"Dari dulu aku selalu penasaran." Blaze mengarahkan pandangan ke Halilintar yang sedang menyuapkan sesendok besar es krim pisang ke dalam mulut.
"Penasaran kenapa?"
"Sebenarnya ada apa sih, di antara Bang Hali dengan Solar?" tanya Blaze kepo.
Halilintar memasang tampang mirip kambing kejepit pintu lalu terbatuk—separuh karena kaget dengan pertanyaan Blaze, separuh lagi karena es krimnya bikin gigi ngilu. Ice menepuk lembut pundak kakaknya itu lalu menyodorkan segelas air karena dia anak baik, dan Halilintar langsung menenggak habis isinya.
"Jadi," kata Blaze, ketika tampang kambing-kejepit-pintu Halilintar luntur sempurna, "Bang Hali nggak suka sama Solar?"
"Hah?" Halilintar mengernyit. "Memangnya kenapa?"
"Cuma penasaran sih, lagipula Bang Hali jarang kelihatan dekat dengan Solar."
Halilintar menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, berusaha mengurangi kecanggungan suasana yang ada. "Bukan nggak suka sih, cuma…"
"Jangan-jangan…" Blaze menelan ludah dan memandangi kakaknya seperti kurma terbang. "Bang Hali benci Solar?!"
"Ngaco, mana ada!" potong Halilintar. Dia menjejalkan seluruh sisa es krim ke dalam mulut, supaya bisa ambil es krim baru, sebelum Ice yang rakus mulai meludahi setiap es krim yang ada.
Ice yang daritadi hanya menyimak kini mengusap dagu dan memutuskan untuk ikut bergabung dalam acara 'Gosip Ekslusif Elemental Bersaudara'.
"Solar juga begitu. Semua serba dijadikan ajang persaingan dengan Bang Hali, mulai dari battle dangdut sampai acara tembak-tembak air. Aku enggak tahu dengan pendapat Solar, tapi Bang Hali sendiri bagaimana?"
Tangan Blaze meraup es krim Halilintar di lantai yang dibiarkan terbuka dan melahapnya cepat-cepat. Ice mengemut sendok es krim sambil memeluk bantal sofa erat-erat, memandangi Halilintar. Dia bergeming, menunggu sampai sang kakak menjawab pertanyaannya. Jarang sekali Ice tertarik dengan pergosipan keluarga. Mungkin virus kepo Blaze telah sukses menjangkiti seluruh tubuhnya. Halilintar yang tidak mau dipelototi terus, akhirnya menyerah.
"Oke, oke. Sebenarnya aku nggak suka dengan topiknya dan ini akan menjadi bahasan yang nggak asyik."
Ingatkan Halilintar untuk membebat Blaze menjadi lemper dengan daun pisang nanti.
"Seperti yang sudah kubilang aku bukannya nggak suka dengan Solar," kata Halilintar. Dia mengambil sesendok es krim dari kemasan baru sebelum melanjutkan. "Dia anak yang baik sebenarnya, biarpun sedikit narsis dan selera pakaiannya selalu bikin sakit mata. Sifatnya yang sekarang kadang-kadang memang agak menyebalkan, tapi bagaimanapun juga aku tetap sayang padanya."
"Wah, wah, apa yang baru saja aku dengar dari abang kesayangan kita semua ini, hm?"
Halilintar membeku. Dari belakang, sepasang tangan muncul dan menariknya ke dalam pelukan. Sang pemilik tangan menyandarkan kepala di pundak, memegangi sendok di tangan Halilintar, dan mengarahkan sendok tadi ke mulutnya sendiri. Halilintar mulai memandangi sendoknya seperti melihat pasien rabies.
"Enggak usah malu-malu begitu. Kuakui, aku memang selalu menganggap Bang Hali sebagai rival, tapi aku juga sangat menghormatimu sebagai big brother yang pantas untuk dibanggakan," kata Solar sambil melepaskan kacamatanya, berusaha tampil kece di depan abangnya.
