja dunia ikut kena imbasnya."

Azazel menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Dia agak lama melakukan itu sampai akhirnya hanya memberi satu tatapan panjang dan senyum ceria ke Michael.

"... Mari kita tunggu beberapa hari ke depan... Ya, seperti itulah... Pokoknya nanti, pintarlah berkata-kata, Michael."

.

.

.

.

.

...

Lilith bagian Timur Laut.

Setelah mengaktifkan mode terlarang Sacred Gear, dalam balutan armor yang lebih besar dan berbeda, mengambil bentuk hampir menyerupai Western Dragon, Vali tak langsung mendapat serangan dari dua lawannya.

Antara langkah pintar, atau mungkin ketakutan, Ajuka dan Serafall langsung menjaga jarak dari Humanoid-Dragon yang disekitarnya dipenuhi aura putih gila-gilaan.

[Apa yang mereka tunggu?]

[Entahlah, Vali. Apa mereka takut?]

[Kalau begitu, mereka hanya besar mulut saja tadi]

[Bagaimana kalau kau saja yang mulai?]

[Ide bagus!]

"Grooooooaaarrr!"

Naga Humanoid besar itu meraung gila, menggetarkan tanah disekitarnya. Pendar putih disekelilingnya juga berubah menjadi petir-petir putih yang secara sembarang menyambar apapun.

Kemudian. Dalam satu kedipan mata, keberadaan makhluk tersebut menghilang meninggalkan jejak cahaya putih yang dialiri petir senada di angkasa.

Ajuka dan Serafall hanya bisa bereaksi sesaat sebelum sadar bahwa mereka telah digenggam tangan setengah-naga itu. Beruntungnya karena telah melapisi tubuh dengan Yōuki sehingga sang naga cukup kesusahan meremukkan tubuh mereka.

'Sial!'

'Ini gawat!'

Sang Mahluk Setengah Naga—Atau sebut saja Vali, karena memang mahluk itu adalah Vali yang berubah, tak kehabisan akal tak bisa menghancurkan dua tubuh di kedua tangannya.

Vali terbang membelah langit menuju ke atas. Sampai di ketinggian ratusan meter, Ajuka dan Serafall dilempar ke bawah. Tubuh dua Maōu itu hanya dalam waktu singkat menabrak tanah. Hanya melempar? Tidak! Vali belum selesai.

Kepala naga itu mengadah ke atas dan membuka mulut lebar-lebar. Sinar putih menyilaukan seketika membuat langit malam Lilith terang benderang seketika.

Dragon Breath Vali lancarkan begitu saja ke tempat Ajuka dan Serafall dilempar tadi. Turun bagaikan tiang cahaya pembawa petaka ke daratan hingga mengakibatkan gempa kesekian kalinya.

Vali mengepak sayap naganya untuk tetap melayang, dia menunggu hasil dari serangannya barusan. Di bawah sana, sudah ada lubang raksasa yang entah berapa ratus atau bahkan kilometer dalamnya, dan tepat di atas lubang tersebut ada dua keberadaan yang sudah Vali duga masih bisa bertahan.

[Sudah jelas akan bertahan. Kalau tidak, mereka tak akan diangkat jadi Maōu, bukan?]

[Kau yang terlalu menahan jumlah kekuatanku, bodoh!]

[Aku mencoba menghemat, sedikit. Lawan kita Maōu, dan kita tak tahu kapan ini berakhir, bukan?]

[Terserahlah! Jangan membuatku menyesal membuka pembatasnya, Vali]

[Tak akan. Tak akan, Albion]

Walaupun Vali mengatakan hal tersebut, Albion merasa kalau inangnya melupakan sesuatu. Dia ingin mengingatkan inangnya, tadi melihat kondisi Vali yang benar-benar on-fire membuat Albion berpikir akan sia-sia. Kemungkinan Vali tak akan mendengarnya.

.

.

"Aku tak menyangka sejauh ini kekuatan Nitenryū yang telah disegel ke bentuk Sacred Gear."

