Tracing that Dream

Haikyuu!

©Haruichi Furudate

Tidak ada keuntungan materi yang diterima penulis dalam menulis fanfiksi ini.


Warning: BxB fic, SunaOsa. Tidak sesuai kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya ini humor if you read this with a lil effort :'). Inspiration: Yoasobi - Ano Yume wo Nazotte.


Osamu sejak kecil mempunyai kemampuan yang unik.

Pertama, ia akan terlelap dalam tidurnya dan bermimpi. Lalu kejadian yang ia alami dalam mimpinya itu akan terwujud kemudian hari.

Bukan mimpi mengenai hal besar seperti perekonomian negara yang meningkat ataupun perdana menteri yang menjabat di periode selanjutnya. Bukan pula mimpi tentang apakah ia akan memenangkan pertandingan interhigh maupun soal ujian mendatang.

Hanya mimpi mengenai kejadian kecil di keseharian hidupnya.

Seperti ia bermimpi memakan es krim edisi Sakura terbatas. Dan ia mendapatkannya dua hari kemudian, dibelikan oleh ayahnya untuk Osamu dan juga Atsumu.

Mimpi Osamu bermain di taman bunga, yang ternyata itu adalah taman bunga milik neneknya yang akan dikunjungi seminggu lagi saat liburan musim panas.

Pun mimpi bahwa dia sekelas lagi dengan Atsumu saat malam sebelum akhirnya esok pagi masuk sekolah.

Hm mimpi buruk kalau yang terakhir. Osamu bangun tidur dengan muka merenggut seharian saat itu.

Osamu tak terlalu memikirkannya. Mimpi-mimpi tersebut hanya hal kecil. Osamu tak pernah mempermasalahkannya (kecuali yang terakhir disebutkan olehnya).

Oh, bukan hanya Osamu yang memiliki kemampuan unik ini. Atsumu pun mempunyai kemampuan serupa dengannya.

Namun Atsumu mungkin tak menyadarinya. Bahkan Osamu tak berniat menyadarkannya. Biarkan saja.

Osamu menduga, mungkin mimpi prediksi yang ia dan Atsumu miliki ini merupakan kemampuan garis keturunan dari kakeknya. Mengingat bundanya pernah menceritakan bahwa kakeknya pernah mengalami hal serupa. Bertemu dengan neneknya dalam mimpi sebelumnya akhirnya bertemu di dunia nyata. Kejadiannya persis seperti di mimpi.

Atsumu tak menyadari hal itu, dan berujung selalu membual padanya tentang deja vu ini dan itu. Wajar sih tak sadar, saat bundanya menceritakan itu 'kan Atsumu sudah tertidur lelap. Berpikir bahwa bundanya sedang mendongeng.

Dan yang Osamu lakukan hanyalah mendengarkan lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan tiap kali Atsumu mengoceh. Meski tadi sekilas Osamu mendengar Atsumu berbicara es krim trico.

Ngomong-ngomong Osamu jadi ingin es krim. Mungkin ia akan membelinya saat pulang sekolah nanti.


Osamu pernah bermimpi saat masih duduk di bangku SMP. Tentang lelaki bermata sipit yang selalu berjalan bersamanya di koridor sekolah. Koridor sekolah yang asing, tak ia kenali. Dengan ponsel dalam genggamannya tanpa non-stop dilepas.

Lalu mimpinya berlanjut layaknya series televisi di malam berikutnya. Osamu dan lelaki itu kemudian bertukar kontak.

Malam berikutnya, Osamu dan lelaki itu makan siang bersama di kelas.

Lalu berikutnya lagi, mereka ternyata bermain voli di ruang olahraga sekolah yang tidak ia kenali. Ruang olahraga di sekolahnya ditempeli stiker pada pintunya. Sementara dalam mimpinya, ruang tersebut terlihat lebih besar dan keren?

Mimpinya terus berlanjut. Kejadian kecil yang berada dalam bunga tidurnya, menghangatkan hati Osamu tiap terbangun di pagi hari. Osamu tak pernah bermimpi sedemikian rupa, berlanjut tiap malam dengan orang yang sama.

Ingin rasanya menceritakan kepada Atsumu, tapi ia urungkan. Atsumu ember, tidak cocok menjadi tempatnya bercerita.

