Rasa Yang Terlambat Diutarakan
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any profit.
.
Kakashi H., Sakura H.,
.
Summary :
Penantian lama itu ia kira akan menjadi kesempatan baginya. Namun, Kakashi sadar telah lama mengulur waktu hingga kesempatannya hilang.
for Ashley Chen16 and Purple'sSky09
note buat Ashley Chen16 : cheer up, dear! Walaupun ini isinya ga cheer up :v
hope you like it!
Kakashi hanya berkedip sekilas ketika jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 5.19 petang. Ketika kembali membuka mata, jam itu telah berubah menjadi pukul 5.49 petang waktu setempat. Ia terlonjak, melompat dari sofa tempatnya berbaring dan berlari tergopoh-gopoh menuju ke pintu depan, satu-satunya akses keluar dari apartemennya. Ketika berlari sekitar seratus meter di lorong, Kakashi berhenti dan menepuk dahi kesal. Sumpah serapah mengalir keluar dari bibirnya karena lupa mengambil kunci mobil. Padahal, di ponselnya sudah ada pengingat bahwa pria itu harus ke bandara pukul setengah enam.
Pria itu masuk dan keluar dari apartemennya dengan tergesa-gesa. Ia memakai jaket dengan alakadarnya sembari berlari. Tak sanggup menunggu lift yang segera tertutup sesaat ketika ia tiba, pria itu berbelok ke tangga darurat. Kedua kakinya dengan lincah menapak turun hingga lantai basement, berlari mencari mobilnya dan langsung menenggelamkan diri di kursi pengemudi. Lantas, pria itu memacu mobilnya keluar dari area apartemen tersebut.
Kakashi terus mengumpat karena kemacetan yang menjebaknya di antara kendaraan-kendaraan lain. Beberapa kali ia menyalakan klakson tapi hal itu tak memberikan perubahan. Ia lalu meringis dan melirik jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul enam lewat. Kepalanya celingak-celinguk mencoba melihat apa yang menyebabkan kemacetan ini. Namun, itu tak berguna sama sekali.
Mobilnya baru bisa bergerak 15 menit kemudian. Pria itu menyalib setiap kendaraan yang ada di depannya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak segan membunyikan klakson yang bisa saja membuat pengemudi lain mengumpat kesal. Setelah bergulat dengan jalan utama Yokohama, pria itu akhirnya ia sampai di Bandar Udara Haneda. Setelah memarkirkan mobilnya, Kakashi langsung berlari keluar dan menuju ke lokasi kedatangan. Beberapa orang berlalu lalang di sekitarnya, bahkan ada yang sempat disenggol. Pria itu masih tak menemukan orang yang dicarinya.
Ditambah, kakinya pegal karena dipaksa bergerak cepat saat nyawanya masih belum terkumpul sempurna.
"Kakashi!"
Kakashi spontan menoleh ketika mendengar panggilan itu. Ia menemukan seorang gadis berambut merah jambu yang sedang menggiring koper berjalan menghampirinya. Pria itu menghela napas lega dan menerima pelukan sekilas dari si gadis merah jambu.
"Masih terlambat lagi?" sindir Sakura. Pria itu menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk.
"Maaf, aku ketiduran."
Gadis bernama Sakura itu menggeleng pelan dengan senyum maklum, seolah sudah menduga akan seperti ini akhirnya. Ia terus melemparkan senyum pada Kakashi dengan alis yang naik turun. Kakashi yang super-duper clueless hanya bisa mengerjap bingung seperti orang bodoh. Lalu, bibirnya bergerak mengucapkan 'apa' tanpa suara. Wajah Sakura langsung cemberut.
"Tidakkah kau menyadari ada yang berbeda dariku?" ujar Sakura dengan nada sedikit kesal.
Ekspresi Kakashi yang masih bingung membuat suasana hati Sakura semakin buruk. Gadis itu mengembuskan napas jengah. Sepertinya ia menganggap bahwa Kakashi sengaja ngaret padahal pria itu berlari kesetanan kemari dengan nyawa yang masih terseret di belakang.
"Hm … kau memotong rambutmu?" tebak Kakashi. Asal, tentu saja.
Sakura menggeleng.
"Kalau begitu kau … mengubah gaya rambutmu?"
