Disclaimer : Haikyuu! Furudate Haruichi
A/N :Terinspirasi dari lagu Snowman - Sia (dengan sedikit sentuhan fantasy), persembahan ff untuk natal yang lebih awal.
Happy Reading!
Atsumu mencoba untuk menjelajahi hutan di musim dingin. Suasana hatinya tidak pernah lebih kacau dari ini. Matanya berkaca-kaca, sesekali ia menyedot lendir yang keluar melalui lubang hidungnya.
Hari itu sangat dingin, Atsumu pergi hanya berbekal pakaian seadanya yang membuat bibirnya menjadi pucat dan nyaris membiru. Kakinya terus melangkah masuk ke dalam hutan. Tidak memerdulikan sudah berapa jauh jaraknya ia pergi dari rumah.
Tidak ada siapapun yang menemaninya, ia sendirian. Dia tidak bisa mengenyahkan perasaan tidak menyenangkan yang menghinggapi hatinya sampai saat ini.
"Samu, sialan aku membencimu."
Hari semakin gelap, matahari sebentar lagi akan terbenam. Jika sudah gelap maka hutan tidak memiliki sedikit pun penerangan di dalamnya, dan kemungkinan besar ia tersesat akan semakin tinggi.
Tapi, Atsumu dengan pikirannya yang kacau sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kaki kecilnya terus melangkah melawan tumpukan salju yang sudah setinggi mata kakinya. Sesekali ia nyaris tersandung, tapi berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan baik dan kembali berjalan.
Sampai akhirnya kakinya terlalu lelah untuk berjalan, memutuskan untuk berhenti dan duduk di bawah salah satu pohon tua yang menjulang tinggi di atasnya.
Atsumu meringkuk di bawah pohon itu, matanya mengamati butiran-butiran salju cantik yang turun ke permukaan bumi. Atsumu bukan penggemar musim dingin, tapi dia tidak membencinya.
Perasaan kantuk mulai mendatanginya. Kelopak matanya terkulai lemas, lalu perlahan Atsumu memejamkan matanya, jatuh ke alam bawah sadarnya dan tertidur.
.
.
.
Saat membuka matanya, Atsumu nyaris tidak bisa melihat apa-apa. Sangat gelap, matahari sudah sepenuhnya terbenam dan tidak menyisakan setitik pun cahaya. Perasaan panik mulai mendatanginya.
"Ke arah mana tadi aku datang? Apa aku harus berbelok? Lurus saja?"
Atsumu yakin sekali tadi dia hanya berniat istirahat selama 30 menit! Bukan dua jam! Ia mengusap matanya keras-keras sehingga menimbulkan bekas kemerahan di ujung matanya.
Atsumu bertanya-tanya, apa tidak ada yang mencarinya sama sekali? Dia sudah pergi selama tiga jam dan masih sendirian di sini—di dalam hutan. Atsumu menghela napasnya pelan, menggosok kedua telapak tangannya, guna mencari kehangatan melalui panas tubuhnya.
"Aku takut." Kata Atsumu.
Hutan benar-benar gelap, dia berharap setidaknya ada setitik cahaya saja yang meneranginya saat ini, dan kalau itu terjadi Atsumu akan sangat bersyukur. Selain itu, hutan ini terlalu sunyi. Atsumu tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara napasnya dan detak jantungnya sendiri.
"Kau tidak boleh berada di sini."
Atsumu terperanjat, terkejut bukan main dengan suara yang sangat halus itu.
"Si-siapa kau?" Atsumu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Nihil. Dia tidak menemukan apa-apa.
Sampai cahaya biru kecil seukuran kunang-kunang dalam jumlah yang cukup banyak bersinar mulai mendekatinya. Atsumu memutuskan untuk tidak bergerak, matanya terpana melihat belasan cahaya biru kecil itu berterbangan menerangi sekitarnya.
"Aku tidak bisa melihatmu," kata Atsumu pelan. "Apa kau bisa berbicara sekali lagi?"
Atsumu tidak mengerti kenapa dia sama sekali tidak takut. Kalau dalam situasi normal harusnya ia berteriak meminta pertolongan, dan pergi menjauhi suara asing itu. Tapi, di sinilah Atsumu berusaha untuk berkomunikasi lagi dengan makhluk asing itu.
"Aku di sini." Ucapnya lembut.
Suaranya benar-benar jernih, benar-benar memikat, Atsumu dengan senang hati mendengar suara itu seumur hidupnya, dan ia rela menukarnya dengan apa saja asal bisa mendengar suara itu lagi.