Saat ia memasuki SMA, mimpi itu perlahan berkurang. Ah, maksudnya ia tetap sering bermimpi. Namun mimpinya bersama lelaki bermata sipit itu justru tak ada lagi.

Osamu agak rindu. Rindu dengan dengan lelaki yang berada dalam bunga tidurnya.

Osamu dan Atsumu sekelas pada tahun pertama di Inarizaki. Osamu tidak memimpikannya, tapi sudah menduganya juga.

Menyebalkan.

Mereka mengisi surat voli bersama, meskipun sempat bertengkar di meja pendaftaran. Memperebutkan siapa yang akan mengisinya terlebih dahulu. Lalu merebutkan pulpen. Kertas masing-masing sudah lecek. Pertengkaran itu berakhir dengan seorang senpai yang memisahkan mereka dengan tatapan menusuk dan tajam.

Atsumu dan Osamu takluk.

Aran yang awalnya berusaha memisahkan mereka pun ikutan takluk dan takut.

Suara decitan kaki memenuhi pendengaran Osamu. Voli yang memantul dan teriakan serta canda menyadarkannya.

Oh.

Gymnasium ini bukankah terlalu sesuai dengan bunga tidurnya saat ia masih SMP?

Osamu sudah menduga, tapi ia tetap kaget. Ada banyak anak kelas satu sepertinya yang mendaftar voli.

Terlalu lama untuk perkenalan, namun terlalu cepat untuk latihan tanding melawan senpai di pertemuan pertama.

Mana pun tidak penting, Osamu akan tetap memukul bola voli yang terlempar ke arahnya. Meskipun lawannya itu senpai mereka.

Bersaing dengan kembarannya, dalam hal serve, receive, dan toss. Meskipun ia bukan setter. Karena ia tentu saja tak ingin kalah dari Atsumu.

Tanpa menyadari, seseorang di pinggir lapangan yang sedang menunggu giliran main, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Satu tahun berlalu, dan akhirnya Osamu merasakan kebahagiaan untuk pertama kali dalam hidupnya.

Ia tak sekelas dengan si tengil Atsumu!

Osamu bersenandung sepanjang perjalanan menuju kelasnya. Memikirkan kehidupan di kelasnya berjalan dengan tenang. Tanpa keluhan Atsumu yang mengatakan tugas sulit, rengekan Atsumu meminta bekalnya, maupun amukan Atsumu saat Osamu tak mau latihan voli karena tak enak badan.

Osamu memilih duduk di belakang. Meletakkan tasnya di kolong meja dan memainkan ponsel.

"Hey, apakah kursi di sebelahmu masih kosong?"

Osamu mendongak, menatap lelaki yang menatapnya dengan tatapan malas?

Osamu tak tahu apakah itu tatapan malas atau bukan, namun ia hanya mengangguk sebagai respon pertanyaan sebelumnya yang dilontarkan lelaki itu.

Lalu Osamu merasa familiar dengan lelaki tersebut pada beberapa kedipan mata selanjutnya.

"Apa kita pernah bertemu?" tanya Osamu saat lelaki itu telah duduk di sebelahnya.

"Tentu saja pernah." Osamu terkejut.

Ia baru ingat sekarang, bukankah ia pernah bermimpi tentang orang yang sekarang duduk di sebelahnya ini?

Dan apakah lelaki ini juga memimpikannya? Bertemu dalam mimpi sama sepertinya?

"Sungguh?" tanya Osamu pelan, berusaha memastikan dengan tidak tergesa-gesa.

"Ya tentu saja, kita 'kan mengikuti klub voli yang sama." balas laki-laki itu cuek, lalu memainkan ponsel.

Osamu merasa sedikit kecewa. Ia menunduk sejenak, lalu mengambil langkah selanjutnya untuk memperkenalkan diri.

"Namaku Miya Osamu, namamu?" tanya Osamu mengulurkan tangannya.

Osamu merasa bahwa ia harus berkenalan karna rasa bersalah tidak mengenali teman satu klubnya.

"Suna Rintarou. Salam kenal." balas Suna, nama lelaki itu dengan senyum kecil terukir sembari membalas jabatan tangannya.

Osamu sudah mengetahui bahwa ia akan bertemu dengan Suna Rintarou (seseorang yang bahkan belum ia kenal sebelumnya).

