Leaf Coffee
Disclaimer : Naruto dan Karakternya milik Om Masashi Kishimoto.
Saya cuma minjem :D
Content 1
Kafe Leaf Coffee.
Kafe yang baru berdiri selama beberapa bulan ini sudah cukup terkenal diantara anak muda Konoha. Desain interior yang sederhana namun elegan, pelayanan yang memuaskan, serta rupa para pegawai yang elok menjadi nilai tambah bagi kafe ini.
Hari ini suasana kafe sedikit sepi pengunjung, hanya beberapa kursi yang terisi. Baik itu pelanggan yang memang makan maupun pelanggan tak tahu diri yang hanya memesan secangkir minuman, tapi betah duduk berjam-jam menikmati WiFI gratis.
" Hari ini sedikit sepi bukan, Sasuke? ".
Naruto duduk di meja dekat kasir dengan tampang malas.
" Yah setidaknya kita bisa santai sejenak. "
" Kalau dipikir-pikir, belakangan ini kita sering kerepotan kalau pelanggan ramai. "
Sasuke memiliki pemikiran serupa dengan rekannya itu. Apalagi kalau salah satu dari mereka absen kerja. Bisa-bisa beban kerja menjadi 2 kali lipat.
" Uh huh. Mungkin kita harus merekrut pegawai baru. Dobe, malam ini kau buat poster lowongan kerja untuk dipasang di depan. "
" Eh? kenapa bukan kau saja, Teme? "
" Kau menyuruh atasanmu sendiri? "
Naruto berdecak kesal. Si Teme ini, berlagak hebat dengan menyuruh orang seenaknya saja. Mentang-mentang dia pemilik kafe.
" Cih, baiklah baiklah. "
Kring!
Kring!
Suara lonceng di pintu berbunyi, pertanda ada pelanggan yang datang. Mereka berdua secara sigap berdiri dan kembali ke pos masing-masing.
Brum! Brum!
Jam baru menunjukkan pukul 17:15, tapi Sasuke sudah kembali dari kafenya. Kafe tutup lebih awal karena Sakura dan Naruto yang memiliki urusan penting masing-masing.
Sakura bilang orangtuanya datang mengunjunginya dari luar kota nanti malam. Sedangkan Naruto? entahlah. Dia hanya bilang punya urusan penting dan kabur begitu saja dengan Vespa miliknya.
Krieet...
" Aku pulang... "
" Ah, Selamat datang, Sasuke. " Suara kakaknya terdengar dari ruang tengah. Itachi sedang duduk di sofa menonton acara favoritnya.
" Huh? Kau sudah kembali, Aniki? Apa kampus sudah mengeluarkan mu? "tanya Sasuke ketus.
Itachi, kakaknya, adalah nahasiswa semester 7 di Universitas Cambridge Fakultas Kedokteran. Ia mengambil jurusan Ilmu Syaraf terkenal sulit dan memakan biaya besar.
Kagum? Tentu saja kalian kagum. Ditambah fakta kalau otaknya yang kelewat cerdas itu membuat ia mendapat beasiswa full sampai tamat di sana.
Hanya saja ia mempunyai kebiasaan yang sedikit ' Unik '.
" Apa-apaan pertanyaan terakhirmu itu? Aku akan disini selama liburan musim panas. Ah ya, kenapa kau tidak menyapa Violet? Dia ikut kemari kali ini. "
" Violet nee-san ikut? "
Sasuke berjalan menuju kearah dapur, dimana ibunya dan seorang perempuan cantik berambut pirang sedang memasak. Dia adalah Violet, kekasih kakaknya sejak semester 4.
Itachi bilang kalau mereka berkenalan di sebuah lomba musik. Mereka semakin dekat sejak saat itu dan akhirnya memutuskan untuk bersama.
" Aku pulang. "
" Sasuke-kun? lihat siapa yang datang. "
" Halo, Sasuke. " Violet menyapanya dengan aksen Inggris miliknya.
" PETA!!! " Suara kakaknya menggema dari ruang tengah. Ya, itu dia hobi uniknya tadi.
