Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!
Another Warn: Don't like? Bodoh amat! Flame sana!
[Arc IV: Nearest Place From Heaven]
[Second Part]
.
[Chapter 37]
[Resurrection!]
.
-Soft Opening Arc IV Second Part-
Resister by. Asca
[Sword Art Online: Alicization Opening 2]
.
...
Hening.
Gelap.
Dan... Basah.
Itulah sekarang yang terasa saat ini di sebuah tempat asing, yang kemungkinan adalah alam perbatasan hidup dan mati mahluk hidup baik manusia biasa maupun mahluk Supernatural.
Tubuh Naruto terasa basah karena sekarang dia seperti tengah berbaring—mengapung di atas permukaan air yang tenang.
"Dimana ini—Ugh!"
Membuka mata secara perlahan, Naruto meringis pelan ketika hentakan kecil diikuti rasa nyeri terasa di kepala. Setelah mereda, penglihatannya menangkap pemandangan aneh. Pemandangan seperti langit malam namun tanpa awan, bintang dan bulan.
Itu kosong dan hitam. Mengingatkannya pada sesuatu. Mirip seperti mata hitam adiknya, Yuki.
"Apa sebenarnya yang terjadi dan dimana ini?"
Naruto bertanya entah pada siapa dan berpikir akan ada yang menjawab. Siapa lagi kalau bukan rubah yang sudah menemaninya selama ini, Kurama.
Ini bukan tempat biasanya dia dan Kurama mengobrol. Bukan juga salah satu tempat dalam tubuhnya yang mana itu adalah tempat dia bisa mencari tahu ingatan yang tersegel.
"... Kurama...?!"
Memanggil dengan suara keras, tak ada jawaban yang didapatkan.
Naruto mengerjit heran. Tak biasanya Kurama diam saja ketika dia tengah dilanda kebingungan. Bahkan jika sahabatnya tertidur, pasti akan terbangun beberapa saat kemudian dab menjawab.
Namun, ini sudah berlalu hampir semenit Naruto rasa dan masih tak ada tanda-tanda keberadaan rubahnya.
Semakin lama menunggu, Naruto semakin kebingungan. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke alam bawah sadarnya jika memang ini bukan tempat di dalam dirinya.
"...?"
Hal membingungkan kembali terjadi.
"—Ehh? Tidak bisa?"
Kesadarannya tak bisa berpindah ke dalam alam bawah sadarnya. Bahkan dengan konsentrasi yang sangat fokus ditambah usaha keras tak dapat dilakukan. Matanya tetap melihat warna hitam pekat di atas sana, setengah tubuhnya di bagian belakang tetap terasa basah.
Tidak kehabisan cara, Naruto melakukan hal lain. Pikirannya mulai pergi entah kemana mengingat-ingat kejadian sebelum berakhir di tempat entah berantah ini seorang diri.
Dia mendapat sesuatu. Sebuah ingatan yang tak lain tak bukan ingatan di konferensi tiga fraksi. Semuanya masih jelas, mereka datang dan situasi sempat memanas antara Madara dan Sirzechs.
Ingatannya terus berputar sampai ketika pertarungan putus asanya melawan Azazel, Dulio, Okita, Sirzechs dan Serafall saat dikurung balok es.
"Naruto, apakah ini yang kau maksud ingin memutus segala hubungan dengan dunia bawah?—Tapi, tindakanmu malah mencerminkan bahwa kau ingin menjadi lawan kami. Apakah kau ingin kami mengeksekusimu sekarang juga, di tempat ini?"
"Kalau iya, mampukah kalian melakukannya? Lagipula mencoba kabur sangat sulit kecuali merebut kubus itu dari tangan Azazel. Jadi, kutanya sekali lagi, mampukah—tidak, maukah kalian melukannya?"
[Naruto Luficer, kau monster]
[Kau, kematian akan selalu menemanimu! Dirimu, ataukah orang-orang terdekatmu, semuanya akan menginginkan kematianmu ataupun orang terdekatmu, tidak peduli kebaikan macam apa yang pernah kau lakukan...]
[... Entah kau yang ingin dibunuh ...]
[..., orang terdekatmu yang ingin dibunuh ...]
'Nii-san, Ossan...'
'Tidak! Tidak! Tidak!'
[..., atau dirimu yang ingin dibunuh orang terdekatmu!]
Tepat setelah ingatan tentang suara yang seperti gabungan banyak orang itu berakhir. Visi Naruto menghitam secara sempurna dan berakhir di tempat ini beberapa saat lalu.
Dari ingatan terakhir tersebut, Naruto akhirnya paham situasi yang terjadi. Iris biru gelap itu seketika meredup cahayanya, ditambah ekspresi sulit dimengerti mengembang di wajah.
"... Jadi, aku sudah mati di tangan Sirzechs Lucifer, huh? Sesuai keinginanku yang ingin mati dan maaf Kurama. Aku tak bisa mewujudkan keinginan terakhirmu sebelum kita berdua mati." Dia berbicara dengan suara kosong. Menggambarkan perasaannya sekarang yang dia bingung seperti apa.
Sebuah kejutan nampaknya terjadi pada keturunan Lucifer ini. Seperti yang dikatakan Scheherazade, ingatan Naruto telah diekstrak dan itu mencapai pertengahan pertarungan melawan sebagian besar peserta konferensi tiga fraksi tempo hari.
Ingatan Naruto berakhir ketika merenungi sesuatu dalam keadaan tubuh dikekang oleh elemen es Maōu Leviathan.
Dengan kata lain, Naruto hanya teringat ketika putus asa dan ingin mati. Keinginan tersebut terkabul dan sekarang berada di tempat aneh yang Naruto perkirakan adalah perbatasan mati dan hidup.