Dalam kepungan Yōuki berpendar hijau dan diatasnya sebuah sihir pelindung berbentuk segitiga, Ajuka berkomentar demikian kali pertama merasakan hebatnya kekuatan dari salah satu dari 13 Longinus. Disampingnya ada Serafall yang juga tubuhnya diselubungi Yōuki kebiruan dan diatasnya ada lingkaran sihir lumayan besar.

Tak ada lagi wajah dan tingkah kekanak-kanakan ala Maōu Shojou Levia-tan. Di wajah Serafall sekarang ini hanya ada ekspresi serius yang terakhir kali terjadi ketika melawan Grayfia dalam perebutan Tittle Maōu Leviathan lepas Perang Saudara.

"Ajuka. Ayo selesaikan ini secepatnya. Aku benar-benar khawatir Sona ikut jadi korban. Sampai saat ini gara-gara Yōuki Sirzechs yang terlalu besar memenuhi Mekai, aku tak bisa merasakannya dimana pun."

"Lawan kita itu Tenryū gabungan Lucifer, kau tahu? Dan aku tak bisa menggunakan Kankara Formula karena dia sekarang berada dalam bentuk naga yang entah kenapa Yōuki miliknya sama sekali tak teeasa." antara terkejut dan sweatdrop, Ajuka menanggapi Serafall yang sifat overprotektif-nya kambuh. "Tapi, kau benar. Ayo selesaikan ini secepatnya!"

Setelah menyelesaikan percakapan singkat itu. Keduanya memandang ke langit, melihat Vali yang menukik tajam ke arah mereka.

"Ajuka, turun sedikit!" perintah Serafall.

Maōu Beelzebub menganggukkan kepala. Dua Maōu ini kemudian turun beberapa meter ke dalam lubang bekas serangan Vali.

Ketika sampai di titik dimana Serafall berhenti, Ajuka yang pertama mengambil tindakan. Tujuh lingkaran sihir hijau dia ciptakan. Laser hijau berjumlah sama tertembak pada satu titik, menyatu lalu melesat ke lokasi Vali yang telah mengeleminasi jarak dalam waktu singkat.

Vali tak bergeming serangan Ajuka datang memberi salam. Dia menyilangkan tangan Naga-nya di depan kepala dan menembus laser hijau itu hingga terbelah menjadi beberapa bagian.

"Serafall, sekarang!" Ajuka berteriak karena sedari awal dia sudah tahu apa yang dilakukan Serafall kenapa menyuruhnya turun beberapa puluh meter ke bawah.

Vali memasuki kepala lubang selagi beradu dengan serangan Ajuka, berkat itu laser Ajuka yang terbelah mengikis sisi lubang.

Serafall menunggu, menunggu dan menunggu hingga waktu yang tepat datang.

"Kena kau kadal!"

Lingkaran sihir tak terhitung jumlahnya tercipta memenuhi sisi lubang.

Bunyi logam yang berdenting hebat dihantam puluhan balok es menggema, seketika menghentikan naga tersebut.

"Groaaaaaaaaarrrkkk!"

[Ugh, sialan! Seharusnya aku menyadari ini ketika mereka turun lebih dalam—Jangan tertawa kadal sialan!]

Diluar, Sang Naga meraung kegilaan. Sedangkan di dalamnya Vali merutuki diri sendiri bisa jatuh pada perangkap sederhana ini, kemudian berteriak kesal pada Albion yang menertawainya.

Sang Naga meronta untuk lepas dari himpitan balok es, namun setiap balok yang dihancurkan, balok lain keluar dari lingkaran di sisi ruangan menggantikan yang hancur tadi.

"Grooooooooaaaaaarrrkkk!"

[Aku mulai kesal dengan es-es ini]

Vali mengompres Ryūki dalam jumlah banyak kemudian dihempaskan keluar, menghancurkan semua balik es yang menghimpit tubuhnya.

Dan sebelum balok es lain muncul, Vali melakukan Dragon Breath sambil berputar-putar di tempat menghancurkan semua lingkaran sihir Serafall.

