Disclaimer: All characters belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au; miss-typos, kinda rush, and other stuffs.

Note: it's important to keep an open mind because few things are needed for plot and character developing. it's been a long time, hehe. but u know this is my home. and even i like it hurts, but u know me so well, i like sweets more ;) thanku for always having me and happy reading!


.: every cloud has a silver lining :.

.

.


Sasuke tak mengingat dengan jelas kapan pertama kali ia begitu teradiksi dengan lintingan nikotin di sela-sela jemarinya. Yang ia ingat, ketika itu, asapnya yang mengembus mampu menenangkan pikirannya. Getir dan aroma tembakau mampu mengganti segala sisa-sisa pahit kehidupan di pengecapnya. Meski ia tak terlalu peduli, toh, sebab hidup yang ia rasakan hanya kumpulan monokrom dan tawar-tawar yang rasanya jauh lebih baik dibanding pahit yang pernah Sasuke rasakan sebelum-sebelumnya.

Tapi, ada hal-hal lainnya yang masih ia ingat sampai sekarang, seperti, ketika suatu waktu satu entitas lagi tetiba menyejajari langkahnya. Ikut bersandar pada pembatas balkon kelab, dan mencuri satu lintingan dari tangan Sasuke.

"One, please."

Suaranya feminin dan terlampau familier. Begitupun aroma yang kemudian Sasuke hidu, pink pepper—lebih pekat dibanding aroma tembakau, juga asap-asapnya yang mematikan, juga alkohol-alkohol di dalam sana, juga hal-hal lainnya yang tak sempat Sasuke pikirkan. Mungkin, mungkin saja, ia sedang mabuk. Walau Sasuke yakin, ia baru menyesap dua gelas rum dan ia masih tidak apa-apa walau meyesap tiga gelas lagi.

"Kau suka sekali menyendiri, ya."

Sasuke mencuri tatap dari sudut matanya, memerhatikan lagi ketika wanita itu berbicara dan mengangkat tangan ke arah Sasuke, meminta lighter, tapi alih-alih Sasuke mengulurkan rokoknya yang tersisa setengah, untuk kemudian disambungkan kepada rokok baru yang tadi diambil wanita di sebelahnya. Ketika lintingan itu menyala, miliknya dikembalikan, untuk kemudian Sasuke sesap dan embuskan lagi asap-asapnya.

"Selamat untuk beasiswa mastermu, by the way."

Sasuke kali ini tak mencuri tatap. Terlampau mengerti, dan tahu akan hal-hal yang kemudian ia prediksi. Ia mengenal wanita di sebelahnya, talkative, dan nekat—kalau mau lebih frontal. Ia toh akan tetap berbicara meski Sasuke diam seribu bahasa, tetap akan bertanya meski Sasuke tak menjawab, retoris. Ia tetap akan di sini meski Sasuke memintanya pergi, kembali ke dalam kelab, kembali kepada Shikamaru—kekasih wanita itu. Dan ia tetap akan di sini meski Sasuke tak memberinya rokok di waktu-waktu sebelumnya.

Ada banyak asap di menit-menit selanjutnya, membuat Sasuke semakin mabuk. Entah akan apa. Ia sudah tak tahu lagi. Ia tak mau tahu lagi.

"Pada akhirnya, kau akan pergi lagi, ya."

Sasuke menanggapi dengan embusan asap, sekali, dua kali. Ia menatap jauh kepada langit kelam, mencari-cari bintang yang tak terlihat (dan ia berusaha tak mencari-cari bintang itu pada objek lain, pada sepasang mata, yang kini tak berhenti menatapnya dari samping), dan memutuskan untuk mengatensikan oniksnya pada bulan yang terlihat sabit. Sangat cantik.

"Jangan dicari-cari," wanita itu meneruskan. "Toh, kau tidak akan menemukannya."

Pada akhirnya, Sasuke menoleh. Memerhatikan dengan penuh figurnya dari samping, senyumnya yang dingin, matanya yang menyipit. Sasuke melihat rona merah di belah-belah pipi wanita itu—rona yang tidak dapat Sasuke pastikan, berasal dari alkohol, temperatur udara, atau memang pulasan pemerah pipi yang biasa digunakan para wanita-wanita pada umumnya. Sasuke ingin menyentuhnya, hanya untuk memastikan, namun kepulan asap yang diembus wanita itu menyadarkannya dari mabuk-mabuk taksa ini.

Tiga detik, ia menghela napas.

Pada akhirnya, memutuskan melakukan ini—

"Cukup, Sakura."

—merebut rokok yang masih tersisa tiga perempat, menjatuhkannya pada lantai balkon, dan menginjaknya sampai redup.

Dan Sasuke tersadar, ia seharusnya melakukan itu sejak tadi, sejak pertama Sakura datang, sejak pertama wanita itu menegurnya, sejak pertama ia merebut satu dari kotak milik Sasuke, sejak pertama ... sebelum ia mabuk sejauh ini.

"Kukira kau tak peduli." Suara tawa. Hambar. Sakura menyeka sudut-sudut netranya yang masih menyipit. "But, thanks—" Sakura mengucap lagi. "—Sasuke.

Begitu saja. Kemudian, wanita itu pergi. Meninggalkan Sasuke dalam langkah-langkah statis dan onomatope tap-tap dari heels-nya yang terlampau tinggi. Sasuke tak sempat memerhatikan betapa terekspos kulit-kulit wanita itu dalam balutan mini dress sebab figurnya telah lebih dulu menghilang.

Meninggalkan Sasuke dan langit-langit kelam tanpa bintang.