Namun mengapa dirinya tetap merasa gugup dan terkejut?

Osamu merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Dan ia berharap Suna tak mendengar maupun menyadarinya.


Osamu sudah memprediksi semuanya. Berjalan bersampingan dengan Suna di koridor sekolah, menuju ruang olahraga. Bertukar kontak ponsel dengan Suna. Pulang berdua dengan Suna.

Em, ralat. Pulang bertiga dengan Atsumu.

'Huh, penganggu.' Pikir Osamu kala itu.

Osamu juga sudah mengetahui bahwa mereka akan makan siang bersama di kelas. Meski Osamu tak membagi isi bekalnya. Tapi perlahan, seiring berjalannya waktu ia mulai membagi onigirinya pada Suna.

Hanya satu.

Dari sepuluh onigiri yang dibekalkan oleh bundanya.

Membuat Atsumu merasa disaudara tirikan. Karena Osamu tak pernah mau memberi bekalnya pada Atsumu.

Lalu Osamu dan Suna menjadi sering bermain voli bersama. Entah dalam latihan atau pertandingan. Padahal waktu kelas satu, ia tak pernah bermain bersama Suna sekalipun. Makanya ia tak mengenal Suna meskipun mereka satu klub sebelumnya.

Semua kegiatan yang mereka lalui sudah Osamu ketahui akan terjadi. Osamu sudah dapat menebaknya dengan mudah.

Tapi, yang tidak dapat ia tebak dari semua kejadian yang akan terjadi adalah perasaannya.

Perasaan yang tumbuh seiring kebersamaanya bersama Suna.

Perasaan yang membuat degup jantungnya berpompa lebih cepat dari biasanya.

Osamu takut.

Takut bahwa perasaannya ini akan ditolak oleh Suna. Apalagi, ia tak pernah memimpikan Suna.

Maksudnya, semenjak ia memasuki Inarizaki Suna tak pernah hadir lagi dalam mimpinya.

Terakhir pun ia hanya bermimpi bahwa ia akan mengalami remedial. Dan benar terjadi.

Yah, Osamu sudah menduganya sih. Mau bunga tidur atau tidak, remedial memang sudah menjadi bagian dalam hidupnya.

Menyedihkan:(


Suna selalu terlihat tenang dalam situasi apapun. Suna yang rajin membayari onigirinya di minimarket seberang sekolah. Membelikannya susu kotak tiap pagi. Entah apa motifnya Osamu tak tahu.

Mungkin karena mereka adalah sahabat?

Suna terlihat tampan sore itu, saat mereka pulang bersama.

Hanya berdua. Rambut yang tertiup angin dan mata yang terfokus pada ponsel.

Osamu perlahan menjadi gugup dan canggung. Biasanya ada Atsumu yang selalu berisik, mencairkan suasana di antara Suna yang pendiam dan Osamu yang kalem. Tapi sekarang ia sudah berada di rumah terlebih dahulu karena sakit.

"Apa di wajahku ada yang aneh Sam?"

Osamu tersentak lalu mengalihkan pandangannya.

"Uh, aku penasaran kenapa kau selalu menatap ponsel?"tanya Osamu, melontarkan pertanyaan yang pernah memenuhi kepalanya.

"Karena ada sesuatu yang menarik, hanya itu." balas Suna.

Kemudian Suna mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku. Mereka pulang tetap dalam keadaan hening. Berpisah di ujung jalan karena arah rumah yang berbeda.

Osamu menatap punggung Suna yang perlahan menjauh, lalu melanjutkan langkahnya. Menatap langit senja yang terlukiskan warna jingga, dengan sekumpulan pertanyaan di otaknya.

Dan berbagai perasaan tak menentu di hatinya.


Menuju liburan musim panas, murid-murid tak luput dari ujian akhir semester.

Belajar, dan belajar.

Guna nilai yang memuaskan.

Sebenarnya, agar waktu bermain voli tak berkurang sih bagi Atsumu dan Osamu.

Setelah babak belur menerima materi yang diajarkan dari Kita-senpai, akhirnya untuk pertama kali dalam kehidupan sekolah Miya kembar ini, mereka lulus dari ancaman remedial.