Tidak hanya semua lingkaran tersebur, laser dari Dragon Breath Valijuga mengenai dinding lubang hingga tembus ke pemukaan dan meluncur bebas ke langit.

Seketika, sekali lagi, kota Lilith, dibagian Timur Laut, mengalami kehancuran dan perlahan-lahan longsor ke bawah karena tanah dibawahnya telah habis disapu laser putih dari Dragon Breath Vali.

...

"Dia bahkan bisa melakukan ini."

"Sungguh, kekuatan yang gila!"

Di langit, Ajuka dan Serafall yang tepat setelah Vali dihentikan berpindah dengan sihir teleport, menyaksikan salah satu kota kebanggaan Mekai yang dibangun setelah kemenangan di Perang Saudara hancur begitu saja dalam semalam oleh beberapa orang sama sekali bukan candaan.

Dari keseluruhan Kota Lilith yang luasnya beberapa puluh kilometer persegi, kini tinggal wilayah Barat Laut yang belum hancur sepenuhnya. Setelah serangan Madara di awal, sejatinya lokasi mereka—wilayah Timur Laut belum terlalu parah kerusakannya, hanya sebagian besar saja yang hancur terkena efek pertarungan melawan Vali sebelum akhirnya ambruk beberapa ratus meter hingga ke pinggiran kota karena tanah dibawahnya hilang terkena Dragon Breath.

Beberapa lama menunggu hingga dari kepulan debu bekas ambruknya kota sosok Humanoid-Dragon Vali akhirnya terlihat. Ajuka melihatnya dengan mata berkilat penuh emosi.

"Kota yang hancur masih bisa dibangun kembali, namun nyawa yang dihilangkan tak akan bisa dikembalikan lagi..." suara Ajuka semakin bertambah dingin, bahkan Serafall sampai terkejut dengan ini. "Kalian benar-benar tak akan kumaafkan! Tak akan!"

"A-Ajuka?!"

"Guurrryuuuuuaaaaaaaah!"

Ajuka melolong layaknya hewan buas sampai Serafall semakin terkejut dibuatnya. Dalam sekejap kemarahan Maōu Beelzebub terproyeksikan pada langit dan udara.

Udara bergetar hebat. Awan-awan yang sebelumnya memenuhi atmosfer buatan Dunia Bawah seperti merespon dan menjauh dari lokasi Ajuka. Suara gemuruh seperti saja langit ingin runtuh terdengar ke segala penjuru.

Kemudian dalam sekejap ratusan lingkaran sihir yang diameternya tak main-main memenuhi langit wilayah Timur Laut Lilith. Saking banyaknya, langit malam yang hitam kelap berubah hijau terang.

"Mati kau, keparat!"

Bersamaan dengan pesan kematian yang diberikan kepada mahluk dibawah ratusan lingkaran sihir tersebut. Hujan Demonic Power dalam wujud laser hijau besar dijatuhkan secara membabi-buta.

Beberapa detik setelah hujan terjadi, baik Ajuka ataupun Serafall sempat melihat cahaya putih menari-nari di atas kota diantara banyaknya laser hijau besar dan ledakan dahsyat, sebelum akhirnya cahaya putih ataupun jejak yang ditinggalkan hilang disapu kemarahan berwujud Maōu Beelzebub.

"Apa kau hanya melihat-lihat saja, Serafall? Bantu aku memastikan agar keparat itu benar-benar mati, dan kita membantu Sirzechs disana membunuh orang yang mengambil semua nyawa penduduk Lilith."

Butuh waktu beberapa saat diantara gemuruh hujan cahaya hijau sampai Serafall sadar Ajuka berbicara kepadanya. Dia terlalu terpaku pada Ajuka yang tak main-main menyerang Hakuryūkō dibawah sana.

"Aah, iya—Maksudku, tentu saja." Serafall mengarahkan tangan ke atas, membuka telapak lalu mengatakan sesuatu dengan wajah sedikit jijik. "Tapi aku tak mau berteriak kesetanan seperti yang tadi."