Sasuke mendecih.

Mengusap wajah dan mengambil rokok kesekian dari kantungnya.

Sekali lagi.

.

.


Bagi Sasuke, Sakura Haruno adalah entitas kasual yang sering ia temui setiap hari. Ia akan bertemu dengannya di awal pagi saat Sakura menyambangi Shikamaru, atau bahkan, ketika wanita itu bermalam bersama Shikamaru. Fyi, Sasuke tinggal di apartemen yang sama dengan Shikamaru. Terkadang ia hanya berbalut atasan kaus milik Shikamaru, atau sekali, Sasuke menemukannya berlapiskan kamisol yang terlampau tipis. Tapi Sakura selalu tersenyum padanya, tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa. Ia menegur dan bertanya apa kabar, memasak omelet atau roti isi salami. Ia selalu menyisakan satu piring untuk Sasuke, untuk kemudian piring-piring lainnya ia bawa ke kamar untuk dimakan bersama Shikamaru.

Di kali lain, Sasuke menemukannya terdiam di beranda apartemennya dan Shikamaru. Menunggu Shikamaru yang terkadang pulang terlalu larut. Ketika itu, Sasuke merasa Sakura adalah entitas yang berbeda. Ia tidak melihat wanita dewasa dua puluh lima tahun melainkan remaja lima belas tahun yang emerald-nya bersinar-sinar menatapi bintang di atas sana. Yang sangat ia kenal dan hampir saja ia lupa bahwa mereka adalah orang yang sama.

Sasuke tak pernah menyapa, namun Sakura selalu lebih dulu mendapatinya.

"Aku buat cokelat hangat, mau?"

Lagi-lagi, retoris. Dan Sasuke tak perlu menjawab karena Sakura telah lebih dulu mengulurkan mug kepadanya. Sasuke menerima, tanpa berkata apa-apa. Menyesap cokelat hangat yang ternyata sudah dingin, dan terkadang, terlampau pahit. Tapi ia selalu menghabiskannya, mencari-cari kesempatan di mana pada akhirnya Sasuke bisa merasakan eksistensi itu lagi. Karena bagaimanapun, ia, tak akan pernah bisa, berpaling lagi, lagi, dan lagi.

Ketika suara pintu apartemen terdengar, Sasuke lebih dahulu mengambil langkah. Ia meninggalkan Sakura dengan satu mug cokelat yang telah mendingin. Menyapa Shikamaru dari ruang tamu. Masuk ke kamar dan menguncinya sampai pagi.

Sampai ia tak mendengar konversasi terlampau kasual Sakura dan Shikamaru. Sampai ia tak mendengar tawa-tawa mereka yang terbawa angin. Sampai ia tak mendengar tawa Sakura yang menghalus ketika Shikamaru mengecup keningnya, pipinya, bibirnya, tengkuknya, kulit-kulitnya—

Sasuke memejamkan matanya.

.

.


Tapi, di masa-masa terdahulu, Sasuke biasa melihat Sakura terbalut kaus dan piama yang kebesaran. Ketika hanya ada mereka berdua, dua remaja naif yang tak mengenal apa-apa, dengan lugu berharap semua akan baik-baik saja. Ketika mereka masih tinggal berseberangan. Ketika pagi bersama masih berepetisi dan Sasuke menjemputnya untuk pergi sekolah, dan Sakura hanya berdiri di depan pintu dan menyerukan perkataannya yang tak pernah selesai, "Baru jam tujuh. Kenapa sudah ke sini, sih." Tapi ia tetap akan berjalan menuju kamar mandi, membiarkan Sasuke mengangguk pada Mebuki dan menunggu di kamarnya yang belum sempat dirapikan.

"Kenapa, sih, aku betah bersahabat denganmu." Masih Sasuke dengar dari dalam kamar mandi. Sasuke tak menjawab, hanya memungut kacamata baca Sakura di kaki tempat tidurnya (terkadang Sakura membaca sampai larut malam dan membiarkan kacamata baca itu terjatuh ketika ia tak lagi sanggup menahan rasa kantuknya—kacamata yang bertahun-tahun kemudian Sasuke rindukan, karena di masa depan, Sakura dewasa tak akan pernah lagi memilih untuk memakai kacamata dengan bingkai tebal sebagai teman membacanya, mensubtitusinya dengan lensa kontak yang terkadang menyembunyikan emerald di matanya).

Sasuke akan menunggu sampai Sakura selesai, kemudian menunggui Sakura sarapan, menunggu Sakura memompa ban sepeda karena tindakannya yang terlampau ceroboh. Sasuke menunggu sampai terkadang, ia tak sadar waktu mereka terlalu sempit dan pada akhirnya sampai sekolah lewat sepuluh menit.

Tapi, bagi Sasuke, ia tidak apa-apa.

Ia toh, menyukai saat-saat itu. Saat-saat tawa Sakura masih lebar dan dari mata, saat-saat Sakura masih defensif dan tidak akan berpikir lama ketika ingin mengucapkan sesuatu di pikirannya, ketika Sakura masih memakai kacamata baca, yang kadang melorot ke hidungnya yang kecil dan membuat Sasuke tertawa, ketika Sakura tak keberatan naik sepeda, ketika Sakura memeluk Sasuke dari belakang dan berkata ia suka harumnya, ketika Sasuke naif dan memikirkan banyak hal bagaimana supaya ia bisa mencuri ciuman pertama Sakura.

Tapi, kemudian, itu tak pernah terjadi karena kosmis punya rencana yang tak terprediksi di waktu-waktu kemudian.

