Chanyeol menunggu jawaban dari Sehun , seperti anggukan atau gumaman tetapi pria itu masih sama. Membuat pria itu melanjutkan perkataannya. Chanyeol mendorong sebuah dokumen lengkap ke depan Sehun. Tetapi reaksi yang dia dapatkan masih sama. Chanyeok tidak tau berapa kali sudah ia menghela nafas.
"Ini tentang ibumu." ucapnya final.
Bisa dilihatnya pria yang menunduk itu pelan dan ragu-ragu menaikan kepalanya. Ada sebersit rasa khawatir di mata hazel itu , tetapi tertutupi dengan begitu banyak ketakutan.
.
.
FROZEN HEART chap 3
Sepertinya memang benar ada hal yang lebih buruk dari kematian. Yeah, disaat ia baru mulai ingin melupakan, masa lalu datang mengingatkan. Sehun tidak pernah menyangka hari ini akan terjadi. Bertemu pria itu lagi.
"Sehun. Berat untuk menyampaikan ini, tapi ibumu telah menghilang dari sebulan lalu."
Sehun masih gemetar. Sesuatu yang ada pada pria itu membuatnya sulit untuk berfikir rasional. Oh, apa yang Chanyeol bilang tadi? Ibunya? Sehun sudah lama tidak mendengar kabar dari wanita itu. Biasanya Sehun tidak akan perduli. Hal paling indah di masa mudanya adalah saat-saat Sehun sudah bisa pergi dari rumahnya. Rumah besar yang sangat dingin. Kadang panggilan rumah bahkan terasa tidak cocok untuk tempat itu. Selalu ada jarak diantara dia dan orang tuanya. Tapi ada jarak yang lebih besar lagi antara ayah dan ibunya. Sesuatu yang selalu Sehun anggap normal saat kecil. Tetapi seiring dia tumbuh dia mulai paham. Membandingnkan cerita temannya tentang ayah yang bersahabat, tentang omelan ibu mereka yang sebenarnya perhatian. Obrolan hangat di ruang tamu dan lainnya dan lainnya dan lainnya. Keluarga Sehun tidak punya itu. Menjauh dari mereka membuat Sehun bisa berfikir rasional dan menjadi pribadi yang lebih tenang. Tetapi kehampaan dalam dirinya tidak hilang, setidaknya sampai Seulgi datang. Gadis itu. Satu - satunya orang yang bisa membangkitkan sedikit sisi manusia dari diri Sehun. Disaat seperti ini dia bahkan masih bisa bertanya-tanya akan jadi manusia seperti apa dia jika Seulgi memberinya kesempatan menjadi ayah.
"Terakhir kali terlihat sedang berjalan keluar dari kantornya. Setelah itu orang tidak pernah melihatnya lagi."
Sehun tidak dapat fokus pada Chanyeol. Matanya melirik lelaki itu sekilas. Walau lelaki misterius itu melihat kearah lain saat Chanyeol berbicara intimidasinya tetap terasa begitu kuat. Trauma yang ia buat pada diri Sehun masih ada.
"Apa yang kau mau dariku?"
Chanyeol berdehem sebentar sebelum kembali bicara.
"Dua minggu lalu kode akses ibumu terbuka."
"Koda akses apa?"
"Kau tidak tau?"
Chanyeol menatap Sehun tepat di mata sebelum ia percaya akan ketidaktauan dimata Sehun. Pria jangkung itu diam sejenak sebelum menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Nuklir. Ibumu orang pemerintah. Salah satu orang kepercayaan pak Presiden."
Oh. Sekarang ada satu hal tambahan lagi yang membuktikan seberapa jauh hubungan Sehun dan ibunya. Bicara soal ibunya. Sehun baru ingat untuk bertanya - tanya kemana saja ibunya selama Sehun dipenjara. Terakhir kali jaksa mengetuk palu dia bahkan tidak ada. Ibunya tidak pernah ada sedetikpun disaat - saat tergelap Sehun. Ayahnya juga. Setiap hari dirinya dirinya dipukuli. Setiap hari dirinya merasa tersiksa oleh penyesalan dia selalu sendirian. Mereka tidak pernah perduli lalu kenapa Sehun harus perduli. Sehun marah dengan kenyataan tetapi lebih marah lagi karena tau jauh didalam hatinya tetap ada setitik kekhawatiran.
Setelah itu tidak berjalan begitu lancar. Mereka menanyai Sehun pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa Sehun jawab dengan benar. Sehun tidak tau kemana tempat yang sering ibunya datangi. Sehun tidak tau teman terdekat ibunya. Sehun juga tidak tau hal-hal janggal yang sering dilakukan ibunya karena berada di dekat ibunya saja sudah terasa begitu tidak nyaman.