"Terserah. Asalkan keparat dibawah sana mati." Ajuka hanya membalas cuek.

Kini giliran Serafall. Tak segila Ajuka yang berteriak tadi, Serafall tetap santai di luar namun panas di dalam.

Yōuki gila-gilaan seketika terasa, udara bergetar hebat dan langit tambah bergemuruh saat hujan Ajuka masih berlangsung.

Diantara ruang kosong formasi milik Ajuka yang masih menyerang tanpa henti, lingkaran sihir keluarga Sitri berwarna biru dalam jumlah yang hampir sama bermunculan.

Ikut meramaikan hujan Ajuka, lingkaran sihir Serafall mengeluarkan energi biru agak gelap dan terlihat seperti wujud cairan, namun tetap terlihat sangat berbahaya apabila tersentuh barang sedikit saja.

Kini lengkap sudah kemarahan dua Maōu ini menghujani Vali. Laser hijau dan energi agak cair berwarna biru gelap tanpa henti selama beberapa menit jatuh dari langit menambah rasa sakit serta kehancuran tanah Lilith.

Dan satu hal yang bisa keduanya dengar selain bunyi hujan dan ledakan pada permukaan tanah adalah:

Raungan melenking seekor naga yang seperti tengah kesakitan dibawah sana.

.

...

Ajuka dan Serafall bersama-sama menghentikan serangan mereka setelah yakin tak ada yang selamat, bahkan itu bakteri dibawah sana.

Mengabaikan kekuatan fisik dan Yōuki yang berkurang drastis karena serangan besar barusan, keduanya melayang turun secara perlahan-lahan selagi menunggu debu yang mengupul dibawah sana hilang.

Akibat dari hujan yang mereka turunkan, permukaan tanah bagian Timur Laut Lilith yang sudah ambruk bertambah dalamnya hingga beberapa kilometer.

Bagian kota yang itu kini berubah menjadi jurang dalam seluas beberapa kilometer persegi.

"Cepat pastikan kalau dia sudah lenyap. Entah itu mati dan tubuhnya hancur atau kabur lalu pergi ke tempat Sirzechs." Sahut Ajuka dan melirik ke tempat sahabatnya itu. "Sirzechs, apa yang terjadi padanya—"

"A-Ajuka!"

Demi apapun! Ketika Ajuka berhenti berbicara dan melihat ke tempat yang ditunjuk Serafall. Giginya dikatupkan rapat-rapat, matanya berkendut-kendut. Dari dua kemungkinan yang dia sebut, tak ada yang terjadi.

Di atas sebuah bongkahan batu besar, Vali—dalam wujud Naga hampir sempurna berdiri tegak seolah menantang kedua Maōu untuk melanjutkan pertarungan.

Walau begitu, kondisi Vali tak bisa dikatakan baik-baik saja. Armor besi [Juggernaut Drive] sudah hancur di beberapa bagian menampakkan daging yang dipenuhi darah, ada juga bagian yang hanya retak dengan cairan merah merembes keluar.

"Cepat selesai—"

[Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide]...

Situasi seketika berubah total suara mekanik kekuatan dari Divine Dividing tersebut menggema selama beberapa saat tanpa henti.

Ajuka dan Serafall berhenti di udara. Tubuh mereka serasa melemas seketika kekuatan yang mereka miliki dibagi setengah dan setengah, setengah lagi, dan setengahnya lagi.

'Sial! Aku lupa dia sudah menyentuh kami tadi!'

.

.

[Dasar bodoh! Kenapa baru sekarang kau membagi kekuatan mereka? Bahkan sejak dari awal kau sama sekali tak membaginya setelah menyelematkan Arthur dan melakukan kontak dengan salah satu dari mereka]

Albion tak habis pikir dengan tindakan Vali. Seandainya Vali dari awal membagi kekuatan Ajuka dan Serafall lalu menjadikannya itu miliknya, tentu saja serangan besar-besaran tanpa henti tadi tak akan terjadi dan mereka tak akan mengalami luka parah seperti ini.