"Apa bedanya dengan yang kausebutkan tadi?" cibir Sakura jengkel. Ia berjalan mendekat ke arah Kakashi sehingga tubuh mereka sejajar.
"Lihat? Aku sudah lebih tinggi sekarang."
Kakashi mengerjap bingung sebelum mengeluarkan seruan 'ah' singkat. Lalu, wajahnya berubah sangsi.
"Kauyakin tidak sedang pakai high heels?"
"Aku pakai flat shoes, dasar kurang ajar!" bantah Sakura sambil memukul lengan kiri pria itu. Kakashi mengaduh dramatis dan mengusap lengannya. Ia terkekeh sekilas sebelum mengacak rambut gadis itu.
"Kau tidak lapar?"
"Lapar. Ayo makan, kau yang traktir," ujar Sakura yang langsung menyeret kopernya pergi mendahului Kakashi. Pria itu mengeluh sambil mengejar langkah Sakura yang semakin jauh. Ia langsung mengambil alih koper gadis itu dan menyeretnya dengan satu tangan sementara tangan lain merangkul bahu Sakura. Gadis itu terkikik geli.
Sakura memasukkan potongan daging lain ke dalam mulutnya dengan rakus. Di seberangnya, Kakashi hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa geli melihat semangat api dari gadis itu yang seolah ingin membunuh semua makanan di atas meja. Ia sudah menduga gadis itu akan tersedak dengan cara makan seperti kuli itu, lantas pria itu segera menyodorkan air putih.
"Makanya, makan pelan-pelan," cibir Kakashi.
"Astaga aku sangat rindu dengan yakiniku, kautahu? Rasa yakiniku di sana benar-benar tidak original," ujar Sakura setelah meneguk setengah gelas air.
"Dasar, memang umurmu berapa?"
Kakashi menyelesaikan makannya dengan segera. Ia hanya menyuruh Sakura meneruskan makannya kemudian beranjak ke toilet. Sakura hanya mengedikkan bahu dan membiarkannya.
"Jangan pulang diam-diam. Aku tidak bercanda saat mengatakan tidak punya uang saat ini."
"Kaupunya ginjal. Jual saja."
Sebelum Sakura melayangkan mangkuk berisi kuah panas itu, Kakashi langsung kabur ke toilet. Ketika memasuki bilik toilet yang kosong, pria itu merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya. Tangannya keluar memegang sebuah kotak beludru berwarna merah hati. Ketika dibuka, di dalam sana tersemat sebuah cincin berwarna keperakan. Kakashi mengeluarkan ponsel ketika merasakan benda itu bergetar di dalam saku celananya. Sebuah panggilan masuk pun diterima.
"Kau mengganggu saja," dengkus Kakashi tak suka. Terdengar suara kekehan di seberang sana dilanjutkan oleh suara berat khas lelaki.
"Ya … kami hanya ingin memastikan kau tidak grogi."
"Kau mengejekku, begitu?" balas Kakashi sarkas. Kemudian, terdengar suara wanita.
"Obito, jangan membuatnya semakin grogi! Jangan dipikirkan, Kakashi. Berjuanglah! Kau pasti bisa!"
Kakashi mendengkus geli. "Ya, terima kasih."
"Kakashi, kau sudah menunggu kesempatan ini selama 10 tahun, jangan menyia-nyiakannya! Ingat, ya! Yang pertama kali harus mendapat kabar itu aku dan Rin, ok?"
"Berisik! Akan kututup sekarang."
Kakashi memutus sambungan teleponnya dan kembali menaruh ponsel dalam saku. Ia menghela napas panjang sebelum beranjak keluar. Ketika sampai di mejanya, semua makanan telah ludes oleh Sakura.
"Kau lama sekali," keluh Sakura.
"Maaf, maaf." Kakashi hanya tersenyum kecut menanggapi omelan dari gadis itu. Ia masih memainkan kotak beludru di balik saku jaketnya untuk meminimalisir rasa grogi. Tangannya lalu menarik keluar kotak tersebut.
"Sakura?"
Gadis itu langsung menatapnya dengan wajah bingung. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan tanpa sengaja Kakashi menangkap sesuatu yang tersemat di jari manis gadis itu. Kakashi terdiam dengan Sakura yang masih penasaran.
"Ada apa, Kakashi?"
