CHAPTER 2: KENYATAAN YANG SEBENARNYA.
9 APRIL 2020
Kami berdua saling menatap satu sama lain, dengan Kagome yang berada diatas tubuhku sedangkan diriku berada dibawah. " Mau sampai kapan kamu melihatku. Kagome-chan?" ucapku dengan senyum jahil melihat mata gadis itu yang begitu menghipnotisku, dirinya yang baru sadar langsung kikuk berdiri dan melipat kedua tangannya didepan dada.
"D-Dasar, kamu selalu saja menggodaku" ujarnya membuang muka dengan semburat pipi merona malu, karena selalu dijahilin pikirnya, aku pun yang melihat tingkahnya seperti itu hanya terkekeh sifatnya yang imut dan kekanak-kanakan. Aku pun bangun dari tempat tidur dan berdiri didepannya sambil mengusap kepalanya. "Maaf aku hanya bercanda saja kok" Kagome yang mendengar itu pun ikut tersenyum dan mulai mengulurkan kedua tangannya kedepan.
"Aku juga cuma bercanda kok. Inuyasha-san, ayo kita mulai" katanya dengan semangat aku pun yang mendengarnya langsung menuruti perkataan dirinya untuk bermain BDSM. "Yuk" Aku pun mengambil tali yang panjangnya 5 meter itu dari dalam tas, ball Gag berwarna hitam, borgol dan Tali Rope Bondage.
Aku pun melihat benda-benda itu yang sudah kuletakkan diatas Kasur sambil melihat Kagome. "Apa?" aku pun bergumam. "Mau make yang mana dulu?" tanyaku kepadanya.
"Aku sih ikut kamu saja, tapi enakan memakai apa untuk mengikat?" tanyanya dengan polos. Aku pun mulai menjelaskan dengan perlahan tentang benda-benda yang ada diatas Kasur. Gadis itu dengan polos sudah memahami dan mengerti. "Uhm… kalau begitu aku mau mencoba ini" Kagome yang sudah mantap dengan pilihannya, aku hanya menurut dan mulai memasang Tali Rope Bondage kepada dirinya.
Kutarik kedua tangannya kebelakang punggung, lalu kukencangkan bagian kuncian ikatannya, seperti ikat pinggang jadi bisa diatur seberapa longgar ataupun kuatnya ikatan pada pergelangan lengan dan tangan.
UGH! AH!
Kudengar desahan rasa sakit dari mulutnya, aku tahu dia menahan rasa sakit karena tangannya sudah kuikat dengan alat khusus bermain Bondage milikku. Ditambah ruang gerak tangan dirinya yang kutarik sampai mendekati leher mempersempit ruang gerak Kagome.
"Bagaimana?" tanyaku melihat dirinya. "Sakit! Aku sampe gak bisa gerakin tanganku sama sekali. Karena ketarik keatas nyentuh bagian Pundak bawah leherku" ringgisnya menahan sakit.
Aku pun memencet hidungnya pelan. "Murid nakal harus dihukum, kamu paham" ujarku mulai memasangkan Ball Gag pengekang mulut untuk membuatnya diam, Kagome yang ingin bicara kembali langsung terhenti, karena aku segera memasang pengekang mulut tersebut, suara yang terdengar hanya suara erangan saja. Gadis itu menatapku dengan wajah bete disebabkan perkataannya belum selesai namun sudah dihentikan.
MHHHMMM… MHHHPHHH!
Aku yang melihat itu hanya tersenyum sambil sesekali aku mencubit hidungnya. Dirinya mengerang mengerakan kepalanya kekanan kekiri mencoba melepaskan tanganku darinya. Seolah dia memberitahuku dengan tatapan jutek kepadaku untuk tidak melakukannya, walaupun gadis itu tidak bisa berbicara saat ini, namun aku tahu dia kehabisan nafas.
"Maaf, aku hanya bercanda kok" jawabku terkekeh pelan melihat tatapan betenya karena aku menjahilinya. Aku pun mulai merekam dirinya dengan Kameraku. Kagome yang sejak awal sebelum kami mulai bermain sudah diberikan arahan. Syukurnya gadis ini cepat tanggap mengerti peran dan arahan dariku.
