Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!
.
.
.
[Arc IV: Nearest Place From Heaven]
.
[Chapter 36]
[Penantian dan usaha yang tak sia sia!]
.
.
.
.
.
.
.
Pada malam yang sama ketika Penyerangan Lilith berakhir sekitar dua-tiga jam lalu,
Suara langkah kaki menggema di koridor besar sebuah mansion yang masih berlokasi di Underworld, namun letak jelasnya tak diketahui.
Koridor tersebut memanjang sekitar dua puluh meter dengan jarak antara lantai dan langit-langit yang dihias banyak lampu megah cukup lebar, berkisar sekitar sepuluh meter. Dindingnya memiliki dua pemandangan berbeda, di sebelah kiri terdapat furnitur gaya khas Eropa Abad Pertengahan dan beberapa lukisan besar, sedangkan di sisi sebaliknya adalah jendela di sepanjang koridor dengan tirai putih yang dibiarkan terbuka agar cahaya bulan buatan Underworld bisa masuk menyinari ruangan selain lampu-lampu di langit-langit.
Berjalan di koridor tersebut dan yang menyebabkan suara gema langkah kaki adalah pemuda berambut perak dikepang. Memakai jubah sama dengan warna rambutnya dan dihias banyak aksesoris detail.
Dia berjalan cukup tergesa-tergesa dan tak pernah melepas pandangan dari ujung koridor yang terdapat dua pintu besar, dan daun di sebelah kiri sedikit terbuka.
Tiba di ujung koridor, dia mengetuk satu daun pintu tanpa mengatakan sepatah katapun. Dari dalam ada suara samar-samar mempersilahkannya masuk, tanpa banyak bicara lagi dia langsung masuk setelah mendorong dengan sedikit tenaga pintu yang terbuka tadi.
Memasuki ruangan, dia melihat seisinya.
Ruangan itu cukup terang dengan beberapa lampu megah pada langit-langit menyinari. Di tengah-tengah, terdapat dua sofa panjang yang diantarai meja kayu tua.
Pada sofa yang membelakangi pintu, seseorang tengah duduk bersandar disana sehingga hanya membuat kepala bermahkota perak gelap yang terlihat.
"Rizevim-sama, saya kembali."
"Uhyahyahyahyahyahya, bagaimana Euclid? Apa kau dapat sesuatu tentang kenapa Sirzechs-chin membuat Mekai-kyun gempa? Apa mereka yang membuat Sirzechs-chin memakainya?—Aah, pasti mereka. Siapa lagi yang berani menyerang Mekai-kyun jika bukan kelompok cucu kesayanganku. Jadi, jelaskan semua yang terjadi..."
Suara pria yang seperti berada di umur 40 tahunan tanpa membalas salam dari pemuda tadi melancarkan banyak pertanyaan yang tak jauh-jauh dari Penyerangan Lilith beberapa jam lalu.
Pria—atau sebut saja kakek itu, Rizevim—Rizevim Livan Lucifer, anak dari Lucifer pertama, kakek Naruto dan Vali. Salah satu dari dari Empat Keturunan Maōu terdahulu selain Shalba Beelzebub, Cruzerey Asmodeus dan Katerea Leviathan. Tapi, ketiganya tak berada di generasi yang sama. Rizevim berada satu tingkat diatas dan anaknya—Ayah Naruto dan Vali—lah yang satu generasi.
"Ngomong-ngomong, sini duduk, Euclid. Kau bisa pegal kalau berdiri terus disana. Ini pasti menarik membicarakan soal orang-orang yang memungut cucu kesayanganku setelah kabur bersama pelacur kecil itu, Uhyahyahyahyahyahya,..."
"Aah, ... terima kasih, Rizevim-sama."
Euclid mengikuti permintaan itu dengan segera menuju sofa tunggal di samping kanan meja di depan majikannya duduk. Setelah merapatkan pantatnya pada benda empuk tersebut, Euclid segera mengadopsi ekspresi serius menghadap ke atasannya.
Tanpa perlu ditanya kedua kalinya, Euclid segera menjelaskan maksud kedatangannya.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, Naruto-sama tewas ditangan Pemegang nama anda sekarang, Mantan Gubernur Malaikat Jatuh Azazel, Michael dan beberapa orang lain pada konferensi tiga fraksi beberapa hari silam."
Wajah 40 tahunan Rizevim sempat mengeras, diikuti mata hazelnya yang menyipit tajam.
"U... uuh... Mereka,... Mereka membunuh cucu kesayanganku?"
"Benar, Rizevim-sama."
Euclid mengangguk singkat sambil menjawab. Rizevim lantas menggeleng pelan, wajahnya sudah melunak. Diawali tawah anehnya, Rizevim berbicara dengan nada membantah.
"Uhyahyahyahyahyahya, cucu kesayanganku tidak mungkin mati, Euclid. Tidak mungkin, tidak mungkin!"
Rizevim tampak seperti menyanggah penjelasan Euclid, tak terima dengan kematian cucu yang dia bilang adalah kesayangannya. Euclid segera meyakinkan sang majikan dengan memberikan informasi lain yang dia dapatkan.
"Tapi memang itu yang terjadi, Rizevim-sama. Naruto-sama mati ditangan mereka. Itulah kenapa kelompok Naruto-sama menyerang dan menghancurkan Lilith. Mungkin dalam rangka membalas dendam kematian Naruto-sama karena kebetulan malam ini memang ada pertemuan antara Aliansi dan Dewa Odin dari Asgard. Semua yang terlibat dalam pembunuhan Naruto-sama berada disana..."
Euclid terus menjelaskan dan menjelaskan dalam rangka agar Rizevim bisa menerima kenyataan.
—Singkat cerita, setelah gempa hebat akibat pengaktifan True Form Sirzechs, Rizevim langsung mengirimnya untuk memeriksa hal tersebut.
Betapa terkejutnya Euclid ketika tiba di Lilith yang mana sedikit terlambat karena pertempuran telah berakhir, dan Lilith yang awalnya kota megah sudah berubah menjadi daratan tak penghuni dengan kondisi habis dihantam bencana alam berskala dahsyat.
Tak ingin pulang tanpa hasil. Euclid segera berkeliling di sekitaran Lilith, mencari apakah ada yang masih selamat. Beruntung, dia menemukan seorang iblis kelas Ultimate di dekat reruntuhan Kastil Lucifer dan segera mengorek semua informasi dari kepala iblis itu.
Yang dia dapatkan adalah informasi tentang pertemuan dengan Odin diserang sekelompok yang dipimpin oleh manusia bernama Madara Uchiha. Sedikit dia mengetahui tentang orang itu. Madara adalah satu dari beberapa orang yang memungut cucu atasannya, Naruto Lucifer atau lebih terkenal dengan nama Naruto Uzumaki.
Untuk menambah informasi yang ada, Euclid meninggalkan Lilith dan berpindah ke beberapa tempat hingga mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi dari percakapan beberap orang. Dari percakapan itulah dia akhirnya tahu semua yang terjadi.
Cucu atasannya telah mati, dan penyerangan Lilith oleh kelompok Madara atas dasar balas dendam walau ada beberapa informasi tentang «Hanya menunggu sesuatu» dan beberapa kalimat tak jelas lain yang sama sekali Euclid tak mengerti apa maksud dan tujuannya.
" ... Bagaimana sekarang, Rizevim-sama? Naruto-sama sudah tak ada lagi. Apa kita harus mengubah susunan rencana?"
Euclid bertanya tanpa berani menatap wajah lawan bicara karena aura di sekitarnya sudah terasa mengerikan.
"Tak perlu, Euclid. Tak perlu... Naruto-chan belum siap dan kita tak tahu kapan dia siap."
Rizevim menghilangkan aura mengerikannya dan menghela nafas, membuat Euclid juga ikut melakukan hal yang sama.
Diam beberapa saat, entah memikirkan apa atau hanya sekedar bengong. Rizevim berniat mengambil sesuatu yang berada pada permukaan meja di depannya, namun diurungkan atas alasan tak jelas.
"Berapa banyak yang mati?"
"Iya, Rizevim-sama?"
"Pertempuran tadi."
"Dari informasi yang saya dapatkan. Belasan ribu penduduk Lilith tewas, ditambah dua nama besar, Okita Souji dan Beowulf. Keduanya sama-sama dari Peerage pemegang nama anda sekarang."
"... Uhyohyohyohyohyohyooaah..."
Tawa Rizevim kembali pecah sehabis mendengar jumlah korban yang tak main-main itu. Belum lagi dua nama besar dibalik lindungin Lucifer masa kini. Selain korban, sebab Rizevim tertawa begitu karena orang-orang yang membantai adalah kelompok kecil cucu kesayangannya.
"Seperti yang diharapkan kelompok yang memungut cucu kesayanganku. Ngomong-ngomong, apa cucuku yang satunya, yang goblok-goblok dan cengeng itu, sudah ketemu dengan kakak kesayangannya—Cucu kesayanganku?"
Euclid kembali mengangguk sambil menjawab.
"Ya, Vali sudah bertemu dan ikut dengan kelompok Naruto-sama."
"Bagus, bagus, bagus—Sekarang tak ada lagi yang perlu kukhawatirkan. Kalau mereka sudah bersatu, cucu kesayanganku bisa berkembang lebih jauh lagi ke tingkat yang kita butuhkan."
Euclid memandang heran majikannya. Sepertinya sindrom tingkat delapan sang majikan kambuh lagi, malah bertambah parah. Orang tua itu masih kukuh Naruto belum mati jika dilihat dari apa yang di ucapkan barusan. Seperti seorang anak kecil yang tak bisa menerina kenyataan dan memainkan imajinasinya.
"... Ta-tapi, Rizevim-sama—Bagaimana—"
"Sudah, sudah, Eculid. Sekarang beritahu kakek tua ini perkembangan di Rumania dalam seminggu. Kau tahu, Euclid... duduk diam selama itu hanya melihat api di perapian disana benar-benar membosankan. Penisku sampai kering dan tak bisa orgasme setelah mendengar Lilith-chan hancur."
'Yaa, kambuh lagi. Apa obatnya sudah habis?'
Euclid sweatdrop mendengar beberapa kata tak normal yang dilontarkan Majikannya itu. Walau sudah sering mendengar kalimat tak senonoh dari majikannya, tetap saja dia tak bisa terbiasa dengan itu.
"Aah, baik Rizevim-sama."
Menggelengkan kepala dalam rangka menghilangkan sweatdrop yang melanda, Euclid mengadopsi ekspresi serius.
"Beberapa hari yang lalu, satu lagi jiwa Naga Jahat ditemukan..."
"Kuh... uh... kurang, Euclid. Itu kurang untuk membuatku terkejut bahagia sampai orgasme."
"... Jiwa dari NagaJahat legendaris, Eclipse Dragon, Apophis."
"Uhyahyahyahyahyahya..."
Barulah setelah Euclid memberitahu secara spesifik, tawa aneh Rizevim pecah dan menggema di ruangan untuk kesekian kali. Informasi itu agaknya cukup mengejutkan karena bagaimanapun Apophis adalah Evil Dragon terkuat dalam sejarah mahluk mitologi bersama dengan dua lainnya yang diketahui bernama Crom Cruach dan Aži Dahāka.
"Uhyahyahyahyahyahya,... Bagus, bagus. Lanjutkan seperti itu. Semakin banyak Naga Jahat, akan semakin menarik."
"... Namun,"
Wajah cerah nan ceria Rizevim menghilang. Suara menggantung itu membuatnya menatap penuh tanda tanya bawahannya.
"Namun, apa?"
"Sejak dua hari yang lalu, kegiatan terpaksa dihentikan sementara karena 'Tuan Putri' tiba-tiba meng—"
Euclid tersentak lalu menghentikan ucapannya. Garis wajah tampannya agak sedikit berubah. Dia agak lama seperti itu memikirkan sesuatu, saking seriusnya berpikir sampai peluh menetes di kening.