- o -
Ini pagi. Lampu lorong masih gelap. Napi-napi lain tidur dengan dengkuran keras. Sehun hanya menutup matanya. Dia merasa lebih lelah saat memaksakan diri untuk tidur dari pada tidak tidur sama sekali. Dia menatap atap yang gelap sangat lama. Sebelum Sehun menangkap sebuah suara disampingnya. Dia ingin menoleh tetapi sebuah tangan dengan kain membekap mulut dan hidungnya memaksa Sehun untuk menghirup zat apapun yang telah ditaruh di situ.
- o -
Pengap, gelap, dan terikat itu yang Sehun rasakan. Wajahnya ditutupi kain hitam. Mulutnya diikat juga dengan kain. Tapi Sehun duduk di kursi yang empuk. Sehun tau dia berada di sebuah mobil dari pergerakannya.
"Hey putri tidur sudah bangun."
"Oh, Sehun kau bangun?"
Dia mendengar suara Chanyeol. Sehun tidak menjawab. Tetapi dia tau Chanyeol tidak perlu jawaban melihat dari sikap tubuh Sehun yang tegap.
Sehun hanya diam untuk beberapa saat kemudian karena tidak ada orang yang melepas penutup kepalanya. Tentu ia tau betul bahwa penglihatannya dibatasi kain hitam. Walau begitu dia tetap bisa merasakan aura intimidasi di sampingnya. Sehun menghela nafas perlahan. Hanya satu manusia di dunia yang mempunyai pengaruh begitu kuat padanya. Hanya dia.
Tenang. Tenang. Tenang.
Fikir Sehun pada dirinya sendiri.
Ia berhasil memfokuskan benaknya dengan pergerakan mobil untuk beberapa saat. Tapi saat Sehun mulai terhanyut tiba - tiba suara yang besar memasuki indra pendengarannya. jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Lalu percaya atau tidak ia terbang kelangit ketujuh. Semuanya berguncang , melayang , berputar, dan bagian akhir yang paling menyakitkan adalah saat beberapa benturan disertai dengan suara kaca dan barang pecah menghentak-hentak tubuhnya dengan cara yang menyakitkan.
- o -
Saat pusing yang parah hilang Sehun menyadari bahwa penutup kepalanya sudah terlepas. Sehun berbaring di tempat yang seharusnya menjadi atap mobil bagian dalam. Kakinya terjulur keluar dari jendela yang pecah. Rambutnya lengket bercampur dengan darah dan debu. Di depan wajahnya ia melihat Chanyeol dengan mata terbuka setengah dihiasi darah yang bercucuran mengalir dari kepalanya. Chanyeol yang malang. Pria jangkung itu masih bernafas sampai suara senapan beruntun terdengar. Tubuh Chanyeol bergoyang - goyang heboh membuat Sehun merasa sedikit menyesal karena menggunakan tubuh sekarat pria itu sebagai pelindung seiring nyawa Chanyeol yang menghilang. Sehun berusaha menjadikan lempengan besi yang tertancap di kursi sebagai alat untuk memotong tali yang mengikat tangannya dan Sehun berhasil. Dia membuka penutup mulutnya dengan tarikan kasar. Setelah itu perlahan dia merayap keluar dari jendela satu lagi yang hampir menghimpit dinding sebuah gedung.
Saat tubuhnya menyentuh tanah kasar baru ia sadari sebuah pergerakan gesit nyata di sampingnya. Pria itu lagi , seorang yang sangat tidak ingin Sehun lihat disaat - saat seperti ini. Terlihat tetap mengintimidasi walau penampilannya kacau balau dengan luka baret dan serpihan kaca di rambutnya. Pria itu mengambil pistol dari petugas yang tadi menyetir. Sekarang pria itu sudah mati mengenaskan.
Suara peluru memekakkan telinga. Sehun mengambil pistol yang tergeletak di sampingnya, entah milik siapa. Mereka mulai membalas tembakan. Sehun meleset puluhan kali. Baru ia sadari kemampuannya sudah menurun drastis. Tapi setidaknya pria di sampingnya menembak dengan cerdik hingga satu persatu lawan mereka tumbang. Sehun tidak berani membayangkan berapa nyawa yang telah pria itu ambil dengan kemampuan tangannya.
Sejauh ini mereka berhasil melihat kemajuan. Tetapi beberapa menit kemudian orang baru datang dan amunisi mereka habis.
Badan Sehun kehilangan keseimbangannya saat ditarik dan dipaksa merunduk oleh tangan yang paling dia takuti. Dilihatnya telapak tangan kecoklatan yang kasar. Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan. Sehun harus tenang. Setakut - takutnya Sehun pada pria ini dia harus hidup. Setelah introgasi kemarin ada satu hal yang ia sadari. Sehun menyayangi ibunya tidak perduli seberapa jauh mereka. Jadi setidaknya Sehun harus hidup sampai dia tau ibunya baik-baik saja.
