Hai, semua! Kembali lagi dengan pair HiruMamo favoritku. Semoga kalian suka ya! Maaf kalau ada yang merasa Hiruma atau Mamorinya OOC. Tapi inilah Hiruma di fantasiku huhuhu.

All characters are courtesy of Riichiro Inagaki and Yusuke Murata


Di koridor rumah sakit terlihat lalu lalang pasien dan petugas yang sibuk dengan agendanya masing-masing. Sementara di pintu masuk, pria tinggi dengan rambut pirang membuka pintu menggunakan kakinya. Kedua tangannya terlihat penuh dengan laptop di tangan kanan, dan bunga di tangan kirinya.

Pria itu melangkah mantap ke dalam area rumah sakit seakan dia sudah hafal seluk beluk rumah sakit tersebut. Bagaimana tidak, dia telah mendatangi rumah sakit ini setiap hari selama 1 bulan terakhir. Lebih tepatnya, mendatangi satu kamar.

"Hei."

Orang yang disapa Hiruma tidak bergeming. Hiruma menaruh bunga dengan sembarangan di meja. Dia duduk di sofa kecil di samping kasur dan mulai membuka laptopnya. Kakinya diletakan di ujung kasur.

Di atas kasur tersebut, berbaring Mamori Anezaki. Perempuan yang terkenal di rumah sakit ini karena sudah hilang kesadaran selama 1 bulan.

Hiruma mengunyah permen karetnya sambil memandangi wajah Mamori yang terlihat seperti tertidur biasa. Luka-luka di tubuh Mamori sudah mulai sembuh dan menyisakan bekas saja. Perlahan, Hiruma menyentuh pipi Mamori lembut.

"Sampai kapan kau berencana untuk tidur terus, sialan?" gumam Hiruma.

"Aku tidak paham kenapa orang suka dibelikan bunga, tapi aku baru saja membelikanmu seikat bunga baru, cewek bodoh. Jadi bangunlah."

Hiruma memandangi Mamori menunggu jawaban. Sedikit saja. Beri jawaban sedikit saja.

"Tunjukan kalau kamu masih di situ, manajer sialan."

Menyadari yang ditunggu tidak kunjung datang, Hiruma kembali melanjutkan pekerjaan di laptopnya.

-2 bulan lalu-

"Hiruma!" Mamori terlihat kesal dengan tingkah Hiruma yang membuat ruang clubnya berantakan.

Sedangkan Hiruma hanya terkekeh dan meninggalkan Mamori di ruang club.

"Benar-benar, orang itu. Padahal aku baru selesai beres-beres." Mamori mulai berjongkok dan memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai.

"Hahaha kukira kamu sudah terbiasa dengan itu, Anezaki." ujar Yamato dari tempat duduknya.

"Kukira juga begitu. Tetapi sepertinya semakin dewasa dia semakin parah, Yamato-kun." Mamori menghela napas sambil tetap melanjutkan bersih-bersihnya.

"Dan bisa-bisanya aku suka dengan orang seperti itu." batin Mamori.

Anggota lain telah pulang. Meninggalkan Mamori yang masih menyapu ruang club dan Hiruma yang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tiba-tiba Hiruma berdiri hendak mengganti bajunya. Namun Mamori menyadari langkah Hiruma terlihat sedikit pincang.

"Hiruma-kun, kamu terluka?" Mamori segera menghentikan gerakan menyapunya.

"Bukan apa-apa, manajer sialan." Hiruma bahkan tidak melihat ke arah Mamori dan tetap berjalan ke arah lokernya.

Mengabaikan kata-kata Hiruma, Mamori langsung menarik lengan Hiruma dan mendudukannya di kursi.

"Tunggu sebentar aku ambil kotak obat dulu." ujar Mamori sambil beranjak ke arah lemari.

Hiruma memain-mainkan senapannya sambil menunggu Mamori. Tidak lama, Mamori sudah berlutut di depannya.

"Kau ini. Kalau terluka jangan diam-diam. Bagaimana kalau nanti jadi cedera parah?" Mamori mengomeli Hiruma sambil membersihkan area luka di kaki Hiruma.

"Cerewet sekali, sialan. Memangnya kau ini dokter atau apa?" ujar Hiruma sambil memutar-mutar senapannya.

"Aku memang bukan dokter, tapi aku yang bertanggung jawab mengurus setiap anggota tim ini kalau kalian cedera." perlahan Mamori menaruh kasa di atas luka Hiruma.

Hiruma berhenti memain-mainkan senapannya dan memandangi Mamori yang sedang fokus dengan lukanya.

"Mengurus setiap anggota, heh?" gumam Hiruma.

Mamori tidak begitu jelas mendengar gumaman Hiruma.

"Hmm? Kamu ngomong sesuatu?" Mamori mendongak dan mendapati Hiruma sedang menatap matanya.

"Kukira kau bilang kau suka padaku, manajer sialan." Hiruma menyeringai saat melihat wajah Mamori yang perlahan memerah.

Mamori buru-buru menunduk. "Ya, aku memang menyukaimu, tapi kan aku masih belum tau apa perasaanmu padaku, Hiruma-kun."

Wajah Mamori memanas mengingat momennya menyatakan perasaan pada Hiruma waktu itu. Tidak terencana, hanya spontanitas. Hiruma juga tidak memberi jawaban apa-apa saat itu.