Kakashi meneguk ludah sekilas. "Di tanganmu itu ...," gumamnya. Suaranya seperti orang yang tercekik.
Sakura langsung menyadari apa yang dilihat oleh Kakashi. Ia langsung membawa tangan kirinya ke depan dan menggenggamnya dengan tangan kanan. Wajahnya tampak sedikit tersipu.
"Sebenarnya aku ingin menjadikannya kejutan, tapi karena kau sudah melihatnya jadi …." Gadis itu mengangkat kepalanya dan melempar senyum malu-malu, "aku akan menikah."
Kakashi kehilangan kata-kata sehingga ia lambat merespons. Ia berdehem untuk meredam gejolak yang meledak-ledak di dalam dirinya. "Selamat, ya," ujarnya bersamaan ketika ia kembali memasukkan kotak beludru yang sempat dikeluarkan ke dalam saku jaket.
"Terima kasih."
Kecanggungan tiba-tiba tercipta di antara mereka. Sakura berdehem pelan untuk mencairkan suasana ini dan berceletuk pelan.
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku merasa agak lelah," ujarnya.
"Ah, ya, baiklah. Akan kuantar pulang."
Keduanya berjalan meninggalkan restoran dan tenggelam dalam keheningan di mobil. Kakashi melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata. Jarak rumah Sakura dan restoran tadi tidaklah begitu jauh. Entah Kakashi harus bersyukur kecanggungan ini berakhir atau menyesal karena mungkin inilah kali terakhir ia bisa melihat Sakura.
Pria itu membantu Sakura menurunkan koper dari bagasi.
"Kau tidak masuk dulu? Aku yakin ayah dan ibu ingin bertemu denganmu. Mereka bilang kau saking sibuknya sampai tidak pernah berkunjung dan hanya mengirim parsel buah."
Kakashi meringis pelan.
"Kurasa tidak untuk malam ini. Aku harus bersiap-siap."
Sakura mengerjapkan mata. "Bersiap-siap? Mau ke mana?"
"Tidak, hanya persiapan untuk ujian."
Sakura menepuk dahi. "Ah ya, ujian penerimaan dosen, 'kan? Semangat, aku yakin kaubisa!"
Seharusnya semangat itu bisa menjadi energi positif bagi Kakashi. Namun, pria itu merasakan kebimbangan besar serta rasa syok yang disembunyikan di balik senyum paksa.
"Terima kasih. Kau juga, berbahagialah."
Sakura terkekeh sambil memukul lengan Kakashi lagi.
"Jangan berkata seolah kita tidak akan bertemu lagi, bodoh. Aku hanya menikah, bukannya pindah ke planet lain. Lagipula, aku sudah menceritakan tentang dirimu-"
Kakashi menepuk puncak kepala Sakura, menginterupsi ucapan gadis itu. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang dibalas penuh suka cita oleh Sakura. Kakashi menyelipkan kotak beludru miliknya ke dalam saku jaket sahabatnya itu.
"Kakashi apa yang kau letakkan di sana?"
"Hadiah dariku. Tidak masalah kaumau memakainya atau tidak. Aku hanya akan merasa lega setelah memberikannya."
Pria itu melepas pelukannya kemudian kembali mengacak rambut Sakura.
"Aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada paman dan bibi."
Sakura mengacungkan jempol. "Pasti!"
Kakashi kembali masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Ia menoleh sekilas pada Sakura yang tersenyum ke arahnya. Pria itu merasa seperti seorang pengecut karena tidak membiarkan gadis itu masuk terlebih dahulu dan malah kabur seperti ini.
Namun, ia juga seorang manusia yang memiliki perasaan.
Kakashi memasang senyum terakhirnya sebelum melajukan mobil menjauh dari kediaman Sakura. Jalan sepi dan langit malam yang kelam menemani patah hatinya.
Sakura menatap mobil Kakashi yang semakin ditelan jarak. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sesuatu yang Kakashi selipkan di dalam sana. Ketika membuka kotaknya, Sakura terdiam. Tak lama, air matanya pun mengalir.
"Kenapa kau sangat terlambat, Kakashi?"
Nasi telah menjadi bubur. Tak akan ada lagi yang bisa berubah saat ini. Inilah takdir yang ada.