Atsumu sudah menangis terharu dan berpidato ala presiden di panggung gymnasium. Mengucapkan terima kasih yang mendalam pada Kita-senpai dan rekan voli lainnya karna nilainya diatas rata-rata kelas.

Aran hanya tertawa mendengar pidato lebay dari Atsumu dan Kita-senpai yang terlihat bingung dari arah pintu.

Suna juga tertawa dan merekamnya dalam ponsel, sebagai bahan blackmail, ucapnya.

Osamu hanya menatap kembarannya itu datar.

'Dasar lebay.' pikirnya.

Lalu pertanyaan sepintas di otaknya terlontar begitu saja.

"Tsumu menarik ya?" tanya Osamu.

"Sebagai bahan bully, iya." balas Suna.

"Kau merekamnya karena dia sebenarnya menarik 'kan?" tanya Osamu lagi.

"Untuk bahan blackmail dan diunggah di base sekolah?" jawab Suna, nadanya justru terdengar seolah bertanya. Membuat Osamu agak jengkel.

"Tsumu memang menarik, fansnya pun banyak. Di sekolah tetangga pun ia terkenal. Ya wajar." balas Osamu sembari mengendikkan pundaknya. Osamu tak tahu apa yang merasukinya, sehingga melontarkan perkataan seperti itu.

"Osamu juga tak kalah menarik. Apa kamu juga mau wajahmu dipotret dengan ponselku, Samu?' tanya Suna tersenyum kecil, seakan menggodanya.

Osamu tersentak, lalu merasa malu.

Kok jadi terdengar seperti dirinya cemburu dan Suna menyadari hal itu?

Osamu hanya menggeleng lalu pergi menuju Aran, meninggalkan Suna. Osamu merasa malu jika terlalu lama berduaan dengan Suna dalam suasana seperti tadi.

Osamu kala itu tidak menyadari, Suna tersenyum kecil akan tingkahnya.

Osamu yang terlihat malu-malu dengan pipi yang perlahan memerah membuat otak Suna korslet mendadak.

Terlalu menggemaskan.

Suna terkekeh, membuat Akagi yang baru memasuki gymnasium menatapnya aneh. Jarang sekali Suna tersenyum dan tertawa seperti itu.

Akagi berpikir, mungkin memang pidato Atsumu kala itu dapat mengugah hati banyak orang, termasuk Suna.


Minggu pertama liburan musim panas, klub voli mengadakan kemah pelatihan. Dalam kemah pelatihan terdapat latihan tanding dengan sekolah-sekolah yang berada di wilayah Hyōgo.

Minggu kedua, Atsumu dan Osamu dikirim oleh bundanya untuk berlibur di rumah neneknya. Osamu senang-senang saja, sebab neneknya itu sangat baik dan selalu menyediakan berbagai macam makanan.

Minggu ketiga hanya mereka habiskan di rumah.

Oh, bukan. Kita-senpai mengingatkan tugas musim panas di grup, membuat Atsumu menangis dengan lebay. Akhirnya Aran dengan baik hati mengajak Osamu dan Atsumu mengerjakan tugas bersama. Tidak hanya mereka, ternyata ada Suna juga bersama dengan Kosaku dan juga Ginjima.

Padahal baru dua minggu tak melihat Suna, tapi begitu melihatnya lagi, Osamu merasa ada yang meletup-letup dalam dirinya. Osamu tak yakin apa itu.

Mereka hanya bertegur sapa dan berbincang sebagaimana mestinya terjadi saat di sekolah. Namun, saat itu Osamu sedang menahan mati-matian rasa senangnya. Menahan senyumnya.

Malamnya saat sudah pulang dari rumah Aran, Osamu kembali bertemu dengan Suna dalam bunga tidurnya. Osamu melewati hari dan malamnya dengan begitu menyenangkan.

Sabtu, 31 Juli xxxx.

17.13

Osamu menatap layar ponselnya yang menunjukan informasi tersebut.

'Akhir bulan Juli memang selalu ada festival ya.' batinnya.

Bergegas mandi, lalu bersiap dan menghampiri Atsumu yang sudah memanggilnya di depan rumah. Oh, iya. Aran dengan kebaikan hatinya dan rasa persahabatan yang erat (?) mengajak mereka mengikuti festival matsuri.

