Klub koran adalah salah satu klub bergengsi di Imperial Academy. Selain karena anggota-anggota nya yang haus informasi, mereka bisa meneliti hal-hal yang tak dapat diketahui oleh orang lain. Cerdas dan licik, cerdik, meski terkadang cara mereka mencari berita cukup kurang ajar, namun hasilnya setimpal. Dan kini, mereka kehabisan barang penting untuk melakukan itu semua. Tinta.
Sefruit Tinta Klub Koran
Bungou to Alchemist © DMM Games
Warning! OOC berlebih, dll
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dalam fic ini. Hanya semata-mata untuk kesenangan pribadi.
Tokuda Shuusei, untuk kesekian kalinya menghela nafas di depan teman-temannya itu, "Jadi... Kenapa kalian tidak membeli tinta nya?"
Lelaki berambut pirang menoleh dengan cepat, "Shuusei, kau lupa anggaran kita baru habis kemarin?"
"Hah?!"
"Ah, karena printer?" Shimazaki Touson masih fokus dengan tumpukkan buku dan kertas di meja nya, "Kalau tidak salah karena dipakai makan-makan oleh Kunikida juga ya?"
"Lah, kok aku?!"
"Emang salah mu itu, Doppo. Sok-sokan pakai anggaran. Padahal uang kas aja harus di pukul pakai kursi dulu baru mau bayar," Tayama Katai melirik dengan tatapan jengkel.
Kunikida Doppo mengerucutkan bibirnya, "Tapi yang bikin rusak printer kan kamu?"
"Itu kecelakaan. Kecelakaan. Lagipula harusnya salahin ketuanya dong."
"Kok aku?!" Shuusei hampir menggebrak meja. Namun kembali mengurungkan niatnya, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk sabar dan terus bersabar dengan teman-temannya ini. Mereka terdiam sejenak, memikirkan cara efektif mendapatkan tinta tanpa mengeluarkan biaya yang banyak namun cukup untuk dimasukkan ke dalam printer, setidaknya hanya hari ini. Sampai Shuusei mendongakkan wajahnya dan menatap tiga kawan sejoli nya itu.
"Aku baru ingat. Hari ini Kyouka ada praktek masak cumi-cumi... Tinta nya bisa kita ambil kan?"
"Wah, pintar sekali ketua kita ini!"
"Muji pas ada mau nya aja nih anak."
Touson yang berada di ujung mulai mendekati mereka, "Praktek nya kapan?"
"Jam 10... Kalau ga salah."
Kunikida melirik jam di tangannya, "Hee..."
Merasa aneh, Katai melirik jam tangan milik temannya itu, "Oi, Doppo! Kau benar-benar melihat jam nya tidak sih?! Lihat! Ini sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit."
"Hah?!"
Spontan, mereka berlarian dari ruangan klub. Kunikida yang kelewat panik justru menabrak tempat sampah hingga terguling. Dan tentu saja Shuusei dengan penuh kekesalan terpaksa membersihkannya sebelum kembali berlari. Tujuan mereka adalah kelas tata boga. Meski sebenarnya Shuusei cukup berpikir positif mengingat Kyouka yang mendapat jam terakhir dari prakteknya, mungkin menjahili temannya saat ini bukan sesuatu yang buruk? Ya, itu sebelumnya.
Sampai ketika Kunikida mendobrak pintu kelas tata boga sampai semua mata beralih kepadanya, "BERIKAN TINTA KALIAN!" Dia berteriak dengan nada-nada ancaman.
Beberapa orang malah mengikutinya, mengangkat tangan mereka ke atas seakan seorang kriminal. Katai berkeliling bersama pemuda berambut merah muda itu. Shuusei yang berada di ambang pintu hanya bisa menepuk jidatnya pelan, menghela nafas dan menahan semuanya sendiri. Sementara Touson hanya menampakkan wajah bingung di pinggirnya. Hanya untung saja guru di ruangan ini sedang pergi, entah kemana.
"Tinta nya kalian kemanain?" Kunikida mengernyit.
Kyouka menaikkan alisnya, "Kita sudah praktek dari tadi. Tinta nya tentu saja sudah di buang."
Wajah putus asa tertampak pada pemuda kuning itu, "T-Tidak mungkin..."
Kunikida menepuk pundak nya pelan, "Tak apa kawan. Inilah takdir..."