Halilintar diam sebentar. Dia melepaskan tangan Solar yang bergelayut di pundaknya lalu berdiri dan mendekati tempat pencucian piring. Sendok yang tadi dipakai Solar dibanting ke dalam wastafel dengan ganas, membuat adik-adiknya yang menyaksikan langsung menganga.
" WHAT? KENAPA KAU BANTING SENDOKNYA BROTHEER?!"
"Aku nggak mau pakai bekas mulutmu. Nanti ketularan alay," gumam Halilintar. "Najis."
Solar yang tidak terima mulai mengocehkan sesuatu sepanjang lima ratus paragraf pada Halilintar sambil mengikutinya ke luar ruangan. Ice dan Blaze cuma melongo menyaksikan adegan drama singkat barusan, lalu pura-pura menjadi ubin pelahap es krim sambil mengingat-ingat kapan Halilintar dan Solar punya momen akrab abang-adek yang manis.
"Momen abang-adek Bang Hali dengan Solar, hm…"
Blaze menjatuhkan diri ke lantai lalu mengusap-usap karpet. Sepertinya dia berharap ada jin yang muncul dan memberinya jawaban.
"Kayaknya nggak ada, deh."
"Ada, kok!"
Ice dan Blaze menoleh ke arah pintu, menemukan sosok Gempa yang bergaya ubur-ubur di sana.
"Bang Gem nguping, ya?" tanya Ice.
Gempa cuma tersenyum kalem dan ikut bergabung di tengah, jadi Ice menganggap itu sebagai jawaban "iya". Rupanya topik 'Gosip Ekslusif Elemental Bersaudara' kali ini sukses menarik perhatian Gempa.
"Momen abang-adek Kak Hali dengan Solar itu pernah ada. Wajar kalau kalian enggak tahu, soalnya kita bertujuh beda rumah sampai akhir SMP. Waktu Solar masih kelas 3 SD, dia lengket sekali dengan Kak Hali."
"Masa?"
Gempa mengangguk. Lalu mendadak diam. "Sebentar… kelas 3 atau kelas 4, ya? Atau jangan-jangan malah kelas 2… Maaf, abang mulai sedikit pikun."
"Jadi ceritanya beneran apa bohongan, sih?!"
"Bang Gempa, kalau tipu-tipu aku siram, nih."
.
.
"Nade Nade"
Boboiboy Fanfiction by 2U3ShiRo
Disclaimer : Boboiboy Monsta. Apapun yang diselipkan di dalam fanfiksi ini bukan milik Niumi, hanya dipinjam untuk keperluan nulis.
Jika HaliTauGem seumuran, maka BlazeIce lebih muda dua tahun, otomatis ThornSolar lebih muda tiga tahun (oke abaikan, ini perhitungan ngaco lagi)
Warning(s) : Super OOC, elemental siblings, brotp HaliSol (sangat maksa, maafkan), dll
Ditulis sebagai kado ulang tahun (yang sudah telat berhari-hari) untuk Kak kurohimeNoir tersayang.
Hope you like it~
.
.
Sebelum tinggal bertujuh dengan Blaze, Ice dan Thorn, Trio HaliTauGem dan si tengil Solar tinggal di rumah yang berbeda. Dan sebelum bertransformasi menjadi cowok narsis jenius yang gila persaingan dengan Halilintar, Solar pernah menjadi anak kecil manja yang sangat suka pada kakak sulungnya itu.
"Kak Hali, bantu Solar ngerjain pr Bahasa Inggris."
"Kak Hali, temani Solar ke tempat kursus."
"Kak Hali, ayo main monopoli!"
"Kak Hali, Solar dapat buku bagus dari Cikgu Melati. Ayo baca bareng!"
"Kak Hali, Kak Hali…"
"Kak Hali!"