[Atau jangan bilang,... Kau lupa sudah menyentuh mereka karena nafsu bertarungmu sudah menggebu-gebu dapat lawan sekelas Iblis Super yang marah? Astaga, Vali—]

[Gah, berisik, Albion! Cepat pulihkan saja tubuh kita menggunakan kekuatan yang diambil dari mereka. Itu pasti cukup untuk pulih sempurna, bukan?]

Suara Vali nampak tak beraturan bersama dengan nafasnya. Namun, berbanding terbalik dengan keadaan yang terluka parah, ada seringai licik terukir di personafikasi wujud manusianya.

[Sebenarnya—Aah, ah... aku ingin membaginya sebelum serangan tadi dimulai. Tapi aku memikirkan hal lain. Lawan kita dua Maōu jadi aku melakukan pertaruhan. Jika lolos, kemungkinan menang kita semakin besar, dan jika tewas... Apa boleh buat!]

Butuh waktu beberapa saat sebelum Albion mengetahui maksud pertaruhan inangnya itu,

[Brengsek! Kau benar-benar segila kakakmu yang menantang tiga pemimpin Fraksi Injil seorang diri, Vali!Kalian benar-benar keturunan iblis gila itu!]

Setelah mendengar ocehan Vali, Albion akhirnya paham tujuan dari inangnya. Dan satu hal yang pasti, kemungkinan besar tujuan Vali dalam pertaruhan itu berhasil!

Mereka dibuat Vali merasa diatas awan tersebut terlebih dulu dengan serangan tadi, bahkan dibuat percaya bahwa Vali akan tewas dalam serangan—yang kemungkinan adalah serangan penghabisan menggunakan hampir semua kekuatan yang dimiliki. Dengan matinya Vali pasti memberikan kepuasan pada mereka yang saat ini dipenuhi amarah dan dendam.

Namun, nyatanya Vali berhasil selamat walau dalam keadaan luka parah.

Walaupun belum pasti mental bertarung Ajuka dan Serafall runtuh ketika tahu Vali selamat, Vali membalikkan keadaan dengan kemampuan yang belum dikeluarkan sejak awal: [Divide]

Serangan berskala besar yang kemungkinan besar memakai banyak sekali kekuatan dan dicampurkan amarah dan dendam, gagal!

Lalu, ambil kekuatan mereka yang tersisah—itupun jika ada karena yakin dengan serangan penghabisan tadi dengan [Divide], yang otomatis kekuatan yang diambil jadi miliknya.

Dari itu saja, Albion sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan Ajuka dan Serafall sekarang, terutama mental mereka.

[Vali sialan! Seharusnya kau memberitahuku, bodoh! Kita sama-sama bertaruh. Lihatlah sekarang bagaiman ekspresi mereka, Hahahahah—]

[Nggak sempat. Maaf]

.

.

"Bagaimana sekarang, Ajuka?"

"Sialan!"

Ajuka tak ada jawaban selain mengumpat. Sebagian besar kekuatannya telah habis dipakai dalam serangan tadi lalu diambil oleh Hakuryūko.

Namun, ini belum berakhir. Selama dia masih bernafas, dia tak akan berhenti hanya karena hal begini. Dia akan memakai apa yang tersisa. Demi Lilith, demi penduduk Lilith.

"Aku akan tetap membunuhnya apapun yang terjadi!"

"Ajuka..."

.

.

[Tck! Dia masih bisa bangkit ternyata. Apa boleh buat—Albion, apa sudah selesai?]

[Sabar sedikit kenapa. Mentang-mentang peluang menang melawan dua Maōusemakin besar]

Aura putih kembali menyelubungi tubuh mode [Juggernaut Drive] Vali. Itu membuat kondisi fisik Naga Hampir Sempurna itu perlahan-lahan kembali seperti semula. Bagian armor yang menghilang meregenarasi dengan cepat, begitupun dengan retakan di beberapa bagian tubuh.

Personafikasi jiwa Vali dibalik penggunaan [Juggernaut Drive]mengukir senyum kecil. Bukan seringai maniak, namun senyum kecil penuh arti.