Aku pun mulai memasang kameraku dengan bantuan tripod yang sudah kuatur sedemikian rupa supaya hasil yang kudapat bisa maksimal. Aku pun memberikan kode untuk mulai, Kagome yang sudah paham pun langsung berusaha melepaskan diri dengan kekuatan yang dia miliki, bergerak kesana kemari, untuk mencoba melepaskan diri, namun dalam hatiku yang melihat itu hanya tersenyum puas. "Percuma saja, soalnya tali gagged itu sudah kubuat sangat kencang. Siapapun tidak akan bisa melepaskan diri dengan mudah, satu-satunya cara melepaskan diri dengan bantuan orang lain" batinku senang melihat gadis itu yang meronta kesana kemari diatas Kasur.
.
.
30 menit telah berlalu kulihat Kagome yang memelas padaku dengan tatapan sudah tidak tahan karena sudah terikat cukup lama dengan Rope Bondage yang kupasang padanya. Aku pun langsung melepaskan bagian kuncian tangan, kaki dan mulut. "Haaa…. Akhirnya bisa lepas juga" katanya sudah tiduran dalam posisi tengkurap. Merasakan Lelah dan sakit yang luar biasa, karena ruang gerak gadis itu sebelumnya terbatas.
Aku pun yang mendengar itu langsung duduk disampingnya sambil mencubit pipi kirinya. "Adududuh… Sammkittt!" Kagome merengek, Aku pun yang mendengarnya langsung melepas cubitan. "Kerja bagus Kagome-chan. Kita istirahat dulu 15 menit ok" kataku, gadis itu hanya mengiyakan setuju untuk merileksasikan tubuhnya yang masih pegal.
Seiring waktu dirinya untuk beristirahat, aku pun mulai mengobrol untuk saling mengenal satu sama lain diantara kita, tawa, canda kami selalu obrolkan untuk menghilangkan rasa canggung diantara kita seolah pembicaraan yang kami lakukan tidak ada satupun yang disembunyikan. Aku yang melihat jam sudah berlalu 15 menit bahkan lebih hampir 25 menit. Aku pun mulai mengambil borgol dari dalam tas yang akan aku gunakan untuk bermain BDSM Kembali.
"Sudah siap?" tanyaku sambil tersenyum dan mengelus wajahnya. "Ayo aku udah siap!" katanya dengan semangat. Aku pun yang mendengarnya mulai memasangkan borgol pada Kagome, menarik kedua tangannya kebelakang. Sesudah borgol sudah terpasang aku menyuruhnya untuk tidur dalam posisi tengkurap dan memborgol dibagian kakinya dan pahanya lalu kutarik kedua kakinya kedepan dan kupasang rantai lalu kuikat menjadi satu membentuk gaya Hogtied.
Kagome yang melihat posisinya sudah tidak bisa bergerak seperti itu didepan cermin hanya tersenyum sambil memandangku. "Ini sih aku sudah gak bisa kabur. Inuyasha-san" ucapnya sambil mencoba mengerakan kedua tangan dan kakinya, namun tidak ada hasil tentu saja ini borgol yang terbuat dari besi bukan tali, jadi mustahil untuk bergerak apalagi melepaskan diri. Aku pun yang mendengarnya memangku dirinya dan kucubit hidungnya. "S-Sakit…" betapa menyenangkannya bisa mengerjai Kagome yang seperti ini. "Hentikan… Sakit tahu!" katanya Kembali.
Aku pun yang mendengarnya langsung mengarahkan jariku kebibirnya. "Hari ini kamu adalah slaveku, jadi tidak boleh menolah permintaan dominan. Paham!" ujarku dengan nada mengintimidasi namun dengan senyum jahil, karena aku adalah rajanya sekarang dalam permainan ini. Gadis itu yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang "Dasar curang. Iyasih… yaudah deh, aku ngalah kali ini sama kamu. Inuyasha-san" katanya pasrah menerima keadaan Kagome yang hanya bisa menurut mengikuti semua perkataanku.
