Atsumu si Reseh

ditulis untuk seorang teman lama. truly hoping you'd like it

HAIKYŪ © STAY AWESOME FURUDATE-SENSEI

WARNINGS: BL T RATING, Atsumu Miya x Shinsuke Kita, romance dan humor gagal, campuran bahasa gaul-bahasa baku-bahasa kasar, OC yang diciptakan dengan sengaja, OOC, sedikit adultjoke, etc etc; above all semoga suka. TY~~


Suatu malam, Miya Twins mampir ke cafe untuk makan malam.

Demi memenuhi taruhan yang kalah harus mentraktir yang menang dan yang kalah adalah Miya tua.

Dua kembar yang memasuki cafe masih juga berdebat. Seperti yang tidak absen mereka lakukan.

"Pokoknya aku mau steak 200ribuan! 4 porsi! Jatahnya semua ke aku! 'Tsumu enggak boleh!" Yang menang, Osamu, memberi titah seenak jidatnya.

"'SAMU BANGSAT! Aku mana punya uang sebanyak itu!" Yang kalah, Atsumu, berdecak kesal atas permintaan adiknya. "Lunasi cicilan belanja online saja belum!"

"Lho 'Tsumu 'kan yang ngajak taruhan? Aku nggak peduli! Aku mau jatahku!" Sang adik tidak ambil pusing. Dia melangkah mendahului abangnya memasuki cafe.

"Awas aja mencret kebanyakan makan daging! Aku nggak bakalan beli obat sakit perut!" Tukas Miya tua yang mau tidak mau harus mengalah. Saat melihat isi dompet, dia menahan nafas. Sepertinya harus main gesek-gesek saja.

Di dalam cafe, sambil menunggu, Miya bersaudara kembali berdebat.

Bahan perdebatan kali ini mengenai siapa yang lebih kaya, Serena Williams atau suaminya.

"Yang lebih kaya itu Serena tahu!" Bantah Osamu.

"Nggak! Nggak! Yang lebih kaya itu suaminya, Alexa Ohanan!" Atsumu balas membantah.

"Alexis, bodoh! Alexis Ohanian! Inget nama orang aja kagak bisa!"

"Berisik! Namanya susah begitu mana bisa diingat!"

"Banyak alasan..."

Beruntung kemunculan Kapten Shinsuke Kita menghentikan perdebatan konyol mereka.

Atsumulah yang menyadarinya. "'Samu, lihat! Bukannya itu kak Kita?"

Osamu mengikuti arah pandang kakak laki-lakinya. "Memang kak Kita. Lebih rapi dari biasanya ya."

"Samparin yuk!" Atsumu hendak bangun namun dihentikan Osamu yang memegang lengannya. "Apa sih, 'Samu?"

"Orang lagi kencan jangan diganggu. Entar hancurin mood mereka lagi." Ujar Osamu. Dari yang ditangkap matanya, Shinsuke sepertinya janjian bertemu pacarnya karena setelah masuk langsung mengambil tempat yang sama yang ditempati seorang gadis yang tidak mereka kenali.

"Aku mana tahu mau kencan! Mana ceweknya tiba-tiba muncul!"

"Ceweknya dari tadi di sana. 'Tsumu aja yang kagak lihat."

"Oh..."

Dua kembar itu lalu menatap kapten mereka.

Katanya sedang kencan tapi kenapa datar sekali perbincangan mereka?

Apa betul sedang kencan?

"Kayaknya bukan ceweknya. Mereka dari tadi datar-datar gitu." Atsumu bertopang dagu.

"Siapa bisa tebak? Kapten bukannya selalu sedatar itu?" Osamu merogoh sakunya. Mengeluarkan ponselnya karena mulai merasa bosan. Hidangan mereka tak kunjung mereka nikmati.

"Tapi sama neneknya dia enggak gitu..." Atsumu juga mulai bosan. Dia berganti menopang dagu menjadi duduk bersandar.

"Ya beda lah! 'Tsumu sendiri pernah pacaran memang? Tahu apa soal pacaran?" Osamu menekan-nekan layar ponselnya. "Cewek-cewek pada nangis darah tapi 'Tsumu nggak peduli!"

"Gimana ya..." Atsumu bersilang tangan sambil memonyongkan bibir. Alisnya berkerut seolah sedang menimbang satu keputusan berat. "Aku hanya belum nemu yang tepat aja."

"Berhenti beralasan deh!" Osamu memutar bola mata. "'Tsumu maunya bule bule semok yang pakaiannya serba terbuka 'kan?"

"Aku memang doyan yang montok. Tapi untuk pasangan hidup, aku mau orangnya sederhana."

Osamu terbatuk pelan mendengar ucapan itu.

Oh really?

Abang bodohnya ternyata bisa berubah keren juga ya!

Like he's been in love with someone or something!