"...—Ya, ampun! Itu dia!"
Tiba-tiba saja berteriak keras dan menggebrak meja. Euclid mengejutkan Rizevim karena reaksi dan tingkah yang berbada dari biasanya.
"Eh, apa? Apa? Ada apa, Euclid? Apa Grim Reaper-chan sudah datang untuk mengambil nyawa kita? Aku belum siap mati, tahu! Aku belum bertemu cucu kesayanganku setelah dia pergi sangat lama—Aah! Atau jangan bilang kau mengingat sesuatu yang menyenangkan sampai orgasme?"
Rizevim nampak panik sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkan bawahannya sampai bertingkah demikian. Beruntung dia tak sampai kena serangan jantung karena kaget Euclid tiba-tiba menggebrak meja sangat keras.
Euclid akhirnya mengerti. Sekarang, semuanya mulai masuk akal dan saling berkaitan satu sama lain. Aah, betapa bodohnya dia sampai tak sadar semua yang terjadi serta respon Rizevim tadi mungkin berkaitan.
Kemudian, dia menatap Rizevim dengan pandangan tak percaya.
"... Rizevim-sama, apa anda bisa melihat masa depan?"
Rizevim terbengong beberapa saat dengan mulut menganga. Dia sama sekali tak tahu maksud dan arah pertanyaan itu.
"Ah, tidak, tidak! Aku bukan Raja berisik yang bisa melihat masa depan itu. Memangnya kenapa?"
"Itu, tentang hilangnya 'Tuan Putri' selama dua hari, Penyerangan Lilith dan maksud perkata anda soal Nar—"
"Oh, yang itu."
Barulah ketika Euclid memberitahukan hal-hal yang tengah dipikirkan, Rizevim mengerti dan memotongnya cepat. Melihat Euclid mengangguk pelan, dia tertawa keras sambil memukul-mukul paha sekeras mungkin.
"Uhyahyahyahyahyahyahyahyahya... Sudah kubilang kan,... Uhyahyahyahyahyahya—"
"Astaga. Seandainya kematian Naruto-sama cepat kita ketahui. Kita bisa bertindak lebih dulu dari mereka dengan mengirim 'Tuan Putri', bukan begitu Rizevim-sama?"
"—Cucu kesayanganku tak mungkin mati."
Rizevim mengabaikan pertanyaan Euclid yang terlontar ketika menciptakan jeda di sela-sela tawanya. Dia terlalu menikmati situasi yang tak disangka ini, serta ekspresi merutuki kebodohan Euclid tadi. Jarang-jarang Euclid memasang wajah begitu.
Tapi, bagaimana pun pernyataan Rizevim tak sepenuhnya benar. Naruto—Cucu kesayangan Rizevim sudah mati beberapa hari lalu di tangan Pemimpin 3 Aliansi Fraksi Injil ditambah antek-antek mereka.
"Lalu, bagaimana Rizevim-sama tahu akan begini jadinya dan juga yakin Naruto-sama tak mungkin mati?—Dilihat darimana pun, tanpa kemampuan bisa melihat masa depan, ini benar-benar tak masuk akal Rizevim-sama bisa yakin kalau ini akan terjadi."
Agaknya Euclid masih penasaran dengan itu setelah Rizevim memberi kepastian tak bisa melihat masa depan.
"Intuisi."
"Permisi, Rizevim-sama. Bisa anda ulangi?"
"Jangan pernah meragukan intuisi kakek tua yang kelewat sayang pada cucunya ini, Euclid. Jangan pernah."
Rizevim mengetuk-ngetuk sisi kiri kepala dengan jari telunjuk seolah memberi kode selain ucapannya barusan bahwa semuanya hanya karena intuisi seorang kakek tua yang menyayangi cucunya lewat cara berbeda.
Walau belum terlalu jelas, Euclid sudah bisa mengerti garis besarnya. Jadi, secara singkat atasannya percaya bahwa Naruto Lucifer tak akan mati berdasarkan intuisi saja. Dan disini Rizevim mungkin mengartikan kematian Naruto adalah benar-benar mati, hilang keberadaannya dari kehidupan.
Namun, itu tetap tak menjawab pertanyaan Euclid tentang bagaimana Rizevim bisa yakin setelah Naruto dibunuh atau mati lalu semua ini terjadi dan saling berkaitan dengan Sang Tuan Putri yang dia sebut-sebut.
'Aah, memikirkannya juga tak akan berguna. Dia hanya kakek tua bermental anak-anak pengidap sindrom tingkat delapan yang sulit ditebak jalan pikirannya...'
Euclid menggelengkan kepalanya cukup sampai disitu saja mencari tahunya. Lagipula, setelah mengerti apa yang terjadi Naruto Lucifer selanjutnya, itupun jika berhasil mereka harus melakukan sesuatu pada pemuda itu.
"...Hmm, Rizevim-sama..."
"Uhu, apa?"
"Kita sudah memiliki beberapa Naga Jahat, juga aku menemukan hal menarik untuk diteliti sebagai tambahan kekuatan nantinya, dan perkembangan penelitian kita yang lain sudah hampir lima puluh persen... Kalau begitu, tinggal Naruto-sama agar semuanya bisa berjalan sempurna."
"... Aah, itu... Dia belum siap. Cucu kesayanganku masih perlu berkembang lagi sampai ke tingkat yang sama seperti ketika hampir membantai habis klanmu. Bukannya aku tadi sudah bilang begitu?"
Oke, Euclid mengingat kejadian itu. Walau sudah berlalu cukup lama, namun terasa cukup segar di ingatannya. Itu karena pada malam itu untuk pertama kali Euclid dibuat tak berdaya dihadapan seseorang selain Rizevim, parahnya lagi orang itu Naruto Lucifer yang masih sangat muda.
Sebelum berhadapan, atau tepatnya menahan Naruto kecil. Naruto kecil bersenjatakan [Scythe] atau senjata yang dipakai [Grim Reaper] sudah lebih dulu membabat habis 300 lebih anggota klan Lucifuge yang bertahan dari Great War dan Perang Saudara, yang mana dipastikan jika tingkat kekuatan mereka bukanlah kaleng-kaleng untuk menahan Naruto atas perintah Rizevim
Dan yang menarik dari itu,... Naruto melakukannya seperti tanpa sadar.
"... Ugh,..."
Euclid mengerang dalam rasa sakit mengingat sekilas pembantai yang hanya menyisahkan beberapa iblis saja malam itu.
Mengabaikan erangan Euclid, Rizevim berkata.
"... Begitulah. Kita baru akan menjemputnya pulang jika sudah siap—Aah, ngomong-ngomong jangan sampai dibunuh saat menjemputnya yaa~"
"Kenapa bukan sekarang saja, Rizevim-sama? Ketika Naruto-sama dalam keadaan tak bisa menolak apa lagi melawan."
Rizevim memberi pandangan wajah seolah mengatakan 'apa kau bodoh' kepada Euclid yang hanya mengerjit tak mengerti.
"Cucu kesayanganmu memang tak bisa melawan,... Tapi jangan lupa kelompoknya ituloh, Euclid. Mereka bukan mahluk sembarangan kalau bisa berbuat begitu pada Lilith-chan dan tak hilang namanya dari buku Paman Azriel melawan Sirzechs-chin dalam wujud sejatinya... Ditambah kondisi mereka yang benar-benar di puncak amarah dan dendam atas kekalahan cucuku. Tanpa menghitung cucuku satunya yang goblok-goblok dan cengeng itu, beberapa dari mereka adalah monster."
Mata Euclid sedikit melebar.
Jika sampai Sang Majikan yang dikenal sebagai [Putra Sang Fajar] dengan kekuatan setara dengan pemegang gelar Lucifer dan Beelzebub era sekarang, menyebut sebuah kelompok berisikan beberapa monster, itu adalah hal yang cukup mengejutkan. Sekaligus Euclid artikan bahwa kelompok tersebut memang berbahaya.
Lalu, fakta lain dimana Rizevim menjelaskan dengan wajah lurus dengan kalimat-kalimat normal tanpa kata kotor dan ejekan—kecuali untuk Vali memantaskan bahwa beberapa dari mereka memang monster dimata Rizevim.
"... Hmn... Kalau sampai Rizevim-sama berkata demikian, berarti mereka memang monster... Tapi,... Walau berisikan kumpulan monster, Rizevim-sama pastinya tak akan kalah begitu saja jika melawan mereka, bukan?"
"Tidak, tidak, tidak. Tidak seperti itu, Euclid."
"...?"
Melihat Rizevim menjawab sambil geleng-geleng kepala sampai beberapa kali membuat Euclid memandang dengan tatapan bertanya. Secepatnya, Rizevim segera menjelaskan.
"Untuk urusan melawan cucu tersayangku dan kelompoknya, aku tak akan turun tangan."
"Eeh, kenapa, Rizevim-sama?"
"Apa kau gila, Euclid?—Itu tak akan terjadi. Mana bisa aku memukul kepalanya, menendang pantatnya atau semacamnya... Dia cucu kesayanganku, ingat?!—Harusnya aku itu sebagai kakek mengelus kepalanya, memberinya makan teratur atau berteriak 'Berjuanglah, Naruto-chan. Kakek mendukungmu' saat melihatnya adu pukul dengan orang lain."
"..."
Euclid kehilangan kata-kata untuk beberapa saat dengan keringat besar hinggap di belakang kepala.
Harus dia garis bawahi bahwa selain mental yang bermasalah, Rizevim juga mengidap kelainan yang agaknya perlu dipertanyakan apakah normal atau tidak menderita Grandson-Complex.
Menyaksikan bagaimana cerianya wajah Rizevim ketika membahas cucunya, belum gerakan-gerakan aneh mirip pemandu sorak profesional tadi seolah menendang jauh-jauh sosoknya yang dikenal kejam, brutal dan lain sebagainya di kalangan iblis.
Lebih dari itu,
'Dia mengataiku gila, padahal dia sendiri lebih gila kepada cucu kesayangannya itu.'
Ya, Euclid tak mengerti dari mana bisa disebut kalau Naruto adalah cucu kesayangan Rizevim setelah semua yang dilakukan kakek gila itu di masa lalu.
"... Ano, Rizevim-sama."
"... Hu uh...?"
"Di mansion ini sebenarnya banyak sekali cermin. Sebelum mengatai saya gila. Silahkan anda bercermin dulu, Rizevim-sama."
"...Kau... mengejekku ya, Euclid?"
Mata hazel Rizevim berkilat tajam langsung tertuju pada Euclid. Itu membuat pemuda keturunan Lucifuge itu tercekat tenggorokannya.
"Aku memang sudah tua dan berkeriput, di wajah dan juga dibawah sini..." Rizevim dengan polosnya berkata demikian sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di bagian selangkangannya. "Jadi, tak perlu menyuruhku bercermin untuk sadar."
"Bukan itu maksud saya, Rizevim-sama."
"—Lah, terus apa dan kenapa kau menyuruh kakek ini bercermin kalau bukan untuk sadar dirinya sudah tua tapi mentalnya masih seperti anak-anak?"
"Begini. Darimana bisa disebut cucu kesayangan kalau Naruto-sama pernah anda lempar ke beberapa tempat berbahaya, disuruh membunuh banyak mahluk mengerikan di belahan lain Mekai, atau menyuruh seluruh klan Lucifuge menidurkan Naruto-sama dengan cara yang sangaat sangaat saaangaaat halus saat mengamuk?—Dibanding saya, yang gila disini itu anda, Rizevim-sama."
"Uhgyahgyahgyahyahyahyahyahyahya..."
"—?"
Bukannya tersinggung, marah dan membantah semua omongan Euclid yang sangat jelas nada mengejeknya terutama pada kata 'halus' disana, Rizevim justru tertawa.