Namun,
Entah kenapa ada bagian kecil dari hatinya menolak hal ini. Seperti berbisik 'Kita belum boleh mati karena masih memiliki orang-orang yang menunggu kepulangan kita'—
Alhasil, berkat keinginan dan bisikan dari hati kecilnya itu, Naruto mulai kehilangan arah, terombang-ambing diantara dua pilihan.
Apakah mengikuti keinginan pada ingatan tadi, ataukah mengikuti hati kecilnya.
Untuk ukuran laki-laki seperti Naruto yang tumbuh tak seperti anak pada umumnya, penuh dengan latihan dan pertarungan berat yang bisa saja merenggut nyawa, sebagian besar kehidupan hanya diisi penderitaan mental dan fisik, dan banyak lagi akan semakin membuatnya sulit menemukan arah ketika dua pilihan ini muncul... Berakhir atau tidak!
Berpikir dan terus berpikir. Naruto terus berpikir dalam keadaan bimbang. Hanya saja, bahkan setelah beberapa menit terbuang, dia sama sekali tak bisa menentukan pilihan apa yang harus dia ambil.
Selain daripada itu, Naruto juga memikirkan hal lain. Bahkan andaikata sudah menentukan pilihannya, dia sama sekali tak tahu harus melakukan apa di tempat entah berantah aneh nan misterius ini.
Maka dari itu, daripada kebosanan tak bisa berbuat apa-apa sambil menunggu sesuatu entah apa itu yang akan terjadi, Naruto memilih untuk mengingat-ingat perjalanannya semasa hidup yang dia akui cukup menggelitik, yang mana lebih banyak susahnya daripada senang.
Setidaknya dia mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari ingatan selain yang barusan itu. Siapa tahu mendapatkan petunjuk lain agar bisa meyakinkan dirinya pada satu pilihan yang ada.
'Sepertinya hanya itu yang bisa dilakukan... untuk saat ini.'
Walau sudah berlalu sangat lama, Naruto masih bisa mengingat jelas masa-masa dirinya dibawah bimbingan lima shinobi Konoha. Awal mula mereka bertemu, berkenalan sampai akhir membentuk ikatan guru dan murid.
Termasuk juga didalamnya kejadian pertama kali bertemu Kurama dan mengompol karena ketakutan melihat ukuran kolosal rubah itu serta mata merahnya yang begitu menakutkan.
"Sial! Kurama pasti tertawa kalau mengingat itu."
Dia bergumam pelan diiringi tawa ringan namun kosong tanpa perasaan apapun. Sungguh sebuah pertemuan konyol yang membawa mereka sampai ke akhir sebagai partner sehidup semati. Sayangnya saja, dia membuat kecewa sang partner tak bisa mewujudkan keinginan terakhirnya.
Melanjutkan acara menyelami masa lalunya, kini Naruto teringat beberapa kejadian penting ketika berlatih dibawah lima gurunya. Seperti ketika tanpa ambun Tobirama menghujaninya puluhan katana dan banjir lokal dari Suiton (Water Release), atau ketika Madara ingin membunuhnya dalam lautan api dari Katon, dan dengan sadisnya Hashirama menghujani tombak kayu yang bisa saja membuat dia bertemu Shinigami, Grim Reaper atau mahluk yang berkaitan dengan kematian lainnya.
Selain latihan fisik yang begitu menyiksa tubuh, Naruto juga mendapatkan pelajaran lain seperti ketika Izuna dan Hashirama mengajarkan arti hidup dan kekuatan sebenarnya.
"Kasih sayang diatas segalanya, bukan begitu Hina? Sebentar lagi kita akan bertemu, dan aku tak bisa membayangkan dirimu yang sekarang. Kau pasti sangat cantik—"
Aah, Naruto benar-benar penasaran dengan gadis kecil yang dulu begitu mencintainya, bahkan di usia yang masih anak-anak dimana hati dan pikiran masihlah terlalu polos untuk mengerti. Bagaimana sang gadis setiap saat tersenyum di pinggir Traning Ground ketika dia tengah berlatih. Atau setiap kali beristirahat memberinya sekotak bento sederhana buatan sendiri.
Dua hal yang sangat Naruto ingat setelah Madara memberinya banyak pukulan dan ceramah adalah; Ketika dia membolos latihan Madara dan kabur bersama Hina ke sebuah danau kecil di pinggiran desa. Dan satunya adalah ekspresi sedih menahan tangis Hina ketika dia hendak keluar desa Konoha bersama Jiraiya.
"..., haaaa—"
Menghela nafas panjang, Naruto seketika merasakan sakit di bagian dada hanya karena mengingat hal tersebut, dan entah kenapa merasakan penyesalan berat dulu tak menyadari semua tindakan Hina itu berlandaskan rasa sayang dan cinta padanya.
"... Aku benar-benar brengsek. Pukulan Madara waktu itu sepertinya masih kurang."
Lebih brengseknya lagi, dia bahkan melupakan gadis itu ketika mulai mengenal yang namanya cinta. Semuanya terjadi ketika menjadi budak pesuruh sekaligus budak cinta Rias Gremory hanya berlandaskan alasan sederhana telah menyelamatkan hidup dan status setengah manusianya—Kurang lebih.
Saking bucinnya dia dulu, semua bahkan diabaikan dan lupakan selama beberapa tahun. Lima guru yang sudah jadi bagian hidupnya, sosok yang dia anggap adik dan bibi—Kunou dan Yasaka selain gadis bernama Hina tentu saja.