"Atau seenggaknya yang mirip sama kak Kita!"

Osamupun sukses terbatuk.

Si rambut perak berhenti menekan layar ponsel berganti menatap kakak kembarnya saking tidak percayanya. 'Tsumu sepertinya memendam rasa pada kapten mereka. Bisa bicara sejauh itu!

Si tidak punya otak ini memang keseringan mencari perhatian kakak kelasnya. Misalnya memaksa bangun pagi untuk menunggu di depan pagar sekolah hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Atau datang lebih awal ke ruang klub hanya untuk basa-basi-busa.

Yang lebih mengherankan, Atsumu minta belajar kelompok bersama. Dua kali seminggu pula. Padahal mau mengerjakan PR saja ogah!

Entah sejak kapan abangnya begini, Osamu tidak tahu. Yang dia yakini,

"'Tsumu suka 'kan sama kak Kita?"

"Sayang ba—BUKAN GITU KUSOSAMU! A-aku cuman mau belajar darinya! Dia keren sih banget jadi kapten!" Aku Atsumu. Setelahnya menyembunyikan wajah di antara lengan dan permukaan meja.

Osamu yang menangkap wajah merah padam abangnya semakin meyakinkannya; Kakak kembarnya memang sedang jatuh cinta! "'Tsumu yang selalu cari gara-gara jadi lembek gini bikin merinding tahu! Sana langsung ngaku ke kak Kita! Tadi katanya bukan pacarnya 'kan?"

"'Samu yang bilang ya!" Atsumu langsung beranjak pergi.

Meninggalkan Osamu yang berdecak pasrah. "Bercanda tapi dianggap serius! Bucin ya? Oi Atsumu!"

Melihat kakaknya tengah menyapa membuat Miya muda terpaksa melambai dan tersenyum kaku karena perhatian ketiga orang itu tertuju padanya. Dalam hati, 'Idiot banget sih abangku itu! Masa beneran mau nembak kak Kita! Kalau benar lagi sama-sama ceweknya gimana?'

Osamupun memilih untuk tidak menjadi saksi keresehan kakak pirangnya. Lebih baik tidak usah ikut campur. 'Kenapa bisa seidiot itu ya?'


Dengan nada suara dan senyuman manja-menggoda ala Atsumu Miya, si Tsumpun menyapa, "Selamat malam!"

Shinsuke yang mendapati si setter di sampingnya bertanya, "Atsumu? Kau juga di sini?" Dia tidak terkejut dengan kehadiran juniornya.

Yang terkejut adalah gadis yang duduk bersebrangan dengannya.

"Aku sama si 'Samu. Kami mau makan malam di sini." Atsumu dengan mantapnya duduk di sebelah kakak kelasnya. Rapat sekali sampai-sampai Kitalah yang harus bergeser karena sofanya tidak muat. "'Samunya di sana. Katanya habis main game baru samparin kakak."

Shinsuke ber-oh pelan setelahnya menatap gadis di hadapannya. "Aku sedang menemani temanku."

"Halo!" Gadis manis yang diketahui adalah teman Shinsuke itu langsung tersenyum dan menyapa.

"Halo, kak!" Atsumu balas menyapa. Lega rasanya gadis itu bukan pacar kaptennya.

"Ini teman masa kecilku, Masuyama (maaf asal kasi nama)." Kapten Kita berganti mengenalkan Masuyama dengan Miya tua. "Dan dia ini yang namanya Atsumu. Atsumu Miya."

"Jadi ini Miya yang sering kau ceritakan itu, ya? Dilihat langsung lebih cakep, ya!"

Atsumu tidak terkejut mendengar pujian itu. Sudah biasa; Selalu dipuji begitu. Cakep, banyak dikenal, banyak penggemar. Atsumu sudah terbiasa.

"Iya, ini Atsumu. Kembarannya yang namanya Osamu."

Yang membuat Atsumu terkejut ketika Shinsuke berucap,

"Aku sudah pernah bilang tidak ya? Atsumu ini sebenarnya junior yang manis. Saat bertanding dia lebih mengutamakan spiker dibanding posisinya sendiri."

Jadi selama ini Kita-san menganggapnya manis? Padahal dia seorang yang bermasalah. Atsumu tersentuh; Shinsuke memang dingin dari luar, nyatanya peduli dari dalam.

"Spiker itu yang biasanya memukul bola 'kan?"

"Benar. Dan Atsumulah yang memberi toss, Setter."

"Ya, aku ingat sekarang. Dulu kau pernah cerita posisi masing-masing pemain voli. Setter itu yang—"

Detik selanjutnya, Atsumu menyesal. Kenapa coba harus menuruti omongan Osamu? Nyatanya dia jadi pengusir nyamuk sementara dua seniornya asyik-asyikan dengan dunia mereka.

'Aku ngapain ya disini?'