Tawa yang sangat keras dan panjang
Saking kerasnya, itu bahkan bisa didengar sesisi mansion andaikata ada penghuni selain mereka berdua.
'Aah, kumat lagi...'
Euclid membatin pasrah sambil melepaskan tangan dari telinga setelah tawa atasannya telah berakhir.
"Sungguh, demi iblis jalang itu! Leluconmu benar-benar hebat, Euclid. Penisku sampai berdiri tegak seperti keadilan milik Paman Michael dan malaikat-malaikat itu. Kapan-kapan buat lagi yang seperti itu kalau-kalau ini kembali lemas yaa~~"
"Hai, hai. Apapun untuk anda, Rizevim-sama. Apapun... Sekarang, jika anda tak ingin melawan Naruto-sama, bagaimana caranya kita mengambil Naruto-sama kembali?"
Rizevim mengukir senyum licik di bibirnya, menjawab pertanyaan Euclid, senyum di bibir liciknya semakin melebar saat melempar balasan berupa pertanyaan juga.
"Apa kau mendengar pepatah ini, Euclid?—Jika lubang depan tak ada dan tak bisa untuk dimasuki, selalu ada lubang belakang yang siap kapanpun."
'Tidak, aku tidak pernah dengar! Dan memang pepatah itu tak pernah ada. Kau yang barusan membuatnya—Dan entah kenapa gara-gara pepatahmu, lubang pantatku tiba-tiba terasa nyeri begini...'
Wajah Euclid kehilangan warna dan ekspresi, pucat bagai mayat. Semua karena pepatah tak jelas dan menjerumuskan Rizevim apabila yang mendengar memang memiliki otak sudah terjerumus.
Namun, mengabaikan perumpaan pada pepatah Rizevim yang agak gimana gitu. Euclid sudah memahaminya, bahkan sudah tahu apa yang harus mereka lakukan tanpa perlu Rizevim menjeleskan lebih detail.
Senyum licik kemudian ikut Euclid ukir.
Rizevim mungkin kakek tua bermental anak-anak pengidap sindrom tingkat delapan dan Grandson-Complex aneh dengan selera humor kotor yang susah ditebak pikirannya. Namun, diantara semua iblis yang dikenal Euclid, hanya Rizevim yang menggambarkan bagaimana seharusnya iblis itu,
—Jahat, keji, brutal, buruk, sampah, salah, kasar dan licik.
Semuanya ada dalam diri Rizevim, menjadikannya sebagai tipe mahluk salah satu yang terburuk di dunia.
.
.
.
.
.
.
.
...
—Kyoto, Japan, Human World.
Berlokasi di pinggiran salah satu kota di bawah kendali dan pengawasan fraksi Yōukai dan Mitologi Shinto. Sebuah apartemen berlantai dua berdiri kokoh dibawah sinar rembulan.
Apartemen tersebut berlokasi di sudut kota Kyoto yang berbatasan langsung dengan hutan sebelah barat, namun masih masuk lingkung Kekkai (Barrier) fraksi Yōukai karena itu berakhir beberapa kilometer lagi pada sebuah kuil disana.
Memiliki dua balkon, depan dan belakang. Pada salah satu balkon tersebutlah tiga orang tengah berkumpul. Tepatnya di balkon belakang yang terdapat dua kursi diantara meja kecil samping kiri pintu masuk, dan sebuah ayunan besar dekat pagar berhadapan langsung dengan pintu.
Tiga orang itu adalah Hashirama, Hilda dan Madara.
"Nee, Hilda. Kenapa kemarin malam kau cepat sekali keluar ruangan?"
Merasa dipanggil, Hilda yang tengah duduk termenung—suatu keajaiban Hilda bisa begitu—pada ayunan menoleh sesaat kemudian mengalihkan pandangannya ke langit, melihat ke tempat jauh.
"Aku tak bisa melihatnya. Itu hanya akan membuatku emosi. Lagipula, kenapa harus es lagi sih?"
"Memangnya kenapa dengan es?"
"Jangan tanya, Baka Hokage."
"...Hah?"
Dengan wajah penasaran yang terlihat konyol, Hashirama melihat Hilda yang memasang wajah kesal. Sepertinya pertarungan Hilda melawan Grayfia kemarin malam benar-benar membuat gadis itu resmi tak suka bahkan benci pada es apapun bentuknya.
"Ya, mau bagaimana lagi. Orang itu yang menentukan, dan dia hanya memberitahu kita garis besarnya saja. Mana kita lupa menanyakan namanya lagi."
"Hn,... Itu karena kau yang ingin cepat-cepat pulang, Dobe."
"Yaaa, aku lagi, aku lagi. Salahkan saja terus diriku yang bodoh ini."
"Kau memang bodoh. Sudah terbukti."
"Hoiy!"
Berteriak seperti itu, Hashirama melototi sahabatnya yang tak pernah puas mengatainya bodoh. Di samping kiri pria berstatus mantan Hokage itu, Madara hanya mendengus tak peduli.
Selain duduk, Madara nampaknya memiliki kegiatan lain. Tangan kanannya memegang buku catatan kecil. Sementara di samping kananya, diantara kursinya dan milik Hashirama, dia atas meja kecil ada beberapa gulungan.
"Hn,... Jadi begitu cara kerjanya."
Penasaran dengan kegiatan Madara tersebut, Hashirama mencoba mencari tahu. Dia mengambil beberapa gulungan tersebut dan membacanya kanji yang tertulis di luarnya.
Tiga gulungan Hashirama bisa tahu apa isinya. Namun, dua sisanya tidak. Gulungan tersebut tak memiliki tulisan apapun dan bukan dari gudang persenjataan di lantai satu ataupun tehnik penyimpanan miliknya. Terlebih buku kecil di tangan Madara.
"Apa sebenarnya yang kau baca dan isi gulungan-gulungan ini, Madara?"
"Untuk bahan latihan kita selanjutnya."
Madara menjawab cepat tanpa mengalihkan mata hitamnya dari buku. Dia begitu serius membaca tulisan demi tulisan disana.
Mendapatkan jawaban setengah-setengah dari Madara membuat Hashirama melenguh panjang. Sahabatnya benar-benar serius dan tak ada niat untuk diganggu, kecuali... Dia memilih topik yang bisa membuat Madara tertarik.
"Ngomong-ngomong, aku sama sekali tak menyangka ada hal lain yang bisa mengembalikan orang dari kematian selain [Edo Tensei], sayang itu punya batasan jadi Tobirama dan Izuna—"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Hashirama!"
Seperti dugaannya, Madara langsung tertarik pada topik baru. Sahabatnya itu langsung menutup buku dan memberi tatapan tajam.
"Aku memang belum sepenuhnya percaya orang itu, tapi bagaimana dia mengatakan satu saja bisa mendatangkan masalah sangat besar, apalagi jika banyak dengan wajah lurus membuatku tak lagi berpikir seperti tadi, Hashirama."
"Aah, maaf. Itu muncul di kepalaku begitu saja."
Hilda, yang asik bermain ayunan tiba-tiba menyela.
"Tapi bagaimanapun, orang itu—Aku bingung harus memanggilnya apa bisa memikirkan semuanya. Seperti saja dia sudah lama hidup di dunia ini."
Yang Hilda maksud adalah bagaimana orang semalas, lebih memilih tidur dari apapun dan tak memiliki semangat hidup bisa tahu banyak hal seperti: [Holy Grail], Sacred Gear, 13 Longinus, [Hyōten] bahkan sampai [Fūinjutsu] dan [Ryūketsu-Ninpō]milik mereka yang jelas-jelas sangat rahasia, dan bahkan dikembangkan sampai ke tahap berbeda.
"—Arrrrgggghhhhh! Memikirkan semua yang dia sebut membuat kepalaku pusing."
Hashirama dan Madara serentak menoleh ke gadis yang sekarang menggerai rambut abu-abunya sampai melambai-lambai indah ketika berayun.
Mengabaikan penampilan Hilda sekarang yang entah kenapa lumayan cantik, mereka membatin serentak.
'Kaunya saja yang terlalu mesum untuk mengerti...'
Daripada membiarkan Hilda ketinggalan informasi dan bisa saja berakibat fatal bila melawan orang-orang yang memiliki hal-hal tadi, Hashirama dengan cukup terpaksa memberikan penjelasan.
"Sacred Gear, singkatnya adalah benda ciptaan Tuhan dalam Alkitab yang diberikan kepada manusia ataupun setengah manusia, termasuk di dalamnya ada tiga belas yang terkuat adalah Longinus. Milik Vali termasuk ketiga belasnya. Kalau Hyōten atau apalah itu, sama sekali tak kuketahui karena dia hanya bilang nama saja tanpa memberikan penjelasan lengkap."
"Aarrrggh, bodoh amat. Mau pakai Sacred Gear atau lubang anus—"
"Longinus, Baka Hentai-Onna! L-o-n-g-i-n-u-s."
"Terserah—Asal punya darah. Akan kupersembahkan jiwa mereka untuk Jashin-sama."
Madara, yang sudah menutup bukunya lalu diletakkan pada permukaan meja ikut nimbrung dalam percakapan.
"Intinya... Apapun itu, setidaknya dia benar-benar membuktikan ucapannya..."
"Kau benar, Madara."
"Aku benar-benar tak sabar lagi menunggu Naruto-chan kembali. Akan kutanya bagaimana rasanya mati, hehe..."
'Aah, mulai lagi...'
Hashirama dan Madara hanya bisa melihat mahluk sesat mesum nggak jelas itu dengan keringat sebesar biji jagung hingga di kepala. Namun, di lain sisi mereka juga sebenarnya penasaran bagaimana rasanya mati.
Secara garis besar yang mereka bicarakan sebenarnya adalah Naruto tengah berusaha dikembalikan dari kematian beserta prosesnya. Bertugas sebagai perencana utama sekaligus pemberi perintah apa-apa saja yang dibutuhkan, pria berpakai dominan putih yang menolong Madara tempo hari orangnya.
Walaupun tampangnya seperti orang tak punya semangat hidup dan hanya peduli pada tidur, tidur dan tidur, orang itu Madara dan semua akui sangatlah jenius.
Selain jenius, terkhusus untuk Madara, orang itu memiliki kekuatan misterius yang sama sekali tak bisa dia lihat dengan jelas menggunakan Sharingan ataupun Eien Mangekyo Sharingan.
Dan yang mengejutkan, orang itulah yang memberitahu Madara serta lainnya tentang kematian Naruto. Dia tak mengatakan bagaimana caranya, namun yang pasti orang itu berhasil mengambil tubuh Naruto di malam pembunuhan lalu menjaga selama beberapa hari, yang kembali cukup membuat penasaran bisa mempertahankan tubuh Naruto agar tak melebur menjadi serpihan cahaya seperti mahluk supernatural pada umumnya.
Karena pada dasarnya Naruto adalah manusia setengah iblis.
Barulah lima hari yang lalu pria itu mendatangi Madara setelah tiba dari Eropa, dan keesokan harinya berangkat ke tempat tubuh Naruto berada. Madara ataupun yang lain tak tahu pasti lokasi tepatnya dimana karena mereka hanya mengikuti saja menggunakan tehnik teleport orang tersebut.
Kemudian besok malamnya—atau empat hari yang lalu, mereka diberitahu jika ada cara untuk menghidupkan kembali Naruto, namun memiliki banyak akibat yang tak kecil bahkan untuk satu nyawa saja.
Setelah melalui diskusi cukup panjang dan beberapa dari mereka rela menanggung akibatnya, mereka setuju.
Pencarian pun dimulai tiga hari yang lalu. Terbagi menjadi tiga kelompok, mereka berpencar ke penjuru dunia mencari beberapa hal, dan menetapkan batas waktu paling lambat dua hari dimana itu bertepatan dengan pertemuan aliansi dan pihak Asgard di Underworld.
