Yashiro POV:
"Yosh!"
Aku menghembuskan napas lega setelah berhasil mengikat satu rambutku, mengambil slingbag, keranjang, dan bergegas keluar rumah.
"Senpaii!!"
Ya, itu dia, adik kelasku yang memiliki senyum termanis.
"Matte, Kou!"
Hari ini aku dan Kou akan berjalan bersama menuju sekolah. Kuberi ia alamatku sekisar seminggu yang lalu saat insiden di hari yang sama.
Karna kebetulan tersebut, aku dan Kou mulai nyaman untuk berjalan bersama ke sekolah. Tak kupungkiri, aku dan ia bisa dibilang "nyambung" saat mengobrol.
"Senpai, apa yang kamu bawa di keranjang itu?" Tanya Kou menunjuk keranjang rotanku.
"Ah, aku membawa beberapa makanan ringan untuk kalian nanti! Aku tak pandai memasak tapi kuharap kalian suka," balasku sembari membuka sedikit kain yang menutupi keranjang tersebut.
"Kelihatannya enak, tunggu, apa Hanako bisa memakannya?" Tanya Kou seketika menghentikan langkahnya.
"Ya, dia bisa," kataku sembari tersenyum. "Tapi ia hanya bisa memakan rasa dan aromanya. Tidak bisa secara fisik."
Kou menyernyitkan dahinya. "Darimana kau tahu itu, senpai?"
Aku tertawa kecil. "Dulu, aku pernah memasakkannya bento untuk balasan karna ia sudah menyelamatkanku."
Kou ber-oh ria. "Kalian sungguh dekat, ya."
"B-begitulah, ehehe."
.
.
.
.
.
Aku melihat pergelangan tanganku yang dililit dengan jam tangan karet yang sudah mengarah pukul 7 lebih 5 menit.
"Ah, kita sepertinya telat beberapa menit," ujarku.
"Iya, tapi, dimana Hanako? Ia menyuruh kita ke tangga misaki bukan?"
Aku mengangguk. "Seingatku begitu."
"Apa kita masuk saja ke boundarynya? Anak tangga ke 4 ya?" Kata Kou menatap tangga tersebut.
Aku menggeleng cepat. "Jangan! Kita tunggu saja, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk."
Kou mengangguk. "Kau benar."
15 menit berlalu dan Hanako tak kunjung memunculkan batang hidungnya.
"Astaga, dimana si mesum itu?" Tutur Kou berusaha meredam amarahnya. "Padahal, dia yang menyuruh kita untuk tidak ngaret kan?"
"Mungkin kita--"
"Eh, Oh, ini hakujoudai!" Pekikku saat hakkujoudai menabrak lenganku.
"Ha? Sedang apa kau disini? Dimana Hanako?"
Hakujoudai itu terbang kesana kemari, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, tapi tak satupun dari kami mengerti apa yang berusaha ia ucapkan.
"Ah, maaf, kami tidak mengerti," responku.
Tak lama kemudian, Hanako berjalan pincang kearah kami dengan luka disekujur tubuhnya. Bajunya terlihat kotor, matanya lelah, dan topinya entah kemana.
"Hanako kun!" Pekikku dan segera menyeimbangkan tubuh Hanako yang hampir terjatuh. "Apa yang terjadi?"
Hanako menggeleng kepalanya pelan. "Tak apa, sudah selesai. Aku harap begitu," kata Hanako dengan suara rendah.
Kou menghampiri kami. "Hanako, kau harus segara diobati! Ayo ke rumah sakit!"
Hanako menggeleng lagi. "Diurus Tsuchigomori sudah cukup, lagipula, aku pasti tak bisa dilihat oleh para perawat."
"E-eh, benar juga," kata Kou menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Aku meletakkan lengan kanan Hanako dipundakku, dan Kou meletakkan lengan lainnya dipundaknya. Kami membawa Hanako ke UKS, sebelum Kou memanggil Tsuchigomori di ruangannya.
.
.
.
.
.
"Hanako baik baik saja, ia hanya luka lecet dan kelelahan. Sebaiknya kau beristirahat hari ini, tunda saja acara berpikniknya," tutur Tsuchigomori setelah mengobati semua luka Hanako.
Aku memandang wajah Hanako yang pucat dengan lesu, "Ia terlihat sangat lelah," batinku.
"Hahh, aku hari ini ingin sekali berpiknik!" Rengek Hanako memasang wajah puppy facenya.
Tsuchigomori memandang malas cowok itu. "Hah, terserahmu no 7, jangan salahkan aku jika esok kamu terkena demam, aku malas merawat bocah keras kepala sepertimu."