Ketika itu, mereka berada di tingkat terakhir sekolah menengah. Semua sibuk membahas prom night dan ini-itu. Sakura terlampau bahagia, berkata pada Sasuke bahwa ia ingin menjadi prom queen, meski Sakura tidak sepopuler Ino atau Karin. Sasuke hanya menepuk kepalanya, kasual, dan diam-diam panas dingin karena ada banyak hal yang juga ia rencanakan di malam prom; ia ingin mengajak Sakura berdansa, picisan seperti remaja-remaja pada umumnya dan tertawa bersama. Sasuke juga ingin menyatakan perasaannya. Meski romantis bukanlah tipikalnya, tapi untuk kali ini, Sasuke berani mempertaruhkan harga dirinya. Sasuke ingin mencium Sakura, mungkin di belakang panggung prom, atau di sudut kelas mereka yang sedang kosong. Ada banyak hal ... banyak sekali hal.

Tapi, hari itu, segalanya terdestruksi ketika Sasuke mendapat kabar.

Tiga jam sebelum ia bersiap-siap berangkat menjemput Sakura untuk berangkat.

Kabarnya, mobil yang ditumpangi keluarga Uchiha kecelakaan.

Masalah teknis, rem blong, dan tikungan tajam.

Kemudian, terjatuh ke dasar jurang.

Mobil itu berisi orang-orang tersayang Sasuke—Itachi, Mikoto, dan Fugaku.

Tak ada yang selamat.

Mati di tempat.

Malam itu, malam di mana pada akhirnya, Sasuke kehilangan arah di hidupnya.

Dan prom serta harapan-harapan naif Sasuke dan Sakura malam itu, ikut hilang begitu saja.

Tak pernah terjadi.

.

.


Yang Sasuke tahu, ketika itu, mereka masih terlampau remaja.

Sasuke tak begitu ingat detailnya, namun, di antara hancur dan ketakutan hatinya malam itu, ia melihat Sakura di sana. Berdiri di sudut rumah sakit dengan Mebuki. Ia memakai gaun prom-nya. Menangis. Sakura menangis hebat. Tapi Sasuke tak lagi bisa memikirkan apa-apa. Ia bahkan tak mampu berbicara seharian karena bibirnya terlampau bergetar. Sasuke mengingat kakofoni di sekitarnya namun yang dapat ia rasakan hanya hampa yang menyakitkan di rongga dadanya. Sasuke merasa warna-warna di sekitarnya menguap, menyisakan monokromatis putih hitam abu, yang hanya dapat ia lihat. Berbanding lurus dengan kelam-kelam yang menghunjam-hunjam hatinya.

Tak seberapa lama, Nara Shikaku—teman baik ayahnya, datang. Mengurus segala administrasi, mengurus segala perihal yang dibutuhkan rumah sakit, mengurus kelengkapan-kelengkapan yang dibutuhkan terkait masalah kematian orang tua dan kakaknya. Mengambil alih hak asuh Sasuke.

Sasuke tahu segalanya telah berubah. Dalam pemahamannya, tak ada lagi Mikoto, Mikoto yang selalu menjadi figur favoritnya. Tak ada lagi Fugaku, yang tak segan menampar Sasuke ketika peringkatnya turun, namun memeluknya ketika ia babak belur membela teman-temannya. Tak ada lagi Itachi, yang akan menepuk bahunya, mengetuk dahinya, mengumpatinya karena mencuri majalah bisnis edisi spesialnya, mengumpati perihal problematikanya dengan gadis-gadis, memakinya ketika Sasuke berbuat kurang ajar menjawab segala amarah Fugaku.

Dan di masa-masa itu, ia tak menyadari sesuatu yang ia lewatkan. Ketika Sakura datang dan menangis di sampingnya. Sasuke hanya diam. Ketika Sakura terus datang dan membawa sup tomat kesukaannya, Sasuke tetap diam. Ketika Sakura membacakan mimpi-mimpi mereka dan tergopoh-gopoh menghitung bintang untuknya, Sasuke malah berpaling. Ketika Sakura tak lagi menangis, hanya menatapnya iba, berkata bahwa hidup selalu punya konsekuensi, risiko yang harus dihadapi, seperti bintang yang terlihat paling terang, namun kemudian, ia meledak. Sebab bintang paling terang adalah pertanda usianya sudah tidak panjang lagi. Dan itu konsekuensinya.

Sasuke memejamkan mata.

Hatinya masih sakit, lukanya belum juga kering.

Maka, pada akhirnya, ia berkata.

"Diamlah, Sakura." Suaranya tak begitu keras. "Kau tidak akan pernah tahu rasa sakit ini. Kau tidak akan pernah tahu segala perasaan ini." Sasuke menatapnya, dengan tatapan paling kosong yang pernah dilihat siapa pun. "Kau tidak akan pernah mengerti. Jadi, diam dan pergilah."

Sejak hari itu, Sakura tak pernah datang lagi.

Dan tepat setahun setelahnya, di akhir tahun pertama sekolah tinggi mereka, ia kembali melihat Sakura lagi di sana.

Kini, bersama Nara Shikamaru—putra Nara Shikaku.

.

.


Sasuke mengingat tahun-tahun terakhir tak sesulit tahun-tahun awal sekolah tingginya. Ia berhasil menyelesaikan skripsi dengan sempurna, ia berhasil lulus tepat pada waktunya. Luka di hatinya perlahan-lahan menutup, walau masih menyisakan goresan yang tak akan pernah menghilang.

Tapi seiring berjalannya waktu, ia mendewasa, waktu tak memaksanya berlari. Dan Sasuke, perlahan-lahan mulai mengerti pola kehidupan ini.

