—Jauh di atas Langit Kota Lilith.
"Waaaah, Madara-sama, Vali-sama, dan semuanya benar-benar hebat!"
Le Fay tak bisa menahan kekagumannya ketika menyaksikan pemandangan kota Lilith dan sekitarnya dari atas sana. Walaupun tak melihat terlalu jelas dan hanya sekedar ledakan atau semacamnya. Le Fay masih bisa merasakan apa yang terjadi sejak berada di tempat ini...
Le Fay tiba sesaat setelah Vali mengaktifkan [Juggernaut Drive]kemudian disusul benturan hebat antara Madara dan Sirzechs yang menyebabkan sebuah cahaya sangat besar naik ke langit kemudian berubah menjadi ledakan super besar.
Ada pula kejadian cahaya putih tercipta di atas langit sampai berubah layaknya matahari menyinari Lilith dan sekitarnya.
Dan disusul beberapa kejadian yang membuat Le Fay berpikir bahwa malam ini adalah kiamat versi Underworld.
"Tapi, Arthur-niisama tiba-tiba hilang... Dia kemana ya?"
Le Fay memasang wajah berpikirnya, dia mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk tangan kanan, sedangkan tangan kiri fokus memegang gagang sapu yang dia pakai untuk tetap melayang.
"Maa ii, Arthur-niisama tak mungkin mati. Tak mungkin, tak mungkin! Paling Arthur-niisama kabur ke tempat Akai-kun."
Setelah berbicara sendiri tentang kakak kesayangannya, Le Fay kembali fokus dengan yang terjadi di bawah sana.
Dalam beberapa menit, tempo dari pertarungan Madara menurun signifikan, berbeda dengan Vali yang malah bertambah hebat dengan berbagai ledakan dan cahaya putih di sana sini bersinar terang.
—Karena peperangan terjadi pada malam hari. Le Fay malah melihat ini seperti festival malam dengan banyak sekali kembang api meledak di sana sini.
Ketika Le Fay asik melihat dan merasakan alur peperangan, dia jadi terkejut ketika hempasan angin mengenai tubuhnya dari bekalang,
"Kyaaaaaaaaaaah—!"
Le Fay berteriak ke-Loli-an sangat dan begitu imut. Tangan kanan Le Fay menahan topi penyihir biru besarnya agar tak terbang sedangkan tangan kiri berpegang erat pada sapu sihir yang diduduki menyamping. Rambut pirang Le Fay juga tak ketinggalan melambai-lambai.
"Huh, merepotkan—Aku cuma menyuruh mereka menunggu, tapi tak kusangka malah bertindak begini hanya untuk melakukannya ... Dasar orang-orang gila!"
Le Fay berbalik, dan terkejut bukan main untuk kedua kalinya.
"Kyaaaaaaaaa—!"
"Gah, kau terlalu berisik, Ojou-chan."
"—A-anda?!"
"Aah, aku lupa... Yo, Ojou-chan!"
"'Yo, Ojou-chan!' kepala anda! Anda membuat saya terkejut. Jangan muncul seperti hantu begitu, Oji-sama!"
"...Obake?"
"...Oji-sama?"
Lawan bicara Le Fay seperti dilanda sweatdrop dari cara dia berbicara mempertanyakan dua hal tadi. Selain itu, dia juga begitu karena cara berbicara Le Fay.
"Anoo na, Ojou-chan. Tolong jangan campurkan keformalan ketika mengumpat. Itu terdengar aneh."
"Eh, iyakah?" Le Fay jadi malu sendiri. Wajahnya sedikit memerah, jadi keliatan imut. "Maaf kalau begitu, Oji-sama."
"Oji-sama lagi?!"
"Hmmn?!" Le Fay memandang bingung orang itu, pria itu.
"Lupakan saja... Ngomong-ngomong, apa kau sudah selesai dengan bagianmu?"
"Tentu saja." Le Fay tersenyum bangga. "Itu mudah sekali, hehe!"
Pria itu mendengus. "Ya, tentu saja mudah karena orang-orang gila dibawah sana bertindak begini. Ini lebih dari gila sudah mengundang amarah tiga Maōu. Aku tak terkejut lagi kalau mereka berani menentang prinsip kehidupan, huh."
"Ngomong-ngomong, kalau Anda disini, paman. Itu artinya—"
"Kau benar. Jadi, bisakah kau menarik mereka semua kembali?" pinta Pria itu walaupun di wajahnya ada ekspresi tak rela.
Le Fay berpikir sejenak atas permintaan paman misterius-mencurigakan—kemungkinan Lolicon—itu. Le Fay membuka telapak tangan kanan ke atas, disana muncul beberapa lingkaran sihir berbagai warna dan pola. Sambil memperhatikan apa yang baru saja dia keluarkan, Le Fay menjelaskan situasi,
"Etto,... Bikou-sama dan Kuroka-sama bisa dijangkau sihir teleport dan komunikasiku, tapi cukup pakai sihir komunikasi saja memberitahu mereka untuk mundur, atau aku bisa menyuruh Arthur-niisama menjemput mereka kalau sudah muncul. Hashirama-sama pasti sibuk melawan lawannya, jadi aku akan menariknya paksa, juga Hentai-Oneesama. Vali-sama antara bisa dan tidak untuk aku hubungi karena sedang memakai [Juggernaut Drive], tapi aku masih bisa menarik Vali-sama jika tak terhubung..."
Le Fay berhenti sejenak. Ekspresi wajahnya yang tadi begitu antusias menjelaskan menghilang begitu saja.
"Terakhir, Madara-sama..."
—Itu menjadi tatapan yang sulit diartikan sambil mengalihkan wajah dari telapak tangan ke lokasi pertarungan Madara yang baru terjadi banyak ledakan beruntun...
"—Haa, mendokusei..."
.
.
.
.
.
[Arc IV: Nearest Place From Heaven]
.
[Chapter 35.1]
[Payback Finale — This isn't over, it's not even started yet!]
.
.
.
.
.
.
.
—Lilith bagian Utara.
Kansetai — Susano'o tengah melayang menggunakan semacam sayap di punggung yang sejak awal hanya merapat dan mengambil bentuk menyerupai sepasang tangan kedua. Namun karena sekarang tanah untuk berpijik sudah hilang entah kemana tertelan ledakan besar menyamai bom nuklir beberapa saat lalu, sayap tersebut kini melebar dan membantu tubuh sempurna Susano'o untuk melayang.
Selain kegunaan umum dari sayap, bentangan di punggung itu ternyata juga memindahkan lokasi Katana kedua yang awalnya di punggung.
Di kening Susano'o tempat Madara berada, dia tengah mencari-cari Sirzechs yang hilang entah kemana di bawah sana setelah benturan hebat mereka sebelumnya. Dia tak ingin menggerakkan Susano'o dalam rangka menghemat pengeluaran Chakra. Madara percaya bahwa jika iblis itu selamat akan datang sendiri.
"... Hn... Aku benar-benar benci menunggu tanpa melakukan sesuatu... Keluarlah, tikus. Aku tahu kau dibawah sana!"
Madara berteriak cukup keras, suaranya pun menggema pada lubang besar di bawahnya.
Lubang besar—sangat besar itu tak kurang hampir mengambil semua wilayah utara Lilith. Membentuk lingkaran sempurna yang menelan hampir bagian Utara dan Tengah Lilith. Sisi lubang sendiri masing-masing hampir masuk bagian lain Lilith seperti: Timur Laut yang sudah jadi jurang karena ambruk, Barar Daya yang masih bekas kerusakan amukan Goggmagog, dan bagian lainnya yang telah menjadi tanah tandus dengan bongkahan besar bergelimpangan.
Diluar dari besarnya, dasar lubang itu tersendiri tak terlihat, hanya kegelapan tak berujung di bawah sana tempat Sirzechs hilang.
Tak adanya respon dari teriakan barusan membuat Madara mengeluarkan decihan dari mulut.
Sayap Susano'o mengepak, terbang menuju bagian selatan Lilith yang tak termakan ledakan dan berubah menjadi lubang tak berdasar.
Selagi terbang, Madara menoleh sedikit ke Timur Laut tempat Vali berada. Ada perasaan yang kuat terasa dari sana, dan itu milik Vali. Dia tak tahu apa yang terjadi disana tapi setidaknya mengetahui bahwa Vali masih bernafas setelah melawan dua Maōu yang sempat melonjak sangat besar pancaran Yōuki-nya.
—Dan sekarang pertarungan Vali sepertinya hampir berakhir karena Madara melihat dengan Eien no Mangekyō Sharingan (Eternal Kaleidoscope Copy Wheel Eye) Vali dalam bentuk yang belum dia lihat sebelumnya, besar dan hampir menyerupai naga terbang menuju dua lawannya di udara dalam keadaan sedikit berbeda.
"Lumayan juga bocah itu bisa mendesak dua tikus seorang diri setelah Arthur menghilang entah kemana... Hn,..." gumamnya sebelum beralih memandang ke depan mencari tempat mendarat yang cukup luas diantara banyaknya tumpukan bongkahan tanah dan batu besar.
Menemukan sebuah bongkahan yang seperti patahan tanah kota Lilith seluas beberapa blok, Madara mendaratkan Susano'o disana kemudian menghilangkan mahluk biru tua berwujud mirip Raja Tengu itu. Eien no Mangekyō Sharingan juga telah dinonaktifkan demi menghemat Chakra.
Duduk bersilah sambil menopang dagu dengan tangan kanan di atas batu besar, Madara mulai menunggu.
Madara selagi menunggu tidak tanpa melakukan sesuatu, dia menadahkan tangan kiri di depan wajah. Secara ajaib, seekor ular hitam keungung keluar dari telapak tangan dan menggeliat manja disana.
"Hanya kali ini saja, Chibi-chan..."