Hanya anak kelas dua dari klub voli inti. Sebenarnya, segan mengajak anak kelas tiga. Dan anak kelas satu menolak secara halus saat telah diajak oleh Aran.

Osamu sudah siap sedia dengan dompet yang penuh. Hasil membujuk ibunda memberikan uang lebih untuknya berburu makanan di festival. Kebaikan hati nenek yang memberi uang saku saat berlibur. Melakukan pemorotan uang pada ayahnya tiap kali pertandingan sepak bola klub favorite ayahnya itu kalah.

Osamu siap bertempur. Mungkin wajahnya datar, tapi semangatnya menggebu-gebu.

Atsumu, Aran, Ginjima, Kosaku, Suna, dan Osamu.

Berangkat berenam, namun nyatanya mereka berpencar sekarang. Osamu baru menyadari mereka berpencar saat ia sudah menghabiskan dua bungkus takoyakinya.

"Sudah kenyang?" tanya Suna, mengejutkannya.

Osamu menggeleng, memang belum kenyang nyatanya.

"Yang lain mana?' tanya Osamu.

"Berpencar. Mencari makanan, bermain, ga tahu lagi." balas Suna.

Okeh, Osamu merasa canggung sekarang. Hanya berdua bersama dengan seseorang yang ia sukai di festival.

Terdengar seperti kencan saat festival?

Tunggu, sejak kapan juga ia mengakui bahwa ia suka dengan Suna?

Osamu menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pemikirannya.

"Kau tak membeli apa-apa?" tanya Osamu mulai berdiri, ingin berburu lagi.

Suna hanya menatapnya sekilas lalu mengedarkan pandangannya.

"Onigiri."

"Okeh, ayo kita cari." balas Osamu mulai berjalan.

Suna segera berjalan di sebelah Osamu, lalu menggenggam tangannya. Osamu mengernyit heran, dan dijawab oleh Suna, "agar tidak terpisah."

Osamu berusaha menyingkirkan rasa malunya. Sepanjang mereka berburu makanan (hanya Osamu nyatanya, Suna hanya menemani saja), genggaman mereka hanya terlepas saat akan membayar dan memakan makanan saja.

Osamu merasa senang sekaligus gugup. Osamu berharap, mukanya tidak memerah karena ia merasa wajahnya panas sekarang. Kalaupun memerah, ia berharap Suna tak mengetahuinya.

Ia terlalu senang akibat tangannya yang digenggam oleh Suna. Tangannya menggenggam dengan begitu erat dan hangat.

Mereka sibuk dengan berburu makanan, topik pembicaraan yang Suna angkat, serta beberapa permainan yang iseng-iseng mereka ikuti.

Terasa seperti kencan sungguhan, eh?

Puncak dari acara, penyalaan kembang api akan segera dimulai. Dengan segera, Suna menariknya. Entah menuju ke mana. Karena Osamu tak fokus memperhatikan jalan.

Fokusnya hanya pada cumi-cumi panggang pada tangan kirinya agar tidak jatuh dan tangan kanannya yang digenggam Suna.

Lalu punggung Suna yang terlihat kokoh dari belakang karna ia sibuk mengikuti Suna. Osamu berharap suatu hari nanti ia bisa bersender di punggung itu.

Lalu rambut Suna yang tertiup angin. Oh, Osamu baru sadar rambut Suna memanjang.

'Mungkin karena libur ia merasa malas memotong rambutnya?' Pikir Osamu.

Mereka akhirnya tiba di tempat yang lumayan sepi. Osamu hendak bertanya di mana mereka sekarang, namun suara kembang api mengejutkan mereka. Osamu melupakan pertanyaannya, ia terlalu fokus pada kembang api yang terlihat indah dan menakjubkan.

Suna ternyata menariknya menuju spot lokasi yang membuat letusan kembang api terlihat semakin mempesona.

"Osamu." suara Suna terdengar samar, tertutupi kencangnya suara kembang api yang berbalas-balasan.

Osamu menoleh, Suna yang sedang menatapnya dengan serius. Membuat wajahnya terasa memanas dan kakinya terasa seperti jelly yang baru saja ia makan tadi.

"Aku menyukaimu." suara Suna terdengar lebih samar dan sebelumnya.