Ini sudah menjadi kegiatan rutin Halilintar, sepertinya. Menikmati waktu sendirian di dalam rumah, didatangi Solar, lalu terseret ke dalam aneka kegiatan yang mengharuskan dirinya untuk ikut. Dan Halilintar tidak tega menolak, karena Solar selalu memandangnya dengan mata sebesar piring, mirip anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekor—minta dibawa pulang.
"Kak Hali, Kak Hali."
Kalau sedang dibicarakan, biasanya orangnya akan muncul tiba-tiba dan sekarang dia muncul beneran.
Halilintar berhenti melakukan 'penyiksaan' terhadap tali sepatu dan menoleh ke arah si kecil yang menarik-narik lengan jaketnya barusan. "Kenapa?"
"Hari ini Solar dapat nilai 100 untuk ulangan matematika. Solar pintar, kan?" Solar tersenyum lebar sambil memamerkan kertas bertuliskan angka dengan tinta merah.
"Iya, iya. Solar anak yang pintar," puji Halilintar. Dia berbalik dan menepuk lembut kepala adik bungsunya itu sambil tersenyum tipis.
"Karena berhasil dapat nilai bagus, Solar boleh minta sesuatu?"
"Boleh," kata Halilintar. "Mau minta apa?"
"Hari ini Solar mau lihat matahari terbenam dengan Kak Hali!"
"Maaf ya, hari ini nggak bisa. Kakak ada latihan karate di sekolah. Kalau mau, kamu bisa minta ditemani sama Taufan dulu."
"Tapi," Solar meremas ujung jaket Halilintar dan menunduk. "Solar maunya ditemani Kak Hali."
Halilintar menepuk-nepuk kepala Solar lagi. "Lain kali ya," bujuknya.
Solar menepis tangan Halilintar lalu memasang tampang jelek seperti ikan buntal. Tanpa menanggapi kata-kata Halilintar, dia berlari meninggalkan kakaknya menuju lantai dua. Ngambek, pastinya.
"Seperti biasa, Solar suka sekali dengan Kak Hali."
Halilintar menoleh ke arah Gempa yang berdiri setengah mengintip dari ruang tengah.
"Kalau ada Kak Hali, kami semua berubah jadi kentang di mata Solar. Padahal aku sama Kak Ufan juga mau main dengan Solar," keluh Gempa. "Pesona anak sulung memang beda, ya."
"Masa, sih?" Halilintar mengerutkan alisnya sedikit. "Kukira Solar cuma haus perhatian dariku."
"Anggap aja itu keuntungan menjadi anak pertama. Sampai kapanpun, adik-adikmu akan selalu mendewakan sosokmu," celetuk Gempa. "Setidaknya begitu yang terjadi disini."
"Kalau begitu, apa Gempa juga menganggapku dewa?"
Gempa cuma tersenyum simpul.
"Mungkin, iya. Soalnya aku juga adik Kak Hali."
Jarum jam di tangan nyaris menunjukkan setengah enam sore saat latihan karate Halilintar di sekolah berakhir. Dia hampir menjerit kaget ketika Kaizo—pelatihnya menempelkan sebotol minuman dingin ke pipi, tapi dengan cepat dia mengembalikan ekspresi tenangnya yang biasa.
"Kukira kamu bakal menjerit-jerit karena kaget," kata Kaizo, sedikit kecewa karena proyek Mari-Buat-Halilintar-Kaget nya gagal. "Biasanya kalau Pang mengekor kemana-mana, pipinya kutempeli minuman dingin biar menjauh. Dia bisa melompat saking kagetnya."
"Kelakuan sensei jelek banget," komentar Halilintar.
"Hanya sesekali, kok. Aku nggak setega itu sama Pang," kilah Kaizo. "Kalau sudah besar, dia nggak bakal mengekoriku lagi. Bakal kangen banget nanti dengan kelakuannya yang satu itu, makanya aku sangat menikmati setiap detik bersama Pang kecil yang sekarang."