Ular hitam itu berhenti menggeliat kemudian mengarahkan kepalanya ke Madara. Seperti merespon ucapan barusan, ular tersebut mengeluarkan lidah.
"Aku berharap kau punya wujud lain selain ular. Ini membuatku teringat pada ular busuk bajingan itu... Sekarang dimana bajingan itu berada?"
.
.
Menyelam sejauh beberapa kilometer ke dalam lubang, ada setitik cahaya merah diantara gelapnya bekas benturan antara Madara dan Sirzechs ini.
Sumber cahaya merah itu tak lain adalah Sirzechs. Agaknya dia terlempar cukup dalam oleh ayunan Katana tadi, padahal dia sangat yakin sudah mengeluarkan cukup kekuatan untuk menahannya.
"Tck, dia adalah orang pertama yang menanggalkan Horobi no Chikara dalam mode ini... Sejauh mana sebenarnya kekuatan dari Chakra ini?"
Sambil bergumam sedemikian penasarannya, Sirzechs memperhatikan lengan kanan yang sudah tak terbalut Power of Destruction sebelum mendongak ke atas pada cahaya kecil yang merupakan mulut lubang.
Selain merontokkan Power of Destruction dalam mode True Form Sirzechs, serangan tadi juga menghancurkan lengan baju dan ornament armor di pundaknya. Walau begitu, tak ada luka berarti yang dia terima.
"Dalam mode ini, Ruin za Ekusutinkuto (Ruin the Extinct) tak bisa dipakai karena membutuhkan kontrol sempurna Horobi no Chikara,..." Sirzechs bergumam kembali dan kini fokus untuk mendaratkan setidaknya satu serangan pada Madara. Sejauh ini, dalam mode True Form tak ada serangan yang berhasil. Sang lawan cukup gesit menghindari semuanya dan ketika melakukan satu kontak, itu justru karena diserang. "... Serangan terus menerus, huh..." dan akhirnya dia menentukan metode akan akan dipakai.
Setelahnya, Sirzechs memulihkan kondisi Horobi no Chikara di lengan kiri sebelum terbang ke atas dengan kecepatan yang cukup gila.
Pandangannya ke depan, pada cahaya yang semakin membesar hingga akhirnya keluar dari lubang dan mencari keberadaan Madara bersama mahluk besar biru tua tadi.
"Kemana dia—" Sirzechs mulai berputar di udara mencari keberadaan Madara. Di mulai tempat kastil Lucifer yang sudah seperti seperti bonsai raksasa, terus berputar searah jarum jam dan sempat melihat lokasi Ajuka dan Serafall namun lebih percaya mereka berdua bisa menang tanpa dia mengatakan sepatah kata. "—Disana!"
Sirzechs menemukan lokasi Madara tanpa mahluk besarnya setelah menghadap ke selatan.
Setibanya di lokasi Madara, Sirzechs langsung mendapatkan sapaan, dan itu membuat sang Maōu menahan serangan untuk sementara,
"Yoo... Kau darimana saja? Menyembuhkan luka bekas serangan tadi?" Madara tanpa mengubah gaya duduknya yang kelewat santai menyapa disambung sebuah pertanyaan bermaksud menyindir. "Itu pasti mengejutkan di wujudmu tadi mendapatkan luka, bukan?"
Sirzechs melepas Power of Destruction di wajah, "Butuh lebih dari itu membuatku terluka." Dia membalas dengan wajah lurus.
"Benarkah?" Sirzechs tak lagi menjawab pertanyaan itu, dan Madara segera mengalihkan percakapan. "Aah, lihatlah sekarang... Mekai benar-benar kami ratakan dengan tanah, membuktikan bahwa kami tak pernah main-main pada ucapan kami. Jadikanlah ini pelajaran berharga, itupun jika kau masih hidup setelahnya untuk tak berani menyentuh keluargaku,..."
Mata Sirzechs berkendut sesaat, "Ini hanya sebagian kecil dari Mekai. Lagipula, Lilith bisa kami bangun, bahkan hanya dalam sehari..."
"Hmn, sihir... Tapi bagaimana dengan dua belas ribu itu, heh?"
"Kau tak akan hidup setelah ini. Begitupun keluargamu akan kami buru satu persatu dan membunuhnya. Kalian akan kubuat menyesal setelah kematian sudah melakukan ini... Jika aku jadi kau, tadi itu seharusnya aku sudah kabur..." Giliran Sirzechs yang mengalihkan pembicaraan atau tepatnya langsung memberi jawaban akhir agar bisa cepat menyelesaikan ini.
"Kabur, eh? Jangan bercanda." Madara akhirnya berdiri, agak mendongak untuk melihat Sirzechs yang melayang di depannya. Dimulai dari Sharingan hingga berubah ke Eien no Mangekyō Sharingan, mata andalannya diaktikan. "Selain daripada itu..."
Madara menyipitkan mata lalu dilebarkan sesaat. "Lihatlah mataku, sekarang kita memiliki mata yang sama... Mata yang ingin membunuh seorang pembantai. Penuh dendam dan amarah,..."
Sirzechs tiba-tiba merasakan udara menjadi lebih berat. Tubuhnya ditekan kebawah seolah gaya gravitasi Dunia Bawah bertambah beberapa kali lipat.
"—Dan mari kita lanjutkan tariannya. Mari kita lihat, dendamu atau dendamku yang lebih kuat... Waktunya menari, Tikus kecil!"
Wajah Sirzechs mengeras lalu menyelubunginya kembali dengan Horobi no Chikara. Sebelum Madara bertindak sebagai yang memulai ronde keselian, dia mengambil tindakan lebih cepat.
Aliran Power of Destruction keluar keluar dari tubuh Sirzechs dan mulai menyerang Madara secara brutal tanpa henti.
Sayangnya, hasilnya tak jauh berbeda dari sebelumnya. Tak ada satupun yang mengenai Madara. Kelincahan pria itu bahkan meningkat pesat mengikuti kecepatan serangan demi serangan Sirzechs. Bahkan Madara sekarang lebih gesit dari sebelumnya.
"Heh, ada apa dengan seranganmu ini? Bahkan adik perempuanku bisa menghindari semua ini dengan mata terpejam." Selagi melompat kesana kemari seperti kera, Madara berucap dengan seringai meremehkan.
Provokasi Madara disambut hangat oleh Sirzechs. Dia menambah jumlah, ukuran dan kecepatan aliran-aliran Power of Destruction.
Namun, sekali lagi. Itu semua hanya mengenai bongkahan batu ataupun permukaan tanah tempat pertarungan. Madara menghidari semuanya cukup mudah.
"... Hn,... Sudah cukup. Kau tak akan bisa membunuhku, melukai saja tak bisa. Kalau begitu, kutunjukkan apa itu serangan..."
Madara melompat dalam gerakan zig-zag, dan pada pijakan terakhir memberi sedikit kekuatan dan Chakra pada kakinya. Dalam satu kedipan mata, Madara menghilang meninggalkan retakan besar pada tanah.
Madara muncul tepat di hadapan Sirzechs yang agak terkejut, terlihat dari tubuhnya yang tersentak. Kedua kaki berbalut sepatu khas ninja itu sudah diselubungi Chakra, namun sedikit berbeda dari biasa. Warnaya sedikit gelap.
"Dendam dan kebencianmu tak sebesar milikku. Buang saja jauh-jauh impianmu ingin membunuhku, Tikus!"
Madara bergumam dengan cepat sebelum melancarakn serangan. Dengan kaki berbalut Chakra yang diperkuat kekuatan Ophis, Madara menghujani Taijutsu tanpa menggunakan tangan pada Sirzechs di udara.
Sirzechs tak dibiarkan bernafas sedikit pun. Serangan Madara begitu cepat, dan entah kenapa terasa sakit di tubuh Sirzechs yang tengah dilapisi Power of Destruction. Seolah-olah kaki Madara sama sekali terkena efek kehancuran absolut itu, begitupun Yōuki miliknya sebagai pertahanan fisik dibuat bukan apa-apa ditembus begitu saja.
Belakang,
Atas,
Kiri,
Kanan,
Bawah,
Tak terhitung sudah berapa kali kepala dan punggung Sirzechs bergerak ke arah-arah tersebut dihantam tendangan Madara di udara. Dia sama sekali tak mengerti kenapa Power of Destruction dan Yōuki dibuat seperti bukan apa-apa hingga,
'Aura ini... Doragon?'
Sensornya merasakan aura yang mirip dengan Issei atau beberapa Iblis reinkarnasi dari ras naga. Tak salah lagi, Chakra Madara dicampurkan kekuatan naga atau Ryūki, dan itu bukan naga sembarangan. Tapi siapa naga itu?
Sekarang dia mengerti kenapa Power of Destruction unsur penghancurnya tak berguna pada Madara ataupun tehnik yang digunakan.
Ketika menyadari ini, Madara mendaratkan tendangan terakhir yang dilakukan dengan bersalto di atasnya. Kepala Sirzechs terkena telak dan meluncur ke bawah dengan cepat. Dia mendarat sangat keras dan tak berhenti karena Power of Destruction menghancurkan tanah yang seharusnya menghentikan lajunya.
Sirzechs terus meluncur semakin dalam ke bawah tanah reruntuhan kota Lilith entah berapa dalam itu.
Di atas langit, Madara yang masih melayang merangkai segel tangan sembari menarik nafas dalam-dalam.
"Katon: Gōka Messhitsu." (Fire Release: Great Fire Destruction)
Mulut Madara menyemburkan aliran api berintensitas sangat besar pada lubang yang dibuat tubuh jatuh Sirzechs.
Madara terus menyemprotkan apinya sampai tanah bergetar hebat dan meledak dari dalam seketika mengubah area tersebut menjadi lautan api yang sangat panas.
Sebelum tenggelam pada lautan apinya sendiri, Madara melakukan Shunshin (Body Flicker) ke sebuah bongkahan tanah yang agak tinggi dan tak tenggelam dalam lautan api.