Satu-satunya yang terasa sulit adalah, ketika ia mencoba untuk kembali menatap pada Sakura. Tahun-tahun terakhir ia gunakan untuk terlampau fokus pada studinya, maka, ketika itu, kuantitas pertemuannya dengan Sakura semakin menipis. Walau, terkadang, ada waktu-waktu di mana ia tak dapat menghindari pertemuan itu, ketika Sakura mengunjungi Shikamaru—sebab sejak awal kuliah Sasuke sudah tinggal di rumah Shikamaru dan keluarganya (baru setelah lulus, Shikaku memutuskan untuk memberikan satu apartemen untuk mereka). Sakura datang setidaknya seminggu sekali. Ketika itu, Sasuke belum menyadari apa-apa. Tentang mereka, tentang pertemuan-pertemuannya. Sebab yang Sasuke tahu, mereka memang berada pada satu fakultas yang sama.

Barulah ketika suatu waktu, Sasuke mendengar suara mereka dari balik pintu kamar Shikamaru yang sedikit terbuka.

Sasuke mengerti, dan masih akan selalu mengerti, bahwa sekeras apa pun ia mencoba, sekeras apa pun ia melupa, perasaannya kepada Sakura yang ia simpan sejak dulu, yang naif dan terlampau jujur, yang ia kira mungkin, akan menghilang ketika malam itu ia memutuskan untuk mengusirnya pergi, ketika ia terlampau larut dengan kesakitan-kesakitannya, hilang ditelan waktu yang tak pernah berhenti, tak akan dengan mudah menghilang begitu saja.

Meski ia pernah berkata kepadanya untuk diam dan pergi.

Meski hidup pernah membawanya pada satu masa paling sulit, meski hidup membuatnya merasa hampir mati ketika keluarganya pergi.

Tapi pada akhirnya Sasuke selalu mengerti, ia tidak bisa menghindar dari perasaan ini.

Maka ketika malam itu ia tak lagi mendengar suara mereka dari balik pintu, Sasuke memutuskan untuk melihat.

Dan sekali lagi, ia merasakan dunianya kehilangan arah.

(Bibir Shikamaru ada pada Sakura, mengecupnya, menciumnya dalam batas yang selama ini selalu Sasuke bayangkan. Mata mereka terpejam, tangan Shikamaru di tengkuk Sakura, pelan-pelan turun, menyusuri punggung, pinggul, mengelusnya di sana, menyusuri paha—)

Hati Sasuke hancur.

Ia tak ingin melihat lagi.

.

.


Maka, itulah yang kemudian membuatnya melarikan diri pada asap-asap penuh nikotin. Sasuke kehilangan arah dua kali, dan akhirnya, satu-satunya yang selalu kembali terngiang adalah perkataan Sakura.

"—hidup selalu punya konsekuensi, risiko yang harus dihadapi, seperti bintang yang terlihat paling terang, namun kemudian, ia meledak. Sebab bintang paling terang adalah pertanda usianya sudah tidak panjang lagi. Dan itu konsekuensinya."

Selalu berepetisi, dan akhirnya membuat Sasuke sadar.

Inilah konsekuensinya, ketika ia memilih untuk meminta Sakura pergi. Ketika Sakura datang di masa-masa itu, namun ia terlampau sibuk dengan kesakitan-kesakitannya, tak pernah sekalipun menatap matanya yang menjajikan penawar, yang menjajikan hidup yang lebih baik. Sasuke egois di atas luka-lukanya, maka, kali ini, ia hidup dalam lingkup-lingkup konsekuensi yang Sakura ucapkan. Seperti bintang, seperti bintang yang paling terang, namun punya konsekuensi untuk siap meledak.

Toh, setelah ini, setelah lusa dan Sasuke pergi sekali lagi untuk mengejar mimpinya, Sasuke mengira, mungkin, mungkin ia tak akan bertemu Sakura lagi.

Sasuke membuang puntung rokoknya. Merapikan pakaian yang dipakainya. Ia harus kembali, sebab ini pestanya. Meski ia akan pusing, meski musik di dalam kelab akan membuat kepalanya makin pening, Sasuke harus kembali.

Lusa ia akan berangkat, meninggalkan Tokyo—ke negara yang belum pernah ia pijakan sebelumnya. Sasuke mungkin akan merindukan momen-momen seperti ini. Ketika ia masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki budaya sama, di sini. Berkumpul dengan teman-temannya, meski pada kenyataannya hanya beberapa yang ia kenal dekat. Ia akan merindukan ocehan Naruto, temperamen Kiba, obrolan Shikamaru ...

... tatapan Sakura.

Mungkin ini kesempatan terakhirnya bertemu Sakura.

Sebab Sasuke tak pernah tahu, apakah ia memiliki alasan untuk kembali lagi, ke sini. Ia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Tidak orang tuanya, tidak Itachi, tidak Sakura.

Tidak Sakura.

.

.


Ketika itu, H-1 sebelum keberangkatan Sasuke. Ia menatap seluruh tumpukan barang yang pada akhirnya tersusun rapi. Hanya ada koper dan beberapa tas. Sasuke selalu terorganisir, ia sudah menghitung seberapa kuantitas barang yang ia bawa, yang ia perlukan, sehingga kemudian tak akan ada barang sia-sia yang terbawa.

