"Mamori akan kembali menjadi manajer? Kau yakin, Hiruma?" Yamato terlihat terkejut dengan yang baru saja dikatakan Hiruma.
"Bersihkan telingamu dengan bor, rambut liar. Aku tidak akan mengulang kata-kataku lagi." Hiruma menjawab dengan acuh tak acuh sambil meniup balon permen karetnya.
"Apakah Mamori bisa langsung melanjutkan pekerjaan dia sebelumnya? Hilang ingatannya cukup jauh, bukan?" Ikyuu terdengar khawatir.
"Kalian sampah-sampah ini berisik sekali. Biar saja si sampah ini berlaku sesukanya. Pokoknya kalau kita sampai kalah gara-gara ketidakbecusan manajer itu, siap-siap saja kau, sampah." Agon mendelik ke arah Hiruma.
"Kekeke. Tidak perlu kau bilang juga aku sudah tahu, gimbal sialan." Hiruma terkekeh sambil mengutak atik laptopnya.
Semua terdiam ketika yang dibicarakan memasuki ruangan.
"Ngg.. Anu, selamat siang." Mamori membungkuk ke arah semua yang ada di dalam ruangan.
"Namaku Mamori Anezaki.. Tapi kurasa kalian sudah mengenalku, yah. Jadi sepertinya aku yang perlu berkenalan dengan kalian." Mamori tertawa kecil tetapi di dalam hatinya dia sangat gugup. Semua orang memandanginya dengan tatapan khawatir dan... kasihan? Tetapi sepertinya ada satu pria berambut gimbal yang melihatnya dengan kesal.
"Jangan buang waktu untuk hal tidak penting seperti berkenalan, manajer sialan. Cepat kesini, kita harus mengejar materi yang sudah kau lupakan dengan bodohnya itu." seru Hiruma dari seberang ruangan.
Semua orang di dalam ruangan terlihat lebih rileks setelah momen canggung barusan. Satu per satu anggota keluar untuk memulai latihan. Meninggalkan Hiruma dan Mamori yang masih mengejar brief untuk persiapan pertandingan selanjutnya.
Mamori sibuk mencatat semua hal di buku catatannya. Diam-diam Hiruma memperhatikan perempuan itu. Perempuan yang dua bulan lalu baru menyatakan perasaannya tetapi nampaknya sekarang dia sudah lupa akan hal itu.
"Benar-benar menyebalkan.
""Hmm?" Mamori mendongak memandang Hiruma. "Kau bilang sesuatu, Hiruma-kun?"
Sepertinya pikiran Hiruma tadi tidak sengaja keluar dari mulutnya.
"Kau ini benar-benar menyebalkan, manajer sialan. Setelah kau mengatakan hal seperti itu dua bulan lalu sekarang kau melupakan semuanya seperti tidak terjadi apa-apa. Cih." Hiruma terlihat kesal.
Mendengar hal itu, Mamori ikut kesal dan berdiri.
"Hilang ingatan ini juga bukan salahku, Hiruma-kun! Aku tidak tahu hubungan kita seperti apa sebelumnya dan aku juga tidak tahu apa yang kukatakan padamu 2 bulan lalu. Tapi tolong ingat bahwa kondisi ini bukan kemauanku! Jadi tolong berhenti menyalahkanku!" Mamori benar-benar kesal. Rasanya dia tidak ingat terakhir dia sekesal ini dengan seseorang.
"Kau pikir ini mudah bagiku? Aku berusaha sekeras mungkin untuk kembali ke kehidupan lama yang kulupakan! Aku bersedia mempelajari ulang semuanya termasuk hal-hal mengenai amefuto ini. Jadi kalau kau merasa ada masalah denganku, bagaimana kalau sekali-kali kamu yang melakukan sesuatu mengenai itu?" Mamori menekan telunjuknya di dada Hiruma.
Hiruma hanya diam mendengarkan omelan Mamori sedari tadi.
"Sudah selesai?" akhirnya Hiruma mengeluarkan suaranya. Matanya menatap Mamori tajam dan ikut berdiri. Sekarang mata Hiruma lebih tinggi dari Mamori.
Tiba-tiba Hiruma memegang kedua lengan Mamori dan menempelkannya di tembok. Saat Mamori hendak mengatakan sesuatu, Hiruma menghadang kedua sisi tubuh Mamori dengan lengan panjangnya yang ditempel ke tembok di belakang Mamori.
"Baiklah, cewek pikun. Bagaimana kalau kita taruhan?"
Hiruma kembali memamerkan seringaiannya itu.
Tanpa sadar, jantung Mamori berdegup lebih cepat saat melihat wajah Hiruma yang menyeringai seperti itu dari dekat.
"Kita taruhan. Kalau aku berhasil membuatmu mengingat kembali tentang kita, kau akan lakukan apapun yang kusuruh. Dan tentunya bukan tentang club."
Mamori menemukan kembali suaranya. "Baiklah. Kuterima tantanganmu, Hiruma Youichi."
Hiruma mulai terkekeh. "Tunggu saja, manajer pikun, akan kubuat kamu ingat kembali. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan badanmu."
Mamori merasakan wajahnya memanas. "Ba-badanku?"
Hiruma melepaskan lengannya dari tembok dan menyentil dahi Mamori. "Keh, sepertinya kamu mulai ingat sisi mesummu, manajer pikun."
Mamori memberengut dan reflek mengambil sapu di dekatnya.
"Menjauh dariku, dasar iblis menyebalkan!" seru Mamori sambil menjadikan sapu sebagai penjaga jarak antara dia dan Hiruma.
Hiruma terkekeh dan berjalan ke arah pintu keluar. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, Hiruma menghentikan gerakannya namun tetap menghadap pintu.