Tim Madara, yang terdiri dari Hashirama dan Hilda berhasil paling pertama. Mereka berhasil menemukan [Holy Grail] dalam waktu sehari saja.
Tim kedua adalah Tim Arthur berisikan Bikou, Le Fay dan Kuroka. Sayangnya mereka tak berhasil menemukan Sacred Gear yang diinginkan dan terpaksa pulang dengan tangan kosong. Walau begitu, itu sama sekali tak mengganggu karena yang mereka cari adalah cara kedua. Apalagi hal paling dibutuhkan sudah didapatkan Madara sebelumnya.
Tim ketiga dan terakhir adalah Vali seorang. Mencari sihir bernama [Hyōten]. Vali agak kesusahan karena sihir tersebut bahkan tak diketahui oleh Le Fay, jadilah di pertengahan tugas Vali berubah sehingga membuatnya terlambat datang di penyerangan Lilith.
Setelah dua dari tiga hal yang dibutuhkan telah berada ditangan dan tinggal menunggu [Holy Grail] menyelesaikan tugasnya. Karena prosesnya dikatakan bisa memakan waktu tiga sampai empat hari, diputuskanlah penyerangan Lilith yang memang sudah diniatkan Madara dan Vali sebagai ajang Pengembalian [Payback] atas kematian Naruto.
Bertepatan dengan pertemuan aliansi dengan Odin yang mana ada informasi bahwa Loki akan menyabotase, kelompok Madara mengambil kesempatan tersebut untuk menyerang sekalian pengalihan waktu menunggu, karena diakhir Madara dan Hashirama dibutuhkan sebagai proses terakhir sekaligus mencegahan salah satu akibat dari mengembalikan Naruto dari kematian.
Mengingat lima hari tersebut serasa sangat cepat dilewati dengan berbagai macam hal baru ditemui, Hashirama tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya pada mereka telah menentang hal paling tak masuk akal di dunia,
—Prinsip Kehidupan dan takdir seorang Naruto Lucifer yang telah ditentukan!
"... Aku benar-benar tak menyangka dia bisa mengotak-atik beberala formula Fūinjutsu kurang dari tiga puluh menit menciptakan Fūinjutsu ahli Fūinjutsu di desa tak ada yang bisa melakukannya dalam waktu sesingkat itu."
Lepas menyelesaikan ucapannya, Hashirama menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Kepalanya terasa pusing mengingat seberapa rumit Fūinjutsu yang dipasangkan pada tubuh Naruto.
"Hn,... Orang itu, benar-benar mengerikan otak dan kekuatannya..."
Sambil mengatakan itu, Madara memandang jauh ke atas langit, mengingat kejadian kemarin malam setelah kembali dari Underworld—
.
.
.
.
.
—Sehari sebelumnya.
Dalam sebuah rumah sederhana berbahan kayu yang tak terlalu besar, lingkaran sihir emas muncul di tengah-tengah ruangan. Ruangan yang merupakan ruang makan dan dapur tersebut seperti sudah dipersiapkan sebagai lokasi kemunculan dengan kursi dan meja telah digeser ke pinggir.
Keluar dari lingkaran tersebut adalah kelompok penyerang Lilith ditambah pria berpakaian putih.
Hashirama dan Hilda selaku paling khawatir langsung bergegas menuju satu pintu kecil yang berada di dinding arah barat dekat empat deretan kursi kayu.
Melewati pintu adalah lorong yang mengarah ke arah utara dengan tiga pintu di sebelah kiri dan satu di kanan yang berhadapan dengan pintu urutan terakhir di kiri.
Walaupun berlari di lorong tersebut agak berisik karena beralaskan kayu, Hashirama dan Hilda sama sekali tak peduli. Mereka tetap melakukannya sampai ke pintu terakhir di sebelah kiri.
Sebagai pembuka pintu, pandangan Hashirama berubah menjadi menyedihkan ketika melihat seonggok tubuh tak berbaya berbaring di atas tempat tidur kecil, dan disampingnya seorang gadis pirang duduk pada kursi kayu.
Memfokuskan pandangan pada sesuatu yang melayang tepat di atas dada tubuh tak berdaya tersebut, Hashirama melayangkan pertanyaan dengan nada khawatir,
"Bagaimana, Ojou-san? Apakah anda berhasil menemukan jiwa Naruto?"
"Jiwanya sudah aku temukan dan beruntung masih utuh, namun..."
Ucapan menggantung ditambah kata terakhir yang keluar dari mulut gadis tersebut membuat kekhawatiran Hashirama semakin menjadi-jadi. Dia khawatir, setelah semua usaha mereka dalam tiga hari tak akan membuahkan hasil. Pemilik dari tubuh tak berdaya disana benar-benar akan terunggut dan tak bisa mereka ambil kembali.
Di belakang Hashirama, Hilda tak luput melempar tatapan yang sama sambil memanggil nama pemuda di sana,
"Naruto-chan..."
"Namun apa, Ojou-san? Jangan katakan jiwa Naruto tak bisa dikembalikan ke tubuhnya?"
"Bukan tak bisa, tapi cukup sulit. Kemungkinan besar saat ini terjadi tarik menarik antara mahluk atau pemilik alam tempat jiwa bocah itu berada dan Holy Grail."
Menjawab pertanyaan Hashirama, orang yang bertanggung jawab atas pengembalian jiwa Naruto muncul dari pintu lengkap dengan wajah mengantuknya. Menguap terlebih dulu, orang itu melanjutkan,
"Hoaaamzz,... Walaupun secara garis besar kemampuan dari Holy Grail lebih ke berhubungan dan melakukan kontak dengan [Life Princeples], namun jika dikembangkan lebih jauh, itu bisa digunakan untuk menarik jiwa orang telah mati karena jiwa dan kematian masih termasuk dalam prinsip kehidupan. Hanya saja, prosesnya yang tak kuketahui dengan jelas... Bukan, begitu?"
"Tenang saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan jiwanya apapun yang terjadi!—Dan biarkan aku membenarkan. Sebenarnya aku baru menemukan tempat jiwanya berada dan yang sulit sekarang adalah memasuki tempat itu kemudian menariknya keluar... Ini kali pertama milikku ini menemukan tempat jiwa mahluk yang telah mati seperti ini. Dilindungi sesuatu dan sangat kuat...—Tenang saja, apapun yang terjadi. Aku akan membawa kembali jiwanya!"
Hashirama berbalik dari hadapan pria tadi, menghadap ke gadis yang mengeluarkan kata-kata tadi penuh tekad barusan, dan dia akhirnya membungkuk hormat.
"Walau prosesnya belum selesai, aku benar-benar berterima kasih atas semua bantuan anda! Setelah ini, jika anda membutuhkan bantuan kami, jangan pernah ragu untuk meminta!"
Jasa dibalas jasa.
Itulah yang diinginkan Hashirama. Bisa dibilang bantuan dari sang gadis benar-benar sangat besar, dan Hashirama tak akan pikir panjang lagi jika sang gadis suatu saat meminta bantuan padanya. Tak peduli apapun, bahkan jika harus melawan Dewa atau mahluk superior lain, Hashirama tetap akan membantu sang gadis.
—Atas ucapan Hashirama itu, tanpa sepengetahuan siapapun disana, sang gadis pirang mengukir senyum aneh di balik bayangan wajahnya.
Lain Hashirama, lain pula Hilda. Berdiri di samping kanan pemimpinnya beberapa tahun lalu, pandangannya terpaku pada benda melayang dan mengeluarkan cahaya keemasan di atas dada Naruto. Benda itu berbentu seperti cawan dengan banyak ukiran dan berwarna senada cahaya yang dipancarkan.
Itulah yang tadi disebut si pria sebagai Cawan Suci, atau Holy Grail.
Berpindah ke sekujur tubuh Naruto yang saat ini setengah telanjang hanya mengenakan celan pendek selutut hitam saja. Dia melihat bahwa ada yang aneh pada tubuh Naruto, warna kulitnya sangat pucat mendekati warna biru dan sesekali mengeluarkan uap tipis.
Pucat mungkin masih masuk akal untuk tubuh yang telah mati, namun uap yang keluar agaknya cukup mengundang tanda tanya. Karena penasaran, Hilda tak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Ada apa dengan tubuh Naruto-chan? Apakah itu normal untuk tubuh yang tak memiliki jiwa?"
Ketika mendengar suara mendesah malas, Hilda berpaling melihat pria di belakang Hashirama yang kembali memberi penjelasan dengan wajah enggan.
"Seandainya Vali menemukan pengguna [Hyōten Mahou], itu mungkin tak terjadi... Namun, karena tidak, terpaksa dipakai cara lain untuk menjaga tubuh Naruto agar tak menghilang seutuhnya dari dunia... Bahkan dengan keberadaan mahluk di dalam tubuh bocah itu yang Yōuki miliknya hampir mendekati Ouroboros Doragon di tingkat 'tak terbatas' kuragukan bisa mempertahannya jika ini tak dilakukan."
Hilda hanya mengangguk-ngangguk.
Walau agak sulit dipahami, dia mengerti garis besarnya. Naruto adalah manusia setengah iblis, dan kemungkinan tubuhnya hancur menjadi serpihan cahaya ketika mati seperti mahluk supernatural pada umumnya.
"Tunggu dulu—!"
Pucat dan mengeluarkan uap tipis—
Hilda memandangi tubuh Naruto sekali lagi.
"... Hmmn?"
"Jangan bilang kalau—"
"Kalau kau belum tahu, saat ini tubuh bocah itu dibekukan secara keseluruhan tanpa terkecuali. Bahkan mahluk di dalam tubuhnya juga ikut membeku."
"Sudah kuduga itu es!—Oke, aku keluar dari sini!"
Tak peduli jika tubuh setengah telanjang Naruto saat ini yang begitu menggoda, dan sebenarnya sejak tadi ditahan-tahan selain rasa khawatirnya yang sangat besar, Hilda buru-buru keluar ke ruangan sebelah tempat yang lain berkumpul.
Pria gondrong itu melempar pandangan bertanya ke Hashirama dan hanya dibalas gelengan tak tahu.
Sepertinya Hilda benar-benar resmi membenci es setelah melawan Grayfia, yang kemungkinan besarnya dia kalah telak dilihat dari keadaan tubuh bolong-bolongnya beberapa saat lalu.
"Ojou-chan... Anda bisa kami tinggal sendirian kan?"
Sang gadis hanya mengangguk kecil tanpa hilang fokus pada kegiatannya.
"Panggil kami jika kau berhasil menarik jiwa bocah itu, begitupun jika kalah—"
"Aku bisa, tenang saja!"
"Maaf karena harus bekerja keras untuk kami."
Raut wajah Hashirama terlihat bersalah sambil berkata demikian. Ketika merasakan pundaknya ditepuk, dia berpaling ke belakang dan melihat pria disana memberi kode untuk diikuti.
Setelah ditinggal seorang diri disana, sang gadis mengangkat kepala. Dia menghela nafas panjang nan berat. Mata merahnya lalu melirik ke kiri pada dinding yang sama sekali tak ada seseorang disana, walau begitu mulutnya seperti bergerak mengatakkan sesuatu.
—Dan tak berselang beberapa saat, kepalanya bergerak naik turun seakan mengiyakan sesuatu lalu melakukan sesuatu yang tak terduga.
.
.
Pada ruangan tepat di sebelah ruangan Naruto, kelompok Madara ditambah pria gondrong berkumpul. Beberapa dari mereka tengah mengistirahatkan diri. Bikou dan Vali berbaring di pinggir, di dekat mereka ada Arthur yang tertidur sambil memegangi dua pedangnya—Ini keturunan Pendragon sepertinya tak mau pisah dari dua pedangnya.