Hiruma terlihat berpikir. "Kalau aku bilang aku ingin kau hanya mengurusku seorang, apakah kamu paham?"

Mamori memberengut "Hiruma-kun, aku tidak ingin diperlakukan sebagai pengasuh."

Hiruma mendekatkan wajahnya ke Mamori. Sangat dekat sampai Mamori dapat merasakan napas Hiruma. Seringaian Hiruma tetap sama. Seringai jahil dan sombong yang menawan itu.

"Lalu kau ingin diperlakukan sebagai apa, manajer sialan?"

Mamori terlihat gelagapan dengan wajahnya yang sudah sangat merah.

"A-aku.."

Belum sempat Mamori menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah ditutup dengan bibir Hiruma. Ciumannya begitu lembut. Tidak seperti tingkah laku dan ucapan Hiruma selama ini padanya.

"Diam, jantungku." batin Mamori yang mendengar debar jantungnya berdebar begitu kencang.

Ciuman Hiruma semakin dalam dan Mamori dapat merasakan tangan Hiruma menopang belakang kepalanya. Seakan takut Mamori menjauh.

-

Hiruma melepaskan pandangan dari laptopnya dan melihat keluar jendela. Langit sudah sangat gelap. Sudah berapa lama Hiruma di sini?

Hiruma menutup laptopnya dan melihat ke arah Mamori yang masih tertidur dengan damainya. Hiruma mengelus lembut rambut Mamori dan langsung membereskan barang-barangnya.

Gerakan itu sangat kecil. Sangat sebentar. Tetapi Hiruma tidak melewatkannya. Itu adalah jawaban dari panggilan Hiruma setiap hari selama sebulan ini. Hiruma sangat yakin Mamori tadi menggerakkan jari-jarinya.

Hiruma langsung meninggalkan barang-barangnya dan mendekati wajah Mamori.

"Hei, manajer sialan. Kau disitu?"

Kelopak mata Mamori terlihat bergerak.

"Ya, dia disini." Hiruma dapat merasakan kelegaan mengaliri seluruh tubuhnya. Seperti ada air dingin yang ikut mengalir di dalam darahnya.

Perlahan kelopak mata Mamori terbuka. Tatapannya bingung. Menganalisa. Berusaha memahami situasinya saat itu.

"Heh, manajer sialan. Akhirnya kau bangun juga." ujar Hiruma tersenyum menyeringai.

Mata Mamori melihat Hiruma namun tidak langsung mengenali Hiruma. Senyum Hiruma memudar.

2 detik..

3 detik..

5 detik..

Terlalu lama.

"Hi..Hiru..ma You..Ichi?" suara Mamori serak setelah sebulan lamanya tidak berbicara.

Sejenak Hiruma mengabaikan firasat buruknya. Namun dia masih memperhatikan tatapan Mamori yang asing di matanya.

"Ke..kenapa kau di..sini? Aku.. dimana?"

"Heh, manajer sialan. Kau di rumah sakit. Sudah sebulan sejak kecelakaan itu." Hiruma masih memperhatikan mata Mamori.

"Ke..celakaan?" bisik Mamori. "Kenapa.. kau memanggilku manajer?"

Hiruma merasakan badannya mendadak terasa berat. Firasatnya semakin kuat. Tanpa menunggu lama, Hiruma memanggil perawat ke kamar untuk mengabari kondisi Mamori.

-

-

"Sepertinya nak Anezaki mengalami amnesia parsial akibat dari benturan keras di kepalanya. Dia tidak ingat mengenai kecelakaan yang menimpanya, bahkan dia tidak ingat universitas yang dia masuki. Sejauh yang dia ingat, dia masih di awal SMA. Begitu kutanya mengenai American Football.. Dia terlihat benar-benar bingung."

Penjelasan dokter tersebut terdengar tidak masuk akal. Hiruma tidak memberikan reaksi apa-apa. Dia hanya mendengarkan dari kejauhan. Di depannya berdiri keluarga Mamori, Sena, dan teman-teman dari Deimon Devil Bats dan Saikyoudai yang menyempatkan diri ke rumah sakit setelah mendengar kabar mengenai Mamori.

"Biasanya ingatannya akan kembali perlahan diiringi dengan kesembuhan organ internalnya. Tapi saya tidak bisa memberi jaminan berapa lama waktu yang dibutuhkan nak Anezaki untuk kembali mengingat momen-momen terbaru ini."

Orang tua Mamori terlihat sedih dan pasrah. "Paling tidak dia masih ingat kedua orang tuanya.." ucap ayah Mamori pelan sambil mengelus pundak istrinya yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi anak mereka.

"Jadi.. Mamori-neesan tidak ingat siapa aku?" suara Suzuna bergetar menahan air mata. Sena berusaha menenangkan Suzuna dan memeluknya.

Wajah Kurita, Musashi, Sena, Monta, Jumonji, Yamato dan Taka menunjukan kekhawatiran dan kesedihan mendalam. Semua kenangan Deimon Devil Bats dan Saikyoudai seakan menguap begitu saja.

Tapi di belakang mereka semua, ada satu orang yang memasang wajah tanpa ekspresi namun didalam hati iblisnya, sesuatu terasa menyakitkan.

"Brengsek. Jadi setelah semua yang terjadi, kau melupakannya begitu saja, manajer sialan? Apa kau sedang berusaha menghukumku?"

To Be Continued-