"Rias, huh. Dia pasti benar-benar bahagia sekarang. Orang yang mengingkari janji padanya, melukai Peerage-nya dan membuatnya kehilangan sahabat pertama sebentar lagi bertemu Dewa Kematian atau semacamnya—Aah, apa nanti aku bisa bertemu Karin ya?—Apalagi yang membunuhku itu kakaknya. Sungguh akhir menyedihkan, dibunuh salah satu orang yang pernah dekat denganku."
—Tanpa sadar pikiran Naruto mulai berpihak ke pilihan pertama tadi gara-gara mengingat beberapa hal yang semakin membuatnya ingin menerima kematian.
Memejamkan mata dan menghela nafas panjang, Naruto mencoba tak mengingat semua yang dia perbuat dan hasilkan dari kisah cinta bertepuk sebelah tangannya dulu.
Namun, ada beberapa yang tak bisa dia abaikan begitu saja.
"Tapi, aku juga berhutang terima kasih padanya."
Justru karena usahanya dalam kembali tangan Rias Gremory di Underworld, dia bertemu beberapa orang dan menjalin ikatan walau awalnya agak sedikit menyakitkan.
Contohnya saja, sang adik.
Mungkin pada beberapa orang, dia mengaku menemukan Yuki dalam keadaan hilang ingatan di daerah hutan dekat Kyoto. Namun, sebenarnya kisah awal terbentuknya ikatan saudara tak sedarah antara dia dan Yuki lebih dari itu. Kisah tersebut simpan rapat-rapat bersama dua orang.
Awal pertemuan Naruto dan Yuki, perjalanan yang dilalui dan pada akhirnya membuat sebuah janji untuk menjadi seorang kakak bagi Yuki sekaligus menjadi awal kembali dirinya yang dulu. Itu benar-benar sebuah kisah yang cukup panjang bila ingin mengingatnya kembali.
Sayangnya, sekali lagi dia harus menginkari janji yang dibuat. Melakukan kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada Rias Gremory.
Bukan hanya janjinya kepada Yuki, Naruto bahkan mengingkari banyak janji yang dibuat ke Yasaka, Kunou dan beberapa orang.
"Haha,..."
Mengeluarkan tawa hampa, Naruto kemudian bergumam dengan nada aneh seolah jijik pada dirinya sendiri.
"..., aku benar-benar laki-laki yang brengsek. Menebar banyak janji namun tak menepati satupun. Maa—"
Satu kata terakhir yang ingin diucapkan Naruto ditelan kembali. Matanya tersentak diikuti dada yang tiba-tiba terasa dihantam sesuatu. Hantaman yang datang untuk membuatnya sadar akan sesuatu penting, sangat penting.
Seketika, keinginannya yang sudah mulai berpihak ke pilihan pertama—menerima kematian, menghilang begitu saja bagai ditelan sesuatu di dalam hati dan pikirannya. Kini tinggal pilihan kedua yang tersisah di kepala Naruto untuk diambil.
Jika pilihan pertama tadi dibantu oleh beberapa ingatan menyakitkan terutama ketika detik-detik kematiannya,
Maka pilihan kedua melakukan Epic Comeback bukan hanya karena ingatan yang hanya kebetulan terpotong—diambil Scheherazade, dimana saat itu keputusasaan Naruto telah dihilangkan Kurama.
Berkat mengingat janjinya pada Yuki dan Kunou serta Vali, naluri tak masuk akal Naruto sebagai seorang kakak terbangun.
Berkat ingatan tentang Izuna, Tobirama, Hina dan penduduk desa Konoha yang dibantai oleh Pengikut Golongan Raja Iblis Terdahulu, kebencian dan keinginan yang bertujuan membalas dendam ikut terbangun juga.
Tidak hanya dua hal sedikit bertentangan tersebut yang bekerja sama membangunkan Naruto pada kenyataan. Ada juga beberapa hal yang mulai dia ingat bahwa mati lebih awal sebelum menyelesaikan semuanya adalah sebuah kesalahan semakin menguatkan tekad dan hati Naruto untuk hidup kembali.
Dia mungkin menyesal ingkar janji pada Rias dan tak peduli lagi. Namun, dia tak mau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Janjinya ke Yuki, Kunou, Yasaka, Vali, Irina dan beberapa orang tak boleh diberi ending yang sama. Cukup satu Bad Ending yang terjadi, sisanya harus diberi—Tidak!Dipastikan Happy Ending.
Serta yang tak kalah pentingnya, Dia tak boleh lagi membuat mereka menunggu kepulangannya terlalu lama. Cukup sekali juga dia membuat mereka menunggu sampai bertahun-tahun hanya bertemu dan melepas rindu.
"Sialan ... aku belum ingin mati!—Aku harus kembali apapun yang terjadi bahkan jika itu membuatku menentang takdir. Persetan dengan takdir—"
Ketika Naruto sudah menentukan pilihan. Dari luar, berkat harapan, tekad dan usaha dari orang-orang terdekat Naruto. Bantuan dari [Sepiroth Graal] datang menghampiri. Sebuah suara terdengar, suara dari pria yang seperti berada umur 30 tahunan yang agak kasar dan bergema.
"—Naruto Lucifer!"
"—Aku harus kembali—Eh?!"
Mata Naruto melebar dalam keterkejutan. Suara itu terdengar sangat dekat, bahkan tepat di samping kanannya. Dia lekas bangun dan anehnya permukaan air yang ditempati malah bersifat keras layaknya tanah. Bagian belakang pakaiannya juga tiba-tiba mengering seolah tak pernah terkena cairan, padahal tadi terasa sangat basah sampai membuat punggung diserang rasa dingin berlebih.
Mengabaikan hal tersebut, Naruto perlahan-lahan bangkit, mulai dari jongkok dan menggunakan tangan kiri sebagai bantuan untuk mengangkat tubuhnya ke posisi membungkuk sampai akhirnya berdiri tegap.