Sasuke belum melihat Shikamaru sepagian itu. Seingatnya, selesai pesta semalam, teman satu apartemennya itu menghilang, diikuti dengan hilangnya presensi Sakura. Sasuke mengira mereka pergi ke apartemen, namun, ketika ia pulang dan menemukan pintu masih dikunci seperti ketika mereka berangkat, Sasuke tahu mereka tidak berstagnasi di sini. Kemudian bayangan keduanya yang menghabiskan waktu di apartemen Sakura membuat Sasuke kembali pusing. Ia tak tahu kapan akan selesai menyedihkan seperti ini, mungkin, mungkin, ketika pada akhirnya ia pergi dari sini, menata kembali kehidupan barunya, dan mendapatkan sebagian hal-hal yang ia impikan di tempat barunya, ia akan bisa melupakan Sakura. Melupakan tahun-tahun mereka yang seperti fantasi, melupakan masa-masa di mana mereka naif dan berpikir hidup akan baik-baik saja nanti, melupakan relasi yang mereka awali, namun tak akan pernah selesai.

Ketika hampir siang, Shikamaru akhirnya menampakkan diri. Bajunya masih sama seperti semalam, membuat Sasuke yakin akan prediksi pemikirannya. Tidak apa. Tidak apa-apa. Toh, pada akhirnya, Sasuke tak akan bisa berbuat apa-apa.

Namun, saat Shikamaru tak masuk kamar dan malah menghampirinya di ruang baca, Sasuke merasakan ada yang janggal.

"Ayah bilang besok akan ikut ke bandara," Shikamaru mengujar sambil membuka jaketnya, ia empaskan tubuhnya pada sofa di seberang Sasuke. "Aku ke rumah Ayah semalam."

Oh.

Oh.

"Kukira Sakura ke sini." Shikamaru menggantung ujarannya.

Sasuke mengernyit, menatap Shikamaru dan dengan cepat menjawab. "Tidak."

Shikamaru terkekeh kecil. Ia sandarkan kepalanya pada punggung sofa, menatap langit-langit. "Padahal, aku memberi kesempatan."

Ketika itu, pandangan Sasuke seperti kehilangan arah. Ia tengah membaca namun huruf-huruf dalam atensinya perlaham membaur, mencipta bayang-bayang tak Sasuke kenal dan memburam, berlarian. Rongga dadanya berdetak-detak.

"Sejak dulu, aku selalu memberi kesempatan."

Sasuke memutuskan untuk berhenti membaca. Ia letakkan bukunya di lemari baca, memijat ujung hidung dan menatap Shikamaru yang tak sedang menatapnya.

"Kau ini bicara apa," Sasuke mengujar serak.

Kekehan lagi, terdengar. Tatapan Shikamaru masih ke atas, dalam empasan tubuhnya di punggung sofa, menatap langit-langit ruangan.

"Kapan kau akan berhenti, sih." Lelaki berkuncir itu melanjutkan, tertawa-tawa. "Aku tahu, kau tahu, kan, siapa yang selalu ... Sakura lihat."

Sasuke terdiam.

Ia ... berharap tahu jawabannya. Namun, ia tidak.

Dan Sasuke tak sanggup menahannya.

"... memang, siapa?"

Lama. Hening mendominasi. Sasuke ingat, meski bertahun-tahun tinggal bersama, sejak kali pertama Shikaku membawa ke rumahnya, ia dan Shikamaru tidak pernah benar-benar akrab. Bukan berarti mereka tak dekat. Hanya saja, relasi mereka hanya terasa cukup, seperti itu saja. Sasuke menghargai Shikamaru, sebagaimana ia menghargai keluarganya yang berbaik hati mengakseptasi hidupnya, setelah keluarganya meninggal. Sasuke berusaha tidak membuat konflik, Sasuke berusaha tidak menjadi beban, Sasuke berusaha menjadi teman yang cukup. Maka dari itu, ketika untuk pertama kalinya ia melihat Sakura dengan Shikamaru, dalam diam, Sasuke membatin; mungkin memang lebih baik seperti itu, mungkin memang Shikamaru lebih pantas. Karena Sasuke tak punya apa-apa, Sasuke tak bisa menjanjikan apa-apa. Sedang Shikamaru, ia masih punya segalanya, dan ia bahkan berbaik hati untuk menampung Sasuke di keluarganya. Ia orang baik. Jadi tidak apa-apa.

Sasuke akhirnya melihat Shikamaru bangkit. Ia meregangkan tubuhnya. Sampai sekarang, meski Shikamaru pada akhirnya menang akan hati Sakura, ia tahu, ia memang tak akan pernah bisa membenci sosok itu.

"Selalu kau, kan?" Shikamaru pada akhirnya menatap, dengan tatapan malas dan oniks mengantuknya. "Memangnya siapa lagi? Aku?" Ia tertawa. "Kau bercanda?"

Seharusnya, Sasuke mengerti. Sebab bayang-bayang Sakura dan Shikamaru bertahun-tahun ini, selalu menyusuri isi kepalanya. Ia tak perlu bertanya lagi, sebab bagaimana cara mereka menatap, bagaimana cara mereka berbicara, bagaimana cara mereka memeluk, menyentuh, mengecup, berbagi waktu, berbagi hidup ... jelas karena mereka saling ... Sasuke tak mengerti bagaimana cara mendeskripsikannya. Saling menyukai? Saling mencintai? Saling ... membutuhkan?

... saling membutuhkan?

Hanya saling ... membutuhkan?

Sasuke merasakan satu tepukan di pundaknya. Shikamaru di sampingnya. Tersenyum miring, jenis senyum yang pada akhirnya membuat Sasuke sadar, bahwa selama ini, mereka memang berada dalam kubu yang sama. Bahwa Shikamaru juga tak akan pernah membencinya. Bahwa Shikamaru juga menyayangi Sakura. Dan bahwa Shikamaru juga tidak apa-apa, tidak apa-apa jika melihat Sakura bahagia, bukan karenanya.