Hanako mengembangkan senyumnya. "Haha! Tentu!"
.
.
.
.
.
.
"Wahhh!!" Aku membuka mulutku lebar-lebar saat memandang pemandangan taman yang sedang aku pijak.
Rumput-rumput itu terpotong pendek rapih dan terlihat sangat segar, ada sungai dengan air jernih yang sesekali menabrak bebatuan, udara yang sangat sejuk, membuatku ingin tinggal lebih lama disini.
Aku berjongkok, dan memetik sebuah dandelion. "Ah! Ada Dandelion disini!" Ujarku dengan mata berbinar-binar.
Hanako berjalan mendekatiku. "Ya, kurasa, pemilik boundary ini menyukai Dandelion."
"Eh, bagaimana kau tau itu?" Tanya Kou yang mulai mendekati kami.
Hanako memandang pemandangan taman itu dengan wajah yang masih pucat. Rambutnya sesekali tertiup angin, membuat Hanako merasa sangat tenang.
"Yang kalian lihat disini hanyalah kepalsuan," tutur Hanako tak mengalihkan pandangannya.
"Hah? Apa maksudmu?" Tanyaku.
Hanako mengangkat bahunya. "Boundary bukan sebuah tempat yang dibangun oleh para pekerja bangunan manusia, Yashiro. Tempat ini hanyalah cerminan pemiliknya atau tempat yang berkesan untuknya."
Aku mengalihkan pandanganku ke dandelion yang kugenggam, sudah tak ada bintik putih yang menempel disana, mereka sudah terbang terbawa angin.
"Walau begitu, tempat ini pantas untuk dikunjungi orang banyak, ya. Sangat indah," akhirnya aku mengeluarkan suara.
Hanako mengangguk. "Ya, aku juga berpikir yang sama."
Kou meregangkan lengannya. "Hah, oke, ayo kita gelar karpetnya! Aku sangat lapar sekarang."
"Ya!"
.
.
.
.
.
.
"Ne, Hanako kun," panggilku.
"mm?"
"Apa semasa kau masih hidup, kau pernah berpiknik seperti ini?" Tanyaku sembari menuangkan jus jeruk ke gelas plastik yang digenggam Hanako.
Aku dan Hanako duduk berdua dibawah pohon beringin, sembari menghabiskan makanan yang tersisa. Kou bilang ia ingin memancing di sungai, walaupun ikan disana tidak bisa ia makan, tapi ia menyukai kegiatan itu.
Hanako menyeruput jusnya. "Tidak, aku bahkan tak terpikirkan akan pergi berpiknik," ujarnya.
"Lalu, apa yang biasa kamu dan keluargamu lakukan di waktu senggang?"
Hanako menurunkan pandangannya. "Tak ada."
"Eh?" Reflekku.
"Tak ada yang biasa kami lakukan bersama. Ayah sibuk bekerja, sehingga lupa jika ia punya keluarga, ibu.."
Hanako berdeham dan melanjutkan kalimatnya. "Ibu selalu stres karna ia menyadari sikap ayah yang mulai berubah, bahkan terkadang ibu memukuliku dan Tsukasa."
Aku menutup mulutku. "Tidak mungkin.."
"Aku sedikit risih dengan Tsukasa. Kembaranku itu memiliki sifat yang tidak wajar. Makanya aku lebih memilih sendiri dan mengamati bintang dengan teropong milikku sendiri di balkon setiap malam."
Hanako menaruh gelasnya, dan menatapku yang memasang wajah iba. "Ah, Yashiro, itu hanya masa lalu, tak perlu kau pikirkan," kata Hanako mengusap-usap kuncup kepalaku.
Aku menghentikkan usapannya dan menggengam tangannya. "Jadi, selama kau masih hidup, kau tak pernah merasakan kasih sayang?"
Hanako terdiam sejenak, lalu menjawabnya. "Aku rasa kau bisa bilang begitu."
Aku meneteskan air mata yang membuat Hanako sedikit terkejut. Ia berniat memanggilku tapi ia urungkan. Aku menaruh kepalanya di dadaku sembari mengusap rambutnya.
Entah, apa yang aku lakukan, atau harus memasang wajah apa. Hanya saja..
Hanako yang tersadar mulai menangis dan membalas pelukanku. Aku tahu ia sedang lelah, aku tahu sebenarnya sedari tadi sedang meredam amarah dan kekecewaannya. Aku tahu sebenarnya ia tidak ingin menceritakannya,
karna .. itu hanya akan membuat luka lama kembali terbuka.
