"Lelahnyaaaa!!" Pekik Yashiro sembari merengangkan tubuhnya. Gadis itu memutar-mutar kepalanya untuk menenangkan otot lehernya yang terasa menegang.
Yashiro menutup buku fisikanya dan membuka gorden di depannya. Gadis berambut sebokong itu menatap langit malam sembari menghembuskan napas beratnya di depan kaca, terlihat embun bekas tiupannya di sana.
Malam ini dingin. Yah, hal ini sudah biasa, dan Yashiro menyukainya. Dingin dan menenangkan. Kalau dipikir-pikir dirinya itu sudah berkali-kali skot jantung.
Karna supernatural lah, tingkah hanako lah, dan.. tolakan dari doinya tentunya. Yashiro pernah sempat berpikir, 'kenapa aku tidak mati saja?'
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Mungkin hal itu adalah hal tergila yang pernah Yashiro pikirkan. Tapi, mengingat ia sudah tidak punya siapapun lagi kecuali Aoi, Kou, dan mungkin.. Hanako? Ia merasa.. entahlah, kurang cukup?
Orang tuanya meninggal dua tahun yang lalu. Ketika Yashiro diterima di SMA favoritnya, SMA Kamome. Yah, karna alasan bisnis, mereka harus pindah dari kota asal mereka ke kota yang dekat dengan SMA Kamome dan kantor kedua orang tuanya, dan mereka memutuskan tinggal di apartemen untuk sementara, dan berakhir Yashiro tinggal sendiri dengan biaya yang berasal dari tabungan orang tuanya ketika masih hidup.
Yashiro mengangkat tangannya, dan memandang telapak tangannya yang putih.
Hanako kun..
flashback on
"Yashiro," panggil Hanako setelah sekian lama memandang Yashiro yang sedang mengepel lantai.
"Nani?"
Hanako berdiri dari posisinya. "Yashiro apa kau tau.."
Yashiro menghentikan gerakan mengepelnya, dan fokus memperhatikan Hanako.
"Apa kau tahu.. alasan sebenarnya kenapa orang tuamu meninggal?"
Yashiro meremas pel yang sedang dipegangnya. Rasanya seperti ada yang tidak beres. "M-mereka kecelakaan b-bukan?"
Hanako memandang pahit Yashiro. Alangkah kasihannya Yashiro yang tidak tahu menahu tentang itu. Hanako mendekati Yashiro yang sedang menunduk menahan tangis.
Tanpa aba-aba, Hanako memeluknya erat, seakan ini adalah pelukan terakhir untuknya. "Orang tuamu meninggal karna dibunuh oleh hanako generasi sebelumku."
Dan saat itu juga Yashiro membelalakkan matanya. Merasa tidak percaya. Hanako? Hanako ada banyak? Generasi sebelumnya? Kalau begitu dihadapan Yashiro ini Hanako generasi ke berapa? Apakah semua Hanako membunuh para manusia?
Yashiro diselimuti kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang bersamaan. Perasaannya campur aduk. Pikirannya kawut. Yashiro mendorong Hanako kun cukup keras hingga bokong lelaki itu membentur lantai dengan keras.
"H-hanako? A-apa yang kau maksud? Kau bukanlah satu-satunya hanako? Berapa jumlah hanako di dunia ini?" Tanya Yashiro dengan cepat hingga Hanako tak bisa mencernanya.
"Matte Yashi--"
"KENAPA HANAKO MEMBUNUH ORANG TUAKU?!" pekik Yashiro sembari melempar pel yang dipegangnya kearah Hanako kun.
"Yashiro!"
"APA?! KAU MAU MEMBUNUHKU SEKARANG? SILAHKAN! AKU MEMANG SEDARI AWAL BERHARAP TIDAK DILAHIRKAN! AKU INGIN MATI HANAKO KUN! Aku i-ingin.." Tetes demi tetes air mata mengalir di pipi Yashiro. Ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Biarlah seperti ini. Biarlah hanako melihat amarahnya, tangisnya. Ah, ia sudah tidak peduli lagi.