Hingga,

"Atsumu-kun, apa kau sudah punya pacar?"

Tiba-tiba teman Shinsuke mengganti topik. Topik pembicaraan yang menyinggung perasaan Atsumu,

"Tidak mungkin tidak punya. Kau terkenal begitu!"

"Tidak, aku tidak punya." Atsumu menjawab cepat. Bukannya tidak suka ditanya begitu, tidak nyaman saja. Pertanyaan barusan terlalu menyinggung privasi. Padahal mereka baru saja bertemu.

"Benarkah? Berarti masih ada harapan!"

Atsumu melirik Kita-san. Berharap kaptennya mengatakan sesuatu agar kehidupan pribadinya tidak disinggung seperti ini.

"Ada yang diam-diam menyukaimu, lho! Untung ada Shin. Dia sering cerita tentang kamu. Katanya kamu itu orangnya—"

Namun tidak terjadi. Shinsuke hanya diam menyimak. Masuyamalah yang terus bicara.

Atsumu lantas memotong dengan ketus, "Tapi sudah ada orang kusukai, kak! Maaf! Kalau bukan dengan orang itu aku nggak mau!"

Jadi dari tadi basa-basi ini untuk menjodohkannya? Diam-diam Kita-san turut merencanakan ini? Jadi semua ini sudah diatur?

Atsumu berubah kesal. Dia benci kehidupan pribadinya diatur-atur! Ditambah dia tidak bisa menahan emosinya.

"Kak, aku baru ingat aku ada urusan! Aku permisi pulang!" Tegas Atsumu dan segera berjalan pergi.

"Atsumu tunggu!"

Tidak peduli jika seniornya sedang memanggilnya, Miya pirang tetap melangkah.

Di depan meja adiknya, si Tsum melempar dompetnya.

"'Tsumu mau kemana?" Osamu dibuat heran. Abangnya mau pergi kemana? Kenapa bukannya duduk malah membuang dompetnya? Kenapa juga wajahnya segusar itu? "'Tsumu mau kemana?"

"Pulang!" Tukas Atsumu seraya meraih jasnya. "Ingat pin kartuku 'kan? 'Samu pakai saja semaunya!"

"Tunggu du—"

Atsumu yang tidak sopan seperti biasanya yang tiba-tiba pergi membuat Osamu yang akhirnya meminta maaf. Kaptennya juga sudah meninggalkan cafe. Mau tak mau harus dirinya yang menemani Masuyama.

'What on earth!'

Apa yang mereka gosipkan sampai abangnya kesal begitu?

'Jangan-jangan memang pacarnya kak Kita! Atau lebih buruknya tunangannya makanya 'Tsumu emosi gitu!'

Karena duduknya berjauhan, Osamu tidak mendengar apa yang sedaritadi mereka bicarakan.

'Tapi kenapa bukan sedih malah emosi ya? Ckck!'


Di luar cafe, Shinsuke menerawang mencari junior pembuat onar yang satu itu.

Dari kejauhan, nampaklah sosok itu di dekat air mancur. Duduk membungkuk, tangan di dalam saku, wajah tidak bisa dibaca; Atsumu Miya Mode Ngambek On.

Kapten Kita segera berlari menghampiri. Beruntung juniornya tidak pergi jauh-jauh jadinya tidak perlu repot mencari lagi sana-sini.

Dengan satu kalimat tanpa jeda, Shinsuke membuka suara, "Miya Atsumu, aku tahu kamu suka cari masalah tapi tolong bersikaplah sedikit manis! Menegur baik-baik sebelum pergi!"

Dan jawaban yang diterima adalah bentakan Atsumu, "HABISNYA AKU KESAL, KAK!"

"Kesal karena apa?" Shinsuke bingung. Hari ini Atsumu kenapa sensitif sekali? "Tidak ada yang kami perbincangkan yang harus membuatmu kesal."

"Ha-habisnya... kakak mau jodohin aku sama teman kakak 'kan? Aku nggak terima! Aku nggak suka kalau urusan cari pasangan orang lain yang atur-aturin!"

"..." Kita terdiam. Jadi itu ya alasannya Atsumu tiba-tiba marah dan pergi begitu saja.

"Benar 'kan dugaanku? Kakak memang sudah rencanain semua ini!" Atsumu tambah kecewa karena sepertinya benar, semua ini sudah diatur.

"Atsumu tenang dulu..."

"Mana bisa aku tenang! Aku mau punya pasangan atas rasaku sendiri! Aku benci ada yang ngaturin!"

"Atsumu-kun..." Shinsuke menggantung kalimatnya. "Aku tidak pernah menganggapmu bodoh tapi saat ini kamu bodoh sekali!"

"Aku memang bodoh, kak! Tapi kakak yang terpuruk karena atur-aturin kehidupanku! Aku maunya sama kakak bukan yang lain!"