"Kalau begitu kita mulai ya" sahutku mengambil saputangan dalam tas dan memasukannya kedalam mulut Kagome. Mulut gadis itu yang sudah penuh dengan 2 saputangan yang kupaksa masuk, kemudian aku tambah dengan plester hitam yang kulilit memutar sebanyak 2 kali agar sumpalan mulutnya tidak mudah lepas.
HMMMPH! HMMH!
Suara rintihan dan erangan yang dia lakukan membuatku merasa sedikit gelisah bukan karena khawatir melainkan ada perasaan aneh padaku yang mulai terangsang. Seolah Kagome mencoba menggodaku dengan keadaan erotis seperti itu,
"Argh rasanya aku ingin sekali menjamahnya" batinku memandangi Kagome yang berpose seperti manis dan tidak berdaya seperti itu.
Ya gimana gak mulai terangsang, bayangin saja didalam kamar hotel Cuma berdua, sudah gitu pasanganmu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek yang memperlihatkan bagian lekuk tubuhnya yang indah. Siapapun pasti risih dan mulai kalap. Tapi untungnya karakter Inuyasha masih sanggup menahan diri, bukan lebih tepatnya Authorlah yang masih bisa bertahan dari gangguan yang tidak-tidak yang dapat membuat pikiran kaum pria berpikiran kotor.
.
.
Waktu 1 jam telah berlalu sesudah aku mengambil pose foto dan video dengan view yang bagus dan maksimal, Kembali kuberikan waktu istirahat untuk Kagome sambil merileksasikan tubuhnya yang mulai nyeri dan kesakitan. Kulihat gadis itu mulai terlihat jejak merah bekas ikatan pada bagian pergelangan tangan, kaki yang terlihat jelas jejak ikatan. Aku pun duduk dan membelakanginya.
Gadis itu sedikit kebingungan dengan diriku yang sudah berada dibelakangnya. "Inuyasha-san?" gumamnya. Aku yang berada dibelakang dirinya mengusap-ngusap pelan bagian yang terasa sakit. Kagome yang melihat reaksiku seperti itu sepertinya hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya didadaku. "Terimakasih" katanya, karena senang sudah diperhatikan.
"Sama-sama, istirahatlah sejenak, nanti kita lanjutkan sesi berikutnya" ujarku. Gadis itu hanya bergumam setuju sambil memejamkan kedua matanya. Aku yang melihat sisi manja Kagome pun hanya tersenyum dan mulai membuka obrolan Kembali. "Kagome-chan"
"Iya?"
"Sebelumnya kamu mengatakan bahwa aku gombal, apakah ada yang salah dengan ucapan itu?" tanyaku dengan hati-hati, gadis itu yang mendengarnya akhirnya hanya menghela dengan muka sedih dengan seutas senyum. Walaupun aku tahu bahwa gadis itu tidak ingin memperlihatkan kesedihannya didepanku, namun sepertinya telah terjadi sesuatu pada dirinya.
"Memangnya harus kuceritakan ya? Tanyanya sambil melihat cermin didepan yang ada dirinya dan aku sedang berpelukan. Diriku yang mendengar itu mulai berkata Kembali. "Ya, jika diizinkan olehmu, kalau gak juga ya gak apa-apa, Cuma kesannya seolah aku ini pembohong saja" jawabku kurang suka nada spontan Kagome sebelumnya.
"Begitu ya, maaf ya. Baiklah aku akan ceritakan kenapa aku bicara seperti itu.
~o0o~
Pikiran gadis itu Kembali mengingat kejadian 2 tahun yang lalu dan dirinya mulai menceritakan masalalunya.
Higurashi Kagome seorang gadis remaja berumur 14 tahun, yang bersekolah disalah satu sekolah negeri, dia memiliki seorang sahabat bernama Kuwashima Sango (14 tahun) dan Isayama Miroku (15 tahun).
Suatu hari saat Miroku dan Kagome sedang berdua berkumpul. Pria itu menembak Kagome disebuah taman dibelakang sekolah, tentu saja gadis itu yang belum pernah mengenal cinta sontak langsung menerima dan ingin tahu rasanya ap aitu cinta? Semua berjalan baik? Tidak! Disinilah musibah dan kehancuran gadis malang bernama Higurashi Kagome dimulai.