Bahkan nyaris tak terdengar, karena suara kembang api yang semakin besar dan banyak di langit. Membentuk bunga api yang begitu indah.

Osamu merasa jantungnya memompa dengan begitu cepat, hingga merasakan wajahnya memanas mendengarkan pernyataan Suna. Osamu rasa jantungnya bisa saja loncat dari tubuhnya sekarang.

Osamu menahan nafas saat wajah Suna mulai mendekatinya.

Ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.

Dan terasa nafas Suna yang menerpa wajah Osamu.

Osamu memilih menutup matanya saking gugup dan malunya.

Suara di sekelilingnya yang awalnya berisik akibat suara petasan dan kembang api yang mengelegar akhirnya terdengar buyar lalu hening.

Osamu membuka matanya perlahan.

Dan menemukan langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Sinar mentari mengintip-ngintip malu dari balik gorden kamar.

Osamu menghela nafas.


Osamu segera bangun dari tidurnya, termenung, lalu menuju kamar mandi.

'Apa aku terlalu senang bertemu Suna kemarin hingga memimpikannya?' pikir Osamu sembari menyiramkan air pada badannya.

Memakai baju lalu menatap bukunya di atas meja, yang sudah terisi jawaban. Osamu melamun. Mimpinya terasa begitu nyata dan Osamu hanya dapat senyum-senyum sendiri.

'Apa mungkin Suna menyukaiku ya.' pikir Osamu dalam lamunannya.

Drrrtt

Drrrtt

Lamunan Osamu buyar karena ponselnya berdering.

Osamu meraih ponselnya dan menyalakannya. Pandangannya tertegun pada tanggal yang tertera pada layar ponselnya.

24 Juli xxxx

08.34

Dentingan jarum jam terdengar bergema dalam pendengarannya dan akhirnya muka Osamu memerah dengan sempurna karena menyadari sesuatu.


FIN


a/n:

aaaaaaaa susah banget bikin hubungan sunaosa ya hiks, mereka berdua terlalu pendiem. Aku yang greget mau bikin mereka langsung banyak ngobrol hueee.

btw ini ff terinspirasi dari MV Yoasobi – Ano Yume wo Nazotte. Aduh aku selalu meleleh tiap nonton mv itu wkwkw, manis banget maknanya hiks (merasa sedih karna hidupnya tak semanis lagu itu).

Oh iya, coba tebak kenapa muka Osamu memerah di ending wkwkwkw.

Aku udah pernah nulis ini sih di wkwkwk tapi akhirnya kuputuskan untuk pindahin aja ke sini hmmm

Makasih udah baca sampai akhir! Sampai jumpa di ff lainnya hehe!

pspsp, ada bonus di bawah.


OMAKE


"Samu! Aku ketemu laki-laki yang jerseynya mirip es trico loh kemarin! Yang pernah aku bilang de javu itu! Sumpah orangnya jutek tapi ganteng?" ujar Atsumu yang tiba-tiba memasuki kamar saat Osamu masih termenung menatap ponselnya.

Osamu masih diam, berusaha menahan rasa terkejutnya akibat curhatan Atsumu yang tiba-tiba.

"Memang aku tuh sering de javu tahu! Atau sekarang jadi tukang ramal ya? Hahaha." balas Atsumu lagi, membuat telinga Osamu berdengung.

"Ya, ya. Apa pun itu baguslah." balas Osamu seadanya.

"Oh iya, Aran ngajak kita ikut festival bareng." kata Atsumu sembari merebahkan diri di kasur.

"Kapan?" tanya Osamu agak parau.

Atsumu membuka ponselnya, lalu menunjukkan pada Osamu.

"Nih hari Sabtu, tanggal 31. Jangan lupa siapin banyak uang, banyak makanan enak tuh." Balas Atsumu, udah mulai mengoceh banyak hal mengenai festival nanti.

Muka Osamu yang sebelumnya sudah memanas sebelum Atsumu memasuki kamar, makin terasa memanas.

Atsumu menyadari hal tersebut dan terkejut.

"Bundaaaaaa, Samu demam mukanya merah semua." Teriak Atsumu sembari keluar kamar.

Selain lebay, Atsumu juga terlalu polos (nyerempet bodoh) menurut Osamu.


FIN beneran.