"Kenapa malah nge drama...? Cepetan balik!" Shuusei geram.
"Eh, kalian! Tunggu!" Hori Tatsuo, salah satu murid yang mengikuti kelas tata boga, mendekati mereka dan menyodorkan sesuatu, "Jika berkenan. Ini untuk kalian."
"Ah! Terimakasih banyak..."
"Semoga tinta nya cepet ketemu ya!"
Itu ejekan?
Meski akhirnya mereka tetap kembali ke ruang klub dengan tangan kosong, tak dapat apa yang mereka cari. Namun cukup beruntung karena mendapatkan hadiah kerja keras dari pemuda bertopi tadi. Sembari memakan cumi-cumi itu, Touson menatap langit-langit.
"Ada apa Touson?"
"Ah... Aku kepikiran soal tinta nya."
"Itu sih gampang! Kita beli saja cumi-cumi nya."
"...Hah?" Shuusei menoleh.
"Wih, tumben pintar kau Katai! Kalau begitu ayo keluar. Jika nanti ada Shiga yang jaga makin susah," Tanpa aba-aba, Kunikida menarik kawannya itu.
Mereka menyisakan dua orang yang saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Shuusei mau pun Touson, keduanya memilih mengheningkan suasana di siang menjelang sore yang kelewat cerah ini. Tak tahan dengan hawa, Shuusei membuka jendelanya, menatap keluar dengan pikiran kosong, perlu rileksasi.
"Ah, Shuusei," Panggil Touson.
"Hm?"
"Artikel buat hari ini... Bukannya udah jadi ya?"
"...Hah?" Shuusei menoleh dengan tatapan terkejut.
Touson hanya mengangguk pelan, "Sebenarnya artikel utama hari ini sudah ku pasang disana. Tapi Kunikida dan Katai sepertinya tetap bersikeras ingin membahas tentang klub basket yang menang lomba kemarin lusa."
"Ya ampun mereka..." Pemuda berambut hitam itu memijit pelipisnya. Jika begini lebih baik menunggu esok hari saja, siapa tau anggaran tiba-tiba datang kepada mereka. Kali ini Shuusei lelah. Ia memilih keluar ruangan untuk mencari angin sebentar, meninggalkan Touson sendirian dan pergi entah kemana. Beberapa saat kemudian, Kunikida dan Katai kembali dengan pakaian yang setengah kotor.
"Kalian kenapa?"
"Ah, ini... Tadi kita sempat terjatuh di jalan," Kunikida tertawa keras, "Tadi juga aku menggendong Katai di jalan. Salahku juga sih."
"B-Berisik! Ayo cepat selesaikan saja cumi-cumi ini."
Touson hanya menggeleng pelan sembari tersenyum kecil, "Yang bersih ya, Katai..."
"Iya, iya! Ngomong-ngomong Shuusei kemana?"
"Keluar. Sepertinya dia lelah dengan kalian."
"Kau juga sama saja," Kunikida mengerucutkan bibirnya, "Yah tapi mau bagaimana pun dia memang bisa diandalkan ya... Aku sering ditolong olehnya."
"Tentu saja! Shuusei gitu loh..." Katai berceloteh sembari membasuh cumi-cumi di tangannya. Hingga ia tiba-tiba saja berhenti, "Ano, saa... Awal kita beli cumi-cumi gara-gara apa sih?"
Touson terbangun, "Hm? Gara-gara kelas tata boga?"
"Bukan! Kita kan mau ngambil tinta nya. Kenapa kamu nyuruh aku nyuci cumi-cuminya?!"
Mereka kembali hening, sampai suara pintu membuat mereka tersadar akan lamunan masing-masing. Menampakkan Shuusei di ambang pintu sembari membawa plastik berisi minuman. Melihat gelagat kawan-kawannya, dia mengernyit, "Ada apa?"
"Shuusei... Cumi-cuminya ke cuci..."
"..." Shuusei berbalik dengan wajah datar, "Tau ah. Capek sama kalian."
"AH SHUUSEI. TUNGGU!"
End.
A/N: Wkwkwk apa pula ini...? Yah, awalnya kita, orang-orang dari grup Our Home, iseng-iseng bahas Kunikida ngepet karena warna rambutnya sama kaya boneka babi. Tau-tau nyasar ke cara dapet tinta yang efisien (meski jadinya lebih ribet). Maaf jadinya OOC banget.
