Hiruma sedang berbicara dengan anggota teamnya di tengah latihan saat dia mendapat berita itu. Berita yang membuat dunia Hiruma seakan runtuh.
"Hiruma! Mamori kecelakaan!"
Selanjutnya yang Hiruma sadari, dia sudah berdiri di depan tubuh Mamori yang dipenuhi luka dan perban. Selang infus dan oksigen menempel di tubuhnya. Matanya tertutup damai sekali.
"Supir trucknya mengantuk dan tidak melihat lampu sudah berubah merah."
Buat apa kau beritahu aku itu, bodoh? Kenapa Mamori di sana? Kenapa Mamori yang tertabrak? Kenapa..? Semua pertanyaan itu sudah tidak berarti. Saat ini Mamori sudah terbaring tak sadarkan diri. Tidak lagi malu-malu memanggilnya "Youichi".
-
"Hiruma-kun."
Hiruma tersentak bangun dari tidurnya. Ternyata dia tertidur di sofa sejak tadi. Ingatan buruk itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui. Tetapi sepertinya bagi Hiruma, realita juga tidak lebih baik.
Hiruma menegakkan duduknya dan melihat Mamori yang sedang memandanginya.
"Ah maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Aku hanya.. Bosan dan ingin bertanya banyak padamu." Mamori tersenyum. Tetapi Hiruma tahu itu senyum yang diberikannya pada semua orang.
"Hiruma Youichi kan? Aku ingat saat ujian masuk kau orang yang menghias ruangan ujian dengan dekorasi american football" Mamori tertawa kecil. "Aku sempat berpikir kamu orang yang aneh dan menyeramkan."
Hiruma tidak menjawab dan hanya memandangi Mamori. Menyadari bahwa belum ada pertanyaan yang dilontarkan, Mamori dengan gugup membenarkan rambutnya yang panjang itu.
"Ah, ehm.. Maaf kalau aku melupakan banyak hal mengenai.. ehm. American football. Tolong ceritakan padaku, apakah kita bekerja sama dengan baik? Aku manajer dan kau kaptennya. Kita pasti sering bekerja sama kan?" Mamori memandangi mata Hiruma dengan penuh rasa penasaran. Penasaran mengenai memori hidupnya sendiri.
Hiruma menghela napas. "Iya, kerjamu cukup bagus, manajer sialan."
Mamori terlihat mengeryit saat mendengar panggilan Hiruma terhadap dirinya.
"Dan apakah kau memanggil semua orang seperti itu?" tanya Mamori lagi.
"Hmm? Seperti apa?"
"Ah.. Lupakan. Oh ya, Sena juga masuk Deimon dan menjadi anggota team kalian, bukan? Apakah dia baik-baik saja selama bermain Amefuto? Dari yang kulihat olahraga itu berbahaya sekali-"
Hiruma tiba-tiba berdiri. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia berjalan mendekati Mamori dan mendekatkan wajahnya.
"Kamu benar-benar lupa, heh?"
Mamori terkejut dengan dekatnya wajah Hiruma namun tidak mundur.
"Seperti yang kubilang, aku tidak bisa mengingat apapun setelah kelas satu SMA.."
Hiruma merasakan sesuatu seperti menusuk dadanya.
"Berarti.. Kau juga melupakan apa yang kau katakan padaku 2 bulan lalu?"
Raut wajah Mamori terlihat bingung.
"Apa yang kukatakan?"
Hiruma berubah menjadi kesal dan berbalik badan untuk meninggalkan Mamori. Namun Mamori memegang tangan Hiruma menahannya pergi.
"Hiruma-kun.."
Hiruma memandang Mamori dari sudut matanya.
"Kau.. ada di sisiku saat aku bangun. Yang kudengar dari suster-suster di sini juga katanya kau mengunjungiku setiap hari.." Mamori berhenti untuk melirik bunga yang sudah diletakan di dalam vas di sampingnya.
"Hiruma-kun, hubungan kita seperti apa?" Mamori memandang mata Hiruma dalam-dalam. Mencari jawaban jujur dari mata hijau yang tajam tersebut.