Disitulah, untuk kali kedua mata Naruto melebar. Namun kali ini tak terlalu terkejut dan lebih ke penasaran atas apa yang disaksikan oleh matanya sejauh mata memandang.
Ribuan, tidak! Mungkin jutaan, bahkan lebih banyak dan tak terhitung hal yang mungkin sudah pernah lihat dalam hidupnya berada di tempat tersebut.
Dia atas permukaan air, ribuan kapal berbagai bentuk dan ukuran melaju menuju satu arah yang berlawanan dengan arah Naruto memandang. Mulai dari kapal kecil atau sampan yang hanya dinaiki satu orang, hingga kapal besar dengan belasan orang dan satu orang pada bagian buritan mendayung secara perlahan.
Anehnya, setiap orang di atas kapal tersebut seperti dalam keadaan tak sadar dan hanya memandang kosong ke depan. Bahkan ketika beberapa kapal melewati Naruto tepat di sampingnya, tak ada reaksi berarti. Seperti saja keberadaan Naruto ditempat ini hanyalah sosok tak terlihat.
Sedikit mendongak kemudian, hal lainnya Naruto temukan. Di atas langit hitam tempat tersebut, masih dengan jumlah yang tak dapat dihitung, mahluk-mahluk menyerupai roh yang sering Naruto lihat di televisi ataupun bayangkan terbang di atas sana. Hal itupun mengundang tanda tanya besar di kepala perak gelapnya.
"Padahal tadi langitnya kosong... Jika memang ini alam kematian, setidaknya ini sesuai dengan yang kubayangkan selama ini."
Gara-gara pemandangan yang tersaji, Naruto jadi lupa dengan pria yang memanggilnya tadi.
Naruto kemudian menunduk, firasatnya mengatakan ada sesuatu di bawah permukaan air yang dia pijak.
Walaupun kapal yang tak terhitung jumlahnya bergerak menuju satu tujuan, tak ada riak air yang tercipta. Justru pijakan kedua kaki Naruto yang menciptakan riak.
—Yang mana itu bisa diartikan bahwa permukaan air tersebut adalah takdir setiap mahluk hidup yang akan menuntun mereka semua ke akhir sesungguhnya dari kehidupan. Sedangkan Naruto sebagai [Fate Breaker]—Epitet pemberian Raziel—tak terikat pada takdir sehingga membuat Naruto bebas bergerak disana dan menciptakan riak pada permukaan.
Yang mana bisa artikan bahwa riak tersebut adalah bukti dari kerusakan alur takdir yang telah ditentukan hanya karena keberadaan Naruto.
Setelah melibat lebih jelas ke bawah permukaan, firasat Naruto benar bahwa disana juga ada sesuatu. Tubuh dengan jumlah yang sama, dalam keadaan terlentang dengan kepala mengarah ke arah yang sama dengan tujuan kapal dan kumpulan mahluk mirip roh di atas langit.
Penasaran kemana sebenarnya tujuan dari makhluk-makhluk yang Naruto asumsikan adalah jiwa orang-orang yang telah mati, dia berbalik 180 derajat.
"Aneh ..."
Setelah melihat arah tujuan dari semua jiwa tersebut, hanya kata itu yang terucap dari mulutnya.
Tak ada apa-apa disana, mahluk-mahluk dan perahu tersebut terus melaju ke entah berantah disana hingga tak bisa lagi dilihat.
Sedikit bergeser ke kanan. Mata Naruto melihat sesuatu yang berbeda, lebih tepatnya bentuk jiwa yang berbeda.
"Naga?"
Ya, Naruto melihat jiwa yang mengambil wujud Western Dragon. Selain itu, jiwa naga tersebut terbang ke arah berbeda diikuti beberapa jiwa mahluk lain yang bukan manusia seperti: Yōukai, Harpy, Orc dan mahluk mitos dimata manusia biasa namun nyata pada mahluk-mahluk supernatural.
"Naruto Lucifer ..."
Ketika asik menyaksikan jiwa mahluk-mahluk yang sepertinya memiliki jalur sendiri dari manusia, suara tadi kembali memanggil namanya dari belakang.
Naruto langsung berbalik, namun tak mendapati siapa-siapa disana. Hanya ada kapal berpenumpang jiwa yang lalu lalang.
"... Ikutlah denganku."
Naruto mengerjit bingung.
"Bagaimana caranya jika aku tak bisa melihat wujudmu—Dan siapa kau? Kenapa bisa tahu namaku?"
"... Aku diperintahkan oleh Sepiroth Graal untuk menentunmu kembali..."
"Sepiroth Graal?"
Naruto merasa tak asing dengan nama itu. Sebuah Sacred Gear yang masuk kategori 13 Longinus. Dia lantas tak langsung percaya pada suara tersebut, Naruto hendak bertanya.
"Ba—"
"... Menuntunmu keluar dari tempat ini untuk kembali ke tubuhmu. Cepatlah... ikuti aku..."
Ketika ucapannya disela bahkan sebelum satu kata selesai, Naruto langsung diam. Dia menimang-nimang perkataan sosok tak terlihat itu. Dia memang ingin kembali ke tubuhnya jika memang sekarang ini wujudnya adalah jiwanya yang sudah berpisah.
Naruto awalnya tak percaya mau tak mau harus percaya pada suara tak berwujud. Mau bagaimana lagi, dia tak tahu harus berbuat apa untuk kembali selain dari perintah tadi.
Sekarang, yang menjadi masalah adalah bagaimana cara dia mengikuti suara tersebut. Suaranya selalu terdengar sangat dekat seolah-olah orang yang berbicara berada tepat di hadapannya.
Seolah mengetahui permasalahan yang berkecamuk dalam kepala Naruto, suara tadi kembali berbicara.