Kedua mata hanako membulat sempurna. Jauh dalam hatinya, ia sangat terluka melihat perempuan yang diperjuangkannya menangis. Ia juga kecewa dengan Hanako generasi sebelumnya. Benar-benar tak bisa dimaafkan.
Hanako bangkit dan memeluk Yashiro dengan sangat erat. Ia tak peduli jika Yashiro meronta-ronta dan memukul mukul badannya. Hanako tau, Yashiro sebenarnya perlu perhatian.
Hanako mengusap pelan rambut panjang Yashiro, membuat Yashiro menjadi rileks dan berhenti meronta. Setelah rasanya Yashiro sudah tenang, Hanako melepaskan pelukannya dan memandang wajah merah bekas tangis Yashiro.
Hanako kun mengaitkan kedua jari jemari mereka seperti pada saat mereka terikat. "Yashiro, maaf aku tak bisa menceritakannya untuk sekarang."
Hanako menelan salivanya kasar. "Tapi mungkin nanti akan kuceritakan, maka dari itu, kumohon tenanglah."
flasback off
.
.
"Hanako kun!"
"Eh? Nani?"
"TOLONGLAH! AKU SUDAH LELAH! BIARKAN AKU PULANG!" rengek Yashiro lebay.
Hanako membentuk silang dengan lengannya. "DAMEEE!!"
Yashiro menghembuskan napas berat dan kembali mengelap kaca. "Kalau begitu mending tadi aku ikut Aoi ke theater saja! Setidaknya itu tidak melelahkan!" Gerutu Yashiro sambil memeras kanebo dengan kasar.
Hanako melayangkan tubuhnya mendekati Yashiro. "Ohh benarkah~?"
BRAKKK!!
"HANAKO!"
'Astaga, kenapa semua orang sedang hobi berteriak hari ini?' Batin hanako.
Kou mendekati Hanako dengan tampang kesal dan meraih kerahnya. "SIALAN KAU! KEMANA ANTING GUE?!"
Hanako memasang tampang bingung dan menggeleng. "Matte.. pemuda kau--"
Kou menggoyang-goyangkan tubuh Hanako ke kanan dan ke kiri. Membuat pemilik tubuh itu pusing dan memotong ucapannya.
"Eehh!! Kou kun! Hentikan!" Pekik Yashiro yang tak tega melihat Hanako yang sudah tepar.
Kou melepaskan cengkramannya dan mendengus.
"Kou kun, antingmu aku simpan di sakuku," ujar Yashiro sembari merogoh sakunya. "Kemarin antingmu terjatuh, aku berniat mengembalikannya tapi ternyata kau sudah pulang."
Kou ber-oh ria dan menerima sodoran Yashiro.
"Ah~ pemuda! Kau selalu saja berpikir buruk tentangku!" Rengut hanako melayang di atas pundak Kou.
"E-eh.. m-maaf," balas Kou tersipu.
"Neee~ Bagaimana kalau kita piknik besok?" Kata Hanako kembali riang.
"Piknik?" Beo Yashiro dan Kou.
"Kalian tak pernah berpiknik? Dasar anak zaman sekarang! Bisanya bermain ponsel saja," Respon lelaki bertopi itu.
"B-bukan seperti itu, aku kaget saja, tiba-tiba kamu mengajak kami berpiknik," tutur Yashiro.
"Ya, kau tahu.. itu bukan hal yang wajar untuk dilakukan oleh supernatural bukan?" Kata Kou.
Hanako tertawa, "Yah, aku berpikir mungkin kalian butuh sedikit hiburan setelah membantuku menangani supernatural nakal, jadi mungkin kita bisa berpiknik di taman!"
"Taman? Hanako, apa kau bisa keluar sekolah?" Tanya Yashiro.
"Tentu saja tidak. Kita akan berpiknik di boundary!" Respon Hanako sembari memasang wajah lucunya.
"Boundary?" Beo Kou dan Yashiro kembali.
"Temui aku besok pagi, pukul 7, di depan tangga misaki, jangan ngaret!"