" Halo, Violet-san. Kau ikut Aniki pulang kali ini? "
" Yah, aku penasaran dengan tempat asal Itachi. "
Violet menjawa dengan tersenyum. Itachi yang mengajarinya bahasa asalnya selama ini. Jadi, Violet lumayan fasih bicara, hanya saja aksen Inggrisnya tidak bisa hilang.
" DISANA! DIBELAKANGMU, OI! "
" Ah begitu ya. Semoga kau betah disini. "
Sasuke berjalan menuju kamarnya. Ia mengganti bajunya dan berbaring di kasur. Akhirnya, ia bisa sedikit menikmati waktu dirumahnya.
" SWEEPER JANGAN MENCURI! "
Blam!
Blam!
Blam!
" Berisik! "
Content 2
Naruto berjalan keluar dari Minimarket dengan hati gembira. Mulutnya bersenandung kecil memikirkan yang akan terjadi nanti.
Orangtua Sakura datang hari ini, jadi Naruto berencana untuk datang dengan membawa makanan. Kalau kau tidak bisa mendapatkan hati anaknya, dekati saja orang tuanya agar dijodohkan. Fufufufu~
Kira-kira begitulah pemikiran Naruto. Ia ingin menyogok orang tua Sakura agar suka padanya. Kalau orang tua Sakura suka padanya, mungkin mereka akan dijodohkan, bertunangan, lalu menikah dan punya 2 anak.
Naruto menggelengkan kepalanya. Pikirannya sudah terlalu jauh.
" Santai, bung. Jangan terburu-buru. " Ucap Naruto pada dirinya sendiri.
Pluk! Pluk!
Naruto menepuk pipinya pelan. Ia lalu pergi menaiki Kurama menuju rumah Sakura dengan sekantung plastik makanan.
Di perjalanan, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang berebut tas miliknya dengan seorang pria muda dengan tampang berandalan.
" TOLONG!" si wanita tadi berteriak. Tasnya berhasil direbut dan si penjambret langsung kabur secepat kilat.
Naruto, yang jiwa pahlawannya merasa terpanggil segera menarik tali gas Kurama dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Brum! Brum! Treng Teng Teng! Brum!
" Oi! LAPD! Berhenti disana!" Naruto berteriak layaknya polisi di film film aksi yany sering ia tonton.
Jarak mereka semakin dekat. Si penjambret bodoh yang hanya berlari lurus tadi segera tersusul oleh Naruto.
" Serahkan tas itu padaku!"
" Jangan harap!"
Perasaan jengkel mulai menghinggapi Naruto. Ia pepet penjambret tadi dan menendangnya dari belakang.
Buagh! Bruk!
" Ugh..."
Naruto memarkirkan motornya dan menghampiri si penjambret yang tersungkur karena ia tendang.
Ia berjongkok dan memegangi kepala si penjambret.
" Oi bukankah sudah kubilang untuk berhenti tadi?!"
Si Penjambret yang melihat orang didepannya berpakaian layaknya geng motor ditambah dengan muka yang garang, langsung ciut nyalinya.
" A-ampun... Aku menyerah. Ambil saja tas ini, tapi ampuni nyawaku..."
Ia menyerahkan tas yang ia genggam dengan gemetaran. Kesan seram hilang dari wajahnya yang bertato.
Naruto menyambar tas tersebut dari si penjambret dan berjalan kembali ke vespa nya. Belum selangkah ia berjalan, Naruto kembali menoleh.
" Siapa namamu?" tanya Naruto.
" K-Kiba..."
" Pergilah, Kiba! Aku akan melepaskanmu kali, tapi jangan ulangi hal ini lagi!" ancam Naruto. Kiba sesaat bisa melihat sosok seram di belakang Naruto. Ia mengangguk secara cepat dan berlari menjauhi Naruto.
" Terima kasih, bung!" teriaknya dari kejauhan.
Naruto menghela napas, lalu ia menaiki Kurama untuk mengembalikan tas yang ia pegang.