"... Lihatlah ke bawah."
"Bawah?" Sambil mengulang dengan nada bertanya, Naruto menunduk seperti yang disuruh.
Mengabaikan jiwa-jiwa di bawah permukaan air, Naruto menemukan sesuatu.
Seperti pijakan dua kakinya yang menciptakan riak kecil pada permukaan, ada riak lain yang saling bertabrakan dengan miliknya. Itu dari arah depan dan bukan dari lalu lalangnya perahu di sekitar.
"Bagus. Kau sudah melihatnya. Sekarang ikuti aku dan abaikan semua yang kau lihat selama perjalanan nanti. Mereka tak membahayakan kita."
Mengiyakan dengan anggukan kepala. Naruto mulai melangkahkan kakinya mengikuti jejak riak pada permukaan air.
Seperti yang dikatakan suara tadi. Selama perjalanan mereka, Naruto tak ingin sedikitpun menyentuh kapal ataupun penumpang di atasnya yang lalu di sekitar.
Jiwa-jiwa yang diantar ke alam lain memang tak membahayakan, namun Naruto merasa bukan mereka yang dimaksud suara tadi untuk diabaikan. Karena memang jiwa-jiwa tersebut juga tak bereaksi pada keberadaannya yang berjalan ke arah berlawanan.
.
.
Tak terasa, Naruto sudah berjalan cukup lama dengan petunjuk arah jejak riak air pada permukaan. Sejauh ini, pemandangan yang tersaji tetap sama. Membuktikan bahwa kematian pasti terjadi di setiap satu detik di dunia. Baik manusia biasa maupun mahluk Supernatural. Itu terlihat dari jiwa-jiwa berbeda yang semakin bangak dan beraneka ragam di atas langit sana.
Merasa bosan terus berjalan tanpa melakukan sesuatu lain, Naruto berinisiatif mengajak suara tadi itu mengobrol sebagai penghilang rasa bosan.
"Nee, Koe-san (Mr. Sound), siapa anda ini? Apakah anda juga jiwa yang sudah mati?"
Mengira tak akan mendapat respon, sebaliknya sang suara memberi jawaban tak jelas.
"Aku hanya mahluk yang tertarik pada Holy Grail sehingga terikat pada benda hingga semuanya berakhir."
"Aah—Ngomong-ngomong... Apa benar jika aku mengikuti anda. Aku akan hidup kembali?"
"Itu adalah pertanyaan yang tak berhak saya jawab."
"...Uh..."
"Kumohon jangan terlalu banyak berinteraksi dengan saya. Itu akan berbahaya bagi jiwa anda dan akan berakhir tertarik Holy Grail sepertiku..."
"... Ah. Ah... Baik."
Walau tak tak terlalu mengerti maksudnya, Naruto hanya menurut karena firasatnya mengatakan itu merupakan hal yang cukup buruk bila terjadi.
Akhirnya, keheningan mencekam kembali mengiringi langkah kaki Naruto. Walaupun terganggu dengan ini karena pada dasarnya dia bukanlah orang pendiam, dia terpaksa harus menahan hingga selesai entah kapan itu.
Sambil melangkahkan kaki dengan irama yang tak berubah. Naruto sesekali menatap sekeliling berharap melihat pemandangan lain.
Berlangsung selama beberapa menit, kembali. Naruto terus berjalan hinga sesuatu yang lain akhirnya tertangkap indra penglihatan Naruto.
Cukup jauh kumpulan kapal, seolah menghindari sesuatu tersebut adalah sosok lain yang sangat berbeda. Tak bergerak dan ukurannya tak main-main.
Naruto bisa menghitungnya. Ada lima jiwa mahluk yang belum pernah dia lihat selama dia hidup.
Berukuran berkali-kali lipat dari Kurama. Memiliki warna berbeda dari kebanyakan jiwa di tempat ini yang kebanyakan adalah biru ataupun putih, kelima mahluk itu berwarna agak gelap dan entah kenapa terlihat mengerikan.
Selain itu, hal yang menjadi pembeda adalah jiwa lima mahluk kolosal tersebut tak bergerak sedikitpun. Diam meringkuk seperti anjing yang tengah tertidur sehingga sulit untuk mencari tahu bentuknya lebih detail.
Sejenak, Naruto kembali menatap ke depan untuk memastikan langkahnya tak salah ataupun menabrak sesuatu. Jejak riak tetap berada di depannya sekitar 4-5 meter.
Kembali melirik ke kiri tempat lima jiwa mahluk tak dikenal tadi, Naruto bergumam pelan.
"Mahluk apa mereka? Dan kenapa mereka tak bergerak? Apa mereka juga menolak kematiannya sepertiku?"
Tak sadar terlalu asik melirik karena tertelan rasa penasaran, Naruto tak melihat ke depan sehingga tak tahu bahwa riak yang sejak tadi diikuti telah berhenti.
"Sudah sampai ... Selamat datang kembali di kehidupan, Naruto Lucifer ..."
"Eh, tunggu aku belum ber—"
Belum sempat menyelesaikan kalimat, tubuh Naruto langsung tenggalam dalam air meninggalkan jejak riak pada permukaan yang cukup besar dan sedikit mengganggu beberapa kapal di sekitar.
Di bawah air, Naruto merasakan tubuhnya berputar, atau lebih tepat dunia yang berputar. Anehnya, walau berada dalam air, dia sama sekali tak kehabisan oksigen atau memang tempat ini tak memiliki oksigen.
Setelah perputaran dunia yang terasa berhenti, Naruto merasakan tubuhnya tertarik sangat kuat sampai harus menutup mata.
Sensasi tarikan tersebut berakhir dan Naruto membuka mata. Dia sudah berada di tempat berbeda.