Lalu, dua perempuan yaitu Le Fay dan Hilda beristirahat di atas ranjang kecil. Agak berjauhan karena tubuh Hilda masih dalam keadaan terluka walau sisa-sisa darahnya sudah dibersihkan tadi.
"Aah, seharusnya mereka kembali saja ke apartemen daripada disini. Bikin penuh ruangan saja."
Keluh Madara yang duduk bersila di tengah-tengah. Bersama dia disana adalah Hashirama dan pria tadi.
Pandangan datar Madara tujukan pada sang pria ketika lingkaran sihir hitam keunguan muncul di sampingnya lalu memasukkan tangan ke sana mengambil sesuatu. Itu adalah beberapa gulungan Fūinjutsu dasar.
"Baiklah, aku sudah memeriksa gudang kalian dan hanya menemukan ini,"
"Kau bisa membaca kanji?"
Hashirama bertanya dan pria itu mengangguk tanpa menjelaskan lebih lanjut karena malas.
Di sela-sela sang pria mengeluarkan satu demi satu gulungan, suara terdengar dari arah ranjang. Menoleh ke sana, Hashirama mendapati Le Fay terbangun dengan mata berbinar tertarik menuju lingkaran sihir disana.
"O-Oji-sama bisa menggunakan sihir ruang dan waktu tipe penyimpanan milik [Dark Elf]? Bu-bukannya sihir itu sudah hilang dua ratus tahun lalu?"
"Nanti saja Le Fay-chan, waktu kita sempit. Kembalilah tidur, kau pasti lelah."
"Aah mouu—Hashirama-sama nggak asik..."
Ngambek sesaat yang ke-Loli-an sangat dengan bibir dimajukan ditambah pipi menggembung, Le Fay terpaksa menahan semua pertanyaan yang ada kepalanya kenapa bisa sihir tersebut masih eksis padahal terakhir kali muncul dipakai oleh penyihir terkenal dari organisasi sihir ternama. Le Fay menghela nafas kecewa dan dengan enggan kembali membaringankan tubuhnya.
Kembali ke tengah ruangan. Kini 10 gulungan sudah tertata rapi di depan ketiganya yang duduk saling berhadapan membentuk segitiga.
"Baiklah... Aku tahu kalian menyimpan beberapa tehnik penyegelan lain di tempat terpisah agar aman. Jadi keluarkan semua yang bersifat mengikat, menahan dan membuat kontrak. Kalau bisa yang bersifat permanen atau setidaknya bisa dilepas dengan sebuah kunci."
Setelah mendengarkan dengan teliti, Hashirama tak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Kalau boleh tahu, untuk apa?"
"Untuk berjaga-jaga."
"... Dari?"
"Haah, kau banyak tanya sekali. Merepotkan."
"Maaf, aku hanya ingin tahu."
Agak sedikit kesal entah pada Hashirama atau lawan bicara sahabatnya, Madara menyela.
"Jelaskan saja. Orang bodoh ini cukup keras kepala kalau penasaran."
Hashirama ingin membantah itu, sudah dikatai bodoh ditambah keras kepala pula. Hanya saja si pria kembali menghela nafas lalu mulai melakukan perintah Madara tadi.
"... Ingat tentang akibat-akibat yang akan muncul jika menentang prinsip kehidupan?—Ini sebagai pencegahan untuk salah satunya yang bisa terjadi... Kutakutkan jika jiwa Naruto berhasil diambil kembali, mahluk di alam tempat kita mengambilnya tak terima. Paling buruknya jika mahluk itu sudah mengikat jiwa Naruto yang bahkan jika berhasil ditarik dari sana, dia bisa menariknya kembali tanpa harus ke dunia ini secara langsung..."
Dari sini, Madara dan Hashirama paham. Itu mirip-mirip dengan Kuchiyose (Summoning) dan Gyaku-Kuchiyose (Reverse Summoning). Kebetulan tehnik itu juga terikat kontrak darah yang berarti bisa digunakan.
"Hn,... Bagaimana dengan Keiyakuu Fūin (Contract Seal). Itu bisa dipakai untuk melepas kontrak pada sesuatu walau kami belum pernah mencobanya selain dari desa kami."
"Intinya, keluarkan semua tehnik penyegelan kalian yang bersifat mengikat, menahan dan membuat kontrak. Sisanya biar aku yang urus..."
Tanpa bertanya lebih lanjut lagi serta dihadiahi tatapan mengerikan dari sahabatnya, Hashirama segera melakukan yang diminta pria itu. Dia membentuk satu segel tangan tunggal dalam rangka mengeluarkan gulungan berukuran lebih besar dari yang berada di hadapannya.
Membuka gulungan tersebut sepanjang sekitar satu meter lebih, ada banyak simbol aneh dan kanji tertulis. Dimulai dari ujung merupakan Ninjutsu lima elemen dasar, diikuti Genjutsu lalu Kenjutsu dan akhirnya kanji Fūinjutsu tertera di samping tulisan Kinjutsu.
Hashirama menempelkan telapak tangan pada bagian Fūinjutsu lalu mengalirkan sedikit chakra. Ledakan asap putih kecil tercipta secara terus-menerus selam beberapa saat. Kini, dihadapannya semua gulungan Fūinjutsu dikeluarkan.
"... Baiklah, yang bersifat mengikat, menahan dan membuat kontrak, tunggu sebentar yaa..."
Dibantu Madara, Hashirama mulai mencari-cari beberapa gulungan, dan setiap yang masuk kriteria dia pisahkan pada tempat terpisah di antara pahanya dan Madara.
Setelah hampir satu menit berlalu, Hashirama dan Madara telah selesai. Dia langsung menyodorkan delapan buah gulungan kepada pria tadi.
Mengambil delapan gulungan tersebut, pria berdiri lalu beranjak menuju pintu keluar. Ketika berada ambang pintu kepalanya menoleh sesaat sambil mengatakan sesuatu,
"Beri aku waktu tiga puluh menit paling lama, dan jangan lupa kumpulkan sampel darah mereka yang ingin menjadi 'kunci' nanti..."
.
.
.
"—Berhasil!"
Bagaikan sebuah alarm, teriakan gadis pirang di ruangan Naruto membangunkan semua orang tanpa terkecuali.
Kecuali Hilda setelah memberikan sampel darahnya, semua orang bergegas menuju ruang pembangkitan.
Masuk secara bergiliran, beberapa wajah masih nampak mengantuk. Menyusul mereka, lengkap dengan wajah habis tidur juga pria gondrong itu memasuki ruangan sebagai orang terakhir.
Selain itu, dia masuk tidak dengan tangan kosong. Dia memegangi sebuah kertas kecil.
"Aku berhasil. Jiwanya sudah lepas, dan dia mengatakan padaku kalau sekarang jiwanya berada di perbatasan hidup dan mati untuk kembali ke tubuhnya berkat bantuan Holy Grail..."
Arthur, Vali, Madara dan si pria sedikit terganggu pada beberapa kata di kalimat tadi. Namun mereka abaikan saja mengingat apa yang ditunggu-tunggu telah membuahkan hasil.
Rasa khawatir mereka seolah menguap entah kemana tergantikan rasa bahagia setalah penantian beberapa hari dan usaha membuahkan hasil sesuai yang diharapkan.
Sekarang mereka tinggal mengurusi saja apa yang terjadi selanjutnya.
"...—Ah, ngomong-ngomong Holy Grail hanya nama lain sebagai bagian dari 3 relik suci. Nama milikku itu [Sepiroth Graal] salah satu dari tiga belas 13 Longinus."
Yang mengetahui soal 13 Longinus hanya cuek sedangkan yang tidak mengangguk-nganguk. Tidak cukup hanya dengan memberitahu Sacred Gear miliknya, sang gadis ikut memperkenalkan diri.
"... Terakhir, kita belum berkenalan sebelumnya. Salam kenal... Namaku Valerie—Valerie Tepes."
"... Hn,..."
"Salam kenal, Valerie Tepes-sama. Anda benar-benar cantik seperti yang saya bayangkan..."
"Akan kami ingat nama an—"
"Haaai, stop sampai disana sesi perkenalannya. Ini belum selesai dan masih ada yang perlu dilakukan..."
Tanpa permisi, pria tak diketahui namanya di ruangan memotong seenak jidat. Bukan seenak jidat karena memang itu tak terlalu penting sekarang. Berjalan menghampiri Hashirama yang berdiri paling depan, dia menyerahkan secarik kertas yang dipegang sambil memberi penjelasan.
"Itu merupakan tehnik penyegelan yang kususun ulang dari beberapa gulungan tadi. Ketika jiwa Naruto kembali ke tubuhnya, segera pasangkan segel. Fungsinya cukup simpel dan sudah kujelaskan tadi."
"... Ini?"
Hashirama dan beberapa orang menatap lekat-lekat secara kertas itu.
"... Namun, tak berarti sudah aman... Kemungkinan terburuk masih bisa terjadi. Mahluk yang berasal dari alam tempat jiwa Naruto ditarik paksa pasti tak akan menerima begitu saja... Jika satu cara tak berhasil, mereka bisa mengambil dengan cara lain seperti... Menuju dunia ini dan membunuh Naruto sekali lagi, secara langsung."
Beberapa orang mengangguk paham, termasuk Valerie Tepes yang agaknya sedikit terkejut orang itu bisa memikirkan semuanya begitu detail.
Selaian daripada itu, Hashirama dan Madara juga dibuat tak bisa berkata-kata setelah membaca kalimat demi kalimat yang tertulis pada kertas tersebut. Semuanya ditulis begitu detail, konstruksi formula segelnya, jumlah chakra yang harus digunakan, bahkan segel tangannya pun ikut dituliskan.
Sungguh, orang macam apa sebenarnya mahluk malas tak punya semangat hidup berwajah mengantuk setiap saat ini?
Kerahasian kemampuan Shinobi ataupun Fūinjutsu mereka yang tak dikenal bertahun-tahun dunia luar bisa direkonstruksi hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.
Jika Ashura dan Indra—cucu Kaguya Otsutsuki, sebagai pencetus penutupan diri dan informasi keturunannya dari dunia luar tahu ini, mereka pasti kembali dari alam kematian entah bagaimana caranya untuk menghajar pria yang sudah mengacak-acak kerahasiaan Fūinjutsu mereka.
"Segel tersebut hanya berfungsi untuk menghalangi kemampuan mahluk yang kemungkinan besarnya adalah Dewa suatu mitologi atau mahluk yang berasal darah ras yang mengalir dalam tubuh Naruto untuk menarik jiwanya dari jauh... Dan mengingat Naruto memiliki darah iblis, percayalah bukan Malaikat Azriel yang kutakutkan."
"Ba—"
Ketika Arthur ingin menanyakan sesuatu, seolah membaca pikiran Pemegang Caliburn, ucapannya langsung disela oleh si pria.
"Naruto tetap masih bisa dibunuh setelahnya. Itu hanya untuk menghalangi kemampuan menarik jiwa seseorang yang sudah terikat kontrak atau semacamnya cukup dengan kedipan mata atau jentikan jari."
"Lalu, sampel darah tadi untuk apa?"
Kembali, Hashirama bertanya kebingungan. Jika Fūinjutsu yang dibuat sudah serumit ini, apa kegunaan dari darah mereka. Untuk yang satu ini, seperti pria yang ditanya memiliki alasan tersendiri dan tak ingin memberitahukannya.
"... Kalian tak usah mengetahuinya, dan percayalah tak ada yang perlu dikhawatirkan soal darah kalian tadi."
"... Hmm..."
"... Huh..."
"... Hn,..."
Hashirama, Vali, Arthur dan Madara seketika melempar pandangan curiga mereka yang hanya dibalas desahan panjang seperti mengeluh pada sesuatu.
Mewakili mereka yang memberi pandangan tadi, Arthur buka suara.
"Bagaimana kami bisa percaya sepenuhnya tentang darah kami tadi tak diapa-apakan."