Begitu berlalu hampir semenit, udara bergetar hebat disusul lautan api Madara ditelan energi merah hitam yang tiba-tiba saja meluap dari bawah dan mengirim apapun menuju ketiadaan.
Dari lautan energi yang terlihat sangat berbahaya itu, humanoid Power of Destruction meluncur dari bawah menuju langit. Mengikuti mahluk yang mengontrolnya, energi merah hitam itu ikut terangkat dan menjadi aliran-aliran memenuhi langit. Memberikan pandangan seperti puluan ular meliuk-liuk di atas sana.
"... Hn,..."
Madara memberikan responnya. Uncomplete Susano'o dia keluarkan. Mahluk besar setengah badan yang memiliki dua wajah dan empat tangan. Di masing-masing tangan itu lalu muncul ledakan cahaya biru keunguan dan mengeluarkan senjata berbentuk pedang dengan bilah bergelombang.
"Kali ini aku benar-benar akan mengirimmu menuju ketiadaan,... Uchiha Madaraaaaa!"
"Dari tadi kau mengoceh tentang membunuhku dan sejenisnya... Namun tak pernah berhasil,... Dan kali ini—"
Sekumpulan Power of Destruction itu bergerak dalam kecepatan tinggi di udara. Gerakannya seperti ular-ular yang ingin mematuk mangsanya secara bersamaan menuju satu titik, Uncomplete Susano'o dibawah sana.
Serentak aliran Power of Destruction itu menyerbu monster biru tua bertangan empat itu. Kubah berwarna merah hitam tercipta dan terus membesar ukurannya hingga sekiranya memakan beberapa kilometer persegi bagian selatan Lilith.
Sirzechs bahkan tak ragu menambah jumlah massa Power of Destruction pada kubah tersebut untuk memastikan Madara benar-benar hancur di dalammnya.
Setidaknya sampai sesuatu terjadi,...
Kubah besar tersebut, yang Sirzechs yakini bahkan bisa menghancurkan beberapa kota jika diuraikan tanpa terduga terbelah oleh cahaya biru tua menjadi empat bagian.
"—Aku yang akan mengatakan akan menghacurkanmu, dan itu bukan bualan semata!"
Dari balik kubah yang terbelah empat itu teriakan Madara menggema, memaksa Sirzechs setidaknya memasang mode bersiaga.
"Susano'o: Yasaka no Magatama." (Tempestouous God of Valour: Eight Slopes Curved Jewel)
Menyusul teriakan sebelumnya, seruan nama tehnik yang lagi-lagi identik dengan Mitologi Shinto menggema. Tak lama kemudian kubah Power of Destruction Sirzechs yang sudah terbelah, dua bagian yang dekat dengan Sirzechs retak, disusul cahaya biru tua hampir ke ungu merembes keluar.
Setelah dua bagian belahan kubah itu hancur, sesuatu yang dikenal di Jepang bernama Magatama melesat keluar dalam jumlah sangat banyak dan mengincar Sirzechs.
"Tck!" Sirzechs berdecak selagi menghindar ataupun menghancurkan Magatama-Magatama yang mengincar dengan Power of Destruction. 'Bagaimana bisa Horobi no Chikara jadi selemah ini hanya karena serangannya dicampur Ryūki?!'
Karena sibuk berusaha lolos dari serangan dan memikirkan peningkatan mendadak Madara, Sirzechs tak menyadari sosok besar Uncomplete Susano'o melompat dari bawah ke arahnya,
"Kena kau,... Tikus!"
Satu pedang bergelombang Susano'o sukses menembus tubuh Sirzechs yang bahkan telah berlapis Power of Destruction mode True Form.
Balutan Power of Destruction pada tubuh Sirzechs perlahan-lahan lenyap yang bermula dari perut, bagian yang tertusuk. Menyusul kemudian adalah bagian wajah dan, "Uhukk—"
Sirzechs memuntahkan banyak sekali darah, ada sedikit yang mengotori warna biru tua keunguan pedang Susano'o.
"Ba-bagaimana bisa?!" Sirzechs melihat ke dapan, pada mahluk biru setengah badan besar di depannya. "Bagaimana bisa pedang mahluk ini—Uhuk—tak hancur bersentuhan dengan Horobi no Chikara?"
Terambil oleh efek gravitasi buatan Dunia Bawah, Madara dibalik lindungan Susano'o jatuh kebawah yang otomatis Sirzechs juga terbawa.
Setelah menapaka tanah, Madara menghilangkan sosok mahluk astralnya menyisahkan satu tangan yang memegang pedang.
"Tanyakanlah itu pada penduduk kota ini nanti di alam sana. Tenang saja, aku akan berbaik hati mengirim tiga rekan Maōu-mu, istri jalangmu, keluargamu, dan tentu saja adik pelacurmu yang sudah membuat Naruto lupa pada tempat dia tumbuh agar kau tak kesepian disana."
"Kau—Aku—Uhuk!" Sirzechs kembali muntah darah.
"Lihat, kan? Aku sama sekali tak membual sepertimu, tikus..."
"—Keparat kau!"
Sirzechs memberi satu tatapan panjang penuh amarah. Matanya berkendut-kendut, gigi terkatup rapat merespon amarahnya.
Orang didepannya ini bukan lagi seekor monster, Madara melebihi itu! Mengatakan hal tersebut dengan wajah lurus yang artinya tak main-main atas ucapannya. Bahkan dari mata merah berpola aneh tersebut sudah terlihat jelas bahwa serius ingin membunuh yang lain terutama Rias.
Jika apa yang dikatakan Azazel tempo hari setelah mereka membunuh memang benar. Itu artinya Madara melakukan semua ini atas dasar balas dendam.
Kenapa harus penduduk Lilith, keluarganya, bahkan Rias juga harus dibunuh juga oleh Madara. Itu sangat berlebihan hanya untuk satu nyawa sebagai bayaran.
Sirzechs sudah kehilangan ratusan ribu penduduknya, dan nyawanya juga akan segera menyusul. Sekujur tubuhnya mulai terasa kaku dan dingin. Dia tak pernah mati, jadi dia mengartikan apa yang terasa adalah perasaan berada di ambang kematian.
Inner Sirzechs menghela nafas dan menenangkan dirinya yang mulai panik sekaligus tertelan amarah sekian kalinya. Dia belum mati, setindaknya masih ada waktu sebelum ajal menjemputnya beberapa saat lagi.
Maka dari itu, Sirzechs memutuskan... Jika memang harus mati, Monster di hadapannya juga harus mati. Ini demi masa depan keluarganya, fraksinya dan juga dunia ini.
Lagipula, jika dia mati, aliansi pasti tak akan tinggal diam. Begitupun dengan Ajuka, Falbium, Serafall dan Mekai. Mereka pasti akan membunuh bajingan didepannya serta kelompoknya.
Dengan mulut yang penuh darah, serta pandangan yang mulai mengabur, Sirzechs menyeringai. "Jika aku mati..."
Mata Madara terbelalak terkejut.
"... Setidaknya kau juga harus mati, bajingan!"
Sirzechs telah memutuskannya. Dia akan meledakkan Madara yang masih menusuknya dengan seluruh Demonic Power dan Power of Destruction yang dia punya.
"Ka-kau—"
Madara hendak kabur, sayangnya Sirzechs bertindak cepat dengan mengeluarkan banyak Power of Destruction yang seketika mengurung mereka berdua.
Setelah mengurung, Sirzechs kembali mengeluarkan Power of Destruction dan membentuknya menyerupai dua tangan monster berukuran besar. Kedua tangan itu lalu memegang pedang Susano'o Madara untuk mengurangi persentase kabur.
Setelah memastikan Madara tak bisa lagi kemana-mana, Sirzechs memfokuskan semua Yōuki miliknya pada satu serangan penghabisan.
Tanah kembali bergetar hebat terkena tekanan udara yang tiba-tiba meningkat oleh Demonic Power Sirzechs yang berfokus pada satu titik di tubuhnya, dan itu masih terus bertambah dan bertambah, baik kekuatan maupun banyaknya.
Tubuh Sirzechs mulai bersinar merah, melebihi terangnya Power of Destruction di sekitar yang mengurungnya bersama Madara.
Sebelum melepas semua kekuatan yang terfokus itu dalam bentuk serangan, Sirzechs tersenyum tipis dan menggumamkan kata-kata terakhir,
"... Aku serahkan sisanya pada kalian..."
"Onoreeeee, Kuso-Akumaaaaa...!"
Madara berteriak penuh amarah dan rasa panik. Sirzechs melihat itu hanya merespon dengan senyum yang makin melebar.
—Semuanya pun berakhir. Kekuatan yang Sirzechs kumpulkan sudah mencapai batas tertinggi, tubuhnya benar-benar sudah berwarna merah sangat terang dan mengeluarkan suara desingan yang mampu memecahkan gendang telinga.
Udara di dalam kurungan Power of Destruction memunculkan retakan yang sangat banyak seperti saja itu sebuah cermin.
Bunyi cermin yang pecah menjadi pertanda bahwa semuanya telah berakhir...
Ya, berakhir—
.
.
.
.
.
.
.
"...Hn, kau lepas ternyata..."
—untuk sebuah ilusi yang memerangkap seorang Maōu dalam sebuah kenyataan palsu dirinya bersama dengan Madara pergi menuju alam kematian.
Suara yang seharian ini amat Sirzechs kenal terdengar, dia membuka mata secara perlahan setelah kesadarannya kembali. Dia melihat di depannya Madara tengah menyeringai dengan mata merah berpola aneh mengeluarkan darah segar di sebelah kiri.
Seketika Sirzechs dilanda rasa bingung. Nafasnya terasa sangat berat, jubah hidup Power of Destruction sudah tanggal pada beberapa bagian seperti: kedua tangan, kaki kanan, perut bagian bawah hingga ke dada kanan. Kaki kiri hingga paha, dada kiri yang tersambung ke leher dan setengah wajahnya masih terlindungi.