-o-
Mereka berada di jalan sempit di bawah kolong jembatan. Beberapa meter di atas mereka ada kereta yang melaju kencang. Cahayanya remang - remang. Musuh sudah tertinggal di belakang membuat akal sehat Sehun berjalan kembali. Sehun menahan kakinya agar tidak bergerak mengikuti pria itu.
"Lepas." Dia memiting tangannya dari genggaman pria itu. Pria itu menatapnya dengan tajam sebelum berjalan menjauh meninggalkan Sehun dalam kondisi mengenaskan. Sehun melihat punggung pria itu menjauh dengan nafas yang menggebu - gebu. Itu hanya reflek alaminya setiap pria itu dekat. Saat Sehun siap untuk melangkah kearah berlawanan seorang polisi datang kearahnya. Sebuah setruman kecil mencolek instingnya yang hampir hilang karena rasa lelah. Dia tau tidak ada polisi jalanan yang menggantung senapan besar di ikat pinggang mereka. Sebelum pria itu sempat menembak Sehun telah menembaknya duluan walau sekali lagi tidak tepat. Membuat polisi gadungan itu bisa melempar sebuah benda bulat kearahnya.
Granat.
Sehun berlari secepat yang ia bisa hingga ia melihat punggung lebar dengan kaos hitam milik pria yang tadi pergi. Kini dirinya yang menarik pria itu. Sampai mereka tersandung dan terjatuh ketanah saat granat di belakang meledak.
Lalu seperti amuba yang bukannya mati tapi malah membelah jadi lebih banyak. Orang - orang mulai datang dan berusaha membunuh mereka lagi.
- o -
Mereka memasuki stasiun kereta. Ada banyak orang di sana. Orang - orang dengan pakaian formal. Anak - anak dengan baju sekolah. Beberapa lainnya terlihat dengan baju nonformal. Mereka dengan cepat mencoba berbaur walau susah juga mengingat Sehun masih memakai baju tahanan yang untungnya berwarna hitam dan bercelana panjang.
Sehun dapat merasakan mata - mata itu. Wajah - wajah yang terlalu kasar untuk menjadi orang - orang awam dengan bekas luka di wajah mereka. Ia melangkahkan kakinya berbelok dengan tenang. Sampai pada ujung jalan di mana kereta api tujuan baru saja berhenti. Sehun ditarik menuju pintu besi warna biru.
Lorong terang, beberapa cleaning service berlalulalang. Mereka masuk ke satu ruangan lalu pria itu segera membuka pintu bawah tanah. Sehun bisa mencium bau air tidak sedap dari bawah sana. Tanpa perlu disuru sama sekali Sehun mengikuti pria itu masuk. Lalu menutup pintunya kembali rapat - rapat.
Terowongan berbau apek. Berkali - kali Sehun mencoba menelan air liurnya yang entah kenapa menjadi pahit. Perutnya bergejolak. Sampai rasanya dia sudah benar - benar tidak tahan untuk memuntahkan isi perutnya. Disaat Sehun siap untuk memuntahkan isi perutnya suara gesekan besi terdengar. Sehun mendongak melihat pria itu yang memanjat naik ke jalan keluar.
- o -
Rumah minimalis. Isinya bersih. Hanya ada beberapa furnitur yang sangat pokok. Sehun sedikit merasa familiar dengan rumah ini. Tapi ia bisa menebak - nebak dan hatinya gundah luar biasa.
Suara cambukan menggema di seluruh ruangan. Sehun berteriak sampai suaranya habis. Air matanya mengalir sampai matanya merah. Tenaganya sudah tidak bisa menopang badannya lagi, sehingga dia terjatuh kelantai menghasilkan bunyi yang cukup keras.
Beberapa saat hening. Sepi. Sehun mengira ini waktu istirahatnya sampai akhirnya teriakannya pecah lagi karna air garam yang disiram kelukanya.
Ini semua ulah pria itu. Pria yang menghajarnya di parkiran. Sehun tidak pernah tau syapa namanya. Sehun tidak pernah peduli. Apa yang ia alami sekarang. Penyiksaan ini. Sehun ingin menerimanya dengan lapang dada karna sebuah perasaan bersalah pada Seulgi yang mencekiknya. Tetapi badannya tidak seiklas itu akan rasa sakit ini. Pria itu sengaja tidak ingin membiarkannya mati. Dia selalu melakukan ini menorehkan luka secara fisik , tetapi selalu berhenti saat Sehun hampir mati. Lalu saat Sehun sadar dia akan mulai lagi.