Saat anak-anak lainnya sibuk membereskan barang-barang, Halilintar memegangi minuman dinginnya sambil memikirkan kata-kata Kaizo barusan. Akhir-akhir ini dia merelakan semua waktu untuk bermainnya Solar demi latihan karate, dengan alasan hari kejuaraan semakin dekat. Mungkin sebaiknya dia meluangkan waktunya sebentar untuk Solar. Izin latihan satu kali, sepertinya tidak akan menyakitkan…
"KAK HALI! KAK HALI!"
Kali ini, bukan Solar yang memanggil namanya. Gempa berlari mendekat sambil melambaikan tangan ke arah Halilintar. Keringatnya mengalir sederas hujan.
"Ada a—"
"SOLAR HILANG, KAK!"
Halilintar berdiri diam, membeku panik begitu Gempa mulai menjelaskan kronologi kejadian layaknya saksi tidak profesional.
"…Kak Ufan sama Atok masih mencari di kompleks sebelah. Kupikir dia datang ke sekolah buat ketemu Kak Hali, jadi aku ke sini tapi ternyata enggak ada. Aku—"
Penjelasan Gempa selanjutnya tidak didengarkan. Otak Halilintar berpikir cepat, berusaha mencari tahu kemungkinan tempat Solar berada. Lalu dia teringat sesuatu.
"Gem, kamu pulang duluan, sekalian bawakan tasku. Suruh Tok Aba sama Taufan berhenti mencari," kata Halilintar.
Gempa menerima tas Halilintar dan memandang kakaknya bingung. "Tapi Kak—"
"Jangan khawatir. Sepertinya aku tahu Solar ada di mana."
Rute pencarian Halilintar dimulai dengan melakukan pemanasan ringan sebelum akhirnya dilanjutkan lari dengan kecepatan macan tutul kebelet pipis. Napasnya sedikit tersengal-sengal karena harus melewati tanjakan, sementara jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul enam hampir setengah tujuh. Namun, dia tidak peduli.
Lalu, Halilintar berhenti berlari. Dan sosok Solar kecil—yang duduk di bawah pohon sambil memeluk lutut—terlihat. Ada luka di betisnya. Halilintar mendekat dan berlutut, memandangi adiknya lalu menarik napas sebentar.
"Yang ini kenapa?" tanya Halilintar sambil mengarahkan telunjuknya ke luka Solar.
Solar menggeleng. "Enggak kenapa-napa."
Halilintar tidak mau memaksa lebih lanjut, dia cuma diam sambil memandangi adiknya. "Besok kita lihat matahari terbenamnya bareng. Kakak bakal izin latihan biar bisa lihat bareng Solar."
"Enggak usah," kata Solar. Dia menenggelamkan kepala ke lutut, kemudian terdengar isakan lirih dari sana, membuat Halilintar cemas.
"Kak Hali sudah enggak sayang Solar," gumamnya pelan.
Halilintar menggeleng kuat-kuat lalu menarik Solar ke dalam pelukan. "Sstt, jangan bilang begitu. Kakak sayang sama Solar."
"Enggak sayang," sanggah Solar dengan keras kepala. "Soalnya, Kak Hali enggak pernah lagi nemenin Solar main. Kak Hali selalu janji 'lain kali' dan Solar selalu tunggu, tapi Kak Hali enggak pernah ingat."
Halilintar melepaskan pelukannya dan sadar kalau air mata dan ingus Solar menempel di bajunya. Tapi tidak apa-apa. Solar boleh mengotori baju itu semaunya asal dia berhenti menangis. Halilintar membersihkan air mata dan ingus Solar dengan tisu, lalu mengusap kepalanya.
"Kakak sayang banget sama Solar. Maaf ya, sudah membiarkanmu menunggu lama. Besok dan seterusnya, kita bisa main bareng lagi seperti biasanya," Halilintar mengulurkan jari kelingking sebelum melanjutkan. "Kakak janji."