Hal itu membuat dia bisa merasakan banyak sekali keringat dingin mengucur pada bagian yang tak ada kekuatan turunan Bael menyelubunginya.
Itu adalah efek dari sensasi kematian yang baru saja dirasakan Sirzechs dalam ilusi Madara.
Ya, Madara berhasil menjebak Sirzechs dalam ilusi. Itu terjadi ketika Sirzechs melihat matanya secara langsung, dan setelahnya adalah pertarungan palsu namun berdampak pada mental Sirzechs, dan kemungkinan juga berdampak pada tubuh asli.
'Apa sebenarnya yang terjadi?! Itu tadi serasa sangat nyata... Bahkan, bahkan aku masih bisa merasakan rasa sakit di perutku—'
"Hn, kenapa kau terlihat seperti orang yang baru saja mati? Apa itu pertama kali kau terkena ilusi, heh?"
"Ilusi?" Sirzechs pura-pura mempertanyakan, namun dia sudah mengerti semua setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Madara. 'Jadi itu tadi hanya ilusi? Tapi, kenapa terasa begitu nyata?'
Tentu saja itu akan terasa nyata dan berdampak besar pada Sirzechs. Pada dasarnya ilusi atau Genjutsu (Ilusionary Technique) yang Madara berikan adalah Genjutsu tingkat tinggi. Genjutsu yang hampir menyamai beberapa Genjutsu terkuat dalam sejarah keturunan Otsutsuki.
"Ini bukan waktunya memikirkan ilusi apa itu tadi. Intinya, kau berhasil lepas,..."
Walaupun Madara mengatakan itu, Sirzechs tetap memikirkan ilusi tersebut karena bagaimanapun rasa sakit tusukan yang terjadi di dalam ilusi tadi masih terasa di perutnya,
"... Namun, sedikit terlambat..."
"—Uhuk..."
Sirzechs memuntahkan darah segar secara tiba-tiba dan rasa sakit di perutnya semakin terasa nyata.
Sejak lepas dari ilusi, Sirzechs hanya sedikit fokus pada dunia nyata, itupun hanya melihat Madara sekilas sebelum pikirannya kembali tenggelam memikirkan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Barulah ketika muntah darah dan rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi dia melihat ke bawah. Matanya melebar seketika, kejadian di ilusi tadi, benar-benar terjadi. Pedang besar melengkung-lengkung menembus perutnya yang sudah tak terlindungi Power of Destruction lagi.
Sirzechs memandang ke depan, ke Madara. Ada tangan makhluk astral yang memegang pedang di samping Madara. Itu persis seperti yang terjadi di ilusi tadi.
"—Kau...!"
"Hn," Madara memberi pandangan merendahkannya. "Kau pikir, selama kau terperangkap ilusi dan mengganggu aliran energimu sampai kehilangan kontrol wujud tadi... Aku hanya diam melihat-lihat saja?"
"—Ohok—"
Sirzechs kembali muntah darah, dan lebih banyak dari sebelumnya ketika Madara bermain-main dengan menggerak-gerakkan tangan yang memegangi pedang tersebut.
Walaupun kejadiannya hampir sama, namun sekarang cukup berbeda. Sirzechs hanya merasakan rasa sakit pada bagian yang tertusuk. Tubuhnya tak terasa kaku ataupun dingin seperti di ilusi tadi.
Itu semua berkat ketahanan fisik yang dimiliki Sirzechs sebagai Iblis kelas Super sehingga luka separah ini tak terlalu berpengaruh banyak. Bahkan Katerea Leviathan saja ketika melawan Madara dan Hashirama yang tinggal menyisahkan tubuh bagian atas tanpa tangan masih bisa hidup, apalagi hanya tusukan pada perut.
Setidaknya selama jantung Iblis kelas Ultimate dan Super tak tertusuk, mereka masih bisa bertahan. Bahkan dalam kasus tertentu ada beberapa iblis yang tertusuk jantungnya masih selamat. Seperti iblis Phenex dengan kemampuan regenerasi dan kemungkinan Sirzechs juga demikian, dengan catatan benda yang ditusukkan tak mengandung unsur Suci.
'Kalau memang yang tadi hanya ilusi... Itu berarti...' sambil berpikir demikian, Sirzechs melihat beberapa bagian tubuhnya yang masih terlindungi Power of Destruction. Itu adalah bagian tubuh yang dikatakan tempat organ vital ataupun bisa mengakibatkan kematian jika terkena. Dada kiri tempat jantung, leher dan sebagian besar kepala. '... Tadi itu memang terasa sangat nyata... Tapi, bagaimanapun itu hanya ilusi...'
Sirzechs segera melakukan apa yang tengah dipikirkan. Kedua tangan dijepitkan pada pedang Susano'o Madara kemudian mengalirkan Power of Destruction.
"Haaaaaah!"
Madara berdecak kesal melihat tindakan Sirzechs. 'Sial, dia pasti menyadarinya!'
Dalam beberapa detik, pedang Susano'o yang terselubungi Power of Destruction hancur tak bersisah. Tidak sampai disitu saja, Sirzechs menambah jumlah kekuatan itu sehingga mulai mengalir ke tangan mahluk astral tersebut.
"Sial!" Madara langsung bereaksi dengan menghilangkan tangan dan rusuk Susano'o agar tubuhnya yang secara langsung berada di lindungan benda biru tua itu tak ikut tertelan juga. Tak hanya itu saja, dia juga melompat dan menjaga jarak dari Sirzechs. "Tubuh iblis memang sangat kuat,..."
Sekecil apapun gumaman terakhir Madara, Sirzechs tetap mampu mendengarnya, dan itu membuat dia menyeringai. "Tentu saja, itulah perbedaan dasar kami dengan manusia seperti kalian..."
Sedikit, Madara terpancing oleh ucapan Sirzechs. Untungnya Madara itu Tsundere dan mengidap Messiah Complex. "Heh, katakan itu ketika kau berhasil melukaiku, tikus..."
"Ini bukan lagi ilusi,..." Sirzechs berhasil memulihkan kontrol True Form-nya. Tubuhnya kini kembali ke awal, diselubungi kemampuan turunan dari sang Ibu. "... Bersiaplah untuk mati, bajingan!"
Mata yang salah satunya terdapat jejak air mata darah kering Madara melebar sedikit menyaksikan puluhan aliran kekuatan Sirzechs melayang ke langit lalu menukik tajam ke posisinya.
"Tck!"
Kembali terjadi, adegan kejar-kejaran antara Madara dan Power of Destruction. Namun, kali perbedaan jelas terlihat pada Madara. Tempo dia menghindar sangat tipis, bahkan terlambat sedikit saja bisa tewas ditempat.
'Sial! Dia benar-benar menguras banyak sekali chakra hanya untuk menahannya tetap terkena Genjutsu...' Batin Madara mengeluhkan kondisi di tengah-tengah kegiatan lompat-lompatnya. 'Pemberian Ophis juga hampir habis untuk memperkuat Genjutsu tadi... Sialan!'
Madara mendarat vertikal pada sebuah batu besar dan melesatkan diri dengan posisi tubuh terlentang ke atas.
"Kena kau!" Sirzechs membaca pergerakan terakhir Madara dan melancarkan beberapa serangan secara serentak dari atas.
Madara menatap horor banyaknya serangan yang tepat berada di atas tubuhnya. Dalam gerakan lambat penglihatan matanya, Madara tak melihat ada cela dari serangan Sirzechs, jikapun ada, 'Sial, tak akan sempat...'
Aliran-aliran Power of Destruction Sirzechs pun menghujam Madara tanpa ampun hingga menciptakan ledakan cukup besar.
"Sudah kuduga chakra milikmu tak akan bisa mengimbangi Horobi no Chikara. Pahami batas kekuatanmu, manusia!"
Ledakan kedua terjadi dan itu bukan Sirzechs yang menyebabkannya.
"Hah, kau bilang apa? Kembang api kecilmu terlalu berisik, tikus!"
Mahluk biru setengah badan melompat keluar dari kepulan debu setelah berhasil menyingkirkan Power of Destruction. Mahluk itu, memegangi empat pedang persis seperti yang terjadi di ilusi tadi.
"Tck! Jadi, dia memang memiliki Ryūki dan mencampurnya dengan Chakra." Sirzechs bergumam kecil yang diawali decakan. Berbeda dengan di ilusi tadi. Sekarang dia bisa merasakan Dragon Power dengan jelas di tubuh mahluk tersebut walau jaraknya sedikit jauh. "Tapi percuma saja... Kau terlihat sudah kelelahan,... Cepat atau lambat kau akan mati."
"Berisik...!"
Bereaksi pada teriakan Madara, Susano'o setengah badan itu mengangkat empat tangannya dan melempar pedang yang dipegang masing-masing.
Empat pedang tersebut berterbangan terlihat seperti dilempar sembarang arah, namun beberapa saat kemudian menukik tajam dan mengincar Sirzecsh dari empat sisi berbeda dari atas.
Sirzechs merentangkan kedua tangan. Power of Destruction di sekitar tubuhnya melebar dan berubah menjadi tameng.
Dentingan dan dentuman yang selanjutnya terjadi ketika Pedang Susano'o beradu dengan tameng Sirzechs. Cukup kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang menyapu area tempat Sirzechs berdiri.
Tidak seperti sebelumnya, Pedang tersebut yang telah dicampur kekuatan Ophis tak termakan efek destruktif. Serangan dan pertahanan itu saling beradu kuat siapa yang lebih kuat.
Sirzechs mengalihkan kontrol kekuatannya dari tameng, menciptakan empat aliran Power of Destruction yang lebih banyak massanya lalu dipakai mementalkan empat pedang Madara.