Hiruma terdiam sejenak sebelum akhirnya menarik tangannya dari genggaman Mamori.
"Hanya hubungan professional antara kapten dan manajer."
Saat mengatakan itu, Hiruma tidak menatap Mamori. Mamori tidak bisa menilai apakah Hiruma sedang berkata jujur atau berbohong.
-
"Youichi"
Hiruma membuka matanya dan merasakan lehernya pegal-pegal.
"Jangan tidur di sini. Nanti badanmu sakit. Tidurlah di kamar." ujar Mamori sambil mengguncang lengannya.
Mereka sedang berada di apartemen Hiruma. Mamori sedang membantu membersihkan apartemen Hiruma dan Hiruma sedang mengerjakan sesuatu di laptop hingga tertidur di sofa.
"Apa kau mau ikut?" Hiruma menyeringai nakal sambil memandang Mamori.
Wajah Mamori memerah.
"Jangan bicara aneh-aneh, Youichi. Aku masih belum membersihkan kamar mandi-"
Tiba-tiba Hiruma sudah menggotong Mamori di pundaknya. Membuat semua usaha Mamori untuk membebaskan diri sia-sia.
"Hiruma Youichi! Turunkan aku sekarang!" teriak Mamori panik.
"Jangan teriak-teriak, bodoh." Hiruma terkekeh sambil membuka pintu kamarnya.
Mamori dilempar di atas kasur dan Hiruma ikut menjatuhkan dirinya di atas Mamori.
"Youichi-"
Hiruma langsung mendekap kepala Mamori di dadanya menahan kepalanya dengan satu tangan. Lengan satunya memeluk punggung Mamori.
"Sudah, jangan cerewet terus. Aku mau tidur."
Mamori terdiam. Wajahnya sangat merah tapi di dalam hati Mamori merasakan senang yang amat sangat ketika bersentuhan dengan Hiruma seperti ini.
Lengannya yang panjang memberikan rasa aman.
"Jangan macam-macam saat tidur!" ancam Mamori dengan suara terpendam dada Hiruma.
Hiruma melonggarkan dekapannya untuk melihat wajah Mamori.
"Apa kau sedang memberiku ide?" Hiruma memamerkan seringaiannya yang sangat disukai Mamori itu.
"Youichi.. Jangan bercanda terus!"
Hiruma kembali mendekap Mamori. "Ya, ya, ya. Cerewet sekali kau ini Youichi, Youichi, Youichi terus."
Di balik dada Hiruma, Mamori tersenyum.
"Aku senang sekali menjadi satu-satunya yang memanggilmu dengan Youichi. Apakah salah kalau kugunakan terus?"
Hiruma tersenyum di puncak kepala Mamori. Membenamkan hidungnya di rambut cokelat lembut itu.
"Kekeke. Jangan lagi panggil aku dengan yang lain, cewek bodoh. Panggil aku Youichi sebanyak yang kau mau."
Mamori tertawa kecil dan memeluk Hiruma lebih erat. Mereka pun tertidur di dalam dekapan satu sama lain.
-
Mamori sudah pulang ke rumahnya. Semua terasa asing. Mamori menelusuri bingkai-bingkai foto di mejanya. Dia sama sekali tidak ingat pernah foto seperti ini. Mamori menghentikan gerakannya. Perhatian Mamori tertuju pada satu foto.
Foto saat Deimon Devil Bats memenangi Christmas Bowl. Di sana Mamori melihat wajah-wajah yang tidak dikenalinya. Namun hati Mamori terasa hangat ketika melihat foto ini. Didalam foto itu juga Mamori melihat sosok itu.
Hiruma Youichi tersenyum lebar. Entah mengapa Mamori merasakan rindu yang amat sangat saat melihat wajah Hiruma yang seperti itu. Wajah seseorang yang berhasil meraih mimpinya.
Mendadak Mamori mengingat perasaan bahagia dan haru. Apakah ini perasaannya saat itu?
Tetapi ingatan itu hanya lewat sekelebat saja. Tidak sempat tertangkap dan disimpan oleh Mamori. Merasakan itu, Mamori sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Apakah aku telah melupakan hal yang penting di dalam hidupku?"
To Be Continued-