"Benar, nyaan—Kau muncul secara tiba-tiba waktu itu, memberitahu semua yang terjadi pada kakak Vali lalu menyuruh kami melakukan ini itu."
"Khakhakhakhakhakhakhakha, kami bahkan belum tahu siapa kau sebenarnya, nama saja tidak."
"Aku hanya orang yang kebetulan lewat, dan sedikit tertarik pada bocah itu dan kalian..."
Tak adanya perubahan ekspresi berarti pada setiap wajah yang diarahkan padanya membuat helaan nafas enggan kembali mengalun pelan.
"... Aku punya sesuatu yang belum terselesaikan dengan Naruto tiga tahun lalu, dan itu bukanlah hal buruk. Jadi berhenti mencurigaiku seolah ingin melakukan sesuatu padanya atau kalian—Ah, sepertinya sudah selesai! Cepat pasangkan segel itu agar aku bisa tidur nyenyak."
Keberuntungan nampaknya berpihak pada sang pria karena secara tiba-tiba cawan emas yang sejak tadi melayang di atas dada Naruto berhenti mengeluarkan sinar, lalu terjatuh dari atas ranjang dan menggelinding menuju pemilkknya, Valerie.
Semua langsung menelan kembali pertanyaan-pertanyaan yang masih ingin dilontarkan.
Hashirama selaku pemegang sekaligus yang akan memasang Fūinjutsu tersebut segera berjalan agak cepat ke ranjang. Berdiri pada lantai di samping tubuh Naruto yang sudah kembali jiwanya, Hashirama membaca cepat semua yang tertulis pada kertas.
"Sial! Segel tangannya benar-benar banyak dan rumit..."
Menggerutu dahulu, Hashirama memutuskan untuk meletakkan kertas tersebut di samping tubuh Naruto agar mampu dilihat urutan Handseal ketika dibentuk. Satu per satu segel tangan yang tertulis dia bentuk agak pelan agar tak terjadi kesalahan.
Banyaknya Handseal yang ada sekitar 50 lebih membuat itu agak lama dan orang-orang diruangan menunggu dengan sabar, bahkan ada beberapa yang menahan nafas menunggu yang terjadi selanjutnya.
Sambil terus merangkai, Hashirama tak lupa mengatakan sesuatu.
"—Maaf, Naruto... Ini akan terasa menyakitkan untuk tubuhmu. Jadi tahan dan jangan pukul aku setelah ini yaa..."
Akhirnya semua handseal Hashirama selesai bentuk dan tinggal menyelesaikannya dengan satu tindakan umum ketika memasang Fūinjutsu. Dia meletakkan dua tangan pada dada Naruto dengan posisi kanan dibawah kiri diatasnya.
Berbagai macam simbol dan tulisan aneh muncul di atas dada Naruto, sedikit mirip dengan milik Keiyakuu Fūin namun dengan sedikit tambahan serta ukuran. Bahkan cukup besar sampai dada Naruto tak cukup hingga keluar ke permukaan tempat tidur.
"... Nah, selamat datang kembali ke kehidupan, Naruto..."
.
.
"Ryūketsu Fūjin: Yomi Tensei Keiyakuu Fūin." (Blood-Method Consuming Seal: Dead World Reincarnation Contract Seal)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—Unknow Realm, Elysium (Beberapa menit sebelumnya waktu dunia)
.
.
"... Tck!"
"Kau benar-benar anak nakal pembangkang, Naruto Lucifer. Persis seperti leluhurnu..."
"Heh, jika kakek buyutku saja bisa menentang Tuhan,... Maka aku pun tak akan takut menentang takdir dan prinsip kehidupan seperti yang dibilang Loli sialan disana..."
"Jadi, sekarang kau menerima dan bangga pada darah Lucifer dalam nadimu... Itu berarti kau setidaknya sudah menentukan pilihan yang kuberi di masa lalu sebelum menuju gerbang terjauh tanpa mengingat apapun..."
"Tck, berisik!"
"Kōen no Hōkō." (Brilliant Flame's Roar)
Jingga terang berkilauan.
Raungan berwujud Naruto semburkan pada laki-laki aneh yang melayang tak jauh darinya. Api jingga berintensitas sangat banyak dan namun berakhir sia-sia karena target berhasil menghindarinya cukup mudah.
'Cih, ini benar-benar sulit. Loli Baba itu saja susah, apalagi ditambah mahluk ini... Apa benar ini adalah akhir untukku?—Tidak! Tidak!—'
Naruto geleng-geleng kepala menghilangkan apa yang sempat terbesit di pikirannya. Dia memang sempat ingin mengakhiri hidupnya, namun teringat bahwa masih banyak hal yang harus dia lakukan daripada harus berakhir di tempat sialan ini.
Tempat bernama Elysium yang mulai dia ketahui sedikit tentangnya.
—Beberapa saat yang lalu, ketika terjerat akar pepohonan dan hendak didekati oleh laki-laki yang dilawan sekarang ini, Naruto berhasil lepas dan melanjutkan pertarungan terlama yang pernah dilakukan.
Naruto tak menghitung dan memang tak bisa karena waktu di tempat seperti tak berjalan. Selalu malam dengan dua bulan bersinar di langit.
Informasi juga telah didapatkan mengenai tempat ini. Diam-diam ketika terjerat, Naruto pura-pura tak sadarkan diri sambil mendengarkan percakapan Loli bernama Scheherazade dan pendatang baru bergender laki-laki yang penampilannya agak sedikit mengganggu dari satu sisi, namun di sisi lain juga cukup misterius.
Kalau tak salah ingat, tempat atau padang ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu bahkan jauh sebelum Great War pecah.
Elysium Field atau padang Elysium namanya. Lokasi pertama yang disinggahi sebelum berlabuh ke Fartest Gate tempat jiwa-jiwa mahluk sepertinya yang sudah lebih dulu pergi. Sebuah tempat yang katanya jiwa kosong tanpa ingatan, kekuatan dan kesadaran akan dibersihkan untuk kali kedua dari satu hal terakhir sebelum dipindahkan terakhir kalinya menuju akhir yang sebenarnya dari seluruh kehidupan.
Pembersihan pertama dilakukan disini. Di Elysium. Semuanya, kenangan, kekuatan, impian dan lain-lain yang dibawa dari dunia sebelumnya akan diekstrak dari personafikasi jiwanya sekarang menyisahkan dua hal, dan yang mana salah satunya akan dibersihkan di persinggahan selanjutnya.
—Dan jika tak salah, mahluk-mahluk mirip kupu-kupu di tempat ini adalah perwujudan atau wadah dari semua itu. [Rūkh]namanya Naruto dengar dari Scheherazade tadi.
'Gah, persetan dengan semuanya. Itu bukanlah kehidupan setelah kematian yang kuperkirakan selama ini.'
Memberontak. Naruto akan memberontak hingga akhir. Itulah satu-satunya yang bisa dia pikir untuk dilakukan daripada harus pasrah, mendengar dan menuruti semua ocehan tak masuk akal Scheherazade ataupun pria yang dilawan sekarang.
Lebih dari itu, Naruto juga merasakan sesuatu yang aneh.
"... Kau..."
"... Hmmn?"
Naruto memanggil dan direspon. Menajamkan sensor mode Senjutsu miliknya, dia ingin memastikan kebenaran tentang kekuatan yang dirasakan dari pria berambut hitam campur putih tersebut.
"... Seorang malaikat, namun disaat yang sama bukan malaikat, dan tak bisa juga disebut Malaikat Jatuh."
"Sensormu hebat juga bisa merasakannya, keturunan Lucifer."
"Siapa—Tidak! Mahluk apa kalian sebenarnya?"
Naruto menyipitkan mata ketika pria tersebut tersenyum kecil lalu berpaling sejenak ke Scheherazade yang berada di atas menara batu, duduk di pinggiran sambil menggoyangkan kaki.
Scheherazade nampak mengangguk ketika ditatap. Pria berbalik ke Naruto dan memberikan jawaban.
"Karena sebentar lagi kau akan pergi dan melupakan semuanya. Maka akan kami jawab... Gadis—Ah, bukan. Gadis tua, sangat sangat tua disana adalah seorang Ancient God dari era yang tak tercatat dalam sejarah apapun kecuali di buku ini... The Highest Goddess, Scheherazade..."
Pandangan Naruto langsung terpaku pada buku di tangan kiri pria itu. Dia mengerjit heran pada tulisan di sampul buku tersebut, yang anehnya tak bisa dia baca.
"... Dan aku sendiri yang ditugaskan menjaga rahasia terbesar alam semesta di dalam buku ini... Dulunya seorang Malaikat dan mungkin masih begitu, bagian dari Ten Seraph... Malaikat Pertama yang sayapnya menghitam namun tak kehilangan halo,... Raziel."
Delapan pasang sayap khas Malaikat namun sedikit perbedaan mengepak pada punggung pria itu, disusul halo yang kehilangan cahaya muncul di atas kepala.
Mirip Malaikat, namun disaat yang sama bukan seorang Malaikat. Dan tak bisa juga disebut Malaikat Jatuh.
Dan jumlahnya melebihi milik Michael dan Azazel.
Persis seperti yang Naruto katakan tadi.
"Baiklah cukup, akan kubunuh kalian berdua dan membungkam mulut penuh omong kosong itu..."
"Ya, cukup sampai disini saja..."
Buka lain muncul dari ketiadaan di depan pria itu ketika menadahkan tangan kanan di depan dada. Buku tersebut lalu terbuka sendiri sampai terhenti tepat di tengah-tengah.
Mengetahui dari ucapan pria itu bahwa dia akan mengeluarkan sesuatu, Naruto hendak terbang dengan bantuan dorongan dari api di kaki.
"—Ap-apa?!"
Namun, seketika dia harus dikunci pergerakannya secara naluriah. Banyak lingkaran sihir biru cerah muncul tanpa lonjakan Tangeki yang terasa.
Alasan tubuh Naruto berhenti secara alami karena formasi lingkaran tersebut mengepungnya dari segala arah tanpa celah sedikitpun.
"Sebagai Malaikat yang ditugaskan menjaga banyak rahasia. Tentu saja aku juga mengetahui hampir semua kemampuan di dunia... Dan yang mengepungmu sekarang adalah..."
Ketika Raziel sengaja menggantungkan kalimat, semua lingkaran sihir yang mengepung Naruto mengeluarkan rantai berwarna senada.
Tangan, kaki, leher. Seluruh bagian tubuh Naruto langsung terjerat rantai-rantai tersebut. Selain tubuhnya, kekuatannya, Senjutsu, Yōuki Kurama dalam manifestasi api bahkan stamina juga kena dampak dengan menghilang begitu saja, membuatnya harus melenguh kesakitan.
"—Ugh!"
"... Kemampuan yang digunakan Ayah untuk menjerat bagian dari [Monster Malapetaka] sebelum menyegelnya kembali di ujung alam semesta."
'Si-sialan...'
"Inilah akhir darimu, Naruto Lucifer. Namamu telah terhapus dari daftar yang dipegang Saudaraku. Takdirmu telah mencapai akhirnya, telah terputus sesuai dengan yang telah ditentukan sejak lahir, tidak, bahkan sebelum kau ada... Katakan selamat tinggal pada semuanya..."
Mata Naruto membulat sempurna. Dia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Hanya bisa merutuki nasibnya yang sepertinya akan benar-benar berakhir.
"Hera... Giliranmu. Kau terlalu lembut padanya sampai Elysium harus hancur begini... Dasar!"
Naruto menggerakkan mata menuju tempat Scheherazade, namun belum apa-apa gadis itu sudah berada tepat hadapannya, dan keberadaannya seolah-olah menembus semua rantai disana.
Membuktikan bahwa Scheherazade benar adanya adalah seorang Dewa Kuno dari era yang tak tercatat dalam sejarah apapun.