Walau sudah terpental, pedang-pedang tersebut masih bergerak dan berusaha lepas seperti dikontrol seseorang atau memiliki keinginan sendiri. Melihat hal tersebut, Sirzechs mencegahnya dengan mengubah arah serangan ke tanah dan menahan pergerakan pedang tersebut.
"Sekarang,..." Sirzechs memandang ke depan, menuju Madara dibalik lindungan mahluk biru tua yang tengah melayang. "...giliranmu!" Tangan kanan Sirzechs digerakkan ke depan, telapaknya dibuka dan diarahkan pada Madara.
Duaaliaran Power of Destruction melesat dengan gerakan berputar dari tangan Sirzechs sehingga lebih mirip tornado.
Di udara, Madara menyaksikan serangan tersebut dengan mata sedikit melebar. Dia berusaha melepas keempat pedang Susano'o namun Sirzechs menghimpitnya terlalu kuat.
Mau tak mau, Madara terpaksa akan menggunakan Susano'o sebagai pertahanan terakhir. Empat lengan mahluk astral itu bergerak ke depan dan menahan tornado Power of Destruction tersebut di udara.
Adanya kekuatan Ophis membuat Susano'o tak hancur, namun posisi yang tengah melayang membuat mahluk biru tua itu bersama Madara terdorong ke belakang dan perlahan-lahan turun.
Barulah ketika menapak tanah Madara mendapat pijakan. Dia pun berhasil bertahan dan tak terdorong lagi.
Inner Sirzechs menyeringai Madara melakukan apa yang dia perkirakan. Tak menghilangkan mahluk biru tua setengah badan itu lalu menghindar seperti sebelumnya.
Mundur beberapa saat kebelakang, Sirzechs juga berpikir bahwa Madara tak memiliki kekuatan yang banyak lagi, baik chakra ataupun kekuatan naga, dan berusaha menghemat.
Maka dari itu Sirzechs menunggu Madara menyerang dengan bertindak seolah-olah serangan sebelum Susano'o dimunculkan tadi adalah serangan yang memakai banyak Demonic Power dan Power of Destruction. Dengan Madara berpikir itu adalah yang terakhir dia punya, Madara akan menyerang dan benar-benar fokus pada serangannya dan melupakan pertahanan. Barulah setelah berhasil menahan serangan Madara, dia akan melancarkan serangan balik ketika Madara masih dalam mode menyerang.
Walau sedikit diluar perkiraan Madara akan memakai Susano'o sebagai pertahanan, namun ini sudah lebih dari cukup untuk melakukan serangan penghabisan selagi Madara tertahan disana.
"Kena kau, manusia!"
Intensitas Power of Destruction pada tubuh Sirzechs bertambah banyak. Layaknya seekor monster berukuran melebihi besar Susano'o sekarang, mahluk mirip gurita dengan lengan lebih dari delapan menjadi wujud Power of Destruction dalam jumlah banyak tersebut.
"Matilah!"
Dengan sekali perintah, lengan-lengan tersebut bergerak serentak menuju lokasi Madara dan Susano'o yang masih bergelud dengan tornado.
"—A-apa?—Sialan!" Madara mengumpat dalam kekesalan dan kepanikan matanya melihat serangan lanjutan Sirzechs yang begitu banyak serta tak berukuran kecil. "Iblis sialan ini..." dia akhirnya menyadari apa yang dilakukan, direncanakan Sirzechs. Sialnya, dia tak menyadari itu dari awal. 'Jadi ini yang dia incar. Sengaja membiarkanku menyerang dengan bertindak seolah-olah sudah mulai kehabisan kekuatan aneh itu... Sialan!'
Pada jeda sempit sebelum lengan-lengan itu menghujam, Madara mengeluarkan hampir semua chakra dan kekuatan Ophis yang tersisa untuk memperkuat Susano'o. Tidak lupa berharap itu cukup untuk bertahan.
Dibalik lindungan perut Susano'o, Madara melotot menunggu serangan itu tiba. Dia bergumam sangat kecil hampir berbisik tentang tindakan selanjutnya yang akan diambil bila Susano'o campuran Dragon Power Ophis tak mampu bertahan, "Timingnya harus pas agar iblis itu berpikir di—"
Hanya saja, ketika Madara tengah fokus. Terjadi hal yang sama sekali diluar perkiraan,
"—Te-teme?!"
.
.
"Ap-apa?—Bagaimana bisa?"
Di lain sisi, Sirzechs juga dibuat terkejut atas apa yang terjadi.
Tepat di depan mata Sirzechs, semua Power of Destruction yang dipakai untuk menyerang secara tiba-tiba terpental dan berbelok arah ke langit tepat di posisi Madara berada. Seperti ada sesuatu atau seseorang yang menahan lalu melemparnya ke atas hingga lenyap tertelan kegelapan malam di atas langit.
Sirzechs sempat berpikir itu adalah Madara. Tapi seperti yang dia pertanyakan, bagaimana bisa? Sejauh yang dia ketahui sejak melawan Madara, pria itu setidaknya butuh wujud sempurna setinggi puluhan meter mahluk biru tua tadi untuk menahan apalagi mementalkan serangan berskala besarnya.
Barulah ketika Sirzechs mengalihkan pandangan dari langit tempat semua Power of Destruction miliknya hilang menuju tempat Madara.
Disana—
.
.
"—Te-teme?!"
Madara melotot sedikit tak percaya ke depan. Matanya terkunci pada punggung seseorang yang dia lihat muncul dan mementalkan serangan Sirzechs.
Orang itu berdiri membelakangi Madara. Dia seorang lelaki yang seumuran dengannya dari postur tubuh, memiliki rambut coklat gelap bergelombang tak beraturan hingga pangkal leher yang berayun-ayun terkena hembusan angin efek habis mementalkan serangan Sirzechs ke langit. Pria itu memakai jaket putih bergaris hitam dengan kerah agak tinggi. Di pinggang terdapat kain hitam yang dipakai mirip sabuk sekaligus menjadi tempat sarung katana berwarna emas metalik.
Tangan kanan pria itu teracung ke atas sambil memegang Katana yang sepertinya dipakai mementalkan serangan Sirzechs tadi. Itu hanyalah Katana standar, gagangnya berwarna kuning dengan pelindung perak bentuk persegi dan memiliki tonjolan kecil di setiap sudut.
"Nggh, kalian hanya kusuruh menunggu, tapi malah ini yang kalian lakukan. Sungguh, kalian benar-benar mahluk barbar yang suka mengganggu tidur orang—Aah, aku benar-benar ngantuk..."
Kening Madara berkendut mendengar ocehan malas pria di hadapannya. Sambil mengoceh demikian, orang itu menurunkan tangan dan menyarungkan Katana miliknya. "Hn, maaf saja. Aku bukan tipe orang yang duduk diam menunggu sesuatu."
"Begitukah?" Pria itu menggaruknya belakang lehernya dengan tangan kiri. "Dasar makhluk-makhluk merepotkan."
"Kala—"
"Huh, bala bantuan kah?"
Kening Madara kembali berkendut dipotong oleh suara Sirzechs. Sungguh, dia benar-benar tak suka ucapannya dipotong begitu saja.
"Tidak, tidak. Aku bukan bala bantuan. Hanya kebetulan lewat dan ada urusan dengan orang dibelakangku ini." Pria itu menjawab sambil memposisikan tangan kiri di samping kepala lalu mengacungkan ibu jari ke Madara. "Lagipula, kalau memang bala bantuan,... Hmm, ano, are da, aah,... Kau akan mati, Akuma-san."
Inner Sirzechs menyipitkan mata pada ucapan gamblang pria yang baru muncul itu. Berkata dengan wajah malas, dan mata yang mengantuk membuat Sirzechs bingung orang itu serius atau tidak.
Namun, melihat bagaimana cara muncul barusan, sepertinya orang itu tak bisa dia anggap remeh begitu saja. Perasaannya bahkan berkata orang itu cukup kuat untuk melawannya walaupun tak ada apapun yang terpancar dari orang itu.
Divine Power, Demonic Power, Dragon Power, Holy Power ataupun aura Sacred Gear,... Tak ada sedikit pun kekuatan yang Sirzechs rasakan dari pria itu maupun pedangnya tadi. Itulah kenapa Sirzechs sama sekali tak merasakan kedatangan orang itu.
'Tapi bagaimana bisa dia mementalkan Horobi no Chikara dengan sangat mudah dengan ayunan pedang saja... Sial! Manusia bajingan itu saja belum kubunuh, apalagi ditambah orang misterius ini...'
"Sudah kubilang aku bukan bala bantuan. Hanya kebetulan lewat dan punya urusan dengan orang dibelakangku ini, Akuma-san. Tak perlu memikirkan cara untuk melawanku, itu akan sia-sia..."
Sirzechs mengabaikan pernyataan tersebut. Diam-diam dia mengalirkan Demonic Power ke tangan. Hendak melancarkan serangan dadakan.
Akan tetapi, jari Sirzechs baru bergerak sangat sedikit bahkan tak terlihat, pria tadi menghilang dari depan Madara dan tahu-tahunya dada kiri Sirzechs yang terlindungi Power of Destruction ditusuk sebilah katana hingga tembus di punggung oleh pria itu, yang sudah berada tepat di hadapannya.
"Sudah kubilang aku bukan bala bantuan. Aku tak berniat sedikitpun melawanmu. Tenang saja, tusukan ini melesat beberapa sentimeter dari jantungmu. Akan merepotkan dan mengganggu jam tidurku yang sudah terkuras banyak kalau sampai membunuhmu saat ini..."
Inner Sirzechs melotot tak percaya. 'Or-orang ini... Berpindah sangat cepat dan tak terasa. Bahkan Horobi no Chikara lagi-lagi seperti bukan apa-apa di pedangnya.'
