Leaf Coffee
Disclaimer : Naruto dan Karakternya milik Om Masashi Kishimoto.
Saya cuma minjem :D
Content 1
Seorang pria berambut hitam memarkirkan motor miliknya di depan sebuah Kafe bertuliskan LEAF COFFEE. Ia merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah Kunci.
Cklek!
Kring!
Pria itu memasuki Kafe dan menuju ke ruang belakang, tempat loker dan istirahat para pegawai Kafe. Ia memasukkan jaket dan pakaiannya ke dalam loker miliknya dan berganti baju ala pelayan Kafe.
Ia merapihkan dapur sembari menunggu kedatangan rekan-rekannya.
Kring!
" Selamat pagi, Sasuke-kun! "
" Selamat pagi, Sakura. "
Wanita berambut pink memasuki Kafe dengan wajah ceria. Namanya Sakura, dia adalah teman Sasuke sejak SMP dan salah satu pegawai di Kafe miliknya.
" Fyuh... Kukira aku sudah telat. " Sakura keluar dengan memakai seragam hitam putih ala pelayan.
" Ah iya, Sasuke-kun, Naruto bilang dia tidak masuk hari ini. Dia terserang demam. "
Deg!
Perasaan Sasuke langsung tidak enak. Ia merasakan tatapan tajam dan penuh nafsu dari belakangnya.
" Hari ini, kita hanya berdua, Sa-su-ke-Kun... "
Ah ternyata tatapan itu berasal dari Sakura. Hal ini selalu terjadi saat si Dobe itu tidak masuk kerja. Meninggalkan Sasuke sendirian bersama Sakura adalah hal buruk.
Pernah suatu waktu, Sakura terus-terusan memeluk Sasuke dari belakang saat membersihkan Kafe yang sudah tutup. Atau seperti saat Sakura mencoba mengunci dirinya dan Sasuke di ruang loker berdua.
Entah apa lagi yang akan ia lakukan hari ini. Sasuke berjanji untuk memotong gaji Naruto lebih banyak kalau hal buruk terjadi padanya hari ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, waktunya untuk membuka Kafe. Sakura membalik tanda Buka/Tutup di pintu dan mulai membersihkan meja-meja untuk pelanggan.
Kring!
Kring!
Pelanggan mulai berdatangan dan memesan makanan pilihan mereka. Karena Naruto absen, Sakura terpaksa kesana kemari mencatat dan membawa pesanan.
"Kentang goreng dan 2 Kopi Latte, tuan. Selamat menikmati. " Sakura menyajikan pesanan salah seorang pelanggan dengan senyuman.
" Terima kasih. "
Angka 21:00 terpampang di arloji milik Sasuke. Ia membalik kembali tanda Buka/Tutup di pintu dan duduk di salah satu meja.
Ia meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal. Ia terpaksa sesekali turun tangan membantu Sakura yang kewalahan. Kondisi yang ramai ditambah kekurangan pelayan membuat Badan mereka berdua terasa kaku seharian.
Sasuke berjalan menuju ruang loker, tanpa melihat tanda Occupied di pintu.
Krieet...
"Kyaa! "
" Eh?! "
Blam!
Sasuke kembali menutup pintu ruang loker dengan keras. Nafasnya menderu, wajahnya memerah. Kepalanya menoleh melihat tanda di pintu.
" M-maaf, Sakura! "
" Ti-tidak apa-apa, Sasuke-kun... " Jawab Sakura dari dalam ruangan.
" Apa aku boleh masuk? "
" Silahkan... lagipula aku sudah selesai. "
Krieet...
Sasuke membuka pintu dan masuk ke dalam. Wajahnya masih menampakkan sedikit rona merah.
" Eh? Wajahmu memerah, Sasuke-kun. " Tak ada jawaban dari Sasuke. Ia hanya diam dan duduk di kursi panjang di tengah ruangan.
Sakura tersenyum jahil melihatnya dan mulai mengerjai Sasuke.
" Aku tidak tahu kalau kau begitu bernafsu padaku, Sasuke-kun... " Rayu Sakura dengan nada manja.
" Diamlah. "
" Heee? Tidak usah malu-malu, Sasuke-kun..."
Sakura masih terus menggoda Sasuke yang menidurkan kepalanya di meja.
" Diamlah. "
Sakura semakin menjadi-jadi. Ia tak berhenti menjahili Sasuke dengan terus menggodanya.
" Kalau kau sangat ingin melihatnya, maka aku- "
Perkataannya terhenti saat sebuah gumpalan celemek menghantam wajahnya. Sasuke meliriknya dengan tajam.
" Teruslah berbicara, maka sepatuku lah yang akan menghantam wajahmu. "
Content 2
Hari ini Naruto merasa badannya lumayan sehat untuk bekerja. Sudah 2 hari ia terbaring di rumah. Sakura sudah datang menjenguknya kemarin, tapi si Teme itu tak muncul sama sekali batang hidungnya.