Sebuah tempat yang hanya diterangi cahaya jingga redup dari atas. Sedangkan dibawahnya adalah kegelapan tak berujung. Sedikit menunduk, Naruto melihat tempatnya berpijak adalah lantai usang yang hanya selebar 4x4 meter.
Naruto mengenali tempat ini.
"... Ini ... Tidak salah lagi!"
Berucap setengah berteriak. Naruto tak bisa menahan diri untuk larut dalam sukacita. Lantai yang dia pijak, tangga panjang di depannya, dan benda di atas sana... Adalah alam bawah sadarnya. Dengan kata lain,
" ... Aku kembali!"
Ada sedikit nada tak percaya pada ucapannya barusan. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar hidup kembali. Keinginannya terkabul, dalam hati dia berterima kasih pada pemilik suara yang menentunnya, dan juga pada pemilik [Sepiroth Graal] yang sejatinya paling membantu dalam kasus dirinya hidup kembali.
Sekarang, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.
Siapa yang berusaha menghidupkannya? Yang mewujudkan keinginannya untuk menolak mati. Dia memang tahu [Sepiroth Graal] yang berperan besar, namun siapa yang meminta pemilik [Longinus] itu untuk melakukannya. Cukup sulit dipercaya bahwa pemilik Longinus tersebut tahu menahu tentang kematiannya.
Dia sempat berpikir itu semua adalah Madara dan yang lain. Namun, mengingat bahwa Madara saat ini membencinya karena status keturunan Lucifer mementalkan pikiran tersebut.
Lalu, jika bukan Madara. Siapa?
'Apa Kurama?—Tunggu, aku harus kembali ke dunia nyata...'
Memejamkan mata, Naruto berusaha mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata sekaligus untuk membuktikan bahwa dia benar-benar telah hidup kembali.
'Eh, tidak bisa?'
Hal yang sama kembali terjadi seperti di tempat sebelumnya. Membuat Naruto sesaat berpikir dia mungkin belum benar-benar hidup kembali walau sekarang ini berada di alam bawah sadarnya.
Atau, kemungkinan lain adalah tubuhnya saat ini sedang terluka dan kesadarannya dipaksa berdiam diri di alam bawah sadar seperti ketika terkena efek samping dari [Senpō: Museigen no Furu Pawa].
Apalagi dia baru saja mati. Jadi sudah pasti tubuhnya pasti mengalami luka yang sangat parah hingga harus meregang nyawa. Terlebih dia tak bisa merasakan keberadaan Kurama yang dia takutkan tak bernasib sepertinya. Mati namun tak hidup kembali oleh [Sepiroth Graal].
Naruto lantas berdoa kepada siapapun dan berharap bahwa Kurama juga ikut hidup kembali sama seperti dirinya.
'Kumohon... Jangan meninggalkanku Kurama. Jika kita mati, aku hidup kembali,... Kau juga harus ikut hidup!'
Setelah melantunkan doa entah untuk siapa, Naruto membuka mata dan mendongak. Bila memang alasan dia tak bisa kembali ke dunia nyata untuk sementara waktu karena tubuhnya sedang terluka, maka yang bisa dilakukan hanya satu sekalian menunggu kepastian Kurama apakah ikut hidup kembali atau tidak.
Iris biru gelapnya kini terpaku pada sesuatu melayang di atas sana yang dihubungkan oleh tangga di hadapannya.
Sesuatu tersebut sangatlah besar, berbentuk bola dengan diameter kemungkinan mencapai 1 kilometer atau bisa lebih. Bagian luarnya seperti tak beraturan jika diperhatikan lebih detail, dan ada beberapa bagian kosong yang memperlihatkan bagian dalamnya.
"Labirin langit, huh..."
Labirin langit atau Sky Labyrinth. Tempat ingatan Naruto tersimpan. Dipisah, ditempatkan di banyak tempat dengan urutan teracak. Sebuah metode penyegelan yang menurut Naruto benar-benar menyebalkan. Apakah orang yang menyegelnya sebegitu tidak ingin dia mengingat masa lalu sampai menciptakan semua ini.
Walaupun menyebalkan dan menyita waktu hanya untuk menelusuri semua tempat di labirin langit tersebut, setidaknya itu satu-satunya cara untuk mengambil ingatan masa lalunya.
Sambil mengambil satu langkah pertama menuju tangga, Naruto bergumam pelan.
"Ah, shit! Here we go again!"
—Real World, Unknown Location.
Sekitar 10 menit setelah kelompok Madara meninggalkan pondok tempat Naruto dibangkitkan. Sedangkan Valerie Tepes sementara ini tengah beristirahat di rungan lain dan besok pagi baru dikembalikan ke Rumania agar tak memunculkan kecurigaan Pihak Tepes.
Pria yang bertugas sebagai poros rencana kebangkitan Naruto berjalan dengan ekspresi malas menuju ranjang tempat pemuda itu terbaring.
Menarik kursi kayu yang dipakai Valerie Tepes, sang pria memposisikan diri dekat dengan kepala Naruto. Diawali desahan dengan wajah enggan, dia mengetuk-ngetuk kening Naruto layaknya itu sebuah pintu.
"Halo, halo! Siapapun namamu, mahluk yang mendiami tubuh Naruto, kau bisa mendengarku?"
"Grrrrrr ..."
Panggilan pria ini direspon. Suara berat menggeram rendah dari mulut Naruto. Tak lama kemudian, matanya terbuka dan menampakkan iris merah dengan garis vertikal yang melirik tajam ke arahnya.
"Bagaimana Yōuki milikmu? Jika belum pulih, sebaiknya pulihkan dulu. Kita bicara nanti saja. Aku hanya ingin mengecek kondisi tubuh ini setelah dibekukan es yang katanya abadi."