Atsumu semakin menajamkan penglihatannya ketika sosok itu mulai terlihat di hadapannya. Dia sedikit terperangah, rambut jingga yang berantakan, kulit seputih gading yang bersinar, bibirnya yang sewarna dengan cherry, serta wajahnya yang sangat imut—Atsumu tidak pernah melihat sosok secantik itu sebelumnya.
"Kau tidak seharusnya berada di sini." Ucap suara itu, "apa kau tersesat?"
Atsumu menganggukkan kepalanya kaku, "siapa kau?"
"Hinata Shouyou." Atsumu tersenyum dan berjalan mendekatinya. Lalu, ia berhenti tepat tiga langkah di depannya. "Namaku Miya Atsumu. Apa aku boleh menyentuhmu?" Mata Atsumu berbinar menatap makhluk cantik di depannya.
Hinata mengedipkan matanya sekali—dua kali, dan tertawa lepas. "Kau lucu sekali, Atsumu-san."
Atsumu berusaha keras menahan semu merah dikedua pipinya. "Shouyou-kun, sepertinya kau tidak pernah bercermin ya?" Ah, Atsumu dengan refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia kelepasan berbicara seenaknya. Atsumu merutuki kebodohannya, caranya berbicara pasti sudah menyinggung makhluk cantik di depannya ini.
Atsumu dengan takut mendongakkan kepalanya ke atas dan cukup terkejut melihat ekspresi Hinata yang sedang tersenyum cerah—secerah mentari. "Aku tidak terlalu yakin. Karena... kau tahu, aku tidak butuh cermin." Jawabnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Atsumu penasaran.
"Harusnya itu pertanyaanku," katanya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Hinata membalikkan pertanyaannya lagi dan tiba-tiba Atsumu merasa sangat hangat, seolah-olah dia tidak berada di tengah hutan sendirian dan kedinginan.
"Aku tersesat."
"Ingin ku antar keluar dari hutan ini?" Hinata menawarkan bantuan yang disambut gelengan kepala oleh Atsumu. "Tidak, aku masih ingin berada di sini."
"Apa kau mau menemaniku, Shouyou-kun?"
Hinata mengangukkan kepalanya dan duduk tepat di bawah pohon yang Atsumu tempati tadi. Tanpa ragu, Atsumu mengambil tempat di sampingnya. Tangan Hinata yang terlihat hangat dan bercahaya hanya berjarak satu lengan darinya.
"Aku ingin menyentuhnya." Batin Atsumu, tapi segera ia enyahkan pikiran itu dan hanya menatap Hinata dari samping.
"Sudah berapa lama kau di sini?" Hinata menatap ke dalam mata Atsumu, dan entah sejak kapan Atsumu tidak menyadari kalau wajah Hinata sudah berada sangat dekat. Sampai-sampai, ia bisa merasakan napas hangat Hinata di wajahnya.
"Aku tidak terlalu yakin, mungkin sekitar 3 jam."
"Berapa usiamu, Atsumu-san?" Tanya Hinata, mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"5 tahun."
"Kenapa kau berada di hutan sendirian?" Tanyanya lagi, Atsumu merasa bahwa Hinata sedang mencairkan suasana tegang yang menyelimuti mereka saat ini. Tanpa sadar Atsumu tersenyum, "kau bisa mengatakan aku lari dari rumah. Saudara kembarku yang menyebalkan melemparkan kesalahan kepada ku, dia bilang pada Ibu bahwa akulah yang memakan pudding tepat sebelum makan malam. Padahal dia sendiri yang melakukannya."
"Ibuku percaya padanya—ya karena orang-orang mengangap kalau Samu lebih baik dariku. Lalu, dengan marah aku membanting pintu rumah dan berlari ke sini—ke hutan ini." Atsumu bisa merasakan matanya mulai memanas lagi. Tapi dia tidak akan membiarkan ada air mata yang akan mengalir. Karena Atsumu tidak akan menangis, terutama di depan Hinata.
Hinata berdiri dan mengulurkan tangannya, Atsumu melihat Hinata lalu ke tangannya dan memutuskan untuk menggenggamnya. "Aku rasa saudaramu sedang terdesak, jadi dia melakukan itu padamu."