Kedekatan mereka berdua yang berjalan dan mulai diketahui publik oleh teman-teman sekelas Kagome, menimbulkan kecurigaan dan ketidaknyamanan bagi sahabat Kagome yaitu Sango. Seiring waktu mereka dekat selama 1 bulan. Kagome shock berat dimana Miroku dengan Sango yang pada saat itu berada diujung perpustakaan sedang ciuman. Kagome yang melihat itu terkejut setengah mati seolah jantungnya lepas dari kerongkongannya, mulai saat itu dirinya mulai menjaga jarak dengan keduanya, namun mereka berdua sepertinya mulai sadar dan menjauhi gadis itu dengan tuduhan bahwa Kagome gadis yang aneh dan selalu membaca buku dipinggir perpustakaan sehingga tidak peka dengan pacaranya, namun garis besarnya bukanlah seperti itu memang Mirokunya saja yang ingin mendekati sango dengan bantuan Kagome yang notabene sahabat Sango.
Sango mulai menjauhi dirinya, masalah itu sudah selesai bagi Kagome? Tidak!
Sahabatnya yang pada saat itu tidak membawa handphone melihat Handphone Kagome dan tidak disangka bahwa didalam benda itu berisi konten BDSM, yang dimana kebanyakan gadis itu diikat, diborgol dalam keadaan tidak berdaya. Sango yang melihat itu memaki sahabatnya dan mengatakan untuk tidak boleh melihat hal tersebut. Awalnya Kagome setuju menerima pernyataan itu bahwa Sango masih peduli, namun naasnya dikeesokan harinya. Ternyata 1 kelas tahu bahwa Higurashi Kagome ini orang yang aneh, menyimpang disinilah. Gadis itu mulai runtuh semangatnya dan mulai kecewa dengan sahabatnya ditambah pada saat dirumah, alat-alat dapur berjatuhan menimbulkan suara gaduh, Ibu Kagome dan Ayahnya selalu bertengkar hebat, masalah finansial, masalah keharmonisan dan sebagainya menjadi penyebab terjadi masalah tersebut. Kagome hanya bisa menutup telinga sambil bersembunyi dibalik pintu dan berkata dalam hatinya. "Aku ingin mati saja. Kami-sama!" ucapnya dalam hati.
Semua masalalu Higurashi Kagome sekarang sudah kuketahui semua. Gadis itu hanya menangis sambil memelukku. Sambil menyumpah serapah sahabatnya, mantan pacarnya, orangtuanya bahkan tuhan yang begitu adil.
Rasanya aku yang berada disampingnya mulai mengerti penderitaan gadis ini. Ya aku tidak akan meninggalkanmu mulai saat ini. Itulah janjiku dalam hatiku dengan mantap.
~o0o~
Aku yang telah mengetahui tentang masalalunya, sedikit merasa bersalah, gadis itu mulai menangis walaupun tanpa isak, namun terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang terlihat sangat terluka dan menanggung beban berat seorang yang berada disitu hanya memeluknya dan mengusap rambut hitamnya secara berulang-ulang. "Kau wanita yang hebat. Aku kagum padamu. Pasti berat rasanya jadi sepertimu. Kagome-chan"ucap dari mulutku dengan pelan yang berbisik ditelinganya.
Gadis itu yang mendengar perkataanku. Hanya memasang wajah sendu kesedihan menatapku lalu mengeleng pelan sambil bersandar pada dadaku Kembali. "Itu tidak benar. Yang aku lakukan hanya lari dari kenyataan yang pahit ini dan aku merasa sudah hancur dari awal. Tidak ada cinta teman, keluargaku yang berantakan dan aku dikhianati oleh orang yang kucinta, rasanya kegelapan dalam hatiku bertambah ditambah seolah sebuah Hasrat aneh memaksa aku untuk menyerahkan jiwa dan ragaku dalam ketidakberdayaan seperti diikat dan dijadikan tawanan, seperti yang kamu lakukan padaku. Aku yang menerima keadaan itu lebih bisa menerima keadaanku posisiku, jadi aku cukup menyukainya" ujarnya berterus terang tanpa keraguan.