Ada jeda beberapa menit sebelum Shinsuke kembali membuka suara, "Makanya kubilang tenang dulu. Kamu salah paham. Aku tidak sedang menjodohkanmu."

"Terus apa, kak? Kakak ceritain aku sebanyak itu ke teman kakak!" Suara Atsumu berubah menjadi bisikan. "Bahkan yang nggak aku sadaripun dia tahu. Kakak mau kasih alasan apa coba selain mau jodohin aku?"

Kita diam sebentar kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Atsumu. "Kamu tahu kenapa aku begitu? Karena... aku harus berbagi cerita dulu, seperti apa orang yang kusukai, sebelum resmi mengatakan perasaanku padamu."

'Tsum spontan melebarkan mata. "Ma-maksud kakak?"

Shinsuke melayangkan satu senyuman kemudian mencubit pipi Atsumu. "Setidaknya orang terdekatku harus tahu, Atsumu Miya, orang yang kausayangi itu orangnya seperti apa."

"KAK KITA!" Tidak butuh waktu lama sampai wajah Atsumu berubah kusut karena menahan tangis. Tidak tahu harus menjawab atau menunjukkan reaksi apa, Miya tua lantas bangun dan mendekap tubuh Shinsuke yang sedang duduk.

Dia tidak salah denger 'kan?

Berarti perasaan mereka sama 'kan?

"Kamu itu kalau lagi marah benar-benar imut, deh!" Kita yang balas memeluk tertawa kecil. "Kelihatan tuh bodohnya! Atsumu si reseh!"

Atsumu masih mencoba menahan diri. Tidak ingin dibanjiri air mata; Maunya tetap cool dan manly di depan Kita-san walaupun wajahnya sudah berubah aneh.

Hingga puas memeluk, setter pirang itu lalu memandang kakak kelasnya. "Kak, aku juga mau bilang..."

"Ya?"

"A-aku suka sama kakak! Aku udah lama suka sama kakak! Waktu kakak ngasih cemilan dulu, sampai sekarang aku enggak bisa berhenti mikirin kakak!"

"Aku tahu, kok. Kamu enggak berhenti cari perhatianku sejak saat itu 'kan?"

"Kelihatan banget ya, kak?" Atsumu memerah dan mengusap-usap tangannya karena ketahuan usahanya selama ini.

Kita mengangguk dan tersenyum tipis. Mengingat kembali seberapa obvious Atsumu Miya berusaha menabur bibit-bibit cintanya pada ladang Shinsuke Kita; Walau sudah bertemu saat latihan, junior reseh itu tetap mati-matian mau bertemu lagi. Yang lebih mengherankan, Miya minta belajar bersama meskipun belajar tidak pernah dianggap sesuatu yang penting terkecuali bola voli.

"Berkat kamu, aku juga menyadari sesuatu. Aku rasa aku juga suka padamu, Atsumu."

"KAK KITA!" Miya tua sukses berlinang lagi. Sambil menahan tangis, dia berteriak, "KAKAK PLIS DEH JANGAN BUAT AKU NANGIS LAGI! KITA LAGI DI TEMPAT UMUM, TAHU!"

"Iya, iya, maaf!" Shinsuke bangun dan menepuk-nepuk pipi Atsumu penuh sayang. "Aku bakal buat kamu tersenyum terus, kok mulai saat ini."

"Benar, kak?"

"Iya..."

Atsumu yang tidak pernah peduli akan apa yang orang lain pikirkan tentangnya, baik atau buruk wataknya, untuk kali ini membanggakan sisi buruk dirinya tersebut. Keresehannya yang menjadi pesonanya. Keresehannya yang membuatnya bisa memenangkan hati senior yang sudah lama dia kagumi itu. Atsumu sungguh bersyukur! Reseh terus ternyata yang menjadi kunci kebahagiaannya!

"Ngomong-ngomong, kak boleh kita ciuman?"

Yang untuk pertama kalinya keresehannya turut membuat Shinsuke terkejut, gugup dan berakhir salah tingkah.

"I-iya, boleh. Kita cari tempat sepi dulu, ya..."

"Aku bakal pelan-pelan, kak."

"Iya, pelan-pelan, ya."

Sambil mengulas senyuman lain, Atsumu berbisik, menggenggam tangan Shinsuke, "Selembut-lembutnya..."

Senyuman yang sungguh menggoyahkan iman.


December 21 2020

selesai! singkat saja! jadi akhirnya osamu yang gantian nemanin teman kita dan terbongkarlah rahasianya, ternyata selama ini kita sering curhat soal atsumu uwu dan kenapa mereka bertengkar soal serena dan alexis? tiba-tiba teringat kita juga pernah bertengkar soal ini yg sampai sekarang ga ada yg menang2 *receh* mudah-mudahan suka ya! sampai ketemu lagi! happy early x-mas new year!