'... Sekarang, biarkan aku yang melakukannya,...'

[Pemulihan selesai! Menggilalah, Lucifer]

Tepat setelah informasi dari Albion diterima, Vali langsung lepas landas menghancurkan bongkahan batu tempatnya berdiri. Dia melesat bagai peluru kendali yang tak akan melepas targetnya, Ajuka dan Serafall.

"Serafall, dia datang!"

Kondisi fisik dan Yōuki yang berkurang sangat drastis tak lantas membuat Ajuka ketakutan seperti kucing kecil habis dipukul kepalanya. Dia mengarahkan kedua tangan ke depan, beberapa lingkaran sihir miliknya kembali tercipta. Dia bahkan tak peduli lagi apabila Vali menggunakan kekuatan [Divine Dividing], ataupun kehabisan Yōuki.

Dalam keadaan terbang dengan kecepatan luar biasa cepat, Vali melihat apa yang dilakukan Ajuka. Dia menghela nafas, terdengar seperti kecewa?

'Dasar bodoh! Apa amarah dan dendamnya membuat dia bukan lagi Maōu Beelzebub yang dikenal jenius dan penuh ketenangan...'

[Half Dimension]

Pengumuman nama teknik itu mengakibatkan seluruh lingkaran sihir Ajuka mengecil dan terus mengecil hingga lenyap tak bersisah. Ajuka mendecih terlebih dulu sebelum melebarkan mata merasakan bahwa sesuatu terasa pada kaki kirinya.

"Serafall menjauh dari lokasi ini!"

[Percuma saja]

"Groaaaar!"

Personafikasi jiwa Vali berucap pelan sedangkan fisik naganya meraung keras, seperti ingin memberitahukan apa yang diucapakan jiwanya kepada Ajuka dan Serafall.

Kedua Maōu terbang menjauh ke atas, sedikit ke belakang. Berbeda ketika menggunakan [Half Dimension]pada mode [Balance Breaker],pada mode sekarang, jangkauan area yang dapat dibagi menjadi setengah bertambah, sekaligus dapat melakukannya berulang-ulang.

Alhasil, tanpa sadar karena fokus pada posisi mereka dari Vali yang ingin bergerak sejauh mungkin, Ajuka sudah kehilanhan lengan kanan dan Serafall kehilangan kaki kiri.

"Apa—?"

"—Kakiku?"

Seolah tak cukup mengambil kaki tangan dua orang, pengumuman lain terdengar dari tubuh naga Vali yang masih terbang, dan kali ini berulang kali,

[Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide] [Divide]...

Kekuatan mereka kembali dibagi setengahnya beberapa kali, dan kemungkinan kekuatan itu sekarang hanya selevel Iblis Kelas Bawah atau bisa jadi lebih rendah.

Ajuka dan Serafall benar-benar dibuat tak berdaya. Mental keduanya yang sesaat berhasil dikembalikan, namun kemampuan [Divine Dividing]sudah terlalu melampaui segala yang dimiliki keduanya, bahkan kejeniusan Ajuka.

"Ajuka,... Aku sudah mencapai batasku. Kemampuan Hakuryūko ini—" Serafall tak sempat melanjutkan ucapan karena tubuhnya terlebih dulu melemas dan hampir melayang bebas ke bawah andai kata tak cepat ditangkap Ajuka dengan tangan kiri.

Serafall menelenkan kepala ke Ajuka di sebelah kananya. Wajahnya terlihat putus asa. "Apa ini pembalasan atas apa yang kulakukan di Konferensi lalu? Mata dan pikiranku dibutakan oleh Sona-chan yang ingin dibunuh Naruto, membuatku lupa jika Naruto dulu pernah menjadi bagian dari kita. Hanya karena satu tindakannya itu aku—aku..."