Aku yang mendengarnya tidak percaya bahwa gadis didepanku seolah sudah tidak ingin memperdebatkan apapun dan seolah mempercayai diriku. "Kamu yakin dengan aku? Bisa saja aku berbuat jahat dan memperkosamu lho!?" sahutku dengan jujur.
"Aku percaya bahwa Inuyasha-san tidak akan melakukan itu, soalnya aku bisa tahu mana lelaki bajingan dengan laki-laki tulus" jawabnya dengan santai.
Dirinya berdiri dan melepaskan pelukanku sambil merengangkan badan-badannya yang sebelumnya nyeri dan terasa mati, karena terlalu lama diikat dengan kuat. "Apa maksudmu, Kagome-chan?"
Kagome yang melihat reaksiku kebingungan hanya tersenyum. Membentuk jarinya menyilang seperti huruf X. "Itu rahasia" jawabnya sambil terkekeh, karena menggoda aku yang melongo kebingungan. Aku yang mendengar itu sedikit kesal dan jutek. "Dih, dasar licik" jawabku dengan nada ngambek.
"Eh?! Kok gitu… kamu gak boleh ngambek. Inuyasha-san. Aku minta maaf deh" ujarnya karena melihat reaksiku yang sudah bad mood. Aku masih diam tidak melayani obrolannya.
"Dasar! Baiklah aku certain tapi jangan ngambek dong. Nanti kalau kamu ngambek, aku manja-manjaannya sama siapa? Inuyasha-san…. Inuyasha-san" ucapnya memohon.
"Yaudah aku maafin, tapi jangan diulang!" kataku sok serius dengan muka mulai memaafkan, gadis itu yang mendengarnya senang.
"Terimakasih kamu sudah mau maafin aku. Inuyasha-san" jawabnya senang, aku yang mendengar itu tak percaya. 'Ini anak polos apa gimana sih?" "Hei, ayo lanjutin gaya yang berikutnya. Tuanku" Kagome memberikan kedua tangannya didepan seolah pasrah menerima keadaan untuk mau diapain saja.
"Ayo kalau gitu kita mulai" ujarku mengambil tali yang panjangnya sekitar 5 sampai 10 meter" gadis itu hanya mendekat dan menerima kepasrahannya sebagai Slave.
.
.
"Yosh!" kulihat gadis itu sudah dalam keadaan terikat dengan gaya Hogtied. Dimana kedua tangannya terikat kebelakang dan kakinya ikut terikat dalam posisi kaki ditekuk hingga menyentuh bokongnya dan diikat dibagian pinggang untuk membatasi ruang gerak kaki gadis tersebut. Kagome yang dalam keadaan seperti itu membuatku semakin berpikir yang tidak-tidak. "Aku ingin menjamahnya" gumamku pelan
"A-Apa katamu Inuyasha-san?" tanyanya yang sejenak mendengar ucapanku yang keceplosan tanpa sadar.
"Ah… maksudku, kamu sangat cantik dan manis jika seperti ini. Kagome-chan"ujarku dengan cepat untuk menghindari kecurigaan pada gadis didepannya. Kagome yang mendengarkan itu hanya merona kecil sambil membuang muka kesamping. "Terimakasih"
"Kalau begitu kita mulai session berikutnya"
"Iya deh"
.
.
Aku yang sedang memfoto dan mengambil video dari Kagome mulai merasa aneh dalam diriku kulihat wanita surai hitam panjang itu mengerang dan tak berdaya diatas ranjang Kasur. Bukan tanpa alasan dia dalam keadaan seperti itu, melainkan kondisi dirinya saat ini yang hanya bisa pasrah menerima keadaan. Tangannya terikat dibelakang dan kakinya pun diikat menjadi satu, sehingga memperkecil gerak gadis tersebut.