"Belum sepenuhnya. Memang apa yang kau bicarakan?"
"Kau sinis sekali—"
"Kurama."
"—Aah, Kurama. Cuma hal yang tak terlalu penting."
" ... Hn?"
"Sampai kapan kau menyembunyikannya?"
Akibat dari efek pembekuan tadi, ditambah belum pulihnya tubuh Naruto setelah jiwanya dikembalikan membuat Kurama cukup sulit menggerakkan otot wajah pemuda itu untuk membentuk ekspresi kebingungan.
—Mungkin ini alasan Naruto tak bisa membawa kesadarannya ke dunia nyata karena Kurama tengah mengambil alih setelah ikut membeku selama proses penarikan jiwa memakai [Sepiroth Graal].
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura bingung seperti anjing liar mencari pasangan. Aku tahu kau sudah tahu maksud pertanyaan tadi."
"Huh, sialan! Kau dan otakmu yang mengerikan."
"Kuanggap itu pujian. Jadi, bisa jelaskan kenapa?"
Kembali mendengus, Kurama mulai berpikir harus memulai dari mana. Walaupun yang dia lawan bicara adalah sosok berotak cerdas, mungkin orang itu akan sulit mengerti.
Kurama tahu jelas apa yang ingin diketahui pria itu. Apa lagi jika bukan kenapa dirinya tak ikut mati ketika Naruto mati, padahal mereka adalah satu tubuh dengan dua jiwa berbeda. Otomatis, jika jiwa si pemilik tubuh menyebrang ke alam lain, Kurama juga harusnya sudah menyusul.
Namun nyatanya tidak.
Justru berkat Kurama pula selama beberapa hari tubuh Naruto tak melebur dalam serpihan cahaya layaknya mahluk supernatural pada umumnya.
"Huh. Ah. Harus kumulai dari mana—Apakah tahu tentang Sacred Gear?"
Lawan bicara Kurama mengangguk kecil.
"Tentu saja. Benda istimewa yang cacat itu, kan?"
"Begitulah. Sama halnya Sacred Gear, bocah ini juga begitu namun dengan pemahaman terbalik. Mahluk cacat yang istimewa ... Berbeda dari adiknya yang terlahir bisa kukatakan sempurna. Mewarisi Yōuki besar Lucifer dan mendapatkan Longinus berkat darah manusia yang dimiliki. Naruto disini bisa kukatakan lahir dalam keadaan cacat sebagai iblis, Yōuki yang sangat kecil, fisik lemah dan tak mewarisi apapun dari darah iblis. Namun, disaat yang sama dia memiliki keistimewaan tersendiri sehingga kakeknya—Rizevim lebih memilihnya dari Vali yang jelas-jelas jauh di atas Naruto dalam apapun kecuali satu..."
"... Hm."
Pria gondrong itu mengangguk-angguk disertai gumaman aneh. Dari penjelasan Kurama, dia mulai memahami beberapa hal dari Naruto.
Jika dari sisi iblis Naruto dikatakan cacat, Yōuki sangatlah lemah begitupun fisik dan lain sebagainya. Maka keistimewaan yang dimaksud Kurama berasal dari sisi manusia Naruto. Tapi, apa itu?
"... Apa yang membuatnya istimewa?"
"Aku juga tak tahu jelas apa itu. Namun satu yang terpenting, keistimewaan Naruto lah yang membuatnya diincar Rizevim—Kakeknya setelah terbangun. Orang yang menyegelku dalam tubuh Naruto yang mengatakannya sendiri."
"... Heeee."
Suara aneh kembali dikeluarkan mulut si pria. Sebenarnya ini melenceng dari apa yang dia ingin ketahui, namun sisi baiknya adalah mendapatkan informasi lebih banyak prihal bocah yang sudah membuatnya tertarik sejak tiga tahun lalu.
Tertarik karena selama dia hidup, hanya Naruto seorang yang mampu memaksa dia menggunakan kemampuan miliknya yang telah disumpahkan tak akan dipakai lagi. Baginya sendiri, itu merupakan sebuah pencapaian luar biasa untuk mahluk yang dikatakan cacat.
"Aah ... Bagaimana bilangnya ya ... Ini sudah melenceng dari apa yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi mari kita luruskan sekali lagi. Yang ingin kekutahui adal—"
"Aku tahu, aku tahu."
Pandangan aneh langsung dia lempatkan ketika Kurama menyela begitu saja.
"Alasan kenapa aku masih hidup, bahkan bisa menyuplai Yōuki agar tubuhnya tak menghilang, bukan?—Itu masih berhubungan dengan tubuh cacat yang istimewa Naruto. Semuanya terjadi ketika orang itu menyegelku dan ingatan bocah ini. Aku tak tahu apakah ini sudah dia rencanakan ataukah ada kesalahan pada segelnya. Penyegelan belasan tahun lalu, bisa dibilang membuat tubuh bocah ini dibuat hampir mendekati Sacred Gear, lebih tepatnya [Divine Dividing] dan [Boosted Gear]."
Mata si pria melebar sesaat menyadari sesuatu.
"Dengan kata lain... Bahkan jika bocah ini mati, kau tetap berada dalam tubuhnya, bukan? Seperti dua Longinus itu, jika pemiliknya mati, tak membuat dua naga di dalamnya ikut mati. Mereka tetap di dalam keduanya menunggu pemilik baru muncul."
"Tepat."
'... benar-benar mengejutkan...'
Kalau memang seperti itu. Maka dari awal—lebih tepatnya ketika Kurama, Demonic Power dan ingatannya disegel, Naruto sudah dibuat susah untuk dihilangkan dari dunia ini entah direncanakan atau sebuah kesalahan.