"Oh ya, dan selama ini kau memanggilku Youichi, manajer pikun. Jangan lupakan itu lagi." kata Hiruma sambil membuka pintu dan melengos keluar.
Mamori terdiam di dalam ruangan.
"You..ichi." gumamnya.
-
"Youichi! Ayo cepat kesini! Antriannya sedang sepi!" teriak Mamori penuh semangat. Tangannya menunjuk ke arah wahana kereta hantu dengan antrian yang tidak terlalu ramai itu.
"Berisik sekali kau." protes Hiruma ketika sudah tiba di sebelah Mamori. Balon permen karetnya dipecahkan.
"Ayo semangat sedikit! Wahana ini katanya sangat menyeramkan! Jangan sampai kau berteriak ketakutan ya, Youichi!" Mamori meledek Hiruma sambil menggandeng lengannya.
Hiruma terkekeh. "Lucu sekali, bodoh. Jangan sampai mencariku kalau kamu yang teriak-teriak ketakutan."
Ketika tiba giliran mereka menaiki kereta tersebut, Mamori dipenuhi semangat karena ini adalah kencan pertama mereka. Sampai kereta berjalan dan Mamori melihat ke arah Hiruma.
"Youichi, simpan senjata apimu! Jangan sampai hantu-hantu di sini malah jadi takut melihatmu!" Mamori mencoba meraih tangan Hiruma yang sedang memegang granat di kedua tangannya.
"Kekeke. Mereka sebut ini special effect?" Hiruma terkekeh sambil mengeluarkan berbagai peledak yang entah bagaimana bisa dia simpan di dalam jaketnya. Terlihat pemeran-pemeran hantu di pojok terlihat ragu untuk keluar mengagetkan pasangan berbahaya tersebut.
5 menit kemudian akhirnya Hiruma dan Mamori keluar dari wahana tersebut.
"Sudah kuduga, hantu-hantunya tidak mau keluar karena melihatmu, Youichi." protes Mamori sambil melipat tangannya di depan dada.
Hiruma terkekeh. "Bukan salahku kalau mereka tidak menyeramkan sama sekali, bodoh."
Mamori menghela napas.
"Baiklah, selanjutnya apa? Apakah kamu suka roller coaster?"
"Terserahmu, manajer sialan. Ini tempat pilihanmu." Hiruma terlihat tidak peduli.
Mamori tersenyum dan menarik lengan Hiruma yang sengaja berjalan dengan diseret-seret.
Setelah puas memainkan semua wahana, Mamori menyisakan satu wahana yang sengaja dijadikan wahana penutup kencannya dengan Hiruma. Namun ternyata pasangan lain juga berpikir yang sama dengan Mamori. Menjelang matahari terbenam, antrian bianglala sangat panjang.
"Ah, Youichi. Antriannya panjang sekali. Kurasa kita tidak akan keburu mengejar matahari terbenam." ujar Mamori sambil mengamati panjang antrian tersebut.
Hiruma melihat sekilas ke arah wahana yang dimaksud.
"Ah? Tunggu sebentar disini."
Ketika Mamori menoleh, Hiruma sudah tidak ada di sampingnya. Tiba-tiba petugas wahana membuka antrian VIP dan memanggil dirinya.
"Nona yang disana, silahkan lewat sini! Khusus untuk tuan dan nona kami sediakan jalur khusus tidak perlu antri!"
Mamori dapat melihat dari wajah petugas tersebut yang berkeringat, kalau dia habis diancam oleh Hiruma. Tetapi Mamori sudah terbiasa dan untuk kali ini Mamori membiarkan Hiruma menggunakan jalur curang demi kencan mereka.
Hiruma dan Mamori sudah masuk ke dalam kabin bianglala yang mulai pelan-pelan berputar ke atas.
"Keh, sudah puas, manajer sialan?" Hiruma terkekeh sambil memasukan permen karet baru ke dalam mulutnya.
Mamori tersenyum lebar. "Meskipun kamu curang tapi terima kasih, Youichi."
Hiruma menatap wajah Mamori saat itu dan ikut menyeringai puas.
Begitu kabin mereka tiba di puncak, matahari terbenam membuat langit terlihat seperti lukisan. Semburat warna orange, merah, sedikit pink dan ungu cantik sekali. Mamori terpana dengan pemandangan tersebut. Meskipun langitnya sangat cantik, Mamori memandangi pria favoritnya yang duduk di hadapannya.
"Ada apa? Apa masih ada yang kau inginkan, sialan?" Hiruma menyadari Mamori yang sudah tidak melihat pemandangan dan malah memperhatikannya.
Mamori tersenyum dan menjawab, "Ada." sebelum mendekati wajah Hiruma dan mengecup bibirnya lembut. Begitu Mamori menjauh untuk menyudahi ciumannya, tangan Hiruma menangkup wajah Mamori dan kembali mencium Mamori lebih dalam.
"Jangan berani-berani pergi, sialan." ujar Hiruma di tengah ciumannya. Hiruma kembali mencium Mamori dengan penuh hasrat seakan ini ciuman terakhir mereka. Saat akhirnya Hiruma melepaskan bibirnya, Mamori mengelus rambut Hiruma yang jabrik dan mengecupnya lagi.
"Aku tidak kemana-mana, Youichi." dengan wajahnya yang terkena sinar matahari terbenam, Mamori tersenyum manis sekali hingga Hiruma tidak bisa melupakan pemandangan tersebut.
"Aku menyukaimu- ah, tidak. Aku sangat menyayangimu, Youichi." Mamori memeluk leher pria di hadapannya itu dengan sangat erat. Enggan melepaskannya lagi.
"Keh. Aku tau, bodoh. Tapi kau berusaha mencekikku atau apa." Hiruma terkekeh.
To Be Continued-