"Bicaralah dengannya." Shikamaru berujar, sebelum memutuskan untuk berlalu. "Maaf jika aku juga egois selama bertahun-tahun ini, meski aku tahu—"

Sembari melangkah, meretas jarak, berbicara terlampau kasual. Shikamaru masih melanjutkan. Dan meski samar, Sasuke bisa mendengarnya dengan sangat-sangat jelas.

"Meski aku tahu, ia tak akan pernah bisa melihat siapa pun selain kau." Bayang-bayang itu seperti memukul Sasuke, telak di kepalanya yang bebal.

"Cuma kau, Sasuke."

Mata Sasuke membayang, namun dalam rongga dadanya, kupu-kupu berterbangan.

.

.


"Kenapa masih bertahan?" Suatu waktu, Sakura berguling di balik selimut milik Shikamaru. Ia memainkan rambut panjang lelaki itu, yang tak dikuncur, tak memedulikan Shikamaru yang menatap pada matanya. "Aku mungkin ... tidak akan bisa menatapmu seperti yang kau inginkan, Shikamaru."

"Tidak apa-apa." Sakura merasakan jemari-jemari itu di wajahnya, belah pipinya. "Setidaknya, kita masih saling membutuhkan."

"Hm hm?"

"Aku sayang kau. Kau butuh aku," kata Shikamaru cepat. "Tidak apa-apa. Itu cukup."

Sakura memandang Shikamaru, lama. Mencari-cari kelap-kelip percikan yang mampu membuat hatinya berdebar. Mencari-cari di mana letak kesalahan sebab ia benar-benar, sangat benar-benar, tidak mampu merasakan apa pun di samping lelaki itu. Sama sekali.

Sakura mengecup pipi Shikamaru sekali. Lagi-lagi, tetap tak merasakan apa-apa. "Bilang, ya, kalau kau sudah mulai lelah."

Shikamaru tersenyum miring. Mengafirmasi ujar Sakura dalam satu kecup di sudut bibir.

"Tentu."

.

.

Sebab ia mencintai langit kelam
Alih-alih langit biru yang menjanjikan dekap-dekap masa depan
Karena dalam malam
Ia dapat menangkap
Cantiknya kelip bintang

.

.


Sasuke, tak pernah sekalipun berpikir bahwa ia akan kembali di sini. Seperti ini.

Kali terakhir ia mengetuk pintu apartemen Sakura adalah ketika wanita itu pindah dari rumahnya, dan Shikamaru, juga Naruto, juga lingkap-lingkup pertemanan mereka yang lain ikut membantu sesi pindah yang terlampau berlebihan itu. Bertahun-tahun kemudian, Sasuke tak lagi pernah kemari. Sasuke tak lagi familier dengan ketukannya untuk Sakura sebagaimana dulu ia selalu melakukan itu dalam batas kasual, setiap pagi, ketika ia menjemputnya untuk berangkat sekolah dengan sepeda masa lalunya. Ketika segalanya baik-baik saja.

Maka, ketika tak ada jawaban setelah ketukan keempat, Sasuke sedikit banyak kebingungan. Ia menatap ujung sepatunya dan memejamkan mata dan bertanya-tanya. Kemudian memilih satu jawaban yang mungkin akan membawanya pada kesempatan terakhir sebelum akhirnya ia pergi besok. Benar-benar pergi.

Dan pilihan itu adalah nekat memutar kenop pintu apartemen Sakura, yang kebetulan, atau kesialan, tidak dikunci.

Sasuke akhirnya melangkah masuk dengan statis. Mengira-ngira onomatope langkahnya agar tidak berlebihan dan membuat segelintir kekagetan. Pink pepper scent segera menyambutnya, ia tahu dari harum ini, aroma ini, bahwa Sakura pasti ada di sini.

Dan Sasuke menemukannya terduduk di sofa ruang televisi. Televisi menyala, menampilkan gambar penuh warna akan seri subtel remaja dan monster yang sering Sasuke lihat iklannya. Namun, atensi Sakura tidak berada pada benda elektronik tersebut. Dari belakang, Sasuke menangkap figurnya yang sedikit menunduk, ia dapat melihat rambutnya yang dikuncir asal, acak-acakan, membuatnya dapat melihat jelas tengkuk Sakura dari belakang, yang dijatuhi rambut merah mudanya tipis-tipis. Sakura sedang membaca, Sasuke tahu itu. Nyaris hampir membuka kembali kotak-kotak pandora masa lalu, ketika Sakura yang seperti ini sangat Sasuke kenali; membaca buku, terbalut kaus kebesaran, menguncir rambut asal, menyalakan televisi tanpa suara dan hanya memanfaatkan sinar kelap-kelipnya untuk penerangan—dan sugesti, bahwa ia tidak sendirian.

Ketika Sasuke melangkah lebih dekat, dan akhirnya makin melihat wajah itu semakin jelas, ia menelan ludah.

Mata itu, dilapisi kacamata baca yang begitu Sasuke kenal, begitu Sasuke suka.

Ini ... ini benar-benar Sakura yang dikenalnya.

Sakura yang masih tersenyum dari mata, menatapnya tepat di mata, berbicara berpatah-patah kata dan defensif tanpa memikirkan risiko yang ada. Bukan Sakura yang ia kenal enam-tujuh tahun ini; Sakura yang tersenyum sembari mengangkat dagu, Sakura yang tidak banyak bicara, Sakura yang tak menatapnya lebih dari tiga detik, Sakura yang merokok, menyesap alkohol, memakai gaun terlampau mini.