Setelah memandang wajah Serafall yang baru kali pertama dilihat, Ajuka mulai memainkan logika di otak, membersihkan pikiran dari amarah serta dendam yang sejak tadi menggebu-gebu dan membutakannya sesaat bahwa lawannya adalah eksistensi kuat sekaliber Nitenryū dalam bentuk Sacred Gear. Dia memang tak berada di garis depan ketika Great War berlangsung, namun setidaknya dia tahu Nitenryū adalah penyebab perang akbar tersebut terhenti sementara.

Situasi sekarang sangat genting. Apakah dia akan melanjutkan tujuannya untuk membunuh Vali yang sekarang mungkin sudah berada di status mustahil karena keadaan dia dan Serafall, ataukah jalan aman akan diambil demi nyawanya dan Serafall.

"Sialan!" dan pada akhirnya Ajuka mengumpat setelah menentukan pilihan. "Simpan kata-katamu itu, Serafall. Tak ada pilihan lain,... Kita kalah! Saatnya mundur!"

"Ta—"

"Ini belum berakhir! Ini hanya kekalahan sementara. Kita mundur!" Ajuka menyela dan mengangkat tubuh Serafall dan mengalungkan lengan perempuan kecil itu pada pundaknya. Menoleh ke bawah, ke tempat Vali yang telah mengikis jarak, Ajuka berdesis,

"Ini belum berakhir,... Tunggulah! Selanjutnya kalian benar-benar akan kuhancurkan!"

.

.

[Vali!]

[Aku tahu!]

Vali Lucifer menambah kecepatan. Namun, dia terlambat beberapa detik. Dua Iblis itu sudah tertelan lingkaran sihir teleport sebelum disapu olehnya yang berkecepatan cahaya dengan mulut terbuka lebar.

[Brengsek! Padahal tinggal sedikit lagi...]

[Ya, itu pilihan terbaik bagi mereka. Setidaknya mereka masih berpikir dengan keadaan babak belur begitu nyawa penting daripada dendam...]

[Kau menyindirku, kadal?]

[Baguslah kalau kau tersinggung. Biar kepalamu itu bisa sedikit lebih encer agar tak gegabah untuk berhadapan dengan kakekmu yang punya itu]

[Beri—]

Vali tiba-tiba menghentikan ucapan. Suara-suara aneh tiba-tiba terdengar di telinganya, awalnya hanya suara keresek-keresek tak jelas hingga akhirnya menjadi jelas dan dia tahu suara siapa itu...

[Le Fay?]

[Aah, akhirnya tersambung! Halo, Vali-sama, Le Fay disini... Waktunya mundur. Paman bermuka aneh itu datang dan menyuruhku memberitahu Vali-sama dan yang lain untuk mundur]

Mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh adik Arthur. Vali terkekeh pelan. 'Kebetulan macam apa ini? Mereka mundur dan waktunya telah tiba?—Ya, apa boleh buat, mereka juga sudah kabur...'

[Baiklah, Le Fay. Kau bisa menarikku dengan sihirmu, kan?]

[Tentu saja bisa. Dengan Vali sebagai yang terakhir... Serahkan semuanya padaku dan—]

Personafikasi jiwa Vali dalam wujud Juggernaut Drive mengangguk paham. Dia kemudian menonaktifkan mode terlarangnya.

Setelah seluruh tubuh naga-nya hancur menjadi kepingan-kepingan besi yang berjatuhan ke bawah. Tubuhnya yang kini tak dibalut apa-apa lagi perlahan tertelan lingkaran sihir yang muncul di bawah kaki.

Sempat dia mendengar Le Fay mengatakan sesuatu,

[—Okaerinasai, Minna-sama]

Senyum kecil terukir di wajah Vali yang sedikit terlihat kelelahan efek penggunaan mode terkuatnya sekarang.

Setelah penantian yang diisi dengan pertempuran hebat, dan juga pengorbanan harus menahan rasa malu kesal yang bercampur beberapa jam lalu, itu semua akhirnya membuahkan hasil yang Vali harap adalah kabar baik,

.

.

"... Kalimat tersebut, simpan saja dulu untuk nanti..."

.

.

.

.

.

.

.

.


To be Continued to Next Chapter: Payback Finale — This isn't over, it's not even started yet Part II!