"... Jadi, diamlah sambil memulihkan tusukan ini agar selamat... Sungguh, aku benar-benar tak mau waktu tidurku terkuras kalau kau mati."
Tepat setelah berkata demikian, orang itu menghilang bersama dengan pedangnya yang menembus tubuh berbalut Power of Destruction Sirzechs.
Menimang-nimang perkataan orang itu serta bagaimana sengaja melesetkan Katana tadi dari jantungnya, Sirzechs akhirnya patuh. Dia perlahan melayang turun dan setelah menapak tanah dia menonaktifkan True Form. Sebagai gantinya, Demonic Power miliknya sekarang dipakai untuk memulihkan luka tusuk barusan agar tak membahayakan.
Beralih ke tempat Madara yang juga sudah menonaktifkan Susano'o begitupun Eien no Mangekyō Sharingan.
Pria itu juga sudah berada di depan Madara dan menghadap ke arahnya. Dia terlihat cukup santai walau Sirzechs bisa saja menyerang dari belakang.
"Sudah kuduga,... Kau itu bukan orang sembarangan." Madara memasang ekspresi sama dengan dua kata pertama yang diucapkan.
"Ah, sudahlah. Nggak usah dibahas. Yang terpenting, cukup sampai disini saja kalian merusuh menambah masalah, mahluk barbar."
"Hn?"
Hanya dengan dua huruf bersifat ambigu dan ekspresi Madara, pria itu bisa mengerti maksudnya. "Cewek pirang itu sudah menemukannya, ini lebih cepat dari perkiraan, dan itu bagus."
"Lakukan saja tanpa a—"
"Tidak! Apa kau belum puas menghancurkan kota ini dan membunuh belasan ribu iblis?"
Madara hanya bisa mendecih. Memang benar ini sudah lebih dari cukup membuatnya puas. Belasan iblis di Kastil Lucifer tadi, Souji Okita, Beowulf ditambah belasan ribu iblis. Tapi, entah kenapa Madara merasa tak akan lengkap rasanya bila diakhiri sekarang juga ketika keadaan Sirzechs baru saja diberi luka di dada.
"Sudah hentikan. Jangan menambah banyak tugas gadis pirang itu. Kau sadar, bukan? Kekuatanmu jauh dibawah iblis itu walau kau bisa menutupinya dengan kemampuan bertarungmu. Lagipula, cepat atau lambat setelah semua yang kalian lakukan ini, kalian pasti akan bertemu mereka lagi, dasar mahluk merepotkan pencari masalah!"
Madara kembali diam selama beberapa saat memikirkan ucapan pria di depannya. Ya, itu semua benar. Dan bagaimanapun tak ada tujuan pasti dan benar-benar harus diselesaikan selain daripada melakukan menunggu. Jadi, untuk menghindari kebosanan, mereka pun menyerang Lilith.
Hanya Hashirama yang sempat mengatakan ingin memastikan sesuatu dan Kuroka ingin melakukan sesuatu juga. Hashirama ingin bertemu Azazel, sedangkan Kuroka ingin bertemu dan jika bisa mengambil Benteng keluarga Gremory Tōujōu Koneko yang merupakan adiknya.
Bahkan, membunuh ratusan ribu penduduk tadi sama sekali tak direncanakan Madara, serangan itu dia lakukan hanya sekedar ingin mengetes kekuatan tebasan terkuat Susano'o yang tak bisa dilakukan jika berlatih tanding serius melawan Hashirama. Keinginan itu muncul begitu saja ketika melihat menggunakan Eien no Mangekyō Sharingan lokasi seluruh penduduk Lilith kemudian disusul Sirzechs melancarkan serangan. Dua kali tes sekali serang. Beradu dengan Power of Destruction yang dikatakan adalah energi penghancur mutlak dan mengetes sejauh mana kekuatan penuh tebasan Kansentai Susano'o.
Sebelum mengambil keputusan, Madara ingin memastikan sesuatu. "Bagaimana dengan yang lain?"
"Mereka semua sudah diurus Chibi Majutsushi (Little Magician) itu."
Menghela nafas terlebih dulu. Madara akhirnya menurut pada pria di depannya untuk mengakhiri. Tapi, sebelum itu dia ingin memberitahu sesuatu kepada Sirzechs.
"Hn, baiklah. Persiapkan tehnik teleportmu." Madara mengambil beberapa langkah dan sempat menggeser pria itu agak kasar karena malas berbelok.
Si Pria mendesah tak peduli. "Merepotkan..."
"Ingatlah, iblis sialan! Ini belum berakhir, bahkan dimulai. Malam ini aku hanya kebetulan tak ada kegiatan lain,...Daripada bosan, inilah yang kami lakukan untuk membayar tindakanmu, kau pasti sudah tahu tindakan itu, bukan?"
Sirzechs yang tengah berlutut dan menyembuhkan luka matanya menajam atas ucapan Madara. Orang itu, menghancurkan Lilith dan membunuh belasan ribu penduduknya sebagai penghilang rasa bosan tak ada kerjaan?
Pada jeda yang diciptakan Madara ini. Pria yang numpang lewat menciptakan sesuatu pada udara kosong di samping kananya. Udara berubah seperti kain yang dirobek dan berwarna hitam bercampur abu-abu,.
"Anggap saja semua ini adalah peringatan sekaligus pelajaran. Dua hal yang penting agar kau dan aliansimu tak bertindak seenaknya hanya karena kalian sekarang menjadi golongan terkuat... Aku sama sekali tak peduli setelah ini kalian ingin memburu kami untuk balas dendam. Itu malah menguntungkan karena tak perlu repot-repot lagi mencari mahluk-mahluk yang sudah membunuh dua adik bodohku dan penduduk desaku..."
Tak ingin diam saja, Sirzechs membalas. Dia membalas penuh amarah dan dendam.
"Tenang saja, kau tak perlu repot-repot. Tunggu saja, sebentar lagi kalian semua akan menyusul Keturunan Lucifer yang bodoh itu sudah melawan kami..."
"Terserah." Madara memilih tak peduli pada balasan Sirzechs, "Intinya,..."
Kembali menciptakan jeda, Madara perlahan mundur memasuki robekan udara disana. Matanya terpaku pada Sirzechs dan bersinar penuh kebencian,
"... Ini belum berakhir, bahkan dimulai! Persiapkan diri kalian baik-baik."
.
.
.
.
.
.
.
.
...
"Okaerinasai, Minna-sama!"
Le Fay, Le Fay Pendragon berucap penuh kegembiraan menyambut kedatangan beberapa orang di lokasi tersebut.
Ada tiga orang yang datang. Mereka adalah Hashirama, Hilda dan Vali yang muncul dari lingkaran sihir emas milik Le Fay. Ketiganya muncul dengan pose dan ekspresi berbeda-beda.
Vali hanya berdiri tegap sambil memasukkan kedua tangan pada saku celana, wajahnya tak memperlihatkan ekspresi berarti.
Hashirama datang-datang langsung pasang wajah bingung bercampur terkejut. Barulah ketika melihat Le Fay tersenyum bangga, dia tahu apa yang terjadi. Dia ditarik paksa oleh Le Fay.
Terakhir, Hilda. Hentai-Oneesama ini muncul dalam keadaan cukup mengerikan. Dia berbaring terlentang, tubuhnya penuh luka tusuk dan darah segar yang masih basah ataupun telah mengering, pakaian Gothic Lolita yang dipakai sudah tak utuh lagi. Walau keadaannya babak belur begitu, Hilda masih sadar.
"Demi Sempak Madara danNaruto-chan! Kukira aku akan mati tadi... Jalang itu benar-benar membuatku kesal, cih!"
Tak ada yang menanggapi ocehan kasar Hilda. Le Fay dan Vali sudah mengetahui bagaimana anehnya tubuh Hilda yang sangat sulit mati separah apapun lukanya.
"Aah, kalian sudah kembali rupanya. Selamat datang..."
Hashirama dan Vali mengalihkan perhatian mereka ke suara yang diketahui milik Arthur. Begitupun Hilda, masih berbaring, dia menelenkan kepala juga. Mereka melihat Kakak Le Fay tengah duduk di atas batu dengan dua Pedang Suci miliknya ditaruh atas paha.
Tak jauh dari tempat Arthur, ada Bikou dan Kuroka yang tengah memperdebatkan sesuatu entah apa itu.
Mengambil dua pedang itu lalu berdiri. Arthur berjalan mendekat Hashirama dan Vali. "Bagaimana, apa kalian mendapat apa yang diinginkan?" dia bertanya pada keduanya. "Aah, aku tak menyangka kau sampai menggunakan [Juggernaut Drive] milikmu, Vali. Le Fay tadi bilang aura Maōu Beelzebub dan Maōu Leviathan menghilang dari area ini. Apa kau—"
"Tidak." Vali memotong cepat, "Mereka kabur, bukan mati. Walau begitu, setidaknya satu tangan dan kaki mereka berhasil kubagi hingga lenyap."
Bikou dan Kuroka menghentikan perdebatan. Mereka serentak menoleh ke Vali dengan wajah terkejut. Tak hanya keduanya, Hashirama bahkan Arthur juga terkejut dengan itu.
"Kau memukul mundur dua Maōu. Lumayan juga kau, Vali." Hashirama menepuk-nepuk pundak Vali yang nampak sedikit risih dengan tindakan itu. "Kau memang adik Naruto. Kalian tak beda tipis. Cuma Naruto harus tewas melawan mereka semua."
Vali memberi pandangan tak suka. Sejak awal memang dia tak suka disamakan dengan kakaknya—mendiang kakaknya itu. "Dianya saja yang terlalu lemah—Sudahlah, jangan bahas Naruto lagi. Bagaimana denganmu, apa kau mendapat alasan kenapa Naruto dibunuh?"