Dirinya mengeliat kesana kemari mencoba melepaskan diri, namun apa daya tidak ada hasil. Diriku saat melihatnya mengeliat didepannya, kesana kemari. mulai tidak tahan melihat kecantikan dan kemanisan gadis itu masih mencoba melepaskan diri, sesaat diriku merasakan ada sesuatu yang aneh pada celana yang kukenakan. Rasanya menjadi sempit dan seolah penisku mulai bangun sendiri. 'Ya ampun, jangan sekarang. Aku hanya ingin bermain dengan dia, tapi aku sudah janji tidak akan menyetubuhinya, kami-sama!' Batinku sedikit kesal dengan setan yang sedang membisikan ditelingaku untuk menodai gadis itu atau tidak, menimbang kondisinya saat ini, gadis itu dalam keadaan tidak bisa berbuat apapun, logikanya aku bisa saja dengan bebas menjamah tubuhnya namun nuraniku masih ingin berkata, jangan lakukan itu.
Dengan berat hati aku pun menghela dan mulai mendekatkan dirinya duduk disampingnya dan mulai memangkunya duduk dalam dekapan tangan kirinya dengan posisi masih merangkul gadis itu, memeluknya kesamping dalam dada bidangku, kusesuaikan posisinya agar dia bisa bersandar padaku seperti mengendong anak kecil. 'Aku rasa sedikit fanservis tidak apa' batinku.
"Bagaimana rasanya diikat? bisa melepaskan diri tidak, Kagome?" tanyaku melihat gadis itu yang menatapku dan mengeleng. "Ini terlalu kuat ikatannya, Aku tidak bisa melepaskannya" katanya sambil menahan rasa nyeri yang mulai ia rasa, karena beberapa kali sering mendesah namun pelan.
"Masih sanggup?"
Kagome hanya mengangguk masih ingin merasakan sensasi diikat seperti ini "Tapi aku suka keadaan ini, sudah lama aku ingin melakukan ikat-ikatan seperti ini sejak melihat channel Youtube, Inuyasha-san" katanya Kembali sambil menyembunyikan wajahnya kedadaku, aku tahu jika dia malu mengatakan hal tersebut. Aku hanya diam tidak percaya akan ucapan gadis lugu didepanku ini. Selain manis, cantik, baik dia pun perhatian, rona wajahnya saja sudah bisa kulihat betapa dia sepertinya senang akan pertemuan aku dan dirinya.
"Kagome" kataku sambil menarik dagu dan kami saling melihat satu sama lain. "A-Apa? Inuyasha-san"
"Bolehkah?" tanyaku kepada Kagome memegang bibirnya, mengusapnya perlahan kecil, gadis itu ragu membuang arah matanya kesana kemari. Antara mau mengizinkan aku menciumnya atau tidak.
"Kan janjinya tidak ada seperti itu. Aku inginnya saat kita menikah nanti baru kita lakukan. Inuyasha-san" ucapnya malu menyembunyikan wajahnya Kembali, aku pun mengelus wajahnya beberapa kali, wajah putih cantiknya, sifatnya yang kekanak-kanakan manja. Diriku pun mengelus rambutnya perlahan.
"Tidak apa-apa kali, kan aku tidak memakai kamu, hitung-hitung kamu belajar akan hal ini. Kagome" kataku dengan santai. Dia pun berpikir cukup lama sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dibahuku.
"Bagaimana?" tanyaku ingin tahu jawabannya. Dirinya hanya mengangguk mantap.
Wajahnya mulai menatapku dengan semburat rona merah menghiasi pipi, aku pun memejamkan mata begitu pun dirinya yang ikut menutup mata, kami mulai membuka mulut, melakukan ciuman pemanasan. Bibirnya mengulum dengan lemah lembut dan ronggaku, lidahnya menyapu permukaan kerongkongan mulutku. Awalnya Kagome masih kaku dan tidak mengizinkan, namun aku menyentuh lidahnya dan mengajak dirinya untuk ikut bermain dan mencoba rileks.
HMMM! HMMMM!
Kami menikmati momen ini dengan sangat nyaman dan tenang, 4-5 menit pun berlalu, kumerasakan Kagome memundurkan kepalanya, aku tahu itu berarti dia sudah kehabisan nafas, telihat saliva kami jatuh, membasahi baju kami berdua, namun aku tidak begitu peduli, karena aku sudah terbiasa akan hal ini. Namun gadis itu tersenyum dengan muka merona.