Solar mengisap balik ingusnya lalu mengangguk. "Kalau begitu, Kak Hali dimaafkan," katanya sambil menggenggam kelingking kakaknya.
"Pulang, yuk! Gempa, Taufan, sama Atok pasti khawatir banget," kata Halilintar. "Sini digendong."
Setelah Solar naik dan berpegangan, Halilintar mulai menggendongnya lalu berjalan menuruni bukit pelan-pelan.
"Kak Hali tahu, enggak?" Solar menyandarkan kepala di pundak. "Katanya setelah matahari terbenam, akan muncul bintang jatuh, lho!"
"Oh ya? Di mana?"
"Di sana," kata Solar sambil mengarahkan telunjuknya ke ufuk barat. "Tapi sekarang udah enggak ada. Padahal Solar mau lihat bareng Kak Hali."
"Jangan khawatir. Kita bisa lihat bareng kapan-kapan," kata Halilintar.
"Kak Hali?"
"Hm?"
"Solar juga sayang banget sama Kak Hali."
"Kakak tahu."
Solar mengeratkan sedikit pegangannya pada pundak Halilintar. "Kak Hali itu kakak paling keren yang pernah Solar punya. Kalau sudah besar nanti, Solar mau jadi seperti Kak Hali."
Halilintar diam sebentar lalu tertawa kecil.
"Kalau begitu, berjuanglah. Tunjukkan kalau kamu bisa melampauiku, Solar."
Kalau bercerita tentang Solar cilik, kadang-kadang Halilintar sedikit merindukan sosok bertopi putih yang selalu mengikutinya kemana-mana, seperti anak ayam. Entah sejak kapan anak sekecil kotoran cicak itu berhenti memanggilnya "Kak", dan berubah menjadi lampu disko berjalan yang alay.
"Padahal waktu masih kecil, dia manis sekali," gerutu Halilintar.
Setelah telinganya hampir dibuat congek oleh ocehan Solar, Halilintar melarikan diri ke kedai dan dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan pesanan ke kompleks sebelah. Dengan begitu, dia bisa menyingkirkan Solar-vibe untuk sementara. Setidaknya seperti itu yang dia pikirkan sebelum terperosok ke dalam selokan.
Halilintar berhasil keluar dari selokan dengan tambahan lumpur, bau mirip kentut kecoa, dan memar di pergelangan kaki yang terasa super nyeri. Dia menyesal meninggalkan ponselnya karena dengan kondisi seperti sekarang, akan sangat sulit untuk pulang.
"Enggak biasanya Bang Hali ceroboh sampai terluka begitu."
Halilintar mengangkat wajah dan menemukan anak laki-laki berkacamata yang mirip sekali dengannya, bertopi miring. Warnanya putih-abu bercorak emas.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Menjemput Bang Hali," jawab Solar. "Tok Aba cemas banget karena abang belum kembali dan enggak bisa dihubungi."
"Ponselku ketinggalan di kedai," gumam Halilintar.
Solar melirik kaki Halilintar. "Bisa jalan?"
"Bukan urusanmu."
"Aku enggak peduli Bang Hali mau jawab apa. Tugasku cuma membawa pulang Bang Hali ke rumah." Solar berbalik dan sedikit berjongkok. "Naik."
"Hah?" Halilintar memelototinya. "Nggak mau!"
"Naik atau aku gendong di depan," ancam Solar galak.
"Cih."
Wajah Halilintar mengkerut seperti kismis, sementara Solar fokus sambil menggendong si tampang kismis. Beruntung malam telah tiba dan jalan sekitar kompleks sepi, jadi tidak ada yang melihat mereka.
"Ini memalukan," keluh Halilintar.
"Mau bagaimana lagi. Aku enggak mungkin membiarkan Bang Hali jalan dengan kaki memar begitu."
