Shingeki no Kyojin a.k.a. Attack on Titan by Hajime Isayama

Story "Menyebalkan" by Zero Lenz (Hanya ingin mengeluarkan -unekunek- ide saja)

Warning: AU! ga baku!gue-lo OOC! typo's! ambigu! gaje or absurd! etc.


Desember. Akhir tahun. Tugas. Jomblo. Jean menghela nafas, pusing melanda. Sungguh, ingin rasanya dia berteriak tapi itu tidak akan membuat tugasnya selesai. Tertunda yang ada.

Eren yang sedang menonton anime Attack on Titan melirik kesamping, melihat karibnya yang frustasi. Ingin membantu tapi ia sedang malas, lebih baik melihat epic scene anime kesukaannya.

"Ren masih jomblo ga?" Sambil menghilangkan kefrustasian, Jean melontarkan pertanyaan yang ga penting-penting amat. Atau penting? Entahlah.

"Ha? Kenapa tiba-tiba nanya begituan sih." Eren merinding seketika, kenapa karibnya menanyakan hal seperti itu. Aduh semoga Eren ga 'ditembak' oleh si Kuda ini.

"Nanya doang," Jean menyengir kuda ke Eren. "Tapi lo masih jomblo kan? Soalnya ada yang pengen gue omongin nih, tentang hubungan kita."

"HUBUNGAN APAAN SIH?!"

Eren berteriak dan langsung melupakan anime yang ia tonton. Menatap Jean yang masih terlihat cengiran kuda. Ini maksudnya hubungan apa ya? Pertemanan? Memangnya ada apa dengan pertemanan kita? Atau jangan-jangan ini hubungan yang lain? Sumpah, Eren semakin merinding.

"UDAHLAH! JAWAB AJA NAPA SIH!"

"IYA GUE MASIH JOMBLO! LAH BUKANNYA LO UDAH TAU!"

"Yaiya sih, tapi gue kan pengen ngemastiin."

Jean merapatkan duduknya kesamping Eren. Eren merinding dan berkeringat dingin. Walaupun mereka sudah berteman dari orok, tetap saja Eren merinding kalau Jean bertingkah seperti itu. Ingin menendang si Jean rasanya.

"Haahh ..." Jean menghela nafas. Menatap lekat-lekat mata zamrud milik Eren.

"Jean, lo kenapa sih?" Eren khawatir dan juga risih dengan tingkah Jean.

"Eren, karena kita sudah berteman dari orok sampai sekarang. Sudah saling berbagi bedak bayi ... err oke pokoknya sudah saling berbagi. Kita satu sekolah dari tk sampai kuliah gini. Dan juga kita sekamar. Please Eren, gue mau makan. Laper banget gila. Masakin apa gitu, ren." Jean memohon dan memelas dengan ekspresi -horse-puppy eyes. Berharap Eren akan mengabulkan permintaan dia.

Eren terdiam. Memasang wajah datar. Tumben. Biasanya Eren akan mengamuk, tapi ini tidak. Kok malah serem ya. Jean jadi takut.

"Brengsek." Ucap Eren dengan nada datar. Jean merasakan aura-aura negatif. Tau gini mending dia ga usah basa-basi ya.

"Eren oke gue minta maaf, biar gue aja yang masak sendiri. Udah dong jangan membuat suasana jadi angker begini." Jean ga mau kalau karibnya ini bakalan mengabaikan ia, mana sanggup. Nanti kalau ada apa-apa hanya Eren yang selalu ada. Ada uang misalnya. Durjana memang.

"Menyebalkan sekali ya. Kenapa ga langsung intinya aja sih? Gue jadinya kepikiran yang enggak-enggak. Lo mau makan apaan?" Oh rupanya Eren masih berbaik hati. Jean jadi terharu.

"RENDANG!" Jean menjawab dengan teriakan, siapa tau beneran diwujudkan.

"GEBLEK! LO NYEBELIN BANGET SIH!" Eren kesal lalu menyikut perut Jean dengan kuat.

"ADAW! OI EREN KAN LO NANYA! YA UDAH OMELET AJA!" Jean meringis dan mengusap perutnya yang menjadi sasaran kekesalan Eren.

Eren berdiri dan beranjak menuju dapur, tapi sebelum itu, "Selesain tugas lo, buruan. Kalau sudah mateng nanti gue panggilin lo."

"Hahaha thanks ren," Jean langsung kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda. Tunggu ... tertunda? "ARGHHH TUGAS MASIH BANYAK YANG BELUM KELAR!!!" Teriakan Jean terdengar sampai luar.

.

.

.

Semantara itu di dapur.

"Berisik banget kuda. Salah sendiri nunda-nunda pekerjaan."

Eren yang sedang membuat omelet untuk Jean dan dirinya sendiri (Eren ikutan lapar) tiba-tiba teringat sesuatu.

"Saus tartar, tugas pak Levi belum gue kerjain!"

.

.

.

Fin. Hehe :D


Hai! salam kenal semua~

Berawal dari kisahku dan temanku ckckckck (ga semua sih) *boom* dan terbitlah ide seperti ini.

Terima kasih sudah membaca fic aku yang absurd ini, hiks :") duh mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan juga tidak memuaskan kalian. Tapi ku harap kalian suka~

Salam hangat,

Zero Lenz