"Nyaman"
"Ha? kok seneng banget kayanya?" tanyaku tidak mengerti.
Gadis itu Kembali menyembunyikan wajahnya lagi kedadaku. "Aku suka, Inuyasha-san" katanya dengan nada malu, diriku yang mendengar jawaban itu tersenyum dan memeluknya.
"Aku juga suka dengan Kagome, coba gaya baru yuk" ucapku, gadis itu hanya mengangguk dan menurut.
~o0o~
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, aku yang menyadari itu melihat gadis itu yang sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian kaos hijau lengan panjang dan celana jeans panjangnya. "Huaa…. Segarnya air hangat pemandian hotel memang menyenangkan" katanya dengan senang.
"Kagome-chan"
"Hmmm… ada apa?"
Aku sedikit ragu untuk berbicara untuk hal ini. Namun jika tidak kulakukan rasanya hatiku tidak akan tenang. "Apakah kamu besok mau main denganku lagi?" tanyaku. Kagome yang mendengar itu sedikit terkejut dan baru sadar.
"Aku besok harus datang keacara perkemahan sekolah. Kurasa ini hari terakhir kita bermain" jawabnya sedikit sedih.
"Begitu ya" Aku yang mendengar itu sedikit sedih.
"Tapi, karena waktu kita sudah jam segini, aku ingin sedikit bermanja sedikit lagi dengan Inuyasha-san. B-Boleh gak?" Kagome sedikit meminta kepadaku, aku yang mendengarnya hanya kikuk dan berkata. "Tentu saja boleh. Ayo deh kalau gitu" kataku meraih tangan gadis itu, aku pun memutar badannya dan mulai memasangkan Kembali borgol kebelakang punggungnya.
CKREK! CKREK!
Borgol sudah kupasang kini, aku dan Kagome saling memandang dengan nafas yang terasa hangat karena aku memeluknya dalam pangkuan, wajah kami hanya berjarak 50 cm. aku pun mulai memberikan kode. Gadis itu hanya mengangguk setuju.
Bibir kami pun mulai berciuman dan saling mengulum dalam kehangatan cinta, rasa manis
HMMMH…. HMMMHH!
Suara erangan dari kami berdua seolah menghipnotis kami untuk terus bermain dalam kebahagiaan cinta, aku yang sudah tidak tahan, mulai melakukan gerakan lain yaitu meremas dada gadis itu.
HMGH!
Kagome yang kaget langsung refleks mundur. Wanita itu memandang diriku dengan muka marah. "Inuyasha-san!"
"M-Maaf tadi itu refleks tanpa kusadari. Kamu tidak marahkan sama aku. K-Kagome-chan?" tanyaku kaget melihat reaksi gadis itu yang memandang marah kepadaku.
"Jangan lakukan itu lagi, mengerti!" ujarnya penuh penekanan.
"B-Baik, aku mengerti" Kagome yang sudah puas menerima permintaan maafku. Langsung mengigitku dibagian leher.
ADUDUDUH…. SAKIT KAGOME-CHAN…
"Itu hukuman untuk kamu mengerti!" ujarnya padaku.
"Iya" jawabku menyesal telah melakukan hal ceroboh, tenyata walaupun gadis itu muda namun galaknya bukan main.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 waktu setempat.
Aku pun mengantarnya sampai depan hotel, karena dia membawa sepeda. "Hati-hati dijalan"
"Iya, kalau begitu aku permisi" aku pun yang mendengarnya hanya tersenyum. Saat dia akan pergi pulang dia berhenti sambil memegang sepedanya.
"Kurasa besok aku akan bolos dari acara perkemahan sekolah besok dan kurasa aku akan bermain denganmu lagi" ujarnya.
"Serius?!" tanyaku tak percaya.
"Besok aku akan datang lagi jam 10.00, aku akan membawa baju seragam sekolahku, sesuai yang Inuyasha-san inginkan, jadi selamat malam" jawabnya pergi sambil menaiki sepeda dan mengayuhnya menjauh dari aku.
Aku yang mendengarnya hanya tersenyum. "Hari kedua sepertinya akan lebih menyenangkan" batinku Kembali masuk kedalam hotel.
To Be Continue…