Seolah ingin menegaskan eksistensinya sebagai Ancient God. Dengan sekali ayunan kecil tingkat emasnya, Scheherazade kembali melakukan sesuatu yang cukup membuat Naruto akan dibuat terkejut tak percaya dalam beberapa saat.
Seluruh dataran Elysium mengeluarkan sinar emas yang begitu terang, bahkan Naruto sampai hari menutup mata. Dan ketika sinarnya mereda dan membuka kelopaknya, Naruto benar-benar dibuat tak percaya.
Elysium kembali seperti sedia kala hanya dalam sekejap. Dataran indah yang dipenuhi bunga serta danau besar. Kupu-kupu atau Rūkh pun kembali bermunculan dari pohon dan formasi batu disana, terbang seirama membentuk garis emas yang begitu indah.
'Yang benar saja? Jangan katakan selama aku melawannya, Kuso-Loli Baba ini menahan diri?'
"Jangan terlalu kaget begitu. Bukannya di duniamu sebelumnya ada kemampuan yang mirip—Menahan diri, kah? Jangan berpikir demikian, kemampuanku memang tipe pertahanan. Selain itu, aku juga ingin melihat sampai mana tekadmu itu bertahan terus memberontak untuk melawan prinsip kehidupan..."
Scheherazade berbicara mengalihkan kesadaran Naruto dari rasa terkejut dan tak percaya. Suaranya begitu indah mengalun di telinga, Naruto mengakui itu.
"... Akan menjadi sebuah kebohongan besar bila tak mengakui tekadmu benar-benar besar dan tak terbendung... Sayangnya, takdir berkata lain."
"Cih!"
Mengabaikan decihan Naruto apapun maksudnya, Scheherazade mendahkan tangan kiri. Naruto melihat kesana namun segera dialihkan ke lain arah ketika garis penglihatannya menangkap satu Rūkh keluar dari formasi dan terbang agak lambat menuju tempat mereka berdua.
Ada sekitar 1-2 menit berlalu sampai akhirnya Rūkh tadi sudah berada di atas tangan Scheherazade. Mengepak sayap dengan tempo lambat agar tetap melayang disana.
Mengidahkan Rūkh tadi, Naruto kini fokus pada kepala tongkat emas Scheherazade bergerak dengan pelan menuju keningnya. Hal itu membuatnya panik,
"O-oi, apa yang kau lakukan?"
Scheherazade tersenyum kecil dan kembali membuka kelopak mata yang selalu dipejamkan.
Untuk Naruto sendiri yang sejak kakinya berpijak pada tanah suci ini melihat iris mata Scheherazade untuk kali pertama, hijau indah bagaikan permata, ditambah senyum kecil tersebut hanya bisa terpana dalam kekaguman.
Rasa muak, marah dan keinginan memberontak yang sejak tadi meluap-luap dalam dari Naruto seolah terangkat, menghilang secara perlahan.
Dia tak tahu kenapa semua itu bisa terjadi hanya dengan melihat mata hijau indah dan senyum Scheherazade di hadapannya.
Dia yakin sebelum senyum itu keluar, rasa muak marah dan ingin memberontak masih berkobar dalam hatinya bahkan setelah dibuat tak berdaya oleh rantai-rantai yang katanya dipakai untuk menahan amukan Monster Malapetaka.
—Namun sekarang, dia merasakan hatinya hanya diisi satu hal,
'Tenang... Kenapa hatiku tiba-tiba bisa setenang ini hanya dengan melihat mata dan senyum itu?'
Ketika Naruto sibuk dengan pikiran dan perasaan sendiri, Raziel menyela diawali dengan sebuah helaan nafas.
"Haaa... Pesonamu sebagai Dewi Tertinggi memang tak bisa ditolak kecuali satu orang, Hera... Seandainya dari awal kau begitu Elysium tak akan hancur seperti tadi..."
"Begitu ya?—Aah, kesampingkan dulu itu. Akan keberitahu satu hal kecil padamu untuk terakhir kalinya, Naruto Lucifer."
"..."
Naruto tak menjawab apa-apa, namun mata biru gelapnya berkata lain. Itu kembali bergerak menuju wajah Scheherazade.
"Prinsip kehidupan dan takdir tak bisa dilawan atau dirubah, terutama takdir. Bahkan dengan semua kekuatan dunia ini adalah milikmu, tak mungkin bisa. Contohnya penduduk desa tempatmu tumbuh. Malam itu, kau bersama gurumu berjuang mati-matian untuk menyelematkan mereka, namun apa? Penduduk dan dua gurumu tetap mati karena memang takdir mereka mati malam itu..."
Mendengar ceramah Scheherazade, Raziel dibelakang sana hanya mengukir senyum masam dan menggumamkan sesuatu,
"Tak bisa dilawan dan dirubah, ya? Aku—"
"Diamlah, Raziel! Aku belum selesai."
"Hae Hae, Dewi..."
"... Nah, Begitupun dirimu yang sekarang, Naruto Lucifer. Bahkan dengan tubuh manifestasi jiwamu yang abadi disini, Senjutsu, Yōuki milik Yōukai bernama Kurama dan tekadmu yang benar-benar tak terbendung... Takdirmu telah berakhir di malam kau mati. Jadi, diam dan jadilah anak baik,..."
Melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda, Scheherazade menggerakkan ujung tongkatnya ke kening Naruto. Tepat sebelum bersentuhan, Scheherazade memberitahukan satu hal lagi,
"—Dimulai dari tongkat ini menyentuh keningmu, semua kenangan semasa hidupmu akan terambil dan pindah menuju tempat asalnya, rumahnya, Rūkh... Disusul kekuatan dan kesadaranmu hingga menyisahkan dua hal lagi yang akan dibersihkan di tempat selanjutnya setelah melewati Fartest Gate... Itu mungkin berbeda dari semua pengetahuan tentang alam setelah kematian yang kau ketahui karena memang kau termasuk...—"
Sayangnya sebelum Naruto mendengar kalimat terakhir Scheherazade, visinya sudah menghitam. Kesadarannya seperti tertelan sesuatu kemudian banyak sekali gambaran yang muncul.
Dimulai dari ingatan beberapa detik yang lalu dan terus berlanjut dengan urutan dibalik seperti ketika Raziel muncul, dirinya berusaha menghancurkan Pohon dan Formasi batu disana dan seterusnya—
Tanpa mengabaikan proses ekstraksi ingatan Naruto, Raziel bergumam pelan.
"Satu lagi api harapan padam. Padahal waktunya semakin mendekat. Huh, aku jadi pesimis masalah ini bisa selesai sesuai harapan kalian."
"Teruslah berharap, Raziel. Teruslah!"
"Ya, aku tahu."
"..."
"..."
Disaat keduanya asik berbicara. Kejadian yang tak terduga dan baru pertama kali terjadi muncul.
"Hera—!"
Raziel tak sempat menyelesaikan kalimat peringatan yang ingin disampaikan. Begitupun Scheherazade yang terkejut dan sudah menyadarinya tanpa harus diperingati.
Sebuah lingkaran sihir emas besar muncul di atas langit Elysium muncul secara tiba-tiba dekat kedua mahluk ini.
Dari lingkaran sihir tersebut keluar puluhan rantai senada. Melesat dengan kecepatan sangat tinggi, menerobos rantai Raziel hingga hancur tak bersisah dan menjerat manifestasi jiwa tanpa kesadaran Naruto.
Selain daripada menjerat. Ada satu rantai yang menembus dada Naruto hingga hampir mengenai Scheherazade.
"—I-ini?"
"Hera... Hentikan rantai itu!"
Tanpa diberitahu lebih lanjut dari itu, Scheherazade segera bertindak.
"Borg." (Barirer)
Semacam pelindung berbentuk bola langsung menyelimuti tubuh Naruto. Kemudian, Scheherazade sedikit mundur dan melirik ke Raziel. Tahu arti lirikan itu, Raziel menciptakan satu buku di hadapan Scheherazade dan terbuka secara otomatis menuju satu halaman.
"Aku tahu ini... Aku memang tipe pertahanan, namun bukan berarti tak bisa menyerang—"
Satu lingkaran sihir muncul lagi. Lebih besar dan berwarna kebiruan. Lalu, dengan satu ayunan tongkat disertai nama sihir yang akan dikeluarkan, Scheherazade melancarkan serangan.
"Extream Magic."
"Bararaq Inqerad-Saiqa." (Lightning Sword of Extinction)
Pedang raksasa yang tercipta dari petir terkonsentrasi menghantam lingkaran sihir pertama beserta rantai-rantai yang keluar.
Serangan singkat tersebut meninggalkan ledakan yang begitu besar di udara sampai asap hitam membumbung tinggi.
Walaupun menggunakan sihir ekstrim dari era yang jauh, Scheherazade maupun Raziel tak mengetahui bahwa lingkaran sihir dan rantai-rantai tersebut dilindungi oleh tekad, harapan dan perasaan kuat beberapa orang yang sudah melampaui pedang tertajam ataupun tameng terkuat untuk melawan prinsip kehidupan dan takdir.
—Terdengar tak masuk akal, namun itulah yang terjadi.
Setelah asap hitam menghilang. Scheherazade dan Raziel membulat mata mereka tak percaya. Sosok Naruto yang terikat rantai dan lingkaran sihir tadi telah menghilang dari Elysium.
Bersamaan dengan itu, Rūkh yang seharusnya menjadi tempat sebagian besar tentang Naruto Lucifer yang tengah mengepak-mengepakkan sayap di atas telapak tangan Scheherazade mulai meredup cahayanya. Tak lama kemudian, Rūkh terjatuh pada telapak tangan Scheherazade, menggeliat seperti ingin mati dan mengalami perubahan drastis.
—Rūkh tersebut berubah warna menjadi hitam pekat layaknya kegelapan tak berujung.
"I-ini..."
"Ya Tuhan!"
Hilang sudah wajah tenang dan sempurna sosok Scheherazade. Kini terpampang jelas ekspresi panik, marah dan ketakutan campur aduk ingin mendominasi satu sama lain.
Tidak salah lagi! Prinsip kehidupan dan takdir Naruto Lucifer telah ditentang. Bukan oleh pemiliknya, melainkan orang lain.
Dalam kurung waktu yang sangat-sangat lama sejak mengawasi Elysium, menjemput yang datang lalu melakukan hal sama dengan Naruto tadi. Baru kali ini terjadi hal seperti ini.
Disamping Scheherazade, Raziel menyipitkan matanya yang tertuju pada lokasi tempat lingkaran sihir tadi berada,
"Itu tadi... [Sepiroth Graal]. Bagaimana bisa kemampuannya bisa mencapai tempat ini?!"
"Lagi, lagi, lagi dan lagi... Dari pihakmu yang selalu ingin menentang prinsip kehidupan dan takdir, Raziel!"
"Aku tahu... Dan aku akan bertanggung jawab. Akan sangat berbahaya jika Naruto Lucifer dibiarkan hidup dan berkeliaran bebas."
"Dan kali ini... Benar-benar berhasil dengan ciptaan yang cacat itu... Seharusnya aku sejak dulu menyadari hal ini akan terjadi saat [Sacred Gear] diciptakan..."
Kuroi Rūkh ditangannya langsung Scheherazade lapisi dengan Borg berukuran kecil. Kuroi Rūkh atau Rūkh hitam seperti yang dia ketahui bisa mendatangkan hal buruk pada sistem kehidupan, maka dari itu dia harus mengisolasinya di tempat aman.
Selain itu, Scheherazade juga mengkhawatirkan satu hal lagi. Sambil memandangi Kuroi Rūkh milik Naruto Lucifer itu, dia begumam pelan.
"Ingatan yang berpindah sangat sedikit, dan mari berharap semua rahasia yang kita beritahukan padanya termasuk di dalamnya."