Bahkan jika jiwa Naruto sudah berpindah alam, mati. Masih ada satu jiwa di dalam tubuhnya dan itu milik Kurama. Sama halnya dua Longinus Mid-Tier tadi yang mana ketika tempat mereka bersemayam mati, dua benda itu—lebih tepatnya dua jiwa Naga di dalan dua benda tersebut akan pergi entah kemana menunggu inang baru yang muncul mewarisi dua Sacred Gear tempat mereka disegel.
Jika sudah begini berarti segel dalam tubuh Naruto merupakan sebuah mahakarya yang hampir menyanai Sacred Gear hingga membuat sang pria ingin sekali bertemu dan berbicara dengan siapapun penciptanya.
"Gojūmahōjin Fūinshiki: Hyakkasō Fuin." (Five Layered Magic Circle Sealing Art: Hundred Flower Funeral Seal)
"... Hmm, permisi?"
"Nama segel yang dipakai."
"Gojūmahōjin Fūinshiki: Hyakkasō Fuin, kah? Belum pernah kudengar sebelumnya. Dari namanya segel tersebut sepertinya memiliki lima tehnik penyegelan berbeda yang digabung menjadi satu."
Akibat dari tak bisanya bergerak tubuh Naruto membuat Kurama harus berbicara untuk membenarkan, sekalian menambah penjelasan soal segel dalam tubuh Naruto. Barangkali orang dengan otak diatas rata-rata lawan bicaranya ini bisa membantu.
"Benar. Ada lima tehnik berbeda namun hanya empat yang kuberi tahu pada Naruto. Lapisan pertama—"
"Haeeee, berhenti disana! Aku tahu kau punya maksud terselubung menjelaskan secara rinci segelnya. Tapi, maaf saja. Jam tidurku lebih berharga dibanding mengurusi hal merepotkan macam itu. Mengembalikannya dari kematian saja sudah menyita ribuan menit waktu tidurku."
'Bajingan!'
Kurama hanya bisa mengumpat dalam batin niatnya terbaca.
Pria itu mengangkat bokong malasnya dengan ekspresi enggan. Berjalan menjauhi ranjang tempat Naruto terbaring dengan mata merah melirik tajam ke arahnya.
Tanpa menoleh sedikitpun, dia bergumam.
"Sebenarnya masih ada yang ingin kupastikan darimu langsung. Tapi karena sekarang sudah malam dan jam tidurku yang hilang bertambah lagi. Lain kali saja kita membahasnya."
Kurama masih setia melirik tubuh pria itu yang sudah hampir mencapai pintu keluar. Dia memang sempat jengkel niatnya terbaca, namun itu perlahan-lahan mulai menghilang.
Dia juga agak penasaran. Kalau bukan hanya soal segel Naruto. Apa sebenarnya yang ingin dipastikan? Kurama agaknya harus mencurigai pria ini bukan dari niat jahat, namun suatu hal lain yang entah kenapa membuatnya sedikit khawatir.
Walau begitu.
Setelah semua kecurigaan dan rasa khawatir, orang itulah yang membuat Naruto bisa hidup kembali dibantu oleh Madara dan lainnya. Sebuah tindakan yang mungkin Kurama maupun Naruto akan sulit membalasnya.
"—Ngomong-ngomong. Terima kasih atas semua usaha tak relamu untuk menghidupkan Naruto kembali."
Di depan pintu, sang pria berhenti. Dia tersenyum kecil tanpa menoleh. Dia bukannya tak rela. Justru sangat niat, bahkan dia sampai repot-repot mengorbankan ribuan menit waktu tidur dimulai dari mengambil tubuh Naruto, dijaga bersama Kurama agar tak melebur jadi serpihan cahaya, dan memikirkan cara mengembalikan jiwa Naruto.
"Tak usah dipikirkan. Sana kembali ke kandangmu—"
"... Starrk!"
TBC
[TrouBlesome Cut!]
Author Note:
Oke, done—Akwakwakwakwakwak...
Setelah Part Payback selesai, kini memasuki Part II Arc IV berjudul [Resurrection]. Kemungkina Bagian kedua ini akan lebih santai dari Bagian sebelumnya. Hanya akan fokus pada Naruto setelah kematiannya. Walau ada beberapa pertarungan yang singkat demi kepentingan Plot.
Oh, iya. Dua karakter baru muncul dan lupa dibahas sebelumnya.
Pertama: Starrk. Dia dari Bleach, Coyote Starrk. Primiera Espada pasukan Aizen.
100 buat tsukasa30 yang kemarin bisa nebak Starrk.
Kenapa Starrk? Bukan Shikamaru? Padahal mereka sama-sama malas, tukang tidur dan jenius? Jawabannya saya lebih deman Villain. Seperti Madara, Starrk dan beberapa lagi. Selain itu, mungkin Stark Fullbaster yang bantu bikin Plotnya juga ikut andil kenapa lebih milih Starrk daripada Shikamaru.
Daripada mengambil karakter yang sudah sering nongol di Fandom ini sebagai Side Character, ya mending ambil yang beda dan tak terlalu terkenal biar gampang di modifikasi.
Kedua: Raziel. Sepertinya tak perlu banyak dibahas ini malaikat satu. Kalau mau lengkapnya silahkan buka di Wiki. Walaupun di cerita ini akan berbeda sih. Toh settingnya AU, AR dan AT. Di Wiki DxD dia juga cuma disebut sebagai bagian dari Ten Seraph tanpa informasi lebih detail. Jadi, ya,... Bisa dimodifikasi perannya tanpa harus menyimpan dari Wiki tentang Malaikat Raziel ini.
Oke. Sekian dulu Chapte 37 beserta AN-nya.