Di tempat kejadian penjambretan tadi, orang orang sudah berkerumun di sekitar wanita tadi. Ia melihat Naruto dari kejauhan dan berteriak.
" Itu tas milikku!"
Orang orang pun menoleh ke arah Naruto dan berlari kearahnya. Naruto yang berniat baik malah di kerumuni oleh massa yang terlihat garang.
" Tu-tunggu... Ada apa ini?" tanya nya.
" Jadi kau yang mencurinya?!" tanya salah seorang di situ.
" Bu-bukan! Ini salah paham!"
"Tunggu dulu, dia hanya-"
" Tenanglah, Nyonya. Ia sudah terkepung." perkataan si wanita korban tadi dipotong oleh warga-warga yang berkerumun.
Warga yang mengepung Naruto mengira ia lah yang mencuri tas. Penampilannya yang bak berandal menambah kecurigaan mereka.
" Pegangi dia!"
"Cepat telpon polisi!"
"Ikat dia agar tidak kabur!"
Berbagai teriakan di sekitarnya mulai membuat Naruto pucat. Belum lagi beberapa dari mereka membawa balok kayu di tangannya.
" BAKAR SAJA DIA!"
Teriakan yang ini sukses membuat Naruto panik dan semakin pucat. Ia mencoba meluruskan kesalahpahaman ini, namun tidak ada yang mau mendengar.
" TUNGGU! BUKAN DIA PELAKUNYA!" teriak si Wanita korban dari balik kerumunan.
" Dia ingin mengembalikannya padaku! Jadi bubar saja kalian!"
Mendengar penjelasannya, para warga yang tadi terlihat garang langsung tersenyum kikuk. Mereka meminta maaf pada Naruto dan langsung melenggang pergi dengan tampang tanpa dosa.
" Terima kasih, Nyonya..." Naruto mengelap keringat di pelipisnya. Hampir saja ia menjadi bulan-bulanan warga yang asal tangkap.
" Aku yang harus berterima kasih padamu, Nak."
Naruto menyerahkan tas itu pada pemiliknya.
" Anda mau kemana memangnya malam malam begini, Nyonya?"
Ia duduk di pinggiran trotoar dan merenggangkan ototnya sebentar.
" Aku ingin kerumah seseorang, tapi tidak tahu arahnya." Jawab si wanita tadi dengan tersenyum. Ia menggaruk pipinya
" Anda baru pertama ke sini?" tanya Naruto. Wanita tadi mengangguk dengan canggung. Naruto langsung berdiri dan menghidupkan mesin Vespa nya.
" Biar kuantar kesana, Nyonya. Boleh aku tau alamatnya?"
Tok! Tok! Tok!
" Tunggu bukannya ini-"
" Sebentar!" sebuah suara yang sangat familiar di telinga Naruto terdengar dari dalam rumah. Seorang gadis berambut pink membuka pintu rumah dan melihat tamu yang datang.
" Ibu?! Ya ampun, kukira ibu tidak jadi datang!" Sakura langsung memeluk ibunya dan mengajaknya masuk ke dalam. Ibu Sakura berbalik dan berterima kasih pada Naruto, lalu masuk menuju ruang tengah, meninggalkan Naruto dan Sakura yang saling pandang.
" Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa bertemu, tapi terima kasih Naruto."
Si pemuda pirang itu langsung tersenyum cool, menurutnya, ketika mendengar ucapan Sakura. Ia lalu menyerahkan bungkusan yang ia beli tadi dan langsung pamit pulang karena hari sudah malam.
Di jalan, Naruto mengendarai Kurama dengan senyam-senyum gaje. Rencananya untuk mengambil hati orang tua Sakura sudah mengalami kemajuan
" Oh, tunggu saja, wahai bunga Sakura ku..." gumamnya yang tiba-tiba menjadi sok puitis dan dramatis.
Author's Note :
Yaaaaaa ketemu lagi setelah sekian lama! Fic ini akan apdet kalau otak saya lagi buntu dan fic lain sedang stuck :p.