Hashirama mengangguk mengiyakan. "Iya. Tapi kita tunggu Madara-teme. Ngomong-ngomong, kenapa cuma dia yang tak ada disini?" bertanya begitu, Hashirama menelenkan kepala ke Le Fay selaku orang yang menariknya. "Kau tidak melakukan seperti yang kau lakukan ke kami pada Madara, Le Fay-chan?"
Senyum bangga dan antusias Le Fay menghilang atas pertanyaan itu. Kini dia terlihat khawatir. Hal itu membuat beberapa dari mereka tersentak, bahkan Hilda sampai berdiri.
"Le Fay-chan... Jangan bilang Madara-kun—"
Hilda tak menyelesaikan kalimat karena Le Fay kembali menggelengkan kepala. "Madara-sama... Tak bisa dijangkau sihirku. Yōuki milik Maōu Lucifer-sama terlalu besar dan sangat kuat. Itu mengganggu aliran sihirku untuk sampai ke Madara-sama..."
"Kalau begitu, ayo jemput Madara-kun sekarang juga!" Hilda mengabaikan tubuhnya yang sudah bolong-bolong berniat kembali ke Lilith. Sanjin no Ogama dia serat paksa hingga menciptakan bunga-bunga api. "Kita sudah kehilangan Konohagakure, Naruto-chan,... Dan sekarang Madara-kun dalam bahaya melawan seekor monster..."
"Tunggu, Hentai-Oneesama!" Le Fay berusaha mencegat Hilda, bagaimanapun dia belum sempat menjelaskan tentang Madara, gadis itu malah langsung berpikir yang tidak-tidak. "Madara-sama sudah—"
"Apa lagi yang harus ditunggu?! Madara-kun bisa mat—"
"Itu tak akan pernah terjadi, Baka Ero-Onna!"
Kejadiannya cukup cepat. Hilda memotong ucapan Le Fay, kemudian giliran Hilda yang dipotong ucapannya diikuti panggilan mengejek di akhir oleh suara tak asing. Suara itu milik Madara dan terdengar di antara lokasi Hilda dengan yang lain.
Hilda berhenti, memutar badan lalu mencari-cari dimana Madara berada. Di depannya, tak jauh Hashirama, Vali, Arthur dan Le Fay hanya tanah kosong.
Ya, hanya tanah kosong. Tapi itu tak berlangsung lama karena sebuah robekan dimensi yang hampir menyerupai kemampuan Pedang Caliburn Arthur muncul. Hanya berbeda pada rupa saja. Wujud tehnik Ruang dan Waktu itu seperti resleting pada pakaian yang melintang horizontal.
Dari sana, Madara yang penampilannya hanya tinggal celana hitam dan sepatu Shinobi berjalan keluar bersama seorang pria berpakaian serba putih lengkap dengan wajah malas ingin dipukul.
Setelah keduanya menapak tanah, robekan itu menutup dengan sendiri.
"Kau benar-benar bodoh kalau berpikir tikus kecil itu bisa membunuhku." Madara memasang wajah jengkel menoleh ke Hilda. Walau begitu, dia agak merasa aneh gadis penganut Aliran Jashin itu ternyata bisa khawatir juga. "Lain kali khawatirkan saja dirimu, bodoh."
Walaupun cara berbicara Madara terkesan ketus, beberapa dari mereka bisa mengerti kalau sejatinya Madara juga khawatir pada kondisi Hilda yang sudah seperti habis disiksa.
Madara berjalan diikuti pria berpakaian putih dan Hilda menuju tempat Hashirama bersama Vali berada, dimana Bikou juga Kuroka serta Arthur telah bergabung disana.
Setelah berkumpul, Madara melihat satu per satu kelompoknya. Tak ada yang mengalami luka berarti kecuali Hilda—Tapi itu tak usah dikhawatirkan, toh mahluk tak jelas itu bisa dibilang 'sudah mendekati' yang namanya keabadian. Selain luka, hanya dirinya dan Hilda yang kembali tak utuh pakaiannya.
Madara menghela nafas lega. Mereka berangkat berdelapan, dan pulang tak ada yang kurang—tewas.
Menoleh ke Kuroka, "Bagaimana denganmu, Neko?" Madara bertanya.
Kuroka menggeleng pelan lalu menjelaskan apa yang terjadi selama pertemuannya dengan sang adik. Untuk topik dia dan adiknya diselamatkan Naruto, itu Madara tak mau tahu serta peduli.
"Jadi, kau tak berhasil mengambil adikmu kembali karena diganggu kadal bergelar Ryū'ō?"
Kuroka mengangguk pelan. Madara menghela nafas sekali lagi. "Hn, baiklah. Lain kali saja kita ambil adikmu. Setidaknya, setelah malam ini, pilihan ada di tangan mereka. Ingin mengejar kita sampai ujung neraka atau tidak. Jika tidak, akan kupikirkan bersama orang ini," dia menunjuk pria berpakaian putih yang berdiri di kirinya dengan ibu jari. "Cara lain mengambil adikmu."
"Jangan seenaknya menyuruh. Aku bukan bagian dari kalian."
"Belum." Madara membenarkan, dan langsung dihadiahi tatapan aneh dari pria di samping kirinya. "Aku bisa melihatnya di matamu."
"Hee, kau bisa melihatnya Madara? Aku tidak sama sekali. Matanya hanya kelihatan mengantuk setiap saat." Hashirama berujar sambil menatap lekat-lekat mata abu-abu pria di dekat sahabatnya. "Aah, iya. Aku sudah dapat informasinya, sekarang atau nanti saja?"
"Simpan saja itu. Orang ini ada disini, menghentikan kita di tengah-tengah tarian. Dia pasti punya alasan bagus untuk melakukannya. Bukan begitu?"
Pria itu mendesah panjang lalu mengangguk dengan mata terpejam agak lama. Ketika dibuka, dia melirik malas Madara. "Kalian beruntung. Dia menemukannya lebih cepat dari perkiraan awal sekitar tiga sampai empat hari. Selanjutnya, kuharap kalian lebih baik duduk diam kalau menunggu sesuatu—"
Pria itu mengambil jeda dan menelenkan kepala ke arah timur. Mengikuti pria itu, kelompok Madara kecuali Madara juga menoleh ke arah yang sama.
Sekarang, mereka semua berada di puncak sebuah gunung yang lumayan tinggi di arah barat kota Lilith. Dikarenakan berada di puncak dan sejak berada di sini sama sekali tak kepikiran menoleh ke arah sana, mereka akhirnya melihat keadaan kota Lilith belasan kilometer di arah timur.
Bikou, Kuroka, Hashirama dan Hilda melebarkan mata melihat keadaan kota itu sekarang,
Di bawah sinar bulan buatan Underworld, kota Lilith yang secara kasar wilayahnya berbentuk persegi sudah hancur lebur menyisahkan bagian barat laut dalam keadaan sedikit utuh. Wilayah lain sudah tak nampak seperti kota lagi.
Wilayah timur laut tempat Vali bertarung melawan Ajuka dan Serafall ambruk cukup dalam sehingga sekarang lebih enak disebut sebuah jurang.
Lalu, wilayah utara dekat Kastil Lucifer yang sudah jadi reruntuhan, sudah hancur lebih dengan sebuah lubang raksasa hampir memakan seper-enam dari total wilayah Lilith.
Selain Lilith, kerusakan juga terjadi sampai keluar. Dataran indah yang tadi berupa hutan lebat dan beberapa gunung batu, dimulai dari arah tenggara hingga barat laut posisi mereka sudah berubah menjadi hamparan tanah kosong yang seperti habis dibajak traktor sejauh mata memandang.
Malam ini, siapa yang menyangka bahwa selama ribuan tahun tak tersentuh kerusakan, kota Lilith kini tak ubahnya menjadi kota mati yang diluluh lantahkan oleh beberapa orang saja.
Itu belum termasuk korban jiwanya,...
"—daripada harus menghancurkan kota dan menewaskan belasan ribu penduduknya."
"Be-belasan..."
"...ribu...?!"
Dimulai oleh Hashirama dan diakhiri Hilda. Keduanya mempertanyakan kebenaran tentang apa yang didengar dengan suara tergagap tak percaya.
Begitupun Bikou dan Kuroka yang baru tahu ini, mereka juga terkejut. Bikou bahkan memberi satu tatapan 'apa kau bercanda' ke pria itu, lalu dipindahkan ke Vali dan Madara sebagai biang kerok pengacau di kota Lilith.
Pria itu mengangguk membenarkan lalu melihat ke Madara.
"Jangan lihat aku. Itu ulahnya." Vali ikut memberi tatapan singkat ke Madara.
Madara yang ditatap semua orang kecuali Arthur dan Le Fay yang sudah tahu hal ini memasang wajah datarnya.
"Hn, apa?"
"Kau membantai belasan ribu iblis? Bagaimana bisa? Bukannya kau melawan kepala merah itu?"
"Aah, sialan! Seharusnya aku saja yang melakukannya. Belasan ribu iblis. Jashin-sama pasti sangat senang dengan tumbal sebanyak itu daripada melawan jalang tukang lempar es tadi. Cih! Lain kali aku yang dapat jatah membantai. Pokoknya harus aku!"
Beberapa dari mereka mengabaikan ocehan Hilda dan masih fokus memandang ke Madara menunggu jawaban dari pernyataan Hashirama.
"Cuma mengetes tebasan terkuat Kansentai Susano'o, dan ternyata lebih dari dugaanku dan mungkin kebetulan saja tempat mereka semua berada masuk jangkauan... Ya, begitulah. Detailnya nanti saja,"
"Ya, simpan saja cerita kalian." Pria tadi membenarkan Madara lalu menguap lebar. Sungguh, dia benar-benar ngantuk tengah malam harus mengurusi mahluk-mahluk barbarian ini. "Hooooaamzz, waktu tidurku sudah terbuang hampir satu jam. Saatnya menyelesaikan ini agar aku bisa tidur nyenyak sepuasnya..."