"Bunuh aku." Ucapnya lirih.
Pria itu tidak mendengarkan.
"Kumohon bunuh aku." Sekali lagi air matanya menetes , bibirnya kering dan pecah pecah.
Suara pintu rumah yang terbuka menyadarkan Sehun. Tidak. Kenapa ia disini? Sehun harus pergi. Sehun sangat harus pergi. Sehun terdiam seakan kakinya menyatu dengan teras. Dia meneguk air liurnya yang terasa pahit. Saat kenyataan menamparnya lagi dari rasa takut, badannya sudah ditarik sebelum Sehun sempat bergerak.
Jantung Sehun berdebar kencang sampai gendang telinganya berdengung. Bau mesiu dan debu kentara di ruangan ini. Di meja ruang tamu beberapa peluru berserakan dengan beberapa kaleng minuman soda bekas.
"Aku dipenjara lima tahun lebih , aku yakin bukan aku yang seharusnya menjelaskan sesuatu di sini." Ucap Sehun. Entah keberanian dari mana. Pria itu hanya diam tidak memberikan rasa penasaran Sehun kepuasan. Saat Sehun ingin membuka mulutnya lagi, suara langkah kaki terdengar dari lorong.
"Ambil sampah ini dan berikan uangku."
Sehun terdiam saat mendengar suara pria itu. Nadanya dingin. Dingin sekali sampai membuat Sehun merinding. Tetapi beberapa detik kemudian Sehun sudah bisa menyatukan titik - titik membingungkan di depannya. Sial. Sial. Sial. Sudah agak terlambat untuk mengutuk dalam hati tentang betapa bodohnya dia. Tapi Sehun tetap melakukannya. Sedetik kemudian rahangnya mengeras. Sehun perlahan melihat pendatang baru yang keluar dari kegelapan dengan tajam. Orangnya kurus. Wajahnya kasar , hidungnya bengkok, dan senyum licik tertera dimulutnya saat dia melihat Sehun.
"Halo Sehun."
Sehun tidak tau siapa pria itu. Tetapi tatapan itu tatapan tanda bahaya. Sehun tau akan terjadi hal yang sangat buruk padanya kalau dia tidak bisa melarikan diri. Tapi apa peduli Sehun. Sehun tidak punya sedikit rasa sayang pada nyawanya jika ini hanya tentang dia tapi tidak. ibunya. Sial. Jika ibunya sepenting itu pasti ini hal penting. Ini bukan dendam antar geng pereman di jalanan ini pasti menyangkut hal yang lebih besar jika tidak negara pasti mininal menyangkut ribuan nyawa manusia.
Disamping pria itu kaki tangannya maju. Lengkap dengan senjata siaga. Satu orang pria membawa koper ramping dan memberikannya kepada pria menakutkan disamping Sehun. Sehun yang sadar langsung mengarahkan serangan cepat untuk mengambil pistol yang ada di bagian belakang celana pria itu tetapi tangannya dipiting dengan mudah. Sehun diperangkap dengan cara yang menyakitkan. Pria itu meninju ulu hatinya membuat Sehun terjatuh kesakitan. Lalu rambutnya ditarik kasar. Sehun dipaksa berdiri sambil tangan pria itu yang satu lagi membuka koper. Diam-diam Sehun memikirkan apa pekerjaan pria ini. Tangan yang menjambak rambutnya itu pernah melakukan apa saja. Membunuh kah? atau hanya pekerjaan kasar dibelakang layar komputer. Tapi menilai dari tampilannya Sehun lebih percaya opsi pertama.
Pria itu hanya punya satu ekspresi dingin yang menakutkan. Jadi Sehun tidak bisa mengira-ngira apa yang terjadi disekitarnya atau apa yang pria itu fikirkan sebelum ia didorong kearah mereka. Sehun menurut karena ia melihat banyak pistol siaga. Tidak ada yang bisa ia , otaknya ataupun badannya yang kekurangan nutrisi ini lakukan. Setidaknya untuk saat ini. Mereka menangkap badan Sehun dengan mudah. Lelaki jangkung yang menangkap badannya memborgol tangan Sehunn dibelakang badan dengan sikap santai. Yah , Sehun saat ini memang sama sekali bukan ancaman. Sehun tidak kaget dengan itu tetapi hal yang membuatnya kaget adalah saat ada orang lain yang muncul jauh dibelakang pria itu bersembunyi dikegelapan dengan pistol mengacung. Sehun tidak melihatnya saat datang. Peluru ditembakkan bahu belakang pria itu dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi tidak ada darah yang ada hanya badan pria itu yang ambruk dan kejang-kejang. Peluru listrik.
TBC