Ia bergegas mandi dan memasak sarapan favoritnya, Ramen Instan. Jeans ketat dan Jaket kulit hitam sudah melekat di badan Naruto. Ia juga memakai sarung tangan tanpa jari dan boots hitam miliknya.
Penampilan Naruto sekarang bak anggota geng motor atau anak band metal. Ia lalu mengambil helm di dekat pintu dan berjalan keluar.
Cklek
Pintu rumahnya sudah ia kunci. Naruto lalu memasukkan kunci starter dan mulai mengengkol motornya.
Brum!
Brum!
Brum! Teng teng teng teng teng teng...
Naruto memasang helm miliknya dan pergi ke Kafe Sasuke menggunakan Vespa oranye kesayangannya.
Brum! Teng teng teng teng teng teng...
Sasuke hafal suara itu. Suara berisik dan menyebalkan dari skuter milik Naruto yang ia namai ' Kurama '.
" Akhirnya dia datang... "
Kring!
" Yo! Selamat pagi, Teme! " Naruto menyapa sahabatnya itu.
" Hn. " Naruto mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Sasuke yang singkat, tidak jelas, dan tidak padat.
" Oi, Teme! Setidaknya balaslah sapaan orang yang menyapamu! "
" Berisik! Cepat ganti bajumu dengan seragam, Dobe! " Sasuke mengusir Naruto dari hadapannya. Sasuke menghela napas berat. Tidak pemilik tidak skuter, mereka berdua sama saja. Berisik dan menyebalkan.
Kring!
" Selamat pagi, Sasuke-kun. " Sakura tersenyum menyapa Sasuke.
" Selamat pagi, Sakura. "
" Good Morning, Sakura-chan~ " Naruto muncul dari ruangan belakang dengan seragam kerjanya.
" Jangan sok berbahasa Inggris di depanku hanya karena rambutmu yang pirang. " kata-kata pedas Sakura membuat Naruto pundung di pojokkan dengan aura suram di sekitarnya.
" Apa salahnya berbahasa Inggris? Dan kenapa pula kalian tidak menyapaku? Apa karena aku ... " Naruto menggerutu sendirian di pojok kafe.
Kring!
Ah, para pembeli mulai datang satu per satu, mengisi kursi-kursi kosong di Kafe milik Sasuke.
" Permisi, apa kau kenal pria yang ada disana?" Salah seorang pelanggan menunjuk Naruto yang masih pundung di pojok.
" Abaikan saja. Dia gelandangan yang numpang berteduh disini. Kami memberinya seragam supaya dia tidak malu. " Ketus Sasuke. Sang Pelanggan pun menghampiri Naruto dengan muka iba.
" Permisi... "
" Huh? "
" Aku tidak punya banyak uang, tapi kuharap ini cukup untukmu... "
" Oi! "
Side Story
Tak jauh dari Leaf Coffee, terdapat pangkalan Ojek bernama Akatsuki. Tempat ini biasanya diisi oleh 11 orang yang berprofesi Ojek pangkalan merangkap Ojek Online.
Ojek Online disini bukan berarti mereka ikut suatu perusahaan dan dipanggil melalui aplikasi. Mereka membagikan nomor HP mereka kepada penumpang agar bisa ditelpon saat perlu jasa transportasi.
Hari ini, hanya Hidan yang terlihat di sana, berbaring di lantai pos pangkalan.
" Ugh... " Ia memegang tenggorokannya yang terasa kering karena panasnya hari ini.
" Kuharap yang lain datang membawa minuman. "
Brum!
Seorang pria berjaket hijau turun dari motor bebeknya. Namanya Kakuzu, tukang ojek yang selalu memakai masker kemana-mana ini adalah salah satu Ojek yang sering istirahat disini.
Hidan yang tadinya menoleh dengan sumringah mendadak lesu lagi melihat yang datang adalah Kakuzu.
" Oi, Hidan! "
" Yo... " balas Hidan lesu. Kalau Kakuzu yang datang, maka tidak ada harapan untuk ditraktir. Ia tahu betul kawannya ini yang pelitnya setengah mati. Kakuzu bahkan pernah meminta kembalian di minimarket walau hanya Rp.150,00-.
" Kakuzu- "
" Apa? Mau ngutang? Boleh, tapi bunganya 200% setiap detik. "
Lihat? Hilang sudah harapan Hidan. Mungkin hari ini ia akan mati karena dehidrasi.
Author :
Nyahahahaha ketemu lagi dengan Silvermane Kudan.
Fic selingan yang berisi Drabble ini hanya side project :D Sekedar melampiaskan humor Author yang garing.
Ga bagus?
Garing?
Pendek?
Ya maap, DLDR :D
Silvermane Kudan, Out.