"Ya, mahluk pemalas ini benar. Le Fay, giliranmu..."
Mengangguk kecil, Le Fay merapalkan mantra sihir. Satu lingkaran sihir emas besar yang menjangkau mereka semua muncul pada permukaan.
Cahaya keemasan pun bersinar terang di puncak gunung tersebut. Cahaya dari kelompok yang baru saja melakukan hal besar hanya karena tak tahu harus berbuat apa selagi menunggu sesuatu diselesaikan...
.
.
.
Menghilangnya sinar tersebut menjadi akhir dari insiden besar dalam dunia supernatural bagi seluruh dunia.
Sebuah insiden yang akan tercatat sebagai malam terkelam fraksi iblis selain Perang Saudara dan Great War.
Insiden yang didalamnya Fraksi Iblis kehilangan banyak hal.
Dua tanda kemenangan dalam Perang Saudara, Kastil Lucifer dan Lilith hancur lebur.
Belasan ribu nyawa iblis penduduk Lilith melayang,
Dua Peerage Maōu Lucifer yang masuk kategori terkuat di Underworld juga ikut tewas,... Knight terkuat, Souji Okita dan Pawn terkuat, Beowulf.
...Dan semua itu, hanya dilakukan oleh delapan orang.
Sungguh sebuah pengembalian [Payback] yang sangat manis untuk satu nyawa dari seorang...
...Naruto Lucifer!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
TrouBlesome Cut!
.
.
.
Arc IV Nearest Place from Heaven — First Part, End!
.
-Soft Ending-
Sora wa Takaku Kaze wa Utau by. Luna Haruna [Fate Zero S2 Ending 2]
.
.
.
Author Note:
Nanggung pasti. Iya kan? Ya maaf kalau nanggung—Akwakwakwakwakwakwak...
Oke-oke. Saya akan jelaskan inti dari Part Payback ini singkat. Dibaca bagus, nggak dibaca juga gak apa. Toh, ini cuma penjelas saja siapa tahu ada yang nggak dapat inti dari Part ini selama membacanya.
Singkatnya Part ini Madara dkk melakukan pengembalian [Payback] atas kematian Naruto. Nah, mereka melakukan itu dalam rangka mengisi waktu selagi menunggu sesuatu. Jika tak tahu 'sesuatu' itu, tunggu saja. Chapter depan terungkap kok. Tapi kalau mau nebak, silahkan tebak saja. Toh petunjuknya cukup banyak dan jelas.
Karena Madara gak suka diam menunggu saja. Inilah yang dilakukan. Melakukan Payback, nyerang Lilith yang kebetulan tengah ada pertemuan antara Aliansi dan Pihak Asgard [Odin] yang mana Loki mengacaukannya. Pas sudah kacau itu, Madara dkk masuk dan memulai Payback mereka. Selain daripada itu, ada tujuan lain. Seperti Hashirama yang ingin mencari tahu alasan Naruto dibunuh, dan Kuroka ingi mengambil Shirone/Koneko. Sayangnya itu tak berhasil karena Issei Epic Comeback dengan Balance Breaker sempurna ditambah kedatang Tannin.
Note selanjutnya adalah Madara. Ya, level kekuatan Chakra Madara sekarang masih dibawah kekuatan Demonic Power dan Power of Destruction Sirzechs. Namun, Madara menutupinya dengan kemampuan bertarung yang lebih unggul ditambah pemberian Ophis.
Jika mau disetarakan, mungkin level Chakra Madara sama dengan Demonic Power Serafall. Sedangkan Hashirama lebih kuat levelnya dari Madara. Kemungkinan sudah hampir mendekati Demonic Power Sirzechs, dan bisa mengimbangi Power of Destruction apalagi jika sudah ditambah Senjutsu.
Well, itu untuk saat ini. Dan sudah pernah bilang Naruverse akan dapat Buff biar setara dengan DxD. Jadi, kedepannya level kekuatan Chakra Madara akan bertambah kuat sampai mencapai bahkan bisa saja melewati Demonic Power Sirzechs. Hilda, well... Nanti saja Gadis Sesat Mesum ini. Dia juga nanti punya Arc sendiri.
Selanjut Vali. Dia menang mudah dari Ajuka dan Serafall. Oke, Divine Dividing Vali itu sebenarnya Overpower sangat. Coba saja, ambil kertas, bagi setengah, lalu bagi setengah lagi, bagi lagi, lagi, lagi dan lagi. Pasti akan habis kan? Nah, begitu yang terjadi dengan Ajuka dan Serafall yang kena [Divide] puluhan kali mode [Juggernaut Drive] yang sudah tak ada limit 10 detik buat aktif itu kemampuan.
Hilda,... Di skip saja.
Hashirama... Hmn, dia yang paling nanggung sih. Baru mau serius dan keluarkan Senpō Mokuton: Shin Sūsenju, keburu ditarik sepihak Le Fay. Batal deh. Santuy, ini masih awal. Akan ada waktunya ini Hokage gak punya wibawa serius dan ngebunuh lawan tanpa ragu. Toh, dari awal tujuan mereka memang hanya melepas bosan sambil menunggu serta minta informasi dari Azazel kenapa Naruto dibunuh.
Anggap aja belasan ribu iblis, Shouji Okita dan Beowulf bonus buat Madara yang kebetulan paling bersemangat dan bernafsu.
Terakhir untuk yang penasaran dengan Naruto. Di Chapter depan Naruto munculnya. Maaf kalau dia tak muncul empat Chapter ini, dan terkesan lama dimunculkan. Ya, saya mikirnya gini... Kalau Naruto dimunculkan di tengah-tengah pertempuran. Itu mungkin agak sedikit mengganggu. Lagian, lepas ini. Yang rindu dengan kue ikan itu bakalan puas karena Bagian kedua Arc IV ini adalah bagian Naruto.
Oke, mungkin hanya itu yang perlu ditambahkan di Author Note. Lebih dan kurangnya mohon dikoreksi dan dikritik. Sekarang waktunya balas Review.
...
Pojok S.B.S:
Buat kesalahan penulisan. Mungkin itu sayanya yang kurang teliti nge-Edit.
Soal Koneko. Dia memang kena Brainwash Sirzechs ama Rias kek yang elu bilang [The World Arcana]. Nah, tuh Madara udah tambah gila walau diakhir-akhir sedikit kewalahan dan akhirnya kena Plot Armor dari gua munculin orang yang lakuin sesuatu yang mereka tunggu... Entahlah, keknya Obito-nya yang terlalu Bucin jadi bisa lepas dari Myōjinmon
Buat Tsukasa yang tanya soal Kakek Gila Rizevim. Dia gak ikut merusuh, tapi dia tahu soal kerusuhan ini dan belum waktunya munculin kakek tua yang secara mental adalah anak-anak dengan sindrom tingkat delapan.
Buat Narto. Yang mati mungkin gak jadi atau belum. 'Dalam waktu dekat', itu artinya kalau bukan disini, setelah kejadian ini.
Andre Dragneel Lucifer. Nope, Beerus tidak diambil sepertinya. Ntahlah. Nanti dilihat.
Fazakhi indra. Gak ada yang menang dan kalah. Seri dan sama-sama gak sekarat. Sirzechs Cuma kena luka tusuk dekat jantung. Madara dapat Plot Armor. Waktu nunggu selesai pas dia sudah hampir kehabisan Chakra ama Kekuatan Ophis—Akwakwakwakwakwak..
Ryuuki. Santuy, ini masih awal. Madara aja bilang ini belum berakhir, bahkan dimulai. Jadi tunggu saja perangnya.
Arifrahman 223: Naruto gak muncul di Penyerangan Lilith ini. Dia masih main dengan Loli Scheherazade di Elysium. Chapter depan baru muncul Naruto-nya. Penentuan takdirnya.
Tsukasa30: Hmmn, sama. Saya juga yang bikin plot Azazel gak tewas juga kecewa. Tapi, saran diterima. Azazel kalau emang masuk daftar Death Chara, matinya gak bakal enak.
NQ-sama: Masih terlalu awal buat matiin banyak Karakter. Cukup Belasan Ribu Penduduk Lilith, Souji Okita dan Beowulf yang dimatikan dulu. Sisanya nyusul di Pertempuran selanjutnya.
Gede Laba1: Silahkan berharap. Saya juga berharap gitu.
Fahrul742: Tuh, Hashirama hampir keluarin Senpō Mokuton: Shin Sūsenju. Cuma keburu ditarik Le Fay, jadi kagak jadi—Akwakwakwakwakwakwak...
NS Lovers: Ya, dia selamat lagi. Buff Azazel masuknya ke Luck. Selamat mulu—Akwakwakwakwakwakwak...
Howling noise: Well, saya juga berharap masih hidup sih... Kek kata kebanyakan reader. Gak ada Naruto, gak seru—Akwakwakwakwakwak...
Shin Gorilla: Bacot aah, Kang Nyasar. Ya, gua juga berharap cepat kelar. Alhamdulillah dah gak gempa 4 hari ini sih. Dah, Ahh... Sering ngobrol di Grup ama FB ama elu. Dimari gak usah panjang²—Akwakwakwakwakwakwak...
Guest: Kalem dong, bambang. Gak usah ngegass gitu. Naruto muncul chapter depan.
.
.
Mungkin cuma itu yang perlu dibalas Review-nya. Sisanya saya baca kok dan ini sudah update. Dua Chapter lagi. Cepat atau lambatnya tergantung situasi RL dan Penyakit Mager yang kadang muncul gak kenal waktu. Untung aja gak muncul sekarang ini, jadi bisa Update lagi gak makan waktu lama.
Oke sekian Pojok SBS-nya. Udah macam One Piece aja, njir :v
...
Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini, Ngacir!
Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade...
Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut stadium akhir tak tertolong ini.
—BUKAN PEDO, BGSD!
Ciao~