Inilah Sakura-nya.

"Sasuke?"

Dan sebelum Sasuke benar-benar tersadar, emerald itu lebih dulu menangkapnya. Menuntut dan terang terkena pantulan sinar televisi. Dari balik kacamata. Itulah mengapa dari segala hal tentang Sakura, Sasuke paling menyukai matanya. Sebab mata itu selalu lebih jujur dibanding indera-indera lainnya. Sasuke tak perlu berpikir dua kali bahwa tatapan itu sedikit menyakitkan, bahwa kedatangannya, presensinya di hadap Sakura, bukanlah sesuatu yang diharapkan, atau setidaknya, diprediksikan.

"Kenapa?" Sasuke mengujar, dan ia juga tak mengerti mengapa ia bertanya. Kenapa begini? Kenapa seperti ini? Kenapa kita berubah?

Sakura memalingkan tatap. Ia berdiri dan memutari sofa, mendekat pada Sasuke. Televisi masih menyala.

"Kenapa?" Sakura mengulang pertanyaannya. Melepaskan satu kekehan sinis. "Bukankah aku, Sasuke? Yang seharusnya bertanya?" Wanita itu bersandar pada sisi belakang sofa, melipat tangannya. "Kenapa?"

Kenapa baru sekarang?

Setelah bertahun-tahun Sakura tersesat dan merasa tak ada harapan. Ketika Sakura lelah bertahan dan mencari pegangan yang pada akhirnya, bukan Sasuke. Ketika Sakura sudah terlampau dewasa. Setelah Sakura menghabiskan air mata hanya untuk mengenang memori-memori masa remaja naif yang seperti berlalu tanpa akhir apa-apa, dan hanya menjadi sisa cerita.

Sasuke maju. Selangkah, dua langkah. Membuat mata itu semakin terlihat gelap dan terang di waktu yang bersamaan. Membuat Sasuke kemudian sangat ingin menyentuh, kepada jemari yang kini tertaut-taut, yang dulu dengan mudah ia mainkan.

Bersamaan dengan satu langkah terakhir, Sasuke kembali mengujar.

"Aku minta maaf."

Ujung sepatunya hampir menyentuh jemari kaki Sakura yang telanjang. Sasuke menunduk, merasakan napas Sakura di depannya, berharap bahwa ia bisa sekali lagi meretas jarak meski tak lagi diperlukan langkah-langkah yang berarti.

"Minta maaf untuk yang mana?" Sakura menjawab lagi, tremor halus, dan Sasuke tahu, wanita itu menahan agar tidak menangis di depannya.

Yang mana? Iya yang mana. Sebab kesalahannya terlalu banyak. Sangat banyak.

Hampir tujuh tahun, pada akhirnya, Sasuke merasakannya—

—jari-jemari Sakura lagi.

Sentuhan itu tak lama, hanya sekilas, namun meyakinkan Sasuke akan ucap-ucap berikutnya. Bahwa segala waktu yang tersita sia-sia sudah cukup, tidak lagi, jangan lagi ada waktu yang terbuang meski itu satu detik pun. Sebab Sasuke sudah terlalu bodoh, terpaku pada emosinya sendiri, perasaannya sendiri, egoismenya sendiri. Selfish. Dan sekarang, ia tak mau lagi.

"Untuk semuanya; untuk malam prom, untuk malam di rumah sakit, untuk malam di kamarku ketika kau datang dan aku menyuruhmu pergi—" Sasuke maju selangkah lagi, membuat jarak tak lagi ada, Sasuke mengambil tangan Sakura, menggenggamnya erat-erat. Matanya tak pernah berhenti menatap. "—untuk selalu egois, untuk membiarkanmu mencari pondasi lain, untuk jadi orang tolol ketika melihatmu dan Shikamaru, untuk tak pernah lagi berusaha padahal kau masih dan akan selalu di sana, untuk menjadi orang lain," Sasuke ingin menghentikan, tapi, terlalu banyak kesalahan. "Untuk semua hal bodoh, Sakura. Maaf. Aku minta maaf."

Sasuke akhirnya berhenti. Merasakan jari-jemarinya balas digenggam jemari Sakura. Jemari itu dingin, kurus, rapuh, namun Sasuke merasa hangat di sudut hatinya. Hangat yang melegakan dan membuat Sasuke ingin memeluk.

Sakura yang pertama mengalihkan tatap. Ia genggam kuat jemari Sasuke, meski Sasuke tahu, ia tak akan merasa apa-apa. Ia balas genggaman itu, ia sentuh halus, sehalus asap-asap rokok yang pernah mereka bagi, atau permen-permen gulali yang Sakura bagi dulu, dulu sekali. Sasuke hanya takut. Takut lagi-lagi menyakitinya.

"Kenapa baru sekarang?" Dan suara itu, lebih rapuh dari apa pun yang pernah Sasuke dengar. Lebih rapuh dari hidupnya yang Sasuke kira sudah berarti. Bahwa ketika itu, ketika keluarganya pergi dan Sasuke kehilangan arah dan kehilangan hidup, Sasuke tahu, ia bukan satu-satunya orang. Namun ada entitas lain yang juga kehilangan arah, sebab ia tak pernah menemukan kembali potongan puzzle yang hilang itu. Yang diam-diam digenggam Sasuke. Dipegang dan disimpannya sendiri.

"Padahal aku selalu ada sejak dulu." Sakura menunduk, tak tahu lagi harus menatap ke mana, tidak ke mata Sasuke. "Aku selalu ada. Tak pernah ke mana-mana."