Halilintar tidak membalas lagi.
"Ngomong-ngomong," kata Solar. "Waktu aku masih kecil, Bang Hali pernah menggendongku seperti ini juga."
Halilintar membelalak kaget, buru-buru mengembalikan ekspresinya menjadi datar seperti biasa. "Kamu masih ingat ternyata."
"Sekarang gantian aku yang menggendong Bang Hali," Solar tersenyum, sedikit bangga. "Anggap saja balasan untuk yang waktu itu."
"Terserah saja."
"Bang Hali."
"Ya?"
"Soal yang kubilang tadi di rumah itu, aku serius." Solar berhenti sebentar. "Aku sangat menghormatimu sejak dulu sampai sekarang, makanya aku mau menjadi sepertimu. Meskipun aku terlalu sering bersaing dan menganggapmu sebagai rival, tapi kamu tetap kakak terbaik yang pernah kumiliki."
"Iya, aku tahu."
Solar tersenyum tipis. "Aku tahu kalau Bang Hali bakal jawab begitu."
"Sol," Halilintar menepuk pundak Solar lalu menunjuk ke ufuk barat. "Ada bintang jatuh."
Solar mendongak dan terkesima melihat pemandangan di sana. Mata abunya berkelip, memantulkan cahaya bintang berekor yang turun dari langit.
"Aku pernah bilang akan melihat bintang jatuh bersamamu, kan?" Halilintar menepuk kepala Solar perlahan. "Sekarang kita bisa lihat bareng."
Ada setitik perasaan hangat yang muncul di dalam dada Solar. Dia menggigit bibir, menuduk, dan tersenyum lagi.
"Terima kasih," bisiknya. "Kak Hali."
.
.
.
.
Note :
[Warning! Isinya panjang, skip saja kalau mau baca omake]
Happy (very late) birthday to teman pertamaku di fandom Boboiboy, Kak kurohimeNoir~
Kak No(y)ir pertama kali "menemukan" karya Niumi di FFN dan mampir sebagai reviewer. Tiba-tiba ngobrol bareng dan tiba-tiba jadi teman. Kalau Kak Noir enggak menemukan tulisan Niumi, mungkin Niumi enggak bakal mencintai kegiatan nulis seperti sekarang. Big thanks hug buat Kakak, maji daisuki uwu
Dan inilah kegalauan selama merancang kado. Aku baca(?) Kak Noir suka pair HaliYa jadi mulai mencari inspirasi. Lalu otakku yang seperti lele mendadak sadar.
"KAMU ENGGAK BISA NULIS ROMENS, OI!"
Niumi terkapar. Sekian /gak
Akhirnya banting setir ke BroTP HaliSol. Ingin bikin yang manis, karena Kak Noir manis /ihiw
Lagi-lagi, otakku berulah.
"MEMANGNYA KAPAN HALISOL MANIS?!"
Akhirnya dengan segala imajinasi dan inspirasi dari rekan panggilan alam, fict ini berhasil dirampungkan. Dan sepertinya BroTP kali ini agak gagal /mojok...
Terima kasih juga buat kalian yang sudah membaca ini, semoga cukup menghibur. Selamat menikmati omakenya yang enggak jelas :3
#2U3ShiRo
Omake :
"Tuh kan, abang enggak bohong soal Halilintar dan Solar."
Dari balik tempat persembunyian, Gempa menatap haru momen abang-adek kedua saudaranya di jalan, sementara Ice dan Blaze sibuk menggaruk-garuk seperti anjing kutuan.
"Iya, iya. Bang Gem nggak bohong," kata Ice. Tangannya sibuk menepuk nyamuk yang beterbangan di sekitar.
"Bang, bisa kita pulang sekarang, nggak? Habis badanku digerogoti nyamuk nanti!" keluh Blaze.
"Sebentar lagi, abang masih mau mengabadikan momen ini."
"UDAH BANG, AYO PULANG!"