Mengangguk setuju pada ucapan Scheherazade, Raziel masih dengan terpaku pada tempat hilangnya Naruto Lucifer yang ditarik kembali ke kehidupan menggunakan [Sepiroth Graal] berkata.
"Timingnya benar-benar pas dan mengkhawatirkan... Beri aku waktu mencari cara mengembalikan cicit Lucifer itu kesini apapun caranya! Satu saja sudah mengkhawatirkan, apalagi dua..."
Mata Raziel memancarkan kilatan berbahaya. Dia adalah yang ditugaskan menjaga rahasia terbesar di kehidupan ini, dan salah satu rahasia itu adalah,
"... Setelah mati dan dihidupkan kembali tepat setelah namanya terhapus, sekaligus mengakhiri takdir yang telah ditetapkan untuknya... Dia—Naruto Lucifer, akan salah bila disebut 'Hidup kembali', 'Dikembalikan dari kematian' atau 'Bereinkarnasi'...—"
Apa yang dikatakan Raziel mungkin ada benarnya. Ditarik kembalinya Naruto bukanlah dari tiga kejadian itu.
Beberapa kejadian sudah terjadi jika menyangkut Hidup Kembali dan Bereinkarnasi. Contohnya para Iblis Reinkarnasi menggunakan [Evil Piece], Penggunaan ritual sihir terlarang ataupun keberadaan masa lalu yang bereinkarnasi ke tubuh baru di masa sekarang. Pada dasarnya kejadian-kejadian tersebut sudah menjadi takdir yang mengalaminya.
Namun, untuk kasus Naruto Lucifer berbeda dan telah disebut oleh Raziel alasannya. Dengan kata lain, Raziel meyakini bahwa saat ini tengah terjadi,
.
.
"—Kebangkitan Eksistensi tanpa takdir,... Fate Breaker (Perusak Takdir)!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Author Note:
Oke, done—Akwakwakwakwakwak...
Special Thanks buat seorang Reader yang tak mau disebut nama akunnya sudah mau Nge-Beta.
Yep. Seperti yang terlihat. Gaya penulisannya berubah dari Chapter kemarin. Reader itu yang meminta dan dengan senang hati Nge-Beta Chapter ini.
Jadi, saya dan dia meminta pendapat Reader lain soal penulisannya. Apakah bagus seperti ini atau tidak. Jika tidak, Gaya Penulisannya akan saya rubah ke semula lalu dia yang bantu Nge-Beta tanpa mengubah banyak.
Sekarang pindah ke beberapa poin di Chapter ini.
Pertama... Kakek Gila Bermental Anak-anak dengan sindrom tingkat delapan sudah muncul bersama kegilaannya. Rizevim Livan Lucifer. Sedikit, masa lalu Naruto disinggung olehnya ataupun Euclid. Seperti pembantaian Klan Lucifuge dan lain-lain.
Kedua... Sayang sekali bagi beberapa yang memiliki spekulasi Naruto masih hidup. Kalian salah eaaa. Yang benar adalah Naruto memang sudah mati, dan yang ditunggu Madara dkk sambil menyerang Lilith di Chapter kemarin adalah proses pengembalian jiwa Naruto atau sebuat sajaDihidupkan kembali menggunakan [Sepiroth Graal] milik Valerie Tepes.
Untuk bagaimana caranya orang misterius di Chapter ini mengambil tubuh Naruto di Dimensi Azazel akan dibahas di Chapter depan.
Dan yang mengharapkan Epic Comeback Naruto. Mohon maaf. Itu sepertinya tak terjadi. Dibanding membuat Scene Naruto kembali dari kematian dan langsung menggila di pertarungan, saya lebih memilih secara sembunyi-sembunyi lalu nantinya bisa menjadi kejutan besar bagi mereka yang yakin Naruto sudah mati—Dari bukti di KTT 3 Fraksi lalu. Ya, mudah-mudahan saya bisa membuat Feel kejutan Naruto hidup kembalinya dapat. Namanya juga Newbie, H3h3
Untuk proses pengembali jiwa Naruto menggunakan Sepiroth Graal. Itu murni dari Imajinasi saya sendiri. Karena baik di LN DxD ataupun Wiki hanya menyebut garis besar kemampuan Sepiroth Graal yaitu bisa bersentuhan dan melakukan kontak dengan Prinsip Kehidupan, salah satunya adalah mengembalikan jiwa mahluk yang sudah mati dengan syarat jiwanya masih utuh. Masih utuh disini saya sedikit bingung. Selain dari LN dan Wiki, saya juga nyari di cerita lain yang ada unsur Chara mati lalu dihidupkan kembali. Namun hasilnya nihil. Rata² hanya memakai Evil Piece, dihidupkan kembali oleh Dewa/Dewi berlabel Omnipotence ataupun orang terdekat Chara yang mati pergi ke alam kematian seperti FF Troublemaker dan beberapa lainnya.
Mungkin ada yang janggal disini dan menyadarinya. Ya, Scheherazade. Di awal kemunculan dia mengatakan bahwa mustahil untuk Naruto keluar dari Elysium dan hidup kembali apapun caranya. Oke, saya akan jelaskan disini. Dari sini mari kembali ke Chapter 31 [Daybreak — End of Me Part II] soal ucapan Scheherazade yang berbunyi:
"Itu... adalah keinginan yang tak bisa terwujud,... Aku tak bisa mengembalikanmu, begitupun kau yang tak bisa melakukan apapun untuk kembali."
Dapat sesuatu dari ucapan itu? Kalau tidak, ini penjelasan singkatnya.
Disitu Scheherazade hanya menyebut dua orang. Dirinya sendiri dan Naruto yang tak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan atau kembali. Tapi... Tapi, akan berbeda cerita jika itu orang selain mereka di luar Elysium. Itulah kenapa Scheherazade tak menyebutnya, dan sayangnya itulah yang terjadi. Naruto ditarik keluar/dihidupkan kembali memakai Sepiroth Graal. Oke sampai sini mungkin sudah paham.
Di Chapter ini terdapat gambaran kasar tentang satu Arc yang sudah pasti akan ada. Duahal: Rizevim dan Valerie. Yang baca LN DxD pasti sudah dapat gambaran kasarnya.
Terakhir... Mulai dari Chapter ini sampai seterusnya. Unsur Alternative Universe, Alternitive Timeline dan Alternative Reality akan mulai sangat terasa.
Well Author Note-nya cukup panjang. Sekarang waktunya ngulas Review.
...
Pojok S.B.S
Arifrahman 223: Untuk aliansi kedepannya. Kemungkinan besar mereka akan cari aman dalam perseteruan dengan kelompok Madara dan lebih fokus ke Khaos Brigade... Sayangnya, Naruto emang sudah mati dan di Chapter ini dihidupkan kembali.
Silverbringer1: Who the fak is Decade?!
Shinn Kazumiya: Jadi elu kepengen gitu gua Update lama? Aah, sip. Chapter depan seabad lagi gua updatenya—Akwakwakwakwakwak
NQ-sama: Aah, seharusnya hilangin lebih banyak biar tambah puas—Akwakwakwakwak
Fazakhi indra: Santuy, nikmati dn tanyakan aja klo ada yang bikin penasaran. Bakalan tak jawab seadanya.
Hasihrama — ksatriabima38: Tuh Naruto dah nongol dn bangkit jadi eksistensi berbeda dari sebelumnya. Dapat Epitet gratis tadi Raziel.
Guest: Saskeeee Saskeeeee Saskeeeeeeee
Ryuu703: Hoooo... Gua gak main Dota sih. Mainnya Azur Lane.
Mhhh-kyun: Akwakwakwakwakwak... Sirzechs juga tuh... Sampai mikir beneran mati dia.
Mur4s4me: Bacot, kampret! Daripada ngulas. Mending Update [Abnormal Slash Dog] elu tuh... Dah mulai lumutan.
D'Acr 01: Amin, Amin! Nih Mager emang perlu dicariin anti-virusnya.
Mahesautama25: Tuh, Naruto udah comeback. Tapi gak Epic Comeback yaaa...
Sutoyo: Madara, Hashirama dan lain emang belum Overpower... Toh Warn-nya juga [Gradualy!Overpowered]...
Fakhry: Hmmm, iya sih. Kemaren baca ulang dan emang bener. Keknya itu Error pas di Upload. Soalnya Doc di word gak udah diperiksa juga dan gak sama.
XL: Sini tak sambung... Author Brengsek—Akwawkawakwakwakwak
Guest 02: Yaa... Ini masih awal-awal. Cukup Okita, Beowulf dan lain-lain dulu yang mati. Sisanya nyusul... Santuy, santuy... Asal dinikmati. Toh itu tujuan ini cerita.
Fahrul742: Akwakwakwakwakwak... Maaf klo nanggung. Hashirama ntar ada jatah sendiri Barbarnya. Dia butuh pemicu buat hilangin sifat lembutnya... Aah, Naruto gak langsung Epic Comeback. Klo soal ketemu 3 Fraksi. Gua usahain bakal dapat Feel Epic-nya deh. Nubie soalnya gua, H3h3
Tsukasa30: Yep, 100 buat anda. Anda benar. Chapter depan baru diungkapkan.
Miu: Mereka mau bergerak, tapi Dewi Amaterasu masih melarang untuk saat ini. Beberapa Chapter lagi akan ada petunjuk pergerakan Fraksi Yōukai dan Mitologi Shinto.
Gede Laba1: Nah, sesuatu yang ditunggu Madara dkk ada di atas tuh. Spekulasi 'Naruto belum mati' anda salah. Yang benar 'Naruto sudah mati dan dibangkitkan kembali'... Aah, saya gampang ditebak kok. Diatas aja ada satu Reader Tsukasa30 nebak sesuatu dan benar... Nah, Naeuto udah hidup kembali dan statusnya lebih mengerikan lagi. Dikasih Epitet [Fate Breaker]... Soal ulasan Chapter kemarin. Anggap saja itu candaan. Soalnya Chapter ini udah kejawan soal Naruto... Nope, gua justru demen Review panjang yang ngulas banyak hal. Dan kalau lebih banyak, bakalan pindah ke PM... Untuk yang ini cukup disini saja dulu.
AllenRida: Akwakwakwakwakwak... Santuy, Shin Susenju kartu truff Hashirama. Pas dibutuhkan baru keluarnya.
ShiranuiSuichi — AhmadZ99: Aah, makasih. Padahal gak kepikiran bakalan Epic sih. Soalnya gantung itu.
Rain714: Aaah... Gak nyangka bakalan luar biasa dan bisa dapat Twist Genjutsu-nya... Comeback lah. Ramein lagi. Mumpung saya juga lagi dak dapet... Dapat Penyakit Mager maksudnya...
Azizmhmd728: Untuk saat dihiatuskan dulu. Cukup fokus di cerita ini dulu. Selain itu, entah kenapa rada Mager kembali ke Fandom Reguler Naruto.
Cloudz Knight: Cukup simpel... Character Development, Plot dan mungkin juga Plot Armor... Ambil contoh LN DxD. Vali diawal sangat OP dan Issei Noob. Tapi seiring jalannya cerita, Issei nyalip Vali padahal sama-sama kena Buff dari Ophis... Ya, kurang lebih begitulah.
.
.
Mungkin cuma itu yang perlu dibalas Review-nya. Sisanya saya baca kok dan ini sudah update. Cepat atau lambatnya serta konsisten-nya tergantung situasi RL dan Penyakit Mager yang kadang muncul gak kenal waktu. Untung aja gak muncul sekarang ini, jadi bisa Update lagi gak makan waktu lama.
Oke sekian Pojok SBS-nya. Udah macam One Piece aja, njir
...
Brengzeck-id 014 dan yang ikut serta dalam pembuatan cerita ini, Ngacir!
Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade...
Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut stadium akhir tak tertolong ini.
—BUKAN PEDO, BGSD!
Ciao~