Pada akhirnya, beginilah akhirnya.

Dan beginilah seharusnya. Ketika Sasuke mengangkat wajah Sakura, mencari-cari lagi emerald-nya dan sinarnya yang hilang dari balik kacamata bacanya. Berkata di sana, bahwa ini, ini ia berikan lagi puzzle-nya, ia bagi lagi mimpi-mimpinya, ia bangun lagi pondasi untuknya, ia genggam lagi tangannya.

"Maafkan aku." Ia kecup keningnya, ia dekap tubuhnya. "Maafkan aku, aku tak akan ke mana-mana lagi."

Sasuke tak melihat banyak mimpi sejak kecil, sejak ia tumbuh dalam aristokrasi Uchiha, sejak ia menjadi bungsu yang tak pernah dimanja, sejak ia menjadi pesaing nomor satu kakak tertuanya. Namun, salah satu dari sedikit mimpinya hancur di tengah jalan ketika malam-malam keluarganya tak dapat terselamatkan. Lalu, memang, memang Sasuke tak sempat memikirkan akan mimpi-mimpi lain, yang mungkin kecil, yang mungkin implisit, yang tersirat dan hanya terlihat ketika ia menatap kepada Sakura. Bahwa bersama Sakura, ia memang mempunyai mimpi-mimpi itu; banyak mimpi, sesederhana ingin berdansa, ingin melihatnya tertawa, dan lainnya yang tak dapat Sasuke pikirkan.

Bahwa memang Sakura yang membuatnya merasa hidup. Menjadi entitas yang kemudian punya arti dan renjana.

Sakura melepaskan pelukannya. Tak melepas tautan tangan Sasuke di pinggangnya. Mata wanita itu menatap, kini, sedikit lebih terang, lebih mirip bintang yang Sasuke rindukan. Kacamatanya masih memantulkan layar televisi, serta memori-memori masa lalu ketika hal-hal yang Sasuke inginkan hanya sesederhana berdansa di malam prom, mencium Sakura, dan mengatakan bahwa ia menyukainya.

Dan sekarang, mungkin sangat sangat menyukainya.

Maka Sasuke pelan-pelan mengabulkan keinginannya, dimulai dari mengecup sekali lagi kening Sakura, berkata tepat di sebelah telinganya, "Aku mencintaimu." Selalu dan tak pernah selesai. Kemudian menarik lagi pinggang wanita itu, mencari-cari dalam setengah mabuk akan Sakura, mencium bibirnya dan berharap waktu berhenti di sini saja.

Dan Sasuke merasakan rekah senyum Sakura di atas bibirnya.

.

.


Langit menjelang siang tak pernah terlihat seindah ini ketika Sasuke merasakan turbulensi halus saat pesawat yang menerbangkannya take off beberapa menit lalu. Ia melihat lambaian orang-orang di bawah sana padanya semakin mengecil; Shikaku, Shikamaru, Naruto, dan teman-temannya yang tak banyak. Sasuke pernah berpikir untuk tidak kembali, namun, mungkin, kembali pun tidak apa-apa. Sasuke akan merindukan mereka. Sasuke seharusnya masih berpartisipasi dalam kehidupan mereka.

"A penny for your thoughts?"

Sasuke menoleh ketika mendengar seseorang di sampingnya mengujar. Sakura dengan senyum merekah dan kacamata baca yang kini jarang dilepas. Di dekapannya, sudah ada satu buku tebal, teman perjalanannya yang seketika membuat Sasuke iri. Namun kemudian ia hanya tertawa, diam-diam merasakan bahwa iri bukanlah kata yang tepat. Ia sentuh jari-jemari Sakura, menggenggamnya erat dan memainkannya beberapa saat.

"Aku bahagia," ujar Sasuke, pelan.

Sakura hanya memutar netra, memutuskan kembali memusatkan atensi pada buku di tangannya. Sasuke tertawa lagi, mencuri satu kecupan di bibir Sakura yang mengurva ke bawah.

"Ingat malam prom waktu itu?" Sasuke mengucap, menerawang tautan tangan mereka. "Aku punya tiga hal yang ingin dilakukan malam itu."

Sakura melirik main-main, "Hm-hm?"

"Aku ingin menyatakan perasaanku," kata Sasuke pelan, sebelum melanjutkan. "Aku ingin menciummu." Sakura tertawa di bagian ini. "Dan aku ingin berdansa denganmu "

Pada akhirnya, Sakura menutup bukunya. Ia menatap Sasuke dan menepuk pipinya, mencondongkan tubuh dan mencium lama bibir Sasuke.

"Poin satu dan dua sudah kulakukan semalaman ini." Sasuke berujar di tengah ciuman mereka. "Dan kau masih harus mengabulkan poin terakhir."

Sakura menggigit bibir Sasuke main-main dan tertawa. Ciuman itu terlepas, Sasuke berstagnasi menatap Sakura yang dilatarbelakangi jendela pesawat. Figurnya yang tersenyum lebar, belah-belah pipinya yang merona dan rambut merah mudanya yang dihias bias-bias cahaya. Sasuke benar-benar mabuk.

"Kita punya banyak waktu untuk berdansa setelah sampai," kata Sakura berbisik, sebelum kembali menarik wajah Sasuke dan mengecup bibirnya lagi hingga Sasuke memutuskan, ia tak pernah merasa sebahagia ini dalam hampir dua puluh enam tahun hidupnya.

Sebab pada akhirnya, pikir Sasuke, hati tak akan pernah salah memilih tempat untuk kembali.

.

.
[]