Atsumu mengernyitkan wajahnya menatap Hinata dengan pandangan tidak terkesan. "Kalau kau di sini hanya untuk menceramahiku, sebaiknya kau pergi saja." Kata Atsumu dingin, dia melepaskan pegangannya pada tangan Hinata dan kembali meringkuk di bawah pohon.
Hinata tetap tersenyum manis, melihat tingkah kekanak-kanakkan Atsumu. "Mau bermain manusia salju?" Atsumu menolak untuk menatap mata hazel Hinata. Karena ia tahu kalau dengan menatap mata itu maka tanpa ragu Atsumu akan mengatakan iya.
Menjengkelkan memang tapi mata hazel itu begitu bersinar di tengah kegelapan malam dan begitu indah hanya untuk sekadar diabaikan.
Atsumu masih diam dan tidak menanggapi pertanyaannya sama sekali. Lalu, tiba-tiba Atsumu merasakan adanya sesuatu yang keras seperti batang kayu memukul-mukul kepalanya pelan—seperti sedang mengelusnya.
Matanya menoleh ke depan dan Atsumu dapat melihat boneka salju yang nyaris sama dengan tingginya, tersenyum sangat lebar ke arahnya.
"Aku bisa membuat manusia salju lebih banyak untukmu, Atsumu-san." Hinata berputar tubuhnya dikelilingi cahaya biru muda yang cantik dan dalam hitungan detik sudah ada tiga manusia salju berjejer di depan Atsumu.
"Cantik." Atsumu tidak tahu apakah ia mengatakan pujian itu untuk manusia salju yang dibuat secara ajaib oleh Hinata atau mengagumi Hinata yang saat ini sangat bercahaya—sangat berkilau dan cantik seperti permata.
"Bagaimana kau melakukannya, Shouyou-kun?"
"Melakukan apa?" Hinata sudah berhenti berputar dan mengulurkan tangannya kembali ke arah Atsumu. "Mau menari denganku?"
Atsumu tersenyum sinis, siapa yang bisa menolak tawaran itu? Dan jawabannya tentu saja bukan Atsumu. Karena kini ia sedang berjalan mendekati Hinata dan menyetuh tangan hangat itu.
"Shouyou-kun, apa kau itu semacam peri?" Tanya Atsumu sambil mendongakkan kepalanya ke atas menatap Hinata yang menjulang tinggi di atasnya.
Atsumu jadi ingin segera bertumbuh besar dan menari sepanjang hari dengan Hinata. Atsumu menggenggam tangan Hinata dengan begitu lembut, memperlakukannya seperti boneka porselen yang sangat berharga. Ketakutan dan kekhawatirannya kini sirna tidak berbekas.
"Kau bisa menganggapku apa saja, Atsumu-san," katanya. "Aku akan menjadi apapun yang kau inginkan."
"Kalau aku menjadi makhluk super egois, itu akan menjadi salahmu, Shouyou-kun." Ucap Atsumu sambil tersenyum.
Mereka terus berputar dan menari di bawah sinar rembulan, tiga manusia salju yang dilihat Atsumu tadi juga ikut menari bersama mereka.
"Aku kesal dengan Samu." Kata Atsumu tiba-tiba.
Hinata menundukkan kepalanya, menatap mata cokelat Atsumu yang sedikit meredup. "Samu, payah, aku berharap aku tidak memiliki saudara." Hinata menghentikan tariannya, dan berlutut di depan Atsumu yang sedang menunduk dalam saat ini.
"Kau hanya sedang kesal, dan amarah tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baik." Kata Hinata lembut sembari mengusap air mata yang sudah mengalir di kedua pipi Atsumu.
"Atsumu-san, apa kau mau bertaruh denganku?" Atsumu mendongakkan kepalanya menatap mata hazel Hinata yang berbinar di tengah kegelapan. "Apa hadiahnya dan apa taruhannya?"
"Kalau saat kau pulang nanti, kau melihat Osamu-san menangis dan meminta maaf padamu. Maka aku menang dan berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pernah menangis lagi, Atsumu-san."
"Tidak di depanku." Lanjut Hinata.
Atsumu terdiam sesaat, lalu dipandanginya Hinata lekat-lekat. "Kalau aku menang, apa hadiahnya?"
"Kau bisa meminta apa saja padaku."
"Setuju." Atsumu menyetujuinya tanpa bertanya lebih lanjut. Ini pertaruhan yang tidak terlalu adil sebenarnya, tapi Atsumu sama sekali tidak keberatan. Dia tidak pernah melihat Osamu menangis sebelumnya—kalaupun pernah itu pun bukan untuknya.
Jadi dengan sangat yakin Atsumu akan memenangkan pertartuhan ini dengan Hinata. "Kau tidak akan berbuat curang?"
"Tidak, jangan konyol, Atsumu-san. Aku tidak suka cara kotor." Kata Hinata sambil tersenyum geli.
Saat Atsumu melihat ke langit di atas, bintang bersinar dengan terang, dan salju tidak turun malam ini. "Sudah berapa lama aku pergi?" Saat Atsumu sedang merenungkan banyak hal di dalam kepalanya, dia bisa merasakan sentuhan lembut yang mengusap punggungnya saat ini.
Hinata sedang memeluknya dengan erat.
Atsumu tanpa ragu membalas pelukan itu dan melingkarkan lengannya di leher Hinata. Dia bisa melihat cahaya biru kunang-kunang dan manusia salju membentuk lingkaran—mengelilingi mereka.
Padahal ini musim dingin di tengah hutan, tapi Atsumu sama sekali tidak merasa dingin. "Jangan pergi, Shouyou-kun." Kata Atsumu lirih.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana, Atsumu-san." Atsumu menghela napas lega dan tersenyum senang. Kata-kata Hinata terdengar sangat tulus dan meyakikan.
"Sudah saatnya pulang." Ucap Hinata.
.
.
.
Atsumu tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Tangan Hinata yang terasa hangat membuatnya merasa aman. Atsumu tidak menghitung sudah berapa lama mereka berjalan, sampai terdengar sayup-sayup suara yang memanggil namanya.
Mereka sudah berada di tepi hutan. Atsumu bisa melihat cahaya-cahaya berwarna kuning-jingga mewarnai jalanan di depannya.
"Sudah saatnya," kata Hinata. "Kau harus kembali pada mereka, Atsumu-san." Atsumu memandang ragu Hinata, mulai merasa ragu dengan keinginannya.
"Tsumu!" Teriak suara yang tidak asing di telinga Atsumu.
Mata Atsumu berkaca-kaca melihat Osamu yang berlari mendekatinya. Mata kelabunya memerah—ada sisa air mata di kedua pipinya.
Osamu menangis.
Lalu, Atsumu melepaskan genggaman tangannya dan berlari menuju Osamu. "Tsumu."
"Ya?"
Osamu menarik saudara kembarnya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku." Katanya.
Perlahan tapi pasti Atsumu mulai merasakan tarikan kesedihan yang perlahan-lahan mulai meninggalkannya. Bagian pundak bajunya basah karena air mata Osamu yang tidak henti mengalir sedari tadi.
Kedua Miya bersaudara itu mulai dikelilingi oleh penduduk yang ikut mencarinya. Mereka tersenyum lega melihat Atsumu kembali tanpa luka gores sedikit pun.
"Ayo, pulang." Kata Osamu sambil menarik tangan Atsumu bersamanya.
"Tunggu! Ada sesuatu yang ingin aku lakukan." Atsumu berlari ke arah Hinata yang masih senantiasa berdiri di tepi hutan.
"Shouyou-kun." Panggil Atsumu.
"Ya, Atsumu-san."
"Aku kalah," katanya. "Tapi, apa aku bisa meminta satu hal padamu?"
Hinata menganggukkan kepalanya, "tentu, apa itu?"
"Berjanjilah kalau kau tidak akan pernah meninggalkan ku." Kata Atsumu dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Atsumu-san." Kata-kata itu menembus ke dalam hatinya, lalu dengan mata yang berkaca-kaca—berusaha menahan tangisnya. "Aku berjanji tidak akan pernah menangis lagi—tidak di depanmu Shouyou-kun."
"Ya." Ucap Hinata pelan.
Atsumu melangkahkan kakinya menjauhi hutan, dan pulang menuju rumahnya. Kini Atsumu memiliki dua rumah yang akan selalu menyambut kepulangannya. Yang pertama adalah rumah yang ia tinggali sejak ia dilahirkan ke dunia ini—bersama dengan kedua orang tuanya dan Osamu.
Dan rumah di mana Hinata akan selalu ada di sana. Menantinya tanpa merasa lelah sedikit pun. Atsumu akan dengan senang hati pulang ke tempat di mana Hinata berada.
"Karena kau adalah rumahku. Rumah segala musimku, Shouyou-kun."
End.
A/N:
Selamat hari natal bagi yang merayakan! Merry Christmas! Walau tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Tapi semangat natal harus tetap ada.
